Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
29
“HAMBA ALLAH” MENGAJARI NABI MUSA A.S. TIGA AJARAN UTAMA CARA MERAIH KETAKWAAN
KEPADA ALLAH SWT. & AL-QURAN
SEBAGAI FURQAN (PEMISAH) YANG HAQ DAN BATHIL
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam
bagian akhir Bab 28 dikemukakan
penjelasan mengenai
Nabi Adam a.s. yang “melupakan” atau lupa
terhadap peringatan Allah Swt. mengenai
“pohon terlarang” (QS.7:20), firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ
مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum
ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk
berbuat dosa. (Thā Hā [20]:116).
Ayat ini
menunjukkan bahwa kealpaan Nabi Adam
a.s. hanyalah disebabkan oleh
kekeliruan dalam pertimbangan dalam mensikapi
“bujukan” manusia syaitan yang penuh tipu-daya. Kekeliruan yang dilakukan beliau tersebut tanpa
disengaja dan sama sekah tidak dengan suatu niat atau kehendak, sebab
pada hakikatnya manusia tidak luput
dari kesalahan.
Itulah
sebabnya dalam ayat sebelumnya Allah Swt. telah mengajarkan kepada Nabi Besar Muhammad saw. doa
memohon tambahan ilmu pengetahuan, karena salah satu penyebab terjadinya kekeliruan dalam menafsirkan
sesuatu adalah akibat kurangnya memiliki pengetahuan yang memadai, firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam
bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang
di dalamnya berbagai macam ancaman
supaya mereka bertakwa atau supaya perkataan
ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ -- Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau
tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya
dilengkapkan kepada engkau, وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا
-- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku
(Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).
“Hamba
Allah” Dalam Kasyaf yang Dicari
Nabi Musa a.s.
Mengisyaratkan kepada pentingnya
memiliki pengetahuan yang memadai itu pulalah jawaban seorang “hamba
Allah” ketika menjawab permintaan
Nabi Musa a.s. yang ingin “belajar” petunjuk
yang secara khusus diajarkan
Allah Swt. kepada “hamba Allah”
tersebut, firman-Nya:
فَوَجَدَا عَبۡدًا
مِّنۡ عِبَادِنَاۤ اٰتَیۡنٰہُ رَحۡمَۃً مِّنۡ عِنۡدِنَا وَ
عَلَّمۡنٰہُ مِنۡ لَّدُنَّا
عِلۡمًا ﴿﴾ قَالَ لَہٗ مُوۡسٰی ہَلۡ اَتَّبِعُکَ
عَلٰۤی اَنۡ
تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمۡتَ رُشۡدًا ﴿﴾ قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا ﴿﴾ وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ عَلٰی مَا لَمۡ
تُحِطۡ بِہٖ خُبۡرًا ﴿﴾ قَالَ سَتَجِدُنِیۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ
صَابِرًا وَّ لَاۤ اَعۡصِیۡ لَکَ اَمۡرًا ﴿﴾ قَالَ فَاِنِ اتَّبَعۡتَنِیۡ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِیۡ عَنۡ شَیۡءٍ حَتّٰۤی
اُحۡدِثَ لَکَ
مِنۡہُ ذِکۡرًا ﴿٪﴾
Maka
mereka bertemu dengan seorang hamba
dari hamba-hamba Kami, yang
Kami telah menganugerahi rahmat dari
Kami, dan Kami telah mengajarkan
kepadanya ilmu dari hadirat Kami. Musa berkata kepadanya: "Bolehkah aku mengikuti engkau supaya engkau mengajarkan kepadaku petunjuk
dari apa
yang telah diajarkan kepada engkau?” قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا -- Ia berkata: "Sesungguhnya engkau tidak akan pernah sanggup bersabar bersamaku.
وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ عَلٰی مَا لَمۡ تُحِطۡ
بِہٖ خُبۡرًا -- "Dan bagaimanakah
engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau tidak dapat menguasai pengetahuan mengenainya?" قَالَ سَتَجِدُنِیۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ صَابِرًا وَّ لَاۤ اَعۡصِیۡ لَکَ اَمۡرًا -- Dia
(Musa) berkata: "Engkau akan mendapatiku sebagai seorang
yang sabar jika Allah menghendaki
dan aku tidak akan menolak apa pun
perintah engkau." قَالَ فَاِنِ اتَّبَعۡتَنِیۡ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِیۡ عَنۡ شَیۡءٍ حَتّٰۤی اُحۡدِثَ لَکَ
مِنۡہُ ذِکۡرًا -- Ia berkata: “Maka jika engkau mengikutiku, janganlah
engkau menanyakan kepadaku mengenai sesuatu hingga aku menceriterakannya kepada engkau mengenainya." (Al-Kahf [18]:66-71).
Siapakah
"hamba Allah" ('abd
Allah) Yang telah dikaruniai rahmat
Allah Swt. dan juga yang telah diajar ilmu oleh-Nya, yang
untuk mencarinya Nabi Musa a.s. dalam menaati perintah Ilahi telah menempuh
perjalanan yang begitu panjang
dan sukar, dan yang merupakan pusat perhatian dan pemegang peranan utama dalam seluruh kisah itu?
Perwujudan
Ruhani Nabi Besar Muhammad Saw.
Orang itu
tidak ada lain adalah Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw., yang ruhnya telah mendapat perwujudan dalam kasyaf Nabi Musa a.s..Alasan-alasan untuk itu adalah sebagai
berikut:
(a) Nabi Besar
Muhammad saw. telah disebut 'abd
(hamba) Allah dalam Al-Quran (QS.2:24; QS.8:42; QS.17:2;
QS.18:2; QS.25:2. QS.39:37; QS. 53:11; QS.72:20). Sesungguhnya beliau saw. adalah
'abd Allah (hamba Allah) yang paling
utama.
(b) Nabi Besar
Muhammad saw. disebut rahmatul lil 'ālamīn, pembawa rahmat untuk seluruh alam
(QS.21:108), nama julukan itu dalam Al-Quran tidak dikemukakan kepada siapa pun
yang lain kecuali kepada beliau
saw..
(c) Nabi Besar
Muhammad saw. dikaruniai ma'rifat
Ilahi yang berlimpah-limpah (QS.4:115; QS.27:7).
(d) "Hamba Allah" ini telah memberitahukan
kepada Nabi Musa a.s. bahwa
beliau itu tidak akan berdiam diri (ayat 68), dan Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan
telah bersabda: "Alangkah baiknya
jika Nabi Musa a.s. tetap
berdiam diri, apabila beliau berbuat demi-kian tentu kita akan dianugerahi
lebih banyak ilmu mengenai hal-hal yang gaib" (Bukhari, Kitab al-Tafsir).
Hakikatnya ialah Nabi Musa a.s. pernah
menyaksikan tajali Ilahi (penampakan kegagahan Tuhan) berupa “api”
dalam perjalanan dari Madyan ke Mesir (QS.28:30). Tetapi di masa kemudian
beliau diberitahu bahwa seorang nabi Allah akan muncul di antara saudara-saudara Bani lsrail yang dalam mulutnya Allah Swt. akan mernberikan segala firman-Nya (Ulangan
18: 18-22).
Kata-kata nubuatan
ini mengandung arti bahwa nabi yang dijanjikan itu akan menjadi tempat penampakan Tuhan (Tajalli Ilahi) yang lebih besar daripada penampakan pada diri Nabi Musa a.s.
, karena itu dengan sendirinya Nabi Musa a.s. ingin melihat gerangan siapakah "nabi itu".
Untuk memenuhi keinginan itu Allah Swt. . membuat Musa a.s.
melihat dalam kasyaf bahwa "nabi itu"
memiliki kemampuan-kemampuan ruhani yang jauh lebih tinggi, dimana digambarkan
beliau pingsan ketika gunung yang ke
atasnya Allah Swt. bertajalli hancur,
lalu setelah sadar dari pingsannya Nabi Musa a.s. menyatakan beriman kepada kesempurnaan
ruhani Nabi Besar Muhammad saw.
(QS.7:144).
Jadi, "Hamba Allah" berilmu yang nampak dalam kasyaf
kepada Nabi Musa a.s. -- yang
oleh umum dikenal dengan nama Khidir -- tidak lain ialah ruh Penghulu para nabi Allah yang mulia, Nabi Besar Muhammad saw., yang dalam kasyaf Nabi Musa a.s. tersebut seolah-olah telah memperoleh jasad lahir.
Tiga Ajaran
Pokok Al-Quran Cara Meraih Ketakwaan & Pentingnya Tambahan Ilmu Pengetahuan
Nabi
Musa a.s. tidak mendapat taufik untuk mencapai puncak-puncak ketinggian ruhani yang telah dicapai oleh ilmu keruhanian Nabi Besar
Muhammad saw. yaitu makrifat Ilahi paling
sempurna berupa wahyu Al-Quran
(QS.5:4).
Dalam ayat-ayat
selanjutnya (QS.18:72-83) diterangkan,
bahwa sesuai ucapan “hamba Allah”: قَالَ اِنَّکَ لَنۡ تَسۡتَطِیۡعَ مَعِیَ صَبۡرًا -- Ia berkata: "Sesungguhnya engkau tidak akan pernah sanggup bersabar bersamaku.
وَ کَیۡفَ تَصۡبِرُ عَلٰی مَا لَمۡ تُحِطۡ
بِہٖ خُبۡرًا -- "Dan bagaimanakah
engkau dapat bersabar atas sesuatu yang engkau tidak dapat menguasai pengetahuan mengenainya?" terbukti Nabi Musa a.s. tidak
dapat bersabar terhadap 3
macam “pelajaran” yang “diajarkan”
oleh hamba Allah tersebut, yaitu: (1)
melubangi perahu, (2) membunuh pemuda, (3) menegakkan dinding tanpa minta upah, yang mengandung makna serta falsafah dan hakikat yang
sangat dalam dan merupakan 3 ajaran utama Al-Quran dalam membangun
ketakwaan kepada Allah Swt.
(QS.2:1-6; QS.6:162-164).
Jadi,
kembali kepada pentingnya berdoa memohon tambahan ilmu pengetahuan
yang diajarkan Allah Swt.
kepada Nabi Besar Muhammad saw., doa
tersebut sangat penting senantiasa dipanjatkan oleh umat Islam, sebab Al-Quran merupakan khazanah
keruhanian yang tidak terbatas (QS.15:22;
QS.18:110; QS.32:28), yang apabila tidak memiliki pengetahuan yang memadai maka akan keliru
menafsirkan ayat-ayat Al-Quran, terutama ayat-ayat yang mutasyabihat (QS.3:8-9), firman-Nya:
وَ کَذٰلِکَ
اَنۡزَلۡنٰہُ قُرۡاٰنًا عَرَبِیًّا وَّ
صَرَّفۡنَا فِیۡہِ مِنَ الۡوَعِیۡدِ لَعَلَّہُمۡ یَتَّقُوۡنَ اَوۡ یُحۡدِثُ
لَہُمۡ ذِکۡرًا ﴿﴾ فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ وَ لَا تَعۡجَلۡ بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ ۫ وَ
قُلۡ رَّبِّ زِدۡنِیۡ
عِلۡمًا ﴿﴾
Dan
demikianlah Kami telah menurunkannya Al-Quran dalam
bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan berulang-ulang
di dalamnya berbagai macam ancaman
supaya mereka bertakwa atau supaya perkataan
ini mengingatkan mereka. فَتَعٰلَی اللّٰہُ
الۡمَلِکُ الۡحَقُّ ۚ -- Maka Mahatinggi
Allah, Raja Yang Haq. وَ لَا تَعۡجَلۡ
بِالۡقُرۡاٰنِ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یُّقۡضٰۤی اِلَیۡکَ وَحۡیُہٗ
-- Dan janganlah engkau
tergesa-gesa membaca Al-Quran sebelum pewahyuannya
dilengkapkan kepada engkau, وَ قُلۡ
رَّبِّ زِدۡنِیۡ عِلۡمًا
-- dan katakanlah: "Ya Rabb-ku
(Tuhan‑ku), tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan? (Thā Hā [20]:114-115).
Al-Quran
Sebagai Furqān (Pemisah)
yang Haq
(benar) dan Bathil (Dusta)
Dalam firman-Nya berikut ini Allah Swt. menjelaskan bahwa
Al-Quran – sebagai Kitab suci yang
sempurna -- bukan saja merupakan petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa (QS.2:1-3), juga mampu punya “menyesatkan” orang-orang yang berhati bengkok, firman-Nya kepada Nabi Besar Muhammad saw.:
ہُوَ
الَّذِیۡۤ اَنۡزَلَ عَلَیۡکَ الۡکِتٰبَ مِنۡہُ اٰیٰتٌ مُّحۡکَمٰتٌ ہُنَّ
اُمُّ الۡکِتٰبِ وَ اُخَرُ مُتَشٰبِہٰتٌ ؕ
فَاَمَّا الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ
مِنۡہُ ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ ۚ وَ مَا یَعۡلَمُ تَاۡوِیۡلَہٗۤ
اِلَّا اللّٰہُ ۘؔ وَ
الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ رَبِّنَا ۚ وَ مَا
یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا الۡاَلۡبَابِ
﴿﴾ رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ اِذۡ ہَدَیۡتَنَا وَ ہَبۡ لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ
رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ ﴿﴾
Dia-lah Allah
Yang menurunkan Al-Kitab yakni
Al-Quran kepada engkau, di
antaranya ada aya-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok
Al-Kitab, sedangkan yang lain ayat-ayat mutasyābihāt. فَاَمَّا
الَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ زَیۡغٌ فَیَتَّبِعُوۡنَ مَا تَشَابَہَ مِنۡہُ
ابۡتِغَآءَ الۡفِتۡنَۃِ وَ ابۡتِغَآءَ تَاۡوِیۡلِہٖ -- Adapun
orang-orang yang di dalam hatinya
ada ke-bengkokan maka mereka
mengikuti darinya apa yang mutasyābihāt
karena ingin menimbulkan fitnah dan
ingin mencari-cari takwilnya yang
salah, وَ مَا یَعۡلَمُ
تَاۡوِیۡلَہٗۤ اِلَّا اللّٰہُ -- padahal tidak ada yang
mengetahui takwilnya kecuali Allah, ۘؔ وَ الرّٰسِخُوۡنَ فِی الۡعِلۡمِ یَقُوۡلُوۡنَ
اٰمَنَّا بِہٖ ۙ کُلٌّ مِّنۡ عِنۡدِ
رَبِّنَا -- dan orang-orang yang memiliki pengetahuan mendalam berkata: “Kami beriman kepadanya, semuanya berasal dari sisi Rabb (Tuhan) kami.” وَ مَا یَذَّکَّرُ اِلَّاۤ اُولُوا
الۡاَلۡبَابِ -- Dan tidak ada yang meraih nasihat kecuali orang-orang yang mempergunakan akal. رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوۡبَنَا بَعۡدَ
اِذۡ ہَدَیۡتَنَا -- Ya Rabb
(Tuhan) kami, janganlah Eng-kau
menyimpangkan hati kami setelah Engkau
telah memberi kami petunjuk, وَ ہَبۡ
لَنَا مِنۡ لَّدُنۡکَ رَحۡمَۃً ۚ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡوَہَّابُ -- dan anugerahilah
kami rahmat dari sisi Engkau, sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Pemberi anugerah. (Ali
‘Imran [3]:8-9).
Makna Persumpahan Allah Swt. Dalam Al-Quran
Itulah sebabnya Allah Swt. telah
menyatakan bahwa hanya “orang-orang yang
disucikan” Allah Swt. sajalah yang mendapat taufik mengetahui
ketidak-terbatasan khazanah-khazanah
ruhani Al-Quran (QS.18:110;
QS.31:28), sebab jika menafsirkan
Al-Quran tanpa petunjuk dari Allah
Swt. maka yang diperoleh dari Al-Quran bukanlah petunjuk-petunjuk yang baru
melainkan kesesatan (QS.3:8-9;
QS.17:83), yang akibatnya bukan saja
akan menyesatkan orang yang
bersangkutan tetapi juga akan menyesatkan orang-orang lain yang menjadi pengikutnya,
firman-Nya:
فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ ﴿ۙ﴾ وَ
اِنَّہٗ لَقَسَمٌ لَّوۡ
تَعۡلَمُوۡنَ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ اِنَّہٗ
لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ فِیۡ کِتٰبٍ
مَّکۡنُوۡنٍ ﴿ۙ﴾ لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ ﴿ؕ﴾ تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾
Maka Aku benar-benar bersumpah demi bintang-bintang berjatuhan, dan sesungguhnya itu benar-benar kesaksian agung
seandainya kamu mengetahui, اِنَّہٗ
لَقُرۡاٰنٌ کَرِیۡمٌ -- Sesungguhnya itu benar-benar Al-Quran yang mulia, فِیۡ
کِتٰبٍ مَّکۡنُوۡنٍ -- Dalam suatu kitab yang sangat terpelihara, لَّا
یَمَسُّہٗۤ اِلَّا
الۡمُطَہَّرُوۡنَ -- Yang tidak
dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. تَنۡزِیۡلٌ مِّنۡ
رَّبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ -- Wahyu yang diturunkan dari Rabb (Tuhan) seluruh alam (Al-Wāqi’ah [56]:76-81).
Makna huruf lā dalam
ayat فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ -- “Maka Aku
benar-benar bersumpah demi bintang-bintang
berjatuhan”, pada umumnya dipergunakan untuk memberikan tekanan arti pada suatu sumpah, yang berarti, bahwa hal yang akan diterangkan lebih lanjut
adalah begitu jelas, sehingga tidak diperlukan memanggil sesuatu yang lain untuk memberikan kesaksian atas kebenarannya.
Bila yang dimaksudkan ialah sanggahan
terhadap suatu praduga (hipotesa)
tertentu, maka lā itu dipergunakan
untuk menyataka bahwa apa yang tersebut
sebelumnya tidak benar dan yang benar ialah yang berikutnya.
Dalam ayat ini Allah Swt. bersumpah
dengan dan berpegang kepada nujum yang -- selain
berarti “bintang-bintang”
juga -- berarti bagian-bagian
Al-Quran (Lexicon Lane),
sebagai bukti untuk mendukung pengakuan bahwa diwahyukan-Nya
Al-Quran kepada Nabi Besar Muhammad
saw. luar-biasa cocoknya
untuk memenuhi tujuan besar di balik kejadian (penciptaan) manusia – yakni
untuk beribadah kepada-Nya (QS.51:57) -- demikian pula untuk membuktikan keberasalan (sumber)
Al-Quran sendiri dari Allah Swt., Tuhan Pencipta
alam semesta (QS.1:2).
Berbagai Makna “Nujum” Bintang-bintang) & Makna “Kitab yang Terpelihara”
Jika kata mawāqi’ diambil
dalam arti tempat-tempat dan waktu bintang-bintang berjatuhan, maka
ayat ini bermakna bahwa telah merupakan
hukum Ilahi yang tidak pernah salah,
bahwa pada saat ketika seorang mushlih rabbani (reformer) atau seorang nabi Allah muncul maka
senantiasa terjadi gejala meteoric
berupa bintang-bintang berjatuhan
dalam jumlah luar biasa banyaknya, dan yang demikian itu telah terjadi juga di
masa Nabi Besar Muhammad saw..
Makna lain dari ayat فَلَاۤ اُقۡسِمُ
بِمَوٰقِعِ النُّجُوۡمِ -- “Maka Aku
benar-benar ber-sumpah demi bintang-bintang
berjatuhan”, apabila para pemuka agama yang bagi umat beragama berkedudukan sebagai bintang-bintang di
langit (QS.16:17) telah berjatuhan
dalam hal akhlak dan ruhaninya,
sehingga langit keruhanian benar-benar menjadi gelap-gulita
dan di langit tidak
ada lagi sarana petunjuk bagi para pencari kebenaran, maka Allah Swt. akan menerbitkan bintang yang bercahaya cemerlang berupa
pengutusan rasul Allah yang kedatangannya
dijanjikan di kalangan Bani Adam (QS.7:35-37), terutama Nabi
Besar Muhammad saw. sebagai “matahari
ruhani” paing sempurna (QS.33:46-47).
Bahwa Al-Quran itu
sebuah Kitab wahyu Ilahi yang
terpelihara dan terjaga baik dalam ayat:
فِیۡ کِتٰبٍ
مَّکۡنُوۡنٍ -- “Dalam suatu kitab
yang sangat terpelihara” merupakan tantangan
terbuka kepada seluruh dunia,
tetapi selama 14 abad, tantang-an itu tetap tidak terjawab atau tidak mendapat
sambutan.
Tidak ada upaya
yang telah disia-siakan para pengecam yang tidak bersahabat untuk mencela
kemurnian teksnya. Tetapi semua daya
upaya ke arah ini telah membawa kepada satu-satunya
hasil yang tidak terelakkan – walaupun tidak enak dirasakan oleh musuh-musuh – bahwa “kitab yang disodorkan oleh Nabi Besar
Muhammad saw. kepada dunia
empat belas abad yang lalu, telah sampai kepada kita tanpa perubahan barang
satu huruf pun” (Sir Williams Muir), sesuai firman-Nya:
اِنَّا نَحۡنُ نَزَّلۡنَا الذِّکۡرَ وَ اِنَّا لَہٗ لَحٰفِظُوۡنَ
﴿﴾
Sesungguhnya
Kami-lah Yang menurunkan
peringatan ini, dan sesungguhnya Kami-lah
pemeliharanya. (Al-Hijr
[15]:10).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 6 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar