Selasa, 08 November 2016

"Kecintaan" Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Umat Manusia & Ciri Khas "Hizbullaah" Hakiki yang Dibangkitkan Allah Swt. di Kalangan Umat Islam






Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 56

 KECINTAAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. KEPADA UMAT MANUSIA & CIRI KHAS  HIZBULLÂH” HAKIKI  YANG DIBANGKITKAN ALLAH SWT. DI KALANGAN   UMAT ISLAM 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 55 dikemukakan  mengenai makna “Kemenangan” yang disebut dalam ayat: فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      -- “padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya,” sehubungan firman-Nya:
فَتَرَی الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ یُّسَارِعُوۡنَ فِیۡہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ ؕ فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Maka engkau akan melihat orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit bergegas  kepada mereka yang kafir seraya berkata:  نَخۡشٰۤی اَنۡ تُصِیۡبَنَا دَآئِرَۃٌ  -- “Kami takut  bencana menimpa kami.”  فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ --  Padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya, فَیُصۡبِحُوۡا عَلٰی  مَاۤ  اَسَرُّوۡا  فِیۡۤ   اَنۡفُسِہِمۡ نٰدِمِیۡنَ  --  maka  mereka akan merasa menyesal atas apa yang telah mereka  sembunyikan di dalamnya. (Al-Maidah [5]:53).

Nubuatan  Mengenai  Fatah Mekkah (Penaklukan  Mekkah) & Pewarisan “Negeri yang Dijanjikan” (Kanaan/Palestina)

         Ayat فَعَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّاۡتِیَ بِالۡفَتۡحِ اَوۡ اَمۡرٍ مِّنۡ عِنۡدِہٖ      -- “padahal boleh jadi Allah akan mendatangkan  kemenangan  atau suatu peristiwa lain dari sisi-Nya,”   dapat mengacu kepada jatuhnya Mekkah atau kepada kemenangan umat Islam secara umum atas pertolongan Allah Swt. Terang sekali bahwa kata  اَمۡرٍ -- “peristiwa” di belakang kabar kemenangan, mengisyaratkan kepada suatu peristiwa yang lebih besar daripada kemenangan itu sendiri.
        Rupa-rupanya kata itu mengisyaratkan kepada masuknya seluruh penduduk jazirah Arab ke haribaan Islam dan tegaknya Islam di sana setelah terjadinya peristiwa Fatah Mekkah (QS.48:1-8; QS.110:1-4), kemudian Nabi Besar Muhammad saw, benar-benar merealisasikan misi sucinya sebagai  rasul Allah yang merupakan “rahmat  bagi seluruh alam  (QS.21:108) dan membuktikan melalui amal nyata  bahwa umat Islam  benar-benar merupakan  umat terbaik” yang dijadikan untuk menfaat seluruh umat manusia  (QS.2:144; QS.3:111), yang akhirnya Allah Swt.  menggenapi janji-Nya mengenai “pewarisan negeri yang dijanjikan” kepada “kaum pilihan-Nya”, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ کَتَبۡنَا فِی الزَّبُوۡرِ مِنۡۢ بَعۡدِ الذِّکۡرِ اَنَّ الۡاَرۡضَ یَرِثُہَا عِبَادِیَ الصّٰلِحُوۡنَ ﴿﴾اِنَّ فِیۡ ہٰذَا لَبَلٰغًا لِّقَوۡمٍ  عٰبِدِیۡنَ ﴿﴾ؕ  وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾    
Dan  sungguh Kami benar-benar telah menuliskan dalam  Kitab Zabur sesudah pemberi peringatan itu, bahwa negeri itu akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang shalih.   Sesungguhnya dalam hal ini ada suatu amanat bagi kaum yang beribadah.  Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam  (Al-Anbiya [21]:106-108).
       Pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  adalah sebagai pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum tertentu melainkan untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.25:2;  QS.34:29).

Rahmat” Bagi Seluruh Alam

       Dengan perantaraan  Nabi Besar Muhammad saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati,  dimana sebelumnya manusia   belum pernah mereka diberkati, firman-Nya:
لَقَدۡ جَآءَکُمۡ رَسُوۡلٌ مِّنۡ اَنۡفُسِکُمۡ عَزِیۡزٌ عَلَیۡہِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِیۡصٌ عَلَیۡکُمۡ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ رَءُوۡفٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾٪
Sungguh benar-benar  telah datang kepada kamu seorang Rasul dari antara kamu sendiri, berat terasa olehnya apa yang menyusahkan kamu, ia sangat mendambakan kesejahteraan bagi kamu dan  terhadap orang-orang beriman  ia sangat berbelas kasih lagi penyayang. َاِنۡ تَوَلَّوۡا فَقُلۡ حَسۡبِیَ اللّٰہُ ۫٭ۖ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ عَلَیۡہِ  تَوَکَّلۡتُ وَ ہُوَ رَبُّ الۡعَرۡشِ  الۡعَظِیۡمِ  --   Tetapi jika  mereka berpaling  maka katakanlah: “Cukuplah  dAllāh bagiku, tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah aku bertawakkal, dan Dia-lah Pemilik 'Arasy yang agung. (At-Taubah [9]:128-129).
        Ayat 128  ini boleh dikenakan kepada orang-orang beriman  maupun kepada orang-orang kafir, tetapi terutama kepada orang-orang beriman, bagian permulaannya mengenai orang-orang kafir dan bagian terakhir mengenai orang-orang beriman.  Kepada orang-orang kafir nampaknya ayat ini mengatakan: “Nabi Besar Muhammad saw.  merasa sedih melihat kamu mendapat kesusahan, yaitu sekalipun kamu mendatangkan kepadanya segala macam keaniayaan dan kesusahan, namun hatinya begitu sarat dengan rasa kasih-sayang kepada umat manusia, sehingga tidak ada tindakan yang datang dari pihak kamu dapat mem-buatnya menjadi keras hati terhadap kamu dan membuat ia menginginkan keburukan bagimu. Ia begitu penuh kasih-sayang dan belas kasihan terhadap kamu, sehingga ia tidak tega hati melihat kamu menyimpang dari jalan kebenaran hingga mendatangkan kesusahan kepadamu.”  Lihat (QS.6:36; QS.18:7; QS.26:4).
       Kepada orang-orang beriman  ayat ini berkata: “Nabi Besar Muhammad saw.  penuh dengan kecintaan, kasih-sayang, dan rahmat bagi kamu, yaitu ia dengan riang dan gembira ikut dengan kamu dalam menanggung kesedihan dan kesengsaraan kamu. Lagi pula, seperti seorang ayah yang penuh dengan kecintaan ia memperlakukan kamu, dengan sangat murah hati dan kasih-sayang.” Lihat  QS.33:7 & 70-74; QS.48:30; QS.62:3-5

Orang-orang yang “Murtad 

        Melanjutkan   pembahasan surah Al-Maidah  ayat 52-53,  selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ یَقُوۡلُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَہٰۤؤُلَآءِ الَّذِیۡنَ اَقۡسَمُوۡا بِاللّٰہِ جَہۡدَ اَیۡمَانِہِمۡ ۙ اِنَّہُمۡ لَمَعَکُمۡ ؕ حَبِطَتۡ اَعۡمَالُہُمۡ فَاَصۡبَحُوۡا خٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡنَ ﴿﴾ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang  beriman akan berkata: “Orang-orang inikah yang bersumpah dengan nama Allah dengan sekuat-kuat sumpah mereka  bahwa sesungguhnya mereka benar-benar bersama kamu?”  حَبِطَتۡ اَعۡمَالُہُمۡ فَاَصۡبَحُوۡا خٰسِرِیۡنَ --  Lenyaplah   amal-amal mereka maka mereka menjadi orang-orang yang rugi.  Hai orang-orang yang beriman,  مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ   -- barangsiapa di antara kamu  murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya,  اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ  -- mereka akan bersikap lemah-lembut  terhadap  orang-orang beriman  dan keras terhadap orang-orang kafir.     Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ --  Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui. اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡ -- Sesungguhnya  wali (pelindung/penolong/sahabat)  kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ  --  Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai wali    maka  sesungguhnya  jamaat Allah pasti menang  (Al-Maidah [5]:54-57).

Kaum Lain  atau “Hizbullah” Hakiki yang Dibangkitkan Allah Swt.  Di Kalangan Umat Islam

        Makna “murtad” dari agamanya dalam ayat: مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ   -- “barangsiapa di antara kamu  murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya   dijelaskan dalam firman-Nya berikut ini:
وَ مَا مُحَمَّدٌ اِلَّا رَسُوۡلٌ ۚ قَدۡ خَلَتۡ مِنۡ قَبۡلِہِ الرُّسُلُ ؕ اَفَا۠ئِنۡ مَّاتَ اَوۡ قُتِلَ انۡقَلَبۡتُمۡ عَلٰۤی اَعۡقَابِکُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ فَلَنۡ یَّضُرَّ اللّٰہَ شَیۡئًا ؕ وَ سَیَجۡزِی اللّٰہُ  الشّٰکِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan   Muhammad tidak lain melainkan seorang rasul. Sungguh  telah berlalu  yakni  wafat rasul-rasul sebelumnya. Apakah jika ia mati atau terbunuh kamu akan berbalik  atas kedua tumitmu?  وَ مَنۡ یَّنۡقَلِبۡ عَلٰی عَقِبَیۡہِ فَلَنۡ یَّضُرَّ اللّٰہَ شَیۡئًا  --  Dan barangsiapa berbalik  atas kedua tumitnya maka ia tidak akan pernah  memudaratkan Allah sedikit pun. وَ سَیَجۡزِی اللّٰہُ  الشّٰکِرِیۡنَ  --  Dan Allah pasti akan memberi ganjaran kepada orang-orang yang bersyukur. (Ali ‘Imran [3]:145).
         Kabar angin tersebar di Uhud bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  syahīd. Ayat ini mengisyaratkan kepada peristiwa itu dan bermaksud mengatakan bahwa meskipun kabar itu tidak benar, tetapi seandainya pun beliau saw.   benar  telah syahīd dalam perang Uhud, hal itu tidak boleh menjadikan keimanan orang-orang beriman  goyah, sebab Nabi Besar Muhammad saw.  hanyalah seorang nabi Allah, dan sebagaimana semua nabi Allah sebelum beliau telah wafat, maka beliau saw, pun pasti akan wafat (QS.21:35). Tetapi Allah Swt.  --  Tuhan  milik  Islam  -- itu Hidup kekal.
        Selanjutnya Allah Swt. berfirman: فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ  -- maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia akan mencintai mereka dan mereka pun akan mencintai-Nya,  اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا  یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ  -- mereka akan bersikap lemah-lembut  terhadap  orang-orang beriman  dan keras terhadap orang-orang kafir.   Mereka akan berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ  یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  وَاسِعٌ  عَلِیۡمٌ --  Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan Allah Maha Luas karunia-Nya, Maha Mengetahui.” (Al-Maidah [5]:55).

Allah Swt.  dan Rasul-Nya  Merupakan “Wali  Hakiki   Hizbullāh & Kemunculan Kaum Lain” di Kalangan Umat Islam

      Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. menyebut mereka sebagai Hizbullāh (golongan Allah): اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ  الزَّکٰوۃَ  وَ ہُمۡ  رٰکِعُوۡ -- Sesungguhnya  wali (pelindung/penolong/sahabat)  kamu adalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat dan membayar zakat dan mereka taat kepada Allah.  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ  --  Dan barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai wali    maka  sesungguhnya  jamaat Allah pasti menang  (Al-Maidah [5]:56-57).
        Firman Allah Swt. mengenai kemunculan “Hizbullāh” (golongan Allah) yang dibangkitkan kalangan umat Islam tersebut  mengisyaratkan pada ayat:    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, dalam   firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿ ﴾    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿ ﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkitkan di kalangan bangsa yang buta-huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, dan  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   --  Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
        Kemunculan “Hizbullāh” (golongan Allah) yang diisyaratkan dalam  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ   --  Dan juga akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, pada hakikatnya  adalah  segolongan umat Islam yang beriman kepada  pengutusan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw.  secara ruhani yang diisyaratkan dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 3-4 tersebut, dalam wujud Rasul Akhir Zaman  yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan sebutan (nama) yang berlainan (QS.77:12), Al-Quran menyebutnya sebagai misal Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58)  atau Al-Masih al-Mau’ud a.s..
         Hizbullāh”   yang   hakiki itulah yang  mendapat jaminan pertolongan khusus dari Allah Swt. karena mereka benar-benar   menjadikan Allah Swt. sebagai Wali (Pelindung/Penolong/Sahabat) mereka yang hakiki (QS.5:55-57; QS.48:30), sekali pun mendapat penentangan  dan penzaliman dari pihak-pihak yang  menganggapnya sebagai “ancaman  bagi mereka, sehingga  kedengkian Kain terhadap Habel yang dikemukakan dalam Kisah Monumental “Dua anak Adam”  kembali berulang (QS.5:28-35).

Pertolongan Allah Swt.  Sebagai "Wali"    (Pelindung)   & Ciri Khas “Hizbullāh  Hakiki

       Namun sesuai dengan Sunnatullāh  perjuangan suci “Hizbullāh” hakiki  tersebut  -- bagaikan  pertumbuhan sebuah benih  pohon  (QS.48:30)  -- secara bertahap terus menerus meraih kesuksesan,  sehingga nubuatan  mengenai kejayaan Islam yang kedua kali di Akhir Zaman  benar-benar terwujud dengan cara-cara yang aman dan damai (QS.61:10), firman-Nya:
اِنَّ  الَّذِیۡنَ یُحَآدُّوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗۤ اُولٰٓئِکَ فِی  الۡاَذَلِّیۡنَ ﴿﴾  کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ ﴿﴾
Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya mereka itu termasuk orang-orang yang sangat hina.    کَتَبَ اللّٰہُ  لَاَغۡلِبَنَّ  اَنَا وَ  رُسُلِیۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ عَزِیۡزٌ  -- Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku  pasti akan menang.” Sesungguhnya Allah Maha Kuat, Maha Perkasa.  (Al-Mujadalah [58]:21-22).
  Ada tersurat nyata pada lembaran-lembaran sejarah bahwa kebenaran  yang dibawa para Rasul Allah senantiasa menang terhadap kepalsuan,  itulah makna ayat 21-22. Lebih lanjut  Allah Swt. menjelaskan mengenai tanda-tanda (ciri-ciri) khasHizbullah” yang hakiki – yang hanya menjadikan  Allah Swt., Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat) mereka  (QS:5:55-57) --   berikut  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
لَا تَجِدُ قَوۡمًا یُّؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ  یُوَآدُّوۡنَ مَنۡ حَآدَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ ؕ وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ ؕ اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿٪﴾
Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang menyatakan beriman kepada Allah dan Hari Akhir tetapi mereka mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya,  وَ لَوۡ کَانُوۡۤا  اٰبَآءَہُمۡ  اَوۡ اَبۡنَآءَہُمۡ  اَوۡ  اِخۡوَانَہُمۡ  اَوۡ عَشِیۡرَتَہُمۡ  --   walau pun mereka  itu bapak-bapak mereka atau anak-anak mereka atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka.  اُولٰٓئِکَ  کَتَبَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمُ الۡاِیۡمَانَ وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ  -- Mereka itulah orang-orang yang di dalam hati mereka Dia telah menanamkan iman dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia sendiri, وَ یُدۡخِلُہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ  فِیۡہَا  -- dan Dia akan memasukkan mereka ke dalam kebun-kebun yang  di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal  di dalamnya. رَضِیَ اللّٰہُ  عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ  --   Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. اُولٰٓئِکَ حِزۡبُ اللّٰہِ  -- Itulah golongan Allah.  اَلَاۤ اِنَّ  حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ --  Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah  itulah orang-orang yang berhasil  (Al-Mujadalah [58]:21-23). 

Pentingnya Mengutamakan  Allah Swt. dan Rasul-Nya  Serta “Persaudaraan Muslim

 Allah Swt. menjelaskan bahwa sudah nyata bahwa tidak mungkin terdapat persahabatan atau perhubungan cinta sejati atau sungguh-sungguh di antara orang-orang beriman  dengan  orang-orang kafir, karena cita-cita, pendirian-pendirian, dan kepercayaan agama dari kedua golongan itu bertentangan satu sama lain.
 Mengapa demikian? Sebab  kesamaan dan perhubungan kepentingan itu merupakan syarat mutlak bagi perhubungan yang sungguh-sungguh erat menjadi tidak ada,  karena itu Allah Swt. memerintahkan orang-orang beriman   jangan mempunyai persahabatan yang erat lagi mesra - yakni jangan menjadikan mereka sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat)   -- dengan orang-orang kafir  (QS.5:52) dengan mengenyampingkan “persaudaraan Muslim” (QS.49:11).
  Menurut firman-Nya tersebut ikatan agama (keimanan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya) harus mengatasi segala perhubungan lainnya, bahkan  mengatasi pertalian darah yang amat dekat sekalipun, namun demikian  dari segi duniawi tetap harus memenuhi  kewajiban  terhadap “hak-hak  pertalian darah” (kekeluargaan) dan “hak-hak kemanusiaan”,  firman-Nya:
وَ وَصَّیۡنَا  الۡاِنۡسَانَ بِوَالِدَیۡہِ ۚ حَمَلَتۡہُ  اُمُّہٗ  وَہۡنًا عَلٰی وَہۡنٍ وَّ فِصٰلُہٗ  فِیۡ عَامَیۡنِ  اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ اِلَیَّ  الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ ۙ فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا ۫ وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ ثُمَّ  اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami telah memerintahkan kepada manusia supaya berbuat baik terhadap ibu-bapaknya,  ibunya telah mengandungnya dalam kelemah-an di atas kelemahan, dan penyapihan susunya dalam dua tahun, اَنِ اشۡکُرۡ لِیۡ وَ لِوَالِدَیۡکَ ؕ اِلَیَّ  الۡمَصِیۡرُ  --  supaya bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtua engkau, kepada Aku-lah tempat kembali.    وَ اِنۡ جَاہَدٰکَ عَلٰۤی اَنۡ تُشۡرِکَ بِیۡ مَا لَیۡسَ لَکَ بِہٖ عِلۡمٌ --  Dan apabila keduanya memaksa engkau supaya engkau mem-persekutukan dengan Aku, yang me-ngenai itu engkau tidak memiliki pengetahuan, فَلَا تُطِعۡہُمَا وَ صَاحِبۡہُمَا فِی الدُّنۡیَا مَعۡرُوۡفًا  --  maka janganlah engkau menaati keduanya, tetapi bergaullah dengan keduanya secara layak dalam urusan dunia, وَّ اتَّبِعۡ سَبِیۡلَ مَنۡ اَنَابَ اِلَیَّ ۚ ثُمَّ  اِلَیَّ مَرۡجِعُکُمۡ فَاُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ تَعۡمَلُوۡنَ  --  dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian kepada-Ku tempat kembali-mu, maka Aku akan memberitahukan kepadamu mengenai apa yang senan-tiasa kamu kerjakan. (Luqman [31]:15-16).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  7  November 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar