Selasa, 10 Januari 2017

Pelanggaran Berbagai "Petunjuk" Allah Swt. Dalam Al-Quran dan "Kemunafikan" Penyebab Utama "Berkobarnya Api" Perpecahan dan Peperangan Berkepanjangan di Timur Tengah



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  98

PELANGGARAN BERBAGAI  PETUNJUK ALLAH SWT. DALAM AL-QURAN  DAN KEMUNAFIKAN  PENYEBAB UTAMA “BERKOBARNYA API PERPECAHAN DAN PEPERANGAN” BERKEPANJANGAN   TIMUR TENGAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 97  dibahas  topik   Penyebab Kegagalan Liga Arab Meredam “Kobaran Api” Mengerikan di Timur Tengah, sehubungan dengan  tiga penyebab  kegagalan    Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan bangsa-bangsa) dan Liga Arab  menciptakan perdamaian  di  kalangan sesama negara anggotanya tersebut di antaranya   -- selain mengabaikan petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran (QS.49:10-11) -- adalah:
 (3) penyebab kegagalan lainnya   Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan Bangsa-bangsa) maupun  Liga Arab  (Arab League) dalam melaksanakan karena pada hakikatnya di kalangan mereka terdapat kemunafikan, sebagaimana firman Allah Swt.  kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kegagalan “perserikatan”  yang dibentuk oleh  kabilah-kabilah Yahudi      dan orang-orang munafik Madinah dengan orang-orang musyrik Quraisy Mekkah dalam upaya melakukan  serangan bersama terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di Madinah,  firman-Nya:
لَا یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ جَمِیۡعًا  اِلَّا فِیۡ  قُرًی مُّحَصَّنَۃٍ  اَوۡ مِنۡ  وَّرَآءِ  جُدُرٍ ؕ بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ  شَدِیۡدٌ ؕ تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ  قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Mereka tidak akan memerangi kamu bersama-sama kecuali dalam kota-kota berbenteng atau dari belakang tembok-tembok. بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ  شَدِیۡدٌ -- Peperangan mereka di antara mereka sendiri pun  sengit. تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی --  Engkau menyangka  mereka bersatu-padu padahal hati mereka terpecah-belah, ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ  قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ -- yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak meng-gunakan akal. (Al-Hasyr [59]:15).

Rapuhnya   Ikatan Perserikatan Duniawi  & Pentingnya Menjaga Keutuhan “Persaudaraan Islam

   Ayat ini berarti bahwa orang-orang kafir, terutama orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Medinah, mereka tampak seakan-akan bersatu dalam satu front melawan Islam, tetapi mereka tidak mempunyai tujuan bersama untuk diperjuangkan serta kepentingan mereka bermacam-macam dan berlain-lainan, oleh karena itu tidaklah mungkin terdapat kesatuan di antara mereka.
   Pada saat itu di wilayah Arabia terdapat tiga golongan yang nampaknya bersatu-padu melawan negara Islam yaitu (1) orang-orang Yahudi, (2) orang-orang munafik Medinah, dan (3) orang-orang musyrik Quraisy asal Mekkah. Kaum Quraisy melihat (berpendapat) bahwa di dalam kebangkitan kekuatan dan  kekuasaan Islam ada bahaya besar terhadap keunggulan mereka dalam segala bidang, sedangkan orang-orang munafik  yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay melihat bahaya terhadap pengaruhnya di Madinah, dan orang-orang Yahudi melihat ancaman terhadap organisasi dan supremasi rasial mereka.
   Karena mereka tidak mempunyai tujuan yang sama maka persatuan semu itu tidak mempunyai dasar yang nyata dan tidak pemah terwujud pada saat-saat berbahaya, firman-Nya: بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ  شَدِیۡدٌ – “Peperangan mereka di antara mereka sendiri pun  sengit. تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی --  Engkau menyangka  mereka bersatu-padu padahal hati mereka terpecah-belah.”
   Demikian juga yang terjadi pada Liga Arab (Arab League),  sehingga akibatnya jauh lebih parah daripada kegagalan  yang terjadi pada Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan bangsa-bangsa). Para anggota Liga Arab  -- yang  merupakan  pemeluk agama Islam (Al-Quran)  -- tetapi  mereka tidak melaksanakan petunjuk Allah Swt. dalam menyelesaikan berbagai konflik keagamaan  mau  pun konfik politik dan ekonomi  yang terjadi di kalangan mereka, firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang  maka  damaikanlah  antara keduanya, فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ --   lalu jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak yang menyerang hingga ia kembali  kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil   (Al-Hujurāt [49]:10).
  Dalam ayat  selanjutnya  Allah Swt.   secara khusus menekankan pada pentingnya ukhuwah islamiyah - persaudaraan dalam Islam., firman-Nya:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  اِخۡوَۃٌ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَ اَخَوَیۡکُمۡ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ  لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿٪﴾
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka  damaikanlah di antara kedua saudara kamu, وَ اتَّقُوا اللّٰہَ  لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ --   dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihani” (Al-Hujurāt [11).

Larangan Mengenyampingkan “Persaudaraan Muslim” Demi Keuntungan Duniawi Macam Apa Pun

  Dalam  ayat  sebelumnya (QS.49:10) dijelaskan bahwa sekiranya timbul pertengkaran atau  perselisihan di antara dua orang atau dua golongan Muslim, maka orang-orang Islam lainnya dianjurkan segera mengambil langkah supaya mendatangkan ishlah atau perdamaian di antara mereka.  Sebab kekuatan hakiki agama Islam terletak pada persaudaraan ideal, yang mengatasi segala hambatan kelas, warna kulit atau iklim.
 Petunjuk Allah Swt. tersebut walau pun yang dituju adalah umat Islam   tetapi merupakan azas  (landasan) yang juga berlaku bagi   “perserikatan” apa pun dalam menyelesaikan kemelut yang terjadi di kalangan anggota perserikatan, sebab Kitab suci Al-Quran dan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. adalah untuk manfaat seluruh umat manusia (QS.2:186; QS.7:159; QS.21:108;  QS.25:2; QS.34:29).
   Petunjuk Allah Swt. lainnya  dalam  Al-Quran yang  dilanggar oleh para anggota Liga Arab  di  Kawasan Timur Tengah adalah petunjuk Allah Swt.  berikut ini   -- karena kepentingan politik dan urusan duniawi lainnya  melebihi kepentingan urusan agama dan Ukhuwwah Islamiyyah  (Persaudaraan Islam) --   Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ     اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ     فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ    --  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ   -- sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ  --  Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka.  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalimفَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ     -- Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir  یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- seraya berkata: “Kami takut  bencana menimpa kami.” فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ  --  Boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      --  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ  -- maka  mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka  sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah [5]:52-53).
        Ayat 52 tidak boleh diartikan seolah-olah ajaran Islam (Al-Quran) melarang atau mencegah perlakuan adil dan baik terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum kufar lainnya (QS.60: 9). Ayat ini hanya mengisyaratkan kepada orang-orang Yahudi atau Kristen yang tengah  berperang dengan kaum Muslimin dan senantiasa mengadakan permufakatan-permufakatan jahat terhadap Islam.
        Makna:  بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ   -- “sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya” bahwa  merupakan kepastian orang-orang Yahudi dan Kristen akan melupakan atau mengenyampingkan  mengenai perbedaan-perbedaan paham di antara mereka dan mereka akan menjadi bersatu dalam perlawanan terhadap Islam, firman-Nya:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ -- dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً --  kecuali jika kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya. وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ --  Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:29).

Larangan dan Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam Bukan Tanpa Pengecualian

     Sebelum membahas secara mendalam ayat yang sangat penting dan sangat sensitive tersebut,  dalam dua ayat sebelumnya  Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلِ اللّٰہُمَّ مٰلِکَ الۡمُلۡکِ تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ ۫ وَ تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ ؕ بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾ تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ ۫ وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ ۫ وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ ﴿﴾
Katakanlah: “Wahai  Allah, Pemilik kedaulatan, Engkau  memberikan kedaulatan kepada siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau  mencabut kedaulatan dari siapa yang Engkau kehendaki,  dan  Engkau  memuliakan siapa yang Engkau kehendaki, dan Engkau  menghinakan siapa yang Engkau kehendaki, بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- di Tangan Engkau-lah segala kebaikan, sesungguhnya  Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ  --  Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan Engkau  memasukkan siang ke dalam malam. وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ --     Engkau mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan Engkau mengeluarkan yang mati dari yang hidup, وَ تَرۡزُقُ مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ  حِسَابٍ -- dan  Engkau memberi rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab.”  (Ali ‘Imran [3]:27-29).
       Kata “siang” di sini menggambarkan kesejahteraan dan kekuasaan suatu kaum dan kata “malam” melukiskan kemunduran dan kemerosotan mereka.  Kedua ayat ini mengisyaratkan kepada hukum Ilahi yang tak berubah bahwa bangsa-bangsa bangkit atau jatuh, karena mereka menyesuaikan diri dengan atau menentang kehendak Ilahi yang merupakan sumber segala kekuasaan dan kebesaran.
      Makna  larangan dan peringatan  Allah Swt. dalam ayat selanjutnya, bahwa dengan diperolehnya kekuatan politik oleh Islam  --  seperti dijanjikan Allah Swt.  dalam ayat-ayat sebelumnya (QS.3.27-28)   --  bagi negara Islam mengadakan persekutuan-persekutuan politik itu menjadi sangat perlu.
       Ayat yang sedang dibahas ini (QS.3:29) berisikan pedoman asasi bahwa tidak boleh  ada negara Islam  yang mengadakan perjanjian atau persekutuan dengan negara bukan-Islam yang sama sekali akan merugikan atau mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan-kepentingan negara-negara Islam lainnya.
     Menurut Allah Swt.  kepentingan-kepentingan Islam harus berada di atas kepentingan-kepentingan lainnya. Itulah makna “larangan” dalam ayat:  لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan menge-nyampingkan orang-orang beriman, وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ  -- dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun.”
      Namun demikian “larangan” dan “peringatan” Allah Swt. tersebut  bukan tanpa syarat apa pun, itulah sebabnya selanjutnya Allah Swt. berfirman:  اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً  -- “kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya.”
     Dalam ayat tersebut kaum Muslim diperingatkan Allah Swt. supaya berhati-hati terhadap hasutan-hasutan dan tipu muslihat kaum kafir. Makna ungkapan “kecuali bila kamu menjaga diri dari mereka”, bukan mengacu   kepada kekuasaan musuh tetapi kepada kelicikan mereka yang kaum Muslimin  harus   senantiasa waspada dan berjaga-jaga, misalnya dalam berbagai   perjanjian   “kerjasama” bidang apa pun, kepentingan sesama Muslim harus diutamakan.

Berbagai Makna “Nafsahū” & Akibat Buruk “Kemunafikan

       Kemudian makna nafs  dalam  peringatan Allah Swt:  وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ --  Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:29). Kata nafs berarti: diri pribadi seseorang; maksud, kemauan, atau keinginan; hukuman, dan sebagainya (Aqrab-ul-Mawarid).
       Jadi  kata “nafsahū” sangat luas artinya  sehingga   harus benar-benar  difahami oleh orang-orang Islam dalam menafsirkan ayat yang berisi larangan dan peringatan Allah Swt. tersebut  karena jika tidak maka  akan mengakibatkan  kekeliruan dalam penafsiran  atau kekeliruan dalam berfatwa yang akan menimbulkan masalah besar, firman-Nya:  
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan orang-orang beriman, وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ  فِیۡ شَیۡءٍ -- dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ  اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً --  kecuali jika kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu penjagaan yang sebaik-baiknya. وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ --  Dan  Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali ‘Imran [3]:29).
     Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Nabi Besar Muhammad saw.: “Semua orang kafir merupakan satu umat.”  Jadi semua orang kafir biar bagaimana tidak bersahabatnya antara satu sama lain tetapi  namun jika menghadapi Islam mereka adalah seperti satu kaum atau satu umat.
      Demikianlah makna surah Ali ‘Imran ayat 29 tersebut dalam hubungannya dengan makna  “larangan” Allah Swt. dalam surah Al-Maidāh ayat 52,  yang akibat melakukan pelanggaran terhadap petunjuk Allah Swt. tersebut maka telah menyebabkan timbulnya kemelut besar di kawasan Timur Tengah yang sangat mengerikan  karena adanya kemunafikan, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ     اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ     فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ    --  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ   -- sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ  --  Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka.  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalimفَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ     -- Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir  یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- seraya berkata: “Kami takut  bencana menimpa kami.” فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ  --  Boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      --  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ  -- maka  mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka  sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah [5]:51-52).
       Makna  dā’irah dalam ayat:  یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- seraya berkata: “Kami takut  bencana menimpa kami”  berarti daur (pergiliran) nasib, terutama kejadian buruk, nasib sial; bencana; kekalahan atau dikeluarkan dengan paksa dari persembunyian; pembunuhan atau kematian (Lexicon Lane).
       Sedangkan makna  “kemenangan” yang disebut dalam ayat   فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ  --  Boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      --  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya”,  dapat mengacu kepada jatuhnya Mekkah atau kepada kemenangan Islam  secara umum. Terang sekali bahwa kata “peristiwa” di belakang kabar kemenangan mengisyaratkan kepada suatu peristiwa yang lebih besar daripada kemenangan itu sendiri. Rupa-rupanya kata itu mengisyaratkan kepada masuknya seluruh penduduk jazirah Arabia ke haribaan Islam dan tegaknya Islam di sana  yang terjadi setelah peristiwa Fatah Mekkah  sebagaimana dinubuatkan dalam surah An-Nashr [110]:1-4).

Pentingnya Umat Islam  Senantiasa Berpegang-teguh Pada “Tali Allah

       Sehubungan dengan makna larangan  Allah Swt. dalam surah Al-Māidah  ayat 52  -- yang bersifat khusus atau terbatas terhadap pihak-pihak yang secara aktif melakukan penentangan atau penyerangan terhadap  umat Islam   -- dijelaskan Allah Swt. dalam surah berikut ini:
َا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumahmu, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ    --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ  -- dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
    Kegagalan Liga Arab seperti yang terjadi saat ini tidak akan pernah terjadi seandainya melaksanakan  perintah Allah Swt. berikut ini, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿   وَ اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  اِذۡ  کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ کُنۡتُمۡ عَلٰی شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ  لَعَلَّکُمۡ  تَہۡتَدُوۡنَ ﴿   وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ ﴾ۙ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang sebenar-benarnya, dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri.    Dan  berpegangteguhlah ka-mu sekalian pada tali  Allah,  dan  janganlah kamu berpecah-belah,    dan  ingatlah akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan,   lalu  Dia menyatukan hati kamu dengan kecintaan  antara satu sama lain   maka  dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara,   dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api  lalu Dia menyelamatkan kamu darinya Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.   Dan hendaklah ada segolongan di antara kamu   yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan dan   menyuruh kepada yang makruf,  dan melarang dari berbuat munkar,       dan mereka itulah orang-orang yang berhasil.    Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang  berpecah-belah dan berselisih  sesudah  bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka,  dan mereka itulah orang-orang  yang baginya  ada azab yang besar. (Ali ‘Imrān [3]:103-106).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,   7  Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar