Senin, 10 Oktober 2016

Doa "Maghfirah" Para "Pemikul 'Arasy Ilahi" dan "Mereka yang di Sekitarnya" Bagi Orang-orang yang Beriman & "Rahmat Ilahi" Meliputi Segala Sesuatu


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 32

  DOA MAGHFIRAH PARA  PEMIKUL ‘ARASY ILAHI DAN "MEREKA YANG DI SEKITARNYA" BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN & RAHMAT ILAHI MELIPUTI SEGALA SESUATU

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 31  dikemukakan  mengenai Rahasia Kesuksesan  Misi Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw. sehubungan dengan     pentingnya senantiasa istighfar dan bertaubat (kembali) kepada Allah Swt. dalam melaksanakan setiap pekerjaan – terutama pekerjaan yang berhubungan dengan kehidupan akhirat   -- sebagaimana  firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:   فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ  -- “Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ   --     dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh”  -- selengkapnya Allah Swt. berfirman:
 بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾  وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾  فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ﴿﴾  اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ؕ﴿﴾  فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾  وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.  Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau,   dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,   yang nyaris mematahkan punggung engkau? Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا ۙ     --  maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, ۙ  اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا  -- sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan. فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ  --  Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain,  وَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ   --    Dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh.  (Al-Insyirah [94]:1-9).

Suri Teladan Terbaik Nabi Besar Muhammad Saw.

  Nabi Besar Muhammad saw.   telah dibebani tugas kerasulan  yang tidak pernah dibebankan kepada siapa pun yang begitu memakan syarat dan mematahkan punggung (QS.33:73), yaitu, pertama-tama mengangkat derajat suatu kaum dari jurang kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan perantaraan mereka membersihkan dan mensucikan seluruh umat manusia dari kezaliman, kejahilan, dan ketakhyulan (QS.62:3),
 Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban amat berat dan hampir-hampir meremukkan  Nabi Besar Muhammad saw.  di bawah himpitannya, namun Allah Swt.  melalui wahyu Al-Quran telah  meringankan beban beliau saw., bahkan telah membuat harum semerbak nama beliau saw.:   اَلَمۡ نَشۡرَحۡ  لَکَ صَدۡرَکَ --  “Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau, وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ --    dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau, الَّذِیۡۤ  اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ --  yang nyaris mematahkan punggung engkau? وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ --  Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau.”
   Surah ini diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3 Nabawi, ketika  Nabi Besar Muhammad saw.   benar-benar tidak dikenal oleh kalangan di luar kaum beliau saw., tetapi dengan cepat beliau saw. bangkit menjadi orang yang paling dikenal dan paling dicintai, dihormati, dan yang paling berhasil di antara semua nabi Allah.
 Tidak ada pemimpin  -- baik pemimpin agama ataupun pemimpin duniawi --yang pernah menikmati kecintaan dan kehormatan dari para pengikutnya demikian besarnya seperti  Nabi Besar Muhammad saw. karena suri-teladan terbaik beliau saw.,  sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ  فِیۡ رَسُوۡلِ اللّٰہِ  اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ  لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ الۡیَوۡمَ  الۡاٰخِرَ  وَ ذَکَرَ  اللّٰہَ  کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam  diri Rasulullah benar-benar terdapat  suri teladan yang sebaik-baiknya  bagi kamu, yaitu bagi  orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir,  dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).

Kesuksesan di Balik Tantangan

   Pernyataan Allah Swt.   اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ  یُسۡرًا -- “sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan”  telah disebutkan dua kali. Ini menunjukkan bahwa:
 (1) Agama Islam akan harus melalui masa-masa penuh kesulitan, tetapi pada dua peristiwa Islam menghadapi tantangan untuk memper-tahankan wujudnya – pertama, selang beberapa tahun permulaan hidupnya sendiri, dan kedua kalinya pada Akhir Zaman – dan pada kedua-dua peristiwa itu Islam akan keluar dari  cobaan itu sebagai satu kekuatan baru.
(2) Ayat-ayat ini  menunjukkan pula bahwa kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi  Nabi Besar Muhammad saw. dan orang-orang Islam itu hanya bersifat sementara, tetapi keberhasilan-keberhasilan mereka akan kekal dan senantiasa meningkat terus.
(3) Bahwa di balik kesukaran  atau tantangan yang dihadapi  dalam berbagai hal terdapat   pengetahuan baru  yang akan menambah khazanah pengetahuan yang bersangkutan yang akan menghasilkan kesinambungan keberhasilan (kesuksesan) usaha yang dilakukan.
 Makna ayat selanjutnya:  فَاِذَا  فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ  --  Maka apabila engkau telah selesai tugas  lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lainوَ اِلٰی  رَبِّکَ فَارۡغَبۡ   --Dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh.  (Al-Insyirah [94]:8-9), Nabi Besar Muhammad saw. dihibur dengan memperoleh jaminan bahwa lapangan kemajuan ruhani yang tidak ada hingganya terbentang di hadapan beliau saw., dan bahwa sesudah beliau saw. menanggulangi kesulitan demi kesulitan yang menghalangi jalan beliau saw., beliau saw. tidak boleh berpuas diri dengan keberhasilan yang tercapai, tetapi sesudah beliau saw. menundukkan suatu puncak keberhasilan tertentu harus berusaha terus mendaki puncak lain, dan perhatian beliau saw. harus senantiasa ditujukan seluruhnya kepada usaha menghidupkan kembali umat manusia yang telah jatuh dan kepada usaha menegakkan Kerajaan Ilahi di atas bumi (QS.14:47-53; QS.39:69-70; QS,57:17-18).
  Ayat ini dapat pula mengandung arti bahwa manakala  Nabi Besar Muhammad saw.   telah menyelesaikan tugas beliau saw. sehari-hari – mengajar dan mendidik para pengikut beliau saw. dan membenahi urusan-urusan duniawi lainnya  (QS.62:3) – beliau saw. harus kembali menghadap  Allah Swt.  dengan sepenuh hati sebab perjalanan ruhani beliau  saw. tidak terhingga, yang di setiap tingkatan kenaikan (mi’raj) ruhani tersebut senantiasa membutuhkan “maghfirah” Allah Swt. (QS.53:1-19; QS.66:9).

Pentingnya Senantiasa Istighfar

   Itulah sebabnya mengapa Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda  mengenai pentingnya istighfar dan   taubat (kembali) kepada Allah Swt. dalam setiap keadaan: 
       Dari Abu Hurairah r.a.  ia mendengar Nabi saw. bersabda,“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).
       Dari Al Agharr Al Muzanni, yang merupakan sahabat Nabi, bahwa Nabi saw. bersabda,“Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702).
   Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud). 
       Anas r.a. meriwayatkan, aku mendengar Nabi saw. bersabda, Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu  memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosa kamu yang lalu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosa kamu sampai ke awan langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datangkan untuk kamu ampunan sepenuh bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi).
      Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya senantiasa istighfar dan taubat (kembali) kepada Allah Swt.:
   Ketidak acuhan sering muncul karena sebab-sebab yang tidak diketahui. Terkadang tanpa disadari seseorang  hatinya tiba-tiba dipenuhi karat dan kegelapan, karena itulah perlu selalu beristighfar, dengan cara itu  kalbunya bisa dihindarkan dari dijangkiti noda karat dan kegelapan.
     Umat Kristiani beranggapan bahwa istighfar menunjukkan si pelakunya telah melakukan suatu dosa. Padahal hakikat daripada istighfar adalah sebagai penjagaan agar manusia tidak melakukan dosa. Bila istighfar bermakna sebagai permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, lalu istilah apa yang akan digunakan buat menekan kecenderungan dosa di masa depan?
      Semua  nabi memerlukan istighfar. Tambah rajin seseorang beristighfar akan menjadi tambah suci kalbunya. Makna hakiki   istighfar adalah Tuhan telah menyelamatkan dirinya. Menyebut seseorang suci mengandung arti bahwa yang bersangkutan telah diampuni (Malfuzat, jld. IV, hlm.  255).

Para “Pemikul ‘Arasy Ilahi

   Sehubungan dengan hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai senantiasa terbukanya pintu maghfirah  dan taubat  bagi orang-orang yang “kembali” kepada-Nya:   
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾   حٰمٓ ۚ﴿﴾  تَنۡزِیۡلُ  الۡکِتٰبِ مِنَ اللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡعَلِیۡمِ ۙ﴿﴾ غَافِرِ الذَّنۡۢبِ وَ قَابِلِ التَّوۡبِ شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ ؕ لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ اِلَیۡہِ  الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾  
Aku baca  dengan nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. حٰمٓ   --    Maha Terpuji, Maha Mulia.   Diturunkan Kitab ini dari Allah, Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui, غَافِرِ الذَّنۡۢبِ وَ قَابِلِ التَّوۡبِ شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ  --  Pengampun dosa dan Penerima taubat, keras  hukuman-Nya, Pemilik  karunia. لَاۤ  اِلٰہَ  اِلَّا ہُوَ ؕ اِلَیۡہِ  الۡمَصِیۡرُ -- Tidak ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah  kembali." (Al-Mu’min [40]:1-4).
   Huruf-huruf singkatan hā  mīm adalah alih-alih Sifat-sifat Allah Swt.  yaitu Hamīd dan Majīd (Maha Terpuji dan Maha Mulia) atau Hayyi dan Qayyum (Maha Hidup dan Berdiri Sendiri serta Pemelihara segala sesuatu).
  Kedua kelompok Sifat Ilahi itu mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan kandungan Surah ini, yang selain bernama surah Al-Mu’min juga disebut Al-Ghāfir (Maha Pengampun).  Surah ini berulang-ulang mengisyaratkan kepada keagungan, kedaulatan, dan kekuasaan Tuhan. Seperti ditampakkan oleh kata ‘arasy, yang mengandung arti Sifat-sifat itu dan yang dua kali telah disebut dalam beberapa ayat permulaan.
   Pokok pembahasan kedua dari makna حٰمٓ   --   “ Maha Terpuji, Maha Mulia” yaitu Hayyi dan Qayyum (Maha Hidup dan Berdiri Sendiri serta Pemelihara segala sesuatu),   Ialah  kebangkitan kaum yang secara ruhani telah mati  mendapatkan kehidupan baru. Kedua sifat, Hayyi  (Maha Hidup) dan Qayyum (Berdiri Sendiri dan Pemelihara segala sesuatu) mempunyai suatu  hubungan yang nyata dengan masalah ini. Kenyataan itu menjelaskan tentang mengapa huruf-huruf singkatan hā  mīm telah ditempatkan pada permulaannya.
   Hal itu perlu mendapat perhatian istimewa bahwa Surah  Al-Mu’mim  dan keenam Surah berikutnya merupakan kelompok tersendiri, masing-masing diawali dengan huruf-huruf singkatan yang sama. Hal demikian menunjukkan bahwa ada perhubungan yang mendalam antara pokok pembahasan semuanya itu.
       Thaul  dalam ayat   غَافِرِ الذَّنۡۢبِ وَ قَابِلِ التَّوۡبِ   شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ  --  “Pengampun dosa dan Penerima taubat, keras  hukuman-Nya, ذِی الطَّوۡلِ  -- Pemilik  karunia” berarti: kebajikan; karunia; keutamaan; berlimpah-limpah; kekuasaan; kekayaan; keluasan lingkungan; superioritas; pengaruh yang lebih besar (Lexicon Lane).
Penyebutan Sifat   ذِی الطَّوۡلِ    -- “Pemilik karunia” setelah menyebutkan  Sifat شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ  -- “keras  hukuman-Nya” selaras dengan firman-Nya:
قَالَ عَذَابِیۡۤ  اُصِیۡبُ  بِہٖ  مَنۡ  اَشَآءُ ۚ وَ رَحۡمَتِیۡ وَسِعَتۡ کُلَّ شَیۡءٍ
….Dia berfirman:  ”Azab-Ku akan Kutimpakan  kepada siapa yang Aku kehendaki, tetapi   rahmat-Ku meliputi segala sesuatu….” (Al-A’rāf [7]:157).  Lihat pula  QS.40:8.
      Berkenaan dengan pernyataan-Nya mengenai “keras hukuman-Nya”   dalam ayat   غَافِرِ الذَّنۡۢبِ وَ قَابِلِ التَّوۡبِ       شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ  --  “Pengampun dosa dan Penerima taubat, keras  hukuman-Nya, Pemilik  karunia”  Allah Swt. berfirman: 
مَا یُجَادِلُ  فِیۡۤ  اٰیٰتِ اللّٰہِ  اِلَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَلَا یَغۡرُرۡکَ تَقَلُّبُہُمۡ فِی الۡبِلَادِ ﴿﴾ کَذَّبَتۡ قَبۡلَہُمۡ  قَوۡمُ نُوۡحٍ وَّ الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۪ وَ ہَمَّتۡ کُلُّ  اُمَّۃٍۭ بِرَسُوۡلِہِمۡ  لِیَاۡخُذُوۡہُ وَ جٰدَلُوۡا بِالۡبَاطِلِ لِیُدۡحِضُوۡا بِہِ الۡحَقَّ فَاَخَذ تُہُمۡ ۟ فَکَیۡفَ کَانَ عِقَابِ       ۡ ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ حَقَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اَنَّہُمۡ  اَصۡحٰبُ  النَّارِ ۘ﴿﴾
Sekali-kali tidak ada yang bertengkar mengenai Tanda-tanda Allah kecuali orang-orang kafir, maka  ja-nganlah memperdayakan engkau lalu-lalang mereka di kota-kota.   Sebelum mereka telah mendus-takan pula  kaum Nuh dan golongan-golongan sesudah mereka, dan setiap umat telah bertekad  terhadap rasul mereka untuk menangkapnya dan me-reka membantah dengan cara  batil supaya dengan itu mereka dapat menolak kebenaran, فَاَخَذ تُہُمۡ ۟ فَکَیۡفَ کَانَ عِقَابِ   --  kemudian Aku menangkap merekaفَکَیۡفَ کَانَ عِقَابِ         --  dan bagaimana hebatnya hukuman-Ku  وَ کَذٰلِکَ حَقَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ  کَفَرُوۡۤا  اَنَّہُمۡ  اَصۡحٰبُ  النَّارِ --         Dan demikianlah telah berlaku pasti keputusan Tuhan engkau terhadap orang-orang kafir bahwa sesungguhnya mereka itu penghuni Api. (Al-Mu’min [40]:1-7).
      Orang-orang beriman diberi tahu agar jangan tertipu oleh kecemerlangan ke-kuasaan materi orang-orang kafir, karena kekuasaan materi itu bakal hancur pada akhirnya.     
       Selanjutnya  mengenai Sifat  ذِی الطَّوۡلِ   -- “Pemilik karunia”  Allah Swt. berfirman berkenaan orang-orang yang “memikul ‘Arasy Ilahi” dan “mereka yang berada di sekitarnya” sehubungan pernyataan-Nya bahwa “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”(QS.7:157:
اَلَّذِیۡنَ یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ  رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    ۙ﴿﴾ وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪  ﴿﴾
Wujud-wujud  yang memikul ‘Arasy dan yang di sekitarnya, mereka bertasbih dengan pujian  Rabb (Tuhan) mereka, mereka beriman kepada-Nya  وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا --  dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: “Wahai  Rabb (Tuhan) kami,  رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ -- Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ  --   “Hai Rabb (Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janji-kan kepada mereka, dan begitu pun  orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, istri-istri mere-ka2596 dan keturunan-keturunan mereka. اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ       -- Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪     -- “Dan lindungilah mereka dari segala keburukan.  Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu  maka sungguh  Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu  kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min [40]:8-10).  
      Karena ‘Arasy berarti Sifat-sifat Ilahi maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan berarti makhluk-makhluk atau orang-orang yang dengan perantaraan mereka Sifat-sifat Ilahi  itu diwujudkan. Karena hukum alam bekerja dengan perantaraan malaikat-malaikat, dan para nabi Allah merupakan wahana yang dengan perantaraan mereka Kalamullāh disampaikan kepada umat manusia, maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” dapat berarti pula para malaikat dan para rasul  Tuhan, sedangkan makna kata-kata “mereka yang ada di sekitarnya” dapat berarti para malaikat yang dibawahi dan membantu para malaikat yang utama dalam menyelenggarakan urusan-urusan dunia, atau para pengikut sejati rasul-rasul yang menyampaikan dan menyebarkan ajaran nabi-nabi Allah itu.
       Ayat ini meletakkan suatu asas yang agung. Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan orang lain. Orang-orang lain -- masing-masing dengan sadar atau tidak sadar  --  telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan itu.
  Sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang sadar atau tidak sadar itu   -- terutama ayah bunda, istri, dan anak-anaknya  --  maka anggota keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan ikut serta menikmati karunia-karunia yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman atas amal-amal shalihnya.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 Oktober 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar