Jumat, 11 November 2016

Islam (Al-Quran) dan Nabi Besar Muhammad Saw. Mengajarkan "Persaudaraan Ruhani" dan "Persaudaraan Kemanusiaan" Universal "LOVE FOR ALL HATRED FOR NONE (Cinta Untuk Semua Tidak Ada Kebencian Untuk Siapapun)





Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 58

  ISLAM (AL-QURAN) DAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MENGAJARKAN “PERSAUDARAAN RUHANI”   DAN “PERSAUDARAAN KEMANUSIAAN  UNIVERSAL -- LOVE FOR ALL HATRED F0R NONE” (CINTA UNTUK SEMUA   TIDAK ADA KEBENCIAN UNTUK SIAPAPUN)
 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 57 dikemukakan  mengenai  topik  Tidak Ada Permusuhan yang Abadi, Kecuali  Kedengkian Iblis Terhadap Adam yakni  sebagaimana kecuali Allah Swt. dan firman-Nya – khususnya Al-Quran (QS.15:10)  --   segala sesuatu selain-Nya tidak ada yang bersifat abadi  (QS.55:27-28), demikian pula halnya dengan “permusuhan” atau “perbedaan pendapat”, firman-Nya:
وَ لَا تَدۡعُ مَعَ اللّٰہِ  اِلٰـہًا اٰخَرَ ۘ لَاۤ  اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ۟ کُلُّ  شَیۡءٍ ہَالِکٌ  اِلَّا وَجۡہَہٗ ؕ لَہُ  الۡحُکۡمُ  وَ  اِلَیۡہِ  تُرۡجَعُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan janganlah engkau menyeru tuhan lain bersama Allah, tidak ada tuhan kecuali Dia. کُلُّ  شَیۡءٍ ہَالِکٌ  اِلَّا وَجۡہَہٗ  --  Segala sesuatu akan binasa kecuali Wujud-Nya. لَہُ  الۡحُکۡمُ  وَ  اِلَیۡہِ  تُرۡجَعُوۡنَ --   Kepunyaan-Nya segala hukum dan kepada-Nya kamu akan dikembalikan (Al-Qashash [28]:89).

Pentingnya Menyesuaikan Pemikiran dan Tindakan  (Perbuatan)  Dengan “Kehendak” Allah Swt.

      Wajh berarti: diri; muka (wajah), kepala suatu kaum (bangsa); tujuan atau maksud yang orang sedang kejar; tempat yang orang tuju atau mengarahkan perha-tiannya; kesenangan; karunia; kepentingan; dan sebagainya (Lexicon Lane). Firman-Nya lagi: 
کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ ﴿ۚۖ﴾   وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ ﴿ۚ﴾  فَبِاَیِّ  اٰلَآءِ  رَبِّکُمَا تُکَذِّبٰنِ ﴿﴾
Segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ  --   dan akan kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  Maka  nikmat-nikmat Rabb (Tuhan) kamu berdua yang manakah yang kamu kamu dustakan? (Ar-Rahmān [55]:27-29).
 Seluruh jagat raya (alam semesta) tunduk kepada hukum kerusakan dan kematian, dan oleh sebab itu jagat raya ini ditakdirkan akan binasa. Hanya Tuhan-lah Yang kekal, sebab Dia Berdiri Sendiri, Pemelihara segala sesuatu dan Diperlukan oleh segala sesuatu. 
  Demikian pula segala sesuatu berupa pemikiran dan tindakan yang bersesuaian dengan “kehendak Allah Swt.”   yang diajarkan para rasul Allah – khususnya Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.5:4; QS.3:20,32 & 86-88; QS.4:70-71) --  akan kekal sebab hal tersebut merupakan  kebenaran” (haq) yang hakiki, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا ﴿﴾  وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ ۙ وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا ﴿﴾
Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan  (kepalsuan) telah lenyap, sesungguhnya kebatilan (kepalsuan) itu pasti  lenyap.” وَ نُنَزِّلُ مِنَ الۡقُرۡاٰنِ مَا ہُوَ شِفَآءٌ وَّ رَحۡمَۃٌ  لِّلۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --   Dan  Kami  menurunkan dari Al-Quran suatu  penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman,  وَ لَا یَزِیۡدُ الظّٰلِمِیۡنَ   اِلَّا  خَسَارًا --  tetapi tidak menambah kepada orang-orang yang zalim melainkan kerugian.  (Bani Israil [17]:82-83).
  Inilah salah satu mukjizat gaya bahasa Al-Quran  bahwa ayat 82   mengemukakan salah satu contoh  semacam itu. Sesudah takluknya kota Mekkah (Fatah Mekkah), ketika Nabi Besar Muhammad saw.  saw. selagi membersihkan Ka’bah (Baitullah) dari berhala-berhala yang telah mengotorinya, beliau saw. berulang-ulang mengucapkan ayat tersebut sambil beliau  saw. memukuli berhala-berhala (Bukhari):  وَ قُلۡ جَآءَ الۡحَقُّ وَ زَہَقَ الۡبَاطِلُ ؕ اِنَّ الۡبَاطِلَ  کَانَ  زَہُوۡقًا -- “Dan katakanlah:  Haq yakni kebenaran telah datang dan kebatilan (kepalsuan) telah lenyap,  sesungguhnya kebatilan  (kepalsuan)itu pasti  lenyap.”

“Larangan Sementara” & Nubuatan “Terciptanya “Persaudaraan Ruhani

  Kembali kepada ayat:  کُلُّ  مَنۡ  عَلَیۡہَا  فَانٍ  --   segala sesuatu yang ada di atasnya  akan binasa, وَّ یَبۡقٰی وَجۡہُ  رَبِّکَ ذُو الۡجَلٰلِ وَ الۡاِکۡرَامِ  --   dan akan kekal hanyalah Wujud Rabb (Tuhan) engkau, Pemilik segala kemegahan dan kemuliaan.  .” (Ar-Rahmān [55]:27-29),  arti   wajh   pun    berarti pula:  apa yang ada di bawah pemeliharaan seseorang, yang terhadapnya seseorang mencurahkan perhatiannya (QS.28:89); barang itu sendiri; karunia, wajah (Aqrab-ul-Mawarid). 
  Karena bumi ini akan dilenyapkan dan benda-benda langit akan dilenyapkan semuanya dan seluruh alam jasmani dihilangsirnakan, tetapi akal manusia menuntut bahwa seyogyanya harus ada suatu Wujud Yang tidak akan pernah mati atau tunduk kepada hukum perubahan atau kerusakan. Wujud demikian adalah Tuhan Yang menciptakan seluruh alam semesta, yakni Allah Swt. (QS.1:2).
   Ayat yang sekarang dan ayat-ayat sebelumnya menunjuk kepada dua hukum alam yang tidak akan berubah dan bekerja secara serempak, yaitu: (1) segala sesuatu tunduk kepada hukum kemunduran, kerusakan, dan kematian; dan (2) sesuai dengan hukum Ilahi menjamin kesinambungan hidup.
    Demikian pula “permusuhan” pun tidak ada yang kekal,  walau pun  Allah Swt. melarang orang-orang yang beriman   di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  menjadikan orang-orang kafir Quraisy sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat),  tetapi  permusuhan umat Islam dengan  orang-orang kafir Quraisy Mekkah tersebut  hanya bersifat sementara  waktu, karena  menurut Allah Swt. akan datang masanya kedua-belah pihak yang sebelumnya “bermusuhan” sengit tersebut akan menjadi “bersaudara” dan saling mencintai, firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan dengan mereka, karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).

Ikhtisar Surah Al-Mumtahanah

   Ayat ini mengandung kabar gaib (nubuatan), yakni kepada para sahabat  Nabi Besar Muhammad saw.   diberitahukan bahwa  sebagai “Hizbullah” (golongan Allah) hakiki (QS.58:23; QS.5:55-57) mereka diperintahkan supaya menghentikan segala perhubungan bersahabat dengan musuh-musuh agama mereka, walaupun musuh itu mungkin keluarga sendiri yang mempunyai pertalian darah sangat dekat sekalipun, namun demikian larangan itu ditetapkan berlaku untuk jangka waktu singkat saja, sebelumnya Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا  لَا تَتَّخِذُوۡا عَدُوِّیۡ  وَ عَدُوَّکُمۡ  اَوۡلِیَآءَ  تُلۡقُوۡنَ اِلَیۡہِمۡ  بِالۡمَوَدَّۃِ  وَ قَدۡ کَفَرُوۡا بِمَا جَآءَکُمۡ  مِّنَ الۡحَقِّ ۚ یُخۡرِجُوۡنَ الرَّسُوۡلَ وَ  اِیَّاکُمۡ  اَنۡ  تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ رَبِّکُمۡ ؕ اِنۡ کُنۡتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِہَادًا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ ابۡتِغَآءَ  مَرۡضَاتِیۡ ٭ۖ  تُسِرُّوۡنَ اِلَیۡہِمۡ  بِالۡمَوَدَّۃِ ٭ۖ وَ اَنَا  اَعۡلَمُ  بِمَاۤ اَخۡفَیۡتُمۡ وَ مَاۤ  اَعۡلَنۡتُمۡ  ؕ وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡہُ مِنۡکُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ  سَوَآءَ  السَّبِیۡلِ ﴿﴾ اِنۡ  یَّثۡقَفُوۡکُمۡ یَکُوۡنُوۡا  لَکُمۡ  اَعۡدَآءً وَّ یَبۡسُطُوۡۤا اِلَیۡکُمۡ اَیۡدِیَہُمۡ وَ اَلۡسِنَتَہُمۡ بِالسُّوۡٓءِ  وَ  وَدُّوۡا  لَوۡ  تَکۡفُرُوۡنَ ؕ﴿﴾  لَنۡ  تَنۡفَعَکُمۡ اَرۡحَامُکُمۡ وَ لَاۤ  اَوۡلَادُکُمۡ ۚۛ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ۚۛ یَفۡصِلُ بَیۡنَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا  لَا تَتَّخِذُوۡا عَدُوِّیۡ  وَ عَدُوَّکُمۡ  اَوۡلِیَآءَ  تُلۡقُوۡنَ اِلَیۡہِمۡ  بِالۡمَوَدَّۃِ    --   Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-musuh-Ku dan musuh-musuh kamu sebagai awliya (sahabat-sahabat),  lalu kamu  menyampaikan berita kepada mereka karena kecintaan, وَ قَدۡ کَفَرُوۡا بِمَا جَآءَکُمۡ  مِّنَ الۡحَقِّ  --   padahal sungguh mereka telah mengingkari kebenaran yang telah datang kepada kamu  -- یُخۡرِجُوۡنَ الرَّسُوۡلَ وَ  اِیَّاکُمۡ  اَنۡ  تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ رَبِّکُمۡ   --  mereka  telah mengusir Rasul dan kamu sendiri karena kamu beriman kepada Allah Rabb (Tuhan) kamu.  اِنۡ کُنۡتُمۡ خَرَجۡتُمۡ جِہَادًا فِیۡ سَبِیۡلِیۡ وَ ابۡتِغَآءَ  مَرۡضَاتِیۡ   -- Jika kamu keluar berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku sebagian kamu se-cara sembunyi-sembunyi menyampaikan berita  kepada mereka karena kecintaan, وَ اَنَا  اَعۡلَمُ  بِمَاۤ اَخۡفَیۡتُمۡ وَ مَاۤ  اَعۡلَنۡتُمۡ     -- padahal Aku mengetahui  apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. وَ مَنۡ یَّفۡعَلۡہُ مِنۡکُمۡ فَقَدۡ ضَلَّ  سَوَآءَ  السَّبِیۡلِ  -- Dan barang-siapa dari antara kamu berbuat demikian maka sungguh ia benar-benar telah sesat dari jalan lurus. اِنۡ  یَّثۡقَفُوۡکُمۡ یَکُوۡنُوۡا  لَکُمۡ  اَعۡدَآءً --   Jika mereka menangkap kamu, mereka akan menjadi musuh-musuh bagi kamu   وَّ یَبۡسُطُوۡۤا اِلَیۡکُمۡ اَیۡدِیَہُمۡ وَ اَلۡسِنَتَہُمۡ بِالسُّوۡٓءِ  وَ  وَدُّوۡا  لَوۡ  تَکۡفُرُوۡنَ  -- dan akan menjangkaukan tangan mereka dan lidah mereka terhadap kamu dengan buruk, dan mereka selalu menginginkan supaya kamu menjadi kafir.    لَنۡ  تَنۡفَعَکُمۡ اَرۡحَامُکُمۡ وَ لَاۤ  اَوۡلَادُکُمۡ ۚۛ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ    --  Tidak akan pernah memberi manfaat kepada kamu kerabat-kerabat kamu dan tidak pula anak-anak kamu pada Hari Kiamat, یَفۡصِلُ بَیۡنَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ  بِمَا تَعۡمَلُوۡنَ بَصِیۡرٌ  --   Dia akan memberi keputusan di antara kamu, dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Al-Mumtahanah [60]:1-4).

Hakikat Larangan Menjalin Hubungan “Persahabatan” Hakiki Dengan “Orang-orang Kafir” Sambil  Mengorbankan Kepentingannya Sesama Muslim

  Surah Al-Mumtahanah   mulai dengan pelarangan tegas kepada orang-orang Islam mengikat tali persahabatan yang akrab   dengan orang-orang kafir yang berperang terhadap Islam dan berhasrat melenyapkan Islam,   yakni  Allah Swt. melarang menjadikan mereka sebagai wali (pelindung/penolong/sahabat) sambil mengenyampingkan orang-orang beriman, sebagaimana dikemukakan juga dalam firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَتَّخِذُوا الۡیَہُوۡدَ وَ النَّصٰرٰۤی اَوۡلِیَآءَ ۘؔ بَعۡضُہُمۡ اَوۡلِیَآءُ بَعۡضٍ ؕ وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman!  Janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani menjadi  pelindung, karena  sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّہُمۡ  مِّنۡکُمۡ فَاِنَّہٗ  مِنۡہُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ  الظّٰلِمِیۡنَ  --    Dan barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pelindung-pelindung   maka sesungguhnya ia dari mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Al-Maidah [5]:52).
  Perintah Allah Swt.  itu begitu tegas dan luas lingkupnya sehingga anggota-anggota keluarga yang mempunyai hubungan darah dekat sekalipun tidak dikecualikan dari larangan itu (QS.58:23). Larangan itu diikuti oleb suatu nubuatan yang tersirat di dalamnya bahwa amat segera musuh-musuh Islam yang tak kenal damai itu akan menjadi penganut-penganut Islam yang mukhlis, firman-Nya:  
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan dengan mereka, karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
  Tetapi perintah (larangan) itu mempunyai pengecualian. Perintah itu tidak berlaku terhadap orang-orang kafir yang mempunyai perhubungan baik sebagai tetangga dengan kaum Muslimin. Orang-orang kafir serupa itu harus diperlakukan dengan adil dan baik hati (QS.60:9).
  Kemudian Surah Al-Mumtahanah   memberi nasihat-nasihat penting mengenai perempuan-perempuan beriman  yang  hijrah ke Medinah, dan pula bertalian dengan kaum perempuan  yang meninggalkan Medinah dan menggabungkan diri dengan orang-orang kafir Mekkah (QS.60:11-13).
   Mengapa demikian? Sebab  tidak mustahil tujuan hijrahnya  perempuan-perempuan dari Mekkah ke Madinah  tidak semata-mata karena  mereka beriman kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. tetapi  memiliki tujuan-tujuan duniawi tertentu.  Demikian pula larangan laki-laki Muslim mempertahankan pernikahan mereka dengan perempuan-perempuan kafir pun dengan tujuan agar tidak terjadi  tindakan-tindakan pengkhianatan  yang akan merugikan kepentingan umat Islam. Masalah ini akan dijelaskan pada Bab berikutnya.
  Untuk menjelaskan kepada orang-orang Islam akan kepentingan perkara itu, Surah Al-Mumtahanah  berakhir dengan mengulangi lagi perintah bahwa orang-orang Islam tidak boleh mengadakan persahabatan dengan orang-orang yang memusuhi Islam, yang karena dengan terang-terangan mengambil sikap bermusuhan terhadap Islam  telah dimurkai Allah itu, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا لَا تَتَوَلَّوۡا قَوۡمًا غَضِبَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمۡ  قَدۡ یَئِسُوۡا مِنَ الۡاٰخِرَۃِ کَمَا یَئِسَ الۡکُفَّارُ  مِنۡ اَصۡحٰبِ  الۡقُبُوۡرِ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan sebagai sahabat kaum yang  Allah  murka atas mereka, sesungguhnya mereka telah berputus-asa mengenai akhirat sebagaimana orang-orang kafir telah berputus-asa mengenai orang-orang yang ada di dalam kubur. (Al-Mumtahanah  [60]:14).
  Kata-kata sesungguhnya mereka telah berputus asa mengenai alam ukhrawi, berarti bahwa mereka tidak beriman kepada alam ukhrawi seperti halnya mereka tidak percaya bahwa orang mati akan dibangkitkan kembali. Kata “mereka” dapat secara khusus dikenakan kepada orang-orang Yahudi karena ungkapan “yang Allah telah murka atas mereka” telah dipakai mengenai orang-orang Yahudi dalam beberapa ayat Al-Quran (QS:1-7; QS.2:66 & 91; QS.3:91;  QS.5:61; QS.7:167) akibat berulang-kalinya mereka melakukan kedurhakaan kepada Allah Swt. dan para rasul Allah (QS.2: 88-91).

Upaya Membocorkan “Rahasia Negara”                                                                                                                                                                              
Larangan  Allah Swt. dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 2  sangat tegas sifatnya. Orang-orang Islam tidak dibenarkan mempunyai perhubungan bersahabat dengan musuh-musuh Allah yang nyata – mereka yang mengusir Nabi Besar Muhammad saw. (QS.8:31; QS.9:40)  dan orang-orang Islam dari kampung halaman mereka (Mekkah) dan berusaha membinasakan Islam.
   Peristiwa yang langsung berkaitan dengan turunnya Surah Al-Mumtahanah ayat 2  adalah ketika kaum Quraisy mengkhianati Perjanjian Hudaibiyah (QS.48:1-11),  sehingga   Nabi Besar Muhammad saw.  terpaksa harus mengadakan tindakan keras terhadap mereka. Mengetahui rencana Nabi Besar Muhammad saw. tersebut, Hathib bin Abi Balta’ah seorang Muslim  di Medinah telah mengirim surat rahasia kepada kaum Mekkah, memberitahukan kepada mereka bahwa  Nabi Besar Muhammad saw. . berniat bergerak menyerang Mekkah.
   Nabi Besar Muhammad saw.      yang diberi tahu mengenai hal itu melalui wahyu Ilahi  mengutus ‘Ali bin Abu Thalib r.a., Zubair al-Awwam r.a. , dan Miqdad r.a.  mencari  dan mengejar si pembawa surat tersebut. Mereka berhasil menyusul utusan itu – seorang perempuan  – di tengah perjalanan menuju ke Mekkah, dan surat itu dibawa kembali ke Medinah.
   Pelanggaran Hathib bin Abi Balta’ah itu sangat berat. Ia telah berupaya membocorkan rahasia-negara yang penting. Ia layak dihukum sebagai contoh, tetapi ia dimaafkan  Nabi Besar Muhammad saw. karena ia melakukan pelanggaran itu dengan tidak disengaja  serta tanpa menyadari akibat-akibatnya yang sangat berbahaya. Kebetulan peristiwa surat itu menetapkan tanggal turun Surah Al-Mumtahanah ini. Demikian asbabun-nuzul diwahyukan-Nya Surah Al-Mumtahanah berkenaan dengan larangan  Allah Swt. kepada orang-orang beriman menjadi orang-orang kafir sebgai wali, firman-Nya:
لَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ   --  yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumah kamu,  اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ --  sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.    اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ   --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai  wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ  -- dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).

Suri-Teladan Nabi Ibrahim a.s. dan para Rasul Allah

  Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai suri-teladan  yang diperagakan  Nabi Ibrahim a.s. dan para rasul Allah lainnya dalam mengutamakan kecintaan kepada Allah Swt. daripada kepada selain-Nya  -- termasuk kedua orang tua mau pun karib kerabat lainnya:
قَدۡ کَانَتۡ لَکُمۡ  اُسۡوَۃٌ  حَسَنَۃٌ  فِیۡۤ اِبۡرٰہِیۡمَ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗ ۚ اِذۡ  قَالُوۡا لِقَوۡمِہِمۡ  اِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنۡکُمۡ وَ مِمَّا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۫  کَفَرۡنَا بِکُمۡ  وَ بَدَا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمُ  الۡعَدَاوَۃُ وَ الۡبَغۡضَآءُ  اَبَدًا حَتّٰی تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗۤ    اِلَّا  قَوۡلَ  اِبۡرٰہِیۡمَ  لِاَبِیۡہِ لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ  لَکَ وَ مَاۤ  اَمۡلِکُ لَکَ مِنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ ؕ رَبَّنَا عَلَیۡکَ تَوَکَّلۡنَا وَ اِلَیۡکَ اَنَبۡنَا وَ  اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾ رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَۃً  لِّلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ اغۡفِرۡ لَنَا رَبَّنَا ۚ اِنَّکَ  اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ لَقَدۡ کَانَ  لَکُمۡ  فِیۡہِمۡ  اُسۡوَۃٌ  حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ  یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ ؕ  وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّ  فَاِنَّ اللّٰہَ  ہُوَ الۡغَنِیُّ  الۡحَمِیۡدُ ٪﴿﴾
Sungguh bagi kamu ada contoh yang baik dalam diri Ibrahim  dan orang-orang yang besertanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka: اِنَّا بُرَءٰٓؤُا مِنۡکُمۡ وَ مِمَّا تَعۡبُدُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ۫  کَفَرۡنَا بِکُمۡ  وَ بَدَا بَیۡنَنَا وَ بَیۡنَکُمُ  الۡعَدَاوَۃُ وَ الۡبَغۡضَآءُ  اَبَدًا --   “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari perbuatan kamu. Dan telah nyata permusuhan serta kebencian di antara kami dan kamu untuk selama-lamanya حَتّٰی تُؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَحۡدَہٗۤ    -- hingga kamu beriman kepada Allah semata”,  اِلَّا  قَوۡلَ  اِبۡرٰہِیۡمَ  لِاَبِیۡہِ لَاَسۡتَغۡفِرَنَّ  لَکَ وَ مَاۤ  اَمۡلِکُ لَکَ مِنَ اللّٰہِ مِنۡ شَیۡءٍ -- kecuali yang dikatakan Ibrahim kepada bapaknya:  “Pasti aku akan memohonkan ampunan bagi engkau, tetapi aku sekali-kali tidak ber-daya menolong engkau sedikit pun terhadap Allah.”  رَبَّنَا عَلَیۡکَ تَوَکَّلۡنَا وَ اِلَیۡکَ اَنَبۡنَا وَ  اِلَیۡکَ الۡمَصِیۡرُ  -- Ibrahim berkata, ”Hai  Rabb (Tuhan) kami, kepada Engkau kami bertawakkal dan kepada Engkau kami tunduk serta kepada Engkau kami akan kembali. رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَۃً  لِّلَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا وَ اغۡفِرۡ لَنَا رَبَّنَا ۚ اِنَّکَ  اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  -- Hai Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menjadikan kami  ujian  bagi orang-orang kafir, dan ampunilah kami, hai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya Engkau Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” لَقَدۡ کَانَ  لَکُمۡ  فِیۡہِمۡ  اُسۡوَۃٌ  حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ  یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ  --    Sungguh bagi kamu dalam diri mereka benar-benar ada contoh yang baik bagi orang yang mengharapkan bertemu dengan Allah dan Hari Kemudian. وَ مَنۡ  یَّتَوَلَّ  فَاِنَّ اللّٰہَ  ہُوَ الۡغَنِیُّ  الۡحَمِیۡدُ ٪  --  Dan barangsiapa berpaling  maka sesungguhnya Allah  Dia Maha Kaya, Maha Terpuji. (Al-Mumtahanah [60]:1-4).
    Contoh mengenai Nabi Ibrahim a.s.  telah disebut di sini untuk  memberikan tekanan bahwa manakala telah menjadi jelas seorang atau beberapa orang tertentu memusuhi dan bermaksud melenyapkan kebenaran (Tauhid Ilahi)  maka segala perhubungan persahabatan dengan mereka harus dihentikan (QS.58:23).
 Ungkapan kafarnā bikum, yang biasanya diterjemahkan  kami mengingkari segala yang kamu percayai”, dapat pula diartikan  kami tidak mempunyai urusan dengan kamu.” Ungkapan kafara bikadza  berarti “ia m-nyatakan dirinya bersih atau bebas dari hal demikian” (Lexicon Lane).  

Pengampuan Nabi Yusuf a.s. Terhadap Kezaliman Saudara-saudaranya

   Kembali kepada firman-Nya berikut ini mengenai nubuatan akan terjadinya “persaudaraan ruhani” hakiki antara umat Islam dengan orang-orang kafir yang sebelumnya memusuhi dan menzalimi mereka:
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan dengan mereka, karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Pe-nyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
   Waktu itu telah kian mendekat dengan cepat  ketika musuh-musuh bebuyutan itu akan menjadi sahabat-sahabat mesra, yaitu setelah  terjadi Fatah Mekkah  (penaklukkan Mekkah) oleh Nabi Besar Muhammad saw.,  karena beliau saw. memberikan “pengampunan umum” sebagaimana yang dilakukan Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudaranya yang jahil (QS.12:90-93), firman-Nya:
قَالَ ہَلۡ عَلِمۡتُمۡ مَّا فَعَلۡتُمۡ بِیُوۡسُفَ وَ اَخِیۡہِ   اِذۡ  اَنۡتُمۡ  جٰہِلُوۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡۤا ءَاِنَّکَ لَاَنۡتَ یُوۡسُفُ ؕ قَالَ اَنَا یُوۡسُفُ وَ ہٰذَاۤ  اَخِیۡ ۫ قَدۡ مَنَّ اللّٰہُ عَلَیۡنَا ؕ اِنَّہٗ  مَنۡ یَّـتَّقِ وَ یَصۡبِرۡ  فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا  یُضِیۡعُ  اَجۡرَ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾  قَالُوۡا تَاللّٰہِ لَقَدۡ اٰثَرَکَ اللّٰہُ عَلَیۡنَا وَ  اِنۡ کُنَّا لَخٰطِئِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ ؕ یَغۡفِرُ اللّٰہُ  لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Yusuf, berkata:  “Apakah kamu mengetahui apa yang telah kamu lakukan terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kamu berbuat jahil kepadanya?”   Mereka berkata: “Apakah engkau ini Yusuf?” Ia berkata:  Ya, aku adalah Yusuf dan ini saudaraku, sungguh Allah telah melimpahkan karunia atas kami. Sesungguhnya barangsiapa bertakwa dan bersabar maka sesungguhnya   Allah   tidak akan menyia-nyiakan ganjaran orang-orang yang berbuat ihsan.”   Mereka berkata:  Demi Allah, sungguh Allah benar-benar telah me-lebihkan engkau di atas kami dan sesungguhnya kami benar-benar  orang-orang yang bersalah.”  قَالَ لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ  --  Ia berkata: “Tidak ada celaan bagi kamu pada hari ini, یَغۡفِرُ اللّٰہُ  لَکُمۡ ۫ وَ ہُوَ اَرۡحَمُ الرّٰحِمِیۡنَ  --  semoga Allah mengampuni kamu, dan Dia-lah Yang Paling Penyayang dari semua Penyayang.” (Yusuf [12]:90-93).
       Karena tak tahan lagi melihat saudara-saudaranya secara demikian merendahkan harkat mereka sendiri dengan minta-minta gandum sebagaimana diterangkan ayat-ayat sebelumnya, lalu Nabi Yusuf a.s.  mengambil keputusan untuk membuka rahasia dirinya yang sebenarnya kepada mereka; tetapi beliau membuka persoalan itu dengan cara tidak langsung melainkan dengan cara menanyakan mengenai “perlakuan buruk” yang telah mereka lakukan terhadap saudara mereka seayah  , yakni Nabi Yusuf a.s. dan Benyamin.
      Nabi Yusuf a.s.  tidak membiarkan saudara-saudaranya dalam kegelisahan, dan seketika itu juga melenyapkan segala kekhawatiran dan kecemasan mereka mengenai cara bagaimanakah beliau akan memperlakukan mereka, dengan segera mengatakan bahwa beliau akan mengampuni semua kesalahan mereka tanpa batas dan tanpa syarat apa pun.

Rahmatan- lil  ‘Aalamiin Nabi Besar Muhammad Saw. & “Love For All Hatred For None” (Cinta Untuk Semua Tidak Ada Kebencian Untuk Siapa pun)

       Pengampunan Nabi Yusuf a.s. terhadap saudara-saudaranya dengan kelapangan dan kemurahan hati merupakan persamaan yang paling besar dan menonjol dengan Nabi Besar Muhammad saw.. Yakni seperti Nabi Yusuf a.s, beliau saw. pun mencapai kemuliaan dan kekuasaan dalam masa hijrah dan pembuangan di Medinah, dan ketika sesudah bertahun-tahun mengalami pembuangan, Nabi Besar Muhammad saw. memasuki kota kelahiran beliau saw, Mekkah,  sebagai penakluk agung  dengan memimpin 10.000 Sahabat, dan Mekkah bertekuk-lutut serta  mencium duli telapak kaki beliau saw..
       Pada kesempatan yang sangat bersejarah  tersebut   Nabi Besar Muhammad saw. bertanya kepada kaum beliau saw.  perlakuan apa yang mereka harapkan dari beliau saw., mereka menjawab: “Seperti perlakuan yang Nabi Yusuf a.s.  berikan kepada saudara-saudaranya,” Segera beliau saw.menjawab:  لَا تَثۡرِیۡبَ عَلَیۡکُمُ الۡیَوۡمَ --     Tidak ada celaan atas kamu  pada hari ini.”
      Perlakuan mulia  Nabi Besar Muhammad saw.   terhadap musuh-musuh beliau saw. yang haus darah    -- yakni kaum Quraisy Mekkah, yang tidak ada suatu kesempatan pun mereka biarkan untuk membunuh beliau  saw. dan membinasakan Islam sampai ke akar-akarnya  --  adalah tidak ada bandingannya sepanjang sejarah umat manusia, selaras dengan misi pengutusan  beliau saw. “sebagai rahmat bagi seluruh alam”, firman-Nya: 
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنٰکَ اِلَّا رَحۡمَۃً  لِّلۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ اِنَّمَا یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ  اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Dan  Kami sekali-kali tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Katakanlah: “Sesungguhnya telah diwahyukan kepadaku, bahwasa-nya  Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Esa, maka kepada-Nya hendaknya ka-mu berserah diri” (Al-Anbiya [21]:108-109).
      Nabi Besar Muhammad saw.    adalah pembawa rahmat untuk seluruh umat manusia, sebab amanat beliau saw. tidak terbatas kepada suatu negeri atau kaum  serta zaman tertentu. Dengan perantaraan beliau saw.  bangsa-bangsa dunia telah diberkati, seperti belum pernah mereka diberkati sebelum itu: “Love for All Hatred For None” (Cinta Untuk Semua Tidak Ada Kebencian Bagi Siapa pun).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  10 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar