Rabu, 09 November 2016

Tidak Ada "Permusuhan yang Abadi" Kecuali "Permusuhan Iblis" Terhadap "Adam" (Khalifah Allah) Yang Dilandasi "Kedengkian" dan "Kedurhakaan" Terhadap Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 57

TIDAK ADA PERMUSUHAN YANG ABADI KECUALI PERMUSUHAN IBLIS TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH) YANG DILANDASI KEDENGKIAN  DAN KEDURHAKAAN TERHADAP ALLAH SWT.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 56 dikemukakan  mengenai  tanda-tanda (ciri-ciri) khasHizbullah” yang hakiki – yang hanya menjadikan  Allah Swt., Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat) mereka  (QS:5:55-57) --   berikut  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ  --   walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka.  اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ  -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا  -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal  di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  --   Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ  -- Itulah golongan Allah.  اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ --  Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil  (Al-Mujadalah [58]:21-23). 

Pentingnya Mengutamakan  Allah Swt. dan Rasul-Nya  Serta “Persaudaraan Muslim

 Allah Swt. menjelaskan bahwa sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau perhubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh di antara orang-orang beriman  dengan  orang-orang kafir, karena cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain.
 Mengapa demikian? Sebab  kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada,  karena itu Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman   jangan mempunyai persahabatan yang erat lagi mesra, yakni mereka jangan menjadikan dengan orang-orang kafir   yang memerangi umat Islam (QS.5:52) sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat)   dengan mengenyampingkan “persaudaraan Muslim” (QS.49:11).
  Menurut firman-Nya tersebut ikatan agama (keimanan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya) harus mengatasi segala perhubungan lainnya, bahkan  mengatasi pertalian darah yang amat dekat sekalipun, namun demikian  dari segi duniawi umat Islam  sebagai “umat terbaik” (QS.2:144; QS/3:111) tetap harus memenuhi  kewajiban  terhadap “hak-hak  pertalian darah” (kekeluargaan) dan “hak-hak kemanusiaan  -- termasuk terhadap pihak-pihak Non-Muslim yang tidak ikut  berbuat zalim  (QS.60:9-10) -- firman-Nya:
وَ وَصَّیۡنَا  الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَیۡہِ ۚ حَمَلَتۡہُ  اُمُّہٗ  وَہۡنًا عَلٰی وَہۡنٍ وَّ فِصٰلُہٗ  فِیۡ عَامَیۡنِ  اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ اِلَیَّ  الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا ۫ وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ ثُمَّ  اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap ibu-bapaknya,  ibunya telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan, dan penyapihan susunya dalam dua tahun, اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ اِلَیَّ  الۡمَصِیۡرُ  --  supaya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtua engkau, kepada Aku-lah tempat kembali.    وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ --  Dan apabila keduanya memaksa engkau supaya engkau mempersekutukan dengan Aku, yang me-ngenai itu engkau tidak memiliki pengetahuan, فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا  --  maka janganlah engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah dengan keduanya secara layak dalam urusan dunia, وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ ثُمَّ  اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  --  dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku tempat kembalimu, maka Aku akan memberitahukan kepadamu mengenai apa yang senantiasa kamu kerjakan. (Luqman [31]:15-16).

Pentingnya Mengkhidmati Kedua Orang Tua

  Ayat 15: حَمَلَتۡہُ  اُمُّہٗ  وَہۡنًا عَلٰی وَہۡنٍ وَّ فِصٰلُہٗ  فِیۡ عَامَیۡنِ    -- “ibunya telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan, dan penyapihan susunya dalam dua tahun merupakan anak-kalimat sisipan dan mengisyaratkan kepada kewajiban manusia yang kedua dan yang paling penting sesudah kewajibannya terhadap  Allah Swt., yaitu kewajiban-kewajiban terhadap sesama manusia (huququl- ‘ibād) yang dimulai dengan kewajiban-kewajibannya (pengkhidmatannya) kepada orangtua (QS.17:24-27).

Kesantunan Para Muwahid  yang Hakiki

     Dalam ayat selanjutnya dijelaskan bahwa jika kewajiban manusia terhadap orangtua nampaknya berlanggaran dan bertentangan dengan kewajiban terhadap Tuhan (Allah Swt.) maka kesetiaannya yang pertama harus ditujukan kepada Khāliq-nya: وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ --  Dan apabila keduanya memaksa engkau supaya engkau mempersekutukan dengan Aku, yang me-ngenai itu engkau tidak memiliki pengetahuan, فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا  --  maka janganlah engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah dengan keduanya secara layak dalam urusan dunia.”
Akan tetapi dalam mengabaikan salah satu dari keinginan-keinginan atau perintah-perintah orangtuanya yang bertentangan dengan kesetiaannya terhadap Tuhan, hendaknya ia jangan memperlihatkan sikap sombong atau lancang terhadap mereka; melainkan harus terus memperlihatkan kesantunan, kecintaan, dan kasih sayang yang tetap kepada mereka:  فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا  --  maka janganlah engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah dengan keduanya secara layak dalam urusan dunia.”  
      Sehubungan dengan perbedaan pendapat dalam masalah “Tauhid Ilahi” tersebut  dalam surah lain Allah Swt. berfirman: 
وَ وَصَّیۡنَا  الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَیۡہِ  اِحۡسٰنًا  ؕ حَمَلَتۡہُ  اُمُّہٗ  کُرۡہًا وَّ وَضَعَتۡہُ  کُرۡہًا ؕ وَ حَمۡلُہٗ  وَ فِصٰلُہٗ   ثَلٰثُوۡنَ شَہۡرًا ؕ حَتّٰۤی  اِذَا بَلَغَ  اَشُدَّہٗ  وَ بَلَغَ  اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۙ قَالَ  رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ  اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ  اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ  وَ عَلٰی وَالِدَیَّ  وَ اَنۡ  اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰہُ وَ اَصۡلِحۡ  لِیۡ  فِیۡ ذُرِّیَّتِیۡ ۚؕ اِنِّیۡ  تُبۡتُ  اِلَیۡکَ وَ اِنِّیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ نَتَقَبَّلُ عَنۡہُمۡ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ نَتَجَاوَزُ عَنۡ سَیِّاٰتِہِمۡ فِیۡۤ اَصۡحٰبِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَعۡدَ الصِّدۡقِ الَّذِیۡ کَانُوۡا یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat ihsan terhadap orangtuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah-payah, dan melahirkannya dengan susah-payah. Dan mengandungnya dan menyapihnya selama tiga puluh bulan.   حَتّٰۤی  اِذَا بَلَغَ  اَشُدَّہٗ  وَ بَلَغَ  اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۙ قَالَ  رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ  اَنۡ  اَشۡکُرَ  نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ  اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ  وَ عَلٰی وَالِدَیَّ  وَ اَنۡ  اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰہُ وَ اَصۡلِحۡ  لِیۡ  فِیۡ ذُرِّیَّتِیۡ ۚؕ -- Hingga apabila ia mencapai usia dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun  ia berkata:  "Hai  Rabb-ku (Tuhan-ku), berilah taufik kepadaku supaya dapat bersyukur atas nikmat Engkau yang  telah  Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada orangtuaku, dan supaya aku dapat beramal saleh yang Engkau  ridhai, dan perbaikilah bagiku dalam hal keturunanku, اِنِّیۡ  تُبۡتُ  اِلَیۡکَ وَ اِنِّیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  -- sesungguhnya aku kembali kepada Engkau, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ نَتَقَبَّلُ عَنۡہُمۡ  اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ نَتَجَاوَزُ عَنۡ سَیِّاٰتِہِمۡ فِیۡۤ اَصۡحٰبِ الۡجَنَّۃِ  -- Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka yang terbaik apa yang mereka amalkan dan   Kami mengampuni keburukan-keburukan mereka di antara penghuni-penghuni surga. وَعۡدَ الصِّدۡقِ الَّذِیۡ کَانُوۡا یُوۡعَدُوۡنَ  --  Janji yang benar yang telah dijanjikan kepada  mereka. (Al-Ahqāf [46:16-17).

Perbedaan “Keyakinan Agama” di Lingkungan Keluarga

     Pendek kata, dalam menegakkan “Tauhid Ilahi  -- yakni mengutamakan kecintaan kepada Allah Swt. dan rasul-Nya (QS.58:23) --  sifat dan sikap “rahmat bagi seluruh alam” yang diperagakan Nabi Besar Muhammad a.s.  (QS.21:108) harus tetap diamalkan umat Islam,  walau pun terdapat perbedaan keimanan dengan orang-orang yang wajib dipenuhi hak-haknya  dalam urusan duniawi, terutama kepada kedua orang tua dan karib kerabat  serta pihak-pihak lainnya,  kecuali jika mereka  menolaknya, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡ  قَالَ  لِوَالِدَیۡہِ  اُفٍّ لَّکُمَاۤ اَتَعِدٰنِنِیۡۤ   اَنۡ  اُخۡرَجَ وَ قَدۡ خَلَتِ الۡقُرُوۡنُ مِنۡ  قَبۡلِیۡ ۚ وَ ہُمَا یَسۡتَغِیۡثٰنِ اللّٰہَ وَیۡلَکَ اٰمِنۡ ٭ۖ اِنَّ  وَعۡدَ اللّٰہِ  حَقٌّ ۚۖ فَیَقُوۡلُ مَا ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اَسَاطِیۡرُ  الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ  الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ  الۡقَوۡلُ فِیۡۤ اُمَمٍ  قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ  قَبۡلِہِمۡ  مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ؕ اِنَّہُمۡ  کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang yang berkata kepada kedua ibu-bapaknya: "Cih kamu berdua! Apakah kamu mengancamku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal telah berlalu beberapa keturunan  sebelumku?"   وَ ہُمَا یَسۡتَغِیۡثٰنِ اللّٰہَ وَیۡلَکَ اٰمِنۡ ٭ۖ اِنَّ  وَعۡدَ اللّٰہِ  حَقٌّ --  Dan mereka berdua meratap kepada Allah memohon pertolongan seraya  berkata: "Celaka engkau, berimanlah, sesungguhnya janji Allah itu benar." فَیَقُوۡلُ مَا ہٰذَاۤ  اِلَّاۤ  اَسَاطِیۡرُ  الۡاَوَّلِیۡنَ  --  Tetapi ia berkata: "Ini sekali-kali tidak lain melainkan dongengan orang-orang dahulu." Mereka itulah orang-orang yang telah pasti  atas mereka ketetapan azab bersama  umat-umat yang telah berlalu sebelum mereka dari kalangan jin dan  ins (manusia), sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang rugi. (Al-Ahqāf [46]:18-19).
     Firman Allah Swt.  tersebut  menjelaskan pernyataan Allah Swt. berikut ini mengenai sikap “Hizbullāh” hakiki  dalam mengutamakan kecintaan kepada  Allah Swt. dan Rasul-Nya  daripada kecintaan terhadap yang lainnya dalam firman-Nya:
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ  --   walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka.  اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ  -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا  -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal  di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  --   Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ  -- Itulah golongan Allah.  اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ --  Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil  (Al-Mujadalah [58]:21-23). 

Ketidak-kekalan “Perbedaan Faham dan “Permusuhan   

         Terhadap orang-orang yang “kafir” yang secara aktif melakukan penentangan atau peperangan  seperti   itulah  makna perintah  Allah Swt.   dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman!  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  pelindung, karena  sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ --   Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Maidah [5]:52).
        Namun terhadap “orang-orang kafir  atau Non-Muslim yang lainnya  Allah Swt. tidak melarang orang-orang beriman memenuhi hak-hak duniawi  mereka, firman-Nya:
لَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ   --  yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumah kamu,  اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ --  sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.    اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ   --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai  wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ  -- dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
Dengan demikian jelaslah bahwa perintah Allah Swt. dalam  firman-Nya tersebut  merupakan seruan  yang bersifat umum, tetapi seruan secara khusus   tertuju berkenaan  orang-orang kafir yang ada dalam berperang dengan kaum Muslim. Itulah makna firman Allah Swt. berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman!  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  pelindung, karena  sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ  --    Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya ia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Maidah [5]:52).

Tidak Ada Permusuhan yang Abadi, Kecuali  Kedengkian Iblis Terhadap Adam

        Kecuali Allah Swt. dan firman-Nya – khususnya Al-Quran (QS.15:10)  --   segala sesuatu selain-Nya tidak ada yang bersifat abadi  (QS.55:27-28), demikian pula halnya dengan “permusuhan” atau “perbedaan pendapat” di kalangan umat beragama,  firman-Nya:
وَ لَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰہِ  اِلٰـہًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ  اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۟ کُلُّ  شَیۡءٍ ہَالِکٌ  اِلَّا وَجۡہَہٗ ؕ لَہُ  الۡحُکۡمُ  وَ  اِلَیۡہِ  تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan janganlah engkau menyeru tuhan lain bersama Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia. کُلُّ  شَیۡءٍ ہَالِکٌ  اِلَّا وَجۡہَہٗ  --  Segala sesuatu akan binasa kecuali Wujud-Nya. لَہُ  الۡحُکۡمُ  وَ  اِلَیۡہِ  تُرۡجَعُوۡنَ --   Kepunyaan-Nya segala hukum dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan (Al-Qashash [28]:89).
       Wajh berarti: diri; muka (wajah), kepala suatu kaum (bangsa); tujuan atau maksud yang orang sedang kejar; tempat yang orang tuju atau mengarahkan perha-tiannya; kesenangan; karunia; kepentingan; dan sebagainya (Lexicon Lane). Firman-Nya lagi: 
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾   وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ  --               dan akan kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-29).
 Seluruh jagat raya (alam semesta) tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu jagat raya ini ditakdirkan akan binasa. Hanya Tuhan-lah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu.
    Wajh antara lain berarti:  apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid).   Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta, yakni Allah Swt. (QS.1:2).
   Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua hukum alam yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu: (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.

 Islam (Al-Quran) Mengajarkan “Persaudaraan Ruhani” Hakiki

    Demikian pula “permusuhan” pun tidak ada yang kekal,  walau pun  Allah Swt. melarang orang-orang yang beriman   di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  menjadikan orang-orang kafir Quraisy sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat), tetapi  permusuhan umat Islam dengan  orang-orang kafir Quraisy Mekkah tersebut  hanya bersifat sementara  waktu, karena  menurut Allah Swt. akan datang masanya kedua-belah pihak yang sebelumnya “bermusuhan” sengit tersebut akan menjadi “bersaudara” dan saling mencintai, firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan dengan mereka, karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Pe-nyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  8 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar