Minggu, 13 November 2016

Misal (Perumpamaan) "istri-istri Durhaka" Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. & Tujuan Utama Melakukan "Da'wah Islam" Menciptakan "Persaudaraan Ruhani" yang Hakiki





Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 60

MISAL (PERUMPAMAAN) ISTRI-ISTRI DURHAKA NABI NUH A.S. DAN NABI LUTH A.S. & TUJUAN UTAMA MELAKUKAN DA’WAH ISLAM MENCIPTAKAN “PERSAUDARAAN RUHANI” YANG HAKIKI
 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 59 dikemukakan  mengenai  pernikahan” dalam Islam merupakan salah satu bentuk “persahabatan” yang hakiki antara  laki-laki dan perempuan (suami-istri), yang dari keduanya akan melahirkan generasi penerus yang beriman dan bertakwa   (QS.49:14), karena itu   -- sehubungan larangan  Allah Swt.  menjadikan “orang-orang kafir” sebagai wali (pelindung/pemenolong/sahabat – QS.5:52; QS.60:9-10)  dengan menyampingkan sesama Muslim --   selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.  berkenaan dengan perempuan-perempuan  yang menyatakan beriman dan bai’at kepada beliau saw., firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  النَّبِیُّ  اِذَا جَآءَکَ  الۡمُؤۡمِنٰتُ یُبَایِعۡنَکَ عَلٰۤی  اَنۡ  لَّا یُشۡرِکۡنَ بِاللّٰہِ شَیۡئًا وَّ لَا یَسۡرِقۡنَ وَ لَا یَزۡنِیۡنَ وَ لَا یَقۡتُلۡنَ اَوۡلَادَہُنَّ وَ  لَا یَاۡتِیۡنَ  بِبُہۡتَانٍ یَّفۡتَرِیۡنَہٗ بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِنَّ وَ اَرۡجُلِہِنَّ وَ لَا یَعۡصِیۡنَکَ فِیۡ  مَعۡرُوۡفٍ فَبَایِعۡہُنَّ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُنَّ اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ﴿﴾ 
Hai Nabi, jika datang kepada  engkau perempuan-perempuan beriman  hendak bai’at kepada engkau  عَلٰۤی  اَنۡ  لَّا یُشۡرِکۡنَ بِاللّٰہِ شَیۡئًا وَّ لَا یَسۡرِقۡنَ وَ لَا یَزۡنِیۡنَ وَ لَا یَقۡتُلۡنَ اَوۡلَادَہُنَّ وَ  لَا یَاۡتِیۡنَ  بِبُہۡتَانٍ یَّفۡتَرِیۡنَہٗ بَیۡنَ  اَیۡدِیۡہِنَّ وَ اَرۡجُلِہِنَّ وَ لَا یَعۡصِیۡنَکَ فِیۡ  مَعۡرُوۡفٍ  --  bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, dan mereka tidak akan mencuri, dan tidak akan berzina,  dan tidak akan membunuh anak-anak mereka,  dan tidak akan melemparkan suatu tuduhan yang sengaja dibuat-buat antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakai engkau dalam hal-hal kebaikan, فَبَایِعۡہُنَّ وَ اسۡتَغۡفِرۡ لَہُنَّ اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ  --  maka terimalah bai’at mereka dan mintalah ampunan Allah bagi mereka, اِنَّ اللّٰہَ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ --  sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:13).

Peraturan Pernikahan Dalam Islam (Al-Quran)

      Mengingat pentingnya menjalin “persaudaraan Muslim” atau “persaudaraan Islam” dalam rangka membangun “umat  wahidah  (kesatuan umat)  atas dasar kesamaan iman  kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya maka dalam masalah pernikahan  Allah Swt. telah menetapkan peraturan bahwa seorang laki-laki atau perempuan beriman harus menikah dengan orang-orang yang seiman dengan mereka, firman-Nya:
وَ لَا تَنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکٰتِ حَتّٰی یُؤۡمِنَّ ؕ وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ  خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ  وَّ لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ ۚ وَ لَا تُنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا ؕ وَ لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ ؕ اُولٰٓئِکَ یَدۡعُوۡنَ  اِلَی النَّارِ ۚۖ وَ اللّٰہُ  یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَ الۡمَغۡفِرَۃِ  بِاِذۡنِہٖ ۚ وَ یُبَیِّنُ  اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ ﴿﴾٪
Dan  janganlah kamu menikahi perempuan-perempuan musyirik hingga mereka terlebih  dulu beriman, لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ  وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ  خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ  وَّ --  dan niscaya  hamba-sahaya perempuan yang beriman itu lebih baik daripada perempuan musyrik mes-kipun ia mempesona hati kamu. وَ لَا تُنۡکِحُوا الۡمُشۡرِکِیۡنَ حَتّٰی یُؤۡمِنُوۡا  --  Dan janganlah kamu menikahkan perempuan yang beriman dengan laki-laki musyrik hingga mereka terlebih dulu  beriman, وَ لَعَبۡدٌ مُّؤۡمِنٌ خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکٍ وَّ لَوۡ اَعۡجَبَکُمۡ   -- dan niscaya  hamba-sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik, meskipun ia mempesona hati kamu. اُولٰٓئِکَ یَدۡعُوۡنَ  اِلَی النَّارِ --   Mereka mengajak ke dalam Api, وَ اللّٰہُ  یَدۡعُوۡۤا اِلَی الۡجَنَّۃِ وَ الۡمَغۡفِرَۃِ  بِاِذۡنِہٖ  -- sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. وَ یُبَیِّنُ  اٰیٰتِہٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّہُمۡ  یَتَذَکَّرُوۡنَ  -- Dan Dia menjelaskan Tanda-tanda-Nya kepada manusia supaya mereka  mendapat nasihat. (Al-Baqarah [2]:222). Lihat pula QS.24:27.
     Masalah pernikahan dengan “perempuan-perempuan musyrik” erat hubungannya dengan masalah peperangan, sebab selama berlangsung peperanganlah orang-orang mukmin  --  karena meninggalkan rumah selama waktu yang cukup panjang  --  mungkin akan tergoda dan ingin menikah dengan perempuan-perempuan musyrik serupa itu. Hal itu jelas dilarang oleh Al-Quran, seperti juga dilarang menikahkan perempuan-perempuan beriman kepada pria musyrik.

Hikmah Pelarangan Menikah Dengan Non-Muslim & Misal Istri-istri Durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s.

       Larangan itu berdasarkan alasan agama, juga alasan akhlak dan sosial. Seorang suami musyrik tentu memberi pengaruh yang luar biasa buruk, bukan hanya terhadap istrinya saja, tetapi juga terhadap anak-anaknya yang lahir dari perhubungan mereka, dan demikian juga  perempuan  musyrik pasti akan menggagalkan rencana pendidikan suaminya yang yang beriman bagi keturunannya.  Inilah sebabnya dalam   pernikahan Nabi Besar Muhammad saw. sangat menekankan masalah  kufū (kesetaraan/kesamaan) antara suami-istri.
     Tambahan pula, bila seorang pria mukmin mempunyai istri musyrik atau  sebaliknya, karena cita-cita, kepercayaan, dan pandangan hidup mereka jauh berbeda, maka tidak mungkin ada keserasian antara kedua orang itu, dan sebagai akibatnya tidak akan ada suasana ketenteraman di tengah keluarga, sebagaimana tergambar dalam doa berikut ini mengenai  peran suami dalam rumahtangganya, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَا ہَبۡ لَنَا مِنۡ اَزۡوَاجِنَا وَ ذُرِّیّٰتِنَا قُرَّۃَ اَعۡیُنٍ   وَّ اجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِیۡنَ اِمَامًا ﴿﴾
Dan orang-orang yang mengatakan: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.  (Al-Furqan [25]:75).
      Bagaimana mungkin doa  yang dipanjatkan suami atau istri tersebut akan dikabulkan Allah Swt. kalau pasangan suami-istri tersebut berbeda agama atau  berbeda akidah? Contohnya adalah  tdak adanya keharmonisan dalam  rumahtangga Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s. karena istri-istri Nabi Nuh  a.s. dan Nabi Luth a.s. mendustakan kenabian (kerasulan) kedua suaminya, firman-Nya:
ضَرَبَ اللّٰہُ  مَثَلًا  لِّلَّذِیۡنَ  کَفَرُوا امۡرَاَتَ  نُوۡحٍ وَّ امۡرَاَتَ  لُوۡطٍ ؕ کَانَتَا تَحۡتَ عَبۡدَیۡنِ مِنۡ عِبَادِنَا صَالِحَیۡنِ فَخَانَتٰہُمَا فَلَمۡ یُغۡنِیَا عَنۡہُمَا مِنَ اللّٰہِ شَیۡئًا وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ ﴿﴾
Allah mengemukakan istri Nuh  dan istri Luth sebagai misal bagi orang-orang kafir. Keduanya di bawah dua hamba dari hamba-hamba Kami yang saleh, tetapi keduanya berbuat khianat kepada kedua suami mereka, maka mereka berdua sedikit pun tidak dapat membela kedua istri mereka itu di hadapan Allah, وَّ قِیۡلَ ادۡخُلَا  النَّارَ مَعَ الدّٰخِلِیۡنَ  -- dan dikatakan kepada mereka: Masuklah kamu berdua ke dalam Api beserta orang-orang yang masuk.” (At-Tahrīm [66]:11).
       Orang-orang kafir  yang menolak pendakwaan rasul Allah yang dibangkitkan  di kalangan mereka  diumpamakan Allah Swt. seperti istri durhaka Nabi Nuh a.s.  dan istri durhaka  Nabi Luth a.s. , hal itu untuk menunjukkan bahwa persahabatan dengan orang bertakwa  -- bahkan nabi Allah  --  sekalipun      tidak berfaedah bagi orang yang mempunyai kecenderungan buruk menolak kebenaran.
       Perumpamaan itu pun mengisyaratkan bahwa pada hakikatnya kedudukan para rasul Allah di kalangan kaumnya  adalah bagaikan kedudukan suami terhadap istrinya,  karena sebagaimana  halnya para suami  melakukan “pembuahan  rahim jasman istrinya” sehingga menghasilkan anak-keturunan, demikian pula   para rasul Allah sebagai “suami ruhani” berkewajiban  membuahi rahim ruhani (jiwa)” kaumnya agar terjadi  kelahiran akhlak dan ruhani terpuji pada diri kaumnya.
         Itulah sebabnya  jika suatu kaum mendustakan dan menentang rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka maka akibatnya selain tidak akan terjadi kelahiran akhlak dan ruhani yang terpuji,  kaum itu pun pada akhirnya akan dibinasakan Allah Swt. seperti halnya istri-istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan Nabi Luth a.s.

Pentingnya Mengutamakan  Persamaan Iman  (Agama)

     Dengan demikian jelaslah bagaimana pentingnya  peran peraturan   pernikahan” dalam  ajaran Islam (Al-Quran- QS.2:222), sehingga sehubungan  misal (perumpamaan) istri-istri durhaka Nabi Nuh a.s. dan nabi Luth a.s. tersebut   betapa pentingnya adanya persamaan dalam hal iman (akidah)  antara pasangan suami-istri, sebagaimana dikemukakan  ayat    لَوۡ اَعۡجَبَتۡکُمۡ  وَ لَاَمَۃٌ مُّؤۡمِنَۃٌ  خَیۡرٌ مِّنۡ مُّشۡرِکَۃٍ  وَّ --  “dan niscaya  hamba-sahaya perempuan yang beriman itu lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun ia mempesona hati kamu.”
      Dalam Islam martabat budak (hamba sahaya) tidak merupakan ciri kerendahan derajat, dan seorang budak-perempuan Muslim dalam segala segi akan menjadi istri yang lebih baik untuk seorang laki  Muslim merdeka daripada perempuan musyrik dan begitu pula sebaliknya.
       Budak-budak (hamba-sahaya) memperoleh kehormatan besar dalam masyarakat Islam karena keimanan dan ketakwaan mereka. Contohnya  Bilal, Salman al-Farsi, dan Salim, merupakan sahabat-sahabat  Nabi Besar Muhammad saw. yang sangat dimuliakan. Mereka itu semua dahulunya adalah budak-budak yang kemudian dimerdekakan.
    Jadi, kembali kepada surah Al-Mumtahanah yang membahas  larangan  bagi orang-orang beriman menjadikan  orang-orang kafir (Non-Muslim) sebagai wali (pelindung/penolong/sahabat)  (QS.60:9-10) dan sehubungan dengan perempuan beriman yang hijrah dari Mekkah ke Madinah serta perempuan-perempuan kafir yang pergi meninggalkan suami mereka yang beriman di Medinah (QS.60:11-13), selanjutnya  Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا لَا تَتَوَلَّوۡا قَوۡمًا غَضِبَ اللّٰہُ  عَلَیۡہِمۡ  قَدۡ یَئِسُوۡا مِنَ الۡاٰخِرَۃِ کَمَا یَئِسَ الۡکُفَّارُ  مِنۡ اَصۡحٰبِ  الۡقُبُوۡرِ ﴿٪﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan sebagai wali (pelindung/penolong/sahabat)   kaum yang  Allah  murka atas mereka, sesungguhnya mereka telah berputus-asa mengenai akhirat sebagaimana orang-orang kafir telah berputus-asa mengenai orang-orang yang ada di dalam kubur.  (Al-Mumtahanah [60]:14).
    Kata-kata sesungguhnya mereka telah berputus asa mengenai alam ukhrawi, berarti bahwa mereka tidak beriman kepada alam ukhrawi seperti halnya mereka tidak percaya bahwa  di akhirat orang mati akan dibangkitkan kembali. Kata “mereka” dapat secara khusus dikenakan kepada orang-orang Yahudi karena ungkapan “yang Allah telah murka atas mereka”  telah dipakai mengenai orang-orang Yahudi dalam beberapa ayat Al-Quran (QS.1:7; QS.3:113; QS.5:61).
  Dengan demikian  larangan  Allah Swt. kepada orang-orang beriman dalam QS.60:1-4     hanya berlaku terhadap orang-orang kafir yang berperang terhadap kaum Muslimin seperti dinyatakan dalam ayat berikutnya. Perhubungan bersahabat dengan semua orang-orang bukan Islam yang tidak berperang terhadap Islam tidak dilarang, yakni berbuat adil dan berbuat baik terhadap mereka,  firman-Nya:
لَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ  عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ  اَنۡ  تَبَرُّوۡہُمۡ وَ تُقۡسِطُوۡۤا اِلَیۡہِمۡ ؕ اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ ۚ  وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ ﴿﴾
Allah tidak melarang kamu  untuk berbuat kebaikan dan berlaku adil terhadap mereka, عَنِ الَّذِیۡنَ لَمۡ یُقَاتِلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ لَمۡ  یُخۡرِجُوۡکُمۡ  مِّنۡ  دِیَارِکُمۡ   --  yaitu orang-orang yang tidak memerangi kamu karena agama dan yang tidak mengusir kamu dari rumah-rumah kamu,  اِنَّ  اللّٰہَ یُحِبُّ الۡمُقۡسِطِیۡنَ --  sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.    اِنَّمَا یَنۡہٰىکُمُ اللّٰہُ عَنِ الَّذِیۡنَ قٰتَلُوۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ وَ اَخۡرَجُوۡکُمۡ  مِّنۡ دِیَارِکُمۡ وَ ظٰہَرُوۡا عَلٰۤی  اِخۡرَاجِکُمۡ اَنۡ تَوَلَّوۡہُمۡ   --  Sesungguhnya Allah melarang kamu menjadikan sebagai  wali (pelindung/pemimpin/sahabat) sahabat orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan telah mengusir kamu dari rumah-rumahmu dan telah membantu untuk mengusir kamu, وَ مَنۡ یَّتَوَلَّہُمۡ فَاُولٰٓئِکَ  ہُمُ الظّٰلِمُوۡنَ  -- dan barangsiapa bersahabat dengan mereka maka mereka itulah orang-orang zalim. (Al-Mumtahanah [60]:9-10).

Tujuan Utama Melakukan Da’wah Islam Bersatu Dalam Tauhid Ilahi” Melalui Peragaan Akhlak Mulia

       Jadi, betapa nubuatan Allah Swt. dalam surah Al-Mumtahanah ayat 8  mengenai akan terwujudnya “persaudaraan ruhani” antara umat Islam dengan para musuh mereka zalim menjadi kenyataan  dalam masa Nabi Besar Muhammad saw. setelah peristiwa Fatah Mekkah, firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan dengan mereka, وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8).
     Nubuatan Allah Swt. tersebut sesuai dengan tujuan utama    da’wah Islam   yang harus dilakukan umat Islam, yakni terjalinnya “persaudaraan ruhani” yang hakiki,  bukan  mengabadikan permusuhan dan kebencian,  firman-Nya:
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya dari orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  --  serta berkata:    ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ --   Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.  اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baik-nya maka tiba-tiba ia,  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا  --  Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu kecuali orang yang memiliki  bagian besar dalam kebaikan. (Hā MimAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).

Syarat-syarat  Menjadi “Pendakwah Muslim” yang Hakiki &  Pentingnya Keselarasan Antara Perkataan dan Perbuatan

       Firman Allah Swt. tersebut mengandung petunjuk cara melakukan da’wah  Islam  yang terbaik yang dilaksanakan oleh  Nabi Besar Muhammad saw. dan para  Sahabah r.a. yakni yang berujung  pada:  فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- “maka tiba-tiba ia  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia”.
        Untuk mampu menjadi pendakwah hakiki  seperti itu dimulai dengan pernyataan Allah Swt.:  ۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَا  -- “Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya dari orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh”. Makna “beramal shaleh” dalam ayat tersebut adalah harus ada  keselarasan antara ucapan dengan perbuatan   para pendakwah Muslim, yang diperkuat dengan ucapannya: وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ   --  ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri,    sebab jika tidak demikian mereka akan mendapat peringatan keras Allah Swt. dalam firman-Nya berikut ini:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  لِمَ  تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا  تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan?  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ  --   Adalah sesuatu yang paling di-benci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.    اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ    --  Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat.   (Ash-Shaf [61]:3-5).
Perbuatan seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya (ucapan-ucapannya). Bicara sombong dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata  berupa amal shalih adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan  serta riya (pamer) belaka, sebagai firman-Nya mengenai  para pemuka kaum Yahudi:
اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ وَ تَنۡسَوۡنَ اَنۡفُسَکُمۡ وَ اَنۡتُمۡ تَتۡلُوۡنَ الۡکِتٰبَ ؕ اَفَلَا تَعۡقِلُوۡنَ ﴿﴾
Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan  sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca  Kitab  itu maka apakah  kamu tidak berpikir? (Al-Baqarah [2]:45).
       Birr dalam ayat:  اَتَاۡمُرُوۡنَ النَّاسَ بِالۡبِرِّ – “Apakah kamu menyuruh orang lain berbuat kebajikan    berarti: berbuat baik terhadap keluarga dan lain-lain, kejujuran, kesetiaan,ketakwaan, kepatuhan kepada Allah Swt.  (Aqrab-ul-Mawarid).  Kata itu berarti pula kebaikan atau kebajikan yang berlimpah-limpah (Mufradat).
      “Alkitab” dalam ayat selanjutnya  tertuju kepada Bible tetapi anak kalimat padahal kamu membaca Kitab itu tidak mengandung arti bahwa semua isi Bible diterima sebagai benar, sebab pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan pewahyuan Al-Quran sebagai Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) karena dalam Bible telah terjadi banyak campur-tangan manusia (QS.2:42-43).
  Dalam ayat surah Ash-Shaf  selanjutnya Allah Swt.  menjelaskan bahwa orang-orang Muslim diharapkan tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan, di bawah komando pemimpin mereka, yang terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya, firman-Nya: اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ    --  Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat    (Ash-Shaf [61]:5).
    Tetapi suatu kaum, yang berusaha menjadi satu jemaat yang kokoh-kuat, harus mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana  serta satu pimpinan (imam) untuk mencapai tujuan mulia  tersebut, itulah sebabnya mengapa Allah Swt. telah memerintahman umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh pada “tali Allah” agar tidak tercerai-berai (QS.3:103-106).
   Jadi, kembali kepada ciri pendakwah Muslim yang hakiki (QS.41:34-36), karena anjuran (mengajak) kepada kebenaran sudah pasti diikuti oleh kesulitan-kesulitan bagi penganjurnya, ayat selanjutnya  menasihatkan kepada si penganjur (penda’wah) supaya bersabar dan bertabah hati menanggung segala kesulitan, dan malahan supaya membalas keburukan  yang diterima dari penganiaya-penganiaya  dengan kebaikan:   وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ --   Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.  اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baiknya,    sehingga hasilnya adalah: فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ -- “maka tiba-tiba ia  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia”.

Pendakwah  Hakiki  yang Sukses  Menjalin “Persaudaraan Ruhani Adalah  Pemilik Bagian Besar Dalam Kebaikan

  Dalam ayat selanjutnya Allah Swt. mengatakan bahwa   -- kecuali bagi orang-orang yang meraih ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ     (pemilik bagian besar dalam kebaikan)  --  melakukan   jihad” berupa melaksanakan  da’wah yang hakiki seperti itu sangat berat  karena yang dihadapi  kadang-kadang berupa “manusia-manusia syaitan  seperti  Fir’aun atau Abu Jahal dan kawan-kawannya, firman-Nya:
وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا ۚ وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ ﴿﴾  وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾
Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu اِلَّا  ذُوۡحَظٍّ  عَظِیۡمٍ  -- kecuali orang yang memiliki  bagi-an besar dalam kebaikan. وَ اِمَّا یَنۡزَغَنَّکَ مِنَ الشَّیۡطٰنِ نَزۡغٌ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ  -- Dan jika godaan dari syaitan menggoda engkau maka mohonlah perlindungan kepada Allah, اِنَّہٗ  ہُوَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ  -- sesung-guhnya Dia  Maha Mendengar, Maha Mengetahui. ((Hā MimAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:36-37).
         Demikianlah gambaran para penda’wah Muslim  yang hakiki sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Besar Muhammad saw. dan para sahabah r.a. dalam firman-Nya sebelum ini: 
وَ مَنۡ اَحۡسَنُ  قَوۡلًا  مِّمَّنۡ دَعَاۤ  اِلَی اللّٰہِ  وَ عَمِلَ  صَالِحًا وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ ؕ اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ ﴿﴾
Dan siapakah yang lebih baik pembicaraannya dari orang yang mengajak manusia kepada Allah dan beramal saleh وَّ قَالَ  اِنَّنِیۡ مِنَ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  --  serta berkata:    ”Sesungguhnya aku pun termasuk orang-orang yang berserah diri.  وَ لَا تَسۡتَوِی الۡحَسَنَۃُ  وَ لَا السَّیِّئَۃُ --   Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan.  اِدۡفَعۡ  بِالَّتِیۡ  ہِیَ  اَحۡسَنُ فَاِذَا الَّذِیۡ بَیۡنَکَ وَ بَیۡنَہٗ  عَدَاوَۃٌ کَاَنَّہٗ  وَلِیٌّ حَمِیۡمٌ --   Tolaklah keburukan itu dengan cara yang sebaik-baik-nya maka tiba-tiba ia,  yang di antara engkau dan dirinya ada permusuhan, akan menjadi seperti seorang sahabat yang setia. وَ مَا یُلَقّٰہَاۤ  اِلَّا الَّذِیۡنَ صَبَرُوۡا  --  Dan sekali-kali tidak dianugerahi itu kecuali orang-orang yang sabar, dan sekali-kali tidak dianugerahi   itu kecuali orang yang memiliki  bagian besar dalam kebaikan. (Hā MimAs-Sajdah/Al-Fushshilat [41]:34-35).
      Sebagai  akibatnya adalah  nubuatan dalam surah Al-Mumtahanah  berikut ini menjadi genap (sempurna)   firman-Nya:
عَسَی اللّٰہُ  اَنۡ یَّجۡعَلَ  بَیۡنَکُمۡ وَ بَیۡنَ الَّذِیۡنَ عَادَیۡتُمۡ  مِّنۡہُمۡ  مَّوَدَّۃً ؕ وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Boleh jadi kelak Allah akan menjadikan kecintaan di atara kamu dan di antara orang-orang yang saat ini  kamu bermusuhan dengan mereka, وَ اللّٰہُ قَدِیۡرٌ ؕ  وَ  اللّٰہُ  غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- karena Allah Maha Kuasa, dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-Mumtahanah [60]:8). 

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  13 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar