Senin, 28 November 2016

Ancaman Allah Swt. Bagi Para Penentang "Nabi yang Seperti Musa" (Nabi Besar Muhammad Saw.) yang Nubuatan-nubuatannya Diketahui Para Ulama Bani Israil & Kemustahilan "Unta Masuk Lubang Jarum"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  70   

 ANCAMAN ALLAH SWT. BAGI  PARA PENENTANG   “NABI  YANG SEPERTI MUSA” (NABI BESAR MUHAMMAD  SAW.)   YANG NUBUATAN-NUBUATANNYA DIKETAHUI PARA ‘ULAMA BANI ISRAIL  & KEMUSTAHILAN UNTA MASUK LUBANG JARUM

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam   Bab 69 dikemukakan   penjelasan  2 point     nubuatan dalam Bible  mengenai kedatangan “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:15-20) yaitu Nabi Besar Muhammad saw. yang muncul dari kalangan Bani Isma’il  (QS.46:11):   
18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,  sama seperti aku , akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.  18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,    dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.  18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,  dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.   18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati.   (Ulangan 18:15-20).

Roh Kebenaran” yang Akan Membawa “Seluruh Kebenaran

         (3)  Makna kalimat:  18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,    dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
      Kalimat “Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,    dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya  selaras dengan pernyataan  Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dalam Injil  Yohanes 16:12-13:
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.   16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,   Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran ;  sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
      Sebutan “Roh Kebenaran  yang “akan memimpin  ke dalam seluruh kebenaran” sama sekali tidak dapat dikenakan kepada nubuatan  kedatangan kedua kali Yesus (Mesias) di Akhir Zaman ini (Matius  24:23-31) karena beliau dengan tegas menyatakan bahwa misi kenabiannya hanya untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi  serta beliau diutus hanya  untuk kaum Bani Israil saja (Matius 5:17-20; QS.61:7):
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya .   5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.   5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat   sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga . 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar  dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
       Dengan demikian sebutan “Roh Kebenaran” yang  akan memimpin  ke dalam seluruh kebenaran  yang dikemukakan Yesus  (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) hanya cocok untuk  Nabi Besar Muhammad saw., sesuai  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang  apabila  jatuh.  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی --  Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی    -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  -- Perkataannya itu tidak lain melainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --   Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  --    Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی --   dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati AllAh, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.  (An-Najm [53]:1-11).
   Jadi, kembali kepada   nubutan dalam Ulangan 18:15-19, ungkapan “segala yang Kuperintahkan kepadanya  dan kepada nubuatan Yesus mengenai kedatangan “Roh Kebenaran” yang akan “membawa seluruh kebenaran” (Yohanes 16:12-13) mengisyaratkan kepada kepada kesempurnaan syariat Islam (Al-Quran) sebagai agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna, yang diwahyukan  Allah Swt. kepada  Nabi yang seperti Musa” atau “Roh Kebenaran” yang membawa “seluruh kebenaran”,  yakni Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu,  dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).

Al-Quran Mendapat Jaminan Pemeliharaan Allah Swt.

        Itulah sebabnya berbeda dengan syariat-syariat atau kitab-kitab suci sebelumnya  syariat Islam (Al-Quran)  -- sebagai syariat dan Kitab suci yang berlaku sampai Hari Kiamat  -- mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.   (Al-Hijr [15]:10).
        Janji mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan  bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt..  
     Surah ini diturunkan di Mekkah (Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw.   beserta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu. Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt.  akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia sendirilah Penjaganya.
       Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.
      Sir William Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa  tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
       Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica).
  Kegagalan mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab suci yang diwahyukan  hanya Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia.

Para Ulama  Bani Israil Mengetahui Nubuatan-nubuatan Mengenai Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan Wahyu Al-Quran

      Dengan demikian benarlah pernyataan Allah Swt. berikut ini bahwa para ‘ulama Bani Israil sangat mengetahui  nubuatan-nubuatan    kedatangan  Nabi Besar Muhammad saw. dari kalangan Bani Isma’il bagaikan mengetahui anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21), firman-Nya:
وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ؕ  نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ ﴿﴾ۙ  عَلٰی قَلۡبِکَ   لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ ﴿﴾  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ﴿﴾ؕ وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿﴾ؕ   
Dan sesungguhnya Al-Quran ini diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam. نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ  --   Telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya, عَلٰی قَلۡبِکَ لِتَکُوۡنَ مِنَ الۡمُنۡذِرِیۡنَ --   atas kalbu engkau,  supaya engkau termasuk di antara para pemberi peringatan,  بِلِسَانٍ عَرَبِیٍّ مُّبِیۡنٍ --    dengan bahasa Arab yang jelas.  وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ  -- Dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab  terdahulu.  اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --  Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā [26]:193-198).
       Ayat 192   bermaksud mengatakan bahwa wahyu Al-Quran bukanlah suatu gejala baru. Seperti amanat-amanat para nabi Allah yang dikemukakan dalam ayat-ayat sebelumnya,  amanat Al-Quran juga telah diwahyukan oleh Allah Swt., tetapi dengan perbedaan bahwa nabi-nabi terdahulu dikirim kepada kaum masing-masing  -- termasuk Nabi Musa a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.2:88-89; QS.61:6-7)  --  sedang Al-Quran diturunkan untuk seluruh bangsa di dunia, sebab:  وَ  اِنَّہٗ   لَتَنۡزِیۡلُ  رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ yakni  Al-Quran “diturunkan oleh Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
      Dalam ayat selanjutnya نَزَلَ  بِہِ  الرُّوۡحُ  الۡاَمِیۡنُ  --   “telah turun dengannya  Ruh yang terpercaya  diterangkan bahwa   malaikat yang membawa wahyu Al-Quran  -- yaitu malaikat Jibril a.s. --  disebut rūhul-amīn, yaitu Ruh yang terpercaya. Di tempat lain disebut Rūhul-qudus (QS.16:103), yakni ruh suci. Nama kehormatan kedua (Rūhul-qudus) dipergunakan dalam Al-Quran untuk menunjuk kepada kebebasan yang kekal-abadi dan mutlak dari setiap kekeliruan atau noda; dan penggunaan nama kehormatan yang pertama (Rūhul-Amīn) mengandung arti, bahwa Al-Quran akan terus-menerus mendapat perlindungan Ilahi terhadap segala usaha yang merusak keutuhan teksnya (QS.15:10).
       Nama kehormatan (Rūhul-Amīn)  ini secara khusus telah dipergunakan berkenaan dengan wahyu Al-Quran, sebab janji pemeliharaan Ilahi yang kekal-abadi tidak diberikan kepada kitab-kitab suci lainnya;  sehingga kata-kata dalam kitab-kitab  suci sebelumnya  itu oleh karena berlalunya masa telah menderita campur tangan manusia dan perubahan.
       Sungguh menajubkan  bahwa di Mekkah   Nabi Besar Muhammad saw.   sendiri dikenal sebagai Al-Amīn (si benar; terpercaya). Betapa besar penghormatan Ilahi dan betapa besar kesaksian mengenai keterpercayaan Al-Quran, karena wahyu Al-Quran dibawa oleh Rūhul-amīn (Ruh yang terpercaya) yakni Malaikat Jibril a.s.  kepada seorang amin, yaitu Nabi Besar Muhammad saw.  yakni “nabi yang seperti Musa” (Ulangan 18:18; QS.46:11).
      Kata-kata عَلٰی قَلۡبِکَ     --“atas kalbu engkau” telah dibubuhkan untuk mengatakan  bahwa wahyu-wahyu Al-Quran bukan   gagasan yang dicetuskan  Nabi Besar Muhammad saw.   dengan perkataan beliau  saw. sendiri, melainkan benar-benar Kalam Allah Swt.    Sendiri, yang turun kepada hati beliau saw.  dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. (QS.53:1-8).
      Makna ayat selanjutnya:    وَ  اِنَّہٗ  لَفِیۡ  زُبُرِ الۡاَوَّلِیۡنَ  -- “dan sesungguhnya Al-Quran benar-benar tercantum di dalam kitab-kitab  terdahulu.”   Hal diutusnya  Nabi Besar Muhammad saw.  dan hal turunnya Al-Quran, kedua-duanya telah dinubuatkan dalam kitab-kitab suci terdahulu. Kabar-kabar gaib (nubuatan-nubuatan) tentang itu kita dapati dalam Kitab-kitab hampir setiap agama, akan tetapi Bible —yang merupakan kitab suci yang paling dikenal dan paling luas dibaca di antara seluruh kitab wahyu sebelum Al-Quran, dan juga karena merupakan pendahulunya dan dalam kemurniannya  konon merupakan rekan sejawat, kitab syariat— mengandung paling banyak jumlah nubuatan demikian. Lihat Ulangan 18:18 dan 33:2; Yesaya 21:13-17; Amtsal Solaiman 1:5-6; Habakuk 3:7; Matius 21:42-45 dan Yahya 16:12-14.
      Mengisyaratkan kepada kenyataan itulah selanjutnya Allah Swt. dengan tegas menyatakan: اَوَ لَمۡ  یَکُنۡ لَّہُمۡ اٰیَۃً  اَنۡ یَّعۡلَمَہٗ عُلَمٰٓؤُا بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ  --  Dan tidakkah ini merupakan satu Tanda bagi mereka bahwa ulama-ulama Bani Israil pun mengetahuinya? (Asy-Syu’arā [26]:198), dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman kepada Nbai Besar Muhammad saw.:
قُلۡ مَا کُنۡتُ بِدۡعًا مِّنَ الرُّسُلِ وَ مَاۤ اَدۡرِیۡ  مَا یُفۡعَلُ بِیۡ  وَ لَا بِکُمۡ ؕ اِنۡ  اَتَّبِعُ اِلَّا مَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ وَ مَاۤ  اَنَا  اِلَّا نَذِیۡرٌ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾  قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Aku sekali-kali bukan rasul baru di antara rasul-rasul, dan  aku  sekali-kali tidak  mengetahui apa yang akan diperbuat Allah ter-hadapku atau pun terhadap kamu.  Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku, dan aku tidak lain hanyalah  seorang pemberi peringatan yang nyata." قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ      -- Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ     -- dan   seorang saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia beriman tetapi kamu berlaku sombong?" اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ  --  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.(Az-Zukhruf [43]:10-11).
       Yang dimaksud dengan  saksi dari antara Bani Israil adalah Nabi Musa a.s.. Kepada nubuatan beliau berkenaan dengan kedatangan  Nabi Besar Muhammad saw.  itulah yang telah diisyaratkan dalam ayat ini. Adapun nubuatan itu berbunyi sebagai berikut:
 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.  18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,  dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.   18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati,  (Ulangan 18:18-20).

Ancaman Keras Allah Swt. Bagi Para Pendusta  dan yang Mendustakan Kebenaran (Rasul Allah)

   (4) Kalimat dalam Ulangan: 18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,  dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.  Peringatan keras Allah Swt. tersebut sangat tepat, sebab  orang-orang yang tidak mendengarkan “segala firman Allah” – dalam wujud  wahyu Al-Quran   --  yang dikemukakan oleh “Nabi yang seperti Musa” (Nabi Besar Muhammad saw. sama dengan   tidak mau  mendengar  firman Allah Swt., dan akibatnya “dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban   sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Quran:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ ادۡخُلُوۡا فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ ؕ کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ  لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا ؕ حَتّٰۤی اِذَا ادَّارَکُوۡا فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ  لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ ۬ؕ قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ وَّ لٰکِنۡ  لَّا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَتۡ اُوۡلٰىہُمۡ لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ ﴿٪﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ  وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata:   Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir.   Dia berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Api bersama umat-umat jin dan ins (manusia) yang telah berlalu sebelum kamu.” Setiap kali suatu umat masuk, umat itu akan mengutuk saudara-saudaranya dari umat lain, hingga apabila mereka semua telah tiba berturut-turut di dalamnya, maka  mereka yang terakhir  berkata mengenai mereka yang terdahulu: “Ya Rabb (Tuhan) kami, mereka ini telah menyesatkan kami, karena itu berilah mereka  azab Api berlipat-ganda.” Dia berfirman: “Bagi masing-masing mendapat azab berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.”  Dan mereka yang terdahulu berkata kepada mereka yang terakhir: “Tidak ada bagi kamu suatu kelebihan  atas kami, maka rasakanlah azab itu disebabkan oleh apa yang senantiasa  kamu lakukan.”       اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  Sesungguhnya  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan  takabur berpaling darinya,  tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga  hingga unta masuk ke lubang jarum,   dan demikianlah Kami membalas  orang-orang  yang  berdosa. لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ  وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ  --   Bagi mereka ada hamparan   Jahannam sedangkan di atas mereka ada selimut Jahannam, dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim. (Al-A’rāf [7]:38-42).
 Makna ayat:  اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  “Sesungguhnya  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan  takabur berpaling darinya,  tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga  hingga unta masuk ke lubang jarum,   dan demikianlah Kami membalas  orang-orang  yang  berdosa.”  Jamal (unta) juga dapat diartikan seutas tali, sebab tali mempunyai persamaan lebih dekat dengan benang yang dimasukkan ke dalam lobang jarum.
  Makna ayat tersebut bahwa  mustahil bagi para pengingkar Tanda-tanda Ilahi  -- yaitu para penentang rasul Allah  -- masuk surga --  semustahil   unta dapat masuk ke lubang jarum, sebagaimana juga  pernyataan Yesus dalam Matius 19:16-26 mengenai seorang pemuda yang kaya yang ingin masuk surga tetapi menolak menjual harta kekayaannya untuk mengkhidmati orang-orang miskin:
 19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya   untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  26 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar