Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
42
HUBUNGAN PERINTAH ISTIGHFAR DENGAN KEMENANGAN YANG DIJANJIKAN KEPADA
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. & PENGAKUAN KEALFAAN (KESALAHAN) ADAM MENGUNDANG MAGHFIRAH ILAHI
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian Bab 41
dikemukakan mengenai hikmah perintah memohon
maghfirah Ilahi kepada Nabi Besar
Muhammad saw. serta makna junah, jurm,
itsm, dan dzanb sehubungan
firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ
وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ
یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa
yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا -- dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah,
jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu, yang dipergunakan dalam
Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak
mengandung arti buruk seperti
dimiliki ketiga buah kata lainnya.
Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran
ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap
mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau
telah melakukannya” atau “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”
Perintah Istighfar Tidak
Ada Hubungan Dengan Masalah Dosa Nabi
Besar Muhammad Saw.
Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb
itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain
dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku),
berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
Jadi, ayat
لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ --
“Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa
yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang” yang
sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — yaitu Perjanjian
Hudaibiyah yang kemudian
mengakibatkan terjadinya peristiwa Fatah Mekkah -- semua tuduhan
dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau saw. , yakni bahwa beliau
saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia, dan sebagainya, akan terbukti palsu semua, sebab
segala macam orang yang mempunyai
hubungan dengan para pengikut beliau akan menjumpai
kebenaran mengenai beliau saw..
Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau
oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang
telah terjadi, ketika Mekkah jatuh
dan orang-orang Arab menerima agama Islam maka dosa mereka diampuni. Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini,
sebab anugerah kemenangan yang nyata
dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat
sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa beliau saw. jika kata dzanb dianggap berarti dosa.
Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya
tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan
yang akan dilemparkan terhadap beliau saw. di
masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau saw. dari golongan Ahli Kitab dan yang lainnya pun
akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
Pertolongan
Ilahi dalam ayat وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا --
“dan Allah akan menolong engkau dengan
pertolongan yang perkasa” membantah
secara telak mengenai tuduhan dusta
tersebut, sebab mustahil Allah Swt. akan menolong Nabi Besar Muhammad saw. jika beliau saw.
melakukan berbagai dosa yang dituduhkan pihak lawan tersebut.
Pertolongan Allah Swt. tersebut datang dalam
bentuk tersebarnya agama Islam secara
cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian
Hudaibiyah, dan Nabi Besar Muhammad
saw. diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka
dan berdaulat, sebagaimana firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ
وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ
یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan nama Allah, Maha
Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa
yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Hubungan Perintah
Istighfar dengan Kemenangan yang Dijanjikan
Sehubungan dengan “kemenangan yang dijanjikan” tersebut
Allah Swt. lagi:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ
النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ
اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan engkau melihat manusia masuk
dalam agama Allah berbondong-bondong,
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ ؔ -- Maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau, وَ
اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕ -- dan mohonlah
ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
Makna kemenangan
dalam ayat: اِذَا جَآءَ
نَصۡرُ اللّٰہِ وَ الۡفَتۡحُ
-- “apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan”
adalah kemenangan yang dijanjikan (QS.61:10). Karena janji
Allah Swt. telah menjadi sempurna, dan
manusia mulai berduyun-duyun masuk Islam, maka Nabi Besar Muhammad saw. di sini diperintahkan agar bersyukur kepada Allah Swt. karena Dia
telah memenuhi janji-Nya agar beliau saw. mendendangkan puji-pujian bagi-Nya:
فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ -- “Maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau.”
Dalam
ayat selanjutnya وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕ -- “dan mohonlah
ampunan-Nya, اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- sesungguhnya Dia Maha
Penerima taubat” dikatakan kepada Nabi Besar Muhammad saw. bahwa oleh karena kemenangan telah datang kepada beliau saw. dan Islam
telah berkuasa di seluruh negeri dan
musuh-musuh dahulu telah menjadi pengikut
beliau saw. yang mukhlis, maka beliau saw. harus berdoa dan mohon maghfirah
Ilahi supaya Allah Swt. memaafkan
kesalahan-kesalahan besar yang pernah dilakukan mereka terhadap beliau saw.
pada masa lampau.
Nampaknya inilah arti dan maksud perintah kepada Nabi Besar Muhammad saw. supaya memohon ampunan kepada Allah Swt.. Atau
artinya ialah bahwa Nabi Besar Muhammad saw. diperintahkan
supaya memohon perlindungan Ilahi
terhadap kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan yang dapat menyelinap ke dalam tubuh jemaat kaum Muslimin, disebabkan para muallaf kurang
mendapat pengajaran atau pendidikan yang memadai.
Adalah
sangat bermakna bahwa manakala di dalam
Al-Quran disebutkan perihal kemenangan
atau perihal keberhasilan besar
lainnya datang kepada Nabi Besar Muhammd saw., beliau selalu diperintahkan agar memohon ampunan Tuhan dan perlindungan-Nya.
Hal itu jelas menunjukkan, bahwa dalam ayat ini pun, beliau saw. diperintahkan agar memohon ampunan
Allah Swt. dan perlindungan-Nya, bukan bagi diri beliau saw. sendiri, melainkan bagi
orang-orang lain, yaitu beliau saw. diperintahkan
agar berdoa bilamana ada bahaya datang, ketika para pengikut
beliau saw. menyimpang dari asas-asas
dan ajaran-ajaran Islam, semoga
kiranya Allah Swt. menyelamatkan mereka dari kemelut
serupa itu.
Jadi,
dalam firman-Nya tersebut sama
sekali bukan berarti bahwa Nabi Besar
Muhammad saw. beristighfar bagi salah satu perbuatan beliau saw. sendiri. Menurut
Al-Quran, beliau saw. menikmati kekebalan
mutlak terhadap segala macam kelemahan
akhlak atau terhadap penyimpangan
dari jalan lurus (QS.33:22;
QS.68:1-8).
Hubungan Kata Iblis Dengan
Kegagalan Makar Buruk Para
Penentang Rasul Allah
Kembali kepada pembahasan ayat-ayat surah Az-Zumar
dan surah Al-Mu’min sebelumnya mengenai pertanyaan
para penjaga neraka jahannam kepada para penghuninya berkenaan kedatangan rasul
Allah kepada mereka, firman-Nya:
وَ سِیۡقَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِلٰی
جَہَنَّمَ زُمَرًا ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءُوۡہَا فُتِحَتۡ اَبۡوَابُہَا وَ قَالَ لَہُمۡ
خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ
مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ
یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
قِیۡلَ ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا ۚ فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang kafir akan digiring ke Jahannam rombongan-rombongan, hingga apabila mereka sampai kepadanya
pintu-pintunya dibukakan, وَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ
عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا -- dan penjaga-penjaganya akan berkata kepada mereka: “Bukankah telah datang kepada kamu
rasul-rasul dari antara kamu sendiri membacakan kepada kamu Ayat-ayat Rabb
(Tuhan) kamu, dan memberi peringatan
kepada kamu mengenai pertemuan pada
harimu ini?” قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ
کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- Mereka akan berkata: “Ya benar, tetapi telah pasti
berlaku ketetapan azab terhadap
orang-orang kafir.” قِیۡلَ ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا -- Akan dikatakan: ”Masukilah pintu-pintu Jahannam, kamu akan kekal di dalamnya”, فَبِئۡسَ
مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ -- maka sangat buruk tempat tinggal orang-orang
yang sombong.” (Al-Zumar [39]:72-73).
Firman-Nya
lagi:
وَ اِذۡ یَتَحَآجُّوۡنَ
فِی النَّارِ فَیَقُوۡلُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا
لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ اَنۡتُمۡ
مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا نَصِیۡبًا مِّنَ النَّارِ ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا
اِنَّا کُلٌّ فِیۡہَاۤ
ۙ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ حَکَمَ بَیۡنَ الۡعِبَادِ ﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا
مِّنَ الۡعَذَابِ ﴿﴾
قَالُوۡۤا اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ
بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ؕ
قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا دُعٰٓؤُا
الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿٪﴾
Dan ketika mereka akan berbantah satu sama lain
dalam Api, lalu orang-orang yang
lemah akan berkata kepada orang-orang
yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami
adalah pengikut kamu maka dapatkah kamu melepaskan dari kami
se-bagian siksaan dari Api?” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah menghakimi di antara
hamba-hamba-Nya.” وَ قَالَ الَّذِیۡنَ
فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ -- Dan orang-orang
yang ada dalam Api berkata kepada para
penjaga Jahannam: ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا
مِّنَ الۡعَذَابِ -- “Mohonkanlah
kepada Rabb (Tuhan) kamu, supaya Dia meringankan azab bagi kami barang sehari.”
قَالُوۡۤا اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ
بِالۡبَیِّنٰتِ -- Mereka
berkata: ”Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul
kamu dengan Tanda-tanda nyata?” ؕ
قَالُوۡا بَلٰی -- Mereka berkata: “Ya benar.” قَالُوۡا فَادۡعُوۡا
ۚ وَ مَا دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ -- Para
penjaga itu berkata: “Maka berdoalah
kamu. Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka. (Al-Mu’min
[40]:48-51).
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai “orang-orang yang takabbur” tersebut:
اِنَّ
الَّذِیۡنَ یُجَادِلُوۡنَ فِیۡۤ اٰیٰتِ
اللّٰہِ بِغَیۡرِ سُلۡطٰنٍ اَتٰہُمۡ ۙ
اِنۡ فِیۡ صُدُوۡرِہِمۡ اِلَّا کِبۡرٌ
مَّا ہُمۡ بِبَالِغِیۡہِ ۚ فَاسۡتَعِذۡ بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
السَّمِیۡعُ الۡبَصِیۡرُ ﴿﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berbantah mengenai
Tanda-tanda Allah tanpa suatu
dalil yang telah datang kepada mereka,
tidak ada sesuatu dalam dada mereka kecuali keinginan menjadi besar yang mereka sekali-kali tidak akan pernah mencapainya. فَاسۡتَعِذۡ
بِاللّٰہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ السَّمِیۡعُ
الۡبَصِیۡرُ -- Maka mohonlah
per-lindungan kepada Allah, sesungguhnya
Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (Al-Mu’min [40]:57).
Makna Kata Iblis
Makna kibr dalam ayat اِنۡ فِیۡ
صُدُوۡرِہِمۡ اِلَّا کِبۡرٌ مَّا ہُمۡ
بِبَالِغِیۡہِ --
“tidak ada
sesuatu dalam dada mereka kecuali keinginan menjadi besar yang mereka sekali-kali tidak akan pernah mencapainya” berarti:
keangkuhan; keinginan atau hasrat menjadi
besar; rencana-rencana besar (Lexicon Lane).
Pernyataan Allah Swt. dalam ayat tersebut sesuai dengan makna kata iblis yang berlaku takabbur terhadap Adam
(Khalifah Allah) lalu mendapat laknat
Allah Swt. diusir dari “surga
keridhaan-Nya”. Kata iblis berasal
dari ablasa, yang berarti: (1) kebaikan dan kebajikannya berkurang; (2)
ia sudah melepaskan harapan atau jadi putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. (3) telah patah semangat; (4) telah bingung
dan tidak mampu melihat jalannya; dan (5) ia tertahan dari mencapai harapannya.
Berdasarkan akar-katanya, arti kata iblis
itu adalah suatu wujud yang sedikit sekali
memiliki kebaikan tapi banyak kejahatannya, dan disebabkan oleh rasa putus asa akan kasih-sayang Allah Swt. oleh sikap pembangkangannya serta kedengkiannya
sendiri, maka ia dibiarkan dalam kebingungan
lagi pula tidak mampu melihat jalannya yang benar
Iblis seringkali
dianggap sama dengan syaitan, tetapi
dalam beberapa hal berlainan dari dia. Harus dipahami bahwa iblis itu bukan salah seorang dari para malaikat, sebab dalam kisah monumental “Adam – Malaikat – Iblis” ia dilukiskan sebagai tidak patuh kepada Allah Swt. sedangkan para malaikat dilukiskan sebagai senantiasa “tunduk” dan “patuh”
(QS.66:7).
Allah Swt. telah murka kepada iblis karena
ia pun diperintahkan mengkhidmati Adam a.s. atau “sujud”
kepada Adam, tetapi
iblis membangkang (QS.7:13). Tambahan
pula, sekalipun jika tiada perintah
tersendiri bagi iblis, maka perintah kepada para malaikat harus dianggap meliputi semua wujud, sebab perintah kepada para malaikat — sebagai penjaga berbagai bagian alam
semesta — dengan sendirinya mencakup
juga semua wujud.
Seperti dinyatakan di atas, iblis
sesungguhnya nama sifat yang
diberikan atas dasar arti akar kata itu (ablasa) kepada ruh
jahat yang bertolak belakang dari
sifat malaikat yang senantiasa patuh-taat kepada Allah Swt.. Diberi
nama demikian karena ia mempunyai sifat-sifat
buruk seperti dirinci di atas, terutama bahwa ia sama sekali luput
dari kebaikan dan telah dibiarkan
kebingungan dalam langkahnya dan hilang harapan akan kasih-sayang Allah Swt.
Bahwa iblis bukanlah syaitan
— yang disebut dalam QS.2:37 — jelas dari ke-nyataan bahwa Al-Quran menyebut
kedua nama itu berdampingan, kapan saja riwayat Adam a.s. dituturkan. Tetapi di mana-mana
dilakukan pemisahan yang cermat antara keduanya itu, yaitu kapan saja Al-Quran
membicarakan makhluk yang — berbeda dari para malaikat — menolak berbakti kepada Adam a.s. maka senantiasa Al-Quran menyebutnya
dengan nama iblis, tetapi bila Al-Quran membicarakan wujud yang menipu Adam a.s. dan menjadi sebab Adam
a.s. diperintahkan keluar (hijrah) dari “kebun”
maka Al-Quran menyebutnya dengan nama syaitan
(QS,7:12-26).
Perbedaan ini — yang sangat besar
artinya dan tetap dipertahankan dalam Al-Quran sedikitnya pada sepuluh tempat (QS.2:35, 37;
QS.7:12, 21; QS.15:32; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117, 121; QS.38:75) — jelas
memperlihatkan bahwa iblis berbeda dari syaitan yang menipu Adam a.s. dan merupakan salah seorang dari kaum
Nabi Adam a.s. sendiri. Di tempat lain Al-Quran mengatakan bahwa iblis tergolong makhluk-makhluk Allah tersembunyi
dan — berlainan dari para malaikat —
mampu menaati atau menentang Allah Swt. (QS.7:12-13).
Maghfirah
Ilahi Menutupi “Aurat” Adam dan “istrinya” (Jama’ahnya)
Jadi, maghfirah Ilahi itulah
yang telah menutupi “aurat” (kelemahan) Adam (khalifah Allah) dan “istrinya” (jamaahnya), karena
beliau mengakui “kealfaan” (kelupaan)
terhadap peringatan Allah Swt.
mengenai tipu-daya “syaitan” (QS.20:116) -- yang disebut “pohon terlarang” (QS.2:36;
QS.7:20-24) -- dan memohon maghfirah
Ilahi, firman-Nya:
فَتَلَقّٰۤی اٰدَمُ مِنۡ
رَّبِّہٖ کَلِمٰتٍ فَتَابَ عَلَیۡہِ ؕ اِنَّہٗ ہُوَ التَّوَّابُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ قُلۡنَا اہۡبِطُوۡا
مِنۡہَا جَمِیۡعًا ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی فَمَنۡ تَبِعَ
ہُدَایَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا
ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡا وَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ
فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿٪﴾
Lalu Adam mempelajari beberapa kalimat doa dari Rabb-nya (Tuhan-nya), maka Dia
menerima taubatnya, sesungguhnya Dia benar-benar Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. Kami
berfirman: “Pergilah kamu semua dari sini,
lalu jika datang kepada kamu suatu petunjuk
dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan
bersedih.” Tetapi orang-orang
yang kafir dan mendustakan Ayat-ayat
Kami, mereka adalah penghuni Api, mereka
kekal di dalamnya. (Al-Baqarah [2]:38-40).
Mengisyaratkan kepada
doa memohon
maghfirah Ilahi itu pulalah makna “beberapa kalimat” dalam firman-Nya tersebut:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami
telah berlaku zalim terhadap diri kami,
وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ
مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ -- dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi
kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang yang rugi” (Al-A’rāf [7]:7).
Adam
segera menyadari kekeliruan beliau lalu cepat-cepat rujuk (kembali) kepada Allah Swt. yakni taubat. Sesungguhnya kesalahan Adam a.s. terletak
pada anggapan beliau bahwa
"manusia syaitan" itu bermaksud
baik, sungguhpun Allah Swt. telah
memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang
(manusia syaitan) itu dan Allah Swt. mengabulkan permohonan maghfirah-Nya tersebut bahkan
memilih Adam untuk menerima karunia-Nya firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ
اِلَیۡہِ الشَّیۡطٰنُ قَالَ یٰۤـاٰدَمُ ہَلۡ اَدُلُّکَ عَلٰی شَجَرَۃِ الۡخُلۡدِ
وَ مُلۡکٍ لَّا یَبۡلٰی ﴿﴾ فَاَکَلَا
مِنۡہَا فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ
وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی
اٰدَمُ رَبَّہٗ فَغَوٰی ﴿﴾۪ۖ ثُمَّ اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ عَلَیۡہِ وَ
ہَدٰی ﴿﴾ قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ
لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ
ہُدَایَ فَلَا یَضِلُّ
وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾
Maka
syaitan membisikkan waswas kepadanya. Ia berkata: "Hai Adam, maukah aku tunjukkan kepada engkau pohon kekekalan dan ke-rajaan
yang tidak akan binasa?" فَاَکَلَا مِنۡہَا
فَبَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ -- Maka keduanya
makan darinya, lalu tampaklah bagi mereka berdua kelemahan-kelemahan
mereka, وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ۫ وَ عَصٰۤی
اٰدَمُ رَبَّہٗ فَغَوٰی -- dan keduanya
menutupi tubuh mereka dengan daun-daun
surga. وَ عَصٰۤی اٰدَمُ
رَبَّہٗ فَغَوٰی -- Dan Adam
telah mendurhakai Rabb-nya (Tuhan-nya)
maka ia menderita. ثُمَّ
اجۡتَبٰہُ رَبُّہٗ فَتَابَ
عَلَیۡہِ وَ ہَدٰی -- Kemudian Rabb-nya
(Tuhan-nya) memilihnya maka
Dia menerima taubatnya dan memberi petunjuk. قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا
بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ -- Dia berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian
yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی -- Maka apabila
datang ke-padamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku, ma-ka ia tidak akan sesat dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.
وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ
لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی -- "Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya
baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami
akan membangkit-kannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta (Thā Hā[20]:121-125).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 22 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar