Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
45
ORANG-ORANG YANG INDERA-INDERA RUHANINYA BERFUNGSI DI DUNIA DAN DI AKHIRAT &
BERBAGAI PERUMPAMAAN "GANJARAN DAN SIKSAAN" DI ALAM
AKHIRAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 44 dikemukakan mengenai kelumpuhan
“indera-indera ruhani” orang-orang kafir yang mendustakan
dan menentang
para Rasul Allah dalam firman-Nya berikut
ini:
فَکَاَیِّنۡ
مِّنۡ قَرۡیَۃٍ اَہۡلَکۡنٰہَا وَ ہِیَ
ظَالِمَۃٌ فَہِیَ خَاوِیَۃٌ عَلٰی
عُرُوۡشِہَا وَ بِئۡرٍ مُّعَطَّلَۃٍ وَّ
قَصۡرٍ مَّشِیۡدٍ ﴿﴾ اَفَلَمۡ
یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا ۚ فَاِنَّہَا
لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ
﴿﴾
Dan berapa banyak kota yang Kami telah
membinasakannya, yang penduduknya sedang berbuat zalim
lalu dinding-dindingnya jatuh
atas atapnya, dan sumur yang
telah ditinggalkan dan istana
yang menjulang tinggi. اَفَلَمۡ یَسِیۡرُوۡا فِی الۡاَرۡضِ فَتَکُوۡنَ لَہُمۡ
قُلُوۡبٌ یَّعۡقِلُوۡنَ بِہَاۤ اَوۡ
اٰذَانٌ یَّسۡمَعُوۡنَ بِہَا -- Maka apakah mereka tidak berpesiar di bumi, lalu menjadikan
hati mereka memahami dengannya atau
menjadikan telinga mereka mendengar dengannya? فَاِنَّہَا لَا تَعۡمَی الۡاَبۡصَارُ
وَ لٰکِنۡ تَعۡمَی الۡقُلُوۡبُ
الَّتِیۡ فِی الصُّدُوۡرِ -- Maka sesungguhnya bukan mata yang buta tetapi yang buta adalah hati yang ada dalam dada.
(Al-Hājj [22]:46-47).
Penyebab Orang-orang Dibangkitkan Dalam Keadaan “Buta”
Dari ayat ini jelas bahwa orang-orang mati, orang-orang
buta, dan orang-orang tuli, yang
dibicarakan di sini atau di tempat lain dalam Al-Quran ialah orang-orang yang
ditilik dari segi ruhani telah mati, buta, dan tuli, yang
untuk memfungsikan kembali indera-indera ruihani manusia yang lumpuh
itulah tujuan Allah Swt. mengutus para Rasul Allah dari kalangan Bani Adam (QS.7:35-37).
Tetapi dalam kenyataannya umumnya
manusia memilih indera-indera ruhani mereka tetap lumpuh karena mendustakan dan menentang para Rasul Allah tersebut --
termasuk di Akhir Zaman
ini -- yang akibatnya di alam akhirat pun mereka akan dibangkitkan Allah Swt. dalam keadaan lumpuh indera-indera ruhaninya
(QS.17:73), sebagaimana firman-Nya berkenaan
perintah melakukan hijrah
kepada Nabi Adam a.s. dan jama’ah beliau yang diuraikan dalam
Bab-bab sebelumnya:
قَالَ
اہۡبِطَا مِنۡہَا جَمِیۡعًۢا بَعۡضُکُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوٌّ ۚ فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی ﴿﴾ وَ مَنۡ اَعۡرَضَ عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ
مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی ﴿﴾ قَالَ رَبِّ
لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ
قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا﴿﴾ قَالَ
کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا ۚ وَکَذٰلِکَ
الۡیَوۡمَ تُنۡسٰی ﴿﴾ وَ کَذٰلِکَ نَجۡزِیۡ مَنۡ اَسۡرَفَ وَ لَمۡ یُؤۡمِنۡۢ بِاٰیٰتِ رَبِّہٖ ؕ وَ لَعَذَابُ
الۡاٰخِرَۃِ اَشَدُّ وَ اَبۡقٰی ﴿﴾ اَفَلَمۡ یَہۡدِ لَہُمۡ کَمۡ اَہۡلَکۡنَا
قَبۡلَہُمۡ مِّنَ الۡقُرُوۡنِ یَمۡشُوۡنَ فِیۡ مَسٰکِنِہِمۡ ؕ اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّاُولِی
النُّہٰی ﴿﴾٪
Dia
berfirman: “Pergilah kamu berdua semuanya dari sini, sebagian kamu musuh bagi sebagian yang lain. فَاِمَّا
یَاۡتِیَنَّکُمۡ مِّنِّیۡ ہُدًی ۬ۙ فَمَنِ اتَّبَعَ ہُدَایَ فَلَا
یَضِلُّ وَ لَا یَشۡقٰی -- Maka apabila
datang kepadamu petunjuk dari-Ku, lalu barangsiapa mengikuti petunjuk-Ku maka ia tidak akan sesat, dan tidak
pula ia akan menderita kesusahan. وَ مَنۡ اَعۡرَضَ
عَنۡ ذِکۡرِیۡ فَاِنَّ لَہٗ مَعِیۡشَۃً ضَنۡکًا وَّ نَحۡشُرُہٗ یَوۡمَ
الۡقِیٰمَۃِ اَعۡمٰی -- Dan barangsiapa
berpaling dari mengingat Aku maka sesungguhnya
baginya ada kehidupan yang sempit, dan Kami
akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرۡتَنِیۡۤ اَعۡمٰی وَ قَدۡ کُنۡتُ بَصِیۡرًا -- Ia berkata: "Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), mengapa
Engkau membangkitkan aku dalam keadaan buta, padahal sesung-guhnya dahulu aku dapat melihat?” قَالَ کَذٰلِکَ اَتَتۡکَ اٰیٰتُنَا فَنَسِیۡتَہَا
ۚ -- Dia
berfirman: "Demikianlah
telah datang kepada engkau Tanda-tanda
Kami tetapi engkau
melupakannya وَکَذٰلِکَ الۡیَوۡمَ
تُنۡسٰی -- dan demikian pula engkau dilupakan pada hari
ini." Dan demikianlah
Kami memberi balasan orang yang melanggar dan ia tidak beriman kepada Tanda-tanda Rabb-nya (Tuhan-nya), dan niscaya
azab- akhirat itu lebih keras dan lebih kekal. Maka apakah tidak memberi petunjuk kepada mereka berapa
banyak generasi yang telah Kami bina-sakan sebelum mereka, mereka berjalan-jalan di tempat-tempat tinggal mereka
yang telah hancur? Sesungguhnya dalam
hal yang demikian itu benar-benar ada Tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Thā Hā [20]:124-129).
Orang-orang yang Indera-indra Ruhaninya Berfungsi di Dunia dan di Akhirat
Seseorang yang sama sekali tidak ingat kepada Allah Swt. di dunia serta menjalani cara hidup yang menghalangi dan menghambat perkembangan ruhaninya, dan dengan demikian membuat
dirinya tidak layak menerima nur dari Allah
Swt. maka ia akan dilahirkan dalam keadaan
buta di waktu kebangkitannya
kembali pada kehidupan di akhirat.
Hal itu
menjadi demikian karena ruhnya di dunia ini - yang akan berperan
sebagai tubuh bagi ruh
yang lebih maju ruhaninya di alam akhirat
- telah menjadi buta, sebab ia telah menjalani kehidupan yang bergelimang dosa di dunia ini. Dan sebagai jawaban terhadap keluhan orang kafir mengapa ia
dibangkitkan buta padahal dalam kehidupan
sebelumnya di dunia ia memiliki penglihatan, Allah Swt. akan mengatakan bahwa ia telah menjadi buta ruhani dalam kehidupannya di dunia sebab telah
menjalani kehidupan yang bergelimang dosa,
dan karena itu ruhnya — yang akan
berperan sebagai tubuh untuk ruh lain yang ruhaninya jauh lebih
berkembang di akhirat -- maka di
hari kemudian (akhirat) ia dilahirkan (dibangkitkan) dalam keadaan buta.
Ayat ini
dapat pula berarti bahwa karena orang
kafir tidak mengembangkan dalam dirinya Sifat-sifat
Ilahi yang diajarkan Rasul Allah yang diutus kepada mereka dan
tetap asing dari sifat-sifat Ilahi itu, maka
pada hari kebangkitan — ketika Sifat-sifat Ilahi itu
akan dinampakkan dengan segala keagungan dan kemuliaan —
maka ia sebagai seseorang yang terasing dari penjelmaaan
Sifat-sifat Ilahi itu tidak akan mampu mengenalnya dan dengan
demikian akan berdiri seperti orang buta yang
tidak mempunyai ingatan atau kenangan sedikit pun kepada Sifat-sifat itu.
Sebaliknya, orang-orang
yang beriman dan beramal shaleh akan mengenal
penampakan Sifat-sifat Ilahi di
akhirat dengan baik, sebab ketika masih di dunia pun – sampai batas tertentu -- ia pernah “menyaksikan” penampakan Sifat-sifat Ilahi tersebut serta
menikmati “karunia-karunia ruhani”
dari Allah Swt., firman-Nya:
وَ بَشِّرِ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَہُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ
تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ؕ کُلَّمَا
رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا ۙ قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا
مِنۡ قَبۡلُ ۙ وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا ؕ وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ
مُّطَہَّرَۃٌ ٭ۙ وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwa sesungguhnya untuk
mereka ada kebun-kebun yang di bawahnya
mengalir sungai-sungai. کُلَّمَا رُزِقُوۡا مِنۡہَا مِنۡ ثَمَرَۃٍ رِّزۡقًا -- Setiap kali diberikan kepada mereka buah-buahan dari kebun itu sebagai rezeki, قَالُوۡا ہٰذَا
الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا -- akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya, وَ لَہُمۡ فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci, وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka
akan kekal di dalamnya (Al-Baqarah
[2]:26).
Ayat ini memberikan gambaran singkat mengenai ganjaran yang akan diperoleh orang-orang
beriman di akhirat. Para kritikus Islam
telah melancarkan berbagai keberatan atas lukisan
itu. Kecaman-kecaman itu disebabkan oleh karena sama sekali, tidak memahami ajaran Islam tentang nikmat-nikmat surgawi.
Hakikat Berbagai Perumpamaan
Gambaran di Alam Akhirat
Al-Quran dengan tegas mengemukakan bahwa ada di luar kemampuan alam pikiran manusia untuk dapat
mengenal hakikatnya (QS.32:18). Nabi
Besar Muhammad Saw. diriwayatkan
pernah bersabda: “Tidak ada mata telah
melihatnya, tidak ada pula telinga telah mendengarnya, dan tidak pula pikiran
manusia dapat mengirakannya” (Bukhari),
firman-Nya:
فَلَا
تَعۡلَمُ نَفۡسٌ مَّاۤ اُخۡفِیَ لَہُمۡ
مِّنۡ قُرَّۃِ اَعۡیُنٍ ۚ جَزَآءًۢ بِمَا
کَانُوۡا یَعۡمَلُوۡنَ ﴿﴾ اَفَمَنۡ کَانَ
مُؤۡمِنًا کَمَنۡ کَانَ فَاسِقًا ؕؔ لَا یَسۡتَوٗنَ﴿﴾
Maka tidak ada sesuatu jiwa
mengetahui apa yang tersembunyi bagi mereka dari penyejuk mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka
kerjakan. Maka apakah seorang yang beriman sama seperti orang fasik? Mereka tidak
sama. (As-Sajdah [32:18).
Dengan sendirinya timbul
pertanyaan: Mengapa nikmat-nikmat surga diberi nama yang biasa dipakai untuk
benda-benda di bumi ini? Hal demikian adalah karena seruan Al-Quran itu tidak hanya semata-mata tertuju kepada orang-orang yang maju dalam bidang ilmu (intelektual), karena itu Al-Quran mempergunakan kata-kata sederhana yang dapat dipahami semua orang.
Dalam menggambarkan karunia Ilahi, Al-Quran telah
mempergunakan nama benda yang pada
umumnya dipandang baik di bumi
ini, dan orang-orang beriman diajari bahwa mereka akan mendapat hal-hal itu semuanya dalam bentuk yang lebih baik di
alam yang akan datang.
Untuk menjelaskan perbedaan
penting itulah maka dipakainya kata-kata
yang telah dikenal, selain itu tidak
ada persamaan antara kesenangan
duniawi dengan karunia-karunia
ukhrawi. Tambahan pula menurut Islam kehidupan di akhirat itu tidak ruhaniah
dalam artian bahwa hanya akan terdiri atas keadaan
ruhani, bahkan dalam kehidupan di
akhirat pun ruh manusia akan mempunyai semacam tubuh tetapi tubuh itu
tidak bersifat benda.
Orang dapat membuat tanggapan
terhadap keadaan itu dari gejala-gejala
mimpi. Pemandangan-pemandangan yang disaksikan orang dalam mimpi tidak dapat disebut keadaan pikiran atau ruhani belaka, sebab dalam keadaan itu
pun ia punya jisim dan kadang-kadang ia mendapatkan dirinya berada dalam kebun-kebun dengan sungainya, makan buah-buahan,
dan minum susu.
Sukar untuk mengatakan bahwa isi mimpi itu hanya keadaan alam pikiran belaka. Susu yang dinikmati dalam mimpi tidak ayal lagi merupakan pengalaman yang sungguh-sungguh, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan
bahwa minuman itu susu biasa
yang ada di dunia ini dan diminumnya.
Nikmat-nikmat ruhani kehidupan di akhirat bukan akan berupa
hanya penyuguhan subyektif
dari anugerah Allah Swt. yang
kita nikmati di dunia ini, bahkan apa yang kita peroleh di sini (di dunia) hanyalah gambaran anugerah nyata
dan benar dari Allah Swt. yang akan dijumpai orang di akhirat.
“Kebun-kebun Surgawi” Gambaran Iman
dan “Sungai-sungai” Amal
Shaleh
Tambahan pula bahwa “kebun-kebun“ adalah gambaran iman,
sedangkan “sungai-sungai” adalah
gambaran amal saleh. Sebagaimana kebun-kebun tidak dapat tumbuh subur
tanpa sungai-sungai, begitu pula iman tidak dapat segar dan sejahtera tanpa
perbuatan baik, dengan demikiam iman
dan amal shalih tidak dapat
dipisahkan untuk mencapai najat
(keselamatan).
Di akhirat kebun-kebun
itu akan mengingatkan orang beriman akan imannya dalam kehidupan di dunia
ini, sedangkan sungai-sungai akan mengingatkan kembali kepada amal salehnya maka ia akan
mengetahui bahwa iman dan amal salehnya tidak sia-sia.
Keliru sekali mengambil
kesimpulan ayat: قَالُوۡا ہٰذَا الَّذِیۡ رُزِقۡنَا مِنۡ قَبۡلُ -- mereka berkata: “Inilah yang telah direzekikan kepada kami sebelumnya”, bahwa
di surga orang-orang beriman
akan dianugerahi buah-buahan
semacam yang dinikmati mereka di bumi
ini, sebab seperti telah diterangkan di atas keduanya tidak sama.
Buah-buahan di akhirat sesungguhnya akan berupa gambaran mutu keimanannya sendiri. Ketika mereka hendak memakannya mereka segera akan mengenali
dan ingat kembali bahwa buah-buahan itu adalah hasil imannya di dunia, dan karena rasa syukur atas nikmat itu mereka akan berkata: “inilah yang telah diberikan
kepada kami dahulu.” Ungkapan ini dapat pula berarti “apa yang telah dijanjikan kepada kami.”
Kata-kata “yang hampir serupa” dalam
ayat: وَ اُتُوۡا بِہٖ مُتَشَابِہًا -- “akan diberikan kepada mereka yang serupa dengannya”, tertuju kepada persamaan antara amal ibadah
yang dilakukan oleh orang-orang beriman
di dunia ini dan buah
atau hasilnya di surga. Jadi, amal ibadah
dalam kehidupan sekarang akan nampak
kepada orang-orang beriman sebagai hasil atau buah di akhirat.
Makin sungguh-sungguh dan makin sepadan ibadah manusia, makin banyak
pula ia menikmati buah-buah yang
menjadi bagiannya di surga dan makin
baik pula buah-buah itu dalam nilai dan mutunya. Jadi untuk meningkatkan
mutu buah-buahan yang dikehendakinya
terletak pada kekuatannya sendiri.
Ayat ini berarti pula bahwa makanan
ruhani orang-orang beriman di surga
akan sesuai dengan selera tiap-tiap orang dan taraf kemajuan serta tingkat perkembangan ruhaninya masing-masing.
Itulah makna “apa yang mereka inginkan”
dalam firman-Nya:
لِیَکُوۡنَا
مِنَ الۡاَسۡفَلِیۡنَ ﴿﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ
الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا
تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ
الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿﴾ نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ
فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ﴾ نُزُلًا مِّنۡ
غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪ ﴾
Sesungguhnya
orang-orang yang berkata: ” Rabb (Tuhan)
kami Allah,” kemudian mereka teguh, تَتَنَزَّلُ
عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا
تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ
کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ -- kepada
mereka turun malaikat-malaikat seraya berkata:
”Janganlah kamu takut, dan jangan pula bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan
kepadamu. نَحۡنُ
اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ
الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ -- Kami
adalah teman-teman kamu di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. وَ لَکُمۡ فِیۡہَا
مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ -- Dan bagi kamu di dalam-nya apa yang
diinginkan dirimu dan bagi kamu di
dalamnya apa yang kamu minta. نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ -- Sebagai hidangan
dari Tuhan Yang Maha
Pengampun, Maha Penyayang.” (Hā
Mīm – As-Sajdah [41]:31-33).
Firman-Nya
lagi:
قُلۡ
اَذٰلِکَ خَیۡرٌ اَمۡ جَنَّۃُ الۡخُلۡدِ
الَّتِیۡ وُعِدَ الۡمُتَّقُوۡنَ ؕ کَانَتۡ لَہُمۡ جَزَآءً وَّ مَصِیۡرًا ﴿﴾ لَہُمۡ فِیۡہَا مَا
یَشَآءُوۡنَ خٰلِدِیۡنَ ؕ کَانَ عَلٰی رَبِّکَ
وَعۡدًا مَّسۡـُٔوۡلًا ﴿﴾
Katakanlah:
“Apakah yang demikian itu lebih baik, ataukah surga abadi yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa? Itu akan
menjadi ganjaran bagi mereka dan tempat kembali.” لَہُمۡ فِیۡہَا مَا یَشَآءُوۡنَ
خٰلِدِیۡنَ -- Mereka di dalamnya selama-nya akan memperoleh apa pun
yang mereka inginkan, کَانَ عَلٰی
رَبِّکَ وَعۡدًا مَّسۡـُٔوۡلًا -- itulah janji
dari Rabb (Tuhan) engkau yang layak
dimohon. (Al-Furqān [25]:16-17).
Keinginan-keinginan
orang-orang beriman di akhirat akan menjadi selaras dengan kehendak Allah Swt., sehingga dengan sendirinya segala keinginan-keinginan mereka akan terpenuhi.
Makna “Jodoh-jodoh” Dalam Surga
Selanjutnya Allah Swt. berfirman:
وَ لَہُمۡ
فِیۡہَاۤ اَزۡوَاجٌ مُّطَہَّرَۃٌ -- “dan bagi
mereka di dalamnya ada jodoh-jodoh yang suci.” Orang-orang beriman juga akan mempunyai jodoh-jodoh suci di surga. Istri yang baik adalah sumber kegembiraan
dan kesenangan.
Orang-orang beriman berusaha mendapatkan
istri yang baik di dunia ini dan mereka akan mempunyai jodoh-jodoh baik dan suci di akhirat. Meskipun demikian kesenangan
di surga tidak bersifat kebendaan. Dari Al-Quran diketahui bahwa
jodoh para ahli surgadi akhirat adalah istri-istri
atau suami mereka sendiri yang bertakwa ketika masih hidup di dunia
(QS.13:24; QS.25:75; QS.40:8-10; QS.52:21-22).
Untuk penjelasan lebih lanjut tentang sifat
dan hakikat nikmat-nikmat surga,
lihat pula Surah Al-Thūr, Al-Rahmān, dan Al-Wāqi’ah.
Kata-kata “mereka akan kekal di dalamnya” dalam
ayat وَّ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ -- dan mereka
akan kekal di dalamnya” berarti
bahwa orang-orang beriman di surge tidak akan pernah mengalami
sesuatu perubahan atau kemunduran., bahkan sebaliknya, mereka
akan senantiasa meraih kemajuan-kemajuan
atau tingkatan-tingkatan kesempurnaan
surgawi yang lebih tinggi lagi (QS.66:9).
Orang akan mati
hanya jika ia tidak dapat menyerap zat makanan atau bila orang lain
membunuhnya. Tetapi karena makanan surgawi akan benar-benar cocok untuk setiap orang dan karena
orang-orang di sana akan mempunyai kawan-kawan
yang suci dan suka damai (QS.10:10-11;
QS.14:24- QS.36:59) maka kematian dan
kemunduran dengan sendirinya akan
lenyap.
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 26 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar