Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
56
KECINTAAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. KEPADA UMAT
MANUSIA & CIRI KHAS “HIZBULLÂH” HAKIKI YANG DIBANGKITKAN ALLAH SWT. DI KALANGAN UMAT
ISLAM
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 55 dikemukakan mengenai makna “Kemenangan” yang disebut dalam ayat: فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- “padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan kemenangan atau suatu
peristiwa lain dari sisi-Nya,”
sehubungan firman-Nya:
فَتَرَی
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ
نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ
بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی مَاۤ
اَسَرُّوۡا فِیۡۤ اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas kepada mereka
yang kafir seraya berkata: نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ -- “Kami
takut bencana menimpa kami.” فَعَسَی
اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- Padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan kemenangan atau suatu
peristiwa lain dari sisi-Nya,
فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی
مَاۤ اَسَرُّوۡا فِیۡۤ
اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ -- maka mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka sembunyikan di dalamnya. (Al-Maidah
[5]:53).
Nubuatan Mengenai
Fatah Mekkah (Penaklukan Mekkah) & Pewarisan “Negeri yang Dijanjikan” (Kanaan/Palestina)
Ayat
فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ
اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ -- “padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan kemenangan atau suatu
peristiwa lain dari sisi-Nya,” dapat mengacu kepada jatuhnya Mekkah atau kepada kemenangan
umat Islam secara umum atas pertolongan Allah Swt. Terang sekali
bahwa kata اَمۡرٍ -- “peristiwa” di belakang kabar kemenangan, mengisyaratkan kepada suatu peristiwa yang lebih besar daripada kemenangan itu sendiri.
Rupa-rupanya kata itu mengisyaratkan kepada masuknya seluruh penduduk jazirah Arab ke haribaan Islam dan tegaknya Islam
di sana setelah terjadinya peristiwa Fatah
Mekkah (QS.48:1-8; QS.110:1-4), kemudian Nabi Besar Muhammad saw,
benar-benar merealisasikan misi
sucinya sebagai rasul Allah yang merupakan “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108) dan membuktikan melalui amal nyata bahwa umat
Islam benar-benar merupakan “umat
terbaik” yang dijadikan untuk menfaat
seluruh umat manusia (QS.2:144; QS.3:111), yang akhirnya Allah
Swt. menggenapi janji-Nya mengenai “pewarisan
negeri yang dijanjikan” kepada “kaum pilihan-Nya”, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ
کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ
الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا
لِّقَوۡمٍ عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Dan sungguh Kami
benar-benar telah menuliskan dalam Kitab
Zabur sesudah pemberi peringatan
itu, bahwa negeri itu akan
diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.
Sesungguhnya dalam hal ini
ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah. Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam
(Al-Anbiya [21]:106-108).
Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. adalah sebagai pembawa rahmat untuk seluruh umat
manusia, sebab amanat beliau saw.
tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu melainkan untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.25:2;
QS.34:29).
“Rahmat” Bagi Seluruh
Alam
Dengan perantaraan Nabi Besar Muhammad saw. bangsa-bangsa dunia
telah diberkati, dimana sebelumnya manusia belum pernah mereka diberkati, firman-Nya:
لَقَدۡ
جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ
عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ
تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar
telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan
kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan
bagi kamu dan terhadap orang-orang beriman ia
sangat berbelas kasih lagi penyayang. َاِنۡ تَوَلَّوۡا
فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ
تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ
الۡعَظِیۡمِ -- Tetapi
jika
mereka berpaling maka
katakanlah: “Cukuplah dAllāh bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At-Taubah [9]:128-129).
Ayat 128 ini boleh dikenakan
kepada orang-orang beriman maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama kepada orang-orang beriman,
bagian permulaannya mengenai orang-orang
kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman. Kepada orang-orang
kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Nabi
Besar Muhammad saw. merasa
sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan
kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat
dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang
datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan
membuat ia menginginkan keburukan bagimu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan
belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu
menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepadamu.” Lihat (QS.6:36; QS.18:7; QS.26:4).
Kepada orang-orang beriman ayat ini
berkata: “Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kecintaan, kasih-sayang,
dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam
menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah
yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan
kasih-sayang.” Lihat QS.33:7 &
70-74; QS.48:30; QS.62:3-5
Orang-orang yang “Murtad”
Melanjutkan pembahasan surah Al-Maidah ayat 52-53, selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ یَقُوۡلُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَہٰۤؤُلَآءِ الَّذِیۡنَ اَقۡسَمُوۡا بِاللّٰہِ جَہۡدَ
اَیۡمَانِہِمۡ ۙ اِنَّہُمۡ لَمَعَکُمۡ ؕ حَبِطَتۡ اَعۡمَالُہُمۡ فَاَصۡبَحُوۡا
خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ
فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ
عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ
سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ
لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ
عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ
وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ
اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ
﴿٪﴾
Dan orang-orang yang beriman
akan berkata: “Orang-orang inikah
yang bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka
bahwa sesungguhnya mereka
benar-benar bersama kamu?” حَبِطَتۡ اَعۡمَالُہُمۡ فَاَصۡبَحُوۡا خٰسِرِیۡنَ -- Lenyaplah amal-amal mereka maka mereka menjadi orang-orang yang rugi. Hai orang-orang
yang beriman, مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ
یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- barangsiapa
di antara kamu murtad
dari agamanya maka Allah segera akan
mendatangkan suatu kaum, Dia akan
mencintai mereka dan mereka pun akan
mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫
یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا
یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ -- mereka
akan bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang
beriman dan keras terhadap orang-orang kafir. Mereka
akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Itulah karunia
Allah, Dia memberikannya kepada
siapa yang Dia kehendaki dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha
Mengetahui. اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ
رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ
یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ
رٰکِعُوۡ -- Sesungguhnya wali
(pelindung/penolong/sahabat) kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang
beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka
taat kepada Allah. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ
حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ -- Dan
barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai wali maka sesungguhnya
jamaat Allah pasti menang (Al-Maidah
[5]:54-57).
“Kaum Lain” atau “Hizbullah” Hakiki yang Dibangkitkan Allah Swt. Di Kalangan Umat Islam
Makna “murtad” dari agamanya dalam
ayat: مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ
یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- “barangsiapa
di antara kamu murtad
dari agamanya maka Allah segera akan
mendatangkan suatu kaum, Dia akan
mencintai mereka dan mereka pun akan
mencintai-Nya” dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ مَا
مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مَّاتَ
اَوۡ قُتِلَ انۡقَلَبۡتُمۡ
عَلٰۤی اَعۡقَابِکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ فَلَنۡ یَّضُرَّ
اللّٰہَ شَیۡئًا ؕ وَ سَیَجۡزِی اللّٰہُ
الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan Muhammad
tidak lain melainkan seorang rasul. Sungguh
telah berlalu yakni
wafat rasul-rasul sebelumnya.
Apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik atas kedua tumitmu? وَ مَنۡ
یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ فَلَنۡ یَّضُرَّ اللّٰہَ شَیۡئًا -- Dan barangsiapa berbalik atas kedua
tumitnya maka ia tidak akan
pernah memudaratkan Allah sedikit pun.
وَ سَیَجۡزِی اللّٰہُ
الشّٰکِرِیۡنَ -- Dan Allah
pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali
‘Imran [3]:145).
Kabar angin tersebar di Uhud bahwa Nabi Besar Muhammad saw. syahīd.
Ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa itu dan bermaksud mengatakan bahwa
meskipun kabar itu tidak benar,
tetapi seandainya pun beliau saw. benar telah syahīd
dalam perang Uhud, hal itu tidak
boleh menjadikan keimanan orang-orang
beriman goyah, sebab Nabi Besar Muhammad saw. hanyalah seorang nabi Allah, dan sebagaimana semua nabi Allah sebelum beliau telah wafat,
maka beliau saw, pun pasti akan wafat
(QS.21:35). Tetapi Allah Swt. -- Tuhan
milik
Islam -- itu Hidup
kekal.
Selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ -- maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum,
Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya, اَذِلَّۃٍ
عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ
اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ
لَآئِمٍ -- mereka akan bersikap lemah-lembut terhadap
orang-orang beriman dan keras
terhadap orang-orang kafir. Mereka akan berjuang di jalan Allah dan
tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ
اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ -- Itulah karunia
Allah, Dia memberikannya kepada
siapa yang Dia kehendaki dan Allah
Maha Luas karunia-Nya, Maha
Mengetahui.” (Al-Maidah [5]:55).
Allah Swt. dan Rasul-Nya
Merupakan “Wali” Hakiki Hizbullāh
& Kemunculan “Kaum Lain” di Kalangan Umat Islam
Dalam ayat selanjutnya Allah Swt.
menyebut mereka sebagai Hizbullāh (golongan
Allah): اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ
وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡ -- Sesungguhnya wali (pelindung/penolong/sahabat) kamu
adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa
mendirikan shalat dan membayar zakat
dan mereka taat kepada Allah. وَ مَنۡ
یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ
ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ -- Dan barangsiapa
menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai wali
maka sesungguhnya jamaat Allah pasti menang (Al-Maidah [5]:56-57).
Firman Allah Swt. mengenai kemunculan “Hizbullāh” (golongan Allah) yang dibangkitkan kalangan umat Islam tersebut mengisyaratkan pada ayat: وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan
membangkitkannya pada kaum lain dari
antara mereka, yang belum bertemu
dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”,
dalam firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿ ﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ ﴾
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa
yang buta-huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya,
dan mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka
Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya
mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang
belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha
Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar (Al-Jumu’ah
[62]:3-5).
Kemunculan “Hizbullāh” (golongan Allah) yang diisyaratkan dalam وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan
Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, pada hakikatnya adalah
segolongan umat Islam yang beriman kepada pengutusan
kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.
secara ruhani yang
diisyaratkan dalam Surah Al-Jumu’ah
ayat 3-4 tersebut, dalam wujud Rasul
Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan sebutan (nama) yang berlainan (QS.77:12), Al-Quran menyebutnya sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
(QS.43:58) atau Al-Masih al-Mau’ud a.s..
“Hizbullāh”
yang hakiki itulah yang mendapat jaminan pertolongan khusus dari Allah
Swt. karena mereka benar-benar menjadikan Allah
Swt. sebagai Wali (Pelindung/Penolong/Sahabat) mereka yang hakiki
(QS.5:55-57; QS.48:30), sekali pun mendapat penentangan dan penzaliman
dari pihak-pihak yang menganggapnya
sebagai “ancaman” bagi mereka, sehingga kedengkian
Kain terhadap Habel yang dikemukakan dalam Kisah
Monumental “Dua anak Adam” kembali
berulang (QS.5:28-35).
Pertolongan Allah Swt. Sebagai "Wali" (Pelindung) & Ciri Khas “Hizbullāh” Hakiki
Namun sesuai dengan Sunnatullāh perjuangan suci
“Hizbullāh” hakiki tersebut
-- bagaikan pertumbuhan sebuah benih
pohon (QS.48:30)
-- secara bertahap terus
menerus meraih kesuksesan, sehingga nubuatan mengenai kejayaan
Islam yang kedua kali di Akhir Zaman benar-benar terwujud dengan cara-cara yang aman
dan damai (QS.61:10), firman-Nya:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ
اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی
الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾ کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina. کَتَبَ اللّٰہُ لَاَغۡلِبَنَّ
اَنَا وَ رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ
اللّٰہَ قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ -- Allah telah menetapkan: “Aku dan
rasul-rasul-Ku pasti
akan menang.” Sesungguhnya Allah
Maha Kuat, Maha Perkasa. (Al-Mujadalah [58]:21-22).
Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran
yang dibawa para Rasul Allah senantiasa menang
terhadap kepalsuan, itulah makna ayat 21-22. Lebih lanjut Allah Swt. menjelaskan mengenai tanda-tanda (ciri-ciri) khas “Hizbullah” yang hakiki – yang hanya menjadikan Allah
Swt., Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai wali
(pelindung/pemimpin/sahabat) mereka
(QS:5:55-57) -- berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
لَا تَجِدُ
قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ
رَسُوۡلَہٗ وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ
کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ
تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ
وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari
Akhir tetapi mereka mencintai
orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, وَ لَوۡ کَانُوۡۤا اٰبَآءَہُمۡ
اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ اَوۡ اِخۡوَانَہُمۡ
اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ -- walau pun mereka itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. اُولٰٓئِکَ کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ
-- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia
telah menanamkan iman dan Dia
telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ
جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا
-- dan Dia akan memasukkan mereka
ke dalam kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka
kekal
di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا
عَنۡہُ -- Allah
ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ
اللّٰہِ -- Itulah golongan Allah. اَلَاۤ اِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ -- Ketahuilah,
sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang berhasil (Al-Mujadalah [58]:21-23).
Pentingnya Mengutamakan
Allah
Swt. dan Rasul-Nya Serta “Persaudaraan
Muslim”
Allah Swt. menjelaskan bahwa
sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat
persahabatan atau perhubungan cinta
sejati atau sungguh-sungguh di
antara orang-orang beriman dengan
orang-orang kafir, karena cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain.
Mengapa demikian? Sebab kesamaan
dan perhubungan kepentingan itu
merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak
ada, karena itu Allah Swt.
memerintahkan orang-orang beriman jangan
mempunyai persahabatan yang erat lagi
mesra - yakni jangan menjadikan mereka sebagai wali
(pelindung/pemimpin/sahabat) -- dengan orang-orang kafir (QS.5:52) dengan mengenyampingkan “persaudaraan Muslim” (QS.49:11).
Menurut firman-Nya tersebut ikatan agama (keimanan kepada Allah Swt.
dan Rasul-Nya) harus mengatasi segala
perhubungan lainnya, bahkan mengatasi
pertalian darah yang amat dekat
sekalipun, namun demikian dari segi duniawi tetap harus memenuhi
kewajiban terhadap “hak-hak pertalian
darah” (kekeluargaan) dan “hak-hak
kemanusiaan”, firman-Nya:
وَ
وَصَّیۡنَا الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَیۡہِ ۚ
حَمَلَتۡہُ اُمُّہٗ وَہۡنًا عَلٰی وَہۡنٍ وَّ فِصٰلُہٗ فِیۡ عَامَیۡنِ اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ
اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا
لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا
مَعۡرُوۡفًا ۫ وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ ثُمَّ اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia
supaya berbuat baik terhadap ibu-bapaknya,
ibunya telah mengandungnya dalam kelemah-an di atas kelemahan, dan penyapihan susunya dalam dua tahun, اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ اِلَیَّ الۡمَصِیۡرُ -- supaya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada
kedua orangtua engkau, kepada
Aku-lah tempat kembali. وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ -- Dan apabila keduanya memaksa engkau supaya engkau mem-persekutukan dengan Aku,
yang me-ngenai itu engkau tidak memiliki
pengetahuan, فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا
فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا -- maka janganlah
engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah
dengan keduanya secara layak dalam urusan
dunia, وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ
ثُمَّ اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ
فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ -- dan ikutilah
jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku tempat kembali-mu, maka Aku akan memberitahukan kepadamu mengenai apa yang senan-tiasa kamu kerjakan. (Luqman [31]:15-16).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
7 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar