Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
47
KEPATUH-TAATAN DAN KECINTAAN SEMPURNA NABI BESAR MUHAMMAD SAW. KEPADA ALLAH
SWT. & PENTINGNYA MENGIKUTI NABI
BESAR MUHAMMAD SAW. GUNA MERAIH KECINTAAN
ALLAH SWT.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
D
|
alam bagian akhir
Bab 46 dikemukakan mengenai kemampuan “orang-orang yang berakal” menyaksikan penjelmaan (tajalli) Allah
Swt. di dunia melalui pengutusan para rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
(QS.3.191-195; QS.7:35-37), dimana “orang-orang
yang berakal” tersebut yaitu dengan
menyaksikan Tanda-tanda Allah
Swt. yang terdapat di alam semesta serta dengan membaca Tanda-tanda Zaman -- antara lain berkecamuknya berbagai bala
bencana sebagai tanda kemurkaaan
Allah Swt. sebagaimana yang terjadi di Akhir
Zaman ini -- mereka berhasil mengenali kedatangan Rasul
Allah yang kedatangannya dijanjikan
Allah Swt. dikalangan Bani Adam, yang
pada hakikatnya merupakan “penjelmaan”
(perwujudan) Allah Swt. sendiri, sebab
para rasul Allah -- terutama Nabi Besar Muhammad saw.
-- merupakan Tanda keberadaan dan perwujudan
Allah Swt. yang paling nyata dibandingkan
semua Tanda-tanda Ilahi lainnya di
alam semesta ini, firman-Nya:
وَ لِکُلِّ
اُمَّۃٍ اَجَلٌ ۚ فَاِذَا جَآءَ
اَجَلُہُمۡ لَا یَسۡتَاۡخِرُوۡنَ
سَاعَۃً وَّ لَا یَسۡتَقۡدِمُوۡنَ ﴿﴾ یٰبَنِیۡۤ
اٰدَمَ اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ
رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ ۙ فَمَنِ اتَّقٰی وَ اَصۡلَحَ
فَلَا خَوۡفٌ عَلَیۡہِمۡ وَ لَا ہُمۡ یَحۡزَنُوۡنَ ﴿﴾ وَ الَّذِیۡنَ کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ
اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ
اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا خٰلِدُوۡنَ ﴿﴾
Dan bagi tiap-tiap umat ada batas waktu, maka apabila telah datang batas waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula dapat memajukannya. یٰبَنِیۡۤ اٰدَمَ
اِمَّا یَاۡتِیَنَّکُمۡ رُسُلٌ مِّنۡکُمۡ یَقُصُّوۡنَ عَلَیۡکُمۡ اٰیٰتِیۡ -- Wahai Bani
Adam, jika datang kepada kamu rasul-rasul dari antaramu yang membacakan
Ayat-ayat-Ku kepada kamu, -- maka barangsiapa
bertakwa dan memperbaiki diri, maka tidak
akan ada ketakutan menimpa mereka dan tidak
pula mereka akan bersedih hati. وَ الَّذِیۡنَ
کَذَّبُوۡا بِاٰیٰتِنَا وَ اسۡتَکۡبَرُوۡا عَنۡہَاۤ اُولٰٓئِکَ اَصۡحٰبُ النَّارِ ۚ ہُمۡ فِیۡہَا
خٰلِدُوۡنَ -- Dan orang-orang
yang mendustakan Ayat-ayat Kami dan dengan
takabur berpaling darinya, mereka
itu penghuni Api, mereka kekal di dalamnya (Al-A’rāf [7]:35-37).
Cara “Melihat” Penjelmaan Allah Swt. di Dunia
Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. menjelaskan mengenai
kemampuan manusia untuk “melihat” Allah Swt.:
“Kitab Suci Al-Quran mengajarkan kepada
kita bahwa najat (keselamatan) adalah masalah yang dimanifestasikan (dinampakkan) di dunia ini
juga sebagaimana diungkapkan oleh ayat:
وَ مَنۡ کَانَ فِیۡ ہٰذِہٖۤ
اَعۡمٰی فَہُوَ فِی الۡاٰخِرَۃِ
اَعۡمٰی
“Dan barangsiapa
buta di dunia ini, maka di akhirat
pun ia akan buta juga” (Bani
Israil [17]:73).
Berarti
setiap orang akan membawa ke akhirat
nanti segala
yang dimilikinya berupa fitrat kemampuan melihat Tuhan dan sarana
najat (keselamatan hakiki). Allah Swt. sudah berulangkali
menunjukkan bahwa sarana bagi manusia
untuk mencapai keselamatan itu bersifat
abadi sebagaimana Tuhan itu sendiri adalah juga Maha Abadi. Dan tidak
mungkin terjadi bahwa Dia
beranggapan bahwa manusia
tidak lagi bisa mencapai keselamatan dan karena
itu Dia harus membunuh Diri-Nya sendiri (di atas kayu salib).
Seseorang dikatakan telah mencapai najat
(keselamatan) jika semua nafsu yang ada di dirinya telah punah
dimana kehendak Tuhan menjadi kehendak
dirinya serta ia menjadi demikian mengabdi kepada-Nya
hanya karena kecintaan yang tulus, sehingga tidak
ada sesuatu apa pun lagi yang dianggap sebagai miliknya sendiri karena dianggapnya
telah menjadi milik Tuhan. Semua perkataan,
kelakuan, tindakan dan niatnya adalah bagi
Tuhan.
Ia merasa bahwa kesenangan
dirinya
hanya pada
Tuhan
dimana perpisahan
sejenak
saja akan terasa sebagai maut (kematian) baginya. Ia menjadi terpana
dengan kasih Tuhan sedemikian rupa, sehingga segala apa pun tidak ada artinya lagi di samping
Tuhan-nya.
Misalnya
pun seluruh dunia akan menyerang dirinya
dengan pedang
terhunus
dan berusaha memisahkan dirinya dari Tuhan-nya dengan menanamkan rasa ketakutan, ia akan tetap bersiteguh laiknya gunung
yang tegak dengan kokoh. Api kecintaan hakiki akan merona di dalam kalbunya dan ia jadi membenci segala dosa.
Sebagaimana orang lainnya mengasihi
anak-anak, isteri dan sahabatnya sehingga terasa
bagaimana kasihnya itu meresap di kalbu mereka -- dimana kematian salah satunya saja akan amat menyedihkan baginya -- maka kecintaan
seperti itulah, atau bahkan lebih, yang harus dimunculkan dalam hatinya berkenaan dengan Tuhan-nya.
Ia sewajarnya
akan menjadi seperti orang gila yang dicengkeram kecintaan
tersebut dan siap menjalani segala luka dan siksa demi kecintaan itu, semata-mata hanya agar Allah Yang
Maha Agung meridhai
dirinya.
Ketika seseorang telah mencapai
tingkatan kecintaan kepada Tuhan seperti ini maka semua nafsunya akan terbakar habis oleh api kecintaan tersebut dan muncul revolusi
dahsyat dalam dirinya
dimana ia dikaruniakan sebuah hati yang
tidak dimiliki sebelumnya,
dianugrahi mata
yang tidak dipunyai sebelumnya. Ia
akan memperoleh suatu kepastian sedemikian rupa sehingga ia menampak Tuhan di dunia ini juga. Rasa panas seperti api
neraka yang menjangkiti
mereka yang bersifat duniawi akan dibersihkan
dari dirinya dan ia akan memperoleh suatu kehidupan
ketentraman, kesenangan
dan kenikmatan tersendiri.
Kondisi seperti inilah yang dimaksud sebagai najat (keselamatan) dimana kalbunya
telah tergadai di hadirat Ilahi melalui kasih dan pengabdian.
Sebagai imbalannya ia memperoleh ketentraman
abadi dimana kesatuan kasihnya dengan kasih Ilahi
akan mengangkatnya ke suatu tingkat derajat pengabdian yang tak mungkin
dijelaskan dengan kata-kata.” (Chasma Marifat, Qadian, Anwar
Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XXIII, hlm. 416-417, London, 1984).
Kesempurnaan Kecintaan
Nabi Besar Muhammad Saw. Kepada Allah Swt.
Di antara seluruh
rasul Allah yang paling sempurna mengamalkan keadaan fana seperti itu adalah Nabi Besar Muhammad saw. sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini
kepada beliau saw.:
قُلۡ اِنَّنِیۡ
ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ
حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ
صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ
﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ
اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia
bukanlah dari orang-orang musyrik.”
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku, dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb
(Tuhan) seluruh alam; Tidak ada sekutu bagi-Nya, untuk itulah
aku diperintahkan dan
akulah orang pertama yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:162-164).
Dengan demikian sejak diturun-Nya agama
Islam sebagai agama terakhir dan tersempurna (QS.5:4) kepada Nabi Besar
Muhammad saw. maka kecuali mengikuti suri-teladan sempurna beliau
saw. (QS.33:22) tidak ada cara lain
untuk meraih najat (keselamatan) di dunia dan di akhirat, firman-Nya:
اِنَّ
الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ ۟ وَ مَا اخۡتَلَفَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا
الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَہُمُ الۡعِلۡمُ بَغۡیًۢا بَیۡنَہُمۡ ؕ وَ
مَنۡ یَّکۡفُرۡ بِاٰیٰتِ اللّٰہِ فَاِنَّ اللّٰہَ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam,
dan sekali-kali tidaklah berselisih orang-orang yang diberi Kitab
melainkan setelah ilmu datang kepada
mereka karena kedengkian di antara
mereka. Dan barang-siapa kafir
kepada Tanda-tanda Allah maka sesungguhnya
Allah sangat cepat dalam meng-hisab (membuat perhitungan) Ali
‘Imram [3]:20).
Semua agama
yang bersumber dari Allah Swt. senantiasa menanamkan kepercayaan Tauhid Ilahi dan kepatuhan
kepada kehendak-Nya, namun demikian
hanya dalam agama Islam sajalah paham kepatuhan
kepada kehendak Ilahi mencapai kesempurnaan,
sebab kepatuhan sepenuhnya meminta pengejewantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt., dan hanya pada Islam (Al-Quran) sajalah pengenjewantahan
demikian telah terjadi, firman-Nya:
اَلۡیَوۡمَ اَکۡمَلۡتُ لَکُمۡ دِیۡنَکُمۡ وَ اَتۡمَمۡتُ عَلَیۡکُمۡ
نِعۡمَتِیۡ وَ رَضِیۡتُ لَکُمُ الۡاِسۡلَامَ دِیۡنًا
Hari ini telah Ku-sempurnakan agama kamu bagimu, dan telah
Kulengkapkan nikmat-Ku atas kamu, dan telah Kusukai Islam sebagai agama bagi kamu. (Al-Maidah
[5]:4).
Jadi dari semua tatanan keagamaan
hanya Islam yang berhak disebut agama Tuhan pribadi (agama Allah) dalam arti yang sebenarnya, meminta pengejawantahan penuh Sifat-sifat Allah Swt. dan hanya pada Islam sajalah pengejawantahan
demikian telah terjadi. Jadi dari semua tatanan keagamaan hanya Islam yang
berhak disebut agama Allah, dalam
arti kata yang sebenarnya.
Jadi, makan ayat اِنَّ
الدِّیۡنَ عِنۡدَ اللّٰہِ الۡاِسۡلَامُ – “Sesungguhnya
agama yang benar di sisi Allah adalah Islam”
bahwa semua agama yang benar, lebih
atau kurang, dalam bentuknya yang asli
adalah agama Islam, sedang
para pengikut agama-agama itu adalah Muslim
dalam arti kata secara harfiah. Tetapi nama Al-Islam tidak diberikan sebelum tiba saat bila agama menjadi lengkap dalam segala ragam seginya, karena nama
itu dicadangkan untuk syariat yang
terakhir dan mencapai kesempurnaan dalam Al-Quran (QS.5:4), firman-Nya:
وَ جَاہِدُوۡا فِی
اللّٰہِ حَقَّ جِہَادِہٖ ؕ ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی
الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ ؕ مِلَّۃَ
اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ ؕ ہُوَ سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ
وَ فِیۡ ہٰذَا لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ
شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ عَلَی النَّاسِ ۚۖ فَاَقِیۡمُوا
الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ ؕ ہُوَ مَوۡلٰىکُمۡ
ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ ﴿٪﴾
Dan berjihadlah kamu di
jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, ہُوَ اجۡتَبٰىکُمۡ وَ مَا جَعَلَ عَلَیۡکُمۡ فِی الدِّیۡنِ مِنۡ حَرَجٍ -- Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran pada kamu dalam urusan agama, مِلَّۃَ اَبِیۡکُمۡ اِبۡرٰہِیۡمَ -- Ikutilah agama bapak kamu, Ibrahim,
ہُوَ
سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- Dia
telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini, لِیَکُوۡنَ الرَّسُوۡلُ شَہِیۡدًا عَلَیۡکُمۡ وَ تَکُوۡنُوۡا شُہَدَآءَ
عَلَی النَّاسِ -- supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu
dan supaya kamu menjadi saksi
atas umat manusia. فَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ اٰتُوا
الزَّکٰوۃَ وَ اعۡتَصِمُوۡا بِاللّٰہِ -- Maka dirikanlah
shalat, bayarlah zakat, dan berpegang-teguhlah kepada Allah. ہُوَ
مَوۡلٰىکُمۡ ۚ فَنِعۡمَ الۡمَوۡلٰی وَ نِعۡمَ النَّصِیۡرُ -- Dia
Pelindung kamu maka Dia-lah sebaik-baik Pelin-dung dan sebaik-baik
Penolong. (Al-Hajj [22]:79).
Jihad itu ada dua macam: (a) Jihad melawan keinginan-keinginan dan kecenderungan
buruk manusia sendiri, dan (b) jihad
melawan musuh-musuh kebenaran yang
meliputi pula berperang untuk membela diri (QS.22:40-41). Jihad
macam pertama dapat dinamakan “Jihad dalam Allah” dan yang kedua “Jihad di jalan Allah”. Nabi Besar
Muhammad saw. saw. telah menamakan jihad
yang pertama itu sebagai jihad besar (jihad kabir) dan
yang kedua sebagai jihad kecil (jihad
saghir).
Kata-kata ہُوَ
سَمّٰىکُمُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ۬ۙ مِنۡ قَبۡلُ وَ فِیۡ ہٰذَا -- “Dia
telah memberi kamu nama Muslimin dahulu dan dalam Kitab ini”, menunjuk kepada nubuatan Yesaya: “…..maka
engkau akan disebut dengan nama yang baharu, yang akan ditentukan oleh firman
Tuhan .....” (Yesaya 62:2
dan 65:15). Hal ini membuktikan kebenaran pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa golongan Ahli-Kitab sangat mengenai nubuatan-nubuatan mengenai pengutusan Nabi Besar Muhammad saw. dan agama Islam bagaikan mengenal anak-anak mereka sendiri
(QS.2:147; QS.6:21).
Isyarat
dalam kata-kata وَ فِیۡ
ہٰذَا -- “dan
dalam Kitab ini” ditujukan
kepada doa Nabi Ibrahim a.s. yang dikutip
dalam Al-Quran, yaitu: رَبَّنَا وَ اجۡعَلۡنَا مُسۡلِمَیۡنِ لَکَ وَ مِنۡ ذُرِّیَّتِنَاۤ اُمَّۃً مُّسۡلِمَۃً لَّکَ -- “Ya Rabb
(Tuhan) kami, dan jadikanlah kami berdua ini hamba yang menyerahkan
diri kepada Engkau, dan juga dari anak-cucu kami jadikanlah satu umat yang
tunduk kepada Engkau” (QS.2:129).
Jadi, betapa pentingnya beriman
kepada Nabi Besar Muhammad saw.
dan mengikuti ajaran Islam (Al-Quran) sebagaimana yang diajarkan dan diamalkan oleh beliau saw., firman-Nya:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ اللّٰہَ
فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ وَ یَغۡفِرۡ لَکُمۡ ذُنُوۡبَکُمۡ ؕ وَ اللّٰہُ
غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾ قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ
تَوَلَّوۡا فَاِنَّ اللّٰہَ لَا یُحِبُّ
الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: ”Jika kamu benar-benar mencintai Allah maka ikutilah aku, Allah
pun akan mencintai kamu dan akan
mengampuni dosa-dosa kamu. Dan Allah
Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
Katakanlah: ”Taatilah Allah dan Rasul ini”,
kemudian jika mereka berpaling maka ketahuilah
sesungguhnya Allah tidak mencintai
orang-orang kafir. (Ali ‘Imran [3]:32-33).
Ayat
ini dengan tegas menyatakan bahwa dengan
telah diturunkan-Nya agama Islam
(Al-Quran) sebagai agama atau Kitab suci terakhir dan tersempurna (QS.5:4) maka tujuan memperoleh kecintaan Ilahi sekarang tidak
mungkin terlaksana kecuali dengan beriman
dan mengikuti Nabi Besar Muhammad
saw.
Selanjutnya ayat ini pun melenyapkan kesalahpahaman yang mungkin
dapat timbul dari QS.2:63 bahwa iman
kepada adanya Tuhan dan alam akhirat saja sudah cukup untuk memperoleh najat (keselamatan), karena dengan jelas
Allah Swt. berfirman:
وَ مَنۡ
یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ مِنۡہُ ۚ وَ ہُوَ فِی
الۡاٰخِرَۃِ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾ کَیۡفَ یَہۡدِی اللّٰہُ قَوۡمًا کَفَرُوۡا بَعۡدَ اِیۡمَانِہِمۡ وَ
شَہِدُوۡۤا اَنَّ الرَّسُوۡلَ حَقٌّ وَّجَآءَہُمُ الۡبَیِّنٰتُ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿﴾
Dan barangsiapa
mencari agama yang bukan agama Islam,
maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan
di akhirat ia termasuk orang-orang yang
rugi. Bagaimana mungkin Allah akan memberi petunjuk kepada suatu
kaum yang kafir setelah mereka beriman, dan mereka telah menjadi saksi pula
bahwa sesungguhnya rasul itu benar, dan juga telah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata? Dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada kaum
yang zalim. (Ali ‘Imran [3]:86-87).
Dalam ayat-ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kaum Yahudi menolak kedatangan para nabi bukan-Bani Israil, seperti nampak
dari kata-kata: janganlah kamu percaya kecuali kepada orang yang mengikuti
agamamu (QS.3:74). Tuduhan itu ditudingkan kepada mereka bahwa sementara
mereka menolak semua nabi kecuali nabi-nabi Bani Israil, sedangkan Islam minta kepada para pengikutnya
untuk beriman kepada semua Nabi Allah, tanpa membedakan negeri atau bangsa atau
masyarakat asal mereka atau zaman yang mereka hidup di dalamnya (QS.2:137; 286;
QS.3:85; QS.4:153). Ini merupakan satu
kelebihan Islam di atas semua agama
lainnya.
Makna ayat 87 bahwa tentu saja suatu kaum yang
mula-mula beriman kepada kebenaran seorang nabi Allah dan menyatakan keimanan mereka kepada nabi Allah itu secara terang-terangan dan menjadi saksi atas Tanda-tanda Ilahi tetapi kemudian menolaknya karena takut
kepada manusia atau karena pertimbangan duniawi lainnya, mereka kehilangan segala hak untuk mendapat
lagi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Atau, ayat itu dapat pula mengisyaratkan kepada mereka yang beriman kepada para nabi terdahulu tetapi menolak Nabi Besar Muhammad saw. padahal
nubuatan mengenai kedatangan beliau
saw. tercantum dalam Kitab-kitab suci agama-agama sebelum Islam (Al-Quran – QS2:147; QS.6:21).
Orang-orang kafir seperti itu
tidak akan meraih najat (keselamatan)
di dunia mau pun di akhirat, walau pun mungkin saja mereka
akan memperoleh kesuksesan duniawi sementara
waktu berkat usaha keras mereka sesuai
dengan ketentuan Sifat Rahmāniyat (Maha
Pemurah) Allah Swt. sebagaimana jawaban
Allah Swt. atas doa Nabi
Ibrahim a.s., firman-Nya:
وَ اِذۡ قَالَ اِبۡرٰہٖمُ رَبِّ اجۡعَلۡ ہٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّ ارۡزُقۡ اَہۡلَہٗ مِنَ
الثَّمَرٰتِ مَنۡ اٰمَنَ مِنۡہُمۡ بِاللّٰہِ
وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ قَالَ وَ
مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ
النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ
الۡمَصِیۡرُ ﴿﴾
Dan ingatlah
ketika Ibrahim berkata: “Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), jadikanlah tempat ini kota
yang aman dan berikanlah rezeki
berupa buah-buahan kepada penduduknya dari antara mereka yang beriman kepada
Allah dan Hari Kemudian.” قَالَ وَ مَنۡ کَفَرَ فَاُمَتِّعُہٗ قَلِیۡلًا -- Dia
berfirman: “Dan orang yang kafir
pun maka Aku akan memberi sedikit
kesenangan kepadanya ثُمَّ اَضۡطَرُّہٗۤ اِلٰی عَذَابِ النَّارِ ؕ وَ بِئۡسَ الۡمَصِیۡرُ -- kemudian akan
Aku paksa ia masuk ke dalam azab Api, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali” (Al-Baqarah
[2]:127).
Siapa yang
Berhak atas Najat (Keselamatan)?
Sehubungan
dengan cara meraih najat
(keselamatan) yang hakiki Masih Mau’ud
a.s. bersabda:
“Keselamatan tidak mungkin bisa dicapai melalui upaya sendiri
seseorang, karena hanya bisa diperoleh
sebagai rahmat dari Allah Yang Maha Agung. Kaidah yang ditetapkan Allah Swt. guna memperoleh rahmat tersebut tidak pernah didustakan
dan masih tetap berlaku. Kaidah
tersebut berbunyi:
قُلۡ اِنۡ کُنۡتُمۡ تُحِبُّوۡنَ
اللّٰہَ فَاتَّبِعُوۡنِیۡ یُحۡبِبۡکُمُ اللّٰہُ
Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah pun akan mencintaimu” (Ali ‘Imran
[3]:32),
Dan:
وَ مَنۡ یَّبۡتَغِ غَیۡرَ الۡاِسۡلَامِ دِیۡنًا فَلَنۡ یُّقۡبَلَ
مِنۡہُ
“Barangsiapa mencari agama lain selain Islam maka agama itu tidak akan diterima darinya” (Ali Imran
[3]:86).
Najat (keselamatan) adalah suatu keberkatan yang natijahnya
(pengaruhnya/akibatnya) bisa dirasakan bahkan dalam kehidupan sekarang ini, jadi tidak
terbatas hanya di akhirat nanti. Keberkatan ini adalah segala sesuatu yang pengaruhnya dimanifestasikan
(diwujudkan) di dunia ini juga, dan orang
yang dikaruniai dengan keselamatan
tersebut berarti mendapat anugrah
kehidupan surgawi di dunia ini juga.
Para
pengikut agama-agama lainnya menurut
kaidah
Ilahi di
atas diluputkan dari keberkatan tersebut. Jika ada yang mengatakan bahwa umat Muslim sebenarnya juga berada dalam kondisi yang sama, jawaban atas
itu adalah karena mereka sudah tidak lagi mengikuti Kitab Allah.
Seseorang yang memiliki sejenis obat penawar tetapi ternyata tidak memanfaatkan atau malah mengabaikannya, jelas tidak akan memperoleh kemaslahatan dari obat tersebut. Keadaan demikian
itulah yang berlaku pada umat Muslim
yang memiliki
Kitab Suci
seperti Al-Quran tetapi mereka tidak mengikuti petunjuk yang ada di dalamnya. Mereka yang berpaling dari Kalimatullāh pasti akan diluputkan dari segala nur dan keberkatan.
Yang
dimaksud berpaling itu ada dua jenis, yang satu diwujudkan dalam perilaku dan yang lainnya dalam akidah yang dianut. Seseorang tidak mungkin mendapat nur dan keberkatan kecuali ia bertindak
sebagaimana yang diperintahkan Allah Swt. dalam ayat:
کُوۡنُوۡا
مَعَ الصّٰدِقِیۡنَ
“Hendaklah kamu termasuk orang-orang yang benar” (At-Taubah
[9]:119).
(Malfuzat, jld. IV, hlm.
206-207).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 28 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar