Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
67
JASA NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. DAN AL-QURAN MENGEMBALIKAN KEMULIAAN KEDUDUKAN RUHANI PARA NABI
BANI ISRAIL YANG “DIHINAKAN” GUNA MENDUKUNG AJARAN “PENEBUSAN
DOSA”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir
Bab 66 dikemukakan topik Para Rasul Allah Merupakan
“Suri-Teladan”
yang Baik.
Yakni sekali pun para rasul
Allah tersebut mengalami pendustaan
dan kezaliman dari penentangnya tetapi para rasul Allah tersebut tetap memperagakan keteguhan iman mereka kepada Allah Swt. (Tauhid Ilahi) serta tetap berakhlak mulia. Contohnya kisah para rasul Allah mulai Nabi Adam
a.s., Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s. hingga Nabi Musa a.s. dan Nabi Harun a.s. sampai dengan kisah Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang
diceritakan antara lain dalam
QS.7:60-152; QS.11:26-192; QS.21:
52-94.
Bahkan ada beberapa surah Al-Quran yang secara khusus
memakai nama para rasul Allah dan yang bukan rasul Allah, contohnya
Surah Nuh (QS.71:1-29); Surah Yunus (QS.10:110; Surah Hud
(QS:11:1-124) Surah Ibrahim (QS.14:
1-53; surah Yusuf (QS.12:1-112); surah Luqman (QS.31]:1-35); Surah Muhammad
(QS.47:1-39); Surah Âli ‘Imran (QS.3:1-201; dan Surah
Maryam (QS.19:1-99).
Makna “Tidak Membeda-bedakan
Para Rasul Allah”
Jadi, berbeda dengan penuturan dalam Bible, penuturan Al-Quran mengenai para rasul Allah benar-benar menimbulkan rasa hormat terhadap wujud mulia
para Rasul Allah tersebut – termasuk
para rasul Allah di kalangan Bani Israil --
itulah sebabnya dalam ajaran Islam (Al-Quran) dilarang
memilah-milah atau membeda-bedakan para rasul Allah yang diutus kepada kaum terdahulu, firman-Nya:
اٰمَنَ
الرَّسُوۡلُ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡہِ مِنۡ رَّبِّہٖ وَ
الۡمُؤۡمِنُوۡنَ ؕ کُلٌّ اٰمَنَ
بِاللّٰہِ وَ مَلٰٓئِکَتِہٖ وَ کُتُبِہٖ وَ رُسُلِہٖ ۟ لَا نُفَرِّقُ
بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ ۟ وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا
وَ اَطَعۡنَا ٭۫
غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Rasul ini beriman kepada apa yang
diturunkan kepadanya dari Rabb-nya (Tuhan-nya),
dan begitu pula orang-orang beriman, semuanya beriman
kepada Allah, Malaikat-malaikat-Nya,
Kitab-kitab-Nya, dan Rasul-rasul-Nya, لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- mereka berkata: ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,
وَ قَالُوۡا سَمِعۡنَا
وَ اَطَعۡنَا -- dan
mereka berkata: “Kami telah mendengar
dan kami taat. غُفۡرَانَکَ رَبَّنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ -- Kami
mohon ampunan Engkau, ya Rabb (Tuhan)
kami, dan kepada Engkau-lah kami kembali.” (Al-Baqarah [2]:286).
Mengenai
ayat لَا نُفَرِّقُ بَیۡنَ اَحَدٍ مِّنۡ رُّسُلِہٖ -- mereka berkata: ”Kami tidak membeda-bedakan
seorang pun dari antara Rasul-rasul-Nya”,
lihat pula QS.2:137; QS.3:85;
QS.4:151-153. Maknanya bahwa ajaran
Islam (Al-Quran) tidak membeda-bedakan
berbagai nabi Allah dan hal kenabiannya, tetapi jangan pula diartikan
bahwa semua nabi Allah
(rasul Allah) memiliki tingkatan keruhanian yang sama
karena bertentangan dengan firman-Nya berikut ini:
تِلۡکَ الرُّسُلُ فَضَّلۡنَا
بَعۡضَہُمۡ عَلٰی بَعۡضٍ ۘ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ
بَعۡضَہُمۡ دَرَجٰتٍ ؕ وَ اٰتَیۡنَا
عِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ الۡبَیِّنٰتِ وَ اَیَّدۡنٰہُ
بِرُوۡحِ الۡقُدُسِ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلَ الَّذِیۡنَ مِنۡۢ
بَعۡدِہِمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ وَ لٰکِنِ اخۡتَلَفُوۡا
فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اٰمَنَ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
کَفَرَ ؕ وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ
مَا اقۡتَتَلُوۡا ۟ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ یَفۡعَلُ مَا یُرِیۡدُ ﴿﴾٪
Itulah rasul-rasul yang telah Kami lebihkan sebagian dari mereka di atas yang lain, di antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengannya,
dan Dia meninggikan sebagian dari mereka dalam
derajat, dan Kami
memberi Isa ibnu Maryam bukti-bukti yang nyata dan Kami memperkuatnya dengan Ruhulqudus. وَ لَوۡ شَآءَ اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلَ
الَّذِیۡنَ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنٰتُ -- Dan seandainya
Allah menghendaki, orang-orang yang sesudah mereka sekali-kali tidak akan saling memerangi setelah bukti-bukti yang nyata datang kepada mereka,
وَ لٰکِنِ
اخۡتَلَفُوۡا فَمِنۡہُمۡ مَّنۡ اٰمَنَ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ کَفَرَ -- akan tetapi
mereka tetap berselisih, maka
di antara mereka ada
yang beriman dan ada pula
yang kafir. وَ لَوۡ شَآءَ
اللّٰہُ مَا اقۡتَتَلُوۡا ۟ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ یَفۡعَلُ مَا یُرِیۡدُ -- Dan seandainya Allah
menghendaki mereka tidak akan saling memerangi, tetapi Allah melakukan apa yang Dia inginkan. (Al-Baqarah [2]:254).
Lihat pula QS.17:56.
Ungkapan مِنۡہُمۡ
مَّنۡ کَلَّمَ اللّٰہُ وَ رَفَعَ بَعۡضَہُمۡ
دَرَجٰتٍ -- “di
antara mereka ada yang Allah bercakap-cakap dengannya dan Dia
meninggikan sebagian dari mereka dalam derajat “ tidak berarti bahwa ada beberapa nabi Allah yang kepadanya Allah Swt. tidak
bercakap-cakap atau bahwa ada beberapa yang keruhanian mereka tidak ditinggikan. Kata-kata itu hanya berarti
bahwa ada dua macam nabi Allah:
(a) Mereka yang membawa syariat baru. Mereka itu disebut “nabi-nabi mukallam.” Contohnya
Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad saw.,
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
telah bersabda bahwa Nabi Adam a.s. itu “nabi mukallam” (Musnad Ahmad bin Hanbal).
(b) Kenabian mereka hanya tercermin dalam kemuliaan pangkat ruhani mereka. Mereka itu “nabi-nabi ghair-mukallam.” Contohnya Nabi
Harun a.s. sampai dengan Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s., sebab semuanya mentaati
hukum Taurat yang diwahyukan Allah
Swt. kepada Nabi Musa a.s.(QS.2:88-89; QS.5:45-48).
Dalam Diri Nabi Besar Muhammad Saw. Terhimpun Suri Teladan yang Baik Para Rasul
Allah
Pendek
kata, semua rasul Allah yang diutus
sebelum Nabi Besar Muhammad saw. pada
zamannya masing-masing merupakan suri
teladan terbaik
dalam hal keteguhan iman mereka kepada Allah
Swt. serta dalam hal keluhuran
akhlak dan ruhani mereka, sekali
pun harus menghadapi berbagai bentuk kezaliman
para penentangnya, firman-Nya:
قَدۡ
کَانَتۡ لَکُمۡ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ
فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗ ۚ اِذۡ قَالُوۡا لِقَوۡمِہِمۡ اِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنۡکُمۡ وَ مِمَّا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۫
کَفَرۡنَا بِکُمۡ وَ بَدَا
بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمُ الۡعَدَاوَۃُ وَ
الۡبَغۡضَآءُ اَبَدًا حَتّٰی تُؤۡمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗۤ اِلَّا قَوۡلَ
اِبۡرٰہِیۡمَ لِاَبِیۡہِ
لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ لَکَ وَ مَاۤ اَمۡلِکُ لَکَ مِنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ
رَبَّنَا عَلَیۡکَ تَوَکَّلۡنَا وَ اِلَیۡکَ اَنَبۡنَا وَ اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ رَبَّنَا لَا
تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا وَ اغۡفِرۡ لَنَا رَبَّنَا ۚ اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ
فِیۡہِمۡ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ
ؕ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ
فَاِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡغَنِیُّ الۡحَمِیۡدُ ٪﴿﴾
Sungguh bagi kamu ada contoh yang baik dalam diri
Ibrahim dan orang-orang
yang besertanya, ketika mereka
berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya
kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah,
kami mengingkari perbuatan kamu.
Dan telah nyata permusuhan serta
kebencian di antara kami dan kamu untuk selama-lamanya hingga kamu beriman kepada Allah semata”,
kecuali yang dikatakan Ibrahim
kepada bapaknya: “Pasti aku akan memohonkan ampunan bagi engkau, tetapi aku sekali-kali tidak ber-daya menolong
engkau sedikit pun terhadap Allah.” Ibrahim berkata, ”Hai Rabb (Tuhan) kami, kepada Engkau kami bertawakkal dan kepada Engkau kami tunduk serta kepada
Engkau ka-mi akan kembali. Hai Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menjadikan kami ujian bagi orang-orang
kafir, dan ampunilah kami, hai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijak-sana.” Sungguh bagi kamu dalam diri mereka benar-benar ada contoh yang baik bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan
Allah dan Hari Kemudian. Dan barangsiapa
berpaling maka sesungguhnya Allah Dia Maha Kaya,
Maha Terpuji. (Al-Mumtahanah [60]:5-7).
Seluruh sifat terpuji dari para rasul
Allah yang pernah diutus Allah Swt.
kepada kaum-kaum sebelumnya tersebut
telah diperagakan kembali oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam kuantitas dan kualitasnya yang jauh lebih
sempurna, sebab pengutusan Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai rasul Allah pembawa
syariat yang terakhir dan tersempurna
(QS.5:4) merupakan “himpunan” dari sifat-sifat mulia para rasul Allah tersebut, bagaikan bermuaranya semua aliran sungai di dunia ke samudra luas tak bertepi, firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya bagi kamu, yaitu bagi orang
yang mengharapkan Allah dan Hari
Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab
[33]:22).
Keluhuran Akhlak dan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.
Pada Masa Penderitaan dan Masa Kemenangan
Pertempuran Khandak (Parit) di Madinah
yang menelan waktu berhari-hari mungkin
merupakan ujian paling pahit di dalam
seluruh jenjang kehidupan Nabi Besar
Muhammad saw., dan beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang
lebih tinggi lagi.
Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah -- yakni ketika di sekitar gelap gelita -- atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan,
-- yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya
-- watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian
yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat
sukacita karena meraih kemenangan
— tetap menunjukkan kepribadian agung
lagi mulia.
Pertempuran Khandak (Parit), Uhud, dan Hunain
menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak Nabi Besar Muhammad
saw. yang indah, dan Fatah Mekkah
(Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak
beliau saw. lainnya. Mara bahaya
tidak mengurangi semangat Nabi Besar
Muhammad saw. atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak
beliau saw..
Ketika Nabi Besar Muhammad saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau saw. tanpa
gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya
berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah
dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.”
Demikian pula tatkala Mekkah jatuh dan seluruh
tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan
yang mutlak dan tak tersaingi itu
tidak kuasa merusak Nabi Besar Muhammad saw.. Beliau saw. menunjukkan keluhuran budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau,
melebihi pemaafan yang dilakukan Nabi
Yusuf a.s. terhadap kesalahan saudara-saudara beliau
(QS.12:93).
Kesaksian Orang-orang Terdekat Mengenai Kesempurnaan
Berbagai Segi Kehidupan Nabi Besar
Muhammad Saw.
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin
ada terhadap keagungan watak Nabi Besar Muhammad saw. selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan
beliau saw. dan yang paling mengenal
beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai
beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama
percaya akan misi beliau saw.,
yakni, istri beliau yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau
sepanjang hayat, Abu Bakar Shidiq r.a.; saudara sepupu yang juga menantu
beliau, Ali bin Abi Thalib r.a.; dan
bekas budak beliau yang telah dimerdekakan,
Zaid bin Haritsah r.s., bahwa
benar-benar Nabi Besar Muhammad saw. merupakan
contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna
dalam keindahan dan kebajikan (QS.68:6).
Dalam segala segi kehidupan dan watak Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti
(QS.3:32). Seluruh kehidupan Nabi Besar
Muhammad saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah, terang-benderang bagaikan “Nur di atas nur” (QS.23:36).
Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib
seluruh bangsa. Sebagai kanak-kanak
beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja beliau saw.
etap merupakan contoh yang sempurna
dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran.
Pada usia setengah-baya Nabi Besar Muhammad saw. mendapat julukan Al-Amīn
(si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau saw. terbukti paling jujur dan cermat.
Nabi Besar Muhammad saw. menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri
dan ada juga yang jauh lebih muda,
namun semua bersedia memberi kesaksian
dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan
beliau saw..
Sebagai ayah
Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau saw. sangat setia dan murah hati.
Ketika beliau saw. diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat
yang sudah rusak (QS.33:73), beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan,
namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur (QS.93:1-12; QS.94:1-9).
Kesaksian Kritikus
Non-Muslim
Nabi
Besar Muhammad saw. bertempur sebagai
prajurit gagah-berani dan memimpin
pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan
dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan.
Beliau saw. menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan
keputusan dalam berbagai perkara. Nabi Besar Muhammad saw. adalah seorang
negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
“Kepala negara merangkap Penghulu Agama,
beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak
berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara
tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan
tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan
hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai
kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa
melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di
atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih
atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh,
beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga
kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan
suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muham-madanism”
karya Bosworth Smith).
Jadi, seandainya ada manusia yang dapat dijadikan “Tuhan”
selain Allah Swt. – Na’udzubillah
min dzalik – maka yang paling tepat
dari seluruh rasul Allah --
termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(Yesus) -- adalah Nabi Besar Muhammad saw. -- satu-satunya
Rasul Allah yang mendapat gelar “Khātaman
Nabiyyīn (QS.33:41) -- bukan
yang lainnya.
Namun
demikian, bagaimana pun sempurnanya akhlak dan ruhani serta kecintaan seseorang kepada Allah
Swt. – terutama Nabi Besar Muhammad saw.
– dengan dalih dan alasan apa
pun tidak
patut untuk “dipertuhankan”, dan hanya orang-orang yang berpikiran
jahil saja yang mempertuhankan
makhluk (ciptaan) Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:
اَوَ مَنۡ
یُّنَشَّؤُا فِی الۡحِلۡیَۃِ وَ ہُوَ فِی
الۡخِصَامِ غَیۡرُ مُبِیۡنٍ ﴿﴾ وَ جَعَلُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ الَّذِیۡنَ ہُمۡ عِبٰدُ الرَّحۡمٰنِ اِنَاثًا ؕ اَشَہِدُوۡا خَلۡقَہُمۡ ؕ
سَتُکۡتَبُ شَہَادَتُہُمۡ وَ
یُسۡـَٔلُوۡنَ ﴿﴾ وَ قَالُوۡا لَوۡ
شَآءَ الرَّحۡمٰنُ مَا عَبَدۡنٰہُمۡ ؕ مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ٭ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ﴿ؕ﴾ اَمۡ اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ فَہُمۡ بِہٖ مُسۡتَمۡسِکُوۡنَ ﴿﴾ بَلۡ قَالُوۡۤا
اِنَّا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا
عَلٰۤی اُمَّۃٍ وَّ اِنَّا عَلٰۤی اٰثٰرِہِمۡ
مُّہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ مَاۤ
اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ قَرۡیَۃٍ مِّنۡ نَّذِیۡرٍ اِلَّا قَالَ مُتۡرَفُوۡہَاۤ ۙ اِنَّا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤی اُمَّۃٍ
وَّ اِنَّا عَلٰۤی اٰثٰرِہِمۡ
مُّقۡتَدُوۡنَ ﴿﴾
Dan apakah patut orang yang dibesarkan di dalam
perhiasan-perhiasan dan dia
tidak mampu memberikan penjelasan dalam pertengkaran menjadi Tuhan? Dan mereka menjadikan ma-laikat-malaikat yang adalah hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai
perempuan-perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan mereka?
Segera kesaksian mereka akan dicatat dan mereka akan ditanyai. وَ قَالُوۡا لَوۡ شَآءَ الرَّحۡمٰنُ مَا عَبَدۡنٰہُمۡ -- Dan mereka berkata: "Sean-dainya Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki demikian kami sekali-kali
tidak akan menyembah mereka." مَا
لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ٭ اِنۡ
ہُمۡ اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ -- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan
sedikit pun mengenai hal itu, mereka
tidak lain melainkan menerka-nerka belaka. اَمۡ
اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ
فَہُمۡ بِہٖ مُسۡتَمۡسِکُوۡنَ --
Atau adakah Kami sebelumnya memberi mereka suatu Kitab maka mereka
berpegang teguh kepadanya? بَلۡ قَالُوۡۤا اِنَّا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤی اُمَّۃٍ وَّ اِنَّا عَلٰۤی
اٰثٰرِہِمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ -- Tidak, bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami mengikuti
cara tertentu, dan sesungguhnya
kami dibimbing di atas jejak mereka." وَ کَذٰلِکَ مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ فِیۡ قَرۡیَۃٍ مِّنۡ
نَّذِیۡرٍ اِلَّا قَالَ
مُتۡرَفُوۡہَاۤ -- Dan demikianlah
Kami ssekali-kali tidak mengirimkan
seorang pemberi peringatan sebelum engkau ke suatu negeri melainkan
orang-orang kaya mereka berkata:
اِنَّا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤی اُمَّۃٍ
وَّ اِنَّا عَلٰۤی اٰثٰرِہِمۡ
مُّقۡتَدُوۡنَ -- "Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami mengikuti
cara tertentu, dan sesungguhnya
kami dibimbing di atas jejak mereka." (Az-Zukhruf [43]:19-24).
Dua Dalih Dusta Kemusyrikan
Isyarat
ayat: اَوَ مَنۡ
یُّنَشَّؤُا فِی الۡحِلۡیَۃِ وَ ہُوَ فِی
الۡخِصَامِ غَیۡرُ مُبِیۡنٍ -- “Dan apakah
patut orang yang dibesarkan di dalam perhiasan-perhiasan dan dia tidak mampu memberikan penjelasan dalam
pertengkaran menjadi Tuhan?” boleh
jadi tertuju kepada berhala-berhala
yang didandani dan dihiasi permata.
Ayat ini menyesali orang-orang musyrik dengan halus bahwa mereka menyembah berhala yang tidak
dapat bercakap-cakap dan pula tidak
dapat menjawab doa-doa mereka atau tidak
pula dapat membela diri mereka sendiri terhadap serangan-serangan yang dilancarkan terhadap mereka.
Para penyembah berhala tertebut bukan saja tidak punya alasan atau dalil apa pun untuk mempertahankan itikad mereka yang tidak masuk akal itu, bahkan mereka tidak dapat mengemukakan satu
pun persaksian Kitab Suci yang mendukung mereka: مَا لَہُمۡ بِذٰلِکَ مِنۡ عِلۡمٍ ٭
اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ -- Mereka sekali-kali tidak memiliki pengetahuan sedikit
pun mengenai hal itu, mereka tidak
lain melainkan menerka-nerka belaka. اَمۡ
اٰتَیۡنٰہُمۡ کِتٰبًا مِّنۡ قَبۡلِہٖ
فَہُمۡ بِہٖ مُسۡتَمۡسِکُوۡنَ --
Atau adakah Kami sebelumnya memberi mereka suatu Kitab maka mereka
berpegang teguh kepadanya?
(Az-Zukhruf [43]:21-22).
Dua dalih
dusta yang mereka kemukakan mengenai kemusyrikan
yang mereka lakukan adalah:
(1) وَ
قَالُوۡا لَوۡ شَآءَ الرَّحۡمٰنُ مَا عَبَدۡنٰہُمۡ -- Dan mereka berkata: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah menghendaki demikian kami sekali-kali
tidak akan menyembah mereka." (Az-Zukhruf [43]:21);
(2) بَلۡ قَالُوۡۤا اِنَّا وَجَدۡنَاۤ اٰبَآءَنَا عَلٰۤی اُمَّۃٍ وَّ اِنَّا عَلٰۤی
اٰثٰرِہِمۡ مُّہۡتَدُوۡنَ -- “Tidak, bahkan mereka berkata: "Sesungguhnya kami mendapatkan bapak-bapak kami mengikuti
cara tertentu, dan sesungguhnya
kami dibimbing di atas jejak mereka." (Az-Zukhruf [43]:23).
Sehubungan dengan kenyataan tersebut, masih
dalam surah yang sama Allah Swt.
berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنۡ کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا
اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ سُبۡحٰنَ رَبِّ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ رَبِّ
الۡعَرۡشِ عَمَّا یَصِفُوۡنَ ﴿﴾ فَذَرۡہُمۡ یَخُوۡضُوۡا وَ یَلۡعَبُوۡا حَتّٰی یُلٰقُوۡا
یَوۡمَہُمُ الَّذِیۡ یُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:
"Seandainya Tu-han Yang Maha
Pemurah mempunyai seorang anak, niscaya akulah yang pertama di antara para penyembah." Maha
Suci Tuhan seluruh langit dan bumi, Rabb (Tuhan) ‘Arasy, jauh dari apa yang mereka sifatkan. Maka biarkanlah
mereka bercakap kosong dan bermain-main sampai mereka bertemu dengan Hari mereka yang
telah dijanjikan. (Az-Zukhruf
[43]:82-84).
Berkenaan ayat 82, 'abid adalah isim
fa'il dari 'abada, yang berarti: ia menyembah; dan dari 'abida, yang
berarti: ia marah; ia menolak; bersedih karena telah berlaku lalai; ia bersikap
menghinakan (Lexicon Lane).
Maka ayat قُلۡ اِنۡ
کَانَ لِلرَّحۡمٰنِ وَلَدٌ ٭ۖ فَاَنَا اَوَّلُ الۡعٰبِدِیۡنَ -- “Katakanlah: "Seandainya Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang
anak, niscaya akulah yang pertama di
antara para penyembah." Ayat ini berarti:
(a) Bila Tuhan Yang Maha Pemurah beranak, maka akulah orangnya yang pertama-tama menyembahnya (anak itu) sebab
sebagai abdi Allah yang paling
taat dan patuh aku niscaya tidak akan lalai dalam kewajibanku terhadapnya
(anak itu).
(b)
Bila mungkin Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai seorang anak, maka akulah
yang paling berhak memperoleh kedudukan itu, sebab akulah yang paling banyak menyembah Tuhan
dan yang paling banyak pula berbakti kepada-Nya. (QS.6:162-164).
(c) Tuhan Yang Maha Pemurah pasti tidak mempunyai seorang anak ("in"
berarti, "tidak"), dan akulah yang pertama-tama menjadi saksi atas kenyataan ini, sebab kata 'ābidin
berarti syāhidin, yaitu saksi-saksi.
(d) Tuhan Yang Maha Pemurah tidak mempunyai anak, dan akulah yang pertama-tama menolak dengan benci akan pernyataan bahwa Dia
memiliki anak, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ قُلۡ ہُوَ اللّٰہُ
اَحَدٌ ۚ﴿﴾
اَللّٰہُ الصَّمَدُ ۚ﴿﴾ لَمۡ یَلِدۡ
۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ ۙ﴿﴾ وَ لَمۡ یَکُنۡ
لَّہٗ کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Katakanlah: “Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah,
adalah Tuhan Yang se-gala sesuatu
bergantung pada-Nya. لَمۡ یَلِدۡ ۬ۙ وَ
لَمۡ یُوۡلَدۡ -- Dia
tidak beranak dan tidak diperanakkan,
وَ
لَمۡ یَکُنۡ لَّہٗ
کُفُوًا اَحَدٌ ٪﴿﴾ -- Dan tidak
ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.” (Al-Ikhlash [112]:1-5).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
22 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar