Minggu, 09 Oktober 2016

Da'wah "Tauhid Ilahi" Nabi Sulaiman a.s. Kepada Ratu Saba Melalui Keunggulan "Iptek" (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) & Rahasia Kesuksesan Misi Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw.




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 31

DA’WAH TAUHID ILAHI NABI SULAIMAN A.S. KEPADA RATU SABA MELALUI KEUNGGULAN IPTEK (ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI)  & RAHASIA KESUKSESAN MISI KERASULAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab30  dikemukakan hubungan “maghfirah” (penutupan kelemahan) dengan penguasaan iptek  (ilmu pengetahuan  dan teknologi)  yaitu   pengubahan penampilan “singgasana indah”  hadiah Ratu Saba   atas petunjuk   Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:
قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.” فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ  -- Maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: Serupa inikah singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ  --  Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ  -- dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (An-Naml [27]:42-43).

Ide Brilian Nabi Sulaiman a.s.   Menyadarkan  Ratu Saba dari Kemusyrikan

      Nakkara-hu dalam ayat  قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ    --  “Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk” berarti: ia mengganti atau mengubah bentuk sesuatu agar tidak dikenal; ia membuatnya nampak biasa saja (Lexicon Lane).
      Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam terjemahan ayat berarti: “buatlah singgasana ini lebih baik daripada singgasananya, sehingga singgasana sendiri nampak biasa saja.” Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s.  telah memerintahkan pembesarnya yang dipercayakan tugas menyiapkan singgasana bagi Ratu Saba  supaya membuatnya demikian cantik, sehingga Ratu Saba  akan mengakui keunggulan dalam seni pembuatannya sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya sendiri, dan dengan demikian Ratu Saba dapat mengerti  bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s.  jauh lebih besar dan lebih unggul daripada kekuasaan dan sumber-sumber SDA dan SDM Ratu Saba itu sendiri.
      Itulah rupa-rupanya arti kalimat  نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ --    kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk. ” Nabi Sulaiman a.s. melalui upaya merenovasi singgasana hadiah Ratu Saba  berusaha menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya berusaha menentang atau melawan beliau.
        Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum bangsawan istana nampaknya berbesar kepala (bangga) oleh kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan mereka (QS.27:34), dan Nabi Sulaiman a.s. berkehendak menyadarkan mereka dari anggapan keliru itu (QS.27:37).
      Seandainya kata “singgasananya” diambil dalam artian singgasana  yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman a.s.  sebagai hadiah, maka kata nakkiru akan berarti bahwa singgasana itu demikian dihiasi dan diperindah  serta gambar-gambar patung yang dilukis padanya —jika memang ada— dihapus begitu sempurna, sehingga Ratu Saba tidak dapat mengenalinya  lagi.
     Ucapan Ratu  Saba:   وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ  --  dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya,” maknanya ialah bahwa dengan melihat “singgasana” tersebut  Ratu Saba telah menjadi maklum (mengetahui) akan kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s., dan telah mengambil keputusan menyerah kepada beliau.

Da’wah Tauhid  Ilahi Melalui Istana Berlantai Kaca Bening

      Namun sekali pun   singgasana  hasil renovasi  Nabi Sulaiman a.s. telah berhasil “merontokkan kebanggaan” Ratu Saba  serta  menyadarkan Ratu Saba   mengenai keunggulan   SDM (Sumber Daya Manusia) milik Nabi Sulaiman a.s. dan Ratu Saba menyatakan   bahwa secara politik  ia  menyerah kepada  Nabi Sulaiman a.s., tetapi hal tersebut belum memuaskan Nabi Sulaiman a.s. karena Ratu Saba masih tetap berpegang pada kemusyrikan, itulah makna ayat selanjutnya:
وَ  صَدَّہَا مَا کَانَتۡ تَّعۡبُدُ مِنۡ دُوۡنِ اللّٰہِ ؕ اِنَّہَا  کَانَتۡ مِنۡ  قَوۡمٍ  کٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Dan apa yang senantiasa disembahnya  selain Allah  telah menghalanginya beriman,  sesungguhnya ia termasuk  kaum kafir. (An-Naml [27]:44).
        Guna menyadarkan Ratu Saba dan kaumnya dari kemusyrikan maka Nabi Sulaiman a.s. melakukan upaya brilian berikutnya , yang juga erat hubungannya dengan penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan  teknologi), firman-Nya: 
قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا ؕ قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ ۬ؕ قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿٪﴾
Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya. قَالَ  اِنَّہٗ  صَرۡحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنۡ قَوَارِیۡرَ  --       Ia, Sulaiman, berkata: “Sesungguhnya ini istana yang berlantaikan  ubin dari kaca.” قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Ia, ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah  Rabb (Tuhan) seluruh alam.” (An-Naml [27]:45).
        Nabi Sulaiman a.s. menginginkan  agar Ratu Saba meninggalkan kemusyrikan dan menerima agama yang hakiki. Untuk maksud itu beliau secara bijaksana sekali memakai cara demikian   -- yakni membuat istana yang lantainya dirancang secara  khusus --  yang niscaya menyebabkan perempuan  yang mulia lagi cerdas itu dapat melihat kesalahan di dalam jalan hidupnya.
       Seperti juga pembuatan  singgasana yang Nabi Sulaiman a.s.   telah perintahkan sebelumnya  untuk disiapkan bagi Ratu Saba itu dimaksudkan guna tujuan itu. Singgasana itu dibuat jauh lebih indah dan dalam segala seginya lebih unggul daripada singgasana Ratu  Saba sendiri yang sangat dibanggakannya.
      Nabi Sulaiman a.s. berbuat demikian, agar supaya   Ratu Saba  dapat menyadari bahwa Nabi Sulaiman a.s.   itu pilihan Tuhan, dan karunia ruhani itu jauh lebih berlimpah-limpah daripada yang telah dianugerahkan kepada   Ratu Saba, sebagaimana tergambar dalam surat peringatan beliau kepada Ratu Saba sebelumnya, firman-Nya:
قَالَتۡ یٰۤاَیُّہَا الۡمَلَؤُا  اِنِّیۡۤ   اُلۡقِیَ   اِلَیَّ  کِتٰبٌ کَرِیۡمٌ ﴿﴾  اِنَّہٗ مِنۡ سُلَیۡمٰنَ وَ اِنَّہٗ بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿ۙ﴾  اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ ﴿٪﴾
Ia (Ratu Saba)  berkata:  “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah disam-paikan kepadaku surat yang mulia,    sesungguhnya surat itu dari Sulaiman, dan sesungguhnya surat itu berbunyi:  بِسۡمِ اللّٰہِ   الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ --  Dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. اَلَّا تَعۡلُوۡا عَلَیَّ  وَ اۡتُوۡنِیۡ  مُسۡلِمِیۡنَ -- Janganlah kamu berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku dengan berserah diri.”  (An-Naml [27]:30-32).

Ratu Saba  Beristighfar dan Bertaubat dari Kemusyrikan

     Jadi, Istana yang disinggung dalam ayat ini pun dibangun Nabi Sulaiman a.s. dengan tujuan yang sama. Sebagaimana diperlihatkan dalam ayat ini, jalan masuk ke istana itu berlantaikan  ubin terbuat dari kaca bening  yang di bawahnya mengalir air yang jernih sekali, sehingga ketika  Ratu Saba memasuki istana itu ia menyangka bahwa kaca bening itu air, lalu menyingkapkan  pakaian kebesarannya  sehingga nampak betisnya, dan pemandangan air itu membingungkannya, dan ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan.
       Itulah makna ayat:  قِیۡلَ  لَہَا ادۡخُلِی الصَّرۡحَ ۚ فَلَمَّا رَاَتۡہُ حَسِبَتۡہُ  لُجَّۃً  وَّ کَشَفَتۡ عَنۡ سَاقَیۡہَا  -- “Dikatakan kepada dia: “Masuklah ke istana.” Maka tatkala ia melihatnya ia menyangka itu air yang dalam, dan ia menyingkapkan kain dari betisnya.”  Kasyāfa’an sāqihi adalah muhawarah (idiom) yang terkenal dalam bahasa Arab, yang berarti menjadi siap untuk menghadapi kesukaran atau pikirannya menjadi kacau-balau atau kebingungan.
       Kasyāfat ’an sāāqaiha berarti: (1) ia (perempuan)  menyingkapkan kain dari betisnya; (2) ia  bersiap-sedia menghadapi keadaan itu; ia  menjadi kacau-balau pikiran atau kebingungan atau keheran-heranan (Lexicon Lane & Lisan-ul-‘Arab).
Dengan siasat ini Nabi Sulaiman a.s. menarik   perhatian  Ratu Saba kepada hakikat, bahwa seperti halnya Ratu Saba  telah salah duga  bahwa  ubin kaca itu air, seperti itu pula matahari dan benda-benda langit lain yang disembahnya itu bukan sumber cahaya sebenarnya.
   Benda-benda langit itu hanyalah memancarkan cahaya tetapi mereka itu benda-benda mati belaka. Tuhan Yang Maha Kuasa Sendiri  -- yang ada “di belakang” benda-benda langit    -- itulah Wujud Yang telah menganugerahkan kepada benda-benda langit itu cahaya yang dipancarkannya.
     Dengan jalan itu Nabi Sulaiman a.s.  berhasil dalam tujuan yang beliau ingin capai. Perempuan yang mulia itu membuat pengakuan atas kesalahannya, dan bertaubat dari seorang penyembah berhala-berhala kayu dan batu, beliau menjadi seorang abdi mukhlis Tuhan Yang Maha Esa: قَالَتۡ رَبِّ  اِنِّیۡ ظَلَمۡتُ نَفۡسِیۡ وَ اَسۡلَمۡتُ مَعَ سُلَیۡمٰنَ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --  Ia, ratu, berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri dan aku tunduk bersama Sulaiman kepada Allah  Rabb (Tuhan) seluruh alam” (An-Naml [27]:45).

Mendapat Tambahan Ilmu Pengetahuan  Merupakan  Bagian dari “Maghfirah” Ilahi  

      Jadi, kembali kepada doa yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw. -- yang dihubungkan dengan kekeliruan Nabi Adam a.s. menafsirkannasihat” yang dikemukakan  manusia syaitan” yang menipu --  betapa pentingnya terus menerus memohon tambahan ilmu pengetahuan kepada Allah Swt. agar terhindar dari kesalahan menafsirkan, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: 
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾ وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ   --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,   وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا  -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan?  وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ     --  Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini  فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا  -- tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa. (Thā Hā [20]:114-116).
 Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda: "Carilah ilmu pengetahuan sekalipun mungkin ditemukannya jauh di rantau Cina" (Al-Jami’ash-Shagir, jilid I). Di tempat lain dalam Al-Quran telah dilukiskan sebagai "karunia Allah yang sangat besar" (QS.2:270 & QS.4:114). Ilmu itu ada dua macam:
 (a) ilmu yang dianugerahkan Allah Swt.  kepada manusia dengan perantaraan wahyu Ilahi dan yang telah mencapai kesempurnaan dalam wujud Al-Quran (QS.5:4).
 (b) ilmu yang didapatkan oleh manusia dengan usaha dan jerih-payahnya sendiri. Contohnya ilmu pertambangan emas yang dimiliki Qarun (QS.28:77-79).
  Ayat selanjutnya  ini menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam a.s.   hanyalah disebabkan oleh kekeliruan dalam pertimbangan. Kekeliruan yang dilakukan Nabi Adam a.s. itu tanpa disengaja dan sama sekah tidak dengan suatu niat atau kehendak. Manusia tidak luput dari kesalahan. 

Rahasia Kesuksesan  Misi Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw.

  Karena itu betapa pentingnya senantiasa istighfar dan bertaubat (kembali) kepada Allah Swt. dalam melaksanakan setiap pekerjaan – terutama pekerjaan yang berhubungan dengan kehidupan akhirat   -- sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:   فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ  -- “Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ   --     dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh  -- selengkapnya Allah Swt. berfirman:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾  وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾  فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ﴿﴾  اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ؕ﴿﴾  فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾  وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau,   dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,   yang nyaris mematahkan punggung engkau? Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ     --  maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, ۙ  اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا  --  sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ  --  Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,  وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ   --    Dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh.  (Al-Insyirah [94]:1-9).
  Nabi Besar Muhammad saw.   telah dibebani tugas kerasulan  yang tidak pernah dibebankan kepada siapa pun yang begitu memakan syarat dan mematahkan punggung (QS.33:73), yaitu, pertama-tama mengangkat derajat suatu kaum dari jurang kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan perantaraan mereka membersihkan dan mensucikan seluruh umat manusia dari kezaliman, kejahilan, dan ketakhyulan (QS.62:3),
 Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban amat berat dan hampir-hampir meremukkan  Nabi Besar Muhammad saw.  di bawah himpitannya, namun Allah Swt.  melalui wahyu Al-Quran telah  meringankan beban beliau saw., bahkan telah membuat harum semerbak nama beliau saw.:   اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ --  “Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau, وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ --    dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau, الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ --  yang nyaris mematahkan punggung engkau? وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ --  Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau.”
   Surah ini diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3 Nabawi, ketika  Nabi Besar Muhammad saw.   benar-benar tidak dikenal oleh kalangan di luar kaum beliau saw., tetapi dengan cepat beliau saw. bangkit menjadi orang yang paling dikenal dan paling dicintai, dihormati, dan yang paling berhasil di antara semua nabi Allah.
    Tidak ada pemimpin  -- baik pemimpin agama ataupun pemimpin duniawi --yang pernah menikmati kecintaan dan kehormatan dari para pengikutnya demikian besarnya seperti  Nabi Besar Muhammad saw. karena suri-teladan terbaik beliau saw.,  sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allāh dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allāh. (Al-Ahzab [33]:22).

Berbagai Suri Teladan Terbaik Nabi Besar Muhammad Saw.

 Pertempuran Khandak mungkin merupakan percobaan paling pahit di dalam seluruh jenjang kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw., dan  beliau saw. keluar dari ujian yang paling berat itu dengan keadaan akhlak dan wibawa yang lebih tinggi lagi. Sesungguhnyalah pada saat yang sangat berbahayalah, yakni ketika di sekitar gelap gelita, atau dalam waktu mengenyam sukses dan kemenangan, yakni ketika musuh bertekuk lutut di hadapannya, watak dan perangai yang sesungguhnya seseorang diuji; dan sejarah memberi kesaksian yang jelas kepada kenyataan bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.  baik dalam keadaan dukacita karena dirundung kesengsaraan dan pada saat sukacita karena meraih kemenangan — tetap menunjukkan kepribadian agung lagi mulia.
   Pertempuran Khandak, Uhud, dan Hunain menjelaskan dengan seterang-seterangnya satu watak Nabi Besar Muhammad saw. yang indah, dan Fatah Mekkah (Kemenangan atas Mekkah) memperlihatkan watak  beliau saw. lainnya. Mara bahaya tidak mengurangi semangat  beliau saw. atau mengecutkan hati beliau saw., begitu pula kemenangan dan sukses tidak merusak watak beliau saw..
     Ketika  Nabi Besar Muhammad saw. ditinggalkan hampir seorang diri pada hari Pertempuran Hunain, sedang nasib Islam berada di antara hidup dan mati,  beliau saw. tanpa gentar sedikit pun dan seorang diri belaka maju ke tengah barisan musuh seraya berseru dengan kata-kata yang patut dikenang selama-lamanya: “Aku nabi Allah dan aku tidak berkata dusta. Aku anak Abdul Muthalib.” Dan tatkala Mekkah jatuh dan seluruh tanah Arab bertekuk lutut maka kekuasaan yang mutlak dan tak tersaingi itu tidak kuasa merusak   Nabi Besar Muhammad saw.. Beliau saw. menunjukkan keluhuran budi yang tiada taranya terhadap musuh-musuh beliau saw..
Kesaksian lebih besar mana lagi yang mungkin ada terhadap keagungan watak  Nabi Besar Muhammad saw.  selain kenyataan bahwa pribadi-pribadi yang paling akrab dengan beliau saw. dan yang paling mengenal  beliau saw., mereka itulah yang paling mencintai  beliau saw. dan merupakan yang pertama-tama percaya akan misi kenabian  beliau saw., yakni  istri  beliau saw.yang tercinta, Sitti Khadijah r.a.; sahabat beliau saw. sepanjang hayat, Abu Bakar r.a.;  saudara sepupu yang juga menantu beliau saw., Ali bin Abi Thalin r,a,;  dan bekas budak  beliau saw. yang telah dimerdekakan, Zaid bin Haritsah r.a..   Nabi Besar Muhammad saw. merupakan contoh kemanusiaan yang paling mulia dan model yang paling sempurna dalam keindahan dan kebajikan.
   Dalam segala segi kehidupan dan watak  Nabi Besar Muhammad saw. yang beraneka ragam, tidak ada duanya dan merupakan contoh yang tiada bandingannya bagi umat manusia untuk ditiru dan diikuti (QS.3:32). Seluruh kehidupan  Nabi Besar Muhammad saw. nampak dengan jelas dan nyata dalam cahaya lampu-sorot sejarah.
 Nabi Besar Muhammad saw. mengawali kehidupan beliau saw. sebagai anak yatim dan mengakhirinya dengan berperan sebagai wasit yang menentukan nasib seluruh bangsa. Sebagai kanak-kanak beliau saw. penyabar lagi gagah, dan di ambang pintu usia remaja,  beliau saw. tetap merupakan contoh yang sempurna dalam akhlak, ketakwaan, dan kesabaran.

Pengakuan Pihak Lawan

  Pada usia setengah-baya  Nabi Besar Muhammad saw.mendapat julukan Al-Amin (si Jujur dan setia kepada amanat) dan selaku seorang niagawan  beliau saw. terbukti paling jujur dan cermat.  Nabi Besar Muhammad saw. menikah dengan perempuan-perempuan yang di antaranya ada yang jauh lebih tua daripada  beliau saw. sendiri dan ada juga yang jauh lebih muda, namun semua bersedia memberi kesaksian dengan mengangkat sumpah mengenai kesetiaan, kecintaan, dan kekudusan  beliau saw..
  Sebagai ayah  Nabi Besar Muhammad saw. penuh dengan kasih sayang, dan sebagai sahabat beliau sangat setia dan murah hati. Ketika  beliau saw. diamanati tugas yang amat besar dan berat dalam usaha memperbaiki suatu masyarakat yang sudah rusak,  beliau saw. menjadi sasaran derita aniaya dan pembuangan, namun  beliau saw. memikul semua penderitaan itu dengan sikap agung dan budi luhur.
 Nabi Besar Muhammad saw. bertempur sebagai prajurit gagah-berani dan memimpin pasukan-pasukan.  Beliau saw. menghadapi kekalahan dan beliau saw. memperoleh kemenangan-kemenangan.  Beliau saw. menghakimi dan mengambil serta menjatuhkan keputusan dalam berbagai perkara.  Nabi Besar Muhammad saw.   adalah seorang negarawan, seorang pendidik, dan seorang pemimpin.
   “Kepala negara merangkap Penghulu Agama, beliau adalah Kaisar dan Paus sekaligus. Tetapi beliau adalah Paus yang tidak berlaga Paus, dan Kaisar tanpa pasukan-pasukan yang megah. Tanpa balatentara tetap, tanpa pengawal, tanpa istana yang megah, tanpa pungutan pajak tetap dan tertentu, sehingga jika ada orang berhak mengatakan bahwa ia memerintah dengan hak ketuhanan, maka orang itu hanyalah Muhammad, sebab beliau mempunyai kekuasaan tanpa alat-alat kekuasaan dan tanpa bantuan kekuasaan. Beliau biasa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan beliau sendiri, biasa tidur di atas sehelai tikar kulit, dan makanan beliau terdiri dari kurma dan air putih atau roti jawawut, dan setelah melakukan bermacam-macam tugas sehari penuh, beliau biasa melewatkan malam hari dengan mendirikan shalat dan doa-doa hingga kedua belah kaki beliau bengkak-bengkak. Tidak ada orang yang dalam keadaan dan suasana yang begitu banyak berubah telah berubah begitu sedikitnya” (Muhammad and Muhammadanism” karya Bosworth Smith).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 8 Oktober 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar