Selasa, 22 November 2016

Jasa Nabi Besar Muhammad Saw. dan Al-Quran Mengembalikan "Kemuliaan Kedudukan Ruhani" Para Nabi Allah yang "Dihinakan" Guna Mendukung Ajaran "Penebusan Dosa"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 67  

JASA  NABI BESAR MUHAMMAD SAW.  DAN AL-QURAN MENGEMBALIKAN KEMULIAAN KEDUDUKAN RUHANI PARA NABI BANI ISRAIL  YANG  “DIHINAKAN” GUNA MENDUKUNG  AJARAN “PENEBUSAN DOSA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 66 dikemukakan topik  Para Rasul Allah Merupakan  “Suri-Teladan” yang Baik. Yakni sekali pun  para rasul Allah tersebut mengalami pendustaan dan   kezaliman dari penentangnya  tetapi para rasul Allah tersebut tetap memperagakan keteguhan iman mereka kepada Allah Swt. (Tauhid Ilahi)  serta tetap berakhlak mulia.   Contohnya kisah para rasul Allah mulai   Nabi Adam a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s. hingga Nabi Musa a.s.  dan Nabi Harun a.s. sampai dengan kisah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang diceritakan   antara lain  dalam  QS.7:60-152; QS.11:26-192;  QS.21: 52-94.
     Bahkan ada beberapa surah Al-Quran yang secara khusus memakai nama para rasul Allah dan yang bukan rasul Allah,   contohnya  Surah Nuh (QS.71:1-29); Surah Yunus (QS.10:110;  Surah Hud (QS:11:1-124) Surah Ibrahim (QS.14: 1-53; surah  Yusuf   (QS.12:1-112); surah Luqman (QS.31]:1-35);  Surah Muhammad (QS.47:1-39);  Surah Âli ‘Imran  (QS.3:1-201; dan Surah Maryam (QS.19:1-99).

Makna “Tidak Membeda-bedakan Para Rasul Allah

       Jadi, berbeda dengan penuturan dalam Bible, penuturan Al-Quran  mengenai para rasul Allah   benar-benar menimbulkan rasa hormat  terhadap wujud mulia para Rasul Allah tersebut – termasuk para rasul Allah di kalangan Bani Israil   --  itulah sebabnya dalam  ajaran Islam (Al-Quran)  dilarang memilah-milah atau membeda-bedakan para rasul Allah  yang diutus kepada kaum  terdahulu, firman-Nya:
اٰمَنَ الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا ٭۫ غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan begitu pula  orang-orang beriman,  semuanya beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ  --  mereka berkata:  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,  وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا وَ اَطَعۡنَا  -- dan mereka berkata: “Kami telah mendengar dan kami taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ  --  Kami mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan) kami, dan kepada Engkau-lah kami  kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
       Mengenai  ayat لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ  اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ  --  mereka berkata:  Kami tidak membeda-bedakan  seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,    lihat pula QS.2:137; QS.3:85; QS.4:151-153.  Maknanya bahwa  ajaran Islam (Al-Quran) tidak membeda-bedakan berbagai nabi Allah dan hal kenabiannya, tetapi jangan pula diartikan bahwa semua nabi  Allah (rasul Allah) memiliki     tingkatan keruhanian  yang sama  karena bertentangan dengan firman-Nya berikut ini:
تِلۡکَ الرُّسُلُ  فَضَّلۡنَا بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ۘ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ بَعۡضَہُمۡ  دَرَجٰتٍ ؕ وَ اٰتَیۡنَا عِیۡسَی  ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ وَ لٰکِنِ اخۡتَلَفُوۡا فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اٰمَنَ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  کَفَرَ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ  مَا اقۡتَتَلُوۡا ۟ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَفۡعَلُ  مَا یُرِیۡدُ ﴿﴾٪
Itulah rasul-rasul yang telah Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas yang lain,  di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengannya, dan  Dia meninggikan sebagian dari mereka dalam derajat,  dan  Kami memberi Isa ibnu Maryam bukti-bukti yang nyata dan Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus.   وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ   -- Dan seandainya  Allah menghendakiorang-orang yang sesudah mereka sekali-kali  tidak akan saling memerangi setelah bukti-bukti yang nyata datang kepada mereka, وَ لٰکِنِ اخۡتَلَفُوۡا فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اٰمَنَ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ  کَفَرَ  --  akan tetapi mereka tetap berselisih, maka  di antara mereka ada yang beriman dan ada pula yang kafir.  وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ  مَا اقۡتَتَلُوۡا ۟ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَفۡعَلُ  مَا یُرِیۡدُ -- Dan seandainya Allah menghendaki mereka tidak akan saling memerangi, tetapi Allah melakukan apa yang Dia inginkan. (Al-Baqarah [2]:254). Lihat pula QS.17:56.
      Ungkapan      مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ بَعۡضَہُمۡ  دَرَجٰتٍ --  “di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengannya dan  Dia meninggikan sebagian dari mereka dalam derajat “   tidak berarti bahwa ada beberapa nabi Allah yang kepadanya Allah Swt.  tidak bercakap-cakap atau bahwa ada beberapa yang keruhanian mereka tidak ditinggikan. Kata-kata itu hanya berarti bahwa ada dua macam nabi Allah:
    (a) Mereka yang membawa syariat baru. Mereka itu disebut “nabi-nabi mukallam.”  Contohnya Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw.,   Nabi Besar Muhammad saw.    diriwayatkan telah bersabda bahwa Nabi Adam a.s.   itu “nabi mukallam” (Musnad Ahmad bin Hanbal).
    (b) Kenabian mereka hanya tercermin dalam kemuliaan pangkat ruhani mereka. Mereka itu “nabi-nabi ghair-mukallam.   Contohnya Nabi Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s., sebab semuanya mentaati hukum Taurat yang diwahyukan Allah Swt.  kepada Nabi Musa a.s.(QS.2:88-89; QS.5:45-48).

Dalam Diri Nabi Besar Muhammad Saw. Terhimpun Suri Teladan yang Baik Para Rasul Allah  

       Pendek kata, semua rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw.  pada zamannya masing-masing   merupakan suri teladan   terbaik dalam hal  keteguhan iman mereka kepada Allah Swt.   serta dalam hal  keluhuran akhlak dan ruhani mereka, sekali pun harus menghadapi berbagai bentuk kezaliman para penentangnya, firman-Nya:
قَدۡ کَانَتۡ لَکُمۡ  اُسۡوَۃٌ  حَسَنَۃٌ  فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗ ۚ اِذۡ  قَالُوۡا لِقَوۡمِہِمۡ  اِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنۡکُمۡ وَ مِمَّا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۫  کَفَرۡنَا بِکُمۡ  وَ بَدَا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمُ  الۡعَدَاوَۃُ وَ الۡبَغۡضَآءُ  اَبَدًا حَتّٰی تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗۤ  اِلَّا  قَوۡلَ  اِبۡرٰہِیۡمَ  لِاَبِیۡہِ لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ  لَکَ وَ مَاۤ  اَمۡلِکُ لَکَ مِنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ رَبَّنَا عَلَیۡکَ تَوَکَّلۡنَا وَ اِلَیۡکَ اَنَبۡنَا وَ  اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَۃً  لِّلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ اغۡفِرۡ لَنَا رَبَّنَا ۚ اِنَّکَ  اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ لَقَدۡ کَانَ  لَکُمۡ  فِیۡہِمۡ  اُسۡوَۃٌ  حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ  یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ ؕ  وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّ  فَاِنَّ اللّٰہَ  ہُوَ الۡغَنِیُّ  الۡحَمِیۡدُ ٪﴿﴾
 Sungguh bagi kamu ada contoh yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang besertanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka:  “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari perbuatan kamu. Dan telah nyata permusuhan serta kebencian di antara kami dan kamu untuk selama-lamanya hingga kamu beriman kepada Allah semata”, kecuali yang dikatakan Ibrahim kepada bapaknya:  Pasti aku akan memohonkan ampunan bagi engkau, tetapi aku sekali-kali tidak ber-daya menolong engkau sedikit pun terhadap Allah.” Ibrahim berkata, ”Hai Rabb (Tuhan) kami, kepada Engkau kami bertawakkal dan kepada Engkau kami tunduk serta kepada Engkau ka-mi akan kembali.  Hai  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menjadikan kami  ujian  bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami, hai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijak-sana.”     Sungguh bagi kamu dalam diri mereka benar-benar ada contoh yang baik bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan Allah dan Hari Kemudian. Dan barangsiapa berpaling  maka sesungguhnya Allah  Dia Maha Kaya, Maha Terpuji. (Al-Mumtahanah [60]:5-7).
        Seluruh sifat terpuji dari para rasul Allah yang pernah diutus  Allah Swt. kepada kaum-kaum sebelumnya tersebut telah diperagakan kembali oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam kuantitas dan kualitasnya yang jauh lebih sempurna, sebab pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. sebagai rasul Allah pembawa syariat yang terakhir dan tersempurna (QS.5:4) merupakan “himpunan” dari  sifat-sifat mulia para rasul Allah tersebut, bagaikan bermuaranya semua aliran sungai  di dunia ke samudra luas tak bertepi, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).

Keluhuran Akhlak  dan Ruhani  Nabi Besar Muhammad Saw. Pada Masa Penderitaan  dan Masa Kemenangan

   Pertempuran Khandak (Parit) di Madinah  yang menelan  waktu berhari-hari mungkin merupakan ujian paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw.,  dan beliau saw.  keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
     Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah  -- yakni ketika di sekitar gelap gelita  --  atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan,  -- yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya  --  watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
    Pertempuran Khandak (Parit), Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak  Nabi Besar Muhammad saw. yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw. lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat  Nabi Besar Muhammad saw. atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
  Ketika  Nabi Besar Muhammad saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.”   
   Demikian pula tatkala Mekkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak  Nabi Besar Muhammad saw..  Beliau  saw. menunjukkan keluhuran budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau, melebihi  pemaafan yang dilakukan Nabi Yusuf  a.s. terhadap kesalahan saudara-saudara beliau (QS.12:93).

Kesaksian Orang-orang Terdekat Mengenai Kesempurnaan Berbagai Segi Kehidupan Nabi Besar Muhammad Saw.

   Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak  Nabi Besar Muhammad saw.  selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau  saw. dan yang paling mengenal beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi beliau saw., yakni, istri beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau sepanjang hayat, Abu Bakar Shidiq r.a.; saudara sepupu yang juga menantu beliau, Ali bin Abi Thalib r.a.;  dan bekas budak beliau yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haritsah r.s.,  bahwa benar-benar Nabi Besar Muhammad saw.   merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan (QS.68:6).
    Dalam segala segi kehidupan dan watak  Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam  tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti (QS.3:32). Seluruh kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah, terang-benderang bagaikan “Nur di atas nur” (QS.23:36).
     Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa. Sebagai kanak-kanak beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja  beliau  saw. etap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran. Pada usia setengah-baya  Nabi Besar Muhammad saw. mendapat julukan Al-Amīn (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau saw. terbukti paling jujur dan cermat.
  Nabi Besar Muhammad saw. menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau saw..
   Sebagai ayah  Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau saw. sangat setia dan murah hati. Ketika beliau saw. diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak (QS.33:73), beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun beliau  saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur  (QS.93:1-12; QS.94:1-9).

Kesaksian Kritikus Non-Muslim

  Nabi Besar Muhammad saw. bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau  saw. menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara.  Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muham-madanism” karya Bosworth Smith).
   Jadi, seandainya ada manusia yang dapat dijadikan “Tuhan” selain Allah Swt.  – Na’udzubillah min dzalik – maka yang paling tepat dari seluruh rasul Allah   -- termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (Yesus) --     adalah  Nabi Besar Muhammad saw. -- satu-satunya Rasul Allah yang mendapat gelar “Khātaman Nabiyyīn   (QS.33:41)   --   bukan yang lainnya.
   Namun demikian,  bagaimana pun sempurnanya akhlak dan ruhani serta kecintaan seseorang kepada Allah Swt. – terutama Nabi Besar Muhammad saw.  –  dengan dalih dan alasan apa pun  tidak patut untuk “dipertuhankan”,  dan hanya orang-orang  yang berpikiran jahil saja yang mempertuhankan makhluk (ciptaan) Allah Swt., sebagaimana  firman-Nya:
اَوَ مَنۡ یُّنَشَّؤُا فِی الۡحِلۡیَۃِ  وَ ہُوَ فِی الۡخِصَامِ  غَیۡرُ  مُبِیۡنٍ ﴿﴾  وَ جَعَلُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ  الَّذِیۡنَ ہُمۡ عِبٰدُ الرَّحۡمٰنِ  اِنَاثًا ؕ اَشَہِدُوۡا خَلۡقَہُمۡ ؕ سَتُکۡتَبُ شَہَادَتُہُمۡ وَ  یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾  وَ قَالُوۡا  لَوۡ  شَآءَ الرَّحۡمٰنُ مَا عَبَدۡنٰہُمۡ ؕ مَا لَہُمۡ  بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ٭ اِنۡ ہُمۡ  اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ﴿ؕ﴾  اَمۡ اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ  فَہُمۡ بِہٖ مُسۡتَمۡسِکُوۡنَ ﴿﴾  بَلۡ قَالُوۡۤا  اِنَّا وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا عَلٰۤی اُمَّۃٍ وَّ  اِنَّا عَلٰۤی  اٰثٰرِہِمۡ  مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ قَرۡیَۃٍ مِّنۡ نَّذِیۡرٍ  اِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوۡہَاۤ  ۙ اِنَّا وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا عَلٰۤی  اُمَّۃٍ  وَّ اِنَّا عَلٰۤی اٰثٰرِہِمۡ  مُّقۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apakah patut orang yang dibesarkan di dalam perhiasan-perhiasan dan dia tidak mampu memberikan penjelasan dalam pertengkaran menjadi  Tuhan?   Dan mereka menjadikan ma-laikat-malaikat yang adalah hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai perempuan-perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka? Segera  kesaksian mereka akan dicatat dan mereka akan ditanyaiوَ قَالُوۡا  لَوۡ  شَآءَ الرَّحۡمٰنُ مَا عَبَدۡنٰہُمۡ  -- Dan mereka berkata:  "Sean-dainya Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki demikian  kami sekali-kali tidak akan menyembah mereka." مَا لَہُمۡ  بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ٭ اِنۡ ہُمۡ  اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ   -- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan sedikit pun mengenai hal itu, mereka tidak lain melainkan menerka-nerka belaka. اَمۡ اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ  فَہُمۡ بِہٖ مُسۡتَمۡسِکُوۡنَ  --    Atau adakah  Kami sebelumnya memberi mereka suatu Kitab  maka mereka berpegang teguh kepadanya?  بَلۡ قَالُوۡۤا  اِنَّا وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا عَلٰۤی اُمَّۃٍ وَّ  اِنَّا عَلٰۤی  اٰثٰرِہِمۡ  مُّہۡتَدُوۡنَ  --  Tidak, bahkan mereka berkata:  "Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami mengikuti cara tertentu, dan sesungguhnya kami  dibimbing di atas jejak mereka."  وَ کَذٰلِکَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ قَرۡیَۃٍ مِّنۡ نَّذِیۡرٍ  اِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوۡہَاۤ    -- Dan demikianlah Kami ssekali-kali tidak  mengirimkan seorang pemberi peringatan sebelum engkau ke suatu negeri  melainkan  orang-orang kaya mereka berkata:  اِنَّا وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا عَلٰۤی  اُمَّۃٍ  وَّ اِنَّا عَلٰۤی اٰثٰرِہِمۡ  مُّقۡتَدُوۡنَ --  "Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami mengikuti cara tertentu, dan sesungguhnya kami dibimbing  di atas jejak mereka."    (Az-Zukhruf [43]:19-24).

Dua Dalih Dusta Kemusyrikan

  Isyarat   ayat: اَوَ مَنۡ یُّنَشَّؤُا فِی الۡحِلۡیَۃِ  وَ ہُوَ فِی الۡخِصَامِ  غَیۡرُ  مُبِیۡنٍ  -- “Dan apakah patut orang yang dibesarkan di dalam perhiasan-perhiasan dan dia tidak mampu memberikan penjelasan dalam pertengkaran menjadi  Tuhan?”   boleh jadi tertuju kepada berhala-berhala yang didandani dan dihiasi permata.
 Ayat ini menyesali orang-orang musyrik dengan halus bahwa mereka menyembah berhala yang tidak dapat bercakap-cakap dan pula tidak dapat menjawab doa-doa mereka atau tidak pula dapat membela diri mereka sendiri terhadap serangan-serangan yang dilancarkan terhadap mereka.
  Para penyembah berhala tertebut bukan saja tidak punya alasan atau dalil apa pun untuk mempertahankan itikad mereka yang tidak masuk akal itu, bahkan mereka tidak dapat mengemukakan satu pun persaksian Kitab Suci yang mendukung mereka: مَا لَہُمۡ  بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ٭ اِنۡ ہُمۡ  اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ   -- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan sedikit pun mengenai hal itu, mereka tidak lain melainkan menerka-nerka belaka. اَمۡ اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ  فَہُمۡ بِہٖ مُسۡتَمۡسِکُوۡنَ  --    Atau adakah  Kami sebelumnya memberi mereka suatu Kitab  maka mereka berpegang teguh kepadanya?    (Az-Zukhruf [43]:21-22).
 Dua dalih dusta yang mereka kemukakan  mengenai kemusyrikan yang mereka lakukan adalah:
 (1)   وَ قَالُوۡا  لَوۡ  شَآءَ الرَّحۡمٰنُ مَا عَبَدۡنٰہُمۡ  -- Dan mereka berkata:  "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki demikian  kami sekali-kali tidak akan menyembah mereka." (Az-Zukhruf [43]:21);
 (2)  بَلۡ قَالُوۡۤا  اِنَّا وَجَدۡنَاۤ  اٰبَآءَنَا عَلٰۤی اُمَّۃٍ وَّ  اِنَّا عَلٰۤی  اٰثٰرِہِمۡ  مُّہۡتَدُوۡنَ  --  “Tidak, bahkan mereka berkata:  "Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami mengikuti cara tertentu, dan sesungguhnya kami  dibimbing di atas jejak mereka."  (Az-Zukhruf [43]:23).
      Sehubungan dengan kenyataan tersebut, masih dalam surah yang sama Allah  Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:  
قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾  فَذَرۡہُمۡ  یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا یَوۡمَہُمُ  الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: "Seandainya Tu-han Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah."  Maha Suci Tuhan seluruh langit dan bumi, Rabb (Tuhan)  ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan.  Maka biarkanlah mereka bercakap kosong  dan bermain-main sampai mereka bertemu dengan Hari mereka yang telah dijanjikan. (Az-Zukhruf [43]:82-84).  
   Berkenaan ayat 82, 'abid adalah isim fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap menghinakan (Lexicon Lane). Maka ayat قُلۡ  اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ  -- “Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah."    Ayat ini berarti:
    (a) Bila Tuhan Yang Maha Pemurah beranak, maka akulah orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak itu) sebab sebagai abdi Allah yang paling taat dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya (anak itu).
    (b) Bila mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak menyembah Tuhan dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya. (QS.6:162-164).
   (c) Tuhan Yang Maha Pemurah pasti tidak mempunyai seorang anak ("in" berarti, "tidak"), dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan ini, sebab kata 'ābidin berarti syāhidin, yaitu saksi-saksi.
   (d) Tuhan Yang Maha Pemurah tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan  bahwa Dia memiliki  anak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  قُلۡ ہُوَ  اللّٰہُ  اَحَدٌ  ۚ﴿﴾  اَللّٰہُ  الصَّمَدُ ۚ﴿﴾  لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾  وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.    Katakanlah:  Dia-lah  Allah Yang Maha Esa.    Allah, adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu bergantung pada-Nya. لَمۡ  یَلِدۡ ۬ۙ  وَ  لَمۡ  یُوۡلَدۡ   --     Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan,    وَ  لَمۡ  یَکُنۡ  لَّہٗ   کُفُوًا  اَحَدٌ ٪﴿﴾  -- Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  22 November 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar