Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
26
HAKIKAT ISTIGHFAR DAN HIJRAH
NABI ADAM A.S. DARI “JANNAH” & MAKNA “DAUN-DAUN SURGA” PENUTUP “AURAT”
NABI ADAM A.S. DAN ISTRINYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab 25 dikemukakan
da’wah para rasul Allah kepada
kaumnya tentang istighfar dan taubat serta berbagai macam akibat baik yang akan menyertainya dari
Allah Swt. Dalam surah Hūd, Allah Swt. berfirman mengenai Nabi Hūd a.s. yang diutus kepada kaum ‘Âd:
وَ یٰقَوۡمِ
اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ یُرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا وَّ یَزِدۡکُمۡ
قُوَّۃً اِلٰی قُوَّتِکُمۡ وَ لَا
تَتَوَلَّوۡا مُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan hai
kaumku, mohonlah ampunan dari Rabb
(Tuhan) kamu, kemudian bertaubatlah
kepada-Nya, niscaya Dia akan
mengirimkan atas kamu awan yang menurunkan
hujan lebat, dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kamu, dan janganlah berpaling dari Dia sebagai orang-orang yang berdosa.” (Hūd [11]:53).
Agaknya mata pencaharian utama kaum ‘Ād ialah bertani dan itu bergantung pada air
hujan untuk mengolah tanah mereka, karena
di wilayah mereka tidak ada sumur
atau terusan (kanal) atau sungai untuk mengairinya. Dengan
demikian janji pengiriman hujan serta anugerah
Ilahi lainnya tersebut merupakan
bagian dari “maghfirah” (pengampunan) Allah Swt. atas istighfar dan taubat yang mereka lakukan: وَّ
یَزِدۡکُمۡ قُوَّۃً اِلٰی قُوَّتِکُمۡ -- “dan akan
menambahkan kekuatan kepada kekuatan
kamu”.
Kemudian Allah Swt. berfirman
mengenai Nabi Shalih a.s. yang diutus kepada kaum Tsamud:
وَ اِلٰی
ثَمُوۡدَ اَخَاہُمۡ صٰلِحًا ۘ قَالَ
یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ
اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ ہُوَ اَنۡشَاَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ
فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ ثُمَّ
تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ
قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ ﴿﴾
Dan kepada kaum Tsamūd Kami
utus saudara mereka Shalih. Ia
berkata: “Hai kaumku, sembahlah Alah,
tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia. Dia-lah yang telah membangkit-kan kamu dari bumi, dan memakmur-kan kamu di dalamnya وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ فِیۡہَا
فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ -- maka mohon-lah ampunan kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, اِنَّ رَبِّیۡ
قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ -- sesungguhnya
Rabb-ku (Tuhan-ku) itu dekat, dan mengabulkan doa. (Hūd [11]:62).
“Pengaduan”
Nabi Nuh a.s. Kepada Allah Swt. Mengenai Kedegilan
Kaumnya
Demikian juga sebelumnya Nabi Nuh a.s.
pun menyerukan hal yang sama kepada
kaumnya, walau pun dalam ayat-ayat berikut ini kata taubat tidak disebutkan
dalam “pengaduan” beliau kepada Allah Swt:
فَقُلۡتُ
اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا ﴿ۙ﴾ یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا ﴿ۙ﴾ وَّ
یُمۡدِدۡکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ
لَّکُمۡ اَنۡہٰرًا ﴿ؕ﴾ مَا لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ وَقَارًا ﴿ۚ﴾
Lalu aku berkata: “Mohonlah ampun kepada Rabb
(Tuhan) kamu, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, Dia akan mengirimkan atas kamu hujan dengan lebat, dan Dia akan membantu kamu dengan harta dan anak-anak dan Dia akan
menjadikan bagi kamu kebun-kebun dan akan
menjadikan bagi kamu sungai-sungai. مَا
لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ
وَقَارًا -- Apakah yang terjadi dengan diri kamu bahwa kamu tidak mengharapkan kemuliaan dari Allah? (Nūh [71]:11-14).
Istighfar adalah Suatu Olah
Ruhani & Hakikat “Istighfarnya” Nabi Adam a.s.
Pendek kata, kedudukan istighfar
lebih awal daripada seruan bertaubat (kembali kepada Allah Swt.)
sebagaimana yang diterangkan Masih Mau’ud
a.s.. Selanjutnya beliau a.s. bersabda:
“Allah
Swt. berfirman:
وَّ اَنِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ
ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ
“Supaya kamu minta ampunan kepada
Rabb (Tuhan) kamu,
kemudian kembalilah kepada-Nya”
(Hūd[11]:4).
Ingatlah bahwa umat Muslim telah dikaruniai dengan dua hal yaitu, pertama adalah cara memperoleh kekuatan, dan yang kedua ialah penampakan
kekuatan
yang telah diperoleh tersebut. Istighfar
merupakan cara
untuk mendapatkan kekuatan,
atau dengan kata lain mencari bantuan.
Para kaum
Sufi menyatakan bahwa sebagaimana kekuatan jasmani dapat ditingkatkan
melalui olah
jasmani,
begitu pula istighfar
sebagai suatu
olah ruhani.
Cara demikian itulah yang harus dilakukan jika jiwa ingin mendapatkan kekuatan dan hati memperoleh keteguhan. Mereka yang menginginkan kekuatan harus
selalu beristighfar.” (Malfuzat,
jld. II, hlm. 67).
Sekali pun Nabi Adam a.s. – dalam kisah monumental “Adam – Malaikat –
Iblis” -- tidak melakukan dosa secara sadar (QS.20:116-123; QS.2:30-38), namun demikian beliau beristighfar
dan bertaubat kepada Allah Swt.,
firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya
berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan tidak
menga-sihi kami, niscaya kami
akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’rāf [7]:24).
Nabi Adam a.s. segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat kembali rujuk kepada Allah Swt.., bertaubat, dan Allah
Swt. menerima istighfar dan taubat dari Nabi Adam a.s., karena sesungguhnya kesalahan Nabi Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik sungguhpun Allah Swt. telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang (manusia syaitan) itu (QS.7:21-23).
Dengan demikian tidak ada masalah “dosa warisan”dari Adam dan istrinya dan juga tidak ada masalah
“penebusan dosa” oleh kematian
terkutuk Yesus di tiang salib -- sebagaimana yang diajarkan Paulus dalam Surat-surat kirimannya --
sebab Allah Swt. adalah Wujud Yang Ghafūrun-Rahīm (Tuhan Yang Maha
Pengampun dan Maha Penyayang).
Hijrah Nabi Adam a.s. dari Wilayah Subur Mesopotamia (Jannah)
Mungkin akan timbul pertanyaan: Kalau benar bahwa “pelanggaran”
yang dilakukan Nabi Adam a.s. dan “istrinya” bukan merupakan suatu “dosa”, mengapa Allah Swt. memerintahkan keluar dari jannah
(kebun) -- yang oleh umum dipercayai sebagai pengusiran dari “surga”? Firman-Nya:
قَالَ
اہۡبِطُوۡا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ
وَ لَکُمۡ فِی الۡاَرۡضِ مُسۡتَقَرٌّ وَّ
مَتَاعٌ اِلٰی حِیۡنٍ ﴿﴾ قَالَ فِیۡہَا
تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا
تُخۡرَجُوۡنَ ﴿٪﴾
Dia berfirman: ”Pergilah kamu semua dari sini, sebagian
kamu adalah musuh bagi sebagian lain,
dan bagi kamu di bumi ini terdapat
tempat tinggal dan bekal hidup sampai masa tertentu.” Dia
berfirman: ”Di dalamnya
kamu akan hidup dan di dalamnya
kamu akan mati, dan darinya
kamu akan dikeluarkan.” (Al-A’rāf [7]:25-26).
Ayat 25 menunjukkan bahwa Nabi Adam a.s. diperintahkan Allah Swt. supaya hijrah
dari tanah tumpah darah beliau -- yang karena wilayah tersebut sangat subur sehingga disebut “jannah” (kebun) yaitu Mesopotamia
-- sebab akibat “tipu-daya
syaitan)” di tengah berbagai anggota jemaat
beliau telah tumbuh suasana permusuhan dan benci-membenci.
Hal itu merupakan bukti lebih lanjut tentang
kenyataan bahwa “kebun” yang darinya Nabi Adam a.s. dan istrinya (jama’ahnya)
diperintahkan keluar itu, bukanlah surga. Rupa-rupanya Nabi Adam a.s.
dan anggota jamaahnya hijrah
dari Mesopotamia -- tanah kelahiran beliau -- ke negeri
yang berdekatan.
Hijrah itu barangkali bersifat sementara dan Nabi Adam a.s. dan para pengikutnya agaknya telah kembali lagi ke negeri tempat
asal, tidak lama sesudah itu. Sungguh, kata-kata “bekal hidup sampai suatu
masa tertentu” mengandung isyarat
halus tentang hijrah yang
bersifat sementara itu. Nabi Adam
a.s. diperingatkan dalam ayat ini
agar berhati-hati di masa depan,
sebab adalah di tanah air sendirilah
beliau harus tinggal untuk selama-lamanya. Itulah makna ayat: قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا
تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا تُخۡرَجُوۡنَ -- “Dia
berfirman: ”Di dalamnya
kamu akan hidup dan di dalamnya
kamu akan mati, dan darinya
kamu akan dikeluarkan” (Al-A’rāf [7]:26).
Tidak
Ada Manusia yang Dapat Hidup Secara Alami di Langit & Makna “Daun-daun Surga” Penutup “Aurat”
Nabi Adam a.s. dan “Istrinya”
Ayat 26 tersebut jika diartikan secara umum mengisyaratkan bahwa tidak ada manusia dapat naik ke langit
dengan tubuh kasarnya. Manusia harus hidup
dan mati di bumi ini juga, sesuai
firman-Nya:
یٰمَعۡشَرَ
الۡجِنِّ وَ الۡاِنۡسِ اِنِ اسۡتَطَعۡتُمۡ
اَنۡ تَنۡفُذُوۡا مِنۡ اَقۡطَارِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ
فَانۡفُذُوۡا ؕ لَا تَنۡفُذُوۡنَ اِلَّا بِسُلۡطٰنٍ ﴿ۚ﴾
Hai golongan jin dan ins
(manusia)! Jika kamu memiliki kekuatan
untuk menembus batas-batas seluruh
langit dan bumi maka tembuslah, لَا تَنۡفُذُوۡنَ
اِلَّا بِسُلۡطٰ -- namun kamu tidak dapat menembusnya
kecuali dengan kekuatan. (Ar-Rahmān [55]:34).
Firman-Nya
lagi:
اَلَمۡ نَجۡعَلِ الۡاَرۡضَ کِفَاتًا ﴿ۙ﴾ اَحۡیَآءً
وَّ اَمۡوَاتًا ﴿ۙ﴾ وَّ جَعَلۡنَا
فِیۡہَا رَوَاسِیَ شٰمِخٰتٍ وَّ اَسۡقَیۡنٰکُمۡ مَّآءً فُرَاتًا ﴿ؕ﴾ وَیۡلٌ
یَّوۡمَئِذٍ لِّلۡمُکَذِّبِیۡنَ ﴿﴾
Tidakkah
Kami menjadikan bumi cukup menampung bagi yang hidup dan yang mati? Dan Kami menjadikan di dalamnya gunung-gunung yang tinggi, dan Kami memberi minum kamu dengan air tawar
(Mursalāt [77]:26-28).
Makna kifat
dalam ayat: اَلَمۡ نَجۡعَلِ الۡاَرۡضَ کِفَاتًا --
“Tidakkah Kami menjadikan bumi cukup
menampung,” bahwa segala makhluk hidup
di bumi apabila makhluk-makhluk itu mati maka sisa-sisa jasad kasar mereka tetap tinggal di bumi dalam suatu bentuk
atau lain. Ayat ini dapat juga
mengisyaratkan kepada hukum gravitasi
(gaya tarik bumi) atau kepada gerak putar
bumi pada sumbunya atau peredarannya mengelilingi matahari. Kata kifāt dapat pula
berarti bahwa segala keperluan jasmani
manusia telah terpenuhi di bumi,
sebagaimana firman-Nya: قَالَ فِیۡہَا تَحۡیَوۡنَ وَ فِیۡہَا تَمُوۡتُوۡنَ وَ مِنۡہَا تُخۡرَجُوۡنَ -- “Dia
berfirman: ”Di dalamnya
kamu akan hidup dan di dalamnya
kamu akan mati, dan darinya
kamu akan dikeluarkan” (Al-A’rāf [7]:26).
Hubungan Maghfirah Ilahi dengan Hijrah
Nabi Adam a.s. dari “Jannah”
Jadi, kembali kepada perintah
Allah Swt. kepada Nabi Adam a.s. dan istrinya
(jamaahnya) untuk “hijrah” dari “jannah”, pada hakikatnya itu bukan
merupakan penampakan kemarahan Allah Swt.
melainkan merupakan bagian dari maghfirah-Nya, sebab kalau Nabi Adam a.s. dan jamaah
beliau tetap berada di wilayah subur -- yang disebut “jannah” -- tersebut maka
beliau tidak akan dapat membina akhlak
dan ruhani mereka, yang diisyaratkan
sebagai “menutupi aurat” dengan waraq
(auraq) atau “daun-daun surgawi”, firman-Nya:
فَدَلّٰىہُمَا
بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ
طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا
رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ
تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ
لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا
عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Lalu ia, syaitan, membujuk
kedua mereka itu dengan tipu-daya,
فَلَمَّا
ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا -- maka tatkala
keduanya merasai buah pohon itu tampaklah kepada kedua-nya aurat mereka berdua وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ
وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- dan mulailah
keduanya menutupi diri mereka dengan
daun-daun kebun itu. Dan keduanya
diseru oleh Rabb (Tuhan)
mereka: “Bukankah Aku telah melarang
kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu berdua
bahwa sesungguhnya syaitan
itu musuh yang nyata bagi kamu ber-dua?”
(Al-A’rāf
[7]:23).
Waraq
dalam ayat: وَ طَفِقَا
یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ – “dan mulailah keduanya menutupi diri
mereka dengan daun-daun kebun itu” berarti: bagian
terbaik lagi segar dari sesuatu; kaum
muda dalam masyarakat (Lisan-ul-‘Arab),
menunjukkan bahwa tatkala manusia syaitan
berhasil menimbulkan perpecahan dalam
masyarakat Nabi Adam a.s. dan beberapa
anggota jemaat beliau yang lemah
telah keluar dari lingkungan itu;
maka Nabi Adam a.s. menghimpun auraq (daun-daun) dari “kebun”
itu, yakni pemuda-pemuda dalam jemaat
itu, dan mulai mempersatukan serta menertibkan kembali kaumnya dengan
pertolongan mereka. Pada umumnya para pemudalah
yang disebabkan kebanyakan mereka bebas
dari prarasa-prarasa dan prasangka-prasangka, mereka mengikuti dan menolong nabi-nabi Allah (QS.10:84).
“Manusia-manusia
Syaitan” di Setiap Zaman Kenabian
Makhluk yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak sujud kepada Adam a.s. disebut iblis
(QS.7:12-19) sedang makhluk yang menggodanya dalam “jannah” disebut syaitan (QS.7:20-23). Perbedaan ini tidak
hanya nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan, tetapi juga dalam semua ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam seluruh
Al-Quran.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut
kisah “monumental Adam – Malaikat – Iblis” sebutan syaitan dan iblis adalah dua pribadi yang berlainan. Pada hakikatnya kata syaitan tidak hanya digunakan
terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi
juga terhadap manusia yang disebabkan
oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah
menjadi penjelmaan syaitan.
Syaitan yang menggoda Nabi Adam a.s. dan menyebabkan beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak, melainkan manusia yang berdaging
dan berdarah, dan bersifat
jahat, yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan
tangan-tangan iblis.
Ia (manusia syaitan) itu termasuk anggota keluarga yang mengenainya Adam
a.s. telah diperintahkan Allah Swt. supaya menghindar.
Itulah makna perintah Allah Swt. kepada Nabi
Adam a.s. dan istrinya untuk tidak mendekati “pohon terlarang” dalam “jannah” (QS.27:20-23) demikian juga “pohon terkutuk dalam Al-Quran”(QS.17:61)
adalah “sekelompok orang”, bukan
benar-benar sebatang pohon kayu.
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa nama
orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu
merupakan satu bukti lagi bahwa ia – syaitan yang menipu Nabi Adam a.s. -- adalah seorang
manusia dan bukan ruh jahat yang disebut syaitan (QS.7:28).
Nabi Adam
a.s. segera menyadari
kekeliruan beliau lalu cepat-cepat kembali
rujuk kepada Allah Swt. bertaubat. Sesungguhnya kesalahan Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa
"manusia syaitan" itu bermaksud baik, sungguhpun Allah Swt.
telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang (manusia syaitan) itu, firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya
berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan tidak
menga-sihi kami, niscaya kami
akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’rāf [7]:24).
Pintu Gerbang Rahmat Ilahi Tidak pernah Ditutup
Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai senantiasa terbukanya
“pintu gerbang pengampunan” Allah Swt. bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat atau kembali kepada-Nya:
“Pintu gerbang rahmat
dan kasih Ilahi tidak pernah ditutup. Siapa pun yang berpaling
kepada-Nya
dengan hati yang tulus dan lurus maka Dia
bersifat Maha Pengampun dan
Maha Penyayang serta menerima
pertobatan.
Adalah suatu kedurhakaan
mempertanyakan berapa banyaknya pendosa
yang akan diampuni Allah Swt.. Khazanah
rahmat-Nya tidak mengenal batas. Dia tidak berkekurangan
apa pun dan gerbang-gerbang menuju kepada-Nya
tidak dihalangi. Barangsiapa yang tiba
di hadirat-Nya
akan mencapai derajat tinggi.
Semua itu merupakan janji yang hakiki. Seseorang yang berputus-asa
akan Tuhan Yang Maha Kuasa, dimana maut (kematian) di akhir hayatnya tiba dalam keadaan ia sedang tidak menyadari adalah orang
yang amat sial, karena ia akan menemukan pintu rahmat dalam keadaan
terhalang oleh dirinya sendiri.” (Malfuzat, jld. III, hlm.
296-297).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 1 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar