Senin, 02 Januari 2017

Keadaan Mengerikan Ketika Allah Swt. "Tidak Peduli" Lagi Terhadap "Akibat-akibat Buruk" yang Ditimbulkan "Azab Ilahi" Tanda Kemurkaan-Nya & Makna "Hari yang Dijanjikan" Serta "Saksi" dan "Yang Diberi Kesaksian"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  92

KEADAAN MENGERIKAN KETIKA ALLAH SWT.   “TIDAK PEDULI”  LAGI TERHADAP AKIBAT-AKIBAT  BURUK  YANG  DITIMBULKAN  AZAB ILAHI  TANDA KEMURKAAN-NYA & MAKNA “HARI YANG DIJANJIKAN” SERTA “SAKSIi” DAN  “YANG DIBERI KESAKSIAN

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   bagian akhir  Bab 91  dibahas  topik    Peringatan Allah Swt. Kepada Orang-orang Beriman  & Kehinaan Dari Allah Swt. Bagi Para Pembuat dan Penyebar Fitnah.    Lebih lanjut Allah Swt. memperingatkan orang-orang Islam jika mereka mempercayai begitu saja  fitnah dan “hoax”   (berita dusta) melalui sarana (media) apa pun, firman-Nya:
اِذۡ تَلَقَّوۡنَہٗ  بِاَلۡسِنَتِکُمۡ وَ تَقُوۡلُوۡنَ بِاَفۡوَاہِکُمۡ  مَّا  لَیۡسَ لَکُمۡ  بِہٖ عِلۡمٌ وَّ تَحۡسَبُوۡنَہٗ ہَیِّنًا ٭ۖ وَّ ہُوَ عِنۡدَ اللّٰہِ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَوۡ لَاۤ  اِذۡ سَمِعۡتُمُوۡہُ  قُلۡتُمۡ مَّا یَکُوۡنُ لَنَاۤ  اَنۡ  نَّتَکَلَّمَ  بِہٰذَا ٭ۖ سُبۡحٰنَکَ ہٰذَا بُہۡتَانٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ یَعِظُکُمُ اللّٰہُ اَنۡ تَعُوۡدُوۡا لِمِثۡلِہٖۤ  اَبَدًا اِنۡ  کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ  لَکُمُ الۡاٰیٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Ketika kamu menerima berita bohong itu dengan lidah kamu satu sama lain dan kamu mengatakan dengan mulut kamu hal yang kamu tidak memiliki pengetahuan mengenai itu, وَّ تَحۡسَبُوۡنَہٗ ہَیِّنًا ٭ۖ وَّ ہُوَ عِنۡدَ اللّٰہِ عَظِیۡمٌ --  dan kamu menyangkanya kecil  padahal   itu di sisi Allah adalah besar. وَ لَوۡ لَاۤ  اِذۡ سَمِعۡتُمُوۡہُ  قُلۡتُمۡ مَّا یَکُوۡنُ لَنَاۤ  اَنۡ  نَّتَکَلَّمَ  بِہٰذَا  --   Dan mengapa ketika kamu mendengarnya tidak kamu katakan: “Tidak layak bagi kami berbicara mengenai ini, سُبۡحٰنَکَ ہٰذَا بُہۡتَانٌ عَظِیۡمٌ -- Maha Suci Engkau, ini adalah tuduhan  dusta yang sangat besar.” یَعِظُکُمُ اللّٰہُ اَنۡ تَعُوۡدُوۡا لِمِثۡلِہٖۤ  اَبَدًا اِنۡ  کُنۡتُمۡ  مُّؤۡمِنِیۡنَ -- Allah menasihati kamu supaya kamu jangan mengulangi lagi hal yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang  beriman. وَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ  لَکُمُ الۡاٰیٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ   --  Dan Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (An-Nūr [24): 16-19).
         Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kehinaan yang pasti akan menimpa para pembuat dan  penyebar fitnah  keji tersebut, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحِبُّوۡنَ اَنۡ تَشِیۡعَ الۡفَاحِشَۃُ فِی الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ۙ فِی الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ  یَعۡلَمُ  وَ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ لَا فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  وَ  رَحۡمَتُہٗ  وَ  اَنَّ  اللّٰہَ  رَءُوۡفٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menyukai supaya perbuatan keji  tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka itu azab yang pedih di dunia dan di akhirat,  dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui. وَ لَوۡ لَا فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ  وَ  رَحۡمَتُہٗ  وَ  اَنَّ  اللّٰہَ  رَءُوۡفٌ  رَّحِیۡمٌ  --  Dan seandainya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atas kamu niscaya kamu diazab, dan bahwa sesungguhnya Allah  Maha Penyan-tun, Maha Penyayang. (An-Nūr [24): 20-21).
       Jadi, betapa agama Islam menganggap penyebaran dan penyiaran tuduhan-tuduhan palsu   -- termasuk penyebaran “hoax”  (berita bohong)  -- itu sama beratnya seperti perbuatan dosa melanggar susila itu sendiri. Islam mengutuk dan menetapkan hukumannya bagi kedua perbuatan dosa itu, bahkan terhadap menyiar-nyiarkan fitnah Islam (Al-Quran) telah menetapkan hukuman yang lebih keras daripada terhadap petualangan susila itu sendiri (zina),  sebab perbuatan menyiar-nyiarkan tuduhan palsu (fitnah) itu dipandang dapat mendatangkan akibat yang lebih parah dalam hal meluasnya pengaruh kejahatan seks dalam masyarakat.  

Telinga, Mata, dan Hati Akan Diminta Pertanggungjawaban oleh Allah Swt.

        Apabila penyebaran tuduhan-tuduhan palsu  -- fitnah dan “hoax” (berita dusta) – tentang “zina” dan semacamnya dibiarkan merajalela dalam suatu masyarakat maka lambat-laun masyarakat itu akan kehilangan segala perasaan takut dan jijik terhadap perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kesucian, dan berakibat kebobrokan akhlak akan merajalela dan perasaan putus-asa mengenai masa depannya akan mulai mencekam suatu masyarakat, dan dengan demikian akan menggoncangkan seluruh sendi akhlak masyarakat itu.
    Allah Swt. dalam surah Al-Quran lainnya memperingatkan orang-orang yang mengaku beriman  mengenai pertanggungjawaban  yang akan diminta Allah Swt. terhadap apa pun yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan manusia sehubungan berbagai informasi yang diterimanya  -- terutama berita-berita fitnah atau “hoax  (berita dusta)   -- firman-Nya:
وَ لَا تَقۡفُ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ وَ الۡفُؤَادَ  کُلُّ  اُولٰٓئِکَ کَانَ  عَنۡہُ  مَسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Dan janganlah engkau mengikuti apa yang  mengenainya    engkau tidak memiliki  pengetahuan,  sesungguhnya telinga, mata dan hati,  semuanya  akan ditanya mengenai (Bani Israil [17]:37). Lihat pula   QS.24:25;  QS.36:66; QS. 41:21-23.
         Ayat ini mengikis habis sampai ke akar-akarnya semua sumber kecurigaan, yang menurut urutan alami adalah “telinga”, “mata”, dan “hati”. Telinga merupakan saluran pertama yang melaluinya sebagian besar kecurigaan masuk ke dalam pikiran orang. Sebagian besar kecurigaan adalah disebabkan oleh laporan-laporan (informasi-informasi) tidak berdasar yang didengar oleh seseorang mengenai orang lain.
        Sumber kedua ialah penglihatan (mata). Seseorang melihat orang lain berbuat sesuatu   lalu   memberinya penafsiran yang salah, dan terbawa pikirannya untuk mencurigai maksud-maksud dan niat-niat orang yang melakukan perbuatan itu. Kecurigaan terakhir dan yang paling rendah (nista) ialah yang seseorang menaruh curiga terhadap orang lain, bukan sebagai akibat suatu laporan buruk yang mungkin telah ia dengar, dan bukan pula diakibatkan oleh suatu perbuatan buruk, yang boleh jadi ia sendiri lihat orang itu melakukannya, melainkan oleh karena didorong khayalannya sendiri yang tidak sehat.
      Jadi bukan hanya jiwa dan harta kekayaan manusia saja yang dinyatakan suci dan tidak boleh dilanggar (seperti telah disinggung dalam ayat yang mendahuluinya – QS.17:24-36), tetapi kehormatan manusia mempunyai nilai kudus, dan serangan terhadap kehormatan manusia pun harus pula dipertanggung-jawabkan kelak di hadapan Allah Swt..

Ketika Allah Swt. Bersikap “Tidak Peduli” Lagi

       Penyebar fitnah atau “hoax” (berita bohong)  yang paling berbahaya dari seluruh jenis fitnah atau hoax adalah fitnah keagamaan  berkenaan penggenapan nubuatan kedatangan Rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37)  -- termasuk di Akhir Zaman ini  --  (QS.62:3-4), sebab akan mengakibatkan  turunnya azab Ilahi yang menelan korban ratusan ribu bahkan juta korban jiwa manusia (QS.5:33), dan Allah Swt. bersikap tidak peduli  terhadap akibat-akibat buruk yang menimpa mereka.
       Mengenai kenyataan tersebut  Allah Swt. berfirman dalam surah Asy-Syams  berkenaan azab Ilahi yang menimpa kaum Nabi Shalih a.s. serta sikap tidak peduli-Nya terhadap akibat-akibat buruk  yang ditimbulkan-Nya: فَکَذَّبُوۡہُ  فَعَقَرُوۡہَا ۪۬ۙ فَدَمۡدَمَ عَلَیۡہِمۡ  رَبُّہُمۡ بِذَنۡۢبِہِمۡ  فَسَوّٰىہَا --  Lalu mereka mendustakannya dan memotong urat keting unta betina itu, maka Rabb (Tuhan) mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, kemudian Dia menjadikannya sama rataوَ لَا یَخَافُ عُقۡبٰہَا --          dan Dia tidak takut akan akibatnya” (Asy-Syams [91]: 15-16).  
       Setelah dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Swt.   bersumpah dengan tatanan alam semesta   -- sebagai saksi mengenai kesempurnaan  manusia  yang merupakan  “micro cosmos”  (miniatur alam semesta ayat 1-7)   -- selanjutnya  Dia berfirman:
وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾  وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾  کَذَّبَتۡ ثَمُوۡدُ  بِطَغۡوٰىہَاۤ  ﴿۪ۙ﴾ اِذِ  انۡۢبَعَثَ  اَشۡقٰہَا ﴿۪ۙ﴾  فَقَالَ لَہُمۡ  رَسُوۡلُ اللّٰہِ نَاقَۃَ اللّٰہِ وَ سُقۡیٰہَا ﴿ؕ﴾  فَکَذَّبُوۡہُ  فَعَقَرُوۡہَا ۪۬ۙ فَدَمۡدَمَ عَلَیۡہِمۡ  رَبُّہُمۡ بِذَنۡۢبِہِمۡ  فَسَوّٰىہَا ﴿۪ۙ﴾  وَ لَا یَخَافُ عُقۡبٰہَا ﴿٪﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya,  maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya dan ketakwaannya. قَدۡ  اَفۡلَحَ  مَنۡ  زَکّٰىہَا --   Sungguh  beruntunglah orang yang mensucikannya, وَ  قَدۡ خَابَ مَنۡ  دَسّٰىہَا  --  dan sungguh binasalah orang yang mengotorinya.   کَذَّبَتۡ ثَمُوۡدُ  بِطَغۡوٰىہَاۤ --   Kaum Tsamud mendustakan disebabkan kedurhakaannya, اِذِ  انۡۢبَعَثَ  اَشۡقٰہَا --  ketika bangkit orang yang paling buruk nasibnya di antara mereka, فَقَالَ لَہُمۡ  رَسُوۡلُ اللّٰہِ نَاقَۃَ اللّٰہِ وَ سُقۡیٰہَا --  Maka berkata kepada mereka rasul Allah: “Biarkanlah unta betina Allah,  dan jangan merintangi minumnya.” فَکَذَّبُوۡہُ  فَعَقَرُوۡہَا ۪۬ۙ فَدَمۡدَمَ عَلَیۡہِمۡ  رَبُّہُمۡ بِذَنۡۢبِہِمۡ  فَسَوّٰىہَا --  Lalu mereka mendustakannya dan memotong urat keting unta betina itu, maka Rabb (Tuhan) mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, kemudian Dia menjadikannya sama rataوَ لَا یَخَافُ عُقۡبٰہَا --      dan Dia tidak takut akan akibatnya.  (Asy-Syams [91]:8-16).
       Makna ayat:  وَ لَا یَخَافُ عُقۡبٰہَا -- “dan Dia tidak takut akan akibatnya” yaitu  apabila suatu kaum yang durhaka kepada Allah Swt. dan kepada  rasul-Nya ditimpa kemurkaan Allah dan jadi binasa,  Allah Swt.  tidak mempedulikan yang selamat dari kebinasaan; atau maknanya ialah  Allah Swt. tidak mempedulikan nasib buruk apa yang akan menimpa mereka selanjutnya.  Manusia akan memanjatkan doa-doa kepada-Nya dengan berbagai harapan, tetapi tanggapan dari Allah Swt. adalah sebaliknya.

Fitnah Atas Nama Agama yang  Mengobarkan “Api  Kezaliman” Atas Nama Agama  yang Senantiasa Berulang

       Berikut firman Allah   mengenai kezaliman  terhadap orang-orang yang beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  Allah Swt. kepada mereka (QS.7:35-37), akibat  fitnah-fitnah   yang dilontarkan  para penentang rasul Allah, yang  menyulut “kobaran api penentangan” yang sangat zalim dari masyarakat yang terprovokasi fitnah-fitnah tersebut,   firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ  ؕ﴿﴾ وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿﴾ اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾  اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾ وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾ ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾     وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾ بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  --  Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang,  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ  --   Binasalah para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ --   yaitu Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ --  Ketika mereka duduk  di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ    --   dan mereka menjadi saksi atas apa yang dilakukan mereka terhadap orang-orang berimanوَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ  اِلَّاۤ  اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ  الۡحَمِیۡدِ ۙ --   Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah  Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,  الَّذِیۡ لَہٗ  مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ  عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ   --   Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. اِنَّ  الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ  لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ  --  Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang beriman  laki-laki dan  perempuan  kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi me-reka azab yang membakar.  اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ -- Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, yang demikian itu merupakan keberhasilan besar. اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- Sesungguhnya  cengkraman Rabb (Tuhan) engkau sangat keras. اِنَّہٗ  ہُوَ  یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ  --  Sesungguhnya  Dia-lah  Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ --  Dan Dia Maha Pengampun, Maha Pencinta.  ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ --   Yang melakukan apa yang Dia kehendaki. ہَلۡ  اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ --  Apakah telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ --  Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ --  Bahkan orang-orang  kafir se-lalu mendustakan, وَ اللّٰہُ  مِنۡ  وَّرَآئِہِمۡ  مُّحِیۡطٌ --  padahal Allah mengepung mereka  dari belakang mereka. بَلۡ ہُوَ  قُرۡاٰنٌ  مَّجِیۡدٌ --   Bahkan yang didustakan ia adalah Al-Quran yang sangat muliaفِیۡ  لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang tersimpan  dalam  papan yang terjaga.  (Al-Burūj [85]:1-23).

Makna Ruhani  “Al-Burūj” (Gugusan Bintang-bintang)  dan “Hari yang Dijanjikan

   “Burūj” atau “gugusan bintang-bintang” dalam ayat:  وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  -- “Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang“  dapat menampilkan 12  belas mujaddid, masing-masing dibangkitkan pada permulaan tiap abad Hijrah, sedang makna  “hari yang dijanjikan” dalam ayat: وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ  -- “Dan demi Hari yang dijanjikan”  itu menampilkan abad ke-14 Hijrah, masa diutusnya Masih Mau’ud a.s. atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni “burung” Nabi Ibrahim a.s. keempat (QS.2:261).
    Surah Al-Burūj   nampaknya mengisyaratkan kepada penindasan kejam yang akan dialami para pengikut  Masih Mau’ud a.s. atau misal Isa Ibnu Maryam a.s.   yakni    saksi (syāhid) yang mengikuti kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.11:18; QS.85:4), sebagaimana Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. kedua  merupakan saksi  atas Nabi Musa a.s.  “burung” Nabi Ibrahim a.s. yang pertama (QS.2:261).
     Dan dengan tepat surah Al-Burūj berakhir dengan keterangan bahwa karena dalam masa Masih Mau’ud a.s.  keadaan  kehormatan Al-Quran sebagai firman Ilahi  yang diwahyukan akan diserang dari semua jurusan dan dengan berbagai cara    --  terutama oleh para pengarang Kristen yang di Akhir Zaman ini menduduki berbagai puncak keberhasilan duniawi (QS.18:1-8;QS.21:97-101)   -- maka Masih Mau’ud a.s. telah  membaktikan seluruh tenaga dan seluruh kekuatan besar ruhani  dan makrifat Ilahi  -- serta rahasia-rahasia baru khazanah ruhani Al-Quran  yang dikaruniakan Allah Swt. kepada beliau di Akhir Zaman ini (QS.72:27-29)  -- untuk menangkis serangan-serangan mereka melalui berbagai literature.
   Masih Mau’ud a.s. melalui karya-karya tulis beliau yang penuh berkat membuktikan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran benar-benar bersih dari segala kelemahan serta tidak dapat dibatalkan  karena mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt. Sendiri (QS.15:10; QS.4:83; QS.41:43), sehingga nubuatan mengenai kejayaan Islam yang kedua kali  di Akhir Zaman ini akan terwujud (QS.61:10)  tanpa melalui paksaan mau pun kekerasan fisik (QS.2:257; QS.9:6; QS.10:100; QS.11:119; QS.18:30; QS.76:4-7), firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:19).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
   Jadi, nubuatan dalam ayat: وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  -- “Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang“ mengisyaratkan kepada kemunculan para mujaddid (pembaharu ruhani)  Islam atau 12  gugusan bintang di cakrawala ruhani Islam, yang akan membuat cahaya Islam berkilauan terus sesudah matahari ruhani  Islam terbenam  --  sesudah mengalami  3 abad Islam paling baik  (QS.32:6)  -- sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh dunia (QS.30:42).    Para mujaddid Islam tersebut – terutama Masih Mau’ud a.s.     -- akan memberikan kesaksian mengenai kebesaran Islam, kebenaran Al-Quran dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw.
 Dengan demikian makna  “Hari yang dijanjikan” dalam ayat:  وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  --  Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang,  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang disaksikan (QS.85:2-4), dapat berarti hari (zaman) ketika   Masih Mau’ud a.s.  akan dibangkitkan untuk mendatangkan kebangkitan   Islam lagi.
   Pada hakikatnya banyak “hari-hari” semacam itu dalam sejarah Islam yang dapat disebut “Hari yang dijanjikan”, seperti hari terjadinya Pertempuran Badar, hari ketika Pertempuran Khandak yang berkesudahan dengan kejayaan besar Nabi Besar Muhammad saw. dan para pengikut beliau saw.,  dan hari jatuhnya Mekkah (Fatah Mekkah).
    Tetapi “Hari yang dijanjikan” paLing  paripurna itu ialah masa kebangkitan kedua-kalinya  secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini    dalam pribadi wakil (saksi) beliau saw. pada abad ke-14 Hijrah ketika agama Islam   akan memperoleh kehidupan baru dan akan menang atas semua agama lainnya.
   Makna lain “hari yang dijanjikan” itu dapat pula berarti  hari ketika orang-orang bertakwa akan merasakan kelezatan nikmat pertemuan dengan Rabb (Tuhan) mereka, sekali pun mereka senantiasa mengalami berbagai kezaliman  atas nama agama akibat lontaran berbagai   fitnah-fitnah atas nama  agama  serta berbagai bentuk “hoax”(berita dusta), sebagai bukti terulangnya kembali kebenaran firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
وَ اَلَّفَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ  اَلَّفۡتَ بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ  عَزِیۡزٌ  حَکِیۡمٌ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ حَسۡبُکَ اللّٰہُ وَ مَنِ اتَّبَعَکَ  مِنَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan  Dia telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka  seandainya engkau membelanjakan yang ada di bumi ini seluruhnya, engkau  sekali-kali tidak akan dapat menanam-kan kecintaan di antara hati mereka,   tetapi Allah  telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana.     Hai Nabi Allah mencukupi bagi engkau dan bagi  orang-orang yang mengikuti engkau di antara orang-orang beriman. (Al-Anfāl [8]:64-65).

Makna “Saksi” dan “Yang Diberi Kesaksian

 Selanjutnya Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Burūj ayat 4 sebelum ini:  وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ – “dan demi saksi dan yang disaksikan.”   Tiap nabi (rasul) Allah atau mushlih rabbani (pembaharu ruhani) adalah syāhid, yaitu yang  memberi kesaksian, disebabkan beliau merupakan seorang saksi hidup akan adanya Allah Swt. berdasarkan pengalamannya sendiri,  dan beliau itu pun masyhud (yang diberi kesaksian) sebab Allah Swt.  memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaannya  dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat di tangannya.
  Tetapi di sini, seperti nampak dari teks, syahid adalah  Masih Mau’ud a.s. dan masyhūd adalah  Nabi Besar Muhammad saw. – masing-masing  merupakan “burung” Nabi Ibrahim a.s.  ketiga dan keempat (QS.2:261)   -- sesuai dengan firman-Nya dalam QS.11:18 berikut ini:
اَفَمَنۡ کَانَ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ  کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ  رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka  apakah orang yang berdiri atas dalil yang nyata dari Rabb-nya ( Tuhan-nya)  وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ -- dan  ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya, وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ  کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ  رَحۡمَۃً  -- dan yang sebelumnya telah didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat dikatakan seorang penipu?  اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ   -- Mereka itu beriman kepadanya, وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ  -- dan barangsiapa dari golongan  itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan baginya. فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ  مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ  --  Ka-rena itu  janganlah engkau ragu-ragu mengenainya, sesungguhnya itu ada-lah haq dari  Rabb (Tuhan) engkau  وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ  النَّاسِ لَا  یُؤۡمِنُوۡنَ --  tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).
       Tiga dalil telah dikemukakan dalam ayat ini untuk mendukung kebenaran   Nabi Besar Muhammad saw.  dengan kata-kata: (a) “Yang berdiri atas dalil yang nyata dari Tuhan-nya, (b) “Ia akan disusul pula oleh seorang saksi dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya”, dan (c) “Yang sebelumnya di dahului oleh Kitab Musa”.
      “Dalil yang nyata dari Tuhan-nya” ialah revolusi besar dalam akhlak dan ruhani yang telah diadakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw.    dalam kehidupan kaumnya yang sebelum itu bobrok dan mundur keadaannya (QS.62:3), dan saksi-saksi  yang membuktikan kebenarannya ialah imam-imam rabbani dari antara pengikut hakiki beliau saw.   -- yakni para mujaddid Islam  --  yang dengan ajaran dan perbuatannya akan menegakkan kebenaran Islam dan Al-Quran di tiap-tiap abad, dan saksi yang paling sempurna ialah  Masih Mau’ud a.s.,  pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah; dan makna kata-kata “yang sebelumnya didahului oleh Kitab Musa” menunjuk kepada nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Bible tentang   Nabi Besar Muhammad saw.   (Ulangan 18-15-19 & 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman  1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45;  Yahya 16:12-14). Lihat pula QS.7:144; QS.26:197-198; QS.46:11;QS.61:6-7 QS.73:197-198.
       Jadi, makna syuhada (saksi-saksi)  yang dimaksudkan adalah  nabi-nabi Allah.  Dengan demikian  makna syahid (saksi) dalam Surah Hūd ayat 11 ayat   dan dalam surah Al-Burūj ayat  4   mengandung arti bahwa Masih Mau’ud a.s.   – yang muncul dari kalangan umat Islam di Akhir Zaman  yang belum pernah bertemu dengan para sahabat r.a. di zaman Nabi Besar Muhammad saw. (QS.62:3-4)  --   akan memberi kesaksian akan kebenaran  Nabi Besar Muhammad saw.   dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh, dan tulisan-tulisan beliau dan disertai dengan Tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) yang akan ditampakkan Allah Swt. di tangan beliau.
        Masih  Mau’ud a.s. pun akan memberikan kesaksian pula dalam arti bahwa dalam wujud beliau nubuatan  Nabi Besar Muhammad saw.  sendiri   -- mengenai kedatangan Imam Mahdi  a.s. yang juga adalah   Masih Mau’ud a.s. atau misal (perumpamaan) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  --  telah memberi kesaksian akan kebenaran beliau.
       Dengan demikian  Nabi Besar Muhammad saw.  dan Masih Mau’ud a.s.  itu bersama-sama secara timbal-baik merupakan syāhid  (saksi)dan masyhūd (yang diberi kesaksian), sebagaimana firman-Nya:   بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ      -- Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. وَ السَّمَآءِ  ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ  --  Demi langit yang memiliki  gugusan-gugusan bintang,  وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang disaksikan.” (Al-Burūj [85]:1-4).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,   26 Desember  2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar