Senin, 21 November 2016

Mengembalikan "Kemuliaan Ruhani" Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. yang "Dihinakan" Para Pemuka Agama Yahudi Dengan Upaya Pembunuhan Melalui Penyaliban




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 66

MAKNA LAIN "PENIUPAN NAFIRI" & MENGEMBALIKAN KEMULIAAN  RUHANI NABI ISA IBNU MARYAM A.S. YANG  DIHINAKAN” PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI DENGAN  UPAYA PEMBUNUHAN  MELALUI PENYALIBAN  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 65 dikemukakan  mengenai   topik  Misi Suci Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. Menegakkan Tauhid Ilahi,  yakni melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. bermaksud “menyalakan” kembali  cahaya Tauhid Ilahi” yang berusaha dipadamkan oleh “mulut   -- yakni ajaran-ajaran  dusta yang diada-adakan  -- oleh orang-orang musyrik, firman-Nya: یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ  --   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka,  -- وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.” (At Taubah [9]:32).

Upaya Memadamkan “Cahaya Ilahi” Dengan Mulut Kedustaan

       Kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam ayat  یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ  --   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka” ditegaskan dalam firman-Nya berikut ini:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurha-kaannya.  Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ  --   Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar Rūm [30]:42-44).
       Masalah pokok dalam ayat-ayat sebelumnya berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia  keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Yang menciptakan, mengatur, dan membimbing segala kehidupan. Dalam ayat 42-44  kita diberi tahu, bahwa bila kegelapan (kesesatan/kemusyrikan) menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah  Swt.  (Tauhid Ilahi) dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Allah Swt.  membangkitkan seorang nabi Allah  untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat keharibaan Majikan-nya yang hakiki Allah Swt..
      “Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s.  di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
      Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu  nabi Besar Muhammad saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab  syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan diri telah menjadi mapan: ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ    -- “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia.”
      Kata-kata “daratan dan lautan” dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini berarti, bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki (agama).

Meniru-niru Kedustaan Kaum-kaum Purbakala

         Kembali kepada firman Allah Swt.  yang dikemukakan dalam Bab sebelumnya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.”   Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,   mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.  قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ -- Allah membinasakan mereka  bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?   Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,    padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.    Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.   Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya (At-Taubah [9]:30-33).
         Makna ayat: 
mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.”   Orang-orang Nasrani yang berdiam di tanah Arab telah menghasut orang-orang kuat seagama mereka di Siria, dan dengan pertolongan mereka  mencoba untuk memadamkan Nur Islam yang telah dinyalakan Allah Swt.  di tanah Arab melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw..
       Orang-orang Yahudi pun pernah berupaya semacam itu dengan menghasut orang-orang Parsi (Kisra Iran) untuk bangkit melawan  Nabi Besar Muhammad saw. lalu mengirim perintah kepada Gubernur Badhan  agar menangkap Nabi Besar Muhammad saw. serta membawa ke hadapannya.
      Namun sebelum  Kisra Iran  yang takabbur tersebut  berhasil melaksanakan maksud buruknya ia telah terlebih dulu dibunuh oleh anaknya sendiri, dan hal itu diberitahukan Nabi Besar Muhammad saw. kepada para tentara utusan Kisra yang menemui beliau saw. di Madinah, dan anak Kisra Iran telah  membatalkan perintah ayahnya  yang dibunuhnya mengenai penangkapan Nabi Besar Muhammad saw..

Makna Lain “Peniupan Nafiri (Terompet)”

   Ada pun makna ayat selanjutnya:   Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya.
   Para mufassir (ahli tafsir) Al-Quran sepakat bahwa, seperti dikemukakan dalam sebuah hadits  Nabi Besar Muhammad saw.  bahwa  kemenangan Islam  yang kedua kali di Akhir Zaman ini pada akhirnya akan terjadi di masa Masih Mau’ud a.s.    (Tafsir Ibnu Jarir), manakala semua agama yang beraneka ragam akan bangkit dan akan berusaha sekeras-kerasnya untuk menyiarkan ajaran mereka sendiri.
  Cita-cita dan asas-asas Islam yang luhur sudah mulai semakin bertambah diakui, dan hari itu tidak jauh lagi bila Islam akan memperoleh kemenangan atas semua agama lainnya dan pengikut-pengikut agama-agama itu akan masuk ke dalam haribaan Islam dalam jumlah besar, melebihi masa kemenangan Islam yang pertama (QS.110:1-4), firman-Nya: 
وَ نُفِخَ فِی الصُّوۡرِ فَصَعِقَ مَنۡ فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ اِلَّا مَنۡ شَآءَ اللّٰہُ ؕ ثُمَّ  نُفِخَ  فِیۡہِ  اُخۡرٰی فَاِذَا ہُمۡ  قِیَامٌ  یَّنۡظُرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اَشۡرَقَتِ  الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ  وَ قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ  لَا یُظۡلَمُوۡنَ ﴿﴾  وَ وُفِّیَتۡ کُلُّ  نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ وَ ہُوَ اَعۡلَمُ  بِمَا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿٪﴾
Dan nafiri akan ditiup, lalu akan jatuh pingsan semua yang ada di seluruh langit dan semua yang ada di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian nafiri itu akan ditiup kedua kalinya maka tiba-tiba mereka berdiri menantikan keputusan.  Dan bumi akan bersinar dengan nur Tuhan-nya,  dan Kitab itu akan diletakkan terbuka di hadapan mereka, dan akan didatangkan nabi-nabi serta saksi-saksi,  dan  diberikan keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak akan dizalimiDan setiap jiwa akan diberikan sepenuhnya apa yang ia kerjakan, dan Dia mengetahui mengenai apa yang mereka kerjakan. (Az-Zumar [39]:69-71).
        Ayat ini agaknya kena kepada kebangkitan kembali di alam ukhrawi. Tetapi  ayat ini dapat juga diterapkan kepada keadaan ruhani orang-orang sebelum kedatangan seorang Guru Suci ke dunia  -- yakni rasul Allah   -- yang kedatangannya di sini diumpamakan sebagai tiupan nafiri atau terompet.
       Mengingat akan perumpamaan ini maka kata-kata “akan jatuh pingsan”, dapat berarti kemalasan atau kebekuan orang-orang pada saat sebelum seorang Pembaharu Suci (rasul Allah) datang ke dunia, sedangkan kata-kata "tiba-tiba mereka berdiri menantikan” dapat berarti keadaan mereka setelah melihat dan mengikuti jalan lurus sesudah Sang Pembaharu yang keramat itu menampakkan diri (QS.36:52-55).
      Bila dikenakan kepada kehidupan ukhrawi, kata-kata, “Dan bumi akan bersinar dengan nur Tuhan-Nya,” akan berarti  bahwa tirai yang menyelubungi rahasia-rahasia kehidupan ini akan diangkat; dan akibat-akibat perbuatan baik maupun buruk yang telah dilakukan dalam kehidupan di dunia  ini dan yang tetap tersembunyi di sini akan menjadi nampak dengan nyata.
     Tetapi dengan mengisyaratkan kepada kedatangan seorang Guru Suci ke dunia (rasul Allah), khususnya kepada kedatangan Nabi Besar Muhammad saw.,  yang kedatangannya dinubuatkan oleh para rasul Allah sebelumnya (QS.2:147; QS.6:21),  makna ayat:  وَ اَشۡرَقَتِ  الۡاَرۡضُ بِنُوۡرِ رَبِّہَا وَ وُضِعَ الۡکِتٰبُ وَ جِایۡٓءَ بِالنَّبِیّٖنَ وَ الشُّہَدَآءِ  وَ قُضِیَ بَیۡنَہُمۡ بِالۡحَقِّ وَ ہُمۡ  لَا یُظۡلَمُوۡنَ   -- ”Dan bumi akan bersinar dengan nur Tuhan-nya,  dan Kitab itu akan diletakkan terbuka di hadapan mereka, dan akan didatangkan nabi-nabi serta saksi-saksi,  dan  diberikan keputusan di antara mereka dengan adil dan mereka tidak akan dizalimi " dapat berarti bahwa dengan kedatangan  Mani Besar Muhammad saw   seluruh dunia akan bersinar dengan nur Ilahi, dan kegelapan ruhani akan lenyap sirna, sebab  pengutusan beliau saw. merupakan “rahmat bagi seluruh alam” (QS.21:108).
      Kata-kata, “akan didatangkan nabi-nabi dan saksi-saksi,” dapat berarti kedatangan  Nabi Besar Muhammad saw. menampilkan dalam diri beliau pribadi semua nabi Allah dan guru-guru suci  -- termasuk di Akhir Zaman ini  dalam wujud Masih Mau’ud a.s. atau misal nabi Isa Ibnu Maryam a.s. (QS.43:58; QS.62:3-4)   -- dan “saksi-saksi” menunjuk kepada para pengikut beliau saw. yang sejati serta menikmati hak istimewa yang dibanggakan karena telah ditunjuk sebagai saksi-saksi (syuhada) atas semua orang (QS.2:144).

Mengembalikan Kemuliaan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Sebagai Rasul Allah

       Selaras  dengan firman Allah Swt. dalam Al-Quran mengenai  pengakuan  dan pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  yang menolak  ajaran  Trinitas” dan “penebusan dosa (QS.4:158-159; QS.5:117-119), Masih Mau’ud a.s. bersabda:
     Sejalan dengan prinsip pandangan mereka, umat Kristen tidak menganggap penting perilaku ketakwaan. Dalam pandangan mereka  cukuplah penebusan yang telah dilakukan Yesus untuk mencapai keselamatan ruhani manusia.
    Kami telah menunjukkan bahwa penebusan Yesus tersebut tidak akan menyelamatkan umat Kristiani dari dosa,  dan akidah itu sendiri adalah keliru karena menjadikan segala bentuk kekejian menjadi sah-sah saja bagi mereka karena telah ditebus sebelumnya.
    Tetapi ada satu hal lagi yang patut disimak,  yaitu akal telah membuktikan kalau perilaku takwa mempunyai pengaruh atas natijah (akibat)  keselamatan bagi mereka yang saleh. Bahkan umat Kristen juga masih meyakini bahwa dosa akan membawa akibat seseorang bisa dihukum di api neraka selama-lamanya. Dengan demikian maka kita harus meyakini juga secara hukum alami bahwa kebaikan ada pengaruhnya dan mereka yang melakukannya berhak memperoleh keselamatan.
     Keberatan lain yang kami ajukan adalah akidah penebusan yang dikemukakan umat Kristiani sesungguhnya bertentangan dengan kaidah hukum alam Ilahi yang abadi. Tidak ada contoh di dalam hukum alam dimana untuk memelihara kelanjutan makhluk yang mutunya lebih rendah  (inferior) maka makhluk yang lebih superior (luhur) harus dikorbankan. Di depan kita terbuka kaidah hukum alam yang menyatakan bahwa yang inferiorlah (rendah) yang dikorbankan demi kemaslahatan spesi yang lebih superior (luhur).
       Semua hewan, termasuk bakteri yang terdapat di dalam air  dikorbankan bagi kelangsungan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia. Pengorbanan Yesus dengan demikian bertentangan dengan kaidah nyata ini. Semua orang yang berfikir tentunya sependapat bahwa guna melindungi sesuatu yang lebih disayangi dan lebih berharga maka  segala suatu yang statusnya lebih rendah bisa saja dikorbankan.
   Allah Swt. membiarkan berjuta-juta makhluk hidup dikorbankan demi kelangsungan manusia, dan kita -- sejalan dengan fitrat diri kita --  juga mengikuti kaidah yang sama. Dengan demikian kalian bisa memahami betapa tidak konsistennya akidah penebusan sebagaimana yang diyakini umat Kristiani dengan kaidah hukum alam Ilahi.
    Keberatan lain yang kami ajukan adalah tentang pengakuan umat Kristiani yang menyatakan bahwa Yesus terbebas dari dosa warisan maupun dosa yang melekat kemudian. Umat Kristiani sebenarnya mengakui kalau Yesus memperoleh tubuh jasmaninya dari ibunda beliau sedangkan ibundanya ini menurut pandangan umum tidak terbebas dari dosa.
     Menurut keyakinan umat Kristiani, semua rasa sakit dan luka adalah buah dari dosa, namun rasanya tidak akan ada yang meragukan jika Yesus juga pasti pernah mengalami lapar dan haus, mungkin pernah menderita cacar air atau campak pada waktu usia muda, rasa sakit ketika giginya tumbuh pertama kali atau demam sekali-sekali.
    Menurut keyakinan Kristen, semua jenis sakit seperti itu adalah buah dari dosa. Lalu bagaimana Yesus bisa dianggap sebagai bentuk sebuah pengurbanan yang bersih dari dosa?
      Selain itu umat Kristiani meyakini bahwa yang bisa menciptakan hubungan dengan Rohul Kudus hanyalah mereka yang bersifat bebas  dosa. Lalu bagaimana Rohul Kudus mau berhubungan dengan Yesus yang tidak bebas dosa warisan atau terbebas dari rasa sakit sebagai buah dari dosa?  Rasanya hanya sosok Melkisedek[1] yang pantas memiliki hubungan dengan Rohul Kudus karena menurut umat Kristen ia adalah orang bebas dari segala dosa.

Benarkah Penyaliban Membebaskan Umat Kristen dari Dosa?

    Umat Kristiani mengakui bahwa makna hakiki dari pencapaian keselamatan adalah keadaan yang bebas dari dosa, hanya saja mereka malah tidak ada memberi contoh atau sarana hakiki guna mencapai kebebasan dari dosa. Mereka bahkan mengajukan dongeng menyedihkan yang tidak ada kaitannya dengan kondisi keterbebasan dari dosa.
   Kiranya jelas bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Tuhan, sehingga seluruh kesenangan hidup dan kesejahteraannya diarahkan kepada pengabdian Ilahi dan ia tidak akan pernah menikmati ketentraman  hakiki sampai ia bisa mengikat hubungan langsung dengan Tuhan-nya secara nyata.
    Ketika manusia meninggalkan Tuhan-nya maka keadaannya sama dengan orang yang menutup jendela kamarnya yang menghadap ke matahari. Dengan ditutupnya jendela itu  jelas kamar lalu menjadi gelap karena sinar mentari telah digantikan kegelapan. Kegelapan inilah yang dimaksud sebagai kesesatan dan neraka,  karena menjadi sumber akar dari semua penyakit.
   Jika memang ingin menghilangkan kegelapan tersebut dan mencari keselamatan dari neraka tadi, maka sejalan dengan kaidah hukum alam  tidak diperlukan tindakan menyalib siapa pun. Yang harus dibuka adalah jendelanya yang selama ini telah menghalangi cahaya masuk. Apakah ada yang meyakini bahwa kita bisa mendapatkan cahaya sambil bersikeras untuk tetap menutup jendela yang melaluinya  sinar akan masuk?
     Pengampunan dosa bukan suatu dongeng yang   akan diilustrasikan di kehidupan yang akan dating (akhirat). Masalahnya sama saja dengan kedurhakaan dan pengampunan terhadap lembaga pemerintahan. Seseorang dianggap sebagai pelanggar atau pendosa karena ketika ia meninggalkan Tuhan-nya ia tidak lagi mau membuka hati terhadap nur yang turun dari Tuhan ke dalam  kalbu manusia.
      Kondisi seperti itu dalam Al-Quran disebut sebagai junah yang dalam bahasa Parsi lalu berubah menjadi gunah (dosa). Akar katanya mengandung makna bergeser dari suatu titik tengah.  Kemudian kata itu berkonotasi sebagai dosa karena dengan meninggalkan titik dimana nur Ilahi turun maka ia telah menjauh dari sumber cahaya.
     Begitu pula dengan kata juram (kejahatan) yang sebenarnya berarti memotong sampai putus. Karena itu seorang pelanggar dianggap telah memutus habis semua hubungannya dengan Tuhan. Dengan demikian juram keadaannya lebih gawat daripada junah karena kata junah hanya menunjukkan kecenderungan yang salah, sedangkan kata juram mengindikasikan bahwa seseorang secara sengaja melakukan pelanggaran terhadap kaidah (aturan) Ilahi dan tidak lagi mempedulikan hubungan dengan Wujud-Nya.
   Jika demikian itu realitas dari  kesucian hakiki, maka muncul pertanyaan apakah nur (cahaya) yang diabaikan seseorang karena ia lebih menyukai kegelapan bisa diperoleh dengan cara mengimani penyaliban seorang manusia? Jelas pandangan seperti itu tidak masuk akal.
     Cara terbaik guna memperoleh nur tersebut menurut kaidah Ilahi yang abadi adalah dengan membuka jendela hati yang mengarah ke sinar mentari. Semua ini sama dengan keadaan menurut hukum fisik di alam dimana kita tidak mungkin mengatasi kegelapan tanpa membuka tingkap (jendela/tutupan) tempat lewatnya (masuknya)  sinar matahari.
    Dengan cara membuka jendela tadi maka  kita tidak saja  akan memperoleh cahaya, tetapi juga bisa memandang Sumber Cahaya itu sendiri. Guna mencerabut kegelapan akibat dari dosa dan kelalaian perlu kiranya ada cahaya. Hal ini dinyatakan Allah Swt. dalam ayat:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی  وَ اَضَلُّ  سَبِیۡلًا  
Barangsiapa buta di dunia ini  maka di akhirat pun ia akan buta juga dan bahkan akan lebih tersesat dari jalan (Bani Israil [17]:73).
     Dengan demikian maka mata untuk memandang Tuhan dan indera untuk menemukan Wujud-Nya sudah dikaruniakan dalam hidup ini juga. Mereka yang tidak memperolehnya di dunia ini  tidak akan mendapatkannya di akhirat nanti. Orang-orang bertakwa  yang akan melihat Tuhan mereka di Hari Penghisaban akan membawa bersama mereka indera yang dengan perantaraannya  mereka itu telah melihat Wujud-Nya. Adapun mereka yang tidak mendengar suara Tuhan di dunia ini, juga tidak akan mendengarnya di akhirat nanti.
    Mengenali Wujud Tuhan sebagaimana adanya tanpa suatu kesalahan serta memperoleh pemahaman hakiki tentang keberadaan-Nya ketika masih berada di dunia ini merupakan sumber dari segala nur (cahaya). Dengan demikian jelas bahwa orang-orang yang menganggap Tuhan bisa mati, mengalami kemalangan, bodoh dan bisa menjadi obyek kutukan, sesungguhnya mereka  tenggelam dalam lumpur kefasikan (kedurhakaan)  dan tidak mengenali pengetahuan hakiki serta wawasan tentang dasar keselamatan ruhani manusia.
     Umat Kristiani sesungguhnya melakukan kesalahan amat besar dengan berfikir bahwa keselamatan bisa diperoleh secara mudah, dimana amal saleh dianggap tidak relevan lagi. Padahal  ia (Yesus)  yang mereka pertuhan nyatanya melakukan puasa 40 hari. Nabi Musa a.s. juga melakukan puasa di Sinai. Jika amal saleh menjadi tidak ada artinya  lalu mengapa kedua wujud mulia ini melakukan suatu hal yang mubazir?
       Sebagaimana kita sadari bahwa Allah Swt. tidak menyukai kejahatan atau dosa, kita juga memahami bahwa Dia amat berkenan dengan laku (amal) saleh. Dengan cara ini maka laku (amal) saleh itulah yang menjadi penebusan bagi kejahatan atau dosa.
      Jika ada orang yang bersalah telah melakukan dosa tetapi kemudian beramal saleh yang menyenangkan Tuhan, jelas bahwa kondisi sebelumnya akan digantikan oleh kondisi berikutnya, karena kalau tidak maka akan bertentangan dengan ayat: “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik menghapuskan kejahatan-kejahatan(Hud 11]:115).
       Kita juga bisa mengatakan bahwa perbuatan dosa mengandung racun yang bersifat menghancurkan, sedangkan amal saleh merupakan obat penawar yang menyelamatkan orang dari kematian ruhani. Sebagai contoh, menutup semua tingkap (jendela)   sebuah kamar adalah keburukan yang berakibat munculnya kegelapan. Kebalikan dari  itu adalah membuka tingkap (jendela) yang mengarah kepada matahari sebagai amal saleh yang mengakibatkan nur cahaya yang tadinya terbendung sekarang memasuki kembali ruangan tersebut. (Kitabul Bariyah, Qadian, Ziaul Islam Press, 1898; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XIII, hlm. 76-81, London, 1984).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  21 November 2016


[1] Melkisedek adalah sosok raja Salem yang dianggap sebagai Imam Allah yang Mahatinggi.  Bahkan Nabi Ibrahim a.s. menghormatinya dengan antara lain membayarkan persepuluhan kepadanya (Kejadian 14:18-20). Dalam literatur Kristiani kemudian, sosok ini dianggap sebagai yang mengawali (euch arist) kedatangan Yesus dengan mendasarkan pada Surat kepada bangsa Iberani 5:6, 5:10 dan 6:20 dalam Perjanjian Baru. (Penterjemah/Khalid A. Qoyum).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar