Rabu, 23 November 2016

Defisini "Tuhan" Pencipta Alam Semesta yang Hakiki Menurut Al-Quran & Cara "Penebusan Dosa" yang Disunnahkan Nabi Besar Muhammad Saw. Melalui Pengamalan Al-Quran




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 67   

DEFINISI “TUHAN  PENCIPTA SELURUH ALAM YANG HAKIKI MENURUT AL-QURAN & CARA “PENEBUSAN DOSA    YANG DISUNNAHKAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  MELALUI PENGAMALAN AL-QURAN

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 66 dikemukakan   firman Allah Swt.  kepada Nabi Besar Muhammad saw.:  
قُلۡ    اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  فَذَرۡہُمۡ  یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ  الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah."  Maha Suci Tuhan seluruh langit dan bumi, Rabb (Tuhan)  ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan.    فَذَرۡہُمۡ  یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ  الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ  -- Maka biarkanlah mereka bercakap kosong  dan bermain-main sampai mereka bertemu dengan Hari mereka yang telah dijanjikan. (Az-Zukhruf [43]:82-84). 

Nabi Besar Muhammad saw. “Hamba Allah” Paling Sempurna

   Berkenaan ayat 82, kata 'abid adalah isim fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon Lane). Dengan demikian makna  ayat قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ  -- “Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah"     berarti:
    (a) Bila Tuhan Yang Maha Pemurah beranak, maka akulah orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak itu), sebab sebagai abdi Allah yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu).”
    (b) “Bila mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak menyembah Tuhan dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya. (QS.6:162-164; QS.53:1-19).
   (c)Tuhan Yang Maha Pemurah pasti tidak mempunyai seorang anak --   اِنۡ   berarti, "tidak"  --   “dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan ini”, sebab kata 'ābidin berarti  pula syāhidin  yaitu saksi-saksi.
   (d) “Tuhan Yang Maha Pemurah tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan  bahwa Dia memiliki  anak,” firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu bergantung pada-Nya. لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,    وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪  -- Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).

Makna  Kata    Allah   dan Sifat Ahad

    Kata qul (katakan)  dalam ayat: قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ    -- “Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa  mengandung perintah kekal kepada orang-orang Islam untuk tetap menyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa.Kata  Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan berarti  Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173; QS.30:31).
    Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama mutlak untuk Tuhan Pencipta seluruh alam, bukan nama sifat dan bukan pula keterangan.
       Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat  sempurna, dan sama sekali bebas dari segala kekurangan.  Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam bahasa Arab  lafaz Allah  tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
        Tidak ada bahasa lain yang memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa selain bahasa Arab semuanya adalah nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak, sedangkan   lafaz   Allah  tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
        Lafaz  Allah  adalah  ism zat (nama zat),   bukan  ism musytak, yakni  tidak diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat. Karena tidak ada  lafaz lain yang sepadan maka  lafaz  Allah  dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Al-Quran.
       Pandangan ini didukung oleh para alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat  lafaz    Allah   adalah nama Wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya Sendiri, Pemilik segala sifat  sempurna, dan huruf al  tidak terpisahkan dari lafaz Allah (Lexicon Lane).
  Ahad adalah sebutan yang dikenakan hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam wujud-Nya (Lexicon Lane).
    Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya sehingga gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya. Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti bahwa “Tuhan itu Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk”; dan Allāhu Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal, dalam arti bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa dan Tunggal dalam segala arti.
    Dia bukan mata rantai pertama suatu rangkaian mata rantai, dan bukan pula mata rantai terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran, firman-Nya: قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ    -- “Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa. 

Makna Sifat  Allah Swt.  Ash-Shamad

 Makna kata  Shamad  dalam ayat:  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ  -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nyaberarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan; orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
    Karena Ash-Shamad  merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti:  Wujud tertinggi, Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya meski seluruh makhluk sudah tidak berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
     Dalam ayat yang mendahuluinya telah dinyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa, Tunggal, dan Mandiri. Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya. Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
  Dia tidak memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya, tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya. Tuhan-lah satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.
    Maka ayat:   لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”    Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk mengukuhkan pernyataan  bahwa Allah itu Ahad (Maha Esa, Tunggal dan tiada tara bandingan-Nya) dan   dalam ayat ini sifat “Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia berada di atas segala keperluan).
    Mengapa demikian? Sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul dari pikiran  bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya, dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya sesudah Dia mati, karena semua wujud yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain pasti tunduk kepada hukum kematian. Sedangkan  Allah Swt.  tidak menggantikan siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali, abadi, dan mutlak. Itulah makna ayat: لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan.”    

Tidak Ada yang “Setara Dengan Allah Swt.

   Ayat berikutnya:   وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪  -- “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya    Ayat  ini menghilangkan suatu keraguan yang mungkin timbul dan boleh jadi ditimbulkan karena ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah  Allah itu Maha Esa,   Tunggal, dan Mulia (Ahad) lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain (Ash-Shamad), dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
    Ayat ini menghapus kesalah-pahaman itu. Ayat ini mengatakan bahwa tidak ada wujud lain seperti Allah.  Sebab akal manusia pun menuntut bahwa harus ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Demikian pula  tata kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam semesta  pun menuntun kepada kesimpulan yang tidak dapat dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan Ke-Esa- Sang Pencipta, firman-Nya:
لَوۡ  کَانَ فِیۡہِمَاۤ  اٰلِہَۃٌ  اِلَّا اللّٰہُ  لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ  رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit dan bumi   ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka Maha Suci Allah  Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan. Dia tidak akan ditanya me-ngenai apa yang Dia kerjakan,  sedangkan mereka  akan ditanya. (Al-Anbiya [21:23-24).
       Ayat 23    merupakan dalil yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak dapat menolak, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi dan meliputi seluruh alam raya. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan Ke-Esa-an Pencipta dan Pengatur alam raya (QS.67:1-5)
        Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab adalah perlu bagi suatu wujud  tuhan untuk menciptakan alam-semesta dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh janggal ajaran “Trinitas” yang mengatakan bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi secara bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi seluruh alam semesta.
       Ayat 24 menunjuk kepada sempurnanya dan lengkapnya tata-tertib alam semesta, sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya, yakni Allah Swt.,  dan mengisyaratkan pula kepada Ke-Esa-an-Nya. Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt.  mengatasi segala sesuatu, sedang semua wujud dan barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.

Mencabut Semua “Akar Kemusyrikan” &  Ajaran “Penebusan Dosa” yang Hakiki


   Dengan demikian Surah  Al-Ikhlash   mencabut akar-akar semua itikad kemusyrikan yang terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan kepercayaan  bahwa ruh dan benda itu azali seperti Tuhan. Inilah penjelasan definisi agung mengenai Dzat Yang Maha Tinggi  -- yakni Allah Swt.  -- seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan keagungan definisi yang diberikan oleh Al-Quran.
      Jadi jelaslah bahwa seandainya  ada ajaran   yang disebut “penebusan dosa  maka ajaran “penebusan dosa” yang hakiki adalah yang diajarkan Allah Swt. melalui Nabi Besar Muhammad  saw. yakni menyelaraskan kehendak manusia  dengan kehendak Allah Swt.  dalam wujud syariat Islam (Al-Quran),  sebagaimana yang  diajarkan dan diamalkan oleh  Nabi Besar Muhammad saw., karena beliau merupakan “suri teladan terbaik” bagi orang-orang yang ingin mengalami “pertemuan” dengan Allah Swt. di dalam kehidupan di dunia ini juga berupa mendapat kecintaan-Nya dan maghfirah-Nya (pengampunan-Nya),  firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”  Katakanlah:   Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguh-nya Allāh tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
        Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sejak diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw.  tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti beliau saw., sebab jika  manusia menolak  cara-cara  penebusan dosa” yang diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. serta mencari “cara penebusan dosa selain  yang diajarkan Islam (Al-Quran)  dengan tegas Allah Swt.  berfirman:
   اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,   dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allqh maka sesungguhnya Allqh sangat cepat dalam meng-hisab. (Ali ‘Imran [3]:20).

Falsafah  Pemberian Nama Islam dan Muslim  Kepada Agama Terakhir dan Tersempurna dan  Kepada Para Pemeluknya

       Semua agama samawi (langit) senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya (aslim/muslim), namun demikian hanya dalam Islam sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan (QS.6:162-164), sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.,  dan hanya pada Islam sajalah pe-ngenjewantahan demikian telah terjadi karena itu Allah Swt. telah menyatakan agama Islam (Al-Quran) sebagai agama (kitab) terakhir dan tersempurna (QS.5:4).
       Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan Pribadi (agama Allah) dalam arti  yang sebenarnya.  Semua agama yang benar, lebih atau kurang  dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah, tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (QS.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا  وَ اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ  تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾  وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman,   rukuklah kamu, sujudlah, sembahlah  Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan.    Dan berjihadlah kamu di jalan Allah  dengan jihad  yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama,  مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا --   Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim, Dia telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ  --     supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰ  --  Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ --  Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
    Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri. Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan Allāh”. Rasulullāh saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
     Kata-kata  ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا --  “Dia telah memberi kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Yesaya: “maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).

Nubuatan Dalam Doa Nabi Ibrahim a.s. Bersama Nabi Isma’il a.s. Ketika Membangun Kembali Ka’bah (Baitullah)  Mengenai  Nabi Besar Muhammad Saw.
  
       Isyarat dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَا  -- “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s.  yang dikutip dalam Al-Quran, ketika bersama putra beliau,  Nabi Isma’il a.s., memanjatkan doa pada waktu membangun kembali Ka’bah (Baitullah),  yaitu: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129).  Selengkapnya Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ  اِبۡرٰہٖمُ  الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
Dan ingatlah ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan   dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya Rabb (Tuhan) kami,  terimalah   amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mendengar, Maha Mengetahui. رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ ۪       -- Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah  diri kepada Engkau, dan juga  dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ --  perlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.”   رَبَّنَا وَ ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ     --   “Ya Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah  seorang rasul di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang meng-ajarkan Kitab  dan hikmah  kepada mereka serta akan mensucikan mereka, اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  --  sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  23 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar