Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 98
PELANGGARAN BERBAGAI PETUNJUK ALLAH SWT. DALAM AL-QURAN DAN KEMUNAFIKAN
PENYEBAB UTAMA “BERKOBARNYA API PERPECAHAN DAN PEPERANGAN” BERKEPANJANGAN TIMUR
TENGAH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 97 dibahas topik Penyebab Kegagalan Liga Arab Meredam
“Kobaran Api” Mengerikan di Timur Tengah, sehubungan dengan
tiga penyebab kegagalan Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan
bangsa-bangsa) dan Liga Arab menciptakan perdamaian di
kalangan sesama negara anggotanya
tersebut di antaranya -- selain mengabaikan
petunjuk Allah Swt. dalam Al-Quran
(QS.49:10-11) -- adalah:
(3) penyebab kegagalan lainnya Liga
Bangsa-bangsa (Perserikatan Bangsa-bangsa) maupun Liga Arab (Arab League) dalam
melaksanakan karena pada hakikatnya di kalangan mereka terdapat kemunafikan, sebagaimana firman Allah
Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.
mengenai kegagalan “perserikatan” yang dibentuk oleh kabilah-kabilah
Yahudi dan orang-orang munafik Madinah dengan orang-orang musyrik Quraisy Mekkah dalam upaya melakukan serangan bersama terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di Madinah, firman-Nya:
لَا یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ جَمِیۡعًا اِلَّا فِیۡ
قُرًی مُّحَصَّنَۃٍ اَوۡ مِنۡ وَّرَآءِ
جُدُرٍ ؕ بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ
شَدِیۡدٌ ؕ تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی ؕ ذٰلِکَ
بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Mereka tidak akan memerangi kamu bersama-sama kecuali dalam kota-kota berbenteng atau dari belakang tembok-tembok. بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ
شَدِیۡدٌ -- Peperangan mereka di
antara mereka sendiri pun sengit. تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ
شَتّٰی
-- Engkau
menyangka mereka bersatu-padu padahal
hati mereka terpecah-belah, ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ -- yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak meng-gunakan akal. (Al-Hasyr [59]:15).
Rapuhnya Ikatan Perserikatan
Duniawi & Pentingnya Menjaga Keutuhan “Persaudaraan Islam”
Ayat ini berarti
bahwa orang-orang kafir, terutama orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Medinah, mereka
tampak seakan-akan bersatu dalam satu
front melawan Islam, tetapi mereka tidak
mempunyai tujuan bersama untuk diperjuangkan
serta kepentingan mereka bermacam-macam
dan berlain-lainan, oleh karena itu tidaklah mungkin terdapat kesatuan di antara mereka.
Pada saat itu di wilayah Arabia terdapat tiga golongan yang nampaknya bersatu-padu melawan negara Islam yaitu (1) orang-orang
Yahudi, (2) orang-orang munafik Medinah, dan (3) orang-orang musyrik Quraisy asal Mekkah. Kaum Quraisy melihat (berpendapat) bahwa di dalam kebangkitan kekuatan dan kekuasaan
Islam ada bahaya besar terhadap keunggulan mereka dalam segala bidang,
sedangkan orang-orang munafik yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay melihat bahaya terhadap pengaruhnya di Madinah, dan orang-orang
Yahudi melihat ancaman terhadap organisasi dan supremasi rasial mereka.
Karena mereka tidak mempunyai tujuan yang sama maka persatuan semu itu tidak
mempunyai dasar yang nyata dan tidak pemah terwujud pada saat-saat berbahaya, firman-Nya: بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ شَدِیۡدٌ – “Peperangan mereka di antara mereka
sendiri pun sengit. تَحۡسَبُہُمۡ
جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی -- Engkau
menyangka mereka bersatu-padu padahal
hati mereka terpecah-belah.”
Demikian juga yang
terjadi pada Liga Arab (Arab League), sehingga akibatnya
jauh lebih parah daripada kegagalan yang terjadi pada Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan bangsa-bangsa). Para anggota Liga
Arab -- yang
merupakan pemeluk agama Islam (Al-Quran)
-- tetapi mereka tidak
melaksanakan petunjuk Allah Swt.
dalam menyelesaikan berbagai konflik keagamaan mau
pun konfik politik dan ekonomi yang terjadi
di kalangan mereka, firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی
فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی
تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang maka damaikanlah antara keduanya, فَاِنۡۢ
بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی
اَمۡرِ اللّٰہِ -- lalu jika
salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak
yang menyerang hingga ia kembali kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia
kembali, damaikanlah antara keduanya
dengan adil dan berbuat adillah,
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berbuat
adil (Al-Hujurāt [49]:10).
Dalam ayat
selanjutnya Allah Swt. secara
khusus menekankan pada pentingnya ukhuwah
islamiyah - persaudaraan dalam Islam.,
firman-Nya:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَۃٌ
فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَ اَخَوَیۡکُمۡ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿٪﴾
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara,
maka damaikanlah di antara kedua saudara kamu, وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ -- dan bertakwalah
kepada Allah supaya kamu dikasihani”
(Al-Hujurāt
[11).
Larangan Mengenyampingkan “Persaudaraan
Muslim” Demi Keuntungan Duniawi Macam
Apa Pun
Dalam ayat sebelumnya (QS.49:10) dijelaskan bahwa sekiranya
timbul pertengkaran atau perselisihan
di antara dua orang atau dua golongan Muslim, maka orang-orang Islam lainnya dianjurkan
segera mengambil langkah supaya
mendatangkan ishlah atau perdamaian
di antara mereka. Sebab kekuatan hakiki agama Islam terletak
pada persaudaraan ideal, yang
mengatasi segala hambatan kelas, warna kulit atau iklim.
Petunjuk Allah Swt. tersebut walau pun
yang dituju adalah umat Islam tetapi merupakan azas (landasan) yang juga berlaku
bagi “perserikatan” apa pun dalam menyelesaikan kemelut yang terjadi di kalangan anggota perserikatan, sebab Kitab suci
Al-Quran dan pengutusan Nabi
Besar Muhammad saw. adalah untuk manfaat
seluruh umat manusia (QS.2:186;
QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).
Petunjuk Allah Swt.
lainnya dalam Al-Quran
yang dilanggar
oleh para anggota Liga Arab di
Kawasan Timur Tengah adalah petunjuk Allah Swt. berikut ini
-- karena kepentingan politik
dan urusan duniawi lainnya melebihi
kepentingan urusan agama dan Ukhuwwah Islamiyyah (Persaudaraan Islam) -- Dia
berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ
بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ
نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی
اَوۡلِیَآءَ ۘؔ -- Janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani menjadi penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ -- sebagian
mereka adalah penolong sebagian
lainnya. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ -- Dan barangsiapa
di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. اِنَّ اللّٰہَ
لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ
یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ -- Maka
engkau akan melihat orang-orang yang di
dalam hatinya ada penyakit bergegas
kepada mereka yang kafir یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا
دَآئِرَۃٌ -- seraya berkata: “Kami
takut bencana menimpa kami.”
فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ -- Boleh
jadi Allah akan mendatangkan kemenangan
اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- atau suatu peristiwa lain
dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ -- maka
mereka akan merasa menyesal atas
apa yang telah mereka sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah
[5]:52-53).
Ayat 52
tidak boleh diartikan seolah-olah ajaran
Islam (Al-Quran) melarang atau mencegah perlakuan adil dan baik terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum kufar
lainnya (QS.60: 9). Ayat ini hanya mengisyaratkan
kepada orang-orang Yahudi atau Kristen yang tengah berperang dengan kaum Muslimin dan senantiasa mengadakan permufakatan-permufakatan jahat terhadap
Islam.
Makna: بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ -- “sebagian
mereka adalah penolong sebagian
lainnya” bahwa merupakan kepastian orang-orang Yahudi dan Kristen akan melupakan atau mengenyampingkan mengenai perbedaan-perbedaan
paham di antara mereka dan mereka akan menjadi bersatu dalam perlawanan
terhadap Islam, firman-Nya:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ
الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ
ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ فِیۡ شَیۡءٍ
اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً
ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil
orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan
orang-orang beriman, وَ مَنۡ
یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ
فِیۡ شَیۡءٍ -- dan
barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan Allah sedikit pun, اِلَّاۤ
اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً -- kecuali jika
kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu
penjagaan yang sebaik-baiknya. وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ -- Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali
‘Imran [3]:29).
Larangan dan Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam Bukan Tanpa Pengecualian
Sebelum membahas secara mendalam ayat
yang sangat penting dan sangat sensitive tersebut, dalam dua ayat sebelumnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
قُلِ اللّٰہُمَّ مٰلِکَ الۡمُلۡکِ
تُؤۡتِی الۡمُلۡکَ مَنۡ تَشَآءُ وَ تَنۡزِعُ الۡمُلۡکَ مِمَّنۡ تَشَآءُ ۫ وَ
تُعِزُّ مَنۡ تَشَآءُ وَ تُذِلُّ مَنۡ تَشَآءُ ؕ بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
تُوۡلِجُ الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ
تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ ۫ وَ تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ
تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ ۫ وَ تَرۡزُقُ مَنۡ
تَشَآءُ بِغَیۡرِ حِسَابٍ ﴿﴾
Katakanlah:
“Wahai Allah, Pemilik kedaulatan, Engkau memberikan kedaulatan kepada siapa yang
Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kedaulatan dari siapa yang Engkau
kehendaki, dan Engkau memuliakan siapa yang Engkau kehendaki,
dan Engkau menghinakan siapa yang Engkau kehendaki, بِیَدِکَ الۡخَیۡرُ ؕ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- di Tangan
Engkau-lah segala kebaikan, sesungguhnya
Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu. تُوۡلِجُ
الَّیۡلَ فِی النَّہَارِ وَ تُوۡلِجُ النَّہَارَ فِی الَّیۡلِ -- Engkau memasukkan malam ke dalam siang dan Engkau memasukkan
siang ke dalam malam. وَ
تُخۡرِجُ الۡحَیَّ مِنَ الۡمَیِّتِ وَ تُخۡرِجُ الۡمَیِّتَ مِنَ الۡحَیِّ -- Engkau
mengeluarkan yang hidup dari yang mati
dan Engkau mengeluarkan yang mati dari
yang hidup, وَ تَرۡزُقُ
مَنۡ تَشَآءُ بِغَیۡرِ حِسَابٍ -- dan Engkau memberi rezeki kepada siapa yang
Engkau kehendaki tanpa hisab.” (Ali ‘Imran [3]:27-29).
Kata “siang” di sini
menggambarkan kesejahteraan dan kekuasaan suatu kaum dan kata “malam”
melukiskan kemunduran dan kemerosotan mereka. Kedua ayat ini mengisyaratkan kepada hukum Ilahi yang tak berubah bahwa bangsa-bangsa bangkit atau jatuh, karena mereka menyesuaikan diri dengan atau menentang kehendak Ilahi yang merupakan sumber segala kekuasaan dan kebesaran.
Makna larangan
dan peringatan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya, bahwa dengan
diperolehnya kekuatan politik oleh Islam
-- seperti dijanjikan Allah Swt. dalam
ayat-ayat sebelumnya (QS.3.27-28) -- bagi negara
Islam mengadakan persekutuan-persekutuan
politik itu menjadi sangat perlu.
Ayat yang sedang dibahas ini (QS.3:29)
berisikan pedoman asasi bahwa tidak boleh ada negara Islam yang mengadakan perjanjian atau persekutuan
dengan negara bukan-Islam yang sama
sekali akan merugikan atau mempunyai kepentingan yang bertentangan dengan kepentingan-kepentingan negara-negara Islam lainnya.
Menurut Allah Swt. kepentingan-kepentingan Islam
harus berada di atas kepentingan-kepentingan
lainnya. Itulah makna “larangan”
dalam ayat: لَا یَتَّخِذِ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- “Janganlah
orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir menjadi sahabat dengan menge-nyampingkan orang-orang beriman, وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ
ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ فِیۡ شَیۡءٍ -- dan barangsiapa berbuat demikian maka sekali-kali tidak ada hubungannya dengan
Allah sedikit pun.”
Namun demikian “larangan” dan “peringatan” Allah Swt. tersebut
bukan tanpa syarat apa pun,
itulah sebabnya selanjutnya Allah Swt. berfirman: اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا
مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً --
“kecuali bila kamu menjaga diri dari
mereka dengan suatu penjagaan yang
sebaik-baiknya.”
Dalam ayat tersebut kaum Muslim diperingatkan Allah Swt. supaya berhati-hati terhadap hasutan-hasutan dan tipu muslihat kaum kafir. Makna ungkapan “kecuali bila kamu
menjaga diri dari mereka”, bukan mengacu
kepada kekuasaan
musuh tetapi kepada kelicikan mereka yang
kaum Muslimin harus senantiasa
waspada dan berjaga-jaga, misalnya dalam berbagai perjanjian
“kerjasama” bidang apa pun,
kepentingan sesama Muslim harus
diutamakan.
Berbagai Makna “Nafsahū”
& Akibat Buruk “Kemunafikan”
Kemudian makna nafs dalam peringatan Allah Swt: وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ -- Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali
‘Imran [3]:29). Kata nafs berarti:
diri pribadi seseorang; maksud, kemauan, atau keinginan; hukuman, dan
sebagainya (Aqrab-ul-Mawarid).
Jadi kata “nafsahū” sangat luas artinya
sehingga harus benar-benar difahami
oleh orang-orang Islam dalam menafsirkan ayat yang berisi larangan dan peringatan Allah Swt. tersebut karena jika tidak maka akan mengakibatkan kekeliruan
dalam penafsiran atau kekeliruan
dalam berfatwa yang akan menimbulkan
masalah besar, firman-Nya:
لَا یَتَّخِذِ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ
الۡکٰفِرِیۡنَ اَوۡلِیَآءَ مِنۡ دُوۡنِ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۚ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡ
ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ فِیۡ شَیۡءٍ
اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً
ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Janganlah orang-orang beriman mengambil
orang-orang kafir menjadi sahabat dengan mengenyampingkan
orang-orang beriman, وَ مَنۡ
یَّفۡعَلۡ ذٰلِکَ فَلَیۡسَ مِنَ اللّٰہِ
فِیۡ شَیۡءٍ -- dan barangsiapa
berbuat demikian maka sekali-kali
tidak ada hubungannya dengan
Allah sedikit pun, اِلَّاۤ اَنۡ تَتَّقُوۡا مِنۡہُمۡ تُقٰىۃً -- kecuali jika kamu menjaga diri dari mereka dengan suatu
penjagaan yang sebaik-baiknya. وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اِلَی اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ -- Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, dan kamu akan kembali kepada Allah. (Ali
‘Imran [3]:29).
Sungguh benar apa yang dikatakan oleh Nabi Besar Muhammad saw.: “Semua orang kafir merupakan satu umat.” Jadi semua orang kafir biar bagaimana tidak
bersahabatnya antara satu sama lain
tetapi namun jika menghadapi Islam mereka adalah seperti satu kaum atau satu umat.
Demikianlah makna surah Ali ‘Imran
ayat 29 tersebut dalam hubungannya dengan makna
“larangan” Allah Swt. dalam
surah Al-Maidāh ayat 52, yang akibat
melakukan pelanggaran terhadap petunjuk Allah Swt. tersebut maka telah
menyebabkan timbulnya kemelut besar
di kawasan Timur Tengah yang sangat mengerikan
karena adanya kemunafikan, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ
بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ
نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی
اَوۡلِیَآءَ ۘؔ -- Janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani menjadi penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ -- sebagian
mereka adalah penolong sebagian
lainnya. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ -- Dan barangsiapa
di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. اِنَّ اللّٰہَ
لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ
فِیۡہِمۡ -- Maka engkau
akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas kepada mereka
yang kafir یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ -- seraya berkata: “Kami takut
bencana menimpa kami.” فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ -- Boleh jadi Allah akan mendatangkan kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- atau suatu peristiwa lain
dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ -- maka
mereka akan merasa menyesal atas
apa yang telah mereka sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah
[5]:51-52).
Makna dā’irah dalam ayat: یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ -- seraya berkata: “Kami takut
bencana menimpa kami”
berarti daur (pergiliran) nasib, terutama kejadian buruk, nasib
sial; bencana; kekalahan atau dikeluarkan dengan paksa dari persembunyian;
pembunuhan atau kematian (Lexicon Lane).
Sedangkan makna “kemenangan” yang disebut dalam ayat فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ
-- Boleh jadi Allah akan mendatangkan kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- atau
suatu peristiwa lain dari sisi-Nya”, dapat mengacu kepada jatuhnya Mekkah atau kepada kemenangan
Islam secara umum. Terang sekali
bahwa kata “peristiwa” di belakang kabar
kemenangan mengisyaratkan kepada
suatu peristiwa yang lebih besar daripada kemenangan itu sendiri. Rupa-rupanya
kata itu mengisyaratkan kepada masuknya
seluruh penduduk jazirah Arabia ke haribaan
Islam dan tegaknya Islam di sana yang terjadi setelah peristiwa Fatah Mekkah sebagaimana dinubuatkan dalam surah An-Nashr [110]:1-4).
Pentingnya Umat Islam Senantiasa Berpegang-teguh Pada “Tali Allah”
Sehubungan dengan makna larangan
Allah Swt. dalam surah Al-Māidah ayat 52 -- yang bersifat khusus atau terbatas
terhadap pihak-pihak yang secara aktif
melakukan penentangan atau penyerangan terhadap umat
Islam -- dijelaskan Allah Swt.
dalam surah berikut ini:
َا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ وَ لَمۡ یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ
دِیَارِکُمۡ اَنۡ تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ
اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ
ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ
تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumahmu,
sesungguhnya Allah mencintai orang-orang
yang berlaku adil. اِنَّمَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ
اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ
ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ
تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ -- Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai sahabat orang-orang yang
memerangi kamu karena agama dan telah
mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah
membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ
-- dan barangsiapa bersahabat
dengan mereka maka mereka itulah
orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
Kegagalan
Liga
Arab seperti yang terjadi saat ini tidak akan pernah terjadi seandainya
melaksanakan perintah Allah Swt. berikut ini,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ
مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿ ﴾ وَ
اعۡتَصِمُوۡا بِحَبۡلِ اللّٰہِ جَمِیۡعًا
وَّ لَا تَفَرَّقُوۡا ۪ وَ اذۡکُرُوۡا
نِعۡمَتَ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ اِذۡ
کُنۡتُمۡ اَعۡدَآءً فَاَلَّفَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِکُمۡ فَاَصۡبَحۡتُمۡ
بِنِعۡمَتِہٖۤ اِخۡوَانًا ۚ وَ
کُنۡتُمۡ عَلٰی
شَفَا حُفۡرَۃٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنۡقَذَکُمۡ مِّنۡہَا ؕ کَذٰلِکَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ
لَکُمۡ اٰیٰتِہٖ لَعَلَّکُمۡ
تَہۡتَدُوۡنَ ﴿ ﴾ وَلۡتَکُنۡ مِّنۡکُمۡ اُمَّۃٌ یَّدۡعُوۡنَ اِلَی الۡخَیۡرِ وَ یَاۡمُرُوۡنَ بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ یَنۡہَوۡنَ عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿ ﴾ وَ لَا
تَکُوۡنُوۡا کَالَّذِیۡنَ تَفَرَّقُوۡا
وَ اخۡتَلَفُوۡا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ
الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ ﴾ۙ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan takwa yang
sebenar-benarnya, dan janganlah sekali-kali kamu mati kecuali
kamu dalam keadaan berserah diri. Dan berpegangteguhlah
ka-mu sekalian pada tali Allah, dan janganlah kamu berpecah-belah, dan ingatlah
akan nikmat Allah atas kamu ketika kamu
dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia
menyatukan hati kamu dengan kecintaan
antara satu sama lain maka
dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia
menyelamatkan kamu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu
supaya kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah
ada segolongan di antara kamu yang senantiasa menyeru manusia kepada kebaikan dan menyuruh
kepada yang makruf, dan melarang dari berbuat munkar, dan mereka
itulah orang-orang yang berhasil. Dan janganlah
kamu menjadi seperti orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih sesudah
bukti-bukti yang jelas datang kepada mereka, dan mereka itulah orang-orang yang baginya ada azab yang besar. (Ali
‘Imrān [3]:103-106).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 7
Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar