Minggu, 27 November 2016

Bukti-bukti Nabi Besar Muhammad saw. Berasal dari "Bani Isma'il" & Penggenapan Nubuatan Kedatangan "Nabi yang Seperti Musa" dan "Roh Kebenaran" yang Membawa "Seluruh Kebenaran"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 69  

BUKTI-BUKTI NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  BERASAL DARI BANI ISMA’IL   &  PENGGENAPAN  NUBUATAN KEDATANGAN   “NABI YANG SEPERTI MUSA” DAN “ROH KEBENARAN”  YANG MEMBAWA “SELURUH KEBENARAN

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 68 dikemukakan      Dua Macam Doa Nabi Ibrahim a.s. &  Jawaban Keberatan Kritikus Non-Muslim.  Menarik sekali kiranya untuk diperhatikan di sini bahwa Al-Quran membicarakan dua doa Nabi Ibrahim a.s. secara terpisah. Pertama tentang keturunan  Nabi Ishaq a.s.  dan yang kedua mengenai anak-cucu Nabi Isma’il a.s..   Doa pertama tercantum dalam QS.2:125 dan yang kedua dalam ayat ini (QS.2:128-130).
       Dalam doanya mengenai keturunan Nabi Ishaq a.s.,   Nabi Ibrahim a.s. memohon supaya imam-iman atau para mushlih (pembaharu) dibangkitkan dari antara mereka, tetapi beliau tidak menyebut tugas atau kedudukan istimewa mereka — mereka itu Mushlih-mushlih rabbani (Pembaharu-pembaharu) biasa yang akan datang berturut-turut untuk memperbaiki Bani Israil (QS.2:88).
    Tetapi dalam doanya pada ayat-ayat ini (QS.2:128-130) Nabi Ibrahim a.s. memohon kepada Allah  Swt.  agar membangkitkan di antara keturunannya seorang Nabi Besar dengan tugas khusus. Perbedaan ini sungguh merupakan gambaran yang sejati lagi indah sekali tentang kedua cabang keturunan Nabi Ibrahim  a.s., firman-Nya:     Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah  diri kepada Engkau, dan juga  dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau,  perlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.”    “Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang meng-ajarkan Kitab  dan hikmah  kepada mereka serta akan mensucikan mereka,  sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  (Al-Baqarah [2]:129-130).

Jawaban Keberatan Kritikus Non-Muslim

      Dengan menyebut kedua doa Nabi Ibrahim  a.s.  dalam surah Al-Baqarah ayat 125 dan 130, Surah ini mengemukakan secara sepintas lalu kenyataan bahwa Nabi Ibrahim a.s.  bukan hanya mendoa untuk kesejahteraan Bani Ishaq saja (QS.2:125), melainkan juga untuk  keturunan  Nabi  Isma'il a.s.,   putra sulungnya, firman-Nya:
وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی  اِبۡرٰہٖمَ  رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ اِنِّیۡ جَاعِلُکَ لِلنَّاسِ  اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji  oleh  Rabb-Nya (Tuhan-nya) dengan beberapa perintah  maka dilaksanakannya sepenuhnya. Dia berfirman: “Sesungguhnya  Aku akan  menjadikan engkau imam  bagi manusia.”   Ia, Ibrahim,  berkata: “Dan jadikanlah juga imam dari  keturunanku.  Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak berlaku bagi orang-orang za-lim” (Al-Baqarah [2]:125). 
      Selaras dengan jawaban Allah Swt.:  Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai yakni tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”   Keturunan Nabi Ishaq a.s.  kehilangan karunia kenabian karena perbuatan-perbuatan jahat mereka (QS.2:88-90), maka Nabi yang dijanjikan dan diminta dalam ayat  ini harus termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s.  yang lain  yaitu anak-cucu  Nabi Isma'il a.s..  
      Untuk menegaskan bahwa Nabi yang diharapkan dan dijanjikan itu harus seorang dari Bani Isma'il, Al-Quran dengan sangat tepat menuturkan pembangunan kembali Ka’bah oleh Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma'il a.s.  serta doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim a.s. untuk keturunan putra sulungnya. (Nabi Isma’il a.s..
    Terhadap kesimpulan wajar ini para pengecam Kristen pada umumnya mengemukakan dua kecaman:
     (1) Bahwa Bible tidak menyebut janji  Allah apa pun kepada Nabi Ibrahim a.s.  mengenai Isma'il a.s..
      (2) bahwa andaikata diakui bahwa Allah Swt. sungguh-sungguh telah memberikan suatu janji demikian, maka tidak ada bukti terhadap kenyataan bahwa Rasul agama Islam  -- yakni Nabi Besar Muhammad saw.  -- adalah keturunan Nabi Isma'il a.s..  
      Adapun tentang keberatan pertama, andaikata pun diperhatikan bahwa Bible tak mengandung nubuatan-nubuatan apa pun mengenai Nabi Isma'il a.s.   maka hal itu tidaklah berarti bahwa nubuatan demikian tidak pernah ada, sebab sidah merupakan kebiasaan para pemuka agama Yahudi untuk  menyembunyikan atau menghilangkan  atau mengaburkan makna dari nubuatan-nubuatan tersebut (QS.2:41-44 & 90-91, 102; QS.3:4 & 82; QS.4:48; QS.5:49), padahal mereka mengenal nubuatan-nubuatan tersebut bagaikan mengenal anak-anak meeka sendiri (QS.2:147; QS.6:21; QS.26:193-198).
     Tambahan pula bila kesaksian Bible dapat dianggap membenarkan adanya sesuatu janji mengenai Nabi Ishaq a.s.. dan putra-putranya, mengapa kesaksian Al-Quran berkenaan dengan anak cucu Nabi Isma'il  a.s. tidak dapat diterima sebagai bukti bahwa janji-janji telah diberikan pula oleh Allah Swt.   kepada Nabi Isma'il a.s.   dan anak-anaknya? Tetapi  dalam kenyataannya Bible sendiri mengandung penunjukan mengenai kesejahteraan hari depan putra-putra Nabi Isma'il a.s.  seperti dikandungnya mengenai kesejahteraan putra-putra Nabi Ishaq a.s. (Kejadian 16:10-12; 17:6-10; 17:18-20).

Kaum Quraisy Adalah Salah Satu Qabilah Bani Isma’il

     Sebagai jawaban kepada keberatan kedua bahwa seandainya pun perjanjian itu dianggap meliputi keturunan Isma'il a.s.  masih harus pula dibuktikan bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  termasuk Bani Isma'il.    Butir-butir berikut ini dapat diperhatikan:
     (1) Kaum Quraisy kabilah Nabi Besar Muhammad  saw.  berasal, senantiasa percaya dan menyatakan diri sebagai keturunan Nabi Isma'il  a.s.  dan pengakuan itu diakui oleh semua bangsa Arab.
    (2) Jika pengakuan kaum Quraisy dan juga pengakuan suku-suku Bani Isma'il lainnya dari tanah Arab sebagai keturunan Nabi Isma'il a.s.  itu tidak benar, maka keturunan Nabi Isma'il a.s.  yang sungguh-sungguh tentu akan membantah pengakuan palsu demikian itu, tetapi setahu orang keberatan demikian tidak pernah diajukan.
       (3). Dalam Kejadian 17:20 Tuhan telah berjanji akan memberkati Nabi Isma'il a.s. melipatgandakan keturunannya, menjadikannya bangsa besar dan ayah 12  pangeran. Jika bangsa Arab bukan keturunannya, lalu mana bangsa yang dijanjikan itu? Suku-suku Bani Isma'il di tanah Arab sungguh-sungguh merupakan satu-satunya yang mengaku berasal dari  Nabi Isma'il a.s.
       (4) Menurut Kejadian 21:8-14, Siti Hajar terpaksa meninggalkan rumahnya untuk memuaskan rasa angkuh Siti Sarah. Jika beliau dan putranya Isma’il a.s.  tidak dibawa Nabi Ibrahim a.s.  ke Hijaz, di manakah sekarang keturunannya dapat ditemukan dan di manakah tempat pembuangannya?
     (5) Ahli-ahli ilmu bumi bangsa Arab semuanya sepakat bahwa Faran itu adalah nama yang diberikan kepada bukit-bukit Hijaz (Mu’jam al-Buldan).
     (6). Menurut Bible, keturunan Nabi Nabi Isma'il a.s.  menghuni wilayah “dari negeri Hawilah sampai ke Syur” (Kejadian 25:18), dan kata-kata “dari Hawilah sampai ke Syur” menunjukkan ujung-ujung bertentangan negeri Arab (Cyclopaedia of Biblical Literature by J. Eadie, London 1862).
      (7). Bible menyebut Isma’il “seorang bagai hutan lakunya” (Kejadian 16:12) dan kata A’rabi (“Penghuni padang pasir”) mengandung arti hampir sama pula.
     (8). Bahkan Paulus mengakui adanya hubungan antara Siti Hajar dengan tanah Arab (Galatia 4:25).
     (9). Kedar itu seorang putra Isma’il a.s. dan telah diakui bahwa keturunannya menduduki wilayah selatan tanah Arab (Cyclopaedia of Biblical Literature: London 1862).
     (10). Prof. C.C. Torrey mengatakan: “Orang-orang Arab itu Bani Isma’il menurut riwayat bangsa Ibrani ....   Dua belas orang raja" (Kejadian 17:20), yang kemudian disebut dalam Kejadian 25:13-15, menggambarkan suku-suku Arab atau daerah-daerah di negeri Arab, perhatikanlah terutama Kedar, Duma (Dumatul Jandal), Teima. Bangsa besar itu ialah penduduk Arab” (Jewish Foundation of Islam, halaman 83). “Orang-orang Arab menurut ciri-ciri jasmani, bahasa, adat kebiasaan asli .... dan dari persaksian Bible umumnya dan pada dasarnya adalah Bani Isma’il” (Cyclopaedia of Biblical Literature, New York, halaman 685).
     (11). “Marilah kita senantiasa mencela kecenderungan kotor anak-anak Hajar karena terutama kaum (suku) Quraisy, mereka itu serupa dengan binatang” (Leaves from Three Ancient Qur’an, edited by the Rev. Mingana, D.D. Intro. xiii).

Nubuatan Bible  dan Kesaksian Al-Quran Mengenai Kedatangan  “Nabi yang Seperti Musa

      Dengan demikian  doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim a.s.  ketika membangun kembali Ka’bah (Baitullah) bersama putra  sulung beliau, Nabi Isma’il a.s., dalam QS.2:128-130  berhubungan erat dengan Bani Isma’il  ---  yang adalah  “saudara tua”  Bani Israil --  sesuai dengan nubuatan dalam Bible mengenai kedatangan Nabi yang seperti Musa   yang datang kalangan saudara Bani Israil  yakni Bani Ismail:
18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,  sama seperti aku , akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.  18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,    dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.  18:19 Orang yang tidak mendengarkan   segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku,  dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.   18:20 Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah    lain, nabi itu harus mati.   (Ulangan 18:15-20).
     Berikut ini  beberapa  keterangan Allah Swt. dalam Al-Quran sehubungan nubuatan dalam Bible tersebut:
      (1) Kalimat  18:15 Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu,  sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan ” sesuai dengan firman Allah  Swt.  dalam Al-Quran berikut ini mengenai “Nabi yang seperti Musa” yaitu Nabi Besar Muhammad  Saw., firman-Nya:
قُلۡ  اَرَءَیۡتُمۡ  اِنۡ کَانَ مِنۡ عِنۡدِ اللّٰہِ وَ کَفَرۡتُمۡ  بِہٖ وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Al-Quran ini dari Allah dan kamu tidak percaya kepadanya وَ شَہِدَ شَاہِدٌ مِّنۡۢ  بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ  عَلٰی مِثۡلِہٖ  فَاٰمَنَ  -- padahal   seorang saksi dari antara Bani Israil memberi kesaksian terhadap kedatangan seseorang semisalnya  lalu ia beriman وَ اسۡتَکۡبَرۡتُمۡ   -- tetapi kamu berlaku sombong?" اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ  -- Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Ahqāf [46]:11). Lihat pula QS.11:18; QS.61:7.

Kedudukan  Harun a.s. Sebagai Khalifah Nabi Musa a.s.

      (2) Kalimat:  18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati”  sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai  kepergian Nabi Musa a.s. ke gunung Thur selama 40 hari sesuai   “perjanjian”  Allah Swt. setelah keluar dari  wilayah Mesir bersama dengan  Nabi Harun a.s. dan Bani Israil , firman-Nya:
وَ وٰعَدۡنَا  مُوۡسٰی ثَلٰثِیۡنَ  لَیۡلَۃً وَّ اَتۡمَمۡنٰہَا بِعَشۡرٍ فَتَمَّ  مِیۡقَاتُ رَبِّہٖۤ اَرۡبَعِیۡنَ  لَیۡلَۃً ۚ وَ قَالَ مُوۡسٰی  لِاَخِیۡہِ ہٰرُوۡنَ  اخۡلُفۡنِیۡ  فِیۡ  قَوۡمِیۡ وَ اَصۡلِحۡ  وَ لَا تَتَّبِعۡ  سَبِیۡلَ  الۡمُفۡسِدِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَمَّا جَآءَ مُوۡسٰی لِمِیۡقَاتِنَا وَ کَلَّمَہٗ رَبُّہٗ ۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِیۡۤ   اَنۡظُرۡ   اِلَیۡکَ ؕ قَالَ لَنۡ تَرٰىنِیۡ  وَ لٰکِنِ  انۡظُرۡ  اِلَی  الۡجَبَلِ فَاِنِ اسۡتَقَرَّ مَکَانَہٗ فَسَوۡفَ تَرٰىنِیۡ ۚ فَلَمَّا تَجَلّٰی رَبُّہٗ  لِلۡجَبَلِ جَعَلَہٗ  دَکًّا وَّ خَرَّ مُوۡسٰی صَعِقًا ۚ فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami menjanjikan kepada Musa tiga puluh malam dan Kami menyempurnakannya dengan sepuluh, maka sempurnalah waktu yang dijanjikan Rabb-nya (Tuhan-nya) empat puluh malam. Dan Musa berkata kepada Harun, saudaranya: “Wakililah aku di kalangan kaumku, perbaikilah mereka dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat  kerusakan.” Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya  Rabb-nya (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau.” Dia berfirman: “Engkau tidak akan pernah dapat melihat-Ku  tetapi pandanglah gunung itu, lalu jika ia tetap ada pada tempatnya  maka engkau pasti  akan dapat melihat-Ku.” Maka  tatkala Rabb-nya (Tuhan-nya) menjelmakan keagungan-Nya pada  gunung itu  Dia menjadikannya hancur lebur, dan Musa pun jatuh pingsan.  فَلَمَّاۤ  اَفَاقَ قَالَ سُبۡحٰنَکَ تُبۡتُ  اِلَیۡکَ  وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  -- Lalu tatkala ia sadar kembali  ia berkata: “Mahasuci Engkau, aku bertaubat  kepada Engkau dan aku adalah orang pertama di antara orang-orang yang beriman kepadanya di masa ini.” (Al-A’rāf [7]:143-144).
       Pertemuan Allah  Swt. dengan Nabi Musa a.s. telah selesai dalam 30 malam yang dijanjikan. Perpanjangan waktu dengan tambah 10 malam tidak menjadi bagian dari janji itu, melainkan merupakan karunia tambahan.
    Kata-kata  ”Dan Musa berkata kepada Harun, saudaranya: “Wakililah aku di kalangan kaumku, perbaikilah mereka dan janganlah engkau mengikuti jalan orang-orang yang berbuat  kerusakan”  menunjukkan bahwa kedudukan Nabi Harun a.s.  berada di bawah Nabi Musa a.s.. Lihat Bible -   Keluaran 24:12-18.
      Nabi Musa a.s. menyebut kaum Bani Israil “kaumku” dan mengamanatkan kepada Nabi Harun a.s.  supaya bertindak atas nama beliau, yakni melakukan pekerjaan-pekerjaan kenabian  dalam kedudukan selaku Khalifahnya selama beliau tidak ada di tempat.
     Dari kenyataan tersebut jelaslah bahwa  -- bertentangan dengan pendapat umum --  tidak setiap nabi Allah atau rasul Allah membawa syariat (agama), contohnya adalah para nabi Allah yang diutus setelah Nabi Musa a.s., mulai dari nabi Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pada hakikatnya merupakan “Khalifah” Nabi Musa a.s. (QS.2:88-89).

Hakikat “Pingsannya” Nabi Musa a.s.

      Ayat  selanjutnya:  “Dan  tatkala Musa datang pada waktu yang Kami tetapkan dan Rabb-nya (Tuhan-nya) bercakap-cakap dengannya, ia berkata: “Ya  Rabb-nya (Tuhan-ku), perlihatkanlah kepadaku supaya aku dapat memandang Engkau” memberikan penjelasan mengenai salah satu masalah keagamaan yang sangat penting, yaitu mungkinkah bagi seseorang menyaksikan  Allah Swt.  dengan mata jasmaninya?
     Ayat itu sedikit pun tidak mendukung pendapat bahwa Allah Swt.  dapat disaksikan oleh mata jasmani (QS.6:104). Jangankan melihat Allah Swt.  dengan mata jasmani, bahkan manusia tidak dapat   melihat malaikat-malaikat, manusia hanya dapat melihat penjelmaan mereka belaka yang beraneka ragam.
     Begitu pula hanya tajalli (penjelmaan keagungan) Allah Swt.  sajalah yang dapat manusia saksikan, tetapi Wujud  Allah Swt.   sendiri tidak dapat disaksikan (dilihat) dengan  mata jasmani serta tidak dapat  cerap (ditangkap) oleh  indra-indra jasmani lainnya.  Oleh karena itu tidak dapat dimengerti  (mustahil) bahwa seorang nabi yang besar seperti Nabi Musa a.s.  dengan segala makrifat mengenai Sifat-sifat  sempurna        Allah Swt.  akan mempunyai keinginan mengenai hal-hal yang mustahil.
Nabi Musa a.s. pasti  mengetahui bahwa beliau hanyalah dapat menyaksikan Tajalli (penampakkan kekuasaan)  Allah  Swt.   dan bukan menyaksikan  Wujud-Nya Sendiri.  Akan tetapi beliau sebelumnya sudah melihat suatu Tajalli  Allah Swt.  dalam bentuk “api” dalam perjalanan beliau  bersama keluarganya dari Midian ke Mesir (QS.20:11-17;  QS.27:8-10-17; QS.28:30-31).
       Jadi  apa gerangan maksud Musa a.s. dengan perkataan: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), tampakkanlah  kepadaku supaya aku dapat melihat Engkau?”  Permohonan itu nampaknya mengisyaratkan kepada tajalli-sempurna Allah Swt.  yang kelak akan menjelma pada diri “rekan sejawat” beliau  -- sesama nabi (rasul) Allah pembawa syariat – yakni Nabi Besar Muhammad  saw.  beberapa masa kemudian.  
       Nabi Musa a.s.   diberi janji oleh Allah Swt. bahwa dari antara saudara-saudara Bani Israil akan muncul seorang nabi Allah yang di mulutnya Tuhan akan meletakakan Kalam-Nya (Kitab Ulangan 18:18-22). Nubuatan tersebut  berkenaan dengan suatu Tajalli   Ilahi lebih besar daripada yang pernah dilimpahkan kepada Nabi Musa a.s.,  -- yang kemunculannya kelak digambarkan (diumpamakan) seakan-akan kedatangan Tuhan Sendiri  --   karena itu Nabi Musa a.s. dengan sendirinya sangat berhasrat melihat macam bagaimana Keagungan dan Kemuliaan Allah Swt. yang akan tampak dalam Tajalli yang dijanjikan itu. Beliau berharap bahwa Keagungan dan Kemuliaan itu, ada yang dapat diperlihatkan kepada beliau.
      Tetapi Nabi Musa a.s.  diberi tahu bahwa Tajalli Ilahi   tersebut  berada di luar batas kemampuan beliau untuk menanggungnya,  dan  tajalli Ilahi  itu tidak akan dapat terjelma pada hati beliau, tetapi guna meyakinkan hati Nabi Musa a.s. mengenai hal tersebut   Allah Swt. dalam “peristiwa ruhani” (kasyaf) tersebut  memilih gunung untuk bertajalli.
        Ketika Allah Swt. bertajalli ke atasnya maka gunung itu berguncang dengan hebat  serta nampak  seakan-akan ambruk, dan Nabi Musa a.s. karena dicekam oleh pengaruh guncangan hebat itu rebah tidak sadarkan diri. Dengan cara demikian Nabi Musa a.s.  dibuat sadar bahwa beliau tidak mencapai taraf yang demikian tingginya dalam martabat keruhanian yang dapat membuat beliau boleh menyaksikannya sendiri “tempat”  Allah Swt.  bertajalli sebagaimaa dimohonkan beliau, karena hak istimewa yang unik itu disediakan untuk seorang yang martabat akhlak dan ruhaninya  jauh   lebih besar (lebih mulia) daripada beliau (QS.33:73; QS.13:32; QS.59:22), tak lain ialah Mahkota segala makhluk Ilahi, Baginda Nabi Muhammad Saw. – Khātaman Nabiyyīn (QS.33:41).
        Mungkin pula permohonan Nabi Musa a.s.  itu karena didesak para pemuka Bani Israil yang menuntut untuk melihat Allah Swt. dengan mata jasmani, firman-Nya: 
وَ اِذۡ قُلۡتُمۡ یٰمُوۡسٰی لَنۡ نُّؤۡمِنَ لَکَ حَتّٰی نَرَی اللّٰہَ جَہۡرَۃً فَاَخَذَتۡکُمُ الصّٰعِقَۃُ وَ اَنۡتُمۡ تَنۡظُرُوۡنَ﴿ ﴾
Dan, ingatlah ketika kamu berkata: “Hai Musa, kami tidak akan pernah mempercayai  engkau  hingga kami terlebih dulu melihat Allah secara nyata”, lalu kamu disambar petir sedangkan kamu menyaksikan.  (Al-Baqarah [2]:56). Lihat pula QS.4:154.

Pernyataan Iman Nabi  Musa a.s. Kepada Nabi Besar Muhammad Saw.

       Pengalaman Nabi Musa a.s. yang sangat luar biasa itu memberi kesadaran kepada beliau bahwa permohonan beliau itu tidak layak, karena itu segera  beliau berseru: “Aku bertaubat kepada Engkau, dan aku orang pertama di antara orang-orang beriman,” yang berarti beliau telah sadar bahwa beliau tidak dianugerahi kemampuan melihat tajalli-sempurna Keagungan Ilahi yang seharusnya akan menjelma pada hati Nabi Yang dijanjikan itu dan bahwa beliau (Nabi Musa aa.s.) ) adalah orang yang pertama-tama yang beriman kepada keluhuran kedudukan ruhani yang telah ditakdirkan akan dicapai oleh Nabi Besar  Muhammad saw.  yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt.  itu. Keimanan Nabi Musa a.s.  kepada Nabi Besar Muhammad saw.   itu telah disinggung juga dalam QS.46:11.
      Gunung  itu sebenarnya tidak hancur-lebur. Kata-kata itu telah dipergunakan secara majasi (kiasan) untuk menyatakan kehebatan gempa bumi itu. Lihat Keluaran 24:18-18. Guna menentramkan hati Nabi Musa a.s. selanjutnya Allah Swt. berfirman:
قَالَ یٰمُوۡسٰۤی  اِنِّی  اصۡطَفَیۡتُکَ عَلَی النَّاسِ بِرِسٰلٰتِیۡ  وَ بِکَلَامِیۡ ۫ۖ فَخُذۡ مَاۤ اٰتَیۡتُکَ  وَ  کُنۡ  مِّنَ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dia berfirman: “Hai Musa, sesungguhnya Aku telah memilih engkau atas umat manusia dengan risalah-Ku dan firman-Ku, maka pegang-teguhlah apa yang telah Aku berikan kepada engkau dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al-A’rāf [7]:143-144).
      Ayat ini nampaknya ditujukan kepada Nabi Musa a.s.  sebagai kata-kata penghibur sesudah Allah Swt. membuat beliau sadar bahwa beliau tidak dapat mencapai derajat keruhanian yang tinggi seperti Nabi Besar yang akan dibangkitkan dari keturunan Nabi  a.s.  yang ditakdirkan akan mencapainya.  Nabi Musa a.s. diminta agar jangan mendambakan kemuliaan tinggi yang disediakan untuk “Nabi itu” tetapi hendaknyalah merasa puas dengan dan bersyukur atas peringkat yang telah dianugerahkan Allah Swt.   kepada beliau.
       Demikianlah makna dari  Ulangan   18:16.  Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati.”  
     (3) Kalimat:  18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi   akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,    dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.”

Roh Kebenaran” yang Akan Membawa “Seluruh Kebenaran

      Kalimat “Aku akan menaruh firman-Ku   dalam mulutnya,    dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya  selaras dengan pernyataan  Yesus (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) dalam Injil  Yohanes 16:12-13:
16:12 Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya.   16:13 Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran,   Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran ;  sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.
      Sebutan “Roh Kebenaran”  yang “akan memimpin  ke dalam seluruh kebenaran” sama sekali tidak dapat dikenakan kepada nubuatan mengenai  kedatangan kedua kali Yesus (Mesias) di Akhir Zaman ini (Matius  24:23-31) karena beliau dengan tegas menyatakan bahwa misi kenabiannya hanya untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab para nabi  serta beliau diutus hanya  untuk kaum Bani Israil saja (Matius 5:17-20; QS.61:7):
5:17 "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya .   5:18 Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.   5:19 Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat   sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga . 5:20 Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar  dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
        Dengan demikian sebutan “Roh Kebenaran” yang  “akan memimpin  ke dalam seluruh kebenaran”   yang dikemukakan Yesus  (Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.) hanya cocok untuk  Nabi Besar Muhammad saw., sesuai  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  وَ النَّجۡمِ   اِذَا ہَوٰی  ۙ﴿﴾  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی ۚ﴿﴾  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی  ؕ﴿﴾  اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  ۙ﴿﴾ عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  ۙ﴿﴾ ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  ۙ﴿﴾ وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی ؕ﴿﴾   ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی ۙ﴿﴾  فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی  ۚ﴿﴾  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  ﴿ؕ﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Demi bintang  apabila  jatuh.  مَا ضَلَّ صَاحِبُکُمۡ  وَ مَا غَوٰی --  Tidaklah sesat sahabat kamu dan tidak pula keliru.  وَ مَا یَنۡطِقُ عَنِ  الۡہَوٰی    -- Dan ia sekali-kali tidak berkata-kata menuruti keinginannya. اِنۡ  ہُوَ   اِلَّا  وَحۡیٌ   یُّوۡحٰی  -- Perkataannya itu tidak lain me-lainkan wahyu yang diwahyukan. عَلَّمَہٗ  شَدِیۡدُ الۡقُوٰی  --   Tuhan Yang Mahakuat Perkasa mengajarinya,  ذُوۡ مِرَّۃٍ ؕ  فَاسۡتَوٰی  --    Pemilik Kekuatan, lalu  Dia bersemayam di atas ‘Arasy, وَ ہُوَ  بِالۡاُفُقِ الۡاَعۡلٰی --   dan Dia mewahyukan Kalam-Nya ketika ia, Rasulullah, berada di   ufuk tertinggi. ثُمَّ  دَنَا فَتَدَلّٰی --  Kemudian ia, Rasulullah, mendekati Allqh, lalu Dia kian dekat kepadanya, فَکَانَ قَابَ قَوۡسَیۡنِ  اَوۡ اَدۡنٰی    -- maka jadilah ia, seakan-akan, seutas tali dari dua buah busur, atau lebih dekat lagi.  فَاَوۡحٰۤی  اِلٰی عَبۡدِہٖ  مَاۤ  اَوۡحٰی  --   Lalu Dia mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.  (An-Najm [53]:1-11).
    Jadi, kembali kepada   nubutan dalam Ulangan 18:15-19), ungkapan “segala yang Kuperintahkan kepadanya  mengisyaratkan kepada kepada kesempurnaan syariat Islam (Al-Quran) sebagai agama (kitab suci) terakhir dan tersempurna, yang diwahyukan  Allah Swt. kepada  “Nabi yang seperti Musa” atau “Roh Kebenaran” yang membawa “seluruh kebenaran”,  firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu,  dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Māidah [5]:4).

Al-Quran Mendapat Jaminan Pemeliharaan Allah Swt.

        Itulah sebabnya berbeda dengan syariat-syariat atau kitab-kitab suci sebelumnya  syariat Islam (Al-Quran) mendapat jaminan pemeliharaan Allah Swt., firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemelihara-nya.   (Al-Hijr [15]:10).
     Janji mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan  bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt..  
    Surah ini diturunkan di Mekkah (Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw.   beserta para pengikut beliau saw. sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu. Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt.  akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia sendirilah Penjaganya.
      Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.
     Sir William Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa  “tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan (Introduction to “The Life of Mohammad”).
     Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica).
  Kegagalan mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab suci yang diwahyukan  hanya Al-Quran sajalah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia.  

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,  25 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar