Senin, 24 Oktober 2016

Hubungan Perintah "Istighfar" Dengan "Kemenangan yang Dijanjikan" Kepada Nabi Besar Muhammad Saw. & Pengakuan "Kealfaan" (Kesalahan) Adam Mengundang "Maghfirah Ilahi"



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 42

HUBUNGAN PERINTAH   ISTIGHFAR DENGAN   KEMENANGAN YANG DIJANJIKAN   KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. &   PENGAKUAN KEALFAAN  (KESALAHAN) ADAM MENGUNDANG MAGHFIRAH ILAHI  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian   Bab 41 dikemukakan   mengenai  hikmah perintah memohon maghfirah Ilahi kepada Nabi Besar Muhammad saw.   serta makna junah, jurm, itsm, dan dzanb sehubungan firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ  --  Supaya Allah melindungi  engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا --  dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa.    (Al-Fath [48]:1-4).
   Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu, yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
  Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya”  atau “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”

Perintah Istighfar Tidak Ada Hubungan Dengan Masalah Dosa Nabi Besar Muhammad Saw.

   Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku), berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
  Jadi, ayat  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ   --  “Supaya Allah melindungi  engkau dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang”  yang sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — yaitu Perjanjian Hudaibiyah  yang kemudian mengakibatkan terjadinya  peristiwa Fatah Mekkah  --  semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh  Nabi Besar Muhammad saw.   kepada beliau saw. , yakni bahwa beliau saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia, dan sebagainya, akan terbukti palsu semua,  sebab segala macam orang  yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw..
  Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam maka dosa mereka diampuni. Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas  Nabi Besar Muhammad saw.   diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa beliau saw. jika kata  dzanb dianggap berarti dosa.
  Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau saw.  dari golongan Ahli Kitab  dan yang lainnya pun akan dielakkan dan beliau saw.  akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
  Pertolongan Ilahi dalam ayat وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  -- “dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa”  membantah secara telak mengenai tuduhan dusta tersebut, sebab mustahil Allah Swt. akan menolong  Nabi Besar Muhammad saw. jika beliau saw. melakukan berbagai dosa yang dituduhkan pihak lawan tersebut.
  Pertolongan Allah Swt. tersebut datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah, dan  Nabi Besar Muhammad saw.  diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat, sebagaimana  firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,   dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa.    (Al-Fath [48]:1-4).

Hubungan Perintah  Istighfar dengan Kemenangan yang Dijanjikan

        Sehubungan dengan “kemenangan yang dijanjikan” tersebut Allah Swt.  lagi:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,   dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondongفَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ ؔ      -- Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau, وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕ --   dan mohonlah ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  --  sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4). 
  Makna kemenangan dalam ayat:  اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ   --  “apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan” adalah     kemenangan yang dijanjikan (QS.61:10). Karena janji Allah Swt.  telah menjadi sempurna, dan manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw.  di sini diperintahkan agar bersyukur kepada Allah Swt. karena Dia telah memenuhi janji-Nya agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya:   فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ    -- “Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau.”
   Dalam ayat selanjutnya وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕ --   “dan mohonlah ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا  -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat”   dikatakan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau  saw. dan Islam telah berkuasa di seluruh negeri dan musuh-musuh dahulu telah menjadi pengikut beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa dan mohon maghfirah Ilahi  supaya Allah Swt.  memaafkan kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.  pada masa lampau.
  Nampaknya  inilah arti dan maksud perintah kepada  Nabi Besar Muhammad saw. supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.. Atau artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw.  diperintahkan supaya memohon perlindungan Ilahi terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah sangat bermakna  bahwa manakala di dalam Al-Quran disebutkan perihal kemenangan atau perihal keberhasilan besar lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammd saw., beliau selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya. Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau  saw. diperintahkan agar  memohon ampunan Allah  Swt. dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau  saw. sendiri, melainkan bagi orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut beliau saw. menyimpang dari asas-asas dan ajaran-ajaran Islam, semoga kiranya Allah Swt.  menyelamatkan mereka dari kemelut serupa itu.
    Jadi, dalam  firman-Nya tersebut   sama sekali bukan berarti bahwa  Nabi Besar Muhammad saw.   beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Menurut Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan mutlak terhadap segala macam kelemahan akhlak atau terhadap penyimpangan dari jalan lurus (QS.33:22; QS.68:1-8).

Hubungan  Kata Iblis  Dengan  Kegagalan Makar Buruk Para Penentang    Rasul Allah

   Kembali kepada pembahasan ayat-ayat surah Az-Zumar dan surah Al-Mu’min  sebelumnya   mengenai pertanyaan para penjaga neraka jahannam  kepada para penghuninya berkenaan  kedatangan rasul Allah kepada mereka, firman-Nya:
وَ سِیۡقَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِلٰی جَہَنَّمَ  زُمَرًا ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءُوۡہَا فُتِحَتۡ  اَبۡوَابُہَا وَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قِیۡلَ  ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang kafir  akan digiring ke Jahannam  rombongan-rombongan, hingga apabila mereka sampai kepadanya pintu-pintunya  dibukakanوَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا --   dan penjaga-penjaganya akan berkata kepada mereka: “Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antara kamu sendiri membacakan kepada kamu Ayat-ayat Rabb (Tuhan) kamu, dan memberi peringatan kepada  kamu mengenai pertemuan pada harimu ini?” قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Mereka akan berkata: “Ya benar, tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap  orang-orang kafir.” قِیۡلَ  ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا  --  Akan dikatakan:  Masukilah pintu-pintu Jahannam, kamu akan kekal di dalamnya”,  فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ  -- maka sangat buruk tempat tinggal orang-orang yang  sombong.” (Al-Zumar [39]:72-73).
Firman-Nya lagi:
وَ اِذۡ یَتَحَآجُّوۡنَ فِی النَّارِ فَیَقُوۡلُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ  اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا نَصِیۡبًا مِّنَ النَّارِ ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا  اِنَّا  کُلٌّ  فِیۡہَاۤ  ۙ اِنَّ اللّٰہَ  قَدۡ حَکَمَ  بَیۡنَ الۡعِبَادِ ﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ   ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا مِّنَ الۡعَذَابِ ﴿﴾ قَالُوۡۤا  اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ قَالُوۡا  بَلٰی ؕ قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا  دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿٪﴾
Dan ketika mereka akan berbantah satu sama lain dalam Api, lalu orang-orang yang lemah akan berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut kamu  maka dapatkah kamu melepaskan dari kami se-bagian siksaan dari Api?”  Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah menghakimi di antara hamba-hamba-Nya.”  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ   -- Dan orang-orang yang ada dalam Api berkata kepada para penjaga Jahannam:   ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا مِّنَ الۡعَذَابِ  -- “Mohonkanlah kepada Rabb (Tuhan) kamu, supaya Dia  meringankan azab bagi kami barang sehari.” قَالُوۡۤا  اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ  --  Mereka  berkata:  Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul kamu dengan Tanda-tanda nyata?” ؕ قَالُوۡا  بَلٰی -- Mereka berkata: “Ya benar.” قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا  دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ  -- Para penjaga itu berkata: “Maka berdoalah kamu.   Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.  (Al-Mu’min [40]:48-51).
 Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “orang-orang yang takabbur” tersebut:
اِنَّ الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ  بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ۙ اِنۡ فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ  اِلَّا کِبۡرٌ مَّا ہُمۡ بِبَالِغِیۡہِ ۚ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Sesungguhnya  orang-orang yang berbantah mengenai  Tanda-tanda Allah tanpa suatu dalil yang telah datang kepada mereka, tidak ada sesuatu dalam dada mereka kecuali keinginan menjadi besar  yang  mereka sekali-kali  tidak akan pernah mencapainya.  فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  السَّمِیۡعُ  الۡبَصِیۡرُ -- Maka mohonlah per-lindungan kepada Allah, sesungguhnya  Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Al-Mu’min [40]:57).

Makna Kata Iblis

   Makna kibr  dalam ayat  اِنۡ فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ  اِلَّا کِبۡرٌ مَّا ہُمۡ بِبَالِغِیۡہِ   -- “tidak ada sesuatu dalam dada mereka kecuali keinginan menjadi besar  yang  mereka sekali-kali  tidak akan pernah mencapainya”  berarti: keangkuhan; keinginan atau hasrat menjadi besar; rencana-rencana besar (Lexicon Lane).
       Pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut    sesuai dengan makna kata iblis  yang berlaku takabbur terhadap Adam (Khalifah Allah) lalu mendapat laknat Allah Swt.   diusir dari “surga keridhaan-Nya”.  Kata iblis berasal dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2) ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang      Allah Swt.  (3) telah patah semangat; (4) telah bingung dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
      Berdasarkan akar-katanya,  arti kata iblis itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali memiliki kebaikan tapi banyak kejahatannya, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt.   oleh sikap pembangkangannya serta kedengkiannya sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan lagi pula tidak mampu melihat jalannya  yang benar
      Iblis seringkali dianggap sama dengan syaitan, tetapi dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab dalam kisah monumental  “Adam – Malaikat – Iblis” ia   dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt.  sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh” (QS.66:7).
      Allah Swt.  telah murka kepada iblis karena ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s. atau “sujud” kepada Adam,   tetapi iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan pula, sekalipun jika tiada perintah tersendiri bagi iblis, maka perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam semesta — dengan sendirinya mencakup juga semua wujud.
     Seperti dinyatakan di atas, iblis  sesungguhnya nama sifat yang diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa)  kepada ruh jahat yang bertolak belakang dari sifat malaikat yang senantiasa patuh-taat kepada Allah Swt.. Diberi nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali  luput dari kebaikan dan telah dibiarkan kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang  Allah Swt.     
      Bahwa iblis bukanlah syaitan — yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s.  dituturkan. Tetapi di mana-mana dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti kepada Adam a.s.   maka senantiasa Al-Quran menyebutnya dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam a.s.  diperintahkan keluar (hijrah)  dari “kebun” maka Al-Quran menyebutnya dengan nama  syaitan (QS,7:12-26).
      Perbedaan ini — yang sangat besar artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran  sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37; QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas memperlihatkan bahwa iblis   berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s.  dan merupakan salah seorang dari kaum Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi dan — berlainan dari para malaikat — mampu menaati atau menentang Allah Swt.  (QS.7:12-13).

Maghfirah Ilahi Menutupi “Aurat” Adam dan “istrinya” (Jama’ahnya)

     Jadi, maghfirah Ilahi itulah yang   telah menutupi “aurat” (kelemahan) Adam (khalifah Allah) dan “istrinya” (jamaahnya),   karena beliau  mengakui “kealfaan” (kelupaan)  terhadap peringatan Allah Swt. mengenai tipu-daya  “syaitan” (QS.20:116)  -- yang disebut “pohon terlarang”  (QS.2:36; QS.7:20-24) -- dan memohon maghfirah Ilahi, firman-Nya:
فَتَلَقّٰۤی اٰدَمُ مِنۡ رَّبِّہٖ کَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَیۡہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ  التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ  وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu Adam mempelajari beberapa  kalimat doa dari Rabb-nya (Tuhan-nya), maka Dia menerima taubatnya, sesungguhnya  Dia benar-benar Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.   Kami berfirman:  “Pergilah kamu semua  dari sini, lalu jika datang kepada kamu suatu petunjuk dari-Ku, lalu  barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka tidak  ada ketakutan  atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih.” Tetapi  orang-orang yang kafir dan mendustakan Ayat-ayat Kami, mereka adalah penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:38-40).
  Mengisyaratkan kepada  doa  memohon  maghfirah Ilahi itu pulalah    makna “beberapa  kalimat dalam firman-Nya  tersebut:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata:   ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kamiوَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ --  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi” (Al-A’rāf [7]:7).
  Adam    segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat rujuk (kembali) kepada Allah Swt. yakni   taubat. Sesungguhnya kesalahan  Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik, sungguhpun Allah Swt.   telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang (manusia  syaitan)  itu dan Allah Swt. mengabulkan  permohonan maghfirah-Nya tersebut  bahkan  memilih  Adam  untuk menerima karunia-Nya   firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾  فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی ﴿﴾  قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾
Maka  syaitan membisik­kan waswas kepadanya. Ia ber­kata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan dan ke-rajaan yang tidak akan binasa?"  فَاَکَلَا مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ  --  Maka  keduanya makan darinya, lalu  tampak­lah bagi mereka berdua kelemahan-­kelemahan mereka, وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --     dan ke­duanya menutupi tubuh mereka dengan daun-daun  surga. وَ عَصٰۤی  اٰدَمُ   رَبَّہٗ  فَغَوٰی  --   Dan Adam telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)  maka ia menderita.  ثُمَّ  اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ  فَتَابَ عَلَیۡہِ  وَ  ہَدٰی  --  Kemudian  Rabb-nya (Tuhan-nya) memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk.  قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ --    Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  --  Maka apabila datang ke-padamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ma-ka ia tidak akan sesat  dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی  --  "Dan  barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (Thā Hā[20]:121-125).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 22 Oktober 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar