Sabtu, 15 Oktober 2016

Hubungan Erat "Ruh" Manusia" Dengan "Tubuh Jasmaninya" Dalam Ibadah & Ke-"Muslim"-an Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw.





Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 35

HUBUNGAN ERAT RUH MANUSIA DENGAN  TUBUH JASMANINYA  DALAM IBADAH & KE-MUSLIM- AN SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 34  dikemukakan  topik    Beriman Kepada yang Gaib Tanda Pertama Orang-orang Bertakwa.   Allah Swt. dalam Al-Quran sangat menekankan pentingnya “beriman kepada yang gaib” – terutama Allah Swt.,   Wujud Yang   Maha Gaib --  dan menjadi  tanda pertama dari orang-orang yang bertakwa, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ﴿﴾  ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Alif Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).   ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ  --   Inilah  Kitab yang sempurna itu,  tidak ada keraguan  di dalamnya, ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ  --   petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ  --  Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada  yang gaib, mendirikan shalat  dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang  diturunkan kepada engkau, juga beriman  kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau  dan kepada  akhirat pun mereka   yakin.    الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ --  Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas  petunjuk dari Rabb (Tuhan) mereka,  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
       Makna al-ghaib dalam ayat  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ  --  Yaitu orang-orang yang beriman kepada  yang gaib”,      berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah Swt.,   para malaikat dan hari kiamat,  semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19).

Hubungan Khusus  Al-Quran Dengan Orang-orang yang Bertakwa

        Oleh karena itu keliru sekali menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
       Kata  gaib  itu berarti hal-hal yang meskipun di luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada dari hal-hal  gaib  yang orang Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak nampak tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran benda-benda itu.
      Atas dasar kenyataan tersebut Allah Swt.  menyatakan bahwa  orang-orang bertakwa sajalah yang mendapat petunjuk  dari kesempurnaan Kitab suci Al-Quran (QS.1:6) dan yang akan mengambil banyak manfaat dari Al-Quran, sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّمَا تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ  الذِّکۡرَ  وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ ۚ فَبَشِّرۡہُ  بِمَغۡفِرَۃٍ وَّ اَجۡرٍ  کَرِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya engkau hanya dapat menasihati orang yang mengikuti peringatan itu  وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ --  dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah da-lam keadaan tidak tampak, maka berilah dia kabar gembira  mengenai am-punan dan ganjaran yang mulia. (Yā Sīn [36]:12).
Firman-Nya lagi:
وَ لَا تَزِرُ  وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ اِنۡ تَدۡعُ مُثۡقَلَۃٌ  اِلٰی حِمۡلِہَا لَا یُحۡمَلۡ مِنۡہُ شَیۡءٌ وَّ لَوۡ کَانَ ذَا قُرۡبٰی ؕ اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ وَ مَنۡ تَزَکّٰی فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی  لِنَفۡسِہٖ ؕ وَ  اِلَی  اللّٰہِ  الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  
Dan tidak ada jiwa berbeban dapat memikul beban orang lain, dan jika jiwa berbeban berat berseru kepada yang lain untuk memikul bebannya tidak akan dipikul sedikit pun darinya, walau pun ia kaum kerabat sendiri. اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ   --  Sesungguhnya   engkau hanya dapat memperingatkan orang-orang yang takut kepada  Rabb (Tuhan )mereka dalam keadaan menyendiri  serta mendirikan shalat. Dan barangsiapa mensucikan diri  maka ia hanya mensucikan untuk dirinya, dan kepada Allah kembali segala sesuatu.  (Al-Fāthir  [35]:19).

Pentingnya Memiliki “Makrifat Ilahi” yang Sempurna

       Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.  bersabda mengenai pentingnya memiLiki “makrifat Ilahi” yang sempurna, sehubungan dengan terhindarnya dari dosa serta mendapat kecintaan Allah Swt.:
    Wahai kalian yang aku sayangi, untuk menghindari dosa maka menurut falsafat hakiki yang telah teruji menyatakan bahwa manusia membutuhkan pemahaman yang sempurna dan bukannya bentuk-bentuk penebusan.
      Sesungguhnya aku dapat menyatakan  bahwa seandainya umat Nabi Nuh a.s. telah mencapai pemahaman hakiki yang menciptakan rasa takut yang sempurna tentunya mereka tidak akan ditenggelamkan. Kalau saja umat Nabi Luth a.s. dikaruniakan pemahaman tersebut maka mereka tidak akan diazab dengan hujan batu.
     Begitu pula negeri ini (Hindustan - pent)  kalau saja dianugrahi dengan pengenalan Ilahi yang bisa menjadikan mereka gemetar ketakutan  maka mereka tidak akan diganjar dengan wabah pes seperti yang telah berlaku sekarang ini.
      Pemahaman yang tidak sempurna tidak akan memberikan manfaat berarti, begitu pula dengan natijahnya (akibatnya)  dalam bentuk rasa takut dan kasih Ilahi juga tidak akan sempurna. Baik keimanan yang tidak sempurna, kecintaan yang tidak sempurna, rasa takut yang tidak sempurna dan pemahaman yang tidak sempurna, semuanya sama tidak ada gunanya, sama halnya dengan makanan atau minuman yang tidak sempurna atau lengkap adanya.
     Mungkinkah kalian dapat menghilangkan rasa lapar dengan sebutir beras atau meredakan rasa haus dengan setetes air? Karena itu, wahai kalian yang niatnya lemah dan kurang berupaya mencari kebenaran, bagaimana mungkin kalian bisa mengharapkan rahmat Tuhan yang akbar sebagai imbalan dari kasih dan rasa takut yang sedikit?
    Mensucikan seseorang dari gelimang dosa dan mengisi kalbunya dengan kecintaan Ilahi adalah kinerja dari Wujud Yang Maha Kuasa,  dimana guna menegakkan rasa takut kepada Kebesaran-Nya juga bergantung pada kehendak-Nya.
      Hukum alam yang abadi telah mengatur bahwa hal ini dikaruniakan setelah manusia berhasil mencapai pemahaman hakiki. Akar dari rasa takut dan kasih serta penghargaan kepada Tuhan adalah melalui pemahaman yang sempurna.      Mereka yang dikaruniai dengan pemahaman sempurna akan memperoleh karunia rasa takut dan rasa kasih yang sempurna pula,  dan hal ini akan membebaskannya dari dosa yang ditimbulkan akibat dari ketiadaan rasa takut tersebut. 
    Guna keselamatan seperti itu kita tidak memerlukan adanya pengurbanan darah dan penyaliban atau pun penebusan. Kita hanya perlu mengurbankan ego (keakuan) kita sejalan dengan fitrat kita sendiri.   Pengurbanan seperti inilah yang dengan kata lain diberi nama Islam. Pengertian dari Islam adalah menjulurkan leher kita guna disembelih, atau dengan kata lain menempatkan kalbu kita di hadirat Ilahi dengan keinginan sendiri yang sempurna. 
    Nama Islam adalah intipati dari semua kaidah dan merupakan ruh dari semua perintah. Kerelaan menjulurkan leher sendiri untuk disembelih menuntut adanya kecintaan dan pengabdian Ilahi yang sempurna, dimana semua itu hanya mungkin jika memiliki pemahaman sempurna.
       Arti kata Islam itu sendiri mengindikasikan bahwa untuk suatu pengurbanan yang sempurna diperlukan adanya pemahaman yang sempurna pula sebagai hasil dari kasih Ilahi yang sempurna juga. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ  لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ
Dagingnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah dan tidak pula darahnya, akan tetapi ketakwaan kamu itulah yang akan sampai kepada-Nya” (Al-Hājj [22]:38).
      Yakni “daging kurban yang kalian persembahkan itu tidak akan mencapai Diri-Ku, tidak juga darahnya. Pengurbanan yang sampai kepada-Ku hanyalah agar kalian takut kepada-Ku dan bertakwa demi Aku.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 150-152, London, 1984).

Hubungan Erat Ruh Manusia Dengan   Tubuh Jasmaninya

    Mungkin timbul pertanyaan: Jika bukan daging dan darah   dari   binatang-binatang kurban yang disembelih yang sampai kepada Allah Swt. melainkan ketakwaan si pelaku pengorbanan itulah yang sampai kepada-Nya, lalu apa hikmah adanya pengurbanan secara fisik dari penyembelihan binatang kurban tersebut?
     Sehubungan dengan hal tersebut  Masih Mau’ud a.s. dalam buku beliau “Islami Ushul ki  Filasafi  (Falsafah Ajaran Islam) menjelaskan bahwa terdapat hubungan erat antara jasmani manusia dengan ruhnya, contohnya jika  ruh (hati) manusia dalam keadaan gembira maka   tanda-tanda kegembiraan tersebut akan tampak  dalam penampilan jasmani, terutama pada wajah     tampak berseri-seri.
     Sebaliknya, jika ruh (hati) manusia dalam keadaan sedih  atau sedang menderita sakit maka gejala yang sama akan diperlihatkan oleh tubuh jasmaninya dan wajahnya, yakni wajahnya muram atau menangis.  Itulah sebabnya Allah Swt. dalam Al-Quran – selain telah menetapkan masalah halal dan haram dan lain-lain  --  juga telah menetapkan berbagai aturan ibadah dan pengorbanan kepada Allah Swt. yang melibatkan  baik jasmani mau pun ruh manusia. Contohnya gerakan-gerakan tertentu  dalam shalat yang disertai berbagai  bacaan-bacaan shalatnya yang telah diperagakan  Nabi Besar Muhammad saw.
       Demikian pula sebelum shalat pun keadaan tubuh, pakaian dan tempat shalat pun harus bersih. Jika dalam keadaan junub harus terlebih dulu mandi janabah dan berwudhu, jika tidak dalam keadaan junub cukup berwudhu saja. Jika tidak ada air untuk  mandi janabah dan wudhu boleh melakukan tayamum  antara lain dengan menggunakan debu tanah yang bersih.
       Melakukan  tayamum dengan debu  memberikan bukti penguat bahwa  terdapat hubungan erat antara niat  dengan  perbuatan jasmani, sebab secara logika debu tidak akan dapat membersihkan  tubuh manusia   seperti air, malah sebaliknya. Tetapi kaidahnya  sama dengan  firman Allah Swt. mengenai pengorbanan binatang ternak, firman-Nya:
لَنۡ یَّنَالَ اللّٰہَ  لُحُوۡمُہَا وَ لَا دِمَآؤُہَا وَ لٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ
Dagingnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah dan tidak pula darahnya, akan tetapi ketakwaan kamu itulah yang akan sampai kepada-Nya” (Al-Hājj [22]:38).
    Yakni bukan airnya atau pun  debunya  yang  akan diterima oleh Allah Swt. sebagai upaya pembersihan tubuh jasmani  ketika melakukan wudhu atau tayyamum melainkan niatnya atau ketaatannya atau ketakwaannya itulah yang akan diterima Allah Swt..
    Debu tanah (turāb) dijadikan alternative sebagai sarana pengganti air dalam tayamum  hikmahnya antara lain untuk mengingatkan manusia kepada asal penciptaannya dari turaāb (debu tanah – QS.3:60;  QS.18:38; QS.30:21; QS.35:12; QS.40:68), firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا النَّاسُ  اِنۡ  کُنۡتُمۡ فِیۡ رَیۡبٍ مِّنَ الۡبَعۡثِ فَاِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ ثُمَّ مِنۡ نُّطۡفَۃٍ  ثُمَّ مِنۡ عَلَقَۃٍ  ثُمَّ مِنۡ مُّضۡغَۃٍ مُّخَلَّقَۃٍ  وَّ غَیۡرِ مُخَلَّقَۃٍ  لِّنُبَیِّنَ لَکُمۡ ؕ وَ نُقِرُّ  فِی الۡاَرۡحَامِ مَا نَشَآءُ  اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی ثُمَّ نُخۡرِجُکُمۡ طِفۡلًا ثُمَّ  لِتَبۡلُغُوۡۤا  اَشُدَّکُمۡ ۚ وَ مِنۡکُمۡ  مَّنۡ یُّتَوَفّٰی وَ مِنۡکُمۡ مَّنۡ یُّرَدُّ  اِلٰۤی  اَرۡذَلِ الۡعُمُرِ لِکَیۡلَا یَعۡلَمَ مِنۡۢ بَعۡدِ عِلۡمٍ شَیۡئًا ؕ وَ تَرَی الۡاَرۡضَ ہَامِدَۃً  فَاِذَاۤ  اَنۡزَلۡنَا عَلَیۡہَا الۡمَآءَ   اہۡتَزَّتۡ وَ  رَبَتۡ وَ  اَنۡۢبَتَتۡ مِنۡ  کُلِّ  زَوۡجٍۭ  بَہِیۡجٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ بِاَنَّ اللّٰہَ ہُوَ الۡحَقُّ وَ اَنَّہٗ یُحۡیِ الۡمَوۡتٰی  وَ  اَنَّہٗ  عَلٰی کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ۙ﴿﴾

Hai manusia, jika kamu dalam keraguan mengenai kebangkitan kembali,   فَاِنَّا خَلَقۡنٰکُمۡ مِّنۡ تُرَابٍ -- maka sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari sepotong daging, sebagian telah berbentuk dan sebagian lagi belum berbentuk, supaya Kami menjelaskan kepada kamu.  Dan Kami menempatkan di dalam rahim-rahim sebagaimana yang Kami kehendaki sampai masa yang telah ditentukan,  kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, lalu kamu mencapai kedewasaanmu. Dan di antara kamu ada yang diwafatkan,  dan sebagian dari kamu ada yang dipanjangkan umurnya hingga pikun, sehingga ia tidak mengetahui sedikit pun setelah ia mengetahui. Dan engkau melihat bumi gersang  lalu  apabila ke atasnya Kami menurunkan air   ia bergerak dan berkembang dan menumbuhkan segala macam tumbuhan yang indah.  Yang demikian itu  karena sesungguhnya Allzh Dia-lah Yang Maha Benar dan sesungguhnya  Dia-lah Yang menghidupkan yang mati, dan sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu, (Al-Hājj [22]:6-7). 
       Demikianlah hubungan antara pensucian jasmani dengan ruh dalam melakukan wudhu dan tayamum  dengan air dan debu tanah.

Hubungan Shalat dengan Pengorbanan

       Demikian pula  gerakan-gerakan shalat yang disertai dengan bacaan-bacaan shalat  yang muncul dari ruh (hati) pun akan saling memperngaruhi.  Itulah sebabnya mendirikan shalat merupakan ciri kedua dari orang-orang bertakwa yang beriman kepada yang gaib, sebagai pengaruh baik dari melakukan shalat tersebut  (QS.29:46; QS.11:145) akan berlanjut dengan keinginan melakukan pengorbanan dari rezeki yang dikaruniakan Allah Swt. kepadanya  -- baik berupa  harta, waktu, kemampuan serta lainnya  --  sebagai bukti kecintaannya kepada Allah Swt. yang disembahnya   dalam shalat,  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ﴿﴾  ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Alif Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).   ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ  --   Inilah  Kitab yang sempurna itu,  tidak ada keraguan  di dalamnya, ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ  --   petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ  --  Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada  yang gaib, mendirikan shalat  dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang  diturunkan kepada engkau, juga beriman  kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau  dan kepada  akhirat pun mereka   yakin.    الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ --  Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas petunjuk dari Rabb (Tuhan) mereka,  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).

Suri Teladan Sempurna Ke-Muslim-an Nabi Besar Muhammad Saw.

        Semua itu telah diperagakan secara sempurna – baik dari segi kuantitasnya mau pun kualitasnya – oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.”  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,  kehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh  alam, لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ  tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  --  untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:162-164).
  Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw.  disuruh menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt.,   semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt.,  semua pengorbanan dilakukan beliau  saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari kematian maka  itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Nubuatan dan Peringatan Bagi Umat Islam Sebagai “Umat Terbaik

    Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya hanya menyembah Allah Swt. semata, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun:
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ ؕ اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Katakanlah:  ”Apakah aku akan mencari  Rabb (Tuhan)  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah  Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain.   Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih.  Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepada kamu.  Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-An’am [6]:165-166).
  Seperti halnya ayat-ayat QS.17:16; QS.53:40-41, ayat ini:  وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا  -- “Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya,  وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی --  dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain mengandung sanggahan keras terhadap ajaran Penebusan Dosa dan secara tegas menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri, yaitu harus  mempertanggungjawabkan amal-perbuatannya sendiri kepada Allah Swt.. Pengorbanan dari siapa pun sebagai pengganti tidak akan memberi manfaat.
     Ayat selanjutnya:  وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ  -- “Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat  supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepada kamu.” Ayat ini sekaligus merupakan anjuran dan peringatan kepada kaum Muslimin. Mereka diberitahu bahwa kepada mereka akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan, dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa akan diserahkan ke tangan mereka. Mereka harus melaksanakan kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah dan adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban mereka kepada Wujud Yang Menjadikan mereka:  اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- “Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-An’am [6]:166).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 12 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar