Rabu, 11 Januari 2017

Pentingnya Bertakwa Kepada Allah Swt. dan Berpegang-teguh Pada "Tali Allah" & Kepastian Kegagalan "Konsep-konsep Pemikiran" Para Penentang Al-Quran



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  99

PENTINGNYA BERTAKWA KEPADA ALLAH SWT. DAN BERPEGANG-TEGUH PADA “TALI ALLAH”   & KEPASTIAN KEGAGALAN    KONSEP-KONSEP PEMIKIRAN PARA PENENTANG AL-QURAN SERTA BERBAGAI AKIBAT BURUK YANG AKAN MENIMPA MEREKA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 98  dibahas   makna surah Ali ‘Imran ayat 29  dalam hubungannya dengan makna  “larangan” Allah Swt. dalam surah Al-Maidāh ayat 52  -- yang akibat melakukan pelanggaran terhadap petunjuk Allah Swt. tersebut   -- maka telah menyebabkan timbulnya kemelut besar di kawasan Timur Tengah yang sangat mengerikan  karena adanya kemunafikanفَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ   -- Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir  یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- seraya berkata: “Kami takut  bencana menimpa kami ”  --  padahal Allah Swt. telah melarang menjadikan pihak-pihak yang secara aktif memusuhi Islam sebagai wali (pelindung/sahabat), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ     اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ     فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ    --  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ   -- sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ  --  Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka.  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalimفَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ     -- Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir  یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- seraya berkata: “Kami takut  bencana menimpa kami.” فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ  --  Boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      --  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ  -- maka  mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka  sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah [5]:51-52).

Pentingnya Umat Islam  Senantiasa Berpegang-teguh Pada “Tali Allah

       Makna  dā’irah dalam ayat:  یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- seraya berkata: “Kami takut  bencana menimpa kami”  berarti daur (pergiliran) nasib, terutama kejadian buruk, nasib sial; bencana; kekalahan atau dikeluarkan dengan paksa dari persembunyian; pembunuhan atau kematian (Lexicon Lane). Jadi, demi mempertahankan kekuasaannya  dan lain-lain yang bersifat duniawi, orang-orang munafik seperti itu rela mengabaikan “persaudaraan Muslim” serta melakukan pelanggaran terhadap ajaran Islam (Al-Quran) dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.
       Sedangkan makna  “kemenangan” yang disebut dalam ayat selanjutnya:    فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ  --  maka boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      --  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya”,  dapat mengacu kepada jatuhnya Mekkah atau kepada kemenangan Islam  secara umum.
     Jelas sekali bahwa kata “peristiwa” di belakang kabar kemenangan mengisyaratkan kepada suatu peristiwa yang lebih besar daripada kemenangan itu sendiri. Rupa-rupanya kata itu mengisyaratkan kepada masuknya seluruh penduduk jazirah Arabia ke haribaan Islam dan tegaknya Islam di sana  yang terjadi setelah peristiwa Fatah Mekkah  sebagaimana dinubuatkan dalam surah An-Nashr [110]:1-4).
       Sehubungan dengan makna larangan  Allah Swt. dalam surah Al-Māidah  ayat 52  -- yang bersifat khusus atau terbatas terhadap pihak-pihak yang secara aktif melakukan penentangan atau penyerangan terhadap  umat Islam   -- dijelaskan Allah Swt. dalam surah berikut ini:
َا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumahmu, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ    --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ  -- dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
    Kegagalan Liga Arab seperti yang terjadi saat ini tidak akan pernah terjadi seandainya melaksanakan  perintah Allah Swt. berikut ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿   وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿   وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ ﴾ۙ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.  Dan  berpegangteguhlah ka-mu sekalian pada tali  Allah,  dan  janganlah kamu berpecah-belah, dan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,   lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain  maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api  lalu Dia menyelamatkan kamu darinya.  Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada keba-ikan dan   menyuruh kepada yang makruf,  dan melarang dari berbuat munkar,   dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.   Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah-belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar. (Ali ‘Imrān [3]:103-106).

Proses Kemunduran di Kalangan Umat Islam

       Dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman mengenai  proses kemunduran umat Islam  setelah mengalami masa kejayaannya yang pertama selama 3 abad, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾  ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung   ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ --    Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang, (As-Sajdah [32]:6-7).
      Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat  yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
      Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
      Peristiwa kemunduran dan kemerosotan  Islam (umat Islam) berlangsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.”
      Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw.  --  sehubungan surah Al-Jumu’ah ayat 2-3 mengenai kedatangan “kaum lain” di kalangan umat Islam --     diriwayatkan Abu Hurairah r.a., beliau saw. pernah bersabda bahwa “Iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi” (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
      Jadi, selaras dengan nubuatan Al-Quran mengenai terjadinya proses kemunduran yang terjadi di kalangan umat Islam dalam kurun waktu 1000 tahun (QS.32:6)  -- setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad   --  tersebut, dimulai dengan menghilangnya ketakwaan kepada Allah Swt. dan kepatuh-taatan terhadap Sunnah Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:103), lalu  melepaskan pegangan  pada “Tali Allah” (Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.), kemudian terjadi perpecahan umat (QS.3:104)  -- seperti yang terjadi pada golongan Ahli-Kitab (QS.3:106)  -- sehingga akibatnya umumnya  umat Islam di Akhir Zaman ini  terjerumus ke dalam berbagai bentuk  “kobaran api” berupa pertentangan dan peperangan di kalangan sesama Muslim,  sebagaimana yang  terjadi  di wilayah Afrika, Timur-Tengah   – sekali pun masih  ada  Liga Arab  (Arab League)  dan OKI  --  dan di  Asia  Selatan. 
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai keadaan "dua golongan" yang keadaannya  digambarkan berbeda serta penyebabnya:
یَّوۡمَ تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ  وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ فَفِیۡ رَحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ ہُمۡ  فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾  تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ  ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ  اِلَی اللّٰہِ  تُرۡجَعُ  الۡاُمُوۡرُ  ﴿﴾٪
Pada hari ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam, dikatakan kepada mereka: “Apakah  kamu kafir  sesudah beriman  Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran kamu."  Dan  ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal  di dalamnya. Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq,   dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman  atas seluruh alam.    Dan  milik Allah-lah apa pun  yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi, dan kepada Allah-lah segala urusan dikembalikan. (Ali ‘Imran [3]:107-110).

Makna Yaum (Hari) &  Tantangan Allah Swt. Untuk Membuat Tandingan Al-Quran

      Kata  “yaum” (hari) dalam ayat:  “Pada hari ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam”   sama sekali tidak ada kaitannya dengan waktu   24 jam, sebab dalam Al-Quran “satu hari” ada yang bernilai 100 tahun (QS.2:260), 1000  tahun (QS.22:48;  QS.32:6);  50.000 tahun (QS.70:5), bahkan  ada lamanya ratusan  juta atau milyaran tahun, sebagaimana firman-Nya mengenai lamanya penciptaan seluruh langit dan bumi hingga saat ini (QS.7:55; QS.10:14; QS.11:8’ QS.25:60; QS.32:5; 41:10-13; QS,50:39; QS.57:5).
      Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah menyebut  masa penghakiman Allah Swt. yang sempurna amal manusia “yaumid-dīn – Hari Pembalasan” (QS.1:4).        Dengan demikian sebutan “hari” dalam Surah Ali ‘Imran ayat 107    dapat berarti  zaman atau periode waktu.  
        Itulah makna ayat:   “Pada hari ketika  wajah-wajah menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya   menjadi hitam,” yakni waktu di Akhir Zaman ini, ketika umat manusia – termasuk umat beragama  --  berlomba-lomba mengemukakan berbagai “konsep” (gagasan)  cara menciptakan “keamanan dan kedamaian” di dunia ini, namun   berbagai upaya yang dilakukan – termasuk konsep Kapitalisme dan Sosialisme   --    senantiasa gagal dan dalam kenyataannya telah menjerumuskan bangsa-bangsa penganutnya ke dalam 2 kali Perang Dunia, dan Perang Dunia III   atau  Perang Nuklir pun sedang mengancam umat manusia (QS.55:34-46; QS.70:1-19; QS.104:1-10).
       Pertanyaannya: Mengapa konsep-konsep  keamanan dan perdamaian dunia  buatan manusia – yang bertentangan dengan petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran -- tersebut senantiasa mengalami kegagalan, sekali pun Liga Bangsa-bangsa telah diubah menjadi Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB)? Jawabannya adalah:
        (1) Allah Swt.  sejak lebih 1400 tahun lalu dalam Al-Quran telah menyatakan dan telah menantang  bahwa  -- kecuali  segala pemikiran dan perbuatan manusia yang selaras dengan petunjuk Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22)  -- maka semua pemikiran dan perbuatan yang bertentangan dengan petunjuk Al-Quran, cepat atau lambat, akan berujung dengan munculnya “kobaran api” di dunia mau pun di akhirat, berikut firman-Nya kepada para penentang Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ ۪ وَ ادۡعُوۡا شُہَدَآءَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ  ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika kamu  dalam keraguan mengenai apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka  buatlah satu Surah yang semisalnya, dan panggillah penolong-penolong kamu selain Allah jika kamu  adalah orang-orang yang benar.    فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا  --   Tetapi jika kamu  tidak mampu melakukannya,  وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا -- dan kamu tidak akan pernah mampu melakukannya, فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ    -- maka peliharalah diri kamu dari Api  yang bahan bakarnya  manusia   dan batu اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ --  yang disediakan bagi orang-orang kafir  (Al-Baqarah [2]:24-25).

Hikmah Beragamnya Tantangan Membuat Tandingan Al-Quran

       Masalah keindahan  dan kesempurnaan  Al-Quran yang tiada bandingannya telah dibicarakan pada lima tempat yang berlainan, yaitu dalam QS.2:24; QS.10:39; QS.11:14; QS.17: 89; dan QS.52:34-35. Dalam dua dari kelima ayat itu (QS.2:24 dan QS.10:39) tantangannya serupa, sedang dalam tiga ayat lainnya tiga tuntutan terpisah dan berbeda telah dimintakan dari kaum kafir.
      Sepintas lalu perbedaan dalam bentuk tantangan di tempat yang berlainan itu  nampaknya seolah-olah tidak sama. Tetapi keadaan yang sebenarnya tidak demikian. Pada hakikatnya ayat-ayat itu mengandung tuntutan-tuntutan tertentu yang berlaku untuk selama-lamanya. Tantangan itu berlaku bahkan hingga sekarang juga – bahkan sampai Hari Kiamat -- dalam semua bentuk yang berbeda-beda itu, seperti tertera dalam Al-Quran sebagaimana dahulu berlaku di zaman Nabi Besar Muhammad saw.
      Perlu  diperhatikan bahwa disebutnya tantangan-tantangan dalam Al-Quran senantiasa disertai oleh pembicaraan atau tuntutan orang-orang kafir kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai harta kekayaan dan kekuasaan, kecuali dalam ayat ini  seperti telah dinyatakan di atas, tidak berisikan tantangan baru tetapi hanya mengulangi tantangan yang dikemukakan dalam QS.10:39.
    Dari kenyataan itu dapat diambil kesimpulan dengan aman bahwa ada perhubungan erat antara perkara tuntutan orang-orang kafir mengenai  kekayaan dan kekuasaan dengan tantangan  Al-Quran  untuk membuat kitab seperti Al-Quran atau sebagiannya. Perhubungan itu terletak dalam kenyataan bahwa Al-Quran ditawarkan kepada orang-orang kafir sebagai khazanah yang sangat berharga.
      Ketika orang-orang kafir meminta kekayaan yang bersifat kebendaan dari  Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.11:13), mereka diberi penjelasan bahwa beliau saw. mempunyai kekayaan yang tidak ada bandingannya dalam bentuk Al-Quran. Dan ketika mereka bertanya: “Mengapakah tidak diturunkan kepadanya suatu khazanah atau datang bersamanya seorang malaikat?” (QS.11:13), dikatakan kepada mereka sebagai jawaban bahwa para malaikat memang telah turun kepada beliau saw. sebab tugas mereka adalah  membawa firman (wahyu) Allah Swt.  dan memang firman itu telah dilimpahkan kepada beliau saw..
      Jadi,  kedua tuntutan untuk harta kekayaan dan untuk turunnya para malaikat telah bersama-sama dipenuhi oleh Al-Quran yang merupakan khazanah yang tidak ada tara bandingannya diturunkan oleh para malaikat, dan tantangan untuk membuat yang semisalnya diajukan sebagai bukti keagungannya yang tiada taranya.
Keterangan-keterangan di atas memperlihatkan bahwa semua tantangan yang menyeru orang-orang kafir untuk membuat buku petunjuk  sebagai tandingan Al-Quran itu berbeda sekali dan terpisah dari satu sama lain, dan semuanya berlaku untuk sepanjang zaman, tidak ada yang melebihi atau membatalkan yang lain.
      Tetapi karena Al-Quran itu mengandung gagasan-gagasan yang mulia dan agung, maka  -- tidak dapat tidak   -- sudah seharusnya dipilih kata-kata yang sangat indah dan tepat serta gaya bahasa yang paling murni, sebagai wahana untuk membawakan gagasan-gagasan itu, sebab  jika tidak demikian maka pokok pembahasannya mungkin akan tetap gelap dan penuh keragu-raguan, dan keindahan paripurna Al-Quran niscaya akan ternoda.
         Jadi, dalam bentuk dan segi apa pun orang-orang kafir dalam berbagai surah Al-Quran – termasuk dalam ayat yang sedang dibahas  -- telah ditantang untuk mengemukakan suatu gubahan seperti Al-Quran, tuntutan akan keindahan gaya bahasa dan kecantikan pilihan kata-katanya yang setanding dengan Al-Quran, merupakan pula bagian tantangan itu, firman-Nya:
وَ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ مِّثۡلِہٖ ۪ وَ ادۡعُوۡا شُہَدَآءَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾  
Dan jika kamu  dalam keraguan mengenai apa yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka  buatlah satu Surah yang semisalnya, dan panggillah penolong-penolong kamu selain Allah jika kamu  adalah orang-orang yang benar.  (Al-Baqarah [2]:24).

Jawaban Tegas Allah Swt. Mengenai Kegagalan Para Penentang Al-Quran

      Namun dengan tegas Allah Swt. menjawab-Nya sendiri mengenai – bukan saja ketidak-mampuan para penentang Al-Quran untuk melakukannya, bahkan diberitahukan juga akibat buruk yang akan menimpa mereka jika mereka memaksakan diri mengamalkan pemikiran-pemikiran dan gagasan-gagasan  yang mereka buat --  firman-Nya:  فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا  --   Tetapi jika kamu  tidak mampu melakukannya,  وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا -- dan kamu tidak akan pernah mampu melakukannya, فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ    -- maka peliharalah diri kamu dari Api  yang bahan bakarnya  manusia   dan batu (Al-Baqarah [2]:25).
       Kata “bahan bakar” dapat diambil dalam artian kiasan dan berarti bahwa siksaan api (neraka) itu disebabkan oleh menyembah berhala. Jadi berhala-berhala itu bagaikan “bahan bakar” untuk menyalanya api (neraka), karena menjadi sarana untuk menghidupkan api (neraka), atau “batu” berarti berhala-berhala yang dipuja orang-orang musyrik sebagai dewa-dewa, maksudnya ialah orang-orang musyrik akan dihinakan dengan menyaksikan sendiri dewa-dewa mereka  dilemparkan ke dalam api.
       Kata-kata an-nās (manusia) dan al-hijārah (batu) dapat pula dianggap menunjuk kepada dua golongan penghuni neraka:
     (1) an-nās dapat menunjuk kepada orang-orang kafir (orang-orang musyrik) yang masih mempunyai semacam kecintaan kepada Allah Swt.;    
      (2)  al-hijārah (batu)   adalah orang-orang  yang di dalam hati mereka, sama sekali tidak ada kecintaan kepada Allah Swt., bahkan tidak mempercayai adanya Tuhan (Atheisme).  Orang-orang semacam itu memang tidak lebih dari batu. Kata hijārah itu jamak dari hajar yang berarti: batu, karang, emas, dan juga seseorang tanpa tanding, yaitu  orang besar, pemimpin (Lexicon Lane). Jadi, benarlah firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ  ظَہِیۡرًا ﴿﴾  
Katakanlah: “Jika  ins  (manusia) dan jin benar-benar berhimpun  untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini, mereka tidak akan sanggup men-datangkan yang sama seperti ini, walaupun  sebagian mereka membantu sebagian yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
       Karena ayat-ayat yang mendahuluinya membahas masalah ruh  -- baik ruh manusia mau pun “ruh” Al-Quran  - (QS.18:86-88)  – karena itu tantangan dalam ayat ini pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan klenik, supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya orang-orang ahli kebatinan itu —  menurut pengakuannya sendiri — menerima ilmu ruhani. Tantangan ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Alquran bersumber pada Tuhan dan untuk sepanjang masa.

Jawaban Kedua:  Keberadaan  Khalifah Allah  dan Khilafat Adalah Wewenang Allah Swt.

        Demikianlah jawaban pertama  pertanyaan: Mengapa konsep-konsep  keamanan dan perdamaian dunia  buatan manusia – yang bertentangan dengan petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran -- tersebut senantiasa mengalami kegagalan, sekali pun Liga Bangsa-bangsa telah diubah menjadi Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB)?  Jawaban yang kedua:
       (2) Sebab Allah Swt. berfirman bahwa  menciptakan “langit baru dan bumi baru” merupakan wewenang-Nya (QS.2:31-36; QS.14:45-53), dan tidak ada seorang pun dapat memberikan syafaat kecuali dengan izin-Nya (QS.2:256), yaitu para rasul Allah.  Dia berfirman:
وَ اِذۡ  قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا  لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَ ہُمۡ  لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ بِئۡسَ  لِلظّٰلِمِیۡنَ  بَدَلًا ﴿﴾  مَاۤ  اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ  الۡمُضِلِّیۡنَ  عَضُدًا ﴿﴾  وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ  الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا ﴿﴾  وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ  یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا ﴿٪﴾  وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah yakni patuhlah kepada  Adam," فَسَجَدُوۡۤا  اِلَّاۤ  اِبۡلِیۡسَ  --  maka  sujudlah mereka  kecuali iblis, کَانَ مِنَ  الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ   -- ia adalah dari golongan jin  maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ  اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ  وَ ہُمۡ  لَکُمۡ عَدُوٌّ --  Apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu musuh-musuhmu? بِئۡسَ  لِلظّٰلِمِیۡنَ  بَدَلًا -- Sangat buruk  bagi orang-orang yang zalim pertukaran itu. مَاۤ  اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪    --  Aku   sekali-kali tidak mem.-buat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit dan bumi,    dan tidak pula penciptaan mereka sendiri, وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ  الۡمُضِلِّیۡنَ  عَضُدًا  -- dan Aku sama sekali tidak dapat mengambil mereka yang menyesatkan orang-orang sebagai pembantu. وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ  الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ  -- Dan ingatlah hari  ketika Dia akan berfirman kepada mereka:  "Panggillah mereka yang kamu anggap sekutu-sekutu-Ku." فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ  مَّوۡبِقًا --  Lalu mereka  akan memanggil mereka itu  tetapi mereka itu tidak akan men­jawabnya  dan Kami menjadikan di antara mereka suatu penghalang."  وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ  یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا  -- Dan  orang-orang yang berdosa akan melihat Api itu, dan meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka ti-dak akan dapat menemukan  tempat berpaling darinya. وَ لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ --     Dan  sungguh Kami benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia  setiap perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ  شَیۡءٍ  جَدَلًا --   tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah.  (Al-Kahf [18]:51-55).  

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   9  Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar