Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
57
TIDAK ADA PERMUSUHAN YANG ABADI KECUALI PERMUSUHAN IBLIS TERHADAP ADAM (KHALIFAH ALLAH) YANG DILANDASI KEDENGKIAN DAN KEDURHAKAAN
TERHADAP ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 56 dikemukakan mengenai tanda-tanda (ciri-ciri) khas
“Hizbullah” yang hakiki – yang hanya
menjadikan Allah Swt., Rasul-Nya dan
orang-orang beriman sebagai wali
(pelindung/pemimpin/sahabat) mereka
(QS:5:55-57) -- berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
لَا تَجِدُ
قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ
اِخۡوَانَہُمۡ اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ
ؕ اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ
الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ
مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ
حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ
اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari
Akhir tetapi mereka mencintai
orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ -- walau pun mereka itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka
itulah orang-orang yang di dalam hati
mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ
جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا
-- dan Dia akan memasukkan mereka
ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka
kekal
di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا
عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka ridha
kepada-Nya. اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ
-- Itulah golongan Allah. اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Ketahuilah,
sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang berhasil (Al-Mujadalah [58]:21-23).
Pentingnya Mengutamakan
Allah
Swt. dan Rasul-Nya Serta “Persaudaraan
Muslim”
Allah Swt. menjelaskan bahwa
sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat
persahabatan atau perhubungan cinta
sejati atau sungguh-sungguh di
antara orang-orang beriman dengan
orang-orang kafir, karena cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain.
Mengapa demikian? Sebab kesamaan
dan perhubungan kepentingan itu
merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak
ada, karena itu Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman jangan
mempunyai persahabatan yang erat lagi
mesra, yakni mereka jangan menjadikan dengan orang-orang kafir yang memerangi umat Islam (QS.5:52) sebagai wali
(pelindung/pemimpin/sahabat) dengan mengenyampingkan “persaudaraan Muslim”
(QS.49:11).
Menurut firman-Nya
tersebut ikatan agama (keimanan
kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya) harus mengatasi
segala perhubungan lainnya,
bahkan mengatasi pertalian darah yang amat
dekat sekalipun, namun demikian dari
segi duniawi umat Islam sebagai “umat
terbaik” (QS.2:144; QS/3:111) tetap harus memenuhi kewajiban terhadap “hak-hak
pertalian
darah” (kekeluargaan) dan “hak-hak
kemanusiaan” -- termasuk terhadap
pihak-pihak Non-Muslim yang tidak ikut berbuat zalim (QS.60:9-10) -- firman-Nya:
وَ
وَصَّیۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَیۡہِ ۚ
حَمَلَتۡہُ اُمُّہٗ وَہۡنًا عَلٰی وَہۡنٍ وَّ فِصٰلُہٗ فِیۡ عَامَیۡنِ اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ
اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا
لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا
مَعۡرُوۡفًا ۫ وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ ثُمَّ اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia
supaya berbuat baik terhadap ibu-bapaknya,
ibunya telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan, dan penyapihan susunya dalam dua tahun, اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ -- supaya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada
kedua orangtua engkau, kepada
Aku-lah tempat kembali. وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ -- Dan apabila keduanya memaksa engkau supaya engkau mempersekutukan dengan Aku, yang
me-ngenai itu engkau tidak memiliki
pengetahuan, فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا
فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا -- maka janganlah
engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah
dengan keduanya secara layak dalam urusan
dunia, وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ
ثُمَّ اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ
فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku tempat kembalimu, maka Aku akan memberitahukan kepadamu mengenai apa yang senantiasa kamu kerjakan. (Luqman [31]:15-16).
Pentingnya Mengkhidmati
Kedua Orang Tua
Ayat 15:
حَمَلَتۡہُ
اُمُّہٗ وَہۡنًا عَلٰی وَہۡنٍ وَّ
فِصٰلُہٗ فِیۡ عَامَیۡنِ -- “ibunya
telah mengandungnya dalam kelemahan di atas kelemahan, dan penyapihan susunya dalam dua tahun” merupakan anak-kalimat
sisipan dan mengisyaratkan kepada kewajiban
manusia yang kedua dan yang paling penting sesudah kewajibannya terhadap Allah
Swt., yaitu kewajiban-kewajiban
terhadap sesama manusia (huququl-
‘ibād) yang dimulai dengan kewajiban-kewajibannya (pengkhidmatannya)
kepada orangtua (QS.17:24-27).
Kesantunan Para Muwahid yang Hakiki
Dalam ayat selanjutnya
dijelaskan bahwa jika kewajiban manusia
terhadap orangtua nampaknya berlanggaran
dan bertentangan dengan kewajiban terhadap Tuhan (Allah Swt.)
maka kesetiaannya yang pertama harus
ditujukan kepada Khāliq-nya: وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ -- Dan apabila keduanya memaksa engkau supaya engkau mempersekutukan dengan Aku, yang
me-ngenai itu engkau tidak memiliki
pengetahuan, فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا
فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا -- maka janganlah
engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah
dengan keduanya secara layak dalam urusan
dunia.”
Akan tetapi dalam mengabaikan salah satu dari keinginan-keinginan atau perintah-perintah orangtuanya yang bertentangan dengan kesetiaannya terhadap Tuhan, hendaknya ia jangan memperlihatkan sikap sombong atau lancang terhadap mereka; melainkan harus terus memperlihatkan kesantunan, kecintaan, dan kasih sayang
yang tetap kepada mereka: فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا -- maka janganlah
engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah
dengan keduanya secara layak dalam urusan
dunia.”
Sehubungan dengan perbedaan pendapat dalam masalah “Tauhid Ilahi” tersebut dalam
surah lain Allah Swt. berfirman:
وَ
وَصَّیۡنَا الۡاِنۡسَانَ
بِوَالِدَیۡہِ اِحۡسٰنًا ؕ حَمَلَتۡہُ
اُمُّہٗ کُرۡہًا وَّ
وَضَعَتۡہُ کُرۡہًا ؕ وَ حَمۡلُہٗ وَ فِصٰلُہٗ
ثَلٰثُوۡنَ شَہۡرًا ؕ حَتّٰۤی
اِذَا بَلَغَ اَشُدَّہٗ وَ بَلَغَ
اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۙ قَالَ رَبِّ
اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ اَشۡکُرَ
نِعۡمَتَکَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ
عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ
اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰہُ وَ اَصۡلِحۡ
لِیۡ فِیۡ ذُرِّیَّتِیۡ ۚؕ اِنِّیۡ تُبۡتُ
اِلَیۡکَ وَ اِنِّیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ نَتَقَبَّلُ عَنۡہُمۡ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ نَتَجَاوَزُ عَنۡ
سَیِّاٰتِہِمۡ فِیۡۤ اَصۡحٰبِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَعۡدَ الصِّدۡقِ الَّذِیۡ کَانُوۡا
یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat ihsan terhadap orangtuanya.
Ibunya mengandungnya dengan susah-payah,
dan melahirkannya dengan susah-payah.
Dan mengandungnya dan menyapihnya selama
tiga puluh bulan. حَتّٰۤی اِذَا بَلَغَ
اَشُدَّہٗ وَ بَلَغَ اَرۡبَعِیۡنَ سَنَۃً ۙ قَالَ رَبِّ اَوۡزِعۡنِیۡۤ اَنۡ
اَشۡکُرَ نِعۡمَتَکَ
الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتَ عَلَیَّ وَ عَلٰی وَالِدَیَّ وَ اَنۡ
اَعۡمَلَ صَالِحًا تَرۡضٰہُ وَ اَصۡلِحۡ
لِیۡ فِیۡ ذُرِّیَّتِیۡ ۚؕ -- Hingga apabila ia
mencapai usia dewasa dan mencapai usia empat puluh tahun ia
berkata: "Hai Rabb-ku
(Tuhan-ku), berilah taufik kepadaku supaya dapat bersyukur atas nikmat
Engkau yang telah Engkau anugerahkan
kepadaku dan kepada orangtuaku,
dan supaya aku dapat beramal saleh yang
Engkau ridhai, dan perbaikilah bagiku dalam hal keturunanku,
اِنِّیۡ تُبۡتُ
اِلَیۡکَ وَ اِنِّیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- sesungguhnya aku kembali kepada Engkau, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang
berserah diri. اُولٰٓئِکَ الَّذِیۡنَ نَتَقَبَّلُ عَنۡہُمۡ اَحۡسَنَ مَا عَمِلُوۡا وَ نَتَجَاوَزُ عَنۡ
سَیِّاٰتِہِمۡ فِیۡۤ اَصۡحٰبِ الۡجَنَّۃِ -- Mereka
itulah orang-orang yang Kami terima dari
mereka yang terbaik apa yang mereka
amalkan dan Kami mengampuni keburukan-keburukan mereka di antara penghuni-penghuni surga. وَعۡدَ الصِّدۡقِ
الَّذِیۡ کَانُوۡا یُوۡعَدُوۡنَ -- Janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka. (Al-Ahqāf [46:16-17).
Perbedaan “Keyakinan Agama” di Lingkungan Keluarga
Pendek kata, dalam menegakkan “Tauhid Ilahi” -- yakni mengutamakan
kecintaan kepada Allah Swt. dan rasul-Nya
(QS.58:23) -- sifat dan sikap “rahmat bagi seluruh alam” yang
diperagakan Nabi Besar Muhammad a.s. (QS.21:108) harus tetap diamalkan umat Islam, walau pun terdapat perbedaan keimanan dengan orang-orang yang wajib dipenuhi hak-haknya dalam urusan
duniawi, terutama kepada kedua orang
tua dan karib kerabat serta pihak-pihak
lainnya, kecuali jika mereka menolaknya,
firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡ قَالَ لِوَالِدَیۡہِ
اُفٍّ لَّکُمَاۤ اَتَعِدٰنِنِیۡۤ
اَنۡ اُخۡرَجَ وَ قَدۡ خَلَتِ
الۡقُرُوۡنُ مِنۡ قَبۡلِیۡ ۚ وَ ہُمَا
یَسۡتَغِیۡثٰنِ اللّٰہَ وَیۡلَکَ اٰمِنۡ ٭ۖ اِنَّ
وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ ۚۖ
فَیَقُوۡلُ مَا ہٰذَاۤ اِلَّاۤ اَسَاطِیۡرُ
الۡاَوَّلِیۡنَ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ
الَّذِیۡنَ حَقَّ عَلَیۡہِمُ
الۡقَوۡلُ فِیۡۤ اُمَمٍ قَدۡ
خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ مِّنَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ ؕ اِنَّہُمۡ کَانُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang
yang berkata kepada kedua ibu-bapaknya:
"Cih kamu berdua! Apakah kamu mengancamku bahwa aku akan dibangkitkan, padahal telah berlalu beberapa keturunan sebelumku?" وَ ہُمَا یَسۡتَغِیۡثٰنِ اللّٰہَ وَیۡلَکَ
اٰمِنۡ ٭ۖ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ -- Dan mereka
berdua meratap kepada Allah memohon pertolongan seraya berkata: "Celaka engkau, berimanlah, sesungguhnya janji
Allah itu benar." فَیَقُوۡلُ مَا ہٰذَاۤ اِلَّاۤ
اَسَاطِیۡرُ الۡاَوَّلِیۡنَ -- Tetapi ia berkata: "Ini sekali-kali tidak lain melainkan dongengan orang-orang dahulu." Mereka itulah orang-orang yang telah pasti atas mereka ketetapan azab bersama umat-umat yang telah berlalu sebelum
mereka dari kalangan jin dan ins
(manusia), sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang rugi. (Al-Ahqāf [46]:18-19).
Firman Allah Swt. tersebut
menjelaskan pernyataan Allah Swt. berikut ini mengenai sikap “Hizbullāh”
hakiki dalam mengutamakan kecintaan kepada Allah
Swt. dan Rasul-Nya daripada kecintaan
terhadap yang lainnya dalam
firman-Nya:
لَا تَجِدُ
قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ
کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari
Akhir tetapi mereka mencintai
orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ -- walau pun mereka itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ -- Mereka
itulah orang-orang yang di dalam hati
mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ
جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا
-- dan Dia akan memasukkan mereka
ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka
kekal
di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا
عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka ridha
kepada-Nya. اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ
-- Itulah golongan Allah. اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Ketahuilah,
sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang berhasil (Al-Mujadalah [58]:21-23).
Ketidak-kekalan “Perbedaan Faham” dan “Permusuhan”
Terhadap orang-orang yang “kafir” yang secara aktif melakukan penentangan
atau peperangan seperti
itulah makna
perintah Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ
بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ
یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ
فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi pelindung, karena sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Dan barangsiapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Al-Maidah [5]:52).
Namun
terhadap “orang-orang kafir” atau Non-Muslim
yang lainnya Allah Swt. tidak melarang orang-orang beriman memenuhi
hak-hak duniawi mereka, firman-Nya:
لَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ
یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ
یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ
اَنۡ تَبَرُّوۡہُمۡ وَ
تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ
اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ
ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ
تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat kebaikan dan berlaku
adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ وَ لَمۡ یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ
دِیَارِکُمۡ -- yaitu orang-orang
yang tidak memerangi kamu karena agama
dan yang tidak mengusir kamu dari
rumah-rumah kamu, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ
الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ -- Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu
dari rumah-rumahmu dan telah
membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ
-- dan barangsiapa bersahabat
dengan mereka maka mereka itulah
orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
Dengan demikian jelaslah bahwa perintah
Allah Swt. dalam firman-Nya tersebut merupakan seruan
yang bersifat umum, tetapi seruan secara khusus tertuju berkenaan orang-orang
kafir yang ada dalam berperang
dengan kaum Muslim. Itulah makna
firman Allah Swt. berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ
بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ
یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ
فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi pelindung, karena sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Dan barangsiapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum yang
zalim. (Al-Maidah [5]:52).
Tidak Ada Permusuhan yang Abadi, Kecuali
Kedengkian Iblis Terhadap Adam
Kecuali Allah Swt. dan firman-Nya
– khususnya Al-Quran (QS.15:10) --
segala sesuatu selain-Nya
tidak ada yang bersifat abadi (QS.55:27-28), demikian pula halnya
dengan “permusuhan” atau “perbedaan pendapat” di kalangan umat beragama, firman-Nya:
وَ لَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰہِ
اِلٰـہًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۟ کُلُّ شَیۡءٍ ہَالِکٌ اِلَّا وَجۡہَہٗ ؕ لَہُ الۡحُکۡمُ
وَ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan janganlah engkau menyeru tuhan lain bersama
Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia. کُلُّ
شَیۡءٍ ہَالِکٌ اِلَّا وَجۡہَہٗ -- Segala
sesuatu akan binasa kecuali Wujud-Nya.
لَہُ الۡحُکۡمُ
وَ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ -- Kepunyaan-Nya segala hukum dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan (Al-Qashash
[28]:89).
Wajh berarti: diri; muka (wajah),
kepala suatu kaum (bangsa); tujuan atau maksud yang orang sedang kejar; tempat
yang orang tuju atau mengarahkan perha-tiannya; kesenangan; karunia; kepentingan;
dan sebagainya (Lexicon Lane).
Firman-Nya lagi:
کُلُّ مَنۡ عَلَیۡہَا
فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di
atasnya akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو
الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ -- dan akan
kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.
Maka
nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu
kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-29).
Seluruh jagat raya (alam semesta) tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu jagat
raya ini ditakdirkan akan binasa.
Hanya Tuhan-lah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu.
Wajh antara lain berarti: apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang,
yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu
sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid). Karena bumi
ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit
akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam
jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal
manusia menuntut bahwa seyogyanya harus
ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan
atau kerusakan. Wujud demikian adalah
Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta, yakni Allah Swt. (QS.1:2).
Ayat yang sekarang dan
ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua
hukum alam yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu: (1)
segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian;
dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi
menjamin kesinambungan hidup.
Islam (Al-Quran) Mengajarkan “Persaudaraan Ruhani” Hakiki
Demikian pula “permusuhan” pun tidak ada yang kekal, walau pun
Allah Swt. melarang
orang-orang yang beriman di zaman Nabi Besar Muhammad saw. menjadikan orang-orang
kafir Quraisy sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat), tetapi permusuhan umat Islam dengan orang-orang kafir Quraisy Mekkah
tersebut hanya bersifat sementara waktu,
karena menurut Allah Swt. akan datang
masanya kedua-belah pihak yang
sebelumnya “bermusuhan” sengit
tersebut akan menjadi “bersaudara”
dan saling mencintai, firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh
jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini kamu bermusuhan dengan mereka,
karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Pe-nyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
8 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar