Rabu, 16 November 2016

Agama Islam (Al-Quran) Puncak "Penyempurnaan Hukum Syariat" & Makna Orang-orang yang "Banyak Berdzikir Ilahi" Yakni "Orang-orang yang Bertakwa" Kepada Allah Swt.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 63

AGAMA ISLAM (AL-QURAN) PUNCAK PROSES PENYEMPURNAAN HUKUM SYARIAT  & MAKNA ORANG-ORANG  YANG “BANYAK BERDZIKIR ILAHI  YAKNI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA KEPADA ALLAH SWT.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma



D
alam     Bab 62 dikemukakan  mengenai    hubungan erat antara  perbuatan buruk (dosa)  yang dilakukan manusia dengan akibat buruk yang pasti menimpanya, firman-Nya:
ذٰلِکَ بِمَا قَدَّمَتۡ اَیۡدِیۡکُمۡ وَ اَنَّ اللّٰہَ لَیۡسَ  بِظَلَّامٍ   لِّلۡعَبِیۡدِ ﴿ۙ﴾  کَدَاۡبِ اٰلِ فِرۡعَوۡنَ ۙ وَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ؕ  کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ  بِذُنُوۡبِہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ﴿﴾  ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ ۙ وَ اَنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ  ﴿ۙ﴾
“Azab itu disebabkan oleh apa yang telah didahulukan oleh tangan kamu dan   sesungguhnya Allah sekali-kali tidak zalim  terhadap hamba-hamba-Nya.”   Seperti keadaan kaum Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka. کَفَرُوۡا بِاٰیٰتِ اللّٰہِ  فَاَخَذَہُمُ اللّٰہُ  بِذُنُوۡبِہِمۡ   --  Mereka kafir terhadap Tanda-tanda Allah maka Allah menghukum mereka karena dosa-dosa mereka, اِنَّ اللّٰہَ  قَوِیٌّ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ --  sesungguhnya Allah Mahakuat,  Maha keras dalam menghukum. ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ   --  Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya  Allah tidak   pernah  mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum  hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri, وَ اَنَّ  اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ    --  dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:52-54).

Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Kepada Allah Swt.

       Ayat     ذٰلِکَ بِاَنَّ  اللّٰہَ  لَمۡ یَکُ مُغَیِّرًا  نِّعۡمَۃً اَنۡعَمَہَا عَلٰی قَوۡمٍ حَتّٰی یُغَیِّرُوۡا مَا بِاَنۡفُسِہِمۡ   --  Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya  Allah tidak   pernah  mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum  hingga mereka mengubah ke-adaan diri mereka sendiri   mengemukakan satu Sunnatullāh (Hukum Allah  yang lazim), bahwa Allah  Swt. tidak akan mengambil kembali suatu nikmat yang telah dianugerahkan oleh-Nya kepada suatu kaum, selama belum ada perubahan memburuk dalam keadaan mereka sendiri, yang mengundang turunnya azab Ilahi kepada kaum yang tidak bersyukur  tersebut,  firman-Nya:
مَا یَفۡعَلُ اللّٰہُ بِعَذَابِکُمۡ  اِنۡ شَکَرۡتُمۡ وَ اٰمَنۡتُمۡ ؕ وَ کَانَ اللّٰہُ شَاکِرًا عَلِیۡمًا ﴿﴾
Mengapa Allah akan mengazab kamu jika kamu bersyukur dan beriman? Dan  Allah  benar-benar Maha Menghargai,  Maha Mengetahui. (An-Nisa [4]:148).
     Syukur dari pihak  Allah Swt.   terwujud dalam pemberian maghfirah (pengampunan) kepada hamba-hamba-Nya  atau memujinya atau memandangnya dengan rasa puas, menghargai atau mengaruniai, dan seterusnya tentu saja membalas atau mengganjar amal-amal shalehnya (Lexicon Lane). Hal tersebut sesuai dengan firman-Nya lagi berkenaan dengan  nasihat  Nabi Musa a.s. kepada Bani Israil  -- kaum yang tidak tahu bersyukur  (QS.88:91) -- firman-Nya:
وَ اِذۡ  تَاَذَّنَ  رَبُّکُمۡ  لَئِنۡ شَکَرۡتُمۡ لَاَزِیۡدَنَّکُمۡ  وَ لَئِنۡ کَفَرۡتُمۡ  اِنَّ عَذَابِیۡ لَشَدِیۡدٌ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Rabb (Tuhan) kamu mengumumkan:  Jika kamu benar-benar bersyukur  niscaya  akan Ku-limpahkan lebih banyak karunia kepadamu, tetapi jika kamu benar-benar tidak bersyukur  sesungguhnya azab-Ku sungguh sangat  keras.” (Ibrahim [14]:8).
       Syukr (syukur) itu tiga macam: (1) Dengan hati atau pikiran, yaitu dengan satu pengertian yang tepat dalam hati mengenai manfaat yang diperolehnya; (2) Dengan lidah, yaitu dengan memuji-muji, menyanjung atau memuliakan orang yang berbuat kebaikan; dan (3) Dengan anggota-anggota badan, yaitu dengan membalas kebaikan yang diterima setimpal dengan jasa itu.
     Syukr bersitumpu pada lima dasar: (a) kerendahan hati dari orang yang menyatakan syukur itu kepada dia yang kepadanya syukur itu dinyatakan, (b) kecintaan terhadapnya; (c) pengakuan mengenai jasa yang dia berikan, (d) sanjungan terhadapnya untuk itu; (e) tidak mempergunakan jasa itu dengan cara yang ia (orang yang telah memberikannya) tidak akan menyukainya. Itulah syukr dari pihak manusia.
       Syukr dari pihak Allah  Swt.  ialah dengan mengampuni seseorang atau memujinya atau merasa puas terhadapnya,  berkemauan baik untuknya atau senang (ridha) kepadanya, dan oleh karena itu merasa perlu memberi imbalan atau mengganjarnya (Lexicon Lane).

Pentingnya Beriman Kepada Nabi Besar Muhammad  Saw. dan Memeluk Agama Islam

    Manusia  hanya dapat benar-benar bersyukur kepada  Allah Swt. bila  mempergunakan segala pemberian-Nya dengan tepat sesuai dengan kehendak-Nya berupa pengamalan  hukum syariat, khususnya syariat Islam (Al-Quran) sebagaimana yang difahami dan dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai suri-teladan terbaik, sebab agama Islam (Al-Quran) merupakan puncak  proses penyempurnaan hukum syariat (QS.2:107; QS.5:4; QS.3:20 &86) dan Nabi Besar Muhammad saw. merupakan rasul Allah untuk seluruh umat manusia  (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29), firman-Nya:
یَوۡمَ تَجِدُ کُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَیۡرٍ مُّحۡضَرًا ۚۖۛ وَّ مَا عَمِلَتۡ مِنۡ سُوۡٓءٍ ۚۛ تَوَدُّ لَوۡ اَنَّ بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَہٗۤ اَمَدًۢا بَعِیۡدًا ؕ وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ ؕ وَ اللّٰہُ رَءُوۡفٌۢ بِالۡعِبَادِ ﴿٪﴾ قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿۳۱﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Pada Hari  ketika setiap orang akan mendapati kebaikan apa pun yang telah dikerjakan dan  kejahatan apa pun yang telah dikerjakannya dihadirkan ke hadapannya,  تَوَدُّ لَوۡ اَنَّ بَیۡنَہَا وَ بَیۡنَہٗۤ اَمَدًۢا بَعِیۡدًا  --  ia sangat  menginginkan  seandainya di antara dia dan  kejahatan itu  ada jarak jauh.  وَ یُحَذِّرُکُمُ اللّٰہُ نَفۡسَہٗ   -- Dan Allah memperingatkan kamu terhadap hukuman-Nya,  وَ اللّٰہُ رَءُوۡفٌۢ بِالۡعِبَادِ --  dan Allah Maha Penyantun terhadap hamba-hamba-Nya. قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ   -- Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikuti-lah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu. وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --  Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah:    Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:31-33)
        Ayat 32  dengan tegas menyatakan bahwa tujuan memperoleh kecintaan Ilahi  setelah diutus-Nya  Nabi Besar Muhammad.saw. sebagai rasul Allah pembawa syaariat terakhir dan tersempurna dalam wujud agama Islam (Al-Quran - QS.5:4), maka  sejak itu upaya memperoleh kecintaan Ilahi  tidak mungkin terlaksana kecuali dengan mengikuti Nabi Besar Muhammad   saw.
       Selanjutnya ayat ini melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan), karena itu betapa pentingnya beriman kepada Nabi Besar Muhammad saw. sebab  pribadi beliau saw. merupakan “suri-teladan terbaik” dalam upaya meraih kecintaan dan maghfirah (pengampunan) Allah Swt., firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah  (Al-Ahzab [33]:22).

Makna Lain “Banyak Berdzikir Ilahi” &  Alasan Pentingnya Memeluk Agama Islam

       Allah Swt.  dalam berbagai surah Al-Quran telah menyebut Al-Quran dengan kata adz-Dzikr  (QS.3:59; QS.7:64; QS.15:10;  QS16:45; QS.21:106; QS.36:70),  jadi  seseorang pemeluk agama Islam (Al-Quran) dapat dikatakan sebagai  orang yang banyak berdzikir Ilahi” adalah apabila pemikiran dan pengamalannya sesuai dengan petunjuk Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.,  yakni sesuai dengan  firman Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. dalam ayat:  قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ  تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ   -- Katakanlah:  Jika kamu benar-benar mencintai Allah فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ  -- maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosamu” (Ali ‘Imran [3]:32).
       Firman Allah Swt. tersebut sesuai dengan  ayat-ayat awal  surah Al-Baqarah,  Allah Swt. telah berfirman bahwa Al-Quran – sebagai kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) – merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   الٓـمّٓ  ۚ﴿﴾   ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.      الٓـمّٓ    . ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ  --  Inilah Kitab yang sempurna itu,  tidak ada keraguan  di da-lamnya, ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ --   petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. (Al-Baqarah [2]:1-3).
       Muttaqi (orang bertakwa) diserap dari kata waqa yang mempunyai pengertian menjaga diri terhadap apa-apa yang merugikan dan memudaratkan. Wiqayah berarti perisai, dan ittaqa bihi (muttaqi itu bentuk ism fa’il dari ittaqa)  berarti “ia menganggap dia atau sesuatu sebagai perisai” (Lexicon Lane).
      Ubayy bin Ka’ab, sahabat  Nabi Besar Muhammad saw.   yang terkenal, tepat benar menerangkan kata taqwa dengan memisalkan muttaqi (orang bertakwa) sebagai seorang yang berjalan melalui semak-semak berduri, dengan segala ikhtiar yang mungkin ia menjaga agar pakaiannya tidak tersangkut dan robek oleh duri-durinya (Tafsir Ibnu Katsir).
       Jadi  muttaqi (orang yang bertakwa)  adalah orang yang senantiasa berjaga-jaga terhadap dosa dan menganggap Allah  Swt. sebagai perisainya atau pelindungnya dan sangat hati-hati dalam melaksanakan tugas kewajibannya  sesuai dengan petunjuk Al-Quran sebagaimana yang difahami dan diamalkan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32).
       Sesuai dengan   arti  muttaqi (orang yang bertakwa) itulah  makna firman Allah Swt.:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86).
       Tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi  Allah  yang dinubuatkan sebelumnya  dalam Kitab-kitab suci sebelumnya (QS.2:147) dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi, tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada penolakan mayoritas manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus. Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi Allah terdahulu tetapi menolak Nabi Besar Muhammad saw., Rasul Allah yang diutus untuk seluruh  umat manusia  (QS.7:159; QS.21:108; QS.25:2; QS.34:29).

Tanda-tanda Orang-orang Bertakwa

      Kata-kata ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ  --  petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (QS.2:3) berarti pulabahwa petunjuk yang termuat dalam Al-Quran itu tidak terbatas. Al-Quran membantu atau membimbing manusia mencapai taraf kesempurnaan ruhani dan menjadikannya semakin layak mendapat rahmat Ilahi. Ada pun mengenai  tanda-tanda  atau ciri-ciri orang-orang bertakwa tersebut Allah Swt. selanjutnya  berfirman:
 الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib, dan    mendirikan shalat  serta  mereka membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang  diturunkan kepada engkau , juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau  dan kepada  akhirat    pun mereka   yakin.   الۡمُفۡلِحُوۡنَ  اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ    -- Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas  petunjuk dari  Rabb-nya (Tuhannya)  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:4-6).
        Al-ghaib berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah Swt.,   para malaikat dan hari kiamat,  semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata ghaib yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19).
        Oleh karena itu keliru sekali menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
       Kata  gaib  itu berarti hal-hal yang meskipun di luar jangkauan indera manusia tetapi keberadaannya dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Sebab yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada dari hal-hal  gaib  yang orang Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak nampak tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran (keberadaan) benda-benda itu.

  Ritual Secara Jasmani  dan Pengaruhnya Terhadap  Ruh (Jiwa)  Manusia

       Anak kalimat “mendirikan shalat” berarti: mereka melakukan shalat dengan segala syarat yang telah ditetapkan; aqama berarti ia menempatkan benda atau perkara itu pada keadaan yang tepat (Lexicon Lane). Beribadah itu merupakan ungkapan lahiriah dari perhubungan batin manusia dengan Allah Swt..
       Tambahan pula  karunia Ilahi  meliputi baik jasmani  maupun ruh. Jadi ibadah yang sempurna adalah saat ketika jasmani dan ruhani keduanya sama-sama berperan. Tanpa keduanya jiwa sejati ibadah   tidak dapat dipelihara, sebab meskipun pemujaan oleh hati itu merupakan isinya dan pemujaan oleh jasmani hanya kulitnya, namun isi tidak dapat dipelihara tanpa kulit. Jika kulit binasa maka isinya pun  pasti  mengalami nasib yang sama, itulah makna firman Allah Swt. mengenai hakikat penyembelihan binatang kurban:
لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ  لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Tidak akan pernah  sampai kepada Allah dagingnya dan tidak pula darahnya,  tetapi yang sampai kepa-da-Nya adalah ketakwaan dari kamu.  Demikianlah Dia menundukkan mereka untukmu supaya kamu mengagungkan Allah sesuai petunjuk kepadamu, dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Hājj [22]:38).
        Ayat ini menerangkan dengan sangat jelas intisari, rahasia, dan hakikat serta tujuan dan maksud  melakukan kurban. Ayat ini mengajarkan bahwa bukanlah perbuatan lahir upacara kurban yang menarik keridhaan Ilahi, melainkan jiwa yang menjadi dasarnya dan niat yang ada di belakangnya.
       Daging atau darah binatang yang disembelih tidak sampai kepada Allāh Swt., yang dapat diterima oleh Allah Swt.  adalah ketulusan hati yang melakukan pengorbanan binatang kurban atau harta yang dikorbankan di jalan Allah.   Allah Swt.    menuntut dan menerima pengurbanan mutlak semua (segala sesuatu) yang dekat dan dicintai oleh kita — hak milik duniawi kita, cita-cita yang sangat kita cintai, kehormatan dan jiwa kita sendiri.  – sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ  لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.” قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ --  Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,  kehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam; لَا شَرِیۡکَ لَہٗ   --   tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ --  untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:162-164).  
  Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan  Nabi Besar Muhammad saw.  disuruh menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt.   semua amal ibadah beliau saw.  dipersembahkan kepada  Allah Swt.,  semua pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau  saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari maut (kematian)  itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Makna “Muslim” yang Hakiki

Mengisyaratkan kepada sikap penyerahan diri secara total kepada Allah Swt. berlandaskan ajaran  Islam (Al-Quran) itulah    sebutan muslim (orang berserah diri) bagi para penganut agama Islam (Al-Quran), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ    وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,  اتَّقُوا اللّٰہَ حَقَّ تُقٰتِہٖ     --  bertakwalah kepada Allsh dengan takwa yang sebenar-benarnya, وَ لَا تَمُوۡتُنَّ  اِلَّا وَ اَنۡتُمۡ  مُّسۡلِمُوۡنَ  -- dan  janganlah sekali-kali kamu mati kecuali kamu dalam keadaan berserah  diri. (Ali ‘Imran [3]:103).
       Karena kedatangan saat kematian tidak diketahui, kita dapat berkeyakinan akan mati dalam keadaan berserah  diri kepada Allah  Swt. hanya bila diri kita senantiasa tetap dalam keadaan menyerahkan diri kepada-Nya. Jadi ungkapan itu mengandung arti bahwa kita harus senantiasa tetap patuh kepada Allah Swt..
    Mengisyaratkan kepada sikap berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt.  -- berupa pengamalan petunjuk Al-Quran   -- itulah  perintah Allah Swt. dalam  firman Allah-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ  کَآفَّۃً  ۪ وَ لَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّیۡطٰنِ ؕ اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾فَاِنۡ زَلَلۡتُمۡ  مِّنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡکُمُ الۡبَیِّنٰتُ فَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّ اللّٰہَ عَزِیۡزٌ حَکِیۡمٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, ادۡخُلُوۡا فِی السِّلۡمِ  کَآفَّۃً    -- masuklah kamu ke dalam kepatuhan seutuhnya وَ لَا تَتَّبِعُوۡا خُطُوٰتِ الشَّیۡطٰنِ -- dan  janganlah mengikuti langkah-langkah syaitan, اِنَّہٗ لَکُمۡ عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ  --  sesungguhnya ia adalah musuh yang nyata bagimu.  Tetapi jika kamu tergelincir sesudah datang kepadamu Tanda-tanda yang nyata, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Al-Baqarah [2]:108-109).
      Kāffah berarti: (1) semuanya; (2) seutuhnya atau selengkapnya; (3) memukul mundur musuh dan (4) menahan diri sendiri atau orang lain dari dosa dan penyelewengan (Mufradat).
      Kembali kepada masalah pengorbanan  di jalan Allah sehubungan ayat:  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ    -- “Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib, dan    mendirikan shalat  serta  mereka membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka”  (QS.2:4). Pada hakikatnya  Allah Swt.  tidak memerlukan atau menuntut dari kita pengurbanan apa pun berupa daging dan darah binatang-binatang tetapi menuntut pengurbanan dari hati kita.
       Namun demikian pikiran ini pun tidak benar, bahwa karena bukan perbuatan lahir dalam memberi kurban, melainkan niat yang ada di belakangnya yang betul-betul mempunyai arti maka amal perbuatan yang dilakukan secara lahir itu tidak penting, sekali-kali tidak demikian.
      Benar, kurban secara lahir itu hanya kulit, sedang jiwa yang menjadi dasarnya adalah inti dan pati-sarinya, namun kulit atau badan suatu barang  --  seperti pula ruh dan intinya    -- adalah sangat penting, sebab tiada jiwa dapat berwujud tanpa badan, dan tiada pati (sari) tanpa kulit, itulah makna firman-Nya:
لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ  لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ ؕ کَذٰلِکَ سَخَّرَہَا لَکُمۡ لِتُکَبِّرُوا اللّٰہَ عَلٰی مَا ہَدٰىکُمۡ ؕ وَ بَشِّرِ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿﴾
Tidak akan pernah  sampai kepada Allah dagingnya dan tidak pula darahnya,  tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari kamu.  Demikianlah Dia menundukkan mereka untukmu supaya kamu mengagungkan Allah sesuai petunjuk kepadamu, dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang berbuat ihsan. (Al-Hājj [22]:38).

Makna “Rezeki” & Makna Lain “Beriman Kepada Akhirat

       Rizq dalam Al-Baqarah ayat 4  berarti  sesuatu yang dianugerahkan  Allah Swt.  kepada manusia, baik anugerah itu, bersifat kebendaan atau selain itu (Mufradat). Jadi, firman-Nya:
 الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib, dan    mendirikan shalat وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ  -- serta  mereka membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang  diturunkan kepada engkau, juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau  dan kepada  akhirat    pun mereka   yakin.   الۡمُفۡلِحُوۡنَ  اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ    -- Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas  petunjuk dari  Rabb-nya (Tuhannya)  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:4-6).
      Ayat-ayat  ini  menentukan tiga petunjuk dan menjelaskan tiga tingkat kesejahteraan ruhani manusia:
      (1) Ia harus beriman kepada kebenaran yang tersembunyi dari pandangan mata dan di luar jangkauan pancaindera, sebab kepercayaan demikian  menunjukkan bahwa ia mempunyai ketakwaan yang sejati.
     (2) Bila ia merenungkan keajaiban alam semesta dan tertib serta rancangan menakjubkan yang terdapat di dalamnya (QS.67:1-5), dan bila  sebagai hasil dari renungan itu ia menjadi yakin akan adanya Dzat Yang menciptakan  (QS.3:191-102) maka suatu hasrat yang tidak dapat ditahan untuk mempunyai perhubungan nyata dan benar dengan Dzat itu menguasai dirinya. Hasrat  tersebut terpenuhi dengan mendirikan shalat.
     (3) Akhirnya, ketika orang beriman itu berhasil menegakkan perhubungan yang hidup dengan Khāliq-nya (Pencipta-nya), ia merasakan adanya dorongan batin untuk berbakti kepada sesama manusia: “dan   mereka membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka.”
   Ayat-ayat selanjutnya mengemukakan cirri-cili lainnya dari “orang-orang yang bertakwa”, firman-Nya:   
وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
“Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang  diturunkan kepada engkau, juga kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau   -- وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ dan kepada  akhirat    pun mereka   yakin.”   (Al-Baqarah [2]:4-5).
         Iman kepada  Nabi Besar Muhammad saw.   merupakan inti sejauh menyangkut hubungan iman kepada Rasul-rasul  Allah (QS.2:286; QS.4:66, 137). Dan ajaran  Islam pun mewajibkan para pengikutnya beriman bahwa ajaran semua nabi yang terdahulu bersumber dari Allah Swt., sebab Allah Swt.  mengutus utusan-utusan-Nya kepada semua kaum (QS.13:8; QS.35:25).

Makna Lain “Beriman Kepada Akhirat

       Al-ākhirah (akhirat)  dalam ayat:  وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada  akhirat    pun mereka   yakin” berarti:
     (1) tempat tinggal ukhrawi, yaitu  kehidupan di hari kemudian setelah manusia mengalami kematian.   Akhirat dalam makna ini telah tercakup  dalam ayata “beriman kepada yang gaib”, sebab  adanya Allah Swt., para malaikat  dan  adanya “kehidupan sesudah mati  merupakan hal-hal yang “gaib”.
     (2)  Mengingat ayat sebelumnya  menerangkan pentingnya  beriman kepada  Nabi Besar Muhammad saw. dan  beriman para  rasul Allah yang telah diutus  sebelum beliau saw. (QS.7:35-37, maka makna  lain  al-akhirah  dari ayat  وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ -- “dan kepada  akhirat    pun mereka   yakin   juga berarti beriman kepada rasul Allah dan wahyu yang akan datang.
      Arti kedua kata itu lebih lanjut diuraikan dalam QS.62:3-4; di sana Al-Quran menyebut dua kebangkitan  (pengutusan) Nabi Besar Muhammad saw.    Kedatangan beliau saw. untuk pertama kali terjadi di tengah orang-orang Arab dalam abad ke-7 Masehi, ketika Al-Quran diwahyukan kepada beliau saw., dan kedatangan beliau saw. yang kedua secara ruhani  terjadi di Akhir Zaman dalam wujud seorang dari antara para pengikut  hakiki beliau saw.. Nubuatan ini menjadi sempurna dalam wujud  Mirza Ghulam Ahmad a.s.  yakni Masih Mau’ud a.s.,   Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, firman-Nya:
ہُوَ الَّذِیۡ  بَعَثَ فِی  الۡاُمِّیّٖنَ  رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ  یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ  اٰیٰتِہٖ  وَ  یُزَکِّیۡہِمۡ وَ  یُعَلِّمُہُمُ  الۡکِتٰبَ وَ  الۡحِکۡمَۃَ ٭ وَ  اِنۡ کَانُوۡا مِنۡ  قَبۡلُ  لَفِیۡ ضَلٰلٍ  مُّبِیۡنٍ ۙ﴿﴾       وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾   ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ ﴿﴾ 
Dia-lah Yang telah membangkit-kan di kalangan bangsa yang buta huruf seorang  rasul dari antara mereka, yang membacakan kepada mere-ka Tanda-tanda-Nya,  mensucikan mereka, dan mengajarkan kepada me-reka Kitab dan Hikmah walaupun sebelumnya mereka berada dalam kesesatan yang nyata,    وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan me-reka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana. ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia meng-anugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:3-5).
   Tugas suci Nabi Besar Muhammad saw.  saw. meliputi penunaian keempat macam kewajiban mulia yang disebut dalam ayat  3. Tugas agung dan mulia itulah yang dipercayakan kepada beliau, sebab untuk kedatangan beliau saw. di tengah-tengah orang-orang Arab buta huruf itu leluhur beliau, Nabi Ibrahim a.s., telah memanjatkan doa beberapa ribu tahun yang lampau ketika dengan disertai putranya, Nabi Isma’il   a.s., beliau mendirikan dasar (pondasi) Ka’bah (QS.2:128-130).
    Pada hakikatnya tidak ada Pembaharu dapat benar-benar berhasil dalam misinya bila ia tidak menyiapkan dengan contoh mulia dan quat-qudsiahnya (daya pensuciannya), suatu jemaat yang pengikut-pengikutnya terdiri dari orang-orang mukhlis, patuh, dan bertakwa, yang kepada mereka itu  Nabi Besar Muhammad saw. mula-mula mengajarkan cita-cita dan asas-asas ajarannya serta mengajarkan falsafat, arti, dan kepentingan cita-cita dan asas-asas ajaran-nya itu,  kemudian mengirimkan pengikut-pengikutnya ke luar negeri untuk mendakwah-kan ajaran itu kepada bangsa lain.
    Didikan yang  Nabi Besar Muhammad saw.  berikan kepada para pengikut beliau memperluas dan mempertajam kecerdasan mereka, dan filsafat ajaran beliau saw. menimbulkan dalam diri mereka keyakinan iman, dan contoh mulia beliau saw. menciptakan di dalam diri mereka kesucian hati. Kenyataan-dasar agama itulah yang diisyaratkan oleh surah Al-Jumu’ah ayat 3.

Mewujudkan Nubuatan  “Kejayaan Islam Kedua Kali”

   Ada pun makna ayat selanjutnya:  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”   Karena  Nabi Besar Muhammad saw.    adalah rasul Allah untuk seluruh umat manusia, karena itu ajaran beliau saw. (Al-Quran) bukan hanya  ditujukan bukan kepada bangsa Arab  saja -- yang di tengah-tengah bangsa itu beliau  saw. dibangkitkan  -- melainkan kepada seluruh bangsa bukan-Arab juga.  Demikian juga  bukan hanya kepada orang-orang sezaman beliau saw. saja   melainkan juga kepada keturunan demi keturunan manusia (Bani Adam) yang akan datang hingga Hari Kiamat (QS.7:35-37).
    Atau ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana     dapat juga berarti bahwa   Nabi Besar Muhammad saw.  akan dibangkitkan  lagi secara ruhani di antara kaum yang belum pernah tergabung dalam para pengikut (para sahabah) semasa hidup beliau saw..
    Isyarat di dalam ayat ini dan di dalam hadits Nabi saw. yang termasyhur, tertuju kepada pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.  ntuk kedua kali dalam wujud   Masih Mau’ud  a.s.  di Akhir Zaman ini. Abu Hurairah a.s.  berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw.   ketika Surah Jumu’ah diturunkan. Saya minta keterangan kepada Rasulullah saw.: “Siapakah yang diisyaratkan oleh kata-kata  Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum bertemu dengan mereka?” – ketika itu Salman al-Farsi (Salman asal Parsi) sedang duduk di antara kami.
   Setelah saya berulang-ulang mengajukan pertanyaan itu, Rasulullah saw. sambil meletakkan tangan beliau pada Salman dan bersabda: “Bila iman telah terbang ke Bintang Tsuraya, seorang lelaki dari mereka ini pasti akan menemukannya.” (Bukhari).
   Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  ini menunjukkan bahwa ayat  وَّ اٰخَرِیۡنَ مِنۡہُمۡ  لَمَّا یَلۡحَقُوۡا بِہِمۡ ؕ وَ ہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    -- Dan juga akan membangkitkan-nya pada kaum lain dari antara me-reka, yang belum bertemu dengan mereka. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana   dikenakan kepada seorang lelaki dari keturunan Parsi.  Masih Mau’ud a.s., Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, adalah dari keturunan Parsi.
    Hadits Nabi Besar Muhammad saw.  lainnya menyebutkan kedatangan Al-Masih pada saat ketika tidak ada yang tertinggal di dalam Al-Quran kecuali kata-katanya, dan tidak ada yang tertinggal di dalam Islam selain namanya, yaitu, jiwa ajaran Islam yang sejati akan lenyap (Baihaqi),  sesuai dengan nubuatan dalam QS.17:86-89; QS.32:6 berkenaan dengan “pencabutan ruh” manusia  dan Al-Quran.
   Jadi, Al-Quran dan hadits kedua-duanya sepakat bahwa  Surah Al-Jumu’ah ayat 4  menunjuk kepada kedatangan kedua kali  Nabi Besar Muhammad saw.  dalam wujud   Masih Mau’ud a.s.  sebagai Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan  nama (sebutan) yang berbeda-beda (QS.77:12) guna mengajak semua umat beragama kepada agama yang hakiki (Islam) dalam rangka mewujudkan kejayaan Islam yang kedua kali dengan cara-cara yang  penuh rahmat (QS.61:10).
   Semua itu terjadi semata-mata karena:  ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ  ذُو الۡفَضۡلِ الۡعَظِیۡمِ  --  Itulah karunia Allah, Dia menganugerahkannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (Al-Jumu’ah [62]:5).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  16 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar