Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
52
HIKMAH BERBAGAI “KELEMAHAN” MANUSIA
AGAR TIDAK BERSIKAP TAKABBUR SEPERTI IBLIS SERTA AGAR BERENDAH HATI MEMOHON MAGHFIRAH
ILAHI & HAKIKAT SYAFAAT RASUL ALLAH
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 51 dikemukakan sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai konsep najat (keselamatan) menurut agama
Hindu: melalui “reinkarnasi”
“Kitab Suci
Al-Quran tidak membenarkan
akidah najat (keselamatan)
yang dikemukakan Injil, yaitu
tentang penyaliban Yesus a.s. dan penebusan
yang dilakukannya. Al-Quran membenarkan
kalau Yesus a.s. adalah seorang
nabi besar kekasih Tuhan yang dekat dengan dan dimuliakan Tuhan, namun beliau tetap saja
seorang manusia.
Al-Quran tidak membenarkan bahwa untuk
mencapai najat (keselamatan) maka beban para pendosa diletakkan di punggung seorang yang tidak
bersalah. Begitu pula nalar tidak bisa menerima bahwa untuk dosa-dosa yang dilakukan si X tetapi yang dihukum
adalah si Y. Tidak ada
bentuk pemerintahan apa pun di dunia
yang mengikuti asas demikian.
Menyedihkan sekali bahwa kaum Arya juga berpegang pada asas yang salah berkaitan dengan masalah najat (keselamatan) tersebut sebagaimana
yang dilakukan umat Kristiani,
karena mereka pun telah melupakan
realitasnya. Sejalan dengan akidah kaum Arya, bahwa pertaubatan
dan mencari pengampunan tidak ada gunanya. Sampai manusia selesai
menempuh seluruh rangkaian
reinkarnasi sebagai hukuman atas segala dosanya maka najat
(keselamatan) tidak akan pernah bisa dicapai, dan kalau pun kemudian tercapai sifatnya amat terbatas.
Sosok
Permesywar tidak punya kemampuan mengampuni dosa dan menerima pertaubatan. Meskipun manusia mengalami kematian ruhani dengan menempuh api pengorbanan guna menyenangkan sang Permesywar, semua itu tidak akan ada artinya. Semua itu hanya menunjukkan sifat kekikiran (na’udzubillāh) sang Permesywar.
Dia memerintahkan
agar manusia memaafkan kesalahan manusia lainnya tetapi Dia sendiri tidak melaksanakan fungsi tersebut. Dia mengajari manusia untuk melakukan
suatu hal yang Dia sendiri tidak mau melaksanakannya. Dengan demikian maka para pengikut agama
ini cenderung beranggapan
kalau Permesywar sendiri tidak mau mengampuni seorang pendosa, buat apa mereka berlaku yang bertentangan
dengan fitrat sang Permesywar? Bisakah dibayangkan nasib rakyat yang berada di bawah pemerintahan
raja-raja
yang mengambil sikap
sebagaimana Permesywar
yaitu tidak
memiliki fitrat
untuk memaafkan para pelanggar?
Lagi
pula apa
buktinya
bahwa memang ada yang namanya reinkarnasi kejiwaan?
Kami tidak pernah melihat ada jiwa
dari seorang
yang mati
lalu muncul
di tubuh
lainnya. Yang jelas bentuk penghukuman seperti itu tidak ada gunanya karena sebelumnya jiwa yang tidak diberitahukan bahwa ia dimasukkan ke bentuk inkarnasi yang lebih
rendah akibat dari telah melakukan sejenis dosa, bagaimana
mungkin ia lalu menjaga dirinya dari dosa tersebut?
Patut kiranya diingat, bahwa
walau benar fitrat manusia memiliki demikian banyak keunggulan, tetapi di samping itu juga mempunyai kelemahan yang menjadikannya cenderung
melakukan dosa
dan kesalahan. Bukan dengan maksud ingin mendera manusia dengan siksaan maka Tuhan
membekali
fitrat manusia dengan kecenderungan kepada dosa, melainkan dengan tujuan agar fitrat pengampunan-Nya bisa dimanifestasikan (diwujudkan).
Dosa jelas merupakan racun namun api rasa pertaubatan dan istighfar akan mengubahnya menjadi obat penawar. Dengan demikian, setelah pertaubatan dan penyesalan maka dosa menjadi sarana acuan mencapai kemajuan
yang mencerabut perasaan menganggap diri penting, ketakaburan, kesombongan dan rasa riya (pamer).
Najat (Keselamatan) Hanya Mungkin karena Rahmat Ilahi
Agar
selalu diingat, bahwa tidak
ada yang bisa mencapai najat (keselamatan) semata-mata berkat
perilakunya sendiri, karena keselamatan
hanya bisa diperoleh dalam bentuk rahmat
Ilahi. Allah
yang kita imani bersifat Maha Pemurah
dan Maha Penyayang. Dia itu Maha
Agung, Yang tidak mempunyai kelemahan dan kekurangan
apa pun. Dia itulah Sumber segala
manifestasi dan Sumber Mata Air
segala rahmat.
Dia Sang Maha
Pencipta
dan Tuhan segala karunia. Dia merangkum
dalam Wujud-Nya segala Sifat mulia dan sempurna yang menjadi
Sumber dari segala cahaya, Sumber kehidupan dari segala yang bernyawa
dan Pemelihara
segalanya.
Dia
dekat dengan segala hal tetapi kita tidak bisa mengatakan bahwa Dia menjadi
segala hal.
Dia lebih luhur
dari semuanya namun kita tidak bisa mengatakan bahwa ada yang
memperantarai
antara Dia dengan kita. Dia itu tersembunyi dan tidak kelihatan namun lebih nyata daripada segalanya. Segala kenikmatan dan ketentraman berada pada-Nya.
Inilah filosofi hakiki dari najat (keselamatan).” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 414-416, London, 1984).
Dengan Demikian benarlah pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berikut
ini -- setelah membantah ajaran Paulus mengenai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa”
(QS.5:117-118) – firman-Nya:
اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ
الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ ہٰذَا یَوۡمُ یَنۡفَعُ الصّٰدِقِیۡنَ
صِدۡقُہُمۡ ؕ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ
اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ
ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا فِیۡہِنَّ ؕ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾٪
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka
sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” Allah
berfirman: “Inilah hari yang akan
bermanfaat kebenaran
orang-orang yang benar, bagi mereka kebun-kebun
yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,
mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha
kepada mereka dan mereka pun
ridha kepada-Nya, itulah kemenangan
yang besar.” Kepunyaan Allah-lah kerajaan
seluruh langit dan bumi dan apa pun
yang ada di dalamnya, dan Dia
Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]119-121).
“Kedekatan” Dengan Allah Swt. Mencabut Semua “Akar
Dosa”
Masih Mau’ud a.s. – yang merupakan misal dari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.53:58) – lebih jauh
menjelaskan mengenai kekeliruan ajaran Paulus berkenaan “Penebusan Dosa”:
“Adalah
amat
keliru
dalam segala
aspeknya
dan memalukan sekali akidah
Kristiani yang
menyatakan bahwa karena Tuhan
mencintai dunia
dan untuk itu guna menyelamatkannya maka Dia telah mengatur untuk memikulkan keseluruhan beban dosa, kedurhakaan, kekafiran
dan kekejian
manusia di atas pundak putra-Nya yang tercinta, Yesus Kristus, dan menjadikannya sebagai yang terkutuk agar ia bisa menyelamatkan manusia[1] dengan cara mati tergantung di atas kayu salib yang nista.
Jika ditinjau dari aspek keadilan, jelas tidak
bisa diterima akal untuk membebankan dosa si X kepada si Y. Nurani manusia tidak mengizinkan adanya penghukuman seseorang yang bisa dibebankan
kepada orang lain yang tidak berdosa. Bila kita merenungi
realitas dosa
dari sudut
pandang filsafat keruhanian,
pandangan manusia juga jelas akan menyalahkan akidah seperti itu. Dosa
adalah racun yang muncul ketika seseorang
diluputkan dari kepatuhan kepada Tuhan-nya serta kehilangan kasih dan kenangan manis terhadap Wujud-Nya.
Sebagaimana sebuah pohon yang dicerabut dari bumi, dimana karena tidak bisa lagi menghisap
air kehidupan lalu meranggas dan kehilangan
kehijauannya, begitu pula keadaan manusia yang telah dicerabut kasih
Tuhan dari hatinya, sehingga ia mengering
dan jatuh ke lembah dosa.
Dalam kaidah hukum alam yang ditetapkan
Allah Swt., ada 3 cara guna menghilangkan kegersangan demikian. Pertama, adalah kasih Tuhan. Kedua,
adalah istighfar yang
mengungkapkan keinginan untuk menekan dan menutupi dosa, karena sepanjang akar pohon
tetap teguh terkubur di dalam bumi maka akan terjamin kelestarian kehijauannya. Ketiga, adalah pertaubatan yaitu berpaling sambil merendahkan diri kepada Allah Swt. guna memperoleh air kasih dan kedekatan kepada
Wujud-Nya,
serta menarik
dirinya
keluar dari kegelapan kemungkaran melalui amal saleh.
Pertaubatan
yang sempurna
tidak semata-mata merupakan ucapan mulut
saja, karena tujuan dari semua itu
adalah agar memperoleh kedekatan kepada
Tuhan. Shalat atau doa juga
merupakan bentuk pertaubatan karena melalui sarana tersebut kita mencari
kedekatan kepada Allah Swt.. Itulah sebabnya
mengapa Tuhan setelah menciptakan nyawa manusia -- dan menyebutnya
sebagai ruh atau jiwa -- menanamkan di dalamnya perasaan
ketentraman sempurna jika mengakui eksistensi (keberadaan) Tuhan,
memiliki rasa kasih dan patuh
kepada-Nya. Dia juga menyebutnya sebagai ego (keakuan)
yang mencari unifikasi
(penyatuan) dengan Tuhan-nya.
Mencintai Tuhan adalah seperti pohon di kebun yang tertanam kuat di bumi. Inilah yang disebut sebagai surganya
manusia.
Sebagaimana pohon mengisap air dari bumi ke dalam batangnya dan mengusir keluar segala unsur yang
beracun
dari dalamnya, begitu jugalah kondisi kalbu manusia. Kalbu
ini akan
mengisap air kasih Ilahi
dan dengan cara itu mengusir keluar segala yang beracun di dalam nuraninya.
Karena tertanam kuat pada Tuhan-nya maka kalbu ini dihidupi secara suci yang menghasilkan kehijauan yang menyejukkan dan buah yang berberkat.
Adapun mereka yang tidak terkait erat dengan Tuhan, dengan sendirinya tidak akan bisa
mengisap air
yang menghidupkan sehingga akhirnya mongering, sama sekali kehilangan seluruh daunnya yang hijau dimana yang tersisa hanyalah ranting-ranting
kering
yang buruk
rupa.”
(Answer to four questions of
Sirajuddin, Christian, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XII, hlm. 328-329, London, 1984).
Kesaksian Setiap Ruh
Manusia Mengenai “Tauhid Ilahi”
Mengisyaratkan kepada tertanam “Tauhid Ilahi” dan kecintaan kepada Allah Swt. dalam
ruh (jiwa) setiap manusia
tersebut firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ
اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ
اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا
عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ
تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ اَشۡرَکَ
اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا
ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ
یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil
kesaksian dari bani
Adam yakni dari sulbi keturun-an mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا -- sambil berfirman:
”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” ۚۛ
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اِنَّا کُنَّا عَنۡ ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ -- Hal itu
supaya kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami
benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ
اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
-- Atau
kamu mengatakan: ”Sesungguhnya
bapak-bapak kami dahulu yang berbuat
syirik, sedangkan kami hanyalah
keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau
akan membinasakan kami karena apa
yang telah dikerjakan oleh orang-orang
yang berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ
نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ -- Dan demikianlah
Kami menjelaskan Tanda-tanda itu dan supaya
mereka kembali kepada yang haq. (Al-A’rāf [7]:173-175).
Ayat 173 menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat
manusia sendiri mengenai adanya Dzat
Mahatinggi Yang telah menciptakan
seluruh alam serta mengendalikannya (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk
kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki manusia jalan menuju Allah Swt. ketika
mereka terjerumus dalam kemusyrikan
(QS.19:48; QS.13:8; QS.16:37; QS.35:25).
Ungkapan “dari sulbi bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus. Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul Allah yang baru diutus di kalangan Bani Adam itulah yang
mendorong timbulnya pertanyaan Ilahi: اَلَسۡتُ
بِرَبِّکُمۡ -- ”Bukankah Aku
Rabb (Tuhan) kamu?” Firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat
pun dan tidak pula dapat memajukannya.
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu drasul-rasul
dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,
tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan
orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
Hakikat Taubat,
Istighfar dan Syafaat
Pertanyaan Allah Swt. dalam ayat اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ
شَہِدۡنَا
-- sambil
berfirman: ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi” berarti pula bahwa jika Allah Swt. telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian
betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya.
Sesungguhnya karena menolak nabi mereka maka manusia menjadi saksi terhadap diri mereka sendiri, sebab jika demikian
mereka tidak dapat berlindung di balik
dalih bahwa mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau syariat-Nya atau tidak mengetahui adanya
Hari
Pembalasan.
Kemunculan seorang nabi Allah dari kalangan Bani
Adam itu pun juga menghambat kaumnya
dari mengemukakan dalih seperti dalam
ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah
haq (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan
terang benderang dicela: اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا اِنَّمَاۤ
اَشۡرَکَ اٰبَآؤُنَا مِنۡ قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ
-- Atau kamu mengatakan: ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا
بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ -- Apakah Engkau
akan membinasakan kami karena apa
yang telah dikerjakan oleh orang-orang
yang berbuat batil itu?” (Al-A’rāf
[7]:174).
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai hakikat taubat,
istighfar dan syafaat sehubungan dengan kesia-siaan
ajaran “Penebusan Dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. hasil pemikiran Paulus dalam surat-surat kirimannya:
“Sudah menjadi kaidah hukum alam Ilahi bahwa Dia akan mengampuni dosa manusia melalui taubat dan istighfar serta menerima doa orang yang saleh sebagai bentuk syafaat.
Tetapi yang jelas kita tidak pernah
melihat ada orang yang menokok (memukul) kepalanya sendiri dengan batu dengan anggapan
akan menyembuhkan sakit kepala orang lain.
Karena itu menjadi tidak jelas apa dasar hukum
pandangan
yang menyatakan bahwa laku bunuh diri yang dikerjakan Yesus a.s. akan bisa
mengenyahkan penyakit batin orang-orang lainnya. Juga tidak
ada dasarnya filosofi yang
mengajarkan bahwa darah Yesus akan mampu membasuh kekotoran batin manusia
lainnya.
Sesungguhnya observasi atas segala hal yang berlaku di
dunia
ini nyatanya bertentangan dengan akidah demikian. Sampai dengan [munculnya faham] Yesus memutuskan akan bunuh diri, umat Kristiani
pada masa itu masih memiliki fitrat kesalehan dan pengagungan Tuhan, tetapi setelah kejadian penyaliban
terlihat sepertinya semua bendungan telah rebah dan airnya
melimpah ke segala arah. Hal itulah yang terjadi pada kegairahan umat Kristiani.
Sebenarnya jika dikatakan bahwa Yesus secara
sengaja menyerahkan nyawanya
(walau dengan alasan bagi kemaslahatan umat manusia), patut dikatakan bahwa kelakuan
demikian itu amat tidak wajar. Beliau baru akan menjadi manfaat besar bagi umatnya jika mengkhususkan dirinya kepada mengajar dan membimbing
manusia. Jadi, apa keuntungan nyata dari tindakan tidak patut bunuh diri tersebut?
Jika setelah bunuh
dirinya
itu Yesus kembali hidup dan naik ke langit di hadapan umat Yahudi, pasti mereka akan beriman kepada beliau. Nyatanya, baik umat Yahudi mau pun orang-orang bijak lainnya beranggapan bahwa kenaikan Yesus
ke langit
tersebut sebagai isapan jempol
belaka.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine
Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XX, hlm. 347-348,
London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
2 November 2016
[1]
Umat
Kristen sependapat dengan umat Yahudi bahwa Yesus memang mati secara
‘terkutuk’ tetapi menekankan bahwa hal
itu adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Paulus mengatakan dalam Galatia
3:13: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan
menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis ‘Terkutuklah orang yang digantung
di kayu salib.’” Hal ini merujuk pada ketentuan Kitab Perjanjian Lama, Ulangan 21:23: “... sebab seorang
yang tergantung terkutuk oleh Allah, ...” (Penterjemah/Khalid A. Qoyum).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar