Selasa, 03 Januari 2017

Kobaran "Parit Api" Kezaliman yang Dinyalakan "Fitnah" dan "Hoax" (Berita Dusta) Atas Nama Agama di Setiap Zaman Pengutusan Rasul Allah yang Dijanjikan & Pengulangan Genapnya "Nubuatan-nubuatan Al-Quran" dan "Sunnatullaah" di Akhir Zaman



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  93

   KOBARAN “PARIT API”  KEZALIMAN YANG DINYALAKAN  “FITNAH” DAN “HOAX” (BERITA DUSTA) ATAS NAMA AGAMA DI SETIAP ZAMAN PENGUTUSAN RASUL ALLAH YANG DIJANJIKAN   &  PENGULANGAN GENAPNYA NUBUATAN-NUBUATAN AL-QURAN  DAN SUNNATULLAH DI AKHIR ZAMAN 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 92  dibahas  topik   Makna “Saksi” dan “Yang Diberi Kesaksian”. Selanjutnya Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Burūj ayat 4 sebelum ini:  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ – “dan demi saksi dan yang disaksikan.”   Tiap nabi (rasul) Allah atau mushlih rabbani (pembaharu ruhani) adalah syāhid, yaitu yang  memberi kesaksian, disebabkan beliau merupakan seorang saksi hidup akan adanya Allah Swt. berdasarkan pengalamannya sendiri,  dan beliau itu pun masyhud (yang diberi kesaksian) sebab Allah Swt.  memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaannya  dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat di tangannya.
        Namun dalam kenyataannya pada setiap zaman kenabian (QS.7:35-37) tidak ada pernah ada para penentang rasul Allah  yang menganggap  Tanda-tanda Ilahi yang mendukung kebenaran pendakwaan para rasul Allah Swt. tersebut sebagai mukjizat.  Contohnya Allah Swt. dengan tegas telah menyatakan bahwa ada 9 buah mukjizat yang mendukung pendakwaan Nabi Musa a.s. (QS.17:102-104; QS.27:13), tetapi Fir’aun dan para pembesarnya tidak pernah menganggapnya sebagai mukjizat melainkan sebagai sihir belaka. Dan dan Fir’aun  baru mempercayai kebenaran Nabi Musa a.s. ketika akan tenggelam  di lautan bersama pasukannya (QS.10:91-93; QS.26:137;  QS.36:11).
      Itulah sebabnya pendustaan dan penentangan secara zalim kepada para rasul Allah Swt. senantiasa mengakibatkan timbulnya berbagai macam azab Ilahi  (QS.29:40-44),karena pemberian   peringatan berupa nasihat dan dalil-dalil  sudah tidak berpengaruh apa pun pada “hati” yang sudah bertekad untuk menolak argumentasi dan kebenaran macam apa pun yang disampaikan para rasul Allah (QS.2:7-8), kecuali kaum Nabi Yunus a.s., firman-Nya:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ  اِلَّا قَوۡمَ یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ  اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ  فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk  kota  yang beriman dan keimanannya itu  bermanfaat baginya  kecuali kaum Yunus? Tatkala mereka beriman Kami menyingkirkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan di dunia, dan Kami memberi mereka perbekalan untuk sementara waktu. (Yunus [12]:99).
     Maksud “kota” dalam ayat ini dan juga dalam QS.12:83  adalah  warga kota. Demikian juga  sebutan penundukkan “gunung” berkenan  Nabi Daud a.s. dan Nabi Sulaiman a.s. maknanya adalah  pelaklukan penduduk pegunungan. 1288. Nabi Yunus a.s.  disebut pada enam tempat yang berlainan dalam Al-Quran (QS.4:164; QS.6:87; QS.21:88; QS.37:140; QS.68:49 dan di sini). Dalam Bible beliau disebut sebagai nabi Bani Israil (2 Raja-raja, 14:25), yang diperintahkan pergi ke Ninewe, ibukota Asyir dan memberi peringatan kepada penghuninya. Tetapi menurut Al-Quran beliau diutus kepada kaumnya sendiri. Beliau bukan dari Bani Israil atau beliau tidak diutus ke Ninewe, melainkan kepada sebagian dari kaumnya. Para ahli Bible sendiri tidak sepakat  bahwa Nabi Yunus a.s.  itu seorang dari Bani Israil

Masyhūd” dan “Syāhid”  Adalah “Burung” Nabi Ibrahim a.s. Ketiga dan Keempat

    Makna Al-Burūj ayat 4:  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ – “dan demi saksi dan yang disaksikan”   seperti nampak dari teks, syahid (saksi)  adalah  Masih Mau’ud a.s. dan masyhūd (yang diberi kesaksian)  adalah  Nabi Besar Muhammad saw. – masing-masing  merupakan “burung” Nabi Ibrahim a.s.  ketiga dan keempat (QS.2:261)   -- sesuai dengan firman-Nya dalam QS.11:18 berikut ini:
اَفَمَنۡ کَانَ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ  کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ  رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka  apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya ( Tuhan-nya)  وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ -- dan  ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya, وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ  کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ  رَحۡمَۃً  -- dan yang sebelumnya telah didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu?  اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ   -- Mereka itu beriman kepadanya, وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ  -- dan barangsiapa dari golongan  itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ  --  Ka-rena itu  janganlah engkau ragu-ragu mengenainya, sesungguhnya itu adalah haq dari  Rabb (Tuhan) engkau  وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ --  tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).
       Tiga dalil telah dikemukakan dalam ayat ini untuk mendukung kebenaran   Nabi Besar Muhammad saw.  dengan kata-kata: (a) “Yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya), (b) “Ia akan disusul pula oleh seorang saksi (syāhid) dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya”, dan (c) “Yang sebelumnya di dahului oleh Kitab Musa”.
      Makna “dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya)” ialah revolusi besar dalam akhlak dan ruhani  yang telah dilakukan  oleh  Nabi Besar Muhammad saw.    dalam kehidupan kaumnya yang sebelum itu bobrok dan mundur keadaannya  atau dalam kesesatan yang nyata (QS.62:3),
     Ada pun  “saksi-saksi”  yang membuktikan kebenarannya ialah imam-imam rabbani dari antara pengikut hakiki  beliau saw.     -- yakni para mujaddid Islam  --  yang dengan ajaran dan perbuatannya akan menegakkan kebenaran Islam dan Al-Quran di tiap-tiap abad, dan saksi yang paling sempurna ialah  Masih Mau’ud a.s.,  pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah.
       Sedangkan   makna   “yang sebelumnya didahului oleh Kitab Musa” menunjuk kepada nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Bible tentang   Nabi Besar Muhammad saw.   (Ulangan 18-15-19 & 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman  1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45;  Yahya 16:12-14). Lihat pula QS.7:144; QS.26:197-198; QS.46:11;QS.61:6-7 QS.73:197-198.
       Jadi, makna syuhada (saksi-saksi)  yang dimaksudkan adalah  nabi-nabi Allah, sesuai sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa para ‘ulama rabbani  beliau – terutama para mujaddid Islam  bagaikan nabi-nabi Bani Israil.  Dengan demikian  makna syahid (saksi) dalam Surah Hūd ayat 11 ayat   dan dalam surah Al-Burūj ayat  4   mengandung arti bahwa Masih Mau’ud a.s.   – yang muncul dari kalangan umat Islam di Akhir Zaman  yang belum pernah bertemu dengan para sahabat r.a. di zaman Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4)  --   akan memberi kesaksian akan kebenaran  Nabi Besar Muhammad saw.   dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh, dan tulisan-tulisan beliau dan disertai dengan Tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) yang akan ditampakkan Allah Swt. di tangan beliau.

Kekeliruan Para Pemuka Yahudi Memahami Makna “Kedatangan Kedua Kali” Nabi Elia a.s. yang Berulang Di Akhir Zaman Mengenai Makna Kedatangan kedua Kali  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

        Masih  Mau’ud a.s. pun akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri   -- mengenai kedatangan Imam Mahdi  a.s. yang juga adalah     atau misal (perumpamaan) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  --  telah memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan beliau. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
Kayfa antum idzā nazala –bnu maryama fīkum wa imāmukum minkum”
“Bagaimana keadaan kalian jika datang Ibnu Maryam dari kalangan kalian, dan menjadi imam dari antara   kalian” (Bukhari).
      Dari Al-Quran jelas diketahui bahwa  pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanya untuk Bani Israil (QS,2:88-91; QS.3:46-50; QS.61:7). Jadi, mempercayai  kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman ini sebagai  nabi (rasul) untuk umat Islam merupakan   pemahaman yang sesat, sebagaimana kekeliruan para pemuka kaum Yahudi memahami makna kedatangan kedua kali  Nabi Elia a.s. (Malaekhi 4:5-6), yang menurut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. maksudnya  adalah  kedatangan nabi  yang seperti Nabi Elia a.s.  yaitu  Nabi Yahya a.s. (Matius 11:11-15), karena sampai dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. para pemuka kaum Yahudi sedang menunggu-nunggu kedatangan 3 orang nabi Allah, yakni (1) Nabi itu atau nabi yang seperti Musa, yaitu Nabi Besar Muhammad saw.; (2) kedatangan Nabi Elia a.s. kedua kali, yaitu Nabi Yahya a.s. dan (2)  Mesias  (Mesiah) yakni Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yahya 1:19-23), sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang kedua (QS.2:262).
     Dengan demikian  Nabi Besar Muhammad saw.  dan Masih Mau’ud a.s.  itu bersama-sama secara timbal-baik merupakan syāhid  (saksi) dan masyhūd (yang diberi kesaksian), sebagaimana firman-Nya:   بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ      -- Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  --  Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang,  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang disaksikan.” (Al-Burūj [85]:1-4),  yaitu sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang ketiga dan keempat, sehingga lengkaplah nubuatan mengenai “4 burung” Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اَرِنِیۡ  کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ  قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ   ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” Dia ber-firman: “Apakah engkau tidak percaya?” Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku tanyakan supaya hatiku tenteram.” Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung  فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ   --  lalu jinakkanlah  mereka kepada engkau, ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا -- kemudian letakkanlah setiap  burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada engkau, وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ  -- dan Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allāh Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:261).

Kezaliman Para “Pemilik Parit Api” Terhadap “Orang-orang yang Beriman

         Jadi, betapa berbahayanya mengeluarkan   fatwa keagamaan  jika didasari oleh kekeliruan dalam memahami masalah agama yang mereka anut, sebab fatwa-fatwa keliru seperti  itu akan menimbulkan kezaliman  terhadap pihak-pihak  yang kepadanya  fatwa takfiri  (pengkafiran) dijatuhkan seperti yang terjadi di Akhir  Zaman ini.
        Kembali kepada Surah Al-Burūj, setelah Allah Swt. mengemukakan  sumpah-Nya  dengan “gugusan bintang-bintang”,  “hari yang dijanjikan” dan bersumpah dengan  “saksi dengan yang disaksikan”, selanjutnya Allah Swt. berfirman: قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ  --   Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ --   yaitu Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ --  Ketika mereka duduk  di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ    --   dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang beriman.” (ayat 5-8). 
  Menurut sebagian ahli tafsir Al-Quran, ayat 5  dianggap menunjuk kepada pembakaran sampai mati beberapa orang Kristen oleh raja Yahudi, Dzu Nawas, dari Yaman.  Sebab pada zaman awal agama Kristen ketika mereka tetap berpegang pada Tauhid Ilahi orang-orang yang beriman kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. itu menjadi sasaran perburuan para pemuka Yahudi dan juga raja-raja musyrik Kerajaan  Romawi,  sehingga Allah Swt. dalam Al-Quran menyebut mereka Ashhabul-Kahf (para penghuni gua- QS.18:10-18).
    Menurut sebagian lain, ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa pelemparan beberapa pemimpin Bani Israil ke dalam tanur-tanur (tungku-tungku) yang sedang menyala-nyala, dilakukan oleh Raja Nebukadnezar dari Babil (Daniel. 3:19-22) setelah mereka di angkut sebagai tawanan dari Yerusalem ke Babilonia (QS.2:260).
  Ayat ini lebih tepat dapat ditujukan kepada musuh-musuh kebenaran yang di masa setiap Mushlih rabbani (nabi Allah),  mereka menentang keras dan menganiaya orang-orang yang beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37).
   Ayat ini tidaklah dimaksudkan di sini untuk menunjuk kepada suatu kejadian di masa lampau yang kebenarannya meragukan. Dalam ayat ke-3 Allah Swt. bersumpah dengan “Hari yang dijanjikan”. Dalam ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya, nampaknya diisyaratkan bahwa para pengikut Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini  pun (jemaat Muslim Ahmadiyah)  harus mengalami Sunnatullah berupa menghadapi kesulitan-kesulitan berat pada “hari besar” yang dijanjikan tersebut  itu.
  Dalam Al-Burūj ayat 5-9 disebutkan mengenai musuh-musuh kebenaran yang menyalakan api penganiayaan terhadap orang-orang beriman yang bertakwa  di tiap kurun zaman serta membiarkannya “parit apikezaliman tetap bernyala  oleh  lontaran berbagai fitnah dan “hoax” (berita dusta) atas nama agama tersebut, dan kesudahan mereka yang buruk dinubuatkan dalam ayat 11: اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ  --  “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar.”  

Dosa” Hanya Karena Berpegang-teguh Pada “Tauhid Ilahi

     Dalam ayat-ayat sebelumnya  Allah Swt. menjelaskan bahwa musuh-musuh kebenaran yang melakukan kezaliman tersebut mengetahui dalam lubuk hati mereka bahwa perlawanan dari pihak mereka itu kejam dan tidak dapat dibenarkan dan  mereka mengtahui bahwa korban sasaran penganiayaan mereka itu tidak berdosa: وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ --   Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpujiالَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ   --   Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (ayat 8-10).
   Ayat-ayat ini penuh dengan perasaan pilu hati yang amat sangat. Ayat ini menanyakan  bahwa kebenaran keimanan kepada Allah Swt.  yang dibawa oleh para rasul Allah yang dijanjikan tersebut  itu seakan-akan merupakan perbuatan yang begitu jahat, sehingga para penganutnya harus diperlakukan sekejam itu oleh para penentang mereka (QS.7:118-127; QS.9:74; QS.20:71-74)?  
  Allah Swt.  pasti menghukum orang-orang yang berlaku zalim terhadap orang-orang beriman di dunia dan juga di akhirat, jika mereka tidak bertaubat dari perbuatan zalimnya tersebut, firman-Nya: اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ  --  Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab yang membakar” (ayat 11).
  Salah satu bukti kebenaran peringatan Allah Swt. berupa “azab jahannam” dan “azab yang membakar” tersebut adalah di Akhir Zaman ini telah     merebak terjadinya berbagai azab Ilahi – baik berupa bencana alam yang luar biasa mau pun berkecamuknya peperangan di kalangan mereka – yang merupakan  Sunnatullah bahwa  Allah Swt. tidak pernah mengazab manusia sebelum terlebih dulu diutus kepada mereka rasul Allah yang dijanjikan (QS.6:132; QS.11:118; QS.17:16; QS.20:134-136; QS.22:46; QS.28:60).
     Sebaliknya, sbagai buah dari kesabaran dan keteguhan iman  para pengikut rasul Allah   yang “dibakar dalam parit Api”  --  yang dinyalakan oleh “kayu-bakar fitnah” dan “hoax” (berita dusta) atas nama agama tersebut   -- Allah Swt. berfirman:  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ     “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, ٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُذ -- yang demikian itu merupakan keberhasilan besar” (ayat 12).
      Selanjutnya Allah Swt. memperingatkan orang-orang kafir mengenai sangat kerasnya  “cengkraman azab Ilahi” sehingga mereka tidak akan mampu meloloskan diri dari azab Ilahi tersebut:   “Sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras” (ayat 13).
       Semua peristiwa itu terjadi karena merupakan Sunnatullah yang senantiasa berulang terjadi dalam kehidupan umat manusia ini juka kedurhakaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya kembali merebak di “daratan” dan di “lautan” (QS.30:42-44),  firman-Nya: اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ  --  “Sesungguhnya  Dia-lah  Yang memulai penciptaan dan mengulanginya,”   termasuk mengulangi membukakan “pintu taubat” dan “maghfirah-Nya (Pengampunan-Nya) melalui  pengutusan  rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37): وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ --  Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pencintaذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ --   Yang melakukan apa yang Dia kehendaki” (ayat 15-17).
    Karena apa yang dikemukakan dalam surah Al-Burūj tersebut merupakan  nubuatan  yang juga akan terjadi (berulang) pada diri Nabi Besar Muhammad saw.   -- sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. ketiga (QS,2:261) dan sebagai  misal Nabi  Musa a.s.  (Ulangan 15-19; QS.46:11)  --  karena itu selanjutnya  Allah Swt. berfirman kepada beliau saw.:    ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ --  Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ --  Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ --  Bahkan orang-orang  kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ --  padahal Allah mengepung mereka  dari belakang mereka” (ayat 18-21).

Kebangkitan Kembali “Kaum-kaum Purbakala” di Akhir Zaman dan Pengulangan Pengutusan Para Rasul Allah

     Terjadinya pengulangan Sunnatullah tersebut – termasuk di Akhir Zaman ini   -- dijelaskan dalam surah Al-Mursalāt [77]:1-20, antara lain Allah  Swt. berfirman:
وَ  اِذَا  الرُّسُلُ  اُقِّتَتۡ ﴿ؕ﴾   لِاَیِّ  یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾   لِیَوۡمِ  الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾   وَ  مَاۤ   اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾   اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾   ثُمَّ  نُتۡبِعُہُمُ   الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾   کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾
Dan apabila rasul-rasul didatangkan  pada waktu yang ditentukan.    Hingga hari apakah ditangguhkan?   Hingga Hari Keputusan.  Dan apa yang engkau ketahui mengenai Hari Keputusan itu? وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ  --  Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.  اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --     Tidakkah Kami telah  membi-nasakan kaum-kaum dahulu? اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --    Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian   کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ  -- Demikianlah perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa.  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. (Al-Mursalāt [77]:12-20).
     Makna ayat:  وَ  اِذَا  الرُّسُلُ  اُقِّتَتۡ   -- “Dan apabila rasul-rasul didatangkan  pada waktu yang ditentukan” yaitu ketika seorang pembaharu samawi datang dari lingkungan umat Islam dengan kekuatan dan jiwa rasul-rasul Allah serta seolah-olah memakai jubah-jubah mereka, sehingga ia dinyatakan sebagai rasul Akhir Zaman.
  Alasan kedatangan Rasul Akhir Zaman tersebut karena di Akhir Zaman ini seakan-akan “kaum-kaum purbakala”  --  dengan segala  “perbuatan buruk” yang telah nereka  lakukan pada zamannya masing-masing  kembali bangkit dan diperagakan lagi di Akhir Zaman ini, firman-Nya:   اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --  Tidakkah Kami telah  membinasakan kaum-kaum dahulu? اَلَمۡ  نُہۡلِکِ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --    Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian   کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ  بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ  --   Demikianlah perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa” (ayat 17-19).

Pengulangan Genapnya  Nubuatan-nubuatan Al-Quran

     Karena itu dalam ayat selanjutnya Allah Swt. menyatakan:  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ --  “Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan” (Al-Mursalāt ayat 20). Pernyataan Allah Swt. tersebut sesuai dengan lanjutan ayat-ayat surah Al-Burūj sebelum ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.: ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ --  Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ --  Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ --  Bahkan orang-orang  kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ --  padahal Allah mengepung mereka  dari belakang mereka” (ayat 18-21).
  Dengan demikian jelaslah bahwa Kitab suci Al-Quran  bukan merupakan Kitab  “himpunan kisah-kisah kaum purbakala”   -- sebagaimana anggapan keliru para penentang Al-Quran  (QS.8:32;  QS.16:25; QS.25:5-7; QS.68:16; QS.83:14) dan juga anggapan umumnya umat Islam yang tidak memahami hikmah  dicantumkannya kisah-kisah kaum purbakala tersebut dalam Al-Quran --   melainkan berisi petunjuk serta nubuatan-nubuatan yang pasti terjadi lagi, firman-Nya: بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ --   Bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat muliaفِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan  dalam  papan yang terjaga.”  (Al-Burūj [85]:1-23).
    Ayat ini mengandung suatu nubuatan yang bernadakan tantangan Allah Swt. bahwa Al-Quran dijaga terhadap segala macam campur tangan dan upaya pemutarbalikkan oleh manusia, yang rahasia-rahasia gaibnya hanya akan dibukakan Allah Swt. kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.3:180; QS.72:27-29) dan kepada “orang-orang yang disucikan” Allah Swt. (QS.56:76-83).
  Demikianlah berbagai hikmah  yang terkandung dalam surah Al-Burūj, yang penuhndengan petunjuk Allah Swt. dan nubuatan,    firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  ؕ﴿﴾ وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾ اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾  اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾ وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾ ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾     وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾ بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  --  Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang,  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ  --   Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ --   yaitu Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ --  Ketika mereka duduk  di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ    --   dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang berimanوَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ --   Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ   --   Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ  --  Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi me-reka azab yang membakar.  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar. اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- Sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras. اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ  --  Sesungguhnya  Dia-lah  Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ --  Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pencintaذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ --   Yang melakukan apa yang Dia kehendaki. ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ --  Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ --  Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ --  Bahkan orang-orang  kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ --  padahal Allah mengepung mereka  dari belakang mereka. بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ --   Bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat muliaفِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan  dalam  papan yang terjaga.  (Al-Burūj [85]:1-23).
     
(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   28 Desember  2016




Tidak ada komentar:

Posting Komentar