Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
46
KETIDAK-MAMPUAN “MELIHAT”
“TAJALLI" (PENJELMAAN) ALLAH SWT. DI DUNIA MENGAKIBATKAN
KEBUTAAN DI AKHIRAT & NAJAT (KESELAMATAN)
HAKIKI HASIL PERPADUAN “DUA
CINTA”
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir Bab 45 dikemukakan mengenai makna ayat “yang
hampir serupa” dalam ayat: وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا -- “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya”, dalam firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا -- Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا
الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, بِہٖ مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka
akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah
[2]:26).
Persamaan Keinginan Orang-orang Bertakwa dengan Kehendak Allah Swt.
Makna بِہٖ
مُتَشَابِہًا وَ اُتُوۡا -- “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya” tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang
beriman di dunia ini dan buah
atau hasilnya di surga. Jadi, amal ibadah
dalam kehidupan sekarang akan nampak
kepada orang-orang beriman sebagai hasil atau buah di akhirat.
Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak
pula ia menikmati buah-buah yang
menjadi bagiannya di surga dan makin
baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan
mutu buah-buahan yang dikehendakinya
terletak pada kekuatannya sendiri.
Ayat ini berarti pula bahwa makanan
ruhani orang-orang beriman di surga
akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing.
Itulah makna “apa yang mereka inginkan”
dalam firman-Nya:
لِیَکُوۡنَا
مِنَ الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾ نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ
فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ نُزُلًا مِّنۡ
غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan)
kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ
عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا
تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ
کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ -- kepada
mereka turun malaikat-malaikat seraya berkata:
”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan
kepadamu. نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Kami
adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا
مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ -- Dan bagi kamu di dalam-nya apa yang
diinginkan dirimu dan bagi kamu di
dalamnya apa yang kamu minta. نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ -- Sebagai hidangan
dari Tuhan Yang Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā
Mīm – As-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya
lagi:
قُلۡ
اَذٰلِکَ خَیۡرٌ اَمۡ جَنَّۃُ الۡخُلۡدِ
الَّتِیۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ؕ کَانَتۡ لَہُمۡ جَزَآءً وَّ مَصِیۡرًا ﴿﴾ لَہُمۡ فِیۡہَا مَا
یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ ؕ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ
وَعۡدًا مَّسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Apakah yang demikian itu lebih baik,
ataukah surga abadi yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Itu akan
menjadi ganjaran bagi mereka dan tempat kembali.” لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ
خٰلِدِیۡنَ -- Mereka di dalamnya selamanya akan memperoleh apa pun
yang mereka inginkan, کَانَ عَلٰی
رَبِّکَ وَعۡدًا مَّسۡـُٔوۡلًا -- itulah janji
dari Rabb (Tuhan) engkau yang layak
dimohon. (Al-Furqan [25]:16-17).
Keinginan-keinginan
orang-orang beriman di akhirat akan menjadi selaras dengan kehendak Allah Swt., sehingga dengan sendirinya segala keinginan-keinginan mereka akan terpenuhi.
Makna “Jodoh-jodoh” Dalam Surga
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَہُمۡ
فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- “dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci.” Orang-orang beriman juga akan mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Istri yang baik adalah sumber kegembiraan
dan kesenangan.
Orang-orang beriman berusaha mendapatkan
istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian kesenangan
di surga tidak bersifat kebendaan. Dari Al-Quran diketahui bahwa
jodoh para ahli surgadi akhirat adalah istri-istri
atau suami mereka sendiri yang bertakwa ketika masih hidup di dunia
(QS.13:24; QS.25:75; QS.40:8-10;
QS.52:21-22). Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat
surga, lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
Kata-kata “mereka akan kekal di dalamnya” dalam
ayat وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka
akan kekal di dalamnya” berarti
bahwa orang-orang beriman di surge tidak akan pernah mengalami
sesuatu perubahan atau kemunduran., bahkan sebaliknya, mereka
akan senantiasa meraih kemajuan-kemajuan
atau tingkatan-tingkatan kesempurnaan
surgawi yang lebih tinggi lagi (QS.66:9).
Orang akan mati
hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain
membunuhnya. Tetapi karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena
orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan
yang suci dan suka damai (QS.10:10-11;
QS.14:24- QS.36:59) maka kematian dan
kemunduran dengan sendirinya akan
lenyap.
Balasan yang Sama
Terhadap Sikap Buruk
Jadi, kembali kepada orang-orang kafir di akhirat yang mengeluh karena mereka dibangkitkan
dalam keadaan buta: قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا – “ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa
Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?” dalam firman-Nya:
قَالَ
اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ
مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾ قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ
قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا﴿﴾ قَالَ
کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ وَکَذٰلِکَ
الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia
berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی -- Maka apabila
datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak
pula ia akan menderita kesusahan. وَ مَنۡ اَعۡرَضَ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی -- Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya
baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami
akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا -- Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa
Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesungguhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا
ۚ -- Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada engkau Tanda-tanda
Kami tetapi engkau
melupakannya وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ
تُنۡسٰی -- dan demikian pula engkau dilupakan pada hari
ini." Dan demikianlah
Kami memberi balasan orang yang melanggar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan niscaya
azab akhirat itu lebih keras dan lebih
kekal. Maka apakah
tidak memberi petunjuk kepada
mereka berapa
banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal
mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam
hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).
Tujuan Kesinambungan Pengutusan Rasul
Allah
Jawaban Allah Swt. terhadap keluhan orang-orang kafir tersebut: قَالَ
کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ وَکَذٰلِکَ
الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی -- Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada engkau Tanda-tanda
Kami tetapi engkau
melupakannya وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ
تُنۡسٰی -- dan demikian pula engkau dilupakan pada hari
ini," mengisyaratkan bahwa kedatangan petunjuk dari Allah Swt.
yang dijanjikan kepada Bani Adam
maksudnya adalah kesinambungan
pengutusan rasul Allah (QS.7:35-37),
dengan tujuan agar indera-indera ruhani
manusia berfungsi dengan baik,
sehingga di dalam kehidupan di dunia ini juga mereka akan menyaksikan Tanda-tanda Allah Swt. (QS.3:191-195), yang akan menjuruskan mereka beriman kepada Rasul Allah
yang kedatangannya dijanjikan Allah
Swt. kepada Bani Adam, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ اَجَلُہُمۡ
لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً وَّ
لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak
dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat mema-jukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang membacakan
Ayat-ayat-Ku kepada kamu, فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ
عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
-- maka barangsiapa bertakwa dan
memperbaiki diri, tidak akan ada
ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ -- Dan orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ
-- mereka itu penghuni Api,
mereka kekal di dalamnya. (Al-A’raf [7]:35-37).
Sebaliknya,
mereka yang mendustakan Rasul Allah -- karena indera-indera
ruhani mereka dalam keadaan lumpuh – akan menjadi mangsa azab Ilahi sebagai akibat pendustaan dan penentangan mereka kepada Rasul
Allah yang diutus kepada mereka, sekali pun berbagai dalil dan mukjizat telah dikemukakan kepada mereka -- firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ
بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ
کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ
اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی ﴿﴾٪
Dan
demikianlah Kami memberi balasan orang
yang melanggar dan ia tidak beriman
kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya),
dan niscaya
azab akhirat itu lebih keras dan lebih
kekal. اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ
یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ -- Maka apakah tidak memberi petunjuk kepada mereka berapa
banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal
mereka yang telah hancur? اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی -- Sesungguhnya dalam
hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:128-129).
Allah
Swt. menamakan orang-orang yang beriman
kepada rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan-Nya di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37) sebagai “petunjuk” Allah Swt. (QS.2:38-40) dengan sebutan “orang-orang
yang berakal”, firman-Nya:
اِنَّ فِیۡ
خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ وَ اخۡتِلَافِ الَّیۡلِ وَ النَّہَارِ
لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ۚۙ الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ
وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ
ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّکَ
مَنۡ تُدۡخِلِ النَّارَ فَقَدۡ اَخۡزَیۡتَہٗ ؕ وَ مَا لِلظّٰلِمِیۡنَ مِنۡ
اَنۡصَارٍ ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا یُّنَادِیۡ
لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ
فَاٰمَنَّا ٭ۖ رَبَّنَا فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا
سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا مَعَ
الۡاَبۡرَارِ ﴿﴾ۚ رَبَّنَا وَ اٰتِنَا
مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ
لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ ﴿﴾
Sesungguhnya
dalam penciptaan seluruh langit dan bumi serta pertukaran
malam dan siang لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی الۡاَلۡبَابِ --- benar-benar
terdapat Tanda-tanda bagi orang-orang
yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri, duduk, dan sambil berbaring atas rusuk mereka, dan mereka
memikirkan mengenai penciptaan seluruh langit dan bumi ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ
فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ -- seraya berkata: “Ya Rabb
(Tuhan) kami, sekali-kali tidaklah
Engkau menciptakan semua ini sia-sia, Maha
Suci Engkau dari perbuatan sia-sia maka peliharalah kami dari azab Api.
Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesung-guhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam Api maka sungguh Engkau telah menghinakannya,
dan sekali-kali tidak ada bagi
orang-orang zalim seorang penolong pun. رَبَّنَاۤ اِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِیًا
یُّنَادِیۡ لِلۡاِیۡمَانِ اَنۡ اٰمِنُوۡا بِرَبِّکُمۡ فَاٰمَنَّا -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, sesungguhnya kami telah mendengar seorang Penyeru menyeru kami kepada keimanan seraya berkata: "Berimanlah
kamu kepada Rabb (Tuhan) kamu"
maka kami telah beriman. رَبَّنَا
فَاغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوۡبَنَا وَ کَفِّرۡ عَنَّا سَیِّاٰتِنَا وَ تَوَفَّنَا
مَعَ الۡاَبۡرَارِ -- Wahai Rabb
(Tuhan) kami, ampunilah bagi kami
dosa-dosa kami, dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan
kami, dan wafatkanlah kami
bersama orang-orang yang berbuat
kebajikan.” رَبَّنَا وَ اٰتِنَا مَا وَعَدۡتَّنَا عَلٰی رُسُلِکَ وَ لَا تُخۡزِنَا
یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ ؕ اِنَّکَ لَا تُخۡلِفُ الۡمِیۡعَادَ -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, karena itu berikanlah kepada kami apa yang telah
Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan
rasul-rasul Engkau, dan janganlah
Engkau menghinakan kami pada Hari Kiamat, sesungguhnya Engkau tidak pernah menyalahi janji.” (Ali ‘Imran [3]:191-195).
Kemampuan “Melihat” Penjelmaan Allah Swt. di Dunia
Jadi,
betapa “orang-orang yang berakal”
terssebut dengan menyaksikan Tanda-tanda
Allah Swt. yang terdapat di alam semesta serta dengan membaca Tanda-tanda Zaman -- antara lain berkecamuknya berbagai bala bencana sebagai tanda kemurkaaan Allah Swt.
-- mereka berhasil mengenali kedatangan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dikalangan Bani Adam, yang pada hakikatnya merupakan “penjelmaan” (perwujudan)
Allah Swt. sendiri, sebab para rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.
-- merupakan Tanda keberadaan dan perwujudan
Allah Swt. yang paling nyata dibandingkan
semua Tanda-tanda Ilahi lainnya di
alam semesta ini.
Sehubungan
dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud
a.s. menjelaskan mengenai kemampuan
manusia untuk “melihat” Allah Swt.:
“Kitab Suci Al-Quran mengajarkan kepada
kita bahwa najat (keselamatan) adalah masalah yang dimanifestasikan (dinampakkan) di dunia ini
juga sebagaimana diungkapkan oleh ayat:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ
اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ
اَعۡمٰی
“Dan barangsiapa
buta di dunia ini, maka di akhirat
pun ia akan buta juga” (Bani
Israil [17]:73).
Berarti
setiap orang akan membawa ke akhirat
nanti segala
yang dimilikinya berupa fitrat kemampuan melihat Tuhan dan sarana
najat (keselamatan hakiki). Allah Swt. sudah berulangkali
menunjukkan bahwa sarana bagi manusia
untuk mencapai keselamatan itu bersifat
abadi sebagaimana Tuhan itu sendiri adalah juga Maha Abadi. Dan tidak
mungkin terjadi bahwa Dia
beranggapan bahwa manusia
tidak lagi bisa mencapai keselamatan dan karena
itu Dia harus membunuh Diri-Nya sendiri (di atas kayu salib).
Seseorang dikatakan telah mencapai najat
(keselamatan) jika semua nafsu yang ada di dirinya telah punah
dimana kehendak Tuhan menjadi kehendak
dirinya serta ia menjadi demikian mengabdi kepada-Nya
hanya karena kecintaan yang tulus, sehingga tidak
ada sesuatu apa pun lagi yang dianggap sebagai miliknya sendiri karena dianggapnya
telah menjadi milik Tuhan. Semua perkataan,
kelakuan, tindakan dan niatnya adalah bagi
Tuhan.
Ia merasa bahwa kesenangan dirinya hanya pada Tuhan dimana perpisahan sejenak saja akan terasa
sebagai maut (kematian) baginya. Ia menjadi terpana dengan kasih Tuhan
sedemikian rupa, sehingga segala
apa pun tidak ada artinya lagi di samping Tuhan-nya.
Misalnya
pun seluruh dunia akan menyerang dirinya
dengan pedang
terhunus
dan berusaha memisahkan dirinya dari Tuhan-nya dengan menanamkan rasa ketakutan, ia akan tetap bersiteguh laiknya gunung
yang tegak dengan kokoh. Api kecintaan hakiki akan merona di dalam kalbunya dan ia jadi membenci segala dosa.
Sebagaimana orang lainnya mengasihi
anak-anak, isteri dan sahabatnya sehingga terasa
bagaimana kasihnya itu meresap di kalbu mereka -- dimana
kematian salah satunya saja akan amat menyedihkan baginya -- maka kecintaan
seperti itulah, atau bahkan lebih, yang harus dimunculkan dalam hatinya berkenaan dengan Tuhan-nya.
Ia sewajarnya
akan menjadi seperti orang gila yang dicengkeram kecintaan
tersebut dan siap menjalani segala luka dan siksa demi kecintaan itu, semata-mata hanya agar Allah Yang
Maha Agung meridhai
dirinya.
Ketika seseorang telah mencapai
tingkatan kecintaan kepada Tuhan seperti ini maka semua nafsunya akan terbakar habis oleh api kecintaan tersebut dan muncul revolusi
dahsyat dalam dirinya
dimana ia dikaruniakan sebuah hati yang
tidak dimiliki sebelumnya,
dianugrahi mata
yang tidak dipunyai sebelumnya. Ia
akan memperoleh suatu kepastian sedemikian rupa sehingga ia menampak Tuhan di dunia ini juga. Rasa kemrungsung (panas) seperti api neraka yang menjangkiti mereka yang bersifat
duniawi akan dibersihkan dari dirinya dan ia akan memperoleh suatu kehidupan ketentraman, kesenangan dan
kenikmatan tersendiri.
Kondisi seperti inilah yang dimaksud sebagai najat (keselamatan) dimana kalbunya
telah tergadai di hadirat Ilahi melalui kasih dan pengabdian.
Sebagai imbalannya ia memperoleh ketentraman
abadi dimana kesatuan kasihnya dengan kasih Ilahi
akan mengangkatnya ke suatu tingkat derajat pengabdian yang tak mungkin
dijelaskan dengan kata-kata.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 416-417, London, 1984).
Kesempurnaan Kecintaan
Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Allah Swt.
Di antara seluruh
rasul Allah yang paling sempurna mengamalkan keadaan fana seperti itu adalah Nabi Besar Muhammad saw.
sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini kepada beliau saw.:
قُلۡ اِنَّنِیۡ
ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ
حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ
صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ
لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku
telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan
lurus, agama yang
teguh, agama
Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,dan kematianku hanyalah untuk Allah, Rabb
(Tuhan) seluruh
alam.
Tidak ada
sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku
diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri (Al-An’ām [6]:162-164).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 27 Oktober 2016
Maaf, ada salah penulisan ayat Ki قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا qoolu HAADZALLADZII.,
BalasHapusMaaf, apa saya yg salah... HA' diawwalan huruf baru ini ngeliat seperti itu Ki
BalasHapus