Jumat, 04 November 2016

Hikmah Berbagai "Kelemahan" Manusia Agar Tidak bersikap "Takabbur" Seperti Iblis dan Agar "Berendah Hati" Memohon "Maghfirah Ilahi" & Hikmah "Syafaat" Rasul Allah

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 52

HIKMAH   BERBAGAI   “KELEMAHAN” MANUSIA AGAR TIDAK BERSIKAP TAKABBUR SEPERTI  IBLIS SERTA AGAR BERENDAH HATI MEMOHON MAGHFIRAH ILAHI  & HAKIKAT SYAFAAT  RASUL ALLAH

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 51 dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai    konsep najat (keselamatan) menurut agama  Hindu: melalui “reinkarnasi”
        “Kitab Suci Al-Quran tidak membenarkan akidah najat (keselamatan) yang dikemukakan Injil, yaitu tentang penyaliban Yesus a.s. dan penebusan yang dilakukannya. Al-Quran membenarkan kalau Yesus a.s. adalah seorang nabi besar kekasih Tuhan yang dekat dengan dan dimuliakan Tuhan, namun beliau tetap saja seorang manusia.
     Al-Quran tidak membenarkan bahwa untuk mencapai najat (keselamatan) maka beban para pendosa diletakkan di punggung seorang yang tidak bersalah. Begitu pula nalar tidak bisa menerima bahwa untuk dosa-dosa yang dilakukan si X tetapi yang dihukum adalah si Y. Tidak ada bentuk pemerintahan apa pun di dunia yang mengikuti asas demikian.
      Menyedihkan sekali bahwa kaum Arya juga berpegang pada asas yang salah berkaitan dengan masalah najat (keselamatan) tersebut sebagaimana yang dilakukan umat Kristiani, karena mereka pun telah melupakan realitasnya. Sejalan dengan akidah kaum Arya, bahwa pertaubatan dan mencari pengampunan tidak ada gunanya. Sampai manusia selesai menempuh seluruh rangkaian reinkarnasi sebagai hukuman atas segala dosanya  maka najat (keselamatan) tidak akan pernah bisa dicapai, dan kalau pun kemudian tercapai  sifatnya amat terbatas.
     Sosok Permesywar tidak punya kemampuan mengampuni dosa dan menerima pertaubatan. Meskipun manusia mengalami kematian ruhani dengan menempuh api pengorbanan guna menyenangkan sang Permesywar, semua itu tidak akan ada artinya. Semua itu hanya menunjukkan sifat kekikiran (na’udzubillāh) sang Permesywar.
      Dia memerintahkan agar manusia memaafkan kesalahan manusia lainnya tetapi Dia sendiri tidak melaksanakan fungsi tersebut. Dia mengajari manusia untuk melakukan suatu hal yang Dia sendiri tidak mau melaksanakannya. Dengan demikian maka para pengikut agama ini cenderung beranggapan kalau Permesywar sendiri tidak mau mengampuni seorang pendosa, buat apa mereka berlaku yang bertentangan dengan fitrat sang Permesywar? Bisakah dibayangkan nasib rakyat yang berada di bawah pemerintahan raja-raja yang mengambil sikap sebagaimana Permesywar yaitu tidak memiliki fitrat untuk memaafkan para pelanggar?
   Lagi pula apa buktinya bahwa memang ada yang namanya reinkarnasi kejiwaan? Kami tidak pernah melihat ada jiwa dari seorang yang mati lalu muncul di tubuh lainnya. Yang jelas bentuk penghukuman seperti itu tidak ada gunanya karena sebelumnya  jiwa yang tidak diberitahukan  bahwa ia dimasukkan ke bentuk inkarnasi yang lebih rendah akibat dari telah melakukan sejenis dosa, bagaimana mungkin ia lalu menjaga dirinya dari dosa tersebut?
     Patut kiranya diingat, bahwa walau benar fitrat manusia memiliki demikian banyak keunggulan, tetapi di samping itu juga mempunyai kelemahan yang menjadikannya cenderung melakukan dosa dan kesalahan. Bukan dengan maksud ingin mendera manusia dengan siksaan maka Tuhan membekali fitrat manusia dengan kecenderungan kepada dosa, melainkan dengan tujuan agar fitrat pengampunan-Nya bisa dimanifestasikan (diwujudkan).
      Dosa jelas merupakan racun namun api rasa pertaubatan dan istighfar akan mengubahnya menjadi obat penawar. Dengan demikian, setelah pertaubatan dan penyesalan maka dosa menjadi sarana acuan mencapai kemajuan yang mencerabut perasaan menganggap diri penting, ketakaburan, kesombongan dan rasa riya (pamer).

Najat (Keselamatan) Hanya Mungkin karena Rahmat Ilahi

      Agar selalu diingat, bahwa tidak ada yang bisa mencapai najat (keselamatan) semata-mata berkat perilakunya sendiri, karena keselamatan hanya bisa diperoleh dalam bentuk rahmat Ilahi. Allah yang kita imani bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Dia itu Maha Agung, Yang tidak mempunyai kelemahan dan kekurangan apa pun. Dia itulah Sumber segala manifestasi dan Sumber Mata Air segala rahmat.
     Dia Sang Maha Pencipta dan Tuhan segala karunia. Dia merangkum dalam Wujud-Nya segala Sifat mulia dan sempurna yang menjadi  Sumber dari segala cahaya, Sumber kehidupan dari segala yang bernyawa dan Pemelihara segalanya.
    Dia dekat dengan segala hal tetapi kita tidak bisa  mengatakan bahwa Dia menjadi segala hal. Dia lebih luhur dari semuanya namun kita tidak bisa mengatakan bahwa ada yang memperantarai antara Dia dengan kita. Dia itu tersembunyi dan tidak kelihatan namun lebih nyata daripada segalanya. Segala kenikmatan dan ketentraman  berada pada-Nya. Inilah filosofi hakiki dari najat (keselamatan).” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  414-416, London, 1984).
      Dengan Demikian benarlah pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. berikut ini   -- setelah membantah  ajaran Paulus mengenai “Trinitas” dan “Penebusan Dosa”  (QS.5:117-118) – firman-Nya:
اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ قَالَ اللّٰہُ ہٰذَا یَوۡمُ یَنۡفَعُ الصّٰدِقِیۡنَ صِدۡقُہُمۡ ؕ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ  تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَاۤ  اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾ لِلّٰہِ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ مَا فِیۡہِنَّ ؕ وَ ہُوَ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾٪
“Kalau Engkau mengazab mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  -- dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”  Allah berfirman: “Inilah hari     yang akan  bermanfaat kebenaran orang-orang yang benar, bagi mereka kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai,  mereka   kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah  ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, itulah kemenangan yang besar.”    Kepunyaan  Allah-lah kerajaan seluruh langit dan bumi dan apa pun  yang ada di dalamnya, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Māidah [5]119-121).

Kedekatan” Dengan Allah Swt. Mencabut  Semua “Akar Dosa

        Masih   Mau’ud a.s.    – yang merupakan misal dari Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.53:58) – lebih jauh menjelaskan mengenai kekeliruan ajaran Paulus berkenaan “Penebusan Dosa”:
       Adalah amat keliru dalam segala aspeknya dan memalukan sekali akidah Kristiani yang menyatakan  bahwa karena Tuhan mencintai dunia dan untuk itu guna menyelamatkannya maka Dia telah mengatur untuk memikulkan keseluruhan beban dosa, kedurhakaan, kekafiran dan kekejian manusia di atas pundak putra-Nya yang tercinta, Yesus Kristus, dan menjadikannya sebagai yang terkutuk agar ia bisa menyelamatkan manusia[1] dengan cara mati tergantung di atas kayu salib yang nista.
   Jika ditinjau dari aspek keadilan, jelas tidak bisa diterima akal untuk membebankan dosa si X kepada si Y. Nurani manusia tidak mengizinkan adanya penghukuman seseorang yang bisa dibebankan kepada orang lain yang tidak berdosa. Bila kita merenungi realitas dosa dari sudut pandang filsafat keruhanian, pandangan manusia juga jelas akan menyalahkan akidah seperti itu. Dosa adalah racun yang muncul ketika seseorang diluputkan dari kepatuhan kepada Tuhan-nya serta kehilangan kasih dan kenangan manis terhadap Wujud-Nya.
       Sebagaimana sebuah pohon yang dicerabut dari bumi, dimana karena tidak bisa lagi menghisap air kehidupan lalu meranggas dan kehilangan kehijauannya, begitu pula keadaan manusia yang telah dicerabut kasih Tuhan dari hatinya, sehingga ia mengering dan jatuh ke lembah dosa.
     Dalam kaidah hukum alam yang ditetapkan Allah Swt., ada 3 cara guna menghilangkan kegersangan demikian. Pertama, adalah kasih Tuhan.  Kedua, adalah istighfar yang mengungkapkan keinginan untuk menekan dan menutupi dosa, karena sepanjang akar pohon tetap teguh terkubur di dalam bumi maka akan terjamin kelestarian kehijauannya. Ketiga, adalah pertaubatan yaitu berpaling sambil merendahkan diri kepada Allah Swt. guna memperoleh air kasih dan kedekatan kepada Wujud-Nya, serta menarik dirinya keluar dari kegelapan kemungkaran melalui amal saleh.
      Pertaubatan yang sempurna tidak semata-mata merupakan ucapan mulut saja, karena tujuan dari semua itu adalah agar memperoleh kedekatan kepada TuhanShalat atau doa juga merupakan bentuk pertaubatan karena melalui sarana tersebut kita mencari kedekatan kepada Allah Swt.. Itulah sebabnya mengapa Tuhan setelah menciptakan nyawa manusia  --  dan menyebutnya sebagai ruh atau jiwa  --  menanamkan di dalamnya perasaan ketentraman sempurna jika mengakui eksistensi (keberadaan) Tuhan, memiliki rasa kasih dan patuh kepada-Nya. Dia juga menyebutnya sebagai ego (keakuan) yang mencari unifikasi (penyatuan) dengan Tuhan-nya.
     Mencintai Tuhan adalah seperti pohon di kebun yang tertanam kuat di bumi. Inilah yang disebut sebagai surganya manusia. Sebagaimana pohon mengisap air dari bumi ke dalam batangnya dan mengusir keluar segala unsur yang beracun dari dalamnya, begitu jugalah kondisi kalbu manusia. Kalbu ini akan mengisap air kasih Ilahi dan dengan cara itu mengusir keluar segala yang beracun di dalam nuraninya.
      Karena tertanam kuat pada Tuhan-nya maka kalbu ini dihidupi secara suci yang menghasilkan kehijauan yang menyejukkan dan buah yang berberkat. Adapun mereka yang tidak terkait erat dengan Tuhan, dengan sendirinya tidak akan bisa mengisap air yang menghidupkan sehingga akhirnya mongering, sama sekali kehilangan seluruh daunnya yang hijau dimana yang tersisa hanyalah ranting-ranting kering yang buruk rupa.” (Answer to four questions of Sirajuddin, Christian, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XII, hlm. 328-329, London, 1984).

Kesaksian Setiap Ruh Manusia Mengenai “Tauhid Ilahi

      Mengisyaratkan kepada tertanam “Tauhid Ilahi” dan kecintaan kepada Allah Swt. dalam ruh (jiwa) setiap manusia  tersebut firman-Nya berikut ini:
وَ اِذۡ اَخَذَ رَبُّکَ مِنۡۢ بَنِیۡۤ اٰدَمَ مِنۡ ظُہُوۡرِہِمۡ ذُرِّیَّتَہُمۡ وَ اَشۡہَدَہُمۡ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ ۚ اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ ﴿﴾ۙ اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۚ اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) engkau mengambil  kesaksian dari  bani Adam  yakni   dari sulbi  keturun-an  mereka serta menjadikan mereka saksi atas dirinya sendiri  اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا   --  sambil berfirman:      ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi.” ۚۛ اَنۡ تَقُوۡلُوۡا یَوۡمَ  الۡقِیٰمَۃِ  اِنَّا کُنَّا عَنۡ  ہٰذَا غٰفِلِیۡنَ  --  Hal  itu supaya  kamu tidak berkata pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kami  benar-benar lengah dari hal ini.” اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   --   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  --  Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” وَ کَذٰلِکَ نُفَصِّلُ الۡاٰیٰتِ وَ لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ --  Dan demikianlah Kami menjelaskan Tanda-tanda itu  dan supaya mereka kembali kepada yang haq.   (Al-A’rāf [7]:173-175).
    Ayat  173 menunjukkan kepada kesaksian yang tertanam dalam fitrat manusia sendiri mengenai adanya Dzat Mahatinggi Yang telah menciptakan seluruh alam  serta mengendalikannya  (QS.30:31). Atau ayat itu dapat merujuk kepada kemunculan para nabi Allah yang menunjuki manusia  jalan menuju Allah Swt. ketika mereka terjerumus dalam kemusyrikan (QS.19:48; QS.13:8; QS.16:37; QS.35:25).
Ungkapan “dari sulbi  bani Adam” maksudnya umat dari setiap zaman yang kepada mereka rasul Allah diutus. Pada hakikatnya keadaan tiap-tiap rasul Allah  yang baru diutus  di kalangan Bani Adam  itulah yang mendorong timbulnya  pertanyaan Ilahi:   اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ     --   ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?”   Firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  --   Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu drasul-rasul dari antara kamu yang membacakan   Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --   Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).

Hakikat  Taubat, Istighfar dan Syafaat

Pertanyaan Allah Swt. dalam ayat  اَلَسۡتُ بِرَبِّکُمۡ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ۚۛ شَہِدۡنَا   --  sambil berfirman:  ”Bukankah Aku Rabb (Tuhan) kamu?” Mereka berkata: “Ya benar, kami menjadi saksi” berarti pula bahwa jika Allah Swt.     telah menyediakan perbekalan untuk keperluan jasmani manusia dan demikian  pula untuk kemajuan akhlak dan keruhanian betapa ia dapat mengingkari Ketuhanan-Nya. Sesungguhnya karena menolak nabi mereka  maka manusia menjadi saksi terhadap diri  mereka sendiri, sebab jika demikian mereka tidak dapat berlindung di balik dalih bahwa  mereka tidak mengetahui Allah Swt. atau syariat-Nya atau tidak mengetahui adanya  Hari Pembalasan.
  Kemunculan seorang nabi Allah dari kalangan Bani Adam itu pun juga menghambat kaumnya dari mengemukakan dalih seperti dalam ayat 173 di atas, sebab pada saat itulah  haq   (kebenaran) dibuat nyata berbeda dari kepalsuan, dan kemusyrikan dengan  terang benderang dicela: اَوۡ تَقُوۡلُوۡۤا  اِنَّمَاۤ  اَشۡرَکَ  اٰبَآؤُنَا مِنۡ  قَبۡلُ وَ کُنَّا ذُرِّیَّۃً مِّنۡۢ بَعۡدِہِمۡ   --   Atau kamu mengatakan:  ”Sesungguhnya bapak-bapak kami dahulu yang berbuat syirik, sedangkan kami hanyalah keturunan sesudah mereka. اَفَتُہۡلِکُنَا بِمَا فَعَلَ الۡمُبۡطِلُوۡنَ  --  Apakah Engkau akan membinasakan kami karena apa yang telah  dikerjakan oleh orang-orang yang  berbuat batil itu?” (Al-A’rāf [7]:174).
        Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai   hakikat  taubat, istighfar dan syafaat sehubungan dengan kesia-siaan ajaran “Penebusan Dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hasil pemikiran Paulus dalam surat-surat kirimannya:
     Sudah menjadi kaidah hukum alam Ilahi bahwa Dia akan mengampuni dosa manusia melalui  taubat  dan istighfar serta menerima doa orang yang saleh sebagai bentuk syafaat. Tetapi yang jelas kita tidak pernah melihat ada orang yang menokok (memukul) kepalanya sendiri dengan batu dengan anggapan akan menyembuhkan sakit kepala orang lain.
     Karena itu menjadi tidak jelas apa dasar hukum pandangan yang menyatakan bahwa laku bunuh diri yang dikerjakan Yesus a.s. akan bisa mengenyahkan penyakit batin orang-orang lainnya. Juga tidak  ada dasarnya filosofi yang mengajarkan bahwa darah Yesus akan mampu membasuh kekotoran batin manusia lainnya.
     Sesungguhnya observasi atas segala hal yang berlaku di dunia ini nyatanya bertentangan dengan akidah demikian. Sampai dengan [munculnya faham]  Yesus memutuskan akan bunuh diri, umat Kristiani pada masa itu masih memiliki fitrat kesalehan dan pengagungan Tuhan, tetapi setelah kejadian penyaliban terlihat sepertinya semua bendungan telah rebah dan airnya melimpah ke segala arah. Hal itulah yang terjadi pada kegairahan umat Kristiani.
   Sebenarnya jika dikatakan bahwa Yesus secara sengaja menyerahkan nyawanya (walau dengan alasan bagi kemaslahatan umat manusia), patut dikatakan bahwa kelakuan demikian itu amat tidak wajar. Beliau baru akan menjadi manfaat besar bagi umatnya jika mengkhususkan dirinya kepada mengajar dan membimbing manusia. Jadi, apa keuntungan nyata dari tindakan tidak patut bunuh diri tersebut?
     Jika setelah bunuh dirinya itu  Yesus kembali hidup dan naik ke langit di hadapan umat Yahudi, pasti mereka akan beriman kepada beliau. Nyatanya, baik umat Yahudi mau pun orang-orang bijak lainnya beranggapan bahwa kenaikan Yesus ke langit tersebut sebagai isapan jempol belaka. (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.  347-348, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  2 November 2016



[1] Umat Kristen sependapat dengan umat Yahudi bahwa Yesus memang mati secara ‘terkutuk’  tetapi menekankan bahwa hal itu adalah untuk menyelamatkan umat manusia. Paulus mengatakan dalam Galatia 3:13: “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis ‘Terkutuklah orang yang digantung di kayu salib.’” Hal ini merujuk pada ketentuan Kitab Perjanjian Lama, Ulangan 21:23: “... sebab seorang yang tergantung terkutuk oleh Allah, ...” (Penterjemah/Khalid A. Qoyum).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar