Minggu, 20 November 2016

Cara Munculnya "Kemusyrikan" di Kalangan "Umat Beragama" yang Pada Awalnya Memegang-teguh "Tauhid Ilahi" & Makna Merebaknya "Kerusakan di Laratan dan di Lautan"




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 65

CARA MUNCULNYA “KEMUSYRIKAN” DI KALANGAN UMAT  BERAGAMA  YANG PADA AWALNYA MEMEGANG-TEGUH  TAUHID ILAHI  & MAKNA  MEREBAKNYA “KERUSAKAN DI DARATAN DAN DI LAUTAN”

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir  Bab 64 dikemukakan  mengenai   topik Membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam  a.s. dari  Noda Penghinaan” yang Difatwakan Para Pemuka Yahudi, firman-Nya:  
یٰۤاَہۡلَ الۡکِتٰبِ لَا تَغۡلُوۡا فِیۡ دِیۡنِکُمۡ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا عَلَی اللّٰہِ  اِلَّا الۡحَقَّ ؕ اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ ۫ فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ ۚ۟ وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا  لَّکُمۡ ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ  وَلَدٌ ۘ لَہٗ  مَا  فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا  فِی  الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا ﴿﴾٪  لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ ؕ وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ  اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا ﴿﴾
Hai Ahlul Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang haq (benar). اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ  -- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya  yang diturunkan kepada Maryam, dan  ruh  dari-Nya, فَاٰمِنُوۡا بِاللّٰہِ وَ رُسُلِہٖ  --  maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya,  وَ لَا تَقُوۡلُوۡا ثَلٰثَۃٌ ؕ اِنۡتَہُوۡا خَیۡرًا  لَّکُمۡ  -- dan janganlah kamu  mengatakan: “Tuhan itu tiga”, berhentilah, itu lebih baik bagi kamu. ؕ اِنَّمَا اللّٰہُ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ؕ سُبۡحٰنَہٗۤ اَنۡ یَّکُوۡنَ لَہٗ  وَلَدٌ ۘ لَہٗ  مَا  فِی السَّمٰوٰتِ وَ مَا  فِی  الۡاَرۡضِ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ  وَکِیۡلًا -- Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa.  Maha Suci Dia dari memiliki  anak. Milik-Nya apa pun  yang ada di seluruh langit dan   apa  pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara. لَنۡ یَّسۡتَنۡکِفَ الۡمَسِیۡحُ اَنۡ یَّکُوۡنَ عَبۡدًا لِّلّٰہِ وَ لَا الۡمَلٰٓئِکَۃُ الۡمُقَرَّبُوۡنَ  --     Al-Masih tidak pernah   merasa hina menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya,  وَ مَنۡ یَّسۡتَنۡکِفۡ عَنۡ عِبَادَتِہٖ وَ یَسۡتَکۡبِرۡ فَسَیَحۡشُرُہُمۡ  اِلَیۡہِ جَمِیۡعًا  -- dan barangsiapa merasa hina karena beribadah kepada-Nya dan berlaku takabur maka Dia akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya. (An-Nisa [4]:172-173).

Makna Sebutan “Ruh” dan “Kalimat  Kepada Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.

   Rūh dalam ayat  اِنَّمَا الۡمَسِیۡحُ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ رَسُوۡلُ اللّٰہِ وَ کَلِمَتُہٗ ۚ اَلۡقٰہَاۤ اِلٰی مَرۡیَمَ وَ رُوۡحٌ مِّنۡہُ  -- Sesungguhnya Al-Masih Isa Ibnu Maryam hanyalah  seorang rasul Allah, suatu kalimat dari-Nya  yang diturunkan kepada Maryam, dan  ruh  dari-Nya berarti:  ruh atau jiwa, nafas yang memenuhi seluruh jisim, dan apabila nafas berhenti  maka orang akan mati; wahyu Ilahi atau ilham; Al-Quran; malaikat; kegembiraan dan kebahagiaan; rahmat (Lexicon Lane).
   Dari berbagai arti rūh dan kalimah tersebut di atas jelaslah bahwa tidak ada kedudukan ruhani yang istimewa pada Nabi Isa  Ibnu Maryam a.s.  Kata-kata itu dan ucapan-ucapan lainnya yang seperti itu dipakai dalam Al-Quran mengenai nabi-nabi Allah lainnya, dan juga mengenai orang-orang shalih lainnya seperti Siti Maryam (QS.15:30; QS.32:10; QS.58:23).
  Kata-kata itu telah dipergunakan untuk membersihkan Nabi Isa Ibnu Maryam a..  dan ibunya, Siti Maryam,  dari noda-noda yang dilemparkan oleh orang-orang Yahudi kepada kedua mereka itu (QS.156-159) dan bukan memberikan kepada mereka suatu kedudukan ruhani istimewa melebihi para rasul Allah lainnya   sebagai “Tuhan”, “anak Tuhan” dan “ibu Tuhan”, firman-Nya:
وَ  اِذۡ قَالَ اللّٰہُ یٰعِیۡسَی ابۡنَ مَرۡیَمَ  ءَاَنۡتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوۡنِیۡ وَ اُمِّیَ  اِلٰہَیۡنِ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالَ سُبۡحٰنَکَ مَا یَکُوۡنُ لِیۡۤ  اَنۡ اَقُوۡلَ مَا لَیۡسَ لِیۡ ٭ بِحَقٍّ ؕ؃ اِنۡ کُنۡتُ قُلۡتُہٗ فَقَدۡ عَلِمۡتَہٗ ؕ تَعۡلَمُ  مَا فِیۡ نَفۡسِیۡ وَ لَاۤ اَعۡلَمُ مَا فِیۡ نَفۡسِکَ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ عَلَّامُ  الۡغُیُوۡبِ ﴿﴾  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ وَ رَبَّکُمۡ ۚ وَ کُنۡتُ عَلَیۡہِمۡ  شَہِیۡدًا مَّا دُمۡتُ فِیۡہِمۡ ۚ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِیۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ ؕ وَ  اَنۡتَ عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  شَہِیۡدٌ ﴿﴾  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Allah berfirman: “Hai ‘Isa ibnu Maryam, apakah engkau telah berkata kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua tuhan  selain  Allah?" Ia berkata: “Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan apa yang  sekali-kali  bukan hakku. Jika  aku telah mengatakannya maka sungguh  Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, sedangkan aku tidak mengetahui apa yang ada dalam diri Engkau,   sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Mengetahui segala yang gaib.  مَا قُلۡتُ لَہُمۡ اِلَّا مَاۤ اَمَرۡتَنِیۡ بِہٖۤ اَنِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ رَبِّیۡ   و رَبَّکُمۡ   -- Aku sekali-kali tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang telah Engkau perintahkan kepadaku, yaitu:  Beribadahlah kepada Allah, Rabb-ku (Tuhan-ku)  dan Rabb (Tuhan) kamu.   Dan aku menjadi saksi atas me-reka selama aku berada di antara mereka, ۡ  کُنۡتَ اَنۡتَ الرَّقِیۡبَ عَلَیۡہِمۡ فَلَمَّا تَوَفَّیۡتَنِی   --  tetapi tatkala Engkau telah mewafatkanku  maka Engkau-lah Yang benar-benar menjadi Pengawas atas mereka, dan Engkau adalah Saksi atas segala sesuatu.     Kalau Engkau mengazab mereka  maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Maidah [5]:117-119).

Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Tidak Pernah Mengajarkan  Trinitas” dan “Penebusan Dosa

    Ucapan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  اِنۡ تُعَذِّبۡہُمۡ فَاِنَّہُمۡ عِبَادُکَ ۚ    -- “Kalau Engkau mengazab mereka  maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, وَ اِنۡ تَغۡفِرۡ لَہُمۡ فَاِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ  -- dan kalau Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana”, pernyataan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. tersebut   menggugurkan “rekayasa” Paulus mengenai “Trinitas” dan “Penebusan dosa” melalui “kematian terkutuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di atas salib”, karena dalam kenyataannya Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. wafat secara wajar dalam usia 120 tahun setelah menyelesaikan tugas beliau “mencari domba-domba (suku-suku) Bani Israil    yang tercerai berai di luar Palestina sampai ke wilayah Kasymir (Yohanes 10:10-14), kemudian beliau wafat  secara wajar serta dikuburkan di desa Khan Yar, Srinagar – Kasymir  dengan penuh kehormatan  (QS.23:51),kenyataan tersebut  bertentangan dengan  keinginan para pemuka Yahudi yang berusaha membunuh beliau melalui penyaliban  agar beliau disebut sebagai “orang yang terkutuk” (QS.4:158-159; Ulangan 21:23), firman-Nya:
وَ جَعَلۡنَا ابۡنَ مَرۡیَمَ وَ اُمَّہٗۤ  اٰیَۃً وَّ اٰوَیۡنٰہُمَاۤ  اِلٰی رَبۡوَۃٍ  ذَاتِ قَرَارٍ وَّ مَعِیۡنٍ ﴿٪﴾
Dan Kami menjadikan  Ibnu Maryam dan ibunya suatu Tanda, dan Kami melindungi keduanya ke suatu dataran yang tinggi yang memiliki   lembah-lembah hijau  dan    sumber-sumber mata air yang  mengalir. (Al-Mu’minūn [23];51).
      Pemuliaan martabat ruhani Nabi Isa Ibnu Maryam a.s.  --   sebagai salah seorang rasul Allah di antara sekaian banyak para rasul  Allah di kalangan Bani Israil (QS.2:88-89; QS.61:5)  --  oleh Allah Swt. melalui ajaran Islam (Al-Quran) yang diwahyukan kepada Nabi Besar Muhammad saw.  sangat realistis dan mencerahkan ruhani.
     Mengapa demikian? Sebab seandainya  seseorang     rakyat  biasa dari sebuah negara  yang berdaulat lalu  oleh sebagian masyarakat  negara  tersebui ia  dikatakan sebagai “seorang   presiden” atau “seorang raja” maka penyebutan  yang berlebihan tersebut tidak akan membuatnya terhormat, bahkan  sebagai  seorang anggota  masyarakat yang baik  dan berakal tentu ia akan merasa sangat malu mendapat sebutan terhormat tersebut, karena dalam kenyataan ia di negaranya tersebut tidak memiliki  kekuasaan dan wewenang seperti yang dimiliki oleh presiden  negaranya tersebut.
      Bahkan  dengan adanya “sebutan presiden” tersebut ia akan merasa    ketakutan karena jangan-jangan ia harus berurusan dengan hukum, padahal ia  sama sekali tidak pernah mengaku atau menda’wahkan  diri bahwa ia benar-benar   presiden”  dari negaranya, melainkan semata-mata   perbuatan “orang-orang jahil” yang menyebutnya “presiden.”

Hukuman Allah Swt. bagi Para Pendakwa Palsu

       Demikian juga halnya  dengan pendakwaan dusta mendapat wahyu ilahi atau sebagai rasul Allah  ada  akibat buruk  yang pasti menimpa  para pelakunya, berikut  firman-Nya berkenaan Nabi Besar Muhammad  saw., seandainya beliau saw.  Na’ūdzubillāh min dzālika   -- melakukan pendakwaan dusta, firman-Nya:
فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ ﴿ۚۙ﴾  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ ﴿ۙ﴾ لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ ﴿ۙ﴾  ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ ﴿۫ۖ﴾  فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّہٗ  لَتَذۡکِرَۃٌ  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ﴿﴾  وَ اِنَّا  لَنَعۡلَمُ  اَنَّ مِنۡکُمۡ مُّکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّہٗ  لَحَسۡرَۃٌ  عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ وَ  اِنَّہٗ  لَحَقُّ الۡیَقِیۡنِ ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ ﴿٪﴾
Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, dan apa yang tidak kamu li-hat. Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia.    Dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit se-kali apa yang kamu percayai.   Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ   --   Al-Quran ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam.  وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ  --    Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --  Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  --  kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ   --  Dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.  Dan sesungguhnya Al-Quran itu nasihat bagi orang-orang bertakwa.  Dan sesungguhnya  Kami pasti mengetahui bahwa di antara kamu ada orang-orang yang mendustakan Al-Quran.  Dan sesungguhnya Al-Quran itu akan menjadi sumber penyesalan bagi orang-orang kafirDan sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.  فَسَبِّحۡ  بِاسۡمِ رَبِّکَ الۡعَظِیۡمِ  --   Maka Sucikanlah nama  Rabb (Tuhan) engkau, Yang Maha Besar. (Al-Hāqqah [69]:39-53).
       Makna ayat:  فَلَاۤ  اُقۡسِمُ بِمَا  تُبۡصِرُوۡنَ  -- “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat, وَ مَا  لَا تُبۡصِرُوۡنَ  -- dan apa yang tidak kamu lihat.”   Hal-hal yang nampak kepada kita bekerja di alam  jasmani ini, yakni kenyataan-kenyataan hidup yang dapat dilihat dan hal-hal yang tersembunyi dari pandangan mata, ialah akal dan kata-hati manusia, telah disinggung dalam ayat-ayat 39 dan 40 sebagai kesaksian-kesaksian guna membuktikan Al-Quran berasal dari Allah Swt.: اِنَّہٗ  لَقَوۡلُ  رَسُوۡلٍ  کَرِیۡمٍ  -- “Sesungguhnya Al-Quran itu benar-benar firman yang disampaikan seorang Rasul mulia.” (Al-Hāqqah [69]:39-41).
 Atau ayat-ayat  39-40 itu dapat berarti bahwa Tanda-tanda agung yang disaksikan oleh orang-orang kafir di zaman  Nabi Besar Muhammad saw.  dengan mata kepala mereka sendiri  serta   nubuatan-nubuatan mengenai  hari depan Islam yang gilang gemilang dan masih menunggu penyempurnaannya, merupakan dalil yang tidak dapat ditolak bahwa  Al-Quran itu benar-benar firman Allah Swt.  Sendiri yang telah diturunkan (diwahyukan) oleh-Nya kepada Nabi Agung, Muhammad Musthafa saw..
      Al-Quran membahas kenyataan-kenyataan hidup lagi pasti dan bukan impian-impian gila seorang penyair, bukan pula rekayasa dan terka-terkaan seorang juru nujum di dalam kegelapan:  وَّ مَا ہُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ ؕ قَلِیۡلًا  مَّا تُؤۡمِنُوۡنَ --  “Dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair, sedikit sekali apa yang kamu percayai.  وَ لَا بِقَوۡلِ کَاہِنٍ ؕ قَلِیۡلًا مَّا تَذَکَّرُوۡنَ  --  Dan bukanlah ini perkataan ahlinujum, sedikit sekali kamu mengambil nasihat,  َنۡزِیۡلٌ مِّنۡ رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ   --            “Al-Quran ini adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam   (Al-Hāqqah [69]:42-44).

Siapa pun Tidak Akan Bisa Menghindari Hukuman Allah Swt.

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai hukuman mengerikan  bagi para pendusta atas nama Allah: وَ لَوۡ تَقَوَّلَ عَلَیۡنَا بَعۡضَ الۡاَقَاوِیۡلِ  --    Dan seandainya ia mengada-adakan sebagian perkataan  atas nama Kami, لَاَخَذۡنَا مِنۡہُ  بِالۡیَمِیۡنِ  --  Niscaya Kami akan menangkap dia dengan tangan kanan, ثُمَّ  لَقَطَعۡنَا مِنۡہُ  الۡوَتِیۡنَ  --  kemudian niscaya Kami memotong urat nadinya, فَمَا مِنۡکُمۡ  مِّنۡ اَحَدٍ عَنۡہُ حٰجِزِیۡنَ   --    Dan tidak ada seorang pun di antara kamu dapat mencegah itu darinya.  (Al-Hāqqah [69]:45-48).
      Dalam  ayat   ini dan dalam tiga ayat sebelumnya keterangan-keterangan telah diberikan bahwa bila  --  Na’ūdzubillāhi min dzālika -- Nabi Besar Muhammad saw. itu pendusta, maka tangan perkasa Allah Swt. pasti menangkap dan memutuskan urat pada leher beliau saw., dan pasti beliau  saw. telah menemui kematian yang hina, dan seluruh pekerjaan dan misi beliau saw. pasti telah hancur berantakan, sebab memang demikianlah nasib seorang nabi palsu. Dakwa dan keterangan yang tercantum dalam ayat-ayat ini, agaknya merupakan reproduksi yang tepat dari peryataan Bible dalam Ulangan 18:20 namun dalam penyajian yang jauh lebih sempurna.
  Demikian pula sebaliknya, para pendusta dan penentang rasul Allah pun akan mengalami nasib buruk  yang sama jika terbukti bahwa  pendakwaan kerasulan  orang yang mereka dustakan tersebut  terbukti benar, firman-Nya:
وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ ؕ اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءَتۡہُمۡ  رُسُلُنَا یَتَوَفَّوۡنَہُمۡ ۙ قَالُوۡۤا اَیۡنَ مَا  کُنۡتُمۡ تَدۡعُوۡنَ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ قَالُوۡا ضَلُّوۡا عَنَّا وَ شَہِدُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  اَنَّہُمۡ  کَانُوۡا کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat (Tanda-tanda) Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalam- Maka   siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah atau mendustakan Ayat-ayat-Nya (Tanda-tanda-Nya)? Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan,  hingga apabila datang kepada mereka utusan-utusan Kami untuk mencabut nyawanya seraya berkata:   Di manakah apa yang biasa kamu seru selain Allah?” Mereka berkata: “Mereka telah lenyap dari kami.” Dan mereka   memberi kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa sesungguhnya  mereka adalah  orang-orang kafir. (Al-A’rāf [7]:37-38).
  Kata-kata: فَمَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنِ افۡتَرٰی عَلَی اللّٰہِ  کَذِبًا         --   “maka   siapakah yang lebih zalim daripada  orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap  Allah  اَوۡ کَذَّبَ بِاٰیٰتِہٖ -- atau mendustakan Ayat-ayat-Nya? اُولٰٓئِکَ یَنَالُہُمۡ نَصِیۡبُہُمۡ مِّنَ الۡکِتٰبِ   -- Mereka  akan memperoleh bagian mereka sebagaimana telah ditetapkan”,   berarti bahwa mereka yang menolak Utusan-utusan Allah akan melihat dengan mata kepala sendiri penyempurnaan kabar-kabar gaib yang meramalkan kekalahan dan kegagalan mereka. Mereka akan merasakan hukuman yang dijanjikan kepada mereka karena mendustakan dan  menentang  para rasul Allah  sebagaimana yang telah menimpa  kaum-kaum purbakala yang melakukan pendustaan dan kezaliman yang sama terhadap para rasul Allah yang dibangkitkan di kalangan mereka (QS.7:35-37).

Kemustahilan Para Pasul Allah Mengajarkan Kemusyrikan

       Jadi, mengisyaratkan pada kenyataan yang sangat logis itulah yang   dikemukakan Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. dalam firman Allah Swt. di awal Bab ini dalam Surah Al-Maidah ayat 117-119 mengenai penolakan beliau terhadap ajaran “Trinitas” dan “penebusan dosa.” Kemudian dalam surah lainnya Allah Swt. berfirman:
مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ  ثُمَّ یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا ؕ اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ ﴿٪﴾
Tidak layak bagi seorang manusia benar yang  kepadanya Allah memberikan Al-Kitab dan kekuasaan serta kenabian ثُمَّ  یَقُوۡلَ لِلنَّاسِ کُوۡنُوۡا عِبَادًا لِّیۡ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ  -- kemudian ia berkata kepada manusia, “Jadilah hamba-hambaku dan bukan hamba-hamba Allah”; وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ  -- bahkan ia akan berkata:Jadilah kamu orang-orang yang berbakti semata-mata kepada Tuhan, karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab dan senantiasa mempelajarinya.”  وَ لَا یَاۡمُرَکُمۡ اَنۡ تَتَّخِذُوا الۡمَلٰٓئِکَۃَ وَ النَّبِیّٖنَ اَرۡبَابًا  -- Dan tidak pula  layak  ia menyuruh kamu supaya kamu mengambil malaikat-malaikat dan nabi-nabi menjadi tuhan-tuhan. اَیَاۡمُرُکُمۡ بِالۡکُفۡرِ بَعۡدَ اِذۡ اَنۡتُمۡ مُّسۡلِمُوۡنَ  --  Adakah ia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi orang Muslim?” (Ali ‘Imran [3]:80-81).
       Ulangan mā kāna lahu sehubungan ayat مَا کَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ یُّؤۡتِیَہُ اللّٰہُ الۡکِتٰبَ وَ الۡحُکۡمَ وَ النُّبُوَّۃَ    -- “Tidak layak bagi seorang manusia benar yang  kepadanya Allah memberikan Al-Kitab dan kekuasaan serta kenabian” dipakai dalam tiga pengertian: (a) tidak layak baginya berbuat demikian; (b) tidak mungkin baginya berbuat demikian; atau tidak masuk akal ia sampai berbuat demikian; (c) tidak ada kemungkinan ia dapat berbuat demikian, yakni secara fisik mustahil ia berbuat demikian.
     Makna Rabbaniyyīn  dalam  ayat وَ لٰکِنۡ کُوۡنُوۡا رَبّٰنِیّٖنَ بِمَا کُنۡتُمۡ تُعَلِّمُوۡنَ الۡکِتٰبَ وَ بِمَا کُنۡتُمۡ  تَدۡرُسُوۡنَ  -- bahkan ia akan berkata:Jadilah kamu orang-orang yang berbakti semata-mata kepada Tuhan, karena kamu senantiasa mengajarkan Al-Kitab  dan senantiasa mempelajarinya    itu jamak dari Rabbaniy yang berarti:
     (1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah;
      (2) orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan);
     (3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang yang baik dan bertakwa;
     (4) guru yang mulai memberikan kepada orang-orang pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat;
        (5) induk semang atau majikan atau pemimpin;
       (6) seorang mushlih (pembaharu). (Lexicon Lane;  Sibawaih, dan Al-Mubarrad).

Kemunculan Kemusyrikan Di Kalangan Ahlikitab

      Jika dalam kenyataannya di lingkungan golongan Ahli Kitab  -- yang pada awalnya  benar-benar merupakan agama  Samawi  yang mengajarkan Tauhid Ilahi    -- kemudian muncul berbagai bentuk “kemusyrikan”, kenyataan tersebut terjadi karena perbuatan “orang-orang jahil” di kalangan para pemeluk agama tersebut  yang mengada-adakannya (QS.2:79-81),  di antaranya adalah Paulus dalam surat-surat kirimannya, firman-Nya:
وَ قَالَتِ الۡیَہُوۡدُ عُزَیۡرُۨ  ابۡنُ اللّٰہِ وَ قَالَتِ النَّصٰرَی الۡمَسِیۡحُ  ابۡنُ  اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ قَوۡلُہُمۡ بِاَفۡوَاہِہِمۡ ۚ یُضَاہِـُٔوۡنَ  قَوۡلَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ قَبۡلُ ؕ قٰتَلَہُمُ اللّٰہُ ۚ۫ اَنّٰی  یُؤۡفَکُوۡنَ ﴿﴾ اِتَّخَذُوۡۤا اَحۡبَارَہُمۡ وَ رُہۡبَانَہُمۡ اَرۡبَابًا مِّنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ وَ الۡمَسِیۡحَ ابۡنَ مَرۡیَمَ ۚ وَ مَاۤ  اُمِرُوۡۤا  اِلَّا  لِیَعۡبُدُوۡۤا  اِلٰـہًا  وَّاحِدًا ۚ لَاۤ اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ سُبۡحٰنَہٗ عَمَّا یُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾ یُرِیۡدُوۡنَ  اَنۡ یُّطۡفِـُٔوۡا نُوۡرَ اللّٰہِ بِاَفۡوَاہِہِمۡ وَ یَاۡبَی اللّٰہُ  اِلَّاۤ  اَنۡ  یُّتِمَّ  نُوۡرَہٗ وَ لَوۡ  کَرِہَ  الۡکٰفِرُوۡنَ ﴿﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ  اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ  بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ۙ وَ لَوۡ کَرِہَ  الۡمُشۡرِکُوۡنَ ﴿﴾
Dan  orang-orang Yahudi berkata: “Uzair adalah  anak Allah”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih adalah  anak  Allah.”   Demikian itulah perkataan mereka dengan mulutnya,   mereka  meniru-niru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu.    Allah membinasakan mereka,   bagaimana mereka sampai dipalingkan dari Tauhid?     Mereka telah menjadikan ulama-ulama mereka dan rahib-rahib mereka  sebagai tuhan-tuhan selain Allah, dan begitu juga Al-Masih ibnu Maryam,   padahal  mereka tidak diperintahkan melainkan supaya mereka menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tidak ada Tuhan kecuali Dia. Maha-suci Dia dari apa yang mereka sekutukan.   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka, tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.  Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq (benar), supaya Dia mengunggulkannya atas semua agama walau pun orang-orang musyrik tidak menyukainya (At-Taubah [9]:30-33).
        ‘Uzair atau Ezra hidup pada abad kelima sebelum Masehi. Beliau keturunan Seraya, imam agung, dan karena beliau sendiri pun anggota Dewan Imam dan dikenal sebagai Imam Ezra. Beliau termasuk seorang tokoh terpenting di masanya dan mem-punyai pengaruh yang luas sekali dalam mengembangkan agama Yahudi. Beliau men-dapat kehormatan khas di antara nabi-nabi Israil.
     Orang-orang Yahudi di Medinah dan suatu mazhab Yahudi di Hadramaut, mempercayai beliau sebagai anak Allah. Para Rabbi (pendeta-pendeta Yahudi) menghubungkan nama beliau dengan beberapa lembaga-lembaga penting. Renan mengemukakan dalam mukadimah bukunya “History of the People of Israel” bahwa bentuk agama Yahudi yang-pasti dapat dianggap berwujud semenjak masa Ezra. Dalam kepustakaan golongan Rabbi, beliau dianggap patut jadi wahana pengemban syariat seandainya syariat itu tidak dibawa oleh Nabi Musa a.s.. Beliau bekerjasama dengan Nehemya dan wafat pada usia 120 tahun di Babil (Yewish  Encyclopaedi & Encyclopaedia  Biblica).
       Ahbar adalah ulama-ulama Yahudi dan Ruhban adalah para rahib agama Nasrani, yang dalam surah sebelumnya (QS.3:80-81) disebut sebagai rabbabiyyīn, jamak dari rabbaniy yang artinya:
     (1) orang yang mewakafkan diri untuk mengkhidmati agama atau menyediakan dirinya untuk menjalankan ibadah;
     (2) orang yang memiliki ilmu Ilahiyyat (Ketuhanan);
    (3) orang yang ahli dalam pengetahuan agama, atau seorang yang baik dan bertakwa;
     (4) guru yang mulai memberikan kepada orang-orang pengetahuan atau ilmu yang ringan-ringan sebelum beranjak ke ilmu-ilmu yang berat-berat;
      (5) induk semang atau majikan atau pemimpin;
      (6) seorang mushlih (pembaharu). (Lexicon Lane;  Sibawaih, dan Al-Mubarrad).
 Di lingkungan umat Islam contoh yang paling tepat   bagi sebutan  rabbaniyyin  tersebut adalah para wali Allah hakiki   seperti Imam Ghazali r.a.,  Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani r.a ;  Ibnu ‘Arabi  ra. dan lain-lain, yang setelah kewafatan para wali Allah tersebut kemudian oleh sebagian para pengikutnya  yang fanatik  dikultuskan secara berlebihan, bahkan  dipertuhankan karena  dianggap sebagai   perantara  (washilah) antara para pemujanya dengan Allah Swt..

Misi Suci Pengutusan Nabi Besar Muhammad Saw. Menegakkan Tauhid Ilahi

      Melalui pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. Allah Swt. bermaksud “menyalakan” kembali  cahaya Tauhid Ilahi” yang berusaha dipadamkan oleh “mulut   -- yakni ajaran-ajaran  dusta yang diada-adakan  -- oleh orang-orang musyrik, firman-Nya:   Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka,   tetapi Allah menolak bahkan menyempurnakan cahaya-Nya, walau pun orang-orang kafir tidak menyukai.” (At Taubah [9]:32).
      Kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam ayat     Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah  dengan mulut mereka”     ditegaskan dalam firman-Nya berikut ini:
ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ  لِیُذِیۡقَہُمۡ بَعۡضَ الَّذِیۡ عَمِلُوۡا  لَعَلَّہُمۡ یَرۡجِعُوۡنَ ﴿﴾  قُلۡ سِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَانۡظُرُوۡا کَیۡفَ کَانَ عَاقِبَۃُ  الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلُ ؕ کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ  مُّشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾  فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ ﴿﴾
Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia,  supaya dirasakan kepada mereka akibat seba-gian perbuatan yang mereka lakukan, supaya mereka kembali dari kedurha-kaannya.  Katakanlah:  Berjalanlah di bumi dan lihatlah bagaimana buruknya akibat bagi orang-orang sebelum kamu ini. Kebanyakan mereka itu orang-orang musyrik.” فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ الۡقَیِّمِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَ یَوۡمٌ  لَّا  مَرَدَّ لَہٗ مِنَ اللّٰہِ یَوۡمَئِذٍ  یَّصَّدَّعُوۡنَ  --   Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, sebelum datang dari Allah hari yang tidak dapat dihindarkan,  pada hari itu orang-orang beriman  dan kafir akan terpisah. (Ar Rūm [30]:42-44).
       Masalah pokok dalam ayat-ayat sebelumnya berkisar dalam menimbulkan dan meresapkan pada manusia, keimanan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Perkasa, Yang menciptakan, mengatur, dan membimbing segala kehidupan. Dalam ayat sekarang ini kita diberi tahu, bahwa bila kegelapan (kesesatan/kemusyrikan) menyelimuti muka bumi dan manusia melupakan Allah  Swt.  (Tauhid Ilahi) dan menaklukkan diri sendiri kepada penyembahan tuhan-tuhan yang dikhayalkan dan diciptakan oleh mereka sendiri, maka Allah Swt.  membangkitkan seorang nabi Allah untuk mengembalikan gembalaan yang tersesat keharibaan Majikan-nya yang hakiki Allah Swt..
      “Permulaan abad ketujuh adalah masa kekacauan nasional dan sosial, dan agama sebagai kekuatan akhlak, telah lenyap dan telah jatuh, menjadi hanya semata-mata tatacara dan upacara adat belaka; dan agama-agama besar di dunia sudah tidak lagi berpengaruh sehat pada kehidupan para penganutnya. Api suci yang dinyalakan oleh Zoroaster, Musa, dan Isa a.m.s.  di dalam aliran darah manusia telah padam. Dalam abad kelima dan keenam, dunia beradab berada di tepi jurang kekacauan. Agaknya peradaban besar yang telah memerlukan waktu empat ribu tahun lamanya untuk menegakkannya telah berada di tepi jurang........ Peradaban laksana pohon besar yang daun-daunnya telah menaungi dunia dan dahan-dahannya telah menghasilkan buah-buahan emas dalam kesenian, keilmuan, kesusatraan, sudah goyah, batangnya tidak hidup lagi dengan mengalirkan sari pengabdian dan pembaktian, tetapi telah busuk hingga terasnya” (“Emotion as the Basis of Civilization” dan “Spirit of Islam”).
       Demikianlah keadaan umat manusia pada waktu  nabi Besar Muhammad saw., Guru umat manusia terbesar, muncul pada pentas dunia, dan tatkala syariat yang paling sempurna dan terakhir diturunkan dalam bentuk Al-Quran (QS.5:4), sebab  syariat yang sempurna hanya dapat diturunkan bila semua atau kebanyakan keburukan, teristimewa yang dikenal sebagai akar keburukan, menampakkan diri telah menjadi mapan: ظَہَرَ الۡفَسَادُ فِی الۡبَرِّ وَ الۡبَحۡرِ بِمَا کَسَبَتۡ اَیۡدِی  النَّاسِ    -- “Kerusakan telah meluas di daratan dan di lautan  disebabkan perbuatan tangan manusia.”
Kata-kata “daratan dan lautan” dapat diartikan: (a) bangsa-bangsa yang kebudayaan dan peradabannya hanya semata-mata berdasar pada akal serta pengalaman manusia, dan bangsa-bangsa yang kebudayaannya serta peradabannya didasari oleh wahyu Ilahi; (b) orang-orang yang hidup di benua-benua dan orang-orang yang hidup di pulau-pulau. Ayat ini berarti, bahwa semua bangsa di dunia telah menjadi rusak sampai kepada intinya, baik secara politis, sosial maupun akhlaki (agama).

(Bersambung)
       
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar,  20 November 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar