Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 93
KOBARAN
“PARIT API” KEZALIMAN YANG DINYALAKAN “FITNAH”
DAN “HOAX” (BERITA DUSTA) ATAS NAMA AGAMA DI SETIAP ZAMAN PENGUTUSAN RASUL ALLAH YANG DIJANJIKAN & PENGULANGAN
GENAPNYA NUBUATAN-NUBUATAN AL-QURAN DAN SUNNATULLAH
DI AKHIR ZAMAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab 92
dibahas topik Makna “Saksi” dan “Yang Diberi Kesaksian”. Selanjutnya
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Burūj
ayat 4 sebelum ini: وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ – “dan demi saksi
dan yang disaksikan.” Tiap nabi
(rasul) Allah atau mushlih rabbani (pembaharu
ruhani) adalah syāhid, yaitu yang
memberi kesaksian, disebabkan
beliau merupakan seorang saksi hidup
akan adanya Allah Swt. berdasarkan pengalamannya sendiri, dan beliau itu pun masyhud (yang diberi
kesaksian) sebab Allah Swt. memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaannya dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat
di tangannya.
Namun dalam kenyataannya pada setiap zaman
kenabian (QS.7:35-37) tidak ada pernah ada para penentang rasul Allah yang
menganggap Tanda-tanda Ilahi yang mendukung kebenaran pendakwaan para rasul
Allah Swt. tersebut sebagai mukjizat. Contohnya Allah Swt. dengan tegas telah
menyatakan bahwa ada 9 buah mukjizat yang
mendukung pendakwaan Nabi Musa a.s.
(QS.17:102-104; QS.27:13), tetapi Fir’aun
dan para pembesarnya tidak pernah
menganggapnya sebagai mukjizat
melainkan sebagai sihir belaka. Dan
dan Fir’aun baru mempercayai
kebenaran Nabi Musa a.s. ketika akan tenggelam di lautan bersama pasukannya (QS.10:91-93;
QS.26:137; QS.36:11).
Itulah sebabnya pendustaan dan penentangan
secara zalim kepada para rasul Allah Swt. senantiasa
mengakibatkan timbulnya berbagai macam azab
Ilahi (QS.29:40-44),karena
pemberian peringatan berupa nasihat
dan dalil-dalil sudah tidak
berpengaruh apa pun pada “hati”
yang sudah bertekad untuk menolak argumentasi dan kebenaran macam apa pun yang disampaikan para rasul Allah (QS.2:7-8), kecuali kaum Nabi Yunus a.s., firman-Nya:
فَلَوۡ لَا کَانَتۡ قَرۡیَۃٌ اٰمَنَتۡ
فَنَفَعَہَاۤ اِیۡمَانُہَاۤ اِلَّا قَوۡمَ
یُوۡنُسَ ؕ لَمَّاۤ اٰمَنُوۡا کَشَفۡنَا
عَنۡہُمۡ عَذَابَ الۡخِزۡیِ فِی
الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ مَتَّعۡنٰہُمۡ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾
Maka mengapa tidak ada suatu penduduk kota
yang beriman dan keimanannya
itu bermanfaat baginya kecuali kaum Yunus? Tatkala mereka
beriman Kami menyingkirkan dari
mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan
di dunia, dan Kami memberi mereka
perbekalan untuk sementara waktu. (Yunus [12]:99).
Maksud “kota” dalam
ayat ini dan juga dalam QS.12:83
adalah warga kota. Demikian juga
sebutan penundukkan “gunung”
berkenan Nabi Daud a.s. dan Nabi
Sulaiman a.s. maknanya adalah pelaklukan
penduduk pegunungan. 1288. Nabi Yunus
a.s. disebut pada enam tempat
yang berlainan dalam Al-Quran (QS.4:164; QS.6:87; QS.21:88; QS.37:140; QS.68:49
dan di sini). Dalam Bible beliau disebut sebagai nabi Bani Israil (2 Raja-raja,
14:25), yang diperintahkan pergi ke Ninewe, ibukota Asyir dan memberi peringatan kepada penghuninya. Tetapi
menurut Al-Quran beliau diutus kepada kaumnya
sendiri. Beliau bukan dari Bani Israil atau
beliau tidak diutus ke Ninewe, melainkan kepada sebagian dari kaumnya. Para
ahli Bible sendiri tidak sepakat bahwa Nabi Yunus a.s. itu seorang dari Bani Israil.
“Masyhūd” dan “Syāhid” Adalah “Burung”
Nabi Ibrahim a.s. Ketiga dan Keempat
Makna Al-Burūj
ayat 4: وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ – “dan demi
saksi dan yang disaksikan” seperti nampak dari teks, syahid (saksi) adalah Masih
Mau’ud a.s. dan masyhūd (yang diberi kesaksian) adalah Nabi
Besar Muhammad saw. – masing-masing merupakan “burung”
Nabi Ibrahim a.s. ketiga dan keempat
(QS.2:261) -- sesuai dengan firman-Nya
dalam QS.11:18 berikut ini:
اَفَمَنۡ کَانَ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ
رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ
مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا تَکُ فِیۡ
مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ
رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah orang yang berdiri
atas dalil yang nyata dari Rabb-nya ( Tuhan-nya) وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ -- dan ia
akan disusul pula oleh seorang saksi
dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya, وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ رَحۡمَۃً -- dan yang
sebelumnya telah didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat
dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ -- Mereka
itu beriman kepadanya, وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ -- dan barangsiapa dari golongan itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan baginya.
فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ -- Ka-rena itu janganlah
engkau ragu-ragu mengenainya, sesungguhnya itu adalah haq dari Rabb (Tuhan)
engkau وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).
Tiga
dalil telah dikemukakan dalam ayat ini untuk mendukung kebenaran Nabi Besar Muhammad
saw. dengan kata-kata: (a)
“Yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya), (b) “Ia
akan disusul pula oleh seorang saksi (syāhid)
dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya”, dan (c) “Yang sebelumnya di
dahului oleh Kitab Musa”.
Makna “dalil yang nyata dari Rabb-nya (Tuhan-nya)” ialah revolusi besar dalam akhlak dan ruhani yang telah dilakukan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam kehidupan kaumnya yang sebelum
itu bobrok dan mundur keadaannya atau dalam
kesesatan yang nyata (QS.62:3),
Ada pun “saksi-saksi”
yang membuktikan kebenarannya ialah imam-imam rabbani dari antara pengikut hakiki beliau saw. --
yakni para mujaddid Islam -- yang
dengan ajaran dan perbuatannya akan menegakkan kebenaran Islam dan Al-Quran di tiap-tiap abad,
dan saksi yang paling sempurna ialah Masih
Mau’ud a.s., pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah.
Sedangkan makna “yang sebelumnya didahului oleh Kitab Musa”
menunjuk kepada nubuatan-nubuatan
yang terdapat dalam Bible tentang Nabi
Besar Muhammad saw. (Ulangan
18-15-19 & 33:2; Yesaya 21:13-17;
Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk
3:7; Matius 21:42-45; Yahya
16:12-14). Lihat pula QS.7:144; QS.26:197-198; QS.46:11;QS.61:6-7
QS.73:197-198.
Jadi,
makna syuhada (saksi-saksi) yang dimaksudkan adalah nabi-nabi
Allah, sesuai sabda Nabi Besar Muhammad saw. bahwa para ‘ulama rabbani beliau – terutama para mujaddid Islam bagaikan nabi-nabi Bani Israil. Dengan demikian makna syahid
(saksi) dalam Surah Hūd ayat 11 ayat dan
dalam surah Al-Burūj ayat 4
mengandung arti bahwa Masih Mau’ud
a.s. – yang muncul dari kalangan umat Islam di Akhir Zaman yang belum pernah bertemu dengan para sahabat r.a. di zaman Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4) -- akan
memberi kesaksian akan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw. dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh,
dan tulisan-tulisan beliau dan disertai dengan Tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) yang akan ditampakkan Allah Swt. di
tangan beliau.
Kekeliruan Para Pemuka
Yahudi Memahami Makna “Kedatangan Kedua Kali” Nabi Elia a.s.
yang Berulang Di Akhir Zaman Mengenai
Makna Kedatangan kedua Kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Masih Mau’ud a.s. pun akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan Nabi Besar Muhammad
saw. sendiri -- mengenai kedatangan Imam Mahdi a.s. yang juga
adalah atau misal
(perumpamaan) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) -- telah memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaan
beliau. Nabi Besar Muhammad saw. bersabda:
Kayfa antum idzā nazala –bnu maryama fīkum wa imāmukum
minkum”
“Bagaimana
keadaan kalian jika datang Ibnu Maryam
dari kalangan kalian, dan menjadi imam
dari antara kalian” (Bukhari).
Dari Al-Quran jelas diketahui bahwa pengutusan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hanya untuk Bani Israil (QS,2:88-91; QS.3:46-50; QS.61:7). Jadi,
mempercayai kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman ini sebagai nabi
(rasul) untuk umat Islam merupakan pemahaman yang sesat, sebagaimana kekeliruan
para pemuka kaum Yahudi memahami makna kedatangan kedua kali Nabi
Elia a.s. (Malaekhi 4:5-6), yang menurut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
maksudnya adalah kedatangan nabi yang seperti Nabi Elia a.s. yaitu Nabi Yahya a.s. (Matius 11:11-15), karena
sampai dengan zaman Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. para pemuka kaum Yahudi sedang menunggu-nunggu kedatangan 3 orang nabi Allah, yakni (1) Nabi itu atau nabi yang seperti Musa,
yaitu Nabi Besar Muhammad saw.; (2) kedatangan Nabi Elia a.s. kedua kali, yaitu Nabi Yahya a.s. dan (2) Mesias
(Mesiah) yakni Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yahya 1:19-23), sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang kedua
(QS.2:262).
Dengan demikian Nabi
Besar Muhammad saw. dan Masih Mau’ud a.s. itu bersama-sama secara timbal-baik merupakan
syāhid (saksi) dan masyhūd
(yang diberi kesaksian), sebagaimana firman-Nya: بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ
-- Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan
bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi
dan yang disaksikan.” (Al-Burūj
[85]:1-4), yaitu sebagai “burung” Nabi
Ibrahim a.s. yang ketiga dan keempat, sehingga lengkaplah nubuatan mengenai “4 burung” Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ
اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ
اَرِنِیۡ کَیۡفَ تُحۡیِ الۡمَوۡتٰی ؕ قَالَ اَوَ لَمۡ تُؤۡمِنۡ ؕ قَالَ بَلٰی وَ
لٰکِنۡ لِّیَطۡمَئِنَّ قَلۡبِیۡ ؕ قَالَ فَخُذۡ اَرۡبَعَۃً
مِّنَ الطَّیۡرِ فَصُرۡہُنَّ اِلَیۡکَ ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ
جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا ؕ وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ
عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), perlihatkan kepadaku bagaimanakah cara Engkau menghidupkan yang mati?” Dia
ber-firman: “Apakah engkau tidak percaya?”
Ia berkata: “Ya aku percaya, tetapi aku
tanyakan supaya hatiku tenteram.”
Dia berfirman: “Jika demikian, maka ambillah empat ekor burung فَصُرۡہُنَّ
اِلَیۡکَ -- lalu jinakkanlah mereka kepada
engkau, ثُمَّ اجۡعَلۡ عَلٰی کُلِّ جَبَلٍ مِّنۡہُنَّ
جُزۡءًا ثُمَّ ادۡعُہُنَّ یَاۡتِیۡنَکَ سَعۡیًا -- kemudian
letakkanlah setiap burung itu di atas tiap-tiap gunung lalu panggillah mereka, niscaya mereka dengan cepat akan datang kepada
engkau, وَ اعۡلَمۡ اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ -- dan Ketahuilah
bahwa sesungguhnya Allāh Maha Perkasa,
Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:261).
Kezaliman Para “Pemilik Parit Api” Terhadap “Orang-orang yang Beriman”
Jadi, betapa berbahayanya mengeluarkan fatwa keagamaan jika didasari oleh kekeliruan dalam memahami
masalah agama yang mereka anut, sebab fatwa-fatwa keliru seperti
itu akan menimbulkan kezaliman terhadap pihak-pihak yang kepadanya fatwa
takfiri (pengkafiran) dijatuhkan seperti yang terjadi di Akhir
Zaman ini.
Kembali kepada Surah Al-Burūj, setelah Allah Swt. mengemukakan sumpah-Nya dengan “gugusan
bintang-bintang”, “hari yang dijanjikan” dan bersumpah dengan “saksi
dengan yang disaksikan”, selanjutnya Allah Swt. berfirman: قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ
-- Binasalah
para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- yaitu
Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- Ketika mereka
duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan mereka
menjadi saksi atas apa yang
dilakukan mereka terhadap orang-orang
beriman.” (ayat 5-8).
Menurut sebagian ahli
tafsir Al-Quran, ayat 5 dianggap
menunjuk kepada pembakaran sampai
mati beberapa orang Kristen oleh raja Yahudi, Dzu Nawas, dari Yaman. Sebab pada zaman awal agama Kristen ketika mereka tetap berpegang pada Tauhid Ilahi orang-orang yang beriman
kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. itu menjadi sasaran perburuan para pemuka Yahudi dan
juga raja-raja musyrik Kerajaan Romawi,
sehingga Allah Swt. dalam Al-Quran menyebut mereka Ashhabul-Kahf (para
penghuni gua- QS.18:10-18).
Menurut sebagian lain, ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa
pelemparan beberapa pemimpin Bani Israil
ke dalam tanur-tanur (tungku-tungku) yang sedang menyala-nyala, dilakukan oleh
Raja Nebukadnezar dari Babil (Daniel.
3:19-22) setelah mereka di angkut sebagai tawanan
dari Yerusalem ke Babilonia
(QS.2:260).
Ayat ini lebih tepat dapat
ditujukan kepada musuh-musuh kebenaran
yang di masa setiap Mushlih rabbani
(nabi Allah), mereka menentang keras dan
menganiaya orang-orang yang beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.7:35-37).
Ayat ini tidaklah dimaksudkan di sini untuk
menunjuk kepada suatu kejadian di masa
lampau yang kebenarannya
meragukan. Dalam ayat ke-3 Allah Swt. bersumpah
dengan “Hari yang dijanjikan”. Dalam
ayat ini dan dalam beberapa ayat berikutnya, nampaknya diisyaratkan bahwa para
pengikut Masih Mau’ud a.s. di Akhir Zaman ini pun (jemaat Muslim Ahmadiyah) harus mengalami Sunnatullah berupa menghadapi kesulitan-kesulitan
berat pada “hari besar” yang dijanjikan tersebut itu.
Dalam Al-Burūj ayat 5-9 disebutkan mengenai musuh-musuh kebenaran yang menyalakan
api penganiayaan terhadap orang-orang
beriman yang bertakwa di tiap kurun zaman serta membiarkannya “parit api” kezaliman tetap bernyala oleh
lontaran berbagai fitnah dan “hoax” (berita dusta) atas nama agama tersebut, dan kesudahan mereka yang buruk dinubuatkan dalam ayat 11: اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ
لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ
الۡحَرِیۡقِ
-- “Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka
tidak bertaubat, maka bagi mereka
azab Jahannam dan bagi mereka azab
yang membakar.”
“Dosa” Hanya Karena Berpegang-teguh
Pada “Tauhid Ilahi”
Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Swt. menjelaskan bahwa musuh-musuh kebenaran yang melakukan kezaliman tersebut mengetahui dalam lubuk hati mereka bahwa perlawanan dari pihak mereka itu kejam dan tidak dapat dibenarkan dan mereka mengtahui bahwa korban sasaran penganiayaan mereka itu tidak berdosa: وَ
مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ ۙ -- Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- Yang
kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu.” (ayat 8-10).
Ayat-ayat
ini penuh dengan perasaan pilu hati
yang amat sangat. Ayat ini menanyakan bahwa
kebenaran keimanan kepada Allah
Swt. yang dibawa oleh para rasul Allah yang dijanjikan tersebut itu
seakan-akan merupakan perbuatan yang
begitu jahat, sehingga para penganutnya harus diperlakukan sekejam itu oleh para penentang mereka (QS.7:118-127; QS.9:74;
QS.20:71-74)?
Allah Swt. pasti menghukum
orang-orang yang berlaku zalim
terhadap orang-orang beriman di dunia dan juga di akhirat, jika mereka tidak
bertaubat dari perbuatan zalimnya
tersebut, firman-Nya: اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا
فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ --
Sesungguhnya orang-orang yang
menyiksa orang-orang beriman laki-laki
dan perempuan kemudian mereka
tidak bertaubat, maka bagi mereka
azab Jahannam dan bagi mereka azab
yang membakar” (ayat 11).
Salah satu bukti kebenaran peringatan Allah Swt. berupa “azab
jahannam” dan “azab yang membakar”
tersebut adalah di Akhir Zaman ini
telah merebak terjadinya berbagai azab Ilahi – baik berupa bencana alam yang luar biasa mau pun berkecamuknya peperangan di kalangan
mereka – yang merupakan Sunnatullah bahwa Allah Swt. tidak pernah mengazab manusia sebelum terlebih dulu diutus kepada mereka rasul
Allah yang dijanjikan (QS.6:132;
QS.11:118; QS.17:16; QS.20:134-136; QS.22:46; QS.28:60).
Sebaliknya, sbagai buah dari kesabaran dan keteguhan iman para pengikut rasul Allah yang “dibakar
dalam parit Api” -- yang dinyalakan oleh “kayu-bakar fitnah” dan “hoax”
(berita dusta) atas nama agama
tersebut -- Allah Swt. berfirman: اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
ٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُذ -- yang demikian itu
merupakan keberhasilan besar” (ayat
12).
Selanjutnya Allah Swt. memperingatkan orang-orang kafir mengenai sangat kerasnya “cengkraman
azab Ilahi” sehingga mereka tidak akan mampu meloloskan diri dari azab Ilahi tersebut: “Sesungguhnya
cengkraman Rabb (Tuhan) engkau
sangat keras” (ayat 13).
Semua peristiwa itu terjadi karena
merupakan Sunnatullah yang senantiasa
berulang terjadi dalam kehidupan umat manusia ini juka kedurhakaan kepada Allah Swt.
dan Rasul-Nya kembali merebak di “daratan” dan di “lautan” (QS.30:42-44),
firman-Nya: اِنَّہٗ ہُوَ
یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ -- “Sesungguhnya Dia-lah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya,” termasuk mengulangi
membukakan “pintu taubat” dan “maghfirah-Nya (Pengampunan-Nya)
melalui pengutusan rasul
Allah yang dijanjikan
(QS.7:35-37): وَ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ -- Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pencinta. ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha
Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا
یُرِیۡدُ -- Yang
melakukan apa yang Dia kehendaki” (ayat 15-17).
Karena
apa yang dikemukakan dalam surah Al-Burūj
tersebut merupakan nubuatan yang juga akan terjadi (berulang) pada diri Nabi Besar Muhammad saw. -- sebagai
“burung” Nabi Ibrahim a.s. ketiga (QS,2:261) dan sebagai misal
Nabi Musa a.s. (Ulangan
15-19; QS.46:11) -- karena itu selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada beliau saw.: ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ
الۡجُنُوۡدِ -- Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ -- Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ -- Bahkan orang-orang kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ
مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ -- padahal Allah
mengepung mereka dari belakang mereka”
(ayat 18-21).
Kebangkitan Kembali “Kaum-kaum Purbakala” di Akhir Zaman dan Pengulangan Pengutusan Para Rasul
Allah
Terjadinya pengulangan Sunnatullah tersebut – termasuk di Akhir Zaman ini --
dijelaskan dalam surah Al-Mursalāt [77]:1-20,
antara lain Allah Swt. berfirman:
وَ
اِذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتۡ ﴿ؕ﴾ لِاَیِّ یَوۡمٍ اُجِّلَتۡ ﴿ؕ﴾ لِیَوۡمِ الۡفَصۡلِ ﴿ۚ﴾ وَ مَاۤ
اَدۡرٰىکَ مَا یَوۡمُ الۡفَصۡلِ ﴿ؕ﴾ وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾ اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿ؕ﴾ ثُمَّ نُتۡبِعُہُمُ
الۡاٰخِرِیۡنَ ﴿﴾ کَذٰلِکَ
نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ﴿﴾
Dan apabila rasul-rasul
didatangkan pada waktu yang ditentukan. Hingga hari
apakah ditangguhkan? Hingga Hari Keputusan. Dan apa
yang engkau ketahui mengenai Hari
Keputusan itu? وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah pada hari itu bagi orang-orang yang mendustakan. اَلَمۡ
نُہۡلِکِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Tidakkah
Kami telah membi-nasakan kaum-kaum
dahulu? اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian. کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah
perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa. وَیۡلٌ
یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- Celakalah pada hari
itu bagi orang-orang yang
mendustakan. (Al-Mursalāt [77]:12-20).
Makna ayat: وَ اِذَا
الرُّسُلُ اُقِّتَتۡ -- “Dan apabila
rasul-rasul didatangkan pada waktu yang ditentukan” yaitu ketika
seorang pembaharu samawi datang dari
lingkungan umat Islam dengan kekuatan
dan jiwa rasul-rasul Allah serta
seolah-olah memakai jubah-jubah
mereka, sehingga ia dinyatakan sebagai rasul
Akhir Zaman.
Alasan kedatangan Rasul Akhir Zaman tersebut karena di Akhir Zaman ini seakan-akan “kaum-kaum purbakala” --
dengan segala “perbuatan buruk” yang telah nereka lakukan pada zamannya masing-masing kembali
bangkit dan diperagakan lagi di Akhir Zaman ini, firman-Nya: اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- Tidakkah
Kami telah membinasakan kaum-kaum dahulu?
اَلَمۡ نُہۡلِکِ
الۡاَوَّلِیۡنَ -- Kemudian Kami mengikutkan mereka orang-orang yang datang kemudian. کَذٰلِکَ نَفۡعَلُ بِالۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Demikianlah
perlakuan Kami terhadap orang-orang berdosa” (ayat 17-19).
Pengulangan Genapnya Nubuatan-nubuatan
Al-Quran
Karena itu dalam ayat
selanjutnya Allah Swt. menyatakan: وَیۡلٌ یَّوۡمَئِذٍ
لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ -- “Celakalah
pada hari itu bagi orang-orang yang
mendustakan” (Al-Mursalāt ayat 20). Pernyataan Allah Swt. tersebut sesuai
dengan lanjutan ayat-ayat surah Al-Burūj
sebelum ini kepada Nabi Besar Muhammad saw.: ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ
الۡجُنُوۡدِ -- Apakah telah datang kepada engkau cerita
lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ
ثَمُوۡدَ -- Yaitu
lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ -- Bahkan orang-orang
kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ
مُّحِیۡطٌ --
padahal Allah mengepung
mereka dari belakang mereka” (ayat
18-21).
Dengan demikian jelaslah bahwa Kitab suci Al-Quran bukan merupakan Kitab “himpunan
kisah-kisah kaum purbakala” -- sebagaimana anggapan keliru para penentang
Al-Quran (QS.8:32; QS.16:25; QS.25:5-7; QS.68:16; QS.83:14) dan
juga anggapan umumnya umat Islam yang tidak memahami hikmah
dicantumkannya kisah-kisah kaum
purbakala tersebut dalam Al-Quran -- melainkan berisi petunjuk serta nubuatan-nubuatan
yang pasti terjadi lagi, firman-Nya: بَلۡ ہُوَ
قُرۡاٰنٌ مَّجِیۡدٌ -- Bahkan yang didustakan ia
adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan dalam papan yang terjaga.” (Al-Burūj
[85]:1-23).
Ayat
ini mengandung suatu nubuatan yang
bernadakan tantangan Allah Swt. bahwa
Al-Quran dijaga terhadap segala macam
campur tangan dan upaya pemutarbalikkan oleh manusia, yang
rahasia-rahasia gaibnya hanya akan dibukakan Allah Swt. kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.3:180; QS.72:27-29) dan
kepada “orang-orang yang disucikan”
Allah Swt. (QS.56:76-83).
Demikianlah berbagai hikmah yang terkandung dalam
surah Al-Burūj, yang penuhndengan petunjuk Allah Swt. dan nubuatan, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ
الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ
الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ
عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا
نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ
ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ
لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ
الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ
الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ ہُوَ
یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾
وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾ ذُو الۡعَرۡشِ
الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَ
ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾ وَ اللّٰہُ
مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾ بَلۡ ہُوَ قُرۡاٰنٌ
مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ
لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ
-- Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan
bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi
dan yang disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ
-- Binasalah
para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- yaitu
Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- Ketika mereka
duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan mereka
menjadi saksi atas apa yang
dilakukan mereka terhadap orang-orang
beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ
اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡحَمِیۡدِ ۙ -- Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- Yang
kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. اِنَّ
الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ
وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ
-- Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang
beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka
tidak bertaubat, maka bagi mereka
azab Jahannam dan bagi me-reka azab
yang membakar. اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ -- Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
yang demikian itu merupakan keberhasilan besar. اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- Sesungguhnya cengkraman
Rabb (Tuhan) engkau sangat keras.
اِنَّہٗ ہُوَ
یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ -- Sesungguhnya Dia-lah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ -- Dan Dia
Maha Pengampun, Maha Pencinta. ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha
Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا
یُرِیۡدُ -- Yang
melakukan apa yang Dia kehendaki. ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ
الۡجُنُوۡدِ -- Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ -- Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ -- Bahkan orang-orang kafir selalu mendustakan, وَ اللّٰہُ
مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ -- padahal Allah
mengepung mereka dari belakang mereka.
بَلۡ ہُوَ قُرۡاٰنٌ
مَّجِیۡدٌ -- Bahkan yang didustakan ia
adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang
tersimpan dalam
papan yang terjaga. (Al-Burūj [85]:1-23).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 28 Desember
2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar