Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
51
PERWUJUDAN KUTUKAN NABI DAUD A.S. DAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. BERUPA DUA KALI
AZAB ILAHI TERHADAP BANI ISRAIL & PENGEMBARAAN LAMA NABI
ISA IBNU MARYAM A.S. MENCARI “SEPULUH SUKU ISRAIL” YANG TERCERAI-BERAI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 50 dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai konsep najat
(keselamatan) menurut agama Kristen:
“Umat Kristen semuanya sependapat bahwa setelah Yesus a.s. maka pintu wahyu telah ditutup dan tidak
ada lagi cara lain
untuk memperolehnya karena pintu
gerbang rahmat telah ditutup
sampai Hari Kiamat nanti. Mungkin hal inilah yang mendorong
mereka menciptakan cara baru guna memperoleh keselamatan dengan menyodorkan
resep baru
yang bertentangan dengan semua prinsip, daya
nalar, keadilan dan rahmat Ilahi.
Mereka menyatakan bahwa Yesus a.s. telah memikul seluruh beban dosa dari semua
manusia di muka bumi
dan setuju mati di atas kayu salib agar melalui
kematiannya maka manusia diselamatkan. Tuhan jadinya telah menyebabkan
kematian putra-Nya sendiri
yang tidak berdosa untuk menyelamatkan
para pendosa.
Sulit
memahami bagaimana mungkin hati manusia bisa disucikan dari segala
kekotoran melalui bentuk kematian yang demikian
buruk. Bagaimana mungkin
dengan menjagal seorang yang tidak berdosa maka segala
dosa di masa silam dari umat manusia lalu dimaafkan.
Semua
ini bertentangan dengan keadilan dan rasa kasih, karena adalah suatu hal
yang bertentangan dengan keadilan mencengkeram seorang
suci
sebagai pengganti para pendosa, dan bertentangan dengan fitrat kasih untuk membunuh anak sendiri dengan cara yang demikian keji. Tambah lagi [dalam
kenyataannya] semua ini nampaknya tidak
memberi hasil apa pun.” (Khutbah
Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.
163, London, 1984).
“Duel Makar” Melalui Penyaliban
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Mengenai
ketidak-benaran “ajaran penebusan
dosa” melalui “kematian terkutuk
Yesus di tiang salib” yang direkayasa
Paulus dalam surat-surat kirimannya tersebut Allah Swt. berfirman:
وَّ
قَوۡلِہِمۡ اِنَّا قَتَلۡنَا الۡمَسِیۡحَ عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ رَسُوۡلَ اللّٰہِ
ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ وَ مَا صَلَبُوۡہُ وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الَّذِیۡنَ اخۡتَلَفُوۡا فِیۡہِ لَفِیۡ
شَکٍّ مِّنۡہُ ؕ مَا لَہُمۡ بِہٖ مِنۡ عِلۡمٍ
اِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَ مَا قَتَلُوۡہُ یَقِیۡنًۢا ﴿﴾ۙ بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ
عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا﴿﴾
Dan karena
ucapan mereka: “Sesungguhnya kami telah
membunuh Al-Masih, Isa Ibnu Maryam,
Rasul Allah,” وَ مَا قَتَلُوۡہُ
وَ مَا صَلَبُوۡہُ -- padahal mereka
tidak membunuhnya secara biasa dan tidak pula mematikannya melalui penyaliban, وَ لٰکِنۡ شُبِّہَ لَہُم -- akan tetapi ia disamarkan kepada mereka seperti
telah mati di atas salib. Dan sesungguhnya
orang-orang yang berselisih dalam
hal ini niscaya ada dalam keraguan
mengenai ini, mereka
tidak memiliki pengetahuan yang pasti mengenai ini
melainkan menuruti dugaan belaka
dan mereka tidak yakin telah membunuhnya. بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ -- Bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya وَ کَانَ اللّٰہُ
عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisa
[4]:158-159).
Makna ayat بَلۡ رَّفَعَہُ اللّٰہُ اِلَیۡہِ -- ”bahkan Allah telah mengangkatnya kepada-Nya” وَ کَانَ اللّٰہُ
عَزِیۡزًا حَکِیۡمًا -- dan Allah
Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An-Nisa
[4]:158-159) sama sekali tidak ada hubungannya dengan pendapat keliru bahwa Allah Swt. telah mengangkat Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. secara jasmani kepada-Nya melainkan maknanya adalah Allah Swt. telah menghindarkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari kematian terkutuk di tiang salib yang direncanakan para pemuka Yahudi karena beliau
-- dalam kapasitas sebagai “penggembala domba-domba- Israel”masih
memiliki tugas lainnya yaitu untuk mencari 10
suku Bani Israil yang tercerai-berai
dan tersebar di luar Palestina, sejak terbebasnya Bani Israil dari masa pembuangan
mereka yang pertama ke Babilonia oleh raja Nebukadnezar (QS.2:260)
akibat kutukan Nabi Daud a.s.,
firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ
اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ
وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا
یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari
kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Mar-yam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui
batas. Mereka tidak pernah saling mencegah
dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat buruk apa yang
senantiasa mereka kerjakan. (Al-Māidah
[5]:79-80).
Perwujudan Kutukan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Dari
antara semua nabi Bani Israil, Nabi
Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu
Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi. Penzaliman
orang-orang Yahudi terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mencapai puncaknya, ketika beliau berusaha dibunuh dengan cara dipakukan pada kayu
salib, sedangkan penderitaan
serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. dari kaum yang tak
mengenal terima kasih itu tercermin di dalam Mazmurnya yang
sangat merawankan hati. Dari lubuk hati
yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
mengutuk mereka.
Kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum Allah Swt. melalui serbuan balatentara Nebukadnezar
dari kerajaan Babilonia yang menghancurluluhkan
Yerusalem dan membawa orang-orang
Bani Israil sebagai tawanan pada
tahun 556 sebelum Masehi, sedangkan akibat
kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus
dari kerajaan Romawi menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70
Masehi dan membinasakan kota dan menodai
rumah-ibadah dengan jalan menyembelih
babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu. Al-Quran
menygisyaratkan dua kali hukuman
Allah Swt. yang menimpa Bani Israil
tersebut dalam QS.17:5-9, firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا
بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu
akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang
saat sempur-nanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapimu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,
dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana. Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepadamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami membantu kamu dengan harta dan
anak-anak, dan Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat
ihsan bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk maka itu
untuk dirimu sendiri. Lalu
bila datang saat sempurnanya
janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain
supaya mereka mendatangkan kesusahan
kepada pe-mimpin-pemimpin kamu dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali
pertama, dan supaya mereka
meng-hancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai. Boleh jadi kini Rabb
(Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepada kamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman dan ingatlah, Kami
telah jadikan Jahannam, penjara bagi orang-orang kafir. (Bani
Israil [17]:5-9).
Penolakan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. Mengenai “Trinitas”
Menurut ayat selanjutnya (QS.5:80) salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan amarah Tuhan atas kaum Yahudi -- selain
berusaha membunuh Nbai Daud a.s. dan Bai Isa Ibnu Maryam a.s. sehingga kedua Nabi Allah itu mengutuk mereka (QS.5:70) -- ialah, mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang sangat merajalela di tengah-tengah mereka.
Jadi, tidak
benar bahwa Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menerima
kematian terkutuk di tiang salib dengan penuh
kerelaan hati, bahkan beliau “berlepas
diri” dari ajaran dusta yang direkayasa
Paulus dalam “surat-surat kirimannya”
tersebut, sebagaimana firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ قَالَ اللّٰہُ
یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ
اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ
اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ
عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ
وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ
اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah
berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku
dan ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha
Suci Engkau. Tidak patut bagiku
mengatakan812 apa yang
sekali-kali bukan hakku.
Jika aku telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau, sesungguh-nya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib. Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku,
yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb
(Tuhan) kamu” Dan aku menjadi saksi atas mereka selama aku
berada di antara mereka, tetapi tatkala Engkau
telah mewafatkanku maka Engkau-lah
Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]117-118).
Lebih
lanjut Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. menyinggung Sifat Maha Pengampun Allah Swt., itulah sebabnya Allah Swt. telah menyelamatkan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari “kematian terkutuk di tiang salib” yang diupayakan oleh para pemuka Yahudi (QS.5:159) dan mengazab mereka melalui serangan Titus dari kerajaan Romawi (Matius
23:37-39 & 24:1-22), sebagaimana ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
selanjutnya:
اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ ہٰذَا یَوۡمُ یَنۡفَعُ الصّٰدِقِیۡنَ
صِدۡقُہُمۡ ؕ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ
ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا فِیۡہِنَّ ؕ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾٪
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka
sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” Allah berfirman: “Inilah hari yang akan
bermanfaat kebenaran
orang-orang yang benar, bagi mereka kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha
kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya, itulah kemenangan
yang besar.” Kepunyaan Allah-lah kerajaan
seluruh langit dan bumi dan apa pun
yang ada di dalamnya, dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]119-121).
Pengembaraan Panjang Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. Sebagai “Al-Masih”
Mencari “Sepuluh Suku Israil” yang
Hilang & Allah Swt. Tuhan
Yang Maha Pengampun
Jadi, ajaran “penebusan dosa” melalui “kematian
terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di kayu salib” dengan selamatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dari upaya para pemuka Yahudi membunuh beliau di tiang salib membuktikan kepalsuan “ajaran Paulus” tersebut, sebab setelah selamat dari kematian di tiang
salib Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pergi dari Palestina untuk mencari 10 suku Israil yang bertebaran di luar wilayah Palestina sampai ke wilayah
Afghanistan dan Hindustan, dan setelah beliau menyelesaikanaikan tugasnya sebagai Al-Masih
(Mesiah/Mesias) -- akhirnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat dalam usia 120 tahun dan dikuburkan
di desa Khan Yar – Srinagar, Kasymir,
firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami
melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir
(Al-Mu’minun [23]:51).
Sehubungan dengan bukti-bukti selamatnya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
dari “kematian terkutuk di tiang salib”
tersebut dalam “duel makar” antara Allah Swt. dengan para pemuka Yahudi tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Kitab Suci
Al-Quran tidak membenarkan
akidah najat (keselamatan)
yang dikemukakan Injil, yaitu
tentang penyaliban Yesus a.s. dan penebusan
yang dilakukannya. Al-Quran membenarkan
kalau Yesus a.s. adalah seorang
nabi besar kekasih Tuhan yang dekat dengan dan dimuliakan Tuhan, namun beliau tetap saja
seorang manusia.
Al-Quran tidak membenarkan bahwa untuk
mencapai najat (keselamatan) maka beban para pendosa diletakkan di punggung seorang yang tidak
bersalah. Begitu pula nalar tidak bisa menerima bahwa untuk dosa-dosa yang dilakukan si X tetapi yang dihukum
adalah si Y. Tidak ada
bentuk pemerintahan apa pun di dunia
yang mengikuti asas demikian.
Menyedihkan sekali bahwa kaum Arya juga berpegang pada asas yang salah berkaitan dengan masalah najat (keselamatan) tersebut sebagaimana
yang dilakukan umat Kristiani,
karena mereka pun telah melupakan
realitasnya. Sejalan dengan akidah kaum Arya, bahwa
pertaubatan dan mencari pengampunan tidak ada gunanya. Sampai manusia selesai
menempuh seluruh rangkaian
reinkarnasi sebagai hukuman atas segala dosanya maka najat
(keselamatan) tidak akan pernah bisa dicapai, dan kalau pun kemudian tercapai sifatnya amat terbatas.
Sosok
Permesywar tidak punya kemampuan mengampuni dosa dan menerima pertaubatan. Meskipun manusia mengalami kematian ruhani dengan menempuh api pengorbanan guna menyenangkan sang Permesywar, semua itu tidak akan ada artinya. Semua itu hanya menunjukkan sifat kekikiran (na’udzubillāh) sang Permesywar.
Dia memerintahkan
agar manusia memaafkan kesalahan manusia lainnya tetapi Dia sendiri tidak melaksanakan fungsi tersebut. Dia mengajari manusia untuk melakukan
suatu hal yang Dia sendiri tidak mau melaksanakannya. Dengan demikian maka para pengikut agama
ini cenderung beranggapan
kalau Permesywar sendiri tidak mau mengampuni seorang pendosa, buat apa mereka berlaku yang bertentangan
dengan fitrat sang Permesywar? Bisakah dibayangkan nasib rakyat yang berada di bawah pemerintahan
raja-raja
yang mengambil sikap sebagaimana
Permesywar yaitu tidak memiliki fitrat untuk memaafkan para pelanggar?
Lagi
pula apa
buktinya
bahwa memang ada yang namanya reinkarnasi kejiwaan?
Kami tidak pernah melihat ada jiwa
dari seorang
yang mati
lalu muncul
di tubuh
lainnya. Yang jelas bentuk penghukuman seperti itu tidak ada gunanya karena sebelumnya jiwa yang tidak diberitahukan bahwa ia dimasukkan ke bentuk inkarnasi yang lebih
rendah akibat dari telah melakukan sejenis dosa, bagaimana
mungkin ia lalu menjaga dirinya dari dosa tersebut?
Patut kiranya diingat, bahwa walau benar fitrat manusia memiliki demikian banyak keunggulan, tetapi di samping itu juga mempunyai kelemahan yang menjadikannya cenderung
melakukan dosa
dan kesalahan. Bukan dengan maksud ingin mendera manusia dengan siksaan maka Tuhan
membekali
fitrat manusia dengan kecenderungan kepada dosa, melainkan dengan tujuan agar fitrat pengampunan-Nya bisa dimanifestasikan (diwujudkan).
Dosa jelas merupakan racun namun api rasa pertaubatan dan istighfar akan mengubahnya menjadi obat penawar. Dengan demikian, setelah pertaubatan dan penyesalan maka dosa menjadi sarana acuan mencapai kemajuan
yang mencerabut perasaan menganggap diri penting, ketakaburan, kesombongan dan rasa riya (pamer).
Najat (Keselamatan) Hanya Mungkin karena Rahmat
Agar
selalu diingat, bahwa tidak
ada yang bisa mencapai najat (keselamatan) semata-mata berkat
perilakunya sendiri, karena keselamatan
hanya bisa diperoleh dalam bentuk rahmat
Ilahi. Allah
yang kita imani bersifat Maha Pemurah
dan Maha Penyayang. Dia itu Maha
Agung, Yang tidak mempunyai kelemahan dan kekurangan
apa pun. Dia itulah Sumber segala
manifestasi dan Sumber Mata Air
segala rahmat.
Dia Sang Maha
Pencipta
dan Tuhan segala karunia. Dia merangkum
dalam Wujud-Nya segala Sifat mulia dan sempurna yang menjadi
Sumber dari segala cahaya, Sumber kehidupan dari segala yang bernyawa
dan Pemelihara
segalanya.
Dia
dekat dengan segala hal tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa Dia menjadi
segala hal.
Dia lebih luhur
dari semuanya namun kita tidak bisa mengatakan bahwa ada yang
memperantarai
antara Dia dengan kita. Dia itu tersembunyi dan tidak kelihatan namun lebih nyata daripada segalanya. Segala kenikmatan dan ketentraman berada pada-Nya.
Inilah filosofi hakiki dari najat (keselamatan).” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 414-416, London, 1984).
Dengan Demikian benarlah pernyataan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. berikut ini --
setelah membantah ajaran
Paulus mengenai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa” (QS.5:117-118) – firman-Nya:
اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ ہٰذَا یَوۡمُ یَنۡفَعُ الصّٰدِقِیۡنَ
صِدۡقُہُمۡ ؕ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ
ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا فِیۡہِنَّ ؕ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾٪
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka
sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha
Bijaksana.” Allah berfirman: “Inilah hari yang akan
bermanfaat kebenaran
orang-orang yang benar, bagi mereka kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha
kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya, itulah kemenangan
yang besar.” Kepunyaan Allah-lah kerajaan
seluruh langit dan bumi dan apa pun
yang ada di dalamnya, dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]119-121).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
1 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar