Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
60
MISAL (PERUMPAMAAN) ISTRI-ISTRI DURHAKA NABI NUH A.S. DAN NABI LUTH A.S. & TUJUAN
UTAMA MELAKUKAN DA’WAH ISLAM
MENCIPTAKAN “PERSAUDARAAN RUHANI”
YANG HAKIKI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 59 dikemukakan mengenai “pernikahan” dalam Islam
merupakan salah satu bentuk “persahabatan”
yang hakiki antara laki-laki dan perempuan (suami-istri),
yang dari keduanya akan melahirkan
generasi penerus yang beriman dan
bertakwa (QS.49:14), karena itu -- sehubungan larangan Allah Swt. menjadikan “orang-orang kafir” sebagai wali (pelindung/pemenolong/sahabat –
QS.5:52; QS.60:9-10) dengan menyampingkan sesama Muslim -- selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi
Besar Muhammad saw. berkenaan dengan perempuan-perempuan yang menyatakan beriman dan bai’at kepada
beliau saw., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّبِیُّ
اِذَا جَآءَکَ الۡمُؤۡمِنٰتُ
یُبَایِعۡنَکَ عَلٰۤی اَنۡ لَّا یُشۡرِکۡنَ بِاللّٰہِ شَیۡئًا وَّ لَا
یَسۡرِقۡنَ وَ لَا یَزۡنِیۡنَ وَ لَا یَقۡتُلۡنَ اَوۡلَادَہُنَّ وَ لَا یَاۡتِیۡنَ بِبُہۡتَانٍ یَّفۡتَرِیۡنَہٗ بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِنَّ وَ اَرۡجُلِہِنَّ وَ لَا
یَعۡصِیۡنَکَ فِیۡ مَعۡرُوۡفٍ
فَبَایِعۡہُنَّ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُنَّ اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ﴿﴾
Hai Nabi, jika datang
kepada engkau perempuan-perempuan
beriman hendak bai’at kepada engkau عَلٰۤی اَنۡ
لَّا یُشۡرِکۡنَ بِاللّٰہِ شَیۡئًا وَّ لَا یَسۡرِقۡنَ وَ لَا یَزۡنِیۡنَ
وَ لَا یَقۡتُلۡنَ اَوۡلَادَہُنَّ وَ لَا
یَاۡتِیۡنَ بِبُہۡتَانٍ یَّفۡتَرِیۡنَہٗ
بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِنَّ وَ اَرۡجُلِہِنَّ وَ
لَا یَعۡصِیۡنَکَ فِیۡ مَعۡرُوۡفٍ -- bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu
pun dengan Allah, dan mereka tidak
akan mencuri, dan tidak akan berzina,
dan tidak
akan membunuh anak-anak mereka, dan tidak akan melemparkan suatu tuduhan yang
sengaja dibuat-buat antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakai engkau dalam hal-hal kebaikan, فَبَایِعۡہُنَّ وَ
اسۡتَغۡفِرۡ لَہُنَّ اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- maka terimalah
bai’at mereka dan mintalah ampunan
Allah bagi mereka, اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:13).
Peraturan Pernikahan
Dalam Islam (Al-Quran)
Mengingat
pentingnya menjalin “persaudaraan Muslim”
atau “persaudaraan Islam” dalam
rangka membangun “umat wahidah”
(kesatuan umat) atas dasar kesamaan iman kepada Allah
Swt. dan Rasul-Nya maka dalam masalah pernikahan Allah Swt. telah menetapkan peraturan
bahwa seorang laki-laki atau perempuan beriman harus menikah dengan orang-orang yang seiman dengan mereka, firman-Nya:
وَ لَا
تَنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکٰتِ حَتّٰی یُؤۡمِنَّ ؕ وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ
ۚ وَ لَا تُنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا ؕ وَ لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ
خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ یَدۡعُوۡنَ اِلَی النَّارِ ۚۖ وَ اللّٰہُ یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَ
الۡمَغۡفِرَۃِ بِاِذۡنِہٖ ۚ وَ
یُبَیِّنُ اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ
لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan janganlah
kamu menikahi perempuan-perempuan musyirik hingga mereka terlebih dulu beriman,
لَوۡ
اَعۡجَبَتۡکُمۡ وَ لَاَمَۃٌ
مُّؤۡمِنَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ وَّ -- dan niscaya hamba-sahaya perempuan yang beriman itu lebih
baik daripada perempuan musyrik mes-kipun ia mempesona hati kamu. وَ لَا تُنۡکِحُوا
الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا -- Dan
janganlah kamu menikahkan perempuan
yang beriman dengan laki-laki
musyrik hingga mereka terlebih
dulu beriman, وَ لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ -- dan niscaya
hamba-sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun ia mempesona hati kamu. اُولٰٓئِکَ
یَدۡعُوۡنَ اِلَی النَّارِ -- Mereka
mengajak ke dalam Api, وَ اللّٰہُ یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَ
الۡمَغۡفِرَۃِ بِاِذۡنِہٖ -- sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. وَ یُبَیِّنُ اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ یَتَذَکَّرُوۡنَ -- Dan Dia
menjelaskan Tanda-tanda-Nya kepada manusia supaya mereka mendapat nasihat. (Al-Baqarah
[2]:222). Lihat pula QS.24:27.
Masalah pernikahan dengan “perempuan-perempuan musyrik” erat hubungannya dengan masalah peperangan, sebab selama berlangsung peperanganlah orang-orang mukmin
-- karena meninggalkan rumah
selama waktu yang cukup panjang -- mungkin akan
tergoda dan ingin menikah dengan perempuan-perempuan musyrik serupa itu. Hal itu jelas dilarang oleh Al-Quran, seperti juga dilarang menikahkan perempuan-perempuan beriman kepada pria musyrik.
Hikmah Pelarangan Menikah
Dengan Non-Muslim & Misal Istri-istri
Durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s.
Larangan itu berdasarkan alasan agama, juga alasan akhlak dan sosial.
Seorang suami musyrik tentu memberi pengaruh yang luar biasa buruk, bukan
hanya terhadap istrinya saja, tetapi
juga terhadap anak-anaknya yang lahir
dari perhubungan mereka, dan demikian
juga perempuan musyrik pasti akan menggagalkan rencana pendidikan suaminya yang yang beriman bagi keturunannya. Inilah
sebabnya dalam pernikahan Nabi Besar Muhammad saw. sangat menekankan masalah kufū
(kesetaraan/kesamaan) antara suami-istri.
Tambahan pula, bila seorang pria
mukmin mempunyai istri musyrik
atau sebaliknya, karena cita-cita, kepercayaan,
dan pandangan hidup mereka jauh berbeda, maka tidak mungkin ada keserasian antara kedua orang itu, dan sebagai akibatnya
tidak akan ada suasana ketenteraman
di tengah keluarga, sebagaimana tergambar dalam doa berikut ini mengenai peran suami dalam rumahtangganya, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ
ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ وَّ
اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾
Dan
orang-orang yang mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertakwa. (Al-Furqan [25]:75).
Bagaimana mungkin doa yang dipanjatkan suami atau istri tersebut akan dikabulkan Allah Swt. kalau pasangan suami-istri tersebut berbeda agama atau berbeda
akidah? Contohnya adalah tdak adanya keharmonisan dalam rumahtangga
Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. karena istri-istri Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. mendustakan kenabian
(kerasulan) kedua suaminya, firman-Nya:
ضَرَبَ
اللّٰہُ مَثَلًا لِّلَّذِیۡنَ
کَفَرُوا امۡرَاَتَ نُوۡحٍ وَّ
امۡرَاَتَ لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ
عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا
عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di
bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada
kedua suami mereka, maka mereka
berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah,
وَّ قِیۡلَ
ادۡخُلَا النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ -- dan dikatakan kepada mereka: “Masuklah kamu berdua ke dalam Api
beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrīm
[66]:11).
Orang-orang kafir yang menolak pendakwaan rasul Allah yang dibangkitkan
di kalangan mereka diumpamakan Allah Swt. seperti istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan istri
durhaka Nabi Luth a.s. , hal
itu untuk menunjukkan bahwa persahabatan
dengan orang bertakwa -- bahkan nabi
Allah -- sekalipun tidak berfaedah bagi orang yang
mempunyai kecenderungan buruk menolak
kebenaran.
Perumpamaan
itu pun mengisyaratkan bahwa pada hakikatnya kedudukan para rasul Allah
di kalangan kaumnya adalah bagaikan kedudukan suami terhadap istrinya, karena sebagaimana halnya para suami melakukan “pembuahan
rahim jasman istrinya” sehingga menghasilkan anak-keturunan, demikian pula para rasul
Allah sebagai “suami ruhani”
berkewajiban “membuahi rahim ruhani (jiwa)” kaumnya agar terjadi kelahiran akhlak
dan ruhani terpuji pada diri kaumnya.
Itulah sebabnya jika suatu kaum mendustakan dan menentang
rasul Allah yang dibangkitkan di
kalangan mereka maka akibatnya selain
tidak akan terjadi kelahiran akhlak
dan ruhani yang terpuji, kaum itu pun pada
akhirnya akan dibinasakan Allah Swt.
seperti halnya istri-istri durhaka
Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s.
Pentingnya Mengutamakan Persamaan Iman
(Agama)
Dengan demikian jelaslah bagaimana
pentingnya peran peraturan pernikahan” dalam ajaran
Islam (Al-Quran- QS.2:222), sehingga sehubungan misal (perumpamaan) istri-istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan nabi Luth a.s. tersebut betapa pentingnya adanya persamaan dalam hal iman
(akidah) antara pasangan suami-istri, sebagaimana dikemukakan ayat لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ
وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ وَّ -- “dan niscaya
hamba-sahaya perempuan yang beriman itu lebih baik daripada perempuan
musyrik meskipun ia mempesona hati kamu.”
Dalam Islam
martabat budak (hamba sahaya) tidak
merupakan ciri kerendahan derajat,
dan seorang budak-perempuan Muslim
dalam segala segi akan menjadi istri yang
lebih baik untuk seorang laki Muslim merdeka daripada perempuan musyrik dan begitu pula
sebaliknya.
Budak-budak (hamba-sahaya) memperoleh kehormatan besar dalam masyarakat
Islam karena keimanan dan ketakwaan
mereka. Contohnya Bilal, Salman al-Farsi,
dan Salim, merupakan sahabat-sahabat Nabi Besar Muhammad saw. yang sangat dimuliakan. Mereka itu semua
dahulunya adalah budak-budak yang
kemudian dimerdekakan.
Jadi, kembali kepada surah Al-Mumtahanah yang membahas larangan bagi orang-orang
beriman menjadikan orang-orang kafir (Non-Muslim) sebagai wali
(pelindung/penolong/sahabat)
(QS.60:9-10) dan sehubungan dengan perempuan
beriman yang hijrah dari Mekkah
ke Madinah serta perempuan-perempuan
kafir yang pergi meninggalkan suami
mereka yang beriman di Medinah (QS.60:11-13), selanjutnya Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا لَا تَتَوَلَّوۡا قَوۡمًا غَضِبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِمۡ
قَدۡ یَئِسُوۡا مِنَ الۡاٰخِرَۃِ کَمَا یَئِسَ الۡکُفَّارُ مِنۡ اَصۡحٰبِ
الۡقُبُوۡرِ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu menjadikan
sebagai wali (pelindung/penolong/sahabat)
kaum yang Allah murka atas mereka, sesungguhnya mereka telah berputus-asa mengenai akhirat
sebagaimana orang-orang kafir
telah berputus-asa mengenai orang-orang
yang ada di dalam kubur. (Al-Mumtahanah [60]:14).
Kata-kata sesungguhnya mereka telah
berputus asa mengenai alam ukhrawi, berarti bahwa mereka tidak beriman kepada alam ukhrawi
seperti halnya mereka tidak percaya
bahwa di akhirat orang mati akan dibangkitkan kembali. Kata “mereka” dapat secara
khusus dikenakan kepada orang-orang
Yahudi karena ungkapan “yang Allah telah murka atas mereka” telah dipakai mengenai orang-orang Yahudi dalam beberapa ayat
Al-Quran (QS.1:7; QS.3:113; QS.5:61).
Dengan demikian larangan Allah Swt. kepada orang-orang beriman dalam QS.60:1-4 hanya
berlaku terhadap orang-orang kafir yang
berperang terhadap kaum Muslimin
seperti dinyatakan dalam ayat berikutnya. Perhubungan
bersahabat dengan semua orang-orang
bukan Islam yang tidak berperang
terhadap Islam tidak dilarang, yakni berbuat adil dan berbuat baik terhadap mereka,
firman-Nya:
لَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ
یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ
یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ
اَنۡ تَبَرُّوۡہُمۡ وَ
تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّمَا
یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ
اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ
ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ
تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu untuk berbuat kebaikan dan berlaku
adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ وَ لَمۡ یُخۡرِجُوۡکُمۡ مِّنۡ
دِیَارِکُمۡ -- yaitu orang-orang
yang tidak memerangi kamu karena agama
dan yang tidak mengusir kamu dari
rumah-rumah kamu, اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ -- sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil. اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ
الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ -- Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu
dari rumah-rumahmu dan telah
membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ
-- dan barangsiapa bersahabat
dengan mereka maka mereka itulah
orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).
Tujuan Utama Melakukan Da’wah Islam “Bersatu Dalam Tauhid Ilahi”
Melalui Peragaan Akhlak Mulia
Jadi, betapa nubuatan Allah Swt. dalam surah Al-Mumtahanah
ayat 8 mengenai akan terwujudnya “persaudaraan ruhani” antara umat Islam dengan para musuh mereka zalim menjadi kenyataan
dalam masa Nabi Besar Muhammad saw. setelah peristiwa Fatah Mekkah, firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan
kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini kamu bermusuhan dengan mereka, وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ
ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- karena Allah Maha Kuasa, dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Mumtahanah
[60]:8).
Nubuatan
Allah Swt. tersebut sesuai dengan tujuan utama da’wah
Islam yang harus dilakukan umat Islam, yakni terjalinnya “persaudaraan
ruhani” yang hakiki, bukan mengabadikan
permusuhan dan kebencian, firman-Nya:
وَ مَنۡ
اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ
صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَسۡتَوِی
الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ
اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ
اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya
dari orang yang mengajak manusia kepada
Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- serta berkata: ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri. وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ -- Dan tidaklah
sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ
بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ
بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah
keburukan itu dengan cara yang
sebaik-baik-nya maka tiba-tiba
ia, yang di antara engkau dan dirinya
ada permusuhan, akan menjadi seperti
seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا -- Dan sekali-kali
tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang
yang sabar, dan sekali-kali tidak
dianugerahi itu kecuali orang yang memiliki bagian besar dalam kebaikan. (Hā
Mim – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).
Syarat-syarat Menjadi “Pendakwah
Muslim” yang Hakiki & Pentingnya
Keselarasan Antara Perkataan dan Perbuatan
Firman Allah Swt. tersebut mengandung petunjuk cara melakukan da’wah
Islam yang terbaik
yang dilaksanakan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan para Sahabah
r.a. yakni yang berujung pada: فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ
بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- “maka tiba-tiba ia yang di
antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia”.
Untuk mampu menjadi pendakwah hakiki seperti itu
dimulai dengan pernyataan Allah Swt.: ۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ
صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ وَ مَنۡ
اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَا -- “Dan siapakah
yang lebih baik pembicaraannya dari orang
yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh”. Makna “beramal
shaleh” dalam ayat tersebut adalah harus ada keselarasan
antara ucapan dengan perbuatan para pendakwah
Muslim, yang diperkuat dengan ucapannya: وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri,” sebab jika
tidak demikian mereka akan mendapat peringatan
keras Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ
تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ کَبُرَ
مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ
سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan? کَبُرَ مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ
اَنۡ تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
-- Adalah sesuatu
yang paling di-benci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ
یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا
کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ مَّرۡصُوۡصٌ --
Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang berperang dalam
barisan-barisan, mereka itu seakan-akan
suatu bangunan yang tersusun rapat.
(Ash-Shaf [61]:3-5).
Perbuatan seorang Muslim
hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya
(ucapan-ucapannya). Bicara sombong
dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata berupa amal
shalih adalah berbau kemunafikan
dan ketidaktulusan serta riya
(pamer) belaka, sebagai firman-Nya mengenai
para pemuka kaum Yahudi:
اَتَاۡمُرُوۡنَ
النَّاسَ بِالۡبِرِّ وَ تَنۡسَوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ تَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ
ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan
sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab itu maka apakah kamu tidak berpikir? (Al-Baqarah
[2]:45).
Birr dalam ayat: اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ – “Apakah kamu menyuruh
orang lain berbuat kebajikan ”
berarti: berbuat baik terhadap keluarga dan lain-lain, kejujuran,
kesetiaan,ketakwaan, kepatuhan kepada Allah Swt. (Aqrab-ul-Mawarid).
Kata itu berarti pula kebaikan atau kebajikan yang berlimpah-limpah (Mufradat).
“Alkitab” dalam ayat selanjutnya
tertuju kepada Bible tetapi
anak kalimat padahal kamu membaca Kitab itu tidak mengandung arti bahwa
semua isi Bible diterima sebagai benar, sebab pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan Al-Quran
sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) karena dalam Bible telah terjadi banyak campur-tangan manusia (QS.2:42-43).
Dalam ayat surah Ash-Shaf
selanjutnya Allah Swt.
menjelaskan bahwa orang-orang
Muslim diharapkan tampil dalam barisan
yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah
komando pemimpin mereka, yang
terhadapnya mereka harus taat dengan
sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya,
firman-Nya: اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ --
Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang berperang dalam
barisan-barisan, mereka itu seakan-akan
suatu bangunan yang tersusun rapat (Ash-Shaf [61]:5).
Tetapi suatu kaum, yang berusaha menjadi satu jemaat yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita,
satu maksud, satu tujuan dan satu rencana serta satu pimpinan (imam) untuk mencapai tujuan mulia tersebut, itulah sebabnya mengapa Allah Swt.
telah memerintahman umat Islam untuk
senantiasa berpegang teguh pada “tali Allah” agar tidak tercerai-berai (QS.3:103-106).
Jadi, kembali kepada ciri pendakwah Muslim yang hakiki
(QS.41:34-36), karena anjuran
(mengajak) kepada kebenaran sudah
pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya, ayat selanjutnya menasihatkan kepada si penganjur (penda’wah) supaya bersabar
dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan yang diterima dari penganiaya-penganiaya dengan
kebaikan: وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ -- Dan tidaklah
sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ
بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ
بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah
keburukan itu dengan cara yang
sebaik-baiknya,” sehingga hasilnya
adalah: فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ
عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ
حَمِیۡمٌ -- “maka tiba-tiba ia yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan,
akan menjadi seperti seorang sahabat
yang setia”.
Pendakwah Hakiki yang Sukses
Menjalin “Persaudaraan Ruhani” Adalah “Pemilik
Bagian Besar Dalam Kebaikan”
Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. mengatakan
bahwa -- kecuali bagi orang-orang yang
meraih ذُوۡحَظٍّ عَظِیۡمٍ (pemilik bagian besar
dalam kebaikan) -- melakukan
“jihad” berupa
melaksanakan da’wah yang hakiki seperti itu sangat
berat karena yang dihadapi kadang-kadang berupa “manusia-manusia syaitan”
seperti Fir’aun atau Abu Jahal
dan kawan-kawannya, firman-Nya:
وَ مَا
یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا
ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا ذُوۡحَظٍّ
عَظِیۡمٍ ﴿﴾ وَ اِمَّا
یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu
kecuali orang-orang yang sabar, dan
sekali-kali tidak dianugerahi itu اِلَّا
ذُوۡحَظٍّ عَظِیۡمٍ -- kecuali orang yang memiliki bagi-an besar dalam kebaikan. وَ اِمَّا
یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ -- Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau
maka mohonlah perlindungan kepada Allah,
اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ -- sesung-guhnya Dia
Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. ((Hā Mim – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:36-37).
Demikianlah gambaran para penda’wah Muslim yang hakiki sebagaimana yang telah dicontohkan
oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan
para sahabah r.a. dalam firman-Nya
sebelum ini:
وَ مَنۡ
اَحۡسَنُ قَوۡلًا مِّمَّنۡ دَعَاۤ اِلَی اللّٰہِ وَ عَمِلَ
صَالِحًا وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَا تَسۡتَوِی
الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ
اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ
اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya
dari orang yang mengajak manusia kepada
Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ -- serta berkata: ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri. وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ وَ لَا السَّیِّئَۃُ -- Dan tidaklah
sama kebaikan dan keburukan. اِدۡفَعۡ
بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ
بَیۡنَہٗ عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- Tolaklah
keburukan itu dengan cara yang
sebaik-baik-nya maka tiba-tiba
ia, yang di antara engkau dan dirinya
ada permusuhan, akan menjadi seperti
seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا -- Dan sekali-kali
tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang
yang sabar, dan sekali-kali tidak
dianugerahi itu kecuali orang yang memiliki bagian besar dalam kebaikan. (Hā
Mim – As-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).
Sebagai
akibatnya adalah nubuatan dalam surah Al-Mumtahanah berikut ini menjadi genap (sempurna)
firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ اَنۡ یَّجۡعَلَ بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ
عَادَیۡتُمۡ مِّنۡہُمۡ مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan
kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini kamu bermusuhan dengan mereka, وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ
ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- karena Allah Maha Kuasa, dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Mumtahanah
[60]:8).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
13 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar