Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
58
ISLAM (AL-QURAN) DAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MENGAJARKAN
“PERSAUDARAAN RUHANI” DAN “PERSAUDARAAN KEMANUSIAAN” UNIVERSAL -- “LOVE FOR ALL HATRED F0R
NONE” (CINTA UNTUK SEMUA TIDAK ADA
KEBENCIAN UNTUK SIAPAPUN)
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 57 dikemukakan mengenai topik Tidak Ada Permusuhan yang
Abadi, Kecuali Kedengkian Iblis Terhadap
Adam yakni sebagaimana kecuali Allah Swt. dan firman-Nya – khususnya Al-Quran (QS.15:10) --
segala sesuatu selain-Nya
tidak ada yang bersifat abadi (QS.55:27-28), demikian pula halnya
dengan “permusuhan” atau “perbedaan pendapat”, firman-Nya:
وَ لَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰہِ
اِلٰـہًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ۟ کُلُّ شَیۡءٍ ہَالِکٌ اِلَّا وَجۡہَہٗ ؕ لَہُ الۡحُکۡمُ
وَ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan janganlah engkau menyeru tuhan lain bersama
Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia. کُلُّ
شَیۡءٍ ہَالِکٌ اِلَّا وَجۡہَہٗ -- Segala
sesuatu akan binasa kecuali Wujud-Nya.
لَہُ الۡحُکۡمُ
وَ اِلَیۡہِ تُرۡجَعُوۡنَ -- Kepunyaan-Nya segala hukum dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan (Al-Qashash
[28]:89).
Pentingnya Menyesuaikan Pemikiran dan Tindakan
(Perbuatan) Dengan “Kehendak” Allah Swt.
Wajh berarti: diri; muka (wajah),
kepala suatu kaum (bangsa); tujuan atau maksud yang orang sedang kejar; tempat
yang orang tuju atau mengarahkan perha-tiannya; kesenangan; karunia;
kepentingan; dan sebagainya (Lexicon
Lane). Firman-Nya lagi:
کُلُّ مَنۡ عَلَیۡہَا
فَانٍ ﴿ۚۖ﴾ وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾ فَبِاَیِّ اٰلَآءِ
رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di
atasnya akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو
الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ -- dan
akan kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan)
engkau, Pemilik segala kemegahan dan
kemuliaan. Maka nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua
yang manakah yang kamu kamu dustakan?
(Ar-Rahmān
[55]:27-29).
Seluruh jagat raya (alam semesta) tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu jagat
raya ini ditakdirkan akan binasa.
Hanya Tuhan-lah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu.
Demikian pula segala sesuatu
berupa pemikiran dan tindakan yang bersesuaian dengan “kehendak
Allah Swt.” yang diajarkan para rasul Allah – khususnya Nabi
Besar Muhammad saw. (QS.5:4;
QS.3:20,32 & 86-88; QS.4:70-71) -- akan kekal sebab hal tersebut
merupakan “kebenaran” (haq) yang hakiki, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
وَ قُلۡ
جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ
زَہُوۡقًا ﴿﴾ وَ نُنَزِّلُ مِنَ
الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ
لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا ﴿﴾
Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan (kepalsuan) telah lenyap, sesungguhnya kebatilan (kepalsuan) itu pasti
lenyap.” وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- Dan Kami
menurunkan dari Al-Quran
suatu penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ اِلَّا
خَسَارًا -- tetapi tidak
menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian. (Bani
Israil [17]:82-83).
Inilah salah satu mukjizat gaya bahasa Al-Quran bahwa ayat 82 mengemukakan
salah satu contoh semacam itu. Sesudah takluknya kota Mekkah (Fatah Mekkah),
ketika Nabi Besar Muhammad saw. saw.
selagi membersihkan Ka’bah (Baitullah)
dari berhala-berhala yang telah
mengotorinya, beliau saw. berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sambil beliau
saw. memukuli
berhala-berhala (Bukhari): وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ
الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ کَانَ زَہُوۡقًا -- “Dan
katakanlah: ”Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan (kepalsuan) telah
lenyap, sesungguhnya kebatilan (kepalsuan)itu pasti lenyap.”
“Larangan Sementara” & Nubuatan “Terciptanya “Persaudaraan Ruhani”
Kembali kepada ayat: کُلُّ
مَنۡ عَلَیۡہَا فَانٍ -- segala sesuatu yang ada di atasnya akan binasa, وَّ یَبۡقٰی
وَجۡہُ رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ
الۡاِکۡرَامِ -- dan akan
kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan. .” (Ar-Rahmān [55]:27-29), arti wajh pun berarti
pula: apa yang ada di bawah pemeliharaan
seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89);
barang itu sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid).
Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan
semuanya dan seluruh alam jasmani
dihilangsirnakan, tetapi akal
manusia menuntut bahwa seyogyanya harus
ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan
atau kerusakan. Wujud demikian adalah
Tuhan Yang menciptakan seluruh alam
semesta, yakni Allah Swt.
(QS.1:2).
Ayat yang sekarang dan
ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua
hukum alam yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu: (1)
segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian;
dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi
menjamin kesinambungan hidup.
Demikian pula “permusuhan” pun tidak ada yang kekal, walau pun
Allah Swt. melarang
orang-orang yang beriman di zaman Nabi Besar Muhammad saw. menjadikan orang-orang
kafir Quraisy sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat), tetapi
permusuhan umat Islam dengan orang-orang
kafir Quraisy Mekkah tersebut hanya bersifat sementara waktu, karena menurut Allah Swt. akan datang masanya kedua-belah pihak yang sebelumnya “bermusuhan” sengit tersebut akan menjadi
“bersaudara” dan saling mencintai, firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan
di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini kamu bermusuhan dengan mereka,
karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
Ikhtisar Surah Al-Mumtahanah
Ayat ini mengandung kabar gaib (nubuatan), yakni kepada para
sahabat Nabi Besar Muhammad saw. diberitahukan
bahwa sebagai “Hizbullah” (golongan Allah) hakiki (QS.58:23; QS.5:55-57) mereka diperintahkan supaya menghentikan segala perhubungan bersahabat dengan musuh-musuh
agama mereka, walaupun musuh itu mungkin keluarga sendiri yang mempunyai pertalian darah sangat dekat sekalipun, namun
demikian larangan itu ditetapkan
berlaku untuk jangka waktu singkat
saja, sebelumnya Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ
الرَّحِیۡمِ﴿﴾ یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا
عَدُوِّیۡ وَ عَدُوَّکُمۡ اَوۡلِیَآءَ
تُلۡقُوۡنَ اِلَیۡہِمۡ
بِالۡمَوَدَّۃِ وَ قَدۡ کَفَرُوۡا
بِمَا جَآءَکُمۡ مِّنَ الۡحَقِّ ۚ
یُخۡرِجُوۡنَ الرَّسُوۡلَ وَ
اِیَّاکُمۡ اَنۡ تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ رَبِّکُمۡ ؕ اِنۡ
کُنۡتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِہَادًا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِیۡ ٭ۖ تُسِرُّوۡنَ اِلَیۡہِمۡ بِالۡمَوَدَّۃِ ٭ۖ وَ اَنَا اَعۡلَمُ
بِمَاۤ اَخۡفَیۡتُمۡ وَ مَاۤ
اَعۡلَنۡتُمۡ ؕ وَ مَنۡ
یَّفۡعَلۡہُ مِنۡکُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ
سَوَآءَ السَّبِیۡلِ ﴿﴾ اِنۡ یَّثۡقَفُوۡکُمۡ یَکُوۡنُوۡا لَکُمۡ
اَعۡدَآءً وَّ یَبۡسُطُوۡۤا اِلَیۡکُمۡ اَیۡدِیَہُمۡ وَ اَلۡسِنَتَہُمۡ
بِالسُّوۡٓءِ وَ وَدُّوۡا
لَوۡ تَکۡفُرُوۡنَ ؕ﴿﴾ لَنۡ
تَنۡفَعَکُمۡ اَرۡحَامُکُمۡ وَ لَاۤ
اَوۡلَادُکُمۡ ۚۛ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ۚۛ یَفۡصِلُ بَیۡنَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah,
Maha Penyayang. یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوۡا عَدُوِّیۡ وَ عَدُوَّکُمۡ اَوۡلِیَآءَ
تُلۡقُوۡنَ اِلَیۡہِمۡ
بِالۡمَوَدَّۃِ -- Hai orang-orang
yang beriman, janganlah kamu
mengambil musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh
kamu sebagai awliya (sahabat-sahabat), lalu
kamu
menyampaikan berita kepada mereka karena kecintaan, وَ قَدۡ کَفَرُوۡا
بِمَا جَآءَکُمۡ مِّنَ الۡحَقِّ -- padahal
sungguh mereka telah mengingkari
kebenaran yang telah datang kepada kamu
-- یُخۡرِجُوۡنَ الرَّسُوۡلَ وَ
اِیَّاکُمۡ اَنۡ تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ رَبِّکُمۡ -- mereka telah mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah Rabb (Tuhan) kamu. اِنۡ کُنۡتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِہَادًا فِیۡ
سَبِیۡلِیۡ وَ ابۡتِغَآءَ مَرۡضَاتِیۡ -- Jika kamu
keluar berjihad di jalan-Ku dan mencari
keridhaan-Ku sebagian kamu se-cara sembunyi-sembunyi menyampaikan berita kepada mereka karena kecintaan, وَ اَنَا اَعۡلَمُ بِمَاۤ اَخۡفَیۡتُمۡ وَ مَاۤ اَعۡلَنۡتُمۡ
-- padahal Aku mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡہُ
مِنۡکُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ السَّبِیۡلِ
-- Dan barang-siapa dari antara kamu berbuat demikian maka sungguh ia benar-benar telah sesat dari jalan lurus.
اِنۡ یَّثۡقَفُوۡکُمۡ یَکُوۡنُوۡا لَکُمۡ
اَعۡدَآءً -- Jika mereka
menangkap kamu, mereka akan menjadi
musuh-musuh bagi kamu وَّ یَبۡسُطُوۡۤا اِلَیۡکُمۡ اَیۡدِیَہُمۡ
وَ اَلۡسِنَتَہُمۡ بِالسُّوۡٓءِ وَ وَدُّوۡا
لَوۡ تَکۡفُرُوۡنَ -- dan akan
menjangkaukan tangan mereka dan lidah
mereka terhadap kamu dengan buruk, dan mereka
selalu menginginkan supaya kamu menjadi kafir. لَنۡ
تَنۡفَعَکُمۡ اَرۡحَامُکُمۡ وَ لَاۤ
اَوۡلَادُکُمۡ ۚۛ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ -- Tidak
akan pernah memberi manfaat kepada kamu kerabat-kerabat kamu dan tidak pula anak-anak kamu pada Hari Kiamat,
یَفۡصِلُ
بَیۡنَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ بِمَا
تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ -- Dia
akan memberi keputusan di antara
kamu, dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan. (Al-Mumtahanah [60]:1-4).
Hakikat Larangan
Menjalin Hubungan “Persahabatan”
Hakiki Dengan “Orang-orang Kafir” Sambil
Mengorbankan Kepentingannya
Sesama Muslim
Surah Al-Mumtahanah mulai dengan pelarangan tegas kepada orang-orang
Islam mengikat tali persahabatan yang
akrab dengan orang-orang kafir yang berperang
terhadap Islam dan berhasrat melenyapkan Islam, yakni Allah Swt. melarang
menjadikan mereka sebagai wali
(pelindung/penolong/sahabat) sambil mengenyampingkan
orang-orang beriman, sebagaimana dikemukakan juga dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ
بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ
یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ
فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi pelindung, karena sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya. وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ -- Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung maka sesungguhnya
ia dari mereka. Sesungguhnya Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Al-Maidah [5]:52).
Perintah Allah Swt. itu begitu tegas
dan luas lingkupnya sehingga anggota-anggota keluarga yang mempunyai hubungan darah dekat sekalipun tidak
dikecualikan dari larangan itu
(QS.58:23). Larangan itu diikuti oleb
suatu nubuatan yang tersirat di
dalamnya bahwa amat segera musuh-musuh
Islam yang tak kenal damai itu
akan menjadi penganut-penganut Islam
yang mukhlis, firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan
kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini kamu bermusuhan dengan mereka,
karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
Tetapi perintah (larangan) itu mempunyai pengecualian. Perintah itu tidak berlaku terhadap orang-orang kafir yang mempunyai perhubungan baik sebagai tetangga
dengan kaum Muslimin. Orang-orang
kafir serupa itu harus diperlakukan dengan adil dan baik hati (QS.60:9).
Kemudian Surah Al-Mumtahanah memberi nasihat-nasihat
penting mengenai perempuan-perempuan
beriman yang hijrah
ke Medinah, dan pula bertalian dengan
kaum perempuan yang meninggalkan
Medinah dan menggabungkan diri
dengan orang-orang kafir Mekkah (QS.60:11-13).
Mengapa demikian? Sebab tidak mustahil tujuan hijrahnya
perempuan-perempuan dari Mekkah
ke Madinah tidak semata-mata karena mereka
beriman kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. tetapi memiliki tujuan-tujuan
duniawi tertentu. Demikian pula larangan laki-laki Muslim mempertahankan pernikahan mereka dengan
perempuan-perempuan kafir pun dengan tujuan agar tidak terjadi tindakan-tindakan pengkhianatan yang akan
merugikan kepentingan umat Islam. Masalah ini akan dijelaskan pada Bab
berikutnya.
Untuk menjelaskan kepada orang-orang Islam akan kepentingan perkara itu, Surah Al-Mumtahanah berakhir dengan mengulangi lagi perintah bahwa orang-orang Islam tidak boleh mengadakan persahabatan dengan orang-orang yang memusuhi Islam, yang
karena dengan terang-terangan mengambil
sikap bermusuhan terhadap Islam telah dimurkai
Allah itu, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا لَا تَتَوَلَّوۡا قَوۡمًا غَضِبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
قَدۡ یَئِسُوۡا مِنَ الۡاٰخِرَۃِ کَمَا یَئِسَ الۡکُفَّارُ مِنۡ اَصۡحٰبِ
الۡقُبُوۡرِ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu menjadikan sebagai sahabat kaum
yang Allah murka atas mereka, sesungguhnya mereka telah berputus-asa mengenai akhirat
sebagaimana orang-orang kafir
telah berputus-asa mengenai orang-orang
yang ada di dalam kubur. (Al-Mumtahanah [60]:14).
Kata-kata sesungguhnya mereka telah
berputus asa mengenai alam ukhrawi, berarti bahwa mereka tidak beriman kepada alam
ukhrawi seperti halnya mereka tidak
percaya bahwa orang mati akan
dibangkitkan kembali. Kata “mereka” dapat secara khusus dikenakan kepada orang-orang Yahudi karena ungkapan “yang
Allah telah murka atas mereka” telah dipakai mengenai orang-orang Yahudi dalam beberapa ayat Al-Quran (QS:1-7; QS.2:66
& 91; QS.3:91; QS.5:61; QS.7:167)
akibat berulang-kalinya mereka melakukan kedurhakaan
kepada Allah Swt. dan para rasul Allah (QS.2: 88-91).
Upaya Membocorkan “Rahasia Negara”
Larangan Allah Swt. dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 2 sangat tegas sifatnya. Orang-orang Islam tidak dibenarkan mempunyai perhubungan bersahabat dengan musuh-musuh Allah yang nyata – mereka
yang mengusir Nabi Besar Muhammad
saw. (QS.8:31; QS.9:40) dan orang-orang Islam dari kampung halaman
mereka (Mekkah) dan berusaha membinasakan
Islam.
Peristiwa yang langsung
berkaitan dengan turunnya Surah Al-Mumtahanah
ayat 2 adalah ketika kaum Quraisy
mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah
(QS.48:1-11), sehingga Nabi
Besar Muhammad saw. terpaksa harus mengadakan tindakan keras terhadap mereka.
Mengetahui rencana Nabi Besar
Muhammad saw. tersebut, Hathib bin Abi
Balta’ah seorang Muslim di Medinah telah mengirim surat rahasia kepada kaum Mekkah, memberitahukan kepada mereka bahwa Nabi Besar Muhammad saw. . berniat bergerak menyerang Mekkah.
Nabi Besar Muhammad saw. yang diberi tahu mengenai hal itu
melalui wahyu Ilahi mengutus ‘Ali bin Abu Thalib r.a., Zubair
al-Awwam r.a. , dan Miqdad r.a. mencari dan mengejar
si pembawa surat tersebut. Mereka berhasil menyusul utusan itu – seorang perempuan – di tengah perjalanan menuju ke Mekkah, dan surat itu dibawa kembali ke Medinah.
Pelanggaran Hathib bin Abi Balta’ah itu sangat
berat. Ia telah berupaya membocorkan
rahasia-negara yang penting. Ia layak
dihukum sebagai contoh, tetapi ia
dimaafkan Nabi Besar Muhammad saw. karena
ia melakukan pelanggaran itu dengan tidak disengaja serta tanpa
menyadari akibat-akibatnya yang sangat
berbahaya. Kebetulan peristiwa surat
itu menetapkan tanggal turun Surah Al-Mumtahanah ini. Demikian asbabun-nuzul
diwahyukan-Nya Surah Al-Mumtahanah
berkenaan dengan larangan Allah Swt. kepada orang-orang beriman menjadi orang-orang
kafir sebgai wali, firman-Nya:
لَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ
یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ
یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ
اَنۡ تَبَرُّوۡہُمۡ وَ
تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ
اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ
ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ
تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat kebaikan dan berlaku
adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ وَ لَمۡ یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ
دِیَارِکُمۡ -- yaitu orang-orang
yang tidak memerangi kamu karena agama
dan yang tidak mengusir kamu dari
rumah-rumah kamu, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ
الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ -- Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu
dari rumah-rumahmu dan telah
membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ
-- dan barangsiapa bersahabat
dengan mereka maka mereka itulah
orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
Suri-Teladan Nabi
Ibrahim a.s. dan para Rasul Allah
Selanjutnya Allah Swt.
berfirman mengenai suri-teladan yang diperagakan Nabi Ibrahim a.s. dan para rasul Allah lainnya dalam mengutamakan kecintaan kepada Allah Swt.
daripada kepada selain-Nya -- termasuk kedua orang tua mau pun karib kerabat lainnya:
قَدۡ
کَانَتۡ لَکُمۡ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ
فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗ ۚ اِذۡ قَالُوۡا لِقَوۡمِہِمۡ اِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنۡکُمۡ وَ مِمَّا
تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۫
کَفَرۡنَا بِکُمۡ وَ بَدَا
بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمُ الۡعَدَاوَۃُ وَ
الۡبَغۡضَآءُ اَبَدًا حَتّٰی تُؤۡمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗۤ اِلَّا
قَوۡلَ اِبۡرٰہِیۡمَ لِاَبِیۡہِ لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ لَکَ وَ مَاۤ
اَمۡلِکُ لَکَ مِنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ رَبَّنَا عَلَیۡکَ تَوَکَّلۡنَا
وَ اِلَیۡکَ اَنَبۡنَا وَ اِلَیۡکَ
الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَۃً
لِّلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ اغۡفِرۡ لَنَا رَبَّنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ
فِیۡہِمۡ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ ؕ وَ مَنۡ
یَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡغَنِیُّ الۡحَمِیۡدُ ٪﴿﴾
Sungguh bagi kamu ada contoh yang baik dalam diri
Ibrahim dan orang-orang yang besertanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: اِنَّا بُرَءٰٓؤُا
مِنۡکُمۡ وَ مِمَّا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۫ کَفَرۡنَا بِکُمۡ وَ بَدَا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمُ الۡعَدَاوَۃُ وَ الۡبَغۡضَآءُ اَبَدًا -- “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari perbuatan kamu. Dan telah nyata permusuhan serta kebencian di antara kami dan kamu untuk
selama-lamanya حَتّٰی تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗۤ
-- hingga kamu beriman kepada Allah semata”, اِلَّا قَوۡلَ
اِبۡرٰہِیۡمَ لِاَبِیۡہِ
لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ لَکَ وَ مَاۤ اَمۡلِکُ لَکَ مِنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ -- kecuali yang dikatakan Ibrahim kepada bapaknya:
“Pasti aku akan memohonkan ampunan bagi engkau,
tetapi aku sekali-kali tidak ber-daya
menolong engkau sedikit pun terhadap Allah.” رَبَّنَا عَلَیۡکَ تَوَکَّلۡنَا وَ
اِلَیۡکَ اَنَبۡنَا وَ اِلَیۡکَ
الۡمَصِیۡرُ -- Ibrahim berkata,
”Hai Rabb (Tuhan) kami, kepada
Engkau kami bertawakkal dan kepada
Engkau kami tunduk serta kepada
Engkau kami akan kembali. رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ اغۡفِرۡ لَنَا
رَبَّنَا ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Hai Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau
menjadikan kami ujian bagi orang-orang
kafir, dan ampunilah kami, hai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ
فِیۡہِمۡ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ -- Sungguh bagi kamu dalam diri mereka benar-benar ada contoh yang baik bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan
Allah dan Hari Kemudian. وَ مَنۡ
یَّتَوَلَّ فَاِنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡغَنِیُّ الۡحَمِیۡدُ ٪
-- Dan barangsiapa berpaling maka sesungguhnya Allah Dia Maha Kaya, Maha Terpuji. (Al-Mumtahanah [60]:1-4).
Contoh mengenai Nabi
Ibrahim a.s. telah disebut di
sini untuk memberikan tekanan bahwa manakala telah menjadi
jelas seorang atau beberapa orang tertentu memusuhi dan bermaksud melenyapkan kebenaran (Tauhid Ilahi) maka segala perhubungan persahabatan dengan mereka harus dihentikan (QS.58:23).
Ungkapan kafarnā bikum,
yang biasanya diterjemahkan “kami mengingkari segala yang kamu percayai”,
dapat pula diartikan “kami tidak mempunyai urusan dengan kamu.”
Ungkapan kafara bikadza berarti “ia m-nyatakan dirinya bersih atau bebas dari
hal demikian” (Lexicon Lane).
Pengampuan Nabi Yusuf a.s. Terhadap Kezaliman Saudara-saudaranya
Kembali kepada firman-Nya
berikut ini mengenai nubuatan akan
terjadinya “persaudaraan ruhani”
hakiki antara umat Islam dengan orang-orang kafir yang sebelumnya memusuhi dan menzalimi mereka:
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh
jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini kamu bermusuhan dengan mereka,
karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Pe-nyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
Waktu itu telah kian
mendekat dengan cepat ketika musuh-musuh bebuyutan itu akan menjadi sahabat-sahabat mesra, yaitu
setelah terjadi Fatah Mekkah (penaklukkan
Mekkah) oleh Nabi Besar Muhammad saw.,
karena beliau saw. memberikan “pengampunan
umum” sebagaimana yang dilakukan Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudaranya yang jahil
(QS.12:90-93), firman-Nya:
قَالَ ہَلۡ
عَلِمۡتُمۡ مَّا
فَعَلۡتُمۡ بِیُوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ اِذۡ اَنۡتُمۡ جٰہِلُوۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡۤا ءَاِنَّکَ لَاَنۡتَ یُوۡسُفُ ؕ قَالَ اَنَا یُوۡسُفُ وَ ہٰذَاۤ اَخِیۡ ۫ قَدۡ مَنَّ
اللّٰہُ عَلَیۡنَا ؕ اِنَّہٗ مَنۡ یَّـتَّقِ وَ یَصۡبِرۡ فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُضِیۡعُ اَجۡرَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾ قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ اٰثَرَکَ اللّٰہُ عَلَیۡنَا وَ اِنۡ کُنَّا لَخٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ
اللّٰہُ لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Yusuf,
berkata: “Apakah kamu mengetahui apa yang
telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya
ketika kamu berbuat jahil kepadanya?”
Mereka berkata: “Apakah engkau ini Yusuf?” Ia berkata: “Ya,
aku adalah Yusuf dan ini saudaraku,
sungguh Allah telah melimpahkan karunia
atas kami. Sesungguhnya barangsiapa
bertakwa dan bersabar maka sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan ganjaran
orang-orang yang berbuat ihsan.” Mereka berkata: “Demi
Allah, sungguh Allah benar-benar
telah me-lebihkan engkau di atas kami dan sesungguhnya kami benar-benar orang-orang
yang bersalah.” قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ -- Ia berkata: “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini, یَغۡفِرُ اللّٰہُ لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ -- semoga
Allah mengampuni kamu, dan Dia-lah
Yang Paling Penyayang dari semua Penyayang.”
(Yusuf
[12]:90-93).
Karena
tak tahan lagi melihat saudara-saudaranya secara demikian merendahkan harkat
mereka sendiri dengan minta-minta gandum sebagaimana diterangkan ayat-ayat
sebelumnya, lalu Nabi Yusuf a.s. mengambil
keputusan untuk membuka rahasia dirinya
yang sebenarnya kepada mereka; tetapi beliau membuka persoalan itu dengan cara
tidak langsung melainkan dengan cara menanyakan mengenai “perlakuan buruk” yang
telah mereka lakukan terhadap saudara
mereka seayah , yakni Nabi Yusuf
a.s. dan Benyamin.
Nabi
Yusuf a.s. tidak membiarkan
saudara-saudaranya dalam kegelisahan, dan seketika itu juga melenyapkan segala kekhawatiran dan kecemasan mereka
mengenai cara bagaimanakah beliau akan memperlakukan mereka, dengan segera
mengatakan bahwa beliau akan mengampuni
semua kesalahan mereka tanpa batas dan tanpa syarat apa pun.
Rahmatan- lil ‘Aalamiin Nabi Besar Muhammad Saw. & “Love For All Hatred For None” (Cinta Untuk Semua Tidak Ada
Kebencian Untuk Siapa pun)
Pengampunan Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudaranya
dengan kelapangan dan kemurahan hati merupakan persamaan yang paling besar dan menonjol
dengan Nabi Besar Muhammad saw.. Yakni seperti Nabi Yusuf a.s, beliau saw. pun
mencapai kemuliaan dan kekuasaan dalam masa hijrah dan pembuangan di Medinah, dan
ketika sesudah bertahun-tahun mengalami pembuangan, Nabi Besar Muhammad saw. memasuki
kota kelahiran beliau saw, Mekkah, sebagai penakluk
agung dengan memimpin 10.000 Sahabat, dan Mekkah bertekuk-lutut serta mencium duli telapak kaki beliau saw..
Pada kesempatan yang sangat bersejarah
tersebut Nabi Besar Muhammad saw. bertanya kepada kaum
beliau saw. perlakuan apa yang mereka harapkan dari beliau saw., mereka
menjawab: “Seperti perlakuan yang Nabi
Yusuf a.s. berikan kepada
saudara-saudaranya,” Segera beliau saw.menjawab: لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ -- “Tidak
ada celaan atas kamu pada hari ini.”
Perlakuan mulia Nabi Besar Muhammad saw. terhadap
musuh-musuh beliau saw. yang haus darah
-- yakni kaum Quraisy Mekkah, yang tidak ada
suatu kesempatan pun mereka biarkan untuk membunuh beliau saw. dan membinasakan
Islam sampai ke akar-akarnya -- adalah tidak ada bandingannya sepanjang sejarah umat manusia, selaras dengan misi pengutusan beliau saw. “sebagai rahmat bagi seluruh alam”, firman-Nya:
وَ مَاۤ اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا
رَحۡمَۃً لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan Kami
sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahwasa-nya Tuhan
kamu adalah Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya
hendaknya ka-mu berserah diri” (Al-Anbiya [21]:108-109).
Nabi Besar Muhammad saw. adalah pembawa rahmat untuk seluruh
umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum serta zaman tertentu. Dengan perantaraan
beliau saw. bangsa-bangsa dunia telah diberkati,
seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu: “Love for All Hatred For None”
(Cinta Untuk Semua Tidak Ada Kebencian Bagi Siapa pun).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
10 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar