Jumat, 28 Oktober 2016

Orang-orang yang "Indera-indera Ruhaninya" Berfungsi di Dunia dan Akhirat & Berbagai Perumpamaan "Ganjaran dan Siksaan" di Alam Akhiat


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 45

ORANG-ORANG YANG INDERA-INDERA RUHANINYA BERFUNGSI DI DUNIA DAN DI AKHIRAT   &  BERBAGAI PERUMPAMAAN "GANJARAN DAN SIKSAAN" DI ALAM AKHIRAT

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 44 dikemukakan   mengenai   kelumpuhan   “indera-indera ruhani”    orang-orang kafir   yang mendustakan dan  menentang para Rasul Allah dalam firman-Nya berikut ini:
فَکَاَیِّنۡ مِّنۡ قَرۡیَۃٍ  اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ ظَالِمَۃٌ  فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ  مُّعَطَّلَۃٍ   وَّ  قَصۡرٍ  مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ ﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah  membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim  lalu  dinding-dindingnya  jatuh atas atapnya, dan sumur yang telah ditinggalkan dan istana yang menjulang tinggi. اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ  اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا  --    Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu  menjadikan hati mereka memahami dengannya   atau menjadikan telinga  mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ  وَ لٰکِنۡ  تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ  -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta  tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.  (Al-Hājj [22]:46-47).

Penyebab Orang-orang   Dibangkitkan Dalam Keadaan “Buta

      Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang buta, dan orang-orang tuli, yang dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang yang ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli, yang untuk memfungsikan kembali indera-indera ruihani manusia  yang lumpuh itulah tujuan  Allah Swt. mengutus para Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37).
    Tetapi dalam kenyataannya umumnya manusia memilih indera-indera ruhani  mereka tetap lumpuh     karena mendustakan dan menentang  para Rasul Allah tersebut   --  termasuk di Akhir Zaman ini  -- yang akibatnya di alam akhirat pun mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan lumpuh indera-indera ruhaninya (QS.17:73), sebagaimana firman-Nya berkenaan  perintah melakukan hijrah  kepada Nabi Adam a.s. dan jama’ah beliau yang diuraikan dalam Bab-bab sebelumnya:
قَالَ اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی  ﴿﴾   وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی ﴿﴾  قَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا﴿﴾  قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی ﴿﴾  وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ  یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی  ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ ذٰلِکَ  لَاٰیٰتٍ  لِّاُولِی  النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia berfirman:  Pergilah kamu berdua  semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ  فَلَا  یَضِلُّ  وَ لَا  یَشۡقٰی    --  Maka apabila datang kepadamu petunjuk dari­-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak pula ia akan menderita kesusahan.  وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ  اَعۡمٰی --   Dan barangsiapa ber­paling dari mengingat Aku maka sesungguhnya baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan butaقَالَ رَبِّ  لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ  اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ  بَصِیۡرًا --   Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan­-ku), mengapa Engkau mem­bangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesung-guhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ  کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ       --   Dia  berfirman: "Demi­kianlah telah datang kepada engkau Tanda-tanda Kami   tetapi engkau melupakannya  وَکَذٰلِکَ  الۡیَوۡمَ  تُنۡسٰی  --   dan demikian pula engkau dilupakan pada hari ini."   Dan demikianlah Kami memberi balasan orang yang me­langgar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda  Rabb-nya (Tuhan-nya), dan  niscaya azab- akhirat itu lebih keras dan lebih kekal.   Maka apakah tidak  mem­beri petunjuk kepada mereka   berapa banyak generasi yang telah Kami bina-sakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka yang telah hancur? Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).
     
Orang-orang yang  Indera-indra Ruhaninya  Berfungsi di Dunia dan di Akhirat

 Seseorang yang sama sekali tidak ingat kepada Allah Swt.  di dunia serta menjalani cara hidup yang menghalangi dan menghambat perkembangan ruhaninya, dan dengan demikian membuat dirinya tidak layak menerima nur dari Allah Swt.  maka ia akan dilahirkan    dalam keadaan buta di waktu kebangkitannya kembali pada kehidupan di akhirat.
 Hal itu menjadi demikian  karena ruhnya di dunia ini - yang akan berperan sebagai tubuh  bagi ruh yang lebih maju ruhaninya di alam akhirat - telah menjadi buta, sebab ia telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa di dunia ini. Dan sebagai jawaban terhadap keluhan orang kafir mengapa ia dibangkitkan buta padahal dalam kehidupan sebelumnya di dunia  ia memiliki penglihatan, Allah Swt. akan mengatakan bahwa ia telah menjadi buta ruhani dalam kehidupannya di dunia sebab telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa, dan karena itu ruhnya — yang akan berperan sebagai tubuh untuk ruh lain yang ruhaninya jauh lebih berkembang di akhirat   --  maka di hari kemudian (akhirat) ia dilahirkan (dibangkitkan) dalam keadaan  buta.
    Ayat ini dapat pula berarti bahwa karena orang kafir tidak mengembangkan dalam dirinya Sifat-sifat Ilahi  yang diajarkan Rasul Allah yang diutus kepada mereka dan tetap asing dari sifat-sifat  Ilahi itu, maka pada hari kebangkitan — ketika Sifat-sifat Ilahi  itu  akan dinampakkan  dengan segala keagungan dan kemuliaan — maka ia sebagai seseorang yang terasing dari  penjelmaaan Sifat­-sifat Ilahi itu  tidak akan mampu mengenalnya dan dengan demikian akan berdiri seperti orang buta yang tidak mempunyai ingatan atau kenangan sedikit pun kepada Sifat-sifat itu.
  Sebaliknya,  orang-orang yang beriman dan beramal shaleh  akan mengenal penampakan Sifat-sifat Ilahi di akhirat dengan baik, sebab ketika masih di dunia pun – sampai batas tertentu  -- ia pernah “menyaksikan”  penampakan Sifat-sifat Ilahi tersebut serta menikmati “karunia-karunia ruhani” dari Allah Swt., firman-Nya:
وَ بَشِّرِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ  کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira  orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya  untuk mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا  --  Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ   -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,  وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا --  akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suciوَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya  (Al-Baqarah [2]:26).
      Ayat ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang beriman di akhirat. Para kritikus Islam telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali, tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.

Hakikat Berbagai Perumpamaan Gambaran di Alam Akhirat

       Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat mengenal hakikatnya (QS.32:18). Nabi Besar Muhammad Saw.  diriwayatkan pernah bersabda: “Tidak ada mata telah melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran manusia dapat mengirakannya” (Bukhari), firman-Nya:
فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ  اُخۡفِیَ لَہُمۡ مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ  بِمَا  کَانُوۡا  یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ اَفَمَنۡ کَانَ مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا  یَسۡتَوٗنَ﴿﴾؃
Maka tidak ada sesuatu jiwa mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai  balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.  Maka apakah seorang yang beriman  sama seperti orang fasik? Mereka tidak sama. (As-Sajdah [32:18).
       Dengan sendirinya timbul pertanyaan:  Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk benda-benda di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu (intelektual),  karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.
     Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah mempergunakan nama benda yang pada umumnya dipandang baik di bumi ini,  dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di alam yang akan datang.
     Untuk menjelaskan perbedaan penting itulah maka dipakainya kata-kata yang telah dikenal, selain itu tidak ada persamaan antara kesenangan duniawi dengan karunia-karunia ukhrawi. Tambahan pula menurut Islam  kehidupan di akhirat itu tidak ruhaniah dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan ruhani, bahkan dalam kehidupan di akhirat pun ruh manusia akan mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu tidak bersifat benda.
       Orang dapat membuat tanggapan terhadap keadaan itu dari gejala-gejala mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan pikiran atau ruhani belaka, sebab dalam keadaan itu pun  ia punya jisim dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya, makan buah-buahan, dan minum susu.
        Sukar untuk mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Susu yang dinikmati dalam mimpi tidak ayal lagi merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa  minuman itu susu biasa yang ada di dunia ini dan diminumnya.
    Nikmat-nikmat ruhani kehidupan di akhirat bukan akan berupa  hanya penyuguhan subyektif dari anugerah Allah Swt.  yang kita nikmati di dunia ini, bahkan apa yang kita peroleh di sini  (di dunia) hanyalah gambaran anugerah nyata dan benar dari Allah Swt.     yang akan dijumpai orang di akhirat.

“Kebun-kebun Surgawi” Gambaran Iman  dan “Sungai-sungai”  Amal Shaleh

    Tambahan pula bahwa “kebun-kebun“ adalah gambaran iman, sedangkan   “sungai-sungai” adalah gambaran amal saleh. Sebagaimana kebun-kebun tidak dapat tumbuh subur tanpa sungai-sungai, begitu pula iman tidak dapat segar dan sejahtera tanpa perbuatan baik,   dengan demikiam  iman dan amal shalih tidak dapat dipisahkan untuk mencapai najat (keselamatan).
     Di akhirat kebun-kebun itu akan mengingatkan orang beriman akan imannya dalam kehidupan di dunia ini, sedangkan  sungai-sungai akan mengingatkan kembali kepada amal salehnya maka  ia akan mengetahui bahwa iman dan amal salehnya tidak sia-sia.
     Keliru sekali mengambil kesimpulan ayat: قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ   -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”,   bahwa di surga orang-orang beriman  akan dianugerahi buah-buahan semacam yang dinikmati mereka di bumi ini, sebab seperti telah diterangkan di atas keduanya tidak sama.
     Buah-buahan di akhirat sesungguhnya akan berupa gambaran mutu keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya mereka segera akan mengenali dan ingat kembali bahwa buah-buahan itu adalah hasil imannya di dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat itu mereka akan berkata: “inilah yang telah diberikan kepada kami dahulu.” Ungkapan ini dapat pula berarti “apa yang telah dijanjikan kepada kami.
     Kata-kata “yang hampir serupa”  dalam ayat:    وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا --  “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya”,    tertuju kepada persamaan antara amal ibadah yang dilakukan oleh orang-orang beriman di dunia  ini dan buah atau hasilnya di surga. Jadi, amal ibadah dalam kehidupan sekarang akan nampak kepada orang-orang beriman  sebagai hasil atau buah di akhirat.
     Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak pula ia menikmati buah-buah yang menjadi bagiannya di surga dan  makin baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan mutu buah-buahan yang dikehendakinya terletak pada kekuatannya sendiri.
      Ayat ini berarti pula bahwa makanan ruhani orang-orang beriman di surga akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing. Itulah makna “apa yang mereka inginkan” dalam firman-Nya:
لِیَکُوۡنَا مِنَ الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾  اِنَّ  الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ  ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan) kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ  اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ  الَّتِیۡ  کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ  --  kepada mereka turun  malaikat-malaikat seraya berkata: Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah  kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.  نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ  الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ  -- Kami adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ   -- Dan bagi  kamu di dalam-nya apa yang diinginkan dirimu dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta.  نُزُلًا  مِّنۡ غَفُوۡرٍ  رَّحِیۡمٍ --   Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā MīmAs-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya lagi:
قُلۡ اَذٰلِکَ خَیۡرٌ اَمۡ جَنَّۃُ  الۡخُلۡدِ الَّتِیۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ؕ کَانَتۡ لَہُمۡ جَزَآءً وَّ مَصِیۡرًا ﴿﴾ لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ ؕ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Katakanlah: “Apakah yang demikian itu lebih baik, ataukah surga abadi yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Itu akan menjadi ganjaran bagi mereka dan tempat kembali.”   لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ --    Mereka di dalamnya selama-nya akan memperoleh  apa pun  yang mereka inginkan,   کَانَ عَلٰی رَبِّکَ  وَعۡدًا  مَّسۡـُٔوۡلًا --  itulah janji dari Rabb (Tuhan) engkau  yang layak dimohon. (Al-Furqān [25]:16-17).
      Keinginan-keinginan orang-orang  beriman di   akhirat akan menjadi selaras dengan kehendak Allah Swt., sehingga dengan sendirinya segala keinginan-keinginan mereka akan terpenuhi.

Makna “Jodoh-jodoh” Dalam Surga
     Selanjutnya Allah Swt. berfirman: وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ  -- “dan bagi mereka di dalamnya ada  jodoh-jodoh yang suci.”   Orang-orang beriman juga akan  mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Istri yang baik adalah  sumber kegembiraan dan kesenangan.
     Orang-orang beriman  berusaha mendapatkan istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian kesenangan di surga tidak bersifat kebendaan. Dari Al-Quran diketahui bahwa jodoh para ahli surgadi akhirat adalah istri-istri atau suami mereka sendiri yang bertakwa ketika masih hidup di dunia (QS.13:24;  QS.25:75; QS.40:8-10; QS.52:21-22). Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat dan hakikat nikmat-nikmat surga, lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
     Kata-kata  “mereka akan kekal di dalamnya” dalam ayat   وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ --  dan mereka akan kekal di dalamnya”  berarti bahwa orang-orang beriman di surge tidak akan pernah mengalami sesuatu perubahan atau kemunduran., bahkan sebaliknya, mereka akan senantiasa meraih kemajuan-kemajuan atau tingkatan-tingkatan kesempurnaan surgawi yang lebih tinggi lagi (QS.66:9).
     Orang akan mati hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain membunuhnya. Tetapi  karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan yang suci dan suka damai (QS.10:10-11; QS.14:24- QS.36:59) maka kematian dan kemunduran dengan sendirinya akan lenyap.

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 26 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar