Rabu, 12 Oktober 2016

"Makrifat Ilahi" Sempurna Dalam Al-Quran & Pentingnya Beriman Kepada yang Gaib, Khususnya Allah Swt. Wujud yang "Maha Gaib"





Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 34

MAKRIFAT ILAHI SEMPURNA  DALAM AL-QURAN  &  PENTINGNYA BERIMAN KEPADA YANG GAIB, KHUSUSNYA ALLAH SWT. WUJUD YANG MAHA GAIB

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 33  dikemukakan    sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai pentingnya meraih najat (keselamatan) – di dunia dan di akhirat   --  dengan perantaraan memeluk agama yang sempurna berkenaan dengan makrifat Ilahi serta pentingnya berhubungan dengan  seorang yang berhasil menjalin  hubungan hakiki  dengan Allah Swt.,  beliau a.s.  bersabda:
      “Manusia yang sampai di relung kegelapan ini tidak akan memperoleh najat (keselamatan) kecuali ia memang mendapat kehormatan untuk berbicara dengan Tuhan-nya, atau memelihara silaturahmi (perhubungan) dengan seseorang yang memang adalah penerima wahyu hakiki dan telah menyaksikan tanda-tanda Ilahi, yang melaluinya  ia sampai pada kesimpulan bahwa ia sesungguhnya ada memiliki  Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pemurah dan Maha Penyayang, bahwa keimanannya pada agama Islam itu memang benar adanya serta Hari Penghisaban dan adanya surga dan neraka adalah realitas-realitas nyata.
      Secara kebiasaan semua umat Muslim meyakini eksistensi (keberadaan) Tuhan dan kebenaran Hadhrat Rasulullah Saw., namun keimanannya itu tidak memiliki dasar yang kuat. Melalui keimanan yang lemah demikian adalah tidak mungkin bagi mereka untuk terpengaruh secara mendasar dan mengembangkan kebencian hakiki terhadap dosa.” (Nuzulul Masih, Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XVIII, hlm.  485-486, London, 1984).

Pengertian Hakiki Najat (Keselamatan) & Makna Jihad di Jalan Allah

       Mengenai pengertian hakiki najat (keselamatan) selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
      “Sayang sekali sebagian besar manusia tidak memahami makna hakiki  najat (keselamatan). Menurut umat Kristiani, yang dimaksud dengan keselamatan adalah terhindarnya seseorang dari penghukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya. Sebenarnya bukan itu makna hakiki najat (keselamatan).
     Bisa saja seseorang tidak ada melakukan zinah, mencuri, bersaksi palsu, membunuh atau pun melakukan dosa apa pun namun tetap saja yang bersangkutan tidak mengenal keselamatan -- dalam pengertian  -- sebagai pencapaian kesejahteraan abadi yang didambakan fitrat manusia. Hal itu hanya mungkin dicapai melalui kecintaan kepada Ilahi karena telah memahami eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya dan terciptanya hubungan yang sempurna dengan Dia dimana kasih mencuat dari kedua sisi.
    Bagi seorang pencari kebenaran, yang menjadi masalah utama adalah bagaimana memperoleh kesejahteraan abadi yang menjadi dasar dari kebahagiaan dan kegembiraan abadi. Tanda dari suatu agama yang benar adalah memiliki dasar ajaran yang membawa manusia ke arah kesejahteraan demikian.
       Melalui bimbingan Al-Quran kita memperoleh petunjuk bahwa kesejahteraan abadi bisa dicapai melalui pemahaman Allah Yang Maha Kuasa dengan kasih-Nya yang suci dan sempurna yang membangkitkan kegairahan di kalbu seorang pencinta.
      Memang ini terdengarnya hanya sebagai untaian kalimat saja, namun sebuah buku yang tebal masih belum cukup untuk menafsirkannyan secara lengkap.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.  359-360, London, 1984).
      Berkenaan dengan pernyataan  Masih Mau’ud a.s. tersebut Allah Swt. berfirman:
وَ الَّذِیۡنَ جَاہَدُوۡا فِیۡنَا لَنَہۡدِیَنَّہُمۡ سُبُلَنَا ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ  لَمَعَ الۡمُحۡسِنِیۡنَ ﴿٪﴾
Dan orang-orang yang berjuang untuk Kami niscaya Kami akan memberi petunjuk kepada mereka pada jalan-jalan Kami, dan sesungguhnya Allāh beserta orang-orang yang berbuat ihsan (kebajikan)  (Al-Ankabūt [29]:70).
        Jihad sebagaimana diperintahkan oleh Islam, tidak berarti harus membunuh atau menjadi kurban pembunuhan, melainkan harus berjuang keras guna memperoleh keridhaan Ilahi, sebab kata fīnā berarti “untuk menjumpai Kami.” Firman-Nya lagi:
یٰۤاَیُّہَا الۡاِنۡسَانُ  اِنَّکَ کَادِحٌ  اِلٰی رَبِّکَ کَدۡحًا  فَمُلٰقِیۡہِ ۚ﴿﴾
Hai manusia, sesungguhnya engkau bekerja keras dengan sungguh-sungguh menuju  Rabb (Tuhan) engkau, maka  engkau akan bertemu dengan-Nya (Al-Insyiqāq [84]:7).

Menjauhi Kemusyrikan (Syirik)

      Dalam surah berikut ini secara khusus dikemukakan mengenai  pentingnya menjauhi kemusyrikan dalam upaya meraih liqa’illah  (perjumpaan dengan Allah) di dunia ini, berikut firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ اِنَّمَاۤ  اَنَا بَشَرٌ  مِّثۡلُکُمۡ  یُوۡحٰۤی  اِلَیَّ اَنَّمَاۤ  اِلٰـہُکُمۡ  اِلٰہٌ  وَّاحِدٌ ۚ فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ    فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا ﴿﴾٪
Katakanlah:  ”Sesungguh­nya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, tetapi telah diwahyukan kepadaku bahwa     Tuhan   kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, فَمَنۡ کَانَ یَرۡجُوۡا لِقَآءَ رَبِّہٖ      --  maka barangsiapa mengharap akan bertemu  dengan Rabb-nya (Tuhan-nya) فَلۡیَعۡمَلۡ عَمَلًا صَالِحًا وَّ لَا یُشۡرِکۡ بِعِبَادَۃِ  رَبِّہٖۤ  اَحَدًا  -- maka hendaklah ia beramal saleh dan ia jangan  memper­sekutukan siapa pun dalam ber­ibadah kepada Rabb-nya (Tuhan-nya)."  (Al-Kahf [18]:111).
       Allah Swt. menyatakan bahwa kecuali kemusyrikan, maka dosa-dosa  manusia yang lainnya akan diampuni jika mereka benar-benar bertaubat kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri,  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu berputus asa  dari rahmat Allah.   اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ  -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Az-Zumar [39]:54).
   Ayat ini memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati serta melenyapkan rasa putus-asa dan kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
  Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul  lebih besar daripada itu, Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      Apa yang dikemukakan Al-Quran dalam konteks ini dapat disimpulkan sebagai berikut: “Wahai hamba-Ku, janganlah pernah berputus asa akan Wujud-Ku. Aku akan tetap bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang serta menyelimuti dan menutupi dosa-dosa serta mengampuninya.
       Aku ini lebih Pemurah kepada kamu dibanding apa pun yang ada di alam. Tidak ada apa pun lainnya yang memiliki rahmat bagi kamu sebagaimana Wujud-Ku. Kasihilah Aku lebih daripada kamu  mencintai bapak-bapak kamu karena Kasih-Ku lebih besar dari kasih mereka.
      Jika kamu datang kepada-Ku maka Aku akan memaafkan dosa-dosa kamu dan jika kamu bertobat Aku akan menerimanya. Bila kamu melangkah perlahan ke arah-Ku maka Aku akan berlari ke arah engkau.     Ia yang mencari Wujud-Ku akan menemukan Aku dan ia yang berpaling kepada-Ku akan menemui pintu-Ku terbuka.
    Aku mengampuni dosa-dosa mereka yang bertobat meski setinggi gunung sekali pun.  Rahmat-Ku atas kamu sungguh besar dan Murka-Ku sungguh lembut karena kalian adalah makhluk-Ku. Aku telah menciptakan kamu, karena itu rahmat-Ku meliputi kamu semua. (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.  56, London, 1984).

Menurunnya Rasa Takut Kepada Allah Swt. Sebagai Penyebab Kemerosotan Keruhanian

      Selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan penyebab terjadinya kemerosotan keruhanian:
        “Setelah merenungi secara mendalam dan setelah terus menerus menerima wahyu dari Allah Swt. aku jadinya menyadari bahwa meski demikian banyak terdapat mazhab berbagai agama di negeri ini (Hindustan – pent), dimana perselisihan antar agama jadinya membludak seperti air bah, sebenarnya penyebab utama dari perbedaan pandangan tersebut berawal pada kemerosotan dalam fitrat keruhanian dan menurunnya rasa takut kepada Tuhan.
     Nur Samawi yang dengan cahayanya   manusia dapat membedakan antara yang benar dengan yang palsu ternyata telah menghilang dari kalbu sebagian besar mereka.  Dunia telah mengambil rona atheisme dimana meski lidahnya masih mengucapkan kata ‘Tuhan’ atau ‘Permesywar’ tetapi hatinya sendiri cenderung menyangkal.
     Semua itu dibuktikan dari menghilangnya kebiasaan berbuat baik. Aku tidak mempermasalahkan integritas (ketulusan) dari mereka yang berlaku saleh secara diam-diam, tetapi secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan perlunya agama bagi manusia sekarang ini telah diabaikan.
     Sebagian besar manusia tidak lagi mengacuhkan (mempedulikan) kesucian hati, kecintaan kepada Ilahi, kasih-sayang kepada sesama makhluk Tuhan, kelembutan hati, kasih, keadilan, kerendahan hati dan semua akhlak mulia  --  seperti ketakwaan, kesucian dan kejujuran   --  yang menjadi semangat suatu agama, lucunya semangat argumentasi keagamaan malah terlihat meningkat, sedangkan semangat keruhanian malah menurun.

Pentingnya  Makrifat Ilahi

     Tujuan utama sebuah agama adalah pengenalan Tuhan sebagai Wujud Yang menciptakan alam, berusaha datang ke hadirat Kasih-Nya sampai pada suatu tingkatan dimana kecintaan kepada yang lainnya telah terbakar musnah, memiliki kasih simpati kepada semua makhluk-Nya dan mengenakan jubah kesucian hakiki.
   Menurut pengamatanku, tujuan ini telah dilupakan orang di masa ini dan sebagian besar orang jadinya menganut salah satu dari berbagai bentuk atheisme. Pengenalan Tuhan (ma’rifat Ilahi)  sayang sekali telah amat merosot dan karena itu keberanian melakukan dosa jadinya meningkat.
    Jelas kiranya, sesuatu yang tidak diakui dengan sendirinya tidak akan diikuti oleh hati, apalagi mengasihi atau malah takut kepadanya. Semua bentuk kasih dan takut serta penghargaan hanya mungkin karena adanya pengenalan.
    Semua itu memperlihatkan bahwa maraknya dosa di dunia sekarang ini merupakan akibat dari kurangnya pemahaman. Salah satu dari tanda-tanda akbar suatu agama yang hakiki adalah agama itu mampu memberikan berbagai cara guna memperoleh pengenalan dan pemahaman Allah Swt. agar manusia jadinya menahan diri dari melakukan dosa.
    Dengan menyadari keindahan Ilahi maka ia akan menikmati kasih hakiki sehingga jika merasa jauh dari Tuhannya maka ia merasa hal itu sebagai lebih buruk daripada neraka.   Menghindari dosa dan mengabdi kepada kasih Ilahi menjadi sasaran utama bagi manusia, yang menjadi ketentraman hakiki laiknya kehidupan surgawi. Semua nafsu yang tidak disukai Tuhan terasa menjadi api neraka dimana mereka merasa bahwa hidup mengikuti nafsu sama dengan hidup dalam neraka.
     Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mengangkat seseorang dari kehidupan seperti itu? Pengetahuan yang telah dianugrahkan kepadaku dalam konteks ini menunjukkan, bahwa keselamatan dari rumah api demikian amat bergantung pada pemahaman Ilahi secara hakiki dan sempurna.
    Nafsu syahwat yang menyeret seseorang merupakan banjir dahsyat yang mengalir deras menghancurkan keimanan, dimana tidak mungkin membendungnya kecuali dengan sesuatu yang lebih sempurna dan lebih berdaya rengkuh secara keseluruhan. Untuk hal seperti ini dibutuhkan pemahaman Ilahi (Ma’rifat)  yang sempurna guna mendapatkan keselamatan.” (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 147-149, London, 1984).

Beriman Kepada yang Gaib Tanda Pertama Orang-orang Bertakwa

     Allah Swt. dalam Al-Quran sangat menekankan pentingnya “beriman kepada yang gaib” – terutama Allah Swt.,   Wujud Yang   Maha Gaib --  dan menjadi  tanda pertama dari orang-orang yang bertakwa, firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾  الٓـمّٓ ۚ﴿﴾  ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ ۚۛ ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ ۙ﴿﴾  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ وَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ  مِمَّا رَزَقۡنٰہُمۡ  یُنۡفِقُوۡنَ ۙ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِمَاۤ  اُنۡزِلَ اِلَیۡکَ وَ مَاۤ اُنۡزِلَ مِنۡ قَبۡلِکَ ۚ وَ بِالۡاٰخِرَۃِ ہُمۡ یُوۡقِنُوۡنَ ؕ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡمُفۡلِحُوۡنَ ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Alif Lām Mīm (Aku Allah Yang Maha Mengetahui).   ذٰلِکَ  الۡکِتٰبُ لَا رَیۡبَ ۚۖۛ فِیۡہِ  --   Inilah  Kitab yang sempurna itu,  tidak ada keraguan  di dalamnya, ہُدًی  لِّلۡمُتَّقِیۡنَ  --   petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ  --  Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada  yang gaib, mendirikan shalat  dan mereka  membelanjakan sebagian dari apa  yang Kami rezekikan  kepada mereka.   Dan orang-orang  yang beriman kepada apa yang  diturunkan kepada engkau, juga beriman  kepada apa yang telah diturunkan sebelum engkau  dan kepada  akhirat pun mereka   yakin.    الۡمُفۡلِحُوۡنَ اُولٰٓئِکَ عَلٰی ہُدًی مِّنۡ رَّبِّہِمۡ ٭ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ --  Mereka itulah orang-orang yang  berada di atas  petunjuk dari Rabb (Tuhan) mereka,  dan mereka itulah  orang-orang yang  berhasil. (Al-Baqarah [2]:1-6).
      Makna al-ghaib dalam ayat  الَّذِیۡنَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِالۡغَیۡبِ  --  Yaitu orang-orang yang ber-iman kepada  yang gaib”,      berarti: sesuatu yang tersembunyi atau tidak nampak; sesuatu yang tidak terlihat, tidak hadir, atau jauh sekali (Aqrab-ul-Mawarid). Allah Swt.,   para malaikat dan hari kiamat,  semuanya al-ghaib. Lagi pula, kata yang digunakan dalam Al-Quran tersebut tidak berarti hal-hal yang khayali dan tidak nyata, melainkan hal-hal yang nyata dan telah dibenarkan adanya meskipun tidak nampak (QS.32:7; QS.49:19). Oleh karena itu keliru sekali menyangka — seperti dikira oleh beberapa kritikus Al-Quran dari Barat — bahwa Islam memaksakan kepada para pengikutnya beberapa kepercayaan aneh yang tidak dapat dipahami dan mengajak mereka mempercayainya dengan membabi buta.
     Kata  gaib  itu berarti hal-hal yang meskipun di luar jangkauan indera manusia tetapi dapat dibuktikan oleh akal atau pengalaman. Yang tidak tertangkap oleh pancaindera tidak senantiasa tak dapat diterima oleh akal. Tidak ada dari hal-hal  gaib  yang orang Islam diminta agar beriman kepadanya itu di luar jangkauan akal. Banyak benda-benda di dunia yang meskipun tidak nampak tetapi terbukti adanya dengan keterangan-keterangan dan dalil-dalil yang kuat dan tiada seorang pun dapat menolak kehadiran benda-benda itu.

Hubungan  Kkusus Al-Quran dengan Orang-orang yang Bertakwa

     Atas dasar kenyataan tersebut Allah Swt.  menyatakan bahwa  orang-orang bertakwa sajalah yang mendapat petunjuk  dari kesempurnaan Kitab suci Al-Quran (QS.1:6) dan yang akan mengambil banyak manfaat dari Al-Quran, sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
اِنَّمَا تُنۡذِرُ مَنِ اتَّبَعَ  الذِّکۡرَ  وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ ۚ فَبَشِّرۡہُ  بِمَغۡفِرَۃٍ وَّ اَجۡرٍ  کَرِیۡمٍ ﴿﴾
Sesungguhnya engkau hanya dapat menasihati orang yang mengikuti peringatan itu  وَ خَشِیَ الرَّحۡمٰنَ بِالۡغَیۡبِ --  dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah da-lam keadaan tidak tampak, maka berilah dia kabar gembira  mengenai ampunan dan ganjaran yang mulia. (Yā Sīn [36]:12).
Firman-Nya lagi:
وَ لَا تَزِرُ  وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ اُخۡرٰی ؕ وَ اِنۡ تَدۡعُ مُثۡقَلَۃٌ  اِلٰی حِمۡلِہَا لَا یُحۡمَلۡ مِنۡہُ شَیۡءٌ وَّ لَوۡ کَانَ ذَا قُرۡبٰی ؕ اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ ؕ وَ مَنۡ تَزَکّٰی فَاِنَّمَا یَتَزَکّٰی  لِنَفۡسِہٖ ؕ وَ  اِلَی  اللّٰہِ  الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  
Dan tidak ada jiwa berbeban dapat memikul beban orang lain, dan jika jiwa berbeban berat berseru kepada yang lain untuk memikul bebannya tidak akan dipikul sedikit pun darinya, walau pun ia kaum kerabat sendiri. اِنَّمَا تُنۡذِرُ الَّذِیۡنَ یَخۡشَوۡنَ رَبَّہُمۡ بِالۡغَیۡبِ وَ اَقَامُوا الصَّلٰوۃَ   --  Sesungguhnya   engkau hanya dapat memperingatkan orang-orang yang takut kepada  Rabb (Tuhan )mereka dalam keadaan menyendiri  serta mendirikan shalat. Dan barangsiapa mensucikan diri  maka ia hanya mensucikan untuk dirinya, dan kepada Allah kembali segala sesuatu.  (Al-Fāthir  [35]:19).
  
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar