Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
35
HUBUNGAN ERAT RUH MANUSIA DENGAN TUBUH
JASMANINYA DALAM IBADAH & KE-MUSLIM- AN SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 34 dikemukakan topik Beriman Kepada yang Gaib Tanda
Pertama Orang-orang Bertakwa. Allah Swt. dalam Al-Quran sangat menekankan
pentingnya “beriman kepada yang gaib”
– terutama Allah Swt., Wujud Yang
Maha Gaib -- dan menjadi
tanda pertama dari orang-orang yang bertakwa, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ
٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Alif
Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ -- Inilah Kitab
yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ -- petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ -- Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada yang
gaib, mendirikan shalat
dan mereka membelanjakan
sebagian dari apa yang Kami rezekikan
kepada mereka. Dan orang-orang
yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga
beriman kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada
akhirat pun
mereka yakin. الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ -- Mereka
itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb (Tuhan) mereka, dan mereka
itulah orang-orang
yang berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
Makna al-ghaib dalam ayat الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ
-- Yaitu orang-orang yang beriman kepada yang
gaib”, berarti:
sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak
hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid).
Allah Swt., para malaikat dan hari kiamat, semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata
yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak
nyata, melainkan hal-hal yang nyata
dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19).
Hubungan Khusus Al-Quran Dengan Orang-orang yang Bertakwa
Oleh karena itu keliru sekali
menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
Kata gaib
itu berarti hal-hal yang meskipun
di luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada
dari hal-hal gaib yang orang
Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda
di dunia yang meskipun tidak nampak
tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang
pun dapat menolak kehadiran benda-benda
itu.
Atas dasar kenyataan tersebut Allah Swt. menyatakan bahwa orang-orang
bertakwa sajalah yang mendapat petunjuk dari kesempurnaan
Kitab suci Al-Quran (QS.1:6) dan yang
akan mengambil banyak manfaat dari
Al-Quran, sebagaimana firman-Nya kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّمَا تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ
الذِّکۡرَ وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ
بِالۡغَیۡبِ ۚ فَبَشِّرۡہُ بِمَغۡفِرَۃٍ
وَّ اَجۡرٍ کَرِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
engkau hanya dapat menasihati orang yang
mengikuti peringatan itu وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ -- dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah da-lam keadaan tidak
tampak, maka berilah dia kabar
gembira mengenai am-punan dan ganjaran yang mulia. (Yā Sīn [36]:12).
Firman-Nya
lagi:
وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ اِنۡ تَدۡعُ
مُثۡقَلَۃٌ اِلٰی حِمۡلِہَا لَا یُحۡمَلۡ
مِنۡہُ شَیۡءٌ وَّ لَوۡ کَانَ ذَا قُرۡبٰی ؕ اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ
یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ وَ مَنۡ تَزَکّٰی
فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی لِنَفۡسِہٖ ؕ
وَ اِلَی
اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan tidak ada jiwa berbeban dapat
memikul beban orang lain, dan jika jiwa
berbeban berat berseru kepada yang lain untuk memikul bebannya tidak akan dipikul sedikit pun darinya, walau pun ia kaum kerabat sendiri. اِنَّمَا تُنۡذِرُ
الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ -- Sesungguhnya engkau
hanya dapat memperingatkan orang-orang yang takut kepada Rabb (Tuhan )mereka dalam keadaan menyendiri serta mendirikan
shalat. Dan barangsiapa mensucikan
diri maka ia hanya mensucikan untuk dirinya, dan kepada Allah kembali segala sesuatu. (Al-Fāthir [35]:19).
Pentingnya
Memiliki “Makrifat Ilahi” yang Sempurna
Selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. bersabda mengenai
pentingnya memiLiki “makrifat Ilahi” yang sempurna, sehubungan
dengan terhindarnya dari dosa serta mendapat kecintaan Allah
Swt.:
“Wahai kalian yang aku sayangi, untuk menghindari dosa maka menurut falsafat
hakiki yang telah teruji menyatakan bahwa manusia membutuhkan pemahaman yang sempurna
dan bukannya bentuk-bentuk penebusan.
Sesungguhnya aku dapat menyatakan bahwa
seandainya umat Nabi Nuh a.s. telah
mencapai pemahaman
hakiki
yang menciptakan
rasa takut yang sempurna tentunya
mereka tidak akan ditenggelamkan. Kalau saja umat Nabi Luth
a.s. dikaruniakan pemahaman
tersebut maka mereka tidak akan diazab dengan
hujan
batu.
Begitu
pula negeri ini (Hindustan - pent) kalau saja dianugrahi dengan pengenalan Ilahi yang bisa menjadikan mereka gemetar
ketakutan maka mereka tidak akan diganjar dengan wabah pes seperti yang telah berlaku sekarang ini.
Pemahaman yang tidak sempurna tidak akan memberikan manfaat berarti, begitu pula dengan natijahnya (akibatnya) dalam bentuk rasa takut
dan kasih Ilahi juga tidak akan
sempurna. Baik keimanan yang tidak sempurna,
kecintaan yang tidak sempurna,
rasa takut yang tidak sempurna
dan pemahaman yang tidak sempurna,
semuanya sama tidak ada gunanya, sama halnya dengan makanan
atau minuman yang tidak sempurna atau lengkap adanya.
Mungkinkah kalian dapat menghilangkan
rasa lapar
dengan sebutir
beras
atau meredakan
rasa haus
dengan setetes
air? Karena itu, wahai kalian yang
niatnya lemah
dan kurang
berupaya mencari kebenaran,
bagaimana mungkin kalian bisa mengharapkan rahmat Tuhan yang akbar sebagai imbalan
dari kasih dan rasa takut yang sedikit?
Mensucikan seseorang dari gelimang dosa dan mengisi
kalbunya dengan kecintaan Ilahi adalah kinerja
dari Wujud
Yang Maha Kuasa, dimana guna menegakkan rasa takut kepada Kebesaran-Nya juga bergantung pada kehendak-Nya.
Hukum alam yang abadi telah mengatur
bahwa hal ini dikaruniakan setelah manusia berhasil mencapai pemahaman
hakiki. Akar dari rasa takut dan kasih serta penghargaan kepada
Tuhan adalah melalui pemahaman
yang sempurna.
Mereka yang dikaruniai dengan pemahaman sempurna akan memperoleh karunia rasa takut dan rasa kasih
yang sempurna pula, dan hal ini
akan membebaskannya dari dosa yang ditimbulkan akibat
dari ketiadaan rasa takut tersebut.
Guna
keselamatan seperti itu kita tidak memerlukan adanya pengurbanan darah dan penyaliban atau pun penebusan. Kita hanya perlu mengurbankan
ego (keakuan) kita sejalan dengan fitrat kita
sendiri. Pengurbanan seperti inilah yang dengan kata lain diberi nama Islam.
Pengertian dari Islam adalah menjulurkan
leher kita guna disembelih, atau dengan kata lain menempatkan kalbu kita di hadirat Ilahi
dengan keinginan sendiri yang sempurna.
Nama Islam adalah intipati dari semua kaidah dan merupakan ruh dari semua perintah. Kerelaan
menjulurkan leher sendiri
untuk disembelih menuntut adanya kecintaan dan pengabdian Ilahi yang sempurna, dimana semua itu hanya mungkin jika memiliki pemahaman sempurna.
Arti
kata Islam itu sendiri mengindikasikan bahwa untuk suatu pengurbanan yang sempurna diperlukan adanya pemahaman yang sempurna pula sebagai hasil dari kasih Ilahi yang sempurna juga. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
لَنۡ
یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا
دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ
“Dagingnya sekali-kali tidak akan sampai
kepada Allah dan tidak pula darahnya,
akan tetapi ketakwaan kamu itulah yang akan
sampai kepada-Nya” (Al-Hājj [22]:38).
Yakni “daging kurban yang kalian persembahkan
itu tidak
akan mencapai Diri-Ku,
tidak juga darahnya. Pengurbanan yang sampai kepada-Ku hanyalah agar kalian
takut kepada-Ku dan bertakwa demi
Aku.” (Khutbah Lahore, Lahore,
Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 150-152, London, 1984).
Hubungan Erat Ruh
Manusia Dengan Tubuh Jasmaninya
Mungkin timbul pertanyaan: Jika bukan daging dan darah dari binatang-binatang
kurban yang disembelih yang
sampai kepada Allah Swt. melainkan ketakwaan
si pelaku pengorbanan itulah yang
sampai kepada-Nya, lalu apa hikmah adanya pengurbanan
secara fisik dari penyembelihan binatang kurban tersebut?
Sehubungan dengan hal tersebut Masih
Mau’ud a.s. dalam buku beliau “Islami Ushul ki Filasafi” (Falsafah Ajaran Islam) menjelaskan bahwa
terdapat hubungan erat antara jasmani manusia dengan ruhnya, contohnya jika ruh (hati)
manusia dalam keadaan gembira maka tanda-tanda kegembiraan tersebut akan
tampak dalam penampilan jasmani, terutama pada wajah tampak berseri-seri.
Sebaliknya, jika ruh (hati) manusia dalam keadaan sedih atau sedang menderita sakit maka gejala yang sama akan diperlihatkan oleh tubuh jasmaninya dan wajahnya, yakni wajahnya muram atau menangis. Itulah sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran –
selain telah menetapkan masalah halal
dan haram dan lain-lain -- juga
telah menetapkan berbagai aturan ibadah
dan pengorbanan kepada Allah Swt.
yang melibatkan baik jasmani
mau pun ruh manusia. Contohnya gerakan-gerakan tertentu dalam shalat
yang disertai berbagai bacaan-bacaan shalatnya yang telah diperagakan Nabi Besar Muhammad saw.
Demikian pula sebelum shalat pun keadaan tubuh, pakaian dan tempat shalat pun harus bersih. Jika dalam keadaan junub harus terlebih dulu mandi janabah dan berwudhu, jika tidak dalam keadaan junub cukup berwudhu
saja. Jika tidak ada air untuk mandi
janabah dan wudhu boleh melakukan
tayamum antara lain dengan menggunakan debu tanah yang bersih.
Melakukan tayamum
dengan debu memberikan bukti
penguat bahwa terdapat hubungan erat antara niat dengan perbuatan jasmani, sebab secara logika debu tidak akan dapat membersihkan
tubuh manusia seperti air, malah sebaliknya. Tetapi kaidahnya sama dengan
firman Allah Swt. mengenai pengorbanan
binatang ternak, firman-Nya:
لَنۡ
یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَ لَا
دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ
“Dagingnya sekali-kali tidak akan sampai
kepada Allah dan tidak pula darahnya,
akan tetapi ketakwaan kamu itulah yang akan
sampai kepada-Nya” (Al-Hājj [22]:38).
Yakni bukan airnya atau pun debunya yang
akan diterima oleh Allah Swt.
sebagai upaya pembersihan tubuh jasmani ketika melakukan wudhu atau tayyamum
melainkan niatnya atau ketaatannya atau ketakwaannya itulah yang akan diterima
Allah Swt..
Debu tanah (turāb) dijadikan alternative sebagai sarana pengganti air dalam tayamum hikmahnya antara lain untuk mengingatkan
manusia kepada asal penciptaannya dari
turaāb (debu tanah – QS.3:60; QS.18:38; QS.30:21; QS.35:12; QS.40:68),
firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ اِنۡ کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّنَ الۡبَعۡثِ
فَاِنَّا
خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ
ثُمَّ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ ثُمَّ مِنۡ عَلَقَۃٍ ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَۃٍ
مُّخَلَّقَۃٍ وَّ غَیۡرِ مُخَلَّقَۃٍ لِّنُبَیِّنَ لَکُمۡ ؕ وَ نُقِرُّ فِی الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ اِلٰۤی اَجَلٍ
مُّسَمًّی ثُمَّ نُخۡرِجُکُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ لِتَبۡلُغُوۡۤا اَشُدَّکُمۡ ۚ وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّتَوَفّٰی وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ اِلٰۤی اَرۡذَلِ
الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا یَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ
عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ وَ تَرَی الۡاَرۡضَ ہَامِدَۃً فَاِذَاۤ اَنۡزَلۡنَا
عَلَیۡہَا الۡمَآءَ اہۡتَزَّتۡ وَ رَبَتۡ وَ اَنۡۢبَتَتۡ مِنۡ کُلِّ زَوۡجٍۭ بَہِیۡجٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ
ہُوَ الۡحَقُّ
وَ اَنَّہٗ یُحۡیِ الۡمَوۡتٰی وَ اَنَّہٗ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ۙ﴿﴾
Hai manusia, jika kamu dalam keraguan mengenai kebangkitan
kembali, فَاِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ -- maka
sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu
dari tanah, kemudian dari setetes
mani, kemudian dari segumpal darah,
kemudian dari sepotong daging,
sebagian telah berbentuk dan
sebagian lagi belum berbentuk, supaya
Kami menjelaskan kepada kamu. Dan Kami menempatkan di dalam rahim-rahim sebagaimana yang Kami kehendaki sampai masa yang telah ditentukan, kemudian Kami
keluarkan kamu sebagai bayi, lalu kamu
mencapai kedewasaanmu. Dan di antara kamu ada yang diwafatkan, dan
sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan
umurnya hingga pikun, sehingga ia
tidak mengetahui sedikit pun setelah ia mengetahui. Dan engkau melihat bumi
gersang lalu apabila
ke atasnya Kami menurunkan air ia
bergerak dan berkembang dan menumbuhkan
segala macam tumbuhan yang indah. Yang demikian itu karena sesungguhnya
Allzh Dia-lah Yang Maha
Benar dan sesungguhnya Dia-lah Yang menghidupkan yang mati,
dan sesungguhnya Dia berkuasa atas segala
sesuatu, (Al-Hājj [22]:6-7).
Demikianlah hubungan antara pensucian jasmani dengan ruh dalam melakukan wudhu dan tayamum dengan air
dan debu tanah.
Hubungan Shalat
dengan Pengorbanan
Demikian pula
gerakan-gerakan shalat yang
disertai dengan bacaan-bacaan shalat yang muncul dari ruh (hati) pun akan saling memperngaruhi.
Itulah sebabnya mendirikan shalat merupakan ciri kedua dari orang-orang bertakwa
yang beriman kepada yang gaib, sebagai pengaruh baik dari melakukan shalat
tersebut (QS.29:46; QS.11:145) akan
berlanjut dengan keinginan melakukan pengorbanan dari rezeki yang dikaruniakan
Allah Swt. kepadanya -- baik berupa harta, waktu, kemampuan serta lainnya -- sebagai bukti kecintaannya kepada Allah Swt. yang disembahnya dalam shalat,
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Alif
Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ -- Inilah Kitab
yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ -- petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ -- Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada yang
gaib, mendirikan shalat
dan mereka membelanjakan
sebagian dari apa yang Kami rezekikan
kepada mereka. Dan orang-orang
yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga
beriman kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada
akhirat pun
mereka yakin. الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ -- Mereka
itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb (Tuhan) mereka, dan mereka
itulah orang-orang
yang berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
Suri Teladan Sempurna Ke-Muslim-an Nabi Besar Muhammad Saw.
Semua
itu telah diperagakan secara sempurna – baik dari segi kuantitasnya mau pun kualitasnya – oleh Nabi Besar Muhammad
saw. sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا
قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا
ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ
وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku
(Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” قُلۡ
اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,
kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam, لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
-- untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi
seluruh bidang amal perbuatan
manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. disuruh menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua
amal ibadah beliau saw. dipersembahkan
kepada Allah Swt., semua
pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk
Dia; segala penghidupan dihibahkan
beliau saw. untuk berbakti
kepada-Nya, maka bila di jalan agama
beliau saw. mencari kematian maka itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
Nubuatan dan Peringatan Bagi Umat Islam Sebagai “Umat
Terbaik”
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya hanya menyembah Allah Swt. semata, tanpa
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
pun:
قُلۡ
اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ
کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ
فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ
جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ
لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰکُمۡ ؕ
اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Rabb
(Tuhan) yang bukan-Allah, padahal Dia-lah
Rabb
(Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan
akan menimpa dirinya, dan tidak
pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain. Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu,
maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa
yang mengenainya kamu berselisih. Dan Dia-lah
Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah
Dia berikan kepada kamu. Sesungguhnya
Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun,
Maha Penyayang. (Al-An’am
[6]:165-166).
Seperti
halnya ayat-ayat QS.17:16; QS.53:40-41, ayat ini: وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا
-- “Dan tiada jiwa mengupayakan
sesuatu melainkan akan menimpa
dirinya, وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی -- dan tidak
pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain” mengandung sanggahan
keras terhadap ajaran Penebusan Dosa
dan secara tegas menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri, yaitu harus mempertanggungjawabkan
amal-perbuatannya sendiri kepada Allah Swt.. Pengorbanan dari siapa pun sebagai pengganti tidak akan memberi manfaat.
Ayat selanjutnya: وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ
الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ
مَاۤ اٰتٰکُمۡ
-- “Dan Dia-lah Yang menjadikan
kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia
meninggikan sebagian kamu dari
sebagian yang lain dalam derajat
supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah
Dia berikan kepada kamu.” Ayat ini sekaligus merupakan anjuran dan peringatan
kepada kaum Muslimin. Mereka diberitahu bahwa kepada mereka akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan, dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa akan diserahkan ke tangan
mereka. Mereka harus melaksanakan
kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah
dan adil, sebab mereka harus
mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban mereka kepada Wujud Yang Menjadikan mereka:
اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ الۡعِقَابِ
۫ۖ وَ اِنَّہٗ لَغَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ -- “Sesungguhnya Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun,
Maha Penyayang.” (Al-An’am
[6]:166).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 12 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar