Selasa, 15 November 2016

Terjadinya Dua Kali "Azab Ilahi" yang Menimpa Bani Israil Akibat "Kutukan" Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Membuktikan Setiap Orang "Harus Memikul Akibat Buruk Dosanya" Masing-masing



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 62

TERJADINYA DUA KALI AZAB ILAHI YANG MENIMPA BANI ISRAIL  AKIBAT KUTUKAN NABI DAUD A.S. DAN NABI ISA IBNU MARYAM A.S.  MEMBUKTIKAN SETIAP ORANG HARUS MEMIKUL AKIBAT BURUK DOSANYA MASING-MASING

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 61 dikemukakan   topiK  Allah Swt. Tidak Membebani Manusia Melebihi Kemampuannya  sehubungan penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai kesia-siaan ajaran “Penebusan Dosa”.    Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam berbagai surah Al-Quran,  dengan demikian ajaran Paulus mengenai “penebosan dosa” melalui “kematian terkutuk di atas salib” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  bertentangan dengan keadilan, bahkan merupakan kezaliman terhadap Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.,firman-Nya:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya.  رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا --  Mereka berkata:  “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah.   رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا --   Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہ --  Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnya,  وَ اعۡفُ عَنَّا -- maafkanlah kami, وَ اعۡفُ عَنَّا  -- ampunilah kami,  وَ ارۡحَمۡنَا -- dan  kasihanilah kami  اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- karena Engkau-lah Pelindung kami,  maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).

Tidak Melebihi  Kemampuan Manusia

       Makna ayat:  لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ  -- “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang di-usahakannya.”    Ayat  ini merupakan sanggahan yang kuat sekali terhadap itikad penebusan dosa dan mengandung dua asas penting:
      (1) Bahwa perintah-perintah Ilahi senantiasa diberikan dengan memberi perhatian yang sepenuhnya kepada kemampuan manusia dan batas-batas kodratnya.
      (2) Bahwa kesucian akhlak di dunia ini tidak seharusnya berarti bebas sepenuhnya dari segala macam kelemahan dan kekurangan. Apa yang diharapkan untuk dilakukan manusia ialah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan dan menjauhi dosa dengan sekuat tenaga, sedangkan selebihnya Tuhan Yang Maha Pemurah akan memaafkannya. Oleh karena itu  penebusan dosa sama sekali tidak diperlukan (QS.39:54).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah:  ”Apakah aku akan mencari Tuhan  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah  Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی  -- dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain.  Kemudian kepada Rabb (Tuhan)  kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:165).

Kutukan Dosa Tidak Bisa Dialihkan Kepada Orang Lain

      Sesuai dengan firman-firman Allah Swt. tersebut  lebih jauh  Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
      Umat Kristiani mestinya dapat menunjukkan persyaratan apa yang bisa dikemukakan kitab Injil untuk memberikan kepastian mengenai eksistensi (keberadaan) Tuhan,  karena kesadaran demikian itulah yang memberikan wawasan takut kepada Tuhan dan sarana guna memusnahkan dosa.
       Bagaimana mungkin dosa dimusnahkan melalui cara yang tidak berguna? Mereka ini masih saja tidak menyadari betapa tidak realistik dan kelirunya anggapan yang menyatakan dosa seluruh umat manusia dipikulkan di pundak satu orang dimana kutukan hukuman atas para pendosa diambil alih dari mereka lalu dikenakan pada kalbu Yesus semata.
       Pandangan seperti itu mestinya berkonsekwensi bahwa setelah itu   -- dengan kekecualian Yesus sendiri  --  semua manusia akan memperoleh kehidupan yang suci dan pemahaman Ilahi, sedangkan Yesus diluputkan  karena dibebani jutaan  kutukan dosa.  
   Namun nyatanya jika kita perhatikan bagaimana manusia tetap saja menyandang dosa dan setiap manusia masih tetap merasakan nafsu yang diberikan alam kepadanya -- baik mereka itu beriman kepada Yesus atau pun tidak --  jelas terlihat bahwa para pendosa tetap saja tidak dibebaskan dari kehidupan mereka yang kotor dan kutukan hukuman mereka nyatanya tidak beralih kepada Yesus.
     Mengingat yang namanya kutukan itu melekat erat kepada obyek kutukannya, bagaimana mungkin kutukan bisa dialihkan kepada Yesus? Alangkah tidak adilnya bahwa hukuman dari setiap pendosa dan pendurhaka (tetapi karena mereka beriman kepada Yesus) harus dipikulkan ke pundak Yesus dan mereka sendiri menjadi terbebas dan suci kembali.
     Kalau rantai rangkaian dosa yang tidak berujung ini -- yang akan terus berlanjut sampai Hari Kiamat -- terus saja ditimpakan atas diri Yesus yang malang, kapan beliau akan sempat terbebas dari segala kutukan? Berarti Yesus tidak akan pernah lagi menikmati hari-hari dimana beliau bisa berteduh di bawah naungan kasih Tuhan dan menikmati pencerahan dari nur pemahaman-Nya (makrifat-Nya).
     Akidah seperti itu hanya akan membawa manusia kepada anggapan bahwa seorang hamba Ilahi yang suci mungkin saja diperlakukan secara tidak senonoh sepanjang masa.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 63-64, London, 1984).

Kutukan Nabi Daud a.s. dan Kutukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

       Kenyataan sejarah   yang terjadi pada Bani Israil   --  baik yang diterangkan dalam Bible mau pun dalam Al-Quran  --  yang mendapat kutukan atau yang “memikul kutukan” Allah Swt.    bukan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. melainkan orang-orang durhaka dari kalangan Bani Israil, sedangkan  Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.   – sekali pun mengalami upaya pembunuhan dari para pendurhaka di kalangan Bani Israil (QS.38:22-27; QS.4:156-159) – kedua rasul Allah   tersebut wafat secara wajar  dengan penuh kehormatan setelah  menyelesaikan tugas kerasulannya (QS.21:79-84; QS.34:11-15; QS.23:51)  --firman-Nya:
لُعِنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡۢ بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ عَلٰی لِسَانِ دَاوٗدَ  وَ عِیۡسَی ابۡنِ مَرۡیَمَ ؕ ذٰلِکَ بِمَا عَصَوۡا وَّ کَانُوۡا یَعۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا ؕ لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Orang-orang  yang kafir  dari kalangan Bani Israil telah   dilaknat oleh lidah Daud dan Isa ibnu Maryam, hal demikian itu karena mereka senantiasa durhaka dan melampaui batas.   Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang di-kerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan.    تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  --  Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir sebagai wali (pelindung/penolong/sahabat),  لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ   -- dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  -- dan di dalam azab inilah mereka akan kekal. (Al-Maidah [5]:79-81).
       Dari antara semua nabi Bani Israil (QS.88-89) Nabi Daud a.s.  dan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tergolong paling menderita di tangan orang-orang Yahudi. Penzaliman orang-orang Yahudi terhadap Nabi Is a Ibnu Maryam a.s.  mencapai puncaknya, ketika beliau dipakukan pada  kayu salib, sedangkan  penderitaan serta kepapaan yang dialami oleh Nabi Daud a.s.  dari kaum yang tak mengenal terima kasih itu  tercermin di dalam Mazmurnya yang sangat merawankan hati. Dari lubuk hati yang penuh kepedihan Nabi Daud a.s. dan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. mengutuk mereka.
     Kutukan Nabi Daud a.s.  mengakibatkan orang-orang Bani Israil dihukum oleh Nebukadnezar, yang menghancurluluhkan Yerusalem dan membawa orang-orang Bani Israil sebagai tawanan  ke Babil pada tahun 556 sebelum Masehi, sedangkan akibat kutukan Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s. mereka ditimpa bencana dahsyat, karena Titus yang menaklukkan Yerusalem dalam tahun ± 70 Masehi, membinasakan kota dan menodai rumah-ibadah dengan jalan menyembelih babi — binatang yang sangat dibenci oleh orang-orang Yahudi — di dalam rumah-ibadah itu (Matius 23:37-39).
       Salah satu di antara dosa-dosa besar yang membangkitkan kemurkaan   Allah Swt. atas kaum Yahudi ialah – selain senantiasa  durhaka kepada Allah Swt. dan para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.2:88-91) --  mereka tidak melarang satu sama lain, terhadap kejahatan yang begitu merajalela di tengah-tengah mereka:  کَانُوۡا لَا یَتَنَاہَوۡنَ عَنۡ مُّنۡکَرٍ فَعَلُوۡہُ ؕ لَبِئۡسَ مَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ -- Mereka tidak pernah  saling mencegah dari kemungkaran yang dikerjakannya, benar-benar sangat  buruk apa yang senantiasa  mereka kerjakan.    تَرٰی کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ یَتَوَلَّوۡنَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا  --  Engkau melihat kebanyakan dari mereka menjadikan orang-orang kafir  sebagai  wali (pelindung/penolong/sahabat),  لَبِئۡسَ مَا قَدَّمَتۡ لَہُمۡ اَنۡفُسُہُمۡ اَنۡ سَخِطَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ   -- dan benar-benar sangat buruk apa yang telah  mereka dahulukan  bagi diri mereka   yaitu bahwa Allah  murka kepada mereka, وَ فِی الۡعَذَابِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ  -- dan di dalam azab inilah mereka akan kekal. (Al-Maidah [5]:81).

Dua kali Azab Ilahi yang Menimpa Bani Isra’il

      Sehubungan dengan firman Allah Swt. tersebut  sejalan dengan  kesaksian Bible mengenai “kutuk  (Ulangan 28:5-46), yang dua kali menimpa Bani Israil  -- yang sekali gus sebagai nubuatan dan peringatan bagi Bani Isma’il (umat Islam)  -- firman-Nya:
وَ قَضَیۡنَاۤ  اِلٰی بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ فِی الۡکِتٰبِ لَتُفۡسِدُنَّ فِی الۡاَرۡضِ مَرَّتَیۡنِ  وَ لَتَعۡلُنَّ  عُلُوًّا کَبِیۡرًا ﴿﴾  فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ اُوۡلٰىہُمَا بَعَثۡنَا عَلَیۡکُمۡ  عِبَادًا  لَّنَاۤ   اُولِیۡ  بَاۡسٍ  شَدِیۡدٍ فَجَاسُوۡا خِلٰلَ الدِّیَارِ ؕ وَ کَانَ وَعۡدًا  مَّفۡعُوۡلًا ﴿﴾  ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا ﴿﴾  اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا ؕ فَاِذَا جَآءَ وَعۡدُ الۡاٰخِرَۃِ  لِیَسُوۡٓءٗا  وُجُوۡہَکُمۡ وَ لِیَدۡخُلُوا الۡمَسۡجِدَ کَمَا دَخَلُوۡہُ  اَوَّلَ مَرَّۃٍ  وَّ  لِیُتَبِّرُوۡا مَا عَلَوۡا تَتۡبِیۡرًا ﴿﴾  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا ۘ وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا ﴿﴾
Dan   telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Niscaya  kamu akan melakukan kerusakan di muka bumi ini dua kali,  dan niscaya kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang sangat besar.”   Apabila datang saat sempurnanya janji yang pertama  dari kedua janji itu,  Kami membangkitkan untuk menghadapimu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan tempur yang dahsyat, dan mereka menerobos jauh ke dalam rumah-rumah, dan itu merupakan suatu janji yang pasti terlaksana. ثُمَّ رَدَدۡنَا لَکُمُ الۡکَرَّۃَ عَلَیۡہِمۡ وَ اَمۡدَدۡنٰکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ جَعَلۡنٰکُمۡ  اَکۡثَرَ  نَفِیۡرًا   --   Kemudian Kami mengembalikan lagi kepada kamu kekuatan untuk melawan mereka, dan Kami memban-tu kamu dengan harta dan anak-anak, dan  Kami menjadikan kelompok kamu lebih besar dari sebelumnya. اِنۡ اَحۡسَنۡتُمۡ اَحۡسَنۡتُمۡ لِاَنۡفُسِکُمۡ ۟ وَ اِنۡ اَسَاۡتُمۡ فَلَہَا  --     Jika kamu berbuat ihsan, kamu berbuat ihsan  bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat buruk  maka itu untuk dirimu sendiri. Lalu bila datang saat sempurnanya janji yang kedua itu Kami membangkitkan lagi hamba-hamba Kami yang lain supaya mereka mendatangkan kesusahan kepada pemimpin-pemimpin kamu  dan supaya mereka memasuki masjid seperti pernah mereka memasukinya pada kali pertama, dan supaya mereka menghancurluluhkan segala yang telah me-reka kuasai.  عَسٰی رَبُّکُمۡ اَنۡ یَّرۡحَمَکُمۡ ۚ وَ اِنۡ عُدۡتُّمۡ عُدۡنَا --   Boleh jadi kini Rabb (Tuhan)  kamu akan menaruh kasihan kepadamu, tetapi jika kamu kembali kepada perbuatan buruk, Kami pun akan kembali menimpakan hukuman وَ جَعَلۡنَا جَہَنَّمَ لِلۡکٰفِرِیۡنَ  حَصِیۡرًا  -- dan ingatlah, Kami telah jadikan Jahannam  penjara bagi orang-orang kafir.  (Bani Israil [17]:5-9).

Tiada Kontradiksi antara Keadilan dan Rahmat Ilahi

     Kedua azab Ilahi yang menimpa Bani Israil tersebut sesuai dengan firman Allah sebelum ini bahwa setiap orang atau kaum harus memikul akibat buruk dosa-dosa yang dilakukan mereka, firman-Nya:
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah:  ”Apakah aku akan mencari Tuhan  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah  Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا --  Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی  -- dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain.  Kemudian kepada Rabb (Tuhan)  kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:165).
    Sehubungan dengan keadilan Allah Swt. dalam ayat  وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا --  Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی  -- dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain” lebih jauh Masih Mau’ud a.s. bersabda:    
     Akidah Kristiani yang menyatakan bahwa keadilan Ilahi tidak bisa ditegakkan tanpa suatu penebusan adalah suatu hal yang absurd (tidak masuk akal). Mereka meyakini kalau dalam aspek manusiawinya Yesus itu bersifat suci dari dosa, namun Tuhan mereka telah membebani beliau tanpa alasan dengan kutukan dosa seluruh umat manusia, suatu hal yang bertentangan dengan fitrat keadilan Wujud-Nya sendiri. Hal ini menunjukkan sepertinya Tuhan mereka itu tidak lagi mempedulikan segi keadilan sama sekali.
      Alangkah ganjilnya sesuatu yang biasanya dihindari orang malah diterapkan dalam bentuknya yang paling buruk. Biasanya manusia selalu berkepentingan bahwa keadilan harus ditegakkan dan kasih sesama dipelihara. Tetapi dengan menjagal seseorang yang tidak berdosa, mana mungkin ada keadilan yang ditegakkan dan mana mungkin ada laku kasih yang diperlihatkan.
      Umat Kristen keliru jika beranggapan bahwa keadilan dan Sifat Rahīm (Penyayang) tidak bisa ada bersama dalam Wujud Tuhan, karena menurut mereka yang namanya fitrat keadilan menuntut penghukuman sedangkan Sifat Rahīm  (Penyayang) menuntut adanya kesabaran. Mereka tidak menyadari kalau keadilan Ilahi adalah juga Sifat Rahīm  (Maha Penyayang) Wujud-Nya.
     Perlu diingat bahwa fitrat dasar   Allah Swt. adalah Sifat Rahīm-Nya. Yang namanya keadilan akan mewujud setelah daya nalar dan kaidah (aturan) telah ditegakkan. Keadilan adalah juga  Sifat Rahīm dalam bentuknya yang lain. Ketika seseorang dikaruniai dengan akal dan dengan itu jadi menyadari batasan dan kaidah (aturan) Allah Swt. maka ia lalu menjadi subyek dari keadilan.
    Adapun bagi  Sifat Rahīm (Maha Penyayang)  tidak ada persyaratan harus ada daya nalar dan penegakkan kaidah (aturan). Karena Allah Swt. berkehendak memuliakan manusia melalui  Sifat Rahīm-Nya  maka Dia menetapkan peraturan dan batasan-batasan   keadilan. Karena itu bodoh sekali menganggap ada kontradiksi di antara keadilan dan Sifat Rahīm.

Maut (Kematian) Bukan Buah dari  Dosa

    Agama Kristen mengajarkan bahwa maut (kematian) yang dialami manusia dan hewan adalah sebagai buah dari  dosa. Anggapan seperti itu bisa dibantah dari dua arah:
      Pertama, adalah suatu hal tidak bisa disangkal bahwa sebelum munculnya sosok Adam  sudah ada kehidupan lainnya dan mereka ini jelas mengalami kematian. Pada masa awal tersebut belum ada yang namanya Adam, karena itu mestinya tidak ada[1] yang namanya dosa awal. Lalu dari mana datangnya maut (kematian) jika tidak ada dosa yang katanya menjadi sumber maut?
      Kedua, dengan kekecualian sebutir buah yang dimakan oleh Adam, ia (Adam) sebelumnya tentunya telah menyantap semua yang bisa dimakan di kebun tersebut, termasuk di antaranya hewan yang dimakan dagingnya. Hal ini menunjukkan bahwa hewan sudah dibunuh sebelum terjadi yang katanya dosa Adam.
       Misalnya pun tidak demikian, sekurang-kurangnya Adam telah minum air, karena makan dan minum itu beriringan, sedangkan riset menunjukkan bahwa setiap tetes air mengandung ribuan jasad renik (bakteri dan sebagainya).  Jadi tidak bisa diragukan lagi bahwa sebelum ada yang namanya dosa Adam, sudah berjuta-juta jasad renik yang mati.
     Dengan demikian kita harus menyatakan secara tegas bahwa kematian bukanlah buah dari  dosa, dan hal ini mementahkan seluruh thesis agama Kristen.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld.XIII, hlm.  72-74, London, 1984).
        Dengan demikian benarlah pernyataan Allah Swt. berikut ini mengenai hubungan erat antara  perbuatan buruk (dosa)  yang dilakukan manusia dengan akibat buruk yang pasti menimpanya, firman-Nya:
ذٰلِکَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ لَیۡسَ  بِظَلَّامٍ   لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾  کَدَاۡبِ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ  کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ  بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ﴿﴾  ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ  ﴿ۙ﴾
“Azab itu disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan kamu dan   sesungguhnya Allah sekali-kali tidak zalim  terhadap hamba-hamba-Nya.”   Seperti keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ  بِذُنُوۡبِہِمۡ   --  Mereka kafir terhadap Tanda-tanda Allah maka Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ --  sesungguhnya Allah Mahakuat,  Maha keras dalam menghukum. ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ   --  Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya  Allah tidak   pernah  mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum  hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, وَ اَنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ    --   dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:52-54).

Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Kepada Allah Swt.

       Ayat     ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ   --  Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya  Allah tidak   pernah  mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum  hingga mereka mengubah ke-adaan diri mereka sendiri   mengemukakan satu Sunnatullāh (Hukum Allah  yang lazim), bahwa Allah  Swt. tidak akan mengambil kembali suatu nikmat yang telah dianugerahkan oleh-Nya kepada suatu kaum, selama belum ada perubahan memburuk dalam keadaan mereka sendiri, yang mengundang turunnya azab Ilahi kepada kaum yang tidak bersyukur  tersebut,  firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan  Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
   Syukur dari pihak  Allah Swt.   terwujud dalam pemberian maghfirah (pengampunan)  kepada hamba-hamba-Nya  atau memujinya atau memandangnya dengan rasa puas, menghargai atau mengaruniai, dan seterusnya tentu saja membalas atau mengganjar amal-amal shalehnya (Lexicon Lane). Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya lagi berkenaan dengan  nasihat  Nabi Musa a.s. kepada Bani Israil  -- kaum yang tidak tahu bersyukur  (QS.88:91) -- firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepadamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.” (Ibrahim [14]:8).
      Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
    Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
      Syukr dari pihak Allah  Swt.  ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang (ridha) kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane).
     Manusia  hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt. bila  mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat sesuai dengan kehendak-Nya berupa pengamalan  hukum syariat, khususnya syariat Islam (Al-Quran) sebagaimana yang difahami dan dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai suri-teladan terbaik (QS.3:32; QS.33:22).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  15 November 2016



[1] Ini adalah pandangan revolusioner Hadhrat Masih Mau’ud a .s. yang mendahului zaman beliau karena bertentangan dengan anggapan manusia umumnya pada masa beliau yang menganggap Adam sebagai makhluk pertama yang diciptakan Tuhan. Sekarang ini sudah banyak temuan  arkeologi yang menunjukkan bahwa spesis manusia Australophitecine sudah ada sejak 1,6 juta tahun yang lalu (bentuk awal manusia bahkan sudah diketahui ada sejak 5,3 juta tahun yang lalu), sedangkan masa Adam belum sampai 7.000 tahun ke masa sekarang. (Penterjemah/Khalid A.Qoyum)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar