Selasa, 01 November 2016

Pengabulan Allah Swt. Terhadap Doa "Orang-orang yang Berakal" & "Kabar Gembira" Bagi Para "Pendosa" bahwa "Pintu Pengampulan" Allah Swt. Senantiasa Terbuka

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 49

PENGABULAN  ALLAH SWT. TERHADAP DOA “ORANG-ORANG YANG BERAKAL” &  KABAR GEMBIRA BAGI PARA PENDOSA BAHWA “PINTU PENGAMPUNAN” ALLAH SWT. SENANTIASA TERBUKA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 48 dikemukakan   mengenai   “orang-orang berakal” yang mampu mengenali dan beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37),  firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.  Yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  -- seraya berkata: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia,  Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Apiرَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ   -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا   -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman.  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan.”  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).

Tanggapan Positif  Allah Swt. & Persamaan Derajat Laki-laki dan Perempuan    

   Menanggapi doa-doa yang dipanjatkan “orang-orang berakal”  dengan kerendahan hati tersebut Allah Swt. berfirman:
فَاسۡتَجَابَ لَہُمۡ رَبُّہُمۡ اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی ۚ بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ ۚ فَالَّذِیۡنَ ہَاجَرُوۡا وَ اُخۡرِجُوۡا مِنۡ دِیَارِہِمۡ وَ اُوۡذُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ قٰتَلُوۡا وَ قُتِلُوۡا لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۚ ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ ﴿﴾
Maka Rabb (Tuhan) mereka telah mengabulkan doa mereka seraya berfirmanاَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی  -- “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan.   بَعۡضُکُمۡ مِّنۡۢ  بَعۡضٍ -- Sebagian kamu adalah dari sebagian lainلَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ --  maka orang-orang yang  hijrah, yang diusir dari rumah-rumahnya, yang disakiti pada jalan-Ku,  yang  berperang  dan  yang terbunuh, لَاُکَفِّرَنَّ عَنۡہُمۡ سَیِّاٰتِہِمۡ وَ لَاُدۡخِلَنَّہُمۡ جَنّٰتٍ  تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  -- niscaya Aku akan menghapuskan dari mereka keburukan-keburukannya, dan niscaya Aku  akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai  ثَوَابًا مِّنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ عِنۡدَہٗ حُسۡنُ الثَّوَابِ --  sebagai ganjaran dari sisi Allah,   dan Allāh di sisi-Nya sebaik-baik ganjaran. (Ali ‘Imran [3]:196).
       Makna firman Allah Swt.: اَنِّیۡ لَاۤ اُضِیۡعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِّنۡکُمۡ مِّنۡ ذَکَرٍ اَوۡ اُنۡثٰی  --    “Sesungguhnya Aku tidak akan menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal dari antara kamu baik laki-laki maupun perempuan”,   karena Surah  Ali ‘Imran  pada pokoknya memperbincangkan  akidah-akidah dan paham serta cara hidup kaum Kristen, dan karena agama Kristen memberikan kepada perempuan  kedudukan yang jelas lebih rendah daripada kedudukan laki-laki, sekalipun keadaan yang sebenarnya berlawanan dengan pengakuan gereja Kristen, maka pemberian tekanan oleh ayat ini kepada persamaan kedudukan kaum perempuan  dengan kedudukan kaum pria di dalam alam ruhani  merupakan akibat yang wajar sekali.
      Kata-kata sebagian kamu adalah dari sebagian lain, dimaksudkan untuk menekankan persamaan kedudukan kaum pria dan kaum perempuan, termasuk  dalam hal meraih “martabat-martabat ruhani”   -- kecuali “derajat kenabian”  (QS.4:70-71) -- firman-Nya:
اِنَّ  الۡمُسۡلِمِیۡنَ وَ الۡمُسۡلِمٰتِ وَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ وَ الۡقٰنِتِیۡنَ وَ الۡقٰنِتٰتِ وَ الصّٰدِقِیۡنَ وَ الصّٰدِقٰتِ وَ الصّٰبِرِیۡنَ وَ الصّٰبِرٰتِ وَ الۡخٰشِعِیۡنَ وَ الۡخٰشِعٰتِ وَ الۡمُتَصَدِّقِیۡنَ وَ الۡمُتَصَدِّقٰتِ وَ الصَّآئِمِیۡنَ وَ الصّٰٓئِمٰتِ وَ الۡحٰفِظِیۡنَ فُرُوۡجَہُمۡ وَ الۡحٰفِظٰتِ وَ الذّٰکِرِیۡنَ اللّٰہَ کَثِیۡرًا وَّ الذّٰکِرٰتِ ۙ اَعَدَّ  اللّٰہُ   لَہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا  عَظِیۡمًا ﴿﴾ 
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang berserah diri, laki-laki  dan perempuan yang beriman,  laki-laki  dan perempuan  yang patuh,  laki-laki  dan perempuan yang benar,  laki-laki  dan perempuan yang sabar,   laki-laki  dan perempuan yang merendahkan diri, laki-laki  dan  perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah,  laki-laki  dan perempuan yang berpuasa,  laki-laki  dan perempuan yang memelihara   kesucian mereka,  laki-laki  dan perempuan yang banyak mengingat Dia, اَعَدَّ  اللّٰہُ   لَہُمۡ  مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا  عَظِیۡمًا    --  Allah telah menyediakan bagi  mereka itu ampunan dan ganjaran yang besar. (Al-Ahzāb [33]:36).

Kabar Gembira Bagi Orang-orang yang Berdosa

        Jadi, betapa Allah Swt. benar-benar merupakan Tuhan Yang Maha pengampun, yang kapan pun dan siapa pun yang dikehendaki-Nya  Dia akan mengampuni orang-orang yang kembali  kepada-Nya  yakni istighfar dan taubat, firman-Nya:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾   وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿ۙ﴾  اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ﴿﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.  Dan kembalilah kepada  Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong.  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ  --   Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu  sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadariاَنۡ تَقُوۡلَ نَفۡسٌ یّٰحَسۡرَتٰی عَلٰی مَا فَرَّطۡتُّ فِیۡ جَنۡۢبِ اللّٰہِ وَ اِنۡ کُنۡتُ لَمِنَ السّٰخِرِیۡنَ  --   Supaya jangan ada orang yang mengatakan:  ”Wahai sangat besar penyesalanku atas kelalaianku terhadap Allah, sedangkan aku benar-benar termasuk orang-orang yang memperolok-olok rasul-Nya.” اَوۡ تَقُوۡلَ لَوۡ اَنَّ اللّٰہَ ہَدٰىنِیۡ  لَکُنۡتُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ --  Atau  ia berkata: “Seandainya saja Allah memberi petunjuk kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang bertakwa.” اَوۡ تَقُوۡلَ حِیۡنَ تَرَی الۡعَذَابَ لَوۡ اَنَّ لِیۡ کَرَّۃً  فَاَکُوۡنَ مِنَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ    --  Atau ia berkata ketika ia melihat azab: “Seandainya bagiku ada kesempatan kembali lagi ke dunia, maka  aku akan termasuk orang-orang yang berbuat ihsan.” (Az-Zumar [39]:54-59).
   Ayat 54  memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
   Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul, lebih besar daripada pernyataan Allah Swt. tersebut.
  Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira  maka dalam ayat 56  Allah Swt.  memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi: وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ  --   “Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu  sebelum datang kepadamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.” 
   Banyak kesempatan diberikan kepada manusia yang berkecimpung dalam kancah dosa untuk bertaubat dan mengadakan perubahan dalam dirinya. Bila penolakan kebenaran dilakukan dengan sengaja dan dengan berulang-ulang, dan bila ia melampaui batas yang sah dalam berbuat dosa dan pelanggaran, dan bila hari perhitungan atas dia telah berlaku  maka pada hari itu keluh kesah dan penyesalannya tidak ada gunanya lagi bagi dia itulah makna ayat-ayat selanjutnya.
  Jadi, menurut Allah Swt.  dalam ajaran Islam (Al-Quran) tidak memerlukan “penebusan dosa warisan” mau pun “reinkarnasi” karena Allah Swt. adalah Tuhan Yang Maha Pengampun, bukan  Tuhan yang tidak berkuasa, sehingga  untuk “menghapus dosa warisan” Dia harus  mengorbankan “anak-Nya”Subhanallāh  -- untuk “mati terkutuk di tiang salib”, atau sebagai Tuhan Pendendam” seperti dikemukakan dalam ajaran Weda  sehingga manusia harus mengalami “reinkarnasi” yang berkepanjangan serta tidak pasti hasilnya.

Tuhan Pendendam Menurut Weda

  Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan dalam kapasitas beliau sebagai Al-Masih dan Sri Krisyna  yang dijanjikan bagi umat Hindu:
     Patut diperhatikan kiranya bahwa dari sekian banyak agama-agama yang ada, hanya kitab Weda saja yang menggambarkan Permesywar (Tuhan) sebagai sosok pendendam dan pemarah. Hal mana sebenarnya bertentangan dengan konsep akidah yang menyatakan bahwa Tuhan mengampuni hamba-hamba-Nya yang bertobat dan memohon ampun.
    Di balik itu,  kitab tersebut juga mengajarkan kalau Permesywar adalah Tuhan dari sekalian makhluk yang mengendalikan takdir dari semua yang bernyawa yang kepada-Nya  semua manusia yang berdosa akan dihadapkan untuk penghukuman.
       Yang menyedihkan bagi umat manusia adalah karena dikatakan  bahwa Dia memiliki sifat pemarah dalam menghukum manusia dengan deraan yang dahsyat, tetapi tidak mempunyai fitrat dimana Dia bisa mengampuni dosa manusia yang bertobat dan memohon ampun.
       Sekali saja manusia melakukan kesalahan maka tidak ada pertaubatan baginya dan tidak ada perhatian yang diberikan atas permohonan yang bersangkutan, padahal manusia secara alamiah bersifat lemah dan tidak mampu menjaga dirinya dari cengkeraman dosa di setiap langkah.
       Kitab Weda tidak ada menawarkan cara untuk mencapai najat (keselamatan). Kitab ini hanya mempunyai satu resep untuk masalah tersebut yaitu hukuman berkepanjangan yang kejam berupa pembalasan dendam atas setiap dosa yang dilakukan manusia dalam bentuk rantai (rangkaian) reinkarnasi tak berkesudahan. 
    Padahal sepatutnya seorang pendosa dikaruniai rahmat karena kelemahan fitratnya tersebut bukan ciptaan dirinya sendiri,  mengingat sudah menjadi ciri dari makhluk yang diciptakan Tuhan, mestinya manusia diberikan keringanan mengenai hal ini. Menurut pandangan kaum Arya, sosok Permesywar tidak ada memberikan keringanan dalam melakukan penghukuman karena Dia sendiri dianggap ada kaitannya dengan terjadinya dosa.
      Kitab Weda mempersyaratkan bahwa untuk mencapai taraf najat (keselamatan)  maka manusia harus sepenuhnya disucikan dari dosa. Padahal jika melihat etika hukum alam, jelas manusia tidak mungkin akan bisa memenuhi persyaratan seperti itu,  mengingat jika ia belum tuntas melaksanakan semua kewajibannya kepada Tuhan, selama itu juga ia tidak bisa dianggap telah memenuhi persyaratan kepatuhan.
     Hukum alam dan fitrat manusia menjadi saksi bahwa   manusia tidak pernah mampu mencapai tahapan bebas  dari segala dosa dan sanggup memenuhi semua perintah Tuhan secara lengkap.      Jadi jika dikatakan bahwa manusia hanya mungkin mencapai keselamatan jika telah mentuntaskan semua kewajibannya kepada Tuhan, tanpa ada kesalahan sekecil apa pun, maka cara pencapaian keselamatan seperti ini merupakan suatu hal yang mustahil.
     Tidak akan ada seorang manusia pun yang akan mampu mencapai tingkat pelaksanaan kewajiban demikian itu dan karena itu tidak akan ada manusia yang memperoleh keselamatan. Sesuatu yang bersifat mustahil dan bertentangan dengan hukum alam   dengan sendirinya tidak dapat dianggap sebagai firman Tuhan.
      Carilah dari Barat sampai ke Timur maka  kalian tidak akan menemukan satu orang pun yang bersih sama sekali dari kesalahan dan kealpaan, serta telah memenuhi semua kewajibannya kepada sesama makhluk dan kepada Tuhannya secara sempurna.
     Jika sekarang ini pun tidak ada manusia seperti itu, yakinlah bahwa di masa yang lalu pun tidak pernah ada dan tidak akan pernah muncul di masa depan. Sejalan dengan hukum alam pun adalah mustahil bagi manusia dengan kekuatan dirinya sendiri akan mampu melaksanakan semua kewajibannya kepada Tuhan dan selalu dalam keadaan bersyukur kepada-Nya.
   Pengalaman setiap manusia menjadi saksi atas kebenaran ini. Dengan demikian tidak sepatutnya sebuah kitab yang dikatakan berasal dari Tuhan, menyatakan bahwa keselamatan tergantung pada suatu keadaan yang tidak mungkin bisa dicapai manusia.
       Kemungkinan besar --  sebagaimana halnya dengan hal-hal lain dalam kitab Weda -- hal ini pun telah mengalami kerancuan dan bisa jadi bukan merupakan ajaran Weda yang asli.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 50-52, London, 1984).

Konsep  Najat (Keselamatan) Menurut Agama Kristen

     Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai konsep najat (keselamatan) menurut agama Kristen:
    “Umat Kristen semuanya sependapat bahwa setelah Yesus a.s. maka pintu wahyu telah ditutup dan tidak ada lagi cara lain untuk memperolehnya karena pintu gerbang rahmat telah ditutup sampai Hari Kiamat nanti. Mungkin hal inilah yang mendorong mereka menciptakan cara baru guna memperoleh keselamatan dengan menyodorkan resep baru yang bertentangan dengan semua prinsip, daya nalar, keadilan dan rahmat Ilahi.
       Mereka menyatakan bahwa Yesus a.s. telah memikul seluruh beban dosa dari semua manusia di muka bumi dan setuju mati di atas kayu salib agar melalui kematiannya maka manusia diselamatkan. Tuhan jadinya telah menyebabkan kematian putra-Nya sendiri yang tidak berdosa untuk menyelamatkan para pendosa.
     Sulit memahami bagaimana mungkin hati manusia bisa disucikan dari segala kekotoran melalui bentuk kematian yang demikian buruk.   Bagaimana mungkin dengan menjagal seorang yang tidak berdosa maka segala dosa di masa silam dari umat manusia lalu dimaafkan.
     Semua ini bertentangan dengan keadilan dan rasa kasih,  karena adalah suatu hal yang bertentangan dengan keadilan mencengkeram seorang suci sebagai pengganti para pendosa,  dan bertentangan dengan fitrat kasih untuk membunuh anak sendiri dengan cara yang demikian keji. Tambah lagi  [dalam kenyataannya] semua ini nampaknya tidak memberi hasil apa pun. (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 163, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 31 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar