Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
31
DA’WAH TAUHID ILAHI NABI SULAIMAN A.S. KEPADA
RATU SABA MELALUI KEUNGGULAN IPTEK
(ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI) &
RAHASIA KESUKSESAN MISI KERASULAN
NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab30 dikemukakan hubungan “maghfirah”
(penutupan kelemahan) dengan penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) yaitu pengubahan
penampilan “singgasana indah” hadiah
Ratu Saba atas petunjuk Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
قَالَ
نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ
اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ
الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡ
قِیۡلَ اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ
کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ
مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat
petunjuk.” فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ اَہٰکَذَا
عَرۡشُکِ -- Maka tatkala ia, ratu, datang
dikatakan kepadanya: “Serupa
inikah singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ -- Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ -- dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya
dan kami adalah orang-orang yang
berserah diri” (An-Naml [27]:42-43).
Ide Brilian Nabi Sulaiman a.s. Menyadarkan Ratu Saba dari Kemusyrikan
Nakkara-hu dalam ayat قَالَ
نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ
اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ
الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ -- “Ia,
Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana
itu, kita lihat apakah ia mendapat
petunjuk ataukah ia termasuk
orang-orang yang tidak mendapat petunjuk” berarti: ia mengganti atau mengubah
bentuk sesuatu agar tidak dikenal; ia
membuatnya nampak biasa saja (Lexicon
Lane).
Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam terjemahan ayat berarti: “buatlah singgasana
ini lebih baik daripada singgasananya, sehingga singgasana sendiri nampak biasa saja.” Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa
Nabi Sulaiman a.s. telah
memerintahkan pembesarnya yang dipercayakan tugas menyiapkan singgasana bagi Ratu Saba supaya membuatnya
demikian cantik, sehingga Ratu Saba akan mengakui
keunggulan dalam seni pembuatannya
sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya
sendiri, dan dengan demikian Ratu Saba
dapat mengerti bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s. jauh
lebih besar dan lebih unggul daripada
kekuasaan dan sumber-sumber SDA dan SDM Ratu Saba itu sendiri.
Itulah rupa-rupanya arti kalimat نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا
یَہۡتَدُوۡنَ -- “kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk”. ” Nabi
Sulaiman a.s. melalui upaya merenovasi singgasana
hadiah Ratu Saba berusaha menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya
berusaha menentang atau melawan
beliau.
Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum bangsawan istana nampaknya berbesar kepala (bangga) oleh kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan mereka (QS.27:34), dan Nabi Sulaiman a.s.
berkehendak menyadarkan mereka
dari anggapan keliru itu (QS.27:37).
Seandainya kata “singgasananya”
diambil dalam artian singgasana yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman a.s.
sebagai hadiah, maka kata nakkiru akan berarti bahwa singgasana itu demikian dihiasi dan diperindah serta gambar-gambar patung yang dilukis
padanya —jika memang ada— dihapus
begitu sempurna, sehingga Ratu Saba
tidak dapat mengenalinya lagi.
Ucapan Ratu Saba: وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ قَبۡلِہَا وَ -- “dan kami telah diberi pengetahuan
sebelumnya,” maknanya ialah bahwa dengan melihat “singgasana” tersebut Ratu Saba telah menjadi maklum (mengetahui) akan kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s., dan telah mengambil
keputusan menyerah kepada beliau.
Da’wah Tauhid Ilahi Melalui Istana Berlantai Kaca Bening
Namun sekali pun singgasana
hasil renovasi Nabi Sulaiman a.s.
telah berhasil “merontokkan kebanggaan” Ratu
Saba serta menyadarkan
Ratu Saba mengenai
keunggulan SDM (Sumber Daya Manusia) milik Nabi
Sulaiman a.s. dan Ratu Saba menyatakan bahwa secara
politik ia menyerah
kepada Nabi Sulaiman a.s., tetapi hal
tersebut belum memuaskan Nabi
Sulaiman a.s. karena Ratu Saba masih tetap berpegang pada kemusyrikan, itulah makna ayat selanjutnya:
وَ
صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا کَانَتۡ مِنۡ
قَوۡمٍ کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan apa yang senantiasa disembahnya selain Allah
telah menghalanginya beriman, sesungguhnya ia termasuk kaum kafir. (An-Naml
[27]:44).
Guna menyadarkan
Ratu Saba dan kaumnya dari kemusyrikan
maka Nabi Sulaiman a.s. melakukan upaya
brilian berikutnya , yang juga erat hubungannya dengan penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), firman-Nya:
قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ اِنَّہٗ
صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ
سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan
kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ اِنَّہٗ صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ -- Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan ubin dari kaca.” قَالَتۡ رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ
نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Ia, ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah Rabb (Tuhan) seluruh alam.”
(An-Naml
[27]:45).
Nabi Sulaiman a.s. menginginkan
agar Ratu Saba meninggalkan kemusyrikan dan menerima agama yang hakiki. Untuk maksud itu
beliau secara bijaksana sekali memakai cara demikian -- yakni membuat istana yang lantainya
dirancang secara khusus -- yang niscaya menyebabkan perempuan yang mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan
di dalam jalan hidupnya.
Seperti juga pembuatan singgasana
yang Nabi Sulaiman a.s. telah
perintahkan sebelumnya untuk disiapkan
bagi Ratu Saba itu dimaksudkan guna
tujuan itu. Singgasana itu dibuat
jauh lebih indah dan dalam segala
seginya lebih unggul daripada singgasana Ratu Saba sendiri yang sangat dibanggakannya.
Nabi Sulaiman a.s. berbuat demikian, agar supaya Ratu
Saba dapat menyadari bahwa Nabi Sulaiman
a.s. itu pilihan Tuhan, dan karunia ruhani itu jauh lebih
berlimpah-limpah daripada yang telah dianugerahkan
kepada Ratu Saba, sebagaimana tergambar dalam surat peringatan beliau kepada Ratu Saba
sebelumnya, firman-Nya:
قَالَتۡ
یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا اِنِّیۡۤ اُلۡقِیَ
اِلَیَّ کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾ اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾ اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Ia (Ratu
Saba) berkata: “Hai pembesar-pembesar,
sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat
yang mulia, sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi: بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ -- “Dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلَّا تَعۡلُوۡا
عَلَیَّ وَ اۡتُوۡنِیۡ مُسۡلِمِیۡنَ -- Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku,
dan datanglah kepadaku dengan berserah
diri.” (An-Naml [27]:30-32).
Ratu Saba Beristighfar
dan Bertaubat dari Kemusyrikan
Jadi, Istana yang disinggung dalam ayat ini pun dibangun Nabi Sulaiman
a.s. dengan tujuan yang sama.
Sebagaimana diperlihatkan dalam ayat ini, jalan
masuk ke istana itu berlantaikan ubin terbuat dari kaca bening yang di bawahnya
mengalir air yang jernih sekali, sehingga ketika Ratu Saba memasuki
istana itu ia menyangka bahwa kaca bening itu air, lalu menyingkapkan pakaian kebesarannya sehingga nampak
betisnya, dan pemandangan air itu
membingungkannya, dan ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
Itulah makna ayat: قِیۡلَ لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ
حَسِبَتۡہُ لُجَّۃً وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا -- “Dikatakan kepada
dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya.” Kasyāfa’an sāqihi adalah muhawarah
(idiom) yang terkenal dalam bahasa Arab, yang berarti menjadi siap untuk menghadapi kesukaran atau pikirannya menjadi kacau-balau atau kebingungan.
Kasyāfat ’an sāāqaiha berarti: (1) ia (perempuan) menyingkapkan kain dari betisnya; (2) ia bersiap-sedia menghadapi keadaan itu; ia menjadi kacau-balau pikiran atau kebingungan
atau keheran-heranan (Lexicon Lane
& Lisan-ul-‘Arab).
Dengan siasat ini Nabi Sulaiman a.s. menarik perhatian Ratu Saba kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu Saba telah salah
duga bahwa ubin
kaca itu air, seperti itu pula matahari dan benda-benda langit lain yang disembahnya
itu bukan sumber cahaya sebenarnya.
Benda-benda langit itu hanyalah memancarkan
cahaya tetapi mereka itu benda-benda
mati belaka. Tuhan Yang Maha Kuasa
Sendiri -- yang ada “di belakang”
benda-benda langit -- itulah Wujud Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda
langit itu cahaya yang dipancarkannya.
Dengan jalan itu Nabi Sulaiman a.s. berhasil
dalam tujuan yang beliau ingin capai.
Perempuan yang mulia itu membuat pengakuan
atas kesalahannya, dan bertaubat dari seorang penyembah berhala-berhala kayu dan batu, beliau menjadi seorang abdi mukhlis Tuhan Yang Maha Esa: قَالَتۡ
رَبِّ اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ
اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Ia, ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah
Rabb (Tuhan) seluruh alam” (An-Naml [27]:45).
Mendapat Tambahan Ilmu
Pengetahuan Merupakan Bagian dari “Maghfirah” Ilahi
Jadi, kembali kepada doa yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. --
yang dihubungkan dengan kekeliruan
Nabi Adam a.s. menafsirkan “nasihat” yang dikemukakan “manusia
syaitan” yang menipu -- betapa
pentingnya terus menerus memohon tambahan ilmu
pengetahuan kepada Allah Swt. agar terhindar dari kesalahan menafsirkan, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ
اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ
وَ لَمۡ نَجِدۡ
لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam
bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang
di dalamnya berbagai macam ancaman
supaya mereka bertakwa atau supaya perkataan
ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ -- Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau
tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya
dilengkapkan kepada engkau, وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا
-- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku
(Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan? وَ لَقَدۡ
عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ -- Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini فَنَسِیَ
وَ لَمۡ نَجِدۡ
لَہٗ عَزۡمًا
-- tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk
berbuat dosa. (Thā Hā [20]:114-116).
Nabi Besar
Muhammad saw. diriwayatkan
pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin
ditemukannya jauh di rantau Cina" (Al-Jami’ash-Shagir, jilid I). Di tempat
lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (QS.2:270 & QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:
(a) ilmu yang dianugerahkan Allah Swt. kepada manusia dengan perantaraan wahyu Ilahi dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam wujud Al-Quran (QS.5:4).
(b) ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan
usaha dan jerih-payahnya sendiri. Contohnya ilmu pertambangan emas yang dimiliki Qarun (QS.28:77-79).
Ayat selanjutnya ini menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam a.s.
hanyalah disebabkan oleh kekeliruan
dalam pertimbangan. Kekeliruan yang
dilakukan Nabi Adam a.s. itu tanpa
disengaja dan sama sekah tidak dengan suatu niat atau kehendak.
Manusia tidak luput dari kesalahan.
Rahasia Kesuksesan Misi
Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw.
Karena itu
betapa pentingnya senantiasa istighfar
dan bertaubat (kembali) kepada Allah
Swt. dalam melaksanakan setiap pekerjaan
– terutama pekerjaan yang berhubungan
dengan kehidupan akhirat -- sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: فَاِذَا
فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- “Maka apabila engkau telah selesai tugas lalu kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang
lain, وَ اِلٰی رَبِّکَ فَارۡغَبۡ -- dan kepada
Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh” -- selengkapnya Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ
وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾ فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ﴿﴾ اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ
یُسۡرًا ؕ﴿﴾ فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾ وَ اِلٰی رَبِّکَ
فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau, dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,
yang
nyaris mematahkan punggung engkau?
Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. فَاِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ --
maka sesungguhnya bersama
kesukaran ada kemudahan, ۙ
اِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا
-- sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. فَاِذَا
فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- Maka apabila
engkau telah selesai tugas lalu kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی
رَبِّکَ فَارۡغَبۡ -- Dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh. (Al-Insyirah
[94]:1-9).
Nabi Besar Muhammad saw. telah
dibebani tugas kerasulan yang tidak pernah dibebankan kepada siapa pun
yang begitu memakan syarat dan mematahkan punggung (QS.33:73), yaitu,
pertama-tama mengangkat derajat suatu kaum dari jurang kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan
perantaraan mereka membersihkan dan mensucikan
seluruh umat manusia dari kezaliman,
kejahilan, dan ketakhyulan (QS.62:3),
Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban amat berat dan hampir-hampir meremukkan Nabi Besar Muhammad saw. di bawah himpitannya,
namun Allah Swt. melalui wahyu Al-Quran telah meringankan
beban beliau saw., bahkan telah membuat harum
semerbak nama beliau saw.: اَلَمۡ
نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ -- “Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada
engkau, وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ -- dan Kami
menghilangkan dari engkau beban engkau, الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ -- yang nyaris mematahkan punggung engkau? وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ -- Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau.”
Surah
ini diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3 Nabawi, ketika Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar tidak dikenal oleh kalangan di luar kaum beliau saw., tetapi dengan cepat
beliau saw. bangkit menjadi orang yang
paling dikenal dan paling dicintai,
dihormati, dan yang paling berhasil di antara semua nabi Allah.
Tidak ada pemimpin -- baik pemimpin agama ataupun pemimpin duniawi
--yang pernah menikmati kecintaan
dan kehormatan dari para pengikutnya
demikian besarnya seperti Nabi Besar Muhammad saw. karena suri-teladan terbaik beliau saw., sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh
dalam diri Rasulullah benar-benar
terdapat suri teladan
yang sebaik-baiknya bagi
kamu, yaitu bagi orang yang
mengharapkan Allāh dan Hari Akhir, dan bagi
yang banyak mengingat Allāh. (Al-Ahzab [33]:22).
Berbagai Suri Teladan Terbaik Nabi Besar Muhammad Saw.
Pertempuran
Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang
kehidupan Nabi Besar Muhammad saw., dan beliau saw. keluar dari ujian yang paling
berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi.
Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap
gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh
bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang
diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa Nabi Besar Muhammad saw. baik dalam keadaan dukacita karena
dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap
menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
Pertempuran
Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak
Nabi Besar Muhammad saw. yang indah, dan Fatah
Mekkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak beliau saw. lainnya. Mara bahaya
tidak mengurangi semangat beliau saw.
atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses
tidak merusak watak beliau saw..
Ketika Nabi Besar Muhammad
saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang
nasib Islam berada di antara hidup dan mati, beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan
seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan
kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak
berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Mekkah jatuh dan
seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan
yang mutlak dan tak tersaingi itu
tidak kuasa merusak Nabi Besar Muhammad
saw.. Beliau saw. menunjukkan keluhuran
budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw..
Kesaksian
lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak Nabi Besar
Muhammad saw. selain
kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang
paling mengenal beliau saw., mereka
itulah yang paling mencintai beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama
percaya akan misi kenabian beliau saw., yakni istri beliau
saw.yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau saw. sepanjang hayat, Abu Bakar r.a.;
saudara sepupu yang juga menantu beliau saw., Ali bin Abi Thalin r,a,; dan bekas budak beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin
Haritsah r.a.. Nabi Besar Muhammad saw. merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna
dalam keindahan dan kebajikan.
Dalam segala
segi kehidupan dan watak Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan
merupakan contoh yang tiada
bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru
dan diikuti (QS.3:32). Seluruh
kehidupan Nabi Besar Muhammad saw.
nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah.
Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan
beliau saw. sebagai anak yatim dan
mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit
yang menentukan nasib seluruh bangsa.
Sebagai kanak-kanak beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia
remaja, beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran.
Pengakuan Pihak Lawan
Pada usia setengah-baya Nabi Besar Muhammad saw.mendapat julukan Al-Amin
(si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan beliau saw.
terbukti paling jujur dan cermat. Nabi
Besar Muhammad saw. menikah dengan
perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh
lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian
dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan beliau saw..
Sebagai ayah
Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan
kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau sangat setia dan murah hati. Ketika beliau saw. diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki
suatu masyarakat yang sudah rusak, beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan,
namun beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
Nabi Besar Muhammad saw. bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan. Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw.
memperoleh kemenangan-kemenangan. Beliau
saw. menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai
perkara. Nabi Besar Muhammad saw. adalah
seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
“Kepala negara merangkap Penghulu Agama,
beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak
berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara
tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan
tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan
hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai
kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa
melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di
atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih
atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh,
beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga
kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan
suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad
and Muhammadanism” karya Bosworth Smith).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 8 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar