Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
34
MAKRIFAT ILAHI SEMPURNA DALAM AL-QURAN & PENTINGNYA
BERIMAN KEPADA YANG GAIB, KHUSUSNYA ALLAH
SWT. WUJUD YANG MAHA GAIB
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 33
dikemukakan sabda
Masih Mau’ud a.s. mengenai
pentingnya
meraih najat (keselamatan) – di dunia dan di akhirat -- dengan perantaraan memeluk agama yang sempurna berkenaan dengan makrifat
Ilahi serta pentingnya berhubungan
dengan seorang yang berhasil menjalin hubungan
hakiki dengan Allah Swt., beliau a.s.
bersabda:
“Manusia yang sampai di relung kegelapan ini tidak akan memperoleh
najat (keselamatan) kecuali ia memang mendapat
kehormatan untuk berbicara dengan Tuhan-nya, atau
memelihara silaturahmi (perhubungan) dengan seseorang yang
memang adalah penerima wahyu hakiki dan telah menyaksikan tanda-tanda Ilahi, yang melaluinya ia sampai
pada kesimpulan bahwa ia
sesungguhnya ada memiliki Tuhan Yang
Maha Perkasa, Maha Pemurah dan Maha
Penyayang, bahwa keimanannya pada agama Islam itu memang benar adanya
serta Hari Penghisaban dan adanya
surga dan neraka adalah realitas-realitas
nyata.
Secara kebiasaan semua umat
Muslim meyakini eksistensi (keberadaan) Tuhan dan kebenaran
Hadhrat Rasulullah Saw.,
namun keimanannya itu tidak
memiliki dasar yang kuat.
Melalui keimanan yang lemah demikian adalah tidak mungkin bagi mereka untuk terpengaruh secara mendasar dan mengembangkan kebencian hakiki terhadap dosa.” (Nuzulul Masih,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XVIII, hlm. 485-486, London, 1984).
Pengertian Hakiki Najat (Keselamatan) & Makna Jihad di Jalan Allah
Mengenai pengertian hakiki najat (keselamatan) selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Sayang sekali sebagian besar
manusia tidak memahami makna hakiki najat (keselamatan). Menurut umat Kristiani,
yang dimaksud dengan keselamatan adalah terhindarnya
seseorang dari penghukuman
atas dosa-dosa yang dilakukannya. Sebenarnya bukan itu makna hakiki najat
(keselamatan).
Bisa saja seseorang tidak ada melakukan zinah,
mencuri, bersaksi palsu, membunuh atau pun melakukan
dosa apa
pun namun tetap saja yang
bersangkutan tidak mengenal keselamatan -- dalam pengertian -- sebagai
pencapaian kesejahteraan abadi yang didambakan
fitrat manusia.
Hal itu hanya mungkin dicapai
melalui kecintaan kepada Ilahi karena telah
memahami eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya dan terciptanya hubungan yang sempurna dengan
Dia dimana kasih mencuat dari kedua sisi.
Bagi seorang pencari kebenaran, yang menjadi masalah utama adalah bagaimana
memperoleh kesejahteraan abadi yang menjadi dasar dari kebahagiaan dan kegembiraan
abadi. Tanda dari suatu agama yang benar adalah memiliki dasar ajaran yang membawa
manusia ke arah kesejahteraan
demikian.
Melalui bimbingan Al-Quran kita memperoleh petunjuk bahwa kesejahteraan
abadi bisa
dicapai melalui pemahaman Allah Yang Maha
Kuasa
dengan kasih-Nya yang suci dan sempurna
yang membangkitkan kegairahan di kalbu seorang pencinta.
Memang ini terdengarnya hanya sebagai untaian kalimat saja, namun sebuah buku yang tebal masih belum
cukup untuk menafsirkannyan secara
lengkap.” (Chasmai
Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX,
hlm. 359-360, London, 1984).
Berkenaan
dengan pernyataan Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ
اللّٰہَ لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami
niscaya Kami akan memberi petunjuk
kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan (kebajikan) (Al-Ankabūt [29]:70).
Jihad sebagaimana diperintahkan oleh
Islam, tidak berarti harus membunuh
atau menjadi kurban pembunuhan,
melainkan harus berjuang keras guna
memperoleh keridhaan Ilahi, sebab
kata fīnā berarti “untuk menjumpai
Kami.” Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ اِنَّکَ
کَادِحٌ اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai
manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju Rabb (Tuhan) engkau, maka engkau
akan bertemu dengan-Nya (Al-Insyiqāq [84]:7).
Menjauhi Kemusyrikan (Syirik)
Dalam surah berikut ini secara khusus dikemukakan
mengenai pentingnya menjauhi kemusyrikan dalam upaya meraih liqa’illah (perjumpaan dengan Allah) di dunia ini,
berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنَّمَاۤ اَنَا بَشَرٌ مِّثۡلُکُمۡ یُوۡحٰۤی اِلَیَّ اَنَّمَاۤ اِلٰـہُکُمۡ اِلٰہٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا
صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ
بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:
”Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti
kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku
bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang
Maha Esa, فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ -- maka barangsiapa mengharap akan bertemu
dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا
صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ رَبِّہٖۤ اَحَدًا -- maka hendaklah
ia beramal saleh dan ia jangan mempersekutukan siapa pun dalam beribadah
kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)."
(Al-Kahf [18]:111).
Allah Swt. menyatakan bahwa kecuali kemusyrikan, maka dosa-dosa manusia yang
lainnya akan diampuni jika mereka
benar-benar bertaubat kepada-Nya,
sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ
یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah.
اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ
جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.
اِنَّہٗ ہُوَ
الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Az-Zumar [39]:54).
Ayat ini memberi amanat harapan dan kabar
gembira kepada orang-orang berdosa.
Ayat ini membesarkan hati serta melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa
putus-asa, sebab putus-asa itu
terletak pada akar kebanyakan dosa
dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
Berulang-ulang
Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157;
QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat
hiburan dan penenteramkan hati
yang lebih bagi mereka yang sedang berhati
lara dan masygul lebih besar daripada itu, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
“Apa yang dikemukakan
Al-Quran dalam konteks ini dapat disimpulkan sebagai berikut: “Wahai hamba-Ku, janganlah pernah berputus asa akan Wujud-Ku. Aku akan tetap bersifat Maha Pemurah dan Maha
Penyayang serta menyelimuti dan menutupi dosa-dosa serta mengampuninya.
Aku ini lebih Pemurah kepada kamu dibanding apa
pun yang ada di alam. Tidak ada apa pun lainnya yang memiliki rahmat bagi kamu sebagaimana Wujud-Ku. Kasihilah Aku
lebih daripada kamu mencintai
bapak-bapak kamu
karena Kasih-Ku
lebih besar
dari kasih mereka.
Jika kamu datang kepada-Ku maka Aku akan memaafkan dosa-dosa kamu dan jika kamu bertobat Aku akan menerimanya. Bila kamu
melangkah perlahan ke arah-Ku maka Aku akan berlari ke arah engkau. Ia
yang mencari Wujud-Ku akan menemukan Aku
dan ia yang berpaling kepada-Ku akan
menemui pintu-Ku terbuka.
Aku mengampuni dosa-dosa mereka yang bertobat meski setinggi gunung sekali pun. Rahmat-Ku atas
kamu sungguh besar
dan Murka-Ku sungguh lembut karena kalian adalah
makhluk-Ku.
Aku telah menciptakan kamu, karena itu rahmat-Ku meliputi kamu semua.” (Chasmai
Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX,
hlm. 56, London, 1984).
Menurunnya Rasa Takut Kepada Allah Swt. Sebagai Penyebab
Kemerosotan Keruhanian
Selanjutnya Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan penyebab terjadinya kemerosotan
keruhanian:
“Setelah merenungi
secara mendalam dan setelah terus menerus menerima wahyu dari Allah Swt. aku jadinya menyadari
bahwa meski demikian banyak terdapat mazhab berbagai
agama di negeri ini (Hindustan – pent),
dimana perselisihan antar agama jadinya membludak
seperti air bah, sebenarnya penyebab utama
dari perbedaan pandangan tersebut berawal
pada kemerosotan dalam fitrat
keruhanian dan menurunnya rasa takut kepada Tuhan.
Nur Samawi yang dengan cahayanya manusia dapat membedakan antara yang benar dengan yang palsu ternyata telah
menghilang dari kalbu sebagian besar mereka. Dunia
telah mengambil rona atheisme dimana meski lidahnya
masih mengucapkan kata ‘Tuhan’ atau ‘Permesywar’ tetapi hatinya
sendiri cenderung menyangkal.
Semua itu dibuktikan dari menghilangnya
kebiasaan berbuat baik.
Aku tidak mempermasalahkan integritas (ketulusan) dari mereka yang berlaku
saleh secara diam-diam, tetapi secara
umum dapat dikatakan bahwa tujuan perlunya agama bagi manusia sekarang ini telah diabaikan.
Sebagian besar manusia tidak lagi mengacuhkan (mempedulikan) kesucian hati, kecintaan kepada Ilahi, kasih-sayang kepada sesama makhluk
Tuhan, kelembutan hati, kasih, keadilan, kerendahan hati dan semua
akhlak mulia -- seperti ketakwaan,
kesucian dan kejujuran -- yang menjadi semangat suatu agama, lucunya semangat
argumentasi keagamaan malah terlihat meningkat, sedangkan semangat keruhanian malah menurun.
Pentingnya
Makrifat Ilahi
Tujuan utama sebuah agama adalah pengenalan Tuhan sebagai Wujud Yang menciptakan alam, berusaha datang ke hadirat Kasih-Nya sampai pada suatu tingkatan dimana kecintaan kepada yang lainnya telah terbakar musnah, memiliki kasih simpati kepada semua makhluk-Nya dan mengenakan jubah kesucian hakiki.
Menurut pengamatanku, tujuan
ini telah
dilupakan orang di
masa ini dan sebagian besar orang
jadinya menganut salah
satu dari berbagai bentuk atheisme. Pengenalan
Tuhan (ma’rifat
Ilahi) sayang sekali telah amat merosot dan karena itu keberanian melakukan dosa jadinya meningkat.
Jelas kiranya, sesuatu yang tidak diakui dengan sendirinya tidak akan
diikuti oleh hati,
apalagi mengasihi atau malah takut kepadanya. Semua bentuk kasih dan takut serta penghargaan hanya mungkin karena adanya
pengenalan.
Semua
itu memperlihatkan bahwa maraknya dosa
di dunia sekarang
ini merupakan akibat dari kurangnya pemahaman. Salah satu dari tanda-tanda akbar suatu agama yang hakiki
adalah agama
itu mampu memberikan
berbagai cara guna memperoleh pengenalan dan pemahaman Allah Swt. agar manusia jadinya menahan diri dari melakukan dosa.
Dengan menyadari keindahan Ilahi maka ia akan menikmati kasih hakiki sehingga jika merasa
jauh dari Tuhannya maka ia merasa hal itu sebagai lebih buruk daripada neraka. Menghindari dosa dan mengabdi kepada kasih Ilahi menjadi sasaran utama bagi manusia, yang menjadi ketentraman
hakiki laiknya kehidupan surgawi. Semua nafsu yang tidak disukai Tuhan terasa menjadi api neraka dimana mereka merasa
bahwa hidup mengikuti nafsu sama dengan hidup dalam neraka.
Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mengangkat
seseorang dari kehidupan seperti
itu? Pengetahuan yang telah dianugrahkan
kepadaku dalam konteks ini menunjukkan, bahwa keselamatan dari rumah api demikian amat bergantung pada pemahaman Ilahi secara hakiki dan sempurna.
Nafsu syahwat yang menyeret
seseorang merupakan banjir dahsyat yang mengalir deras menghancurkan keimanan, dimana tidak mungkin membendungnya kecuali dengan sesuatu yang lebih sempurna dan lebih berdaya rengkuh secara keseluruhan.
Untuk hal seperti ini dibutuhkan
pemahaman Ilahi (Ma’rifat) yang sempurna guna mendapatkan keselamatan.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi
Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 147-149, London, 1984).
Beriman Kepada yang Gaib Tanda
Pertama Orang-orang Bertakwa
Allah Swt. dalam Al-Quran sangat
menekankan pentingnya “beriman kepada
yang gaib” – terutama Allah Swt., Wujud Yang
Maha Gaib -- dan menjadi
tanda pertama dari orang-orang yang bertakwa, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ الٓـمّٓ ۚ﴿﴾ ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ
رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Alif
Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).
ذٰلِکَ الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ -- Inilah Kitab
yang sempurna itu, tidak ada keraguan di dalamnya, ہُدًی لِّلۡمُتَّقِیۡنَ -- petunjuk
bagi orang-orang yang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ -- Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada yang
gaib, mendirikan shalat
dan mereka membelanjakan
sebagian dari apa yang Kami rezekikan
kepada mereka. Dan orang-orang
yang beriman kepada apa yang diturunkan kepada engkau, juga
beriman kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau dan kepada
akhirat pun
mereka yakin. الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ -- Mereka
itulah orang-orang yang berada di atas petunjuk dari Rabb (Tuhan) mereka, dan mereka
itulah orang-orang
yang berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
Makna al-ghaib dalam ayat الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ
-- Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada yang
gaib”, berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak
nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah Swt., para malaikat dan hari kiamat, semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata
yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak
nyata, melainkan hal-hal yang nyata
dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19). Oleh
karena itu keliru sekali menyangka —
seperti dikira oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
Kata gaib
itu berarti hal-hal yang meskipun
di luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada
dari hal-hal gaib yang orang
Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda
di dunia yang meskipun tidak nampak
tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang
pun dapat menolak kehadiran benda-benda
itu.
Hubungan Kkusus Al-Quran dengan Orang-orang yang Bertakwa
Atas dasar kenyataan tersebut Allah Swt. menyatakan bahwa orang-orang bertakwa sajalah yang mendapat petunjuk
dari kesempurnaan Kitab suci Al-Quran
(QS.1:6) dan yang akan mengambil banyak
manfaat dari Al-Quran, sebagaimana
firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّمَا تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ
الذِّکۡرَ وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ
بِالۡغَیۡبِ ۚ فَبَشِّرۡہُ بِمَغۡفِرَۃٍ
وَّ اَجۡرٍ کَرِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya
engkau hanya dapat menasihati orang yang
mengikuti peringatan itu وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ -- dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah da-lam keadaan tidak
tampak, maka berilah dia kabar
gembira mengenai ampunan dan ganjaran yang mulia. (Yā Sīn [36]:12).
Firman-Nya
lagi:
وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ اِنۡ تَدۡعُ
مُثۡقَلَۃٌ اِلٰی حِمۡلِہَا لَا یُحۡمَلۡ
مِنۡہُ شَیۡءٌ وَّ لَوۡ کَانَ ذَا قُرۡبٰی ؕ اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ
یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ وَ مَنۡ تَزَکّٰی
فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی لِنَفۡسِہٖ ؕ
وَ اِلَی
اللّٰہِ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan tidak ada jiwa berbeban dapat
memikul beban orang lain, dan jika jiwa
berbeban berat berseru kepada yang lain untuk memikul bebannya tidak akan dipikul sedikit pun darinya, walau pun ia kaum kerabat sendiri. اِنَّمَا تُنۡذِرُ
الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ -- Sesungguhnya engkau
hanya dapat memperingatkan orang-orang yang takut kepada Rabb (Tuhan )mereka dalam keadaan menyendiri serta mendirikan
shalat. Dan barangsiapa mensucikan
diri maka ia hanya mensucikan untuk dirinya, dan kepada Allah kembali segala sesuatu. (Al-Fāthir [35]:19).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar