Selasa, 11 Oktober 2016

Pentingnya Meraih "Maghfirah Ilahi" dan Hubungannya Dengan "Najat" (Keselamatan) di Dunia dan di Akhirat



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 33

PENTINGNYA MERAIH MAGHFIRAH ILAHI DAN HUBUNGANNYA DENGAN     NAJAT (KESELAMATAN)   DI DUNIA DAN DI AKHIRAT

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 32  dikemukakan  mengenai mengenai Sifat Allah Swt.   ذِی الطَّوۡلِ   -- “Pemilik karunia”   (Al-Mu’min [40]:1-4), selanjutnya Allah Swt. berfirman berkenaan orang-orang yang “memikul ‘Arasy Ilahi” dan “mereka yang berada di sekitarnya” sehubungan pernyataan-Nya bahwa “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”(QS.7:157:
اَلَّذِیۡنَ یَحۡمِلُوۡنَ الۡعَرۡشَ وَ مَنۡ حَوۡلَہٗ یُسَبِّحُوۡنَ بِحَمۡدِ  رَبِّہِمۡ وَ یُؤۡمِنُوۡنَ بِہٖ وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا ۚ رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ ﴿﴾ رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ ؕ اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ    ۙ﴿﴾ وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪  ﴿﴾
Wujud-wujud  yang memikul ‘Arasy dan yang di sekitarnya, mereka bertasbih dengan pujian  Rabb (Tuhan) mereka, dan mereka beriman kepada-Nya,  وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا --  dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: “Wahai  Rabb (Tuhan) kami,  رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ -- Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam. رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ  --   “Hai Rabb (Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun  orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka. اِنَّکَ اَنۡتَ الۡعَزِیۡزُ  الۡحَکِیۡمُ       -- Sesungguhnya Engkau benar-benar Maha Perkasa, Maha Bijaksana. وَ قِہِمُ السَّیِّاٰتِ ؕ وَ مَنۡ تَقِ السَّیِّاٰتِ یَوۡمَئِذٍ  فَقَدۡ رَحِمۡتَہٗ ؕ وَ ذٰلِکَ ہُوَ الۡفَوۡزُ الۡعَظِیۡمُ ٪     -- “Dan lindungilah mereka dari segala keburukan.  Dan barangsiapa Engkau pelihara dari keburukan-keburukan pada hari itu  maka sungguh  Engkau telah mengasihinya, dan yang demikian itu  kemenangan yang besar.” (Al-Mu’min [40]:8-10).  
       Karena ‘Arasy berarti Sifat-sifat Ilahi maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” akan berarti makhluk-makhluk atau orang-orang yang dengan perantaraan mereka Sifat-sifat Ilahi  itu diwujudkan. Karena hukum alam bekerja dengan perantaraan malaikat-malaikat, dan para nabi Allah merupakan wahana yang dengan perantaraan mereka Kalamullah disampaikan kepada umat manusia, maka kata-kata “para pemikul ‘Arasy” dapat berarti pula para malaikat dan para rasul  Tuhan, sedangkan makna kata-kata “mereka yang ada di sekitarnya” dapat berarti para malaikat yang dibawahi dan membantu para malaikat yang utama dalam menyelenggarakan urusan-urusan dunia, atau para pengikut sejati rasul-rasul yang menyampaikan dan menyebarkan ajaran nabi-nabi Allah itu.
        Makna ayat  رَبَّنَا وَ اَدۡخِلۡہُمۡ جَنّٰتِ عَدۡنِۣ الَّتِیۡ وَعَدۡتَّہُمۡ وَ مَنۡ صَلَحَ مِنۡ اٰبَآئِہِمۡ وَ اَزۡوَاجِہِمۡ وَ  ذُرِّیّٰتِہِمۡ  --   “Hai Rabb (Tuhan) kami karena itu masukkanlah mereka ke dalam surga-surga abadi yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan begitu pun  orang-orang yang beramal saleh  dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka”  meletakkan suatu asas yang agung, b ahwa tidak ada pekerjaan dilaksanakan dan tidak ada kemenangan dapat dicapai oleh seseorang di dunia ini tanpa bantuan orang lain. Orang-orang lain -- masing-masing dengan sadar atau tidak sadar  --  telah memberikan sumbangan kepada pekerjaan itu.
     Sekutu-sekutu dan pembantu-pembantu yang sadar atau tidak sadar itu   -- terutama ayah bunda, istri, dan anak-anaknya  --  maka anggota keluarga yang terdekat itu pun akan diizinkan ikut serta menikmati karunia-karunia yang akan dianugerahkan kepada orang-orang yang beriman atas amal-amal shalihnya.

Najat (Keselamatan)  Berkat Rahmat Ilahi

    Sehubungan dengan doa maghfirah  wujud-wujud pemikul ‘Arasy Ilahi dan orang-orang yang berada di sekitarnya  وَ یَسۡتَغۡفِرُوۡنَ  لِلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا --   dan mereka memohon ampunan bagi orang-orang yang beriman: “Wahai  Rabb (Tuhan) kami,  رَبَّنَا وَسِعۡتَ کُلَّ  شَیۡءٍ رَّحۡمَۃً  وَّ عِلۡمًا فَاغۡفِرۡ  لِلَّذِیۡنَ تَابُوۡا وَ اتَّبَعُوۡا سَبِیۡلَکَ وَ قِہِمۡ  عَذَابَ  الۡجَحِیۡمِ -- Engkau meliputi segala sesuatu dengan rahmat dan ilmu maka ampunilah kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau, dan lindungilah mereka dari azab Jahannam”,  Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai pentingnya  istighfar dan taubat (kembali) kepada Allah Swt.:
     “Karena itu bangkitlah dan bertobat serta menangkan keridhaan Ilahi melalui amal saleh. Ingatlah, bahwa hukuman bagi keimanan yang keliru akan diterima di akhirat. Apakah seseorang itu Hindu, Kristen atau pun Muslim akan ditentukan di Hari Penghisaban nanti. Namun orang-orang yang melampaui batas dalam melakukan pelanggaran, kedurhakaan dan kekejian, akan menerima hukumannya di dunia ini juga. Orang-orang seperti itu tidak akan mungkin lolos dari hukuman Tuhan.
   Dengan demikian bergegaslah kalian mencari keridhaan Ilahi dan buatlah perdamaian dengan Tuhan  kalian sebelum datang hari yang mengerikan yang telah diberitakan  oleh para nabi. Dia itu sesungguhnya Maha Pemurah. Berdasarkan sesaat saja pertobatan yang melumatkan hati  Dia bisa mengampuni dosa-dosa sepanjang rentang waktu lebih dari 70 tahun.
     Jangan pernah mengatakan bahwa pertobatan tidak akan diterima.   Ingatlah,  bahwa kalian bukan diselamatkan oleh apa yang kalian lakukan, adalah rahmat Ilahi yang menyelamatkan kalian dan bukan hasil perbuatan kalian sendiri.
     Ya Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang, karuniakan kepada kami rahmat Engkau. Kami ini adalah hamba Engkau semata dan kami bersujud di hadirat Engkau. Amin. (Khutbah Lahore, Lahore, Rifahi Aam Steam Press, 1904: sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 174, London, 1984).
    Dengan demikian jelaslah,  bahwa untuk kesempurnaan perkembangan ruhaninya   manusia membutuhkan istighfar  dan taubat guna meraih maghfirah Ilahi, yang menghasilkan najat (keselamatan) dan falah (kesuksesan)  sebagaimana firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ     یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا    وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman,   تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا -- bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ  --  Boleh jadi  Rabb (Tuhan)  kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukan kamu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di bawahnya sungai-sungaiیَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanyaنُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ        --  cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannyaیَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami,   dan maafkanlah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrim [9]:9).

Kemajuan Berkesinambungan Dalam Surga & Najat (Keselamatan) dan Falah (Kesuksesan)

   Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman dalam  surga sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata,  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا  --  “Hai  Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“ menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur (pasif).  Kebalikannya, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga sebab bila orang-orang beriman  akan mencapai kesempurnaan  -- yang menjadi ciri tingkat surga tertentu  --  mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat surgawi yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir.
  Selanjutnya tampak dari kalimat  وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- “dan maafkanlah kami” bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirah – penutupan kekurangan (Lexicon Lane). Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. memohon maghfirah-Nya untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas, dan memandang tiap-tiap tingkat  surgawi - sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat surgawi  lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu akan berdoa kepada Allah Swt.  supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya    -- yakni menganugerahkan maghfirah-Nya -- sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”
Orang-orang bertakwa yang senantiasa meraih maghfirah Ilahi  berkesinambungan dalam perjalanan ruhaninya (suluk) di dunia   seperti itu merupakan orang-orang yang meraih najat (keselamatan) dan falah (kesuksesan), firman-Nya:
فَاِذَا قَضَیۡتُمۡ مَّنَاسِکَکُمۡ فَاذۡکُرُوا اللّٰہَ  کَذِکۡرِکُمۡ اٰبَآءَکُمۡ اَوۡ اَشَدَّ ذِکۡرًا ؕ فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ ﴿﴾ وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ ﴿﴾  اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ ﴿﴾
Maka apabila  kamu telah  menunaikan  cara-cara ibadah haji kamu, maka  ingatlah  Allah sebagaimana kamu mengingat bapak-bapak kamu atau mengingat-Nya  lebih keras  lagi. فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا وَ مَا لَہٗ فِی الۡاٰخِرَۃِ  مِنۡ خَلَاقٍ  -- Dan  di antara manusia ada yang berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, anugerahilah kami kesenangan hidup  di dunia ini”, dan tidak ada baginya  bagian di akhirat. وَ مِنۡہُمۡ مَّنۡ یَّقُوۡلُ رَبَّنَاۤ  اٰتِنَا فِی الدُّنۡیَا حَسَنَۃً  وَّ فِی الۡاٰخِرَۃِ حَسَنَۃً  وَّ قِنَا عَذَابَ النَّارِ  -- Dan  di antara mereka ada yang mengatakan: “Ya  Rabb (Tuhan) kami, berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat, dan peliharalah kami dari azab Api.” اُولٰٓئِکَ لَہُمۡ نَصِیۡبٌ مِّمَّا کَسَبُوۡا ؕ وَ اللّٰہُ  سَرِیۡعُ  الۡحِسَابِ  --  Mereka inilah yang akan memperoleh bagian sebagai pahala dari apa yang mereka usahakan, dan Allah Mahacepat dalam menghisab. (Al-Baqarah [2]:201-203).

Makna Najat (Keselamatan)

      Sehubungan dengan pentingnya meraih najat (keselamatan) – di dunia dan di akhirat   -- Masih Mau’ud a.s. bersabda:
      Manusia yang sampai di relung kegelapan ini tidak akan memperoleh najat (keselamatan) kecuali ia memang mendapat kehormatan untuk berbicara dengan Tuhan-nya, atau memelihara silaturahmi (perhubungan) dengan seseorang yang memang adalah penerima wahyu hakiki dan telah menyaksikan tanda-tanda Ilahi, yang melaluinya  ia sampai pada kesimpulan bahwa ia sesungguhnya ada memiliki  Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pemurah dan Maha Penyayang, bahwa keimanannya pada agama Islam itu memang benar adanya serta Hari Penghisaban dan adanya surga dan neraka adalah realitas-realitas nyata.
      Secara kebiasaan semua umat Muslim meyakini eksistensi (keberadaan) Tuhan dan kebenaran Hadhrat Rasulullah Saw., namun keimanannya itu tidak memiliki dasar yang kuat. Melalui keimanan yang lemah demikian adalah tidak mungkin bagi mereka untuk terpengaruh secara mendasar dan mengembangkan kebencian hakiki terhadap dosa.” (Nuzulul Masih, Qadian, Ziaul Islam Press, 1909; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XVIII, hlm.  485-486, London, 1984).
  Mengenai pengertian hakiki tentang najat (keselamatan) Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
      “Sayang sekali sebagian besar manusia tidak memahami makna hakiki  najat (keselamatan). Menurut umat Kristiani, yang dimaksud dengan keselamatan adalah terhindarnya seseorang dari penghukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya. Sebenarnya bukan itu makna hakiki najat (keselamatan).
   Bisa saja seseorang tidak ada melakukan zinah, mencuri, bersaksi palsu, membunuh atau pun melakukan dosa apa pun namun tetap saja yang bersangkutan tidak mengenal keselamatan -- dalam pengertian  -- sebagai pencapaian kesejahteraan abadi yang didambakan fitrat manusia. Hal itu hanya mungkin dicapai melalui kecintaan kepada Ilahi karena telah memahami eksistensi (keberadaan) Wujud-Nya dan terciptanya hubungan yang sempurna dengan Dia dimana kasih mencuat dari kedua sisi.
  Bagi seorang pencari kebenaran, yang menjadi masalah utama adalah bagaimana memperoleh kesejahteraan abadi yang menjadi dasar dari kebahagiaan dan kegembiraan abadi. Tanda dari suatu agama yang benar adalah memiliki dasar ajaran yang membawa manusia ke arah kesejahteraan demikian.
       Melalui bimbingan Al-Quran kita memperoleh petunjuk bahwa kesejahteraan abadi bisa dicapai melalui pemahaman Allah Yang Maha Kuasa dengan kasih-Nya yang suci dan sempurna yang membangkitkan kegairahan di kalbu seorang pencinta.
    Memang ini terdengarnya hanya sebagai untaian kalimat saja, namun sebuah buku yang tebal masih belum cukup untuk menafsirkannyan secara lengkap.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm.  359-360, London, 1984).

 (Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 11 Oktober 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar