Selasa, 29 November 2016

Pentingnya Memahami Makna "Dua Kalimah Syahadat" Dalam Meraih "Perjumpaan" Dengan Allah Swt. & Tiga "Syarat" Cara Mencapai Tujuan "Perjalanan" Jasmani dan Ruhani



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab  71  

  PENTINGNYA MEMAHAMI MAKNA "DUA KALIMAH SYAHADAT” DALAM MERAIH “PERJUMPAAN” DENGAN ALLAH SWT.   & TIGA SYARAT  CARA MENCAPAI TUJUAN MELAKUKAN PERJALANAN  JASMANI DAN RUHANI

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  akhir  Bab 70 dikemukakan   penjelasan  2 point      Ancaman Keras Allah Swt. Bagi Para Pendusta  dan yang Mendustakan Kebenaran (Rasul Allah), sehubungan dengan:   
   (4) Kalimat dalam Ulangan: 18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,  dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.   Peringatan keras Allah Swt. tersebut sangat tepat, sebab  orang-orang yang tidak mendengarkan “segala firman Allah” – dalam wujud  wahyu Al-Quran   --  yang dikemukakan oleh “Nabi yang seperti Musa” (Nabi Besar Muhammad saw.) sama dengan   tidak mau  mendengar  firman Allah Swt., dan akibatnya “dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban   sesuai dengan firman-Nya dalam Al-Quran:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ ادۡخُلُوۡا فِیۡۤ  اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ ؕ کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ  لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا ؕ حَتّٰۤی اِذَا ادَّارَکُوۡا فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ  لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ ۬ؕ قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ وَّ لٰکِنۡ  لَّا  تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَتۡ اُوۡلٰىہُمۡ لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ ﴿٪﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ  وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata:   Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir.   Dia berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Api bersama umat-umat jin dan ins (manusia) yang telah berlalu sebelum kamu.” Setiap kali suatu umat masuk, umat itu akan mengutuk saudara-saudaranya dari umat lain, hingga apabila mereka semua telah tiba berturut-turut di dalamnya, maka  mereka yang terakhir  berkata mengenai mereka yang terdahulu: “Ya Rabb (Tuhan) kami, mereka ini telah menyesatkan kami, karena itu berilah mereka  azab Api berlipat-ganda.” Dia berfirman: “Bagi masing-masing mendapat azab berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.”  Dan mereka yang terdahulu berkata kepada mereka yang terakhir: “Tidak ada bagi kamu suatu kelebihan  atas kami, maka rasakanlah azab itu disebabkan oleh apa yang senantiasa  kamu lakukan.”       اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  Sesungguhnya  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan  takabur berpaling darinya,  tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga  hingga unta masuk ke lubang jarum,   dan demikianlah Kami membalas  orang-orang  yang  berdosa. لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ  وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ  --   Bagi mereka ada hamparan   Jahannam sedangkan di atas mereka ada selimut Jahannam, dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim. (Al-A’rāf [7]:38-42).

Kemustahilan Unta Masuk Lubang Jarum  & Ancaman Allah Swt. Kepada Para Nabi Palsu

 Makna ayat:  اِنَّ الَّذِیۡنَ  کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ  اَبۡوَابُ السَّمَآءِ  وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ   --  “Sesungguhnya  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan  takabur berpaling darinya,  tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga  hingga unta masuk ke lubang jarum,   dan demikianlah Kami membalas  orang-orang  yang  berdosa.”  Jamal (unta) juga dapat diartikan seutas tali, sebab tali mempunyai persamaan lebih dekat dengan benang yang dimasukkan ke dalam lobang jarum.
  Makna ayat tersebut bahwa  mustahil bagi para pengingkar Tanda-tanda Ilahi  -- yaitu para penentang rasul Allah  -- masuk surga --  semustahil   unta dapat masuk ke lubang jarum, sebagaimana juga  pernyataan Yesus dalam Matius 19:16-26 mengenai seorang pemuda yang kaya yang ingin masuk surga tetapi menolak menjual harta kekayaannya untuk mengkhidmati orang-orang miskin:
19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya   untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 19:24 Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
   (5) Kalimat Ulangan: 18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati    sesuai dengan firman-Nya berikut ini   berkenaan Nabi Besar Muhammad  saw., seandainya beliau saw.  Na’ūdzubillāh min dzālika   -- melakukan pendakwaan dusta, firman-Nya:
فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّہٗ  لَتَذۡکِرَۃٌ  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾  وَ اِنَّا  لَنَعۡلَمُ  اَنَّ مِنۡکُمۡ مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّہٗ  لَحَسۡرَۃٌ  عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan apa yang tidak kamu li-hat. Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia.    Dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit se-kali apa yang kamu percayai.   Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ   --   Al-Quran ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam.  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ  --    Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --  Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  --  kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ   -- Dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.   Dan sesungguhnya Al-Quran itu nasihat bagi orang-orang bertakwa.  Dan sesungguhnya Kami pasti mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan Al-Quran.  Dan sesungguhnya Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan bagi orang-orang kafir.   Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.  فَسَبِّحۡ  بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ  --   Maka Sucikanlah nama  Rabb (Tuhan) engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).
      Makna ayat:  فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ  -- “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ  -- dan apa yang tidak kamu lihat.”   Hal-hal yang nampak kepada kita bekerja di alam  jasmani ini, yakni kenyataan-kenyataan hidup yang dapat dilihat dan hal-hal yang tersembunyi dari pandangan mata, ialah akal dan kata-hati manusia, telah disinggung dalam ayat-ayat 39 dan 40 sebagai kesaksian-kesaksian guna membuktikan Al-Quran berasal dari Allah Swt.: اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ  -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia.” (Al-Hāqqah [69]:39-41).
  Atau ayat-ayat  39-40 itu dapat berarti bahwa Tanda-tanda agung yang disaksikan oleh orang-orang kafir di zaman  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan mata kepala mereka sendiri  serta   nubuatan-nubuatan mengenai  hari depan Islam yang gilang gemilang dan masih menunggu penyempurnaannya, merupakan dalil yang tidak dapat ditolak bahwa  Al-Quran itu benar-benar firman Allah Swt.  Sendiri yang telah diturunkan (diwahyukan) oleh-Nya kepada Nabi Agung, Muhammad Musthafa saw..
        Al-Quran membahas kenyataan-kenyataan hidup lagi pasti dan bukan impian-impian gila seorang penyair, bukan pula rekayasa dan terka-terkaan seorang juru nujum di dalam kegelapan:  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ --  “Dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai.  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ  --  Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat,  َنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ   --            “Al-Quran ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam   (Al-Hāqqah [69]:42-44).

Siapa pun Tidak Akan Bisa Menghindari Hukuman Allah Swt.

        Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai hukuman mengerikan  bagi para pendusta atas nama Allah: وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ  --    Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --  Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  --  kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ   --    Dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.  (Al-Hāqqah [69]:45-48).
      Dalam  ayat   ini dan dalam tiga ayat sebelumnya keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila  --  Na’ūdzubillāhi min dzālika -- Nabi Besar Muhammad saw. itu pendusta, maka tangan perkasa Allah Swt. pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw., dan pasti beliau  saw. telah menemui kematian yang hina, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu.
  Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini  agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20 namun dalam penyajian yang jauh lebih sempurna:
18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati.   (Ulangan 18:20).

Pentingnya  Memahami Makna  Dua Kalimah Syahadat”

       Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan gambaran kedekatan sempurna   antara  Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana yang digambarkan dalam surah An-Najm [53] berikut ini:  
وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾
Dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allah, lalu Dia kian dekat kepadanya,    maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur,  atau lebih dekat lagi Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:8-11).
       Kenyataan dalam firman Allah Swt. itulah yang dalam ajaran Islam diabadikan dalam bentuk Dua Kalimah Syahadat   yang merupakan  rukun pertama dalam Rukun Islam: (1) Syahadat; (2) Shalat, (3) Puasa (4) Zakat (5) Haji. Ada pun pernyataan Dua Kalimah Syahadat adalah:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah,
dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah
.
       Sehubungan dengan Rukun Islam  yang pertama tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
      Sesungguhnya memang benar bahwa menurut ajaran Hadhrat Rasulullah Saw. manusia bisa menghapus dosanya dengan menyatakan bahwa:
LĀ ILĀHA ILLALLĀHU MUHAMMADUN- RASÛLULLĀH
 Tidak ada yang patut disembah selain Allah dan  
Muhammad adalah Rasul Allah
        Adalah suatu kenyataan bahwa mereka yang beriman kepada Allah sebagai Tuhan Yang tidak mempunyai sekutu serta [beriman] kepada Muhammad, manusia terpilih yang diutus oleh Sang Maha Perkasa, dan ia kemudian mati dalam keadaan beriman demikian  maka ia akan memperoleh najat (keselamatan).
        Di bawah langit ini tidak ada bentuk keselamatan yang bisa diperoleh melalui perbuatan bunuh diri orang lain, malah sebenarnya tidak ada orang yang lebih sinting daripada orang yang mempunyai wacana fikiran seperti itu.  Keimanan kepada Allah sebagai Wujud Yang Maha Esa dimana berkat Rahmat dan Rahīm-Nya maka Dia mengutus rasul-Nya yang bernama Muhammad Saw., adalah suatu akidah yang akan mengangkat kegelapan dari kalbu manusia dan mengganti ego (keakuan) manusia dengan Ketauhidan Ilahi. Berikutnya setelah itu adalah meluapnya wawasan Ketauhidan ke seluruh kalbu sehingga yang bersangkutan menikmati kehidupan surgawi di dunia ini juga.
     Sebagaimana kalian perhatikan, dengan datangnya sinar maka kegelapan menghindar, begitu jugalah ketika kecemerlangan dari:
LĀ ILĀHA ILLALLĀHU
Tidak ada yang patut disembah selain Allah
merasuk ke dalam kalbu maka segala kegelapan ego akan menghilang. Esensi (hakikat) dari  dosa sesungguhnya adalah akibat kegalauan dari nafsu ego dimana manusia yang mengikutinya dikatakan pendosa. Adapun pengertian dari:
LĀ ILĀHA ILLALLĀHU
Tidak ada yang patut disembah selain Allah
yang diderivasi (bersumber) dari berbagai pengertiannya dalam lexicon (kamus) bahasa Arab mengandung arti,  bahwa tidak ada yang lebih dihasrati, atau dicintai atau disembah atau pun dipatuhi kecuali Allah. Jelas kalau konsep ini nyatanya bertentangan sama sekali dengan realitas dosa dan sumbernya. Bila seseorang dengan ketulusan hati menerapkan pemahaman ini di dalam kalbunya, dengan sendirinya segala konsep yang bertentangan dengan itu akan tergusur dari nuraninya.    Ketika semua nafsu ego bisa dikesampingkan maka tercapailah suatu kondisi yang disebut sebagai kesucian yang murni dan ketakwaan hakiki.
       Tujuan dari kredo  (itikad) bagian kedua yaitu “beriman kepada Rasul Allah” adalah agar manusia juga beriman pada firman Allah. Keimanan pada firman Allah sesungguhnya menjadi prasyarat bagi seseorang yang mengaku bahwa ia ingin menjadi hamba Allah yang patuh  melalui pengakuan bahwa ia mengimani perintah-perintah Tuhan.
       Keimanan pada firman Allah juga tidak mungkin tanpa beriman kepada sosok yang melaluinya firman tersebut disampaikan. Inilah yang menjadi inti dari kredo (itikad)  ini. (Noorul Quran, no. 2, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.IX, hlm.  418-420, London, 1984).

Hubungan Rukun Iman  Dengan  Rukun Islam  & Tiga Syarat Mencapai Tujuan Perjalanan

       Pentingnya beriman kepada Allah Swt. dan kepada rasul Allah tersebut – terutama Nabi Besar Muhammad saw.  – dalam ajaran Islam diabadikan  dalan bentuk Rukun Iman: (1) Iman kepada Allah, (2) Iman kepada malaikat-malaikat, (3)  iman kepada Kitab-kitab, (4)  iman kepada rasul-rasul, (5)  iman kepada akhirat  (Kiamat), (6)   iman kepada takdir,  sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,  semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka berkata:  لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ   --  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”, وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ  --  dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat.  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan )kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
     Amal-amal baik  atau amal shalih memang merupakan cara utama untuk mencapai kesucian ruhani, tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad yang benar. Dari itu, ayat ini merinci dasar-dasar kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran yaitu  beriman kepada Allah Swt., para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya menurut urutan atau tertib yang wajar.
      Jika seseorang  berkehendak pergi menuju ke satu tempat tujuan   ada 3   hal utama yang perlu baginya, yakni:
      (1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat  yang akan didatanginya tersebut.
       (2) ia harus bergerak menuju arah yang benar  berkenaan letak tempat yang akan didatanginya tersebut.
        (3) ia harus mengetahui keadaan  medan  perjalanan yang akan ditempuhnya.
       Apabila  ketiga  syarat  -- bahkan pun salah satu dari ketiga syarat  tersebut  --  tidak dipenuhi maka sampai kapan pun ia tidak akan dapat sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
        Contohnya, jika tempat  yang hendak dituju seseorang  letaknya di sebelah barat, tetapi ia  bergerak ke arah sebaliknya  yakni  ke arah  timur, atau bergerak  ke arah utara atau ke arah selatan, maka sampai kapan pun ia tidak akan pernah sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
      Demikian pula jika ia   mengetahui  arah serta posisi  tempat yang hendak ditujunya tetapi tidak berusaha bergerak ke  arah tempat tersebut ia tidak akan pernah sampai ke tempat tersebut. Jadi, betapa pentingnya mengetahui “arah yang benar” mengenai tempat yang akan didatangi seseorang.
       Dalam  masalah agama (ruhani) yang dimaksud dengan tempat yang hendak dituju  dalam perjalanan yang dilakukan adalah perjalanan menuju “pertemuan” dengan Allah Swt. karena     merupakan tujuan utama   segala bentuk “perjalanan” (suluk) manusia  menuju “perjumpaan” dengan Allah Swt. sebagaimana firman-Nya:  اِنَّا لِلّٰہِ وَ  اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ  -- “Sesungguhnya kami  milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami  kembali” (Al-Baqarah [2]:157).
       Ada pun arti mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki pengetahuan yang benar  tentang segala sesuatu, dalam masalah agama yang dimaksud dengan mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki makrifat (pengetahuan) tentang  berbagai petunjuk atau informasi  yang terkandung dalam   agama (kitab suci) – terutama ajaran Islam ( Al-Quran) karena  merupakan agama  (kitab suci) terakhir dan tersempurna (QS.5:4)  --   terutama sekali mengenai makrifat Ilahi.
      Salah satu contoh informasi mengenai  makrifat Ilahi berkenaan Sifat Tasybihiyyah dan Sifat Tanzihiyyah Allah Swt. yang sempurna adalah yang dikemukakan Al-Quran dalam surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, sehingga   dengan memahaminya maka manusia dalam melaksanakan peribadahan ia tidak akan mempertuhankan apa pun selain Allah Swt..

Kesia-sian Menyembah Sesuatu Selain Allah Swt.

       Makrifat Ilahi yang benar tersebut sangat penting – bahkan yang paling utama dan paling penting – sebab jika keliru memahami Tuhan Sembahan yang hakiki serta melakukan kemusyrikan maka “tuhan-tuhan palsu” yang disembahnya tidak akan memberikan manfaat mau pun kerugian apa pun bagi para penyembahnya, firman-Nya:
   لَہٗ  دَعۡوَۃُ   الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ ﴿﴾  وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ  ﴿ٛ
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ  یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ لَہُمۡ بِشَیۡءٍ  --  dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ  اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ  -- melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua tangannya ke air  supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai  kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا  فِیۡ  ضَلٰلٍ  --  dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan  sia-sia belaka.    وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ  وَ الۡاٰصَالِ     --  Dan kepada Allah-lah bersujud siapa pun yang ada di seluruh langit dan bumi dengan rela  atau tidak rela  dan demikian juga bayangan-bayangan mereka pada setiap pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  27 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar