Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
62
TERJADINYA
DUA KALI AZAB ILAHI YANG MENIMPA BANI ISRAIL AKIBAT KUTUKAN
NABI DAUD A.S. DAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S. MEMBUKTIKAN SETIAP ORANG HARUS MEMIKUL AKIBAT BURUK DOSANYA MASING-MASING
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 61 dikemukakan topiK Allah
Swt. Tidak Membebani Manusia Melebihi
Kemampuannya sehubungan penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai kesia-siaan ajaran “Penebusan Dosa”.
Penjelasan Masih Mau’ud a.s.
tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam berbagai surah Al-Quran, dengan demikian ajaran Paulus mengenai “penebosan
dosa” melalui “kematian terkutuk di atas salib” Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. bertentangan
dengan keadilan, bahkan merupakan kezaliman terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s.,firman-Nya:
لَا یُکَلِّفُ
اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا
کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا
اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا
وَ لَا تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا
وَ لَا تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ
عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا
عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan
mendapat siksaan untuk apa yang
diusahakannya. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا -- Mereka berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah. رَبَّنَا وَ لَا تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا -- Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami
tanggung jawab seperti telah Engkau
bebankan atas orang-orang sebelum kami. رَبَّنَا وَ لَا تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہ -- Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnya, وَ اعۡفُ عَنَّا -- maafkanlah kami, وَ اعۡفُ عَنَّا
-- ampunilah kami, وَ ارۡحَمۡنَا -- dan kasihanilah
kami اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی
الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- karena
Engkau-lah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).
Tidak Melebihi Kemampuan
Manusia
Makna ayat:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ -- “Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan
mendapat siksaan untuk apa yang
di-usahakannya.” Ayat ini merupakan sanggahan yang kuat sekali terhadap itikad penebusan dosa dan mengandung dua asas penting:
(1) Bahwa perintah-perintah Ilahi senantiasa diberikan dengan memberi
perhatian yang sepenuhnya kepada kemampuan
manusia dan batas-batas kodratnya.
(2)
Bahwa kesucian akhlak di dunia ini
tidak seharusnya berarti bebas sepenuhnya
dari segala macam kelemahan dan kekurangan. Apa yang diharapkan untuk
dilakukan manusia ialah berjuang dengan
sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan
dan menjauhi dosa dengan sekuat
tenaga, sedangkan selebihnya Tuhan Yang
Maha Pemurah akan memaafkannya.
Oleh karena itu penebusan dosa sama sekali tidak diperlukan (QS.39:54).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ
اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ
کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ
فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ فِیۡہِ
تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Tuhan yang bukan-Allah, padahal Dia-lah
Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan
akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی
-- dan tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain. Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat
kembalimu, maka Dia akan memberitahu
kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:165).
Kutukan Dosa Tidak Bisa Dialihkan
Kepada Orang Lain
Sesuai
dengan firman-firman Allah Swt. tersebut
lebih jauh Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Umat Kristiani mestinya dapat
menunjukkan persyaratan apa yang bisa dikemukakan kitab
Injil untuk memberikan kepastian mengenai eksistensi
(keberadaan) Tuhan, karena kesadaran
demikian itulah yang memberikan wawasan
takut kepada Tuhan dan sarana guna memusnahkan dosa.
Bagaimana mungkin dosa dimusnahkan melalui cara
yang tidak berguna? Mereka ini
masih saja tidak menyadari betapa tidak realistik dan kelirunya anggapan yang menyatakan dosa seluruh umat manusia dipikulkan di
pundak satu orang
dimana kutukan
hukuman atas para pendosa diambil alih dari mereka lalu dikenakan pada
kalbu Yesus
semata.
Pandangan seperti itu mestinya berkonsekwensi bahwa setelah
itu -- dengan kekecualian Yesus sendiri --
semua manusia akan memperoleh kehidupan
yang suci dan
pemahaman
Ilahi,
sedangkan Yesus diluputkan
karena dibebani jutaan kutukan
dosa.
Namun
nyatanya jika kita perhatikan bagaimana manusia tetap saja menyandang dosa dan setiap manusia masih tetap merasakan
nafsu
yang diberikan alam kepadanya -- baik mereka itu beriman kepada Yesus atau pun tidak -- jelas terlihat bahwa para pendosa tetap saja tidak dibebaskan dari kehidupan mereka yang
kotor dan kutukan hukuman mereka nyatanya tidak beralih kepada Yesus.
Mengingat yang namanya kutukan
itu melekat
erat kepada obyek kutukannya,
bagaimana mungkin kutukan bisa dialihkan kepada Yesus? Alangkah tidak adilnya bahwa hukuman dari setiap pendosa dan pendurhaka
(tetapi karena mereka beriman kepada
Yesus) harus
dipikulkan ke pundak Yesus dan
mereka
sendiri menjadi terbebas dan suci kembali.
Kalau
rantai
rangkaian dosa yang tidak berujung ini -- yang akan terus
berlanjut sampai Hari Kiamat -- terus saja ditimpakan
atas diri Yesus yang malang, kapan beliau akan sempat terbebas dari segala kutukan? Berarti Yesus
tidak akan pernah lagi menikmati hari-hari dimana beliau bisa berteduh di bawah naungan kasih
Tuhan dan menikmati pencerahan dari nur pemahaman-Nya (makrifat-Nya).
Akidah seperti itu hanya akan membawa
manusia kepada anggapan
bahwa seorang
hamba Ilahi
yang suci mungkin saja diperlakukan secara tidak senonoh
sepanjang masa.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XIII, hlm. 63-64, London, 1984).
Kutukan Nabi Daud a.s. dan Kutukan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Kenyataan sejarah yang terjadi pada Bani Israil -- baik yang diterangkan dalam Bible
mau pun dalam Al-Quran -- yang mendapat
kutukan atau yang “memikul kutukan”
Allah Swt. bukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melainkan orang-orang durhaka dari kalangan Bani Israil, sedangkan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. –
sekali pun mengalami upaya pembunuhan
dari para pendurhaka di kalangan Bani Israil (QS.38:22-27; QS.4:156-159)
– kedua rasul Allah tersebut wafat
secara wajar dengan penuh kehormatan setelah
menyelesaikan tugas kerasulannya
(QS.21:79-84; QS.34:11-15; QS.23:51) --firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ وَ عِیۡسَی ابۡنِ
مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ
ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾ تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ
عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang yang kafir dari kalangan Bani Israil telah dilaknat
oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam,
hal demikian itu karena mereka
senantiasa durhaka dan melampaui
batas. Mereka tidak
pernah saling mencegah
dari kemungkaran yang di-kerjakannya, benar-benar sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- Engkau
melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (pelindung/penolong/sahabat),
لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ
اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ -- dan benar-benar
sangat buruk apa yang telah mereka
dahulukan bagi diri mereka yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- dan di
dalam azab inilah mereka akan kekal.
(Al-Maidah
[5]:79-81).
Dari antara semua nabi Bani Israil (QS.88-89) Nabi Daud a.s. dan Nabi
Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang
Yahudi. Penzaliman orang-orang
Yahudi terhadap Nabi Is a Ibnu Maryam a.s. mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada kayu
salib, sedangkan penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s. dari kaum
yang tak mengenal terima kasih itu tercermin di dalam Mazmurnya yang
sangat merawankan hati. Dari lubuk hati
yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s.
dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
mengutuk mereka.
Kutukan Nabi Daud a.s. mengakibatkan
orang-orang Bani Israil dihukum oleh
Nebukadnezar, yang menghancurluluhkan
Yerusalem dan membawa orang-orang
Bani Israil sebagai tawanan ke Babil pada tahun 556 sebelum Masehi,
sedangkan akibat kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai
rumah-ibadah dengan jalan menyembelih
babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam
rumah-ibadah itu (Matius
23:37-39).
Salah
satu di antara dosa-dosa besar yang
membangkitkan kemurkaan Allah
Swt. atas kaum Yahudi ialah – selain
senantiasa durhaka kepada Allah Swt.
dan para rasul Allah yang
dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-91) -- mereka tidak
melarang satu sama lain, terhadap kejahatan
yang begitu merajalela di
tengah-tengah mereka: کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا
کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- Mereka tidak pernah saling
mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat
buruk apa yang senantiasa mereka
kerjakan. تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا -- Engkau
melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai
wali (pelindung/penolong/sahabat), لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ
اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ -- dan benar-benar
sangat buruk apa yang telah mereka
dahulukan bagi diri mereka yaitu bahwa Allah murka
kepada mereka, وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ -- dan di
dalam azab inilah mereka akan kekal.
(Al-Maidah
[5]:81).
Dua kali Azab Ilahi yang
Menimpa Bani Isra’il
Sehubungan dengan firman Allah Swt. tersebut sejalan dengan kesaksian
Bible mengenai “kutuk” (Ulangan 28:5-46), yang dua kali menimpa Bani Israil -- yang sekali
gus sebagai nubuatan dan peringatan bagi Bani Isma’il (umat Islam) --
firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ اِلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ فِی
الۡکِتٰبِ
لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ
مَرَّتَیۡنِ وَ لَتَعۡلُنَّ عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا
عَلَیۡکُمۡ عِبَادًا
لَّنَاۤ اُولِیۡ بَاۡسٍ شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ
وَعۡدًا مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾ ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
جَعَلۡنٰکُمۡ اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا ﴿﴾ اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ لِیَسُوۡٓءٗا وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا
الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ اَوَّلَ مَرَّۃٍ وَّ لِیُتَبِّرُوۡا مَا
عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾ عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ
عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا
جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan telah
Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi
ini dua kali, dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan
kesombongan yang sangat besar.” Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama dari kedua
janji itu, Kami membangkitkan untuk menghadapimu
hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah,
dan itu merupakan suatu janji yang pasti
terlaksana. ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ
اَکۡثَرَ نَفِیۡرًا -- Kemudian Kami
mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan
untuk melawan mereka, dan Kami
memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan Kami
menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا -- Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan
bagi dirimu sendiri, dan jika
kamu berbuat buruk maka itu untuk dirimu sendiri. Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami
membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu
dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala
yang telah me-reka kuasai. عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا -- Boleh jadi kini Rabb (Tuhan) kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan
buruk, Kami pun akan kembali menimpakan
hukuman وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ حَصِیۡرًا -- dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam penjara
bagi orang-orang kafir. (Bani Israil [17]:5-9).
Tiada Kontradiksi antara Keadilan dan Rahmat Ilahi
Kedua
azab Ilahi yang menimpa Bani Israil tersebut sesuai dengan
firman Allah sebelum ini bahwa setiap
orang atau kaum harus memikul akibat buruk dosa-dosa yang dilakukan
mereka, firman-Nya:
قُلۡ
اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ
کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ
فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Tuhan yang bukan-Allah, padahal Dia-lah
Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” وَ لَا تَکۡسِبُ
کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا -- Dan tiada
jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ
اُخۡرٰی -- dan tidak
pula seorang pemikul beban memikul
beban orang lain. Kemudian
kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya
kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:165).
Sehubungan
dengan keadilan Allah Swt. dalam ayat
وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا -- Dan tiada
jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ
اُخۡرٰی -- dan tidak pula seorang pemikul beban
memikul beban orang lain” lebih jauh Masih
Mau’ud a.s. bersabda:
“Akidah
Kristiani yang menyatakan bahwa keadilan Ilahi
tidak bisa ditegakkan tanpa
suatu
penebusan
adalah suatu hal yang absurd (tidak masuk akal). Mereka meyakini kalau dalam aspek manusiawinya Yesus itu bersifat suci dari dosa, namun Tuhan mereka
telah membebani beliau tanpa
alasan dengan kutukan dosa seluruh umat manusia, suatu
hal yang bertentangan dengan fitrat keadilan Wujud-Nya sendiri. Hal ini menunjukkan sepertinya Tuhan mereka
itu tidak lagi mempedulikan segi
keadilan sama sekali.
Alangkah ganjilnya sesuatu
yang biasanya
dihindari orang
malah diterapkan
dalam bentuknya yang paling buruk. Biasanya manusia selalu berkepentingan bahwa keadilan harus ditegakkan dan kasih sesama dipelihara. Tetapi dengan menjagal seseorang yang tidak berdosa, mana mungkin ada keadilan yang ditegakkan dan mana mungkin ada laku kasih yang diperlihatkan.
Umat Kristen keliru jika beranggapan bahwa keadilan dan Sifat
Rahīm (Penyayang) tidak bisa ada bersama dalam Wujud Tuhan, karena menurut
mereka yang namanya fitrat keadilan menuntut penghukuman sedangkan Sifat Rahīm (Penyayang) menuntut adanya kesabaran. Mereka tidak
menyadari kalau keadilan Ilahi adalah juga Sifat Rahīm
(Maha Penyayang) Wujud-Nya.
Perlu
diingat bahwa fitrat dasar Allah
Swt. adalah Sifat Rahīm-Nya. Yang namanya keadilan akan mewujud setelah daya nalar dan kaidah (aturan) telah
ditegakkan. Keadilan
adalah juga Sifat Rahīm dalam bentuknya yang lain. Ketika seseorang
dikaruniai dengan akal
dan dengan
itu jadi menyadari batasan
dan kaidah
(aturan) Allah Swt.
maka ia
lalu menjadi subyek
dari keadilan.
Adapun
bagi Sifat Rahīm (Maha Penyayang) tidak ada persyaratan harus ada daya
nalar
dan penegakkan
kaidah (aturan). Karena Allah
Swt. berkehendak memuliakan manusia melalui
Sifat Rahīm-Nya maka Dia menetapkan peraturan dan batasan-batasan keadilan.
Karena itu bodoh sekali
menganggap ada kontradiksi di antara keadilan dan Sifat Rahīm.
Maut (Kematian) Bukan Buah dari Dosa
Agama Kristen mengajarkan bahwa maut (kematian)
yang dialami manusia dan hewan
adalah sebagai buah dari dosa. Anggapan seperti itu bisa dibantah dari dua arah:
Pertama, adalah suatu hal tidak bisa disangkal bahwa sebelum
munculnya sosok Adam sudah ada kehidupan lainnya dan mereka ini jelas mengalami kematian. Pada masa awal tersebut belum ada yang namanya Adam, karena itu mestinya tidak ada[1]
yang namanya dosa awal.
Lalu dari
mana datangnya maut (kematian)
jika tidak
ada dosa
yang katanya menjadi sumber maut?
Kedua, dengan kekecualian sebutir buah yang dimakan oleh Adam, ia (Adam)
sebelumnya tentunya telah menyantap
semua yang bisa dimakan di kebun tersebut, termasuk di antaranya hewan yang dimakan dagingnya. Hal ini
menunjukkan bahwa hewan sudah dibunuh sebelum terjadi yang katanya dosa Adam.
Misalnya pun tidak demikian,
sekurang-kurangnya Adam telah minum air,
karena makan dan minum itu beriringan, sedangkan riset
menunjukkan bahwa setiap tetes air
mengandung ribuan jasad renik (bakteri dan sebagainya). Jadi tidak bisa diragukan lagi bahwa sebelum ada yang namanya dosa Adam, sudah berjuta-juta
jasad renik yang mati.
Dengan demikian kita harus menyatakan secara tegas bahwa kematian bukanlah buah dari
dosa,
dan hal
ini mementahkan seluruh thesis agama Kristen.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld.XIII, hlm. 72-74,
London, 1984).
Dengan demikian benarlah pernyataan
Allah Swt. berikut ini mengenai hubungan erat antara perbuatan
buruk (dosa) yang dilakukan manusia dengan akibat buruk yang pasti menimpanya,
firman-Nya:
ذٰلِکَ بِمَا
قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ
لَیۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾ کَدَاۡبِ اٰلِ
فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
قَوِیٌّ شَدِیۡدُ
الۡعِقَابِ﴿﴾ ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ
حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ
سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
“Azab itu disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan
kamu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak zalim
terhadap hamba-hamba-Nya.” Seperti
keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang
sebelum mereka. کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ بِذُنُوۡبِہِمۡ -- Mereka kafir
terhadap Tanda-tanda Allah maka Allah
menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha keras dalam menghukum. ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak pernah
mengubah suatu nikmat yang telah
Dia anugerahkan kepada suatu kaum
hingga mereka mengubah keadaan
diri mereka sendiri, وَ اَنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- dan bahwa sesungguhnya
Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:52-54).
Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Kepada Allah Swt.
Ayat ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak pernah
mengubah suatu nikmat yang telah
Dia anugerahkan kepada suatu kaum
hingga mereka mengubah ke-adaan
diri mereka sendiri” mengemukakan satu Sunnatullāh (Hukum Allah
yang lazim), bahwa Allah Swt. tidak akan mengambil kembali
suatu nikmat yang telah dianugerahkan
oleh-Nya kepada suatu kaum,
selama belum ada perubahan memburuk
dalam keadaan mereka sendiri, yang
mengundang turunnya azab Ilahi kepada
kaum yang tidak bersyukur tersebut, firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ
اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman?
Dan Allah benar-benar Maha Menghargai, Maha
Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
Syukur dari pihak Allah Swt. terwujud dalam pemberian maghfirah (pengampunan) kepada hamba-hamba-Nya
atau memujinya
atau memandangnya dengan rasa puas, menghargai atau mengaruniai, dan seterusnya tentu saja membalas atau mengganjar
amal-amal shalehnya (Lexicon
Lane). Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya lagi berkenaan
dengan nasihat Nabi Musa a.s.
kepada Bani Israil -- kaum yang tidak tahu bersyukur
(QS.88:91) -- firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ
لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ
وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ
عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia
kepadamu, tetapi jika kamu
benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” (Ibrahim
[14]:8).
Syukr
(syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu
pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2)
Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang
berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan
membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a)
kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya
syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan
mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e)
tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah
memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
Syukr dari pihak Allah Swt. ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya
atau merasa puas terhadapnya, berkemauan
baik untuknya atau senang (ridha) kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya
(Lexicon Lane).
Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Allah Swt.
bila mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat sesuai dengan kehendak-Nya
berupa pengamalan hukum syariat, khususnya syariat
Islam (Al-Quran) sebagaimana yang difahami
dan dilaksanakan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai suri-teladan
terbaik (QS.3:32; QS.33:22).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
15 November 2016
[1]
Ini
adalah pandangan revolusioner Hadhrat Masih Mau’ud a .s. yang mendahului zaman
beliau karena bertentangan dengan anggapan manusia umumnya pada masa beliau
yang menganggap Adam sebagai makhluk pertama yang diciptakan Tuhan. Sekarang
ini sudah banyak temuan arkeologi yang
menunjukkan bahwa spesis manusia Australophitecine sudah ada sejak 1,6 juta
tahun yang lalu (bentuk awal manusia bahkan sudah diketahui ada sejak 5,3 juta
tahun yang lalu), sedangkan masa Adam belum sampai 7.000 tahun ke masa
sekarang. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar