Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
40
DOA KHUSUS NABI BESAR MUHAMMAD SAW. MENJELANG PERANG BADAR YANG MENGUNDANG MUKJIZAT & & CARA
MENJALIN HUBUNGAN DENGAN ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab 39 dikemukakan mengenai makna
mukjizat
Nabi Musa a.s. berikutnya dalam ayat: وَّ نَزَعَ
یَدَہٗ فَاِذَا ہِیَ بَیۡضَآءُ لِلنّٰظِرِیۡنَ -- ”dan
ia
mengulurkan tangannya lalu tiba-tiba tangannya itu menjadi putih bagi orang-orang
yang memperhatikan” (Asy-Syu’ara [26]:34).
Tubuh
orang-orang yang tinggi keruhaniannya
mengeluarkan sinar-sinar berbagai warna
menurut derajat atau sifat (kaifiat)
perkembangan ruhani mereka. Sinar-sinar
yang dikeluarkan tubuh para nabi Allah itu putih
bersih. Begitu pula sinar-sinar
yang keluar dari tangan Nabi Musa
a.s. – yang dalam dunia prana sering disebut aura -- tentunya
berwarna demikian juga bila sinar-sinar itu dinampakkan, tangan
beliau tentu tampak berwarna putih
kepada orang-orang yang melihatnya.
Orang-orang pernah mempunyai pengalaman-pengalaman ruhani semacam itu
ada di masa nabi-nabi Allah lain
juga. Allah Swt. berfirman
kepada Nabi Musa a.s.: "Masukkan
tangan engkau ke dalam dada engkau, niscaya tangan itu akan keluar putih tanpa
kesan buruk” (QS.28:33).
Dalam bahasa perumpamaan kalimat itu merupakan satu isyarat yang jelas kepada
Nabi Musa a.s. bahwa bila
beliau menghimpun pengikut-pengikut
beliau langsung di bawah asuhan
beliau, bukan hanya mereka sendiri akan menjadi manusia-manusia bercahaya, tetapi juga memberikan cahaya kepada orang-orang lain.
Tetapi bila
tidak dihimpun dibawah asuhan Nabi
Musa a.s. mereka tidak hanya akan
menjadi hitam, tetapi juga akan mengidap bermacam penyakit akhlaki atau akan berubah seperti ular seperti tongkat
Nabi Musa a.s. yang dilemparkan beliau. Oleh karena itu mukjizat tersebut bukan pertunjukan tukang sihir, melainkan suatu Tanda
Kebenaran yang sarat dengan arti
keruhanian yang mendalam.
Berbagai Makna “Sihir”
Menanggapi mukjizat-mukjizat
Nabi Musa a.s. tersebut Fir’aun menanggapinya negative, firman-Nya:
قَالَ لِلۡمَلَاِ حَوۡلَہٗۤ اِنَّ
ہٰذَا لَسٰحِرٌ عَلِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ یُّرِیۡدُ اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ مِّنۡ اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ ٭ۖ فَمَا ذَا
تَاۡمُرُوۡنَ ﴿﴾
Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar di sekelilingnya:
“Sesungguhnya ia benar-benar tukang sihir
yang pandai. Dia berkehendak dengan sihirnya
mengeluarkan kamu dari negerimu maka apakah yang kamu anjurkan?” (Asy-Syu’arā
[26]:35-36).
Sihr berarti:
akal licik, dursila; sihir; mengadakan apa-apa yang palsu dalam bentuk
kebenaran; setiap kejadian yang sebab-sebabnya tersembunyi, dan disangka lain
dari kenyataannya (Lexicon Lane).
Jadi setiap kepalsuan, penipuan atau akal licik yang dimaksudkan untuk menyembunyikan tujuan
sebenarnya dari penglihatan orang
adalah termasuk sihir juga.
Kata sāhir tidak selamanya harus diartikan tukang sihir, kata itu pun berarti orang
yang mempunyai daya pikat; orang yang
terampil dan cerdas; orang yang sanggup membuat orang lain melihat sesuatu benda nampak
lain dari keadaan yang sebenarnya;
penipu, penyihir mata atau perayu, dan lain-lain (Lexicon Lane).
Kata-kata:
یُّرِیۡدُ اَنۡ یُّخۡرِجَکُمۡ
مِّنۡ اَرۡضِکُمۡ بِسِحۡرِہٖ -- “ Dia berkehendak dengan sihirnya mengeluarkan kamu dari negerimu” itu dimaksudkan untuk menghasut orang-orang Mesir supaya melawan Nabi Musa a.s. padahal sebenarnya Nabi Musa a.s. tidak berkeinginan mengusir mereka. Tugas beliau hanyalah harus membawa kaumnya
sendiri keluar dari Mesir.
Cahaya Wahyu Ilahi dan Doa yang
Khusyuk
Sehubungan
dengan cahaya sebagai sarana
pengusir kegelapan, Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai pentingnya wahyu
Ilahi yang juga merupakan “cahaya” Allah Swt.:
“Jangan pernah mengharapkan
bahwa ada cara lain guna mensucikan ego
(keakuan)
manusia. Sebagaimana kegelapan
dunia hanya bisa diusir dengan cahaya, begitu juga dengan kegelapan kalbu yang berdosa hanya
bisa dicerahkan oleh nur wahyu
Ilahi.
Melalui
nur
wahyu Ilahi
dengan sinarnya yang cemerlang akan nyata baginya bahwa Tuhan itu eksis (ada), sehingga segala keraguan akan sirna dan ia
memperoleh kepuasan dan ketenangan.
Melalui daya tarik Samawi yang kuat maka yang bersangkutan akan diangkat
ke langit. Semua obat penawar lainnya -- selain dengan cara di atas -- adalah suatu hal yang dusta dan sia-sia.
Namun
untuk pensucian yang sempurna pemahaman saja tidaklah cukup, masih harus disertai
dengan doa
yang khusyuk.
Allah Yang
Maha Agung
bersifat Tegak
dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum), dimana untuk menarik rahmat-Nya diperlukan doa
khusyuk yang diikuti
air mata tangis, ketulusan, kesalehan dan hati yang trenyuh.
Kita
sama mengetahui bagaimana seorang anak bayi mengenali ibunya dan bagaimana ibu itu menyayangi anaknya, namun yang merangsang keluarnya air susu ibu adalah tangis anak tersebut. Jika ada anak bayi menangis sedih karena lapar perutnya, sang ibu akan demikian terpengaruh oleh tangis
tersebut sehingga air susu akan langsung dihasilkan dalam dadanya. Begitu juga kiranya para pencari
kebenaran
harus memperlihatkan kelaparan dan kehausan ruhaniahnya melalui ratap tangis agar susu ruhani bisa dihasilkan
guna memuaskan
batinnya.
Taubat Dapat Memadamkan
Api Dosa
Bagi pensucian
ruhani, pemahaman saja tidaklah cukup. Untuk itu diperlukan juga tangis yang meratap hati laiknya anak
kecil. Jangan pernah putus asa
dan jangan
mundur
oleh fikiran bahwa kalian pernah tenggelam dalam berbagai dosa sehingga mengkhawatirkan doa kalian tidak akan berpengaruh.
Manusia diciptakan untuk mencintai Tuhan-nya, dimana meski ia kemudian terangsang oleh api dosa, ia masih tetap memiliki fitrat bertobat yang dapat memadamkan api tersebut. Kalian tentunya mengetahui bahwa air yang mendidih
karena dipanaskan tetapi jika dituangkan di atas api menyala tetap saja akan bisa memadamkannya.
Sejak Allah Swt. menciptakan manusia, hati manusia selalu disucikan kembali dengan cara [bertaubat] ini. Tanpa
ada Tuhan
Yang Maha Hidup (Al-Hayyu) yang memanifestasikan (mewujudkan) eksistensi (keberadaan),
kekuasaan
dan fitrat Ketuhanan-Nya serta mempertunjukkan
keluhuran-Nya yang
cemerlang, maka manusia tidak akan pernah bisa disucikan dari dosa.” (Brahin-i- Ahmadiyah, jld.
V, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXI, hlm.
33-34, London, 1984).
Sehubungan dengan pentingnya merendahkan diri serta sikap tidak-berdaya dalam berdoa kepada Allah Swt. tersebut Nabi Adam a.s.
telah melakukan hal tersebut dalam
firman-Nya berikut ini:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata: ”Wahai Rabb
(Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim
terhadap diri kami, وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا
-- dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan mengasihi kami, لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡخٰسِرِیۡنَ -- niscaya kami
akan termasuk orang-orang yang rugi.”
(Al-A’rāf [7]:24).
Kemudian mengenai Nabi Besar Muhammad saw.
pada saat menjelang terjadinya Perang Badar,
Ibnu Katsir rahimahullah
menggambarkan keadaan Nabi Saw pada malam perang Badar. “Pada waktu malam perang badar, Rasulullah saw melakukan shalat di dekat
sebatang pohon. Dalam sujudnya beliau memperbanyak, ‘Ya Hayuu, Ya Qayum.’ Beliau mengulang-ngulangi ucapan
itu, dan menekuni shalat tahajud sambil menangis dan berdoa terus menerus
sampai pagi, dalam doanya Beliau berkata; ‘Ya Allah aku mengingatkan Engkau
akan janji Engkau, Ya Allah jangan Engkau meninggalkanku, Ya Allah jangan
Engkau membiarkanku, Ya Allah jangan Engkau menyianyiakanku. Ya Allah ini
adalah orang Qurais, mereka telah datang dengan kesombongan mereka. Mereka
telah menentang dan menuduh bohong utusan Engkau. Ya Allah mana pertolongan
Engkauyang Engkau janjikan.” Beliau berdoa hingga selendangnya berulang
kali terjatuh.
Tatkala pertempuran semakin berkobar dan akhimya mencapai
puncaknya, maka beliau saw. berdoa lagi: "Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak
akan disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki
untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini."
Begitu mendalam doa yang Nabi Besar
Muhammad saw. panjatkan kepada Allah
Swt., hingga tanpa disadari selendang beliau saw. jatuh dari pundak, sehingga Abu Bakar r.a. memungutnya lalu mengembalikan
ke pundak beliau, seraya berkata, ”Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk
terus-menerus memohon kepada Rabb engkau.”
Dalam riwayat
lain diterangkan Abu Bakar berkata: “Ya,
Rasulullah, bukankah Allah Swt. telah menjanjikan kemenangan dalam perang ini
kepada kita, mengapa engkau berdoa
seperti ini?” Nabi Besar Muhammad saw. menjawab, “Memang benar demikian, tetapi aku tidak mengetahui bahwa boleh jadi untuk terjadinya kemenangan tersebut ada persyaratan yang
harus dilakukan, dan aku tidak
mengetahui hal tersebut, itulah sebabnya
akan terus menerus berdoa.”
Setelah Allah Swt. menurunkan
wahyu kepada Nabi Besar Muhammad saw. barulah beliau
saw. berhenti berdoa dan sambil menghadap ke arah pasukan Quraisy Mekkah beliau saw. melemparkan segenggam pasir
yang kemudian menimbulkan badai
pasir gurun, yang menjadi penyebab utama kemenangan umat Islam dalam Perang
Badar – termasuk terbunuhnya Abu
jahal bersama para pemuka
Quraisy Mekkah lainnya yang merancang rencana pembunuhan Nabi Besar Muhammad saw. di Mekkah (QS.8:31; QS.27:49-51) – sebagaimana
firman-Nya:
فَلَمۡ
تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ
لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ رَمٰی -- dan bukan
engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا -- dan supaya
Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
Bahwa betapa manusia sangat membutuhkan maghfirah dan pertolongan Allah Swt. dalam berbagai hal diketahui dari doa Nabi Musa a.s. berikut ini sebelum
beliau menjadi rasul Allah,
firman-Nya:
وَ لَمَّا
تَوَجَّہَ تِلۡقَآءَ مَدۡیَنَ قَالَ
عَسٰی رَبِّیۡۤ اَنۡ یَّہۡدِیَنِیۡ
سَوَآءَ السَّبِیۡلِ ﴿﴾ وَ لَمَّا وَرَدَ مَآءَ مَدۡیَنَ وَجَدَ عَلَیۡہِ
اُمَّۃً مِّنَ النَّاسِ یَسۡقُوۡنَ ۬۫ وَ
وَجَدَ مِنۡ دُوۡنِہِمُ
امۡرَاَتَیۡنِ تَذُوۡدٰنِ ۚ قَالَ مَا خَطۡبُکُمَا ؕ قَالَتَا لَا نَسۡقِیۡ
حَتّٰی یُصۡدِرَ الرِّعَآءُ ٜ وَ اَبُوۡنَا شَیۡخٌ کَبِیۡرٌ ﴿﴾ فَسَقٰی لَہُمَا
ثُمَّ تَوَلّٰۤی اِلَی الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّیۡ لِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ اِلَیَّ مِنۡ خَیۡرٍ فَقِیۡرٌ ﴿﴾
Dan tatkala ia menghadap ke arah Madyan ia berkata: “Mudah-mu-dahan Rabb (Tuhan-ku) akan membimbingku pada jalan yang lurus.” Dan
tatkala ia sampai ke sumber air
Midian ia mendapati di sana sekumpulan
orang sedang memberi minum ternaknya, dan ia mendapati selain mereka itu
dua perempuan yang menahan ternaknya. Ia berkata: “Apakah urusan kamu berdua?” Keduanya berkata: “Kami tidak dapat mem-beri minum ternak kami hingga gem-bala-gembala
itu pergi, sedang ayah kami seorang
yang berusia sangat tua.” فَسَقٰی لَہُمَا ثُمَّ
تَوَلّٰۤی اِلَی الظِّلِّ --
Lalu ia memberi minum ternak kedua
mereka itu, kemudian ia pergi
berteduh فَقَالَ رَبِّ اِنِّیۡ لِمَاۤ اَنۡزَلۡتَ
اِلَیَّ مِنۡ خَیۡرٍ فَقِیۡرٌ -- dan berkata: “Ya Rabb-ku
(Tuhan-ku), sesungguhnya aku selalu
memerlukan kebaikan apa pun yang Eng-kau turunkan kepadaku (Al-Qashash [28]:23-25).
Keperluan akan maghfirah dan pertolongan
Allah Swt. itulah yang diabadikan Allah Swt. dalam Surah Al-Fatihah ayat 5: اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ -- Hanya
Engkau Yang kami sembah dan hanya
kepada Engkau kami mohon pertolongan.”
Pentingnya Mencipta Hubungan dengan Allah Swt.
Sehubungan
dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan mengenai pentingnya menjalin
hubungan dengan Allah Allah Swt.:
“Sarana yang diberikan
Al-Quran untuk menegakkan
hubungan keruhanian yang sempurna dengan Allah Swt.
adalah Islam serta doa yang dikemukakan dalam Surah Al-Fatihah. Hal ini mengandung makna bahwa manusia harus mengabdikan dirinya di jalan Tuhan dan menyibukkan
diri dengan berdoa sebagaimana diajarkan kepada umat
Muslim dalam Surah Al-Fatihah. Inilah yang menjadi esensi (pokok) dari Islam
dan hanya inilah sarana guna mendekat kepada Tuhan untuk menikmati mata air keselamatan hakiki.
Semua
itu menjadi sarana yang diberikan oleh kaidah (hukum)
alam
bagi peningkatan
harkat manusia
dan pertemuannya dengan Wujud Tuhan. Hanya mereka yang masuk ke dalam api ruhani yang menjadi esensi dari Islam dengan menyibukkan
diri berdoa
sebagaimana diajarkan Surah Al-Fatihah yang akan bertemu dengan Tuhan.
Islam merupakan api membara yang akan membakar habis fitrat kehidupan rendah dengan cara memusnahkan semua berhala sembahan palsu, serta mengikrarkan pengurbanan nyawa, harta dan kehormatan di jalan Allah Swt. Kita akan menikmati air kehidupan
baru
dari mata
air ini dan semua fitrat
keruhanian kita
akan membentuk
hubungan
dengan Allah Swt..
Laiknya petir,
akan muncul
api dari dalam diri kita dan ada api lain yang turun
dari langit dimana pada pertemuan kedua api tersebut akan terbakar habis segala nafsu dan kecenderungan selain kepada
Allah Swt. dimana kita menjadi fana
(sirna) terhadap kehidupan
sebelumnya. Kondisi inilah yang oleh Al-Quran
disebut sebagai Islam. Melalui Islam maka semua
nafsu kita akan mati dan melalui doa kita dihidupkan
kembali.
Bagi
kehidupan
kedua
tersebut diperlukan adanya wahyu. Jika sudah sampai pada tahapan ini maka dikatakan kita telah bertemu dan melihat Wujud Tuhan. Pada tingkatan seperti itu manusia telah mencipta
hubungan
dengan Tuhan seolah-olah melihat-Nya dengan matanya
sendiri. Ia akan dikaruniakan kekuatan, semua indera dan fitrat
batinnya
akan dicerahkan serta muncul daya tarik akbar yang membawanya
kepada kehidupan yang suci.
Jika berhasil mencapai tahapan
ini maka Tuhan menjadi mata dari dirinya untuk melihat,
menjadi lidahnya dengan apa ia berbicara, menjadi tangannya dengan apa ia menggenggam, menjadi telinganya dengan apa ia mendengar dan menjadi kakinya dengan apa ia berjalan. Tahapan
inilah yang dimaksud Allah Swt.
dalam ayat sebagai:
یَدُ اللّٰہِ فَوۡقَ اَیۡدِیۡہِمۡ
“Tangan Allah ada di atas tangan mereka”
(Al-Fath [48]:11).
Begitu pula dinyatakan di tempat lain:
وَ مَا
رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی
“Bukan
engkau yang melempar ketika engkau melempar, melainkan Allah yang melempar” (Al-Anfāl
[8]:18).
Pada
tingkat kedekatan seperti ini terjadi kesatuan atau unifikasi (perpaduan) dengan Allah
Yang Maha Agung dimana niat suci-Nya
meresap ke seluruh relung kalbu, dan fitrat akhlak
yang tadinya lemah menjadi dikuatkan
sekokoh gunung karang serta peningkatan
dalam daya intelektual. Inilah yang dimaksud dalam ayat:
وَ
اَیَّدَہُمۡ بِرُوۡحٍ مِّنۡہُ
“Dan Dia
telah meneguhkan mereka dengan ilham
dari Dia Sendiri” (Al-Mujadilah [58]:23).
Pada tingkatan
seperti ini maka kecintaan
dan rasa
pengabdian
akan meluap sedemikian rupa, sehingga kesediaan mati
demi Tuhan
dan menerima
segala penderitaan
atau kehinaan
di jalan-Nya akan menjadi demikian mudah seperti mematahkan
seutas jerami. Yang bersangkutan akan tertarik ke arah Tuhannya tanpa menyadari siapa yang menariknya. Ada tangan tersembunyi yang akan selalu membantunya, dan baginya untuk mengerjakan perintah Allah Swt. sudah langsung menjadi tujuan hidupnya.
Pada tingkatan seperti ini
maka Allah
Swt.
akan demikian
dekat
kepadanya seperti yang diungkapkan dalam ayat:
نَحۡنُ اَقۡرَبُ اِلَیۡہِ مِنۡ
حَبۡلِ الۡوَرِیۡدِ
“Kami bahkan lebih dekat kepadanya daripada urat
lehernya” (Qāf
[50]:17).
Dalam kondisi seperti itu, seseorang sudah seperti buah
matang
yang jatuh dengan sendirinya dari pohonnya. Dengan cara yang sama seluruh pertalian yang bersifat rendah akan berhenti dengan sendirinya, sedangkan hubungannya
kepada Tuhan
menjadi demikian
dekat
sehingga ia
menarik diri dari makhluk-makhluk lainnya dan dikarunia kehormatan berbicara dengan Allah Yang Maha Perkasa.
Guna
mencapai tingkatan seperti itu
gerbang-gerbang
Ilahi
masih tetap
terbuka sebagaimana
dulu juga terbuka. Tuhan tetap menganugrahkan karunia ini kepada para pencari sekarang ini sebagaimana pernah diberikan-Nya di masa lalu. Hanya saja jejak jalan ini tidak akan dapat diperoleh melalui kata-kata saja dan pintu gerbang itu tidak akan terbuka oleh omong kosong dan bualan belaka.
Banyak sekali yang menginginkannya tetapi hanya sedikit yang menemukan. Masalahnya adalah karena derajat luhur seperti itu hanya dapat dicapai melalui upaya dan pengurbanan nyata. Dengan bicara saja sampai Kiamat pun tidak akan ada
gunanya. Berani memasuki api yang ditakuti orang lain merupakan
syarat
pertama.
Kalau tidak ada niat yang kokoh, tak ada gunanya bicara mengenai hal itu. Mengenai ini
Allah Swt. berfirman:
وَ
اِذَا سَاَلَکَ عِبَادِیۡ عَنِّیۡ فَاِنِّیۡ قَرِیۡبٌ
ؕ اُجِیۡبُ دَعۡوَۃَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِ ۙ فَلۡیَسۡتَجِیۡبُوۡا لِیۡ وَ لۡیُؤۡمِنُوۡا بِیۡ
لَعَلَّہُمۡ
یَرۡشُدُوۡنَ
“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah:
“Sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang memohon apabila ia mendoa kepada-Ku.” Maka hendaklah mereka menyambut seruan-Ku dan beriman
kepada-Ku supaya mereka mengikuti
jalan yang benar (Al-Baqarah
[2]:187). (Islami Usulki Philosophy, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. X, hlm.
394-396, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 19 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar