Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
70
ANCAMAN ALLAH SWT. BAGI PARA PENENTANG “NABI
YANG SEPERTI MUSA” (NABI BESAR MUHAMMAD SAW.) YANG
NUBUATAN-NUBUATANNYA DIKETAHUI PARA ‘ULAMA BANI ISRAIL & KEMUSTAHILAN UNTA MASUK LUBANG JARUM
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab 69 dikemukakan penjelasan 2 point nubuatan dalam Bible mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:15-20) yaitu Nabi Besar Muhammad saw. yang muncul
dari kalangan Bani Isma’il (QS.46:11):
18:15 Seorang nabi
dari tengah-tengahmu, dari antara
saudara-saudaramu, sama seperti aku , akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN,
Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti
yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN,
Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati. 18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak
mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya
akan Kutuntut pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang
nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak
Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus
mati. (Ulangan
18:15-20).
“Roh Kebenaran” yang Akan Membawa “Seluruh Kebenaran”
(3) Makna kalimat:
18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
Kalimat “Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” selaras dengan
pernyataan Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dalam Injil Yohanes 16:12-13:
16:12 Masih
banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang
kamu belum dapat menanggungnya. 16:13 Tetapi apabila
Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan
memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran ; sebab Ia
tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan
Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal
yang akan datang.
Sebutan “Roh Kebenaran” yang “akan
memimpin ke dalam seluruh kebenaran”
sama sekali tidak dapat dikenakan kepada nubuatan
kedatangan kedua kali Yesus (Mesias) di Akhir Zaman ini (Matius 24:23-31) karena
beliau dengan tegas menyatakan bahwa misi
kenabiannya hanya untuk menggenapi
hukum Taurat dan kitab para nabi serta beliau diutus hanya untuk kaum Bani Israil saja (Matius
5:17-20; QS.61:7):
5:17 "Janganlah
kamu menyangka, bahwa Aku datang
untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab
para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya . 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan
bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling
kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain,
ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi
siapa yang melakukan dan mengajarkan
segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di
dalam Kerajaan Sorga . 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup
keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Dengan demikian sebutan “Roh Kebenaran” yang “akan
memimpin ke dalam seluruh kebenaran”
yang dikemukakan Yesus
(Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) hanya cocok untuk Nabi
Besar Muhammad saw., sesuai firman-Nya:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ
اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾
وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾
عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾
فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Demi bintang
apabila jatuh. مَا
ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- Tidaklah
sesat sahabat kamu dan tidak pula
keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی -- Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ
ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas
‘Arasy, وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ
الۡاَعۡلٰی -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia,
Rasulullah, berada di ufuk tertinggi. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati AllAh, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ
اَدۡنٰی -- maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas
tali dari dua buah busur,
atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی
-- Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:1-11).
Jadi,
kembali kepada nubutan dalam Ulangan 18:15-19, ungkapan “segala yang Kuperintahkan kepadanya” dan kepada nubuatan Yesus mengenai kedatangan “Roh Kebenaran” yang akan “membawa seluruh kebenaran” (Yohanes
16:12-13) mengisyaratkan kepada kepada kesempurnaan
syariat Islam (Al-Quran) sebagai agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna,
yang diwahyukan Allah Swt. kepada “Nabi
yang seperti Musa” atau “Roh
Kebenaran” yang membawa “seluruh
kebenaran”, yakni Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah
Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu.
(Al-Māidah
[5]:4).
Al-Quran Mendapat Jaminan Pemeliharaan Allah Swt.
Itulah sebabnya berbeda dengan syariat-syariat
atau kitab-kitab suci sebelumnya syariat
Islam (Al-Quran) -- sebagai syariat dan Kitab suci yang berlaku sampai Hari
Kiamat -- mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt.,
firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ
اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya
Kami-lah pemeliharanya. (Al-Hijr
[15]:10).
Janji
mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam
ayat ini telah genap dengan cara yang
sangat menakjubkan, sehingga
sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya
sudah cukup membuktikan bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt..
Surah ini diturunkan di Mekkah
(Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit
keadaannya, dan musuh-musuh
dengan mudah dapat menghancurkan agama
yang baru itu. Ketika itulah orang-orang
kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt. akan menggagalkan
segala tipu-daya mereka sebab Dia
sendirilah Penjaganya.
Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar,
sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan
Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.
Sir William Muir, sarjana ahli
kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat
menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa “tiap-tiap
ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak
mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari
dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri
siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka
yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci
kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
Prof. Noldeke, ahli ketimuran
besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya
sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica).
Kegagalan
mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian
teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran
da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab
suci yang diwahyukan hanya Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia.
Para Ulama Bani Israil Mengetahui Nubuatan-nubuatan Mengenai Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan Wahyu Al-Quran
Dengan demikian benarlah
pernyataan Allah Swt. berikut ini bahwa para
‘ulama Bani Israil sangat mengetahui
nubuatan-nubuatan kedatangan
Nabi Besar Muhammad saw. dari
kalangan Bani Isma’il bagaikan
mengetahui anak-anak mereka sendiri
(QS.2:147; QS.6:21), firman-Nya:
وَ
اِنَّہٗ لَتَنۡزِیۡلُ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ نَزَلَ بِہِ
الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾ بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ﴿﴾ؕ وَ اِنَّہٗ
لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ
اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh
alam. نَزَلَ بِہِ
الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ -- Telah turun dengannya Ruh
yang terpercaya, عَلٰی قَلۡبِکَ
لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ -- atas
kalbu engkau, supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan, بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ -- dengan bahasa Arab yang jelas. وَ
اِنَّہٗ لَفِیۡ زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu. اَوَ لَمۡ یَکُنۡ لَّہُمۡ
اٰیَۃً اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا
بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan tidakkah
ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā
[26]:193-198).
Ayat 192
bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala
baru. Seperti amanat-amanat para nabi
Allah yang dikemukakan dalam ayat-ayat sebelumnya, amanat
Al-Quran juga telah diwahyukan
oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan
bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada
kaum masing-masing -- termasuk Nabi
Musa a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-89; QS.61:6-7) -- sedang Al-Quran
diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia,
sebab: وَ اِنَّہٗ لَتَنۡزِیۡلُ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ yakni Al-Quran
“diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
Dalam ayat selanjutnya نَزَلَ
بِہِ الرُّوۡحُ الۡاَمِیۡنُ -- “telah
turun dengannya Ruh yang terpercaya” diterangkan bahwa malaikat yang membawa wahyu Al-Quran -- yaitu malaikat Jibril a.s. -- disebut rūhul-amīn, yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat lain
disebut Rūhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan kedua (Rūhul-qudus) dipergunakan
dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan
yang kekal-abadi dan mutlak dari
setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn)
mengandung arti, bahwa Al-Quran akan
terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi
terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya (QS.15:10).
Nama kehormatan (Rūhul-Amīn)
ini secara khusus telah dipergunakan
berkenaan dengan wahyu Al-Quran,
sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya; sehingga kata-kata dalam kitab-kitab suci sebelumnya itu oleh karena berlalunya masa telah
menderita campur tangan manusia dan perubahan.
Sungguh menajubkan bahwa di
Mekkah Nabi Besar Muhammad saw. sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si
benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan
Ilahi dan betapa besar kesaksian
mengenai keterpercayaan Al-Quran,
karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn
(Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibril a.s. kepada seorang amin, yaitu Nabi Besar Muhammad saw. yakni “nabi yang seperti Musa” (Ulangan
18:18; QS.46:11).
Kata-kata عَلٰی قَلۡبِکَ --“atas kalbu engkau”
telah dibubuhkan untuk mengatakan bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan gagasan yang dicetuskan Nabi Besar Muhammad saw. dengan perkataan beliau saw. sendiri,
melainkan benar-benar Kalam Allah
Swt. Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw. dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. (QS.53:1-8).
Makna ayat selanjutnya: وَ اِنَّہٗ لَفِیۡ
زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ -- “dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab terdahulu.” Hal diutusnya Nabi Besar Muhammad saw. dan hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan
dalam kitab-kitab suci terdahulu.
Kabar-kabar gaib (nubuatan-nubuatan) tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible
—yang merupakan kitab suci yang paling dikenal
dan paling luas dibaca di antara
seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran,
dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat—
mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan
18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk
3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
Mengisyaratkan kepada kenyataan
itulah selanjutnya Allah Swt. dengan tegas menyatakan: اَوَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً اَنۡ
یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan tidakkah
ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā
[26]:198), dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman kepada Nbai Besar Muhammad
saw.:
قُلۡ مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ
الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ مَا یُفۡعَلُ
بِیۡ وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ وَ مَاۤ اَنَا
اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾ قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
"Aku sekali-kali bukan rasul baru
di antara rasul-rasul, dan aku sekali-kali tidak mengetahui apa yang akan diperbuat Allah
ter-hadapku atau pun terhadap kamu.
Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan
kepadaku, dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang nyata."
قُلۡ
اَرَءَیۡتُمۡ اِنۡ کَانَ مِنۡ
عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ -- Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran
ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ -- dan seorang saksi dari antara Bani
Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya lalu ia
beriman tetapi kamu berlaku sombong?"
اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.(Az-Zukhruf [43]:10-11).
Yang dimaksud dengan saksi
dari antara Bani Israil adalah Nabi Musa a.s.. Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan
kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. itulah yang telah diisyaratkan dalam
ayat ini. Adapun nubuatan itu
berbunyi sebagai berikut:
18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan
mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak mendengarkan
segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut
pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang nabi, yang
terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan
untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati, (Ulangan
18:18-20).
Ancaman
Keras Allah Swt. Bagi Para Pendusta dan yang Mendustakan
Kebenaran (Rasul Allah)
(4)
Kalimat dalam Ulangan: 18:19 Orang yang tidak
mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya akan
Kutuntut pertanggungjawaban.” Peringatan
keras Allah Swt. tersebut sangat tepat, sebab orang-orang yang tidak mendengarkan “segala firman Allah” – dalam wujud wahyu
Al-Quran -- yang dikemukakan oleh “Nabi yang seperti Musa” (Nabi Besar Muhammad saw. sama dengan tidak
mau mendengar firman Allah Swt., dan akibatnya “dari
padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban” sesuai dengan firman-Nya
dalam Al-Quran:
فَمَنۡ
اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ
کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ
مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا
جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ
ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ
مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی
اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ ادۡخُلُوۡا
فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ
مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ ؕ کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا ؕ حَتّٰۤی اِذَا
ادَّارَکُوۡا فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ
اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ ۬ؕ قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ
وَّ لٰکِنۡ لَّا تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَتۡ
اُوۡلٰىہُمۡ لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ فَذُوۡقُوا
الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ ﴿٪﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ اَبۡوَابُ
السَّمَآءِ وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ
الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ
نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah yang lebih zalim daripada
orang yang mengada-adakan
kedustaan terhadap Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka akan
memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan
Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata: ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata:
“Mereka telah lenyap dari kami.” Dan
mereka memberi
kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. Dia
berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Api
bersama umat-umat jin dan ins (manusia)
yang telah berlalu sebelum kamu.”
Setiap kali suatu umat masuk, umat
itu akan mengutuk saudara-saudaranya
dari umat lain, hingga apabila
mereka semua telah tiba berturut-turut di dalamnya, maka mereka
yang terakhir berkata
mengenai mereka yang terdahulu: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, mereka ini telah
menyesatkan kami, karena itu berilah
mereka azab Api
berlipat-ganda.” Dia berfirman: “Bagi
masing-masing mendapat azab berlipat
ganda, akan tetapi kamu
tidak mengetahui.” Dan mereka yang terdahulu berkata kepada mereka yang terakhir: “Tidak ada bagi kamu suatu kelebihan atas kami, maka rasakanlah azab itu disebabkan oleh apa yang senantiasa kamu lakukan.” اِنَّ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ اَبۡوَابُ السَّمَآءِ وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ
الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Sesungguhnya orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, tidak
akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga hingga unta
masuk ke lubang jarum, dan demikianlah
Kami membalas orang-orang yang
berdosa. لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ وَّ
مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ -- Bagi mereka ada hamparan
Jahannam sedangkan di atas
mereka ada selimut Jahannam, dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim. (Al-A’rāf
[7]:38-42).
Makna
ayat: اِنَّ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ اَبۡوَابُ
السَّمَآءِ وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ
حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- “Sesungguhnya orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, tidak
akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga hingga unta
masuk ke lubang jarum, dan demikianlah
Kami membalas orang-orang yang
berdosa.” Jamal (unta)
juga dapat diartikan seutas tali,
sebab tali mempunyai persamaan lebih
dekat dengan benang yang dimasukkan
ke dalam lobang jarum.
Makna ayat tersebut bahwa mustahil
bagi para pengingkar Tanda-tanda Ilahi
-- yaitu para penentang rasul Allah -- masuk
surga -- semustahil unta
dapat masuk ke lubang jarum, sebagaimana juga pernyataan Yesus
dalam Matius 19:16-26
mengenai seorang pemuda yang kaya
yang ingin masuk surga tetapi menolak menjual harta kekayaannya untuk mengkhidmati orang-orang miskin:
19:23 Yesus
berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan
Sorga. 19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
26 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar