Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 99
PENTINGNYA BERTAKWA KEPADA ALLAH SWT. DAN BERPEGANG-TEGUH
PADA “TALI ALLAH” & KEPASTIAN
KEGAGALAN KONSEP-KONSEP PEMIKIRAN PARA PENENTANG
AL-QURAN SERTA BERBAGAI AKIBAT BURUK
YANG AKAN MENIMPA MEREKA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 98
dibahas makna surah Ali ‘Imran ayat 29 dalam hubungannya dengan makna “larangan”
Allah Swt. dalam surah Al-Maidāh ayat
52 -- yang akibat melakukan pelanggaran
terhadap petunjuk Allah Swt. tersebut
-- maka telah menyebabkan timbulnya kemelut besar di kawasan Timur Tengah yang sangat mengerikan
karena adanya kemunafikan: فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ
یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ -- Maka engkau
akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas kepada mereka
yang kafir یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ -- seraya berkata: “Kami takut
bencana menimpa kami ”
-- padahal Allah Swt. telah
melarang menjadikan pihak-pihak yang
secara aktif memusuhi Islam sebagai wali (pelindung/sahabat), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ
بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ
نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی
اَوۡلِیَآءَ ۘؔ -- Janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani menjadi penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ -- sebagian
mereka adalah penolong sebagian
lainnya. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ -- Dan barangsiapa
di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. اِنَّ اللّٰہَ
لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ
یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ -- Maka
engkau akan melihat orang-orang yang di
dalam hatinya ada penyakit bergegas
kepada mereka yang kafir یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا
دَآئِرَۃٌ -- seraya berkata: “Kami
takut bencana menimpa kami.”
فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ -- Boleh
jadi Allah akan mendatangkan kemenangan
اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- atau suatu peristiwa lain
dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ -- maka
mereka akan merasa menyesal atas
apa yang telah mereka sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah
[5]:51-52).
Pentingnya Umat Islam Senantiasa Berpegang-teguh Pada “Tali Allah”
Makna dā’irah dalam ayat: یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ -- seraya berkata: “Kami takut
bencana menimpa kami”
berarti daur (pergiliran) nasib, terutama kejadian buruk, nasib sial;
bencana; kekalahan atau dikeluarkan
dengan paksa dari persembunyian; pembunuhan atau kematian
(Lexicon Lane). Jadi, demi
mempertahankan kekuasaannya dan lain-lain yang bersifat duniawi, orang-orang munafik seperti itu rela mengabaikan “persaudaraan Muslim” serta melakukan pelanggaran terhadap ajaran Islam (Al-Quran) dan Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.
Sedangkan makna “kemenangan” yang disebut dalam ayat
selanjutnya: فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ
-- maka boleh jadi Allah akan mendatangkan kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- atau
suatu peristiwa lain dari sisi-Nya”, dapat mengacu kepada jatuhnya Mekkah atau kepada kemenangan
Islam secara umum.
Jelas sekali bahwa kata “peristiwa”
di belakang kabar kemenangan mengisyaratkan kepada suatu peristiwa yang lebih besar daripada kemenangan
itu sendiri. Rupa-rupanya kata itu mengisyaratkan kepada masuknya seluruh penduduk jazirah Arabia ke haribaan Islam dan tegaknya
Islam di sana yang terjadi setelah
peristiwa Fatah Mekkah sebagaimana dinubuatkan dalam surah An-Nashr
[110]:1-4).
Sehubungan dengan makna larangan
Allah Swt. dalam surah Al-Māidah ayat 52
-- yang bersifat khusus atau terbatas terhadap pihak-pihak yang
secara aktif melakukan penentangan atau penyerangan terhadap umat Islam -- dijelaskan Allah Swt. dalam surah berikut
ini:
َا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ وَ لَمۡ یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ
دِیَارِکُمۡ اَنۡ تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ
اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ
ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ
تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumahmu,
sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berlaku adil. اِنَّمَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ
اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ
ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ
تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ --
Sesungguhnya Allah melarang kamu
menjadikan sebagai sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan
telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu
dan telah membantu untuk mengusir kamu,
وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ -- dan barangsiapa
bersahabat dengan mereka maka mereka
itulah orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
Kegagalan
Liga
Arab seperti yang terjadi saat ini tidak akan pernah terjadi seandainya
melaksanakan perintah Allah Swt. berikut ini,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿ ﴾ وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا
وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ ﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿ ﴾ وَ لَا
تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا
وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ ﴾ۙ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang
sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan berserah diri. Dan berpegangteguhlah
ka-mu sekalian pada tali Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah
akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hati kamu dengan kecintaan
antara satu sama lain maka
dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia
menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu
supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah
ada segolongan di antara kamu yang senantiasa menyeru manusia kepada keba-ikan dan menyuruh
kepada yang makruf, dan melarang dari berbuat munkar, dan mereka
itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang yang baginya ada azab yang besar. (Ali
‘Imrān [3]:103-106).
Proses Kemunduran di Kalangan Umat
Islam
Dalam Al-Quran Allah Swt. berfirman
mengenai proses kemunduran umat Islam
setelah mengalami masa kejayaannya
yang pertama selama 3 abad,
firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ
السَّمَآءِ اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ
یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿﴾ ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu
akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang
hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ
-- Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang, (As-Sajdah [32]:6-7).
Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat yang ditakdirkan
akan menimpa Islam dalam
perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan
dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup,
kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur
sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya.
Peristiwa kemunduran dan kemerosotan Islam (umat Islam) berlangsung dalam masa
1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan
dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ
فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ
-- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang
hitungan lamanya seribu tahun dari
apa yang kamu hitung.”
Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad
saw. --
sehubungan surah Al-Jumu’ah
ayat 2-3 mengenai kedatangan “kaum lain”
di kalangan umat Islam -- diriwayatkan Abu Hurairah r.a., beliau
saw. pernah bersabda bahwa “Iman akan
terbang ke Bintang Tsuraya dan
seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya
ke bumi” (Bukhari,
Kitab-ut-Tafsir).
Jadi, selaras dengan nubuatan Al-Quran mengenai terjadinya proses kemunduran yang terjadi di
kalangan umat Islam dalam kurun waktu
1000 tahun (QS.32:6) -- setelah mengalami masa kejayaan yang pertama selama 3 abad -- tersebut, dimulai dengan menghilangnya ketakwaan kepada Allah Swt. dan kepatuh-taatan terhadap Sunnah Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.3:103), lalu melepaskan pegangan pada “Tali
Allah” (Al-Quran dan Sunnah Rasulullah saw.), kemudian terjadi perpecahan umat (QS.3:104) -- seperti yang terjadi pada golongan Ahli-Kitab (QS.3:106) -- sehingga akibatnya umumnya umat
Islam di Akhir Zaman ini terjerumus
ke dalam berbagai bentuk “kobaran api” berupa pertentangan dan peperangan
di kalangan sesama Muslim, sebagaimana yang terjadi di wilayah Afrika,
Timur-Tengah –
sekali pun masih ada Liga Arab (Arab League) dan OKI -- dan
di Asia Selatan.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai keadaan "dua golongan" yang keadaannya digambarkan berbeda serta penyebabnya:
یَّوۡمَ
تَبۡیَضُّ وُجُوۡہٌ وَّ تَسۡوَدُّ وُجُوۡہٌ ۚ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ
اسۡوَدَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ ۟ اَکَفَرۡتُمۡ بَعۡدَ
اِیۡمَانِکُمۡ فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡفُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ
اَمَّا الَّذِیۡنَ ابۡیَضَّتۡ وُجُوۡہُہُمۡ
فَفِیۡ رَحۡمَۃِ
اللّٰہِ ؕ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ مَا اللّٰہُ یُرِیۡدُ ظُلۡمًا لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ
تُرۡجَعُ الۡاُمُوۡرُ ﴿﴾٪
Pada hari ketika wajah-wajah
menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam. Ada pun orang-orang yang wajahnya menjadi hitam,
dikatakan
kepada mereka: “Apakah kamu kafir sesudah beriman? Karena itu rasakanlah azab ini disebabkan kekafiran
kamu." Dan ada pun orang-orang yang wajahnya putih, maka mereka akan berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal
di dalamnya. Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan Allah sekali-kali tidak menghendaki suatu kezaliman atas seluruh alam. Dan milik
Allah-lah apa pun yang ada di seluruh
langit dan apa pun yang ada di bumi,
dan kepada Allah-lah segala urusan
dikembalikan. (Ali ‘Imran [3]:107-110).
Makna Yaum
(Hari) & Tantangan Allah Swt.
Untuk Membuat Tandingan Al-Quran
Kata “yaum” (hari) dalam ayat: “Pada hari ketika wajah-wajah
menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam” sama sekali tidak ada kaitannya dengan
waktu 24 jam, sebab dalam
Al-Quran “satu hari” ada yang bernilai 100 tahun (QS.2:260), 1000
tahun (QS.22:48; QS.32:6); 50.000 tahun (QS.70:5), bahkan ada lamanya ratusan juta atau milyaran tahun,
sebagaimana firman-Nya mengenai lamanya penciptaan seluruh langit dan
bumi hingga saat ini (QS.7:55; QS.10:14; QS.11:8’ QS.25:60; QS.32:5; 41:10-13;
QS,50:39; QS.57:5).
Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah
menyebut masa penghakiman Allah
Swt. yang sempurna amal manusia “yaumid-dīn – Hari Pembalasan” (QS.1:4).
Dengan demikian sebutan “hari”
dalam Surah Ali ‘Imran ayat 107 dapat
berarti zaman atau periode
waktu.
Itulah makna ayat: “Pada hari ketika wajah-wajah
menjadi putih, dan wajah-wajah lainnya menjadi hitam,” yakni waktu di Akhir Zaman
ini, ketika umat manusia – termasuk umat beragama --
berlomba-lomba mengemukakan berbagai “konsep” (gagasan) cara menciptakan “keamanan dan kedamaian”
di dunia ini, namun berbagai upaya yang dilakukan –
termasuk konsep Kapitalisme dan Sosialisme -- senantiasa
gagal dan dalam kenyataannya telah menjerumuskan bangsa-bangsa penganutnya
ke dalam 2 kali Perang Dunia, dan Perang Dunia III atau Perang
Nuklir pun sedang mengancam umat manusia (QS.55:34-46; QS.70:1-19;
QS.104:1-10).
Pertanyaannya: Mengapa
konsep-konsep keamanan dan perdamaian
dunia buatan manusia – yang bertentangan
dengan petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran -- tersebut senantiasa
mengalami kegagalan, sekali pun Liga Bangsa-bangsa telah diubah
menjadi Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB)? Jawabannya adalah:
(1)
Allah Swt. sejak lebih 1400 tahun lalu
dalam Al-Quran telah menyatakan dan telah menantang bahwa
-- kecuali segala pemikiran
dan perbuatan manusia yang selaras dengan petunjuk
Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22) --
maka semua pemikiran dan perbuatan yang bertentangan
dengan petunjuk Al-Quran, cepat atau lambat, akan berujung dengan
munculnya “kobaran api” di dunia mau pun di akhirat, berikut
firman-Nya kepada para penentang Al-Quran dan Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِنۡ کُنۡتُمۡ
فِیۡ رَیۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ
مِّثۡلِہٖ ۪ وَ ادۡعُوۡا شُہَدَآءَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾ فَاِنۡ لَّمۡ
تَفۡعَلُوۡا وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا فَاتَّقُوا النَّارَ
الَّتِیۡ وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ
ۚۖ اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika kamu
dalam keraguan mengenai apa
yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah
satu Surah yang semisalnya, dan panggillah penolong-penolong kamu
selain Allah jika kamu
adalah orang-orang yang benar. فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا -- Tetapi jika
kamu tidak mampu melakukannya,
وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا -- dan kamu tidak akan
pernah mampu melakukannya, فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ
وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ -- maka peliharalah diri kamu dari Api yang bahan bakarnya manusia
dan batu اُعِدَّتۡ لِلۡکٰفِرِیۡنَ -- yang disediakan bagi orang-orang kafir (Al-Baqarah
[2]:24-25).
Hikmah Beragamnya Tantangan Membuat Tandingan Al-Quran
Masalah keindahan
dan kesempurnaan Al-Quran yang tiada bandingannya telah
dibicarakan pada lima tempat yang berlainan, yaitu dalam QS.2:24; QS.10:39;
QS.11:14; QS.17: 89; dan QS.52:34-35. Dalam dua dari kelima ayat itu (QS.2:24
dan QS.10:39) tantangannya serupa,
sedang dalam tiga ayat lainnya tiga tuntutan
terpisah dan berbeda telah dimintakan dari kaum
kafir.
Sepintas lalu perbedaan dalam
bentuk tantangan di tempat yang
berlainan itu nampaknya seolah-olah tidak sama. Tetapi keadaan yang
sebenarnya tidak demikian. Pada hakikatnya ayat-ayat itu mengandung tuntutan-tuntutan tertentu yang berlaku
untuk selama-lamanya. Tantangan itu
berlaku bahkan hingga sekarang juga – bahkan sampai Hari Kiamat -- dalam semua bentuk
yang berbeda-beda itu, seperti
tertera dalam Al-Quran sebagaimana dahulu berlaku di zaman Nabi Besar Muhammad
saw.
Perlu diperhatikan bahwa disebutnya tantangan-tantangan
dalam Al-Quran senantiasa disertai oleh pembicaraan
atau tuntutan orang-orang kafir kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai harta kekayaan dan kekuasaan, kecuali dalam ayat ini
seperti telah dinyatakan di atas, tidak berisikan tantangan baru tetapi hanya mengulangi
tantangan yang dikemukakan dalam QS.10:39.
Dari kenyataan itu dapat diambil kesimpulan dengan aman bahwa ada perhubungan erat antara perkara tuntutan orang-orang kafir mengenai kekayaan
dan kekuasaan dengan tantangan Al-Quran untuk membuat kitab seperti Al-Quran atau sebagiannya.
Perhubungan itu terletak dalam kenyataan bahwa Al-Quran ditawarkan kepada orang-orang
kafir sebagai khazanah yang
sangat berharga.
Ketika orang-orang kafir
meminta kekayaan yang bersifat kebendaan dari Nabi Besar Muhammad saw. (QS.11:13), mereka diberi penjelasan
bahwa beliau saw. mempunyai kekayaan
yang tidak ada bandingannya dalam
bentuk Al-Quran. Dan ketika mereka
bertanya: “Mengapakah tidak diturunkan kepadanya suatu khazanah atau datang
bersamanya seorang malaikat?” (QS.11:13), dikatakan kepada mereka sebagai jawaban bahwa para malaikat memang telah turun kepada beliau saw. sebab tugas mereka
adalah membawa firman (wahyu) Allah Swt. dan memang firman itu telah dilimpahkan
kepada beliau saw..
Jadi, kedua tuntutan
untuk harta kekayaan dan untuk turunnya para malaikat telah bersama-sama dipenuhi
oleh Al-Quran yang merupakan khazanah yang tidak ada tara bandingannya diturunkan oleh para malaikat, dan tantangan untuk membuat yang semisalnya
diajukan sebagai bukti keagungannya
yang tiada taranya.
Keterangan-keterangan di atas
memperlihatkan bahwa semua tantangan
yang menyeru orang-orang kafir untuk membuat
buku petunjuk sebagai tandingan
Al-Quran itu berbeda sekali dan terpisah dari satu sama lain, dan semuanya berlaku untuk sepanjang zaman, tidak ada yang melebihi
atau membatalkan yang lain.
Tetapi karena Al-Quran itu
mengandung gagasan-gagasan yang mulia
dan agung, maka -- tidak dapat tidak -- sudah seharusnya
dipilih kata-kata yang sangat indah
dan tepat serta gaya bahasa yang paling murni, sebagai wahana untuk membawakan gagasan-gagasan
itu, sebab jika tidak demikian maka pokok pembahasannya mungkin akan tetap gelap dan penuh keragu-raguan, dan keindahan
paripurna Al-Quran niscaya akan ternoda.
Jadi, dalam bentuk dan segi apa
pun orang-orang kafir dalam berbagai
surah Al-Quran – termasuk dalam ayat yang sedang dibahas -- telah ditantang
untuk mengemukakan suatu gubahan
seperti Al-Quran, tuntutan akan keindahan gaya bahasa dan kecantikan pilihan kata-katanya yang setanding dengan Al-Quran, merupakan pula bagian tantangan
itu, firman-Nya:
وَ اِنۡ کُنۡتُمۡ
فِیۡ رَیۡبٍ مِّمَّا نَزَّلۡنَا عَلٰی عَبۡدِنَا فَاۡتُوۡا بِسُوۡرَۃٍ مِّنۡ
مِّثۡلِہٖ ۪ وَ ادۡعُوۡا شُہَدَآءَکُمۡ مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ اِنۡ کُنۡتُمۡ صٰدِقِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika kamu
dalam keraguan mengenai apa
yang telah Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah
satu Surah yang semisalnya, dan panggillah penolong-penolong kamu
selain Allah jika kamu
adalah orang-orang yang benar. (Al-Baqarah [2]:24).
Jawaban
Tegas Allah Swt. Mengenai Kegagalan Para Penentang Al-Quran
Namun dengan tegas Allah Swt. menjawab-Nya sendiri mengenai – bukan saja
ketidak-mampuan para penentang Al-Quran untuk melakukannya,
bahkan diberitahukan juga akibat buruk yang
akan menimpa mereka jika mereka
memaksakan diri mengamalkan pemikiran-pemikiran
dan gagasan-gagasan yang mereka buat -- firman-Nya: فَاِنۡ لَّمۡ تَفۡعَلُوۡا -- Tetapi jika
kamu tidak mampu melakukannya,
وَ لَنۡ تَفۡعَلُوۡا -- dan kamu tidak akan
pernah mampu melakukannya, فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِیۡ
وَقُوۡدُہَا النَّاسُ وَ الۡحِجَارَۃُ -- maka peliharalah diri kamu dari Api yang bahan bakarnya manusia
dan batu (Al-Baqarah [2]:25).
Kata “bahan bakar” dapat diambil dalam artian kiasan dan berarti bahwa siksaan
api (neraka) itu disebabkan oleh menyembah
berhala. Jadi berhala-berhala itu
bagaikan “bahan bakar” untuk menyalanya
api (neraka), karena menjadi sarana untuk menghidupkan api (neraka), atau “batu” berarti berhala-berhala yang dipuja orang-orang
musyrik sebagai dewa-dewa,
maksudnya ialah orang-orang musyrik
akan dihinakan dengan menyaksikan
sendiri dewa-dewa mereka dilemparkan ke dalam api.
Kata-kata an-nās (manusia) dan al-hijārah
(batu) dapat pula dianggap menunjuk kepada dua
golongan penghuni neraka:
(1) an-nās dapat menunjuk
kepada orang-orang kafir (orang-orang
musyrik) yang masih mempunyai semacam kecintaan
kepada Allah Swt.;
(2) al-hijārah (batu) adalah
orang-orang yang di dalam hati mereka, sama sekali tidak ada kecintaan kepada Allah Swt.,
bahkan tidak mempercayai adanya Tuhan
(Atheisme). Orang-orang semacam itu memang tidak lebih
dari batu. Kata hijārah itu
jamak dari hajar yang berarti: batu, karang, emas, dan juga seseorang
tanpa tanding, yaitu orang besar,
pemimpin (Lexicon Lane).
Jadi, benarlah firman-Nya berikut ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ لَّئِنِ اجۡتَمَعَتِ الۡاِنۡسُ وَ
الۡجِنُّ عَلٰۤی اَنۡ یَّاۡتُوۡا بِمِثۡلِ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لَا یَاۡتُوۡنَ
بِمِثۡلِہٖ وَ لَوۡ کَانَ بَعۡضُہُمۡ لِبَعۡضٍ
ظَہِیۡرًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Jika ins (manusia) dan jin benar-benar berhimpun untuk mendatangkan yang semisal Al-Quran ini,
mereka tidak akan sanggup men-datangkan
yang sama seperti ini, walaupun
sebagian mereka membantu sebagian
yang lain.” (Bani Israil [17]:89).
Karena ayat-ayat yang
mendahuluinya membahas masalah ruh -- baik ruh manusia mau pun “ruh”
Al-Quran - (QS.18:86-88) – karena itu tantangan dalam ayat ini
pertama-tama diajukan kepada mereka yang berkecimpung dalam kebiasaan-kebiasaan
klenik, supaya mereka meminta pertolongan ruh-ruh gaib, yang darinya
orang-orang ahli kebatinan itu — menurut pengakuannya sendiri — menerima ilmu
ruhani. Tantangan ini berlaku pula untuk semua orang yang menolak Alquran
bersumber pada Tuhan dan untuk sepanjang masa.
Jawaban Kedua: Keberadaan
Khalifah Allah dan Khilafat
Adalah Wewenang Allah Swt.
Demikianlah jawaban pertama pertanyaan: Mengapa konsep-konsep keamanan dan perdamaian dunia buatan manusia – yang bertentangan
dengan petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran -- tersebut senantiasa
mengalami kegagalan, sekali pun Liga Bangsa-bangsa telah diubah
menjadi Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB)? Jawaban yang kedua:
(2) Sebab
Allah Swt. berfirman bahwa menciptakan “langit
baru dan bumi baru” merupakan wewenang-Nya (QS.2:31-36;
QS.14:45-53), dan tidak ada seorang pun dapat memberikan syafaat
kecuali dengan izin-Nya (QS.2:256), yaitu para rasul Allah. Dia berfirman:
وَ اِذۡ قُلۡنَا لِلۡمَلٰٓئِکَۃِ اسۡجُدُوۡا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ ؕ کَانَ مِنَ
الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ ؕ اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ
دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ لَکُمۡ عَدُوٌّ ؕ
بِئۡسَ لِلظّٰلِمِیۡنَ
بَدَلًا ﴿﴾ مَاۤ اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ وَ مَا کُنۡتُ
مُتَّخِذَ الۡمُضِلِّیۡنَ
عَضُدًا ﴿﴾ وَ یَوۡمَ
یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ
فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا ﴿﴾ وَ
رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ
النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ
یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا ﴿٪﴾ وَ
لَقَدۡ صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا
الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ
کُلِّ مَثَلٍ ؕ وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ جَدَلًا ﴿﴾
Dan
ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat:
"Sujudlah yakni patuhlah kepada Adam,"
فَسَجَدُوۡۤا اِلَّاۤ اِبۡلِیۡسَ
-- maka sujudlah
mereka kecuali iblis, کَانَ مِنَ الۡجِنِّ فَفَسَقَ عَنۡ اَمۡرِ رَبِّہٖ -- ia adalah dari golongan jin maka ia mendurhakai perintah Rabb-nya (Tuhan-nya). اَفَتَتَّخِذُوۡنَہٗ وَ ذُرِّیَّتَہٗۤ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِیۡ وَ ہُمۡ
لَکُمۡ عَدُوٌّ -- Apakah kamu hendak mengambil dia dan keturunannya sebagai sahabat-sahabat selain Aku, padahal mereka itu
musuh-musuhmu? بِئۡسَ لِلظّٰلِمِیۡنَ
بَدَلًا -- Sangat buruk bagi orang-orang yang zalim pertukaran itu.
مَاۤ اَشۡہَدۡتُّہُمۡ خَلۡقَ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ لَا خَلۡقَ اَنۡفُسِہِمۡ ۪ -- Aku
sekali-kali tidak mem.-buat mereka menyaksikan penciptaan seluruh langit
dan bumi, dan tidak
pula penciptaan mereka sendiri, وَ مَا کُنۡتُ مُتَّخِذَ الۡمُضِلِّیۡنَ عَضُدًا -- dan Aku sama sekali tidak dapat mengambil
mereka yang menyesatkan orang-orang
sebagai pembantu. وَ یَوۡمَ یَقُوۡلُ نَادُوۡا شُرَکَآءِیَ الَّذِیۡنَ زَعَمۡتُمۡ -- Dan ingatlah
hari ketika Dia akan
berfirman kepada mereka: "Panggillah mereka yang kamu anggap
sekutu-sekutu-Ku." فَدَعَوۡہُمۡ فَلَمۡ یَسۡتَجِیۡبُوۡا لَہُمۡ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ مَّوۡبِقًا -- Lalu mereka akan memanggil mereka itu tetapi mereka
itu tidak akan menjawabnya dan Kami menjadikan di antara mereka suatu penghalang." وَ رَاَ الۡمُجۡرِمُوۡنَ النَّارَ فَظَنُّوۡۤا اَنَّہُمۡ مُّوَاقِعُوۡہَا وَ لَمۡ یَجِدُوۡا عَنۡہَا مَصۡرِفًا
-- Dan orang-orang yang berdosa akan melihat Api
itu, dan meyakini bahwa sesungguhnya
mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka
ti-dak akan dapat menemukan tempat
berpaling darinya. وَ لَقَدۡ
صَرَّفۡنَا فِیۡ ہٰذَا الۡقُرۡاٰنِ لِلنَّاسِ مِنۡ کُلِّ مَثَلٍ -- Dan sungguh Kami
benar-benar telah menjelaskan di dalam Al-Quran ini untuk manusia setiap perumpamaan, وَ کَانَ الۡاِنۡسَانُ اَکۡثَرَ شَیۡءٍ
جَدَلًا -- tetapi dalam segala sesuatu manusia yang paling banyak membantah. (Al-Kahf
[18]:51-55).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 9
Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar