Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
65
CARA MUNCULNYA “KEMUSYRIKAN” DI KALANGAN UMAT
BERAGAMA YANG PADA AWALNYA
MEMEGANG-TEGUH TAUHID ILAHI & MAKNA
MEREBAKNYA “KERUSAKAN DI DARATAN DAN DI LAUTAN”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 64 dikemukakan mengenai topik Membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. dari “Noda Penghinaan” yang Difatwakan
Para Pemuka Yahudi,
firman-Nya:
یٰۤاَہۡلَ
الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ
عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی
مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا
تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا
لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ
لَہٗ وَلَدٌ ۘ لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا ﴿﴾٪ لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ
الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ
الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ
فَسَیَحۡشُرُہُمۡ اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang haq (benar). اِنَّمَا
الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ
اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ -- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya yang diturunkan kepada Maryam, dan ruh dari-Nya,
فَاٰمِنُوۡا
بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ -- maka berimanlah
kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,
وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ
اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا لَّکُمۡ -- dan janganlah
kamu mengatakan: “Tuhan
itu tiga”, berhentilah,
itu lebih baik bagi kamu. ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ
سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ وَلَدٌ ۘ
لَہٗ مَا
فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا فِی الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ وَکِیۡلًا -- Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maha
Suci Dia dari memiliki anak.
Milik-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ
الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ
الۡمُقَرَّبُوۡنَ -- Al-Masih tidak pernah merasa
hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya, وَ مَنۡ
یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا -- dan barangsiapa merasa hina
karena beribadah kepada-Nya dan berlaku
takabur maka Dia akan mengumpulkan
mereka semua kepada-Nya. (An-Nisa [4]:172-173).
Makna Sebutan “Ruh” dan “Kalimat” Kepada Nabi Isa
Ibnu Maryam a.s.
Rūh
dalam ayat اِنَّمَا
الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ
اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ -- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah
seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya yang
diturunkan kepada Maryam, dan ruh dari-Nya
berarti: ruh atau jiwa, nafas yang memenuhi seluruh jisim, dan
apabila nafas berhenti maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham; Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan
kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane).
Dari berbagai
arti rūh dan kalimah tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada kedudukan ruhani yang istimewa
pada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Kata-kata itu dan ucapan-ucapan lainnya yang
seperti itu dipakai dalam Al-Quran mengenai nabi-nabi
Allah lainnya, dan juga mengenai orang-orang
shalih lainnya seperti Siti Maryam
(QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23).
Kata-kata itu
telah dipergunakan untuk membersihkan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.. dan
ibunya, Siti Maryam, dari noda-noda yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi kepada kedua mereka
itu (QS.156-159) dan bukan memberikan kepada mereka suatu kedudukan ruhani istimewa
melebihi para rasul Allah
lainnya sebagai “Tuhan”, “anak Tuhan” dan
“ibu Tuhan”, firman-Nya:
وَ اِذۡ
قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ ءَاَنۡتَ قُلۡتَ
لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ
اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ
سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ اَنۡ
اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ
تَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾ مَا قُلۡتُ لَہُمۡ
اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا
تَوَفَّیۡتَنِیۡ
کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ﴿﴾ اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ
فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah
berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan selain
Allah?" Ia berkata: “Maha
Suci Engkau. Tidak patut bagiku
mengatakan apa yang sekali-kali bukan hakku. Jika aku
telah mengatakannya maka sungguh Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku,
sedangkan aku tidak mengetahui apa yang
ada dalam diri Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.
مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ
رَبِّیۡ و رَبَّکُمۡ -- Aku
sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku,
yaitu: ”Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku) dan Rabb
(Tuhan) kamu. Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku
berada di antara mereka, ۡ کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِی -- tetapi tatkala Engkau telah
mewafatkanku maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi
Pengawas atas mereka, dan Engkau
adalah Saksi atas segala sesuatu. Kalau Engkau
mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, dan kalau Engkau mengampuni
mereka, maka sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tidak Pernah
Mengajarkan “Trinitas” dan “Penebusan Dosa”
Ucapan
Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. اِنۡ
تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ -- “Kalau Engkau mengazab mereka maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau, وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha
Perkasa, Maha Bijaksana”, pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut menggugurkan “rekayasa” Paulus mengenai “Trinitas”
dan “Penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam
a.s. di atas salib”, karena dalam
kenyataannya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat
secara wajar dalam usia 120 tahun setelah
menyelesaikan tugas beliau “mencari domba-domba (suku-suku) Bani Israil” yang tercerai berai di luar Palestina sampai ke wilayah Kasymir (Yohanes
10:10-14), kemudian beliau wafat secara wajar serta dikuburkan di desa Khan Yar, Srinagar – Kasymir dengan penuh kehormatan (QS.23:51),kenyataan tersebut bertentangan
dengan keinginan para pemuka Yahudi
yang berusaha membunuh beliau melalui
penyaliban agar beliau disebut sebagai “orang yang terkutuk” (QS.4:158-159; Ulangan
21:23), firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ
اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ اِلٰی
رَبۡوَۃٍ ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan
Kami menjadikan Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami
melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki lembah-lembah hijau dan sumber-sumber mata air yang mengalir. (Al-Mu’minūn [23];51).
Pemuliaan martabat ruhani Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. --
sebagai salah seorang rasul Allah
di antara sekaian banyak para rasul Allah di kalangan Bani Israil (QS.2:88-89; QS.61:5)
-- oleh Allah Swt. melalui ajaran Islam (Al-Quran) yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad
saw. sangat realistis dan mencerahkan
ruhani.
Mengapa demikian? Sebab seandainya seseorang
rakyat biasa dari sebuah negara yang berdaulat lalu oleh sebagian masyarakat negara tersebui ia
dikatakan sebagai “seorang presiden” atau “seorang raja” maka penyebutan yang berlebihan tersebut tidak akan
membuatnya terhormat, bahkan sebagai
seorang anggota masyarakat yang baik dan berakal tentu ia akan merasa sangat malu mendapat sebutan terhormat tersebut, karena dalam
kenyataan ia di negaranya tersebut tidak memiliki kekuasaan dan wewenang seperti yang dimiliki oleh presiden negaranya tersebut.
Bahkan
dengan adanya “sebutan presiden”
tersebut ia akan merasa ketakutan
karena jangan-jangan ia harus berurusan
dengan hukum, padahal ia sama sekali tidak pernah mengaku atau menda’wahkan diri bahwa ia benar-benar “presiden”
dari negaranya, melainkan
semata-mata perbuatan “orang-orang jahil” yang menyebutnya “presiden.”
Hukuman Allah Swt.
bagi Para Pendakwa Palsu
Demikian juga halnya dengan pendakwaan
dusta mendapat wahyu ilahi atau
sebagai rasul Allah ada akibat buruk yang pasti
menimpa para pelakunya, berikut firman-Nya berkenaan Nabi Besar Muhammad saw., seandainya beliau saw. – Na’ūdzubillāh
min dzālika -- melakukan pendakwaan dusta, firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ مَا لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ لَقَوۡلُ
رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾ وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ
قَلِیۡلًا مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا بِقَوۡلِ
کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ وَ لَوۡ
تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾ ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾ فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَتَذۡکِرَۃٌ لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّا لَنَعۡلَمُ
اَنَّ مِنۡکُمۡ مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّہٗ
لَحَسۡرَۃٌ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ
اِنَّہٗ لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan
apa yang kamu lihat, dan apa yang
tidak kamu li-hat. Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang
disampaikan seorang Rasul mulia.
Dan bukanlah Al-Quran itu
perkataan seorang penyair, sedikit se-kali apa yang kamu percayai. Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Al-Quran ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam. وَ لَوۡ
تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ
-- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ
-- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ
حٰجِزِیۡنَ -- Dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya. Dan
sesungguhnya Al-Quran itu nasihat bagi
orang-orang bertakwa. Dan
sesungguhnya Kami pasti mengetahui bahwa di
antara kamu ada orang-orang yang mendustakan Al-Quran. Dan sesungguhnya Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan
bagi orang-orang kafir. Dan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.
فَسَبِّحۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ -- Maka Sucikanlah nama Rabb (Tuhan)
engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).
Makna ayat:
فَلَاۤ
اُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُوۡنَ -- “Maka Aku
bersumpah dengan apa yang kamu lihat, وَ مَا لَا تُبۡصِرُوۡنَ -- dan apa yang tidak kamu lihat.” Hal-hal yang nampak kepada kita bekerja di alam
jasmani ini, yakni kenyataan-kenyataan hidup yang dapat dilihat dan hal-hal yang tersembunyi dari pandangan
mata, ialah akal dan kata-hati manusia, telah disinggung
dalam ayat-ayat 39 dan 40 sebagai kesaksian-kesaksian
guna membuktikan Al-Quran berasal
dari Allah Swt.: اِنَّہٗ لَقَوۡلُ
رَسُوۡلٍ کَرِیۡمٍ -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang
disampaikan seorang Rasul mulia.”
(Al-Hāqqah
[69]:39-41).
Atau ayat-ayat 39-40 itu dapat berarti bahwa Tanda-tanda agung yang disaksikan oleh orang-orang kafir di zaman Nabi Besar Muhammad saw. dengan mata kepala mereka sendiri serta nubuatan-nubuatan
mengenai hari depan Islam yang gilang
gemilang dan masih menunggu penyempurnaannya,
merupakan dalil yang tidak dapat ditolak bahwa Al-Quran
itu benar-benar firman Allah Swt. Sendiri yang telah diturunkan (diwahyukan) oleh-Nya
kepada Nabi Agung, Muhammad Musthafa saw..
Al-Quran membahas kenyataan-kenyataan hidup lagi pasti
dan bukan impian-impian gila seorang
penyair, bukan pula rekayasa dan terka-terkaan seorang juru nujum di
dalam kegelapan: وَّ مَا ہُوَ
بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا
تُؤۡمِنُوۡنَ -- “Dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit
sekali apa yang kamu percayai. وَ لَا
بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ -- Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat, َنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- “Al-Quran ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan)
seluruh alam” (Al-Hāqqah [69]:42-44).
Siapa pun
Tidak Akan Bisa Menghindari Hukuman
Allah Swt.
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman mengenai hukuman
mengerikan bagi para pendusta atas nama Allah: وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ
الۡاَقَاوِیۡلِ -- Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ بِالۡیَمِیۡنِ -- Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ الۡوَتِیۡنَ
-- kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ
حٰجِزِیۡنَ -- Dan tidak
ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya. (Al-Hāqqah [69]:45-48).
Dalam ayat ini dan dalam tiga ayat sebelumnya
keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila -- Na’ūdzubillāhi min dzālika -- Nabi Besar
Muhammad saw. itu pendusta, maka tangan perkasa Allah Swt. pasti menangkap
dan memutuskan urat pada leher beliau
saw., dan pasti beliau saw. telah
menemui kematian yang hina, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau
saw. pasti telah hancur berantakan,
sebab memang demikianlah nasib seorang
nabi palsu. Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini,
agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20 namun dalam penyajian yang jauh lebih sempurna.
Demikian pula sebaliknya, para pendusta dan penentang
rasul Allah pun akan mengalami nasib buruk
yang sama jika terbukti bahwa pendakwaan kerasulan orang yang mereka dustakan tersebut
terbukti benar, firman-Nya:
وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی
اللّٰہِ کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ
ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا
اَیۡنَ مَا کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ اَنَّہُمۡ
کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat (Tanda-tanda) Kami dan dengan takabur berpaling darinya,
mereka itu penghuni Api, mereka kekal di
dalam- Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang yang
mengada-adakan kedustaan terhadap Allah
atau mendustakan Ayat-ayat-Nya
(Tanda-tanda-Nya)? Mereka akan memperoleh bagian mereka sebagaimana
telah ditetapkan, hingga apabila
datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya
berkata: ”Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata:
“Mereka telah lenyap dari kami.” Dan
mereka
memberi
kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya mereka adalah orang-orang kafir. (Al-A’rāf [7]:37-38).
Kata-kata: فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی
اللّٰہِ کَذِبًا -- “maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kedustaan
terhadap Allah اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ -- atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ
مِّنَ الۡکِتٰبِ -- Mereka
akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan”, berarti bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka
karena mendustakan dan menentang
para rasul
Allah sebagaimana yang telah
menimpa kaum-kaum purbakala yang melakukan pendustaan dan kezaliman
yang sama terhadap para rasul Allah yang
dibangkitkan di kalangan mereka (QS.7:35-37).
Kemustahilan Para Pasul Allah Mengajarkan Kemusyrikan
Jadi,
mengisyaratkan pada kenyataan yang sangat
logis itulah yang dikemukakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam firman
Allah Swt. di awal Bab ini dalam Surah Al-Maidah
ayat 117-119 mengenai penolakan
beliau terhadap ajaran “Trinitas” dan
“penebusan dosa.” Kemudian dalam
surah lainnya Allah Swt. berfirman:
مَا کَانَ
لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا
لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ لٰکِنۡ
کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا
کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ﴾ وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ
اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ
بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪﴾
Tidak
layak bagi seorang manusia benar yang kepadanya
Allah memberikan Al-Kitab dan kekuasaan
serta kenabian ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ
دُوۡنِ اللّٰہِ -- kemudian ia berkata kepada manusia, “Jadilah
hamba-hambaku dan bukan hamba-hamba
Allah”; وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ
وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ -- bahkan ia akan berkata: “Jadilah kamu
orang-orang yang berbakti semata-mata kepada Tuhan, karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab
dan senantiasa mempelajarinya.” وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا
الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا -- Dan
tidak pula layak ia menyuruh kamu supaya kamu mengambil malaikat-malaikat dan nabi-nabi menjadi tuhan-tuhan. اَیَاۡمُرُکُمۡ
بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ -- Adakah ia
menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu
menjadi orang Muslim?” (Ali ‘Imran [3]:80-81).
Ulangan mā kāna lahu sehubungan
ayat مَا کَانَ
لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ -- “Tidak layak bagi seorang manusia
benar yang kepadanya
Allah memberikan Al-Kitab dan kekuasaan
serta kenabian” dipakai dalam tiga
pengertian: (a) tidak layak baginya berbuat demikian; (b) tidak mungkin baginya
berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai berbuat demikian; (c) tidak
ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni secara fisik mustahil ia
berbuat demikian.
Makna Rabbaniyyīn
dalam
ayat وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ
وَ بِمَا کُنۡتُمۡ تَدۡرُسُوۡنَ -- bahkan ia akan berkata: “Jadilah kamu
orang-orang yang berbakti semata-mata kepada Tuhan, karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa
mempelajarinya” itu jamak dari Rabbaniy
yang berarti:
(1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati
agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan
ibadah;
(2) orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan);
(3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang
yang baik dan bertakwa;
(4) guru
yang mulai memberikan kepada orang-orang pengetahuan
atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat;
(5) induk semang atau majikan
atau pemimpin;
(6) seorang mushlih (pembaharu). (Lexicon
Lane; Sibawaih, dan Al-Mubarrad).
Kemunculan Kemusyrikan
Di Kalangan Ahlikitab
Jika dalam kenyataannya di lingkungan golongan Ahli Kitab -- yang pada awalnya benar-benar merupakan agama Samawi yang mengajarkan Tauhid Ilahi -- kemudian
muncul berbagai bentuk “kemusyrikan”,
kenyataan tersebut terjadi karena perbuatan “orang-orang jahil” di kalangan para pemeluk agama tersebut yang mengada-adakannya (QS.2:79-81), di
antaranya adalah Paulus dalam surat-surat kirimannya, firman-Nya:
وَ قَالَتِ
الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ ابۡنُ
اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ
قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا
مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ
وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ
مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا
لِیَعۡبُدُوۡۤا اِلٰـہًا وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ
بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ
اِلَّاۤ اَنۡ یُّتِمَّ نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ
لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی
الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ
کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang
Yahudi berkata: “Uzair adalah
anak
Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata:
“Al-Masih adalah anak Allah.” Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya, mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir
yang terdahulu. Allah membinasakan
mereka, bagaimana mereka
sampai dipalingkan dari Tauhid? Mereka telah
menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib
mereka sebagai tuhan-tuhan
selain Allah, dan begitu juga Al-Masih
ibnu Maryam, padahal mereka
tidak diperintahkan melainkan supaya
mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak
ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan. Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai. Dia-lah
Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk
dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau
pun orang-orang musyrik tidak
menyukainya (At-Taubah [9]:30-33).
‘Uzair atau Ezra hidup pada abad
kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau
sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan
mem-punyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau
men-dapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
Orang-orang Yahudi di Medinah dan
suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi
(pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa
lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel”
bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti
dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra.
Dalam kepustakaan golongan Rabbi,
beliau dianggap patut jadi wahana pengemban
syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau
bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish Encyclopaedi & Encyclopaedia Biblica).
Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban
adalah para rahib agama Nasrani, yang
dalam surah sebelumnya (QS.3:80-81) disebut sebagai rabbabiyyīn, jamak dari rabbaniy
yang artinya:
(1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama atau menyediakan
dirinya untuk menjalankan ibadah;
(2) orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan);
(3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang
yang baik dan bertakwa;
(4) guru
yang mulai memberikan kepada orang-orang pengetahuan
atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat;
(5) induk semang atau majikan
atau pemimpin;
(6) seorang mushlih (pembaharu). (Lexicon
Lane; Sibawaih, dan Al-Mubarrad).
Di lingkungan umat Islam contoh yang paling tepat bagi sebutan
rabbaniyyin tersebut adalah para wali Allah hakiki seperti Imam Ghazali r.a., Syeikh
‘Abdul Qadir al-Jailani r.a ; Ibnu ‘Arabi ra. dan lain-lain, yang setelah kewafatan para wali Allah tersebut kemudian oleh sebagian para pengikutnya yang fanatik dikultuskan secara berlebihan, bahkan “dipertuhankan”
karena
dianggap sebagai “perantara” (washilah) antara para pemujanya dengan Allah Swt..
Misi Suci Pengutusan
Nabi Besar Muhammad Saw. Menegakkan Tauhid
Ilahi
Melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw.
Allah Swt. bermaksud “menyalakan”
kembali “cahaya Tauhid Ilahi” yang berusaha dipadamkan oleh “mulut” -- yakni ajaran-ajaran dusta yang diada-adakan -- oleh orang-orang
musyrik, firman-Nya: Mereka
berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak
bahkan menyempurnakan cahaya-Nya,
walau pun orang-orang kafir tidak
menyukai.” (At Taubah [9]:32).
Kebenaran pernyataan Allah Swt.
dalam ayat “Mereka berkehendak memadamkan
cahaya Allah dengan mulut mereka” ditegaskan dalam firman-Nya berikut ini:
ظَہَرَ
الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا
لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾ قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ
کَانَ عَاقِبَۃُ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ
کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ
لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ لَّا
مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ
یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya dirasakan
kepada mereka akibat seba-gian
perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka
kembali dari kedurha-kaannya. Katakanlah: ”Berjalanlah di bumi dan lihatlah
bagaimana buruknya akibat
bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ
یَوۡمٌ لَّا مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ یَّصَّدَّعُوۡنَ
-- Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat
dihindarkan, pada hari itu orang-orang beriman dan kafir akan terpisah. (Ar Rūm [30]:42-44).
Masalah pokok dalam ayat-ayat sebelumnya
berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia, keimanan kepada Tuhan Yang
Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Yang
menciptakan, mengatur, dan membimbing
segala kehidupan. Dalam ayat sekarang
ini kita diberi tahu, bahwa bila kegelapan
(kesesatan/kemusyrikan) menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah Swt. (Tauhid Ilahi) dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan
tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Allah
Swt. membangkitkan seorang nabi Allah untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat
keharibaan Majikan-nya yang hakiki Allah Swt..
“Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan
agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya
semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia
sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci
yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s. di dalam aliran darah manusia telah
padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang
kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun
lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban
laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya
telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan,
sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan
pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
Demikianlah keadaan umat manusia
pada waktu nabi Besar Muhammad saw.,
Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab syariat
yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan
keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan
diri telah menjadi mapan: ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی النَّاسِ
-- “Kerusakan
telah meluas di daratan dan di
lautan disebabkan perbuatan tangan manusia.”
Kata-kata “daratan dan lautan”
dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya
hanya semata-mata berdasar pada akal
serta pengalaman manusia, dan
bangsa-bangsa yang kebudayaannya
serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang
hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini
berarti, bahwa semua bangsa di dunia
telah menjadi rusak sampai kepada intinya,
baik secara politis, sosial maupun akhlaki (agama).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
20 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar