Senin, 14 November 2016

Pentingnya "Kesabaran" dan "Kebijaksanaan" Menghadapi "Intimidasi" Para "Provokator" di "Jalan Allah" & Pentingnya "Istighfar" Ketika Meraih "Kemenangan" yang Dijanjikan




Bismillaahirrahmaanirrahiim

  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 61

PENTINGNYA KESABARAN DAN KEBIJAKSANAAN MENGHADAPI  INTIMIDASI PARA “PROVOKATOR” DI JALAN ALLAH  &  PENTINGNYA  ISTIGHFAR   KETIKA MERAIH “KEMENANGAN” YANG DIJANJIKAN
 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 60 dikemukakan  mengenai   ciri pendakwah Muslim yang hakiki (QS.41:34-35), bahwa anjuran (mengajak) kepada kebenaran sudah pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya,  firman-Nya:
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya dari orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  --  serta berkata:   ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ --   Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukanاِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baik-nya maka tiba-tiba ia,  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا  --  Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu kecuali orang yang memiliki  bagian besar dalam kebaikan. (Hā MimAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).

 Pemilik Bagian Besar Dalam Kebaikan” & Para “Provokator” di “Jalan Allah

     Ayat selanjutnya  menasihatkan kepada si penganjur (penda’wah) supaya bersabar dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan  yang diterima dari penganiaya-penganiaya  dengan kebaikan:   وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ --   Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukanاِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya,    sehingga hasilnya adalah: فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- “maka tiba-tiba ia  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia”.
   Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. mengatakan bahwa   -- kecuali bagi orang-orang yang meraih ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ     (pemilik bagian besar dalam kebaikan)  --  melakukan   “jihad” berupa melaksanakan  da’wah yang hakiki seperti itu sangat berat  karena yang dihadapi  kadang-kadang berupa “manusia-manusia syaitan”  seperti  Fir’aun atau Abu Jahal dan kawan-kawannya, firman-Nya:
وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ  -- kecuali orang yang memiliki  bagi-an besar dalam kebaikan. وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ  -- Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ  -- sesungguhnya Dia  Maha Mendengar, Maha Mengetahui. ((Hā MimAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:36-37).
      Ada pun yang dimaksud dengan “godaan syaitan” dalam ayat وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ  -- Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ  -- sesungguhnya Dia  Maha Mendengar, Maha Mengetahui. ((Hā MimAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:37) dapat  mengisyaratkan  kepada:
      (1) Kemarahan  yang  timbul  dalam diri “penda’wah” akibat ucapan dan tindakan provokatif  yang dilakukan para penentang.
    (2)  Para provokator  (QS.6:44 & 112-114; QS.8:49; QS.16:64; QS.22:53-54; QS.27:25; QS.29:49), sebab Allah Swt. dalam Al-Quran menyebut para pemimpin kekafiran dengan sebutan “syayāthin” (setan-setan – QS.2:15).  

Penggenapan  Nubuatan  ”Persaudaraan Ruhani” & Makna Perintah Istighfar Dalam Masa Meraih Kemenangan

         Demikianlah gambaran para penda’wah Muslim  yang hakiki sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabah r.a. dalam firman-Nya sebelum ini: 
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya dari orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  --  serta berkata:    ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ --   Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukanاِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya maka tiba-tiba ia,  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا  --  Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu kecuali orang yang memiliki  bagian besar dalam kebaikan. (Hā MimAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).
      Sebagai  akibatnya adalah  nubuatan dalam surah Al-Mumtahanah  berikut ini menjadi genap (sempurna)   firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan dengan mereka, وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
        Sehubungan dengan akan genapnya  nubuatan tersebut selanjutnya Allah Swt. berfirman:
لَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ   --  yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumah kamu,  اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ --  sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil  اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ   --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai  wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ  -- dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).

Makna Perintah Istighfar Ketika Meraih Kemenangan

  Nubuatan  dalam surah Al-Mumtahanah ayat 8 tersebut terjadi setelah peristiwa Fatah Mekkah (penaklukkan Mekkah) ketika manusia berduyun-duyun menggabungkan diri  dengan umat Islam, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ --   Apabila datang pertolongan Allah dan kemenanganوَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا --  dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondongفَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ ؔ      -- Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau, وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕ --   dan mohonlah ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  --  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4). 
  Makna kemenangan dalam ayat:  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ   --  “apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan” adalah     kemenangan yang dijanjikan (QS.61:10). Karena janji Allah Swt.  telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw.  di sini diperintahkan agar bersyukur kepada Allah Swt. karena Dia telah memenuhi janji-Nya  agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya:   فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ    -- “Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau.”
   Dalam ayat selanjutnya وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕ --   “dan mohonlah ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat”   dikatakan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau  saw. dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri dan musuh-musuh dahulu telah menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa dan mohon maghfirah Ilahi  supaya Allah Swt.  memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.  pada masa lampau.
  Nampaknya  inilah arti dan maksud perintah kepada  Nabi Besar Muhammad saw. supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.. Atau artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna  bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammd saw., beliau selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau  saw. diperintahkan agar  memohon ampunan Allah  Swt. dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau  saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah Swt.  menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
    Jadi, dalam  firman-Nya tersebut   sama sekali bukan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad  saw.   beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Menurut Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus (QS.33:22; QS.68:1-8).
    
Tantangan Dalam Melakukan Da’wah Islam di Akhir Zaman

      Sehubungan dengan pentingnya mendahulukan persamaan iman dan akidah dalam masalah  “persahabatan” (QS.5:52)dan “pernikahan” (QS.222)  dan juga sehubungan berbagai  tantangan yang pasti dihadapi oleh pendakwa  Muslim yang hakiki (QS.41:34-37),  Masih Mau’ud a.s. bersabda  berkenaan misi suci beliau a.s. di Akhir Zaman ini dalam upaya mewujudkan “kejayaan Islam” yang kedua kali (QS.61:10) dengan   melakukan da’wah  Ilahi   yang damai terhadap umat beragama lainnya serta upaya pemberian pencerahan  mengenai kesempurnaan  Islam (Al-Quran) yang diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Besar Muhammad saw., beliau a.s. bersabda:
    Aku telah mengira bahwa akan ada beberapa tuduhan palsu yang dilontarkan ke alamatku. Musuh yang sepenuhnya dikalahkan, pada umumnya mencoba membalas dengan serangan terhadap jiwa dan kehormatan lawannya. Hal itu juga yang terjadi dengan diriku dimana mereka menuduhkan dakwaan pembunuhan atas diriku.
   Para missionaris Kristen jelas amat tersinggung olehku. Kegiatanku telah banyak sekali merugikan mereka. Di samping tanda-tanda Samawi, kritik yang aku lontarkan terhadap akidah mereka telah merobek selubung dan kepalsuan agama mereka. Akidah mereka tentang penebusan [dosa] telah aku porakporandakan dengan pernyataan bahwa jika benar semua dosa dari para pendosa telah mengendap masuk dalam kalbu Yesus a.s. maka berarti kalbu beliau telah dikosongkan dari segala pemahaman tentang Tuhan, luput dari segala kasih-Nya dan [dengan demikian] beliau telah menjadi musuh Tuhan.
   Sebagaimana kutukan dalam pengertiannya yang hakiki tidak mungkin dikenakan pada sosok seperti Yesus a.s. maka bagaimana mungkin akidah penebusan dapat dibenarkan mengingat akidah itu didasarkan pada keadaan seseorang telah menjadi terkutuk?
    Aku juga telah mengemukakan bahwa tidak ada tindakan Ilahi yang akan bertentangan dengan kebiasaan-Nya (sunnah-Nya) yang abadi. Jika sudah melakukan sesuatu pasti juga Dia telah melakukan-Nya berulang kali. Jika mengirimkan seorang putra dianggap sebagai kebiasaan (sunnah) Tuhan maka mestinya masih banyak lagi putra Tuhan yang akan ditugaskan, ada putra yang harus  disalib  lagi  untuk menebus [dosa] golongan jinn, ada yang disalibkan bagi penebusan [dosa]  manusia, dan ada lagi yang untuk menebus makhluk lainnya di dimensi lain.  Argumentasiku ini jika direnungkan secara mendalam akan dapat menyelamatkan orang dari kegelapan agama Kristen.
   Aku juga menunjukkan kepada mereka bahwa akidah penebusan itu tidak mungkin bisa dipertahankan karena berarti bahwa melalui penebusan tersebut maka dosa akan hilang semuanya,  atau setiap bentuk dosa -- baik yang berkaitan dengan Tuhan atau pun dengan sesama manusia -- akan terus menerus selamanya dimaafkan.
     Anggapan yang pertama jelas keliru sama sekali. Kita melihat bagaimana laki-laki dan perempuan di Eropa  tidak bisa dibebaskan dari dosa setelah adanya penebusan Yesus, karena nyatanya mereka tetap saja melakukan segala macam dosa.
    Baik, kita kesampingkan hal mereka dan kita lihat bagaimana para  rasul  yang keimanannya[1]  lebih teguh daripada manusia lainnya, nyatanya mereka juga tidak luput  dari  dosa dimana para murid Yesus pun terjerumus ke dalamnya. Dengan demikian jelas kalau akidah penebusan bukanlah sebuah bendungan yang bisa menghambat banjir dosa di dunia.
      Adapun mengenai anggapan kedua, berarti mereka yang beriman dalam akidah penebusan akan memperoleh pengecualian dari semua penghukuman atas dosa-dosa mereka. Apakah mereka itu mencuri, membunuh atau melakukan pelanggaran apa pun, tetap saja Tuhan tidak akan meminta pertanggungjawaban mereka. Anggapan seperti itu juga keliru karena bertentangan dengan firman Tuhan yang hakiki dan merusak kesucian kaidah (peraturan) Ilahi.” (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 59-60, London, 1984).

Allah Swt. Tidak Membebani Manusia Melebihi Kemampuannya

       Penjelasan Masih Mau’ud a.s. tersebut sesuai dengan pernyataan Allah Swt. dalam berbagai surah Al-Quran,  dengan demikian ajaran Paulus mengenai “penebosan dosa” melalui “kematian terkutuk di atas salib” Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  bertentangan dengan keadilan, bahkan merupakan kezaliman, firman-Nya:
لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ ؕ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا ۚ رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہٖ ۚ وَ اعۡفُ عَنَّا ٝ وَ اغۡفِرۡ لَنَا ٝ وَ ارۡحَمۡنَا ٝ اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾٪
Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang di-usahakannyaرَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَاۤ  اِنۡ نَّسِیۡنَاۤ  اَوۡ اَخۡطَاۡنَا --  Mereka berkata:  “Ya Rabb (Tuhan) kami, janganlah  Engkau menghukum kami jika  kami terlupa atau kami tersalah.   رَبَّنَا وَ لَا  تَحۡمِلۡعَلَیۡنَاۤ  اِصۡرًا کَمَا حَمَلۡتَہٗ عَلَی الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِنَا --   Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Engkau membebani  kami tanggung jawab seperti telah Engkau bebankan atas orang-orang sebelum kami. رَبَّنَا وَ لَا  تُحَمِّلۡنَا مَالَا طَاقَۃَ لَنَا بِہ --  Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Eng-kau membebani kami dengan apa yang kami tidak kuat menanggungnya,  وَ اعۡفُ عَنَّا -- maafkanlah kami, وَ اعۡفُ عَنَّا  -- ampunilah kami,  وَ ارۡحَمۡنَا -- dan  kasihanilah kami  اَنۡتَ مَوۡلٰىنَا فَانۡصُرۡنَا عَلَی الۡقَوۡمِ الۡکٰفِرِیۡنَ -- karena Engkau-lah Pelindung kami,  maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al-Baqarah [2]:287).
    Makna ayat:  لَا یُکَلِّفُ اللّٰہُ نَفۡسًا اِلَّا وُسۡعَہَا ؕ لَہَا مَا کَسَبَتۡ وَ عَلَیۡہَا مَا اکۡتَسَبَتۡ  -- “Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang di-usahakannya.”    Ayat  ini merupakan sanggahan yang kuat sekali terhadap itikad penebusan dosa dan mengandung dua asas penting:
      (1) Bahwa perintah-perintah Ilahi senantiasa diberikan dengan memberi perhatian yang sepenuhnya kepada kemampuan manusia dan batas-batas kodratnya.
      (2) Bahwa kesucian akhlak di dunia ini tidak seharusnya berarti bebas sepenuhnya dari segala macam kelemahan dan kekurangan. Apa yang diharapkan untuk dilakukan manusia ialah berjuang dengan sungguh-sungguh untuk meraih kebaikan dan menjauhi dosa dengan sekuat tenaga, sedangkan selebihnya Tuhan Yang Maha Pemurah akan memaafkannya. Oleh karena itu  penebusan dosa sama sekali tidak diperlukan (QS.39:54).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ﴿﴾
Katakanlah:  ”Apakah aku akan mencari Tuhan  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah  Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی  -- dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain.  Kemudian kepada Rabb (Tuhan)  kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih. (Al-An’ām [6]:165).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  14 November 2016




[1] Yang dimaksud ‘rasul’ disini adalah pengertian menurut Injil dan bukan dalam istilah pemahaman menurut agama Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar