Sabtu, 19 November 2016

Mewujudkan Nubuatan "Kejayaan Islam" Kedua Kali di Akhir Zaman Melalui "Da'wah Ilallah" (Menyeru Kepada Allah) yang Rasional dan Mencerahkan Ruhani & Mengembalikan Kemuliaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Sebagai Rasul Allah Bagi Bani Israil



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 64

MEWUJUDKAN NUBUATAN “KEJAYAAN ISLAM” KEDUA KALI  DI AKHIR ZAMAN MELALUI DA’WAH  ILALLÂH (MENYERU KEPADA ALLAH) YANG RASIONAL DAN MENCERAHKAN RUHANI & MENGEMBALIKAN KEMULIAAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. SEBAGAI RASUL ALLAH BAGI BANI ISRAIL

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 63 dikemukakan  mengenai    Makna Lain “Beriman Kepada Akhirat berkenaan cici-ciri orang-orang bertakwa bahwa selain “beriman kepada yang gaib” kepada “akhirat pun mereka yakin” (QS.2:1-5).  Al-ākhirah (akhirat)  dalam ayat:  وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada  akhirat    pun mereka   yakin (QS.2:5) berarti:
     (1) tempat tinggal ukhrawi, yaitu  kehidupan di hari kemudian setelah manusia mengalami kematian.   Akhirat dalam makna ini telah tercakup  dalam ayata “beriman kepada yang gaib”, sebab  adanya Allah Swt., para malaikat  dan  adanya “kehidupan sesudah mati  merupakan hal-hal yang “gaib”.
      (2)  Mengingat ayat sebelumnya  menerangkan pentingnya  beriman kepada  Nabi Besar Muhammad saw. dan  beriman para  rasul Allah yang telah diutus  sebelum beliau saw. (QS.7:35-37, maka makna  lain  al-akhirah  dari ayat  وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada  akhirat    pun mereka   yakin   juga berarti beriman kepada rasul Allah dan wahyu yang akan datang.
     Arti kedua kata itu lebih lanjut diuraikan dalam QS.62:3-4; di sana Al-Quran menyebut dua kebangkitan  (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw.    Kedatangan beliau saw. untuk pertama kali terjadi di tengah orang-orang Arab dalam abad ke-7 Masehi, ketika Al-Quran diwahyukan kepada beliau saw., dan kedatangan beliau saw. yang kedua secara ruhani  terjadi di Akhir Zaman dalam wujud seorang dari antara para pengikut  hakiki beliau saw.. Nubuatan ini menjadi sempurna dalam wujud  Mirza Ghulam Ahmad a.s.  yakni Masih Mau’ud a.s.,   Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ    وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).

Kesempurnaan Quwat Qudsiyah (Daya Pensucian Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw.
    Ayat 3 menjelaskan bahwa tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.  saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾        
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ  --  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ --  walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata (Al-Jumu’ah [62]:3).
  Ada pun tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau, sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika   --  disertai putranya, Nabi Isma’il   a.s., -- beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130) dengan  penyebutan urutan tugas yang sedikit berbeda:
رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ   وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
 “Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab  dan hikmah kepada mereka وَ یُزَکِّیۡہِمۡ   -- serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:130).
      Nabi Ibrahim a.s. menyebut urutan tugas rasul Allah yang akan  dibangkitkan di kalangan Bani Ismail dengan urutan yang  sangat logis  -- yakni  sebagai hasil dari 3 urutan tugas  sebelumnya  menghasilkan kesucian akhlak dan ruhani kaumnya:  وَ یُزَکِّیۡہِمۡ   --  “serta akan mensucikan mereka”;  tetapi dalam kenyataannya  Nabi Besar Muhammad saw. dengan melaksanakan tugas yang pertama berupa    یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ   --  membacakan Ayat-ayat (Tanda-tanda) Allah telah mengakibatkan:  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ     -- “ mensucikan mereka”.
       Kenyataan tersebut membuktikan  kesempurnaan akhlak dan ruhani serta  quwat qudsiyah  (daya pensucian ruhani)  Nabi Besar Muhammad saw., karena pada hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quwat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa , yang kepada mereka itu  Nabi Besar Muhammad saw. mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa lain sesuai missi kerasulan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai rahmat untuk seluruh alam (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).
   Didikan yang  Nabi Besar Muhammad saw.  berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan falsafah ajaran beliau saw.  menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh surah Al-Jumu’ah ayat 3.

Mewujudkan Nubuatan  “Kejayaan Islam”  Kedua Kali

  Ada pun makna ayat selanjutnya:  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana  (Al-Jumu’ah ayat 4), karena  Nabi Besar Muhammad saw.    adalah rasul Allah untuk seluruh umat manusia (QS.21:108),  oleh sebab itu  ajaran beliau saw. (Al-Quran) bukan hanya  ditujukan bukan kepada bangsa Arab  saja -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau  saw. dibangkitkan  -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga.  Demikian juga  bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw. saja   melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia (Bani Adam  -- QS.7:35-37). yang akan datang hingga Hari Kiamat.
    Atau ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana     dapat juga berarti bahwa   Nabi Besar Muhammad saw.  akan dibangkitkan  lagi secara ruhani di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (para sahabah) semasa hidup beliau saw..
    Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  ntuk kedua kali dalam wujud   Masih Mau’ud  a.s.  di Akhir Zaman ini. Abu Hurairah r.a.  berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.   ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ   --  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – ketika itu Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
  Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. sambil meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
   Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  tersebut menunjukkan bahwa ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ    -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka   dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.

Pencabutan Sementara “Ruh” Al-Quran dari Umat Islam

    Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi),  sesuai dengan nubuatan dalam QS.17:86-89; QS.32:6 berkenaan dengan “ruh” manusia  dan   pencabutan ruh  Al-Quran, firman-Nya:
یُدَبِّرُ الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ  اِلَی الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿ ﴾ ذٰلِکَ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ  الۡعَزِیۡزُ الرَّحِیۡمُ ۙ﴿ ﴾
Dia mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun dari apa yang kamu hitung.  Demikian itulah  Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa, Maha Penyayang, (As-Sajdah [32]:6)
      Ayat ini menunjuk kepada suatu pancaroba sangat hebat  yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
     Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah menyinggung secara jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya, kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi & Bukhari, Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan kemenangan yang tiada henti-hentinya. Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya ber-langsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ  اِلَیۡہِ  فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ  مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ  --  “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”

Pengambilan Kembali “Ruh” Al-Quran di Akhir Zaman Oleh Masih Mau’ud a.s.

      Dalam hadits lain Nabi Besar Muhammad saw.  – sehubungan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-5 sebelum ini -- diriwayatkan pernah bersabda bahwa iman akan terbang ke Bintang Tsuraya dan seseorang dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
    Dengan kedatangan   Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah    dalam abad ke-14 sesudah Hijrah, laju kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan Islam kembali mulai berlaku sampai genapnya nubuatan dalam firman-Nya berikut ini:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau semua agama muncul  dan berlomba-lomba menablighannya  kepada pihak lain, dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian.
  Sampai saat ini Jemaat Muslim Ahmadiyah telah tersebar lebih dari 210 negara di dunia  dalam satu kepemimpinan ruhani dan satu kesatuan umat  serta satu persaudaraan ruhani   sebagaimana di zaman  Nabi besar Muhammad saw. dan para Khulafatur Rasyidin  dengan motto LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE (Cinta untuk semua dan kebencian tidak untuk siapa pun) sesuai misi “rahmat bagi seluruh alam” pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahwasa-nya  Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya hendaknya kamu berserah diri” (Al-Anbiya [21]:108-109).

Semata-mata Karunia Allah Swt. & Menyeru  Umat Manusia Kepada Tauhid Ilahi Hakiki

   Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa  Surah Al-Jumu’ah ayat 4  menunjuk kepada kedatangan kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw.  dalam wujud   Masih Mau’ud a.s.  sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan  nama (sebutan) yang berbeda-beda (QS.77:12) guna mengajak semua umat beragama kepada agama yang hakiki (Islam) dalam rangka mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali dengan cara-cara yang  penuh rahmat (QS.61:10).
   Semua itu terjadi semata-mata karena:  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar   (Al-Jumu’ah [62]:5).
Dalam kapasitas sebagai Masih Mau’ud a.s.  atau misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) itulah beliau mengoreksi berbagai penyimpangan   terhadap ajaran asli dalam Injil  Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah kewafatan beliau (QS.5:117-119), antara lain mengenai “Trinitas” dan “penebusan dosa”, firman-Nya:
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا  لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ  وَلَدٌ ۘ لَہٗ  مَا  فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا  فِی  الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا ﴿﴾٪  لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ  اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang haq (benar). اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ  -- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya  yang diturunkan kepada Maryam, dan  ruh  dari-Nya, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ  --  maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا  لَّکُمۡ  -- dan janganlah kamu  mengatakan: “Tuhan itu tiga”, berhentilah, itu lebih baik bagi kamu. ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ  وَلَدٌ ۘ لَہٗ  مَا  فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا  فِی  الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا -- Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.  Maha Suci Dia dari memiliki  anak. Milik-Nya apa pun  yang ada di seluruh langit dan   apa  pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ  --     Al-Masih tidak pernah   merasa hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya,  وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ  اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا  -- dan barangsiapa merasa hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku takabur maka Dia akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (An-Nisa [4]:172-173).

Membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. dari  Noda Penghinaan” yang Difatwakan Para Pemuka Yahudi

   Rūh dalam ayat  اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ  -- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya  yang diturunkan kepada Maryam, dan  ruh  dari-Nya berarti:  ruh atau jiwa, nafas yang memenuhi seluruh jisim, dan apabila nafas berhenti  maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham; Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane).
   Dari berbagai arti rūh dan kalimah tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada kedudukan ruhani yang istimewa pada Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.  Kata-kata itu dan ucapan-ucapan lainnya yang seperti itu dipakai dalam Al-Quran mengenai nabi-nabi Allah lainnya, dan juga mengenai orang-orang shalih lainnya seperti Siti Maryam (QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23).
  Kata-kata itu telah dipergunakan untuk membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam a..  dan ibunya, Siti Maryam,  dari noda-noda yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi kepada kedua mereka itu dan bukan memberikan kepada mereka suatu kedudukan ruhani istimewa melebihi para rasul Allah lainnya   sebagai “Tuhan”, “anak Tuhan” dan “ibu Tuhan”, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allāh?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakanapa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,   sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ   و رَبَّکُمۡ   -- Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah ke-pada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku)  dan Rabb (Tuhan) kamu.   Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku berada di antara mereka,  tetapi tatkala  Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.     Kalau Engkau mengazab mereka  maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).
    Ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ    -- “Kalau Engkau mengazab mereka  maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  -- dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana  menggugurkan “rekayasa” Paulus mengenai “Trinitas” dan “Penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas salib”, karena dalam kenyataannya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat secara wajar setelah menyelesaikan tugas beliau “mencari domba-domba (suku-suku) Bani Israil   yang tercerai berai di luar Palestina sampai ke wilayah Kasymir (Yohanes 10:10-14) dan beliau wafat  serta dikuburkan di sana dengan penuh kehormatan  (QS.23:51),kenyataan tersebut  bertentangan dengan  keinginan para pemuka Yahudi yang berusaha membunuh beliau melalui penyaliban  agar beliau disebut sebagai “orang yang terkutuk” (QS.4:158-159; Ulangan 21:23).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  18 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar