Jumat, 07 Oktober 2016

"Hamba Allah" Mengajari Nabi Musa a.s. Tiga Ajaran Utama Cara Meraih Ketakwaan Kepada Allah Swt. & Al-Quran Sebagai "Furqan" (Pemisah) yang Haq dan Bathil


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 29

HAMBA ALLAH” MENGAJARI NABI MUSA A.S. TIGA AJARAN UTAMA CARA MERAIH KETAKWAAN KEPADA ALLAH SWT. & AL-QURAN SEBAGAI FURQAN (PEMISAH) YANG HAQ DAN BATHIL 

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 28  dikemukakan     penjelasan   mengenai   Nabi Adam a.s. yang “melupakan” atau lupa  terhadap peringatan Allah Swt.  mengenai  “pohon terlarang” (QS.7:20), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa. (Thā Hā [20]:116).
  Ayat ini menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam a.s.  hanyalah disebabkan oleh kekeliruan dalam pertimbangan dalam mensikapi “bujukan” manusia syaitan yang penuh tipu-daya. Kekeliruan yang dilakukan beliau tersebut  tanpa disengaja dan sama sekah tidak dengan suatu niat atau kehendak, sebab pada hakikatnya manusia tidak luput dari kesalahan.
   Itulah sebabnya dalam ayat sebelumnya Allah Swt. telah mengajarkan  kepada Nabi Besar Muhammad saw.  doa memohon tambahan ilmu pengetahuan,  karena salah satu penyebab terjadinya kekeliruan dalam  menafsirkan sesuatu adalah akibat kurangnya memiliki pengetahuan yang memadai, firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ   --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,   وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا  -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).

Hamba Allah” Dalam Kasyaf yang Dicari Nabi Musa a.s.

      Mengisyaratkan kepada pentingnya memiliki pengetahuan yang memadai itu pulalah jawaban seorang  “hamba Allah” ketika menjawab permintaan Nabi Musa a.s. yang ingin “belajar”  petunjuk  yang secara khusus diajarkan Allah Swt. kepada “hamba Allah” tersebut, firman-Nya:
 فَوَجَدَا عَبۡدًا مِّنۡ عِبَادِنَاۤ اٰتَیۡنٰہُ رَحۡمَۃً  مِّنۡ عِنۡدِنَا وَ عَلَّمۡنٰہُ مِنۡ لَّدُنَّا عِلۡمًا ﴿﴾  قَالَ لَہٗ مُوۡسٰی ہَلۡ اَتَّبِعُکَ عَلٰۤی اَنۡ تُعَلِّمَنِ  مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدًا ﴿﴾  قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا ﴿﴾  وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ  عَلٰی مَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ خُبۡرًا ﴿﴾ قَالَ سَتَجِدُنِیۡۤ  اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ صَابِرًا وَّ لَاۤ اَعۡصِیۡ  لَکَ  اَمۡرًا ﴿﴾  قَالَ فَاِنِ اتَّبَعۡتَنِیۡ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِیۡ عَنۡ شَیۡءٍ  حَتّٰۤی  اُحۡدِثَ  لَکَ  مِنۡہُ  ذِکۡرًا ﴿٪﴾
Maka mereka bertemu dengan seorang hamba dari hamba-­hamba Kami, yang Kami telah menganugerahi rahmat dari Kami, dan Kami telah mengajarkan kepadanya ilmu dari hadirat Kami.   Musa berkata kepadanya: "Bolehkah aku mengikuti engkau supaya engkau mengajarkan ke­padaku petunjuk dari apa  yang telah diajarkan kepada engkau?” قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا  --   Ia berkata: "Sesungguhnya engkau  tidak  akan pernah sanggup bersabar bersamaku.  وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ  عَلٰی مَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ خُبۡرًا  --  "Dan bagaimanakah engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau tidak dapat menguasai pengetahuan mengenainya?"  قَالَ سَتَجِدُنِیۡۤ  اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ صَابِرًا وَّ لَاۤ اَعۡصِیۡ  لَکَ  اَمۡرًا  --   Dia (Musa)  berkata: "Engkau akan mendapatiku sebagai seorang yang sabar jika Allah menghendaki dan aku tidak akan menolak apa pun perintah engkau."  قَالَ فَاِنِ اتَّبَعۡتَنِیۡ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِیۡ عَنۡ شَیۡءٍ  حَتّٰۤی  اُحۡدِثَ  لَکَ  مِنۡہُ  ذِکۡرًا --  Ia berkata: “Maka jika engkau mengikutiku,  janganlah engkau menanyakan ke­padaku mengenai sesuatu hingga aku menceriterakannya kepada engkau mengenainya."  (Al-Kahf [18]:66-71).
   Siapakah "hamba Allah" ('abd Allah) Yang telah dikaruniai rahmat Allah Swt.  dan juga yang telah diajar   ilmu oleh-Nya,    yang untuk mencarinya Nabi Musa  a.s. dalam menaati perintah Ilahi  telah menempuh perjalanan yang begitu panjang dan sukar, dan yang merupakan pusat perhatian dan pemegang peranan utama dalam seluruh kisah itu?

Perwujudan Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.

   Orang itu tidak ada lain adalah Nabi Besar Muhammad   Rasulullah saw.,  yang ruhnya telah mendapat perwujudan dalam kasyaf Nabi Musa a.s..Alasan­-alasan untuk itu adalah sebagai berikut:
(a)  Nabi Besar Muhammad saw.  telah disebut 'abd (hamba) Allah  dalam Al-Quran (QS.2:24; QS.8:42; QS.17:2; QS.18:2; QS.25:2. QS.39:37; QS. 53:11; QS.72:20). Sesungguhnya beliau saw. adalah 'abd Allah (hamba Allah) yang paling utama.
(b)  Nabi Besar Muhammad saw.   disebut rahmatul lil 'ālamīn,  pembawa rahmat untuk seluruh alam (QS.21:108), nama julukan itu dalam Al-Quran tidak dikemukakan kepada siapa pun yang lain kecuali kepada  beliau saw..   
(c)  Nabi Besar Muhammad saw.   dikaruniai ma'rifat Ilahi yang berlimpah-limpah (QS.4:115; QS.27:7).
(d) "Hamba Allah" ini telah memberitahukan kepada Nabi Musa a.s.  bahwa beliau itu tidak akan berdiam diri (ayat 68), dan  Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan telah bersabda: "Alangkah baiknya jika  Nabi Musa a.s. tetap berdiam diri, apabila beliau berbuat demi-kian tentu kita akan dianugerahi lebih banyak ilmu mengenai hal-hal yang gaib" (Bukhari, Kitab al-Tafsir).
 Hakikatnya ialah Nabi Musa a.s. pernah menyaksikan tajali Ilahi (penampakan kegagahan Tuhan)  berupa “api” dalam perjalanan dari Madyan ke Mesir (QS.28:30). Tetapi di masa kemudian beliau diberitahu  bahwa seorang nabi  Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani lsrail yang dalam mulutnya Allah Swt.  akan mernberikan segala firman-Nya (Ulangan 18: 18-22).
 Kata-kata nubuatan ini mengandung arti bahwa nabi yang dijanjikan itu akan menjadi tempat penampakan Tuhan (Tajalli Ilahi) yang lebih besar daripada penampakan pada diri Nabi Musa a.s. , karena itu dengan sendirinya Nabi Musa a.s.  ingin melihat gerangan siapakah "nabi itu".
Untuk memenuhi keinginan  itu Allah Swt. . membuat Musa a.s.   melihat dalam kasyaf bahwa "nabi itu" memiliki kemampuan-kemampuan ruhani yang jauh lebih tinggi, dimana digambarkan beliau pingsan ketika gunung yang ke atasnya Allah Swt. bertajalli hancur,   lalu setelah sadar dari pingsannya  Nabi Musa a.s.   menyatakan beriman kepada kesempurnaan ruhani  Nabi Besar Muhammad saw. (QS.7:144).
Jadi, "Hamba Allah" berilmu yang nampak dalam kasyaf kepada Nabi Musa a.s. -- yang oleh umum dikenal dengan nama Khidir   -- tidak lain ialah ruh Penghulu para nabi Allah yang mulia, Nabi Besar Muhammad saw., yang dalam kasyaf Nabi Musa a.s. tersebut  seolah-olah telah memperoleh jasad lahir.

Tiga Ajaran Pokok Al-Quran Cara Meraih Ketakwaan  & Pentingnya Tambahan Ilmu Pengetahuan

  Nabi Musa a.s.  tidak mendapat taufik untuk mencapai puncak-puncak ketinggian ruhani  yang telah dicapai oleh ilmu keruhanian  Nabi Besar Muhammad saw.  yaitu makrifat Ilahi  paling sempurna berupa wahyu Al-Quran (QS.5:4).
  Dalam ayat-ayat selanjutnya  (QS.18:72-83) diterangkan, bahwa sesuai ucapan “hamba Allah”:  قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا  --   Ia berkata: "Sesungguhnya engkau  tidak  akan pernah sanggup bersabar bersamaku.  وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ  عَلٰی مَا لَمۡ تُحِطۡ بِہٖ خُبۡرًا  -- "Dan bagaimanakah engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau tidak dapat menguasai pengetahuan mengenainya?"     terbukti Nabi Musa a.s.  tidak dapat bersabar terhadap 3 macam  “pelajaran” yang  “diajarkan” oleh hamba Allah tersebut, yaitu: (1) melubangi perahu, (2) membunuh pemuda, (3) menegakkan dinding   tanpa minta upah, yang mengandung makna serta falsafah dan hakikat yang sangat dalam dan  merupakan 3 ajaran utama Al-Quran dalam membangun ketakwaan kepada Allah Swt. (QS.2:1-6; QS.6:162-164).
 Jadi, kembali kepada pentingnya  berdoa memohon tambahan ilmu pengetahuan  yang diajarkan Allah Swt. kepada Nabi Besar Muhammad saw., doa tersebut sangat penting senantiasa dipanjatkan oleh umat Islam, sebab Al-Quran  merupakan khazanah keruhanian yang tidak terbatas (QS.15:22; QS.18:110; QS.32:28), yang apabila tidak memiliki pengetahuan yang memadai  maka akan keliru menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, terutama ayat-ayat yang mutasyabihat (QS.3:8-9),   firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ اَنۡزَلۡنٰہُ  قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ  یُحۡدِثُ  لَہُمۡ  ذِکۡرًا ﴿﴾  فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا ﴿﴾
Dan demikianlah  Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang di dalamnya berbagai macam ancaman supaya mereka bertakwa atau supaya  perkataan ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ  الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ   --   Maka  Mahatinggi Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ  -- Dan janganlah engkau tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya dilengkapkan kepada engkau,   وَ  قُلۡ  رَّبِّ  زِدۡنِیۡ  عِلۡمًا  -- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku (Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).

Al-Quran  Sebagai Furqān (Pemisah) yang  Haq (benar) dan Bathil (Dusta)

      Dalam firman-Nya  berikut ini Allah Swt. menjelaskan bahwa Al-Quran – sebagai Kitab suci yang sempurna --  bukan saja merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (QS.2:1-3), juga mampu  punya “menyesatkan”   orang-orang yang berhati bengkok, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
ہُوَ الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ اُمُّ  الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ؃ وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ ﴿﴾  رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah  Allah Yang menurunkan Al-Kitab yakni Al-Quran  kepada engkau,  di antaranya ada aya-ayat yang muhkamat,  itulah pokok-pokok  Al-Kitab, sedangkan yang lain  ayat-ayat mutasyābihātفَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ  --  Adapun   orang-orang yang di dalam hatinya ada ke-bengkokan maka mereka mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt  karena ingin menimbulkan fitnah dan ingin mencari-cari takwilnya yang salah, وَ مَا یَعۡلَمُ  تَاۡوِیۡلَہٗۤ  اِلَّا اللّٰہُ    -- padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah,  ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ  مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا  --   dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” وَ مَا یَذَّکَّرُ  اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ  --  Dan  tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ  اِذۡ ہَدَیۡتَنَا    --     Ya  Rabb (Tuhan) kami, janganlah Eng-kau menyimpangkan hati kami setelah Engkau telah memberi kami petunjuk, وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ  --   dan anugerahilah kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Ali ‘Imran [3]:8-9).

Makna Persumpahan Allah Swt. Dalam Al-Quran

       Itulah sebabnya Allah Swt. telah menyatakan bahwa hanya “orang-orang yang disucikan” Allah Swt. sajalah yang mendapat taufik mengetahui  ketidak-terbatasan khazanah-khazanah ruhani  Al-Quran (QS.18:110; QS.31:28),  sebab jika  menafsirkan Al-Quran tanpa petunjuk dari Allah Swt.  maka yang diperoleh dari Al-Quran bukanlah petunjuk-petunjuk yang baru  melainkan kesesatan (QS.3:8-9; QS.17:83), yang  akibatnya bukan saja akan menyesatkan orang yang bersangkutan  tetapi juga akan menyesatkan orang-orang lain yang menjadi pengikutnya, firman-Nya:
فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾  وَ  اِنَّہٗ  لَقَسَمٌ  لَّوۡ  تَعۡلَمُوۡنَ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾  فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾  لَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾  تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan,  dan sesungguhnya itu benar-benar  kesaksian agung seandainya kamu mengetahui, اِنَّہٗ   لَقُرۡاٰنٌ   کَرِیۡمٌ  --  Sesungguhnya itu  benar-benar   Al-Quran yang mulia,    فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ --  Dalam  suatu kitab yang sangat terpeliharaلَّا  یَمَسُّہٗۤ  اِلَّا الۡمُطَہَّرُوۡنَ  --            Yang tidak  dapat menyentuhnya kecuali orang-orang  yang disucikan  تَنۡزِیۡلٌ  مِّنۡ  رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ --             Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Wāqi’ah [56]:76-81).
       Makna huruf lā    dalam ayat  فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ   -- “Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan”,  pada umumnya dipergunakan untuk memberikan tekanan arti pada suatu sumpah, yang berarti,  bahwa hal yang akan diterangkan lebih lanjut adalah begitu jelas, sehingga tidak diperlukan memanggil sesuatu yang lain untuk memberikan kesaksian atas kebenarannya. Bila yang dimaksudkan ialah sanggahan terhadap suatu praduga (hipotesa) tertentu, maka lā  itu dipergunakan untuk menyataka  bahwa apa yang tersebut sebelumnya tidak benar dan yang benar ialah yang berikutnya.
  Dalam ayat ini  Allah Swt. bersumpah dengan dan berpegang kepada nujum yang  -- selain  berarti “bintang-bintang” juga   -- berarti  bagian-bagian Al-Quran (Lexicon Lane), sebagai bukti untuk mendukung pengakuan bahwa diwahyukan-Nya Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad saw.    luar-biasa cocoknya untuk memenuhi tujuan besar di balik kejadian (penciptaan) manusia – yakni untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57)  --  demikian pula untuk membuktikan keberasalan (sumber)  Al-Quran sendiri dari Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta (QS.1:2).

Berbagai Makna “Nujum” Bintang-bintang)  & Makna “Kitab yang Terpelihara

  Jika kata mawāqi’ diambil dalam arti tempat-tempat dan waktu bintang-bintang berjatuhan, maka ayat ini bermakna bahwa telah merupakan hukum Ilahi yang tidak pernah salah, bahwa pada saat ketika seorang mushlih rabbani (reformer) atau seorang nabi Allah muncul  maka  senantiasa terjadi gejala meteoric berupa bintang-bintang berjatuhan dalam jumlah luar biasa banyaknya, dan yang demikian itu telah terjadi juga di masa Nabi Besar Muhammad saw..
  Makna lain dari ayat  فَلَاۤ   اُقۡسِمُ  بِمَوٰقِعِ  النُّجُوۡمِ   -- “Maka Aku benar-benar ber-sumpah demi bintang-bintang berjatuhan”,   apabila para pemuka agama  yang bagi umat beragama   berkedudukan sebagai bintang-bintang di langit  (QS.16:17) telah berjatuhan dalam hal  akhlak dan ruhaninya, sehingga  langit  keruhanian benar-benar menjadi gelap-gulita dan    di langit   tidak ada lagi sarana petunjuk bagi para pencari  kebenaran, maka  Allah Swt. akan menerbitkan  bintang  yang bercahaya cemerlang berupa pengutusan rasul Allah  yang kedatangannya dijanjikan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), terutama Nabi Besar Muhammad saw. sebagai   “matahari ruhani” paing sempurna (QS.33:46-47).
   Bahwa Al-Quran itu sebuah Kitab wahyu Ilahi yang terpelihara dan terjaga baik dalam ayat:   فِیۡ  کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ --  “Dalam  suatu kitab yang sangat terpelihara” merupakan tantangan terbuka kepada seluruh dunia, tetapi selama 14 abad, tantang-an itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat sambutan.
   Tidak ada upaya yang telah disia-siakan para pengecam yang tidak bersahabat untuk mencela kemurnian teksnya. Tetapi semua daya upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa “kitab yang disodorkan oleh Nabi Besar Muhammad saw.   kepada dunia empat belas abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang satu huruf pun” (Sir Williams Muir), sesuai firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ  وَ  اِنَّا  لَہٗ  لَحٰفِظُوۡنَ ﴿﴾
Sesungguhnya  Kami-lah Yang  menurunkan peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.   (Al-Hijr [15]:10).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 6 Oktober 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar