Senin, 09 Januari 2017

Pemberian "Izin Perang" kepada Nabi Besar Muhammad Saw. dan Umat Islam Untuk Menegakkan "Kebebasan Beragama" dan "Berkeyakinan" Secara Beradab & Penyebab Kegagalan "Liga Bangsa-bangsa" (PBB) dan "Liga Arab" Menciptakan "Perdamaian" di Kalangan Para Anggotanya



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  97

PEMBERIAN IZIN PERANG KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. DAN UMAT ISLAM UNTUK MENEGAKKAN KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN SECARA BERADAB  &   PENYEBAB KEGAGALAN “LIGA BANGSA-BANGSA” (PBB) DAN “LIGA ARAB” MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DI KALANGAN PARA ANGGOTANYA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 96  dibahas  topik  Jalut dan “Bala-tentaranya” Sebutan Kiasan Mengenai Kaum Midian  dan Sekutu-sekutunya.    Kata Jalut dalam ayat:  َلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ  ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ  --  lalu tatkala ia dan orang-orang yang beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata: “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini untuk menghadapi Jalut dan balatentaranya.” Jalut  itu nama sifat yang artinya, seseorang atau satu kaum yang sukar diperintah dan “berkeliar sambil menjarah-rayah” dan mengganggu orang-orang lain.

Jalut Adalah Nama Sifat  Kaum Midian  yang Ditakuti Bani Israil

     Dalam Bible nama yang sejajar ialah Goliat (I Sam. 17:4) yang berarti “ruh-ruh yang suka berlari-lari, menyamun dan membinasakan,” atau “pemimpin” atau “raksasa” (Encyclopaedia Biblica; Jewish Encyclopaedia). Bible memakai nama ini mengenai seseorang, tetapi sesungguhnya kata itu menyandang arti segolongan perampok yang kejam, sungguhpun dapat pula dikenakan kepada perseorangan-perseorangan tertentu yang melambangkan ciri khas golongan itu.
      Jadi, Al-Quran agaknya telah mempergunakan kata Jalut itu dalam ayat yang sedang dibicarakan sebagai nama sifat suatu kaum – yakni kaum Midian – yang Bani Israil sangat takut kepada mereka (QS.5:21-27).  Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ   اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi Jalut dan bala-tentaranya, mereka berkata:  رَبَّنَاۤ  اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ   اَقۡدَامَنَا -- “Ya Rabb (Tuhan) kami,  anugerahkanlah  ketabahan atas kami,  dan teguhkanlah langkah-langkah kami, وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ  --  serta  tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:251). 
    Jalut yang disebut dalam ayat ini – sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya -- tidak bermakna seseorang melainkan suatu kaum, sedang kata “balatentara” menunjuk kepada para pembantu dan sekutu kaum itu. Bible menunjuk kepada Jalut sebagai nama kaum Midian yang menjarah dan menyerang Bani Israil dan membinasakan tanah mereka untuk beberapa tahun (Hakim-hakim 6:1-6). Sedangkan kaum Amalek dan semua suku bangsa di sebelah timur membantu kaum Midian dalam penyerangan mereka (Hakim-hakim 6:3) dan merupakan “balatentaraJalut yang disebut dalam ayat ini, firman-Nya:
فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾   تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾
Maka mereka yakni Thalut dan pengikutnya mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ  --  dan Dawud membunuh Jalut, dan Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan serta mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Dan  seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan,  tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam.   تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ    --   itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari antara orang-orang yang diutus. (Al-Baqarah [2]:252-253).

Fungsi  Perang Sebagai “Tindakan Terakhir” Jika Cara Musyawarah Tidak Membuahkan Hasil

       Sebagaimana telah dijelaskan dalam salah satu  Bab sebelumnya  bahwa jarak rentang waktu antara masa Thalut (Gideon) dengan Nabi Daud a.s. adalah selama 200 tahun,  itulah makna ayat: فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ  -- Maka mereka yakni Thalut dan pengikutnya mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ  --  dan Dawud membunuh Jalut
    Thalut atau Gideon berhasil mengalahkan Jalut atau kaum Midian, tetapi kekalahan besar -- yang disebut dalam ayat ini dengan terbunuhnya Jalut   -- terjadi di zaman Nabi Dawud a.s., kira-kira 200 tahun kemudian. Menurut Bible orang yang dikalahkan oleh Nabi Dawud a.s.  adalah Goliat (I Samuel 17:4), yang cocok dengan Jalut. Mungkin nama sifat yang diberikan oleh Al-Quran kepada kaum itu pun disandang oleh pemimpin mereka (Goliat)  di zaman Nabi Dawud a.s..   Kata-kata: وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ  --Dan  seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan,  tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam”    itu melukiskan dengan ringkas seluruh falsafah ihwal segala bentuk perang yang dilancarkan demi kebenaran dan keadilan.
        Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran  perang hanya dipakai sebagai   wahana untuk mencegah kekacauan dan menegakkan kembali keamanan, dan bukan menimbulkan kekacauan, mengganggu keamanan, dan merampas kemerdekaan bangsa-bangsa yang lemah, Dia berfirman:
اُذِنَ لِلَّذِیۡنَ یُقٰتَلُوۡنَ بِاَنَّہُمۡ ظُلِمُوۡا ؕ وَ اِنَّ  اللّٰہَ  عَلٰی  نَصۡرِہِمۡ  لَقَدِیۡرُۨ  ﴿ۙ﴾الَّذِیۡنَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ  بِغَیۡرِ  حَقٍّ اِلَّاۤ  اَنۡ یَّقُوۡلُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ یُذۡکَرُ فِیۡہَا اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا ؕ وَ لَیَنۡصُرَنَّ اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ  اِنۡ مَّکَّنّٰہُمۡ  فِی الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ وَ اَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ  نَہَوۡا عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لِلّٰہِ  عَاقِبَۃُ  الۡاُمُوۡرِ ﴿﴾
Diizinkan berperang bagi mereka yang telah diperangi, karena mereka telah dizalimi, dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa haq  hanya karena mereka berkata:  رَبُّنَا اللّٰہُ -- “Rabb (Tuhan) kami Allah.” وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ یُذۡکَرُ فِیۡہَا اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا --  Dan seandainya Allah tidak menangkis   sebagian manusia oleh sebagian yang lain niscaya akan hancur  biara-biara, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak disebut nama  Allah, وَ لَیَنۡصُرَنَّ اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  --   dan  Allah pasti akan menolong siapa yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa. اَلَّذِیۡنَ  اِنۡ مَّکَّنّٰہُمۡ  فِی الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا الزَّکٰوۃَ وَ اَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ  نَہَوۡا عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لِلّٰہِ  عَاقِبَۃُ  الۡاُمُوۡرِ  --  Orang-orang yang jika Kami meneguhkannya di bumi mereka mendirikan shalat, membayar zakat,  menyuruh berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan.  Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al-Hājj [22]:40-42).

Izin  “Perang” Menurut Al-Quran Bertujuan Menertibkan Umat Manusia  yang Bersengketa 

       Kembali kepada kemenangan Thalut (Gideon) dan para pengikutnya melawan Jalut – yakni kaum Midian -- dan “bala-tentaranya” yaitu suku-suku  yang membantu Jalut, firman-Nya:
فَہَزَمُوۡہُمۡ  بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾   تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾
Maka mereka yakni Thalut dan pengikutnya mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ  الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ  --  dan Dawud membunuh Jalut, dan Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan serta mengajarkan kepadanya apa yang Dia kehendaki. وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Dan  seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan,  tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam.   تِلۡکَ اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ  اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾   --   Itulah Ayat-ayat Allah, Kami membacakannya kepada engkau dengan haq, dan sesungguhnya engkau benar-benar salah seorang dari antara orang-orang yang diutus. (Al-Baqarah [2]:252-253).
       Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, pemberian  izin melakukan perang  -- selain  untuk membela diri  dan menegakkan kebebasan beragama --  adalah sebagai langkah terakhir menertibkan manusia yang bersengketa jika  dengan cara musyawarah tidak membuahkan hasil, firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang  maka  damaikanlah  antara keduanya, فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ --   lalu jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak yang menyerang hingga ia kembali  kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.    (Al-Hujurāt [49]:10).

Penyebab Kegagalan Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan Bangsa-bangsa)  dan Liga Arab  Menciptakan “Perdamaian” di Kalangan Negara-negara Anggotanya

     Suatu bahaya besar bagi keamanan dan kesetiakawanan suatu negara Islam, adalah percekcokan dan pertengkaran yang mungkin timbul di antara berbagai golongan atau pihak orang-orang Muslim. Ayat tersebut memberikan obat yang mujarab untuk mendamaikan pertikaian-pertikaian semacam itu.
    Pada pokoknya, Surah Al-Hujurāt  -- yang artinya “kamar-kamar pribadi”  -- ini membahas penyelesaian perselisihan-perselisihan di antara beberapa pihak sesama Muslim, dan di samping itu merupakan landasan sehat, yang berdasarkan itu suatu Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan Bangsa-bangsa) yang sungguh-sungguh ampuh dapat didirikan. Ayat ini menetapkan suatu asas yang sehat, untuk memelihara perdamaian dunia internasional.
    Pertanyaannya adalah: Mengapa dalam kenyataannya,  baik Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan bangsa-bangsa) mau pun  Liga Arab (Arab League)   --  yang merupakan negara-negara Islam  -- kedua Lembaga Internasional   tersebut tidak berhasil menciptakan perdamaian    di lingkungan sesama negara-negara anggotanya?
     Jawabannya  yang pasti benar adalah bahwa   kegagalan tersebut terjadi  karena: 
   (1)  Lembaga-lembaga  tersebut tidak melaksanakan petunjuk Allah Swt.  yang dikemukakan dalam Surah Al-Hujurāt ayat 10 sebelum ini, firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang  maka  damaikanlah  antara keduanya, فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ --   lalu jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak yang menyerang hingga ia kembali  kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.    (Al-Hujurāt [49]:10).
 (2)  penyebab  kegagalan lainnya  Lembaga-lembaga  tersebut  adalah adanya pemberian hak veto   kepada negara-negara tertentu  -- baik negara-negara yang sefaham dalam politik mau pun terhadap negara-negara yang berbeda faham, yakni Amerika Serikat; Inggris; Perancis; Rusia dan   China  -- sehingga mengakibatkan  Liga Bangsa-bangsa   (Perserikatan Bangsa-bangsa)   dalam “Sidang Umum”  yang dilakukan  tidak pernah menghasilkan  “suara bulat” untuk melaksanakan berbagai kebijakannya dalam rangka menghentikan persengketaan Internasional yang terjadi di antara negara-negara anggotanya, karena  selalu mengalami penentangan dari salah satu  atau beberapa negara   yang memiliki  hak veto ,  guna kepentingan mereka sendiri dan  sekutunya.
    (3) penyebab kegagalan lainnya   Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan Bangsa-bangsa) maupun  Liga Arab  (Arab League) dalam melaksanakan karena pada hakikatnya di kalangan mereka terdapat kemunafikan, sebagaimana firman Allah Swt.  kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai kegagalan “perserikatan”  yang dibentuk oleh  kabilah-kabilah Yahudi      dan orang-orang munafik Madinah dengan orang-orang musyrik Quraisy Mekkah dalam upaya melakukan  serangan bersama terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di Madinah,  firman-Nya:
لَا یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ جَمِیۡعًا  اِلَّا فِیۡ  قُرًی مُّحَصَّنَۃٍ  اَوۡ مِنۡ  وَّرَآءِ  جُدُرٍ ؕ بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ  شَدِیۡدٌ ؕ تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی ؕ ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ  قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Mereka tidak akan memerangi kamu bersama-sama kecuali dalam kota-kota berbenteng atau dari belakang tembok-tembok. بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ  شَدِیۡدٌ -- Peperangan mereka di antara mereka sendiri pun  sengit. تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی --  Engkau menyangka  mereka bersatu-padu padahal hati mereka terpecah-belah, ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ  قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ -- yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak meng-gunakan akal. (Al-Hasyr [59]:15).

Penyebab Kegagalan Liga Arab Meredam “Kobaran Api” Mengerikan di Timur Tengah

   Ayat ini berarti bahwa orang-orang kafir, terutama orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Medinah, mereka tampak seakan-akan bersatu dalam satu front melawan Islam, tetapi mereka tidak mempunyai tujuan bersama untuk diperjuangkan serta kepentingan mereka bermacam-macam dan berlain-lainan, oleh karena itu tidaklah mungkin terdapat kesatuan di antara mereka.
   Pada saat itu di wilayah Arabia terdapat tiga golongan yang nampaknya bersatu-padu melawan negara Islam yaitu (1) orang-orang Yahudi, (2) orang-orang munafik Medinah, dan (3) orang-orang musyrik Quraisy asal Mekkah. Kaum Quraisy melihat (berpendapat) bahwa di dalam kebangkitan kekuatan dan  kekuasaan Islam ada bahaya besar terhadap keunggulan mereka dalam segala bidang, sedangkan orang-orang munafik  yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay melihat bahaya terhadap pengaruhnya di Madinah, dan orang-orang Yahudi melihat ancaman terhadap organisasi dan supremasi rasial mereka. Karena mereka tidak mempunyai tujuan yang sama maka persatuan semu itu tidak mempunyai dasar yang nyata dan tidak pemah terwujud pada saat-saat berbahaya, firman-Nya: بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ  شَدِیۡدٌ – “Peperangan mereka di antara mereka sendiri pun  sengit. تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی --  Engkau menyangka  mereka bersatu-padu padahal hati mereka terpecah-belah.”
   Demikian juga yang terjadi pada Liga Arab (Arab League),  sehingga akibatnya jauh lebih parah daripada kegagalan  yang terjadi pada Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan bangsa-bangsa). Para anggota Liga Arab  -- yang  merupakan  pemeluk agama Islam (Al-Quran)  -- tetapi  mereka tidak melaksanakan petunjuk Allah Swt. dalam menyelesaikan berbagai konflik keagamaan  mau  pun konfik politik dan ekonomi  yang terjadi di kalangan mereka, firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang  maka  damaikanlah  antara keduanya, فَاِنۡۢ  بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ  حَتّٰی تَفِیۡٓءَ  اِلٰۤی  اَمۡرِ اللّٰہِ --   lalu jika salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak yang menyerang hingga ia kembali  kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia kembali, damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berbuat adillah, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat adil.    (Al-Hujurāt [49]:10).
 Dalam ayat  selanjutnya  Allah Swt.   secara khusus menekankan pada pentingnya ukhuwah islamiyah - persaudaraan dalam Islam., firman-Nya:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ  اِخۡوَۃٌ  فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَ اَخَوَیۡکُمۡ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ  لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿٪﴾
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara, maka  damaikanlah di antara kedua saudara kamu, وَ اتَّقُوا اللّٰہَ  لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ --   dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu dikasihani” (Al-Hujurāt [11).

Mengenyampingkan “Persaudaraan Muslim” Demi Keuntungan Duniawi

  Dalam  ayat  sebelumnya dijelaskan bahwa sekiranya timbul pertengkaran atau  perselisihan di antara dua orang atau dua golongan Muslim, maka orang-orang Islam lainnya dianjurkan segera mengambil langkah supaya mendatangkan ishlah atau perdamaian di antara mereka.  Sebab kekuatan hakiki agama Islam terletak pada persaudaraan ideal, yang mengatasi segala hambatan kelas, warna kulit atau iklim.
   Petunjuk Allah Swt. lainnya  dalam  Al-Quran yang  tidak dilaksanakan oleh para anggota Liga Arab  adalah firman-Nya berikut ini   -- karena kepentingan politik dan urusan duniawi lainnya  melebihi kepentingan urusan agama dan Ukhuwwah Islamiyyah  (Persaudaraan Islam) --   Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ     اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ     فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ    --  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ   -- sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ  --  Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka.  اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalimفَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ     -- Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir  یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- seraya berkata: “Kami takut  bencana menimpa kami.” فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ  --  Boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      --  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ  -- maka  mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka  sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah [5]:51-52).
       Ayat 51 tidak boleh diartikan seolah-olah ajaran Islam (Al-Quran) melarang atau mencegah perlakuan adil dan baik terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum kufar lainnya (QS.60: 9). Ayat ini hanya mengisyaratkan kepada orang-orang Yahudi atau Kristen yang telah berperang dengan kaum Muslimin dan senantiasa mengadakan permufakatan-permufakatan jahat terhadap Islam.

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   5  Januari 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar