Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 94
MAKNA AL-QURAN SEBAGAI MUSHADDIQAN
(PENGGENAP) MUHAIMINAN (PENJAGA) KITAB-KITAB
SUCI SEBELUMNYA & MAKNA SYIR’AH
DAN MINHÂJ
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 93
dibahas topik Pengulangan Genapnya Nubuatan-nubuatan
Al-Quran dalam surah Al-Mursalāt (orang-orang
yang diutus), firman-Nya:
وَ
اِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتۡ ﴿ؕ﴾ لِاَیِّ یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾ لِیَوۡمِ الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾ وَ مَاۤ اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾ وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾ اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ نُتۡبِعُہُمُ
الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ
نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾
Dan apabila rasul-rasul
didatangkan pada waktu yang ditentukan. Hingga hari
apakah ditangguhkan? Hingga Hari Keputusan. Dan apa
yang engkau ketahui mengenai Hari
Keputusan itu? وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. اَلَمۡ
نُہۡلِکِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Tidakkah
Kami telah membi-nasakan kaum-kaum
dahulu? اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian. کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah
perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa. وَیۡلٌ
یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah pada hari
itu bagi orang-orang yang
mendustakan. (Al-Mursalāt [77]:12-20).
Makna “Hari Keputusan” Di Akhir Zaman
Makna ayat: وَ اِذَا
الرُّسُلُ اُقِّتَتۡ -- “Dan apabila
rasul-rasul didatangkan pada waktu yang ditentukan” yaitu ketika
seorang pembaharu samawi datang dari
lingkungan umat Islam dengan kekuatan
dan jiwa rasul-rasul Allah serta
seolah-olah memakai jubah-jubah
mereka, sehingga ia dinyatakan sebagai rasul
Akhir Zaman.
Alasan kedatangan Rasul Akhir Zaman tersebut karena di Akhir Zaman ini karena seakan-akan “kaum-kaum purbakala” -- dengan segala
“perbuatan buruk” yang telah mereka lakukan pada zamannya masing-masing kembali
bangkit dan diperagakan lagi di Akhir Zaman ini, firman-Nya: اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- Tidakkah
Kami telah membinasakan kaum-kaum dahulu?
اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian. کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ -Demikianlah
perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa” (ayat 17-19).
Karena itu dalam ayat
selanjutnya Allah Swt. menyatakan: وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- “Celakalah
pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan” (Al-Mursalāt ayat 20). Pernyataan Allah Swt. tersebut sesuai
dengan lanjutan ayat-ayat surah Al-Burūj
sebelum ini kepda Nabi Besar Muhammad saw.: ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ
الۡجُنُوۡدِ -- Apakah telah datang kepada engkau cerita
lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ
ثَمُوۡدَ -- Yaitu
lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ -- Bahkan orang-orang
kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ
مُّحِیۡطٌ --
padahal Allah mengepung
mereka dari belakang mereka” (ayat
18-21).
Dengan demikian jelaslah bahwa Kitab suci Al-Quran bukan merupakan Kitab “himpunan
kisah-kisah kaum purbakala” -- sebagaimana anggapan keliru para penentang
Al-Quran (QS.8:32; QS.16:25; QS.25:5-7; QS.68:16; QS.83:14) dan
juga anggapan umumnya umat Islam yang tidak memahami hikmah
dicantumkannya kisah-kisah kaum
purbakala tersebut dalam Al-Quran --
melainkan berisi petunjuk
serta nubuatan-nubuatan yang pasti terjadi lagi, firman-Nya: بَلۡ ہُوَ
قُرۡاٰنٌ مَّجِیۡدٌ -- Bahkan yang didustakan ia
adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan dalam papan yang terjaga.” (Al-Burūj
[85]:1-23).
Ayat ini mengandung suatu nubuatan yang bernadakan tantangan
Allah Swt. bahwa Al-Quran dijaga
terhadap segala macam campur tangan
dan upaya pemutarbalikkan oleh
manusia, yang rahasia-rahasia gaibnya
hanya akan dibukakan Allah Swt.
kepada rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan (QS.3:180; QS.72:27-29) –
sebagaimana Allah Swt. telah mengajarkan rahasia Al-Asmā-Nya
(nama-nama-Nya) kepada Adam (Khalifah Allah -- QS.2:31-340 -- dan kepada “orang-orang yang disucikan” Allah Swt.
(QS.56:76-83).
Demikianlah berbagai hikmah yang terkandung dalam
surah Al-Burūj, yang penuh dengan petunjuk Allah Swt. dan nubuatan, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ
الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ
الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ
عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا
نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ
ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ
لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ
الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ
الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ ہُوَ
یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾
وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾ ذُو الۡعَرۡشِ
الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَ
ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾ وَ اللّٰہُ
مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾ بَلۡ ہُوَ قُرۡاٰنٌ
مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ
لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ
-- Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan
bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi
dan yang disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ
-- Binasalah
para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- yaitu
Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- Ketika mereka
duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan mereka
menjadi saksi atas apa yang
dilakukan mereka terhadap orang-orang
beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ
اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡحَمِیۡدِ ۙ -- Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- Yang
kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. اِنَّ
الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ
وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ
-- Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang
beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka
tidak bertaubat, maka bagi mereka
azab Jahannam dan bagi mereka azab
yang membakar. اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ -- Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
yang demikian itu merupakan keberhasilan besar. اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- Sesungguhnya cengkraman
Rabb (Tuhan) engkau sangat keras.
اِنَّہٗ ہُوَ
یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ -- Sesungguhnya Dia-lah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ -- Dan Dia
Maha Pengampun, Maha Pencinta. ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha
Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا
یُرِیۡدُ -- Yang
melakukan apa yang Dia kehendaki. ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ
الۡجُنُوۡدِ -- Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ -- Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ -- Bahkan orang-orang kafir se-lalu mendustakan, وَ اللّٰہُ
مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ -- padahal Allah
mengepung mereka dari belakang mereka.
بَلۡ ہُوَ قُرۡاٰنٌ
مَّجِیۡدٌ -- Bahkan yang didustakan ia
adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang
tersimpan dalam
papan yang terjaga. (Al-Burūj [85]:1-23).
Al-Quran Merupakan Al-Furqān (Pembeda) yang Haq (Benar) dan yang Bathil (Palsu) & “Orang-orang
yang Disucikan” Allah Swt.
Dalam Bab 90 telah dikemukakan kemampuan
Al-Quran – sebagai kitab suci terakhir
dan tersempurna (QS.5:4) – selain
sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia (QS.2:186), khususnya
orang-orang yang bertakwa (QS.2:3),
Al-Quran juga sebagai furqān (pembeda- QS.25:2) yang mampu menggelincirkan orang-orang yang berhati
bengkok dan berpenyakit
(QS.3:8-9), firman-Nya:
وَ نُنَزِّلُ
مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ
لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا ﴿﴾
Dan Kami berangsur-angsur menurunkan dari Al-Quran suatu
penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, tetapi tidak menambah kepada orang-orang
yang zalim melainkan kerugian. (Bani
Israil [17]:83).
Firman-Nya
lagi:
قُلۡ کُلٌّ
یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ
ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Setiap orang beramal menurut caranya sendiri dan
Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang
lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
Kata-kata ‘alā syākilati-hi berarti: sesuai dengan niat,
cara berpikir, tujuan-tujuan, dan maksud-maksud sendiri, فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ
ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا -- “dan Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih
terpimpin pada jalan-Nya,” sebab memang Al-Quran
– sebagai Kitab suci yang terakhir dan tersempurna pun (QS.5:4)
sebagai “furqan” (pemisah)
yang haq (benar) dan yang bathil (palsu/dusta – QS.186), sebagaimana firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ
الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ
الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ
زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ
ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ
رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran kepada engkau, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah
pokok-pokok Al-Kitab, sedangkan yang lain ayat-ayat mutasyābihāt. Adapun
orang-orang yang di dalam hatinya
ada kebengkokan maka mereka
mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt
karena ingin menimbulkan fitnah
dan ingin mencari-cari takwilnya
yang salah, padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal
dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan
tidak ada yang meraih nasihat kecuali
orang-orang yang mempergunakan akal.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا
بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا
مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah.
(Ali
‘Imran [3]:8-9).
Makna ayat:
وَ
مَا یَعۡلَمُ
تَاۡوِیۡلَہٗۤ اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ
یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ
عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ
اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ -- “padahal
tidak ada yang mengetahui takwilnya
kecuali Allah, dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal
dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” Dan
tidak ada yang meraih nasihat kecuali
orang-orang yang mempergunakan akal”
bahwa makrifat Al-Quran yang hakiki hanya dianugerahkan kepada mereka
yang berhati suci atau yang “disucikan
Allah Swt.” (QS.56:80).
“Perang Fatwa” di Akhir
Zaman Ini Mengancam Kerukunan
Hidup Umat Beragama
Jadi betapa berbahayanya “berfatwa” masalah agama jika tidak didukung oleh pemahaman
keagamaan yang benar -- sebagaimana yang difahami oleh Nabi Besar
Muhammad saw. dan “orang-orang yang
disucikan” Allah Swt. (QS.56:76-80) --
karena “fatwa-fatwa” seperti itu
bukannya akan menyelesaikan
masalah melainkan justru akan mengakibatkan timbulnya berbagai masalah besar lainnya yang menjurus
kepada perpecahan umat yang semakin parah dan berlanjut dengan
“perang fatwa” sebagaimana
yang terjadi di Akhir Zaman ini.
Dari sekian banyak macam “fatwa” yang menimbulkan masalah
diantaranya adalah “fatwa takfir” (pengkafiran)
terhadap pihak-pihak lainnya padahal mereka menganut agama yang sama, yang akan berlanjut dengan tindakan
menghalalkan segala cara
atas nama agama.
Salah satu contoh “fatwa
keliru” – yang didasari ketunaan ilmu -- seperti itu adalah protes yang dikemukakan para pemuka Bani Israil ketika mendengar nabi mereka menyatakan bahwa Allah Swt. telah memilih “Thalut” sebagai raja
mereka, firman-Nya:
وَ قَالَ لَہُمۡ نَبِیُّہُمۡ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ بَعَثَ لَکُمۡ طَالُوۡتَ
مَلِکًا ؕ قَالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ
الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً
مِّنَ الۡمَالِ ؕ قَالَ اِنَّ
اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ
بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ ؕ وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ
﴿﴾
Dan nabi mereka berkata kepada mereka:
“Sesungguhnya Allah telah mengangkat
Thalut menjadi raja bagi kamu.” قَالُوۡۤا اَنّٰی
یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ
یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ -- Mereka berkata: “Bagaimana ia bisa memiliki kedaulatan atas
kami, padahal kami lebih berhak
memiliki kedaulatan daripadanya,
karena ia tidak pernah diberi harta yang
berlimpah-ruah?” قَالَ اِنَّ اللّٰہَ اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی
الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ -- Ia (nabi) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihnya sebagai raja
atas kamu dan melebihkannya dengan
keluasan ilmu dan kekuatan badan.”
وَ
اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Dan Allah
memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah Maha
Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.
(Al-Baqarah
[2]:248).
Jadi, menurut pendapat para pemuka Bani Israil syarat yang paling penting bagi seseorang untuk dijadikan raja
mereka adalah “memiliki harta kekayaan yang berlimpah-ruah”, firman-Nya: َالُوۡۤا اَنّٰی یَکُوۡنُ لَہُ الۡمُلۡکُ عَلَیۡنَا وَ
نَحۡنُ اَحَقُّ بِالۡمُلۡکِ مِنۡہُ وَ لَمۡ یُؤۡتَ سَعَۃً مِّنَ الۡمَالِ -- Mereka berkata: “Bagaimana ia bisa memiliki kedaulatan atas
kami, padahal kami lebih berhak memiliki
kedaulatan daripadanya, karena ia tidak pernah diberi harta yang
berlimpah-ruah?”
Tetapi pendapat
atau “fatwa” para pemuka Bani Israil tersebut bertentangan dengan kebijaksanaan Allah Swt.: قَالَ اِنَّ اللّٰہَ
اصۡطَفٰىہُ عَلَیۡکُمۡ وَ زَادَہٗ بَسۡطَۃً فِی الۡعِلۡمِ وَ الۡجِسۡمِ -- Ia (nabi) berkata:
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya
sebagai raja atas kamu dan melebihkannya
dengan keluasan ilmu dan kekuatan badan.” وَ اللّٰہُ یُؤۡتِیۡ مُلۡکَہٗ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Dan Allah
memberikan kedaulatan-Nya kepada siapa
yang Dia kehendaki, dan Allah Maha
Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.”
(Al-Baqarah
[2]:248).
Al-Quran Sebagai Mushaddiqan
(Yang Menggenapi)
Kembali kepada peringatan Allah Swt. agar tidak
berburuk-sangka dan tergesa-gesa menjatuhkan fatwa “sesat dan menyesatkan” terhadap pihak lain yang berbeda
pendapat dalam masalah keagamaan, firman-Nya:
قُلۡ کُلٌّ
یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ
ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Setiap orang beramal menurut caranya sendiri dan
Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang
lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
Makna عَلٰی شَاکِلَتِہٖ dalam ayat قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ
ؕ berarti : “Setiap orang beramal sesuai dengan (1) niatnya, (2) cara (metode) berpikirnya,
(3) tujuan-tujuannya, (4) maksud-maksudnya sendiri, (5) mazhab yang dianutnya, (6) manhāj-nya (jalan tempuhannya/hukum – QS.5:49) dan lain-lain,
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ
اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ
مِنَ الۡکِتٰبِ وَ مُہَیۡمِنًا عَلَیۡہِ فَاحۡکُمۡ بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ لَا
تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ عَمَّا جَآءَکَ مِنَ الۡحَقِّ ؕ لِکُلٍّ جَعَلۡنَا
مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا ؕ وَ لَوۡ
شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً وَّ لٰکِنۡ
لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ ؕ اِلَی
اللّٰہِ مَرۡجِعُکُمۡ جَمِیۡعًا فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ
تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Kami telah
menurunkan
Kitab kepada engkau dengan haq, مُصَدِّقًا -- menggenapi
apa yang telah diwahyukan sebelumnya di dalam Alkitab dan sebagai penjaga atasnya, فَاحۡکُمۡ بَیۡنَہُمۡ
بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ -- maka hendaklah
engkau memutuskan perkara
di antara mereka dengan apa yang diturunkan Allah, وَ لَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ عَمَّا جَآءَکَ مِنَ
الۡحَقِّ -- dan
janganlah mengikuti hawa nafsu mereka
dengan berpaling dari kebenaran
yang telah datang kepada engkau. لِکُلٍّ
جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا -- Bagi setiap
orang di antara kamu Kami menetapkan
peraturan dan jalan.
وَ
لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً
وَّاحِدَۃً الۡخَیۡرٰتِ -- Dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan menjadikan kamu satu umat, وَّ لٰکِنۡ
لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا -- akan tetapi Dia hendak menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepada kamu,
فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ -- maka berlomba-lombalah
kamu dalam kebaikan. ؕ اِلَی اللّٰہِ
مَرۡجِعُکُمۡ جَمِیۡعًا فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ
تَخۡتَلِفُوۡنَ -- Kepada Allah-lah kamu semua akan kembali,
lalu Dia akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang kamu berselisih di
dalamnya. (Al-Māidah [5]:49).
Kata mushaddiqan dalam awal ayat tersebut
diartikan menggenapi bukan membenarkan, alasannya kata mushaddiq
diserap dari shaddaqa, yang berarti: ia menganggap atau menyatakan dia
atau sesuatu itu benar (Lexicon Lane).
Jika kata itu dipakai dalam arti “menganggap
hal itu benar” maka kata itu tidak diikuti oleh kata perangkai, atau hanya diikuti oleh kata perangkai ba’.
Tetapi jika dipakai arti “menggenapi”
seperti pada ayat ini, kata itu diikuti oleh kata perangkai lam (QS.2:92
dan QS.35:32).
Dengan demikian di sini kata itu
berarti “menggenapi” dan bukan “mengukuhkan” atau “menyatakan benar.” Al-Quran menggenapi nubuatan-nubuatan yang termaktub dalam Kitab-kitab Suci terdahulu mengenai kedatangan seorang Nabi Pembawa Syariat dan Kitab Suci untuk seluruh dunia, yaitu Nabi Besar Muhammad saw. atau Nabi yang seperti Musa (QS.46:11; Ulangan 18:18).
Kapan saja Al-Quran menyatakan
dirinya sebagai mushaddiq Kitab-kitab Suci sebelumnya, Al-Quran tidak membenarkan
ajaran Kitab-kitab Suci itu, melainkan Al-Quran menyebutkan datang sebagai menggenapi nubuatan-nubuatan Kitab-kitab Suci itu. Meskipun demikian Al-Quran
mengakui semua Kitab Wahyu yang
sebelumnya berasal dari Allah Swt. tetapi Al-Quran tidak menganggap bahwa semua ajaran itu sekarang benar
dalam keseluruhannya, sebabbanyak dari bagian-bagian Kitab-kitab suci terdahulu –
seiring dengan berjalannya waktu -- telah hilang,
atau telah diubah dan banyak yang
dimaksudkan hanya untuk masa tertentu,
sekarang telah menjadi kuno, sehingga
memerlukan kedatangan Kitab suci terakhir
dan tersempurna yaitu
Al-Quran (QS.2:107; QS.5:4; QS.3:86).
Al-Quran Sebagai “Penjaga”
Kitab-kitab Suci Sebelumnya & Makna Syir’ah
dan Minhāj
Muhaiminan dalam ayat: وَ مُہَیۡمِنًا عَلَیۡہِ berarti: saksi; pemberi rasa aman dan tenteram; pengawas dan penilik perkara-perkara manusia; penjaga dan pelindung (Lisan-ul-‘Arab). Di sini
Al-Quran disebut penjaga Kitab-kitab
pendahulunya dalam arti bahwa Al-Quran melestarikan
semua kebenaran kekal dan bernilai abadi yang terdapat di dalam Kitab-kitab Suci terdahulu dan meninggalkan sesuatu yang tidak memiliki
unsur keabadian dan tidak mampu memenuhi keperluan umat manusia
(QS.2:107). Lagi, Al-Quran disebut penjaga
Kitab-kitab yang terdahulu dalam artian bahwa Al-Quran menikmati perlindungan Ilahi terhadap pemalsuan (QS.15:10), suatu rahmat
Ilahi yang tidak dianugerahkan kepada Kitab-kitab
yang terdahulu.
Syir’ah
dalam ayat: لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً
وَّ مِنۡہَاجًا -- “bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan
peraturan dan jalan” artinya hukum
syariat yang terdiri atas peraturan-peraturan
puasa, shalat, naik haji, dan amal-amal ibadah lainnya; jalan kepercayaan dan perilaku yang nyata lagi benar (Lexicon Lane). Minhāj berarti jalan atau lorong yang kentara,
jelas sekali lagi terbuka (Lexicon
Lane). Al-Mubarrad berkata, kata yang pertama (syir’ah) berarti permulaan sebuah jalan, sedangkan kata
yang kedua (minhāj) adalah badan
jalan yang telah banyak dilalui (Fath-ul-Qadir).
Dengan
demikian syir’ah atau syariat
adalah hukum yang terutama
berhubungan dengan keruhanian,
sedangkan minhāj adalah hukum
yang berhubungan dengan urusan duniawi.
Syir’ah berarti juga “jalan menuju ke air”, artinya ialah Allah Swt.
memperlengkapi seluruh
makhluk-Nya — menurut kemampuan masing-masing — dengan sarana-sarana untuk menemukan
jalan menuju sumber mata air
keruhanian, yakni wahyu Ilahi.
Pernyataan Allah Swt.: لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا -- “Bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan peraturan dan jalan” selaras dengan firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. di
awal Bab ini :
قُلۡ کُلٌّ
یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ
ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah:
“Setiap orang beramal menurut caranya sendiri dan
Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang
lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
Dikarenakan manusia – termasuk para rasul (nabi) Allah -- tidak mengetahui hal gaib maka manusia sering keliru
dalam melakukan penilaian terhadap penampilan,
ucapan atau pendapat serta tindakan seseorang yang dianggap “nyleneh”
atau beda dengan umum -- terlebih lebih hal-hal
yang bersangkutan dengan masalah agama
atau keimanan -- lalu mengambil kesimpulan atau praduga negative mengenainya, padahal sangkaannya tersebut mungkin
saja keliru, sebab menurut Allah Swt.: کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ -- “Setiap orang beramal menurut caranya
sendiri.” Itulah sebabnya dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ بِمَنۡ
ہُوَ اَہۡدٰی سَبِیۡلًا -- “dan Rabb
(Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih
terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 30 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar