Minggu, 30 Oktober 2016

Kepatuh-taatan dan Kecintaan Sempurna Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Allah Swt. & Pentingnya "Mengikuti" Nabi Besar Muhammad Saw. Guna Meraih Kecintaan Allah Swt.

Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 47

KEPATUH-TAATAN DAN KECINTAAN SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. KEPADA ALLAH SWT.  & PENTINGNYA MENGIKUTI  NABI BESAR MUHAMMAD SAW. GUNA MERAIH KECINTAAN ALLAH SWT.

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian akhir   Bab 46 dikemukakan   mengenai kemampuan “orang-orang yang berakal”   menyaksikan  penjelmaan  (tajalli) Allah Swt. di dunia melalui pengutusan para rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan (QS.3.191-195; QS.7:35-37), dimana  “orang-orang yang berakal” tersebut yaitu  dengan menyaksikan Tanda-tanda Allah Swt.  yang terdapat di alam semesta  serta dengan membaca Tanda-tanda Zaman   --  antara lain berkecamuknya berbagai bala bencana sebagai tanda kemurkaaan Allah Swt. sebagaimana yang terjadi di Akhir Zaman ini   --  mereka berhasil mengenali kedatangan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. dikalangan Bani Adam, yang pada hakikatnya merupakan “penjelmaan” (perwujudan) Allah Swt. sendiri, sebab  para rasul Allah   -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.   --  merupakan Tanda keberadaan dan perwujudan Allah Swt. yang paling nyata  dibandingkan semua Tanda-tanda Ilahi lainnya di alam semesta ini, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ اُمَّۃٍ  اَجَلٌ ۚ فَاِذَا  جَآءَ  اَجَلُہُمۡ  لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ سَاعَۃً  وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾   
Dan bagi   tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya.  یٰبَنِیۡۤ  اٰدَمَ  اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ  --  Wahai Bani Adam,  jika datang kepada kamu  rasul-rasul dari antaramu yang membacakan  Ayat-ayat-Ku kepada kamu,  --  maka barangsiapa bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.  وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ  اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ  -- Dan  orang-orang yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan takabur berpaling  darinya, mereka itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya (Al-A’rāf [7]:35-37).

Cara “Melihat” Penjelmaan Allah Swt. di Dunia

    Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai kemampuan manusia untuk  “melihat” Allah Swt.:
   “Kitab Suci Al-Quran mengajarkan kepada kita bahwa najat (keselamatan) adalah masalah yang dimanifestasikan (dinampakkan) di dunia ini juga sebagaimana diungkapkan oleh ayat:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ  اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ   اَعۡمٰی
 “Dan barangsiapa buta di dunia ini, maka di akhirat pun ia akan buta juga” (Bani Israil [17]:73).
      Berarti setiap orang akan membawa ke akhirat nanti segala yang dimilikinya berupa fitrat kemampuan melihat Tuhan dan sarana najat (keselamatan hakiki). Allah Swt. sudah berulangkali menunjukkan bahwa sarana bagi manusia untuk mencapai keselamatan itu bersifat abadi sebagaimana Tuhan itu sendiri adalah juga Maha Abadi. Dan  tidak mungkin  terjadi bahwa  Dia beranggapan bahwa manusia tidak lagi bisa mencapai keselamatan dan karena itu Dia harus membunuh Diri-Nya sendiri (di atas kayu salib).
     Seseorang dikatakan telah mencapai najat (keselamatan) jika semua nafsu yang ada di dirinya telah punah dimana kehendak Tuhan menjadi kehendak dirinya serta ia menjadi demikian mengabdi kepada-Nya hanya karena kecintaan yang tulus, sehingga tidak ada sesuatu apa pun lagi yang dianggap sebagai miliknya sendiri karena dianggapnya telah menjadi milik Tuhan. Semua perkataan, kelakuan, tindakan dan niatnya adalah bagi Tuhan.
    Ia merasa bahwa kesenangan dirinya hanya pada Tuhan dimana perpisahan sejenak saja akan terasa sebagai maut (kematian) baginya. Ia menjadi terpana dengan kasih Tuhan sedemikian rupa, sehingga segala apa pun tidak ada artinya lagi di samping Tuhan-nya.
    Misalnya pun seluruh dunia akan menyerang dirinya dengan pedang terhunus dan berusaha memisahkan dirinya dari Tuhan-nya dengan menanamkan rasa ketakutan, ia akan tetap bersiteguh laiknya gunung yang tegak dengan kokoh. Api kecintaan hakiki akan merona di dalam kalbunya dan ia jadi membenci segala dosa.
   Sebagaimana orang lainnya mengasihi anak-anak, isteri dan sahabatnya sehingga terasa bagaimana kasihnya itu meresap di kalbu mereka -- dimana kematian salah satunya saja akan amat menyedihkan baginya -- maka kecintaan seperti itulah, atau bahkan lebih, yang harus dimunculkan dalam hatinya berkenaan dengan Tuhan-nya.
   Ia sewajarnya akan menjadi seperti orang gila yang dicengkeram kecintaan tersebut dan siap menjalani segala luka dan siksa demi kecintaan itu, semata-mata hanya agar Allah Yang Maha Agung meridhai dirinya.
     Ketika seseorang telah mencapai tingkatan kecintaan kepada Tuhan seperti ini maka semua nafsunya akan terbakar habis oleh api kecintaan tersebut dan muncul revolusi dahsyat dalam dirinya dimana ia dikaruniakan sebuah hati yang tidak dimiliki sebelumnya, dianugrahi mata yang tidak dipunyai sebelumnya. Ia akan memperoleh suatu kepastian sedemikian rupa sehingga ia menampak Tuhan di dunia ini juga. Rasa  panas  seperti api neraka yang menjangkiti mereka yang bersifat duniawi akan dibersihkan dari dirinya dan ia akan memperoleh suatu kehidupan ketentraman, kesenangan dan kenikmatan tersendiri.
    Kondisi seperti inilah yang dimaksud sebagai najat (keselamatan) dimana kalbunya telah tergadai di hadirat Ilahi melalui kasih dan pengabdian. Sebagai imbalannya ia memperoleh ketentraman abadi dimana kesatuan kasihnya dengan kasih Ilahi akan mengangkatnya ke suatu tingkat derajat pengabdian yang tak mungkin dijelaskan dengan kata-kata.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm.  416-417, London, 1984).

Kesempurnaan Kecintaan Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Allah Swt.

     Di antara seluruh rasul Allah yang paling sempurna mengamalkan keadaan fana  seperti itu adalah Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini kepada beliau saw.:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh  Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.”  Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbanankukehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh  alam;   Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah aku diperintahkan   dan akulah orang pertama  yang berserah diri.  (Al-An’ām [6]:162-164).
        Dengan demikian sejak diturun-Nya  agama Islam sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4) kepada Nabi Besar Muhammad saw.  maka kecuali mengikuti suri-teladan sempurna beliau saw. (QS.33:22) tidak ada cara lain untuk meraih najat (keselamatan) di dunia dan di akhirat, firman-Nya:
اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam,  dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab melainkan setelah ilmu datang kepada mereka karena kedengkian di antara mereka. Dan barang-siapa kafir kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat dalam meng-hisab (membuat perhitungan) Ali ‘Imram [3]:20).
   Semua agama yang bersumber dari Allah Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan kepada kehendak-Nya, namun demikian hanya dalam agama  Islam sajalah paham kepatuhan   kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan, sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.,   dan hanya pada Islam (Al-Quran) sajalah pengenjewantahan demikian telah terjadi, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan  telah Kusukai  Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Maidah [5]:4).  
    Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti yang sebenarnya,  meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt.    dan hanya pada Islam sajalah pengejawantahan demikian telah terjadi. Jadi  dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang berhak disebut agama Allah, dalam arti kata yang sebenarnya.
      Jadi, makan ayat  اِنَّ الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ – “Sesungguhnya agama  yang benar di sisi Allah adalah Islam” bahwa semua agama yang benar, lebih atau kurang, dalam bentuknya yang asli adalah agama Islam, sedang para pengikut agama-agama itu adalah Muslim dalam arti kata secara harfiah. Tetapi  nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama itu dicadangkan untuk syariat yang terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran  (QS.5:4),  firman-Nya:
وَ جَاہِدُوۡا فِی اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad  yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ  -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ  اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ --  Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,  ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  -- Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab iniلِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ --      supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu  dan supaya kamu menjadi saksi atas umat manusia.  فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ  وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ  وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ -- Maka dirikanlah shalat, bayarlah zakat, dan berpegang-teguhlah kepada Allahہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ --  Dia Pelindung kamu  maka Dia-lah sebaik-baik Pelin-dung  dan sebaik-baik Penolong. (Al-Hajj [22]:79).
   Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan buruk manusia sendiri, dan (b) jihad melawan musuh-musuh kebenaran yang meliputi pula berperang untuk membela diri (QS.22:40-41).  Jihad macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang kedua  “Jihad di jalan Allah”. Nabi Besar Muhammad saw. saw. telah menamakan jihad yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan yang kedua sebagai jihad kecil (jihad saghir).
      Kata-kata ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا  -- “Dia telah memberi kamu nama Muslimin  dahulu dan dalam Kitab ini”,    menunjuk kepada nubuatan Yesaya: “…..maka engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman Tuhan .....” (Yesaya 62:2 dan 65:15). Hal ini membuktikan kebenaran pernyataan Allah  Swt. dalam Al-Quran bahwa golongan Ahli-Kitab sangat mengenai nubuatan-nubuatan mengenai pengutusan  Nabi Besar Muhammad saw. dan agama Islam bagaikan mengenal anak-anak mereka sendiri (QS.2:147; QS.6:21).
      Isyarat dalam kata-kata     وَ فِیۡ ہٰذَا  -- “dan dalam Kitab ini” ditujukan kepada doa  Nabi Ibrahim a.s. yang dikutip dalam Al-Quran, yaitu: رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً  لَّکَ  --  “Ya Rabb (Tuhan) kami, dan  jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang tunduk kepada Engkau” (QS.2:129).
   Jadi, betapa pentingnya beriman  kepada Nabi Besar Muhammad saw. dan mengikuti ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh beliau saw., firman-Nya:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ غَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ  لَا یُحِبُّ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah:  ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah  aku,  Allah pun akan mencintai kamu dan akan mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”   Katakanlah:     Taatilah Allah dan Rasul ini”, kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
      Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa  dengan telah diturunkan-Nya agama Islam (Al-Quran) sebagai agama atau Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) maka tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak mungkin terlaksana kecuali dengan beriman dan mengikuti Nabi Besar Muhammad saw.    
    Selanjutnya ayat ini  pun melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan), karena dengan jelas Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾  کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ  قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ  لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan   barangsiapa mencari agama yang bukan agama Islam, maka  agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat ia termasuk orang-orang yang rugi. Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula bahwa sesungguhnya  rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti  yang nyata?  Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).
      Dalam ayat-ayat  sebelumnya dijelaskan bahwa kaum Yahudi menolak kedatangan para nabi bukan-Bani Israil, seperti nampak dari kata-kata: janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti agamamu (QS.3:74). Tuduhan itu ditudingkan kepada mereka bahwa sementara mereka menolak semua nabi kecuali nabi-nabi Bani Israil, sedangkan Islam minta kepada para pengikutnya untuk beriman kepada semua Nabi Allah, tanpa membedakan negeri atau bangsa atau masyarakat asal mereka atau zaman yang mereka hidup di dalamnya (QS.2:137; 286; QS.3:85; QS.4:153). Ini merupakan satu kelebihan Islam di atas semua agama lainnya.
       Makna ayat 87 bahwa tentu saja suatu kaum yang mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi Allah  itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi tetapi kemudian menolaknya karena takut kepada manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat lagi petunjuk kepada jalan yang lurus.
       Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi terdahulu tetapi menolak Nabi Besar Muhammad saw. padahal nubuatan mengenai kedatangan beliau saw. tercantum dalam Kitab-kitab suci agama-agama sebelum Islam (Al-Quran – QS2:147; QS.6:21).
        Orang-orang kafir seperti itu tidak akan meraih najat (keselamatan) di dunia mau pun di akhirat, walau pun mungkin saja mereka akan memperoleh kesuksesan duniawi sementara waktu berkat usaha keras mereka  sesuai dengan ketentuan Sifat Rahmāniyat (Maha Pemurah)  Allah Swt. sebagaimana jawaban  Allah Swt. atas doa Nabi Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ  اِبۡرٰہٖمُ  رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku),   jadikanlah tempat ini kota yang aman dan berikanlah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman  kepada  Allah dan Hari Kemudian.” قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا  -- Dia berfirman: “Dan orang yang kafir pun  maka Aku akan memberi sedikit kesenangan kepadanya   ثُمَّ  اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ  -- kemudian  akan Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (Al-Baqarah [2]:127).

Siapa yang Berhak atas  Najat (Keselamatan)?

      Sehubungan dengan cara meraih najat (keselamatan) yang hakiki Masih Mau’ud a.s. bersabda:
    “Keselamatan tidak mungkin bisa dicapai melalui upaya sendiri seseorang, karena hanya bisa diperoleh sebagai rahmat dari Allah Yang Maha Agung. Kaidah yang ditetapkan Allah Swt. guna memperoleh rahmat tersebut tidak pernah didustakan dan masih tetap berlaku. Kaidah tersebut berbunyi:
قُلۡ  اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintaimu” (Ali ‘Imran [3]:32),
Dan:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ 
“Barangsiapa mencari agama lain selain Islam maka agama itu tidak akan diterima darinya” (Ali Imran [3]:86).
 Najat (keselamatan) adalah suatu keberkatan yang natijahnya (pengaruhnya/akibatnya) bisa dirasakan bahkan dalam kehidupan sekarang ini, jadi tidak terbatas hanya di akhirat nanti. Keberkatan ini adalah segala sesuatu yang pengaruhnya dimanifestasikan (diwujudkan) di dunia ini juga, dan orang yang dikaruniai dengan keselamatan tersebut berarti mendapat anugrah kehidupan surgawi di dunia ini juga.
    Para pengikut agama-agama lainnya menurut kaidah Ilahi di atas diluputkan  dari keberkatan tersebut. Jika ada yang mengatakan bahwa umat Muslim sebenarnya juga berada dalam kondisi yang sama, jawaban atas itu adalah karena mereka sudah tidak lagi mengikuti Kitab Allah.     
   Seseorang yang memiliki sejenis obat penawar tetapi ternyata tidak memanfaatkan atau malah mengabaikannya, jelas tidak akan memperoleh kemaslahatan dari obat tersebut. Keadaan demikian itulah yang berlaku pada umat Muslim yang memiliki Kitab Suci seperti Al-Quran tetapi mereka tidak mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya. Mereka yang berpaling dari Kalimatullāh pasti akan diluputkan dari segala nur dan keberkatan.
   Yang dimaksud berpaling itu ada dua jenis, yang satu diwujudkan dalam perilaku dan yang lainnya dalam akidah yang dianut. Seseorang tidak mungkin mendapat nur dan keberkatan kecuali ia bertindak sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt. dalam ayat:
کُوۡنُوۡا مَعَ  الصّٰدِقِیۡنَ
 “Hendaklah kamu termasuk orang-orang yang benar” (At-Taubah [9]:119).
(Malfuzat, jld. IV, hlm. 206-207).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 28 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar