Rabu, 02 November 2016

Perwujudan "Kutukan" Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Beruapa Dua Kali "Azab Ilahi" Terhadap Bani Israil & "Pengembaraan Lama" Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Mencari "Sepuluh Suku Israil" yang Hilang



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 51

PERWUJUDAN KUTUKAN NABI DAUD A.S.  DAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. BERUPA DUA KALI AZAB ILAHI TERHADAP BANI ISRAIL & PENGEMBARAAN LAMA NABI ISA IBNU MARYAM A.S. MENCARI “SEPULUH  SUKU ISRAIL”  YANG TERCERAI-BERAI

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 50 dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai    konsep najat (keselamatan) menurut agama Kristen:
      “Umat Kristen semuanya sependapat bahwa setelah Yesus a.s. maka pintu wahyu telah ditutup dan tidak ada lagi cara lain untuk memperolehnya karena pintu gerbang rahmat telah ditutup sampai Hari Kiamat nanti. Mungkin hal inilah yang mendorong mereka menciptakan cara baru guna memperoleh keselamatan dengan menyodorkan resep baru yang bertentangan dengan semua prinsip, daya nalar, keadilan dan rahmat Ilahi.
      Mereka menyatakan bahwa Yesus a.s. telah memikul seluruh beban dosa dari semua manusia di muka bumi dan setuju mati di atas kayu salib agar melalui kematiannya maka manusia diselamatkan. Tuhan jadinya telah menyebabkan kematian putra-Nya sendiri yang tidak berdosa untuk menyelamatkan para pendosa.
     Sulit memahami bagaimana mungkin hati manusia bisa disucikan dari segala kekotoran melalui bentuk kematian yang demikian buruk.   Bagaimana mungkin dengan menjagal seorang yang tidak berdosa maka segala dosa di masa silam dari umat manusia lalu dimaafkan.
     Semua ini bertentangan dengan keadilan dan rasa kasih,  karena adalah suatu hal yang bertentangan dengan keadilan mencengkeram seorang suci sebagai pengganti para pendosa,  dan bertentangan dengan fitrat kasih untuk membunuh anak sendiri dengan cara yang demikian keji. Tambah lagi  [dalam kenyataannya] semua ini nampaknya tidak memberi hasil apa pun.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 163, London, 1984).

“Duel Makar” Melalui Penyaliban Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

      Mengenai  ketidak-benaran “ajaran penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk Yesus  di tiang salib”  yang direkayasa Paulus dalam surat-surat kirimannya  tersebut Allah Swt. berfirman:
وَّ قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ  اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ  اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ  یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam, Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ --  padahal mereka tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban,  وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُم  -- akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya  orang-orang yang berselisih dalam hal ini niscaya ada dalam keraguan mengenai ini,  mereka tidak memiliki  pengetahuan yang pasti mengenai ini melainkan menuruti dugaan belaka dan mereka tidak  yakin telah membunuhnya.  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ  --    Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --   dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisa [4]:158-159).
       Makna ayat  بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ  --     ”bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya” وَ کَانَ اللّٰہُ عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا --   dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisa [4]:158-159) sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendapat keliru bahwa Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. secara jasmani kepada-Nya melainkan maknanya   adalah Allah Swt. telah menghindarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kematian terkutuk di tiang salib yang direncanakan para pemuka Yahudi  karena beliau  -- dalam kapasitas sebagai “penggembala domba-domba- Israel”masih memiliki tugas lainnya yaitu untuk mencari 10 suku Bani Israil yang tercerai-berai dan tersebar di luar Palestina,  sejak terbebasnya Bani Israil dari masa pembuangan mereka yang pertama ke Babilonia oleh raja Nebukadnezar (QS.2:260) akibat kutukan Nabi Daud a.s., firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Mar-yam,  hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak pernah saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya,  benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. (Al-Māidah [5]:79-80). 

Perwujudan Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

        Dari antara semua nabi Bani Israil, Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi. Penzaliman orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   mencapai puncaknya, ketika beliau berusaha dibunuh dengan cara dipakukan pada  kayu salib, sedangkan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu  tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati. Dari lubuk hati yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mengutuk mereka.   
      Kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum Allah Swt. melalui serbuan  balatentara  Nebukadnezar dari kerajaan Babilonia yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan pada tahun 556 sebelum Masehi, sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus  dari kerajaan Romawi   menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi dan  membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu. Al-Quran menygisyaratkan dua kali hukuman Allah Swt. yang menimpa Bani Israil tersebut dalam QS.17:5-9, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾  
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang saat sempur-nanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana.    Kemudian Kami mengembalikan lagi kepadamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar  dari sebelumnya. Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri.  Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pe-mimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka meng-hancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai.   Boleh jadi kini  Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).

Penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  Mengenai “Trinitas”   

      Menurut ayat selanjutnya (QS.5:80) salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan amarah Tuhan atas kaum Yahudi  -- selain berusaha membunuh Nbai Daud a.s. dan Bai Isa Ibnu Maryam a.s.  sehingga kedua Nabi Allah itu  mengutuk mereka (QS.5:70)  -- ialah, mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang sangat  merajalela di tengah-tengah mereka.
     Jadi, tidak benar bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menerima kematian terkutuk di tiang salib dengan penuh kerelaan hati, bahkan beliau “berlepas diri” dari ajaran dusta  yang direkayasa Paulus dalam “surat-surat kirimannya” tersebut, sebagaimana firman-Nya berikut ini:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan812 apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,   sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan  Rabb (Tuhan) kamu” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku berada di antara mereka,  tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]117-118).
        Lebih lanjut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyinggung Sifat Maha Pengampun Allah Swt., itulah sebabnya Allah Swt. telah menyelamatkan Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. dari “kematian terkutuk di tiang salib”  yang diupayakan oleh para pemuka Yahudi (QS.5:159) dan mengazab mereka melalui serangan Titus dari kerajaan Romawi (Matius 23:37-39 & 24:1-22), sebagaimana ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. selanjutnya: 
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ ہٰذَا یَوۡمُ یَنۡفَعُ الصّٰدِقِیۡنَ صِدۡقُہُمۡ ؕ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا فِیۡہِنَّ ؕ وَ ہُوَ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾٪
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”   Allah berfirman: “Inilah hari     yang akan  bermanfaat kebenaran orang-orang yang benar, bagi mereka kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,  mereka   kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah  ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, itulah kemenangan yang besar.”    Kepunyaan  Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun  yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]119-121).  

Pengembaraan Panjang  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Sebagai “Al-Masih” Mencari “Sepuluh Suku Israil” yang Hilang &  Allah Swt.  Tuhan Yang Maha Pengampun

     Jadi, ajaran “penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kayu salib” dengan selamatnya  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari upaya  para pemuka Yahudi membunuh beliau  di tiang salib membuktikan kepalsuan “ajaran Paulus” tersebut,  sebab setelah selamat dari kematian  di tiang salib Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pergi dari Palestina untuk mencari 10 suku Israil yang bertebaran di luar wilayah Palestina sampai ke wilayah  Afghanistan dan Hindustan,  dan setelah beliau menyelesaikanaikan  tugasnya  sebagai Al-Masih (Mesiah/Mesias) -- akhirnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat dalam usia 120 tahun dan dikuburkan di desa Khan Yar – Srinagar, Kasymir, firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan  sumber-sumber mata air yang  mengalir  (Al-Mu’minun [23]:51).
    Sehubungan dengan bukti-bukti selamatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari “kematian terkutuk di tiang salib” tersebut  dalam “duel makar” antara Allah Swt. dengan para pemuka Yahudi  tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
      “Kitab Suci Al-Quran tidak membenarkan akidah najat (keselamatan) yang dikemukakan Injil, yaitu tentang penyaliban Yesus a.s. dan penebusan yang dilakukannya. Al-Quran membenarkan kalau Yesus a.s. adalah seorang nabi besar kekasih Tuhan yang dekat dengan dan dimuliakan Tuhan, namun beliau tetap saja seorang manusia.
    Al-Quran tidak membenarkan bahwa untuk mencapai najat (keselamatan) maka beban para pendosa diletakkan di punggung seorang yang tidak bersalah. Begitu pula nalar tidak bisa menerima bahwa untuk dosa-dosa yang dilakukan si X tetapi yang dihukum adalah si Y. Tidak ada bentuk pemerintahan apa pun di dunia yang mengikuti asas demikian.
      Menyedihkan sekali bahwa kaum Arya juga berpegang pada asas yang salah berkaitan dengan masalah najat (keselamatan) tersebut sebagaimana yang dilakukan umat Kristiani, karena mereka pun telah melupakan realitasnya. Sejalan dengan akidah kaum Arya, bahwa pertaubatan dan mencari pengampunan tidak ada gunanya. Sampai manusia selesai menempuh seluruh rangkaian reinkarnasi sebagai hukuman atas segala dosanya  maka najat (keselamatan) tidak akan pernah bisa dicapai, dan kalau pun kemudian tercapai  sifatnya amat terbatas.
     Sosok Permesywar tidak punya kemampuan mengampuni dosa dan menerima pertaubatan. Meskipun manusia mengalami kematian ruhani dengan menempuh api pengorbanan guna menyenangkan sang Permesywar, semua itu tidak akan ada artinya. Semua itu hanya menunjukkan sifat kekikiran (na’udzubillāh) sang Permesywar.
    Dia memerintahkan agar manusia memaafkan kesalahan manusia lainnya tetapi Dia sendiri tidak melaksanakan fungsi tersebut. Dia mengajari manusia untuk melakukan suatu hal yang Dia sendiri tidak mau melaksanakannya. Dengan demikian maka para pengikut agama ini cenderung beranggapan kalau Permesywar sendiri tidak mau mengampuni seorang pendosa, buat apa mereka berlaku yang bertentangan dengan fitrat sang Permesywar? Bisakah dibayangkan nasib rakyat yang berada di bawah pemerintahan raja-raja yang mengambil sikap sebagaimana Permesywar yaitu tidak memiliki fitrat untuk memaafkan para pelanggar?
   Lagi pula apa buktinya bahwa memang ada yang namanya reinkarnasi kejiwaan? Kami tidak pernah melihat ada jiwa dari seorang yang mati lalu muncul di tubuh lainnya. Yang jelas bentuk penghukuman seperti itu tidak ada gunanya karena sebelumnya  jiwa yang tidak diberitahukan  bahwa ia dimasukkan ke bentuk inkarnasi yang lebih rendah akibat dari telah melakukan sejenis dosa, bagaimana mungkin ia lalu menjaga dirinya dari dosa tersebut?
   Patut kiranya diingat, bahwa walau benar fitrat manusia memiliki demikian banyak keunggulan, tetapi di samping itu juga mempunyai kelemahan yang menjadikannya cenderung melakukan dosa dan kesalahan. Bukan dengan maksud ingin mendera manusia dengan siksaan maka Tuhan membekali fitrat manusia dengan kecenderungan kepada dosa, melainkan dengan tujuan agar fitrat pengampunan-Nya bisa dimanifestasikan (diwujudkan).
    Dosa jelas merupakan racun namun api rasa pertaubatan dan istighfar akan mengubahnya menjadi obat penawar. Dengan demikian, setelah pertaubatan dan penyesalan maka dosa menjadi sarana acuan mencapai kemajuan yang mencerabut perasaan menganggap diri penting, ketakaburan, kesombongan dan rasa riya (pamer).

Najat (Keselamatan) Hanya Mungkin karena Rahmat

      Agar selalu diingat, bahwa tidak ada yang bisa mencapai najat (keselamatan) semata-mata berkat perilakunya sendiri, karena keselamatan hanya bisa diperoleh dalam bentuk rahmat Ilahi. Allah yang kita imani bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dia itu Maha Agung, Yang tidak mempunyai kelemahan dan kekurangan apa pun. Dia itulah Sumber segala manifestasi dan Sumber Mata Air segala rahmat.
     Dia Sang Maha Pencipta dan Tuhan segala karunia. Dia merangkum dalam Wujud-Nya segala Sifat mulia dan sempurna yang menjadi  Sumber dari segala cahaya, Sumber kehidupan dari segala yang bernyawa dan Pemelihara segalanya.
   Dia dekat dengan segala hal tetapi kita tidak bisa  mengatakan bahwa Dia menjadi segala hal. Dia lebih luhur dari semuanya namun kita tidak bisa mengatakan bahwa ada yang memperantarai antara Dia dengan kita. Dia itu tersembunyi dan tidak kelihatan namun lebih nyata daripada segalanya. Segala kenikmatan dan ketentraman  berada pada-Nya. Inilah filosofi hakiki dari najat (keselamatan).” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  414-416, London, 1984).
      Dengan Demikian benarlah pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berikut ini   -- setelah membantah  ajaran Paulus mengenai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa”  (QS.5:117-118) – firman-Nya:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ ہٰذَا یَوۡمُ یَنۡفَعُ الصّٰدِقِیۡنَ صِدۡقُہُمۡ ؕ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا فِیۡہِنَّ ؕ وَ ہُوَ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾٪
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”   Allah berfirman: “Inilah hari     yang akan  bermanfaat kebenaran orang-orang yang benar, bagi mereka kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,  mereka   kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah  ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, itulah kemenangan yang besar.”    Kepunyaan  Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun  yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]119-121).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  1 November 2016

Selasa, 01 November 2016

Pengabulan Allah Swt. Terhadap Doa "Orang-orang yang Berakal" & "Kabar Gembira" Bagi Para "Pendosa" bahwa "Pintu Pengampulan" Allah Swt. Senantiasa Terbuka

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 49

PENGABULAN  ALLAH SWT. TERHADAP DOA “ORANG-ORANG YANG BERAKAL” &  KABAR GEMBIRA BAGI PARA PENDOSA BAHWA “PINTU PENGAMPUNAN” ALLAH SWT. SENANTIASA TERBUKA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 48 dikemukakan   mengenai   “orang-orang berakal” yang mampu mengenali dan beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37),  firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.  Yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  -- seraya berkata: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia,  Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.  رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ   -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا   -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman.  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan.”  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).

Tanggapan Positif  Allah Swt. & Persamaan Derajat Laki-laki dan Perempuan    

   Menanggapi doa-doa yang dipanjatkan “orang-orang berakal”  dengan kerendahan hati tersebut Allah Swt. berfirman:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirman:  اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی  -- “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.   بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ -- Sebagian kamu adalah dari sebagian lain,  لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ --  maka orang-orang yang  hijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku,  yang  berperang  dan  yang terbunuh, لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  -- niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku  akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai  ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ --  sebagai ganjaran dari sisi Allah,   dan Allāh di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran. (Ali ‘Imran [3]:196).
       Makna firman Allah Swt.: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی  --    “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan”,   karena Surah  Ali ‘Imran  pada pokoknya memperbincangkan  akidah-akidah dan paham serta cara hidup kaum Kristen, dan karena agama Kristen memberikan kepada perempuan  kedudukan yang jelas lebih rendah daripada kedudukan laki-laki, sekalipun keadaan yang sebenarnya berlawanan dengan pengakuan gereja Kristen, maka pemberian tekanan oleh ayat ini kepada persamaan kedudukan kaum perempuan  dengan kedudukan kaum pria di dalam alam ruhani  merupakan akibat yang wajar sekali.
      Kata-kata sebagian kamu adalah dari sebagian lain, dimaksudkan untuk menekankan persamaan kedudukan kaum pria dan kaum perempuan, termasuk  dalam hal meraih “martabat-martabat ruhani”   -- kecuali “derajat kenabian”  (QS.4:70-71) -- firman-Nya:
اِنَّ  الۡمُسۡلِمِیۡنَ وَ الۡمُسۡلِمٰتِ وَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡقٰنِتٰتِ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الصّٰدِقٰتِ وَ الصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰبِرٰتِ وَ الۡخٰشِعِیۡنَ وَ الۡخٰشِعٰتِ وَ الۡمُتَصَدِّقِیۡنَ وَ الۡمُتَصَدِّقٰتِ وَ الصَّآئِمِیۡنَ وَ الصّٰٓئِمٰتِ وَ الۡحٰفِظِیۡنَ فُرُوۡجَہُمۡ وَ الۡحٰفِظٰتِ وَ الذّٰکِرِیۡنَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ الذّٰکِرٰتِ ۙ اَعَدَّ  اللّٰہُ   لَہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا  عَظِیۡمًا ﴿﴾ 
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berserah diri, laki-laki  dan perempuan yang beriman,  laki-laki  dan perempuan  yang patuh,  laki-laki  dan perempuan yang benar,  laki-laki  dan perempuan yang sabar,   laki-laki  dan perempuan yang merendahkan diri, laki-laki  dan  perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,  laki-laki  dan perempuan yang berpuasa,  laki-laki  dan perempuan yang memelihara   kesucian mereka,  laki-laki  dan perempuan yang banyak mengingat Dia, اَعَدَّ  اللّٰہُ   لَہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا  عَظِیۡمًا    --  Allah telah menyediakan bagi  mereka itu ampunan dan ganjaran yang besar. (Al-Ahzāb [33]:36).

Kabar Gembira Bagi Orang-orang yang Berdosa

        Jadi, betapa Allah Swt. benar-benar merupakan Tuhan Yang Maha pengampun, yang kapan pun dan siapa pun yang dikehendaki-Nya  Dia akan mengampuni orang-orang yang kembali  kepada-Nya  yakni istighfar dan taubat, firman-Nya:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾   وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ﴿﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.  Dan kembalilah kepada  Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong.  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ  --   Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu  sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.  اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ  --   Supaya jangan ada orang yang mengatakan:  ”Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.” اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ --  Atau  ia berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ    --  Atau ia berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka  aku akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Az-Zumar [39]:54-59).
   Ayat 54  memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
   Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul, lebih besar daripada pernyataan Allah Swt. tersebut.
  Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira  maka dalam ayat 56  Allah Swt.  memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi: وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ  --   “Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu  sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.” 
   Banyak kesempatan diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah dosa untuk bertaubat dan mengadakan perubahan dalam dirinya. Bila penolakan kebenaran dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari perhitungan atas dia telah berlaku  maka pada hari itu keluh kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi bagi dia itulah makna ayat-ayat selanjutnya.
  Jadi, menurut Allah Swt.  dalam ajaran Islam (Al-Quran) tidak memerlukan “penebusan dosa warisan” mau pun “reinkarnasi” karena Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun, bukan  Tuhan yang tidak berkuasa, sehingga  untuk “menghapus dosa warisan” Dia harus  mengorbankan “anak-Nya” – Subhanallāh  -- untuk “mati terkutuk di tiang salib”, atau sebagai “Tuhan Pendendam” seperti dikemukakan dalam ajaran Weda  sehingga manusia harus mengalami “reinkarnasi” yang berkepanjangan serta tidak pasti hasilnya.

Tuhan Pendendam Menurut Weda

  Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam kapasitas beliau sebagai Al-Masih dan Sri Krisyna  yang dijanjikan bagi umat Hindu:
     “Patut diperhatikan kiranya bahwa dari sekian banyak agama-agama yang ada, hanya kitab Weda saja yang menggambarkan Permesywar (Tuhan) sebagai sosok pendendam dan pemarah. Hal mana sebenarnya bertentangan dengan konsep akidah yang menyatakan bahwa Tuhan mengampuni hamba-hamba-Nya yang bertobat dan memohon ampun.
    Di balik itu,  kitab tersebut juga mengajarkan kalau Permesywar adalah Tuhan dari sekalian makhluk yang mengendalikan takdir dari semua yang bernyawa yang kepada-Nya  semua manusia yang berdosa akan dihadapkan untuk penghukuman.
       Yang menyedihkan bagi umat manusia adalah karena dikatakan  bahwa Dia memiliki sifat pemarah dalam menghukum manusia dengan deraan yang dahsyat, tetapi tidak mempunyai fitrat dimana Dia bisa mengampuni dosa manusia yang bertobat dan memohon ampun.
       Sekali saja manusia melakukan kesalahan maka tidak ada pertaubatan baginya dan tidak ada perhatian yang diberikan atas permohonan yang bersangkutan, padahal manusia secara alamiah bersifat lemah dan tidak mampu menjaga dirinya dari cengkeraman dosa di setiap langkah.
       Kitab Weda tidak ada menawarkan cara untuk mencapai najat (keselamatan). Kitab ini hanya mempunyai satu resep untuk masalah tersebut yaitu hukuman berkepanjangan yang kejam berupa pembalasan dendam atas setiap dosa yang dilakukan manusia dalam bentuk rantai (rangkaian) reinkarnasi tak berkesudahan. 
    Padahal sepatutnya seorang pendosa dikaruniai rahmat karena kelemahan fitratnya tersebut bukan ciptaan dirinya sendiri,  mengingat sudah menjadi ciri dari makhluk yang diciptakan Tuhan, mestinya manusia diberikan keringanan mengenai hal ini. Menurut pandangan kaum Arya, sosok Permesywar tidak ada memberikan keringanan dalam melakukan penghukuman karena Dia sendiri dianggap ada kaitannya dengan terjadinya dosa.
      Kitab Weda mempersyaratkan bahwa untuk mencapai taraf najat (keselamatan)  maka manusia harus sepenuhnya disucikan dari dosa. Padahal jika melihat etika hukum alam, jelas manusia tidak mungkin akan bisa memenuhi persyaratan seperti itu,  mengingat jika ia belum tuntas melaksanakan semua kewajibannya kepada Tuhan, selama itu juga ia tidak bisa dianggap telah memenuhi persyaratan kepatuhan.
     Hukum alam dan fitrat manusia menjadi saksi bahwa   manusia tidak pernah mampu mencapai tahapan bebas  dari segala dosa dan sanggup memenuhi semua perintah Tuhan secara lengkap.      Jadi jika dikatakan bahwa manusia hanya mungkin mencapai keselamatan jika telah mentuntaskan semua kewajibannya kepada Tuhan, tanpa ada kesalahan sekecil apa pun, maka cara pencapaian keselamatan seperti ini merupakan suatu hal yang mustahil.
     Tidak akan ada seorang manusia pun yang akan mampu mencapai tingkat pelaksanaan kewajiban demikian itu dan karena itu tidak akan ada manusia yang memperoleh keselamatan. Sesuatu yang bersifat mustahil dan bertentangan dengan hukum alam   dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai firman Tuhan.
      Carilah dari Barat sampai ke Timur maka  kalian tidak akan menemukan satu orang pun yang bersih sama sekali dari kesalahan dan kealpaan, serta telah memenuhi semua kewajibannya kepada sesama makhluk dan kepada Tuhannya secara sempurna.
     Jika sekarang ini pun tidak ada manusia seperti itu, yakinlah bahwa di masa yang lalu pun tidak pernah ada dan tidak akan pernah muncul di masa depan. Sejalan dengan hukum alam pun adalah mustahil bagi manusia dengan kekuatan dirinya sendiri akan mampu melaksanakan semua kewajibannya kepada Tuhan dan selalu dalam keadaan bersyukur kepada-Nya.
   Pengalaman setiap manusia menjadi saksi atas kebenaran ini. Dengan demikian tidak sepatutnya sebuah kitab yang dikatakan berasal dari Tuhan, menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada suatu keadaan yang tidak mungkin bisa dicapai manusia.
       Kemungkinan besar --  sebagaimana halnya dengan hal-hal lain dalam kitab Weda -- hal ini pun telah mengalami kerancuan dan bisa jadi bukan merupakan ajaran Weda yang asli.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 50-52, London, 1984).

Konsep  Najat (Keselamatan) Menurut Agama Kristen

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai konsep najat (keselamatan) menurut agama Kristen:
    “Umat Kristen semuanya sependapat bahwa setelah Yesus a.s. maka pintu wahyu telah ditutup dan tidak ada lagi cara lain untuk memperolehnya karena pintu gerbang rahmat telah ditutup sampai Hari Kiamat nanti. Mungkin hal inilah yang mendorong mereka menciptakan cara baru guna memperoleh keselamatan dengan menyodorkan resep baru yang bertentangan dengan semua prinsip, daya nalar, keadilan dan rahmat Ilahi.
       Mereka menyatakan bahwa Yesus a.s. telah memikul seluruh beban dosa dari semua manusia di muka bumi dan setuju mati di atas kayu salib agar melalui kematiannya maka manusia diselamatkan. Tuhan jadinya telah menyebabkan kematian putra-Nya sendiri yang tidak berdosa untuk menyelamatkan para pendosa.
     Sulit memahami bagaimana mungkin hati manusia bisa disucikan dari segala kekotoran melalui bentuk kematian yang demikian buruk.   Bagaimana mungkin dengan menjagal seorang yang tidak berdosa maka segala dosa di masa silam dari umat manusia lalu dimaafkan.
     Semua ini bertentangan dengan keadilan dan rasa kasih,  karena adalah suatu hal yang bertentangan dengan keadilan mencengkeram seorang suci sebagai pengganti para pendosa,  dan bertentangan dengan fitrat kasih untuk membunuh anak sendiri dengan cara yang demikian keji. Tambah lagi  [dalam kenyataannya] semua ini nampaknya tidak memberi hasil apa pun.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 163, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 31 Oktober 2016