Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
49
PENGABULAN ALLAH SWT. TERHADAP DOA “ORANG-ORANG YANG BERAKAL” &
KABAR GEMBIRA BAGI PARA PENDOSA BAHWA “PINTU PENGAMPUNAN” ALLAH SWT. SENANTIASA TERBUKA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 48 dikemukakan mengenai “orang-orang berakal” yang mampu mengenali dan beriman kepada Rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan Allah
Swt. dari kalangan Bani Adam
(QS.7:35-37), firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ
وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ
ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ
مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ
لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ
فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا
سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ
الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --- benar-benar
terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring atas rusuk mereka, dan mereka
memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ
فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- seraya berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha
Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.
رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ
اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa
yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh
Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا
سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada keimanan seraya berkata: "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu"
maka kami telah beriman. رَبَّنَا
فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا
مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah bagi kami
dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, dan wafatkanlah kami
bersama orang-orang yang berbuat
kebajikan.” رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Engkau, dan janganlah
Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).
Tanggapan Positif Allah Swt. &
Persamaan Derajat Laki-laki dan
Perempuan
Menanggapi doa-doa yang dipanjatkan “orang-orang
berakal” dengan kerendahan hati tersebut Allah Swt. berfirman:
فَاسۡتَجَابَ
لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ
اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ بَعۡضٍ
ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ
سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ
لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ
حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya
berfirman: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی -- “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal
orang-orang yang beramal dari antara
kamu baik laki-laki maupun perempuan. بَعۡضُکُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡضٍ -- Sebagian kamu adalah dari sebagian lain, لَاُکَفِّرَنَّ
عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ -- maka orang-orang yang hijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku,
yang berperang dan yang terbunuh,
لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ
لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ -- niscaya
Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku akan memasukkan mereka ke dalam
kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ -- sebagai ganjaran dari sisi Allah, dan Allāh
di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran. (Ali ‘Imran [3]:196).
Makna firman Allah Swt.: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی -- “Sesungguhnya
Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara
kamu baik laki-laki maupun perempuan”, karena Surah
Ali ‘Imran pada pokoknya memperbincangkan akidah-akidah
dan paham serta cara hidup kaum Kristen, dan karena agama Kristen memberikan kepada perempuan kedudukan yang jelas lebih rendah daripada kedudukan laki-laki, sekalipun keadaan yang sebenarnya
berlawanan dengan pengakuan gereja Kristen, maka pemberian
tekanan oleh ayat ini kepada persamaan kedudukan kaum perempuan dengan kedudukan
kaum pria di dalam alam ruhani merupakan akibat
yang wajar sekali.
Kata-kata sebagian kamu adalah dari
sebagian lain, dimaksudkan untuk menekankan persamaan kedudukan kaum pria dan kaum perempuan, termasuk dalam hal meraih “martabat-martabat ruhani”
-- kecuali “derajat kenabian” (QS.4:70-71) -- firman-Nya:
اِنَّ الۡمُسۡلِمِیۡنَ وَ الۡمُسۡلِمٰتِ وَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡقٰنِتٰتِ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ
الصّٰدِقٰتِ وَ الصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰبِرٰتِ وَ الۡخٰشِعِیۡنَ وَ الۡخٰشِعٰتِ وَ
الۡمُتَصَدِّقِیۡنَ وَ الۡمُتَصَدِّقٰتِ وَ الصَّآئِمِیۡنَ وَ الصّٰٓئِمٰتِ وَ
الۡحٰفِظِیۡنَ فُرُوۡجَہُمۡ وَ الۡحٰفِظٰتِ وَ الذّٰکِرِیۡنَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا
وَّ الذّٰکِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰہُ لَہُمۡ
مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا
﴿﴾
Sesungguhnya
laki-laki dan perempuan yang berserah diri, laki-laki dan perempuan yang beriman, laki-laki dan perempuan
yang patuh, laki-laki
dan perempuan yang benar, laki-laki
dan perempuan yang sabar, laki-laki
dan perempuan yang merendahkan
diri, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang memelihara kesucian mereka, laki-laki
dan perempuan yang banyak mengingat
Dia, اَعَدَّ اللّٰہُ
لَہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ
اَجۡرًا عَظِیۡمًا -- Allah telah
menyediakan bagi mereka itu ampunan dan ganjaran yang besar.
(Al-Ahzāb
[33]:36).
Kabar Gembira Bagi Orang-orang yang Berdosa
Jadi, betapa Allah Swt. benar-benar
merupakan Tuhan Yang Maha pengampun,
yang kapan pun dan siapa pun yang dikehendaki-Nya Dia akan mengampuni
orang-orang yang kembali kepada-Nya
yakni istighfar dan taubat, firman-Nya:
قُلۡ
یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اتَّبِعُوۡۤا
اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً
وَّ اَنۡتُمۡ لَا
تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اَنۡ تَقُوۡلَ
نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ
لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ
اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ لَکُنۡتُ مِنَ
الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾ اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ
تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً
فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui
batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari
rahmat Allah. Sesungguhnya Allah
mengampuni semua dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. Dan kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah
kepada-Nya sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong. وَ اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ -- Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu sebelum
datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari. اَنۡ تَقُوۡلَ
نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ
لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ -- Supaya
jangan ada orang yang mengatakan: ”Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.”
اَوۡ
تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ
لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ -- Atau ia
berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepadaku,
niscaya aku termasuk orang-orang yang
bertakwa.” اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ -- Atau ia berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka aku
akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Az-Zumar [39]:54-59).
Ayat 54
memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan.
Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
Berulang-ulang
Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59),
tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi
mereka yang sedang berhati lara dan masygul, lebih besar daripada pernyataan
Allah Swt. tersebut.
Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira maka dalam
ayat 56 Allah Swt. memperingatkan
mereka bahwa mereka akan harus membentuk
nasib sendiri dengan mentaati
hukum-hukum Ilahi: وَ اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ -- “Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu sebelum
datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.”
Banyak kesempatan
diberikan kepada manusia yang berkecimpung
dalam kancah dosa untuk bertaubat dan mengadakan perubahan dalam dirinya. Bila penolakan kebenaran dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan
bila ia melampaui batas yang sah
dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari perhitungan atas dia telah berlaku maka pada hari
itu keluh kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi
bagi dia itulah makna ayat-ayat selanjutnya.
Jadi,
menurut Allah Swt. dalam ajaran Islam (Al-Quran) tidak memerlukan
“penebusan dosa warisan” mau pun “reinkarnasi” karena Allah Swt. adalah Tuhan Yang
Maha Pengampun, bukan Tuhan yang tidak berkuasa, sehingga untuk “menghapus dosa warisan” Dia harus mengorbankan
“anak-Nya” – Subhanallāh -- untuk “mati terkutuk di tiang salib”, atau sebagai “Tuhan Pendendam”
seperti dikemukakan dalam ajaran Weda sehingga manusia harus mengalami “reinkarnasi” yang berkepanjangan serta tidak
pasti hasilnya.
Tuhan Pendendam Menurut Weda
Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam
kapasitas beliau sebagai Al-Masih dan
Sri Krisyna yang dijanjikan
bagi umat Hindu:
“Patut diperhatikan
kiranya bahwa dari sekian banyak
agama-agama yang ada, hanya kitab Weda saja yang menggambarkan Permesywar (Tuhan) sebagai sosok pendendam dan pemarah. Hal mana sebenarnya bertentangan dengan konsep akidah yang menyatakan bahwa Tuhan mengampuni hamba-hamba-Nya yang bertobat dan memohon
ampun.
Di
balik itu, kitab tersebut juga mengajarkan
kalau Permesywar adalah Tuhan dari sekalian makhluk yang mengendalikan takdir dari semua yang bernyawa yang kepada-Nya semua manusia yang berdosa akan dihadapkan untuk penghukuman.
Yang menyedihkan bagi umat manusia adalah karena dikatakan bahwa Dia
memiliki sifat pemarah dalam menghukum
manusia
dengan deraan yang dahsyat, tetapi tidak
mempunyai fitrat
dimana Dia bisa mengampuni dosa manusia yang
bertobat
dan memohon ampun.
Sekali saja manusia
melakukan kesalahan
maka tidak ada pertaubatan baginya dan tidak
ada perhatian
yang diberikan atas permohonan yang bersangkutan, padahal manusia
secara alamiah bersifat lemah
dan tidak mampu menjaga dirinya dari
cengkeraman dosa di setiap langkah.
Kitab
Weda tidak ada menawarkan cara untuk mencapai najat (keselamatan). Kitab ini hanya mempunyai satu resep untuk masalah tersebut yaitu hukuman berkepanjangan yang kejam berupa pembalasan dendam atas setiap dosa yang dilakukan
manusia
dalam bentuk rantai (rangkaian) reinkarnasi tak berkesudahan.
Padahal sepatutnya seorang pendosa dikaruniai rahmat karena kelemahan
fitratnya tersebut
bukan ciptaan dirinya sendiri,
mengingat sudah menjadi ciri dari makhluk yang diciptakan
Tuhan, mestinya manusia diberikan
keringanan mengenai hal ini. Menurut pandangan
kaum Arya, sosok Permesywar tidak ada memberikan keringanan dalam melakukan penghukuman karena Dia
sendiri dianggap ada kaitannya dengan terjadinya dosa.
Kitab Weda mempersyaratkan bahwa untuk mencapai taraf najat (keselamatan) maka manusia harus sepenuhnya disucikan dari dosa. Padahal jika melihat etika hukum alam, jelas manusia tidak mungkin akan bisa
memenuhi persyaratan seperti
itu, mengingat jika ia belum tuntas melaksanakan semua kewajibannya
kepada Tuhan,
selama itu juga ia tidak bisa dianggap
telah memenuhi persyaratan kepatuhan.
Hukum alam dan fitrat manusia menjadi saksi bahwa manusia
tidak pernah mampu mencapai tahapan bebas dari segala dosa dan
sanggup memenuhi semua perintah Tuhan secara lengkap. Jadi jika dikatakan bahwa manusia hanya mungkin mencapai keselamatan jika telah
mentuntaskan semua kewajibannya kepada Tuhan, tanpa ada kesalahan
sekecil apa pun, maka cara pencapaian keselamatan seperti ini merupakan suatu hal yang mustahil.
Tidak akan ada seorang manusia pun yang akan
mampu mencapai tingkat pelaksanaan kewajiban demikian itu dan karena itu tidak
akan ada manusia yang memperoleh keselamatan. Sesuatu yang bersifat mustahil dan bertentangan
dengan hukum alam dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai firman
Tuhan.
Carilah dari Barat sampai ke Timur maka kalian tidak
akan menemukan satu orang pun yang bersih
sama sekali
dari kesalahan dan kealpaan, serta telah memenuhi
semua kewajibannya
kepada sesama makhluk dan kepada
Tuhannya
secara sempurna.
Jika
sekarang ini pun tidak ada manusia seperti itu, yakinlah bahwa di masa yang lalu pun tidak
pernah ada dan tidak akan pernah
muncul di masa depan. Sejalan dengan hukum
alam
pun adalah mustahil bagi manusia dengan kekuatan
dirinya sendiri
akan mampu melaksanakan semua kewajibannya kepada
Tuhan dan
selalu dalam keadaan bersyukur kepada-Nya.
Pengalaman setiap manusia menjadi saksi atas kebenaran ini. Dengan demikian tidak sepatutnya sebuah kitab yang dikatakan berasal
dari Tuhan,
menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada suatu keadaan yang tidak mungkin bisa dicapai manusia.
Kemungkinan besar -- sebagaimana halnya dengan hal-hal lain dalam kitab Weda -- hal ini pun telah mengalami kerancuan dan bisa jadi bukan merupakan ajaran Weda yang asli.” (Chasma
Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908;
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld. XXIII, hlm. 50-52, London, 1984).
Konsep Najat (Keselamatan) Menurut Agama
Kristen
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
konsep najat (keselamatan)
menurut agama Kristen:
“Umat Kristen semuanya sependapat bahwa setelah Yesus a.s. maka pintu wahyu telah ditutup dan tidak
ada lagi cara lain
untuk memperolehnya karena pintu
gerbang rahmat telah ditutup
sampai Hari Kiamat nanti. Mungkin hal inilah yang mendorong
mereka menciptakan cara baru guna memperoleh keselamatan dengan menyodorkan
resep baru
yang bertentangan dengan semua prinsip, daya
nalar, keadilan dan rahmat Ilahi.
Mereka menyatakan bahwa Yesus a.s. telah memikul seluruh beban dosa dari semua
manusia di muka bumi
dan setuju mati di atas kayu salib agar melalui
kematiannya maka manusia diselamatkan. Tuhan jadinya telah menyebabkan
kematian putra-Nya sendiri
yang tidak berdosa untuk menyelamatkan
para pendosa.
Sulit memahami bagaimana mungkin hati manusia bisa disucikan dari segala
kekotoran melalui bentuk kematian yang demikian
buruk. Bagaimana mungkin
dengan menjagal seorang yang tidak berdosa maka segala
dosa di masa silam dari umat manusia lalu dimaafkan.
Semua
ini bertentangan dengan keadilan dan rasa kasih, karena adalah suatu hal
yang bertentangan dengan keadilan mencengkeram seorang
suci
sebagai pengganti para pendosa, dan bertentangan dengan fitrat kasih untuk membunuh
anak sendiri
dengan cara yang demikian keji. Tambah lagi [dalam kenyataannya] semua ini nampaknya tidak memberi hasil apa pun.” (Khutbah
Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.
163, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 31 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar