Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 97
PEMBERIAN IZIN PERANG KEPADA NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. DAN UMAT ISLAM UNTUK
MENEGAKKAN KEBEBASAN BERAGAMA DAN BERKEYAKINAN SECARA BERADAB & PENYEBAB KEGAGALAN “LIGA BANGSA-BANGSA” (PBB) DAN “LIGA
ARAB” MENCIPTAKAN PERDAMAIAN DI
KALANGAN PARA ANGGOTANYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 96
dibahas topik Jalut dan “Bala-tentaranya” Sebutan Kiasan
Mengenai Kaum Midian dan Sekutu-sekutunya. Kata Jalut dalam ayat: َلَمَّا جَاوَزَہٗ ہُوَ وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۙ قَالُوۡا لَا طَاقَۃَ
لَنَا الۡیَوۡمَ بِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ -- lalu tatkala ia dan orang-orang yang
beriman besertanya telah menyeberanginya mereka berkata: “Tidak ada kemampuan pada kami hari ini
untuk menghadapi Jalut dan
balatentaranya.” Jalut
itu nama sifat yang artinya, seseorang atau satu kaum yang sukar diperintah
dan “berkeliar sambil menjarah-rayah”
dan mengganggu orang-orang lain.
Jalut Adalah Nama Sifat Kaum Midian
yang Ditakuti Bani Israil
Dalam Bible
nama yang sejajar ialah Goliat (I Sam. 17:4) yang berarti “ruh-ruh yang suka berlari-lari, menyamun dan
membinasakan,” atau “pemimpin”
atau “raksasa” (Encyclopaedia Biblica; Jewish Encyclopaedia). Bible
memakai nama ini mengenai seseorang, tetapi sesungguhnya kata itu
menyandang arti segolongan perampok yang
kejam, sungguhpun dapat pula dikenakan kepada perseorangan-perseorangan tertentu yang melambangkan ciri khas golongan itu.
Jadi, Al-Quran agaknya telah mempergunakan
kata Jalut itu dalam ayat yang sedang
dibicarakan sebagai nama sifat suatu
kaum – yakni kaum Midian – yang Bani
Israil sangat takut kepada mereka (QS.5:21-27). Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَمَّا
بَرَزُوۡا لِجَالُوۡتَ وَ جُنُوۡدِہٖ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ؕ
Dan tatkala mereka maju untuk menghadapi
Jalut dan bala-tentaranya, mereka berkata: رَبَّنَاۤ اَفۡرِغۡ عَلَیۡنَا صَبۡرًا وَّ ثَبِّتۡ اَقۡدَامَنَا -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah ketabahan atas kami, dan teguhkanlah
langkah-langkah kami, وَ انۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ
الۡکٰفِرِیۡنَ -- serta tolonglah
kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:251).
Jalut yang disebut dalam ayat ini – sebagaimana telah dijelaskan
sebelumnya -- tidak bermakna seseorang
melainkan suatu kaum, sedang kata “balatentara” menunjuk kepada para pembantu
dan sekutu kaum itu. Bible menunjuk kepada Jalut sebagai nama kaum Midian yang menjarah
dan menyerang Bani Israil dan membinasakan tanah mereka untuk beberapa
tahun (Hakim-hakim 6:1-6).
Sedangkan kaum Amalek dan semua suku bangsa di sebelah timur membantu kaum Midian dalam penyerangan mereka (Hakim-hakim 6:3) dan
merupakan “balatentara” Jalut yang disebut dalam ayat ini,
firman-Nya:
فَہَزَمُوۡہُمۡ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ
النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ
فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ
اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾
Maka mereka yakni Thalut dan pengikutnya
mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan
izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ -- dan
Dawud membunuh Jalut, dan Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan
serta mengajarkan kepadanya apa yang Dia
kehendaki. وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ
لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan seandainya
Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi Allah
memiliki karunia atas seluruh alam. تِلۡکَ اٰیٰتُ
اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ
اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan
sesungguhnya engkau benar-benar salah
seorang dari antara orang-orang yang
diutus. (Al-Baqarah [2]:252-253).
Fungsi Perang
Sebagai “Tindakan Terakhir” Jika Cara Musyawarah
Tidak Membuahkan Hasil
Sebagaimana telah dijelaskan dalam salah
satu Bab sebelumnya bahwa jarak
rentang waktu antara masa Thalut
(Gideon) dengan Nabi Daud a.s. adalah
selama 200 tahun, itulah makna ayat: فَہَزَمُوۡہُمۡ بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- Maka mereka
yakni Thalut dan pengikutnya mengalahkan mereka itu yakni
Jalut dan bala tentaranya dengan izin
Allah, وَ
قَتَلَ دَاوٗدُ جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ
الۡمُلۡکَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ -- dan Dawud
membunuh Jalut”
Thalut atau Gideon
berhasil mengalahkan Jalut atau kaum Midian, tetapi kekalahan
besar -- yang disebut dalam ayat ini dengan terbunuhnya Jalut -- terjadi
di zaman Nabi Dawud a.s., kira-kira
200 tahun kemudian. Menurut Bible
orang yang dikalahkan oleh Nabi Dawud a.s. adalah Goliat (I Samuel
17:4), yang cocok dengan Jalut.
Mungkin nama sifat yang diberikan
oleh Al-Quran kepada kaum itu pun
disandang oleh pemimpin mereka
(Goliat) di zaman Nabi Dawud a.s.. Kata-kata: وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ
بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ
عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Dan seandainya Allah tidak menyingkirkan kejahatan
sebagian manusia oleh sebagian
lainnya, niscaya bumi akan penuh
dengan kerusakan, tetapi Allah memiliki karunia atas seluruh alam” itu melukiskan
dengan ringkas seluruh falsafah ihwal segala bentuk perang yang dilancarkan demi kebenaran dan keadilan.
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran perang
hanya dipakai sebagai wahana untuk mencegah kekacauan dan menegakkan
kembali keamanan, dan bukan
menimbulkan kekacauan, mengganggu
keamanan, dan merampas kemerdekaan
bangsa-bangsa yang lemah, Dia
berfirman:
اُذِنَ لِلَّذِیۡنَ یُقٰتَلُوۡنَ
بِاَنَّہُمۡ ظُلِمُوۡا ؕ وَ اِنَّ
اللّٰہَ عَلٰی نَصۡرِہِمۡ
لَقَدِیۡرُۨ ﴿ۙ﴾الَّذِیۡنَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ
دِیَارِہِمۡ بِغَیۡرِ حَقٍّ اِلَّاۤ
اَنۡ یَّقُوۡلُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ
بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ
یُذۡکَرُ فِیۡہَا اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا ؕ وَ لَیَنۡصُرَنَّ اللّٰہُ مَنۡ
یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾ اَلَّذِیۡنَ اِنۡ مَّکَّنّٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا
الزَّکٰوۃَ وَ اَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ
نَہَوۡا عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لِلّٰہِ
عَاقِبَۃُ الۡاُمُوۡرِ ﴿﴾
Diizinkan berperang bagi mereka yang telah diperangi,
karena mereka telah dizalimi, dan
sesungguhnya Allah berkuasa menolong
mereka. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka
tanpa haq hanya karena mereka berkata: رَبُّنَا اللّٰہُ -- “Rabb (Tuhan) kami Allah.” وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ
لَّہُدِّمَتۡ صَوَامِعُ وَ بِیَعٌ وَّ صَلَوٰتٌ وَّ مَسٰجِدُ یُذۡکَرُ فِیۡہَا
اسۡمُ اللّٰہِ کَثِیۡرًا -- Dan seandainya Allah tidak menangkis
sebagian manusia oleh sebagian yang lain niscaya akan hancur
biara-biara, gereja-gereja,
rumah-rumah ibadah, dan masjid-masjid yang di dalamnya banyak
disebut nama Allah, وَ لَیَنۡصُرَنَّ
اللّٰہُ مَنۡ یَّنۡصُرُہٗ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَقَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- dan Allah
pasti akan menolong siapa yang menolong-Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa. اَلَّذِیۡنَ اِنۡ مَّکَّنّٰہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَوُا
الزَّکٰوۃَ وَ اَمَرُوۡا بِالۡمَعۡرُوۡفِ وَ
نَہَوۡا عَنِ الۡمُنۡکَرِ ؕ وَ لِلّٰہِ
عَاقِبَۃُ الۡاُمُوۡرِ -- Orang-orang yang jika Kami meneguhkannya di bumi mereka mendirikan shalat, membayar
zakat, menyuruh berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan.
Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al-Hājj
[22]:40-42).
Izin
“Perang” Menurut Al-Quran Bertujuan Menertibkan Umat Manusia yang
Bersengketa
Kembali kepada kemenangan Thalut (Gideon) dan para pengikutnya
melawan Jalut – yakni kaum Midian -- dan “bala-tentaranya” yaitu suku-suku
yang membantu Jalut, firman-Nya:
فَہَزَمُوۡہُمۡ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ۟ۙ وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ ؕ وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ
النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ
عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ تِلۡکَ
اٰیٰتُ اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾
Maka mereka yakni Thalut dan pengikutnya
mengalahkan mereka itu yakni Jalut dan bala tentaranya dengan
izin Allah, وَ قَتَلَ دَاوٗدُ
جَالُوۡتَ وَ اٰتٰىہُ اللّٰہُ الۡمُلۡکَ
وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ عَلَّمَہٗ مِمَّا یَشَآءُ -- dan
Dawud membunuh Jalut, dan Allah memberinya kerajaan dan kebijaksanaan
serta mengajarkan kepadanya apa yang Dia
kehendaki. وَ لَوۡ لَا دَفۡعُ اللّٰہِ النَّاسَ بَعۡضَہُمۡ بِبَعۡضٍ ۙ
لَّفَسَدَتِ الۡاَرۡضُ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ ذُوۡ فَضۡلٍ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ -- Dan seandainya
Allah tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusakan, tetapi Allah
memiliki karunia atas seluruh alam. تِلۡکَ اٰیٰتُ
اللّٰہِ نَتۡلُوۡہَا عَلَیۡکَ بِالۡحَقِّ ؕ وَ
اِنَّکَ لَمِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ -- Itulah Ayat-ayat
Allah, Kami membacakannya kepada
engkau dengan haq, dan
sesungguhnya engkau benar-benar salah
seorang dari antara orang-orang yang
diutus. (Al-Baqarah [2]:252-253).
Menurut Allah Swt. dalam Al-Quran, pemberian
izin melakukan perang -- selain
untuk membela diri dan menegakkan kebebasan beragama -- adalah
sebagai langkah terakhir menertibkan
manusia yang bersengketa
jika dengan cara musyawarah tidak membuahkan hasil,
firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی
فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی
تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang maka damaikanlah antara keduanya, فَاِنۡۢ
بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی
اَمۡرِ اللّٰہِ -- lalu jika
salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak
yang menyerang hingga ia
kembali kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia
kembali, damaikanlah antara keduanya
dengan adil dan berbuat adillah,
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berbuat
adil. (Al-Hujurāt
[49]:10).
Penyebab Kegagalan Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan
Bangsa-bangsa) dan Liga Arab Menciptakan “Perdamaian” di Kalangan Negara-negara Anggotanya
Suatu
bahaya besar bagi keamanan dan kesetiakawanan suatu negara
Islam, adalah percekcokan dan pertengkaran yang mungkin timbul di
antara berbagai golongan atau pihak orang-orang Muslim. Ayat tersebut
memberikan obat yang mujarab untuk mendamaikan pertikaian-pertikaian
semacam itu.
Pada pokoknya, Surah Al-Hujurāt -- yang artinya “kamar-kamar pribadi” -- ini membahas penyelesaian perselisihan-perselisihan
di antara beberapa pihak sesama Muslim,
dan di samping itu merupakan landasan
sehat, yang berdasarkan itu suatu Liga
Bangsa-bangsa (Perserikatan Bangsa-bangsa) yang sungguh-sungguh ampuh dapat didirikan. Ayat ini menetapkan suatu asas yang sehat, untuk memelihara
perdamaian dunia internasional.
Pertanyaannya adalah: Mengapa dalam
kenyataannya, baik Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan
bangsa-bangsa) mau pun Liga
Arab (Arab League) -- yang
merupakan negara-negara Islam -- kedua Lembaga
Internasional tersebut tidak berhasil menciptakan perdamaian di lingkungan sesama negara-negara anggotanya?
Jawabannya
yang pasti
benar adalah bahwa kegagalan tersebut terjadi karena:
(1) Lembaga-lembaga tersebut tidak melaksanakan petunjuk Allah Swt. yang
dikemukakan dalam Surah Al-Hujurāt
ayat 10 sebelum ini, firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی
فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی
تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang maka damaikanlah antara keduanya, فَاِنۡۢ
بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی
اَمۡرِ اللّٰہِ -- lalu jika
salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak
yang menyerang hingga ia
kembali kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia
kembali, damaikanlah antara keduanya
dengan adil dan berbuat adillah,
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berbuat
adil. (Al-Hujurāt [49]:10).
(2) penyebab
kegagalan lainnya Lembaga-lembaga
tersebut
adalah adanya pemberian hak veto
kepada negara-negara tertentu --
baik negara-negara yang sefaham dalam politik
mau pun terhadap negara-negara yang berbeda faham, yakni Amerika
Serikat; Inggris; Perancis; Rusia dan China
-- sehingga mengakibatkan Liga
Bangsa-bangsa (Perserikatan
Bangsa-bangsa) dalam “Sidang
Umum” yang dilakukan tidak pernah
menghasilkan “suara bulat” untuk melaksanakan berbagai kebijakannya dalam rangka menghentikan
persengketaan Internasional yang
terjadi di antara negara-negara anggotanya,
karena selalu mengalami penentangan dari salah
satu atau beberapa negara yang memiliki hak
veto , guna kepentingan mereka sendiri dan
sekutunya.
(3) penyebab kegagalan lainnya Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan
Bangsa-bangsa) maupun Liga Arab (Arab
League) dalam melaksanakan karena pada hakikatnya di kalangan mereka terdapat kemunafikan, sebagaimana firman Allah
Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.
mengenai kegagalan “perserikatan” yang dibentuk oleh kabilah-kabilah
Yahudi dan orang-orang munafik Madinah dengan orang-orang musyrik Quraisy Mekkah dalam upaya melakukan serangan bersama terhadap Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam di Madinah, firman-Nya:
لَا یُقَاتِلُوۡنَکُمۡ جَمِیۡعًا اِلَّا فِیۡ
قُرًی مُّحَصَّنَۃٍ اَوۡ مِنۡ وَّرَآءِ
جُدُرٍ ؕ بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ
شَدِیۡدٌ ؕ تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ شَتّٰی ؕ ذٰلِکَ
بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ ﴿ۚ﴾
Mereka tidak akan memerangi kamu bersama-sama kecuali dalam kota-kota berbenteng atau dari belakang tembok-tembok. بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ
شَدِیۡدٌ -- Peperangan mereka di
antara mereka sendiri pun sengit. تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ
شَتّٰی
-- Engkau
menyangka mereka bersatu-padu padahal
hati mereka terpecah-belah, ذٰلِکَ بِاَنَّہُمۡ قَوۡمٌ لَّا یَعۡقِلُوۡنَ -- yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak meng-gunakan akal. (Al-Hasyr [59]:15).
Penyebab Kegagalan
Liga Arab Meredam “Kobaran Api” Mengerikan di Timur Tengah
Ayat ini berarti
bahwa orang-orang kafir, terutama orang-orang Yahudi dan orang-orang munafik Medinah, mereka
tampak seakan-akan bersatu dalam satu
front melawan Islam, tetapi mereka tidak
mempunyai tujuan bersama untuk diperjuangkan
serta kepentingan mereka bermacam-macam
dan berlain-lainan, oleh karena itu tidaklah mungkin terdapat kesatuan di antara mereka.
Pada saat itu di wilayah Arabia terdapat tiga golongan yang nampaknya bersatu-padu melawan negara Islam yaitu (1) orang-orang
Yahudi, (2) orang-orang munafik Medinah, dan (3) orang-orang musyrik Quraisy asal Mekkah. Kaum Quraisy melihat (berpendapat) bahwa di dalam kebangkitan kekuatan dan kekuasaan
Islam ada bahaya besar terhadap keunggulan mereka dalam segala bidang,
sedangkan orang-orang munafik yang dipimpin oleh ‘Abdullah bin Ubay melihat bahaya
terhadap pengaruhnya di Madinah, dan orang-orang Yahudi melihat ancaman terhadap organisasi dan supremasi
rasial mereka. Karena mereka tidak
mempunyai tujuan yang sama maka persatuan
semu itu tidak mempunyai dasar
yang nyata dan tidak pemah terwujud pada saat-saat berbahaya, firman-Nya: بَاۡسُہُمۡ بَیۡنَہُمۡ
شَدِیۡدٌ – “Peperangan
mereka di antara mereka sendiri pun sengit. تَحۡسَبُہُمۡ جَمِیۡعًا وَّ قُلُوۡبُہُمۡ
شَتّٰی -- Engkau menyangka mereka bersatu-padu padahal hati mereka terpecah-belah.”
Demikian juga yang
terjadi pada Liga Arab (Arab League), sehingga akibatnya
jauh lebih parah daripada kegagalan yang terjadi pada Liga Bangsa-bangsa (Perserikatan bangsa-bangsa). Para anggota Liga
Arab -- yang
merupakan pemeluk agama Islam (Al-Quran)
-- tetapi mereka tidak
melaksanakan petunjuk Allah Swt.
dalam menyelesaikan berbagai konflik keagamaan mau
pun konfik politik dan ekonomi yang terjadi
di kalangan mereka, firman-Nya:
وَ اِنۡ طَآئِفَتٰنِ مِنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اقۡتَتَلُوۡا فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا ۚ فَاِنۡۢ بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی
فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی
تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی اَمۡرِ اللّٰہِ ۚ فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا ؕ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾
Dan jika dua golongan dari orang-orang beriman berperang maka damaikanlah antara keduanya, فَاِنۡۢ
بَغَتۡ اِحۡدٰىہُمَا عَلَی الۡاُخۡرٰی فَقَاتِلُوا الَّتِیۡ تَبۡغِیۡ حَتّٰی تَفِیۡٓءَ اِلٰۤی
اَمۡرِ اللّٰہِ -- lalu jika
salah satu dari kedua mereka menyerang yang lain maka perangilah bersama-sama pihak
yang menyerang hingga ia kembali kepada perintah Allah, فَاِنۡ فَآءَتۡ فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَہُمَا بِالۡعَدۡلِ وَ
اَقۡسِطُوۡا -- kemudian jika ia
kembali, damaikanlah antara keduanya
dengan adil dan berbuat adillah,
اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berbuat
adil. (Al-Hujurāt [49]:10).
Dalam
ayat selanjutnya Allah Swt.
secara khusus menekankan pada
pentingnya ukhuwah islamiyah - persaudaraan
dalam Islam., firman-Nya:
اِنَّمَا الۡمُؤۡمِنُوۡنَ اِخۡوَۃٌ
فَاَصۡلِحُوۡا بَیۡنَ اَخَوَیۡکُمۡ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿٪﴾
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara,
maka damaikanlah di antara kedua saudara kamu, وَ اتَّقُوا اللّٰہَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ -- dan bertakwalah
kepada Allah supaya kamu dikasihani”
(Al-Hujurāt
[11).
Mengenyampingkan “Persaudaraan
Muslim” Demi Keuntungan Duniawi
Dalam ayat sebelumnya
dijelaskan bahwa sekiranya timbul pertengkaran
atau perselisihan
di antara dua orang atau dua golongan Muslim, maka orang-orang Islam lainnya dianjurkan
segera mengambil langkah supaya
mendatangkan ishlah atau perdamaian
di antara mereka. Sebab kekuatan hakiki agama Islam terletak
pada persaudaraan ideal, yang
mengatasi segala hambatan kelas, warna kulit atau iklim.
Petunjuk Allah Swt.
lainnya dalam Al-Quran
yang tidak
dilaksanakan oleh para anggota Liga Arab adalah firman-Nya berikut ini -- karena kepentingan politik dan urusan
duniawi lainnya melebihi kepentingan urusan
agama dan Ukhuwwah Islamiyyah (Persaudaraan Islam) -- Dia berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا
تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ
بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾ فَتَرَی
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ
نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Hai orang-orang yang beriman! لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی
اَوۡلِیَآءَ ۘؔ -- Janganlah
kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang
Nasrani menjadi penolong, بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ -- sebagian
mereka adalah penolong sebagian
lainnya. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ -- Dan barangsiapa
di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. اِنَّ اللّٰہَ
لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ
یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ -- Maka
engkau akan melihat orang-orang yang di
dalam hatinya ada penyakit bergegas
kepada mereka yang kafir یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا
دَآئِرَۃٌ -- seraya berkata: “Kami
takut bencana menimpa kami.”
فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ -- Boleh
jadi Allah akan mendatangkan kemenangan
اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- atau suatu peristiwa lain
dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ -- maka
mereka akan merasa menyesal atas
apa yang telah mereka sembunyikan di dalamnya. (Al-Māidah
[5]:51-52).
Ayat 51
tidak boleh diartikan seolah-olah ajaran
Islam (Al-Quran) melarang atau mencegah perlakuan adil dan baik terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum kufar
lainnya (QS.60: 9). Ayat ini hanya mengisyaratkan
kepada orang-orang Yahudi atau Kristen yang telah berperang dengan kaum
Muslimin dan senantiasa mengadakan permufakatan-permufakatan
jahat terhadap Islam.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 5
Januari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar