Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
61
PENTINGNYA KESABARAN DAN KEBIJAKSANAAN MENGHADAPI INTIMIDASI PARA “PROVOKATOR” DI JALAN ALLAH &
PENTINGNYA ISTIGHFAR KETIKA MERAIH “KEMENANGAN” YANG DIJANJIKAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 60 dikemukakan mengenai ciri pendakwah Muslim yang hakiki (QS.41:34-35), bahwa anjuran (mengajak) kepada kebenaran sudah pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya,
firman-Nya:
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ قَوۡلًا
مِّمَّنۡ دَعَاۤ
اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَسۡتَوِی
الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ
اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ
اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya
dari orang yang mengajak manusia kepada
Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- serta berkata: ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri. وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ --
Dan tidaklah sama kebaikan
dan keburukan. اِدۡفَعۡ
بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ
بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah
keburukan itu dengan cara yang
sebaik-baik-nya maka tiba-tiba
ia, yang di antara engkau dan dirinya
ada permusuhan, akan menjadi seperti
seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا -- Dan
sekali-kali tidak dianugerahi itu
kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang yang memiliki bagian besar
dalam kebaikan. (Hā Mim – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).
“Pemilik Bagian Besar Dalam Kebaikan”
& Para “Provokator” di “Jalan Allah”
Ayat selanjutnya menasihatkan kepada si penganjur (penda’wah) supaya bersabar
dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan yang diterima dari penganiaya-penganiaya dengan
kebaikan: وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ --
Dan tidaklah sama kebaikan
dan keburukan. اِدۡفَعۡ
بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ
بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah
keburukan itu dengan cara yang
sebaik-baiknya,” sehingga hasilnya
adalah: فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ
عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ
حَمِیۡمٌ -- “maka tiba-tiba
ia yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia”.
Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. mengatakan
bahwa -- kecuali bagi orang-orang yang
meraih ذُوۡحَظٍّ عَظِیۡمٍ (pemilik bagian besar dalam kebaikan) --
melakukan “jihad” berupa melaksanakan da’wah yang hakiki seperti itu sangat berat karena yang dihadapi kadang-kadang berupa “manusia-manusia syaitan”
seperti Fir’aun atau Abu Jahal
dan kawan-kawannya, firman-Nya:
وَ مَا
یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا
ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا ذُوۡحَظٍّ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ
فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu
kecuali orang-orang yang sabar, dan
sekali-kali tidak dianugerahi itu اِلَّا
ذُوۡحَظٍّ عَظِیۡمٍ -- kecuali orang yang memiliki bagi-an
besar dalam kebaikan. وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ
نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ -- Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau
maka mohonlah perlindungan kepada Allah,
اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. ((Hā Mim – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:36-37).
Ada pun yang dimaksud dengan “godaan syaitan” dalam ayat وَ اِمَّا
یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ -- Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. ((Hā Mim – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:37) dapat mengisyaratkan kepada:
(1) Kemarahan
yang
timbul dalam diri “penda’wah”
akibat ucapan dan tindakan provokatif yang dilakukan para penentang.
(2) Para provokator (QS.6:44 & 112-114; QS.8:49; QS.16:64;
QS.22:53-54; QS.27:25; QS.29:49), sebab Allah Swt. dalam Al-Quran menyebut para
pemimpin kekafiran dengan sebutan “syayāthin” (setan-setan – QS.2:15).
Penggenapan Nubuatan
”Persaudaraan Ruhani” & Makna Perintah Istighfar Dalam Masa Meraih Kemenangan
Demikianlah gambaran para penda’wah Muslim yang hakiki sebagaimana yang telah dicontohkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan
para sahabah r.a. dalam firman-Nya
sebelum ini:
وَ مَنۡ
اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ
صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ
ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ
بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ
کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya
dari orang yang mengajak manusia kepada
Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- serta berkata: ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri. وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ --
Dan tidaklah sama kebaikan
dan keburukan. اِدۡفَعۡ
بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ
بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah
keburukan itu dengan cara yang
sebaik-baiknya maka tiba-tiba
ia, yang di antara engkau dan dirinya
ada permusuhan, akan menjadi seperti
seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا -- Dan
sekali-kali tidak dianugerahi itu
kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang yang memiliki bagian besar
dalam kebaikan. (Hā Mim – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).
Sebagai
akibatnya adalah nubuatan dalam surah Al-Mumtahanah berikut ini menjadi genap (sempurna)
firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan
di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini kamu bermusuhan dengan mereka, وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ
ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- karena Allah Maha
Kuasa, dan Allah Maha Pengampun,
Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah
[60]:8).
Sehubungan dengan akan genapnya nubuatan
tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
لَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ
یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ
یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ
اَنۡ تَبَرُّوۡہُمۡ وَ
تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ
قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ
مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی
اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ
وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ
ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat kebaikan dan berlaku
adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ وَ لَمۡ یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ
دِیَارِکُمۡ -- yaitu orang-orang
yang tidak memerangi kamu karena agama
dan yang tidak mengusir kamu dari
rumah-rumah kamu, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku
adil. اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ
الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ --
Sesungguhnya Allah melarang kamu
menjadikan sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir
kamu dari rumah-rumahmu dan telah
membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ -- dan barangsiapa bersahabat dengan mereka
maka mereka itulah orang-orang zalim.
(Al-Mumtahanah
[60]:9-10).
Makna Perintah Istighfar
Ketika Meraih Kemenangan
Nubuatan dalam surah Al-Mumtahanah ayat 8 tersebut terjadi setelah peristiwa Fatah Mekkah (penaklukkan Mekkah) ketika
manusia berduyun-duyun menggabungkan diri dengan umat
Islam, firman-Nya:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ
النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ
اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha
Penyayang. اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ -- Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan, وَ
رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ
دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا -- dan engkau
melihat manusia masuk dalam agama Allah
berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ ؔ -- Maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau, وَ
اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕ -- dan mohonlah
ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
Makna kemenangan
dalam ayat: اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ
-- “apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan”
adalah kemenangan
yang dijanjikan (QS.61:10). Karena janji Allah Swt. telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw. di sini diperintahkan agar bersyukur kepada Allah Swt. karena Dia
telah memenuhi janji-Nya agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya:
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ -- “Maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau.”
Dalam
ayat selanjutnya وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕ -- “dan mohonlah
ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- sesungguhnya Dia Maha
Penerima taubat” dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau saw. dan Islam
telah berkuasa di seluruh negeri dan musuh-musuh dahulu telah menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka
beliau saw. harus berdoa dan mohon maghfirah Ilahi supaya Allah Swt. memaafkan
kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.
pada masa lampau.
Nampaknya inilah arti dan maksud perintah kepada Nabi Besar
Muhammad saw. supaya memohon ampunan
kepada Allah Swt.. Atau artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan
supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap
kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang
mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah
sangat bermakna bahwa manakala di dalam
Al-Quran disebutkan perihal kemenangan
atau perihal keberhasilan besar
lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammd saw., beliau selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya.
Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau saw. diperintahkan agar memohon ampunan
Allah Swt. dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau saw. sendiri, melainkan bagi
orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan
agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut
beliau saw. menyimpang dari asas-asas
dan ajaran-ajaran Islam, semoga
kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut
serupa itu.
Jadi,
dalam firman-Nya tersebut sama
sekali bukan berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. beristighfar
bagi salah satu perbuatan beliau saw.
sendiri. Menurut Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan
dari jalan lurus (QS.33:22;
QS.68:1-8).
Tantangan Dalam Melakukan Da’wah Islam di Akhir Zaman
Sehubungan dengan pentingnya mendahulukan persamaan iman dan akidah dalam masalah “persahabatan” (QS.5:52)dan “pernikahan” (QS.222) dan juga sehubungan berbagai tantangan
yang pasti dihadapi oleh pendakwa Muslim yang hakiki (QS.41:34-37), Masih
Mau’ud a.s. bersabda berkenaan misi suci beliau a.s. di Akhir Zaman ini dalam upaya mewujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali
(QS.61:10) dengan melakukan
da’wah
Ilahi yang damai
terhadap umat beragama lainnya serta upaya
pemberian pencerahan mengenai kesempurnaan
Islam (Al-Quran) yang diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., beliau a.s. bersabda:
“Aku telah mengira bahwa akan ada beberapa tuduhan palsu yang dilontarkan ke alamatku. Musuh yang sepenuhnya
dikalahkan, pada umumnya mencoba membalas
dengan serangan terhadap jiwa dan kehormatan
lawannya. Hal itu juga yang terjadi dengan diriku dimana mereka menuduhkan dakwaan pembunuhan atas diriku.
Para
missionaris Kristen jelas amat tersinggung olehku. Kegiatanku telah banyak sekali merugikan mereka. Di
samping tanda-tanda Samawi, kritik yang aku lontarkan terhadap akidah mereka telah merobek selubung dan kepalsuan agama
mereka. Akidah mereka tentang penebusan
[dosa] telah
aku
porakporandakan
dengan pernyataan bahwa jika benar semua dosa dari para pendosa
telah mengendap
masuk dalam kalbu Yesus a.s.
maka berarti kalbu beliau telah dikosongkan dari segala pemahaman tentang Tuhan, luput dari segala kasih-Nya dan [dengan demikian] beliau telah menjadi musuh Tuhan.
Sebagaimana kutukan dalam pengertiannya yang hakiki tidak mungkin dikenakan pada sosok seperti
Yesus a.s. maka bagaimana mungkin akidah penebusan dapat dibenarkan
mengingat akidah
itu didasarkan pada keadaan seseorang telah menjadi terkutuk?
Aku
juga telah mengemukakan bahwa tidak ada tindakan Ilahi yang akan bertentangan
dengan kebiasaan-Nya (sunnah-Nya) yang abadi. Jika sudah melakukan sesuatu pasti juga Dia telah melakukan-Nya berulang kali. Jika
mengirimkan seorang putra dianggap sebagai kebiasaan (sunnah) Tuhan maka mestinya masih
banyak lagi putra Tuhan yang akan ditugaskan, ada putra yang harus disalib lagi untuk
menebus [dosa] golongan jinn, ada yang disalibkan bagi penebusan
[dosa] manusia, dan ada lagi yang untuk menebus makhluk lainnya di dimensi lain. Argumentasiku ini jika direnungkan secara mendalam akan dapat
menyelamatkan orang dari kegelapan agama Kristen.
Aku
juga menunjukkan kepada mereka bahwa akidah penebusan itu tidak mungkin bisa dipertahankan karena berarti bahwa melalui penebusan tersebut maka dosa akan hilang semuanya, atau setiap bentuk
dosa --
baik yang berkaitan dengan Tuhan atau pun dengan sesama manusia -- akan terus menerus selamanya
dimaafkan.
Anggapan yang pertama jelas keliru sama sekali. Kita melihat
bagaimana laki-laki dan perempuan di
Eropa tidak bisa dibebaskan dari dosa setelah adanya penebusan Yesus, karena nyatanya mereka tetap
saja melakukan segala macam dosa.
Baik,
kita kesampingkan
hal mereka
dan kita lihat bagaimana para rasul yang keimanannya[1] lebih teguh daripada manusia lainnya, nyatanya mereka juga tidak luput
dari dosa dimana para murid Yesus pun terjerumus ke dalamnya. Dengan demikian jelas kalau akidah
penebusan
bukanlah sebuah bendungan
yang bisa
menghambat banjir dosa di
dunia.
Adapun
mengenai anggapan kedua, berarti mereka yang beriman dalam akidah
penebusan
akan memperoleh pengecualian dari semua penghukuman atas dosa-dosa
mereka. Apakah mereka itu mencuri, membunuh atau melakukan pelanggaran apa pun,
tetap saja Tuhan tidak akan meminta pertanggungjawaban mereka. Anggapan
seperti itu juga keliru
karena bertentangan dengan firman Tuhan yang hakiki dan merusak kesucian kaidah (peraturan) Ilahi.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul
Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XIII, hlm. 59-60, London, 1984).
Allah Swt. Tidak Membebani
Manusia Melebihi Kemampuannya
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt.
dalam berbagai surah Al-Quran, dengan
demikian ajaran Paulus mengenai “penebosan dosa” melalui “kematian terkutuk di atas salib” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. bertentangan
dengan keadilan, bahkan merupakan kezaliman, firman-Nya:
لَا یُکَلِّفُ
اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا
کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا
اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا
تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا
وَ لَا تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا
وَ لَا تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ
عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا
عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan
mendapat siksaan untuk apa yang
di-usahakannya. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ اَوۡ اَخۡطَاۡنَا -- Mereka berkata:
“Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami
terlupa atau kami tersalah. رَبَّنَا وَ لَا تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا -- Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani kami
tanggung jawab seperti telah Engkau
bebankan atas orang-orang sebelum kami. رَبَّنَا وَ لَا تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہ -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Eng-kau membebani
kami dengan apa yang kami tidak kuat
menanggungnya, وَ اعۡفُ عَنَّا -- maafkanlah
kami, وَ اعۡفُ عَنَّا -- ampunilah
kami, وَ ارۡحَمۡنَا -- dan
kasihanilah kami اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی
الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- karena Engkau-lah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).
Makna ayat:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ -- “Allah
tidak membebani seseorang kecuali sesuai
dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan
mendapat siksaan untuk apa yang
di-usahakannya.” Ayat ini merupakan sanggahan yang kuat sekali terhadap itikad penebusan dosa dan mengandung dua asas penting:
(1) Bahwa perintah-perintah Ilahi senantiasa diberikan dengan memberi
perhatian yang sepenuhnya kepada kemampuan
manusia dan batas-batas kodratnya.
(2)
Bahwa kesucian akhlak di dunia ini
tidak seharusnya berarti bebas sepenuhnya
dari segala macam kelemahan dan kekurangan. Apa yang diharapkan untuk
dilakukan manusia ialah berjuang dengan
sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan
dan menjauhi dosa dengan sekuat
tenaga, sedangkan selebihnya Tuhan Yang
Maha Pemurah akan memaafkannya.
Oleh karena itu penebusan dosa sama sekali tidak diperlukan (QS.39:54).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ
اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ
کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ
فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Tuhan yang bukan-Allah, padahal Dia-lah
Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan
akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی -- dan tidak
pula seorang pemikul beban memikul
beban orang lain. Kemudian
kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya
kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:165).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
14 November 2016
[1]
Yang
dimaksud ‘rasul’ disini adalah pengertian
menurut Injil dan bukan dalam istilah pemahaman
menurut agama Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar