Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
33
PENTINGNYA MERAIH MAGHFIRAH ILAHI DAN HUBUNGANNYA DENGAN NAJAT
(KESELAMATAN) DI DUNIA DAN DI AKHIRAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 32
dikemukakan mengenai mengenai Sifat Allah Swt. ذِی الطَّوۡلِ -- “Pemilik karunia” (Al-Mu’min [40]:1-4), selanjutnya
Allah Swt. berfirman berkenaan orang-orang
yang “memikul ‘Arasy Ilahi” dan “mereka yang berada di sekitarnya”
sehubungan pernyataan-Nya bahwa “Rahmat-Ku
meliputi segala sesuatu”(QS.7:157:
اَلَّذِیۡنَ
یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ
یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ
رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ
رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ
اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ
اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ
ۙ﴿﴾ وَ قِہِمُ
السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ
الۡعَظِیۡمُ ٪ ﴿﴾
Wujud-wujud yang memikul
‘Arasy dan yang di sekitarnya, mereka bertasbih dengan pujian Rabb (Tuhan) mereka, dan mereka beriman kepada-Nya, وَ
یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- dan mereka
memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: “Wahai Rabb
(Tuhan) kami, رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ
رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ -- Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah
kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti
jalan Engkau, dan lindungilah mereka
dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ
عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ
وَ ذُرِّیّٰتِہِمۡ -- “Hai Rabb
(Tuhan) kami karena itu masukkanlah
mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka,
dan begitu pun orang-orang yang beramal saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka
dan keturunan-keturunan mereka. اِنَّکَ
اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ الۡحَکِیۡمُ -- Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ
یَوۡمَئِذٍ فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ
ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪ -- “Dan lindungilah mereka dari segala keburukan.
Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu maka sungguh
Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min
[40]:8-10).
Karena ‘Arasy
berarti Sifat-sifat Ilahi maka
kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan
berarti makhluk-makhluk atau orang-orang yang dengan perantaraan
mereka Sifat-sifat Ilahi itu diwujudkan.
Karena hukum alam bekerja dengan
perantaraan malaikat-malaikat, dan
para nabi Allah merupakan wahana yang dengan perantaraan mereka Kalamullah disampaikan kepada umat manusia, maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” dapat berarti pula
para malaikat dan para rasul
Tuhan, sedangkan makna kata-kata “mereka yang ada di sekitarnya” dapat berarti para malaikat yang dibawahi dan membantu
para malaikat yang utama dalam
menyelenggarakan urusan-urusan dunia,
atau para pengikut sejati rasul-rasul
yang menyampaikan dan menyebarkan ajaran nabi-nabi Allah itu.
Makna ayat
رَبَّنَا وَ
اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ
اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ
ذُرِّیّٰتِہِمۡ
-- “Hai Rabb
(Tuhan) kami karena itu masukkanlah
mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka,
dan begitu pun orang-orang yang beramal saleh dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka
dan keturunan-keturunan mereka”
meletakkan suatu asas yang agung,
b ahwa tidak ada pekerjaan
dilaksanakan dan tidak ada kemenangan
dapat dicapai oleh seseorang di dunia
ini tanpa bantuan orang lain.
Orang-orang lain -- masing-masing dengan sadar
atau tidak sadar -- telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan
itu.
Sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang sadar
atau tidak sadar itu -- terutama ayah
bunda, istri, dan anak-anaknya -- maka anggota
keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan
ikut serta menikmati karunia-karunia
yang akan dianugerahkan kepada
orang-orang yang beriman atas amal-amal shalihnya.
Najat (Keselamatan) Berkat Rahmat
Ilahi
Sehubungan dengan doa maghfirah wujud-wujud pemikul ‘Arasy Ilahi dan orang-orang yang berada di sekitarnya: وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا -- dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang
yang beriman: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا
سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ عَذَابَ الۡجَحِیۡمِ -- Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat
dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam”,
Masih
Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya
istighfar dan taubat (kembali) kepada Allah Swt.:
“Karena itu bangkitlah dan bertobat serta menangkan
keridhaan Ilahi
melalui amal saleh. Ingatlah, bahwa hukuman bagi keimanan
yang keliru
akan diterima di akhirat. Apakah seseorang itu Hindu, Kristen atau pun Muslim akan ditentukan di Hari Penghisaban nanti. Namun orang-orang yang melampaui
batas dalam
melakukan pelanggaran, kedurhakaan dan kekejian, akan menerima hukumannya di dunia ini juga. Orang-orang seperti
itu tidak akan mungkin lolos dari hukuman Tuhan.
Dengan demikian bergegaslah kalian mencari keridhaan
Ilahi
dan buatlah perdamaian dengan Tuhan kalian sebelum datang hari
yang mengerikan
yang telah diberitakan oleh para nabi. Dia itu sesungguhnya Maha Pemurah. Berdasarkan sesaat saja pertobatan
yang melumatkan hati Dia bisa mengampuni
dosa-dosa
sepanjang rentang waktu lebih dari 70
tahun.
Jangan pernah mengatakan bahwa pertobatan tidak akan diterima.
Ingatlah, bahwa kalian bukan diselamatkan oleh apa yang kalian lakukan, adalah rahmat
Ilahi
yang menyelamatkan kalian dan bukan
hasil perbuatan kalian sendiri.
Ya
Allah Yang Maha Pemurah dan Maha
Penyayang,
karuniakan kepada kami rahmat Engkau. Kami ini adalah hamba Engkau semata dan kami bersujud di hadirat Engkau. Amin. (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi
Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 174, London,
1984).
Dengan demikian jelaslah, bahwa untuk kesempurnaan perkembangan ruhaninya manusia membutuhkan istighfar dan taubat guna meraih maghfirah Ilahi, yang menghasilkan najat (keselamatan) dan falah
(kesuksesan) sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ یَقُوۡلُوۡنَ
رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا
نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, تُوۡبُوۡۤا اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا -- bertaubatlah kepada Allah
dengan seikhlas-ikhlas taubat. عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ
-- Boleh jadi Rabb
(Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan kamu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan
di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [9]:9).
Kemajuan Berkesinambungan
Dalam Surga & Najat (Keselamatan)
dan Falah (Kesuksesan)
Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang
yang beriman dalam surga sebagaimana diungkapkan dalam
kata-kata, رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا -- “Hai
Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“ menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah
kehidupan menganggur (pasif). Kebalikannya, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga sebab bila orang-orang
beriman akan mencapai kesempurnaan -- yang menjadi ciri tingkat surga tertentu -- mereka tidak akan berhenti sampai di situ,
melainkan serentak terlihat di
hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih
tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat
surgawi yang didapati olehnya itu bukan
tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir.
Selanjutnya tampak dari kalimat وَ اغۡفِرۡ
لَنَا -- “dan maafkanlah
kami” bahwa setelah masuk surga orang-orang
beriman akan mencapai maghfirah –
penutupan kekurangan (Lexicon Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa
kepada Allah Swt. memohon maghfirah-Nya
untuk mencapai kesempurnaan dan sama
sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas, dan
memandang tiap-tiap tingkat surgawi - sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat surgawi lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia
menutupi ketidaksempurnaannya --
yakni menganugerahkan maghfirah-Nya
-- sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat
lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar,
yang secara harfiah berarti “mohon
ampunan atas segala kealpaan.”
Orang-orang bertakwa
yang senantiasa meraih maghfirah Ilahi berkesinambungan dalam perjalanan ruhaninya (suluk) di dunia seperti itu merupakan orang-orang yang meraih najat
(keselamatan) dan falah (kesuksesan),
firman-Nya:
فَاِذَا قَضَیۡتُمۡ
مَّنَاسِکَکُمۡ فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ
کَذِکۡرِکُمۡ اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ
یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی
الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ
مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾ اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا
ؕ وَ اللّٰہُ سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ ﴿﴾
Maka apabila
kamu telah menunaikan cara-cara ibadah haji kamu,
maka ingatlah
Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapak kamu atau mengingat-Nya lebih keras
lagi. فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ
اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ مِنۡ خَلَاقٍ -- Dan di antara manusia ada yang berkata:
“Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan hidup di
dunia ini”, dan tidak ada
baginya bagian di akhirat. وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ
یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِی
الدُّنۡیَا حَسَنَۃً وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ
حَسَنَۃً وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ -- Dan di antara mereka ada yang
mengatakan: “Ya Rabb (Tuhan) kami, berilah
kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat, dan peliharalah kami dari azab Api.” اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ
نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ
سَرِیۡعُ الۡحِسَابِ -- Mereka inilah yang akan memperoleh bagian sebagai pahala dari apa yang mereka
usahakan, dan Allah Mahacepat dalam
menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).
Makna Najat (Keselamatan)
Sehubungan dengan pentingnya meraih najat (keselamatan) – di dunia dan di akhirat -- Masih Mau’ud
a.s. bersabda:
“Manusia yang sampai di relung kegelapan ini tidak akan memperoleh najat
(keselamatan) kecuali ia
memang mendapat kehormatan untuk berbicara dengan Tuhan-nya,
atau memelihara silaturahmi (perhubungan) dengan seseorang
yang memang adalah penerima wahyu hakiki dan telah menyaksikan
tanda-tanda Ilahi, yang melaluinya ia sampai pada kesimpulan bahwa ia sesungguhnya ada memiliki Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha
Pemurah dan Maha Penyayang,
bahwa keimanannya pada agama
Islam
itu memang benar adanya serta Hari Penghisaban dan adanya surga dan neraka adalah realitas-realitas
nyata.
Secara kebiasaan semua umat
Muslim meyakini eksistensi (keberadaan) Tuhan dan kebenaran
Hadhrat Rasulullah Saw.,
namun keimanannya itu tidak
memiliki dasar yang kuat.
Melalui keimanan yang lemah demikian adalah tidak mungkin bagi mereka untuk terpengaruh secara mendasar dan mengembangkan kebencian hakiki terhadap dosa.” (Nuzulul Masih,
Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XVIII, hlm. 485-486, London, 1984).
Mengenai pengertian hakiki tentang najat (keselamatan) Masih Mau’ud a.s.
menjelaskan:
“Sayang sekali sebagian besar
manusia tidak memahami makna hakiki najat (keselamatan). Menurut umat Kristiani,
yang dimaksud dengan keselamatan adalah terhindarnya
seseorang dari penghukuman
atas dosa-dosa yang dilakukannya. Sebenarnya bukan itu makna hakiki najat
(keselamatan).
Bisa saja seseorang tidak ada melakukan zinah,
mencuri, bersaksi palsu, membunuh atau pun melakukan
dosa apa
pun namun tetap saja yang
bersangkutan tidak mengenal keselamatan -- dalam pengertian -- sebagai
pencapaian kesejahteraan abadi yang didambakan
fitrat manusia.
Hal itu hanya mungkin dicapai
melalui kecintaan kepada Ilahi karena telah
memahami eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya dan terciptanya hubungan yang sempurna dengan
Dia dimana kasih mencuat dari kedua sisi.
Bagi seorang
pencari kebenaran,
yang menjadi masalah utama adalah bagaimana memperoleh kesejahteraan abadi yang menjadi dasar
dari kebahagiaan dan
kegembiraan abadi. Tanda
dari suatu agama yang benar adalah memiliki
dasar ajaran
yang membawa manusia ke arah kesejahteraan demikian.
Melalui bimbingan
Al-Quran
kita memperoleh petunjuk bahwa kesejahteraan
abadi bisa
dicapai melalui pemahaman Allah Yang Maha Kuasa dengan kasih-Nya
yang suci
dan sempurna yang membangkitkan kegairahan di kalbu seorang pencinta.
Memang
ini terdengarnya hanya sebagai untaian
kalimat saja, namun sebuah buku yang
tebal masih belum cukup untuk menafsirkannyan
secara lengkap.” (Chasmai
Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 359-360, London, 1984).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 11 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar