Minggu, 15 Januari 2017

Akibat Buruk Ketika "Telinga, Mata, dan Hati" Menolak "Kebenaran" yang Nyata & Gelar "Umat Terbaik" Dalam Al-Quran Tinggal Kenangan



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  102

     AKIBAT BURUK KETIKA TELINGA, MATA DAN HATI MENOLAK KEBENARAN YANG NYATA &  GELAR “UMAT TERBAIK“ DALAM AL-QURAN TINGGAL KENANGAN

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 101  dibahas   topik   Akibat Kafir Setelah Beriman    sehubungan dengan “orang-orang yang  berwajah hitam”, dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ۙ  یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾   وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ﴿﴾٪
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.  Dan  berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah,   dan janganlah kamu berpecah-belah,  dan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan,  menyuruh kepada yang makrufmelarang dari berbuat munkar,  dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.   Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar.   Pada hari  ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam. Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu."   Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya.   Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam.   Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan.  (Āli ‘Imran [3]:103-110).

Bahaya Ketika Mata, Telinga dan Hati Telah Tertutup Bagi Kebenaran

      Ada pun makna ayat:  فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu!"  
      Tidak ada satu  umat beragama  pun yang tidak mempercayai kedatangan Rasul Akhir Zaman  -- dengan nama yang berlainan (QS.43:58; QS.77:12): Mesiah, Mesio Darbahmi,  Shri Krishna, Buddha Maitreya, Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., Imam Mahdi a.s. dll --  yang mereka percayai (imani) akan mengunggulkan agama mereka atas agama-agama lainnya, sebagaimana yang juga diimani oleh umat Islam  (QS.61:10), sebagai kadatangan Imam Mahdi a.s. dan Isa Ibnu Maryam a.s..
       Tetapi ketika “sosok” rasul Allah yang dijanjikan Allah Swt. tersebut  benar-benar telah datang (QS.7:35-37), kemudian mereka – sesuai dengan Sunnatullah yang terjadi dengan para rasul Allah sebelumnya, termasuk Nabi Besar Muhammad saw.   --  mereka mendustakannya dan menentangnya secara zalim (QS.15:12; QS,36: 31-33; QS.43:8) – karena “sosoknya”  bertentangan dengan “persepsi keliru” mereka yang penuh khayal berkenaan dengan “sosokrasul Allah yang dijanjikan tersebut, firman-Nya:
وَ لَوۡ اَنَّنَا نَزَّلۡنَاۤ  اِلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ کَلَّمَہُمُ الۡمَوۡتٰی وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ  یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا ؕ وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ ﴿﴾
Dan seandainya pun  Kami benar-benar menurunkan malaikat-malaikat kepada mereka,  dan  orang-orang yang telah mati  berbicara dengan mereka, dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan  di depan mereka, مَّا کَانُوۡا لِیُؤۡمِنُوۡۤا اِلَّاۤ  اَنۡ یَّشَآءَ اللّٰہُ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَہُمۡ یَجۡہَلُوۡنَ --  mereka sekali-kali tidak akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka  berlaku jahilوَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ     -- Dan  dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara ins  dan jin, یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا --   sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui,   وَ لَوۡ شَآءَ رَبُّکَ مَا فَعَلُوۡہُ فَذَرۡہُمۡ وَ مَا یَفۡتَرُوۡنَ  -- dan jika Rabb (Tuhan) engkau menghendaki mereka tidak akan mengerjakannya, maka biarkanlah mereka dengan apa-apa yang mereka ada-adakan,  وَ لِتَصۡغٰۤی اِلَیۡہِ اَفۡـِٕدَۃُ الَّذِیۡنَ لَا یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡاٰخِرَۃِ وَ لِیَرۡضَوۡہُ -- dan supaya hati orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat cenderung kepada bisikan itu   dan   mereka menyukainya وَ لِیَقۡتَرِفُوۡا  مَا  ہُمۡ  مُّقۡتَرِفُوۡنَ --  dan supaya mereka mengusahakan apa yang sedang mereka usahakan. (Al-An’ām [6]:112-114).
  Salah satu tugas malaikat-malaikat  adalah membisikkan kepada manusia pikiran-pikiran baik untuk mengajak mereka kepada kebenaran (QS.41:32, 33). Kadangkala mereka melaksanakan tugas-tugas ini melalui mimpi-mimpi dan kasyaf-kasyaf.
Orang-orang muttaki (bertakwa) yang sudah meninggal dunia nampak kepada manusia dalam mimpi untuk membenarkan pendakwaan nabi-nabi. Ada satu cara lain yaitu orang-orang yang sudah mati bercakap-cakap kepada manusia, yaitu jika suatu umat yang secara ruhani sudah mati mereka dihidupkan kembali untuk memperoleh kehidupan ruhani baru oleh ajaran nabi mereka, maka  kelahiran-baru ruhani mereka itu seakan-akan berbicara kepada orang-orang kafir dan memberikan persaksian terhadap kebenaran pendakwaan nabi   itu.
  Kata-kata وَ حَشَرۡنَا عَلَیۡہِمۡ کُلَّ شَیۡءٍ قُبُلًا  -- “dan Kami mengumpulkan segala sesuatu berhadap-hadapan   di depan mereka“ itu menunjuk kepada kesaksian dari berbagai-bagai benda alam yang memberi kesaksian terhadap kebenaran seorang nabi Allah dalam bentuk gempa, wabah, kelaparan, peperangan, dan azab-azab  Ilahi  lainnya.
  Dengan demikian alam sendiri nampaknya gusar terhadap orang-orang yang ingkar dan  unsur-unsur alam itu sendiri yang sebelumnya berkhidmat kepada mereka kemudian berbalik memerangi mereka. Sebab Allah Swt. tidak pernah menimpakan azab-Nya kepada manusia – bagaimana pun sesatnya mereka – sebelum terlebih dulu mengutus rasul Allah yang dijanjikan kepada mereka (QS.6:132; QS.11:118; QS.20:135; QS.26:209; QS.17:16;  QS.28:60).

Terpedaya Oleh Yang Mereka Ada-adakan Sendiri &  Akibat Buruk “Kafir Setelah Beriman

  Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman:  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا شَیٰطِیۡنَ الۡاِنۡسِ وَ  الۡجِنِّ     -- Dan  dengan cara demikian Kami telah menjadikan musuh bagi setiap nabi yaitu syaitan-syaitan di antara ins  dan jin, یُوۡحِیۡ بَعۡضُہُمۡ اِلٰی بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غُرُوۡرًا -- sebagian mereka membisikkan kepada sebagian lainnya kata-kata indah untuk mengelabui.” 
  Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa kata-kata   ins  dan jin yang terdapat pada banyak tempat dalam ayat-ayat Al-Quran bukan berarti ada dua jenis makhluk Allah yang berlainan melainkan dua golongan makhluk manusia, yakni:
  (1) ins (manusia)  mengisyaratkan kepada orang-orang awam atau rakyat jelata, sedangkan
   (2)  jin  dikatakan kepada orang-orang besar yang biasa hidup memisahkan diri dari rakyat jelata (ins) dan tidak berbaur dengan mereka, boleh dikatakan tinggal tersembunyi dari penglihatan umum.
      Kembali kepada firman-Nya: Ada pun makna ayat:  فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu!" (Ali ‘Imran [3]:107), akibat mereka  “kafir setelah beriman” tersebut – sebagaimana yang terjadi pada kaum-kaum purbakala --  mereka dicengkram  berbagai bentuk  azab Ilahi  (QS.6:132; QS.11:118; QS.17:16; QS.20:135-136; QS.26:209; QS.28:60),  dan  keadaan mereka menggenapi firman-Nya: فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ  -- Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu!"  
       Kemudian mengenai makna ungkapan bil-haqq dalam ayat selanjutnya  -- secara harfiah berarti “dengan kebenaran” dan diterjemahkan sebagai “mengandung kebenaran”  -- dalam ayat: تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ --  Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq (QS.3:109).
      Haqqa berarti:  Sesuatu itu dahulunya adalah atau menjadi adil, layak, betul, benar, asli, sejati, maujud atau nyata; atau sesuatu itu dahulunya adalah atau menjadi satu kenyataan yang pasti atau terbukti kebenarannya; sesuatu itu dahulunya adalah atau menjadi mengikat, keharusan atau kewajiban (Lexicon Lane). Ungkapan bil-haqq berarti:
    (1) bahwa Al-Quran meliputi ajaran-ajaran yang berdasar pada kebenaran-kebenaran yang kekal abadi dan tidak mungkin dapat berhasil dirusak;
       (2) bahwa mereka yang pertama-tama menerima merupakan kaum yang paling pantas menerimanya;
        (3) bahwa Al-Quran datang pada waktu yang telah datang untuk tetap lestari dan tiada usaha dari pihak penentangnya dapat membinasakannya atau melemahkannya.
Atau ungkapan bil-haqq berarti:
       (1) Tanda-tanda atau Ayat-ayat Allah Swt.  itu penuh dengan kebenaran;   
    (2) Tanda-tanda telah datang secara haq, yakni kamu mempunyai hak untuk menerima;
        (3)  Itulah saat yang paling tepat ayat-ayat itu diwahyukan.

Setiap Mukjizat Rasul Allah  Dianggap Sihir Atau Gejala Alam Biasa  & Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Kepada Allah Swt.

         Namun  demikian dalam kenyataannya, pada setiap  zaman    tidak pernah ada para penentang rasul Allah   yang  mempercayai  berbagai mukjizat  yang mendukung kebenaran para rasul Allah    sebagai mukjizat melainkan  mereka mengganggapnya  sebagai sihir atau gejala alam yang biasa terjadi di berbagai zaman. Contohnya dari  9 mukjizat Nabi Musa a.s. (QS.17:102; QS.27:13) hanya mukjizat “tenggelamnya Fir’aun dan pasukannya” sajalah yang dipercayai mereka sebagai mukjizat dan Fir’aun menyatakan beriman kepada “Tuhannya Bani Israil” (QS. 10:76-93).
     Demikian pula halnya yang terjadi di Akhir Zaman ini, berbagai  macam bentuk mukjizat  yang mendukung kebenaran pendakwaan Rasul Akhir Zaman (Masih Mau’ud a.s.) telah   terjadi  -- termasuk berupa  terjadinya “gerhana bulan dan gerhana matahari” pada  bulan Ramadhan yang sama pada th. 1898  serta wabah tha’un (pes);    berbagai bencana alam  luar-biasa serta peperangan di berbagai kawasan Muslim  dan lain-lain – tetapi “sikap membuta-tuli” kaum-kaum purbakala kembali terjadi, sebagaimana berbagai firman-Nya dalam Al-Quran:
یٰحَسۡرَۃً عَلَی الۡعِبَادِ ۚؑ مَا یَاۡتِیۡہِمۡ مِّنۡ رَّسُوۡلٍ  اِلَّا  کَانُوۡا بِہٖ  یَسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾  اَلَمۡ یَرَوۡا کَمۡ  اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ  اَنَّہُمۡ  اِلَیۡہِمۡ لَا یَرۡجِعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  وَ اِنۡ کُلٌّ  لَّمَّا جَمِیۡعٌ لَّدَیۡنَا مُحۡضَرُوۡنَ ﴿٪﴾
Wahai sangat disesalkan atas hamba-hamba itu,  sekali-kali tidak pernah datang kepada mereka seorang rasul melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya. Apakah mereka tidak melihat berapa banyak  generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, bahwasanya  mereka itu tidak kembali lagi kepada mereka?  Dan setiap mereka semua niscaya akan dihadirkan kepada Kami. (Yā Sīn [36]:31-33).    
       Kata-kata dalam ayat 31  penuh dengan kerawanan hati. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri agaknya seolah-olah sangat masygul atas penolakan dan ejekan manusia terhadap para nabi-Nya. Sementara para nabi Allah menanggung kesedihan dan derita untuk kaumnya, maka kaumnya itu membalas kesedihan mereka itu dengan penghinaan dan ejekan bahkan kezaliman, firman-Nya: 
   وَ قَالَ الرَّسُوۡلُ یٰرَبِّ اِنَّ قَوۡمِی اتَّخَذُوۡا ہٰذَا الۡقُرۡاٰنَ مَہۡجُوۡرًا ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنَا لِکُلِّ نَبِیٍّ عَدُوًّا مِّنَ الۡمُجۡرِمِیۡنَ ؕ وَ کَفٰی بِرَبِّکَ ہَادِیًا وَّ نَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan  Rasul itu berkata: “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini sesuatu yang telah ditinggalkan. Dan demikianlah Kami  telah menjadikan musuh bagi tiap-tiap nabi   dari antara orang-orang yang berdosa, dan cukuplah  Rabb (Tuhan) engkau sebagai pemberi petunjuk dan penolong. (Al-Furqān [25]:31-32).
   Ayat 31  dengan sangat tepat sekali dapat dikenakan kepada mereka yang menamakan diri orang-orang Muslim tetapi telah menyampingkan Al-Quran dan telah melemparkannya ke belakang (mengabaikan petunjuknya).  Barangkali belum pernah terjadi selama 14 abad ini di mana Al-Quran demikian rupa diabaikan dan dilupakan oleh orang-orang Muslim seperti dewasa ini.
     Ada sebuah hadits Nabi Besar Muhammad saw.    yang mengatakan: “Satu saat akan datang kepada kaumku, bila tidak ada yang tinggal dari Islam melainkan namanya dan dari Al-Quran melainkan kata-katanya (Baihaqi, Syu’ab-ul-iman). Sungguh masa sekarang-sekarang inilah saat yang dimaksudkan itu.

Lepasnya Gelar  Kehormatan Sebagai “Umat Terbaik”

       Akibatnya di Akhir Zaman ini   gelar kehormatan umat Islam sebagai “umat terbaik” pun  telah lepas,    sebab “ciri-ciri utamanya” telah hilang dari mereka, firman-Nya:
کُنۡتُمۡ خَیۡرَ اُمَّۃٍ اُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ تَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ وَ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ ؕ وَ لَوۡ اٰمَنَ اَہۡلُ  الۡکِتٰبِ لَکَانَ خَیۡرًا لَّہُمۡ ؕ مِنۡہُمُ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ وَ اَکۡثَرُہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Kamu adalah umat terbaik, yang dibangkitkan demi kebaikan umat manusia,  kamu menyuruh berbuat makruf, melarang dari berbuat munkar,  dan beriman kepada Allah. Dan seandainya Ahlul Kitab beriman, niscaya akan lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman tetapi kebanyakan mereka orang-orang fasik. (Āli ‘Imran [3]:111).
       Ayat ini bukan saja mencanangkan bahwa kaum Muslimin itu kaum  yang terbaik — sungguh suatu proklamasi besar — melainkan menyebutkan pula sebab-sebabnya:
     (1) Mereka telah dibangkitkan untuk kepentingan umat manusia seluruhnya, sebab  Nabi Besar Muhammad saw. diutus sebagai “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108);     
       (2) telah menjadi kewajiban umat Islam sebagai “umat terbaik”  menganjurkan berbuat kebaikan dan melarang berbuat keburukan serta beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui amal  (perbuatan) nyata, sebab jika tidak demikian bertentangan dengan firman-Nya dalam QS.61:3-5, yang sebelumnya dilakukan oleh orang-orang Yahudi, yaitu hanya  sekedar fasih mengatakan tetapi tidak mengamalkannya  (QS.2:45; QS.26:227).
     Kemuliaan kaum Muslimin sebagai “umat terbaik” bergantung pada dan ditentukan oleh kedua syarat itu. Firman-Nya lagi:
وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا ؕ وَ مَا جَعَلۡنَا الۡقِبۡلَۃَ الَّتِیۡ کُنۡتَ عَلَیۡہَاۤ  اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یَّتَّبِعُ الرَّسُوۡلَ مِمَّنۡ یَّنۡقَلِبُ عَلٰی عَقِبَیۡہِ ؕ وَ اِنۡ کَانَتۡ لَکَبِیۡرَۃً  اِلَّا عَلَی الَّذِیۡنَ ہَدَی اللّٰہُ  ؕ وَ مَا کَانَ اللّٰہُ لِیُضِیۡعَ اِیۡمَانَکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ بِالنَّاسِ لَرَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Dan demikianlah  Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia    supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga  kamu. Dan Kami sekali-kali tidak menjadikan  kiblat yang kepadanya dahulu engkau berkiblat melainkan supaya Kami mengetahui orang yang mengikuti Rasul dari orang yang ber-paling di atas kedua tumitnya.  Dan sesungguhnya hal ini benar-benar sangat berat, kecuali bagi orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah menyia-nyiakan iman kamu, sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengasih, Maha Penyayang terhadap manusia. (Al-Baqarah [2]:144).
      Al-wasath dalam ayat  وَ کَذٰلِکَ جَعَلۡنٰکُمۡ اُمَّۃً وَّسَطًا – “Dan demikianlah  Kami menjadikan kamu satu umat yang mulia“ berarti: menempati kedudukan di tengah; baik dan mulia dalam pangkat (Aqrab-ul-Mawarid). Kata itu dipakai di sini dalam arti baik dan mulia. Dalam QS.3:111 pun kaum Muslimin disebut kaum terbaik.

Kewajiban Menjaga Kemuliaan Akhlak dan Ruhani Generasi Penerus Muslim  & Bukti Ketidak-bersyukuran kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad Saw.

     Kaum Muslimin diperingatkan di sini bahwa tiap-tiap keturunan mereka harus menjaga dan mengawasi keturunan berikutnya. Karena mereka kaum terbaik maka mereka berkewajiban senantiasa berjaga-jaga agar jangan jatuh dari taraf hidup yang tinggi seperti yang diharapkan dari mereka dan berusaha agar setiap keturunan berikutnya pun mengikuti jalan yang ditempuh oleh mereka yang telah menikmati pergaulan suci dengan Nabi Besar Muhammad saw..
       Jadi  Nabi Besar Muhammad saw.     harus menjadi penjaga para pengikut beliau saw. yang terdekat, sedang mereka pada gilirannya mereka harus menjadi penjaga penerus-penerus mereka dan demikian seterusnya:  لِّتَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ وَ یَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ عَلَیۡکُمۡ شَہِیۡدًا -- “supaya kamu senantiasa menjadi penjaga manusia dan   supaya Rasul itu senantiasa menjadi penjaga  kamu”.
      Kata-kata itu dapat pula berarti bahwa seperti  telah ditakdirkan Allah Swt.  kaum Muslimin akan menjadi pemimpin umat manusia dan dengan amal saleh mereka akan menjadi penerima karunia-karunia istimewa dari Allah Swt.   Dengan demikian kaum-kaum lain akan terpaksa mengambil kesimpulan bahwa orang-orang Islam mengikuti agama yang benar, dan dengan demikian kaum Muslimin akan menjadi saksi atas kebenaran Islam bagi orang-orang lain, seperti halnya Nabi Besar Muhammad saw.    telah menjadi saksi atas kebenaran Islam bagi mereka.
      Tetapi  jika dalam kenyataannya di Akhir Zaman ini di wilayah Timur Tengah terjadinya “Kobaran Api” yang sangat  mengerikan, pada   hakikatnya hal tersebut  merupakan akibat pasti dari pelanggaran  secara sengaja  terhadap berbagai petunjuk Allah Swt.  dalam Al-Quran  kepada umat Islam, karena itu tidak perlu mencari-cari “kambing-hitam” dan menyalahkan fihak-fihak di luar Islam, firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan  Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
Firman-Nya lagi: 
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur   niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepada kamu, وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ  -- tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.” (Ibrahim [14]:8).

Landasan “Bersyukur” & Sikap Hidup “Berserah diri” yang Sempurna

   Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
       Syukur dari pihak  Allah Swt.  terwujud dalam pemberian ampun kepada hamba-hamba-Nya atau memujinya atau memandangnya dengan rasa puas, menghargai atau mengaruniai, dan seterusnya tentu saja membalas atau mengganjar amal-amalnya (Lexicon Lane).
    Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
      Syukr dari pihak Allah Swt.  ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang kepadanya, dan karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane). Umat Islam  hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt.  jika  mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat  -- terutama Al-Quran sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  -- sebagaimana dicontohkan Nabi Besar Muhammad saw, firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ ؕ اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.” قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam; لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ --    Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri.   Katakanlah:  Apakah aku akan mencari Tuhan  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah Tuhan segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan  tidak pula seorang pe-mikul beban memikul beban orang lain.  Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang me-ngenainya kamu berselisih.   Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat  supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepadamu.  Sesungguhnya   Rabb (Tuhan) eng-kau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-An’ām [6]:162-166).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   15  Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar