Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
67
DEFINISI “TUHAN“
PENCIPTA SELURUH ALAM YANG
HAKIKI MENURUT AL-QURAN & CARA “PENEBUSAN DOSA” YANG DISUNNAHKAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MELALUI PENGAMALAN AL-QURAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 66 dikemukakan firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ
کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ فَذَرۡہُمۡ
یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
"Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah
mempunyai seorang anak, niscaya akulah
yang pertama di antara para penyembah." Maha
Suci Tuhan seluruh langit dan bumi, Rabb (Tuhan) ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan. فَذَرۡہُمۡ یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا
یَوۡمَہُمُ الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ -- Maka biarkanlah
mereka bercakap kosong dan bermain-main sampai mereka bertemu dengan Hari mereka yang
telah dijanjikan. (Az-Zukhruf
[43]:82-84).
Nabi Besar Muhammad saw. “Hamba Allah” Paling Sempurna
Berkenaan ayat 82, kata 'abid adalah isim fa'il dari 'abada, yang
berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang berarti: ia marah; ia
menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon Lane). Dengan demikian
makna ayat قُلۡ اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ
وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ --
“Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang
Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah" berarti:
(a) “Bila Tuhan Yang Maha Pemurah beranak,
maka akulah
orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak
itu), sebab sebagai abdi Allah yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak
akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu).”
(b)
“Bila mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah
yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak menyembah Tuhan
dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya. (QS.6:162-164;
QS.53:1-19).
(c) “Tuhan Yang Maha Pemurah
pasti tidak mempunyai seorang anak“ -- اِنۡ berarti, "tidak" -- “dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan ini”, sebab kata 'ābidin
berarti pula syāhidin yaitu saksi-saksi.
(d) “Tuhan Yang Maha Pemurah tidak
mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan
benci
akan pernyataan bahwa Dia
memiliki anak,” firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ
اللّٰہُ اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ
وَ لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu
bergantung pada-Nya. لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ ٪ --
Dan tidak ada sesuatu pun yang setara
dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
Makna Kata Allah dan Sifat Ahad
Kata qul
(katakan) dalam ayat: قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ
-- “Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa“ mengandung perintah kekal kepada orang-orang
Islam untuk tetap menyatakan bahwa “Tuhan
itu Maha Esa.” Kata Huwa (Dia) yang dipakai sebagai dhamir
asy-sya’n (kata pengganti nama yang menunjukkan keadaan, Pent.) dan
berarti “Yang benar adalah ini,” dan menunjukkan bahwa kebenaran telah tertanam di dalam fitrat manusia adanya Tuhan
dan Dia itu Esa dan Mandiri (QS.7:173; QS.30:31).
Allah adalah nama khas, dipergunakan dalam Al-Quran
untuk Dzat Yang Maha Kuasa. Dalam bahasa Arab kata itu sama sekali tidak dipakai untuk sesuatu benda atau wujud lain. Ini merupakan nama
mutlak untuk Tuhan Pencipta seluruh
alam, bukan nama sifat dan bukan pula
keterangan.
Allah adalah nama Zat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat
sempurna, dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Sebagaimana
telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam bahasa
Arab lafaz Allah tidak
pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun.
Tidak ada bahasa lain yang
memiliki nama tertentu atau nama khusus untuk Dzat Yang Maha Agung
itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa selain bahasa Arab semuanya
adalah nama-penunjuk-sifat atau nama pemerian
(pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk
jamak, sedangkan lafaz Allah tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak.
Lafaz Allah
adalah ism zat (nama zat), bukan
ism musytak, yakni tidak
diambil dari kata lain dan tidak pernah dipakai sebagai keterangan atau sifat.
Karena tidak ada lafaz lain yang sepadan
maka lafaz Allah dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat
Al-Quran.
Pandangan ini didukung oleh para
alim bahasa Arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat lafaz
Allah adalah nama
Wujud bagi Dzat
yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya
Sendiri, Pemilik segala sifat
sempurna, dan huruf al
tidak terpisahkan dari lafaz Allah
(Lexicon Lane).
Ahad
adalah sebutan yang dikenakan
hanya kepada Tuhan dan berarti: Yang
Tunggal, Yang Esa; Dia Yang semenjak azali dan selamanya Esa dan Tunggal; Yang
tiada wujud lainnya sebagai mitra dalam ketuhanan-Nya dan tidak pula dalam
wujud-Nya (Lexicon Lane).
Sementara Ahad berarti ke-Esa-an Tuhan dalam Wujud-Nya – sehingga gagasan adanya wujud kedua tidak dapat diterima – maka Wahid berarti kemandirian
Tuhan dalam Sifat-sifat-Nya.
Dengan demikian ungkapan, Allāhu Wahidun akan berarti bahwa “Tuhan itu
Wujud Tertinggi dan merupakan Cikal-bakal
serta Sumber Yang dari-Nya telah lahir segala jenis makhIuk”; dan Allāhu
Ahadun berarti bahwa Allah itu Dzat Yang Esa dan Tunggal, dalam arti bahwa bila kita memikirkan Dia, hilanglah
dari pikiran kita gagasan adanya suatu wujud atau benda lain selain Dia, Dia itu Esa
dan Tunggal dalam segala arti.
Dia bukan mata
rantai pertama suatu rangkaian mata
rantai, dan bukan pula mata rantai
terakhir. Tidak ada sesuatu seperti Dia dan Dia pun tidak seperti benda apapun. Inilah hakikat Allah
menurut paham yang dikemukakan oleh Al-Quran,
firman-Nya:
قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ اَحَدٌ -- “Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa.“
Makna Sifat Allah Swt. “Ash-Shamad”
Makna kata Shamad dalam ayat: اَللّٰہُ الصَّمَدُ -- “Allah, adalah Tuhan Yang segala sesuatu bergantung pada-Nya” berarti: seorang yang menjadi tumpuan memenuhi segala keperluan; atau yang kepadanya ditujukan ketaatan; yang tanpa dia, tidak ada perkara dapat diselesaikan;
orang atau tempat yang tiada seorang atau sesuatu pun ada di atasnya.
Karena Ash-Shamad merupakan salah satu sifat Tuhan, berarti: Wujud tertinggi,
Yang menjadi tempat memenuhi segala keperluan; Yang tidak bergantung pada apapun dan Yang kepada-Nya segala sesuatu mempunyai ketergantungan dalam kebutuhan dan keperluannya; Yang akan terus berwujud untuk selama-lamanya
meski seluruh makhluk sudah tidak
berwujud lagi; Yang tiada wujud lain di atas Dia (Lexicon Lane).
Dalam ayat yang mendahuluinya telah
dinyatakan bahwa Tuhan itu Maha Esa, Tunggal, dan Mandiri.
Ayat sekarang ini mendukung pernyataan itu. Ayat ini mengatakan bahwa semua benda dan wujud mempunyai ketergantungan
dari Tuhan, tetapi Dia Sendiri Mandiri dan segala sesuatu bergantung pada-Nya.
Semua memerlukan Dia, tetapi Dia tidak memerlukan siapapun.
Dia tidak
memerlukan wujud atau zat apapun guna menciptakan alam raya; pada hakikatnya,
tiada sesuatu di alam raya ini sempurna dalam dirinya sendiri (berdiri sendiri); tiap sesuatu bergantung pada sesuatu yang lain untuk kehidupannya.
Tuhan-lah
satu-satunya Wujud Yang tidak bergantung pada wujud mana pun dan benda apapun; Dia jauh dari
jangkauan daya khayal dan terkaan. Sifat-sifat-Nya tidak mengenal batas.
Maka ayat:
لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- “Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan.” Sifat Ilahi Ash-Shamad (Mandiri dan
tempat semua makhluk memohon) telah disebut dalam ayat yang mendahuluinya untuk
mengukuhkan pernyataan bahwa Allah itu Ahad (Maha Esa, Tunggal
dan tiada tara bandingan-Nya) dan dalam ayat ini sifat “Dia tidak beranak dan
tidak diperanakkan” disebut guna menunjukkan bahwa Dia itu Ash-Shamad (Dia
berada di atas segala keperluan).
Mengapa demikian? Sebab anggapan adanya keperluan pada-Nya itu timbul
dari pikiran bahwa Dia memerlukan bantuan dari seorang
orang lain, yang tanpa orang itu Dia tidak dapat menjalankan pekerjaan-Nya,
dan yang harus melanjutkan pekerjaan-Nya
sesudah Dia mati, karena semua wujud
yang menjadi pengganti atau yang digantikan wujud lain pasti tunduk kepada hukum kematian. Sedangkan Allah Swt. tidak menggantikan
siapapun dan tidak akan diganti oleh siapapun. Dia sempurna dalam semua Sifat-Nya dan Dia itu azali,
abadi, dan mutlak. Itulah makna ayat: لَمۡ
یَلِدۡ ۬ۙ وَ لَمۡ
یُوۡلَدۡ -- “Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan.”
Tidak Ada yang “Setara” Dengan Allah
Swt.
Ayat berikutnya: وَ لَمۡ
یَکُنۡ لَّہٗ کُفُوًا
اَحَدٌ ٪ -- “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya” Ayat ini menghilangkan
suatu keraguan yang mungkin timbul
dan boleh jadi ditimbulkan karena
ayat yang mendahuluinya, bahwa taruhlah Allah itu Maha Esa, Tunggal, dan Mulia (Ahad) lagi Mandiri tanpa bergantung pada wujud lain (Ash-Shamad), dan taruhIah bahwa Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan, tetapi boleh jadi ada wujud lain seperti Dia yang mungkin memiliki semua sifat yang dimiliki oleh-Nya.
Ayat ini menghapus
kesalah-pahaman itu. Ayat ini
mengatakan bahwa tidak ada wujud lain
seperti Allah. Sebab akal manusia pun menuntut bahwa harus
ada hanya satu Pencipta dan Pengawas seluruh alam raya. Demikian
pula tata
kerja sempurna yang melingkupi dan meliputi alam semesta pun menuntun
kepada kesimpulan yang tidak dapat
dielakkan, bahwa satu hukum yang seragam
harus tegak dan kesatuan serta keseragaman hukum dan polanya membuktikan serta menyatakan Ke-Esa- Sang Pencipta, firman-Nya:
لَوۡ کَانَ فِیۡہِمَاۤ اٰلِہَۃٌ
اِلَّا اللّٰہُ لَفَسَدَتَا ۚ
فَسُبۡحٰنَ اللّٰہِ رَبِّ الۡعَرۡشِ
عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾
Seandainya di dalam keduanya yakni langit
dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah pasti binasalah kedua-duanya, maka
Maha Suci Allah Tuhan ‘Arasy itu, jauh di atas segala yang mereka sifatkan.
Dia tidak akan ditanya me-ngenai apa
yang Dia kerjakan, sedangkan mereka akan ditanya. (Al-Anbiya [21:23-24).
Ayat 23 merupakan dalil
yang jitu dan pasti untuk menolak kemusyrikan. Bahkan mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun tidak
dapat menolak, bahwa suatu tertib yang sempurna melingkupi
dan meliputi seluruh alam raya. Tertib ini menunjukkan bahwa ada hukum yang seragam mengaturnya, dan keseragaman hukum-hukum membuktikan Ke-Esa-an
Pencipta dan Pengatur alam raya (QS.67:1-5)
Seandainya ada Tuhan lebih dari satu tentu lebih dari satu hukum akan mengatur alam — sebab adalah perlu bagi suatu wujud
tuhan untuk menciptakan alam-semesta
dengan peraturan-peraturannya yang khusus — dan dengan demikian sebagai
akibatnya kekalutan dan kekacauan niscaya akan terjadi yang tidak dapat dielakkan, serta seluruh alam akan menjadi hancur berantakan. Karena itu sungguh
janggal ajaran “Trinitas” yang mengatakan
bahwa tiga tuhan yang sama-sama sempurna dalam segala segi
secara bersama-sama merupakan pencipta dan pengawas bagi seluruh alam semesta.
Ayat 24 menunjuk kepada sempurnanya
dan lengkapnya tata-tertib alam semesta,
sebab itu mengisyaratkan kepada kesempurnaan Pencipta dan Pengaturnya, yakni Allah Swt., dan
mengisyaratkan pula kepada Ke-Esa-an-Nya. Ayat ini berarti bahwa kekuasaan Allah Swt. mengatasi segala
sesuatu, sedang semua wujud dan
barang lainnya tunduk kepada kekuasaan-Nya. Hal ini merupakan dalil lain yang menentang kemusyrikan.
Mencabut Semua “Akar
Kemusyrikan” & Ajaran “Penebusan Dosa” yang Hakiki
Dengan
demikian Surah Al-Ikhlash mencabut akar-akar
semua itikad kemusyrikan yang
terdapat dalam suatu bentuk atau lain pada agama
lain – kepercayaan kepada Tuhan, dua atau tiga atau lebih banyak, dan kepercayaan bahwa ruh
dan benda itu azali seperti Tuhan.
Inilah penjelasan definisi agung
mengenai Dzat Yang Maha Tinggi -- yakni Allah
Swt. -- seperti dijelaskan dalam Al-Quran, dan tidak ada definisi dalam Kitab-kitab Suci lain yang dapat sekelumit saja menyamai keindahan, keluhuran, dan
keagungan definisi yang diberikan
oleh Al-Quran.
Jadi jelaslah bahwa seandainya
ada ajaran yang
disebut “penebusan dosa” maka ajaran “penebusan dosa” yang hakiki adalah yang diajarkan Allah Swt. melalui Nabi Besar Muhammad saw. yakni menyelaraskan kehendak manusia
dengan kehendak Allah Swt. dalam wujud syariat Islam (Al-Quran), sebagaimana yang diajarkan
dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., karena beliau
merupakan “suri teladan terbaik” bagi
orang-orang yang ingin mengalami “pertemuan” dengan Allah Swt. di dalam
kehidupan di dunia ini juga berupa mendapat kecintaan-Nya
dan maghfirah-Nya (pengampunan-Nya), firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguh-nya Allāh tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali
‘Imran [3]:32-33).
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sejak diutus-Nya Nabi Besar Muhammad saw. tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti beliau saw., sebab jika manusia menolak cara-cara
“penebusan dosa” yang
diajarkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. serta mencari “cara penebusan dosa” selain
yang diajarkan Islam
(Al-Quran) dengan tegas Allah Swt. berfirman:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ
الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ
بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ
بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ
الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam, dan sekali-kali
tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka
karena kedengkian di antara mereka.
Dan barang-siapa kafir kepada
Tanda-tanda Allqh maka sesungguhnya Allqh
sangat cepat dalam meng-hisab. (Ali ‘Imran [3]:20).
Falsafah Pemberian Nama Islam dan Muslim Kepada Agama
Terakhir dan Tersempurna dan Kepada Para Pemeluknya
Semua agama
samawi (langit) senantiasa menanamkan
kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya (aslim/muslim), namun demikian hanya dalam Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak Ilahi
mencapai kesempurnaan (QS.6:162-164),
sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt., dan hanya pada Islam sajalah pe-ngenjewantahan
demikian telah terjadi karena itu Allah Swt. telah menyatakan agama Islam (Al-Quran) sebagai agama (kitab) terakhir dan tersempurna
(QS.5:4).
Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam
yang berhak disebut agama Tuhan Pribadi
(agama Allah) dalam arti yang
sebenarnya. Semua agama yang benar, lebih atau kurang dalam bentuknya
yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata
secara harfiah, tetapi nama Al-Islam
tidak diberikan sebelum tiba saat
bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama
itu dicadangkan untuk syariat yang
terakhir dan mencapai kesempurnaan
dalam Al-Quran (QS.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ
حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ
حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ
ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ
وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai
orang-orang yang beriman, rukuklah
kamu, sujudlah, sembahlah
Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu
dalam urusan agama, مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
Dia telah memberi kamu nama Muslimin
dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ
الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰ -- Maka dirikanlah
shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ
فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ -- Dia Pelindung kamu maka Dia-lah
sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hājj
[22]:78-79).
Jihad
itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan
kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh
kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri. Jihad macam pertama
dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad di jalan
Allāh”. Rasulullāh saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai
jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad
saghir).
Kata-kata ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ
قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- “Dia telah memberi
kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan
Yesaya: “maka engkau akan disebut dengan
nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).
Nubuatan Dalam Doa Nabi Ibrahim a.s.
Bersama Nabi Isma’il a.s. Ketika
Membangun Kembali Ka’bah (Baitullah) Mengenai
Nabi Besar Muhammad Saw.
Isyarat
dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَا -- “dan dalam Kitab
ini” ditujukan kepada doa Nabi Ibrahim a.s. yang dikutip dalam Al-Quran, ketika
bersama putra beliau, Nabi Isma’il a.s.,
memanjatkan doa pada waktu membangun kembali Ka’bah (Baitullah), yaitu: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini
hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami
jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129). Selengkapnya Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ اِبۡرٰہٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا
تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ
اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ
اَنۡتَ
التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ
ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ
الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya
Rabb (Tuhan) kami, terimalah
amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ
مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ -- Ya Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada Engkau, dan juga dari
antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ -- perlihatkanlah kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah taubat kami, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Penerima Taubat,
Maha Penyayang.” رَبَّنَا وَ
ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ -- “Ya
Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang meng-ajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
23 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar