Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
64
MEWUJUDKAN NUBUATAN “KEJAYAAN ISLAM” KEDUA
KALI DI AKHIR ZAMAN MELALUI DA’WAH ILALLÂH (MENYERU KEPADA ALLAH) YANG RASIONAL DAN MENCERAHKAN RUHANI & MENGEMBALIKAN KEMULIAAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. SEBAGAI RASUL ALLAH BAGI BANI ISRAIL
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 63 dikemukakan mengenai Makna Lain “Beriman Kepada
Akhirat” berkenaan cici-ciri orang-orang bertakwa bahwa selain “beriman kepada
yang gaib” kepada “akhirat pun mereka
yakin” (QS.2:1-5). Al-ākhirah (akhirat) dalam ayat:
وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada
akhirat pun mereka
yakin” (QS.2:5) berarti:
(1) tempat tinggal ukhrawi, yaitu kehidupan di hari kemudian setelah manusia mengalami kematian. Akhirat dalam makna ini telah tercakup dalam ayata “beriman kepada yang gaib”, sebab
adanya Allah Swt., para malaikat
dan adanya “kehidupan sesudah mati”
merupakan hal-hal yang “gaib”.
(2) Mengingat ayat sebelumnya menerangkan pentingnya beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan beriman
para rasul
Allah yang telah diutus sebelum
beliau saw. (QS.7:35-37, maka makna
lain al-akhirah dari ayat
وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada
akhirat pun mereka
yakin” juga berarti beriman kepada rasul Allah
dan wahyu yang akan datang.
Arti kedua kata itu lebih lanjut diuraikan dalam QS.62:3-4; di sana
Al-Quran menyebut dua kebangkitan (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw. Kedatangan
beliau saw. untuk pertama kali terjadi di tengah orang-orang Arab dalam abad ke-7 Masehi,
ketika Al-Quran diwahyukan kepada
beliau saw., dan kedatangan beliau saw. yang kedua secara ruhani terjadi di Akhir Zaman dalam wujud seorang dari antara para pengikut hakiki beliau saw.. Nubuatan ini menjadi sempurna dalam wujud Mirza Ghulam Ahmad a.s. yakni Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang
telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ
-- Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Kesempurnaan Quwat
Qudsiyah (Daya Pensucian Ruhani) Nabi Besar Muhammad Saw.
Ayat 3 menjelaskan bahwa tugas suci Nabi Besar
Muhammad saw. saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia,
firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾
“Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang
rasul dari antara mereka,
yang membacakan kepada mereka
Tanda-tanda-Nya, وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ -- mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
mereka Kitab dan Hikmah, وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ -- walaupun sebelumnya mereka
berada dalam kesesatan yang nyata” (Al-Jumu’ah
[62]:3).
Ada pun tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau, sebab untuk
kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang
Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika -- disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., -- beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130) dengan
penyebutan urutan tugas yang
sedikit berbeda:
رَبَّنَا وَ
ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ
الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
“Ya Rabb
(Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang mengajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka وَ یُزَکِّیۡہِمۡ -- serta akan
mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:130).
Nabi Ibrahim a.s. menyebut urutan tugas rasul Allah yang akan dibangkitkan di kalangan Bani Ismail dengan urutan yang
sangat logis -- yakni
sebagai hasil dari 3 urutan tugas
sebelumnya menghasilkan kesucian akhlak dan ruhani kaumnya: وَ یُزَکِّیۡہِمۡ -- “serta
akan mensucikan mereka”; tetapi dalam kenyataannya Nabi Besar Muhammad saw. dengan melaksanakan
tugas yang pertama berupa یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ
-- “membacakan Ayat-ayat (Tanda-tanda) Allah”
telah mengakibatkan: وَ یُزَکِّیۡہِمۡ -- “ mensucikan mereka”.
Kenyataan
tersebut membuktikan kesempurnaan akhlak dan ruhani serta quwat qudsiyah (daya pensucian ruhani) Nabi Besar Muhammad saw., karena pada
hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat
benar-benar berhasil dalam misinya
bila ia tidak menyiapkan dengan contoh
mulia dan quwat-qudsiahnya (daya
pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa , yang kepada mereka itu Nabi Besar Muhammad saw. mula-mula mengajarkan
cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu, kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwahkan ajaran itu kepada bangsa
lain sesuai missi kerasulan Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai rahmat untuk
seluruh alam (QS.7:159; QS.21:108;
QS.25:2; QS.34:29).
Didikan
yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau saw. memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan falsafah ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. (QS.33:22) menciptakan di dalam diri
mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar
agama itulah yang diisyaratkan oleh surah Al-Jumu’ah
ayat 3.
Mewujudkan Nubuatan “Kejayaan Islam” Kedua Kali
Ada pun makna ayat selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ --
Dan juga akan membangkitkan-nya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Jumu’ah ayat 4), karena Nabi Besar Muhammad
saw. adalah rasul Allah untuk seluruh umat manusia (QS.21:108), oleh sebab itu ajaran
beliau saw. (Al-Quran) bukan hanya ditujukan
bukan kepada bangsa Arab saja -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau
saw. dibangkitkan -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga.
Demikian juga bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw.
saja melainkan juga kepada keturunan demi keturunan
manusia (Bani Adam -- QS.7:35-37). yang
akan datang hingga Hari Kiamat.
Atau ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ --
Dan juga akan membangkitkan-nya pada
kaum lain dari antara mereka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan
lagi secara
ruhani di antara kaum yang belum
pernah tergabung dalam para pengikut
(para sahabah) semasa hidup beliau saw..
Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits
Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. ntuk kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud
a.s. di Akhir Zaman ini. Abu Hurairah r.a. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ -- Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain
dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – ketika itu
Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya berulang-ulang mengajukan
pertanyaan itu, Rasulullah saw. sambil meletakkan tangan beliau pada Salman dan
bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari
mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. tersebut menunjukkan bahwa ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ -- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka ” dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan
Parsi. Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.
Pencabutan Sementara “Ruh” Al-Quran dari Umat Islam
Hadits Nabi Besar
Muhammad saw. lainnya
menyebutkan kedatangan Al-Masih pada
saat ketika tidak ada yang tertinggal
di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang
tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi), sesuai dengan nubuatan dalam QS.17:86-89; QS.32:6 berkenaan dengan “ruh” manusia dan
pencabutan ruh Al-Quran,
firman-Nya:
یُدَبِّرُ
الۡاَمۡرَ مِنَ السَّمَآءِ اِلَی
الۡاَرۡضِ ثُمَّ یَعۡرُجُ اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ
سَنَۃٍ مِّمَّا تَعُدُّوۡنَ ﴿ ﴾ ذٰلِکَ عٰلِمُ
الۡغَیۡبِ وَ الشَّہَادَۃِ الۡعَزِیۡزُ
الرَّحِیۡمُ ۙ﴿ ﴾
Dia
mengatur perintah dari langit sampai bumi, kemudian perintah
itu akan naik kepada-Nya dalam satu
hari, yang hitungan lamanya seribu
tahun dari apa yang kamu hitung.
Demikian itulah Tuhan Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, Maha Perkasa,
Maha Penyayang, (As-Sajdah
[32]:6)
Ayat ini menunjuk kepada
suatu pancaroba sangat hebat yang ditakdirkan akan menimpa Islam dalam perkembangannya yang penuh dengan perubahan itu. Islam akan melalui suatu masa kemajuan dan kesejahteraan yang mantap selama 3 abad pertama kehidupannya.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah menyinggung secara
jitu mengenai kenyataan itu dalam sabda beliau: “Abad terbaik ialah abad di kala aku hidup, kemudian abad berikutnya,
kemudian abad sesudah itu” (Tirmidzi
& Bukhari,
Kitab-usy-Syahadat). Islam mulai mundur
sesudah 3 abad pertama masa keunggulan dan
kemenangan yang tiada henti-hentinya.
Peristiwa kemunduran dan kemerosotannya ber-langsung dalam masa 1000 tahun berikutnya. Kepada masa 1000 tahun inilah, telah diisyaratkan
dengan kata-kata: ثُمَّ یَعۡرُجُ
اِلَیۡہِ فِیۡ یَوۡمٍ کَانَ
مِقۡدَارُہٗۤ اَلۡفَ سَنَۃٍ مِّمَّا
تَعُدُّوۡنَ -- “Kemudian perintah itu akan naik kepada-Nya
dalam satu hari, yang hitungan lamanya seribu tahun.”
Pengambilan Kembali “Ruh”
Al-Quran di Akhir Zaman Oleh Masih Mau’ud a.s.
Dalam hadits lain Nabi
Besar Muhammad saw. – sehubungan Surah Al-Jumu’ah ayat 3-5 sebelum ini -- diriwayatkan
pernah bersabda bahwa iman akan terbang
ke Bintang Tsuraya dan seseorang
dari keturunan Parsi akan mengembalikannya ke bumi (Bukhari, Kitab-ut-Tafsir).
Dengan kedatangan Masih
Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim
Ahmadiyah dalam
abad ke-14 sesudah Hijrah, laju
kemerosotannya telah terhenti dan kebangkitan
Islam kembali mulai berlaku sampai genapnya nubuatan dalam firman-Nya berikut ini:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ
بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ
لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan dengan agama yang benar supaya Dia meme-nangkannya atas semua agama,
walaupun orang musyrik tidak menyukai. (Ash-Shaf [61]:10).
Kebanyakan ahli
tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau
semua agama muncul dan berlomba-lomba
menablighannya kepada pihak lain, dan keunggulan Islam di atas semua
agama akan menjadi kepastian.
Sampai saat ini Jemaat Muslim Ahmadiyah telah tersebar
lebih dari 210 negara di dunia dalam satu kepemimpinan ruhani dan satu kesatuan umat serta satu persaudaraan ruhani
sebagaimana di zaman Nabi besar Muhammad saw. dan para Khulafatur Rasyidin dengan motto LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE (Cinta
untuk semua dan kebencian tidak untuk
siapa pun) sesuai misi “rahmat bagi
seluruh alam” pengutusan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku,
bahwasa-nya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya hendaknya kamu berserah diri” (Al-Anbiya
[21]:108-109).
Semata-mata Karunia Allah Swt. & Menyeru
Umat Manusia Kepada Tauhid Ilahi Hakiki
Jadi, Al-Quran dan hadits
kedua-duanya sepakat bahwa Surah Al-Jumu’ah ayat 4 menunjuk
kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. dalam wujud Masih Mau’ud a.s. sebagai Rasul
Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan nama (sebutan) yang berbeda-beda (QS.77:12) guna mengajak semua umat beragama kepada agama
yang hakiki (Islam) dalam rangka mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali dengan cara-cara yang penuh
rahmat (QS.61:10).
Semua itu terjadi semata-mata
karena: ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar” (Al-Jumu’ah [62]:5).
Dalam kapasitas sebagai Masih Mau’ud a.s. atau misal
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58) itulah beliau mengoreksi berbagai penyimpangan terhadap
ajaran asli dalam Injil Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. setelah kewafatan beliau (QS.5:117-119), antara
lain mengenai “Trinitas” dan “penebusan dosa”, firman-Nya:
یٰۤاَہۡلَ
الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ
عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی
مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا
تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا
لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ
لَہٗ وَلَدٌ ۘ لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا ﴿﴾٪ لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ
عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ
عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang haq (benar). اِنَّمَا
الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ
اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ -- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah
seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya yang
diturunkan kepada Maryam, dan ruh dari-Nya,
فَاٰمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- maka berimanlah
kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ
اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا لَّکُمۡ -- dan janganlah kamu mengatakan: “Tuhan itu tiga”,
berhentilah, itu lebih baik bagi kamu. ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ
وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ
وَلَدٌ ۘ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی
الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ
وَکِیۡلًا -- Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha
Suci Dia dari memiliki anak.
Milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ
الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ
الۡمُقَرَّبُوۡنَ
-- Al-Masih tidak pernah merasa
hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya, وَ مَنۡ
یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا -- dan barangsiapa merasa hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku takabur maka Dia akan mengumpulkan mereka semua
kepada-Nya. (An-Nisa [4]:172-173).
Membersihkan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. dari “Noda
Penghinaan” yang Difatwakan Para
Pemuka Yahudi
Rūh
dalam ayat اِنَّمَا
الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ
اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ
-- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu
Maryam hanyalah seorang rasul
Allah, suatu kalimat dari-Nya yang diturunkan kepada Maryam, dan ruh dari-Nya
berarti: ruh atau jiwa, nafas yang memenuhi seluruh jisim, dan
apabila nafas berhenti maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham; Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan
kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane).
Dari berbagai
arti rūh dan kalimah tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada kedudukan ruhani yang istimewa
pada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Kata-kata itu dan ucapan-ucapan lainnya yang
seperti itu dipakai dalam Al-Quran mengenai nabi-nabi
Allah lainnya, dan juga mengenai orang-orang
shalih lainnya seperti Siti Maryam
(QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23).
Kata-kata itu
telah dipergunakan untuk membersihkan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.. dan
ibunya, Siti Maryam, dari noda-noda yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi kepada kedua mereka
itu dan bukan memberikan kepada mereka suatu kedudukan ruhani istimewa
melebihi para rasul Allah lainnya sebagai
“Tuhan”, “anak Tuhan” dan “ibu Tuhan”,
firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ
لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu
Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku
sebagai dua tuhan selain Allāh?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakanapa yang
sekali-kali bukan hakku.
Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.
مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ
رَبِّیۡ و رَبَّکُمۡ -- Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku,
yaitu: ”Beribadahlah ke-pada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb
(Tuhan) kamu. Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku
berada di antara mereka, tetapi tatkala
Engkau telah
mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau
mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).
Ucapan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ -- “Kalau Engkau mengazab
mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Perkasa, Maha Bijaksana”
menggugurkan “rekayasa” Paulus mengenai “Trinitas” dan “Penebusan dosa”
melalui “kematian terkutuk Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s. di atas salib”,
karena dalam kenyataannya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat secara wajar
setelah menyelesaikan tugas beliau “mencari domba-domba (suku-suku) Bani Israil”
yang tercerai berai di luar Palestina sampai ke wilayah Kasymir (Yohanes
10:10-14) dan beliau wafat serta dikuburkan di sana dengan penuh kehormatan (QS.23:51),kenyataan tersebut bertentangan
dengan keinginan para pemuka Yahudi
yang berusaha membunuh beliau melalui
penyaliban agar beliau disebut sebagai “orang yang
terkutuk” (QS.4:158-159; Ulangan 21:23).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
18 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar