Senin, 03 Oktober 2016

Hakikat "Istighfar" dan "Hijrah" Nabi Adam a.s. dari "Jannah" & Makna "Daun-daun Surga" Penutup "Aurat" Nabi Adam a.s. dan "Istrinya"


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 26

HAKIKAT   ISTIGHFAR DAN    HIJRAH NABI ADAM A.S.   DARI “JANNAH”  & MAKNA “DAUN-DAUN SURGA”   PENUTUP “AURAT” NABI ADAM A.S. DAN ISTRINYA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 25  dikemukakan  da’wah para rasul Allah kepada kaumnya tentang istighfar dan taubat serta berbagai macam akibat baik yang akan menyertainya dari Allah Swt.  Dalam surah Hūd,   Allah Swt. berfirman  mengenai Nabi Hūd a.s. yang diutus  kepada kaum ‘Âd:
وَ یٰقَوۡمِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ  یُرۡسِلِ السَّمَآءَ  عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا وَّ  یَزِدۡکُمۡ   قُوَّۃً   اِلٰی قُوَّتِکُمۡ  وَ لَا  تَتَوَلَّوۡا  مُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan hai kaumku,  mohonlah ampunan dari  Rabb (Tuhan) kamu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengirimkan atas kamu awan yang menurunkan hujan lebat,  dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kamu, dan janganlah berpaling dari Dia sebagai orang-orang yang berdosa.” (Hūd [11]:53).
       Agaknya mata pencaharian utama kaum ‘Ād ialah bertani dan itu bergantung pada air hujan untuk mengolah tanah mereka, karena  di wilayah mereka tidak ada sumur atau terusan (kanal) atau sungai untuk mengairinya. Dengan demikian  janji pengiriman hujan serta anugerah Ilahi  lainnya tersebut merupakan bagian dari “maghfirah”  (pengampunan) Allah Swt. atas  istighfar dan taubat yang mereka lakukan:  وَّ  یَزِدۡکُمۡ   قُوَّۃً   اِلٰی قُوَّتِکُمۡ    -- “dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kamu”.
    Kemudian Allah Swt. berfirman mengenai Nabi Shalih a.s.  yang diutus kepada kaum Tsamud:
وَ اِلٰی ثَمُوۡدَ  اَخَاہُمۡ صٰلِحًا ۘ قَالَ یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ  اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ ہُوَ اَنۡشَاَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ  ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ ؕ اِنَّ  رَبِّیۡ  قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ  ﴿﴾
Dan kepada kaum Tsamūd Kami utus saudara mereka Shalih. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Alah, tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia. Dia-lah yang  telah  membangkit-kan  kamu dari bumi, dan memakmur-kan kamu di dalamnya   وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ  ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ -- maka mohon-lah ampunan kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, اِنَّ  رَبِّیۡ  قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ  -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) itu dekat, dan mengabulkan doa. (Hūd [11]:62).

Pengaduan” Nabi Nuh a.s. Kepada Allah Swt. Mengenai Kedegilan Kaumnya

        Demikian juga sebelumnya Nabi Nuh a.s. pun menyerukan hal yang sama kepada kaumnya, walau pun dalam ayat-ayat berikut ini kata taubat tidak disebutkan   dalam  “pengaduan” beliau kepada Allah Swt:
فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا ﴿ۙ﴾  یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ  مِّدۡرَارًا ﴿ۙ﴾ وَّ یُمۡدِدۡکُمۡ  بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  اَنۡہٰرًا ﴿ؕ﴾ مَا  لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ  وَقَارًا  ﴿ۚ﴾
Lalu   aku berkata: “Mohonlah ampun kepada Rabb (Tuhan) kamu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun,  Dia akan mengirimkan atas kamu hujan dengan lebat, dan Dia akan membantu kamu dengan harta dan anak-anak dan Dia akan menjadikan bagi kamu kebun-kebun dan akan menjadikan bagi kamu sungai-sungai. مَا  لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ  وَقَارًا    -- Apakah yang terjadi dengan diri kamu bahwa kamu tidak mengharapkan kemuliaan dari Allah? (Nūh [71]:11-14).

Istighfar adalah Suatu Olah Ruhani  & Hakikat “Istighfarnya” Nabi Adam a.s.

      Pendek kata,  kedudukan istighfar lebih awal daripada  seruan bertaubat (kembali kepada Allah Swt.) sebagaimana yang diterangkan Masih Mau’ud a.s.. Selanjutnya beliau a.s. bersabda:
       “Allah Swt. berfirman:
وَّ اَنِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ
“Supaya kamu minta ampunan kepada  Rabb (Tuhan)  kamu, kemudian kembalilah kepada-Nya (Hūd[11]:4).
      Ingatlah bahwa umat Muslim telah dikaruniai dengan dua hal yaitu, pertama  adalah cara memperoleh kekuatan, dan yang kedua ialah penampakan kekuatan yang telah diperoleh tersebut. Istighfar merupakan cara untuk mendapatkan kekuatan, atau dengan kata lain mencari bantuan.
    Para kaum Sufi menyatakan bahwa sebagaimana kekuatan jasmani dapat ditingkatkan melalui olah jasmani, begitu pula istighfar sebagai suatu olah ruhani. Cara demikian itulah yang harus dilakukan jika jiwa ingin mendapatkan kekuatan dan hati memperoleh keteguhan. Mereka yang menginginkan kekuatan  harus selalu beristighfar.” (Malfuzat, jld. II, hlm.  67).
      Sekali pun Nabi Adam a.s.  – dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis”  -- tidak melakukan dosa secara sadar (QS.20:116-123; QS.2:30-38), namun demikian beliau  beristighfar dan bertaubat kepada Allah Swt., firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata:  ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami,  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan  tidak  menga-sihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’rāf [7]:24).     
 Nabi Adam a.s.  segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat kembali rujuk kepada Allah Swt.., bertaubat, dan  Allah Swt.  menerima  istighfar dan taubat dari Nabi Adam a.s., karena sesungguhnya kesalahan  Nabi Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik sungguhpun Allah Swt.   telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang  (manusia syaitan) itu (QS.7:21-23).
 Dengan demikian  tidak ada masalah “dosa warisan”dari  Adam dan istrinya  dan juga tidak ada masalah “penebusan dosa” oleh  kematian terkutuk Yesus di tiang salib  --  sebagaimana yang diajarkan Paulus dalam Surat-surat kirimannya  -- sebab Allah Swt. adalah Wujud Yang  Ghafūrun-Rahīm (Tuhan Yang Maha Pengampun  dan Maha Penyayang).

Hijrah  Nabi Adam a.s. dari Wilayah Subur Mesopotamia (Jannah)

Mungkin akan timbul pertanyaan: Kalau benar bahwa “pelanggaran” yang dilakukan Nabi Adam a.s. dan “istrinya” bukan merupakan suatu “dosa”, mengapa Allah Swt. memerintahkan   keluar  dari jannah (kebun)   -- yang  oleh umum dipercayai sebagai pengusiran dari “surga”? Firman-Nya: 
قَالَ اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ  لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ  وَّ مَتَاعٌ اِلٰی  حِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ ﴿٪﴾
Dia berfirman:  Pergilah kamu semua  dari sini,  sebagian kamu adalah musuh bagi sebagian lain, dan bagi kamu di bumi ini terdapat tempat tinggal  dan bekal hidup sampai masa tertentu.”   Dia berfirman:  Di dalamnya  kamu  akan hidup dan di dalamnya  kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan.” (Al-A’rāf [7]:25-26).
  Ayat 25 menunjukkan bahwa  Nabi Adam a.s. diperintahkan  Allah Swt. supaya  hijrah dari tanah tumpah darah beliau   -- yang karena wilayah tersebut sangat subur sehingga disebut “jannah” (kebun)  yaitu Mesopotamia --  sebab  akibat “tipu-daya syaitan)” di tengah berbagai anggota jemaat beliau  telah tumbuh suasana permusuhan dan benci-membenci.
  Hal itu merupakan bukti lebih lanjut tentang kenyataan bahwa “kebun” yang darinya Nabi Adam a.s. dan istrinya (jama’ahnya) diperintahkan keluar itu, bukanlah surga. Rupa-rupanya  Nabi Adam a.s.  dan anggota jamaahnya     hijrah dari Mesopotamia  -- tanah kelahiran beliau  -- ke negeri yang berdekatan.
      Hijrah itu barangkali bersifat sementara dan  Nabi Adam a.s. dan para pengikutnya agaknya telah kembali lagi ke negeri tempat asal, tidak lama sesudah itu. Sungguh, kata-kata “bekal hidup sampai suatu masa tertentu” mengandung isyarat halus tentang hijrah yang bersifat sementara itu. Nabi Adam a.s. diperingatkan dalam ayat ini agar berhati-hati di masa depan, sebab adalah di tanah air sendirilah beliau harus tinggal untuk selama-lamanya. Itulah makna ayat:  قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ -- “Dia berfirman:  Di dalamnya  kamu  akan hidup dan di dalamnya  kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan (Al-A’rāf [7]:26).

Tidak Ada   Manusia   yang Dapat Hidup Secara Alami di Langit & Makna “Daun-daun Surga” Penutup “Aurat” Nabi Adam a.s. dan “Istrinya”

  Ayat 26 tersebut jika diartikan secara umum mengisyaratkan bahwa tidak ada manusia dapat naik ke langit dengan tubuh kasarnya. Manusia harus hidup dan mati di bumi ini juga, sesuai firman-Nya:
یٰمَعۡشَرَ الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ  اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ اَنۡ  تَنۡفُذُوۡا مِنۡ  اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾
Hai golongan jin dan  ins (manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan untuk menembus batas-batas seluruh langit dan bumi maka tembuslah, لَا  تَنۡفُذُوۡنَ  اِلَّا بِسُلۡطٰ  --  namun kamu tidak dapat menembusnya  kecuali dengan kekuatan. (Ar-Rahmān [55]:34).
Firman-Nya lagi:
اَلَمۡ  نَجۡعَلِ الۡاَرۡضَ  کِفَاتًا ﴿ۙ﴾  اَحۡیَآءً   وَّ  اَمۡوَاتًا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا فِیۡہَا رَوَاسِیَ شٰمِخٰتٍ وَّ اَسۡقَیۡنٰکُمۡ مَّآءً  فُرَاتًا ﴿ؕ﴾  وَیۡلٌ  یَّوۡمَئِذٍ  لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Tidakkah Kami  menjadikan bumi cukup menampung  bagi yang hidup dan yang mati?  Dan Kami menjadikan di dalamnya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami memberi minum kamu dengan air tawar   (Mursalāt [77]:26-28).
    Makna kifat dalam ayat:   اَلَمۡ  نَجۡعَلِ الۡاَرۡضَ  کِفَاتًا -- “Tidakkah Kami  menjadikan bumi cukup menampung,” bahwa segala makhluk hidup di bumi  apabila makhluk-makhluk itu mati maka sisa-sisa jasad kasar mereka tetap tinggal di bumi dalam suatu bentuk atau lain. Ayat ini dapat juga mengisyaratkan kepada hukum gravitasi (gaya tarik bumi) atau kepada gerak putar bumi pada sumbunya atau peredarannya mengelilingi matahari. Kata kifāt dapat pula berarti bahwa segala keperluan jasmani manusia telah terpenuhi di bumi, sebagaimana firman-Nya: قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا  تُخۡرَجُوۡنَ -- “Dia berfirman:  Di dalamnya  kamu  akan hidup dan di dalamnya  kamu akan mati, dan darinya kamu akan dikeluarkan (Al-A’rāf [7]:26). 

Hubungan Maghfirah Ilahi dengan Hijrah Nabi Adam a.s. dari “Jannah”

     Jadi, kembali kepada   perintah Allah Swt. kepada Nabi Adam a.s. dan istrinya (jamaahnya) untuk “hijrah” dari “jannah”, pada hakikatnya itu bukan merupakan  penampakan kemarahan  Allah Swt.  melainkan merupakan bagian dari maghfirah-Nya,  sebab kalau Nabi Adam a.s. dan jamaah beliau tetap berada  di wilayah subur --   yang disebut “jannah”  -- tersebut maka beliau tidak akan dapat membina akhlak dan ruhani mereka, yang diisyaratkan sebagai  “menutupi aurat” dengan waraq (auraq) atau “daun-daun surgawi”, firman-Nya:
فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Lalu ia, syaitanmembujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا --  maka tatkala keduanya   merasai buah pohon itu  tampaklah kepada kedua-nya  aurat mereka berdua  وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- dan mulailah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu.  Dan keduanya  diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu berdua  bahwa sesungguhnya  syaitan itu  musuh yang nyata bagi kamu ber-dua?” (Al-A’rāf [7]:23). 
   Waraq dalam ayat:  وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ – “dan mulailah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu   berarti: bagian terbaik lagi segar dari sesuatu; kaum muda dalam masyarakat (Lisan-ul-‘Arab), menunjukkan bahwa tatkala manusia syaitan berhasil menimbulkan perpecahan dalam masyarakat  Nabi Adam a.s.   dan beberapa anggota jemaat beliau yang lemah telah keluar dari lingkungan itu; maka  Nabi Adam a.s.  menghimpun auraq (daun-daun) dari “kebun” itu, yakni  pemuda-pemuda dalam jemaat itu, dan mulai mempersatukan serta menertibkan kembali kaumnya dengan pertolongan mereka. Pada umumnya para pemudalah yang  disebabkan kebanyakan mereka bebas dari prarasa-prarasa dan prasangka-prasangka, mereka mengikuti dan menolong nabi-nabi Allah (QS.10:84).

Manusia-manusia Syaitan” di Setiap Zaman Kenabian

Makhluk yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak sujud  kepada Adam a.s.  disebut iblis (QS.7:12-19) sedang makhluk yang menggodanya dalam “jannah” disebut syaitan (QS.7:20-23). Perbedaan ini tidak hanya nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan,  tetapi juga dalam semua ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam seluruh Al-Quran.
 Kenyataan ini  menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut kisah  “monumental Adam – Malaikat – Iblis” sebutan  syaitan dan iblis adalah dua pribadi yang berlainan.  Pada hakikatnya  kata syaitan tidak hanya digunakan terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi juga terhadap manusia yang disebabkan oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah menjadi penjelmaan syaitan.
   Syaitan yang menggoda Nabi Adam a.s.  dan menyebabkan beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak, melainkan manusia yang berdaging dan berdarah, dan  bersifat  jahat, yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan tangan-tangan iblis.
  Ia  (manusia syaitan) itu termasuk anggota keluarga yang mengenainya Adam a.s.  telah diperintahkan Allah Swt.  supaya menghindar. Itulah makna  perintah Allah Swt. kepada Nabi Adam a.s. dan istrinya untuk tidak mendekati “pohon terlarang” dalam “jannah” (QS.27:20-23) demikian juga   “pohon terkutuk dalam Al-Quran”(QS.17:61) adalah “sekelompok orang”, bukan benar-benar sebatang pohon kayu.
 Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa nama orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu merupakan satu bukti lagi bahwa ia – syaitan yang menipu Nabi Adam a.s. --   adalah seorang manusia dan bukan ruh jahat yang disebut syaitan (QS.7:28).
 Nabi Adam a.s. segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat kembali rujuk kepada Allah Swt.  bertaubat. Sesungguhnya kesalahan  Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik, sungguhpun Allah Swt.  telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang  (manusia syaitan) itu, firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata:  ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami,  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan  tidak  menga-sihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’rāf [7]:24).     

Pintu Gerbang Rahmat Ilahi Tidak pernah Ditutup

      Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan mengenai senantiasa  terbukanya “pintu gerbang pengampunan” Allah Swt. bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat atau kembali kepada-Nya:
      Pintu gerbang rahmat dan kasih Ilahi tidak pernah ditutup. Siapa pun yang berpaling kepada-Nya dengan hati yang tulus dan lurus maka Dia bersifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta menerima pertobatan.
     Adalah suatu kedurhakaan mempertanyakan berapa banyaknya pendosa yang akan diampuni Allah Swt.. Khazanah rahmat-Nya tidak mengenal batas. Dia tidak berkekurangan apa pun dan gerbang-gerbang menuju kepada-Nya tidak dihalangi. Barangsiapa yang tiba di hadirat-Nya akan mencapai derajat tinggi.
      Semua itu merupakan janji yang hakiki. Seseorang yang berputus-asa akan Tuhan Yang Maha Kuasa,  dimana maut (kematian)  di akhir hayatnya tiba dalam keadaan ia sedang tidak menyadari adalah orang yang amat sial,  karena ia akan menemukan pintu rahmat dalam keadaan terhalang oleh dirinya sendiri.” (Malfuzat, jld. III, hlm. 296-297).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 1 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar