Sabtu, 29 Oktober 2016

Ketidak-mampuan Melihat "Tajalli" (Penjelmaan) Allah Swt. di Dunia Mengakibatkan "Kebutaan" di Akhirat & "Najat" (Keselamatan) Hakiki Hasil Perpaduan "Dua Cinta"

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 46

    KETIDAK-MAMPUAN  “MELIHAT” “TAJALLI" (PENJELMAAN) ALLAH SWT. DI DUNIA  MENGAKIBATKAN KEBUTAAN DI AKHIRAT & NAJAT (KESELAMATAN)  HAKIKI  HASIL   PERPADUAN “DUA CINTA”  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 45 dikemukakan   mengenai    makna ayat   “yang hampir serupa”  dalam ayat:    وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا --  “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya”,   dalam firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا  --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ   -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, بِہٖ   مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا --  akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci,  وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya  (Al-Baqarah [2]:26).

Persamaan Keinginan Orang-orang Bertakwa dengan Kehendak Allah Swt.

      Makna بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا --  “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya” tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia  ini dan buah atau hasilnya di surga. Jadi, amal ibadah dalam kehidupan sekarang akan nampak kepada orang-orang beriman  sebagai hasil atau buah di akhirat.
       Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di surga dan  makin baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan yang dikehendakinya terletak pada kekuatannya sendiri.
      Ayat ini berarti pula bahwa makanan ruhani orang-orang beriman di surga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing. Itulah makna “apa yang mereka inginkan” dalam firman-Nya:
لِیَکُوۡنَا مِنَ الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ  --  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: ”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ   -- Dan bagi  kamu di dalam-nya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ --   Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā Mīm – As-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ اَذٰلِکَ خَیۡرٌ اَمۡ جَنَّۃُ  الۡخُلۡدِ الَّتِیۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ؕ کَانَتۡ لَہُمۡ جَزَآءً وَّ مَصِیۡرًا ﴿﴾ لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ ؕ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Katakanlah: “Apakah yang demikian itu lebih baik, ataukah surga abadi yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Itu akan menjadi ganjaran bagi mereka dan tempat kembali.”   لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ --    Mereka di dalamnya selamanya akan memperoleh  apa pun  yang mereka inginkan,   کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا -- itulah janji dari Rabb (Tuhan) engkau  yang layak dimohon. (Al-Furqan [25]:16-17).
         Keinginan-keinginan orang-orang  beriman di   akhirat akan menjadi selaras dengan kehendak Allah Swt., sehingga dengan sendirinya segala keinginan-keinginan mereka akan terpenuhi.

Makna “Jodoh-jodoh” Dalam Surga

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- “dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci.”   Orang-orang beriman juga akan  mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Istri yang baik adalah  sumber kegembiraan dan kesenangan.
       Orang-orang beriman  berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian kesenangan di surga tidak bersifat kebendaan. Dari Al-Quran diketahui bahwa jodoh para ahli surgadi akhirat adalah istri-istri atau suami mereka sendiri yang bertakwa ketika masih hidup di dunia (QS.13:24;  QS.25:75; QS.40:8-10; QS.52:21-22). Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat surga, lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
      Kata-kata  “mereka akan kekal di dalamnya” dalam ayat   وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya”  berarti bahwa orang-orang beriman di surge tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran., bahkan sebaliknya, mereka akan senantiasa meraih kemajuan-kemajuan atau tingkatan-tingkatan kesempurnaan surgawi yang lebih tinggi lagi (QS.66:9).
       Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain membunuhnya. Tetapi  karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai (QS.10:10-11; QS.14:24- QS.36:59) maka kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap.

Balasan yang Sama Terhadap  Sikap Buruk  

        Jadi, kembali kepada    orang-orang kafir di akhirat yang mengeluh karena mereka dibangkitkan dalam keadaan buta:   قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا –   “ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?”   dalam firman-Nya:
قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  ﴿﴾   وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia berfirman:  “Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی    --  Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی --   Dan barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا --   Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ       --   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami   tetapi engkau melupakannya  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab  akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).

Tujuan Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah

        Jawaban Allah Swt. terhadap keluhan orang-orang kafir tersebut:  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami   tetapi engkau melupakannya  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini," mengisyaratkan bahwa kedatangan petunjuk dari Allah Swt.  yang dijanjikan kepada Bani Adam    maksudnya adalah  kesinambungan pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37), dengan tujuan agar indera-indera ruhani manusia berfungsi dengan baik, sehingga  di dalam kehidupan di dunia ini juga mereka akan menyaksikan Tanda-tanda  Allah Swt. (QS.3:191-195), yang akan menjuruskan mereka beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada Bani Adam,  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat mema-jukannya.  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ   --  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.   وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya,  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya.  (Al-A’raf [7]:35-37).
     Sebaliknya, mereka yang mendustakan Rasul Allah  -- karena indera-indera ruhani mereka dalam keadaan lumpuh  – akan menjadi mangsa azab Ilahi  sebagai akibat pendustaan dan penentangan mereka kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka, sekali pun berbagai dalil dan mukjizat  telah dikemukakan kepada mereka --   firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ  --  Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur?  اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی -- Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:128-129).
    Allah Swt. menamakan orang-orang yang beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan-Nya  di kalangan Bani Adam  (QS.7:35-37)  sebagai “petunjuk”  Allah Swt. (QS.2:38-40)  dengan sebutan  “orang-orang yang berakal”, firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.  Yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  -- seraya berkata: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia,  Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.   Wahai  Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا   -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman.  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan.”  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).

Kemampuan “Melihat” Penjelmaan Allah Swt. di Dunia

        Jadi, betapa “orang-orang yang berakal” terssebut dengan menyaksikan Tanda-tanda Allah Swt.  yang terdapat di alam semesta  serta dengan membaca Tanda-tanda Zaman   --  antara lain berkecamuknya berbagai bala bencana sebagai tanda kemurkaaan Allah Swt.   --  mereka berhasil mengenali kedatangan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dikalangan Bani Adam, yang pada hakikatnya merupakan “penjelmaan” (perwujudan) Allah Swt. sendiri, sebab  para rasul Allah   -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   --  merupakan Tanda keberadaan dan perwujudan Allah Swt. yang paling nyata  dibandingkan semua Tanda-tanda Ilahi lainnya di alam semesta ini.
    Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kemampuan manusia untuk  “melihat” Allah Swt.:
     “Kitab Suci Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa najat (keselamatan) adalah masalah yang dimanifestasikan (dinampakkan) di dunia ini juga sebagaimana diungkapkan oleh ayat:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی
 “Dan barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun ia akan buta juga” (Bani Israil [17]:73).
     Berarti setiap orang akan membawa ke akhirat nanti segala yang dimilikinya berupa fitrat kemampuan melihat Tuhan dan sarana najat (keselamatan hakiki). Allah Swt. sudah berulangkali menunjukkan bahwa sarana bagi manusia untuk mencapai keselamatan itu bersifat abadi sebagaimana Tuhan itu sendiri adalah juga Maha Abadi. Dan  tidak mungkin  terjadi bahwa  Dia beranggapan bahwa manusia tidak lagi bisa mencapai keselamatan dan karena itu Dia harus membunuh Diri-Nya sendiri (di atas kayu salib).
    Seseorang dikatakan telah mencapai najat (keselamatan) jika semua nafsu yang ada di dirinya telah punah dimana kehendak Tuhan menjadi kehendak dirinya serta ia menjadi demikian mengabdi kepada-Nya hanya karena kecintaan yang tulus, sehingga tidak ada sesuatu apa pun lagi yang dianggap sebagai miliknya sendiri karena dianggapnya telah menjadi milik Tuhan. Semua perkataan, kelakuan, tindakan dan niatnya adalah bagi Tuhan.
     Ia merasa bahwa kesenangan dirinya hanya pada Tuhan dimana perpisahan sejenak saja akan terasa sebagai maut (kematian) baginya. Ia menjadi terpana dengan kasih Tuhan sedemikian rupa, sehingga segala apa pun tidak ada artinya lagi di samping Tuhan-nya.
    Misalnya pun seluruh dunia akan menyerang dirinya dengan pedang terhunus dan berusaha memisahkan dirinya dari Tuhan-nya dengan menanamkan rasa ketakutan, ia akan tetap bersiteguh laiknya gunung yang tegak dengan kokoh. Api kecintaan hakiki akan merona di dalam kalbunya dan ia jadi membenci segala dosa.
   Sebagaimana orang lainnya mengasihi anak-anak, isteri dan sahabatnya sehingga terasa bagaimana kasihnya itu meresap di kalbu mereka -- dimana kematian salah satunya saja akan amat menyedihkan baginya -- maka kecintaan seperti itulah, atau bahkan lebih, yang harus dimunculkan dalam hatinya berkenaan dengan Tuhan-nya.
   Ia sewajarnya akan menjadi seperti orang gila yang dicengkeram kecintaan tersebut dan siap menjalani segala luka dan siksa demi kecintaan itu, semata-mata hanya agar Allah Yang Maha Agung meridhai dirinya.
    Ketika seseorang telah mencapai tingkatan kecintaan kepada Tuhan seperti ini maka semua nafsunya akan terbakar habis oleh api kecintaan tersebut dan muncul revolusi dahsyat dalam dirinya dimana ia dikaruniakan sebuah hati yang tidak dimiliki sebelumnya, dianugrahi mata yang tidak dipunyai sebelumnya. Ia akan memperoleh suatu kepastian sedemikian rupa sehingga ia menampak Tuhan di dunia ini juga. Rasa kemrungsung (panas) seperti api neraka yang menjangkiti mereka yang bersifat duniawi akan dibersihkan dari dirinya dan ia akan memperoleh suatu kehidupan ketentraman, kesenangan dan kenikmatan tersendiri.
   Kondisi seperti inilah yang dimaksud sebagai najat (keselamatan) dimana kalbunya telah tergadai di hadirat Ilahi melalui kasih dan pengabdian. Sebagai imbalannya ia memperoleh ketentraman abadi dimana kesatuan kasihnya dengan kasih Ilahi akan mengangkatnya ke suatu tingkat derajat pengabdian yang tak mungkin dijelaskan dengan kata-kata.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  416-417, London, 1984).

Kesempurnaan Kecintaan Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Allah Swt.

     Di antara seluruh rasul Allah yang paling sempurna mengamalkan keadaan fana  seperti itu adalah Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini kepada beliau saw.:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus,   agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus     dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam.    Tidak ada sekutu bagi-Nya,     untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah orang pertama  yang berserah diri  (Al-An’ām [6]:162-164).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 27 Oktober 2016

Jumat, 28 Oktober 2016

Orang-orang yang "Indera-indera Ruhaninya" Berfungsi di Dunia dan Akhirat & Berbagai Perumpamaan "Ganjaran dan Siksaan" di Alam Akhiat


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 45

ORANG-ORANG YANG INDERA-INDERA RUHANINYA BERFUNGSI DI DUNIA DAN DI AKHIRAT   &  BERBAGAI PERUMPAMAAN "GANJARAN DAN SIKSAAN" DI ALAM AKHIRAT

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 44 dikemukakan   mengenai   kelumpuhan   “indera-indera ruhani”    orang-orang kafir   yang mendustakan dan  menentang para Rasul Allah dalam firman-Nya berikut ini:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang menjulang tinggi. اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا  --    Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ  -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.  (Al-Hājj [22]:46-47).

Penyebab Orang-orang   Dibangkitkan Dalam Keadaan “Buta”

      Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli, yang untuk memfungsikan kembali indera-indera ruihani manusia  yang lumpuh itulah tujuan  Allah Swt. mengutus para Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37).
    Tetapi dalam kenyataannya umumnya manusia memilih indera-indera ruhani  mereka tetap lumpuh     karena mendustakan dan menentang  para Rasul Allah tersebut   --  termasuk di Akhir Zaman ini  -- yang akibatnya di alam akhirat pun mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan lumpuh indera-indera ruhaninya (QS.17:73), sebagaimana firman-Nya berkenaan  perintah melakukan hijrah  kepada Nabi Adam a.s. dan jama’ah beliau yang diuraikan dalam Bab-bab sebelumnya:
قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  ﴿﴾   وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia berfirman:  “Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی    --  Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی --   Dan barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا --   Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesung-guhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ       --   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami   tetapi engkau melupakannya  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab- akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami bina-sakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).
     
Orang-orang yang  Indera-indra Ruhaninya  Berfungsi di Dunia dan di Akhirat

 Seseorang yang sama sekali tidak ingat kepada Allah Swt.  di dunia serta menjalani cara hidup yang menghalangi dan menghambat perkembangan ruhaninya, dan dengan demikian membuat dirinya tidak layak menerima nur dari Allah Swt.  maka ia akan dilahirkan    dalam keadaan buta di waktu kebangkitannya kembali pada kehidupan di akhirat.
 Hal itu menjadi demikian  karena ruhnya di dunia ini - yang akan berperan sebagai tubuh  bagi ruh yang lebih maju ruhaninya di alam akhirat - telah menjadi buta, sebab ia telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa di dunia ini. Dan sebagai jawaban terhadap keluhan orang kafir mengapa ia dibangkitkan buta padahal dalam kehidupan sebelumnya di dunia  ia memiliki penglihatan, Allah Swt. akan mengatakan bahwa ia telah menjadi buta ruhani dalam kehidupannya di dunia sebab telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa, dan karena itu ruhnya — yang akan berperan sebagai tubuh untuk ruh lain yang ruhaninya jauh lebih berkembang di akhirat   --  maka di hari kemudian (akhirat) ia dilahirkan (dibangkitkan) dalam keadaan  buta.
    Ayat ini dapat pula berarti bahwa karena orang kafir tidak mengembangkan dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi  yang diajarkan Rasul Allah yang diutus kepada mereka dan tetap asing dari sifat-sifat  Ilahi itu, maka pada hari kebangkitan — ketika Sifat-sifat Ilahi  itu  akan dinampakkan  dengan segala keagungan dan kemuliaan — maka ia sebagai seseorang yang terasing dari  penjelmaaan Sifat­-sifat Ilahi itu  tidak akan mampu mengenalnya dan dengan demikian akan berdiri seperti orang buta yang tidak mempunyai ingatan atau kenangan sedikit pun kepada Sifat-sifat itu.
  Sebaliknya,  orang-orang yang beriman dan beramal shaleh  akan mengenal penampakan Sifat-sifat Ilahi di akhirat dengan baik, sebab ketika masih di dunia pun – sampai batas tertentu  -- ia pernah “menyaksikan”  penampakan Sifat-sifat Ilahi tersebut serta menikmati “karunia-karunia ruhani” dari Allah Swt., firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا  --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ   -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,  وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا --  akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci,  وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya  (Al-Baqarah [2]:26).
      Ayat ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali, tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.

Hakikat Berbagai Perumpamaan Gambaran di Alam Akhirat

       Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18). Nabi Besar Muhammad Saw.  diriwayatkan pernah bersabda: “Tidak ada mata telah melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran manusia dapat mengirakannya” (Bukhari), firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا  یَسۡتَوٗنَ﴿﴾؃
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  Maka apakah seorang yang beriman  sama seperti orang fasik? Mereka tidak sama. (As-Sajdah [32:18).
       Dengan sendirinya timbul pertanyaan:  Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu (intelektual),  karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.
     Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah mempergunakan nama benda yang pada umumnya dipandang baik di bumi ini,  dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan datang.
     Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dipakainya kata-kata yang telah dikenal, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan duniawi dengan karunia-karunia ukhrawi. Tambahan pula menurut Islam  kehidupan di akhirat itu tidak ruhaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan ruhani, bahkan dalam kehidupan di akhirat pun ruh manusia akan mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda.
       Orang dapat membuat tanggapan terhadap keadaan itu dari gejala-gejala mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan pikiran atau ruhani belaka, sebab dalam keadaan itu pun  ia punya jisim dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya, makan buah-buahan, dan minum susu.
        Sukar untuk mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Susu yang dinikmati dalam mimpi tidak ayal lagi merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa  minuman itu susu biasa yang ada di dunia ini dan diminumnya.
    Nikmat-nikmat ruhani kehidupan di akhirat bukan akan berupa  hanya penyuguhan subyektif dari anugerah Allah Swt.  yang kita nikmati di dunia ini, bahkan apa yang kita peroleh di sini  (di dunia) hanyalah gambaran anugerah nyata dan benar dari Allah Swt.     yang akan dijumpai orang di akhirat.

“Kebun-kebun Surgawi” Gambaran Iman  dan “Sungai-sungai”  Amal Shaleh

    Tambahan pula bahwa “kebun-kebun“ adalah gambaran iman, sedangkan   “sungai-sungai” adalah gambaran amal saleh. Sebagaimana kebun-kebun tidak dapat tumbuh subur tanpa sungai-sungai, begitu pula iman tidak dapat segar dan sejahtera tanpa perbuatan baik,   dengan demikiam  iman dan amal shalih tidak dapat dipisahkan untuk mencapai najat (keselamatan).
     Di akhirat kebun-kebun itu akan mengingatkan orang beriman akan imannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan  sungai-sungai akan mengingatkan kembali kepada amal salehnya maka  ia akan mengetahui bahwa iman dan amal salehnya tidak sia-sia.
     Keliru sekali mengambil kesimpulan ayat: قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ   -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,   bahwa di surga orang-orang beriman  akan dianugerahi buah-buahan semacam yang dinikmati mereka di bumi ini, sebab seperti telah diterangkan di atas keduanya tidak sama.
     Buah-buahan di akhirat sesungguhnya akan berupa gambaran mutu keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya mereka segera akan mengenali dan ingat kembali bahwa buah-buahan itu adalah hasil imannya di dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat itu mereka akan berkata: “inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu.” Ungkapan ini dapat pula berarti “apa yang telah dijanjikan kepada kami.”
     Kata-kata “yang hampir serupa”  dalam ayat:    وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا --  “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya”,    tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia  ini dan buah atau hasilnya di surga. Jadi, amal ibadah dalam kehidupan sekarang akan nampak kepada orang-orang beriman  sebagai hasil atau buah di akhirat.
     Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di surga dan  makin baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan yang dikehendakinya terletak pada kekuatannya sendiri.
      Ayat ini berarti pula bahwa makanan ruhani orang-orang beriman di surga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing. Itulah makna “apa yang mereka inginkan” dalam firman-Nya:
لِیَکُوۡنَا مِنَ الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ  --  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: ”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ   -- Dan bagi  kamu di dalam-nya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ --   Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā Mīm – As-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ اَذٰلِکَ خَیۡرٌ اَمۡ جَنَّۃُ  الۡخُلۡدِ الَّتِیۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ؕ کَانَتۡ لَہُمۡ جَزَآءً وَّ مَصِیۡرًا ﴿﴾ لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ ؕ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Katakanlah: “Apakah yang demikian itu lebih baik, ataukah surga abadi yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Itu akan menjadi ganjaran bagi mereka dan tempat kembali.”   لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ --    Mereka di dalamnya selama-nya akan memperoleh  apa pun  yang mereka inginkan,   کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا --  itulah janji dari Rabb (Tuhan) engkau  yang layak dimohon. (Al-Furqān [25]:16-17).
      Keinginan-keinginan orang-orang  beriman di   akhirat akan menjadi selaras dengan kehendak Allah Swt., sehingga dengan sendirinya segala keinginan-keinginan mereka akan terpenuhi.

Makna “Jodoh-jodoh” Dalam Surga
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- “dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci.”   Orang-orang beriman juga akan  mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Istri yang baik adalah  sumber kegembiraan dan kesenangan.
     Orang-orang beriman  berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian kesenangan di surga tidak bersifat kebendaan. Dari Al-Quran diketahui bahwa jodoh para ahli surgadi akhirat adalah istri-istri atau suami mereka sendiri yang bertakwa ketika masih hidup di dunia (QS.13:24;  QS.25:75; QS.40:8-10; QS.52:21-22). Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat surga, lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
     Kata-kata  “mereka akan kekal di dalamnya” dalam ayat   وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya”  berarti bahwa orang-orang beriman di surge tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran., bahkan sebaliknya, mereka akan senantiasa meraih kemajuan-kemajuan atau tingkatan-tingkatan kesempurnaan surgawi yang lebih tinggi lagi (QS.66:9).
     Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain membunuhnya. Tetapi  karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai (QS.10:10-11; QS.14:24- QS.36:59) maka kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 26 Oktober 2016