Sabtu, 05 November 2016

"Peringatan" Allah Swt. Berkenaan "Bani Israil" Dan Sebagai "Nubuatan" Bani Bani Isma'il (Umat Islam) & Makna dan pentingnya "Syafaat"

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 53

PERINGATAN ALLAH SWT.  BERKENAAN BANI ISRAIL DAN SEBAGAI NUBUATAN BAGI BANI ISMA’IL (UMAT ISLAM) &  MAKNA DAN PENTINGNYA  SYAFAAT

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 52 dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya hakikat  taubat, istighfar dan syafaat sehubungan dengan kesia-siaan ajaran “Penebusan Dosa” melalui “kematian terkutuk” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. hasil pemikiran Paulus dalam surat-surat kirimannya. Berkenaan dengan syafaat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
     Sudah menjadi kaidah hukum alam Ilahi bahwa Dia akan mengampuni dosa manusia melalui  taubat  dan istighfar serta menerima doa orang yang saleh sebagai bentuk syafaat. Tetapi yang jelas kita tidak pernah melihat ada orang yang menokok (memukul) kepalanya sendiri dengan batu dengan anggapan akan menyembuhkan sakit kepala orang lain.
     Karena itu menjadi tidak jelas apa dasar hukum pandangan yang menyatakan bahwa laku bunuh diri yang dikerjakan Yesus a.s. akan bisa mengenyahkan penyakit batin orang-orang lainnya. Juga tidak  ada dasarnya filosofi yang mengajarkan bahwa darah Yesus akan mampu membasuh kekotoran batin manusia lainnya.
      Sesungguhnya observasi atas segala hal yang berlaku di dunia ini nyatanya bertentangan dengan akidah demikian. Sampai dengan [munculnya faham] Yesus memutuskan akan bunuh diri, umat Kristiani pada masa itu masih memiliki fitrat kesalehan dan pengagungan Tuhan, tetapi setelah kejadian penyaliban terlihat sepertinya semua bendungan telah rebah dan airnya melimpah ke segala arah. Hal itulah yang terjadi pada kegairahan umat Kristiani.
    Sebenarnya jika dikatakan bahwa Yesus secara sengaja menyerahkan nyawanya (walau dengan alasan bagi kemaslahatan umat manusia), patut dikatakan bahwa kelakuan demikian itu amat tidak wajar. Beliau baru akan menjadi manfaat besar bagi umatnya jika mengkhususkan dirinya kepada mengajar dan membimbing manusia. Jadi, apa keuntungan nyata dari tindakan tidak patut bunuh diri tersebut?
       Jika setelah bunuh dirinya itu  Yesus kembali hidup dan naik ke langit di hadapan umat Yahudi, pasti mereka akan beriman kepada beliau. Nyatanya, baik umat Yahudi mau pun orang-orang bijak lainnya beranggapan bahwa kenaikan Yesus ke langit tersebut sebagai isapan jempol belaka. (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.  347-348, London, 1984).
    Dengan kata lain “upaya bunuh diri” atau “membiarlan diri dibunuh” guna  menebus  kesalahan dan dosa    orang lain sama sekali tidak ada hubungannya dengan syafaat, sebab setiap orang hanya akan bertanggungjawab terhadap amalnya (perbuatannya) sendiri di hadapan Allah Swt., termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.5:117-119).

Peringatan Allah Swt.

    Berkenaan dengan pentingnya kesinambungan kedatangan rasul Allah  dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-47) dalam hubungannya dengan petingnya peran syafaat  dari rasul Allah  bagi kemajuan akhlak dan  orang-orang beriman, Allah Swt. berfirman mengenai Bani Israil:
یٰبَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ اذۡکُرُوۡا نِعۡمَتِیَ الَّتِیۡۤ اَنۡعَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ اتَّقُوۡا یَوۡمًا لَّا تَجۡزِیۡ نَفۡسٌ عَنۡ نَّفۡسٍ شَیۡئًا وَّ لَا یُقۡبَلُ مِنۡہَا شَفَاعَۃٌ وَّ لَا یُؤۡخَذُ مِنۡہَا عَدۡلٌ وَّ لَا ہُمۡ یُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kamu dan bahwa   Aku  telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa.  Dan takutlah hari itu ketika   suatu jiwa tidak dapat menggantikan jiwa yang lainnya sedikit pun dan tidak akan diterima untuknya  syafaat, dan tidak akan diambil suatu tebusandarinya dan tidak pula mereka akan ditolong  (Al-Baqarah) [2]:48-49).
       Makna ayat  وَ اَنِّیۡ فَضَّلۡتُکُمۡ عَلَی الۡعٰلَمِیۡنَ  -- “dan bahwa   Aku  telah memuliakan kamu atas seluruh bangsa” mengandung arti bahwa orang-orang Bani Israil lebih unggul daripada kaum-kaum lain pada zaman mereka sendiri. Jika Al-Quran hendak menyampaikan gagasan tentang keunggulan kekal satu kaum terhadap semua bangsa, Al-Quran memakai ungkapan-ungkapan lain seperti pada QS.2:144 dan  QS.3:111  di tempat itu kaum Muslim disebut sebagai “umat paling baik
   Kemudian peringatan yang sama dikemukakan Allah Swt. kepada orang-orang  Islam, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu sebelum datang یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ --  hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, وَ لَا خُلَّۃٌ -- dan   tidak ada   persahabatan, وَّ لَا شَفَاعَۃٌ  --  dan  tidak pula syafaat, وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ  --     dan orang-orang yang kafir  mereka itulah orang-orang  zalim  (Al-Baqarah [2]:255).
       ‘Adl (uang tebusan) berarti: keadilan, imbalan yang adil; uang tebusan yang pantas dan adil (Aqrab-ul-Mawarid).       Jadi makna ayat:  یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ  -- “hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya”  bahwa  pada hari  atau zaman  itu najat (keselamatan) tidak akan diperoleh dengan jual-beli. Sebab keselamatan akan bergantung hanya pada amal saleh seseorang dan diiringi oleh rahmat  Allah Swt..

Makna Syafaat

      Makna ayat   وَ لَا خُلَّۃٌ – “dan   tidak ada   persahabatan”  yakni tidak akan ada kesempatan untuk mengadakan persahabatan baru pada hari itu.   وَّ لَا شَفَاعَۃٌ  --  “dan  tidak pula syafaat.”   Syafā’ah (syafaat) diserap dari syafa’a yang berarti: ia memberikan sesuatu yang mandiri bersama yang lainnya; menggabungkan sesuatu dengan sesamanya (Mufradat).
         Jadi kata syafā’ah (syafaat)  itu mempunyai arti kesamaan atau persamaan,   kata itu juga berarti menjadi perantara atau mendoa untuk seseorang agar orang itu diberi karunia dan dosa-dosanya dimaafkan karena ia mempunyai perhubungan dengan si perantara (pemberi syafaat).
      Hal ini mengandung pula arti bahwa orang yang mengajukan permohonan (pemberi syafaat)  kepada Allah Swt.  adalah orang yang mempunyai kedudukan lebih tinggi daripada orang yang diperjuangkan nasibnya (yang diberi  syafaat) dan pula mempunyai perhubungan yang mendalam dengan orang yang baginya ia menjadi perantara  (Al-Mufradat dan Lisan-ul-’A’rab).
      Pemberi syafaat yang hakiki adalah rasul Allah,  sebab hanya para rasul Allah sajalah yang memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Allah Swt. terutama Nabi Besar Muhammad saw. (QS.53:1-19; QS.3:32; QS.4:70-71). Syafā’ah (perantaraan) ditentukan oleh syarat-syarat berikut:
      (1) Pemberi  syafaat  harus mempunyai perhubungan istimewa dengan orang yang baginya ia mau menjadi perantara dan menikmati kebaikan hatinya yang istimewa, sebab tanpa perhubungan demikian ia tidak akan berani memberikan  syafaat dan tidak pula syafaatnya  akan berhasil;
      (2) Orang yang diperantarai (diberi sayafaat) harus mempunyai perhubungan yang sejati dan nyata dengan pemberi syafaat itu, sebab  tidak ada yang orang mau memperantarai seseorang sekiranya yang diperantarai itu tidak mempunyai perhubungan sungguh-sungguh dengan perantara (pemberi syafaat) itu;
      (3) Orang yang meminta syafaat pada umumnya harus orang baik dan telah berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan ridha Ilahi (QS.21:29), hanya telah terjatuh ke dalam kancah dosa pada saat ia dikuasai kelemahan;
      (4) syafaat itu hanya dapat dilakukan dengan izin khusus dari Allah Swt.  (QS.2:256; QS.10:4).
   Syafaat sebagaimana  dipahami oleh Islam, pada hakikatnya hanya merupakan bentuk lain dari permohonan pengampunan, sebab taubat (mohon pengampunan) berarti memperbaiki kembali perhubungan yang terputus atau mengencangkan apa yang sudah longgar. Maka bila pintu taubat tertutup oleh kematian,  tetapai pintu syafaat tetap terbuka.
   Tambahan pula syafaat  adalah suatu cara untuk menjelmakan kasih-sayang Allah Swt.   dan karena Allah Swt.  bukanlah  hakim, melainkan Mālik (Pemilik dan Majikan), maka tidak ada yang dapat mencegah Dia dari memperlihatkan kasih-sayang-Nya kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.

Pemberi Syafaat Adalah Rasul Allah

  Dengan demikian kewenangan memberikan   syafaat  kepada para rasul Allah – teruatama Nabi Besar Muhammad Saw.  --  benar-benar menentang  dan menggugurkan  paham yang direkayasa Paulus  mengenai “penebusan dosa” melalui kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  di tiang salib, firman-Nya:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ ۬ۚ لَا تَاۡخُذُہٗ سِنَۃٌ وَّ لَا نَوۡمٌ ؕ لَہٗ مَا فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ ؕ یَعۡلَمُ مَا بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ مَا خَلۡفَہُمۡ  ۚ وَ لَا یُحِیۡطُوۡنَ بِشَیۡءٍ مِّنۡ عِلۡمِہٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ ۚ وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ ۚ وَ لَا یَـُٔوۡدُہٗ حِفۡظُہُمَا ۚ وَ ہُوَ الۡعَلِیُّ  الۡعَظِیۡمُ ﴿﴾
Allah, tidak ada Tuhan kecuali Dia   Yang Maha Hidup, Yang  Maha Tegak atas Dzat-Nya Sendiri dan Penegak segala sesuatu. Kantuk tidak menyentuh-Nya dan tidak pula tidur. Milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun  yang ada di bumi. مَنۡ ذَا الَّذِیۡ یَشۡفَعُ  عِنۡدَہٗۤ  اِلَّا بِاِذۡنِہٖ   --  Siapakah yang da-pat memberi syafaat di hadirat-Nya kecuali dengan izin-Nya?  Dia me-ngetahui apa pun yang ada di hadapan mereka dan apa pun di belakang mereka, dan mereka tidak meliputi se-suatu dari ilmu-Nya kecuali apa yang Dia kehendaki. وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ  --  Singgasana ilmu-Nya  meliputi seluruh langit dan bumi,  dan tidak memberatkan-Nya menjaga keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Agung. (Al-Baqarah [2]:256).
      Kursiy dalam ayat  وَسِعَ کُرۡسِیُّہُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضَ  -- “Singgasana ilmu-Nya  meliputi seluruh langit dan bumi,  ” berarti: singgasana, kursi, tembok penunjang; ilmu; kedaulatan  kekuasaan (Aqrab-ul-Mawarid); Karāsi itu jamak dari kursiy dan berarti orang-orang terpelajar. Ayat itu dengan indah  menggambarkan Ke-Esa-an Allah Swt.  serta Sifat-sifat-Nya yang agung. Konon  Nabi Besar Muhammad saw.  pernah bersabda bahwa Ayat Al-Kursiy itu ayat Al-Quran yang paling mulia (Muslim).
     Dengan demikian jelaslah bahwa yang dimaksud dengan  peringatan Allah Swt.  dalam  firman-Nya berikut ini adalah berkenaan zamanpengutusan  rasul Allah yang kedatangannnya dijanjikan Allah Swt. dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), yang apabila manusia mendustakan dan menentangnya maka peringatan Allah Swt. tersebut berlaku bagi mereka, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَنۡفِقُوۡا مِمَّا رَزَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ وَ لَا خُلَّۃٌ وَّ لَا شَفَاعَۃٌ ؕ وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  belanjakanlah apa yang telah Kami rezekikan kepada kamu sebelum datang یَوۡمٌ لَّا بَیۡعٌ فِیۡہِ --  hari yang tidak ada jual-beli  di dalamnya, وَ لَا خُلَّۃٌ -- dan   tidak ada   persahabatan, وَّ لَا شَفَاعَۃٌ  --  dan  tidak pula syafaat, وَ الۡکٰفِرُوۡنَ ہُمُ  الظّٰلِمُوۡنَ  --     dan orang-orang yang kafir  mereka itulah orang-orang  zalim  (Al-Baqarah [2]:255).

Nasib Buruk Para Penentang Rasul Allah

     Mengisyaratkan kepada kenyataan itu pulalah pernyataan Allah Swt.  berikut ini dalam ayat:   وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --  “Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya.” Selengkapnya Allah Swt. berfirman:  
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  --   Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu drasul-rasul dari antara kamu yang membacakan   Ayat-ayat-Ku kepada kamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --   Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
       Mengisyaratkan kepada peringatan Allah Swt. mengenai ketiadaan kesempatan melakukan “jual-beli , persahabatan, dan pemberian syafaat” di jalan Allah itu pulalah hakikat penolakan Allah Swt. terhadap “pengorbanan” Kain sedangkan “pengorbanan” Habel diterima Allah Swt.  dalam  kisah monumental “Dua anak Adam” berikut ini, firman-Nya:
وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ  نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ  بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ  اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ  اللّٰہُ مِنَ  الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾  لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ مَاۤ   اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ لِاَقۡتُلَکَ ۚ اِنِّیۡۤ  اَخَافُ اللّٰہَ  رَبَّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ اِنِّیۡۤ  اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ ۚ وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ﴾ فَطَوَّعَتۡ  لَہٗ نَفۡسُہٗ  قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ  فَاَصۡبَحَ  مِنَ  الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ فَبَعَثَ اللّٰہُ غُرَابًا یَّبۡحَثُ فِی الۡاَرۡضِ لِیُرِیَہٗ کَیۡفَ یُوَارِیۡ سَوۡءَۃَ اَخِیۡہِ ؕ قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ  اَکُوۡنَ مِثۡلَ  ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ ۚ فَاَصۡبَحَ  مِنَ  النّٰدِمِیۡنَ ﴿ۚۛۙ﴾
Dan ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua anak  Adam  dengan sebenarnya, ketika keduanya  memberikan pengorbanan, maka dikabulkan salah seorang dari keduanya itu  sedangkan dari yang lain tidak dikabulkan, lalu ia berkata: “Niscaya  engkau akan kubunuh.” Saudaranya berkata:  “Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan pengorbanan dari orang-orang yang bertakwa.   Jika engkau benar-benar men-jangkaukan tangan engkau terhadapku untuk membunuhku, sekali-kali aku tidak akan menjangkaukan tanganku terhadap engkau untuk membunuh engkau, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam. Sesungguhnya aku menginginkan bahwa engkau menanggung dosaku dan dosa engkau sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni Api, dan demikianlah balasan bagi orang-orang yang zalim.”  فَطَوَّعَتۡ  لَہٗ نَفۡسُہٗ  قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ  فَاَصۡبَحَ  مِنَ  الۡخٰسِرِیۡنَ  --   Tetapi nafsunya telah membuat dia taat kepadanya supaya membunuh saudaranya, lalu   dia membunuhnya, maka dia pun menjadi termasuk orang-orang yang  rugi.   Lalu Allah mengirim seekor burung gagak yang menggaruk-garuk di tanah untuk memperlihatkan kepadanya, bagaimana cara  menyembu-nyikan mayat saudaranya. قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ  اَکُوۡنَ مِثۡلَ  ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ  --  Ia berkata: “Celaka aku! Tidak sanggupkah aku berbuat seperti gagak ini supaya dapat kusembunyikan mayat saudaraku?” فَاَصۡبَحَ  مِنَ  النّٰدِمِیۡنَ  -- Maka jadilah ia di antara orang-orang yang menyesal.  (Al-Maidah [5]:28-32).

Kisah Monumental yang Senantiasa Berulang

       Apa yang diisyaratkan dalam ayat ini ialah suatu peristiwa yang serupa dengan apa yang tersebut di sini mengenai kedua putra Adam, tetapi peristiwa yang mengandung arti yang jauh lebih luas lagi penting itu, akan terjadi kelak di kemudian hari. Seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani Israil. Kenyataan ini akan menimbulkan kemarahan kaum Bani Israil terhadap nabi itu dan mereka akan menjadi haus darah karena disulut oleh rasa iri hati, persis seperti Kain telah menjadi haus darah terhadap saudaranya, Habel.
      Nabi  Allah tersebut – yakni Nabi Besar Muhammad saw.   -- yang merupakan misal Nabi Musa a.s. (Ulangan 18:15-19; QS.46:11)  --  bukan sembarang wujud. Dialah yang akan menjadi Pembaharu Dunia dan ditakdirkan membawa syariat abadi bagi segenap umat manusia yang seluruh masa depannya bergantung padanya, dan  karena itu membunuhnya adalah sama dengan membunuh seluruh umat manusia dan menyelamatkan jiwanya berarti sama dengan menyelamatkan seluruh umat manusia, sebagaimana dikemukakan ayat-ayat selanjutnya.
      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai akibat buruk kaum yang mendustakan dan menentang Rasul Allah yang kedatangannnya dijanjikan  dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37)  -- yang juga kembali terjadi di Akhir Zaman ini  -- firman-Nya:
مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ  اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ  اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ  الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِلَّا الَّذِیۡنَ تَابُوۡا مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ تَقۡدِرُوۡا عَلَیۡہِمۡ ۚ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿٪﴾
Oleh sebab itu Kami tetapkan bagi Bani Israil bahwa: Barangsiapa yang membunuh seseorang,  padahal orang itu tidak pernah membunuh orang lain atau  telah mengadakan ke-rusakan  di bumi, maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusiadan ba-rangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah meng-hidupkan seluruh manusia.  Dan sungguh benar-benar telah datang ke-pada mereka  rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata, kemudian sesudah itu  sungguh kebanyakan dari mereka benar-benar melampaui batas di bumi. Sesungguhnya balasan bagi orang-orang byang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berdaya-upaya mengadakan kerusakan di bumi ini ialah mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kakinya di-sebabkan oleh permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri. Hal demikian adalah penghinaan bagi me-reka di dunia ini, dan di akhirat pun mereka akan mendapat azab yang besar. Kecuali orang-orang   yang  bertaubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa se-sungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.  (Al-Māidah [5]:33-35). 
     Islam tidak ragu-ragu mengambil tindakan-tindakan yang paling keras bila kepentingan negara atau masyarakat luas menghendaki demikian untuk membongkar sampai ke akar-akarnya suatu kejahatan yang berbahaya. Islam menolak tenggang-rasa palsu yang berdasar emosi khayali.
     Namun demikian  pada waktu menjatuhkan hukuman atas pelanggaran yang mengganggu ketertiban umum, Islam menggunakan akal dan pertimbangan-pertimbangan yang sehat. Hukuman yang ditetapkan di sini terdiri atas empat kategori. Bentuk hukuman yang dijatuhkan dalam suatu perkara tertentu akan bergantung pada suasana dan lingkungan. Memberikan atau menjatuhkan hukuman adalah menjadi wewenang pemerintah dan bukan wewenang perseorangan. Kata-kata diusir dari negeri, menurut Imam Abu Hanifah berarti dipenjarakan.
      Ayat ini dan ayat sebelumnya tidak mengisyaratkan kepada perampok-perampok dan penyamun-penyamun biasa melainkan kepada pemberontak dan penjahat-penjahat yang menyerang negara Islam, sebagaimana jelas dari kata-kata, yang memerangi Allah dan Rasul-Nya. Kesimpulan demikian selanjutnya ditunjang oleh kenyataan bahwa ayat ini menjanjikan pengampunan kepada pelanggar-pelanggar hukum apabila mereka bertaubat.
    Tetapi nyata bahwa mereka yang berbuat jahat terhadap perseorangan-perseorangan atau terhadap masyarakat  -- seperti perampok-perampok dan pencuri-pencuri  -- dalam keadaan biasa tidak bisa diampuni oleh negara, sekalipun mereka bertaubat. Mereka harus mengalami hukuman karena perbuatan jahat mereka sesuai dengan ketentuan hukum.
       Sudah   tentu taubat dapat menjamin mendapat ampunan dari Allah Swt.   tetapi kekuasaan negara dalam hal ini terbatas. Akan tetapi penjahat-penjahat politik bisa dimaafkan  oleh negara jika mereka bertaubat dan berhenti dari kegiatan-kegiatan memberontak dan berhenti dari aktivitas-aktivitas lainnya yang mengganggu kebijaksanaan negara.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar,  3 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar