Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
69
BUKTI-BUKTI NABI BESAR MUHAMMAD SAW. BERASAL DARI BANI ISMA’IL & PENGGENAPAN
NUBUATAN KEDATANGAN “NABI
YANG SEPERTI MUSA” DAN “ROH KEBENARAN” YANG MEMBAWA “SELURUH KEBENARAN”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 68 dikemukakan Dua Macam Doa Nabi Ibrahim a.s. &
Jawaban Keberatan Kritikus Non-Muslim. Menarik sekali kiranya untuk diperhatikan
di sini bahwa Al-Quran membicarakan dua
doa Nabi Ibrahim a.s. secara terpisah. Pertama tentang keturunan Nabi Ishaq a.s.
dan yang kedua mengenai anak-cucu Nabi Isma’il a.s.. Doa pertama tercantum dalam QS.2:125
dan yang kedua dalam ayat ini (QS.2:128-130).
Dalam doanya mengenai
keturunan Nabi Ishaq a.s., Nabi
Ibrahim a.s. memohon supaya imam-iman atau para mushlih
(pembaharu) dibangkitkan dari antara mereka, tetapi beliau tidak menyebut tugas
atau kedudukan istimewa mereka — mereka itu Mushlih-mushlih rabbani
(Pembaharu-pembaharu) biasa yang akan datang berturut-turut untuk memperbaiki Bani Israil (QS.2:88).
Tetapi dalam doanya pada ayat-ayat ini (QS.2:128-130) Nabi Ibrahim a.s. memohon
kepada Allah Swt. agar membangkitkan
di antara keturunannya seorang Nabi Besar dengan tugas khusus. Perbedaan ini sungguh merupakan gambaran yang sejati lagi
indah sekali tentang kedua cabang keturunan Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya: Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
orang yang berserah diri kepada Engkau,
dan juga dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, perlihatkanlah
kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah
taubat kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha
Penyayang.” “Ya
Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang meng-ajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:129-130).
Jawaban Keberatan Kritikus Non-Muslim
Dengan menyebut kedua doa Nabi Ibrahim a.s. dalam surah Al-Baqarah ayat 125 dan 130, Surah ini mengemukakan secara sepintas
lalu kenyataan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bukan hanya mendoa untuk kesejahteraan Bani
Ishaq saja (QS.2:125), melainkan juga untuk
keturunan Nabi Isma'il a.s., putra sulungnya, firman-Nya:
وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ
اِنِّیۡ جَاعِلُکَ
لِلنَّاسِ اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim diuji oleh
Rabb-Nya (Tuhan-nya) dengan beberapa
perintah maka dilaksanakannya sepenuhnya. Dia
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau imam bagi manusia.” Ia, Ibrahim, berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari
keturunanku.” Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai
yakni tidak berlaku bagi orang-orang
za-lim” (Al-Baqarah [2]:125).
Selaras dengan jawaban Allah Swt.: Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai
yakni tidak berlaku bagi orang-orang
zalim.” Keturunan Nabi Ishaq a.s.
kehilangan karunia kenabian karena perbuatan-perbuatan jahat mereka (QS.2:88-90), maka Nabi yang dijanjikan dan diminta dalam
ayat ini harus termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang lain yaitu anak-cucu
Nabi Isma'il a.s..
Untuk menegaskan bahwa Nabi yang diharapkan dan dijanjikan itu harus seorang dari Bani Isma'il, Al-Quran dengan sangat
tepat menuturkan pembangunan kembali Ka’bah oleh
Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma'il a.s. serta doa yang dipanjatkan oleh Nabi
Ibrahim a.s. untuk keturunan
putra sulungnya. (Nabi Isma’il a.s..
Terhadap kesimpulan wajar ini
para pengecam Kristen pada umumnya
mengemukakan dua kecaman:
(1) Bahwa Bible tidak menyebut
janji
Allah apa pun kepada Nabi
Ibrahim a.s. mengenai
Isma'il a.s..
(2) bahwa andaikata diakui bahwa Allah Swt. sungguh-sungguh
telah memberikan suatu janji
demikian, maka tidak ada bukti
terhadap kenyataan bahwa Rasul agama
Islam -- yakni Nabi Besar Muhammad
saw. -- adalah keturunan Nabi Isma'il a.s..
Adapun tentang keberatan pertama,
andaikata pun diperhatikan bahwa Bible
tak mengandung nubuatan-nubuatan apa
pun mengenai Nabi Isma'il a.s. maka hal itu tidaklah berarti bahwa nubuatan demikian tidak pernah ada,
sebab sidah merupakan kebiasaan para
pemuka agama Yahudi untuk menyembunyikan
atau menghilangkan atau mengaburkan
makna dari nubuatan-nubuatan
tersebut (QS.2:41-44 & 90-91, 102; QS.3:4 & 82; QS.4:48; QS.5:49),
padahal mereka mengenal nubuatan-nubuatan
tersebut bagaikan mengenal anak-anak meeka sendiri (QS.2:147; QS.6:21;
QS.26:193-198).
Tambahan pula bila kesaksian Bible dapat dianggap membenarkan adanya sesuatu janji mengenai Nabi Ishaq a.s.. dan putra-putranya,
mengapa kesaksian Al-Quran berkenaan
dengan anak cucu Nabi Isma'il a.s. tidak dapat diterima sebagai bukti bahwa janji-janji
telah diberikan pula oleh Allah Swt.
kepada Nabi Isma'il a.s. dan
anak-anaknya? Tetapi dalam kenyataannya Bible sendiri mengandung penunjukan mengenai kesejahteraan hari depan putra-putra
Nabi Isma'il a.s. seperti
dikandungnya mengenai kesejahteraan
putra-putra Nabi Ishaq a.s. (Kejadian 16:10-12; 17:6-10;
17:18-20).
Kaum Quraisy Adalah Salah
Satu Qabilah Bani Isma’il
Sebagai jawaban kepada keberatan kedua bahwa seandainya pun perjanjian itu dianggap meliputi keturunan Isma'il a.s. masih harus pula dibuktikan bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. termasuk Bani Isma'il. Butir-butir berikut ini dapat
diperhatikan:
(1) Kaum Quraisy kabilah Nabi Besar Muhammad saw. berasal, senantiasa percaya dan menyatakan
diri sebagai keturunan Nabi Isma'il a.s. dan pengakuan itu diakui oleh semua bangsa Arab.
(2) Jika pengakuan kaum Quraisy dan juga pengakuan suku-suku Bani Isma'il lainnya dari
tanah Arab sebagai keturunan Nabi Isma'il
a.s. itu tidak benar, maka
keturunan Nabi Isma'il a.s. yang
sungguh-sungguh tentu akan membantah pengakuan palsu demikian itu, tetapi
setahu orang keberatan demikian tidak pernah diajukan.
(3). Dalam Kejadian 17:20 Tuhan
telah berjanji akan memberkati Nabi
Isma'il a.s. melipatgandakan keturunannya, menjadikannya bangsa besar dan ayah 12 pangeran. Jika bangsa Arab bukan keturunannya, lalu
mana bangsa yang dijanjikan itu?
Suku-suku Bani Isma'il di tanah Arab
sungguh-sungguh merupakan satu-satunya yang mengaku berasal dari Nabi
Isma'il a.s.
(4) Menurut Kejadian 21:8-14, Siti Hajar terpaksa meninggalkan
rumahnya untuk memuaskan rasa angkuh Siti
Sarah. Jika beliau dan putranya Isma’il
a.s. tidak dibawa Nabi Ibrahim a.s. ke Hijaz,
di manakah sekarang keturunannya
dapat ditemukan dan di manakah tempat pembuangannya?
(5) Ahli-ahli ilmu bumi bangsa
Arab semuanya sepakat bahwa Faran itu adalah nama yang diberikan kepada
bukit-bukit Hijaz (Mu’jam al-Buldan).
(6). Menurut Bible, keturunan Nabi Nabi
Isma'il a.s. menghuni
wilayah “dari negeri Hawilah sampai ke
Syur” (Kejadian 25:18),
dan kata-kata “dari Hawilah sampai ke
Syur” menunjukkan ujung-ujung bertentangan negeri Arab (Cyclopaedia of Biblical Literature
by J. Eadie, London 1862).
(7). Bible menyebut Isma’il
“seorang bagai hutan lakunya” (Kejadian
16:12) dan kata A’rabi (“Penghuni padang pasir”) mengandung arti hampir
sama pula.
(8). Bahkan Paulus mengakui adanya hubungan antara Siti Hajar dengan tanah Arab
(Galatia 4:25).
(9). Kedar itu seorang putra Isma’il a.s. dan telah diakui bahwa
keturunannya menduduki wilayah selatan tanah Arab (Cyclopaedia of Biblical Literature: London 1862).
(10). Prof. C.C. Torrey
mengatakan: “Orang-orang Arab itu Bani
Isma’il menurut riwayat bangsa Ibrani ....
Dua belas orang raja" (Kejadian
17:20), yang kemudian disebut dalam Kejadian 25:13-15, menggambarkan
suku-suku Arab atau daerah-daerah di
negeri Arab, perhatikanlah terutama Kedar, Duma (Dumatul Jandal), Teima. Bangsa
besar itu ialah penduduk Arab” (Jewish
Foundation of Islam, halaman 83). “Orang-orang
Arab menurut ciri-ciri jasmani, bahasa, adat kebiasaan asli .... dan dari
persaksian Bible umumnya dan pada dasarnya adalah Bani Isma’il” (Cyclopaedia of Biblical Literature,
New York, halaman 685).
(11). “Marilah kita senantiasa mencela kecenderungan kotor anak-anak Hajar
karena terutama kaum (suku) Quraisy, mereka itu serupa dengan binatang” (Leaves from Three Ancient Qur’an,
edited by the Rev. Mingana, D.D. Intro. xiii).
Nubuatan
Bible dan Kesaksian
Al-Quran Mengenai Kedatangan “Nabi yang Seperti Musa”
Dengan demikian doa
yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s.
ketika membangun kembali Ka’bah
(Baitullah) bersama putra sulung beliau,
Nabi Isma’il a.s., dalam
QS.2:128-130 berhubungan erat dengan Bani Isma’il ---
yang adalah “saudara tua” Bani
Israil -- sesuai dengan nubuatan dalam Bible
mengenai kedatangan Nabi yang seperti Musa
yang datang kalangan saudara Bani
Israil yakni Bani Ismail:
18:15 Seorang nabi
dari tengah-tengahmu, dari antara
saudara-saudaramu, sama
seperti aku , akan
dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN,
Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN,
Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati. 18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak
mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya
akan Kutuntut pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang
nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak
Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus
mati. (Ulangan 18:15-20).
Berikut ini beberapa
keterangan Allah Swt. dalam Al-Quran
sehubungan nubuatan dalam Bible tersebut:
(1) Kalimat “18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,
sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu;
dialah yang harus kamu dengarkan ” sesuai dengan firman Allah Swt.
dalam Al-Quran berikut ini
mengenai “Nabi yang seperti Musa”
yaitu Nabi Besar Muhammad Saw., firman-Nya:
قُلۡ اَرَءَیۡتُمۡ
اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah:
"Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran
ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ
مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی مِثۡلِہٖ فَاٰمَنَ -- padahal seorang
saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan
seseorang semisalnya lalu ia beriman وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ -- tetapi kamu berlaku sombong?" اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqāf [46]:11). Lihat
pula QS.11:18; QS.61:7.
Kedudukan Harun a.s. Sebagai Khalifah Nabi Musa a.s.
(2) Kalimat: 18:16 Tepat seperti yang kamu minta
dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan
berkata: Tidak mau aku mendengar lagi
suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi,
supaya jangan aku mati” sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam
Al-Quran mengenai kepergian Nabi Musa
a.s. ke gunung Thur selama 40 hari sesuai “perjanjian”
Allah Swt. setelah keluar dari
wilayah Mesir bersama dengan Nabi
Harun a.s. dan Bani Israil , firman-Nya:
وَ
وٰعَدۡنَا مُوۡسٰی ثَلٰثِیۡنَ لَیۡلَۃً وَّ اَتۡمَمۡنٰہَا بِعَشۡرٍ
فَتَمَّ مِیۡقَاتُ رَبِّہٖۤ اَرۡبَعِیۡنَ لَیۡلَۃً ۚ وَ قَالَ مُوۡسٰی لِاَخِیۡہِ ہٰرُوۡنَ اخۡلُفۡنِیۡ
فِیۡ قَوۡمِیۡ وَ اَصۡلِحۡ وَ لَا تَتَّبِعۡ سَبِیۡلَ
الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی
لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ اَنۡظُرۡ
اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ
وَ لٰکِنِ انۡظُرۡ اِلَی
الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا
تَجَلّٰی رَبُّہٗ لِلۡجَبَلِ
جَعَلَہٗ دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی
صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ
سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan Kami
menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam dan Kami menyempurnakannya dengan sepuluh, maka sempurnalah
waktu yang dijanjikan Rabb-nya
(Tuhan-nya) empat puluh malam. Dan
Musa berkata kepada Harun, saudaranya: “Wakililah
aku di kalangan kaumku, perbaikilah
mereka dan janganlah engkau
mengikuti jalan orang-orang yang berbuat
kerusakan.” Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap
dengannya, ia berkata: “Ya Rabb-nya (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat
memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau
tidak akan pernah dapat melihat-Ku
tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya
maka engkau pasti akan dapat melihat-Ku.” Maka tatkala
Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan
keagungan-Nya pada gunung itu Dia
menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan. فَلَمَّاۤ اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ
تُبۡتُ اِلَیۡکَ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Lalu tatkala
ia sadar kembali ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau
dan aku adalah orang pertama di antara
orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf
[7]:143-144).
Pertemuan Allah Swt. dengan Nabi Musa a.s. telah
selesai dalam 30 malam yang dijanjikan. Perpanjangan waktu dengan tambah 10 malam tidak menjadi bagian
dari janji itu, melainkan merupakan karunia tambahan.
Kata-kata ”Dan Musa berkata kepada Harun, saudaranya: “Wakililah aku di kalangan kaumku, perbaikilah mereka dan janganlah engkau mengikuti jalan
orang-orang yang berbuat kerusakan” menunjukkan bahwa kedudukan Nabi Harun a.s.
berada di bawah Nabi Musa a.s..
Lihat Bible - Keluaran 24:12-18.
Nabi Musa
a.s. menyebut kaum Bani Israil
“kaumku” dan mengamanatkan kepada
Nabi Harun a.s. supaya
bertindak atas nama beliau, yakni
melakukan pekerjaan-pekerjaan kenabian dalam kedudukan selaku Khalifahnya selama beliau tidak ada di tempat.
Dari kenyataan tersebut jelaslah
bahwa -- bertentangan dengan pendapat umum -- tidak setiap nabi Allah atau rasul Allah
membawa syariat (agama), contohnya
adalah para nabi Allah yang diutus setelah Nabi Musa a.s., mulai dari nabi
Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pada hakikatnya merupakan “Khalifah” Nabi Musa a.s. (QS.2:88-89).
Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s.
Ayat selanjutnya:
“Dan tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan
dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata:
“Ya Rabb-nya
(Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku
supaya aku dapat memandang Engkau” memberikan penjelasan mengenai salah
satu masalah keagamaan yang sangat
penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan Allah Swt. dengan mata jasmaninya?
Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt. dapat disaksikan oleh mata jasmani
(QS.6:104). Jangankan melihat Allah
Swt. dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat melihat malaikat-malaikat, manusia hanya
dapat melihat penjelmaan mereka
belaka yang beraneka ragam.
Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt. sajalah yang dapat manusia saksikan,
tetapi Wujud Allah Swt. sendiri
tidak dapat disaksikan (dilihat) dengan mata
jasmani serta tidak dapat cerap
(ditangkap) oleh indra-indra jasmani lainnya. Oleh karena itu tidak dapat dimengerti (mustahil) bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s. dengan segala makrifat mengenai Sifat-sifat
sempurna Allah Swt. akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
Nabi Musa a.s. pasti mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat
menyaksikan Tajalli (penampakkan
kekuasaan) Allah Swt. dan bukan menyaksikan Wujud-Nya
Sendiri. Akan tetapi beliau sebelumnya
sudah melihat suatu Tajalli Allah Swt. dalam bentuk “api” dalam perjalanan
beliau bersama keluarganya dari Midian ke Mesir (QS.20:11-17; QS.27:8-10-17; QS.28:30-31).
Jadi apa gerangan maksud Musa
a.s. dengan perkataan: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampakkanlah kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”
Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan
kepada tajalli-sempurna Allah Swt. yang kelak akan menjelma pada diri “rekan sejawat” beliau -- sesama nabi
(rasul) Allah pembawa syariat – yakni
Nabi Besar Muhammad saw. beberapa masa kemudian.
Nabi Musa a.s. diberi
janji oleh Allah Swt. bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil
akan muncul seorang nabi Allah yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya
(Kitab Ulangan 18:18-22).
Nubuatan tersebut berkenaan dengan suatu Tajalli Ilahi lebih besar daripada yang pernah
dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s., --
yang kemunculannya kelak digambarkan (diumpamakan) seakan-akan kedatangan Tuhan Sendiri -- karena itu Nabi Musa a.s. dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana
Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt. yang akan tampak dalam Tajalli yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan
itu, ada yang dapat diperlihatkan
kepada beliau.
Tetapi Nabi Musa a.s. diberi tahu bahwa Tajalli Ilahi tersebut berada
di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,
dan tajalli Ilahi itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi guna meyakinkan hati Nabi Musa a.s. mengenai hal
tersebut Allah Swt. dalam “peristiwa ruhani” (kasyaf)
tersebut memilih gunung untuk bertajalli.
Ketika Allah Swt. bertajalli
ke atasnya maka gunung itu berguncang dengan hebat serta nampak seakan-akan
ambruk, dan Nabi Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh
guncangan hebat itu rebah tidak sadarkan diri. Dengan cara
demikian Nabi Musa a.s. dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat
beliau boleh menyaksikannya sendiri “tempat” Allah Swt. bertajalli sebagaimaa dimohonkan
beliau, karena hak istimewa yang unik
itu disediakan untuk seorang yang martabat akhlak dan ruhaninya jauh lebih besar (lebih mulia) daripada
beliau (QS.33:73; QS.13:32; QS.59:22), tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Muhammad
Saw. – Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41).
Mungkin pula permohonan Nabi Musa
a.s. itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut
untuk melihat Allah Swt. dengan mata
jasmani, firman-Nya:
وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ
جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ﴿ ﴾
Dan, ingatlah
ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami
tidak akan pernah mempercayai engkau hingga kami terlebih dulu melihat
Allah secara nyata”, lalu kamu
disambar petir sedangkan kamu
menyaksikan. (Al-Baqarah
[2]:56). Lihat pula QS.4:154.
Pernyataan Iman Nabi Musa a.s. Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.
Pengalaman Nabi Musa a.s. yang
sangat luar biasa itu memberi kesadaran
kepada beliau bahwa permohonan beliau
itu tidak layak, karena itu
segera beliau berseru: “Aku bertaubat
kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang
berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat
tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu dan bahwa
beliau (Nabi Musa aa.s.) ) adalah orang yang pertama-tama yang beriman
kepada keluhuran kedudukan ruhani
yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi
Besar Muhammad saw. yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. itu. Keimanan Nabi Musa a.s. kepada Nabi Besar Muhammad saw. itu telah disinggung juga dalam
QS.46:11.
Gunung itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata
itu telah dipergunakan secara majasi
(kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa
bumi itu. Lihat Keluaran
24:18-18. Guna menentramkan hati Nabi
Musa a.s. selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ یٰمُوۡسٰۤی اِنِّی اصۡطَفَیۡتُکَ عَلَی النَّاسِ
بِرِسٰلٰتِیۡ وَ بِکَلَامِیۡ ۫ۖ فَخُذۡ
مَاۤ اٰتَیۡتُکَ وَ کُنۡ
مِّنَ الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia berfirman:
“Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau atas umat manusia
dengan risalah-Ku dan firman-Ku, maka pegang-teguhlah apa yang telah Aku berikan kepada engkau dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang
bersyukur.” (Al-A’rāf [7]:143-144).
Ayat ini
nampaknya ditujukan kepada Nabi Musa a.s. sebagai kata-kata penghibur sesudah Allah Swt. membuat beliau sadar bahwa beliau tidak dapat mencapai derajat keruhanian yang tinggi seperti Nabi Besar yang akan dibangkitkan dari keturunan Nabi
a.s. yang ditakdirkan akan mencapainya. Nabi Musa a.s. diminta agar jangan mendambakan kemuliaan tinggi yang
disediakan untuk “Nabi itu” tetapi hendaknyalah merasa puas dengan dan bersyukur atas peringkat yang telah dianugerahkan Allah Swt. kepada beliau.
Demikianlah makna dari Ulangan 18:16. Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada
TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN,
Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati.”
(3) Kalimat: 18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”
“Roh Kebenaran” yang Akan Membawa “Seluruh Kebenaran”
Kalimat “Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya” selaras dengan
pernyataan Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dalam Injil Yohanes 16:12-13:
16:12 Masih
banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang
kamu belum dapat menanggungnya. 16:13 Tetapi apabila
Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan
memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran ; sebab Ia
tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan
Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal
yang akan datang.
Sebutan “Roh
Kebenaran” yang “akan memimpin ke dalam seluruh kebenaran” sama sekali
tidak dapat dikenakan kepada nubuatan
mengenai kedatangan kedua kali Yesus (Mesias) di Akhir Zaman ini (Matius 24:23-31) karena
beliau dengan tegas menyatakan bahwa misi
kenabiannya hanya untuk menggenapi
hukum Taurat dan kitab para nabi serta beliau diutus hanya untuk kaum Bani Israil saja (Matius
5:17-20; QS.61:7):
5:17 "Janganlah
kamu menyangka, bahwa Aku datang
untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab
para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk
menggenapinya . 5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan
bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,
sebelum semuanya terjadi. 5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling
kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain,
ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi
siapa yang melakukan dan mengajarkan
segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di
dalam Kerajaan Sorga . 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup
keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Dengan demikian sebutan “Roh Kebenaran” yang “akan
memimpin ke dalam seluruh kebenaran”
yang dikemukakan Yesus
(Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) hanya cocok untuk Nabi Besar Muhammad saw., sesuai firman-Nya:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ وَ النَّجۡمِ
اِذَا ہَوٰی ۙ﴿﴾ مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾
وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی ؕ﴿﴾ اِنۡ
ہُوَ اِلَّا وَحۡیٌ یُّوۡحٰی ۙ﴿﴾
عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ فَاسۡتَوٰی ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾ ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾
فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ اَدۡنٰی ۚ﴿﴾ فَاَوۡحٰۤی
اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ اَوۡحٰی ﴿ؕ﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. Demi bintang
apabila jatuh. مَا
ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ وَ مَا غَوٰی -- Tidaklah
sesat sahabat kamu dan tidak pula
keliru. وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ الۡہَوٰی -- Dan ia
sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ ہُوَ اِلَّا
وَحۡیٌ یُّوۡحٰی -- Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ شَدِیۡدُ الۡقُوٰی -- Tuhan Yang
Mahakuat Perkasa mengajarinya, ذُوۡ مِرَّۃٍ
ؕ فَاسۡتَوٰی -- Pemilik
Kekuatan, lalu Dia bersemayam di atas
‘Arasy, وَ ہُوَ بِالۡاُفُقِ
الۡاَعۡلٰی -- dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia,
Rasulullah, berada di ufuk tertinggi. ثُمَّ دَنَا فَتَدَلّٰی -- Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allqh, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ اَوۡ
اَدۡنٰی -- maka
jadilah ia, seakan-akan, seutas
tali dari dua buah busur,
atau lebih dekat lagi. فَاَوۡحٰۤی اِلٰی عَبۡدِہٖ مَاۤ
اَوۡحٰی
-- Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang
telah Dia wahyukan. (An-Najm [53]:1-11).
Jadi,
kembali kepada nubutan dalam Ulangan
18:15-19), ungkapan “segala yang Kuperintahkan kepadanya” mengisyaratkan kepada kepada kesempurnaan syariat Islam (Al-Quran) sebagai agama (kitab suci) terakhir
dan tersempurna, yang diwahyukan Allah Swt. kepada “Nabi
yang seperti Musa” atau “Roh
Kebenaran” yang membawa “seluruh
kebenaran”, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah
Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu.
(Al-Māidah
[5]:4).
Al-Quran Mendapat Jaminan Pemeliharaan Allah Swt.
Itulah sebabnya berbeda dengan syariat-syariat
atau kitab-kitab suci sebelumnya syariat
Islam (Al-Quran) mendapat jaminan
pemeliharaan Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا لَہٗ
لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
”Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya
Kami-lah pemelihara-nya. (Al-Hijr
[15]:10).
Janji
mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam
ayat ini telah genap dengan cara yang
sangat menakjubkan, sehingga
sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya
sudah cukup membuktikan bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt..
Surah ini diturunkan di Mekkah
(Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit
keadaannya, dan musuh-musuh
dengan mudah dapat menghancurkan agama
yang baru itu. Ketika itulah orang-orang
kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt. akan menggagalkan
segala tipu-daya mereka sebab Dia
sendirilah Penjaganya.
Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar,
sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan
Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.
Sir William Muir, sarjana ahli
kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat
menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa “tiap-tiap
ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak
mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari
dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri
siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka
yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci
kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
Prof. Noldeke, ahli ketimuran
besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya
sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica).
Kegagalan
mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian
teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran
da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab
suci yang diwahyukan hanya Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
25 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar