Sabtu, 08 Oktober 2016

Pentingnya Keberadaan "Orang-orang yang Disucikan" Allah Swt. & Upaya Nabi Sulaiman a.s. Melalui "Iptek" (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) Menyadarkan Ratu Saba dari Kemusyrikan





Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 30

  PENTINGNYA KEBERADAAN “ORANG YANG DISUCIKAN” ALLAH SWT. &  UPAYA NABI SULAIMAN A.S. MELALUI IPTEK (ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI) MENYADARKAN RATU SABA DARI KEMUSYRIKAN   

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma



D

alam  bagian  akhir Bab 29 dikemukakan     penjelasan   mengenai    makna huruf  dalam ayat  فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ   -- “Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan”,  dalam firman-Nya:

فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾  وَ  اِنَّہٗ  لَقَسَمٌ  لَّوۡ  تَعۡلَمُوۡنَ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾

Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan,  dan sesungguhnya itu benar-benar  kesaksian agung seandainya kamu mengetahui, اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ  --  Sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia,    فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ --  Dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara,  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --            Yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.    تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --     Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Wāqi’ah [56]:76-81).



Makna Persumpahan Allah Swt.  &  Berbagai Makna “Nujum” Bintang-bintang)  



     Kata la dalam ayat فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ   -- “Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan   pada umumnya dipergunakan untuk memberikan tekanan arti pada suatu sumpah, yang berarti  bahwa hal yang akan diterangkan lebih lanjut adalah begitu jelas, sehingga tidak diperlukan memanggil sesuatu yang lain untuk memberikan kesaksian atas kebenarannya. Bila yang dimaksudkan ialah sanggahan terhadap suatu praduga (hipotesa) tertentu, maka   itu dipergunakan untuk menyataka bahwa apa yang tersebut sebelumnya tidak benar dan yang benar ialah yang berikutnya.

  Dalam ayat ini  Allah Swt. bersumpah dengan dan berpegang kepada nujum yang  -- selain  berarti “bintang-bintang” juga   -- berarti  bagian-bagian Al-Quran (Lexicon Lane), sebagai bukti untuk mendukung pengakuan bahwa diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.    luar-biasa cocoknya untuk memenuhi tujuan besar di balik kejadian (penciptaan) manusia – yakni untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57)  --  demikian pula untuk membuktikan keberasalan (sumber)  Al-Quran sendiri dari Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta (QS.1:2).

  Jika kata mawāqi’ diambil dalam arti tempat-tempat dan waktu bintang-bintang berjatuhan, maka ayat ini bermakna bahwa telah merupakan hukum Ilahi yang tidak pernah salah, bahwa pada saat ketika seorang mushlih rabbani (reformer) atau seorang nabi Allah muncul  maka  senantiasa terjadi gejala meteoric berupa bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah luar biasa banyaknya, dan yang demikian itu telah terjadi juga di masa Nabi Besar Muhammad saw..

  Makna lain dari ayat  فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ   -- “Maka Aku benar-benar ber-sumpah demi bintang-bintang berjatuhan”,   apabila para pemuka agama  yang bagi umat beragama   berkedudukan sebagai bintang-bintang di langit  (QS.16:17) telah berjatuhan dalam hal  akhlak dan ruhaninya, sehingga  langit  keruhanian benar-benar menjadi gelap-gulita dan    di langit   tidak ada lagi sarana petunjuk bagi para pencari  kebenaran, maka  Allah Swt. akan menerbitkan  bintang  yang bercahaya cemerlang berupa pengutusan rasul Allah  yang kedatangannya dijanjikan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), terutama Nabi Besar Muhammad saw. sebagai   matahari ruhani” paing sempurna (QS.33:46-47).



Makna “Kitab yang Terpelihara



   Bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik dalam ayat:   فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ --  Dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara” merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantang-an itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan.

   Tidak ada upaya yang telah disia-siakan para pengecam yang tidak bersahabat untuk mencela kemurnian teksnya. Tetapi semua daya upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa “kitab yang disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.   kepada dunia empat belas abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang satu huruf pun” (Sir Williams Muir), sesuai firman-Nya:

اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾

Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.   (Al-Hijr [15]:10).

       Janji mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun andaikata tidak ada bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan  bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt..

      Surah ini diturunkan di Mekkah (Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw.   beserta para pengikut beliau sangat morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama yang baru itu. Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan bahwa Allah Swt.  akan menggagalkan segala tipu-daya mereka sebab Dia sendirilah Penjaganya.

       Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan Al-Quran yang demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.



Pengakuan Kritikus Non-Muslim



     Sir William Muir, sarjana ahli kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ...................... Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan ...................... Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah membandingkan hal-hal yang antaranya tidak ada persamaan” (Introduction to “The Life of Mohammad”).

     Prof. Noldeke, ahli ketimuran besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica). Kebalikannnya, kegagalan mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan dengan pasti kebenaran da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab suci yang diwahyukan  hanya Al-Quranlah yang seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia.

        Bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik dalam ayat:   فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ --  Dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara”  (Al-Wāqi’ah [56]:79) merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantangan itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan.



Pentingnya Keberadaan Orang-orang yang Disucikan Allah Swt. 



   Al-Quran adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara  dalam pengertian bahwa hanya orang-orang beriman yang hatinya bersih sajalah yang  dapat meraih khazanah keruhanian seperti diterangkan dalam ayat berikutnya: لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --   Yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan” (Al-Wāqi’ah [56]:80).

  Ayat  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ --  Dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara”  ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran itu tercantum di dalam kitab alam, yaitu cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam. Seperti hukum alam,  demikian pula cita-cita dan asas-asas itu juga kekal dan tidak berubah serta hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman.

 Atau, ayat لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --  Yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan.” ini dapat diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam fitrat yang telah dianugerahkan Allah  Swt. kepada manusia (QS.30:31). Fitrat insani berlandaskan pada hakikat-hakikat dasar dan telah dilimpahi kemampuan untuk sampai kepada keputusan yang benar. Orang yang secara jujur bertindak sesuai dengan naluri atau fitratnya  ia dengan mudah dapat mengenal kebenaran Al-Quran.

  Hanya  orang yang bernasib baik sajalah yang  diberi pengertian  mengenai dan dan dapat mendalami kandungan arti Al-Quran yang hakiki, melalui cara menjalani kehidupan bertakwa lalu meraih kebersihan hati dan dimasukkan Allah Swt. ke dalam alam rahasia ruhani makrifat Ilahi  yang tertutup bagi orang-orang yang hatinya tidak bersih. (QS.3:8-9).

   Secara sambil    lalu  dalam  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --  Yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan” dikatakannya bahwa kita hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik kita tidak bersih, guna menghormati Kitab suci tersebut sebagai bagian dari tanda ketakwaan pula (QS.22:31-33).



Pentingnya keberadaan Rasul Allah



Dari  kalangan “orang-orang yang disucikan Allah Swt.”  di kalangan umat Islam tersebut   -- yang disebut para wali Allah – yang paling sempurna martabat ruhaninya  adalah yang meraih derajat kenabian (QS.4:70-71), sebab  sebagaimana kepada hanya kepada Adam (Khalifah)  sajalah Allah Swt.  mengajarkan  Al-Asmā-Nya” (QS.2:31-35) demikian pula hanya kepada Rasul Allah sajalah  Allah Swt.  membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.berikut ini:

قُلۡ  اِنۡ  اَدۡرِیۡۤ  اَقَرِیۡبٌ مَّا تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ  یَجۡعَلُ  لَہٗ  رَبِّیۡۤ   اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾

Katakanlah: “Aku tidak mengetahui apakah yang dijanjikan kepada kamu itu telah dekat ataukah Rabb-ku ( Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa yang lama.”  عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا --   Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun,  اِلَّا مَنِ ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ --   kecuali kepada Rasul yang Dia ridhai, فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ  بَیۡنِ یَدَیۡہِ  وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا  -- maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya dan di belakangnya, لِّیَعۡلَمَ  اَنۡ  قَدۡ  اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ    --   supaya Dia mengetahui bah-wa  sungguh  mereka telah menyam-paikan Amanat-amanat  Rabb (Tuhan) mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ  شَیۡءٍ عَدَدًا    --  dan Dia meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu  (Al-Jin [71]:26-29).

  Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib”  dalam ayat عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا --  Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun”,   berarti diberi pengetahuan dengan sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian yang sangat penting.

 Ayat ini merupakan ukuran yang tiada tara bandingannya guna membedakan antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul Tuhan, dan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan-Nya kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.

 Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa  kalau rasul-rasul Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni  “penguasaan atas yang gaib”, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati kehormatan serupa itu.

 Tambahan pula wahyu yang dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan, karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi, keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa lainnya tidak begitu terpelihara.



 Hubungan Ilmu Pengatahuan  dengan Maghfirah



Kembali kepada peristiwa kekeliruan pendapat Nabi Adam a.s. dalam menafsirkan nasihat “manusia syaitan” yang sangat mengoda hawa-nafsu (syahwat kemanusiaan), dalam firman-Nya:

فَوَسۡوَسَ لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾

Lalu   syaitan membisikkan nasihat jahat kepada keduanya itu supaya ia dapat menampakkan kepada keduanya itu apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat   mereka وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ  اِلَّاۤ اَنۡ  تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ  الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali  tidak   melarang kamu ber-dua dari pohon ini melainkan agar kamu berdua jangan menjadi malaikat atau menjadi di antara orang-orang yang hidup kekal.” وَ قَاسَمَہُمَاۤ  اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ  -- Dan ia bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang tulus bagi kamu berdua.” (Al-A’rāf [7]:21-22).

    Kekeliruan penafsiran Nabi Adam a.s. tersebut   -- walau pun menyebabkan terbukanyaaurat  (kelemahan) di kalangan jama’ah  beliau a.s. yaitu berupa timbulnya  perselisihan  – tetapi bukan merupakan  perbuatan dosa yang harus mendapat hukuman Allah Swt., sebab di dalamnya tidak ada unsur   kesengajaan  atau tekad  untuk melakukan   pelanggaran terhadap peringatan Allah Swt., firman-Nya:

وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾

Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ   --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,   وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا  -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).

      Dengan demikian  berupaya untuk mendapat “ tambahan pengetahuan” dari Allah Swt. pun merupakan “maghfirah” (penutupan kelemahan) pula, sebab apabila mengerjakan sesuatu tanpa disertai dengan pengetahuan yang benar maka tidak akan mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan, yakni    karya  yang dihasilkan penuh dengan berbagai  kelemahan dan kekurangan.



Upaya Nabi Sulaiman a.s.  Melalui Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) Menyadarkan Ratu Saba  dari Kemusyrikan



     Contoh  menarik mengenai hubungan “maghfirah” (penutupan kelemahan) dengan penguasaan iptek  (ilmu pengetahuan  dan teknologi) adalah pengubahan penampilan “singgasana indah”  hadiah Ratu Saba   atas petunjuk   Nabi Sulaiman a.s., firman-Nya:

قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾

Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk.” فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ  اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ  -- Maka tatkala ia, ratu, datang dikatakan kepadanya: Serupa inikah singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ  --  Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ  -- dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (An-Naml [27]:42-43).

        Nakkara-hu dalam ayat  قَالَ نَکِّرُوۡا  لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ    --  “Ia, Sulaiman,  berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk” berarti: ia mengganti atau mengubah bentuk sesuatu agar tidak dikenal; ia membuatnya nampak biasa saja (Lexicon Lane).

      Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam terjemahan ayat berarti: “buatlah singgasana ini lebih baik daripada singgasananya, sehingga singgasana sendiri nampak biasa saja.” Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa Nabi Sulaiman a.s.  telah memerintahkan pembesarnya yang dipercayakan tugas menyiapkan singgasana bagi Ratu Saba, supaya membuatnya demikian cantik, sehingga Ratu Saba  akan mengakui keunggulan dalam seni pembuatannya sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya sendiri, dan dengan demikian dapat mengerti  bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s.  jauh lebih besar dan lebih unggul daripada kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Ratu Saba itu sendiri.

      Itulah rupa-rupanya arti kalimat  نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ  اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ --    kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk. ” Nabi Sulaiman a.s. melalui upaya merenovasi singgasana hadiah Ratu Saba  berusaha menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya berusaha menentang atau melawan beliau.

      Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum bangsawan istana nampaknya berbesar kepala (bangga) oleh kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan mereka (QS.27:34), dan Nabi Sulaiman a.s. berkehendak menyadarkan mereka dari anggapan keliru itu (QS.27:37).

       Seandainya kata “singgasananya” diambil dalam artian singgasana  yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada Nabi Sulaiman a.s.  sebagai hadiah, maka kata nakkiru akan berarti bahwa singgasana itu demikian dihiasi dan diperindah  serta gambar-gambar patung yang dilukis padanya —jika memang ada— dihapus begitu sempurna, sehingga Ratu Saba tidak dapat mengenalinya  lagi.

     Ucapan Ratu  Saba:   وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ  مِنۡ قَبۡلِہَا  وَ  --  dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya,” maknanya ialah bahwa Ratu Saba telah menjadi maklum (mengetahui) akan kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s., dan telah mengambil keputusan menyerah kepada beliau.



(Bersambung)



Rujukan: The Holy Quran

Editor: Malik Ghulam Farid



oo0oo

Pajajaran Anyar, 7 Oktober 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar