Jumat, 06 Januari 2017

Keragaman "Pendapat" Merupakan "Rahmat Ilahi" & Makna "Al-Haqqu Murrun" (Kebenaran Itu Pahit) Serta Bahaya "Kemusyrikan" Berupa "Perpecahan Umat" dan "Pengkultusan" Pamimpin "Firqah"

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  95

KERAGAMAN PENDAPAT MERUPAKAN RAHMAT ILAHI   & MAKNA “AL-HAQQU MURRUN” (KEBENARAN ITU PAHIT)  SERTA BAHAYA   “KEMUSYRIKAN” BERUPA PERPECAHAN UMAT  DAN PENGKULTUSAN PEMIMPIN FIRQAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 94  dibahas  topik   "Al-Quran Sebagai  Mushaddiq  (Yang Menggenapi)", sehubungan firman Allah Swt. berikut ini:
وَ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَیۡکَ الۡکِتٰبَ بِالۡحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَیۡنَ یَدَیۡہِ مِنَ الۡکِتٰبِ وَ مُہَیۡمِنًا عَلَیۡہِ فَاحۡکُمۡ  بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ وَ لَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ عَمَّا جَآءَکَ مِنَ الۡحَقِّ ؕ لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا ؕ وَ لَوۡ  شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً  وَّ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ ؕ اِلَی اللّٰہِ مَرۡجِعُکُمۡ جَمِیۡعًا فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Dan Kami telah   menurunkan Kitab kepada engkau dengan haq, مُصَدِّقًا  --  menggenapi apa yang telah diwahyukan sebelumnya di dalam Alkitab dan sebagai penjaga atasnya, فَاحۡکُمۡ  بَیۡنَہُمۡ بِمَاۤ اَنۡزَلَ اللّٰہُ  -- maka  hendaklah engkau  memutuskan perkara di antara mereka dengan apa   yang diturunkan Allah, وَ لَا تَتَّبِعۡ اَہۡوَآءَہُمۡ عَمَّا جَآءَکَ مِنَ الۡحَقِّ  -- dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dengan berpaling dari kebenaran yang telah datang kepada engkau. لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا  --  Bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan peraturan   dan  jalan.   وَ لَوۡ  شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً  الۡخَیۡرٰتِ -- Dan  seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan menjadikan kamu satu umat, وَّ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا  -- akan tetapi Dia hendak menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepada kamu, فَاسۡتَبِقُوا الۡخَیۡرٰتِ  --  maka  berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. ؕ اِلَی اللّٰہِ مَرۡجِعُکُمۡ جَمِیۡعًا فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ --  Kepada Allah-lah kamu semua akan kembali, lalu  Dia akan memberitahukan kepadamu tentang apa yang kamu berselisih di dalamnya. (Al-Māidah [5]:49).

Makna “Mushaddiqan” & Al-Quran Sebagai “Penjaga” (Muhaiminan) Kitab-kitab Suci Sebelumnya 

   Kata mushaddiqan  dalam awal ayat  tersebut  diartikan menggenapi bukan membenarkan, alasannya  kata   mushaddiq diserap dari shaddaqa, yang berarti: ia menganggap atau menyatakan dia atau sesuatu itu benar (Lexicon Lane). Jika kata itu dipakai dalam arti “menganggap hal itu benar” maka kata itu tidak diikuti oleh kata perangkai, atau hanya diikuti oleh kata perangkai ba’. Tetapi jika dipakai arti “menggenapi” seperti pada ayat ini, kata itu diikuti oleh kata perangkai lam (QS.2:92 dan QS.35:32).
    Dengan demikian  di sini kata itu berarti “menggenapi” dan bukan “mengukuhkan” atau “menyatakan benar.” Al-Quran menggenapi nubuatan-nubuatan yang termaktub dalam Kitab-kitab Suci terdahulu  mengenai kedatangan seorang Nabi Pembawa Syariat dan Kitab Suci untuk seluruh dunia, yaitu Nabi Besar Muhammad saw. atau Nabi yang seperti Musa (QS.46:11; Ulangan 18:18). 
Kapan saja Al-Quran menyatakan dirinya sebagai mushaddiq Kitab-kitab Suci sebelumnya, Al-Quran tidak membenarkan ajaran Kitab-kitab Suci itu, melainkan Al-Quran menyebutkan datang sebagai  menggenapi nubuatan-nubuatan Kitab-kitab Suci itu.
      Meskipun demikian Al-Quran mengakui semua Kitab Wahyu yang sebelumnya  berasal dari Allah Swt.  tetapi Al-Quran tidak menganggap bahwa  semua ajaran itu sekarang benar dalam keseluruhannya, sebabbanyak dari  bagian-bagian Kitab-kitab suci terdahulu – seiring dengan berjalannya waktu --   telah hilang, atau telah diubah dan banyak yang dimaksudkan hanya untuk masa tertentu, sekarang telah menjadi kuno, sehingga memerlukan kedatangan Kitab suci terakhir dan tersempurna   yaitu Al-Quran (QS.2:107; QS.5:4; QS.3:86).
     Muhaiminan dalam ayat:  وَ مُہَیۡمِنًا عَلَیۡہِ   berarti: saksi; pemberi rasa aman dan tenteram; pengawas dan penilik perkara-perkara manusia; penjaga dan pelindung (Lisan-ul-‘Arab). Di sini Al-Quran disebut penjaga Kitab-kitab pendahulunya dalam arti bahwa Al-Quran melestarikan semua kebenaran kekal dan bernilai abadi yang terdapat di dalam Kitab-kitab Suci terdahulu dan meninggalkan sesuatu yang tidak memiliki unsur keabadian dan tidak mampu memenuhi keperluan umat manusia (QS.2:107). Lagi, Al-Quran disebut penjaga Kitab-kitab yang terdahulu dalam artian bahwa Al-Quran menikmati perlindungan Ilahi terhadap pemalsuan (QS.15:10), suatu rahmat Ilahi yang tidak dianugerahkan kepada Kitab-kitab yang terdahulu.

Makna   Syir’ah dan Minhāj

       Syir’ah dalam ayat: لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا  --  “bagi setiap orang di antaramu Kami menetapkan peraturan   dan  jalan    artinya hukum syariat yang terdiri atas peraturan-peraturan puasa, shalat, naik haji, dan amal-amal ibadah lainnya; jalan kepercayaan dan perilaku yang nyata lagi benar (Lexicon Lane). Minhāj berarti jalan atau lorong yang kentara, jelas sekali lagi terbuka (Lexicon Lane). Al-Mubarrad berkata, kata yang pertama (syir’ah) berarti permulaan sebuah jalan, sedangkan kata yang kedua (minhāj) adalah badan jalan yang telah banyak dilalui (Fath-ul-Qadir).
        Dengan demikian syir’ah atau syariat adalah hukum yang terutama berhubungan dengan keruhanian, sedangkan minhāj adalah hukum yang berhubungan dengan urusan duniawi. Syir’ah berarti juga “jalan menuju ke air”, artinya ialah Allah Swt. memperlengkapi seluruh makhluk-Nya — menurut kemampuan masing-masing — dengan sarana-sarana untuk menemukan jalan menuju sumber mata air keruhanian, yakni wahyu Ilahi.
     Pernyataan Allah Swt.: لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا  -- “Bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan peraturan   dan  jalan” selaras dengan  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw. di awal Bab ini :
قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri    dan  Rabb (Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).  
        Dikarenakan manusia – termasuk para rasul (nabi) Allah  -- tidak mengetahui hal gaib  maka manusia sering  keliru dalam melakukan penilaian  terhadap penampilan, ucapan atau pendapat  serta tindakan seseorang yang dianggap    “nyleneh”  atau beda  dengan umum  -- terlebih lebih   hal-hal yang bersangkutan dengan masalah agama atau keimanan -- lalu mengambil kesimpulan atau praduga negative mengenainya, padahal sangkaannya  tersebut mungkin saja keliru,  sebab menurut Allah Swt.:  کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ  -- “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri.” Itulah sebabnya dalam ayat selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا --  “dan Rabb (Tuhan)  kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).   

Keragaman Pendapat  Merupakan   Rahmat  Guna Meraih Makrifat

         Selanjutnya Allah Swt.  berfirman dalam Al-Maidah ayat 49 sebelum ini:     وَ لَوۡ  شَآءَ اللّٰہُ لَجَعَلَکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً  الۡخَیۡرٰتِ – “dan  seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan menjadikan kamu satu umat, وَّ لٰکِنۡ  لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰىکُمۡ فَاسۡتَبِقُوا  -- “akan tetapi Dia hendak menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepada kamu (QS.5:49).
   Makna pernyataan Allah Swt. tersebut adalah bahwa karena dalam ayat sebelumnya dikatakan:  لِکُلٍّ جَعَلۡنَا مِنۡکُمۡ شِرۡعَۃً وَّ مِنۡہَاجًا  -- “Bagi setiap orang di antara kamu Kami menetapkan peraturan   dan  jalan”,   dan juga Dia berfirman: کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ   -- “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri”  (QS.17:85), oleh   karena itu  timbulnya perpedaan pendapat   atau keragaman pendapat di kalangan   pemeluk suatu agama – termasuk  di kalangan pemeluk agama Islam  --  tentang  berbagai hal dalam Kitab suci mereka  tidak bisa dihindari, Allah Swt. berfirman: فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا  --  “maka  Rabb (Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).  
         Menurut Nabi Besar Muhammad saw.  timbulnya perbedaan pendapat   atau keragaman pendapat  -- bukan pertentangan pendapat   -- seperti itu di kalangan  pengikut beliau saw. merupakan “rahmat” karena  dengan terjadinya keragaman pendapat tersebut akan merupakan sarana    lita’āraf (saling kenal-mengenal) sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ  مِّنۡ ذَکَرٍ وَّ اُنۡثٰی وَ جَعَلۡنٰکُمۡ شُعُوۡبًا وَّ قَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ عَلِیۡمٌ خَبِیۡرٌ ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan,  dan Kami telah menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku لِتَعَارَفُوۡا  -- supaya kamu dapat saling mengenal.   اِنَّ  اَکۡرَمَکُمۡ  عِنۡدَ اللّٰہِ  اَتۡقٰکُمۡ  -- Sesungguhnya  yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Waspada. (Al-Hujurāt [49]:14).
   Jadi, sebagaimana tujuan Allah Swt. menciptakan keberagamaan dalam hal bangsa, suku bangsa, bahasa dan warna kulit di kalangan umat manusia  adalah   لِتَعَارَفُوۡا  -- “supaya kamu dapat saling mengenal”, yakni untuk saling memperoleh ma’rifat dari    kelebihan pihak-pihak  lain, demikian pulanya halnya munculnya perbedaan atau keragamaan pendapat di kalangan umat Islam berkenaan dengan Kitab suci Al-Quran merupakan rahmat, kecuali bagi mereka yang tidak menyukai adanya keragaman pendapat.
 Al-Haqqu Murrun” (Kebenaran itu Pahit)
        Ada   peribahasa Arab   “alhaqqu murrun  -- “kebenaran itu pahit.” Berdasarkan  peribahasa tersebut diketahui, bahwa  betapa sangat beratnya tugas suci yang harus dilaksanakan oleh para rasul Allah   di zaman mereka masing-masing  -- terutama sekali Nabi Besar Muhammad saw.   --  sebab semua haq (kebenaran) yang harus  mereka sampaikan kepada umat manusia      benar-benar merupakan  hal-hal yang  sangat  “sensitif” serta sangat “rawan” mengundang reaksi negative dari pihak-pihak yang merasa tersinggung oleh kebenaran-kebenaran yang disampaikan para rasul Allah tersebut.
       Namun  demikian bagaimana pun  bentuknya  resiko buruk yang harus dialami oleh para rasul Allah tersebut mereka tetap teguh menyampaikan amanat suci Allah Swt. yang ditugaskan kepada mereka itu, sebab masalah haq (kebenaran) pada masa pengutusan rasul Allah  sama sekali tidak berhubungan  dengan masalah pendapat dan kepercayaan “mayoritas”  manusia pada  zaman itu  -- seperti halnya dalam dunia politik    --  berikut adalah firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ اِنۡ تُطِعۡ  اَکۡثَرَ مَنۡ  فِی الۡاَرۡضِ یُضِلُّوۡکَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ  وَ اِنۡ  ہُمۡ  اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ ﴿﴾   اِنَّ  رَبَّکَ ہُوَ اَعۡلَمُ مَنۡ یَّضِلُّ عَنۡ سَبِیۡلِہٖ ۚ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ بِالۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika engkau mentaati kebanyakan orang di bumi, mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah,   tidak lain yang mereka ikuti melainkan prasangka,  dan mereka tidak lain hanya membuat-buat kebohongan.   Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau adalah Dia Yang Maha Mengetahui  orang  yang sesat dari jalan-Nya  dan Dia Maha Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.  (Al-An’ām [6]:117-118).
  Jadi,  dalam perkara keimanan bukanlah mayoritas maupun minoritas yang dapat diterima sebagai hakim atas apa yang benar atau salah. Hanya Allah-lah Hakim Yang tidak bisa salah. Dia memberi keputusan-Nya dengan menunjukkan Tanda-tanda dari langit dan membantu golongan yang mengikuti jalan kebenaran yang diajarankan rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.7:35-37).  

Munculnya “Kemusyrikan” di Kalangan “Umat Bergama

         Merupakan Sunnatullah  apabila umat manusia – termasuk umat beragama – telah semakin jauh dari masa kenabian yang penuh berkat dan cahaya petunjuk – maka haq  (kebenaran) akan semakin hilang dari mereka (QS.32:6), dan yang muncul berkenaan masalah-masalah agama  adalah “prasangka” (dugaan) serta “bid’ah” yang timbul dari “hati” yang semakin “keras membatu”  -- termasuk timbulnya “perang fatwa  takfiri” (saling mengkafirkan) yang semakin memperparah perpecahan di kalangan umat beragama  --  firman-Nya:
اَلَمۡ یَاۡنِ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اَنۡ  تَخۡشَعَ قُلُوۡبُہُمۡ  لِذِکۡرِ اللّٰہِ  وَ مَا  نَزَلَ مِنَ الۡحَقِّ  ۙ  وَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ ﴿﴾  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا ؕ قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ ﴿
Apakah belum sampai waktu bagi orang-orang yang beriman, bahwa hati mereka tunduk untuk mengingat Allah dan mengingat  kebenaran yang telah turun kepada merekaوَ لَا یَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ مِنۡ قَبۡلُ   -- dan mereka tidak  menjadi seperti orang-orang yang diberi kitab sebelumnya, maka  zaman kesejahteraan menjadi panjang atas mereka  فَطَالَ عَلَیۡہِمُ  الۡاَمَدُ فَقَسَتۡ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ کَثِیۡرٌ  مِّنۡہُمۡ فٰسِقُوۡنَ -- lalu   hati mereka menjadi keras, dan kebanyakan dari mereka menjadi durhaka?  اِعۡلَمُوۡۤا  اَنَّ اللّٰہَ یُحۡیِ الۡاَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَا -- Ketahuilah, bahwasanya  Allah  menghidupkan bumi sesudah matinya. قَدۡ بَیَّنَّا لَکُمُ الۡاٰیٰتِ لَعَلَّکُمۡ  تَعۡقِلُوۡنَ --  Sungguh Kami telah menjelaskan Tanda-tanda kepadamu supaya kamu mengerti. (Al-Hadīd [57]:17-18).
     Ketika terjadi  “perang fatwa  takfiri” (saling mengkafirkan)  di kalangan umat beragama -- yang menimbulkan perpecahan di kalangan umat beragama  menjadi berbagai firqah dan sekte,   yang bukan hanya sekedar bertentangan pendapat dan saling mengkafirkan belaka, tetapi juga saling memerangi --  munculnya firqah-firqah dan sekte-sekte di kalangan umat beragama tersebut selaras dengan firman Allah Swt. di awal Bab ini, firman-Nya:
قُلۡ کُلٌّ یَّعۡمَلُ عَلٰی شَاکِلَتِہٖ ؕ فَرَبُّکُمۡ اَعۡلَمُ  بِمَنۡ  ہُوَ  اَہۡدٰی  سَبِیۡلًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Setiap orang beramal menurut caranya sendiri  dan  Rabb (Tuhan) kamu lebih mengetahui siapa yang lebih terpimpin pada jalan-Nya.” (Bani Israil [17]:85).
       Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya makna   عَلٰی شَاکِلَتِہٖ     berarti: sesuai dengan niat, cara berpikir, tujuan-tujuan, dan maksud-maksud sendiri,  dan  para pemuka  firqah dan sekte umat beragama tersebut berpegang-teguh terhadap apa yang mereka fahami  mengenai agama atau kitab suci  mereka  -- padahal agama dan Kitab suci mereka itu sama.

Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam  Mengenai “Kemusyrikan” Berupa Perpecahan Umat

        Allah Swt. menyebut terjadinya perpecahan di kalangan umat beragama seperti itu  sebagai “kemusyrikan”, dan  Allah Swt. dalam Al-Quran telah memperingatkan umat Islam terhadap timbulnya “kemusyrikan” berupa “perpecahan umat” tersebut, firman-Nya:
فَاَقِمۡ  وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ  الَّتِیۡ فَطَرَ  النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ﴾  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ﴾  مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿﴾
Maka hadapkanlah wajah kamu kepada agama yang lurus, yaitu fitrat Allah,  yang atas dasar itu  Dia menciptakan manusia, لَا تَبۡدِیۡلَ  لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ  -- tidak ada peru-bahan dalam penciptaan Allzh,  itulah agama yang lurus, وَ لٰکِنَّ  اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ  --  tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ       --   Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat, وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ   --  dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ  --   yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golonganکُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ  --   tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka. (Ar-Rūm [30]:31-33).
      Allah Swt.  adalah Tuhan Yang Maha Esa dan kemanusiaan itu satu, inilah fithrat Allah dan dīnul-fithrah — satu agama yang berakar dalam fitrat manusia — dan terhadapnya manusia menyesuaikan diri dan berlaku secara naluri.  Nabi Besar Muhammad saw. bersabda bahwa di dalam agama fitrah inilah seorang bayi dilahirkan akan tetapi lingkungannya, cita-cita dan kepercayaan-kepercayaan orang tuanya, serta didikan dan ajaran yang diperolehnya dari mereka itu, kemudian membuat dia Yahudi, Majusi atau Kristen (Bukhari).
        Makna ayat:  مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ  وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ       --  “Kembalilah kamu kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat”,   Hanya semata-mata percaya kepada Kekuasaan mutlak dan Keesaan Tuhan   -- yang sesungguhnya hal itu merupakan asas pokok agama yang hakiki  --    tidak cukup. Sebab suatu agama yang benar harus memiliki peraturan-peraturan dan perintah-perintah tertentu. Dari semua peraturan dan perintah itu shalat adalah yang harus mendapat prioritas utama.
      Makna ayat selanjutnya:  وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ   --  “dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang musyrik, , مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ  وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ  --   yaitu orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka menjadi golongan-golonganکُلُّ  حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ  --   tiap-tiap golongan bangga dengan apa yang ada pada mereka” bahwa penyimpangan dari agama sejati menjuruskan umat beragama di zaman lampau kepada perpecahan dalam bentuk aliran-aliran yang saling memerangi dan menyebabkan sengketa di antara mereka, bahkan terjadi pertumpahan darah.
      Jadi, sejak awal pun Allah Swt. telah memperingatkan umat Islam dalam Al-Quran terhadap munculnya “kemusyrikan”  berupa perpecahan umat   yang menjuruskan terjadinya peperangan  di kalangan mereka, seperti yang terjadi di Akhir Zaman ini, karena memang yang mendapat jaminan pemeriharaan Allah Swt. dari berbagai bentuk kerusakan hanyalah Al-Quran (QS.15:10), bukan umat Islam.

Al-Quran Sebagai Al-Furqān (Pembeda)

        Kitab suc Al-Quran – sebagai Kitab suci yang terakhir dan tersempurna -- pun (QS.5:4)   merupakan  “furqān” (pemisah/pembeda) yang haq   (benar) dan yang bathil (palsu/dusta – QS.2:186), firman-Nya:
شَہۡرُ رَمَضَانَ الَّذِیۡۤ اُنۡزِلَ فِیۡہِ الۡقُرۡاٰنُ ہُدًی لِّلنَّاسِ وَ بَیِّنٰتٍ مِّنَ الۡہُدٰی وَ الۡفُرۡقَانِ
Bulan Ramadhan  adalah bulan yang di dalamnya Al-Quran  diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia  وَ بَیِّنٰتٍ مِّنَ الۡہُدٰی    -- dan keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk وَ الۡفُرۡقَانِ  --  dan  Furqān…” (Al-Baqarah [2]:186).
       Kata Al-Quran diserap dari qara’a yang berarti: ia membaca; ia menyampaikan atau memberi pesan; ia mengumpulkan benda itu. Jadi  Quran berarti:
       (1) Sebuah kitab yang dimaksudkan untuk dibaca. Al-Quran itu Kitab yang paling banyak dibaca di dunia (Encyclopaedia Britannica).
      (2) Sebuah Kitab atau pesan yang harus diteruskan dan disampaikan kepada dunia. Al-Quran itu satu-satunya di antara Kitab-kitab wahyu yang ajarannya mutlak tidak terbatas, sebab kalau semua Kitab wahyu lainnya ditujukan untuk zaman yang khusus dan kaum yang khusus pula, maka Al-Quran dimaksudkan untuk segala zaman dan segala kaum dan bangsa (QS.34:29).
        (3) Sebuah Kitab yang memuat segala kebenaran; Al-Quran  sungguh  merupakan khazanah ilmu yang bukan saja mengandung segala kebenaran abadi yang terkandung dalam Kitab-kitab wahyu terdahulu (QS.98:4), bahkan segala kebenaran yang diperlukan umat manusia pada setiap zaman dan dalam setiap keadaan (QS.18:50).
    Furqān berarti: sesuatu yang membedakan antara yang benar dan yang palsu; keterangan, bukti atau kesaksian, sebab keterangan atau bukti itu gunanya membedakan antara yang benar dan yang salah. Kata furqān itu pun mengandung arti pagi atau fajar, sebab fajar memisahkan siang   dari malam (Lexicon Lane)
       Al-Quran adalah furqān (pemisah/pembeda) yang paripurna. Di antara seribu satu macam keindahan dan kebagusan yang membedakan Al-Quran dari kitab-kitab wahyu lainnya, dan yang menegakkan keunggulannya di atas kitab-kitab itu semuanya, dua macam nampak jelas sekali, yakni:
       (a) Al-Quran tidak membuat pernyataan atau pengakuan yang tidak didukung oleh bukti-bukti dan keterangan-keterangan yang sehat dan kuat, dan
     (b) Al-Quran membuat kebenaran itu begitu nyata bedanya dari kepalsuan sebagaimana nyata benar bedanya siang hari dari malam hari.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   1 Januari 2017 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar