Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
53
PERINGATAN
ALLAH SWT. BERKENAAN BANI ISRAIL DAN SEBAGAI NUBUATAN BAGI BANI ISMA’IL (UMAT ISLAM) & MAKNA DAN PENTINGNYA SYAFAAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian
akhir Bab 52 dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai pentingnya hakikat taubat,
istighfar dan syafaat sehubungan dengan kesia-siaan
ajaran “Penebusan Dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. hasil pemikiran Paulus dalam surat-surat kirimannya. Berkenaan dengan
syafaat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Sudah menjadi kaidah hukum alam Ilahi bahwa Dia akan mengampuni dosa manusia melalui taubat dan istighfar serta menerima doa orang yang saleh sebagai bentuk syafaat.
Tetapi yang jelas kita tidak pernah
melihat ada orang yang menokok (memukul) kepalanya sendiri dengan batu dengan anggapan
akan menyembuhkan sakit kepala orang lain.
Karena itu menjadi tidak jelas apa dasar hukum
pandangan
yang menyatakan bahwa laku bunuh diri yang dikerjakan Yesus a.s. akan bisa
mengenyahkan penyakit batin orang-orang lainnya. Juga tidak ada dasarnya filosofi yang mengajarkan
bahwa darah
Yesus akan mampu membasuh kekotoran batin manusia lainnya.
Sesungguhnya observasi atas segala hal yang berlaku di
dunia
ini nyatanya bertentangan dengan akidah demikian. Sampai dengan [munculnya faham] Yesus memutuskan akan bunuh diri, umat Kristiani
pada masa itu masih memiliki fitrat kesalehan dan pengagungan Tuhan, tetapi setelah kejadian penyaliban
terlihat sepertinya semua bendungan telah rebah dan airnya
melimpah ke segala arah. Hal itulah yang terjadi pada kegairahan umat Kristiani.
Sebenarnya jika dikatakan bahwa Yesus secara
sengaja menyerahkan nyawanya
(walau dengan alasan bagi kemaslahatan umat manusia), patut dikatakan bahwa kelakuan
demikian itu amat tidak wajar. Beliau baru akan menjadi manfaat besar bagi umatnya jika mengkhususkan dirinya kepada mengajar dan membimbing
manusia. Jadi, apa keuntungan nyata dari tindakan tidak patut bunuh diri tersebut?
Jika setelah bunuh
dirinya
itu Yesus kembali hidup dan naik ke langit di hadapan umat Yahudi, pasti mereka akan beriman kepada beliau. Nyatanya, baik umat Yahudi mau pun orang-orang bijak lainnya beranggapan bahwa kenaikan Yesus
ke langit
tersebut sebagai isapan jempol
belaka.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine
Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XX, hlm. 347-348,
London, 1984).
Dengan kata lain “upaya bunuh diri” atau “membiarlan
diri dibunuh” guna menebus kesalahan dan dosa orang lain sama sekali tidak ada hubungannya
dengan syafaat, sebab setiap orang
hanya akan bertanggungjawab terhadap amalnya (perbuatannya) sendiri di hadapan Allah Swt., termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.5:117-119).
Peringatan Allah Swt.
Berkenaan
dengan pentingnya kesinambungan
kedatangan rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-47) dalam hubungannya dengan petingnya peran syafaat dari rasul
Allah bagi kemajuan akhlak dan orang-orang beriman, Allah Swt.
berfirman mengenai Bani Israil:
یٰبَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتِیَ الَّتِیۡۤ
اَنۡعَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ
اتَّقُوۡا یَوۡمًا لَّا تَجۡزِیۡ نَفۡسٌ عَنۡ نَّفۡسٍ شَیۡئًا وَّ لَا یُقۡبَلُ
مِنۡہَا شَفَاعَۃٌ وَّ لَا یُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ وَّ لَا ہُمۡ یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada
kamu dan bahwa Aku telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa.
Dan takutlah hari itu ketika suatu jiwa tidak dapat menggantikan
jiwa yang lainnya sedikit pun dan tidak
akan diterima untuknya syafaat,
dan tidak akan diambil suatu
tebusandarinya dan tidak pula mereka
akan ditolong (Al-Baqarah) [2]:48-49).
Makna ayat وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی
الۡعٰلَمِیۡنَ -- “dan
bahwa Aku telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa”
mengandung arti bahwa orang-orang Bani
Israil lebih unggul daripada kaum-kaum
lain pada zaman mereka sendiri.
Jika Al-Quran hendak menyampaikan gagasan tentang keunggulan kekal satu kaum
terhadap semua bangsa, Al-Quran memakai ungkapan-ungkapan lain seperti pada
QS.2:144 dan QS.3:111 di tempat itu kaum Muslim disebut sebagai “umat
paling baik”
Kemudian peringatan
yang sama dikemukakan Allah Swt. kepada orang-orang Islam,
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ
الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan
kepada kamu sebelum datang یَوۡمٌ لَّا
بَیۡعٌ فِیۡہِ -- hari yang tidak ada jual-beli di dalamnya, وَ لَا خُلَّۃٌ -- dan tidak
ada persahabatan, وَّ لَا شَفَاعَۃٌ -- dan tidak
pula syafaat, وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ -- dan
orang-orang yang kafir mereka itulah orang-orang zalim (Al-Baqarah [2]:255).
‘Adl (uang tebusan) berarti: keadilan,
imbalan yang adil; uang tebusan yang pantas dan adil (Aqrab-ul-Mawarid).
Jadi makna ayat: یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ -- “hari
yang tidak ada jual-beli di
dalamnya” bahwa pada hari
atau zaman itu najat
(keselamatan) tidak akan diperoleh dengan jual-beli.
Sebab keselamatan akan bergantung
hanya pada amal saleh seseorang dan
diiringi oleh rahmat Allah Swt..
Makna Syafaat
Makna
ayat وَ لَا
خُلَّۃٌ – “dan tidak
ada persahabatan” yakni tidak akan ada kesempatan untuk mengadakan persahabatan
baru pada hari itu. وَّ لَا شَفَاعَۃٌ -- “dan tidak
pula syafaat.” Syafā’ah (syafaat) diserap dari syafa’a
yang berarti: ia memberikan sesuatu yang mandiri bersama yang lainnya;
menggabungkan sesuatu dengan sesamanya (Mufradat).
Jadi kata syafā’ah
(syafaat) itu mempunyai arti kesamaan atau persamaan, kata itu juga
berarti menjadi perantara atau mendoa untuk seseorang agar orang itu diberi karunia dan dosa-dosanya dimaafkan karena ia
mempunyai perhubungan dengan si
perantara (pemberi syafaat).
Hal ini mengandung pula arti bahwa orang yang mengajukan permohonan (pemberi syafaat) kepada Allah Swt. adalah orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada orang
yang diperjuangkan nasibnya (yang
diberi syafaat) dan pula mempunyai perhubungan yang mendalam dengan orang yang baginya ia menjadi perantara (Al-Mufradat dan Lisan-ul-’A’rab).
Pemberi syafaat yang hakiki adalah rasul
Allah, sebab hanya para rasul Allah sajalah yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah
Swt. terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.53:1-19; QS.3:32; QS.4:70-71). Syafā’ah
(perantaraan) ditentukan oleh syarat-syarat berikut:
(1) Pemberi syafaat
harus mempunyai perhubungan
istimewa dengan orang yang baginya ia mau menjadi perantara dan menikmati kebaikan hatinya yang istimewa, sebab tanpa
perhubungan demikian ia tidak akan
berani memberikan syafaat dan tidak pula syafaatnya akan berhasil;
(2) Orang yang diperantarai (diberi sayafaat) harus mempunyai perhubungan yang sejati dan nyata
dengan pemberi syafaat itu,
sebab tidak ada yang orang mau memperantarai seseorang sekiranya yang diperantarai itu tidak mempunyai perhubungan sungguh-sungguh dengan perantara (pemberi syafaat) itu;
(3) Orang yang meminta syafaat pada umumnya harus
orang baik dan telah berusaha
sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha
Ilahi (QS.21:29), hanya telah terjatuh
ke dalam kancah dosa pada saat ia dikuasai
kelemahan;
(4) syafaat itu hanya dapat dilakukan dengan izin khusus dari Allah Swt. (QS.2:256; QS.10:4).
Syafaat
sebagaimana dipahami oleh Islam, pada hakikatnya hanya merupakan
bentuk lain dari permohonan pengampunan,
sebab taubat (mohon pengampunan)
berarti memperbaiki kembali perhubungan
yang terputus atau mengencangkan apa yang sudah longgar.
Maka bila pintu taubat tertutup oleh kematian, tetapai pintu
syafaat tetap terbuka.
Tambahan pula syafaat adalah suatu cara
untuk menjelmakan kasih-sayang Allah Swt. dan karena Allah Swt. bukanlah hakim, melainkan Mālik (Pemilik
dan Majikan), maka tidak ada yang dapat mencegah
Dia dari memperlihatkan
kasih-sayang-Nya kepada siapa pun
yang dikehendaki-Nya.
Pemberi Syafaat Adalah Rasul Allah
Dengan
demikian kewenangan memberikan syafaat
kepada para rasul Allah –
teruatama Nabi Besar Muhammad Saw.
-- benar-benar menentang dan menggugurkan paham yang direkayasa Paulus mengenai “penebusan
dosa” melalui kematian terkutuk
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di tiang salib, firman-Nya:
اَللّٰہُ
لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ
لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ
یَشۡفَعُ عِنۡدَہٗۤ اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ ۚ وَ لَا
یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ
الۡعَلِیُّ الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Allah, tidak ada Tuhan kecuali
Dia Yang
Maha Hidup, Yang Maha Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan
Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyentuh-Nya dan tidak pula
tidur. Milik-Nya apa pun yang ada di
seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi. مَنۡ ذَا الَّذِیۡ
یَشۡفَعُ عِنۡدَہٗۤ اِلَّا بِاِذۡنِہٖ -- Siapakah
yang da-pat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya? Dia me-ngetahui apa pun yang ada di hadapan
mereka dan apa pun di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi se-suatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ -- Singgasana ilmu-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, dan tidak
memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia
Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah
[2]:256).
Kursiy
dalam ayat وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ
السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ -- “Singgasana ilmu-Nya meliputi seluruh langit dan bumi, ” berarti: singgasana, kursi, tembok
penunjang; ilmu; kedaulatan kekuasaan (Aqrab-ul-Mawarid); Karāsi
itu jamak dari kursiy dan berarti orang-orang
terpelajar. Ayat itu dengan indah
menggambarkan Ke-Esa-an Allah
Swt. serta Sifat-sifat-Nya yang agung. Konon
Nabi Besar Muhammad saw. pernah
bersabda bahwa Ayat Al-Kursiy itu ayat Al-Quran yang paling mulia (Muslim).
Dengan demikian jelaslah bahwa yang
dimaksud dengan peringatan Allah
Swt. dalam firman-Nya berikut ini adalah berkenaan zamanpengutusan
rasul Allah yang kedatangannnya
dijanjikan Allah Swt. dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), yang
apabila manusia mendustakan dan menentangnya maka peringatan
Allah Swt. tersebut berlaku bagi mereka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ
الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan
kepada kamu sebelum datang یَوۡمٌ لَّا
بَیۡعٌ فِیۡہِ -- hari yang tidak ada jual-beli di dalamnya, وَ لَا خُلَّۃٌ -- dan tidak
ada persahabatan, وَّ لَا شَفَاعَۃٌ -- dan tidak
pula syafaat, وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ -- dan orang-orang yang kafir
mereka itulah orang-orang zalim (Al-Baqarah [2]:255).
Nasib Buruk Para Penentang Rasul Allah
Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah pernyataan
Allah Swt. berikut ini dalam ayat: وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- “Dan orang-orang yang
mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya.” Selengkapnya Allah Swt. berfirman:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat
pun dan tidak pula dapat memajukannya.
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu drasul-rasul
dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,
tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan
orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
Mengisyaratkan kepada peringatan Allah Swt. mengenai ketiadaan kesempatan melakukan “jual-beli , persahabatan, dan pemberian
syafaat” di jalan Allah itu pulalah hakikat penolakan Allah Swt. terhadap “pengorbanan” Kain sedangkan “pengorbanan” Habel diterima Allah Swt.
dalam kisah monumental “Dua anak Adam” berikut ini, firman-Nya:
وَ اتۡلُ
عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا
فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ
لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ اِنَّمَا
یَتَقَبَّلُ اللّٰہُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ
مَاۤ اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ
لِاَقۡتُلَکَ ۚ اِنِّیۡۤ اَخَافُ
اللّٰہَ رَبَّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ اِنِّیۡۤ اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ
اِثۡمِکَ فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ ۚ وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ
﴿ۚ﴾ فَطَوَّعَتۡ لَہٗ نَفۡسُہٗ قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ فَاَصۡبَحَ
مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَبَعَثَ اللّٰہُ
غُرَابًا یَّبۡحَثُ فِی الۡاَرۡضِ لِیُرِیَہٗ کَیۡفَ یُوَارِیۡ سَوۡءَۃَ اَخِیۡہِ
ؕ قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ
اَکُوۡنَ مِثۡلَ ہٰذَا الۡغُرَابِ
فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ ۚ فَاَصۡبَحَ
مِنَ النّٰدِمِیۡنَ ﴿ۚۛۙ﴾
Dan ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua
anak Adam dengan sebenarnya,
ketika keduanya memberikan pengorbanan, maka dikabulkan salah seorang dari keduanya
itu sedangkan dari yang lain tidak dikabulkan, lalu ia berkata: “Niscaya
engkau akan kubunuh.” Saudaranya berkata: “Sesungguhnya
Allah hanya mengabulkan pengorbanan dari orang-orang yang bertakwa. Jika engkau benar-benar men-jangkaukan tangan
engkau terhadapku untuk membunuhku,
sekali-kali aku tidak akan menjangkaukan
tanganku terhadap engkau untuk membunuh engkau, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam. Sesungguhnya aku
menginginkan bahwa engkau menanggung dosaku dan dosa engkau sendiri, maka engkau
akan menjadi penghuni Api, dan demikianlah
balasan bagi orang-orang yang zalim.” فَطَوَّعَتۡ لَہٗ نَفۡسُہٗ
قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ
فَاَصۡبَحَ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- Tetapi nafsunya
telah membuat dia taat kepadanya supaya membunuh saudaranya, lalu dia membunuhnya, maka dia pun menjadi termasuk orang-orang
yang rugi. Lalu
Allah mengirim seekor burung gagak yang
menggaruk-garuk di tanah untuk memperlihatkan kepadanya, bagaimana cara menyembu-nyikan mayat saudaranya. قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی
اَعَجَزۡتُ اَنۡ اَکُوۡنَ مِثۡلَ ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ -- Ia berkata: “Celaka aku! Tidak sanggupkah
aku berbuat seperti gagak ini supaya dapat
kusembunyikan mayat saudaraku?” فَاَصۡبَحَ مِنَ
النّٰدِمِیۡنَ -- Maka
jadilah ia di antara orang-orang yang
menyesal. (Al-Maidah [5]:28-32).
Kisah Monumental yang
Senantiasa Berulang
Apa
yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah suatu
peristiwa yang serupa dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua putra Adam, tetapi peristiwa yang
mengandung arti yang jauh lebih luas lagi
penting itu, akan terjadi kelak di kemudian hari. Seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani Israil. Kenyataan
ini akan menimbulkan kemarahan kaum Bani
Israil terhadap nabi itu dan mereka akan menjadi haus darah karena disulut oleh rasa iri hati, persis seperti Kain telah menjadi haus darah
terhadap saudaranya, Habel.
Nabi Allah tersebut – yakni Nabi Besar Muhammad
saw. -- yang merupakan misal Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:15-19; QS.46:11) -- bukan
sembarang wujud. Dialah yang akan menjadi Pembaharu
Dunia dan ditakdirkan membawa syariat
abadi bagi segenap umat manusia
yang seluruh masa depannya bergantung
padanya, dan karena itu membunuhnya adalah sama dengan membunuh
seluruh umat manusia dan menyelamatkan
jiwanya berarti sama dengan menyelamatkan
seluruh umat manusia, sebagaimana dikemukakan ayat-ayat selanjutnya.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai akibat buruk kaum yang mendustakan
dan menentang Rasul Allah yang
kedatangannnya dijanjikan dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) -- yang juga kembali terjadi di Akhir Zaman ini -- firman-Nya:
مِنۡ اَجۡلِ
ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا
بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ
جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ اَحۡیَاہَا
فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا
بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ اِنَّ کَثِیۡرًا
مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا جَزٰٓؤُا
الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ
فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ
الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی
الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ اِلَّا
الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا
اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Oleh sebab
itu Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa: Barangsiapa yang membunuh seseorang,
padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau telah mengadakan ke-rusakan di bumi, maka seolah-olah ia membunuh seluruh
manusia; dan ba-rangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah
meng-hidupkan seluruh manusia. Dan
sungguh benar-benar telah datang ke-pada
mereka rasul-rasul
Kami dengan Tanda-tanda yang nyata,
kemudian sesudah itu sungguh kebanyakan dari mereka benar-benar
melampaui batas di bumi. Sesungguhnya balasan bagi orang-orang byang memerangi Allah dan
Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kakinya di-sebabkan oleh permusuhan mereka,
atau mereka diusir dari negeri.
Hal demikian adalah penghinaan
bagi me-reka di dunia ini, dan di
akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar. Kecuali
orang-orang yang
bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa se-sungguhnya Allah Maha
Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Māidah [5]:33-35).
Islam tidak ragu-ragu mengambil tindakan-tindakan yang paling keras bila
kepentingan negara atau masyarakat luas menghendaki demikian
untuk membongkar sampai ke akar-akarnya suatu kejahatan yang berbahaya. Islam menolak tenggang-rasa
palsu yang berdasar emosi khayali.
Namun demikian pada waktu menjatuhkan
hukuman atas pelanggaran yang
mengganggu ketertiban umum, Islam menggunakan akal dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat.
Hukuman yang ditetapkan di sini terdiri atas
empat kategori. Bentuk hukuman
yang dijatuhkan dalam suatu perkara tertentu akan bergantung pada suasana
dan lingkungan. Memberikan atau
menjatuhkan hukuman adalah menjadi wewenang pemerintah dan bukan wewenang perseorangan. Kata-kata diusir
dari negeri, menurut Imam Abu Hanifah
berarti dipenjarakan.
Ayat
ini dan ayat sebelumnya tidak mengisyaratkan kepada perampok-perampok dan penyamun-penyamun
biasa melainkan kepada pemberontak
dan penjahat-penjahat yang menyerang
negara Islam, sebagaimana jelas dari kata-kata, yang memerangi Allah dan
Rasul-Nya. Kesimpulan demikian selanjutnya ditunjang oleh kenyataan bahwa
ayat ini menjanjikan pengampunan
kepada pelanggar-pelanggar hukum
apabila mereka bertaubat.
Tetapi nyata bahwa mereka yang berbuat jahat terhadap perseorangan-perseorangan atau terhadap masyarakat -- seperti perampok-perampok dan
pencuri-pencuri -- dalam keadaan biasa tidak bisa diampuni oleh negara,
sekalipun mereka bertaubat. Mereka
harus mengalami hukuman karena perbuatan jahat mereka sesuai dengan ketentuan hukum.
Sudah tentu taubat dapat menjamin mendapat ampunan
dari Allah Swt. tetapi
kekuasaan negara dalam hal ini
terbatas. Akan tetapi penjahat-penjahat
politik bisa dimaafkan oleh negara
jika mereka bertaubat dan berhenti dari kegiatan-kegiatan memberontak dan berhenti dari aktivitas-aktivitas lainnya yang
mengganggu kebijaksanaan negara.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
3 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar