Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab 71
PENTINGNYA MEMAHAMI
MAKNA "DUA KALIMAH SYAHADAT” DALAM
MERAIH “PERJUMPAAN” DENGAN ALLAH SWT. & TIGA SYARAT CARA MENCAPAI TUJUAN MELAKUKAN PERJALANAN JASMANI
DAN RUHANI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam akhir Bab 70 dikemukakan penjelasan
2 point Ancaman Keras Allah Swt. Bagi Para Pendusta dan yang Mendustakan
Kebenaran (Rasul Allah), sehubungan dengan:
(4)
Kalimat dalam Ulangan: 18:19 Orang yang tidak
mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya
akan Kutuntut pertanggungjawaban.” Peringatan
keras Allah Swt. tersebut sangat tepat, sebab orang-orang yang tidak mendengarkan “segala firman Allah” – dalam wujud wahyu
Al-Quran -- yang dikemukakan oleh “Nabi yang seperti Musa” (Nabi Besar Muhammad saw.) sama dengan tidak
mau mendengar firman Allah Swt., dan akibatnya “dari
padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban” sesuai dengan firman-Nya
dalam Al-Quran:
فَمَنۡ اَظۡلَمُ
مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ کَذِبًا
اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ
حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا
اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ
کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ ادۡخُلُوۡا فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ مِّنَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ فِی النَّارِ ؕ کُلَّمَا دَخَلَتۡ اُمَّۃٌ لَّعَنَتۡ اُخۡتَہَا ؕ حَتّٰۤی اِذَا ادَّارَکُوۡا
فِیۡہَا جَمِیۡعًا ۙ قَالَتۡ اُخۡرٰىہُمۡ
لِاُوۡلٰىہُمۡ رَبَّنَا ہٰۤؤُلَآءِ اَضَلُّوۡنَا فَاٰتِہِمۡ عَذَابًا
ضِعۡفًا مِّنَ النَّارِ ۬ؕ قَالَ لِکُلٍّ ضِعۡفٌ وَّ لٰکِنۡ لَّا
تَعۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالَتۡ اُوۡلٰىہُمۡ لِاُخۡرٰىہُمۡ فَمَا کَانَ
لَکُمۡ عَلَیۡنَا مِنۡ فَضۡلٍ فَذُوۡقُوا الۡعَذَابَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَکۡسِبُوۡنَ
﴿٪﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ اَبۡوَابُ السَّمَآءِ وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ
الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾ لَہُمۡ مِّنۡ
جَہَنَّمَ مِہَادٌ وَّ مِنۡ فَوۡقِہِمۡ
غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Maka siapakah yang lebih zalim daripada
orang yang mengada-adakan
kedustaan terhadap Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? Mereka akan
memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan, hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan
Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata: ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata:
“Mereka telah lenyap dari kami.” Dan
mereka memberi
kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. Dia
berfirman: “Masuklah kamu ke dalam Api
bersama umat-umat jin dan ins (manusia)
yang telah berlalu sebelum kamu.”
Setiap kali suatu umat masuk, umat
itu akan mengutuk saudara-saudaranya
dari umat lain, hingga apabila
mereka semua telah tiba berturut-turut di dalamnya, maka mereka
yang terakhir berkata
mengenai mereka yang terdahulu: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, mereka ini telah
menyesatkan kami, karena itu berilah
mereka azab Api
berlipat-ganda.” Dia berfirman: “Bagi
masing-masing mendapat azab berlipat
ganda, akan tetapi kamu
tidak mengetahui.” Dan mereka yang terdahulu berkata kepada mereka yang terakhir: “Tidak ada bagi kamu suatu kelebihan atas kami, maka rasakanlah azab itu disebabkan oleh apa yang senantiasa kamu lakukan.” اِنَّ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا
بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ اَبۡوَابُ السَّمَآءِ وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ
الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- Sesungguhnya orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, tidak
akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga hingga unta
masuk ke lubang jarum, dan demikianlah
Kami membalas orang-orang yang
berdosa. لَہُمۡ مِّنۡ جَہَنَّمَ مِہَادٌ وَّ
مِنۡ فَوۡقِہِمۡ غَوَاشٍ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی الظّٰلِمِیۡنَ -- Bagi mereka ada hamparan
Jahannam sedangkan di atas
mereka ada selimut Jahannam, dan demikianlah Kami membalas orang-orang yang zalim. (Al-A’rāf
[7]:38-42).
Kemustahilan Unta
Masuk Lubang Jarum & Ancaman
Allah Swt. Kepada Para Nabi Palsu
Makna
ayat: اِنَّ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا
عَنۡہَا لَا تُفَتَّحُ لَہُمۡ اَبۡوَابُ
السَّمَآءِ وَ لَا یَدۡخُلُوۡنَ
الۡجَنَّۃَ حَتّٰی یَلِجَ الۡجَمَلُ فِیۡ سَمِّ الۡخِیَاطِ ؕ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِی
الۡمُجۡرِمِیۡنَ -- “Sesungguhnya orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling darinya, tidak
akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit ruhani dan tidak pula mereka akan masuk surga hingga unta
masuk ke lubang jarum, dan demikianlah
Kami membalas orang-orang yang
berdosa.” Jamal (unta)
juga dapat diartikan seutas tali,
sebab tali mempunyai persamaan lebih
dekat dengan benang yang dimasukkan
ke dalam lobang jarum.
Makna ayat
tersebut bahwa mustahil bagi para pengingkar
Tanda-tanda Ilahi -- yaitu para penentang rasul Allah -- masuk surga
-- semustahil unta
dapat masuk ke lubang jarum, sebagaimana juga pernyataan Yesus
dalam Matius 19:16-26
mengenai seorang pemuda yang kaya
yang ingin masuk surga tetapi menolak menjual harta kekayaannya untuk mengkhidmati orang-orang miskin:
19:23 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Aku berkata
kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi
seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 19:24 Sekali lagi Aku
berkata kepadamu, lebih mudah seekor
unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah."
(5) Kalimat Ulangan: 18:20 Tetapi seorang
nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak
Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus
mati” sesuai dengan firman-Nya berikut ini berkenaan Nabi Besar Muhammad saw., seandainya beliau saw. – Na’ūdzubillāh
min dzālika -- melakukan pendakwaan dusta, firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ مَا لَا
تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ لَقَوۡلُ
رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ
قَلِیۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ
تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ
لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ
﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ
مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾ وَ
اِنَّہٗ لَتَذۡکِرَۃٌ لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا
لَنَعۡلَمُ اَنَّ مِنۡکُمۡ
مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَحَسۡرَۃٌ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan
apa yang kamu lihat, dan apa yang
tidak kamu li-hat. Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang
disampaikan seorang Rasul mulia.
Dan bukanlah Al-Quran itu
perkataan seorang penyair, sedikit se-kali apa yang kamu percayai. Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Al-Quran
ini adalah wahyu yang diturunkan
dari Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian
niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ
حٰجِزِیۡنَ -- Dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya. Dan
sesungguhnya Al-Quran itu nasihat bagi
orang-orang bertakwa. Dan
sesungguhnya Kami pasti mengetahui bahwa di
antara kamu ada orang-orang yang mendustakan Al-Quran. Dan sesungguhnya Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan
bagi orang-orang kafir. Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.
فَسَبِّحۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ -- Maka Sucikanlah nama Rabb (Tuhan)
engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).
Makna ayat: فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ -- “Maka Aku
bersumpah dengan apa yang kamu lihat, وَ مَا لَا تُبۡصِرُوۡنَ -- dan apa
yang tidak kamu lihat.” Hal-hal yang nampak kepada kita bekerja di alam jasmani ini, yakni kenyataan-kenyataan hidup yang dapat dilihat dan hal-hal yang
tersembunyi dari pandangan mata,
ialah akal dan kata-hati manusia, telah disinggung dalam ayat-ayat 39 dan 40
sebagai kesaksian-kesaksian guna membuktikan Al-Quran berasal dari Allah
Swt.: اِنَّہٗ
لَقَوۡلُ رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang
disampaikan seorang Rasul mulia.”
(Al-Hāqqah
[69]:39-41).
Atau ayat-ayat 39-40 itu dapat berarti bahwa Tanda-tanda agung yang disaksikan oleh orang-orang kafir di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dengan mata kepala mereka sendiri serta nubuatan-nubuatan
mengenai hari depan Islam yang gilang
gemilang dan masih menunggu penyempurnaannya,
merupakan dalil yang tidak dapat ditolak bahwa Al-Quran
itu benar-benar firman Allah Swt. Sendiri yang telah diturunkan (diwahyukan) oleh-Nya
kepada Nabi Agung, Muhammad Musthafa saw..
Al-Quran membahas kenyataan-kenyataan hidup lagi pasti
dan bukan impian-impian gila seorang
penyair, bukan pula rekayasa dan terka-terkaan seorang juru nujum di
dalam kegelapan: وَّ مَا ہُوَ
بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تُؤۡمِنُوۡنَ -- “Dan
bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit
sekali apa yang kamu percayai. وَ لَا
بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ -- Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat, َنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Al-Quran
ini adalah wahyu yang diturunkan
dari Rabb (Tuhan) seluruh alam” (Al-Hāqqah [69]:42-44).
Siapa pun
Tidak Akan Bisa Menghindari Hukuman
Allah Swt.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai hukuman mengerikan bagi para pendusta
atas nama Allah: وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ -- kemudian
niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ
حٰجِزِیۡنَ -- Dan tidak
ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya. (Al-Hāqqah [69]:45-48).
Dalam ayat ini dan dalam tiga ayat sebelumnya
keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila -- Na’ūdzubillāhi min dzālika -- Nabi Besar
Muhammad saw. itu pendusta, maka tangan perkasa Allah Swt. pasti menangkap
dan memutuskan urat pada leher beliau
saw., dan pasti beliau saw. telah
menemui kematian yang hina, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau
saw. pasti telah hancur berantakan,
sebab memang demikianlah nasib seorang
nabi palsu.
Dakwa dan keterangan yang
tercantum dalam ayat-ayat ini agaknya
merupakan reproduksi yang tepat dari
peryataan Bible dalam Ulangan
18:20 namun dalam penyajian yang jauh
lebih sempurna:
18:20 Tetapi seorang
nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak
Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus
mati. (Ulangan
18:20).
Pentingnya Memahami Makna “Dua Kalimah Syahadat”
Dalam Bab sebelumnya telah dikemukakan
gambaran kedekatan sempurna antara
Allah Swt. dengan Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana yang digambarkan
dalam surah An-Najm [53] berikut ini:
وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾
فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾
Dan Dia mewahyukan
Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di ufuk
tertinggi. Kemudian ia,
Rasulullah, mendekati Allah,
lalu Dia kian dekat kepadanya,
maka jadilah
ia, seakan-akan, seutas tali
dari dua buah busur, atau lebih
dekat lagi. Lalu Dia
mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan. (An-Najm
[53]:8-11).
Kenyataan dalam firman Allah Swt. itulah
yang dalam ajaran Islam diabadikan
dalam bentuk Dua Kalimah Syahadat yang merupakan
rukun pertama dalam Rukun Islam: (1) Syahadat; (2) Shalat, (3) Puasa (4) Zakat (5) Haji. Ada pun
pernyataan Dua Kalimah Syahadat
adalah:
أَشْهَدُ
أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَ
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan
yang berhak disembah selain Allah,
dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Sehubungan dengan Rukun Islam yang pertama
tersebut Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan:
“Sesungguhnya
memang benar bahwa menurut ajaran Hadhrat Rasulullah Saw. manusia bisa
menghapus
dosanya
dengan menyatakan bahwa:
LĀ
ILĀHA ILLALLĀHU MUHAMMADUN- RASÛLULLĀH
“Tidak
ada yang patut disembah selain Allah dan
Muhammad adalah Rasul Allah”
Adalah
suatu kenyataan bahwa mereka yang
beriman kepada Allah
sebagai Tuhan
Yang tidak mempunyai sekutu
serta [beriman] kepada Muhammad, manusia terpilih yang
diutus oleh Sang Maha Perkasa, dan ia kemudian mati dalam keadaan beriman demikian maka ia akan memperoleh najat (keselamatan).
Di
bawah langit ini tidak ada bentuk keselamatan yang bisa
diperoleh melalui perbuatan bunuh diri orang lain, malah sebenarnya tidak ada orang
yang lebih sinting daripada
orang
yang mempunyai wacana fikiran seperti itu. Keimanan kepada
Allah sebagai
Wujud
Yang Maha Esa
dimana berkat
Rahmat dan Rahīm-Nya maka Dia mengutus rasul-Nya yang bernama Muhammad Saw., adalah suatu akidah yang akan mengangkat kegelapan dari kalbu manusia dan mengganti ego (keakuan) manusia dengan Ketauhidan Ilahi. Berikutnya setelah itu adalah meluapnya
wawasan Ketauhidan ke
seluruh
kalbu
sehingga yang bersangkutan menikmati kehidupan surgawi di dunia ini juga.
Sebagaimana kalian perhatikan, dengan datangnya sinar maka kegelapan
menghindar,
begitu jugalah ketika kecemerlangan
dari:
LĀ
ILĀHA ILLALLĀHU
“Tidak ada yang patut disembah
selain Allah”
merasuk
ke dalam kalbu
maka segala
kegelapan ego
akan menghilang. Esensi (hakikat) dari
dosa
sesungguhnya adalah akibat
kegalauan dari nafsu ego dimana manusia yang mengikutinya dikatakan pendosa. Adapun pengertian dari:
LĀ
ILĀHA ILLALLĀHU
“Tidak ada yang patut disembah
selain Allah”
yang diderivasi
(bersumber)
dari berbagai pengertiannya dalam lexicon
(kamus) bahasa
Arab mengandung arti, bahwa tidak ada yang lebih dihasrati, atau dicintai atau disembah atau pun dipatuhi kecuali Allah. Jelas kalau konsep ini nyatanya bertentangan
sama sekali dengan realitas dosa dan sumbernya.
Bila seseorang dengan ketulusan
hati menerapkan pemahaman ini di dalam kalbunya,
dengan sendirinya segala konsep yang bertentangan dengan itu akan tergusur dari nuraninya. Ketika semua nafsu ego bisa dikesampingkan
maka tercapailah suatu kondisi yang
disebut sebagai kesucian yang
murni dan ketakwaan hakiki.
Tujuan dari kredo (itikad)
bagian kedua yaitu “beriman kepada Rasul Allah” adalah agar manusia juga beriman
pada firman
Allah.
Keimanan pada firman Allah sesungguhnya menjadi prasyarat bagi seseorang yang mengaku bahwa ia ingin menjadi hamba Allah yang patuh melalui pengakuan bahwa ia mengimani perintah-perintah Tuhan.
Keimanan
pada firman Allah
juga tidak mungkin tanpa beriman kepada
sosok yang melaluinya firman tersebut disampaikan. Inilah yang menjadi inti dari kredo (itikad) ini. (Noorul Quran, no. 2,
sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain,
jld.IX, hlm. 418-420, London, 1984).
Hubungan Rukun Iman Dengan
Rukun Islam & Tiga Syarat
Mencapai Tujuan Perjalanan
Pentingnya beriman kepada Allah Swt.
dan kepada rasul Allah tersebut –
terutama Nabi Besar Muhammad saw. –
dalam ajaran Islam diabadikan dalan bentuk Rukun Iman: (1) Iman kepada Allah, (2) Iman kepada malaikat-malaikat, (3) iman
kepada Kitab-kitab, (4) iman kepada rasul-rasul, (5) iman
kepada akhirat (Kiamat), (6) iman
kepada takdir, sebagaimana
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ
رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا
سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula orang-orang
beriman, semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, mereka
berkata: لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,
وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ
رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ -- dan
mereka berkata: “Kami telah mendengar
dan kami taat. Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb
(Tuhan )kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.”
(Al-Baqarah
[2]:286).
Amal-amal baik atau amal shalih memang merupakan cara
utama untuk mencapai kesucian ruhani,
tetapi amal-amal baik itu bersumber pada kesucian hati yang dapat dicapai hanya dengan berpegang pada itikad-itikad
yang benar. Dari itu, ayat ini merinci dasar-dasar
kepercayaan yang telah diajarkan oleh Al-Quran
yaitu beriman kepada Allah Swt.,
para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya dan Rasul-rasul-Nya menurut urutan
atau tertib yang wajar.
Jika seseorang berkehendak pergi menuju ke satu tempat
tujuan ada 3 hal utama yang perlu baginya, yakni:
(1) ia harus mengetahui letak posisi atau arah tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(2) ia harus bergerak menuju arah yang benar berkenaan letak
tempat yang akan didatanginya
tersebut.
(3) ia harus mengetahui keadaan
medan perjalanan yang akan
ditempuhnya.
Apabila ketiga syarat
-- bahkan pun salah satu dari ketiga
syarat tersebut -- tidak
dipenuhi maka sampai kapan pun ia
tidak akan dapat sampai ke tempat
yang hendak ditujunya tersebut.
Contohnya, jika tempat yang hendak dituju seseorang letaknya
di sebelah barat, tetapi ia bergerak
ke arah sebaliknya yakni
ke arah timur, atau bergerak ke arah
utara atau ke arah selatan, maka sampai kapan pun ia tidak akan pernah sampai ke tempat yang hendak ditujunya tersebut.
Demikian pula jika ia mengetahui arah serta posisi tempat yang hendak ditujunya tetapi tidak berusaha bergerak ke arah
tempat tersebut ia tidak akan pernah
sampai ke tempat tersebut. Jadi,
betapa pentingnya mengetahui “arah yang
benar” mengenai tempat yang akan didatangi seseorang.
Dalam masalah agama
(ruhani) yang dimaksud dengan tempat
yang hendak dituju dalam perjalanan
yang dilakukan adalah perjalanan
menuju “pertemuan” dengan Allah Swt. karena merupakan tujuan
utama segala bentuk “perjalanan” (suluk) manusia menuju “perjumpaan”
dengan Allah Swt. sebagaimana
firman-Nya: اِنَّا لِلّٰہِ وَ اِنَّاۤ اِلَیۡہِ رٰجِعُوۡنَ -- “Sesungguhnya kami milik Allah dan
sesungguhnya kepada-Nya-lah kami kembali” (Al-Baqarah [2]:157).
Ada pun arti mengetahui “arah yang benar” adalah memiliki pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu, dalam masalah agama yang dimaksud dengan
mengetahui “arah yang benar” adalah
memiliki makrifat (pengetahuan)
tentang berbagai petunjuk atau informasi yang terkandung dalam agama (kitab suci) – terutama ajaran Islam ( Al-Quran) karena merupakan agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) -- terutama
sekali mengenai makrifat Ilahi.
Salah satu contoh informasi
mengenai makrifat Ilahi berkenaan Sifat
Tasybihiyyah dan Sifat Tanzihiyyah
Allah Swt. yang sempurna adalah yang dikemukakan Al-Quran dalam surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlash, sehingga dengan memahaminya
maka manusia dalam melaksanakan peribadahan
ia tidak akan mempertuhankan apa pun
selain Allah Swt..
Kesia-sian Menyembah Sesuatu
Selain Allah Swt.
Makrifat Ilahi yang benar tersebut sangat
penting – bahkan yang paling utama
dan paling penting – sebab jika keliru memahami Tuhan Sembahan yang
hakiki serta melakukan kemusyrikan maka
“tuhan-tuhan palsu” yang disembahnya tidak akan memberikan manfaat mau pun kerugian apa pun bagi para penyembahnya, firman-Nya:
لَہٗ دَعۡوَۃُ الۡحَقِّ ؕ وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ اِلَّا کَبَاسِطِ
کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ
وَ مَا ہُوَ بِبَالِغِہٖ ؕ وَ مَا دُعَآءُ الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا
فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿﴾ وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ
کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ
الۡاٰصَالِ ﴿ٛ﴾
Hanya bagi Dia-lah seruan yang haq (benar), وَ الَّذِیۡنَ یَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِہٖ لَا یَسۡتَجِیۡبُوۡنَ
لَہُمۡ بِشَیۡءٍ -- dan mereka yang diseru oleh orang-orang itu selain Dia, mereka tidak
menjawabnya sedikit pun, اِلَّا کَبَاسِطِ کَفَّیۡہِ اِلَی الۡمَآءِ لِیَبۡلُغَ فَاہُ وَ مَا ہُوَ
بِبَالِغِہٖ -- melainkan seperti orang yang mengulurkan kedua
tangannya ke air supaya sampai ke mulutnya, tetapi itu tidak akan sampai kepadanya, وَ مَا دُعَآءُ
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ
ضَلٰلٍ -- dan tidaklah doa orang-orang kafir itu melainkan sia-sia
belaka. وَ لِلّٰہِ یَسۡجُدُ مَنۡ فِی
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ طَوۡعًا وَّ کَرۡہًا وَّ ظِلٰلُہُمۡ بِالۡغُدُوِّ وَ الۡاٰصَالِ -- Dan kepada
Allah-lah bersujud siapa pun yang ada
di seluruh langit dan bumi
dengan rela atau tidak
rela dan demikian juga
bayangan-bayangan mereka pada setiap
pagi dan petang hari. (Ar-Rā’d [13]:15-16).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
27 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar