Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 92
KEADAAN MENGERIKAN KETIKA ALLAH SWT. “TIDAK PEDULI” LAGI TERHADAP AKIBAT-AKIBAT BURUK YANG DITIMBULKAN
AZAB
ILAHI TANDA KEMURKAAN-NYA & MAKNA “HARI
YANG DIJANJIKAN” SERTA “SAKSIi”
DAN “YANG
DIBERI KESAKSIAN”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 91 dibahas topik Peringatan Allah Swt. Kepada Orang-orang Beriman & Kehinaan
Dari Allah Swt. Bagi Para Pembuat dan
Penyebar Fitnah. Lebih lanjut Allah Swt. memperingatkan orang-orang Islam jika mereka mempercayai begitu saja fitnah dan “hoax” (berita dusta)
melalui sarana (media) apa pun,
firman-Nya:
اِذۡ تَلَقَّوۡنَہٗ بِاَلۡسِنَتِکُمۡ وَ تَقُوۡلُوۡنَ
بِاَفۡوَاہِکُمۡ مَّا لَیۡسَ لَکُمۡ
بِہٖ عِلۡمٌ وَّ تَحۡسَبُوۡنَہٗ ہَیِّنًا ٭ۖ وَّ ہُوَ عِنۡدَ اللّٰہِ
عَظِیۡمٌ ﴿﴾ وَ لَوۡ لَاۤ
اِذۡ سَمِعۡتُمُوۡہُ قُلۡتُمۡ مَّا
یَکُوۡنُ لَنَاۤ اَنۡ نَّتَکَلَّمَ
بِہٰذَا ٭ۖ سُبۡحٰنَکَ ہٰذَا بُہۡتَانٌ عَظِیۡمٌ ﴿﴾ یَعِظُکُمُ
اللّٰہُ اَنۡ تَعُوۡدُوۡا لِمِثۡلِہٖۤ
اَبَدًا اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ یُبَیِّنُ
اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Ketika kamu menerima berita bohong itu dengan lidah kamu satu sama lain dan kamu
mengatakan dengan mulut kamu hal yang kamu
tidak memiliki pengetahuan mengenai itu, وَّ تَحۡسَبُوۡنَہٗ ہَیِّنًا ٭ۖ وَّ ہُوَ عِنۡدَ اللّٰہِ عَظِیۡمٌ -- dan kamu menyangkanya kecil padahal
itu di sisi Allah adalah besar.
وَ لَوۡ لَاۤ اِذۡ سَمِعۡتُمُوۡہُ قُلۡتُمۡ مَّا یَکُوۡنُ لَنَاۤ اَنۡ
نَّتَکَلَّمَ بِہٰذَا -- Dan mengapa
ketika kamu mendengarnya tidak kamu katakan: “Tidak layak bagi kami berbicara mengenai ini, سُبۡحٰنَکَ ہٰذَا بُہۡتَانٌ عَظِیۡمٌ -- Maha Suci Engkau,
ini adalah tuduhan dusta yang sangat besar.” یَعِظُکُمُ
اللّٰہُ اَنۡ تَعُوۡدُوۡا لِمِثۡلِہٖۤ
اَبَدًا اِنۡ کُنۡتُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- Allah menasihati kamu supaya kamu jangan mengulangi lagi hal yang
seperti itu selama-lamanya, jika kamu
orang-orang beriman. وَ یُبَیِّنُ اللّٰہُ لَکُمُ الۡاٰیٰتِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ --
Dan Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya
kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. (An-Nūr [24): 16-19).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman
mengenai kehinaan yang pasti akan
menimpa para pembuat dan penyebar
fitnah keji tersebut, firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحِبُّوۡنَ اَنۡ
تَشِیۡعَ الۡفَاحِشَۃُ فِی الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ۙ فِی
الدُّنۡیَا وَ الۡاٰخِرَۃِ ؕ وَ اللّٰہُ
یَعۡلَمُ وَ اَنۡتُمۡ
لَا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ لَا
فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ وَ رَحۡمَتُہٗ
وَ اَنَّ اللّٰہَ
رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang menyukai supaya perbuatan keji tersiar di kalangan orang-orang yang beriman,
bagi mereka itu azab yang pedih di dunia
dan di akhirat, dan Allah mengetahui sedangkan kamu
tidak mengetahui. وَ لَوۡ لَا
فَضۡلُ اللّٰہِ عَلَیۡکُمۡ وَ رَحۡمَتُہٗ
وَ اَنَّ اللّٰہَ
رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ -- Dan seandainya
tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya
atas kamu niscaya kamu diazab,
dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Penyan-tun, Maha Penyayang. (An-Nūr [24): 20-21).
Jadi, betapa agama Islam
menganggap penyebaran dan penyiaran tuduhan-tuduhan palsu -- termasuk penyebaran “hoax” (berita bohong) -- itu sama beratnya seperti perbuatan dosa melanggar susila itu
sendiri. Islam mengutuk dan
menetapkan hukumannya bagi kedua perbuatan dosa itu, bahkan terhadap menyiar-nyiarkan fitnah Islam (Al-Quran)
telah menetapkan hukuman yang lebih keras daripada terhadap petualangan susila itu sendiri
(zina), sebab perbuatan menyiar-nyiarkan tuduhan palsu (fitnah) itu dipandang
dapat mendatangkan akibat yang lebih parah dalam hal meluasnya pengaruh kejahatan seks dalam masyarakat.
Telinga, Mata, dan Hati Akan Diminta Pertanggungjawaban oleh Allah Swt.
Apabila penyebaran tuduhan-tuduhan
palsu -- fitnah dan “hoax” (berita
dusta) – tentang “zina” dan
semacamnya dibiarkan merajalela dalam
suatu masyarakat maka lambat-laun masyarakat itu akan kehilangan segala perasaan takut dan jijik
terhadap perbuatan-perbuatan yang
berlawanan dengan kesucian, dan
berakibat kebobrokan akhlak akan
merajalela dan perasaan putus-asa
mengenai masa depannya akan mulai mencekam suatu masyarakat, dan dengan demikian akan menggoncangkan seluruh sendi
akhlak masyarakat itu.
Allah Swt. dalam surah Al-Quran lainnya memperingatkan orang-orang yang mengaku
beriman mengenai pertanggungjawaban yang akan diminta Allah Swt. terhadap apa pun
yang dipikirkan, diucapkan dan dilakukan
manusia sehubungan berbagai informasi
yang diterimanya -- terutama berita-berita fitnah atau “hoax (berita dusta) -- firman-Nya:
وَ لَا تَقۡفُ
مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ؕ اِنَّ السَّمۡعَ وَ الۡبَصَرَ وَ الۡفُؤَادَ کُلُّ
اُولٰٓئِکَ کَانَ عَنۡہُ مَسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang
mengenainya engkau tidak memiliki pengetahuan, sesungguhnya telinga, mata dan hati,
semuanya akan ditanya mengenai (Bani
Israil [17]:37). Lihat pula QS.24:25; QS.36:66; QS. 41:21-23.
Ayat
ini mengikis habis sampai ke akar-akarnya semua sumber kecurigaan, yang menurut urutan alami adalah “telinga”,
“mata”, dan “hati”. Telinga merupakan saluran pertama yang melaluinya sebagian besar kecurigaan masuk ke dalam pikiran
orang. Sebagian besar kecurigaan
adalah disebabkan oleh laporan-laporan
(informasi-informasi) tidak berdasar
yang didengar oleh seseorang mengenai
orang lain.
Sumber kedua ialah penglihatan (mata). Seseorang melihat
orang lain berbuat sesuatu lalu memberinya penafsiran yang salah, dan terbawa pikirannya untuk mencurigai
maksud-maksud dan niat-niat orang yang melakukan perbuatan itu. Kecurigaan terakhir dan yang paling
rendah (nista) ialah yang seseorang menaruh
curiga terhadap orang lain, bukan sebagai akibat suatu laporan buruk yang mungkin telah ia dengar, dan bukan pula diakibatkan oleh suatu perbuatan buruk, yang boleh jadi ia sendiri lihat orang itu melakukannya, melainkan oleh karena
didorong khayalannya sendiri yang tidak sehat.
Jadi bukan hanya jiwa dan harta kekayaan
manusia saja yang dinyatakan suci
dan tidak boleh dilanggar (seperti
telah disinggung dalam ayat yang mendahuluinya – QS.17:24-36), tetapi kehormatan manusia mempunyai nilai kudus, dan serangan terhadap kehormatan
manusia pun harus pula dipertanggung-jawabkan
kelak di hadapan Allah Swt..
Ketika Allah Swt. Bersikap “Tidak
Peduli” Lagi
Penyebar fitnah
atau “hoax” (berita bohong) yang paling berbahaya dari seluruh jenis fitnah
atau hoax adalah fitnah keagamaan berkenaan
penggenapan nubuatan kedatangan Rasul Allah yang dijanjikan (QS.7:35-37) --
termasuk di Akhir Zaman ini -- (QS.62:3-4),
sebab akan mengakibatkan turunnya azab
Ilahi yang menelan korban ratusan ribu bahkan juta korban jiwa manusia
(QS.5:33), dan Allah Swt. bersikap tidak
peduli terhadap akibat-akibat buruk yang menimpa mereka.
Mengenai kenyataan tersebut Allah
Swt. berfirman dalam surah Asy-Syams berkenaan azab
Ilahi yang menimpa kaum Nabi Shalih
a.s. serta sikap tidak peduli-Nya
terhadap akibat-akibat buruk yang ditimbulkan-Nya: فَکَذَّبُوۡہُ
فَعَقَرُوۡہَا ۪۬ۙ فَدَمۡدَمَ عَلَیۡہِمۡ
رَبُّہُمۡ بِذَنۡۢبِہِمۡ
فَسَوّٰىہَا --
Lalu mereka mendustakannya dan
memotong urat keting unta betina
itu, maka Rabb (Tuhan) mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, kemudian Dia menjadikannya sama rata, وَ لَا یَخَافُ عُقۡبٰہَا -- dan Dia tidak takut akan akibatnya”
(Asy-Syams
[91]: 15-16).
Setelah dalam ayat-ayat sebelumnya Allah Swt. bersumpah dengan tatanan alam semesta --
sebagai saksi mengenai kesempurnaan manusia yang merupakan “micro
cosmos” (miniatur alam semesta ayat
1-7) -- selanjutnya Dia berfirman:
وَ نَفۡسٍ وَّ مَا سَوّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ فَاَلۡہَمَہَا فُجُوۡرَہَا وَ تَقۡوٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ قَدۡ اَفۡلَحَ
مَنۡ زَکّٰىہَا ۪ۙ﴿﴾ وَ
قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا ﴿ؕ﴾ کَذَّبَتۡ ثَمُوۡدُ
بِطَغۡوٰىہَاۤ ﴿۪ۙ﴾ اِذِ
انۡۢبَعَثَ اَشۡقٰہَا ﴿۪ۙ﴾ فَقَالَ لَہُمۡ رَسُوۡلُ
اللّٰہِ نَاقَۃَ اللّٰہِ وَ سُقۡیٰہَا ﴿ؕ﴾ فَکَذَّبُوۡہُ فَعَقَرُوۡہَا ۪۬ۙ فَدَمۡدَمَ عَلَیۡہِمۡ رَبُّہُمۡ بِذَنۡۢبِہِمۡ فَسَوّٰىہَا ﴿۪ۙ﴾ وَ
لَا یَخَافُ عُقۡبٰہَا ﴿٪﴾
Dan demi jiwa dan penyempurnaannya,
maka Dia mengilhamkan kepadanya keburukan-keburukannya
dan ketakwaannya. قَدۡ اَفۡلَحَ مَنۡ
زَکّٰىہَا -- Sungguh
beruntunglah orang yang mensucikannya, وَ
قَدۡ خَابَ مَنۡ دَسّٰىہَا -- dan
sungguh binasalah orang yang mengotorinya. کَذَّبَتۡ ثَمُوۡدُ
بِطَغۡوٰىہَاۤ -- Kaum Tsamud mendustakan disebabkan kedurhakaannya, اِذِ
انۡۢبَعَثَ اَشۡقٰہَا -- ketika bangkit
orang yang paling buruk nasibnya di antara mereka, فَقَالَ لَہُمۡ رَسُوۡلُ اللّٰہِ نَاقَۃَ اللّٰہِ وَ سُقۡیٰہَا -- Maka berkata
kepada mereka rasul Allah:
“Biarkanlah unta betina Allah, dan jangan merintangi minumnya.” فَکَذَّبُوۡہُ
فَعَقَرُوۡہَا ۪۬ۙ فَدَمۡدَمَ عَلَیۡہِمۡ
رَبُّہُمۡ بِذَنۡۢبِہِمۡ
فَسَوّٰىہَا -- Lalu mereka mendustakannya dan memotong urat keting unta betina itu,
maka Rabb (Tuhan) mereka membinasakan mereka karena dosa mereka, kemudian Dia menjadikannya sama rata, وَ لَا یَخَافُ عُقۡبٰہَا -- dan Dia tidak takut
akan akibatnya. (Asy-Syams
[91]:8-16).
Makna ayat:
وَ لَا یَخَافُ
عُقۡبٰہَا -- “dan Dia tidak takut
akan akibatnya” yaitu apabila
suatu kaum yang durhaka kepada Allah Swt.
dan kepada rasul-Nya ditimpa kemurkaan
Allah dan jadi binasa, Allah Swt. tidak
mempedulikan yang selamat dari kebinasaan; atau maknanya ialah Allah Swt. tidak
mempedulikan nasib buruk apa yang akan menimpa
mereka selanjutnya. Manusia akan
memanjatkan doa-doa kepada-Nya dengan
berbagai harapan, tetapi tanggapan dari Allah Swt. adalah sebaliknya.
Fitnah Atas Nama Agama yang Mengobarkan “Api Kezaliman” Atas Nama Agama yang Senantiasa Berulang
Berikut firman Allah mengenai kezaliman
terhadap orang-orang yang beriman kepada rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah
Swt. kepada mereka (QS.7:35-37), akibat fitnah-fitnah yang dilontarkan
para penentang rasul Allah,
yang menyulut “kobaran api penentangan” yang sangat zalim dari masyarakat yang terprovokasi
fitnah-fitnah tersebut, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾ وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿﴾ وَ الۡیَوۡمِ
الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ
الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿﴾ اِذۡ ہُمۡ
عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ ؕ﴿﴾ وَ مَا
نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡ
لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ
وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ
ؕ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ
لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ
الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ
الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ﴾ اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ﴾ اِنَّہٗ ہُوَ
یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ﴾
وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ﴾ ذُو الۡعَرۡشِ
الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ﴾ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ﴾ ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ﴾ فِرۡعَوۡنَ وَ
ثَمُوۡدَ ﴿ؕ﴾ بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ﴾ وَ اللّٰہُ
مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ﴾ بَلۡ ہُوَ قُرۡاٰنٌ
مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ
لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿٪﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ
-- Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan
bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi
dan yang disaksikan. قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ
-- Binasalah
para pemilik parit, النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ -- yaitu
Api yang dinyalakan dengan bahan bakar. اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ -- Ketika mereka
duduk di sekitarnya, وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ
بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ -- dan mereka
menjadi saksi atas apa yang
dilakukan mereka terhadap orang-orang
beriman. وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ
اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡحَمِیۡدِ ۙ -- Dan mereka sekali-kali tidak menaruh dendam terhadap mereka itu melainkan hanya karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ -- Yang
kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi Saksi atas segala sesuatu. اِنَّ
الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ
وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ
-- Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa orang-orang
beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka
tidak bertaubat, maka bagi mereka
azab Jahannam dan bagi me-reka azab
yang membakar. اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ -- Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
yang demikian itu merupakan keberhasilan besar. اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ -- Sesungguhnya cengkraman
Rabb (Tuhan) engkau sangat keras.
اِنَّہٗ ہُوَ یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ
-- Sesungguhnya Dia-lah Yang memulai penciptaan dan mengulanginya. وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ -- Dan Dia
Maha Pengampun, Maha Pencinta. ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ -- Pemilik ‘Arasy, Yang Maha
Mulia, فَعَّالٌ لِّمَا
یُرِیۡدُ -- Yang melakukan apa yang Dia kehendaki. ہَلۡ
اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ -- Apakah
telah datang kepada engkau cerita lasykar-lasykar? فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ -- Yaitu lasykar Fir’aun dan Tsamud. بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ -- Bahkan orang-orang kafir se-lalu mendustakan, وَ اللّٰہُ
مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ -- padahal Allah
mengepung mereka dari belakang mereka.
بَلۡ ہُوَ قُرۡاٰنٌ
مَّجِیۡدٌ -- Bahkan yang didustakan ia
adalah Al-Quran yang sangat mulia, فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ -- Yang
tersimpan dalam
papan yang terjaga. (Al-Burūj [85]:1-23).
Makna Ruhani “Al-Burūj” (Gugusan Bintang-bintang) dan “Hari
yang Dijanjikan”
“Burūj” atau “gugusan bintang-bintang” dalam ayat: وَ السَّمَآءِ ذَاتِ
الۡبُرُوۡجِ -- “Demi
langit yang memiliki gugusan-gugusan
bintang“ dapat menampilkan 12 belas mujaddid, masing-masing dibangkitkan
pada permulaan tiap abad Hijrah,
sedang makna “hari
yang dijanjikan” dalam ayat: وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- “Dan demi Hari yang dijanjikan” itu menampilkan abad ke-14 Hijrah, masa diutusnya Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58), yakni “burung” Nabi Ibrahim a.s. keempat
(QS.2:261).
Surah Al-Burūj
nampaknya
mengisyaratkan kepada penindasan kejam
yang akan dialami para pengikut Masih Mau’ud a.s. atau misal Isa Ibnu Maryam a.s. yakni saksi (syāhid) yang mengikuti kedatangan Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.11:18; QS.85:4), sebagaimana Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sebagai “burung” Nabi Ibrahim a.s. kedua merupakan saksi
atas Nabi
Musa a.s. “burung” Nabi Ibrahim a.s.
yang pertama (QS.2:261).
Dan dengan tepat surah Al-Burūj berakhir dengan keterangan
bahwa karena dalam masa Masih Mau’ud a.s.
keadaan kehormatan Al-Quran sebagai firman Ilahi yang diwahyukan
akan diserang dari semua jurusan dan dengan berbagai cara -- terutama oleh para pengarang Kristen yang di Akhir
Zaman ini menduduki berbagai puncak
keberhasilan duniawi (QS.18:1-8;QS.21:97-101) -- maka Masih
Mau’ud a.s. telah membaktikan seluruh tenaga dan seluruh kekuatan
besar ruhani dan makrifat
Ilahi -- serta rahasia-rahasia baru khazanah ruhani Al-Quran yang dikaruniakan
Allah Swt. kepada beliau di Akhir Zaman
ini (QS.72:27-29) -- untuk menangkis serangan-serangan mereka melalui
berbagai literature.
Masih
Mau’ud a.s. melalui karya-karya tulis
beliau yang penuh berkat membuktikan
bahwa ajaran-ajaran Al-Quran benar-benar
bersih dari segala kelemahan serta tidak dapat dibatalkan karena mendapat jaminan pemeliharaan dari Allah Swt. Sendiri (QS.15:10; QS.4:83;
QS.41:43), sehingga nubuatan mengenai
kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir
Zaman ini akan terwujud
(QS.61:10) tanpa melalui paksaan mau pun kekerasan fisik (QS.2:257; QS.9:6; QS.10:100; QS.11:119; QS.18:30;
QS.76:4-7), firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:19).
Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat
ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan
(Masih Mau’ud a.s.) sebab di zaman beliau semua
agama muncul dan keunggulan Islam
di atas semua agama akan menjadi kepastian.
Jadi, nubuatan dalam ayat: وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ -- “Demi langit
yang memiliki gugusan-gugusan bintang“ mengisyaratkan
kepada kemunculan para mujaddid
(pembaharu ruhani) Islam atau 12 gugusan bintang di cakrawala ruhani Islam, yang akan membuat cahaya Islam berkilauan
terus sesudah matahari ruhani Islam terbenam -- sesudah mengalami 3 abad
Islam paling baik (QS.32:6) -- sehingga membawa akibat tersebarnya kegelapan ruhani di seluruh
dunia (QS.30:42). Para mujaddid Islam tersebut – terutama Masih Mau’ud a.s. -- akan memberikan kesaksian mengenai kebesaran
Islam, kebenaran Al-Quran dan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw.
Dengan demikian makna “Hari yang dijanjikan” dalam ayat: وَ السَّمَآءِ ذَاتِ
الۡبُرُوۡجِ
-- Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan
bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari
yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi dan yang disaksikan
(QS.85:2-4), dapat
berarti hari (zaman) ketika Masih Mau’ud a.s. akan dibangkitkan untuk mendatangkan kebangkitan Islam
lagi.
Pada hakikatnya banyak “hari-hari” semacam itu dalam sejarah
Islam yang dapat disebut “Hari yang
dijanjikan”, seperti hari terjadinya
Pertempuran Badar, hari ketika Pertempuran Khandak yang berkesudahan dengan kejayaan besar Nabi Besar Muhammad saw. dan para pengikut beliau
saw., dan hari jatuhnya Mekkah (Fatah Mekkah).
Tetapi “Hari
yang dijanjikan” paLing paripurna itu ialah masa kebangkitan kedua-kalinya secara ruhani Nabi Besar Muhammad saw. di Akhir Zaman ini dalam
pribadi wakil (saksi) beliau saw. pada
abad ke-14 Hijrah ketika agama Islam akan memperoleh kehidupan baru dan akan menang
atas semua agama lainnya.
Makna lain “hari yang dijanjikan” itu dapat pula
berarti hari ketika orang-orang bertakwa akan merasakan kelezatan nikmat pertemuan dengan Rabb (Tuhan) mereka, sekali pun mereka senantiasa mengalami
berbagai kezaliman atas nama agama
akibat lontaran berbagai fitnah-fitnah atas nama agama serta berbagai bentuk “hoax”(berita dusta), sebagai bukti terulangnya kembali kebenaran
firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. berikut ini:
وَ اَلَّفَ
بَیۡنَ قُلُوۡبِہِمۡ ؕ لَوۡ اَنۡفَقۡتَ مَا فِی الۡاَرۡضِ جَمِیۡعًا مَّاۤ اَلَّفۡتَ بَیۡنَ
قُلُوۡبِہِمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ اَلَّفَ بَیۡنَہُمۡ ؕ اِنَّہٗ عَزِیۡزٌ
حَکِیۡمٌ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ
حَسۡبُکَ اللّٰہُ وَ مَنِ اتَّبَعَکَ
مِنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan Dia
telah menanamkan kecintaan di antara hati mereka, seandainya
engkau membelanjakan yang ada di bumi
ini seluruhnya, engkau sekali-kali tidak akan dapat menanam-kan
kecintaan di antara hati mereka, tetapi Allah
telah menanamkan kecintaan di antara mereka, sesungguhnya Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana. Hai Nabi, Allah
mencukupi bagi engkau dan bagi orang-orang
yang mengikuti engkau di antara orang-orang
beriman. (Al-Anfāl [8]:64-65).
Makna “Saksi” dan “Yang Diberi
Kesaksian”
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman dalam Surah Al-Burūj ayat 4
sebelum ini: وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ – “dan demi saksi
dan yang disaksikan.” Tiap nabi
(rasul) Allah atau mushlih rabbani (pembaharu
ruhani) adalah syāhid, yaitu yang
memberi kesaksian, disebabkan
beliau merupakan seorang saksi hidup
akan adanya Allah Swt. berdasarkan pengalamannya sendiri, dan beliau itu pun masyhud (yang diberi
kesaksian) sebab Allah Swt. memberi kesaksian akan kebenaran pendakwaannya dengan memperlihatkan Tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat
di tangannya.
Tetapi di sini, seperti
nampak dari teks, syahid adalah Masih Mau’ud a.s. dan masyhūd
adalah Nabi Besar Muhammad saw. – masing-masing merupakan “burung”
Nabi Ibrahim a.s. ketiga dan keempat
(QS.2:261) -- sesuai dengan firman-Nya
dalam QS.11:18 berikut ini:
اَفَمَنۡ کَانَ عَلٰی بَیِّنَۃٍ مِّنۡ
رَّبِّہٖ وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ رَحۡمَۃً ؕ اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ ؕ وَ
مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ ۚ فَلَا تَکُ فِیۡ
مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ
رَّبِّکَ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ
لَا یُؤۡمِنُوۡنَ ﴿﴾
Maka apakah orang yang berdiri
atas dalil yang nyata dari Rabb-nya ( Tuhan-nya) وَ یَتۡلُوۡہُ شَاہِدٌ مِّنۡہُ -- dan ia
akan disusul pula oleh seorang saksi
dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya, وَ مِنۡ قَبۡلِہٖ کِتٰبُ مُوۡسٰۤی اِمَامًا وَّ رَحۡمَۃً -- dan yang
sebelumnya telah didahului oleh Kitab Musa sebagai penyuluh dan rahmat, dapat
dikatakan seorang penipu? اُولٰٓئِکَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ -- Mereka
itu beriman kepadanya, وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِہٖ مِنَ الۡاَحۡزَابِ فَالنَّارُ مَوۡعِدُہٗ -- dan barangsiapa dari golongan itu kafir kepadanya maka Api akan menjadi tempat yang dijanjikan baginya.
فَلَا تَکُ فِیۡ مِرۡیَۃٍ مِّنۡہُ ٭ اِنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ -- Ka-rena itu janganlah
engkau ragu-ragu mengenainya, sesungguhnya itu ada-lah haq dari Rabb (Tuhan)
engkau وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا
یُؤۡمِنُوۡنَ -- tetapi kebanyakan
manusia tidak beriman. (Hūd [11]:18).
Tiga
dalil telah dikemukakan dalam ayat ini untuk mendukung kebenaran Nabi Besar Muhammad saw. dengan kata-kata: (a) “Yang
berdiri atas dalil yang nyata dari Tuhan-nya, (b) “Ia akan disusul pula
oleh seorang saksi dari-Nya untuk membuktikan kebenarannya”, dan (c)
“Yang sebelumnya di dahului oleh Kitab Musa”.
“Dalil yang nyata dari Tuhan-nya” ialah revolusi besar dalam akhlak
dan ruhani yang telah diadakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam
kehidupan kaumnya yang sebelum itu bobrok dan mundur keadaannya (QS.62:3), dan saksi-saksi yang membuktikan kebenarannya ialah imam-imam rabbani dari antara pengikut hakiki beliau saw. --
yakni para mujaddid Islam -- yang
dengan ajaran dan perbuatannya akan menegakkan kebenaran Islam dan Al-Quran di tiap-tiap abad, dan saksi
yang paling sempurna ialah Masih
Mau’ud a.s., pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah; dan makna kata-kata “yang sebelumnya didahului oleh Kitab Musa” menunjuk kepada nubuatan-nubuatan yang terdapat dalam Bible tentang Nabi Besar Muhammad saw. (Ulangan 18-15-19 & 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45; Yahya 16:12-14). Lihat pula QS.7:144;
QS.26:197-198; QS.46:11;QS.61:6-7 QS.73:197-198.
Jadi,
makna syuhada (saksi-saksi) yang dimaksudkan adalah nabi-nabi
Allah. Dengan demikian makna syahid
(saksi) dalam Surah Hūd ayat 11 ayat dan
dalam surah Al-Burūj ayat 4 mengandung arti bahwa Masih Mau’ud a.s. – yang
muncul dari kalangan umat Islam di Akhir Zaman yang belum
pernah bertemu dengan para sahabat
r.a. di zaman Nabi Besar Muhammad
saw. (QS.62:3-4) -- akan
memberi kesaksian akan kebenaran Nabi Besar Muhammad saw. dengan uraian-uraian, tabligh-tabligh,
dan tulisan-tulisan beliau dan disertai dengan Tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) yang akan ditampakkan Allah Swt. di
tangan beliau.
Masih Mau’ud
a.s. pun akan memberikan kesaksian
pula dalam arti bahwa dalam wujud
beliau nubuatan Nabi Besar Muhammad saw. sendiri -- mengenai kedatangan Imam Mahdi a.s. yang juga
adalah Masih Mau’ud a.s. atau misal
(perumpamaan) Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) -- telah memberi kesaksian akan kebenaran
beliau.
Dengan demikian Nabi
Besar Muhammad saw. dan Masih Mau’ud a.s. itu bersama-sama secara timbal-baik merupakan
syāhid (saksi)dan masyhūd
(yang diberi kesaksian), sebagaimana firman-Nya: بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- Aku
baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ
-- Demi langit yang memiliki gugusan-gugusan
bintang, وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ -- Dan demi Hari yang dijanjikan, وَ شَاہِدٍ وَّ
مَشۡہُوۡدٍ -- dan demi saksi
dan yang disaksikan.” (Al-Burūj
[85]:1-4).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 26 Desember
2016
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar