Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT
DAN MOHON AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
32
DOA MAGHFIRAH
PARA PEMIKUL
‘ARASY ILAHI DAN "MEREKA YANG DI SEKITARNYA" BAGI ORANG-ORANG YANG
BERIMAN & RAHMAT ILAHI
MELIPUTI SEGALA SESUATU
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab 31 dikemukakan mengenai Rahasia Kesuksesan Misi Kerasulan Nabi Besar Muhammad Saw. sehubungan
dengan pentingnya senantiasa istighfar dan bertaubat
(kembali) kepada Allah Swt. dalam melaksanakan setiap pekerjaan – terutama pekerjaan
yang berhubungan dengan kehidupan akhirat -- sebagaimana firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.: فَاِذَا
فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- “Maka apabila
engkau telah selesai tugas lalu
kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan
yang lain, وَ اِلٰی رَبِّکَ فَارۡغَبۡ -- dan kepada
Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh” -- selengkapnya Allah Swt. berfirman:
بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾
اَلَمۡ نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ وِزۡرَکَ ۙ﴿﴾ الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ ۙ﴿﴾ وَ رَفَعۡنَا لَکَ
ذِکۡرَکَ ؕ﴿﴾ فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ﴿﴾ اِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ؕ﴿﴾ فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ ۙ﴿﴾ وَ اِلٰی رَبِّکَ فَارۡغَبۡ ٪﴿﴾
Aku baca
dengan
nama Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang.
Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau, dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,
yang
nyaris mematahkan punggung engkau?
Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau. فَاِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا ۙ -- maka sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan, ۙ اِنَّ مَعَ
الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- sesungguhnya
bersama kesukaran ada kemudahan. فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- Maka apabila
engkau telah selesai tugas lalu kerjakanlah
dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی
رَبِّکَ فَارۡغَبۡ -- Dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh. (Al-Insyirah
[94]:1-9).
Suri Teladan
Terbaik Nabi Besar Muhammad Saw.
Nabi Besar Muhammad saw. telah
dibebani tugas kerasulan yang tidak pernah dibebankan kepada siapa pun
yang begitu memakan syarat dan mematahkan punggung (QS.33:73), yaitu,
pertama-tama mengangkat derajat suatu kaum dari jurang kemunduran akhlak ke puncak keutamaan ruhani dan, kemudian dengan
perantaraan mereka membersihkan dan mensucikan
seluruh umat manusia dari kezaliman,
kejahilan, dan ketakhyulan (QS.62:3),
Hal itu sungguh suatu pertanggungjawaban amat berat dan hampir-hampir meremukkan Nabi Besar Muhammad saw. di bawah himpitannya,
namun Allah Swt. melalui wahyu Al-Quran telah meringankan
beban beliau saw., bahkan telah membuat harum
semerbak nama beliau saw.: اَلَمۡ
نَشۡرَحۡ لَکَ صَدۡرَکَ -- “Tidaklah Kami telah melapangkan bagi engkau dada engkau, وَ وَضَعۡنَا عَنۡکَ
وِزۡرَکَ -- dan Kami menghilangkan dari engkau beban engkau,
الَّذِیۡۤ اَنۡقَضَ ظَہۡرَکَ --
yang nyaris mematahkan
punggung engkau? وَ رَفَعۡنَا لَکَ ذِکۡرَکَ -- Dan Kami meninggikan untuk engkau sebutan engkau.”
Surah
ini diwahyukan pada tahun ke-2 atau ke-3 Nabawi, ketika Nabi Besar Muhammad saw. benar-benar tidak dikenal oleh kalangan di luar kaum beliau saw., tetapi dengan cepat
beliau saw. bangkit menjadi orang yang
paling dikenal dan paling dicintai,
dihormati, dan yang paling berhasil di antara semua nabi Allah.
Tidak ada pemimpin -- baik pemimpin agama ataupun pemimpin duniawi
--yang pernah menikmati kecintaan
dan kehormatan dari para pengikutnya
demikian besarnya seperti Nabi Besar Muhammad saw. karena suri-teladan terbaik beliau saw., sebagaimana firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لَکُمۡ فِیۡ رَسُوۡلِ
اللّٰہِ اُسۡوَۃٌ حَسَنَۃٌ لِّمَنۡ کَانَ یَرۡجُوا اللّٰہَ وَ
الۡیَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَ ذَکَرَ
اللّٰہَ کَثِیۡرًا ﴿ؕ﴾
Sungguh dalam
diri Rasulullah benar-benar terdapat suri teladan yang sebaik-baiknya
bagi kamu, yaitu bagi orang yang mengharapkan Allah dan Hari Akhir, dan bagi yang banyak mengingat Allah. (Al-Ahzab [33]:22).
Kesuksesan di Balik Tantangan
Pernyataan Allah Swt. اِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ یُسۡرًا -- “sesungguhnya bersama kesukaran ada kemudahan”
telah disebutkan dua kali. Ini
menunjukkan bahwa:
(1) Agama Islam akan harus melalui masa-masa
penuh kesulitan, tetapi pada dua peristiwa Islam menghadapi tantangan untuk
memper-tahankan wujudnya – pertama, selang beberapa tahun permulaan hidupnya
sendiri, dan kedua kalinya pada Akhir Zaman – dan pada kedua-dua peristiwa itu Islam akan keluar dari cobaan
itu sebagai satu kekuatan baru.
(2) Ayat-ayat
ini menunjukkan pula bahwa kesulitan-kesulitan yang sedang dihadapi
Nabi Besar Muhammad saw. dan orang-orang
Islam itu hanya bersifat sementara,
tetapi keberhasilan-keberhasilan
mereka akan kekal dan senantiasa meningkat terus.
(3) Bahwa di
balik kesukaran atau tantangan
yang dihadapi dalam berbagai hal terdapat
pengetahuan baru yang akan menambah khazanah pengetahuan yang bersangkutan yang akan menghasilkan kesinambungan keberhasilan (kesuksesan)
usaha yang dilakukan.
Makna
ayat selanjutnya: فَاِذَا فَرَغۡتَ فَانۡصَبۡ -- Maka
apabila engkau telah selesai tugas
lalu kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, وَ اِلٰی
رَبِّکَ فَارۡغَبۡ --Dan kepada Rabb (Tuhan) engkaulah hendaknya engkau memohon dengan sungguh-sungguh. (Al-Insyirah
[94]:8-9), Nabi Besar Muhammad saw. dihibur
dengan memperoleh jaminan bahwa
lapangan kemajuan ruhani yang tidak
ada hingganya terbentang di hadapan beliau saw., dan bahwa sesudah beliau saw. menanggulangi kesulitan demi kesulitan yang menghalangi jalan beliau saw., beliau saw. tidak
boleh berpuas diri dengan keberhasilan
yang tercapai, tetapi sesudah beliau saw. menundukkan
suatu puncak keberhasilan tertentu
harus berusaha terus mendaki puncak
lain, dan perhatian beliau saw. harus senantiasa ditujukan seluruhnya kepada usaha menghidupkan kembali umat manusia yang telah jatuh dan kepada usaha menegakkan Kerajaan Ilahi di atas bumi
(QS.14:47-53; QS.39:69-70; QS,57:17-18).
Ayat ini dapat pula mengandung arti bahwa
manakala Nabi Besar Muhammad saw. telah
menyelesaikan tugas beliau saw. sehari-hari – mengajar dan mendidik
para pengikut beliau saw. dan membenahi urusan-urusan
duniawi lainnya (QS.62:3) – beliau saw.
harus kembali menghadap Allah Swt. dengan sepenuh
hati sebab perjalanan ruhani
beliau saw. tidak terhingga, yang di
setiap tingkatan kenaikan (mi’raj) ruhani tersebut senantiasa membutuhkan “maghfirah” Allah Swt. (QS.53:1-19; QS.66:9).
Pentingnya Senantiasa Istighfar
Itulah
sebabnya mengapa Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda mengenai pentingnya istighfar dan taubat (kembali) kepada Allah Swt. dalam
setiap keadaan:
Dari Abu Hurairah r.a. ia mendengar Nabi saw. bersabda,“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih
dari 70 kali.” (HR. Bukhari no. 6307).
Dari Al Agharr Al Muzanni, yang merupakan sahabat Nabi, bahwa Nabi saw. bersabda,“Ketika hatiku malas, aku beristighfar pada Allah dalam sehari
sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim no. 2702).
Dari Ibnu Abbas radhiallahu’anhu, ia
berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa senantiasa beristighfar, niscaya Allah menjadikan
untuk setiap kesedihannya kelapangan dan untuk setiap kesempitannya jalan
keluar, dan akan diberi-Nya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka.”
(HR. Abu
Daud).
Anas r.a. meriwayatkan, aku mendengar
Nabi saw. bersabda, Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika
kamu memohon dan mengharap kepada-Ku, niscaya Aku ampuni dosa-dosa kamu yang lalu dan
aku tidak peduli. Wahai anak Adam, seandainya dosa-dosa kamu sampai ke awan langit, kemudian kamu memohon ampun kepada-Ku niscaya Aku mengampuni kamu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang kepada-Ku dengan
dosa-dosa sepenuh bumi dan kamu
menemui-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatupun, niscaya Aku datangkan untuk kamu ampunan sepenuh
bumi pula.” (HR. At-Tirmidzi).
Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai
pentingnya senantiasa istighfar dan taubat (kembali) kepada Allah Swt.:
“Ketidak acuhan sering muncul karena sebab-sebab
yang tidak diketahui. Terkadang tanpa
disadari seseorang hatinya tiba-tiba dipenuhi karat dan kegelapan, karena itulah perlu selalu beristighfar, dengan cara itu kalbunya bisa dihindarkan dari
dijangkiti noda karat dan kegelapan.
Umat Kristiani beranggapan bahwa istighfar menunjukkan si pelakunya telah
melakukan suatu dosa.
Padahal hakikat daripada istighfar adalah sebagai penjagaan agar manusia
tidak melakukan dosa.
Bila istighfar bermakna
sebagai permohonan ampun atas dosa yang telah dilakukan, lalu istilah apa yang akan digunakan buat menekan kecenderungan dosa di masa depan?
Semua nabi memerlukan istighfar. Tambah rajin seseorang beristighfar akan menjadi tambah suci kalbunya. Makna hakiki istighfar adalah Tuhan
telah menyelamatkan dirinya.
Menyebut seseorang suci mengandung arti
bahwa yang bersangkutan telah diampuni” (Malfuzat,
jld. IV, hlm. 255).
Para “Pemikul ‘Arasy Ilahi”
Sehubungan dengan
hal tersebut Allah Swt. berfirman mengenai senantiasa terbukanya pintu maghfirah dan taubat
bagi orang-orang yang “kembali” kepada-Nya:
بِسۡمِ
اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ﴿﴾ حٰمٓ ۚ﴿﴾ تَنۡزِیۡلُ الۡکِتٰبِ مِنَ اللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ
الۡعَلِیۡمِ ۙ﴿﴾
غَافِرِ
الذَّنۡۢبِ وَ قَابِلِ التَّوۡبِ شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ ؕ لَاۤ اِلٰہَ
اِلَّا ہُوَ ؕ اِلَیۡہِ
الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Aku baca dengan nama
Allah, Maha Pemurah, Maha Penyayang. حٰمٓ -- Maha Terpuji, Maha Mulia.
Diturunkan Kitab ini dari Allah, Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui, غَافِرِ الذَّنۡۢبِ
وَ قَابِلِ التَّوۡبِ شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ -- Pengampun
dosa dan Penerima taubat, keras
hukuman-Nya, Pemilik karunia. لَاۤ
اِلٰہَ اِلَّا ہُوَ ؕ
اِلَیۡہِ الۡمَصِیۡرُ -- Tidak
ada Tuhan kecuali Dia, kepada-Nya-lah kembali." (Al-Mu’min
[40]:1-4).
Huruf-huruf singkatan hā mīm adalah alih-alih Sifat-sifat Allah Swt. yaitu
Hamīd dan Majīd (Maha Terpuji dan Maha Mulia) atau Hayyi
dan Qayyum (Maha Hidup dan Berdiri Sendiri serta Pemelihara segala
sesuatu).
Kedua kelompok Sifat Ilahi itu mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan
kandungan Surah ini, yang selain bernama surah Al-Mu’min juga disebut Al-Ghāfir
(Maha Pengampun). Surah ini
berulang-ulang mengisyaratkan kepada keagungan,
kedaulatan, dan kekuasaan Tuhan. Seperti ditampakkan oleh kata ‘arasy, yang
mengandung arti Sifat-sifat itu dan
yang dua kali telah disebut dalam beberapa ayat permulaan.
Pokok
pembahasan kedua dari makna حٰمٓ -- “ Maha Terpuji, Maha Mulia”
yaitu Hayyi dan Qayyum (Maha Hidup dan
Berdiri Sendiri serta Pemelihara segala sesuatu), Ialah kebangkitan kaum yang secara ruhani
telah mati mendapatkan kehidupan baru. Kedua sifat, Hayyi
(Maha Hidup) dan Qayyum
(Berdiri Sendiri dan Pemelihara segala sesuatu) mempunyai suatu hubungan
yang nyata dengan masalah ini. Kenyataan itu menjelaskan tentang mengapa
huruf-huruf singkatan hā mīm telah
ditempatkan pada permulaannya.
Hal itu perlu mendapat perhatian istimewa
bahwa Surah Al-Mu’mim dan keenam Surah berikutnya merupakan
kelompok tersendiri, masing-masing diawali dengan huruf-huruf singkatan
yang sama. Hal demikian menunjukkan bahwa ada perhubungan yang mendalam antara
pokok pembahasan semuanya itu.
Thaul
dalam ayat غَافِرِ الذَّنۡۢبِ وَ قَابِلِ التَّوۡبِ شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ -- “Pengampun dosa dan Penerima taubat, keras hukuman-Nya, ذِی الطَّوۡلِ -- Pemilik karunia” berarti: kebajikan; karunia;
keutamaan; berlimpah-limpah; kekuasaan; kekayaan; keluasan lingkungan;
superioritas; pengaruh yang lebih besar (Lexicon
Lane).
Penyebutan Sifat ذِی الطَّوۡلِ -- “Pemilik
karunia” setelah menyebutkan Sifat شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ --
“keras
hukuman-Nya” selaras dengan firman-Nya:
قَالَ
عَذَابِیۡۤ اُصِیۡبُ بِہٖ
مَنۡ اَشَآءُ ۚ وَ رَحۡمَتِیۡ
وَسِعَتۡ کُلَّ شَیۡءٍ
….Dia
berfirman: ”Azab-Ku akan Kutimpakan kepada siapa
yang Aku kehendaki, tetapi rahmat-Ku meliputi
segala sesuatu….” (Al-A’rāf [7]:157). Lihat
pula QS.40:8.
Berkenaan dengan
pernyataan-Nya mengenai “keras hukuman-Nya” dalam ayat
غَافِرِ الذَّنۡۢبِ وَ قَابِلِ التَّوۡبِ شَدِیۡدِ الۡعِقَابِ ۙ ذِی الطَّوۡلِ -- “Pengampun
dosa dan Penerima taubat, keras
hukuman-Nya, Pemilik karunia” Allah Swt. berfirman:
مَا
یُجَادِلُ فِیۡۤ اٰیٰتِ اللّٰہِ اِلَّا الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فَلَا یَغۡرُرۡکَ
تَقَلُّبُہُمۡ فِی الۡبِلَادِ ﴿﴾
کَذَّبَتۡ
قَبۡلَہُمۡ قَوۡمُ نُوۡحٍ وَّ
الۡاَحۡزَابُ مِنۡۢ بَعۡدِہِمۡ ۪ وَ ہَمَّتۡ کُلُّ اُمَّۃٍۭ بِرَسُوۡلِہِمۡ لِیَاۡخُذُوۡہُ وَ جٰدَلُوۡا بِالۡبَاطِلِ
لِیُدۡحِضُوۡا بِہِ الۡحَقَّ فَاَخَذ تُہُمۡ ۟ فَکَیۡفَ کَانَ عِقَابِ ۡ
﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ حَقَّتۡ
کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡۤا اَنَّہُمۡ اَصۡحٰبُ
النَّارِ ۘ﴿﴾
Sekali-kali tidak ada yang bertengkar mengenai Tanda-tanda Allah
kecuali orang-orang kafir, maka
ja-nganlah memperdayakan engkau lalu-lalang mereka di
kota-kota. Sebelum mereka telah mendus-takan pula kaum Nuh dan golongan-golongan sesudah
mereka, dan setiap umat telah bertekad
terhadap rasul mereka untuk menangkapnya dan me-reka membantah dengan cara batil supaya dengan itu mereka dapat
menolak kebenaran, فَاَخَذ تُہُمۡ ۟ فَکَیۡفَ کَانَ
عِقَابِ -- kemudian Aku
menangkap mereka, فَکَیۡفَ کَانَ عِقَابِ -- dan bagaimana hebatnya hukuman-Ku! وَ کَذٰلِکَ
حَقَّتۡ کَلِمَتُ رَبِّکَ عَلَی الَّذِیۡنَ
کَفَرُوۡۤا اَنَّہُمۡ اَصۡحٰبُ
النَّارِ -- Dan demikianlah telah berlaku pasti keputusan Tuhan engkau
terhadap orang-orang kafir bahwa sesungguhnya
mereka itu penghuni Api. (Al-Mu’min [40]:1-7).
Orang-orang beriman diberi tahu agar jangan tertipu
oleh kecemerlangan ke-kuasaan materi orang-orang kafir, karena kekuasaan
materi itu bakal hancur pada
akhirnya.
Selanjutnya mengenai Sifat ذِی الطَّوۡلِ -- “Pemilik
karunia” Allah Swt. berfirman
berkenaan orang-orang yang “memikul ‘Arasy Ilahi” dan “mereka yang berada di sekitarnya”
sehubungan pernyataan-Nya bahwa “Rahmat-Ku
meliputi segala sesuatu”(QS.7:157:
اَلَّذِیۡنَ
یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ
یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ
رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ
رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ
صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
ۙ﴿﴾ وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ
الۡعَظِیۡمُ ٪ ﴿﴾
Wujud-wujud yang memikul
‘Arasy dan yang di sekitarnya, mereka bertasbih dengan pujian Rabb (Tuhan) mereka, mereka beriman kepada-Nya وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا -- dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: “Wahai Rabb
(Tuhan) kami, رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ
رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ -- Engkau
meliputi segala sesuatu dengan rahmat
dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat
dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ
صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ -- “Hai Rabb (Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga
abadi yang telah Engkau janji-kan kepada mereka, dan begitu pun orang-orang
yang beramal saleh dari bapak-bapak
mereka, istri-istri mere-ka2596 dan keturunan-keturunan mereka. اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ
الۡحَکِیۡمُ -- Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ
یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ
ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪ -- “Dan lindungilah
mereka dari segala keburukan. Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu
maka sungguh Engkau telah mengasihinya, dan
yang demikian itu kemenangan yang besar.”
(Al-Mu’min
[40]:8-10).
Karena ‘Arasy
berarti Sifat-sifat Ilahi maka
kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan
berarti makhluk-makhluk atau orang-orang yang dengan perantaraan
mereka Sifat-sifat Ilahi itu diwujudkan.
Karena hukum alam bekerja dengan
perantaraan malaikat-malaikat, dan
para nabi Allah merupakan wahana yang dengan perantaraan mereka Kalamullāh disampaikan kepada umat manusia, maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” dapat berarti pula
para malaikat dan para rasul Tuhan, sedangkan makna kata-kata “mereka yang ada di sekitarnya” dapat
berarti para malaikat yang dibawahi dan membantu para malaikat yang
utama dalam menyelenggarakan urusan-urusan
dunia, atau para pengikut sejati
rasul-rasul yang menyampaikan dan
menyebarkan ajaran nabi-nabi Allah
itu.
Ayat
ini meletakkan suatu asas yang agung.
Tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan
tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan orang lain. Orang-orang
lain -- masing-masing dengan sadar atau tidak sadar -- telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan
itu.
Sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang sadar
atau tidak sadar itu -- terutama ayah
bunda, istri, dan anak-anaknya -- maka anggota
keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan
ikut serta menikmati karunia-karunia
yang akan dianugerahkan kepada
orang-orang yang beriman atas amal-amal shalihnya.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 10 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar