Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
28
BUJUK-RAYU SYAITAN YANG SANGAT DISUKAI HAWA-NAFSU MANUSIA & PENTINGNYA MEMPEROLEH TAMBAHAN ILMU PENGETAHUAN DARI
ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir Bab 27 dikemukakan
penjelasan
Masih Mau’ud a.s. mengenai senantiasa
terbukanya “pintu gerbang” maghfirah Ilahi sesuai firman Allah Swt.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ
اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ
لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ
الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ
ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾ وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ
اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾
وَ
اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ
قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ
الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, لَا
تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ
الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.
اِنَّہٗ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ
الرَّحِیۡمُ -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Penyayang. وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ -- Dan kembalilah
kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah
kepada-Nya مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ -- sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong. وَ
اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ -- “ Dan
ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu
dari Rabb (Tuhan) kamu, مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ -- sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba,
sedang kamu tidak menyadari.” (Az-Zumar
[39]:54-56).
Ayat
ini memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan
rasa putus-asa serta kecemasan.
Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan
Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul lebih besar daripada itu.
Dua Macam Pelaku Dosa
Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar
gembira, ayat selanjutnya memperingatkan mereka bahwa mereka akan
harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi: وَ
اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ -- “ Dan
ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu
dari Rabb (Tuhan) kamu, مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ -- sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba,
sedang kamu tidak menyadari.”
Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda
mengenai dua macam pelaku dosa:
“Ada orang-orang yang memang menyadari apa yang namanya dosa, tetapi
juga ada orang yang tidak mengenal
apakah [dosa] itu. Karena itulah Allah
Swt. telah mengajarkan istighfar dalam
segala situasi agar manusia
menyibukkan dirinya dengan beristighfar guna memelihara dirinya dari segala dosa, baik yang bersifat internal atau pun eksternal,
apakah disadari atau pun tidak.
Sepatutnya setiap manusia selalu meminta ampun untuk segala macam dosa, baik yang dilakukan tangan, kaki, lidah, hidung, telinga atau pun
mata. Kita ini sebaiknya berdoa sebagaimana doa Adam a.s. yaitu:
رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ
لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡخٰسِرِیۡنَ
“Wahai Rabb
(Tuhan) kami, kami telah berlaku aniaya
terhadap diri kami
dan jika Engkau tidak mengampuni kami
dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang merugi” (Al-‘Arāf
[7]:24).
Doa ini telah dikabulkan. Janganlah hidup tanpa kesadaran. Mereka yang selalu sadar akan diselamatkan
dari musibah yang berada di luar kemampuan daya pikul dirinya. Tidak
akan ada kesialan menimpanya tanpa perintah Tuhan. Karena itulah aku telah diajari sebuah doa melalui sebuah wahyu:
“Rabbiy kullu syai-in khādimuka,
Rabbiy- fahfazniy wa- nshurniy wa- rhamniy”
--
“Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), segala sesuatu
adalah khadim dan tunduk kepada Engkau,
karena itu ya Rabb-ku (Tuhan-ku) jagalah aku, tolonglah aku dan kasihanilah
aku”. (Malfuzat, vol. IV, hal. 275-276).
Bujuk-rayu Manusia
Syaitan yang Menggiurkan
Hawa-nafsu & Makna “Terbuka Aurat”
Doa
Al-Quran yang dikemukakan Masih Mau’ud
a.s. adalah doa yang dipanjatkan
Nabi Adam a.s. setelah menyadari kekeliruan
beliau ketika menghadapi “bujuk-rayu” manusia
syaitan yang penuh
tipu-daya karena manusia syaitan itu mengemukakan
hal-hal yang disukai oleh hawa-nafsu manusia, firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ
لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا
وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ اِلَّاۤ اَنۡ
تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ
الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَاسَمَہُمَاۤ
اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Lalu syaitan membisikkan nasihat
jahat kepada keduanya itu supaya
ia dapat menampakkan kepada keduanya itu
apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat mereka وَ قَالَ مَا
نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ
اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ
اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia
berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak melarang kamu ber-dua dari pohon ini
melainkan agar kamu berdua jangan
menjadi malaikat atau menjadi di
antara orang-orang yang hidup kekal.”
وَ
قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ
النّٰصِحِیۡنَ -- Dan ia
bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang tulus
bagi kamu berdua.” (Al-A’rāf
[7]:21-22).
Makna “terbukanya
aurat” sama sekali bukan berarti pakaian yang dikenakan Nabi Adam a.s.
dan istrinya setelah keduanya makan buah pohon terlarang itu tiba-tiba terlepas¸ melainkan
artinya bahwa sementara pikiran-pikiran jahat pada akhirnya menjuruskan seseorang kepada kehancuran, maka pikiran-pikiran jahat itu pun menampakkan
kepada dia kelemahan-kelemahan dirinya.
Karena tempat
ketika Adam a.s. disuruh
tinggal digambarkan secara tamsil (kiasan) dalam Al-Quran sebagai jannah
(kebun) karena itu dalam gambaran berikutnya tamsil itu dilanjutkan yaitu
“pohon” terlarang. Nabi Adam a.s. digambarkan sebagai dilarang
mendekati “pohon” tertentu -- yang bukan pohon
dalam arti kata harfiah dan fisik
-- melainkan suatu keluarga
atau suku tertentu.
Kepada beliau diperintahkan supaya menjauhi keluarga atau suku itu, sebab anggota-anggota keluarga atau suku
tersebut adalah musuh beliau dan
mereka itu niscaya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mencelakakan beliau, itulah makna
peringatan Allah Swt. dalam ayat sebelumnya, firman-Nya:
وَ یٰۤاٰدَمُ اسۡکُنۡ اَنۡتَ وَ
زَوۡجُکَ الۡجَنَّۃَ فَکُلَا مِنۡ حَیۡثُ شِئۡتُمَا وَ لَا تَقۡرَبَا ہٰذِہِ
الشَّجَرَۃَ فَتَکُوۡنَا مِنَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan hai Adam, tinggallah engkau dan istri engkau di dalam kebun ini, lalu makanlah
dan minumlah dari mana saja
kamu berdua sukai, tetapi janganlah
kamu berdua mendekati pohon ini,
karena kamu berdua akan termasuk
orang-orang yang zalim.” (Al-A’rāf [7]:20).
Makna “Pohon Terlarang” & Pentingnya
Senantiasa Memohon Tambahan Ilmu pengetahuan
Pohon terlarang dapat juga diartikan perintah-perintah yang menetapkan beberapa benda tertentu dilarang bagi Adam dan istrinya. “Kalimah yang baik” diumpamakan sebagai “pohon baik” dalam Al-Quran (QS.14:25)
dan “kalimah buruk” sebagai “pohon jahat” (QS.14:27).
Namun nampaknya Nabi Adam a.s. “melupakan” atau lupa terhadap peringatan
Allah Swt. tersebut, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ
مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum
ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk
berbuat dosa. (Thā Hā [20]:116).
Ayat ini
menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam
a.s. hanyalah disebabkan oleh
kekeliruan dalam pertimbangan dalam mensikapi
“bujukan” manusia syaitan yang penuh tipu-daya. Kekeliruan yang dilakukan beliau tersebut tanpa
disengaja dan sama sekah tidak dengan suatu niat atau kehendak, sebab
pada hakikatnya manusia tidak luput
dari kesalahan.
Itulah
sebabnya dalam ayat sebelumnya Allah Swt. telah mengajarkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. doa
memohon tambahan ilmu pengetahuan, karena salah satu penyebab terjadinya kekeliruan dalam menafsirkan
sesuatu adalah akibat kurangnya memiliki pengetahuan yang memadai, firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam
bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang
di dalamnya berbagai macam ancaman
supaya mereka bertakwa atau supaya perkataan
ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ -- Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau
tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya
dilengkapkan kepada engkau, وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا
-- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku
(Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).
“Hamba
Allah” Dalam Kasyaf yang Dicari
Nabi Musa a.s.
Mengisyaratkan kepada pentingnya memiliki pengetahuan yang memadai itu pulalah jawaban seorang
“hamba Allah” ketika menjawab permintaan Nabi Musa a.s. yang
ingin “belajar” petunjuk yang secara khusus diajarkan Allah Swt. kepada “hamba Allah” tersebut, firman-Nya:
فَوَجَدَا عَبۡدًا
مِّنۡ عِبَادِنَاۤ اٰتَیۡنٰہُ رَحۡمَۃً مِّنۡ عِنۡدِنَا وَ
عَلَّمۡنٰہُ مِنۡ لَّدُنَّا
عِلۡمًا ﴿﴾ قَالَ لَہٗ مُوۡسٰی ہَلۡ اَتَّبِعُکَ
عَلٰۤی اَنۡ
تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدًا ﴿﴾ قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا ﴿﴾ وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ عَلٰی مَا لَمۡ
تُحِطۡ بِہٖ خُبۡرًا ﴿﴾ قَالَ سَتَجِدُنِیۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ
صَابِرًا وَّ لَاۤ اَعۡصِیۡ لَکَ اَمۡرًا ﴿﴾ قَالَ فَاِنِ اتَّبَعۡتَنِیۡ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِیۡ عَنۡ شَیۡءٍ حَتّٰۤی
اُحۡدِثَ لَکَ
مِنۡہُ ذِکۡرًا ﴿٪﴾
Maka
mereka bertemu dengan seorang hamba
dari hamba-hamba Kami, yang
Kami telah menganugerahi rahmat dari
Kami, dan Kami telah mengajarkan
kepadanya ilmu dari hadirat Kami. Musa berkata kepadanya: "Bolehkah aku mengikuti engkau supaya engkau mengajarkan kepadaku petunjuk
dari apa
yang telah diajarkan kepada engkau?” Ia berkata: "Sesungguhnya engkau tidak akan pernah sanggup bersabar bersamaku.
Dan bagaimanakah
engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau tidak dapat menguasai pengetahuan mengenainya?" Dia
(Musa) berkata: "Engkau akan mendapatiku sebagai seorang
yang sabar jika Allah menghendaki
dan aku tidak akan menolak apa pun
perintah engkau." Ia berkata: “Maka jika engkau mengikutiku, janganlah
engkau menanyakan kepadaku mengenai sesuatu hingga aku menceriterakannya kepada engkau mengenainya." (Al-Kahf [18]:66-71).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 5 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar