Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
30
PENTINGNYA KEBERADAAN “ORANG YANG DISUCIKAN” ALLAH SWT. & UPAYA
NABI SULAIMAN A.S. MELALUI IPTEK (ILMU
PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI) MENYADARKAN RATU
SABA DARI KEMUSYRIKAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam
bagian akhir Bab 29 dikemukakan
penjelasan mengenai
makna huruf lā dalam
ayat فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ -- “Maka Aku
benar-benar bersumpah demi bintang-bintang
berjatuhan”, dalam firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ
اِنَّہٗ لَقَسَمٌ لَّوۡ
تَعۡلَمُوۡنَ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ
لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ کِتٰبٍ
مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan, dan sesungguhnya itu benar-benar kesaksian agung
seandainya kamu mengetahui, اِنَّہٗ
لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ -- Sesungguhnya itu benar-benar Al-Quran yang mulia, فِیۡ
کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- Dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- Yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Wāqi’ah [56]:76-81).
Makna Persumpahan Allah Swt.
& Berbagai Makna “Nujum” Bintang-bintang)
Kata la dalam ayat فَلَاۤ
اُقۡسِمُ بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ -- “Maka
Aku benar-benar bersumpah demi
bintang-bintang berjatuhan” pada
umumnya dipergunakan untuk memberikan
tekanan arti pada suatu sumpah,
yang berarti bahwa hal yang akan diterangkan
lebih lanjut adalah begitu jelas, sehingga tidak diperlukan memanggil sesuatu yang lain untuk
memberikan kesaksian atas kebenarannya. Bila yang dimaksudkan
ialah sanggahan terhadap suatu praduga (hipotesa) tertentu, maka lā itu dipergunakan untuk menyataka bahwa apa yang tersebut sebelumnya tidak benar dan yang benar ialah yang berikutnya.
Dalam ayat ini Allah Swt. bersumpah
dengan dan berpegang kepada nujum yang -- selain
berarti “bintang-bintang”
juga -- berarti bagian-bagian
Al-Quran (Lexicon Lane),
sebagai bukti untuk mendukung pengakuan bahwa diwahyukan-Nya
Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad
saw. luar-biasa cocoknya
untuk memenuhi tujuan besar di balik kejadian (penciptaan) manusia – yakni
untuk beribadah kepada-Nya
(QS.51:57) -- demikian pula untuk membuktikan keberasalan (sumber)
Al-Quran sendiri dari Allah Swt., Tuhan Pencipta
alam semesta (QS.1:2).
Jika kata mawāqi’ diambil
dalam arti tempat-tempat dan waktu bintang-bintang berjatuhan, maka
ayat ini bermakna bahwa telah merupakan
hukum Ilahi yang tidak pernah salah,
bahwa pada saat ketika seorang mushlih rabbani (reformer) atau seorang nabi Allah muncul maka
senantiasa terjadi gejala meteoric
berupa bintang-bintang berjatuhan
dalam jumlah luar biasa banyaknya, dan yang demikian itu telah terjadi juga di
masa Nabi Besar Muhammad saw..
Makna lain dari ayat فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ -- “Maka Aku
benar-benar ber-sumpah demi bintang-bintang
berjatuhan”, apabila para pemuka agama yang bagi umat beragama berkedudukan sebagai bintang-bintang di
langit (QS.16:17) telah berjatuhan
dalam hal akhlak dan ruhaninya,
sehingga langit keruhanian benar-benar menjadi gelap-gulita
dan di langit tidak ada lagi sarana petunjuk bagi
para pencari kebenaran, maka Allah Swt. akan menerbitkan bintang yang bercahaya cemerlang berupa
pengutusan rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), terutama Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai “matahari
ruhani” paing sempurna (QS.33:46-47).
Makna “Kitab yang Terpelihara”
Bahwa Al-Quran itu
sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik dalam ayat: فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “Dalam suatu kitab yang sangat terpelihara”
merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad,
tantang-an itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan.
Tidak ada upaya
yang telah disia-siakan para pengecam yang tidak bersahabat untuk mencela
kemurnian teksnya. Tetapi semua daya
upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya
hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa “kitab yang disodorkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. kepada dunia
empat belas abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang
satu huruf pun” (Sir Williams Muir), sesuai firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ
وَ اِنَّا لَہٗ
لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya
Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya. (Al-Hijr
[15]:10).
Janji mengenai perlindungan dan penjagaan Al-Quran yang diberikan dalam ayat ini telah genap dengan
cara yang sangat menakjubkan, sehingga sekalipun andaikata tidak ada
bukti-bukti lainnya, kenyataan ini saja niscaya sudah cukup membuktikan bahwa Al-Quran itu berasal dari Allah Swt..
Surah ini diturunkan di Mekkah
(Noldeke pun mengakuinya), ketika kehidupan Nabi Besar Muhammad saw. beserta para pengikut beliau sangat
morat-marit keadaannya, dan musuh-musuh dengan mudah dapat menghancurkan agama
yang baru itu. Ketika itulah orang-orang kafir ditantang untuk mengerahkan segenap tenaga mereka guna
menghancurkan Islam, dan mereka diperingatkan
bahwa Allah Swt. akan menggagalkan segala tipu-daya
mereka sebab Dia sendirilah Penjaganya.
Tantangan itu terbuka dan tidak samar-samar, sedangkan keadaan musuh
kuat lagi kejam, kendatipun demikian Al-Quran
tetap selamat dari perubahan, penyisipan, dan pengurangan, serta senantiasa terus-menerus menikmati penjagaan yang sempurna. Keistimewaan Al-Quran yang
demikian itu tidak dimiliki oleh Kitab-kitab lainnya yang diwahyukan.
Pengakuan Kritikus
Non-Muslim
Sir William Muir, sarjana ahli
kritik yang tersohor, karena sikapnya memusuhi Islam, berkata: “Kita dapat menetapkan berdasarkan dugaan
yang paling keras, bahwa tiap-tiap ayat dalam Al-Quran itu asli dan merupakan
gubahan Muhammad sendiri yang tidak mengalami perubahan ......................
Ada jaminan yang kuat, baik dari dalam Alquran maupun dari luar, bahwa kita
memiliki teks yang Muhammad sendiri siarkan dan pergunakan ......................
Membandingkan teks asli mereka yang tidak mengalami perubahan itu dengan
berbagai naskah kitab-kitab suci kita, adalah membandingkan hal-hal yang
antaranya tidak ada persamaan” (Introduction
to “The Life of Mohammad”).
Prof. Noldeke, ahli ketimuran
besar yang berkebangsaan Jerman menulis sebagai berikut, “Usaha-usaha dari para sarjana Eropa untuk membuktikan adanya
sisipan-sisipan dalam Al-Quran di masa kemudian, telah gagal” (Encyclopaedia Britannica). Kebalikannnya,
kegagalan mutlak dari Dr. Mingana, beberapa tahun berselang, untuk mencari-cari kelemahan dalam kemurnian teks Al-Quran, membuktikan
dengan pasti kebenaran da'wa kitab itu, bahwa di antara semua kitab suci yang
diwahyukan hanya Al-Quranlah yang
seluruhnya tetap kebal dari penyisipan atau campur-tangan manusia.
Bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan
terjaga baik dalam ayat: فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “Dalam suatu kitab yang sangat terpelihara”
(Al-Wāqi’ah [56]:79) merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantangan itu tetap tidak terjawab atau tidak
mendapat sambutan.
Pentingnya Keberadaan Orang-orang yang Disucikan Allah Swt.
Al-Quran adalah sebuah Kitab yang sangat terpelihara dalam pengertian
bahwa hanya orang-orang beriman yang
hatinya bersih sajalah yang dapat meraih khazanah keruhanian seperti
diterangkan dalam ayat berikutnya: لَّا یَمَسُّہٗۤ
اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ
-- Yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (Al-Wāqi’ah [56]:80).
Ayat فِیۡ کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- “Dalam suatu kitab yang sangat terpelihara”
ini pun dapat berarti bahwa cita-cita dan asas-asas yang terkandung dalam Al-Quran
itu tercantum di dalam kitab alam,
yaitu cita-cita dan asas-asas itu sepenuhnya serasi dengan hukum alam. Seperti hukum
alam, demikian pula cita-cita dan asas-asas itu juga kekal
dan tidak berubah serta hukum-hukumnya tidak dapat dilanggar tanpa menerima hukuman.
Atau, ayat لَّا یَمَسُّہٗۤ اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- Yang
tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang
yang disucikan.” ini dapat diartikan bahwa Al-Quran dipelihara dalam
fitrat yang telah dianugerahkan Allah
Swt. kepada manusia (QS.30:31). Fitrat insani berlandaskan pada hakikat-hakikat dasar dan telah dilimpahi
kemampuan untuk sampai kepada keputusan yang benar. Orang yang secara jujur bertindak sesuai dengan naluri
atau fitratnya ia dengan mudah
dapat mengenal kebenaran Al-Quran.
Hanya
orang yang bernasib baik
sajalah yang diberi pengertian mengenai dan dan dapat mendalami kandungan arti Al-Quran
yang hakiki, melalui cara menjalani
kehidupan bertakwa lalu meraih kebersihan
hati dan dimasukkan Allah Swt. ke dalam alam
rahasia ruhani makrifat Ilahi yang tertutup bagi orang-orang yang hatinya tidak bersih. (QS.3:8-9).
Secara sambil lalu dalam لَّا یَمَسُّہٗۤ اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- Yang
tidak dapat menyentuhnya kecuali orang-orang
yang disucikan” dikatakannya bahwa kita hendaknya jangan menyentuh atau membaca Al-Quran sementara keadaan fisik kita tidak bersih, guna menghormati Kitab
suci tersebut sebagai bagian dari tanda
ketakwaan pula (QS.22:31-33).
Pentingnya keberadaan Rasul Allah
Dari kalangan “orang-orang yang disucikan Allah Swt.” di kalangan umat Islam tersebut -- yang disebut para wali Allah – yang paling sempurna martabat ruhaninya adalah
yang meraih derajat kenabian
(QS.4:70-71), sebab sebagaimana kepada
hanya kepada Adam (Khalifah) sajalah Allah Swt. mengajarkan
“Al-Asmā-Nya” (QS.2:31-35)
demikian pula hanya kepada Rasul Allah
sajalah Allah Swt. membukakan rahasia-rahasia gaib-Nya, sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar
Muhammad saw.berikut ini:
قُلۡ اِنۡ
اَدۡرِیۡۤ اَقَرِیۡبٌ مَّا
تُوۡعَدُوۡنَ اَمۡ یَجۡعَلُ لَہٗ
رَبِّیۡۤ اَمَدًا ﴿﴾ عٰلِمُ الۡغَیۡبِ
فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا ﴿ۙ﴾ اِلَّا مَنِ
ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا ﴿ۙ﴾ لِّیَعۡلَمَ اَنۡ
قَدۡ اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ
رَبِّہِمۡ وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا ﴿٪﴾
Katakanlah: “Aku tidak mengetahui
apakah yang dijanjikan kepada kamu itu
telah dekat ataukah Rabb-ku (
Tuhan-ku) telah menetapkan baginya masa
yang lama.” عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ اَحَدًا -- Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak menzahirkan rahasia gaib-Nya kepada siapa pun, اِلَّا مَنِ
ارۡتَضٰی مِنۡ رَّسُوۡلٍ -- kecuali
kepada Rasul yang Dia ridhai, فَاِنَّہٗ یَسۡلُکُ مِنۡۢ بَیۡنِ
یَدَیۡہِ وَ مِنۡ خَلۡفِہٖ رَصَدًا -- maka sesungguhnya barisan pengawal berjalan di hadapannya
dan di belakangnya, لِّیَعۡلَمَ اَنۡ قَدۡ
اَبۡلَغُوۡا رِسٰلٰتِ رَبِّہِمۡ -- supaya Dia mengetahui bah-wa
sungguh mereka telah
menyam-paikan Amanat-amanat Rabb (Tuhan)
mereka, وَ اَحَاطَ بِمَا لَدَیۡہِمۡ وَ اَحۡصٰی کُلَّ شَیۡءٍ عَدَدًا -- dan Dia
meliputi semua yang ada pada mereka dan Dia membuat perhitungan mengenai segala sesuatu (Al-Jin [71]:26-29).
Ungkapan, “izhhar ‘ala al-ghaib” dalam
ayat عٰلِمُ الۡغَیۡبِ فَلَا یُظۡہِرُ عَلٰی غَیۡبِہٖۤ
اَحَدًا -- “Dia-lah Yang mengetahui yang gaib, maka
Dia tidak menzahirkan rahasia
gaib-Nya kepada siapa pun”, berarti diberi pengetahuan dengan
sering dan secara berlimpah-limpah mengenai rahasia gaib bertalian dengan dan mengenai peristiwa dan kejadian
yang sangat penting.
Ayat ini merupakan ukuran
yang tiada tara bandingannya guna membedakan
antara sifat dan jangkauan rahasia-rahasia gaib yang dibukakan Allah Swt. kepada seorang rasul Tuhan, dan rahasia-rahasia
gaib yang dibukakan-Nya kepada orang-orang mukmin bertakwa lainnya.
Perbedaan itu letaknya pada kenyataan bahwa kalau rasul-rasul
Tuhan dianugerahi izhhar ‘ala al-ghaib yakni “penguasaan atas yang gaib”, maka rahasia-rahasia yang diturunkan kepada orang-orang bertakwa dan orang-orang suci lainnya tidak menikmati
kehormatan serupa itu.
Tambahan pula wahyu yang
dianugerahkan kepada rasul-rasul Tuhan,
karena ada dalam pemeliharaan-istimewa-Ilahi,
keadaannya aman dari pemutar-balikkan atau pemalsuan oleh jiwa-jiwa yang jahat, sedang rahasia-rahasia
yang dibukakan kepada orang-orang bertakwa
lainnya tidak begitu terpelihara.
Hubungan
Ilmu Pengatahuan dengan Maghfirah
Kembali kepada peristiwa kekeliruan
pendapat Nabi Adam a.s. dalam menafsirkan
nasihat “manusia syaitan” yang sangat mengoda hawa-nafsu (syahwat kemanusiaan), dalam firman-Nya:
فَوَسۡوَسَ
لَہُمَا الشَّیۡطٰنُ لِیُبۡدِیَ لَہُمَا مَا وٗرِیَ عَنۡہُمَا مِنۡ سَوۡاٰتِہِمَا
وَ قَالَ مَا نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ اِلَّاۤ اَنۡ
تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ
الۡخٰلِدِیۡنَ ﴿﴾ وَ قَاسَمَہُمَاۤ
اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ النّٰصِحِیۡنَ ﴿ۙ﴾
Lalu syaitan membisikkan nasihat
jahat kepada keduanya itu supaya
ia dapat menampakkan kepada keduanya itu
apa yang tersembunyi dari keduanya itu aurat mereka وَ قَالَ مَا
نَہٰکُمَا رَبُّکُمَا عَنۡ ہٰذِہِ الشَّجَرَۃِ
اِلَّاۤ اَنۡ تَکُوۡنَا مَلَکَیۡنِ
اَوۡ تَکُوۡنَا مِنَ الۡخٰلِدِیۡنَ -- dan ia
berkata: “Rabb (Tuhan) kamu berdua sekali-kali tidak melarang kamu ber-dua dari pohon ini
melainkan agar kamu berdua jangan
menjadi malaikat atau menjadi di
antara orang-orang yang hidup kekal.”
وَ
قَاسَمَہُمَاۤ اِنِّیۡ لَکُمَا لَمِنَ
النّٰصِحِیۡنَ -- Dan ia
bersumpah kepada keduanya itu: “Sesungguhnya aku benar-benar termasuk orang yang memberi nasihat yang tulus
bagi kamu berdua.” (Al-A’rāf
[7]:21-22).
Kekeliruan penafsiran Nabi Adam a.s. tersebut
-- walau pun menyebabkan terbukanya
“aurat” (kelemahan) di kalangan jama’ah beliau a.s. yaitu
berupa timbulnya perselisihan – tetapi bukan
merupakan perbuatan dosa yang harus mendapat hukuman Allah Swt., sebab di dalamnya tidak ada unsur kesengajaan atau tekad
untuk melakukan pelanggaran
terhadap peringatan Allah Swt.,
firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam
bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang
di dalamnya berbagai macam ancaman
supaya mereka bertakwa atau supaya
perkataan
ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ -- Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau
tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya
dilengkapkan kepada engkau, وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا
-- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku
(Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).
Dengan
demikian berupaya untuk mendapat “ tambahan pengetahuan” dari Allah Swt.
pun merupakan “maghfirah” (penutupan
kelemahan) pula, sebab apabila mengerjakan
sesuatu tanpa disertai dengan pengetahuan
yang benar maka tidak akan mencapai hasil sebagaimana yang diharapkan, yakni karya yang dihasilkan
penuh dengan berbagai kelemahan dan kekurangan.
Upaya Nabi Sulaiman a.s. Melalui Iptek
(Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) Menyadarkan
Ratu Saba dari Kemusyrikan
Contoh
menarik mengenai hubungan “maghfirah”
(penutupan kelemahan) dengan penguasaan iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi) adalah pengubahan penampilan “singgasana indah” hadiah Ratu
Saba atas petunjuk Nabi Sulaiman
a.s., firman-Nya:
قَالَ
نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ
اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ
الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا جَآءَتۡ
قِیۡلَ اَہٰکَذَا عَرۡشُکِ ؕ قَالَتۡ
کَاَنَّہٗ ہُوَ ۚ وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ
مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا
مُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Ia, Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana itu, kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat
petunjuk.” فَلَمَّا جَآءَتۡ قِیۡلَ اَہٰکَذَا
عَرۡشُکِ -- Maka tatkala ia, ratu, datang
dikatakan kepadanya: “Serupa
inikah singgasana engkau?” قَالَتۡ کَاَنَّہٗ ہُوَ -- Ia menjawab, “Ini seolah-olah sama seperti itu, وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ قَبۡلِہَا وَ کُنَّا مُسۡلِمِیۡنَ -- dan kami telah diberi pengetahuan sebelumnya
dan kami adalah orang-orang yang
berserah diri” (An-Naml [27]:42-43).
Nakkara-hu dalam ayat قَالَ
نَکِّرُوۡا لَہَا عَرۡشَہَا نَنۡظُرۡ
اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ
الَّذِیۡنَ لَا یَہۡتَدُوۡنَ -- “Ia,
Sulaiman, berkata: “Buatlah tidak berharga untuk dia singgasana
itu, kita lihat apakah ia mendapat
petunjuk ataukah ia termasuk
orang-orang yang tidak mendapat petunjuk” berarti: ia mengganti atau
mengubah bentuk sesuatu agar tidak dikenal; ia membuatnya nampak biasa saja (Lexicon Lane).
Oleh karena itu ungkapan yang tercantum dalam terjemahan ayat berarti: “buatlah singgasana
ini lebih baik daripada singgasananya, sehingga singgasana sendiri nampak biasa saja.” Ayat ini bermaksud mengatakan bahwa
Nabi Sulaiman a.s. telah memerintahkan
pembesarnya yang dipercayakan tugas menyiapkan singgasana bagi Ratu Saba,
supaya membuatnya demikian cantik,
sehingga Ratu Saba akan mengakui
keunggulan dalam seni pembuatannya
sehingga menjadi tidak menyukai lagi singgasananya
sendiri, dan dengan demikian dapat mengerti
bahwa kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman
a.s. jauh lebih besar dan lebih
unggul daripada kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Ratu Saba itu
sendiri.
Itulah rupa-rupanya arti kalimat نَنۡظُرۡ اَتَہۡتَدِیۡۤ اَمۡ تَکُوۡنُ مِنَ الَّذِیۡنَ لَا
یَہۡتَدُوۡنَ -- “kita lihat apakah ia mendapat petunjuk ataukah ia termasuk orang-orang yang tidak mendapat petunjuk”. ” Nabi
Sulaiman a.s. melalui upaya merenovasi singgasana
hadiah Ratu Saba berusaha menjelaskan kepada Ratu Saba sia-sianya
berusaha menentang atau melawan
beliau.
Ratu Saba dengan pembesar-pembesar dan kaum bangsawan istana nampaknya berbesar kepala (bangga) oleh kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan mereka (QS.27:34), dan Nabi Sulaiman a.s.
berkehendak menyadarkan mereka
dari anggapan keliru itu (QS.27:37).
Seandainya kata “singgasananya” diambil dalam artian singgasana yang konon telah dikirim oleh Ratu Saba kepada
Nabi Sulaiman a.s. sebagai hadiah, maka kata nakkiru akan
berarti bahwa singgasana itu demikian
dihiasi dan diperindah serta gambar-gambar patung yang dilukis
padanya —jika memang ada— dihapus
begitu sempurna, sehingga Ratu Saba
tidak dapat mengenalinya lagi.
Ucapan Ratu Saba: وَ اُوۡتِیۡنَا الۡعِلۡمَ مِنۡ قَبۡلِہَا وَ -- “dan kami telah diberi pengetahuan
sebelumnya,” maknanya ialah bahwa Ratu Saba telah menjadi maklum (mengetahui) akan kekuasaan dan sumber-sumber kekayaan Nabi Sulaiman a.s., dan telah mengambil
keputusan menyerah kepada beliau.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 7 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar