Rabu, 05 Oktober 2016

"Bujuk-rayu" Syaitan yang Sangat Disukai "Hawa-nafsu" Manusia & Pentingnya Memperoleh "Tambahan Ilmu Pengetahuan" dari Allah Swt.



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 28

BUJUK-RAYU   SYAITAN  YANG SANGAT DISUKAI HAWA-NAFSU MANUSIA &  PENTINGNYA MEMPEROLEH   TAMBAHAN ILMU PENGETAHUAN   DARI ALLAH SWT.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 27  dikemukakan     penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai senantiasa terbukanya “pintu gerbang” maghfirah Ilahi  sesuai firman Allah Swt.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ     قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ --  janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ   -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ   --    Dan kembalilah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah  kepada-Nya  مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ  -- sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong.    وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ      --  “ Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu,  مِّنۡ     قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ --  sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.” (Az-Zumar [39]:54-56).
   Ayat ini memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa serta kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
  Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul lebih besar daripada itu.

Dua Macam Pelaku Dosa

     Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira, ayat selanjutnya  memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi: وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ      --  “ Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu,  مِّنۡ     قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ --  sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.”
 Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda mengenai dua macam pelaku dosa:
      “Ada orang-orang yang memang menyadari apa yang namanya dosa, tetapi juga ada orang yang tidak mengenal apakah [dosa] itu. Karena itulah Allah Swt. telah mengajarkan istighfar dalam segala situasi agar manusia menyibukkan dirinya dengan beristighfar guna memelihara dirinya dari segala dosa, baik yang bersifat internal atau pun eksternal, apakah disadari atau pun tidak.
     Sepatutnya setiap manusia selalu meminta  ampun untuk segala macam dosa, baik yang dilakukan tangan, kaki, lidah, hidung, telinga atau pun mata. Kita ini sebaiknya berdoa sebagaimana doa Adam a.s. yaitu:
         رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ 
“Wahai  Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku aniaya terhadap diri kami dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang merugi” (Al-‘Arāf [7]:24).
      Doa ini telah dikabulkan. Janganlah hidup tanpa kesadaran. Mereka yang selalu sadar akan diselamatkan dari musibah yang berada di luar kemampuan daya pikul dirinya.  Tidak akan ada kesialan menimpanya tanpa perintah Tuhan. Karena itulah aku telah diajari sebuah doa melalui sebuah wahyu:
“Rabbiy kullu syai-in khādimuka, Rabbiy- fahfazniy wa- nshurniy wa- rhamniy”   --
 “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), segala sesuatu adalah khadim   dan tunduk kepada Engkau, karena itu ya Rabb-ku (Tuhan-ku) jagalah aku, tolonglah aku dan kasihanilah aku”. (Malfuzat, vol. IV, hal. 275-276).

Bujuk-rayu Manusia Syaitan yang Menggiurkan Hawa-nafsu & Makna “Terbuka Aurat”

      Doa Al-Quran yang dikemukakan Masih Mau’ud a.s. adalah doa yang dipanjatkan Nabi Adam a.s. setelah menyadari kekeliruan beliau   ketika menghadapi “bujuk-rayu”  manusia syaitan    yang     penuh tipu-daya karena  manusia syaitan itu mengemukakan hal-hal yang disukai oleh hawa-nafsu manusia, firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Lalu   syaitan membisikkan nasihat jahat kepada keduanya itu supaya ia dapat menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat   mereka وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali  tidak   melarang kamu ber-dua dari pohon ini melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.” وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ  -- Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” (Al-A’rāf [7]:21-22).
  Makna “terbukanya aurat”  sama sekali bukan berarti pakaian yang dikenakan Nabi Adam a.s. dan istrinya setelah keduanya   makan buah pohon terlarang  itu  tiba-tiba terlepas¸  melainkan  artinya  bahwa sementara pikiran-pikiran jahat pada akhirnya menjuruskan seseorang kepada kehancuran, maka pikiran-pikiran jahat itu pun menampakkan kepada dia kelemahan-kelemahan dirinya.
 Karena tempat ketika Adam a.s.  disuruh tinggal digambarkan secara tamsil (kiasan) dalam Al-Quran sebagai  jannah (kebun) karena itu dalam gambaran berikutnya tamsil itu dilanjutkan  yaitu “pohon” terlarang.  Nabi Adam a.s. digambarkan sebagai dilarang mendekati “pohon” tertentu  --  yang bukan pohon dalam arti kata harfiah dan fisik  -- melainkan suatu keluarga atau suku tertentu.
 Kepada beliau diperintahkan supaya menjauhi keluarga atau suku itu, sebab anggota-anggota keluarga atau suku tersebut adalah musuh beliau dan mereka itu niscaya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencelakakan beliau, itulah makna peringatan Allah Swt. dalam ayat sebelumnya, firman-Nya:
وَ یٰۤاٰدَمُ  اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ الشَّجَرَۃَ  فَتَکُوۡنَا مِنَ  الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan  hai Adam, tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun  ini, lalu makanlah dan minumlah dari mana saja kamu berdua sukai, tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini,  karena kamu berdua akan termasuk orang-orang  yang  zalim.” (Al-A’rāf [7]:20).

Makna “Pohon Terlarang” & Pentingnya Senantiasa Memohon Tambahan Ilmu pengetahuan

Pohon terlarang  dapat juga diartikan perintah-perintah yang menetapkan beberapa benda tertentu dilarang bagi Adam dan istrinya. “Kalimah yang baik” diumpamakan sebagai “pohon baik” dalam Al-Quran (QS.14:25) dan “kalimah buruk” sebagai “pohon jahat” (QS.14:27).
Namun nampaknya Nabi Adam a.s. “melupakan” atau lupa  terhadap peringatan Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa. (Thā Hā [20]:116).
  Ayat ini menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam a.s.  hanyalah disebabkan oleh kekeliruan dalam pertimbangan dalam mensikapi “bujukan” manusia syaitan yang penuh tipu-daya. Kekeliruan yang dilakukan beliau tersebut  tanpa disengaja dan sama sekah tidak dengan suatu niat atau kehendak, sebab pada hakikatnya manusia tidak luput dari kesalahan.
   Itulah sebabnya dalam ayat sebelumnya Allah Swt. telah mengajarkan  kepada Nabi Besar Muhammad saw.  doa memohon tambahan ilmu pengetahuan,  karena salah satu penyebab terjadinya kekeliruan dalam  menafsirkan sesuatu adalah akibat kurangnya memiliki pengetahuan yang memadai, firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ   --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,   وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا  -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).

Hamba Allah” Dalam Kasyaf yang Dicari Nabi Musa a.s.

     Mengisyaratkan kepada pentingnya memiliki pengetahuan yang memadai itu pulalah jawaban seorang  “hamba Allah” ketika menjawab permintaan Nabi Musa a.s. yang ingin “belajar”  petunjuk  yang secara khusus diajarkan Allah Swt. kepada “hamba Allah” tersebut, firman-Nya:
 فَوَجَدَا عَبۡدًا مِّنۡ عِبَادِنَاۤ اٰتَیۡنٰہُ رَحۡمَۃً  مِّنۡ عِنۡدِنَا وَ عَلَّمۡنٰہُ مِنۡ لَّدُنَّا عِلۡمًا ﴿﴾  قَالَ لَہٗ مُوۡسٰی ہَلۡ اَتَّبِعُکَ عَلٰۤی اَنۡ تُعَلِّمَنِ  مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدًا ﴿﴾  قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا ﴿﴾  وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ  عَلٰی مَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ خُبۡرًا ﴿﴾ قَالَ سَتَجِدُنِیۡۤ  اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ صَابِرًا وَّ لَاۤ اَعۡصِیۡ  لَکَ  اَمۡرًا ﴿﴾  قَالَ فَاِنِ اتَّبَعۡتَنِیۡ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِیۡ عَنۡ شَیۡءٍ  حَتّٰۤی  اُحۡدِثَ  لَکَ  مِنۡہُ  ذِکۡرًا ﴿٪﴾
Maka mereka bertemu dengan seorang hamba dari hamba-­hamba Kami, yang Kami telah menganugerahi rahmat dari Kami, dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari hadirat Kami.   Musa berkata kepadanya: "Bolehkah aku mengikuti engkau supaya engkau mengajarkan ke­padaku petunjuk dari apa  yang telah diajarkan kepada engkau?”   Ia berkata: "Sesungguhnya engkau  tidak  akan pernah sanggup bersabar bersamaku.     Dan bagaimanakah engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau tidak dapat menguasai pengetahuan mengenainya?"     Dia (Musa)  berkata: "Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar jika Allah menghendaki dan aku tidak akan menolak apa pun perintah engkau."   Ia berkata: “Maka jika engkau mengikutiku,  janganlah engkau menanyakan ke­padaku mengenai sesuatu hingga aku menceriterakannya kepada engkau mengenainya."  (Al-Kahf [18]:66-71).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 5 Oktober 2016




Tidak ada komentar:

Posting Komentar