Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
63
AGAMA ISLAM (AL-QURAN) PUNCAK PROSES PENYEMPURNAAN
HUKUM SYARIAT & MAKNA
ORANG-ORANG YANG “BANYAK BERDZIKIR ILAHI” YAKNI
ORANG-ORANG YANG BERTAKWA KEPADA
ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam Bab 62 dikemukakan mengenai hubungan
erat antara perbuatan buruk (dosa) yang dilakukan manusia dengan akibat buruk yang pasti menimpanya,
firman-Nya:
ذٰلِکَ بِمَا
قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ
لَیۡسَ بِظَلَّامٍ لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾ کَدَاۡبِ اٰلِ
فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
قَوِیٌّ شَدِیۡدُ
الۡعِقَابِ﴿﴾ ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ
حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ اللّٰہَ
سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾
“Azab itu disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan
kamu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak zalim
terhadap hamba-hamba-Nya.” Seperti
keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang
sebelum mereka. کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ بِذُنُوۡبِہِمۡ -- Mereka kafir
terhadap Tanda-tanda Allah maka Allah
menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, اِنَّ اللّٰہَ قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ -- sesungguhnya Allah Mahakuat, Maha keras dalam menghukum. ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak pernah
mengubah suatu nikmat yang telah
Dia anugerahkan kepada suatu kaum
hingga mereka mengubah keadaan
diri mereka sendiri, وَ اَنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ -- dan bahwa sesungguhnya
Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:52-54).
Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Kepada Allah Swt.
Ayat ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ -- Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah tidak pernah
mengubah suatu nikmat yang telah
Dia anugerahkan kepada suatu kaum hingga
mereka mengubah ke-adaan diri mereka
sendiri” mengemukakan satu Sunnatullāh (Hukum Allah
yang lazim), bahwa Allah Swt. tidak akan mengambil kembali
suatu nikmat yang telah dianugerahkan
oleh-Nya kepada suatu kaum,
selama belum ada perubahan memburuk
dalam keadaan mereka sendiri, yang
mengundang turunnya azab Ilahi kepada
kaum yang tidak bersyukur tersebut, firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ
اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman?
Dan Allah benar-benar Maha Menghargai, Maha
Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
Syukur dari pihak Allah Swt. terwujud dalam pemberian maghfirah (pengampunan) kepada hamba-hamba-Nya atau memujinya
atau memandangnya dengan rasa puas, menghargai atau mengaruniai, dan seterusnya tentu saja membalas atau mengganjar
amal-amal shalehnya (Lexicon
Lane). Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya lagi berkenaan
dengan nasihat Nabi Musa a.s.
kepada Bani Israil -- kaum yang tidak tahu bersyukur
(QS.88:91) -- firman-Nya:
وَ اِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّکُمۡ
لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ
وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ اِنَّ
عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Rabb (Tuhan) kamu
mengumumkan: Jika kamu benar-benar bersyukur niscaya
akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia
kepadamu, tetapi jika kamu
benar-benar tidak bersyukur
sesungguhnya azab-Ku sungguh
sangat keras.” (Ibrahim
[14]:8).
Syukr
(syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu
pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2)
Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang
berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan
membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a)
kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya
syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan
mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e)
tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah
memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
Syukr dari pihak Allah Swt. ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya
atau merasa puas terhadapnya, berkemauan
baik untuknya atau senang (ridha) kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya
(Lexicon Lane).
Pentingnya Beriman
Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. dan Memeluk Agama Islam
Manusia hanya dapat benar-benar bersyukur kepada Allah Swt.
bila mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat sesuai dengan kehendak-Nya
berupa pengamalan hukum syariat, khususnya syariat
Islam (Al-Quran) sebagaimana yang difahami
dan dilaksanakan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. sebagai suri-teladan
terbaik, sebab agama Islam
(Al-Quran) merupakan puncak proses
penyempurnaan hukum syariat
(QS.2:107; QS.5:4; QS.3:20 &86) dan Nabi Besar Muhammad saw. merupakan rasul Allah untuk seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), firman-Nya:
یَوۡمَ
تَجِدُ کُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَیۡرٍ مُّحۡضَرًا ۚۖۛ وَّ مَا عَمِلَتۡ
مِنۡ سُوۡٓءٍ ۚۛ تَوَدُّ لَوۡ اَنَّ بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَہٗۤ اَمَدًۢا بَعِیۡدًا ؕ
وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ رَءُوۡفٌۢ بِالۡعِبَادِ ﴿٪﴾ قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿۳۱﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا
اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Pada Hari ketika
setiap orang akan mendapati kebaikan apa pun yang telah dikerjakan dan kejahatan
apa pun yang telah dikerjakannya dihadirkan ke hadapannya, تَوَدُّ لَوۡ اَنَّ بَیۡنَہَا وَ
بَیۡنَہٗۤ اَمَدًۢا بَعِیۡدًا -- ia
sangat
menginginkan seandainya di antara
dia dan kejahatan itu
ada jarak jauh. وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ -- Dan Allah
memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya, وَ اللّٰہُ رَءُوۡفٌۢ بِالۡعِبَادِ -- dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya. قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ -- Katakanlah: ”Jika
kamu benar-benar mencintai Allah maka ikuti-lah aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali
‘Imran [3]:31-33)
Ayat 32
dengan tegas menyatakan bahwa tujuan
memperoleh kecintaan Ilahi setelah diutus-Nya Nabi Besar Muhammad.saw. sebagai rasul Allah pembawa syaariat terakhir
dan tersempurna dalam wujud agama Islam (Al-Quran - QS.5:4),
maka sejak itu upaya memperoleh kecintaan Ilahi tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.
Selanjutnya
ayat ini melenyapkan kesalahpahaman
yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan
dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan), karena itu betapa
pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebab pribadi
beliau saw. merupakan “suri-teladan
terbaik” dalam upaya meraih kecintaan
dan maghfirah (pengampunan) Allah
Swt., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya
bagi kamu, yaitu bagi orang yang
mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah (Al-Ahzab
[33]:22).
Makna Lain “Banyak Berdzikir Ilahi” & Alasan Pentingnya Memeluk Agama Islam
Allah Swt. dalam berbagai surah Al-Quran telah menyebut Al-Quran dengan kata adz-Dzikr (QS.3:59; QS.7:64; QS.15:10; QS16:45; QS.21:106; QS.36:70), jadi
seseorang pemeluk agama Islam
(Al-Quran) dapat dikatakan sebagai “orang yang banyak berdzikir Ilahi”
adalah apabila pemikiran dan pengamalannya sesuai dengan petunjuk Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., yakni sesuai dengan firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad
saw. dalam ayat: قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ -- Katakanlah: ”Jika
kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ
یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ -- maka ikutilah aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosamu” (Ali ‘Imran [3]:32).
Firman Allah Swt. tersebut sesuai
dengan ayat-ayat awal surah
Al-Baqarah, Allah Swt. telah
berfirman bahwa Al-Quran – sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) – merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾
Aku baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. الٓـمّٓ . ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ -- Inilah
Kitab yang sempurna itu, tidak
ada keraguan di da-lamnya,
ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ -- petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa.
(Al-Baqarah [2]:1-3).
Muttaqi (orang bertakwa) diserap dari
kata waqa yang mempunyai pengertian menjaga
diri terhadap apa-apa yang merugikan
dan memudaratkan. Wiqayah
berarti perisai, dan ittaqa bihi
(muttaqi itu bentuk ism fa’il dari ittaqa) berarti “ia menganggap dia atau sesuatu sebagai perisai” (Lexicon Lane).
Ubayy bin Ka’ab, sahabat Nabi Besar Muhammad saw. yang terkenal, tepat benar menerangkan
kata taqwa dengan memisalkan muttaqi (orang bertakwa) sebagai
seorang yang berjalan melalui semak-semak berduri, dengan segala ikhtiar yang mungkin ia menjaga
agar pakaiannya tidak tersangkut dan robek oleh duri-durinya (Tafsir
Ibnu Katsir).
Jadi muttaqi (orang yang
bertakwa) adalah orang yang senantiasa
berjaga-jaga terhadap dosa dan menganggap Allah Swt. sebagai perisainya atau pelindungnya dan sangat
hati-hati dalam melaksanakan tugas kewajibannya sesuai dengan petunjuk Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan
Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32).
Sesuai dengan arti muttaqi (orang yang bertakwa) itulah makna firman Allah Swt.:
وَ مَنۡ
یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی
اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ
اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ
ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ
الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama Islam,
maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan
di akhirat ia termasuk orang-orang yang
rugi. Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar,
dan juga telah datang kepada
mereka bukti-bukti yang nyata? Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86).
Tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman
kepada kebenaran seorang nabi
Allah yang dinubuatkan
sebelumnya dalam Kitab-kitab suci
sebelumnya (QS.2:147) dan menyatakan keimanan
mereka kepada nabi itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi, tetapi kemudian menolaknya karena takut
kepada penolakan mayoritas manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus. Atau, ayat itu dapat pula
mengisyaratkan kepada mereka yang beriman
kepada para nabi Allah terdahulu
tetapi menolak Nabi Besar Muhammad
saw., Rasul Allah yang diutus untuk
seluruh umat manusia (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).
Tanda-tanda Orang-orang Bertakwa
Kata-kata ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ -- “petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa” (QS.2:3) berarti pulabahwa petunjuk yang termuat dalam Al-Quran itu tidak terbatas. Al-Quran membantu
atau membimbing manusia mencapai
taraf kesempurnaan ruhani dan
menjadikannya semakin layak mendapat rahmat Ilahi. Ada pun mengenai tanda-tanda
atau ciri-ciri orang-orang
bertakwa tersebut Allah Swt. selanjutnya berfirman:
الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mendirikan shalat serta mereka membelanjakan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka. Dan orang-orang
yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau ,
juga kepada apa yang telah
diturunkan sebelum engkau dan kepada
akhirat pun mereka
yakin. الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ -- Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya) dan mereka
itulah orang-orang
yang berhasil. (Al-Baqarah
[2]:4-6).
Al-ghaib
berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak
terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid).
Allah Swt., para malaikat
dan hari kiamat, semuanya al-ghaib.
Lagi pula, kata ghaib yang digunakan
dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal
yang khayali dan tidak nyata,
melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19).
Oleh karena itu keliru sekali
menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus
Al-Quran dari Barat — bahwa Islam
memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak
dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya
dengan membabi buta.
Kata gaib
itu berarti hal-hal yang meskipun di
luar jangkauan indera manusia tetapi keberadaannya dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Sebab
yang tidak tertangkap oleh pancaindera
tidak senantiasa tak dapat diterima
oleh akal. Tidak ada dari
hal-hal gaib yang orang
Islam diminta agar beriman
kepadanya itu di luar jangkauan akal.
Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak
nampak tetapi terbukti adanya
dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang
pun dapat menolak kehadiran (keberadaan)
benda-benda itu.
Ritual Secara Jasmani dan
Pengaruhnya Terhadap Ruh
(Jiwa) Manusia
Anak
kalimat “mendirikan shalat” berarti:
mereka melakukan shalat dengan segala
syarat yang telah ditetapkan; aqama
berarti ia menempatkan benda atau perkara itu pada keadaan yang tepat (Lexicon Lane). Beribadah itu merupakan ungkapan lahiriah dari perhubungan batin manusia dengan Allah
Swt..
Tambahan
pula karunia
Ilahi meliputi baik jasmani
maupun ruh. Jadi ibadah
yang sempurna adalah saat ketika jasmani dan ruhani keduanya sama-sama berperan.
Tanpa keduanya jiwa sejati ibadah tidak dapat dipelihara, sebab meskipun pemujaan oleh hati itu merupakan isinya dan pemujaan oleh jasmani hanya kulitnya,
namun isi tidak dapat dipelihara tanpa kulit. Jika kulit binasa maka isinya pun pasti mengalami nasib yang sama, itulah makna
firman Allah Swt. mengenai hakikat penyembelihan
binatang kurban:
لَنۡ
یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا
دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ
لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Tidak akan pernah sampai kepada Allah dagingnya dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepa-da-Nya adalah ketakwaan
dari kamu. Demikianlah Dia menundukkan mereka untukmu supaya kamu mengagungkan Allah sesuai petunjuk kepadamu, dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang
berbuat ihsan. (Al-Hājj [22]:38).
Ayat ini menerangkan dengan sangat jelas intisari, rahasia, dan hakikat
serta tujuan dan maksud melakukan kurban. Ayat ini mengajarkan bahwa bukanlah perbuatan lahir upacara kurban yang
menarik keridhaan Ilahi, melainkan jiwa yang menjadi dasarnya dan niat yang
ada di belakangnya.
Daging atau darah binatang yang disembelih tidak
sampai kepada Allāh Swt., yang dapat diterima
oleh Allah Swt. adalah ketulusan hati yang melakukan pengorbanan binatang kurban atau harta yang dikorbankan di jalan Allah. Allah Swt. menuntut
dan menerima pengurbanan mutlak semua
(segala sesuatu) yang dekat dan dicintai oleh kita — hak milik duniawi
kita, cita-cita yang sangat kita cintai, kehormatan dan jiwa kita sendiri. – sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا
قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا
ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ
صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ
مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ
وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku
telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku)
kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama
Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah
dari orang-orang musyrik.” قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah:
“Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan)
seluruh
alam; لَا شَرِیۡکَ لَہٗ -- tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah orang pertama yang berserah diri. (Al-An’ām
[6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi
seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan
Nabi Besar Muhammad saw. disuruh
menyatakan bahwa semua segi kehidupan
di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt. semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada Allah Swt.,
semua pengorbanan dilakukan beliau saw.
untuk Dia; segala penghidupan
dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari maut (kematian) itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
Makna “Muslim” yang Hakiki
Mengisyaratkan kepada sikap penyerahan diri secara total
kepada Allah Swt. berlandaskan
ajaran Islam (Al-Quran) itulah sebutan muslim
(orang berserah diri) bagi para penganut agama
Islam (Al-Quran), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ -- bertakwalah
kepada Allsh dengan takwa yang
sebenar-benarnya, وَ لَا تَمُوۡتُنَّ اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- dan
janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah diri.
(Ali ‘Imran [3]:103).
Karena
kedatangan saat kematian tidak
diketahui, kita dapat berkeyakinan akan mati dalam keadaan berserah diri kepada
Allah Swt. hanya bila diri kita
senantiasa tetap dalam keadaan menyerahkan
diri kepada-Nya. Jadi ungkapan itu mengandung arti bahwa kita harus senantiasa
tetap patuh kepada Allah Swt..
Mengisyaratkan kepada sikap berserah
diri sepenuhnya kepada Allah Swt. --
berupa pengamalan petunjuk Al-Quran -- itulah
perintah Allah Swt. dalam firman
Allah-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ
کَآفَّۃً ۪ وَ لَا تَتَّبِعُوۡا
خُطُوٰتِ الشَّیۡطٰنِ ؕ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾فَاِنۡ
زَلَلۡتُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا
جَآءَتۡکُمُ الۡبَیِّنٰتُ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, ادۡخُلُوۡا فِی
السِّلۡمِ کَآفَّۃً -- masuklah
kamu ke dalam kepatuhan seutuhnya وَ لَا تَتَّبِعُوۡا
خُطُوٰتِ الشَّیۡطٰنِ -- dan janganlah
mengikuti langkah-langkah syaitan,
اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ -- sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika
kamu tergelincir sesudah datang kepadamu Tanda-tanda yang nyata, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Baqarah [2]:108-109).
Kāffah berarti: (1) semuanya; (2)
seutuhnya atau selengkapnya; (3) memukul mundur musuh dan (4) menahan diri
sendiri atau orang lain dari dosa dan penyelewengan (Mufradat).
Kembali kepada masalah pengorbanan di jalan Allah
sehubungan ayat: الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ -- “Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mendirikan shalat serta mereka membelanjakan sebagian dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka”
(QS.2:4). Pada hakikatnya Allah
Swt. tidak memerlukan atau menuntut
dari kita pengurbanan apa pun berupa
daging dan darah binatang-binatang
tetapi menuntut pengurbanan dari hati kita.
Namun demikian pikiran ini pun tidak
benar, bahwa karena bukan perbuatan
lahir dalam memberi kurban,
melainkan niat yang ada di belakangnya yang betul-betul mempunyai arti
maka amal perbuatan yang dilakukan secara lahir itu tidak penting,
sekali-kali tidak demikian.
Benar, kurban secara lahir itu
hanya kulit, sedang jiwa yang menjadi dasarnya adalah inti dan pati-sarinya, namun kulit
atau badan suatu barang -- seperti pula ruh dan intinya -- adalah
sangat penting, sebab tiada jiwa
dapat berwujud tanpa badan, dan tiada pati (sari) tanpa kulit,
itulah makna firman-Nya:
لَنۡ
یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا
دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا
لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Tidak akan pernah sampai kepada Allah dagingnya dan tidak pula darahnya, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari
kamu. Demikianlah Dia menundukkan mereka untukmu supaya kamu mengagungkan Allah sesuai petunjuk kepadamu, dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang
berbuat ihsan. (Al-Hājj [22]:38).
Makna “Rezeki” & Makna Lain “Beriman
Kepada Akhirat”
Rizq
dalam Al-Baqarah ayat 4 berarti
sesuatu yang dianugerahkan Allah
Swt. kepada manusia, baik
anugerah itu, bersifat kebendaan atau
selain itu (Mufradat). Jadi,
firman-Nya:
الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang gaib, dan mendirikan shalat وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ -- serta mereka
membelanjakan sebagian dari apa yang
Kami rezekikan kepada
mereka. Dan orang-orang yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga
kepada apa yang telah diturunkan sebelum
engkau dan kepada akhirat pun mereka
yakin. الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ -- Mereka itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb-nya (Tuhannya) dan mereka
itulah orang-orang
yang berhasil. (Al-Baqarah
[2]:4-6).
Ayat-ayat
ini menentukan tiga petunjuk dan menjelaskan tiga tingkat kesejahteraan ruhani
manusia:
(1) Ia harus beriman kepada kebenaran yang
tersembunyi dari pandangan mata
dan di luar jangkauan pancaindera,
sebab kepercayaan demikian menunjukkan bahwa ia mempunyai ketakwaan yang sejati.
(2) Bila ia merenungkan keajaiban alam
semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di
dalamnya (QS.67:1-5), dan bila sebagai hasil dari renungan itu ia menjadi yakin akan adanya Dzat Yang menciptakan
(QS.3:191-102) maka suatu hasrat
yang tidak dapat ditahan untuk mempunyai perhubungan
nyata dan benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat
tersebut terpenuhi dengan mendirikan
shalat.
(3) Akhirnya, ketika orang beriman itu berhasil menegakkan perhubungan yang hidup dengan
Khāliq-nya (Pencipta-nya), ia merasakan adanya dorongan batin untuk berbakti
kepada sesama manusia: “dan mereka
membelanjakan sebagian dari apa yang
Kami rezekikan kepada
mereka.”
Ayat-ayat selanjutnya mengemukakan cirri-cili lainnya dari “orang-orang
yang bertakwa”, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
“Dan orang-orang
yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga
kepada apa yang telah diturunkan sebelum
engkau -- وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ dan kepada akhirat pun mereka
yakin.” (Al-Baqarah
[2]:4-5).
Iman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. merupakan inti sejauh menyangkut hubungan iman kepada Rasul-rasul Allah (QS.2:286;
QS.4:66, 137). Dan ajaran Islam pun mewajibkan para pengikutnya beriman
bahwa ajaran semua nabi yang
terdahulu bersumber dari Allah Swt., sebab Allah Swt. mengutus utusan-utusan-Nya kepada semua kaum
(QS.13:8; QS.35:25).
Makna Lain “Beriman Kepada
Akhirat”
Al-ākhirah
(akhirat) dalam ayat: وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada akhirat pun mereka
yakin” berarti:
(1) tempat tinggal ukhrawi, yaitu kehidupan di hari kemudian setelah manusia mengalami kematian. Akhirat dalam makna ini telah
tercakup dalam ayata “beriman kepada yang gaib”, sebab adanya Allah Swt., para malaikat dan
adanya “kehidupan sesudah mati” merupakan hal-hal yang “gaib”.
(2) Mengingat ayat sebelumnya menerangkan pentingnya beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan beriman
para rasul
Allah yang telah diutus sebelum
beliau saw. (QS.7:35-37, maka makna lain al-akhirah
dari ayat وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada akhirat pun mereka
yakin” juga berarti beriman kepada rasul Allah
dan wahyu yang akan datang.
Arti kedua kata itu lebih lanjut diuraikan dalam QS.62:3-4; di sana
Al-Quran menyebut dua kebangkitan (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw. Kedatangan
beliau saw. untuk pertama kali terjadi di tengah orang-orang Arab dalam abad ke-7 Masehi,
ketika Al-Quran diwahyukan kepada
beliau saw., dan kedatangan beliau saw. yang kedua secara ruhani terjadi di Akhir Zaman dalam wujud seorang dari antara para pengikut hakiki beliau saw.. Nubuatan ini menjadi sempurna dalam wujud Mirza Ghulam Ahmad a.s. yakni Masih Mau’ud a.s., Pendiri
Jemaat Muslim Ahmadiyah, firman-Nya:
ہُوَ
الَّذِیۡ بَعَثَ فِی الۡاُمِّیّٖنَ
رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا
عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِہٖ وَ
یُزَکِّیۡہِمۡ وَ
یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ قَبۡلُ
لَفِیۡ ضَلٰلٍ مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾ وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾ ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾
Dia-lah Yang
telah membangkit-kan di kalangan bangsa
yang buta huruf seorang rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya, mensucikan
mereka, dan mengajarkan kepada
me-reka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata, وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka,
yang belum bertemu dengan me-reka.
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa,
Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ
اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ
ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ
-- Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya
kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
Tugas suci Nabi
Besar Muhammad saw. saw. meliputi
penunaian keempat macam kewajiban mulia
yang disebut dalam ayat 3. Tugas agung
dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau, sebab untuk kedatangan beliau
saw. di tengah-tengah orang-orang Arab
buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan
disertai putranya, Nabi Isma’il a.s., beliau
mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu
dapat benar-benar berhasil dalam misinya
bila ia tidak menyiapkan dengan contoh
mulia dan quat-qudsiahnya (daya
pensuciannya), suatu jemaat yang
pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa,
yang kepada mereka itu Nabi Besar
Muhammad saw. mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta
mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya
itu, kemudian mengirimkan
pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwah-kan ajaran itu kepada
bangsa lain.
Didikan yang Nabi Besar Muhammad saw. berikan kepada para pengikut beliau memperluas
dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman,
dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati.
Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh surah Al-Jumu’ah ayat 3.
Mewujudkan Nubuatan “Kejayaan Islam
Kedua Kali”
Ada pun makna ayat
selanjutnya: وَّ اٰخَرِیۡنَ
مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ
ہُوَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka,
yang belum bertemu dengan mereka.
Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa,
Maha Bijaksana.” Karena
Nabi Besar Muhammad saw. adalah
rasul Allah untuk seluruh umat manusia, karena itu ajaran beliau saw.
(Al-Quran) bukan hanya ditujukan
bukan kepada bangsa Arab saja -- yang di tengah-tengah bangsa itu
beliau saw. dibangkitkan -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga.
Demikian juga bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw.
saja melainkan juga kepada keturunan demi keturunan
manusia (Bani Adam) yang akan datang hingga Hari Kiamat (QS.7:35-37).
Atau ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ --
Dan juga akan membangkitkan-nya pada
kaum lain dari antara me-reka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” dapat juga berarti bahwa Nabi Besar Muhammad saw. akan dibangkitkan
lagi secara
ruhani di antara kaum yang belum
pernah tergabung dalam para pengikut
(para sahabah) semasa hidup beliau saw..
Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits
Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. ntuk kedua kali dalam wujud Masih Mau’ud
a.s. di Akhir Zaman ini. Abu Hurairah a.s. berkata: “Pada suatu hari kami sedang
duduk-duduk bersama Rasulullah saw. ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta
keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh
kata-kata Dan Dia akan
membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan
mereka?” – ketika itu Salman al-Farsi
(Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
Setelah saya
berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. sambil meletakkan
tangan beliau pada Salman dan
bersabda: “Bila iman telah terbang ke
Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
Hadits Nabi Besar Muhammad saw. ini menunjukkan bahwa ayat وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ --
Dan juga akan membangkitkan-nya pada
kaum lain dari antara me-reka, yang belum
bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah
Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana” dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi. Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, adalah dari
keturunan Parsi.
Hadits Nabi Besar Muhammad
saw. lainnya menyebutkan
kedatangan Al-Masih pada saat ketika
tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran
kecuali kata-katanya, dan tidak ada
yang tertinggal di dalam Islam selain
namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi), sesuai dengan nubuatan dalam QS.17:86-89; QS.32:6 berkenaan dengan “pencabutan ruh” manusia dan Al-Quran.
Jadi, Al-Quran dan hadits
kedua-duanya sepakat bahwa Surah Al-Jumu’ah ayat 4 menunjuk
kepada kedatangan kedua kali Nabi Besar Muhammad saw. dalam wujud Masih Mau’ud a.s. sebagai Rasul
Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama
dengan nama (sebutan) yang berbeda-beda
(QS.77:12) guna mengajak semua umat
beragama kepada agama yang hakiki
(Islam) dalam rangka mewujudkan kejayaan
Islam yang kedua kali dengan cara-cara yang penuh rahmat (QS.61:10).
Semua itu
terjadi semata-mata karena: ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ
یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ ذُو الۡفَضۡلِ
الۡعَظِیۡمِ -- Itulah karunia
Allah, Dia menganugerahkannya kepada
siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:5).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
16 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar