Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
66
MAKNA LAIN "PENIUPAN NAFIRI" & MENGEMBALIKAN
KEMULIAAN RUHANI NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG “DIHINAKAN” PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI DENGAN UPAYA PEMBUNUHAN MELALUI PENYALIBAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 65 dikemukakan mengenai topik Misi Suci Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw.
Menegakkan Tauhid Ilahi, yakni melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad
saw. Allah Swt. bermaksud “menyalakan”
kembali “cahaya Tauhid Ilahi” yang berusaha dipadamkan oleh “mulut” -- yakni ajaran-ajaran dusta yang diada-adakan -- oleh orang-orang
musyrik, firman-Nya: یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ -- Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, -- وَ یَاۡبَی اللّٰہُ اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.” (At
Taubah [9]:32).
Upaya Memadamkan “Cahaya
Ilahi” Dengan Mulut Kedustaan
Kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam
ayat یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ --
“Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah
dengan mulut mereka” ditegaskan dalam firman-Nya berikut ini:
ظَہَرَ
الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ
کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ
کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat seba-gian
perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka
kembali dari kedurha-kaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ
یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ -- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar Rūm [30]:42-44).
Masalah pokok dalam ayat-ayat sebelumnya
berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia keimanan
kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Yang menciptakan, mengatur,
dan membimbing segala kehidupan. Dalam ayat 42-44 kita diberi tahu, bahwa bila kegelapan (kesesatan/kemusyrikan) menyelimuti
muka bumi dan manusia melupakan
Allah Swt. (Tauhid Ilahi) dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan
tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Allah
Swt. membangkitkan seorang nabi Allah untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat
keharibaan Majikan-nya yang hakiki Allah Swt..
“Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan
agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya
semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia
sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci
yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s. di dalam aliran darah manusia telah
padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang
kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun
lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban
laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya
telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan,
sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan
pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
Demikianlah keadaan umat manusia
pada waktu nabi Besar Muhammad saw.,
Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab syariat
yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan
keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan
diri telah menjadi mapan: ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
-- “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia.”
Kata-kata “daratan dan lautan”
dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya
hanya semata-mata berdasar pada akal
serta pengalaman manusia, dan
bangsa-bangsa yang kebudayaannya
serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang
hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini
berarti, bahwa semua bangsa di dunia
telah menjadi rusak sampai kepada intinya,
baik secara politis, sosial maupun akhlaki (agama).
Meniru-niru Kedustaan
Kaum-kaum Purbakala
Kembali kepada firman Allah Swt. yang dikemukakan dalam Bab sebelumnya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata:
“Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian
itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir
yang terdahulu. قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ -- Allah
membinasakan mereka, bagaimana mereka
sampai dipalingkan dari Tauhid? Mereka
telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu
juga Al-Masih ibnu Maryam, padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya
mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. Mereka berkehendak memadamkan
cahaya Allah dengan mulut
mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya,
walau pun orang-orang kafir tidak
menyukai. Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya
dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau
pun orang-orang musyrik tidak
menyukainya (At-Taubah [9]:30-33).
Makna ayat: “mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.” Orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. di tanah Arab melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw..
Makna ayat: “mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.” Orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt. di tanah Arab melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw..
Orang-orang Yahudi pun pernah berupaya semacam itu dengan menghasut orang-orang Parsi
(Kisra Iran) untuk bangkit melawan Nabi
Besar Muhammad saw. lalu mengirim perintah kepada Gubernur Badhan agar menangkap
Nabi Besar Muhammad saw. serta membawa ke hadapannya.
Namun sebelum Kisra Iran
yang takabbur tersebut berhasil melaksanakan maksud buruknya ia telah terlebih dulu dibunuh oleh anaknya sendiri, dan hal itu diberitahukan Nabi Besar Muhammad saw. kepada para tentara utusan Kisra yang menemui beliau saw. di
Madinah, dan anak Kisra Iran telah
membatalkan perintah ayahnya yang dibunuhnya mengenai penangkapan Nabi Besar Muhammad saw..
Makna Lain “Peniupan Nafiri (Terompet)”
Ada pun makna ayat selanjutnya: ”Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya
dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau
pun orang-orang musyrik tidak
menyukainya.”
Para
mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam
sebuah hadits Nabi Besar Muhammad
saw. bahwa kemenangan
Islam yang kedua kali di Akhir Zaman ini pada akhirnya akan
terjadi di masa Masih Mau’ud a.s. (Tafsir
Ibnu Jarir), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha sekeras-kerasnya
untuk menyiarkan ajaran mereka
sendiri.
Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai
semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut
agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan
Islam dalam jumlah besar, melebihi masa kemenangan
Islam yang pertama (QS.110:1-4), firman-Nya:
وَ نُفِخَ
فِی الصُّوۡرِ فَصَعِقَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ
شَآءَ اللّٰہُ ؕ ثُمَّ نُفِخَ فِیۡہِ
اُخۡرٰی فَاِذَا ہُمۡ قِیَامٌ یَّنۡظُرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اَشۡرَقَتِ
الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ
بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ
قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ لَا
یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾ وَ وُفِّیَتۡ کُلُّ
نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ
بِمَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan nafiri akan ditiup, lalu akan jatuh pingsan semua yang ada di seluruh langit
dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian
nafiri itu akan ditiup kedua
kalinya maka tiba-tiba mereka
berdiri menantikan keputusan. Dan bumi akan bersinar dengan nur Tuhan-nya,
dan Kitab itu akan diletakkan terbuka di
hadapan mereka, dan akan didatangkan
nabi-nabi serta saksi-saksi,
dan diberikan
keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak akan dizalimi. Dan setiap jiwa akan diberikan sepenuhnya apa yang ia kerjakan, dan Dia
mengetahui mengenai apa yang mereka kerjakan. (Az-Zumar [39]:69-71).
Ayat ini agaknya kena kepada kebangkitan kembali di alam ukhrawi. Tetapi ayat ini dapat juga diterapkan kepada keadaan ruhani orang-orang sebelum
kedatangan seorang Guru Suci ke dunia
-- yakni rasul Allah -- yang
kedatangannya di sini diumpamakan
sebagai tiupan nafiri atau terompet.
Mengingat akan perumpamaan ini maka kata-kata “akan jatuh pingsan”, dapat
berarti kemalasan atau kebekuan orang-orang pada saat sebelum seorang Pembaharu Suci (rasul Allah) datang ke dunia, sedangkan kata-kata "tiba-tiba
mereka berdiri menantikan” dapat berarti keadaan mereka setelah melihat dan mengikuti jalan lurus sesudah Sang
Pembaharu yang keramat itu
menampakkan diri (QS.36:52-55).
Bila
dikenakan kepada kehidupan ukhrawi,
kata-kata, “Dan bumi akan bersinar dengan nur Tuhan-Nya,” akan
berarti bahwa tirai yang menyelubungi rahasia-rahasia
kehidupan ini akan diangkat; dan akibat-akibat
perbuatan baik maupun buruk yang
telah dilakukan dalam kehidupan di dunia ini dan yang tetap tersembunyi di sini akan menjadi nampak dengan nyata.
Tetapi dengan mengisyaratkan kepada kedatangan seorang Guru Suci ke dunia (rasul Allah), khususnya
kepada kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.,
yang kedatangannya dinubuatkan oleh para rasul
Allah sebelumnya (QS.2:147; QS.6:21), makna
ayat: وَ
اَشۡرَقَتِ الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا
وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ وَ قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ لَا یُظۡلَمُوۡنَ -- ”Dan bumi akan bersinar dengan nur Tuhan-nya,
dan Kitab itu akan diletakkan terbuka di
hadapan mereka, dan akan didatangkan
nabi-nabi serta saksi-saksi,
dan diberikan
keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak akan dizalimi " dapat berarti bahwa dengan kedatangan Mani Besar Muhammad saw seluruh dunia akan bersinar dengan nur Ilahi,
dan kegelapan ruhani akan lenyap
sirna, sebab pengutusan beliau saw.
merupakan “rahmat bagi seluruh alam”
(QS.21:108).
Kata-kata, “akan didatangkan nabi-nabi dan
saksi-saksi,” dapat berarti kedatangan Nabi Besar Muhammad saw. menampilkan dalam diri beliau pribadi semua nabi Allah dan guru-guru suci -- termasuk di Akhir Zaman ini dalam wujud Masih Mau’ud a.s. atau misal nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58;
QS.62:3-4) -- dan “saksi-saksi” menunjuk
kepada para pengikut beliau saw. yang
sejati serta menikmati hak istimewa
yang dibanggakan karena telah
ditunjuk sebagai saksi-saksi (syuhada)
atas semua orang (QS.2:144).
Mengembalikan Kemuliaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.
Sebagai Rasul Allah
Selaras
dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai pengakuan dan pernyataan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang menolak ajaran “Trinitas”
dan “penebusan dosa” (QS.4:158-159; QS.5:117-119), Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Sejalan dengan prinsip pandangan mereka, umat Kristen tidak menganggap penting
perilaku ketakwaan. Dalam pandangan
mereka cukuplah penebusan yang telah dilakukan Yesus untuk mencapai keselamatan
ruhani manusia.
Kami
telah menunjukkan bahwa penebusan Yesus tersebut tidak akan menyelamatkan umat Kristiani
dari dosa, dan akidah itu sendiri adalah keliru karena menjadikan segala bentuk kekejian menjadi sah-sah
saja bagi mereka karena telah ditebus sebelumnya.
Tetapi ada satu hal lagi yang patut disimak, yaitu akal telah
membuktikan
kalau perilaku
takwa mempunyai pengaruh
atas natijah
(akibat) keselamatan bagi mereka yang
saleh.
Bahkan umat
Kristen juga masih meyakini bahwa
dosa
akan membawa akibat seseorang bisa dihukum di api neraka selama-lamanya. Dengan demikian maka kita harus meyakini juga secara hukum alami bahwa kebaikan ada pengaruhnya dan mereka
yang melakukannya berhak memperoleh keselamatan.
Keberatan
lain yang kami ajukan adalah akidah penebusan yang dikemukakan umat
Kristiani sesungguhnya bertentangan dengan kaidah hukum alam Ilahi yang abadi. Tidak ada contoh di dalam hukum alam dimana untuk memelihara kelanjutan makhluk
yang mutunya lebih rendah (inferior) maka makhluk yang lebih superior (luhur)
harus dikorbankan.
Di depan kita terbuka kaidah hukum alam yang menyatakan bahwa yang inferiorlah (rendah) yang
dikorbankan
demi kemaslahatan spesi yang lebih superior (luhur).
Semua hewan, termasuk bakteri
yang terdapat di dalam air dikorbankan
bagi kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia. Pengorbanan
Yesus
dengan demikian bertentangan dengan kaidah
nyata
ini. Semua orang yang berfikir
tentunya sependapat bahwa guna melindungi sesuatu
yang lebih disayangi dan
lebih berharga maka segala suatu yang statusnya lebih rendah bisa saja dikorbankan.
Allah Swt. membiarkan berjuta-juta makhluk hidup
dikorbankan
demi kelangsungan manusia, dan kita -- sejalan dengan fitrat diri kita -- juga mengikuti kaidah yang sama. Dengan demikian kalian bisa memahami betapa tidak konsistennya akidah penebusan sebagaimana yang diyakini umat Kristiani dengan kaidah
hukum alam Ilahi.
Keberatan lain yang kami ajukan adalah
tentang pengakuan umat Kristiani yang menyatakan bahwa Yesus terbebas dari dosa warisan maupun dosa yang melekat
kemudian. Umat Kristiani sebenarnya mengakui kalau Yesus memperoleh tubuh
jasmaninya dari ibunda beliau sedangkan ibundanya ini menurut pandangan
umum tidak terbebas dari dosa.
Menurut keyakinan umat Kristiani, semua rasa
sakit
dan luka adalah buah dari dosa, namun rasanya tidak akan ada yang meragukan jika Yesus juga pasti pernah mengalami lapar dan haus, mungkin pernah menderita
cacar air
atau campak pada waktu usia muda,
rasa sakit ketika giginya tumbuh
pertama kali atau demam
sekali-sekali.
Menurut
keyakinan Kristen, semua jenis sakit
seperti itu adalah buah dari dosa. Lalu bagaimana Yesus bisa
dianggap sebagai bentuk sebuah pengurbanan
yang bersih dari
dosa?
Selain
itu umat Kristiani meyakini bahwa yang
bisa menciptakan hubungan
dengan Rohul Kudus hanyalah mereka
yang bersifat bebas dosa. Lalu bagaimana Rohul Kudus mau berhubungan dengan Yesus yang tidak bebas dosa warisan atau terbebas
dari rasa sakit
sebagai buah dari dosa? Rasanya hanya sosok Melkisedek[1] yang pantas
memiliki hubungan dengan Rohul Kudus karena menurut
umat Kristen ia adalah orang bebas dari segala dosa.
Benarkah Penyaliban
Membebaskan Umat Kristen dari Dosa?
Umat
Kristiani mengakui
bahwa makna hakiki dari pencapaian keselamatan adalah keadaan
yang bebas dari dosa,
hanya saja mereka malah tidak ada memberi contoh atau sarana
hakiki
guna mencapai kebebasan dari dosa. Mereka bahkan mengajukan
dongeng menyedihkan
yang tidak ada kaitannya dengan kondisi keterbebasan dari
dosa.
Kiranya jelas bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan, sehingga seluruh
kesenangan hidup
dan kesejahteraannya diarahkan kepada pengabdian Ilahi dan ia tidak akan pernah menikmati ketentraman hakiki sampai ia
bisa mengikat hubungan langsung dengan Tuhan-nya secara nyata.
Ketika manusia
meninggalkan Tuhan-nya maka keadaannya sama dengan
orang yang menutup jendela kamarnya yang menghadap ke matahari. Dengan ditutupnya
jendela itu jelas kamar lalu menjadi gelap karena sinar
mentari telah digantikan kegelapan.
Kegelapan inilah yang dimaksud sebagai kesesatan dan neraka, karena menjadi sumber akar dari semua penyakit.
Jika
memang ingin menghilangkan kegelapan tersebut dan mencari
keselamatan dari neraka
tadi, maka sejalan dengan kaidah hukum alam tidak diperlukan tindakan menyalib siapa pun. Yang harus dibuka adalah jendelanya yang selama ini telah
menghalangi cahaya masuk.
Apakah ada yang meyakini bahwa kita bisa mendapatkan
cahaya
sambil bersikeras untuk tetap menutup jendela yang melaluinya sinar akan masuk?
Pengampunan dosa bukan suatu dongeng yang akan diilustrasikan di kehidupan yang akan dating (akhirat).
Masalahnya sama saja dengan
kedurhakaan
dan pengampunan terhadap lembaga
pemerintahan.
Seseorang dianggap sebagai pelanggar atau pendosa karena ketika
ia meninggalkan Tuhan-nya ia
tidak lagi mau membuka hati terhadap nur yang turun
dari Tuhan ke dalam kalbu manusia.
Kondisi seperti itu dalam Al-Quran disebut sebagai junah yang dalam bahasa Parsi lalu berubah menjadi gunah (dosa). Akar katanya mengandung makna bergeser dari suatu titik tengah.
Kemudian kata itu berkonotasi sebagai dosa karena dengan
meninggalkan titik dimana nur Ilahi
turun
maka ia telah menjauh dari sumber
cahaya.
Begitu pula dengan kata juram (kejahatan) yang sebenarnya berarti memotong sampai putus. Karena itu seorang pelanggar dianggap telah memutus
habis semua hubungannya
dengan Tuhan. Dengan demikian juram keadaannya
lebih gawat daripada junah karena kata junah hanya menunjukkan kecenderungan yang salah, sedangkan kata juram mengindikasikan bahwa seseorang secara sengaja melakukan pelanggaran terhadap
kaidah (aturan) Ilahi
dan tidak lagi mempedulikan hubungan dengan Wujud-Nya.
Jika
demikian itu realitas dari kesucian hakiki, maka muncul
pertanyaan apakah nur (cahaya) yang diabaikan seseorang karena ia lebih menyukai kegelapan bisa diperoleh dengan cara mengimani penyaliban seorang manusia?
Jelas pandangan seperti itu tidak masuk
akal.
Cara terbaik guna memperoleh
nur tersebut
menurut kaidah Ilahi yang abadi adalah dengan
membuka jendela hati yang
mengarah ke sinar mentari. Semua ini sama dengan keadaan
menurut hukum fisik di alam
dimana kita tidak mungkin mengatasi kegelapan tanpa
membuka tingkap (jendela/tutupan) tempat lewatnya
(masuknya) sinar matahari.
Dengan cara membuka jendela tadi maka kita tidak saja akan memperoleh
cahaya,
tetapi juga bisa memandang Sumber
Cahaya
itu sendiri. Guna mencerabut kegelapan akibat dari dosa dan kelalaian perlu kiranya ada cahaya.
Hal ini dinyatakan Allah Swt. dalam ayat:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ
ہٰذِہٖۤ اَعۡمٰی فَہُوَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ اَعۡمٰی وَ اَضَلُّ
سَبِیۡلًا
Barangsiapa
buta di dunia ini maka di
akhirat pun ia akan buta juga dan bahkan
akan lebih tersesat dari jalan’ (Bani Israil [17]:73).
Dengan demikian maka mata untuk memandang Tuhan dan indera untuk menemukan
Wujud-Nya
sudah dikaruniakan dalam hidup ini juga. Mereka yang tidak memperolehnya di dunia ini tidak akan mendapatkannya di akhirat nanti. Orang-orang
bertakwa yang akan
melihat Tuhan mereka di Hari Penghisaban akan membawa bersama
mereka indera yang dengan
perantaraannya mereka itu telah melihat
Wujud-Nya.
Adapun mereka yang tidak mendengar suara Tuhan di
dunia ini,
juga tidak akan mendengarnya di akhirat nanti.
Mengenali Wujud Tuhan sebagaimana adanya
tanpa suatu kesalahan serta memperoleh
pemahaman hakiki
tentang keberadaan-Nya ketika masih berada di dunia ini merupakan sumber dari segala nur
(cahaya).
Dengan demikian jelas bahwa orang-orang
yang menganggap Tuhan bisa mati, mengalami
kemalangan, bodoh dan bisa menjadi obyek kutukan, sesungguhnya mereka tenggelam dalam lumpur kefasikan (kedurhakaan) dan tidak mengenali pengetahuan hakiki serta wawasan tentang dasar
keselamatan ruhani manusia.
Umat Kristiani sesungguhnya melakukan kesalahan amat besar dengan berfikir
bahwa keselamatan bisa diperoleh secara mudah, dimana amal
saleh
dianggap tidak relevan lagi. Padahal ia (Yesus) yang mereka
pertuhan
nyatanya melakukan puasa 40 hari. Nabi Musa a.s. juga melakukan puasa di Sinai. Jika amal
saleh menjadi tidak ada artinya lalu mengapa kedua wujud mulia ini melakukan suatu hal yang
mubazir?
Sebagaimana
kita sadari bahwa Allah
Swt. tidak menyukai kejahatan
atau dosa, kita juga memahami bahwa Dia
amat berkenan dengan laku (amal) saleh. Dengan cara ini maka laku
(amal) saleh
itulah yang menjadi penebusan bagi kejahatan
atau dosa.
Jika
ada orang yang bersalah telah melakukan dosa tetapi kemudian beramal saleh yang menyenangkan
Tuhan,
jelas bahwa kondisi sebelumnya akan
digantikan oleh kondisi berikutnya, karena kalau tidak maka akan bertentangan dengan ayat: “Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik
menghapuskan kejahatan-kejahatan” (Hud 11]:115).
Kita juga bisa mengatakan bahwa perbuatan dosa mengandung racun yang bersifat
menghancurkan,
sedangkan amal saleh merupakan obat
penawar
yang menyelamatkan orang dari kematian ruhani.
Sebagai contoh, menutup semua tingkap
(jendela) sebuah
kamar adalah keburukan yang berakibat munculnya
kegelapan.
Kebalikan dari itu adalah membuka tingkap (jendela) yang mengarah kepada matahari sebagai amal
saleh
yang mengakibatkan nur cahaya yang tadinya
terbendung
sekarang memasuki kembali ruangan tersebut.” (Kitabul Bariyah,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 76-81,
London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
21 November 2016
[1] Melkisedek adalah sosok raja Salem yang dianggap sebagai Imam
Allah yang Mahatinggi. Bahkan Nabi
Ibrahim a.s. menghormatinya dengan antara lain membayarkan persepuluhan
kepadanya (Kejadian 14:18-20). Dalam literatur Kristiani kemudian, sosok
ini dianggap sebagai yang mengawali (euch arist) kedatangan Yesus dengan
mendasarkan pada Surat kepada bangsa Iberani 5:6, 5:10 dan 6:20 dalam
Perjanjian Baru. (Penterjemah/Khalid
A. Qoyum).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar