Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
68
MAKNA NAMA
ISLAM DAN MUSLIM BAGI AGAMA DAN PEMELUK SYARIAT TERAKHIR DAN TERSEMPURNA & HUBUNGAN NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. DENGAN BANI ISMA’IL
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 67 dikemukakan Falsafah
Pemberian Nama Islam dan Muslim Kepada Agama
Terakhir dan Tersempurna dan Kepada Para Pemeluknya. Semua agama
samawi (langit) senantiasa menanamkan
kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya (aslim/muslim), namun demikian hanya dalam Islam sajalah paham kepatuhan kepada kehendak Ilahi
mencapai kesempurnaan (QS.6:162-164),
sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt., dan hanya pada Islam sajalah pengenjewantahan
demikian telah terjadi karena itu Allah Swt. telah menyatakan agama Islam (Al-Quran) sebagai agama (kitab) terakhir dan tersempurna,
firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ
اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ
لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah
Kulengkapkan721 nikmat-Ku atas kamu, dan telah
Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu.
(Al-Māidah
[5]:4).
Dengan demikian jelaslah bahwa nama “Islam” bagi agama (syariat) terakhir
dan tersempurna bukan sekedar nama – guna membedakan
dari sesuatu dari nama-nama yang lainnya --
melainkan merupakan sikap hidup
yang harus diamalkan oleh para pemeluknya berupa “penyerahan
diri sepenuhnya” kepada Allah Swt. sesuai syariat Islam (Al-Quran)
sebagaimana yang difahami, diajarkan dan diamalkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. dan para sahabat beliau saw., sesuai firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ
اللّٰہُ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ
تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika
mereka berpaling maka ketahuilah sesungguh-nya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali
‘Imran [3]:32-33).
Ikmāl (Menyempurnakan) dan Itmām
(Melengkapkan)
Ikmāl (menyempurnakan) dan
itmām (melengkapkan) merupakan akar-akar kata (masdar), yang pertama
berhubungan dengan kaifiat (kualitas) dan yang kedua berhubungan dengan kammiat
(kuantitas). Kata yang pertama (Ikmāl -- menyempurnakan) menunjukkan bahwa ajaran-ajaran serta perintah-perintah mengenai pencapaian kemajuan jasmani, ruhani,
dan akhlak manusia telah terkandung
dalam Al-Quran dalam bentuk yang
paripurna; sedang yang kedua (itmām -
melengkapkan) menunjukkan bahwa tidak ada suatu keperluan manusia yang lepas dari perhatian (diabaikan).
Kata yang pertama berhubungan dengan perintah-perintah
yang bertalian dengan segi fisik atau
keadaan lahiriah manusia, sedang yang
kedua berhu-bungan dengan segi ruhaniah
dan batiniahnya. Berikut ini
ayat tersebut selengkapnya, firman-Nya:
حُرِّمَتۡ
عَلَیۡکُمُ الۡمَیۡتَۃُ وَ الدَّمُ وَ لَحۡمُ الۡخِنۡزِیۡرِ وَ مَاۤ اُہِلَّ
لِغَیۡرِ اللّٰہِ بِہٖ وَ الۡمُنۡخَنِقَۃُ وَ الۡمَوۡقُوۡذَۃُ وَ الۡمُتَرَدِّیَۃُ
وَ النَّطِیۡحَۃُ وَ مَاۤ اَکَلَ السَّبُعُ اِلَّا مَا ذَکَّیۡتُمۡ ۟ وَ مَا
ذُبِحَ عَلَی النُّصُبِ وَ اَنۡ تَسۡتَقۡسِمُوۡا بِالۡاَزۡلَامِ ؕ ذٰلِکُمۡ فِسۡقٌ
ؕ اَلۡیَوۡمَ یَئِسَ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ دِیۡنِکُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡہُمۡ
وَ اخۡشَوۡنِ ؕ اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا ؕ فَمَنِ اضۡطُرَّ فِیۡ
مَخۡمَصَۃٍ غَیۡرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثۡمٍ
ۙ فَاِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾
Diharamkan
bagi kamu bangkai, darah, daging babi, dan hewan yang disembelih dengan
tidak menyebut nama Allah, yang mati dicekik, yang mati dipukul, yang mati terjatuh,
yang mati ditanduk, yang telah
dimakan oleh binatang buas kecuali yang telah kamu sembelih sebelum mati;
dan yang disembelih di tempat pemujaan berhala-berhala. Dan juga diharam-kan mengadu nasib dengan mengundi anak panah, hal
demikian itu suatu perbuatan fasik. Pada
hari ini orang-orang yang kafir telah
putus asa untuk merusak agama
kamu, maka ja-nganlah takut kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku. اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ
وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا -- Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, -- dan telah Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu. Tetapi barangsiapa
terpaksa karena lapar dan bukan
senga-ja cenderung kepada dosa maka sesungguhnya
Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
(Al-Māidah
[5]:4).
Penyempurnaan dan pelengkapan agama dan nikmat Allah disebut berdampingan dengan hukum yang berlaku bertalian dengan makanan-makanan untuk menjelaskan bahwa penggunaan makanan yang halal
dan thayyib merupakan salah satu dasar yang amat penting untuk nilai akhlak yang baik dan pada
gilirannya memberi dasar tempat-berpijak
guna mencapai kemajuan ruhani. Secara
sepintas baiklah kita ketahui bahwa ayat ini merupakan ayat yang diwahyukan terakhir, dan Nabi Besar
Muhammad saw. wafat hanya 82 hari
sesudah ayat ini turun.
Sebutan “Muslim” Bagi Para Pemeluk Agama Samawi
Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam
yang berhak disebut agama Tuhan Pribadi
(agama Allah) dalam arti yang
sebenarnya. Semua agama yang benar, lebih atau kurang
dalam bentuknya yang asli
adalah agama Islam, sedang para pengikut
agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah,
tetapi nama Al-Islam tidak
diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam
seginya, karena nama itu
dicadangkan untuk syariat yang terakhir
dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (QS.5:4), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا ارۡکَعُوۡا وَ
اسۡجُدُوۡا وَ اعۡبُدُوۡا رَبَّکُمۡ وَ افۡعَلُوا الۡخَیۡرَ لَعَلَّکُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ ﴿ۚٛ﴾ وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ
عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Hai
orang-orang yang beriman, rukuklah
kamu, sujudlah, sembahlah
Rabb (Tuhan) kamu, dan berbuatlah kebaikan supaya kamu memperoleh kebahagiaan. Dan berjihadlah kamu di jalan
Allah dengan jihad
yang sebenar-benarnya, Dia telah
memilih kamu, dan Dia tidak
menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
Dia telah memberi kamu nama Muslimin
dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ
الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ -- supaya
Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰ -- Maka dirikanlah
shalat, bayarlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ
فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ -- Dia
Pelindung kamu maka Dia-lah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik
Penolong. (Al-Hājj [22]:78-79).
Jihad
itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan
dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula
berperang untuk membela diri. Jihad
macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang terakhir “Jihad
di jalan AllAh”. Nabi Besar Muhammad saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad
besar (jihad kabir) dan
yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
Kata-kata
ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- “Dia telah memberi
kamu nama Muslimin, dahulu dan dalam Kitab ini,” menunjuk kepada nubuatan Nabi Yesaya a.s.: “maka engkau akan disebut dengan nama yang
baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15).
Nubuatan Mengenai Nabi Besar Muhammad Saw. Dalam Doa Nabi Ibrahim a.s. Bersama Nabi
Isma’il a.s. Ketika Membangun Kembali Ka’bah
(Baitullah)
Isyarat
dalam kata-kata وَ فِیۡ ہٰذَا -- “dan
dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa Nabi Ibrahim a.s. yang dikutip dalam Al-Quran, ketika
bersama putra beliau, Nabi Isma’il a.s.,
memanjatkan doa pada waktu membangun kembali Ka’bah (Baitullah), yaitu: “Ya
Rabb (Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan
diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang
tunduk kepada Engkau.” (QS.2:129). Selengkapnya Allah Swt. berfirman:
وَ اِذۡ یَرۡفَعُ اِبۡرٰہٖمُ الۡقَوَاعِدَ مِنَ الۡبَیۡتِ وَ اِسۡمٰعِیۡلُ ؕ رَبَّنَا
تَقَبَّلۡ مِنَّا ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ السَّمِیۡعُ الۡعَلِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ
اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ ۪ وَ اَرِنَا مَنَاسِکَنَا وَ تُبۡ عَلَیۡنَا ۚ اِنَّکَ
اَنۡتَ
التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ
ابۡعَثۡ فِیۡہِمۡ رَسُوۡلًا مِّنۡہُمۡ یَتۡلُوۡا عَلَیۡہِمۡ اٰیٰتِکَ وَ یُعَلِّمُہُمُ الۡکِتٰبَ وَ
الۡحِکۡمَۃَ وَ یُزَکِّیۡہِمۡ ؕ اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ ﴿﴾٪
Dan ingatlah
ketika Ibrahim dan Isma’il meninggikan dasar-dasar yakni pondasi Rumah itu sambil mendoa: “Ya
Rabb (Tuhan) kami, terimalah
amal ini dari kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
orang yang berserah diri kepada Engkau,
dan juga dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, perlihatkanlah
kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah
taubat kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha
Penyayang. Ya
Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang meng-ajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah [2]:128-130).
Apakah Nabi Ibrahim a.s. sebagai pendiri
atau hanya pembangun kembali Ka’bah, merupakan satu masalah yang
telah menimbulkan banyak perbantahan. Sementara orang berpendapat bahwa Nabi
Ibrahim a.s. itulah pendiri pertama tempat itu, sedang yang lainnya melacak
asal-usulnya sampai Nabi Adam a.s.. Al-Quran (QS.3:97) dan hadits-hadits
shahih membenarkan pendapat bahwa bahkan
sebelum bangunan tersebut didirikan
oleh Nabi Ibrahim a.s. pada tempat itu telah ada semacam bangunan tetapi telah menjadi puing-puing dan hanya tinggal bekasnya (fondasinya) belaka (QS.2:128).
Hubungan “Baitullah” (Ka’bah) Dengan Nabi Adam a.s. dan Nabi Ibrahim a.s.
Kata al-qawa’id dalam ayat
ini menunjukkan bahwa pondasi Baitullāh
telah ada dan kemudian Nabi Ibrahim a.s. serta Isma'il as. membangunnya
atas pondasi itu. Tambahan pula doa Nabi Ibrahim a.s. pada saat berpisah dengan putranya,
Isma'il a.s. dan ibunya di
Mekkah yaitu: رَبَّنَاۤ اِنِّیۡۤ
اَسۡکَنۡتُ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ بِوَادٍ غَیۡرِ ذِیۡ
زَرۡعٍ عِنۡدَ بَیۡتِکَ الۡمُحَرَّمِ -- “Ya Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari
keturunanku di lembah yang tandus dekat Rumah Engkau yang suci” (QS.14:38)
menunjukkan bahwa Ka’bah telah ada
bahkan sebelum Nabi Ibrahim a.s. menempatkan
istri dan anak beliau di lembah Mekkah. Hadits pun mendukung pandangan itu (Bukhari), demikian pula
catatan-catatan sejarah pun memberikan dukungan kepada pendapat bahwa Ka’bah itu sangat tua sekali
asal-usulnya.
Para ahli sejarah terkenal dan
bahkan sebagian ahli-ahli kritik Islam
yang tak bersahabat telah mengakui
bahwa Ka’bah itu tempat yang sangat tua dan telah dipandang suci
semenjak waktu yang tak dapat diingat.
Diodorus Siculus Sicily (60
sebelum Masehi) dalam menyinggung mengenai daerah
yang sekarang dikenal sebagai Hijaz
mengatakan bahwa tempat itu sangat
dimuliakan oleh bangsa pribumi dan menambahkan: “sebuah tempat pemujaan yang sangat tua didirikan di situ dari batu
keras ...... yang ke tempat itu datang berbondong-bondong kaum-kaum dari daerah
tetangga dari segala penjuru” (Terjemahan ke dalam Bahasa Inggeris oleh
C.M. Oldfather, London, 1935, Kitab III, Bab 42 jilid ii, halaman 211-213).
“Kata-kata itu tentu mengisyaratkan rumah suci di Mekkah, sebab kita
tidak mengenal tempat lain, yang pernah mendapat penghormatan yang meliputi
seluruh tanah Arab ........ Tarikh melukiskan Ka’bah sebagai tempat ziarah dari
semua bagian tanah Arab semenjak waktu kuno” (Sir Williams Muir, halaman ciii).
Dua Doa
Nabi Ibrahim a.s. Untuk Bani Israil
dan Bani Isma’il
Menarik sekali kiranya untuk
diperhatikan di sini bahwa Al-Quran membicarakan dua doa Nabi Ibrahim a.s. secara terpisah. Pertama tentang keturunan Nabi Ishaq a.s. dan yang kedua mengenai anak-cucu Nabi Isma’il a.s.. Doa pertama tercantum dalam QS.2:125
dan yang kedua dalam ayat ini (QS.2:128-130).
Dalam doanya mengenai
keturunan Nabi Ishaq a.s., Nabi
Ibrahim a.s. memohon supaya imam-iman atau para mushlih
(pembaharu) dibangkitkan dari antara mereka, tetapi beliau tidak menyebut tugas
atau kedudukan istimewa mereka — mereka itu Mushlih-muslih rabbani
(Pembaharu-pembaharu) biasa yang akan datang berturut-turut untuk memperbaiki Bani Israil (QS.2:88).
Tetapi dalam doanya pada ayat-ayat ini (QS.2:128-130) Nabi Ibrahim a.s. memohon
kepada Allah Swt. agar membangkitkan
di antara keturunannya seorang Nabi Besar dengan tugas khusus. Perbedaan ini sungguh merupakan gambaran yang sejati lagi
indah sekali tentang kedua cabang keturunan Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya: Ya Rabb
(Tuhan) kami, jadikanlah kami berdua
orang yang berserah diri kepada Engkau,
dan juga dari antara keturunan kami jadikanlah satu umat yang berserah diri kepada Engkau, perlihatkanlah
kepada kami cara-cara ibadah kami dan terimalah
taubat kami, sesungguhnya Engkau
benar-benar Maha Penerima Taubat, Maha
Penyayang. Ya
Rabb (Tuhan) kami, bangkitkanlah seorang rasul di tengah-tengah
mereka dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan Ayat-ayat Engkau kepada mereka, yang meng-ajarkan Kitab dan hikmah kepada mereka serta akan mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah
[2]:129-130).
Dengan menyebut kedua doa Nabi Ibrahim a.s. dalam surah Al-Baqarah ayat 125 dan 130, Surah ini mengemukakan secara sepintas
lalu kenyataan bahwa Nabi Ibrahim a.s. bukan hanya mendoa untuk kesejahteraan Bani
Ishaq saja (QS.2:125), melainkan juga untuk
keturunan Nabi Isma'il a.s., putra sulungnya, firman-Nya:
وَ اِذِ ابۡتَلٰۤی اِبۡرٰہٖمَ رَبُّہٗ بِکَلِمٰتٍ فَاَتَمَّہُنَّ ؕ قَالَ
اِنِّیۡ جَاعِلُکَ
لِلنَّاسِ اِمَامًا ؕ قَالَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِیۡ ؕ قَالَ لَا یَنَالُ عَہۡدِی الظّٰلِمِیۡنَ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim diuji oleh
Rabb-Nya (Tuhan-nya) dengan beberapa
perintah maka dilaksanakannya sepenuhnya. Dia
berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau imam bagi manusia.” Ia, Ibrahim, berkata: “Dan jadikanlah j-ga imam dari
keturunanku.”
Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai
yakni tidak berlaku bagi orang-orang
za-lim” (Al-Baqarah [2]:125).
Jawaban Keberatan Kritikus Non-Muslim
Selaras dengan jawaban Allah Swt., yakni: Dia berfirman: “Janji-Ku tidak mencapai
yakni tidak berlaku bagi orang-orang
zalim.” Keturunan Nabi Ishaq a.s. kehilangan karunia kenabian karena perbuatan-perbuatan jahat mereka (QS.2:88-90), maka Nabi yang dijanjikan dan diminta dalam
ayat ini harus termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s. yang lain yaitu anak-cucu
Nabi Isma'il a.s..
Untuk menegaskan bahwa Nabi yang diharapkan dan dijanjikan itu harus seorang dari Bani Isma'il, Al-Quran dengan sangat
tepat menuturkan pembangunan kembali Ka’bah oleh
Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Isma'il a.s. serta doa yang dipanjatkan oleh Nabi
Ibrahim a.s. untuk keturunan
putra sulungnya. (Nabi Isma’il a.s..
Terhadap kesimpulan wajar ini
para pengecam Kristen pada umumnya
mengemukakan dua kecaman:
(1) Bahwa Bible tidak menyebut
janji
Allah apa pun kepada Nabi
Ibrahim a.s. mengenai
Isma'il a.s..
(2) bahwa andaikata diakui bahwa Allah Swt. sungguh-sungguh
telah memberikan suatu janji
demikian, maka tidak ada bukti
terhadap kenyataan bahwa Rasul agama
Islam -- yakni Nabi Besar Muhammad
saw. -- adalah keturunan Nabi Isma'il a.s..
Adapun tentang keberatan pertama,
andaikata pun diperhatikan bahwa Bible
tak mengandung nubuatan-nubuatan apa
pun mengenai Nabi Isma'il a.s. maka hal itu tidaklah berarti bahwa nubuatan demikian tidak pernah ada,
sebab sidah merupakan kebiasaan para
pemuka agama Yahudi untuk menyembunyikan
atau menghilangkan atau mengaburkan
makna dari nubuatan-nubuatan
tersebut (QS.2:41-44 & 90-91, 102; QS.3:4 & 82; QS.4:48; QS.5:49),
padahal mereka mengenal nubuatan-nubuatan
tersebut bagaikan mengenal anak-anak meeka sendiri (QS.2:147; QS.6:21;
QS.26:193-198).
Tambahan pula bila kesaksian Bible dapat dianggap membenarkan adanya sesuatu janji mengenai Nabi Ishaq a.s.. dan putra-putranya,
mengapa kesaksian Al-Quran berkenaan
dengan anak cucu Nabi Isma'il a.s. tidak dapat diterima sebagai bukti bahwa janji-janji
telah diberikan pula oleh Allah Swt.
kepada Nabi Isma'il a.s. dan
anak-anaknya? Tetapi dalam kenyataannya Bible sendiri mengandung penunjukan mengenai kesejahteraan hari depan putra-putra
Nabi Isma'il a.s. seperti
dikandungnya mengenai kesejahteraan
putra-putra Nabi Ishaq a.s. (Kejadian 16:10-12; 17:6-10;
17:18-20).
Sebagai jawaban kepada keberatan kedua bahwa seandainya pun perjanjian itu dianggap meliputi keturunan Isma'il a.s. masih harus pula dibuktikan bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. termasuk Bani Isma'il. Butir-butir berikut ini dapat
diperhatikan:
(1) Kaum Quraisy kabilah Nabi Besar Muhammad saw. berasal, senantiasa percaya dan
menyatakan diri sebagai keturunan Nabi
Isma'il a.s. dan pengakuan itu diakui oleh semua bangsa Arab.
(2) Jika pengakuan kaum Quraisy dan juga pengakuan suku-suku Bani Isma'il lainnya dari
tanah Arab sebagai keturunan Nabi Isma'il
a.s. itu tidak benar,
maka keturunan Nabi Isma'il a.s. yang
sungguh-sungguh tentu akan membantah pengakuan palsu demikian itu, tetapi
setahu orang keberatan demikian tidak pernah diajukan.
(3). Dalam Kejadian 17:20 Tuhan
telah berjanji akan memberkati Nabi
Isma'il a.s. melipatgandakan keturunannya, menjadikannya bangsa besar dan ayah 12 pangeran. Jika bangsa Arab bukan keturunannya, lalu
mana bangsa yang dijanjikan itu?
Suku-suku Bani Isma'il di tanah Arab
sungguh-sungguh merupakan satu-satunya yang mengaku berasal dari Nabi
Isma'il a.s.
(4) Menurut Kejadian 21:8-14, Siti Hajar terpaksa meninggalkan
rumahnya untuk memuaskan rasa angkuh Siti
Sarah. Jika beliau dan putranya Isma’il
a.s. tidak dibawa Nabi Ibrahim a.s. ke Hijaz,
di manakah sekarang keturunannya
dapat ditemukan dan di manakah tempat pembuangannya?
(5) Ahli-ahli ilmu bumi bangsa
Arab semuanya sepakat bahwa Faran itu adalah nama yang diberikan kepada
bukit-bukit Hijaz (Mu’jam al-Buldan).
(6). Menurut Bible, keturunan Nabi Nabi
Isma'il a.s. menghuni
wilayah “dari negeri Hawilah sampai ke
Syur” (Kejadian 25:18),
dan kata-kata “dari Hawilah sampai ke
Syur” menunjukkan ujung-ujung bertentangan negeri Arab (Cyclopaedia of Biblical Literature
by J. Eadie, London 1862).
(7). Bible menyebut Isma’il
“seorang bagai hutan lakunya” (Kejadian
16:12) dan kata A’rabi (“Penghuni padang pasir”) mengandung arti hampir
sama pula.
(8). Bahkan Paulus mengakui adanya hubungan antara Siti Hajar dengan tanah Arab
(Galatia 4:25).
(9). Kedar itu seorang putra Isma’il a.s. dan telah diakui bahwa
keturunannya menduduki wilayah selatan tanah Arab (Cyclopaedia of Biblical Literature: London 1862).
(10). Prof. C.C. Torrey
mengatakan: “Orang-orang Arab itu Bani
Isma’il menurut riwayat bangsa Ibrani ....
Dua belas orang raja" (Kejadian
17:20), yang kemudian disebut dalam Kejadian 25:13-15, menggambarkan
suku-suku Arab atau daerah-daerah di
negeri Arab, perhatikanlah terutama Kedar, Duma (Dumatul Jandal), Teima. Bangsa
besar itu ialah penduduk Arab” (Jewish
Foundation of Islam, halaman 83). “Orang-orang
Arab menurut ciri-ciri jasmani, bahasa, adat kebiasaan asli .... dan dari
persaksian Bible umumnya dan pada dasarnya adalah Bani Isma’il” (Cyclopaedia of Biblical Literature,
New York, halaman 685).
(11). “Marilah kita senantiasa mencela kecenderungan kotor anak-anak Hajar
karena terutama kaum (suku) Quraisy, mereka itu serupa dengan binatang” (Leaves from Three Ancient Qur’an,
edited by the Rev. Mingana, D.D. Intro. xiii).
Nubuatan
Bible Mengenai Kedatangan “Nabi
yang Seperti Musa”
Dengan demikian doa yang dipanjatkan Nabi Ibrahim
a.s. ketika membangun kembali Ka’bah (Baitullah) bersama putra sulung beliau, Nabi Isma’il a.s., dalam QS.2:128-130 berhubungan erat dengan Bani Isma’il --- yang adalah “saudara tua”
Bani Israil -- sesuai dengan nubuatan dalam Bible mengenai kedatangan Nabi yang seperti Musa yang datang kalangan saudara Bani Israil yakni Bani Ismail:
18:15 Seorang nabi
dari tengah-tengahmu, dari antara
saudara-saudaramu, sama
seperti aku , akan
dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan. 18:16 Tepat seperti yang kamu minta dahulu kepada
TUHAN, Allahmu, di gunung Horeb, pada hari perkumpulan, dengan berkata: Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN,
Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan
aku mati. 18:17 Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; 18:18 seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara
saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia
akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. 18:19 Orang yang tidak
mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu
demi nama-Ku, dari padanya
akan Kutuntut pertanggungjawaban. 18:20 Tetapi seorang
nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak
Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus
mati. (Ulangan 18:15-20).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar,
23 November 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar