Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 102
AKIBAT BURUK KETIKA TELINGA,
MATA DAN HATI MENOLAK KEBENARAN YANG
NYATA & GELAR “UMAT TERBAIK“ DALAM AL-QURAN TINGGAL KENANGAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab 101
dibahas topik Akibat Kafir Setelah Beriman
sehubungan dengan “orang-orang yang berwajah
hitam”, dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا
وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا
وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ
وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ
اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾
وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ
فَفِیۡ رَحۡمَۃِ
اللّٰہِ ؕ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ
وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ تُرۡجَعُ
الۡاُمُوۡرُ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan janganlah
sekali-kali kamu mati kecuali kamu
dalam keadaan berserah diri. Dan berpegangteguhlah
kamu sekalian pada tali Allah,
dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah
akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hati kamu dengan kecintaan
antara satu sama lain maka
dengan nikmat-Nya itu kamu
menjadi bersaudara, dan kamu dahulu
berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan
Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada segolongan di antara
kamu yang senantiasa menyeru manusia
kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf, melarang
dari berbuat munkar, dan mereka
itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah belah dan berselisih
sesudah bukti-bukti
yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
baginya ada azab yang besar. Pada hari ketika wajah-wajah
menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam. Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam,
dikatakan kepada mereka: “Apakah kamu kafir sesudah beriman?
Karena itu rasakanlah azab ini
disebabkan kekafiran kamu." Dan ada
pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya. Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu
kezaliman atas seluruh alam. Dan milik
Allah-lah apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan. (Āli ‘Imran [3]:103-110).
Bahaya
Ketika Mata, Telinga dan Hati Telah Tertutup Bagi Kebenaran
Ada pun makna ayat: فَاَمَّا الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟
اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam,
dikatakan kepada mereka: “Apakah
kamu kafir sesudah beriman?
Karena itu rasakanlah azab ini
disebabkan kekafiran kamu!"
Tidak ada satu umat beragama pun yang tidak mempercayai kedatangan Rasul Akhir Zaman -- dengan nama
yang berlainan (QS.43:58; QS.77:12): Mesiah, Mesio Darbahmi, Shri Krishna, Buddha Maitreya, Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s., Imam Mahdi a.s. dll -- yang
mereka percayai (imani) akan mengunggulkan agama mereka atas agama-agama lainnya, sebagaimana yang
juga diimani oleh umat Islam (QS.61:10), sebagai kadatangan Imam Mahdi a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s..
Tetapi ketika “sosok” rasul Allah yang dijanjikan
Allah Swt. tersebut benar-benar telah
datang (QS.7:35-37), kemudian mereka – sesuai dengan Sunnatullah yang terjadi dengan para rasul Allah sebelumnya, termasuk Nabi Besar Muhammad saw.
-- mereka mendustakannya dan menentangnya
secara zalim (QS.15:12; QS,36: 31-33;
QS.43:8) – karena “sosoknya” bertentangan dengan “persepsi keliru” mereka yang penuh khayal berkenaan dengan “sosok” rasul Allah yang dijanjikan
tersebut, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی
وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ
کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ
اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿﴾ وَ
کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ
یُوۡحِیۡ
بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ
وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا
مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan
seandainya pun Kami
benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka, dan orang-orang
yang telah mati berbicara dengan
mereka, dan Kami mengumpulkan segala
sesuatu berhadap-hadapan di
depan mereka, مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ
اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ -- mereka sekali-kali tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka berlaku jahil. وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ -- Dan
dengan cara demikian
Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara ins
dan jin, یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا -- sebagian
mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui, وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ -- dan jika Rabb (Tuhan) engkau
menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya,
maka biarkanlah mereka dengan apa-apa
yang mereka ada-adakan, وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ -- dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman
kepada akhirat cenderung kepada bisikan itu dan mereka menyukainya وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا
مَا ہُمۡ مُّقۡتَرِفُوۡنَ -- dan supaya mereka
mengusahakan apa yang sedang mereka usahakan. (Al-An’ām
[6]:112-114).
Salah satu tugas malaikat-malaikat adalah membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran baik untuk mengajak mereka kepada kebenaran (QS.41:32, 33). Kadangkala
mereka melaksanakan tugas-tugas ini melalui mimpi-mimpi
dan kasyaf-kasyaf.
Orang-orang muttaki
(bertakwa) yang sudah meninggal dunia
nampak kepada manusia dalam mimpi
untuk membenarkan pendakwaan nabi-nabi.
Ada satu cara lain yaitu orang-orang yang sudah mati bercakap-cakap kepada manusia, yaitu jika suatu umat yang secara ruhani sudah mati
mereka dihidupkan kembali untuk
memperoleh kehidupan ruhani baru oleh
ajaran nabi mereka, maka kelahiran-baru
ruhani mereka itu seakan-akan
berbicara kepada orang-orang kafir
dan memberikan persaksian terhadap kebenaran pendakwaan nabi itu.
Kata-kata وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا
-- “dan Kami mengumpulkan segala
sesuatu berhadap-hadapan di
depan mereka“ itu menunjuk kepada kesaksian
dari berbagai-bagai benda alam yang
memberi kesaksian terhadap kebenaran seorang nabi Allah dalam bentuk gempa,
wabah, kelaparan, peperangan,
dan azab-azab Ilahi
lainnya.
Dengan demikian alam sendiri nampaknya gusar
terhadap orang-orang yang ingkar dan unsur-unsur alam itu sendiri yang sebelumnya berkhidmat kepada mereka kemudian berbalik memerangi mereka. Sebab Allah Swt. tidak
pernah menimpakan azab-Nya kepada manusia – bagaimana pun sesatnya mereka – sebelum terlebih dulu mengutus rasul Allah yang dijanjikan kepada mereka (QS.6:132; QS.11:118; QS.20:135;
QS.26:209; QS.17:16; QS.28:60).
Terpedaya Oleh Yang Mereka Ada-adakan Sendiri & Akibat Buruk “Kafir Setelah Beriman”
Dalam ayat
selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ الۡجِنِّ
-- Dan dengan
cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara ins
dan jin, یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا -- sebagian
mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui.”
Sebagaimana telah dijelaskan,
bahwa kata-kata ins dan jin yang terdapat pada banyak tempat
dalam ayat-ayat Al-Quran bukan berarti ada dua
jenis makhluk Allah yang berlainan melainkan dua golongan makhluk manusia, yakni:
(1) ins
(manusia) mengisyaratkan kepada
orang-orang awam atau rakyat jelata, sedangkan
(2) jin dikatakan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri dari rakyat
jelata (ins) dan tidak berbaur dengan mereka, boleh dikatakan tinggal tersembunyi dari penglihatan umum.
Kembali kepada firman-Nya: Ada pun makna
ayat: فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ
وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ
-- Ada pun orang-orang yang
wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah kamu
kafir sesudah beriman? Karena itu rasakanlah
azab ini disebabkan kekafiran kamu!"
(Ali ‘Imran [3]:107), akibat mereka “kafir setelah beriman” tersebut – sebagaimana yang terjadi pada kaum-kaum
purbakala -- mereka dicengkram berbagai
bentuk azab Ilahi (QS.6:132;
QS.11:118; QS.17:16; QS.20:135-136; QS.26:209; QS.28:60), dan
keadaan mereka menggenapi
firman-Nya: فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ
-- Ada pun orang-orang yang
wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah kamu
kafir sesudah beriman? Karena itu rasakanlah
azab ini disebabkan kekafiran kamu!"
Kemudian mengenai makna ungkapan bil-haqq dalam ayat selanjutnya -- secara harfiah berarti “dengan kebenaran” dan diterjemahkan
sebagai “mengandung kebenaran” -- dalam ayat: تِلۡکَ
اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ -- Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq (QS.3:109).
Haqqa berarti: Sesuatu itu dahulunya adalah atau menjadi
adil, layak, betul, benar, asli, sejati, maujud atau nyata; atau sesuatu itu
dahulunya adalah atau menjadi satu kenyataan yang pasti atau terbukti
kebenarannya; sesuatu itu dahulunya adalah atau menjadi mengikat, keharusan
atau kewajiban (Lexicon Lane).
Ungkapan bil-haqq berarti:
(1) bahwa Al-Quran meliputi
ajaran-ajaran yang berdasar pada kebenaran-kebenaran yang kekal abadi dan tidak
mungkin dapat berhasil dirusak;
(2) bahwa mereka yang
pertama-tama menerima merupakan kaum yang paling pantas menerimanya;
(3) bahwa Al-Quran datang pada waktu yang
telah datang untuk tetap lestari dan tiada usaha dari pihak penentangnya dapat
membinasakannya atau melemahkannya.
Atau ungkapan bil-haqq
berarti:
(1) Tanda-tanda atau Ayat-ayat
Allah Swt. itu penuh dengan kebenaran;
(2) Tanda-tanda telah datang secara haq,
yakni kamu mempunyai hak untuk menerima;
(3) Itulah
saat yang paling tepat ayat-ayat itu diwahyukan.
Setiap Mukjizat Rasul Allah
Dianggap Sihir Atau Gejala Alam Biasa & Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Kepada Allah Swt.
Namun
demikian dalam kenyataannya, pada setiap
zaman tidak pernah ada para penentang rasul Allah
yang mempercayai berbagai mukjizat yang mendukung kebenaran para rasul Allah sebagai mukjizat
melainkan mereka mengganggapnya sebagai sihir atau gejala alam yang biasa terjadi di berbagai zaman. Contohnya dari 9 mukjizat Nabi Musa a.s. (QS.17:102;
QS.27:13) hanya mukjizat “tenggelamnya
Fir’aun dan pasukannya” sajalah yang dipercayai
mereka sebagai mukjizat dan Fir’aun
menyatakan beriman kepada “Tuhannya Bani Israil” (QS. 10:76-93).
Demikian pula halnya yang terjadi
di Akhir Zaman ini, berbagai macam bentuk mukjizat yang mendukung kebenaran pendakwaan Rasul Akhir Zaman (Masih Mau’ud a.s.)
telah terjadi -- termasuk berupa terjadinya “gerhana bulan dan gerhana
matahari” pada bulan Ramadhan yang sama pada th. 1898 serta wabah tha’un (pes); berbagai bencana
alam luar-biasa serta peperangan di berbagai kawasan Muslim
dan lain-lain – tetapi “sikap
membuta-tuli” kaum-kaum purbakala
kembali terjadi, sebagaimana berbagai firman-Nya dalam Al-Quran:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ اِلَّا
کَانُوۡا بِہٖ یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾ اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ
اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ
اَنَّہُمۡ اِلَیۡہِمۡ لَا
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ وَ اِنۡ کُلٌّ
لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu, sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.
Apakah mereka tidak melihat berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum
mereka, bahwasanya mereka itu tidak kembali lagi kepada mereka?
Dan setiap mereka semua niscaya akan
dihadirkan kepada Kami. (Yā Sīn [36]:31-33).
Kata-kata dalam ayat 31 penuh
dengan kerawanan hati. Tuhan Yang Maha
Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat
masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya. Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya,
maka kaumnya itu membalas kesedihan
mereka itu dengan penghinaan dan ejekan bahkan kezaliman, firman-Nya:
وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی
اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ
نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ
نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan Rasul
itu berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran
ini sesuatu yang telah
ditinggalkan. Dan demikianlah
Kami telah menjadikan musuh bagi
tiap-tiap nabi dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah Rabb
(Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
Ayat 31
dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan
diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang (mengabaikan
petunjuknya). Barangkali belum pernah
terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran
demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
Ada sebuah hadits Nabi Besar
Muhammad saw. yang
mengatakan: “Satu saat akan datang kepada
kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari
Al-Quran melainkan kata-katanya” (Baihaqi,
Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang
dimaksudkan itu.
Lepasnya Gelar Kehormatan Sebagai “Umat Terbaik”
Akibatnya di Akhir Zaman ini gelar kehormatan umat Islam sebagai “umat terbaik”
pun telah lepas, sebab “ciri-ciri utamanya” telah hilang dari mereka, firman-Nya:
کُنۡتُمۡ
خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ
وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ
وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ
لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا
لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ
الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia, kamu
menyuruh berbuat makruf, melarang
dari berbuat munkar, dan beriman kepada Allah. Dan seandainya Ahlul Kitab beriman, niscaya
akan lebih baik bagi mereka. Di
antara mereka ada yang beriman
tetapi kebanyakan mereka orang-orang
fasik. (Āli ‘Imran
[3]:111).
Ayat
ini bukan saja mencanangkan bahwa
kaum Muslimin itu kaum yang terbaik — sungguh suatu proklamasi besar — melainkan menyebutkan
pula sebab-sebabnya:
(1) Mereka telah dibangkitkan
untuk kepentingan umat manusia
seluruhnya, sebab Nabi Besar Muhammad saw. diutus sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108);
(2) telah menjadi kewajiban umat Islam sebagai “umat terbaik” menganjurkan berbuat kebaikan dan melarang
berbuat keburukan serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui amal (perbuatan) nyata, sebab jika tidak demikian bertentangan dengan firman-Nya dalam QS.61:3-5, yang sebelumnya
dilakukan oleh orang-orang Yahudi, yaitu
hanya sekedar fasih mengatakan tetapi tidak mengamalkannya (QS.2:45; QS.26:227).
Kemuliaan kaum
Muslimin sebagai “umat terbaik” bergantung
pada dan ditentukan oleh kedua syarat
itu. Firman-Nya lagi:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً
وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ
عَلَیۡہَاۤ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ
یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ
لَکَبِیۡرَۃً اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ
ہَدَی اللّٰہُ ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ
لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan demikianlah Kami menjadikan kamu satu umat yang
mulia supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga kamu. Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat
melainkan supaya Kami mengetahui orang
yang mengikuti Rasul dari orang yang
ber-paling di atas kedua tumitnya. Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah
menyia-nyiakan iman kamu, sesungguhnya Allah
benar-benar Maha Pengasih, Maha
Penyayang terhadap manusia. (Al-Baqarah
[2]:144).
Al-wasath dalam ayat وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً
وَّسَطًا – “Dan demikianlah
Kami menjadikan kamu
satu umat yang mulia“ berarti: menempati kedudukan di tengah; baik dan
mulia dalam pangkat (Aqrab-ul-Mawarid).
Kata itu dipakai di sini dalam arti baik
dan mulia. Dalam QS.3:111 pun kaum Muslimin disebut kaum terbaik.
Kewajiban Menjaga Kemuliaan
Akhlak dan Ruhani Generasi Penerus Muslim
& Bukti Ketidak-bersyukuran kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad Saw.
Kaum
Muslimin diperingatkan di sini bahwa
tiap-tiap keturunan mereka harus menjaga dan mengawasi keturunan berikutnya. Karena mereka kaum terbaik maka mereka berkewajiban
senantiasa berjaga-jaga agar jangan
jatuh dari taraf hidup yang tinggi seperti
yang diharapkan dari mereka dan berusaha agar setiap keturunan berikutnya pun mengikuti
jalan yang ditempuh oleh mereka
yang telah menikmati pergaulan suci dengan
Nabi Besar Muhammad saw..
Jadi Nabi Besar Muhammad saw. harus menjadi penjaga para pengikut beliau saw. yang terdekat, sedang mereka pada gilirannya mereka harus menjadi penjaga penerus-penerus mereka dan
demikian seterusnya: لِّتَکُوۡنُوۡا
شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا -- “supaya kamu
senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga
kamu”.
Kata-kata itu dapat pula berarti bahwa seperti telah ditakdirkan
Allah Swt. kaum Muslimin akan menjadi pemimpin
umat manusia dan dengan amal saleh
mereka akan menjadi penerima karunia-karunia
istimewa dari Allah Swt. Dengan
demikian kaum-kaum lain akan terpaksa
mengambil kesimpulan bahwa orang-orang Islam mengikuti agama yang benar,
dan dengan demikian kaum Muslimin
akan menjadi saksi atas kebenaran Islam bagi orang-orang lain,
seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw. telah menjadi saksi atas kebenaran Islam
bagi mereka.
Tetapi
jika dalam kenyataannya di Akhir
Zaman ini di wilayah Timur Tengah terjadinya “Kobaran Api” yang sangat mengerikan, pada hakikatnya
hal tersebut merupakan akibat pasti dari pelanggaran secara sengaja
terhadap berbagai petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran kepada umat Islam, karena itu tidak perlu mencari-cari “kambing-hitam” dan menyalahkan fihak-fihak
di luar Islam, firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ
اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ
اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman?
Dan Allah
benar-benar Maha Menghargai, Maha
Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
Firman-Nya
lagi:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ
رَبُّکُمۡ لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ
لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: ”Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya akan
Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, وَ لَئِنۡ
کَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ -- tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat keras.”
(Ibrahim
[14]:8).
Landasan “Bersyukur” & Sikap Hidup “Berserah
diri” yang Sempurna
Syukr (syukur) itu tiga macam: (1)
Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati
mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan
memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3)
Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas
kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
Syukur dari pihak Allah
Swt. terwujud dalam pemberian
ampun kepada hamba-hamba-Nya atau memujinya
atau memandangnya dengan rasa puas, menghargai atau mengaruniai, dan seterusnya tentu saja membalas atau mengganjar
amal-amalnya (Lexicon Lane).
Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a)
kerendahan hati dari orang yang
menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c)
pengakuan mengenai jasa yang dia
berikan, (d) sanjungan
terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang
ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr
dari pihak manusia.
Syukr dari pihak Allah Swt. ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya
atau merasa puas terhadapnya, berkemauan
baik untuknya atau senang
kepadanya, dan karena itu merasa perlu
memberi imbalan atau mengganjarnya
(Lexicon Lane). Umat Islam hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Allah Swt. jika mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat
-- terutama Al-Quran sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) -- sebagaimana dicontohkan Nabi Besar
Muhammad saw, firman-Nya:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا
قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا
ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ
لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا
وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ
فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ
الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ
دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ
اٰتٰکُمۡ ؕ اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ
الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ اِنَّہٗ لَغَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku
(Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang
teguh, agama Ibrahim
yang lurus dan dia bukanlah
dari orang-orang musyrik.” قُلۡ
اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam; لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku
diperintahkan, dan akulah orang pertama yang berserah diri. Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Tuhan
yang bukan-Allah,
padahal Dia-lah Tuhan segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan tidak pula
seorang pe-mikul beban memikul beban orang lain. Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat
kembalimu, maka Dia akan memberitahu
kamu apa-apa yang me-ngenainya kamu berselisih. Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu
penerus-penerus di bumi, dan Dia
meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepadamu.
Sesungguhnya Rabb (Tuhan) eng-kau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-An’ām [6]:162-166).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 15
Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar