Sabtu, 29 Oktober 2016

Ketidak-mampuan Melihat "Tajalli" (Penjelmaan) Allah Swt. di Dunia Mengakibatkan "Kebutaan" di Akhirat & "Najat" (Keselamatan) Hakiki Hasil Perpaduan "Dua Cinta"

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 46

    KETIDAK-MAMPUAN  “MELIHAT” “TAJALLI" (PENJELMAAN) ALLAH SWT. DI DUNIA  MENGAKIBATKAN KEBUTAAN DI AKHIRAT & NAJAT (KESELAMATAN)  HAKIKI  HASIL   PERPADUAN “DUA CINTA”  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 45 dikemukakan   mengenai    makna ayat   “yang hampir serupa”  dalam ayat:    وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا --  “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya”,   dalam firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا  --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ   -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, بِہٖ   مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا --  akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suciوَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya  (Al-Baqarah [2]:26).

Persamaan Keinginan Orang-orang Bertakwa dengan Kehendak Allah Swt.

      Makna بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا --  “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya” tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia  ini dan buah atau hasilnya di surga. Jadi, amal ibadah dalam kehidupan sekarang akan nampak kepada orang-orang beriman  sebagai hasil atau buah di akhirat.
       Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di surga dan  makin baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan yang dikehendakinya terletak pada kekuatannya sendiri.
      Ayat ini berarti pula bahwa makanan ruhani orang-orang beriman di surga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing. Itulah makna “apa yang mereka inginkan” dalam firman-Nya:
لِیَکُوۡنَا مِنَ الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ  --  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ   -- Dan bagi  kamu di dalam-nya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ --   Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā MīmAs-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ اَذٰلِکَ خَیۡرٌ اَمۡ جَنَّۃُ  الۡخُلۡدِ الَّتِیۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ؕ کَانَتۡ لَہُمۡ جَزَآءً وَّ مَصِیۡرًا ﴿﴾ لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ ؕ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Katakanlah: “Apakah yang demikian itu lebih baik, ataukah surga abadi yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Itu akan menjadi ganjaran bagi mereka dan tempat kembali.”   لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ --    Mereka di dalamnya selamanya akan memperoleh  apa pun  yang mereka inginkan,   کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا -- itulah janji dari Rabb (Tuhan) engkau  yang layak dimohon. (Al-Furqan [25]:16-17).
         Keinginan-keinginan orang-orang  beriman di   akhirat akan menjadi selaras dengan kehendak Allah Swt., sehingga dengan sendirinya segala keinginan-keinginan mereka akan terpenuhi.

Makna “Jodoh-jodoh” Dalam Surga

      Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- “dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci.”   Orang-orang beriman juga akan  mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Istri yang baik adalah  sumber kegembiraan dan kesenangan.
       Orang-orang beriman  berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian kesenangan di surga tidak bersifat kebendaan. Dari Al-Quran diketahui bahwa jodoh para ahli surgadi akhirat adalah istri-istri atau suami mereka sendiri yang bertakwa ketika masih hidup di dunia (QS.13:24;  QS.25:75; QS.40:8-10; QS.52:21-22). Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat surga, lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
      Kata-kata  “mereka akan kekal di dalamnya” dalam ayat   وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya”  berarti bahwa orang-orang beriman di surge tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran., bahkan sebaliknya, mereka akan senantiasa meraih kemajuan-kemajuan atau tingkatan-tingkatan kesempurnaan surgawi yang lebih tinggi lagi (QS.66:9).
       Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain membunuhnya. Tetapi  karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai (QS.10:10-11; QS.14:24- QS.36:59) maka kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap.

Balasan yang Sama Terhadap  Sikap Buruk  

        Jadi, kembali kepada    orang-orang kafir di akhirat yang mengeluh karena mereka dibangkitkan dalam keadaan buta:   قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا  “ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?”   dalam firman-Nya:
قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  ﴿﴾   وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی    --  Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی --   Dan barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan butaقَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا --   Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ       --   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami   tetapi engkau melupakannya  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab  akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).

Tujuan Kesinambungan Pengutusan Rasul Allah

        Jawaban Allah Swt. terhadap keluhan orang-orang kafir tersebut:  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami   tetapi engkau melupakannya  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini," mengisyaratkan bahwa kedatangan petunjuk dari Allah Swt.  yang dijanjikan kepada Bani Adam    maksudnya adalah  kesinambungan pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37), dengan tujuan agar indera-indera ruhani manusia berfungsi dengan baik, sehingga  di dalam kehidupan di dunia ini juga mereka akan menyaksikan Tanda-tanda  Allah Swt. (QS.3:191-195), yang akan menjuruskan mereka beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada Bani Adam,  firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat mema-jukannya.  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ   --  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  -- maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.   وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ  --  Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya,  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya.  (Al-A’raf [7]:35-37).
     Sebaliknya, mereka yang mendustakan Rasul Allah  -- karena indera-indera ruhani mereka dalam keadaan lumpuh  – akan menjadi mangsa azab Ilahi  sebagai akibat pendustaan dan penentangan mereka kepada Rasul Allah yang diutus kepada mereka, sekali pun berbagai dalil dan mukjizat  telah dikemukakan kepada mereka --   firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ  --  Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancurاِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی -- Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:128-129).
    Allah Swt. menamakan orang-orang yang beriman kepada rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan-Nya  di kalangan Bani Adam  (QS.7:35-37)  sebagai “petunjuk”  Allah Swt. (QS.2:38-40)  dengan sebutan  “orang-orang yang berakal”, firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ  الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ  قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ اَنۡصَارٍ ﴿﴾  رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta   pertukaran malam dan siang  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --- benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.  Yaitu   orang-orang yang  mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil  berbaring atas rusuk mereka, dan mereka memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi  ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ  -- seraya berkata: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah Engkau menciptakan  semua ini  sia-sia,  Maha Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.   Wahai  Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya, dan sekali-kali tidak ada bagi orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ  فَاٰمَنَّا   -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada  keimanan seraya berkata:  "Berimanlah kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu" maka kami telah beriman.  رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ  الۡاَبۡرَارِ -- Wahai  Rabb (Tuhan) kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami, dan  hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama  orang-orang yang berbuat kebajikan.”  رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ --  Wahai  Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau, dan janganlah Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).

Kemampuan “Melihat” Penjelmaan Allah Swt. di Dunia

        Jadi, betapa “orang-orang yang berakal” terssebut dengan menyaksikan Tanda-tanda Allah Swt.  yang terdapat di alam semesta  serta dengan membaca Tanda-tanda Zaman   --  antara lain berkecamuknya berbagai bala bencana sebagai tanda kemurkaaan Allah Swt.   --  mereka berhasil mengenali kedatangan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dikalangan Bani Adam, yang pada hakikatnya merupakan “penjelmaan” (perwujudan) Allah Swt. sendiri, sebab  para rasul Allah   -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   --  merupakan Tanda keberadaan dan perwujudan Allah Swt. yang paling nyata  dibandingkan semua Tanda-tanda Ilahi lainnya di alam semesta ini.
    Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kemampuan manusia untuk  “melihat” Allah Swt.:
     “Kitab Suci Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa najat (keselamatan) adalah masalah yang dimanifestasikan (dinampakkan) di dunia ini juga sebagaimana diungkapkan oleh ayat:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی
 “Dan barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun ia akan buta juga” (Bani Israil [17]:73).
     Berarti setiap orang akan membawa ke akhirat nanti segala yang dimilikinya berupa fitrat kemampuan melihat Tuhan dan sarana najat (keselamatan hakiki). Allah Swt. sudah berulangkali menunjukkan bahwa sarana bagi manusia untuk mencapai keselamatan itu bersifat abadi sebagaimana Tuhan itu sendiri adalah juga Maha Abadi. Dan  tidak mungkin  terjadi bahwa  Dia beranggapan bahwa manusia tidak lagi bisa mencapai keselamatan dan karena itu Dia harus membunuh Diri-Nya sendiri (di atas kayu salib).
    Seseorang dikatakan telah mencapai najat (keselamatan) jika semua nafsu yang ada di dirinya telah punah dimana kehendak Tuhan menjadi kehendak dirinya serta ia menjadi demikian mengabdi kepada-Nya hanya karena kecintaan yang tulus, sehingga tidak ada sesuatu apa pun lagi yang dianggap sebagai miliknya sendiri karena dianggapnya telah menjadi milik Tuhan. Semua perkataan, kelakuan, tindakan dan niatnya adalah bagi Tuhan.
     Ia merasa bahwa kesenangan dirinya hanya pada Tuhan dimana perpisahan sejenak saja akan terasa sebagai maut (kematian) baginya. Ia menjadi terpana dengan kasih Tuhan sedemikian rupa, sehingga segala apa pun tidak ada artinya lagi di samping Tuhan-nya.
    Misalnya pun seluruh dunia akan menyerang dirinya dengan pedang terhunus dan berusaha memisahkan dirinya dari Tuhan-nya dengan menanamkan rasa ketakutan, ia akan tetap bersiteguh laiknya gunung yang tegak dengan kokoh. Api kecintaan hakiki akan merona di dalam kalbunya dan ia jadi membenci segala dosa.
   Sebagaimana orang lainnya mengasihi anak-anak, isteri dan sahabatnya sehingga terasa bagaimana kasihnya itu meresap di kalbu mereka -- dimana kematian salah satunya saja akan amat menyedihkan baginya -- maka kecintaan seperti itulah, atau bahkan lebih, yang harus dimunculkan dalam hatinya berkenaan dengan Tuhan-nya.
   Ia sewajarnya akan menjadi seperti orang gila yang dicengkeram kecintaan tersebut dan siap menjalani segala luka dan siksa demi kecintaan itu, semata-mata hanya agar Allah Yang Maha Agung meridhai dirinya.
    Ketika seseorang telah mencapai tingkatan kecintaan kepada Tuhan seperti ini maka semua nafsunya akan terbakar habis oleh api kecintaan tersebut dan muncul revolusi dahsyat dalam dirinya dimana ia dikaruniakan sebuah hati yang tidak dimiliki sebelumnya, dianugrahi mata yang tidak dipunyai sebelumnya. Ia akan memperoleh suatu kepastian sedemikian rupa sehingga ia menampak Tuhan di dunia ini juga. Rasa kemrungsung (panas) seperti api neraka yang menjangkiti mereka yang bersifat duniawi akan dibersihkan dari dirinya dan ia akan memperoleh suatu kehidupan ketentraman, kesenangan dan kenikmatan tersendiri.
   Kondisi seperti inilah yang dimaksud sebagai najat (keselamatan) dimana kalbunya telah tergadai di hadirat Ilahi melalui kasih dan pengabdian. Sebagai imbalannya ia memperoleh ketentraman abadi dimana kesatuan kasihnya dengan kasih Ilahi akan mengangkatnya ke suatu tingkat derajat pengabdian yang tak mungkin dijelaskan dengan kata-kata.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  416-417, London, 1984).

Kesempurnaan Kecintaan Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Allah Swt.

     Di antara seluruh rasul Allah yang paling sempurna mengamalkan keadaan fana  seperti itu adalah Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini kepada beliau saw.:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus,   agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus     dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupanku,dan  kematianku  hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh  alam.    Tidak ada sekutu bagi-Nya,     untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah orang pertama  yang berserah diri  (Al-An’ām [6]:162-164).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 27 Oktober 2016

2 komentar:

  1. Maaf, ada salah penulisan ayat Ki قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا qoolu HAADZALLADZII.,

    BalasHapus
  2. Maaf, apa saya yg salah... HA' diawwalan huruf baru ini ngeliat seperti itu Ki

    BalasHapus