Jumat, 21 Oktober 2016

"Doa" Khusus Nabi Besar Muhammad Saw. Menjelang Perang Badar yang Mengundang "Mukjizat" & Cara Menjalin "Hubungan" Dengan Allah Swt.


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 40

DOA KHUSUS NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MENJELANG PERANG BADAR  YANG MENGUNDANG MUKJIZAT &  &   CARA MENJALIN HUBUNGAN DENGAN ALLAH SWT.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 39  dikemukakan   mengenai     makna  mukjizat Nabi Musa a.s. berikutnya dalam ayat:  وَّ نَزَعَ یَدَہٗ  فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ  لِلنّٰظِرِیۡنَ --    ”dan  ia mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang yang memperhatikan” (Asy-Syu’ara [26]:34).
    Tubuh orang-orang yang tinggi keruhaniannya mengeluarkan sinar-sinar berbagai warna menurut derajat atau sifat (kaifiat) perkembangan ruhani mereka.  Sinar-sinar yang dikeluarkan tubuh para nabi  Allah itu putih bersih. Begitu pula sinar-sinar yang keluar dari tangan Nabi Musa a.s.  – yang dalam dunia prana sering disebut aura --   tentunya berwarna demikian juga bila sinar-sinar itu dinampakkan, tangan beliau tentu tampak berwarna putih kepada orang-orang yang melihatnya.
    Orang-orang pernah mempunyai pengalaman-pengalaman ruhani semacam itu ada di masa nabi-nabi Allah lain juga.  Allah Swt. berfirman kepada Nabi Musa a.s.: "Masukkan tangan engkau ke dalam dada engkau, niscaya tangan itu akan keluar putih tanpa kesan buruk” (QS.28:33).
      Dalam bahasa perumpamaan kalimat itu merupakan satu isyarat yang jelas kepada Nabi Musa a.s.   bahwa bila beliau menghimpun pengikut-pengikut beliau langsung di bawah asuhan beliau, bukan hanya mereka sendiri akan menjadi manusia-manusia bercahaya, tetapi juga memberikan cahaya kepada orang-orang lain.
 Tetapi bila tidak dihimpun dibawah asuhan Nabi Musa a.s.  mereka tidak hanya akan menjadi hitam, tetapi juga akan mengidap bermacam penyakit akhlaki atau akan berubah seperti ular  seperti  tongkat Nabi Musa a.s. yang dilemparkan beliau. Oleh karena itu mukjizat tersebut bukan pertunjukan tukang sihir, melainkan suatu Tanda Kebenaran yang sarat dengan arti keruhanian yang mendalam.

Berbagai Makna “Sihir

Menanggapi mukjizat-mukjizat Nabi Musa a.s. tersebut  Fir’aun menanggapinya negative, firman-Nya:
قَالَ لِلۡمَلَاِ حَوۡلَہٗۤ  اِنَّ ہٰذَا  لَسٰحِرٌ  عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾   یُّرِیۡدُ  اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ  اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ ٭ۖ  فَمَا ذَا  تَاۡمُرُوۡنَ  ﴿﴾
Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar di sekelilingnya: “Sesungguhnya ia benar-benar tukang sihir yang pandai.   Dia berkehendak   dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu  maka apakah yang kamu anjurkan?” (Asy-Syu’arā [26]:35-36).  
      Sihr berarti: akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain dari kenyataannya (Lexicon Lane). Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tujuan sebenarnya dari penglihatan orang adalah termasuk sihir juga.
        Kata sāhir tidak selamanya harus diartikan tukang sihir, kata itu pun berarti orang yang mempunyai daya pikat; orang yang terampil dan cerdas; orang yang sanggup membuat orang lain melihat sesuatu benda nampak lain dari keadaan yang sebenarnya; penipu, penyihir mata atau perayu, dan lain-lain (Lexicon Lane).        
  Kata-kata:   یُّرِیۡدُ  اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ  اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ  -- “ Dia berkehendak   dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu”  itu dimaksudkan untuk menghasut orang-orang Mesir supaya melawan Nabi Musa a.s.  padahal sebenarnya Nabi Musa a.s.  tidak berkeinginan mengusir mereka. Tugas beliau hanyalah harus membawa kaumnya sendiri keluar dari Mesir.

Cahaya Wahyu Ilahi dan Doa yang Khusyuk

     Sehubungan dengan cahaya  sebagai sarana  pengusir kegelapan, Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pentingnya wahyu Ilahi  yang  juga merupakan “cahaya” Allah Swt.:
     “Jangan pernah mengharapkan bahwa ada cara lain guna mensucikan ego (keakuan)  manusia. Sebagaimana kegelapan dunia hanya bisa diusir dengan cahaya, begitu juga dengan kegelapan kalbu yang berdosa hanya bisa dicerahkan oleh nur wahyu Ilahi.
    Melalui nur wahyu Ilahi dengan sinarnya yang cemerlang  akan nyata baginya bahwa Tuhan itu eksis (ada), sehingga segala keraguan akan sirna dan ia memperoleh kepuasan dan ketenangan. Melalui daya tarik Samawi yang kuat maka yang bersangkutan akan diangkat ke langit. Semua obat penawar lainnya  --  selain dengan cara di atas  --  adalah suatu hal yang dusta dan sia-sia.
  Namun untuk pensucian yang sempurna  pemahaman saja tidaklah cukup, masih harus disertai dengan doa yang khusyuk. Allah Yang Maha Agung bersifat Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum), dimana untuk menarik rahmat-Nya diperlukan doa khusyuk yang diikuti air mata tangis, ketulusan, kesalehan dan hati yang trenyuh.
  Kita sama mengetahui bagaimana seorang anak bayi mengenali ibunya dan bagaimana ibu itu menyayangi anaknya, namun yang merangsang keluarnya air susu ibu adalah tangis anak tersebut. Jika ada anak bayi menangis sedih karena lapar perutnya, sang ibu akan demikian terpengaruh oleh tangis tersebut sehingga air susu akan langsung dihasilkan dalam dadanya. Begitu juga kiranya para pencari kebenaran harus  memperlihatkan kelaparan dan kehausan ruhaniahnya melalui ratap tangis agar susu ruhani bisa dihasilkan guna memuaskan batinnya.

Taubat Dapat Memadamkan Api Dosa    

    Bagi pensucian ruhani, pemahaman saja tidaklah cukup. Untuk itu diperlukan juga tangis yang meratap hati laiknya anak kecil. Jangan pernah putus asa dan jangan mundur oleh fikiran bahwa kalian pernah tenggelam dalam berbagai dosa sehingga mengkhawatirkan doa kalian tidak akan berpengaruh.
    Manusia diciptakan untuk mencintai Tuhan-nya, dimana meski ia kemudian terangsang oleh api dosa, ia masih tetap memiliki fitrat bertobat yang dapat memadamkan api tersebut. Kalian tentunya mengetahui bahwa air yang mendidih karena dipanaskan  tetapi jika dituangkan di atas api menyala tetap saja akan bisa  memadamkannya.
    Sejak Allah Swt. menciptakan manusia, hati manusia selalu disucikan kembali dengan cara  [bertaubat] ini. Tanpa ada Tuhan Yang Maha Hidup  (Al-Hayyu) yang memanifestasikan (mewujudkan) eksistensi (keberadaan), kekuasaan dan fitrat Ketuhanan-Nya serta mempertunjukkan keluhuran-Nya yang cemerlang, maka manusia tidak akan pernah bisa disucikan dari dosa.” (Brahin-i- Ahmadiyah, jld. V,  sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXI, hlm. 33-34, London, 1984).
     Sehubungan dengan pentingnya merendahkan diri  serta sikap tidak-berdaya dalam berdoa  kepada Allah Swt. tersebut Nabi Adam a.s. telah  melakukan hal tersebut dalam firman-Nya berikut ini:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata:   ”Wahai  Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami, وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا  --      dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ  -- niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi.”  (Al-A’rāf [7]:24).
     Kemudian mengenai Nabi Besar Muhammad saw. pada saat menjelang terjadinya Perang Badar,  Ibnu Katsir rahimahullah menggambarkan keadaan Nabi Saw pada malam perang Badar. “Pada waktu malam perang badar, Rasulullah saw melakukan shalat di dekat sebatang pohon. Dalam sujudnya beliau memperbanyak, ‘Ya Hayuu, Ya Qayum.’ Beliau mengulang-ngulangi ucapan itu, dan menekuni shalat tahajud sambil menangis dan berdoa terus menerus sampai pagi, dalam doanya Beliau berkata; ‘Ya Allah aku mengingatkan Engkau akan janji Engkau, Ya Allah jangan Engkau meninggalkanku, Ya Allah jangan Engkau membiarkanku, Ya Allah jangan Engkau menyianyiakanku. Ya Allah ini adalah orang Qurais, mereka telah datang dengan kesombongan mereka. Mereka telah menentang dan menuduh bohong utusan Engkau. Ya Allah mana pertolongan Engkauyang Engkau janjikan.” Beliau berdoa hingga selendangnya berulang kali terjatuh.
     Tatkala pertempuran semakin berkobar dan akhimya mencapai puncaknya, maka beliau saw. berdoa lagi: "Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah,  kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini."
     Begitu mendalam doa yang  Nabi Besar Muhammad saw.  panjatkan kepada Allah Swt., hingga tanpa disadari selendang beliau saw. jatuh dari pundak, sehingga  Abu Bakar r.a. memungutnya lalu mengembalikan ke pundak beliau, seraya berkata, Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau.”
    Dalam riwayat lain diterangkan Abu Bakar berkata: “Ya, Rasulullah, bukankah Allah Swt. telah menjanjikan kemenangan dalam perang ini kepada kita, mengapa engkau berdoa seperti ini?” Nabi Besar Muhammad saw. menjawab, “Memang benar demikian, tetapi aku tidak mengetahui bahwa  boleh jadi untuk terjadinya   kemenangan tersebut ada persyaratan yang harus dilakukan,  dan aku tidak mengetahui hal  tersebut, itulah sebabnya akan terus menerus berdoa.”
     Setelah Allah Swt. menurunkan wahyu kepada  Nabi Besar Muhammad saw. barulah beliau saw.  berhenti berdoa dan sambil menghadap ke arah pasukan Quraisy Mekkah  beliau saw. melemparkan segenggam pasir yang kemudian menimbulkan badai pasir  gurun,  yang menjadi penyebab utama kemenangan umat Islam dalam Perang  Badar – termasuk terbunuhnya Abu jahal  bersama  para pemuka Quraisy Mekkah lainnya yang merancang rencana  pembunuhan  Nabi Besar Muhammad saw. di Mekkah  (QS.8:31; QS.27:49-51) –   sebagaimana  firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی   -- dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا --  dan supaya Dia  menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ --  sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
      Bahwa betapa manusia sangat membutuhkan maghfirah dan pertolongan Allah Swt. dalam berbagai hal diketahui dari doa Nabi Musa a.s. berikut ini sebelum beliau menjadi rasul Allah, firman-Nya:
وَ لَمَّا تَوَجَّہَ  تِلۡقَآءَ مَدۡیَنَ قَالَ عَسٰی رَبِّیۡۤ   اَنۡ  یَّہۡدِیَنِیۡ  سَوَآءَ  السَّبِیۡلِ ﴿﴾  وَ لَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡیَنَ وَجَدَ عَلَیۡہِ اُمَّۃً مِّنَ النَّاسِ یَسۡقُوۡنَ ۬۫ وَ  وَجَدَ مِنۡ دُوۡنِہِمُ  امۡرَاَتَیۡنِ تَذُوۡدٰنِ ۚ قَالَ مَا خَطۡبُکُمَا ؕ قَالَتَا لَا نَسۡقِیۡ حَتّٰی یُصۡدِرَ الرِّعَآءُ ٜ وَ اَبُوۡنَا شَیۡخٌ   کَبِیۡرٌ ﴿﴾ فَسَقٰی لَہُمَا ثُمَّ تَوَلّٰۤی اِلَی الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّیۡ لِمَاۤ  اَنۡزَلۡتَ اِلَیَّ مِنۡ خَیۡرٍ  فَقِیۡرٌ ﴿﴾
Dan tatkala ia menghadap ke arah Madyan  ia berkata: “Mudah-mu-dahan Rabb (Tuhan-ku) akan membimbingku pada jalan yang lurus.”   Dan tatkala ia sampai ke sumber air Midian ia mendapati di sana sekumpulan orang sedang memberi minum ternaknya, dan ia mendapati  selain mereka itu dua perempuan yang menahan ternaknya. Ia berkata: “Apakah urusan kamu berdua?”  Keduanya berkata: “Kami tidak dapat mem-beri minum ternak kami  hingga gem-bala-gembala itu pergi, sedang ayah kami seorang yang berusia sangat tua.” فَسَقٰی لَہُمَا ثُمَّ تَوَلّٰۤی اِلَی الظِّلِّ  --   Lalu ia memberi minum ternak kedua mereka itu, kemudian ia pergi berteduh فَقَالَ رَبِّ اِنِّیۡ لِمَاۤ  اَنۡزَلۡتَ اِلَیَّ مِنۡ خَیۡرٍ  فَقِیۡرٌ  -- dan berkata: “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), sesungguhnya aku selalu memerlukan kebaikan apa pun yang Eng-kau turunkan kepadaku  (Al-Qashash [28]:23-25).
      Keperluan akan maghfirah dan pertolongan Allah Swt. itulah yang diabadikan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 5:  اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ     -- Hanya Engkau Yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan.”    
  
 Pentingnya Mencipta Hubungan dengan  Allah Swt.

  Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pentingnya menjalin hubungan dengan Allah Allah Swt.:
    Sarana yang diberikan Al-Quran untuk menegakkan hubungan keruhanian yang sempurna dengan Allah Swt. adalah Islam serta doa yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah. Hal ini mengandung makna bahwa manusia harus mengabdikan dirinya di jalan Tuhan dan menyibukkan diri dengan berdoa sebagaimana diajarkan kepada umat Muslim dalam Surah Al-Fatihah. Inilah yang menjadi esensi (pokok) dari   Islam dan hanya inilah sarana guna mendekat kepada Tuhan untuk menikmati mata air keselamatan hakiki.
    Semua itu  menjadi sarana yang diberikan oleh kaidah (hukum) alam bagi peningkatan harkat manusia dan pertemuannya dengan Wujud Tuhan. Hanya mereka yang masuk ke dalam api ruhani yang menjadi esensi dari  Islam dengan menyibukkan diri berdoa sebagaimana diajarkan Surah Al-Fatihah yang akan bertemu dengan Tuhan.
      Islam merupakan api membara yang akan membakar habis fitrat kehidupan rendah dengan cara memusnahkan semua berhala sembahan palsu, serta mengikrarkan pengurbanan nyawa, harta dan kehormatan di jalan Allah Swt. Kita akan menikmati air kehidupan baru dari mata air ini dan   semua fitrat keruhanian kita akan membentuk hubungan dengan Allah Swt.. 
       Laiknya petir, akan muncul api dari dalam diri kita dan ada api lain yang turun dari langit dimana pada pertemuan kedua api tersebut akan terbakar habis segala nafsu dan kecenderungan selain kepada Allah Swt. dimana kita menjadi fana (sirna) terhadap kehidupan sebelumnya.     Kondisi inilah yang oleh Al-Quran disebut sebagai Islam. Melalui Islam maka semua nafsu kita akan mati dan melalui doa kita dihidupkan kembali.
     Bagi kehidupan kedua tersebut diperlukan adanya wahyu. Jika sudah sampai pada tahapan ini maka dikatakan kita telah bertemu dan melihat Wujud Tuhan. Pada tingkatan seperti itu  manusia telah mencipta hubungan dengan Tuhan seolah-olah melihat-Nya dengan matanya sendiri. Ia akan dikaruniakan kekuatan, semua indera dan fitrat batinnya akan dicerahkan serta muncul daya tarik akbar yang membawanya kepada kehidupan yang suci.
     Jika berhasil mencapai tahapan ini maka Tuhan menjadi mata dari dirinya untuk melihat, menjadi lidahnya dengan apa ia berbicara, menjadi tangannya dengan apa ia menggenggam, menjadi telinganya dengan apa ia mendengar dan menjadi kakinya dengan apa ia berjalan. Tahapan inilah yang dimaksud Allah Swt. dalam ayat sebagai:
یَدُ اللّٰہِ  فَوۡقَ  اَیۡدِیۡہِمۡ
 “Tangan Allah ada di atas tangan mereka” (Al-Fath [48]:11).
Begitu pula dinyatakan di tempat lain:
وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی
“Bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar”  (Al-Anfāl [8]:18).
     Pada tingkat kedekatan seperti ini terjadi kesatuan atau unifikasi  (perpaduan) dengan Allah Yang Maha Agung dimana niat suci-Nya meresap ke seluruh relung kalbu, dan  fitrat akhlak yang tadinya lemah menjadi dikuatkan sekokoh gunung karang serta peningkatan dalam daya intelektual. Inilah yang dimaksud dalam ayat:
وَ اَیَّدَہُمۡ  بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ
 “Dan Dia telah meneguhkan mereka dengan ilham dari Dia Sendiri” (Al-Mujadilah [58]:23).
      Pada tingkatan seperti ini maka kecintaan dan rasa pengabdian akan meluap sedemikian rupa, sehingga kesediaan mati demi Tuhan dan menerima segala penderitaan atau kehinaan di jalan-Nya  akan menjadi demikian mudah seperti mematahkan seutas jerami. Yang bersangkutan akan tertarik ke arah Tuhannya tanpa menyadari siapa yang menariknya. Ada tangan tersembunyi yang akan selalu membantunya,  dan baginya untuk mengerjakan perintah Allah Swt. sudah langsung menjadi tujuan hidupnya.
     Pada tingkatan seperti ini maka Allah Swt. akan demikian dekat kepadanya seperti yang diungkapkan dalam ayat:
نَحۡنُ  اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ  مِنۡ  حَبۡلِ  الۡوَرِیۡدِ
  “Kami bahkan lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”  (Qāf [50]:17).
        Dalam kondisi seperti itu, seseorang sudah seperti buah matang yang jatuh dengan sendirinya dari pohonnya. Dengan cara yang sama  seluruh pertalian yang bersifat rendah akan berhenti dengan sendirinya, sedangkan hubungannya kepada Tuhan menjadi demikian dekat sehingga ia menarik diri dari makhluk-makhluk lainnya dan dikarunia kehormatan berbicara dengan Allah Yang Maha Perkasa.
        Guna mencapai tingkatan seperti itu  gerbang-gerbang Ilahi masih tetap terbuka sebagaimana dulu juga terbuka. Tuhan tetap menganugrahkan karunia ini kepada para pencari sekarang ini sebagaimana pernah diberikan-Nya di masa lalu. Hanya saja jejak jalan ini tidak akan dapat diperoleh melalui kata-kata saja dan pintu gerbang itu tidak akan terbuka oleh omong kosong dan bualan belaka.
         Banyak sekali yang menginginkannya tetapi hanya sedikit yang menemukan. Masalahnya adalah karena derajat luhur seperti itu hanya dapat dicapai melalui upaya dan pengurbanan nyata. Dengan bicara saja sampai Kiamat pun tidak akan ada gunanya. Berani memasuki api yang ditakuti orang lain merupakan syarat pertama. Kalau tidak ada niat yang kokoh, tak ada gunanya bicara mengenai hal itu. Mengenai ini Allah Swt. berfirman:
وَ اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ  اِذَا دَعَانِ  ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ  لَعَلَّہُمۡ  یَرۡشُدُوۡنَ 
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah: “Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku.” Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka mengikuti jalan yang benar  (Al-Baqarah [2]:187).  (Islami Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. X, hlm. 394-396, London, 1984).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 19 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar