Minggu, 06 November 2016

Makna "Larangan" Menjadikan "Wali" (Pelindung/Penolong/Sahabat) Hakiki Dengan Mengenyampingkan "Persaudaraan Muslim" & Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai "Rahmat Bagi Seluruh Alam"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 54

MAKNA  LARANGAN MENJADIKAN NON-MUSLIM SEBAGAI WALI (PELINDUNG/PENOLONG/SAHABAT)  HAKIKI DENGAN MENGENYAMPINGKAN “PERSAUDARAN MUSLIM” & NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI "RAHMAT BAGI SELURUH ALAM"

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 53 dikemukakan   Kisah Monumental yang Senantiasa Berulang “Dua Anak Adam firman-Nya:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ  بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ  اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ  اللّٰہُ مِنَ  الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾  لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ مَاۤ   اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ لِاَقۡتُلَکَ ۚ اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ  رَبَّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ اِنِّیۡۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ ۚ وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ﴾ فَطَوَّعَتۡ  لَہٗ نَفۡسُہٗ  قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ  فَاَصۡبَحَ  مِنَ  الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَبَعَثَ اللّٰہُ غُرَابًا یَّبۡحَثُ فِی الۡاَرۡضِ لِیُرِیَہٗ کَیۡفَ یُوَارِیۡ سَوۡءَۃَ اَخِیۡہِ ؕ قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ  اَکُوۡنَ مِثۡلَ  ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ ۚ فَاَصۡبَحَ  مِنَ  النّٰدِمِیۡنَ ﴿ۚۛۙ﴾
Dan ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua anak  Adam  dengan sebenarnya, ketika keduanya  memberikan pengorbanan, maka dikabulkan salah seorang dari keduanya itu  sedangkan dari yang lain tidak dikabulkan, lalu ia berkata: “Niscaya  engkau akan kubunuh.” Saudaranya berkata:  Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan pengorbanan dari orang-orang yang bertakwa.   Jika engkau benar-benar menjangkaukan tangan engkau terhadapku untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak akan menjangkaukan tanganku terhadap engkau untuk membunuh engkau, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam. Sesungguhnya aku menginginkan bahwa engkau menanggung dosaku dan dosa engkau sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni Api, dan demikianlah balasan bagi orang-orang yang zalim.”  فَطَوَّعَتۡ  لَہٗ نَفۡسُہٗ  قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ  فَاَصۡبَحَ  مِنَ  الۡخٰسِرِیۡنَ  --  Tetapi nafsunya telah membuat dia taat kepadanya supaya membunuh saudaranya, lalu   dia membunuhnya, maka dia pun menjadi termasuk orang-orang yang  rugi.   Lalu Allah mengirim seekor burung gagak yang menggaruk-garuk di tanah untuk memperlihatkan kepadanya, bagaimana cara  menyembu-nyikan mayat saudaranya. قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ  اَکُوۡنَ مِثۡلَ  ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ  --  Ia berkata: “Celaka aku! Tidak sanggupkah aku berbuat seperti gagak ini supaya dapat kusembunyikan mayat saudaraku?” فَاَصۡبَحَ  مِنَ  النّٰدِمِیۡنَ  -- Maka jadilah ia di antara orang-orang yang menyesal.  (Al-Maidah [5]:28-32).

Nubuatan yang Senantiasa Berulang & Makna “Pengusiran Dari Negeri

       Apa yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah suatu peristiwa yang serupa dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua putra Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti yang jauh lebih luas lagi penting itu, akan terjadi kelak di kemudian hari. Seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani Israil. Kenyataan ini akan menimbulkan kemarahan kaum Bani Israil terhadap nabi itu dan mereka akan menjadi haus darah karena disulut oleh rasa iri hati, persis seperti Kain telah menjadi haus darah terhadap saudaranya, Habel.
      Nabi  Allah tersebut – yakni Nabi Besar Muhammad saw.   -- yang merupakan misal Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:15-19; QS.46:11)  --  bukan sembarang wujud. Dialah yang akan menjadi Pembaharu Dunia dan ditakdirkan membawa syariat abadi bagi segenap umat manusia yang seluruh masa depannya bergantung padanya, dan  karena itu membunuhnya adalah sama dengan membunuh seluruh umat manusia dan menyelamatkan jiwanya berarti sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia, sebagaimana dikemukakan ayat-ayat selanjutnya.
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai akibat buruk kaum yang mendustakan dan menentang Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan  dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37)  -- yang juga kembali terjadi di Akhir Zaman ini  -- firman-Nya:
مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Oleh sebab itu Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa: Barangsiapa yang membunuh seseorang,  padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau  telah mengadakan ke-rusakan  di bumi, maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia;  dan barangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia.  Dan sungguh benar-benar telah datang ke-pada mereka  rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata, kemudian sesudah itu sungguh kebanyakan dari mereka benar-benar melampaui batas di bumi.  Sesungguhnya balasan bagi orang-orang   yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri. Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar.   Kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Māidah [5]:33-35). 

Pengulangan “Pengusiran” dari  Negeri  yang Dijanjikan

      Islam tidak ragu-ragu mengambil tindakan-tindakan yang paling keras bila kepentingan negara atau masyarakat luas menghendaki demikian untuk membongkar sampai ke akar-akarnya suatu kejahatan yang berbahaya. Islam menolak tenggang-rasa palsu yang berdasar emosi khayali.
      Namun demikian  pada waktu menjatuhkan hukuman atas pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum, Islam menggunakan akal dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat. Hukuman yang ditetapkan di sini terdiri atas empat kategori. Bentuk hukuman yang dijatuhkan dalam suatu perkara tertentu akan bergantung pada suasana dan lingkungan. Memberikan atau menjatuhkan hukuman adalah menjadi wewenang pemerintah dan bukan wewenang perseorangan maupun golongan.
      Kata-kata diusir dari negeri, menurut Imam Abu Hanifah berarti pula dipenjarakan, walau pu dari sejarah Bani Israil diketahui bahwa mereka dua kali “diusir” Allah Swt. dari “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina – QS.21:107; QS.17:5-9) akibat berulang-ulang melakukan kedurhakaan kepada Allah  Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-89), terutama  terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. sehingga keduanya mengutuk mereka  (QS.5:79-80).
       Ayat ini dan ayat sebelumnya tidak mengisyaratkan kepada perampok-perampok dan penyamun-penyamun biasa melainkan kepada pemberontak dan penjahat-penjahat yang menyerang negara Islam, sebagaimana jelas dari kata-kata, yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Kesimpulan demikian selanjutnya ditunjang oleh kenyataan bahwa ayat ini menjanjikan pengampunan kepada pelanggar-pelanggar hukum apabila mereka bertaubat, firman-Nya:
 اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Sesungguhnya balasan bagi orang-orang   yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kakinya disebabkan oleh permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri. Hal demikian adalah penghinaan bagi mereka di dunia ini, dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar.   Kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Māidah [5]:34-35). 

Tanda Kaum “Pilihan” Allah Swt.  Pada Zamannya

    Tetapi nyata bahwa mereka yang berbuat jahat terhadap perseorangan-perseorangan atau terhadap masyarakat  -- seperti perampok-perampok dan pencuri-pencuri  -- dalam keadaan biasa tidak bisa diampuni oleh negara, sekalipun mereka bertaubat. Mereka harus mengalami hukuman karena perbuatan jahat mereka sesuai dengan ketentuan hukum.
      Sudah   tentu taubat dapat menjamin mendapat ampunan dari Allah Swt.   tetapi kekuasaan negara dalam hal ini terbatas. Akan tetapi penjahat-penjahat politik bisa dimaafkan  oleh negara jika mereka bertaubat dan berhenti dari kegiatan-kegiatan memberontak dan berhenti dari aktivitas-aktivitas lainnya yang mengganggu kebijaksanaan negara.
      Allah Swt. telah berfirman dalam Al-Quran bahwa salah satu tanda  bahwa suatu kaum  merupakan  pilihan” Allah Swt. pada zamannya adalah kaum tersebut akan mewarisi “negeri yang dijanjikan” yaitu Kanaan atau Palestina.  Sebaliknya, ketika kaum “pilihan” Allah Swt. melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya  maka   negeri yang dijanjikan” tersebut akan lepas dari kekuasaan mereka.
      Sunnatullah tersebut telah dialami oleh Bani Israil  (Yahudi dan Nasrani) dan Bani Isma’il yakni umat Islam di Timur Tengah) – yang merupakan keturunan  Nabi Ibrahim a.s.   -- firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ  وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾    
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:106-108).
     Ada pun yang dimaksud dengan “bumi itu” adalah Palestina. Para pujangga Kristen menafsirkan juga kata-kata “bumi itu akan dipusakai” atau “tanah itu akan dipusakai” dalam Mazmur dalam artian mewarisi Kanaan menurut “janji dalam perjanjian Tuhan". Isyarat dalam kata-kata  فِی الزَّبُوۡرِ -- “dalam kitab Daud” ditujukan kepada Mazmur 37:9, 11, 22, dan 29. Terdapat pula suatu nubuatan dalam Kitab Ulangan (28:11 dan 34:4) bahwa negeri Palestina akan diberikan kepada Bani Israil.
Palestina tetap di tangan kaum Kristen hingga orang Islam menaklukkannya di masa khilafat Sayyidina Umar bin Khaththab  r.a., Khalifah ke-II Nabi Besar Muhammad saw.  Nubuatan yang terkandung dalam ayat ini, rupanya menunjuk kepada penaklukan Palestina tersebut oleh lasykar Islam.

Lepasnya Kembali “Palestina  di Akhir Zaman & Terwujudnya “Kejayaan Islam” Kedua Kali Dengan Cara Aman dan Damai

      Palestina tetap berada di bawah kekuasaan umat Islam selama kira-kira 1350 tahun - kecuali satu masa pendek yang lamanya 92 tahun, ketika di zaman peperangan salib kekuasaan telah berpindah-tangan  ke tangan kaum Kristen — hingga dalam masa kita ini sebagai akibat rencana-rencana buruk dari beberapa kekuasaan barat yang disebut demokrasi, negeri bernama Palestina itu sama sekali tidak berwujud dan di atas puing-puingnya didirikan negara Israel.
     Orang-orang Yahudi kembali setelah mengembara selama hampir 2000 tahun akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:79-89). Tetapi peristiwa sejarah yang besar ini telah terjadi sebagai pemenuhan suatu nubuatan Al-Quran  mengenai akan kembalinya orang-orang Yahudi  dari seluruh pelosok dunia ke “Palestina” (QS.17:105).
    Tetapi hal ini hanya merupakan satu babak sementara saja. Orang-orang Islam telah ditakdirkan akan menguasainya kembali. Cepat atau lambat — malahan lebih cepat daripada lambat - Palestina akan kembali menjadi milik Islam. Hal ini merupakan keputusan Allah Swt.  dan tidak ada seorang pun dapat mengubah keputusan-Nya, sebagai penggenapan  firman-Nya berikut ini:
ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ  رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ  الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ  عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿﴾
Dia-lah Yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama,  walaupun orang musyrik tidak menyukai.  (Ash-Shaf [61]:10).
   Kebanyakan ahli tafsir Al-Quran sepakat bahwa ayat ini kena untuk Al-Masih yang dijanjikan (Masih Mau’ud a.s.), sebab di zaman beliau a.s. semua agama muncul dan keunggulan Islam di atas semua agama akan menjadi kepastian di bawah pimpinan khalifah beliau  sesuai tujuan pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.:  وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ  --   Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:108).
      Nabi Besar Muhammad saw.  adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. (ajaran Islam/Al-Quran) tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu (QS.7:159; QS,21:108;  QS.25:2; QS.34:29). Dengan perantaraan beliau saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu, dan hal tersebut akan terwujud di Akhir Zaman ini melalui pengutusan beliau saw. kedua kali secara ruhani   dalam wujud Rasul Akhir Zaman (QS.62:3-5).
     Dari Al-Quran diketahui bahwa dua kali pengusiran yang dialami oleh Bani Israil dari “negeri yang dijanjikan” (Kanaan/Palestina)  akibat   kedurhakaan mereka kepada Allah Swt. dalam  para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:98-101),  terutama  akibat  upaya pembunuhan terhadap Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melalui penyaliban  sehingga kedua rasul Allah tersebut mengutuk mereka (QS.4:156-159), firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.   Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang di-kerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  --   Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung, لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  -- dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, dan di dalam azab inilah mereka akan kekal  (Al-Maidah [5]:79-81).

Peringatan Allah Swt. Kepada Umat Islam

        Allah Swt.  pun telah memperingatkan umat Islam  -- terutama di Akhir Zaman ini – agar jangan menjadikan golongan Non-Muslim sebagai wali (pelindung/penolong  hakiki --  QS.5:52) dengan mengenyampingkan sesama Muslim lalu  mengikuti jejak-langkah golongan Ahli-kitab (Yahudi dan Nashrani),   sebagaimana    Nabi Besar Muhammad saw.   telah  menubuatkan  bahwa jauh  sepeninggal beliau saw.  akan terjadi  persamaan kelakuan buruk  di kalangan umat Islam dengan  umat sebelumnya bagaikan “persamaan sepasang sepatu” termasuk persamaan dalam hal “perpecahan umat”:
Dari Abi Hurairah r.a.  beliau berkata bahwa Nabi Muhammad saw.  bersabda: "Telah berfirqah-firqah (golongan) orang Yahudi atas 71 firqah dan orang Nashara seperti itu pula,  dan akan berfirqah ummatku atas 73 firqah" (Hadits riwayat Imam Tirmidzi).
        Sehubungan ayat  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  --   Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  pelindung hal tersebut terjadi di kalangan umat Islam di Timur Tengah,  bahwa  demi kepentingan kekuasaan duniawi mereka telah menjadikan pelindung  dari luar golongan mereka (Non Muslim) dengan mengenyampingkan “persaudaraan Muslim”(QS.49:11),   firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman!  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  pelindung, karena  sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya.  Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Maidah [5]:52).
       Ayat ini tidak boleh diartikan seolah-olah melarang atau mencegah perlakuan adil dan baik terhadap orang-orang Yahudi, Kristen, dan kaum Non-Muslim  lainnya,  firman-Nya:
لَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumah kamu, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.  اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ    --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu,  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ --  dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim  (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
       Dengan demikian jelaslah bahwa  makna Surah Al-Maidah ayat 52: یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ  -- “Hai orang-orang yang beriman!  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  pelindung, karena  sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya” hanya mengisyaratkan kepada orang-orang Yahudi atau Kristen   serta Non-Muslim  lainnya yang  berperang dengan kaum Muslimin dan senantiasa mengadakan permufakatan-permu-fakatan jahat terhadap Islam.
      Makna ayat  بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ  -- “sebagian mereka adalah penolong sebagian lainnya bahwa  walau pun   dalam kenyataannya antara kaum Yahudi dan kaum Kristen sendiri terdapat pertentangan dan permusuhan yang keras – terutama mengenai Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.4:158-159) – tetapi  dalam menghadap  Nabi Besar Muhammad saw. dan umat Islam   mereka itu  akan mengenyampingkan perbedaan-perbedaan paham di antara mereka dan  mereka bersatu dalam perlawanan terhadap Islam.
     Sungguh benar apa yang dikatakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw. bahwa  Semua orang kafir merupakan satu umat.”  Jadi semua orang kafir biar bagaimana tidak bersahabatnya antara satu sama lain tetapi  namun bila menghadapi Islam mereka adalah seperti “satu kaum.”

Larangan Bersifat Khusus &  Para Pemuja Kekuasaan Duniawi  yang Pengorbankan “Persaudaraan Muslim

        Dengan demikian makna peringatan atau larangan Allah Swt. surah Al-Ma’idah ayat 52 menjadi jelaslah yakni bersifat khusus terhadap pihak Non-Muslim yang secara terang-terangan  sedang berperang atau bersengketa  dengan umat Islam, sedangkan kepada yang lainnya Allah Swt. tidak melarang umat Islam     sebagai “umat terbaik untuk kepentingan umat manusia ” (QS.2:144; QS.3:111) -- untuk berlaku adil dan baik terhadap mereka, sebagaimana  dikemukakan  sebelumnya dalam  firman-Nya:
لَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumah kamu, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.  اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ    --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu,  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ --  dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim  (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
       Lebih jauh Allah Swt.  memberitahukan  mengenai orang-orang yang  -- demi kekuasaan dan keuntungan duniawi   -- menjadikan  golongan Non-Muslim sebagai wali (pelindung/penolong/sahabat) dengan mengenyampingkan “persaudaraan Muslim” (QS.49:11), firman-Nya: 
فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir seraya berkata:  نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- “Kami takut  bencana menimpa kami.”  فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ --  Padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ  --  maka  mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka  sembunyikan di dalamnya. (Al-Maidah [5]:53).
       Dā’irah dalam ayat:  َخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- “Kami takut  bencana menimpa kami   berarti: daur (pergiliran) nasib, terutama kejadian buruk, nasib sial; bencana; kekalahan atau dikeluarkan dengan paksa dari persembunyian; pembunuhan atau kematian (Lexicon Lane). Dari berbagai makna dā’irah  tersebut nampak jelas bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mementingkan kepentingan kekuasaan dan keuntungan duniawi  dirinya atau golongannya saja dengan mengenyampingkan “persatuan umat Islam” (QS.3:103-105) atau “persaudaraan Muslim” (QS.49:11), yakni “orang-orang munafik.”

Penggenapan Janji “Pewarisan Negeri yang Dijanjikan” kepada Umat Islam

       Makna “Kemenangan” yang disebut dalam ayat selanjutnya: فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ --  “padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya”    dapat mengacu kepada jatuhnya Mekkah atau kepada kemenangan umat Islam secara umum atas pertolongan Allah Swt. Terang sekali bahwa kata  اَمۡرٍ -- “peristiwa” di belakang kabar kemenangan, mengisyaratkan kepada suatu peristiwa yang lebih besar daripada kemenangan itu sendiri.
     Rupa-rupanya kata itu mengisyaratkan kepada masuknya seluruh penduduk jazirah Arab ke haribaan Islam dan tegaknya Islam di sana setelah terjadinya peristiwa Fatah Mekkah (QS.48:1-8; QS.110:1-4), kemudian Nabi Besar Muhammad saw, benar-benar merealisasikan misi sucinya sebagai  rasul Allah yang merupakan “rahmat  bagi seluruh alam (QS.21:108) dan membuktikan melalui amal nyata  bahwa umat Islam  benar-benar merupakan  umat terbaik” yang dijadikan untuk menfaat seluruh umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111), yang akhirnya Allah Swt.  menggenapi janji-Nya mengenai “pewarisan negeri yang dijanjikan” kepada “kaum pilihan-Nya”, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ  وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾    
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah  Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:106-108).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  5  November 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar