Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
41
PENGULANGAN KETAKABURAN IBLIS DI BERBAGAI ZAMAN KENABIAN & HIKMAH PERINTAH MEMOHON MAGHFIRAH
ILAHI KEPADA
NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI BUKTI BELIAU
SAW. DAN AGAMA ISLAM ADALAH RAHMAT BAGI SELURUH ALAM
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
Bab 40 dikemukakan mengenai doa Nabi Besar Muhammad saw. pada saat menjelang
terjadinya Perang Badar -- yang mengundang mukjizat Ilahi berupa timbulnya badai gurun -- Ibnu Katsir rahimahullah menggambarkan keadaan Nabi
Saw pada malam perang Badar:
“Pada waktu malam perang badar, Rasulullah
saw melakukan shalat di dekat sebatang pohon. Dalam sujudnya beliau
memperbanyak, ‘Ya Hayuu, Ya Qayum.’
Beliau mengulang-ngulangi
ucapan itu, dan menekuni shalat tahajud sambil menangis dan berdoa terus
menerus sampai pagi, dalam doanya Beliau berkata; ‘Ya Allah aku mengingatkan
Engkau akan janji Engkau, Ya Allah jangan Engkau meninggalkanku, Ya Allah
jangan Engkau membiarkanku, Ya Allah jangan Engkau menyia-nyiakanku. Ya Allah
ini adalah orang Qurais, mereka telah datang dengan kesombongan mereka. Mereka
telah menentang dan menuduh bohong utusan Engkau. Ya Allah mana pertolongan
Engkauyang Engkau janjikan.” Beliau berdoa hingga selendangnya berulang
kali terjatuh.
Tatkala pertempuran semakin berkobar dan akhimya mencapai
puncaknya, maka beliau saw. berdoa lagi: "Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan
disembah lagi. Ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk
disembah untuk selamanya setelah hari ini."
Begitu mendalam doa yang Nabi Besar
Muhammad saw. panjatkan kepada Allah
Swt., hingga tanpa disadari selendang beliau saw. jatuh dari pundak, sehingga Abu Bakar r.a. memungutnya lalu mengembalikan
ke pundak beliau, seraya berkata, ”Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk
terus-menerus memohon kepada Rabb engkau.”
Kerendahan Hati
Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw.
Dalam riwayat
lain diterangkan Abu Bakar berkata: “Ya,
Rasulullah, bukankah Allah Swt. telah menjanjikan kemenangan dalam perang ini
kepada kita, mengapa engkau berdoa
seperti ini?” Nabi Besar Muhammad saw. menjawab, “Memang benar demikian, tetapi aku tidak mengetahui bahwa boleh jadi untuk terjadinya kemenangan tersebut ada persyaratan yang
harus dilakukan, dan aku tidak
mengetahui hal tersebut, itulah sebabnya
akan terus menerus berdoa.”
Setelah Allah Swt. menurunkan wahyu kepada Nabi Besar Muhammad saw. barulah beliau
saw. berhenti berdoa dan sambil menghadap ke arah pasukan Quraisy Mekkah beliau saw. melemparkan segenggam pasir
yang kemudian menimbulkan badai
pasir gurun, yang menjadi penyebab utama kemenangan umat Islam dalam Perang
Badar – termasuk terbunuhnya Abu
jahal bersama para pemuka
Quraisy Mekkah lainnya yang merancang rencana pembunuhan Nabi Besar Muhammad saw. di Mekkah (QS.8:31; QS.27:49-51) – sebagaimana
firman-Nya:
فَلَمۡ
تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ
قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ
لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا ؕ اِنَّ
اللّٰہَ سَمِیۡعٌ عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan
kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ
اللّٰہَ رَمٰی -- dan bukan
engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ مِنۡہُ
بَلَآءً حَسَنًا -- dan supaya
Dia menganugerahi orang-orang yang beriman anugerah yang baik dari-Nya, اِنَّ اللّٰہَ سَمِیۡعٌ
عَلِیۡمٌ -- sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha
Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
Kemenangan dalam perang Badar itu sebenarnya bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Mereka terlalu sedikit, terlalu
lemah, dan terlalu buruk persenjataan mereka untuk memperoleh kemenangan
terhadap satu lasykar yang jauh lebih
besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya,
lagi pula jauh lebih terlatih.
Persamaan Mukjizat Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad Saw.
Perlemparan segenggam kerikil dan pasir
oleh Nabi Besar Muhammad saw. mempunyai persamaan yang ajaib
dengan pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s. pada saat
perjalanan meninggalkan Mesir bersam Bani Israil terhadalng oleh bentangan
laut, sedangkan Fir’aun dan bala tentaranya yang mengejar telah semakin
mendekat, sehingga membuat Bani Israil
ketakutan, firman-Nya:
فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ
مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿﴾ فَلَمَّا
تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ
مُوۡسٰۤی اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ﴾ قَالَ کَلَّا
ۚ اِنَّ مَعِیَ رَبِّیۡ
سَیَہۡدِیۡنِ ﴿﴾ فَاَوۡحَیۡنَاۤ
اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ
الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ کَالطَّوۡدِ
الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ﴾ وَ اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ۚ﴾ وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ مَّعَہٗۤ
اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ﴾ ثُمَّ اَغۡرَقۡنَا
الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ﴾ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ
اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ اِنَّ رَبَّکَ لَہُوَ الۡعَزِیۡزُ
الرَّحِیۡمُ ﴿٪﴾
Maka lasykar-lasykar
Fir’aun menyusul mereka pada waktu matahari
terbit. فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ
قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی اِنَّا لَمُدۡرَکُوۡنَ -- Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!”
قَالَ کَلَّا ۚ اِنَّ مَعِیَ
رَبِّیۡ سَیَہۡدِیۡنِ -- Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) beserta-ku, segera Dia akan
menunjukkan ja-lan keselamatan.” Maka Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah
laut dengan tongkat engkau.” lalu setiap bagiannya nampak seperti
gunung yang besar. Dan Kami mendekatkan di sana golongan yang
lain, dan Kami
menyelamatkan Musa dan orang-orang
beserta dia semuanya, Lalu Kami tenggelamkan golongan yang
lain. اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا
کَانَ اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ -- Sesungguhnya dalam hal itu ada Tanda yang besar, tetapi kebanyakan
dari mereka tidak mau beriman. -- Dan sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha
Penyayang. (Asy-Syu’arā [26]:61-69).
Makna ayat 62: فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی اِنَّا
لَمُدۡرَکُوۡنَ --
“Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain, pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya
kita pasti akan tertangkap!” Para sahabat Nabi Musa a.s. nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah.
Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23; QS.7:149; QS.20:87-92.
Sebagaimana dalam kejadian yang
terakhir, perbuatan Nabi Musa a.s. memukul laut dengan tongkat beliau itu seolah-olah merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup dan
bagi air-pasang naik kembali sehingga
membawa akibat tenggelamnya Fir’aun
serta lasykarnya di laut, demikian
pula halnya pelemparan segenggam kerikil
oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam perang
Badar merupakan satu isyarat untuk angin bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal -- yang
pernah disebut oleh Nabi Besar Muhammad saw. sebagai Fir’aun kaumnya -- dan lasykarnya di padang pasir itu.
Dalam kedua kejadian berupa mukjizat
tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi Allah itu, di bawah takdir khas Allah Swt., yang pada hakikatnya merupakan bagian dari
makna “sujudnya” para malaikat kepada “Adam” (Khalifah Allah/Rasul Allah) ketika diperintahkan Allah Swt. kepada mereka (QS.2:31-35).
Itulah sebabnya merupakan Sunnatullah
jika para Nabi Allah didustakan dan dizalimi
kaumnya maka azab Ilahi senantiasa
menimpa dan membinasakan mereka,
sehingga tidak ada alasan bagi
manusia untuk menyalahkan Allah Swt. (QS.6:132;
QS.11:118; QS.17:16; QS.20:134-136; QS.22:46-49; QS.26:209-210; QS.28:59-60).
Ketakaburan Paling Besar Manusia Kepada Allah Swt.
Itulah pula sebabnya di akhirat masalah kesinambungan pengutusan Rasul
Allah itu pulalah (QS.7:35-37) yang ditanyakan para penjaga neraka jahannam kepada para calon penghuni neraka sebelum memasukinya, firman-Nya:
وَ سِیۡقَ
الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡۤا اِلٰی جَہَنَّمَ زُمَرًا ؕ حَتّٰۤی اِذَا جَآءُوۡہَا فُتِحَتۡ اَبۡوَابُہَا وَ قَالَ لَہُمۡ
خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ
مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ
یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قِیۡلَ
ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ فَبِئۡسَ مَثۡوَی
الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang kafir akan digiring ke Jahannam rombongan-rombongan, hingga apabila mereka sampai kepadanya
pintu-pintunya dibukakan, وَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ
عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا -- dan penjaga-penjaganya akan berkata kepada mereka: “Bukankah telah datang kepada kamu
rasul-rasul dari antaramu sendiri membacakan kepada kamu Ayat-ayat Rabb (Tuhan)
kamu, dan memberi peringatan kepada kau mengenai pertemuan pada harimu ini?” قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ -- Mereka akan berkata: “Ya benar, tetapi telah pasti
berlaku ketetapan azab terhadap
orang-orang kafir.” قِیۡلَ ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ
فِیۡہَا -- Akan dikatakan: ”Masukilah pintu-pintu Jahannam, kamu akan kekal di dalamnya”, فَبِئۡسَ
مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ -- maka sangat
bu-ruk tempat tinggal orang-orang yang
sombong.” (Al-Zumar [39]:72-73).
Dari ayat فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ -- maka sangat
buruk tempat tinggal orang-orang yang
sombong.” (Al-Zumar [39]:72-73). diketahui bahwa ketakabburan yang besar yang dilakukan manusia adalah mendustakan
dan menentang para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ
﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap
umat ada batas waktu, maka apabila
telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat
pun dan tidak pula dapat mema-jukannya.
یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ
ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu drasul-rasul
dari antara kamu yang membacakan Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri,
tidak akan ada ketakutan menimpa mereka
dan tidak pula mereka akan bersedih hati.
وَ
الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan
orang-orang yang mendustakan
Ayat-ayat Kami dan dengan takabur
berpaling darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).
Pengulangan ketakaburan
Iblis Terhadap Adam (Khalifah
Allah)
Pada hakikatnya sikap takabur manusia mendustakan
dan menentang para Rasul Allah yang diutus kepada mereka
itu – termasuk di Akhir Zaman
ini -- pada hakikatnya merupakan
pengulangan ketakaburan Iblis
terhadap Adam (Khalifah Allah) ketika
diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud” – yakni beriman dan patuh taat -- kepada Adam
-- karena iblis menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam (QS.2:31-35; QS.7:12-13; QS.15:29-33; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117;
QS.38:72-77), firman-Nya:
وَ اِذۡ
یَتَحَآجُّوۡنَ فِی النَّارِ فَیَقُوۡلُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ
اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا نَصِیۡبًا مِّنَ
النَّارِ ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا
اِنَّا کُلٌّ فِیۡہَاۤ
ۙ اِنَّ اللّٰہَ قَدۡ حَکَمَ بَیۡنَ الۡعِبَادِ ﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ
فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا
مِّنَ الۡعَذَابِ ﴿﴾ قَالُوۡۤا
اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ قَالُوۡا بَلٰی ؕ قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿٪﴾
Dan ketika mereka akan ber-bantah satu sama
lain dalam Api, lalu orang-orang
yang lemah akan berkata kepada orang-orang
yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami
adalah pengikut kamu maka dapat-kah kamu melepaskan dari kami
se-bagian siksaan dari Api?” Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah menghakimi di antara
hamba-hamba-Nya.” وَ قَالَ الَّذِیۡنَ
فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ -- Dan orang-orang yang ada dalam Api berkata
kepada para penjaga Jahannam: ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا
مِّنَ الۡعَذَابِ -- “Mohonkanlah
kepada Rabb (Tuhan) kamu, supaya Dia meringankan azab bagi kami barang sehari.”
قَالُوۡۤا اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ
بِالۡبَیِّنٰتِ -- Mereka
berkata: ”Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul
kamu dengan Tanda-tanda nyata?” ؕ قَالُوۡا
بَلٰی -- Mereka berkata: “Ya benar.” قَالُوۡا فَادۡعُوۡا
ۚ وَ مَا دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ -- Para penjaga itu berkata: “Maka berdoalah kamu. Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka. (Al-Mu’min
[40]:48-51).
Makna ayat: قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ
-- Para penjaga itu berkata: “Maka berdoalah kamu. Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka. (Al-Mu’min
[40]:48-51), bahwa usaha keras dan doa
orang-orang kafir menentang nabi-nabi
Allah terbukti gagal, bukan bahwa
semua doa mereka tidak diterima. Allah Swt. memang mengabulkan
doa-doa orang yang sedang sengsara
dan sedih jika ia meminta pertolongan
kepada-Nya, baik ia orang yang beriman
atau orang kafir (QS.27:63).
Hikmah Perintah
Senantiasa Memohon Maghfirah Ilahi
Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai
kebenaran janji pertolongan-Nya kepada para Rasul Allah dan para pengikutnya
yang sejati:
اِنَّا
لَنَنۡصُرُ رُسُلَنَا وَ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ
یَوۡمَ یَقُوۡمُ الۡاَشۡہَادُ ﴿ۙ﴾ یَوۡمَ لَا یَنۡفَعُ الظّٰلِمِیۡنَ مَعۡذِرَتُہُمۡ وَ لَہُمُ اللَّعۡنَۃُ
وَ لَہُمۡ سُوۡٓءُ الدَّارِ ﴿﴾
Sesungguhnya Kami
niscaya akan menolong para rasul Kami dan orang-orang yang beriman di dalam kehidupan dunia dan pada hari ketika saksi-saksi akan berdiri.
یَوۡمَ لَا یَنۡفَعُ الظّٰلِمِیۡنَ مَعۡذِرَتُہُمۡ وَ
لَہُمُ اللَّعۡنَۃُ وَ لَہُمۡ
سُوۡٓءُ الدَّارِ -- Yaitu
hari ketika tidak akan bermanfaat
bagi orang-orang zalim alasan mereka, dan bagi mereka ada laknat dan bagi
mereka tempat tinggal yang buruk (Al-Mu’min [40]:52-53).
Ayat
52 mengajukan sebuah janji tegas Allah Swt. kepada rasul-rasul-Nya dan para pengikut mereka bahwa pertolongan dan dukungan Allah Swt. senantiasa beserta
mereka, dan bahwa biarpun mereka berusaha sekuat tenaga mereka tetapi rencana-rencana
jahat orang-orang kafir terhadap mereka pasti
akan menemui kegagalan (QS.10:104; QS.30:48; QS.58:21-22).
Kemudian sambil merujuk kepada Nabi Musa
a.s. – yang merupakan “rekan sejawat” sebagai
rasul pembawa wahyu syariat
(QS,46:11) -- Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar
Muhammad saw. mengenai pentingnya senantiasa memohon maghfirah Ilahi, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡہُدٰی وَ
اَوۡرَثۡنَا بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ
الۡکِتٰبَ ﴿ۙ﴾ ہُدًی وَّ ذِکۡرٰی لِاُولِی الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾ فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ
لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah memberi Musa
petunjuk, dan Kami telah mewariskan
kepada Bani Israil Kitab Taurat,
Suatu petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berakal. فَاصۡبِرۡ اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ -- Maka bersabarlah
sesungguhnya janji Allah itu benar,
وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ -- dan
mintalah ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat
mereka terhadap engkau وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ -- dan bertasbihlah dengan
pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu pe-tang dan pagi.
(Al-Mu’min
[40]:54-55).
Makna ayat: وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ -- “dan
mintalah ampunan bagi mereka atas dosa yang diperbuat
mereka terhadap engkau”, ghafar al-Mata’a berarti: “ia
meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi
barang-barang itu”. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim
masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan.
Mighfar berarti topi baja karena topi baja melindungi kepala. Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan
yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu
berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Al-Mufradat). Jadi, istighfar
bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman awam (umum), melainkan juga oleh wujud-wujud suci, bahkan oleh nabi-nabi Allah.
Dua Macam Maghfirah Ilahi
Sementara golongan pertama (orang awam) membaca
istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat
buruk kesalahan dan kekeliruan
yang diperbuat di masa lalu, maka makna istighfar
golongan kedua mohon perlindungan terhadap kealpaan dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi
kemajuan misi mereka.
Nabi-nabi Allah pun makhluk manusia, dan walau mereka terpelihara dari dosa
(ma’shum) namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan
dan kelemahan-kelemahan insani maka
mereka memerlukan istighfar guna memohon
pertolongan dan perlindungan Allah.
Lihat pula catatan nomor 2765.
Jadi
makna dzanbaka dalam ayat: وَّ
اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ -- “dan mintalah
ampunan bagi mereka atas
dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau”, berarti: “dosa-dosa yang diperbuat terhadap
engkau”; “dosa-dosa yang dituduhkan
musuh-musuh engkau seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa itu”; “kealpaan
dan kelemahan engkau sebagai manusia”, dalam surah lain Allah Swt. berfirman kepada
Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا
ۙ﴿﴾ وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa
yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
Ayat 3 dengan sengaja disalahartikan
atau, karena kekurangan pengetahuan
tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh beberapa penulis
Kristen seakan mengandung arti, bahwa Nabi Besar Muhammad saw. mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki, padahal dengan tegas Allah Swt.
menyatakan bahwa beliau saw. memiliki akhlak
yang sangat agung (QS.68:1-8).
Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintahkan
oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah
dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa)
dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan
sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28). Oleh karena
mereka diutus oleh Allah Swt. untuk
membersihkan manusia dari dosa, maka
tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat
dosa -- sebagaimana yang digambarkan dalam Bible guna mendukung ajaran Paulus mengenai Trinitas dan “Penebusan Dosa” -- dan dari antara utusan-utusan Allah, Nabi Besar Muhammad saw. itu paling
mulia dan paling suci dan sebagai suri teladan terbaik (QS.33:22).
Meredam Bahaya Pada Saat
Kemenangan Dengan Istighfar
Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat
yang Allah Swt. menyebut dengan kata-kata yang ceria mengenai
kesucian dan kema’shuman hidup Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:130; QS.3:32
& 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5;
dan QS.81:20-22).
Seseorang yang mempunyai martabat akhlak
begitu seperti Nabi Besar Muhammad saw.,
yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang telah tenggelam ke dalam lubuk
kejahatan akhlak sampai ke dasar
yang paling dalam — ke puncak kemuliaan ruhani tertinggi (QS..62:3) tidak mungkin
mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak
demikian, seperti dengan sia-sia
telah dituduhkan oleh orang-orang
yang biasa memperolok-olokkan beliau
saw..
Sepatah kata sederhana dan polos dzanb dalam ayat لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ telah dimanfaatkan untuk memfitnah beliau saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan
yang diprakirakan akan menimbulkan
akibat-akibat merugikan. Ayat ini
mengandung arti bahwa Allah Swt. akan
melindungi Nabi Besar Muhammad saw.
terhadap akibat-akibat merugikan
yang akan datang kemudian sesudah
kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat
sebelumnya.
Oleh karena itu ketika berbondong-bondong
orang – dari berbagai macam latar
belakang kehidupan dan kepercayaan
yang berbeda -- akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian
mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan.
Itulah sebabnya tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada Nabi Besar Muhammad saw., pada waktu itu diperintahkan supaya beliau saw. memohon
perlindungan Allah Swt. terhadap dzanb beliau
saw., yakni kelemahan-kelemahan insani
yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw.,
firman-Nya:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾ اِذَا
جَآءَ نَصۡرُ اللّٰہِ وَ
الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾ وَ رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ دِیۡنِ اللّٰہِ اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾ فَسَبِّحۡ
بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ
ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca
dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan engkau melihat manusia masuk
dalam agama Allah berbondong-bondong, فَسَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ تَوَّابًا -- Maka bertasbihlah
dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau, dan mohonlah
ampunan-Nya, sesungguhnya Dia
Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4).
Makna Junah, Jurm, Itsm, dan Dzanb
Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah,
jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang
disebut terlebih dahulu, yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul
Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran
ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap
mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau
telah melakukannya” atau “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”
Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb
itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain
dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku),
berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
Jadi, ayat
لِّیَغۡفِرَ
لَکَ اللّٰہُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ
ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ -- “Supaya Allah
melindungi engkau dari dosa-dosa
yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang” yang
sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — yaitu Perjanjian
Hudaibiyah yang kemudian
mengakibatkan terjadinya peristiwa Fatah Mekkah -- semua tuduhan
dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh Nabi Besar Muhammad saw. kepada beliau saw. , yakni bahwa beliau
saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia, dan sebagainya, akan terbukti palsu semua, sebab
segala macam orang yang mempunyai
hubungan dengan para pengikut beliau akan menjumpai
kebenaran mengenai beliau saw..
Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau
oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang
telah terjadi, ketika Mekkah jatuh
dan orang-orang Arab menerima agama Islam maka dosa mereka diampuni. Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini,
sebab anugerah kemenangan yang nyata
dan penggenapan nikmat Ilahi atas Nabi Besar Muhammad saw. diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat
sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa beliau saw. jika kata dzanb dianggap berarti dosa.
Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya
tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan
yang akan dilemparkan terhadap beliau di
masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau saw. dari golongan Ahli Kitab dan yang lainnya pun
akan dielakkan dan beliau saw. akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
Pertolongan
Ilahi dalam ayat وَّ یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا عَزِیۡزًا -- “dan Allah
akan menolong engkau dengan pertolongan
yang perkasa” datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di
tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian
Hudaibiyah, dan Nabi Besar Muhammad
saw. diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang
merdeka dan berdaulat. Itulah makna firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ
﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ لَکَ اللّٰہُ
مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا
مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ
یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ نَصۡرًا
عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku
baca dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi engkau dari dosa-dosa
yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus, dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa. (Al-Fath [48]:1-4).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 21 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar