Rabu, 04 Januari 2017

Makna "Al-Quran" Sebagai "Mushaddiqan" (Penggenap) dan "Muhaiminan" (Penjaga) Kitab-kitab Suci Sebelumnya & Makna "Syir'ah" dan "Minhaaj"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  94

MAKNA AL-QURAN SEBAGAI MUSHADDIQAN (PENGGENAP)  MUHAIMINAN (PENJAGA) KITAB-KITAB SUCI SEBELUMNYA & MAKNA SYIR’AH DAN MINHÂJ

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 93  dibahas  topik    Pengulangan Genapnya  Nubuatan-nubuatan Al-Quran  dalam surah Al-Mursalāt  (orang-orang yang diutus), firman-Nya:
وَ  اِذَا  الرُّسُلُ  اُقِّتَتۡ ﴿ؕ﴾   لِاَیِّ  یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾   لِیَوۡمِ  الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾   وَ  مَاۤ   اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾   اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾   ثُمَّ  نُتۡبِعُہُمُ   الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾   کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾
Dan apabila rasul-rasul didatangkan  pada waktu yang ditentukan.    Hingga hari apakah ditangguhkan?   Hingga Hari Keputusan.  Dan apa yang engkau ketahui mengenai Hari Keputusan itu? وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ  --  Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.  اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --     Tidakkah Kami telah  membi-nasakan kaum-kaum dahulu? اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --    Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian   کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ  -- Demikianlah perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa.  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al-Mursalāt [77]:12-20).

Makna “Hari Keputusan” Di Akhir Zaman

  Makna ayat:  وَ  اِذَا  الرُّسُلُ  اُقِّتَتۡ   -- “Dan apabila rasul-rasul didatangkan  pada waktu yang ditentukan” yaitu ketika seorang pembaharu samawi datang dari lingkungan umat Islam dengan kekuatan dan jiwa rasul-rasul Allah serta seolah-olah memakai jubah-jubah mereka, sehingga ia dinyatakan sebagai rasul Akhir Zaman.
  Alasan kedatangan Rasul Akhir Zaman tersebut karena di Akhir Zaman ini  karena seakan-akan “kaum-kaum purbakala”  --  dengan segala  “perbuatan buruk” yang telah mereka  lakukan pada zamannya masing-masing  kembali bangkit dan diperagakan lagi di Akhir Zaman ini, firman-Nya:   اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --     Tidakkah Kami telah  membinasakan kaum-kaum dahulu? اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --    Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian   کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ  -Demikianlah perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa” (ayat 17-19).
     Karena itu dalam ayat selanjutnya Allah Swt. menyatakan:  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ --  “Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” (Al-Mursalāt ayat 20). Pernyataan Allah Swt. tersebut sesuai dengan lanjutan ayat-ayat surah Al-Burūj sebelum ini kepda Nabi Besar Muhammad saw.: ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ --  Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ --  Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ --  Bahkan orang-orang  kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ --  padahal Allah mengepung mereka  dari belakang mereka” (ayat 18-21).
     Dengan demikian jelaslah bahwa Kitab suci Al-Quran  bukan merupakan Kitab  “himpunan kisah-kisah kaum purbakala”   -- sebagaimana anggapan keliru para penentang Al-Quran  (QS.8:32;  QS.16:25; QS.25:5-7; QS.68:16; QS.83:14) dan juga anggapan umumnya umat Islam yang tidak memahami hikmah  dicantumkannya kisah-kisah kaum purbakala tersebut dalam Al-Quran --   melainkan berisi petunjuk serta nubuatan-nubuatan yang pasti terjadi lagi, firman-Nya: بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ --   Bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat muliaفِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan  dalam  papan yang terjaga.”  (Al-Burūj [85]:1-23).
    Ayat ini mengandung suatu nubuatan yang bernadakan tantangan Allah Swt. bahwa Al-Quran dijaga terhadap segala macam campur tangan dan upaya pemutarbalikkan oleh manusia, yang rahasia-rahasia gaibnya hanya akan dibukakan Allah Swt. kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.3:180; QS.72:27-29) – sebagaimana Allah Swt. telah mengajarkan rahasia  Al-Asmā-Nya (nama-nama-Nya) kepada Adam  (Khalifah Allah  -- QS.2:31-340 -- dan kepada “orang-orang yang disucikan” Allah Swt. (QS.56:76-83).
    Demikianlah berbagai hikmah  yang terkandung dalam surah Al-Burūj, yang penuh dengan petunjuk Allah Swt. dan nubuatan,    firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  ؕ﴿﴾ وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾ اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾  اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾ وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾ ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾     وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾ بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  --  Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang,  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ  --   Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ --   yaitu Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ --  Ketika mereka duduk  di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ    --   dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang berimanوَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ --   Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ   --   Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ  --  Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar. اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- Sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras. اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ  --  Sesungguhnya  Dia-lah  Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ --  Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pencintaذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ --   Yang melakukan apa yang Dia kehendaki. ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ --  Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ --  Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ --  Bahkan orang-orang  kafir se-lalu mendustakan, وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ --  padahal Allah mengepung mereka  dari belakang mereka. بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ --   Bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat muliaفِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan  dalam  papan yang terjaga.  (Al-Burūj [85]:1-23).

Al-Quran Merupakan Al-Furqān (Pembeda) yang Haq (Benar) dan yang Bathil (Palsu) &  “Orang-orang yang Disucikan” Allah Swt.

       Dalam Bab 90 telah dikemukakan  kemampuan Al-Quran – sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) – selain sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia (QS.2:186), khususnya orang-orang yang bertakwa (QS.2:3), Al-Quran  juga sebagai furqān (pembeda- QS.25:2) yang mampu menggelincirkan orang-orang yang  berhati bengkok dan berpenyakit (QS.3:8-9), firman-Nya:
وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dan Kami  berangsur-angsur menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani Israil [17]:83).
 Firman-Nya lagi:
قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri    dan  Rabb (Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
       Kata-kata ‘alā  syākilati-hi berarti: sesuai dengan niat, cara berpikir, tujuan-tujuan, dan maksud-maksud sendiri, فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا --  “dan Rabb (Tuhan)  kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya,” sebab memang Al-Quran – sebagai Kitab suci yang terakhir dan tersempurna pun (QS.5:4)  sebagai “furqan” (pemisah) yang haq   (benar) dan yang bathil (palsu/dusta – QS.186), sebagaimana firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ  الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ؃ وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran  kepada engkau,  di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok   Al-Kitab, sedangkan  yang lain  ayat-ayat mutasyābihāt.  Adapun   orang-orang yang di dalam hatinya ada kebengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt  karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang salah, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya  kecuali Allah dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan  tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ --   Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menyimpangkan hati kami setelah Engkau telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Ali ‘Imran [3]:8-9).
 Makna ayat:  وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- “padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya  kecuali Allah dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan  tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal” bahwa makrifat Al-Quran yang hakiki hanya dianugerahkan kepada mereka yang berhati suci  atau yang “disucikan Allah Swt.” (QS.56:80). 

“Perang Fatwa”  di Akhir Zaman Ini  Mengancam    Kerukunan Hidup Umat Beragama

       Jadi betapa berbahayanya   “berfatwa” masalah agama jika tidak didukung oleh pemahaman keagamaan yang benar  -- sebagaimana yang difahami oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan “orang-orang yang disucikan” Allah Swt. (QS.56:76-80) --  karena “fatwa-fatwa”   seperti itu  bukannya akan menyelesaikan masalah melainkan justru akan mengakibatkan timbulnya berbagai  masalah besar lainnya yang menjurus kepada perpecahan umat  yang semakin parah dan berlanjut dengan    “perang fatwa” sebagaimana yang    terjadi di Akhir Zaman ini.
     Dari sekian banyak macam “fatwa” yang menimbulkan masalah diantaranya adalah “fatwa takfir” (pengkafiran) terhadap pihak-pihak lainnya   padahal mereka menganut agama yang sama, yang akan berlanjut dengan  tindakan menghalalkan segala cara atas  nama agama.
       Salah satu contoh “fatwa  keliru” – yang didasari ketunaan ilmu -- seperti itu adalah protes yang dikemukakan para pemuka Bani Israil ketika mendengar nabi mereka menyatakan bahwa Allah Swt. telah memilih “Thalut” sebagai raja mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ  اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut  menjadi raja bagi kamu.” قَالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ  -- Mereka berkata:  “Bagaimana ia bisa memiliki  kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan  daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang berlimpah-ruah?” قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ --  Ia (nabi) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja atas kamu dan melebihkannya dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ --  Dan  Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. (Al-Baqarah [2]:248).
       Jadi, menurut pendapat para pemuka Bani Israil  syarat yang paling penting bagi seseorang untuk dijadikan  raja mereka  adalah “memiliki harta kekayaan yang berlimpah-ruah”, firman-Nya:  َالُوۡۤا  اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ  -- Mereka berkata:  “Bagaimana ia bisa memiliki  kedaulatan atas kami, padahal kami lebih berhak memiliki kedaulatan  daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang berlimpah-ruah?”
        Tetapi pendapat atau “fatwa” para pemuka Bani Israil tersebut bertentangan dengan kebijaksanaan Allah Swt.:  قَالَ  اِنَّ اللّٰہَ  اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ --  Ia (nabi) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja atas kamu dan melebihkannya dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ --  Dan  Allah memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah [2]:248).

Al-Quran Sebagai  Mushaddiqan  (Yang Menggenapi)

        Kembali kepada peringatan Allah Swt. agar tidak berburuk-sangka dan tergesa-gesa menjatuhkan fatwasesat dan menyesatkan”  terhadap pihak  lain yang berbeda pendapat dalam masalah keagamaan,  firman-Nya:
قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri    dan  Rabb (Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
        Makna   عَلٰی شَاکِلَتِہٖ      dalam ayat  قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ   berarti :  “Setiap orang beramal sesuai dengan (1)   niatnya, (2)   cara (metode)   berpikirnya, (3) tujuan-tujuannya,   (4)   maksud-maksudnya sendiri, (5)      mazhab yang dianutnya, (6)    manhāj-nya  (jalan tempuhannya/hukum – QS.5:49) dan lain-lain, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ مُہَیۡمِنًا عَلَیۡہِ فَاحۡکُمۡ  بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ لَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ عَمَّا جَآءَکَ مِنَ الۡحَقِّ ؕ لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا ؕ وَ لَوۡ  شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً  وَّ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ ؕ اِلَی اللّٰہِ مَرۡجِعُکُمۡ جَمِیۡعًا فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Kami telah   menurunkan Kitab kepada engkau dengan haq, مُصَدِّقًا  --  menggenapi apa yang telah diwahyukan sebelumnya di dalam Alkitab dan sebagai penjaga atasnya, فَاحۡکُمۡ  بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ  -- maka  hendaklah engkau  memutuskan perkara di antara mereka dengan apa   yang diturunkan Allah, وَ لَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ عَمَّا جَآءَکَ مِنَ الۡحَقِّ  -- dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dengan berpaling dari kebenaran yang telah datang kepada engkau. لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا  --  Bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan peraturan   dan  jalan.   وَ لَوۡ  شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً  الۡخَیۡرٰتِ -- Dan  seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan menjadikan kamu satu umat, وَّ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا  -- akan tetapi Dia hendak menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepada kamu, فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ  --  maka  berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. ؕ اِلَی اللّٰہِ مَرۡجِعُکُمۡ جَمِیۡعًا فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ --  Kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, lalu  Dia akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang kamu berselisih di dalamnya. (Al-Māidah [5]:49).
   Kata mushaddiqan  dalam awal ayat  tersebut  diartikan menggenapi bukan membenarkan, alasannya  kata   mushaddiq diserap dari shaddaqa, yang berarti: ia menganggap atau menyatakan dia atau sesuatu itu benar (Lexicon Lane). Jika kata itu dipakai dalam arti “menganggap hal itu benar” maka kata itu tidak diikuti oleh kata perangkai, atau hanya diikuti oleh kata perangkai ba’. Tetapi jika dipakai arti “menggenapi” seperti pada ayat ini, kata itu diikuti oleh kata perangkai lam (QS.2:92 dan QS.35:32).
    Dengan demikian  di sini kata itu berarti “menggenapi” dan bukan “mengukuhkan” atau “menyatakan benar.” Al-Quran menggenapi nubuatan-nubuatan yang termaktub dalam Kitab-kitab Suci terdahulu  mengenai kedatangan seorang Nabi Pembawa Syariat dan Kitab Suci untuk seluruh dunia, yaitu Nabi Besar Muhammad saw. atau Nabi yang seperti Musa (QS.46:11; Ulangan 18:18). 
     Kapan saja Al-Quran menyatakan dirinya sebagai mushaddiq Kitab-kitab Suci sebelumnya, Al-Quran tidak membenarkan ajaran Kitab-kitab Suci itu, melainkan Al-Quran menyebutkan datang sebagai  menggenapi nubuatan-nubuatan Kitab-kitab Suci itu. Meskipun demikian Al-Quran mengakui semua Kitab Wahyu yang sebelumnya  berasal dari Allah Swt.  tetapi Al-Quran tidak menganggap bahwa  semua ajaran itu sekarang benar dalam keseluruhannya, sebabbanyak dari  bagian-bagian Kitab-kitab suci terdahulu – seiring dengan berjalannya waktu --   telah hilang, atau telah diubah dan banyak yang dimaksudkan hanya untuk masa tertentu, sekarang telah menjadi kuno, sehingga memerlukan kedatangan Kitab suci terakhir dan tersempurna   yaitu Al-Quran (QS.2:107; QS.5:4; QS.3:86).

Al-Quran Sebagai “Penjaga” Kitab-kitab Suci Sebelumnya & Makna   Syir’ah dan Minhāj

      Muhaiminan dalam ayat:  وَ مُہَیۡمِنًا عَلَیۡہِ   berarti: saksi; pemberi rasa aman dan tenteram; pengawas dan penilik perkara-perkara manusia; penjaga dan pelindung (Lisan-ul-‘Arab). Di sini Al-Quran disebut penjaga Kitab-kitab pendahulunya dalam arti bahwa Al-Quran melestarikan semua kebenaran kekal dan bernilai abadi yang terdapat di dalam Kitab-kitab Suci terdahulu dan meninggalkan sesuatu yang tidak memiliki unsur keabadian dan tidak mampu memenuhi keperluan umat manusia (QS.2:107). Lagi, Al-Quran disebut penjaga Kitab-kitab yang terdahulu dalam artian bahwa Al-Quran menikmati perlindungan Ilahi terhadap pemalsuan (QS.15:10), suatu rahmat Ilahi yang tidak dianugerahkan kepada Kitab-kitab yang terdahulu.
       Syir’ah dalam ayat: لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا  --  “bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan peraturan   dan  jalan    artinya hukum syariat yang terdiri atas peraturan-peraturan puasa, shalat, naik haji, dan amal-amal ibadah lainnya; jalan kepercayaan dan perilaku yang nyata lagi benar (Lexicon Lane). Minhāj berarti jalan atau lorong yang kentara, jelas sekali lagi terbuka (Lexicon Lane). Al-Mubarrad berkata, kata yang pertama (syir’ah) berarti permulaan sebuah jalan, sedangkan kata yang kedua (minhāj) adalah badan jalan yang telah banyak dilalui (Fath-ul-Qadir).
       Dengan demikian syir’ah atau syariat adalah hukum yang terutama berhubungan dengan keruhanian, sedangkan minhāj adalah hukum yang berhubungan dengan urusan duniawi. Syir’ah berarti juga “jalan menuju ke air”, artinya ialah Allah Swt. memperlengkapi seluruh makhluk-Nya — menurut kemampuan masing-masing — dengan sarana-sarana untuk menemukan jalan menuju sumber mata air keruhanian, yakni wahyu Ilahi.
       Pernyataan Allah Swt.: لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا  -- “Bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan peraturan   dan  jalan” selaras dengan  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. di awal Bab ini :
قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri    dan  Rabb (Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).   
        Dikarenakan manusia – termasuk para rasul (nabi) Allah  -- tidak mengetahui hal gaib  maka manusia sering  keliru dalam melakukan penilaian  terhadap penampilan, ucapan atau pendapat  serta tindakan seseorang yang dianggap    “nyleneh”  atau beda  dengan umum  -- terlebih lebih   hal-hal yang bersangkutan dengan masalah agama atau keimanan -- lalu mengambil kesimpulan atau praduga negative mengenainya, padahal sangkaannya  tersebut mungkin saja keliru,  sebab menurut Allah Swt.:  کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ  -- “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri.” Itulah sebabnya dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا --  “dan Rabb (Tuhan)  kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   30 Desember  2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar