Minggu, 23 Oktober 2016

Pengulangan "Ketakaburan Iblis" di Berbagai Zaman Kenabian & Hikmah perintah Memohon "Maghfirah Ilahi" kepada Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai Bukti Beliau Saw. dan Agama Islam Adalah "Rahmat Bagi Seluruh Alam"


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 41

PENGULANGAN KETAKABURAN IBLIS DI BERBAGAI ZAMAN KENABIAN & HIKMAH PERINTAH MEMOHON   MAGHFIRAH  ILAHI    KEPADA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. SEBAGAI  BUKTI    BELIAU SAW. DAN AGAMA ISLAM  ADALAH RAHMAT BAGI SELURUH ALAM

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian   Bab 40  dikemukakan   mengenai  doa Nabi Besar Muhammad saw. pada saat menjelang terjadinya Perang Badar  --  yang mengundang mukjizat Ilahi  berupa timbulnya badai gurun -- Ibnu Katsir rahimahullah menggambarkan keadaan Nabi Saw pada malam perang Badar:
      “Pada waktu malam perang badar, Rasulullah saw melakukan shalat di dekat sebatang pohon. Dalam sujudnya beliau memperbanyak, ‘Ya Hayuu, Ya Qayum.’ Beliau mengulang-ngulangi ucapan itu, dan menekuni shalat tahajud sambil menangis dan berdoa terus menerus sampai pagi, dalam doanya Beliau berkata; ‘Ya Allah aku mengingatkan Engkau akan janji Engkau, Ya Allah jangan Engkau meninggalkanku, Ya Allah jangan Engkau membiarkanku, Ya Allah jangan Engkau menyia-nyiakanku. Ya Allah ini adalah orang Qurais, mereka telah datang dengan kesombongan mereka. Mereka telah menentang dan menuduh bohong utusan Engkau. Ya Allah mana pertolongan Engkauyang Engkau janjikan.” Beliau berdoa hingga selendangnya berulang kali terjatuh.
        Tatkala pertempuran semakin berkobar dan akhimya mencapai puncaknya, maka beliau saw. berdoa lagi: "Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi. Ya Allah,  kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk disembah untuk selamanya setelah hari ini."
        Begitu mendalam doa yang  Nabi Besar Muhammad saw.  panjatkan kepada Allah Swt., hingga tanpa disadari selendang beliau saw. jatuh dari pundak, sehingga  Abu Bakar r.a. memungutnya lalu mengembalikan ke pundak beliau, seraya berkata, Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau.”

Kerendahan Hati Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw.

        Dalam riwayat lain diterangkan Abu Bakar berkata: “Ya, Rasulullah, bukankah Allah Swt. telah menjanjikan kemenangan dalam perang ini kepada kita, mengapa engkau berdoa seperti ini?” Nabi Besar Muhammad saw. menjawab, “Memang benar demikian, tetapi aku tidak mengetahui bahwa  boleh jadi untuk terjadinya   kemenangan tersebut ada persyaratan yang harus dilakukan,  dan aku tidak mengetahui hal  tersebut, itulah sebabnya akan terus menerus berdoa.”
     Setelah Allah Swt. menurunkan wahyu kepada  Nabi Besar Muhammad saw. barulah beliau saw.  berhenti berdoa dan sambil menghadap ke arah pasukan Quraisy Mekkah  beliau saw. melemparkan segenggam pasir yang kemudian menimbulkan badai pasir  gurun,  yang menjadi penyebab utama kemenangan umat Islam dalam Perang  Badar – termasuk terbunuhnya Abu jahal  bersama  para pemuka Quraisy Mekkah lainnya yang merancang rencana  pembunuhan  Nabi Besar Muhammad saw. di Mekkah  (QS.8:31; QS.27:49-51) –   sebagaimana  firman-Nya:
فَلَمۡ تَقۡتُلُوۡہُمۡ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ  قَتَلَہُمۡ ۪ وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی ۚ وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ ﴿﴾
Maka bukan  kamu yang membunuh mereka melainkan Allah yang telah membunuh mereka, وَ مَا رَمَیۡتَ اِذۡ رَمَیۡتَ وَ لٰکِنَّ اللّٰہَ رَمٰی   -- dan bukan engkau yang melemparkan pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah-lah yang telah melempar, وَ لِیُبۡلِیَ  الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  مِنۡہُ  بَلَآءً  حَسَنًا --  dan supaya Dia  menganugerahi  orang-orang yang beriman  anugerah yang baik dari-Nya,  اِنَّ اللّٰہَ  سَمِیۡعٌ  عَلِیۡمٌ --  sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (Al-Anfāl [8]:18).
       Kemenangan dalam perang Badar itu sebenarnya bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Mereka terlalu sedikit, terlalu lemah, dan terlalu buruk persenjataan mereka untuk memperoleh kemenangan terhadap satu lasykar yang jauh lebih besar jumlahnya, jauh lebih baik persenjataannya, lagi pula jauh lebih terlatih.

Persamaan Mukjizat  Nabi Musa a.s. dan Nabi Besar Muhammad Saw.

       Perlemparan segenggam kerikil dan pasir oleh  Nabi Besar Muhammad saw.  mempunyai persamaan yang ajaib dengan pemukulan air laut dengan tongkat oleh Nabi Musa a.s. pada saat perjalanan meninggalkan Mesir bersam Bani Israil terhadalng oleh bentangan laut, sedangkan Fir’aun dan bala tentaranya yang mengejar telah semakin mendekat, sehingga membuat Bani Israil ketakutan, firman-Nya:                 
فَاَتۡبَعُوۡہُمۡ مُّشۡرِقِیۡنَ ﴿﴾  فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ ﴿ۚ﴾  قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ ﴿﴾ فَاَوۡحَیۡنَاۤ  اِلٰی مُوۡسٰۤی اَنِ اضۡرِبۡ بِّعَصَاکَ  الۡبَحۡرَ ؕ فَانۡفَلَقَ فَکَانَ کُلُّ فِرۡقٍ  کَالطَّوۡدِ  الۡعَظِیۡمِ ﴿ۚ﴾  وَ  اَزۡلَفۡنَا ثَمَّ   الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ۚ﴾  وَ اَنۡجَیۡنَا مُوۡسٰی وَ مَنۡ  مَّعَہٗۤ   اَجۡمَعِیۡنَ ﴿ۚ﴾  ثُمَّ   اَغۡرَقۡنَا  الۡاٰخَرِیۡنَ ﴿ؕ﴾  اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ  اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ  اِنَّ  رَبَّکَ لَہُوَ  الۡعَزِیۡزُ  الرَّحِیۡمُ ﴿٪﴾
Maka lasykar-lasykar Fir’aun  menyusul mereka pada waktu matahari terbit. فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ  --   Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,   pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!” قَالَ  کَلَّا ۚ اِنَّ  مَعِیَ  رَبِّیۡ  سَیَہۡدِیۡنِ --   Musa berkata: “Sekali-kali tidak, sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) beserta-ku, segera Dia akan menunjukkan  ja-lan  keselamatan.”     Maka Kami mewahyukan kepada Musa: “Pukullah laut dengan tongkat engkau.” lalu setiap bagiannya nampak seperti gunung yang besar.    Dan Kami mendekatkan di sana golongan yang lain,     dan Kami menyelamatkan Musa dan orang-orang beserta dia semuanya   Lalu Kami tenggelamkan  golongan yang lain.   اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیَۃً ؕ وَ مَا کَانَ  اَکۡثَرُہُمۡ مُّؤۡمِنِیۡنَ   --   Sesungguhnya dalam hal itu ada Tanda yang besar,   tetapi kebanyakan dari mereka tidak mau beriman.   --  Dan sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau Dia benar-benar Maha Perkasa, Maha Penyayang. (Asy-Syu’arā [26]:61-69).
        Makna ayat 62:   فَلَمَّا تَرَآءَ   الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰۤی  اِنَّا  لَمُدۡرَکُوۡنَ  -- “Lalu tatkala kedua lasykar itu dapat melihat satu sama lain,   pengikut-pengikut Musa berkata: “Sesungguhnya kita pasti akan tertangkap!”  Para sahabat Nabi Musa a.s.  nampaknya mempunyai keimanan yang sangat lemah. Keadaan ini jelas juga dari QS.5:22-23; QS.7:149; QS.20:87-92.
        Sebagaimana dalam kejadian yang terakhir, perbuatan Nabi Musa a.s. memukul laut dengan tongkat beliau   itu seolah-olah merupakan isyarat bagi angin untuk bertiup dan bagi air-pasang naik kembali sehingga membawa akibat tenggelamnya Fir’aun serta lasykarnya di laut, demikian pula halnya pelemparan segenggam kerikil oleh Nabi Besar Muhammad saw. dalam perang Badar  merupakan satu isyarat untuk angin bertiup kencang dengan membawa akibat kebinasaan Abu Jahal   -- yang pernah disebut oleh Nabi Besar Muhammad saw.   sebagai Fir’aun kaumnya  -- dan lasykarnya di padang pasir itu.
       Dalam kedua kejadian berupa mukjizat  tersebut bekerjanya kekuatan-kekuatan alam itu, bertepatan benar dengan tindakan-tindakan kedua nabi  Allah itu, di bawah takdir khas Allah Swt., yang pada hakikatnya merupakan bagian dari makna “sujudnya” para malaikat kepada “Adam” (Khalifah Allah/Rasul Allah) ketika diperintahkan Allah Swt. kepada mereka (QS.2:31-35).
      Itulah sebabnya  merupakan Sunnatullah jika para Nabi Allah didustakan  dan dizalimi kaumnya maka azab Ilahi senantiasa menimpa dan membinasakan mereka, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk menyalahkan Allah Swt.  (QS.6:132;  QS.11:118; QS.17:16; QS.20:134-136; QS.22:46-49;  QS.26:209-210; QS.28:59-60).

Ketakaburan Paling Besar Manusia Kepada Allah Swt.

       Itulah pula sebabnya di akhirat masalah kesinambungan pengutusan Rasul Allah itu pulalah  (QS.7:35-37) yang ditanyakan para penjaga neraka jahannam kepada para calon penghuni neraka sebelum memasukinya, firman-Nya:
وَ سِیۡقَ الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا اِلٰی جَہَنَّمَ  زُمَرًا ؕ حَتّٰۤی  اِذَا جَآءُوۡہَا فُتِحَتۡ  اَبۡوَابُہَا وَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا ؕ قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قِیۡلَ  ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ۚ فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ ﴿﴾
Dan orang-orang kafir  akan digiring ke Jahannam  rombongan-rombongan, hingga apabila mereka sampai kepadanya pintu-pintunya  dibukakanوَ قَالَ لَہُمۡ خَزَنَتُہَاۤ  اَلَمۡ یَاۡتِکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَتۡلُوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِ رَبِّکُمۡ وَ یُنۡذِرُوۡنَکُمۡ لِقَآءَ یَوۡمِکُمۡ ہٰذَا --   dan penjaga-penjaganya akan berkata kepada mereka: “Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu sendiri membacakan kepada kamu Ayat-ayat Rabb (Tuhan) kamu, dan memberi peringatan kepada  kau mengenai pertemuan pada harimu ini?” قَالُوۡا بَلٰی وَ لٰکِنۡ حَقَّتۡ کَلِمَۃُ الۡعَذَابِ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ  --  Mereka akan berkata: “Ya benar, tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap  orang-orang kafir.” قِیۡلَ  ادۡخُلُوۡۤا اَبۡوَابَ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا  --  Akan dikatakan:  Masukilah pintu-pintu Jahannam, kamu akan kekal di dalamnya”,  فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ  -- maka sangat bu-ruk tempat tinggal orang-orang yang  sombong.” (Al-Zumar [39]:72-73).
      Dari ayat    فَبِئۡسَ مَثۡوَی الۡمُتَکَبِّرِیۡنَ  -- maka sangat buruk tempat tinggal orang-orang yang  sombong.” (Al-Zumar [39]:72-73).  diketahui bahwa ketakabburan yang besar yang dilakukan manusia  adalah mendustakan dan menentang para rasul Allah  yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi  tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat mema-jukannya. یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ  --   Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu drasul-rasul dari antara kamu yang membacakan   Ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  --   Dan orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya. (Al-A’rāf [7]:35-37).

Pengulangan ketakaburan Iblis Terhadap Adam (Khalifah Allah)

       Pada hakikatnya sikap takabur manusia mendustakan dan menentang para Rasul Allah yang diutus kepada mereka itu – termasuk di Akhir Zaman ini  -- pada hakikatnya merupakan pengulangan ketakaburan Iblis terhadap Adam (Khalifah Allah) ketika diperintahkan Allah Swt. untuk “sujud” – yakni beriman dan patuh taat  -- kepada Adam -- karena iblis menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam (QS.2:31-35; QS.7:12-13;  QS.15:29-33; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77), firman-Nya:
وَ اِذۡ یَتَحَآجُّوۡنَ فِی النَّارِ فَیَقُوۡلُ الضُّعَفٰٓؤُا لِلَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا اِنَّا کُنَّا لَکُمۡ تَبَعًا فَہَلۡ  اَنۡتُمۡ مُّغۡنُوۡنَ عَنَّا نَصِیۡبًا مِّنَ النَّارِ ﴿﴾ قَالَ الَّذِیۡنَ اسۡتَکۡبَرُوۡۤا  اِنَّا  کُلٌّ  فِیۡہَاۤ  ۙ اِنَّ اللّٰہَ  قَدۡ حَکَمَ  بَیۡنَ الۡعِبَادِ ﴿﴾ وَ قَالَ الَّذِیۡنَ فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ   ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا مِّنَ الۡعَذَابِ ﴿﴾ قَالُوۡۤا  اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ ؕ قَالُوۡا  بَلٰی ؕ قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا  دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ ﴿٪﴾
Dan ketika mereka akan ber-bantah satu sama lain dalam Api, lalu orang-orang yang lemah akan berkata kepada orang-orang yang menyombongkan diri: “Sesungguhnya kami adalah pengikut kamu  maka dapat-kah kamu melepaskan dari kami se-bagian siksaan dari Api?”    Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kita semua berada di dalamnya, sesungguhnya Allah telah menghakimi di antara hamba-hamba-Nya.”  وَ قَالَ الَّذِیۡنَ فِی النَّارِ لِخَزَنَۃِ جَہَنَّمَ   -- Dan orang-orang yang ada dalam Api berkata kepada para penjaga Jahannam:   ادۡعُوۡا رَبَّکُمۡ یُخَفِّفۡ عَنَّا یَوۡمًا مِّنَ الۡعَذَابِ  --  “Mohonkanlah kepada Rabb (Tuhan) kamu, supaya Dia  meringankan azab bagi kami barang sehari.” قَالُوۡۤا  اَوَ لَمۡ تَکُ تَاۡتِیۡکُمۡ رُسُلُکُمۡ بِالۡبَیِّنٰتِ  --  Mereka  berkata:  Bukankah telah datang kepada kamu rasul-rasul kamu dengan Tanda-tanda nyata?” ؕ قَالُوۡا  بَلٰی --  Mereka berkata: “Ya benar.” قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا  دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ  -- Para penjaga itu berkata: “Maka berdoalah kamu.   Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.  (Al-Mu’min [40]:48-51).
        Makna ayat:     قَالُوۡا فَادۡعُوۡا ۚ وَ مَا  دُعٰٓؤُا الۡکٰفِرِیۡنَ  اِلَّا فِیۡ ضَلٰلٍ  -- Para penjaga itu berkata: “Maka berdoalah kamu Tetapi doa orang-orang kafir itu sia-sia belaka.  (Al-Mu’min [40]:48-51), bahwa  usaha keras dan doa orang-orang kafir menentang nabi-nabi Allah terbukti gagal, bukan bahwa semua doa mereka tidak diterima. Allah Swt.  memang mengabulkan doa-doa orang yang sedang sengsara dan sedih jika  ia meminta pertolongan kepada-Nya, baik ia orang yang beriman atau orang kafir (QS.27:63).

Hikmah Perintah Senantiasa Memohon Maghfirah Ilahi

    Selanjutnya Allah Swt. berfirman mengenai kebenaran janji pertolongan-Nya  kepada para Rasul Allah dan para pengikutnya yang sejati:
اِنَّا لَنَنۡصُرُ  رُسُلَنَا وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ یَوۡمَ یَقُوۡمُ الۡاَشۡہَادُ ﴿ۙ﴾  یَوۡمَ لَا یَنۡفَعُ الظّٰلِمِیۡنَ مَعۡذِرَتُہُمۡ وَ لَہُمُ  اللَّعۡنَۃُ  وَ لَہُمۡ  سُوۡٓءُ  الدَّارِ  ﴿﴾
Sesungguhnya   Kami niscaya akan menolong para rasul Kami dan orang-orang yang beriman  di dalam kehidupan dunia dan pada hari ketika saksi-saksi akan berdiri. یَوۡمَ لَا یَنۡفَعُ الظّٰلِمِیۡنَ مَعۡذِرَتُہُمۡ وَ لَہُمُ  اللَّعۡنَۃُ  وَ لَہُمۡ  سُوۡٓءُ  الدَّارِ   --  Yaitu hari ketika tidak akan bermanfaat bagi orang-orang zalim alasan mereka, dan bagi mereka ada laknat dan bagi mereka tempat tinggal yang buruk (Al-Mu’min [40]:52-53).
      Ayat 52  mengajukan sebuah janji tegas Allah Swt. kepada rasul-rasul-Nya dan para pengikut mereka bahwa pertolongan dan dukungan Allah Swt.   senantiasa beserta mereka, dan bahwa  biarpun mereka berusaha sekuat tenaga mereka tetapi  rencana-rencana jahat orang-orang kafir terhadap mereka  pasti akan menemui kegagalan (QS.10:104;  QS.30:48; QS.58:21-22).
        Kemudian sambil merujuk kepada Nabi Musa a.s.  – yang merupakan “rekan sejawat” sebagai rasul pembawa wahyu syariat (QS,46:11)   --  Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya senantiasa memohon maghfirah Ilahi,  firman-Nya:
وَ  لَقَدۡ اٰتَیۡنَا مُوۡسَی الۡہُدٰی وَ اَوۡرَثۡنَا بَنِیۡۤ  اِسۡرَآءِیۡلَ الۡکِتٰبَ ﴿ۙ﴾ ہُدًی وَّ ذِکۡرٰی لِاُولِی الۡاَلۡبَابِ  ﴿﴾ فَاصۡبِرۡ  اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ ﴿﴾
Dan sungguh Kami benar-benar telah memberi Musa petunjuk, dan Kami telah mewariskan kepada Bani Israil Kitab Taurat,   Suatu petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berakalفَاصۡبِرۡ  اِنَّ وَعۡدَ اللّٰہِ حَقٌّ    --  Maka bersabarlah sesungguhnya janji Allah itu benar, وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ  --  dan mintalah ampunan  bagi mereka atas dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau  وَ سَبِّحۡ بِحَمۡدِ رَبِّکَ بِالۡعَشِیِّ وَ الۡاِبۡکَارِ --  dan bertasbihlah dengan pujian Rabb (Tuhan) engkau pada waktu pe-tang dan pagi. (Al-Mu’min [40]:54-55).
      Makna ayat: وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ  --  “dan mintalah ampunan  bagi mereka atas dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau”,   ghafar al-Mata’a berarti: “ia meletakkan barang-barang itu dalam kantong, lalu menutupi dan melindungi barang-barang itu”. Ghafran dan maghfirah kedua-duanya isim masdar (infinitive nouns) dari ghafara dan berarti perlindungan serta pemeliharaan.
   Mighfar berarti topi baja  karena topi baja melindungi kepala.   Dzanb berarti kekurangan atau kelemahan yang membawa akibat merugikan. Dzanba-hu berarti: ia mengikuti jejaknya, tidak beranjak dari jejaknya (Lexicon Lane & Al-Mufradat).  Jadi,  istighfar bukan saja diperlukan oleh orang-orang beriman  awam (umum), melainkan juga oleh wujud-wujud suci, bahkan oleh nabi-nabi Allah.

Dua Macam Maghfirah Ilahi

   Sementara golongan pertama (orang awam) membaca istighfar untuk mencari perlindungan terhadap dosa-dosa yang akan datang dan pula terhadap akibat-akibat buruk kesalahan dan kekeliruan yang diperbuat di masa lalu, maka makna istighfar golongan kedua mohon perlindungan terhadap kealpaan dan kelemahan manusiawi yang dapat merintangi kemajuan misi mereka.
  Nabi-nabi Allah pun  makhluk manusia,  dan walau mereka terpelihara dari dosa (ma’shum) namun mereka pun diwarisi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan insani   maka mereka memerlukan istighfar guna memohon pertolongan dan perlindungan  Allah. Lihat pula catatan nomor 2765.
  Jadi makna dzanbaka dalam ayat:  وَّ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ  --  “dan mintalah ampunan  bagi mereka atas dosa yang diperbuat mereka terhadap engkau”,    berarti: “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau”;  “dosa-dosa yang dituduhkan musuh-musuh engkau seakan-akan engkaulah melakukan dosa-dosa itu”; “kealpaan dan kelemahan  engkau sebagai manusia”,  dalam surah lain Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi  engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,   dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa.    (Al-Fath [48]:1-4).
      Ayat 3 dengan sengaja disalahartikan  atau, karena kekurangan pengetahuan tentang muhawarah (idiom) dan frasa bahasa Arab, disalahartikan oleh beberapa penulis Kristen seakan mengandung arti, bahwa   Nabi Besar Muhammad saw. mempunyai kesalahan-kesalahan akhlaki, padahal dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa beliau saw. memiliki akhlak yang sangat agung (QS.68:1-8).
  Telah merupakan salah satu dari Rukun Islam, sebagaimana diperintahkan oleh Al-Quran, bahwa para nabi Allah dilahirkan ma’shum (bersih dari dosa) dan tetap ma’shum seumur hidup. Mereka tidak mengatakan ataupun melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Ilahi (QS.21:28). Oleh karena mereka diutus oleh Allah Swt.  untuk membersihkan manusia dari dosa, maka tidaklah mungkin mereka sendiri berbuat dosa   -- sebagaimana yang digambarkan dalam Bible guna  mendukung ajaran Paulus mengenai Trinitas dan “Penebusan Dosa” -- dan dari antara utusan-utusan Allah, Nabi Besar Muhammad saw.  itu paling mulia dan paling suci  dan sebagai suri teladan terbaik (QS.33:22).

Meredam Bahaya Pada Saat Kemenangan  Dengan Istighfar

   Al-Quran mengandung banyak sekali ayat-ayat yang Allah Swt.  menyebut dengan kata-kata yang ceria  mengenai  kesucian dan kema’shuman hidup  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.2:130; QS.3:32 & 165; QS.6:163; QS.7:158; QS.8:25; QS.33:22; QS.48:11; QS.53:3-4; QS.68:5; dan QS.81:20-22).  
  Seseorang yang mempunyai martabat akhlak begitu seperti  Nabi Besar Muhammad saw., yang telah mengangkat derajat seluruh bangsa — yang telah tenggelam ke dalam lubuk kejahatan akhlak sampai ke dasar yang paling dalam — ke puncak kemuliaan  ruhani tertinggi (QS..62:3) tidak mungkin mempunyai kelemahan-kelemahan akhlak demikian, seperti dengan sia-sia telah dituduhkan oleh orang-orang yang biasa memperolok-olokkan beliau saw..
   Sepatah kata sederhana dan polos  dzanb dalam ayat لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ  telah dimanfaatkan untuk memfitnah beliau saw.. Kata itu berarti kelemahan-kelemahan yang melekat pada sifat insani dan pada kesalahan-kesalahan yang diprakirakan akan menimbulkan akibat-akibat merugikan. Ayat ini mengandung arti bahwa Allah  Swt. akan melindungi  Nabi Besar Muhammad saw. terhadap akibat-akibat merugikan yang akan datang kemudian sesudah kemenangan yang dijanjikan, seperti telah diisyaratkan oleh ayat sebelumnya.
   Oleh karena itu  ketika berbondong-bondong orang – dari berbagai macam latar belakang kehidupan dan kepercayaan yang berbeda   -- akan masuk Islam maka dengan sendirinya penggemblengan dan pemeliharaan akhlak dan keruhanian mereka tidak akan mencapai taraf yang diharapkan. Itulah sebabnya  tatkala dalam Al-Quran keberhasilan dan kemenangan dijanjikan kepada  Nabi Besar Muhammad saw., pada waktu itu diperintahkan supaya beliau saw. memohon perlindungan Allah Swt. terhadap dzanb    beliau saw., yakni kelemahan-kelemahan insani yang akan menghalangi jalan pelaksanaan tugas besar beliau saw., firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ۙ﴿﴾   اِذَا  جَآءَ  نَصۡرُ اللّٰہِ  وَ  الۡفَتۡحُ ۙ﴿﴾  وَ  رَاَیۡتَ النَّاسَ یَدۡخُلُوۡنَ فِیۡ  دِیۡنِ اللّٰہِ  اَفۡوَاجًا ۙ﴿﴾  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا ٪﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.   Apabila datang pertolongan Allah dan kemenangan,   dan engkau melihat manusia  masuk dalam agama Allah berbondong-bondong,  فَسَبِّحۡ  بِحَمۡدِ رَبِّکَ وَ اسۡتَغۡفِرۡہُ  ؕؔ اِنَّہٗ کَانَ  تَوَّابًا -- Maka  bertasbihlah dengan memuji Rabb ( Tuhan) engkau,  dan mohonlah ampunan-Nya, sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat. (An-Nashr [110]:1-4). 

Makna Junah, Jurm, Itsm, dan Dzanb

   Kenyataannya, bahwa dari keempat kata junah, jurm, itsm, dan dzanb, yang memiliki arti tambahan yang sama, tiada sebuah pun dari ketiga kata yang disebut terlebih dahulu, yang dipergunakan dalam Al-Quran mengenai rasul-rasul Allah, menunjukkan, bahwa dzanb tidak mengandung arti buruk seperti dimiliki ketiga buah kata lainnya.
  Kecuali itu, menurut muhawarah Al-Quran ungkapan dzanbaka, seandainya kata dzanb itu pun dianggap mengandung arti dosa atau kejahatan, kata itu berarti “dosa-dosa yang dituduhkan seolah engkau telah melakukannya”  atau “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau.”
     Menurut arti yang terakhir bagi kata dzanb itu, kata Arab laka dalam ayat ini akan berarti “demi kepentingan dikau.” Di tempat lain dalam Al-Quran (QS.5:30) ungkapan seperti itu, ialah itsmi (dosaku), berarti “dosa yang diperbuat terhadapku.”
  Jadi, ayat  لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ   --  “Supaya Allah melindungi  engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang”  yang sedang dibahas ini akan berarti, sebagai akibat kemenangan besar — yaitu Perjanjian Hudaibiyah  yang kemudian mengakibatkan terjadinya  peristiwa Fatah Mekkah  --  semua tuduhan dosa, kejahatan, dan kesalahan yang dilemparkan musuh-musuh  Nabi Besar Muhammad saw.   kepada beliau saw. , yakni bahwa beliau saw. seorang penipu, pendusta atau tukang mengada-ada kebohongan terhadap Allah Swt. dan manusia, dan sebagainya, akan terbukti palsu semua,  sebab segala macam orang  yang mempunyai hubungan dengan para pengikut beliau akan menjumpai kebenaran mengenai beliau saw..
 Atau, artinya ialah bahwa “dosa-dosa yang diperbuat terhadap engkau oleh musuh-musuh engkau akan diampuni demi engkau”. Dan begitulah yang telah terjadi, ketika Mekkah jatuh dan orang-orang Arab menerima agama Islam maka dosa mereka diampuni. Hubungan kalimatnya pun mendukung arti ini, sebab anugerah kemenangan yang nyata dan penggenapan nikmat Ilahi atas  Nabi Besar Muhammad saw.   diisyaratkan dalam ayat ini dan ayat sebelum ini agaknya tidak mempunyai perhubungan apa pun dengan pengampunan terhadap dosa-dosa beliau saw. jika kata  dzanb dianggap berarti dosa.
  Kata-kata, “di masa lalu dan di masa yang akan datang”, maksudnya tuduhan-tuduhan yang dilemparkan kepada  Nabi Besar Muhammad saw.  di masa lalu oleh orang-orang Quraisy dan tuduhan-tuduhan yang akan dilemparkan terhadap beliau di masa yang akan datang oleh musuh-musuh beliau saw.  dari golongan Ahli Kitab  dan yang lainnya pun akan dielakkan dan beliau saw.  akan terbukti sama sekali suci dari noda itu.
   Pertolongan Ilahi dalam ayat وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا  -- “dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa”  datang dalam bentuk tersebarnya agama Islam secara cepat di tanah Arab sesudah penandatanganan perjanjian Hudaibiyah, dan  Nabi Besar Muhammad saw.  diakui sebagai Kepala Negara satu pemerintah yang merdeka dan berdaulat. Itulah makna firman-Nya:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ ﴿﴾اِنَّا فَتَحۡنَا لَکَ فَتۡحًا مُّبِیۡنًا ۙ﴿﴾ لِّیَغۡفِرَ  لَکَ اللّٰہُ  مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِکَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعۡمَتَہٗ  عَلَیۡکَ وَ یَہۡدِیَکَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِیۡمًا ۙ﴿﴾ وَّ  یَنۡصُرَکَ اللّٰہُ  نَصۡرًا عَزِیۡزًا ﴿﴾
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Sesungguhnya Kami telah memberi engkau satu kemenangan nyata. Supaya Allah melindungi  engkau  dari dosa-dosa yang dibuat terhadap engkau di masa lalu dan di masa yang akan datang, dan Dia menyempurnakan nikmat-Nya atas engkau,dan memberi petunjuk kepada engkau pada jalan yang lurus,   dan Allah akan menolong engkau dengan pertolongan yang perkasa.    (Al-Fath [48]:1-4).


(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 21 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar