Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
38
MERAIH NAJAT (KESELAMATAN) MELALUI
KECINTAAN YANG HAKIKI KEPADA ALLAH SWT.
& BUKTI KETIDAK-BERSALAHAN
NABI ADAM A.S. DAN NABI MUSA A.S.
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 37
dikemukakan mengenai makna kata-kata
yang diletakkan dalam mulut
orang-orang Saba' dalam ayat: فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا -- “lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah
jarak di antara perjalanan kami” (QS.34:20), ucapan tersebut sesungguhnya
menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika mereka membangkang dan mengingkari perintah-perintah Allah Swt., dan sebagai akibatnya mereka jadi binasa: وَ
ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya” (QS.34:20), firman-Nya:
لَقَدۡ
کَانَ لِسَبَاٍ فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ
ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ
اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ
وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ
الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ
قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ
فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ
مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّکُلِّ صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ لَہٗ
عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا
لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ
مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ
﴿٪﴾
Sungguh bagi kaum
Saba' benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air
mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di kiri sungai. Kami berfirman: کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ
اشۡکُرُوۡا لَہٗ --“Makanlah rezeki dari Rabb
(Tuhan) kamu dan berterima kasihlah
kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ
طَیِّبَۃٌ وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah dan Rabb
(Tuhan) Maha Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- Tetapi mereka
itu berpaling maka Kami kirimkan
kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- Dan Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang berbuah
buah-buahan pahit, pohon cemara
dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka
tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami
membalas seperti itu kecuali kepada
orang-orang yang sangat tidak bersyukur. وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ
الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ -- Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan
antara kota-kota yang telah Kami berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan
di antara kota-kota itu, Kami berfirman: سِیۡرُوۡا
فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ -- “Berjalanlah di dalamnya dengan aman malam dan siang.” فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ
اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah
jarak di antara perjalanan kami,” وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya. اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ
صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ -- Sesungguhnya
dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi
setiap orang yang bersabar dan bersyukur. وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ -- Dan
sungguh iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,
maka mereka
mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
-- kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ لَہٗ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ
یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ مِمَّنۡ ہُوَ
مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ -- Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka, melainkan supaya
Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan
mengenainya, وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
حَفِیۡظٌ -- dan Rabb
(Tuhan) engkau adalah Pemelihara atas segala sesuatu. (As-Sabā’
[34]:16-20).
Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran
Kaum Saba’
Jalan yang tadinya makmur dan ramai dilalui orang kemudian menjadi sunyi
senyap. Kata-kata “Jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” berarti
bahwa sebab banyak kota di sepanjang
jalan yang menjadi puing-puing, jarak
di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan tidak aman. Kaum Saba' menjadi hancur sama sekali sehingga tiada
tanda atau bekas yang ditinggalkan
mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan
ceritera belaka bagi para juru
dongeng.
Makna pernyataan Allah Swt. dalam ayat
selanjutnya: وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ
اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ
-- “dan
sungguh iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,
maka mereka
mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ
-- kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman”
(QS.34:21). Orang-orang Saba’ dengan perbuatan durhaka mereka menggenapi sangkaan syaitan (iblis – QS.7:17-19)
bahwa ia akan berhasil menyesatkan
mereka.
Penyebutan mengenai sangkaan syaitan (iblis) mengenai orang-orang durhaka dan perbuatan jahat mereka ini dapat dijumpai di dalam QS.17:63; di tempat itu syaitan disebut mengatakan bahwa ia akan
menyebabkan keturunan Adam binasa,
kecuali beberapa dari antara mereka.
Makna ayat: اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- “kecuali
segolongan dari orang-orang yang beriman.
وَ مَا کَانَ لَہٗ
عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا
لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ
مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ -- Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka, melainkan supaya
Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan
mengenainya.” (QS.34:22).
Syaitan
tidak mempunyai kekuasaan atas
manusia (QS.14:23; 43; QS,16:100; QS.17:66), adalah karena kepercayaan yang sesat dan perbuatannya
yang buruk saja manusia mendatangkan kehancuran dalam kehidupan ruhaninya. Itulah sebabnya syaitan
di alam akhirat akan berlepas-tangan terhadap tuntutan orang-orang yang berhasil disesatkannya (QS.7:39-40; QS.28:64-67;
QS.33:67-69; QS.34:32-34; QS.40:48-51).
Demikianlah berbagai hikmah
yang terkandung dalam kisah kaum Saba
setelah meninggalnya Ratu Saba, yang beriman
kepada Tauhid Ilahi melalui “da’wah”
Nabi Sulaiman a.s. yang unik yakni pembuatan “singgasana” yang lebih indah
dan “istana berlantai kaca bening” (QS.27:16-45),
firman-Nya:
لَقَدۡ
کَانَ لِسَبَاٍ فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ
ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ
اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ
وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾ فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ
الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾ ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾ وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ
بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ
قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾ فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ
فَجَعَلۡنٰہُمۡ اَحَادِیۡثَ وَ
مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ
فِیۡ ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ
لِّکُلِّ صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ ﴿﴾ وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾ وَ مَا کَانَ لَہٗ
عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا
لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ
مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ
﴿٪﴾
Sungguh bagi kaum
Saba' benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air
mereka, yaitu dua kebun di sebelah kanan dan di kiri sungai. Kami berfirman: کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ
اشۡکُرُوۡا لَہٗ --“Makanlah rezeki dari Rabb
(Tuhan) kamu dan berterima kasihlah
kepada-Nya. بَلۡدَۃٌ
طَیِّبَۃٌ وَّ رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah dan Rabb
(Tuhan) Maha Pengampun.” فَاَعۡرَضُوۡا
فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ -- Tetapi mereka
itu berpaling maka Kami kirimkan kepada
mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ
بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ
سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ -- Dan Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang berbuah
buah-buahan pahit, pohon cemara
dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ
جَزَیۡنٰہُمۡ بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ
نُجٰزِیۡۤ اِلَّا الۡکَفُوۡرَ -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka
tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali
kepada orang-orang yang sangat tidak
bersyukur. وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا
قُرًی ظَاہِرَۃً وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا
السَّیۡرَ -- Dan Kami
telah menjadikan antara mereka dan antara
kota-kota yang telah Kami berkati di
dalamnya menjadi kota-kota
yang berdekatan, dan telah Kami
tetapkan perhentian perjalanan di antara kota-kota itu, Kami berfirman: سِیۡرُوۡا
فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا
اٰمِنِیۡنَ -- “Berjalanlah di dalamnya
dengan aman malam dan siang.” فَقَالُوۡا
رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ اَسۡفَارِنَا -- Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah
jarak di antara perjalanan kami,” وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ
اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ -- dan mereka
menzalimi diri sendiri maka Kami
menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya. اِنَّ فِیۡ
ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ
صَبَّارٍ شَکُوۡرٍ -- Sesungguhnya
dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi setiap
orang yang bersabar dan bersyukur.
وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ -- Dan
sungguh iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,
maka mereka
mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ
الۡمُؤۡمِنِیۡنَ -- kecuali segolongan
dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ
لَہٗ عَلَیۡہِمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ
یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ مِمَّنۡ ہُوَ
مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ -- Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka, melainkan supaya
Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan
mengenainya, وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ
حَفِیۡظٌ -- dan Rabb
(Tuhan) engkau adalah Pemelihara atas segala sesuatu. (As-Sabā’
[34]:16-20).
Meraih Najat (Keselamatan) Melalui Kecintaan Kepada Allah Swt.
Melanjutkan
pembahasan hubungan antara maghfirah
dan taubat dengan najat (keselamatan) di dunia dan di akhirat selanjutnya Masih
Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Di samping pemahaman, yang dibutuhkan bagi najat
(keselamatan) manusia adalah kecintaan
kepada Allah Swt.. Kiranya jelas
bahwa tidak ada siapa pun yang
akan mengazab orang lain yang mencintai dirinya.Sebab kecintaan
akan menarik kasih kepada dirinya.
Jika
seseorang mencintai seorang lain secara tulus, dan meskipun ia
tidak memberitahukan rasa kasihnya kepada yang
bersangkutan, sekurang-kurangnya akan berakibat pada keadaan bahwa ia tidak akan memusuhi orang yang
dikasihinya. Karena itulah dikatakan bahwa sebuah hati memiliki kecenderungan kepada hati
lainnya.
Daya tarik yang dimiliki para nabi dan rasul sehingga ribuan
manusia tertarik kepada mereka serta mengasihi mereka sedemikian rupa sehingga bersedia mengorbankan jiwa raganya, adalah karena hati para wujud suci tersebut dipenuhi oleh rasa welas asih kepada
manusia
melebihi dari kasih seorang ibu kepada anaknya. Para wujud suci tersebut bersedia menderita sakit dan kesulitan demi kemaslahatan
umatnya. Daya tarik
diri mereka lalu menarik hati-hati yang suci ke arah mereka.
Bila
seorang manusia menyadari adanya rasa kasih dari manusia
lain kepada dirinya, bagaimana mungkin dengan Yang Maha
Kuasa, Yang mengetahui segala hal yang tersembunyi bisa
menjadi tidak mengetahui adanya kasih yang tulus dari salah satu makhluk-Nya?
Kecintaan adalah suatu hal yang ajaib.
Kehangatan api kecintaan demikian bisa mengatasi api dosa dan memadamkan nyala kedurhakaan di hati manusia. Kasih yang bersifat tulus, langsung dan sempurna tidak mungkin ada berdampingan dengan pengazaban.
Salah
satu tanda dari kasih hakiki adalah menjadi bagian dari fitrat dirinya untuk takut berpisah dengan kekasihnya. Ia akan merasa dirinya karam jika sampai melakukan kesalahan sekecil apa pun, dan menganggap sebagai racun yang pahit untuk menentang sang kekasih.
Sang pencinta ini akan selalu merindukan pertemuan dengan kekasih, dan menganggap kejauhan dirinya sebagai siksaan yang sepertinya membawa kematian. Jangankan melakukan dosa dalam pengertian manusia biasa -- seperti membunuh, berzinah, mencuri, bersaksi palsu -- bahkan
sampai terjadi kelalaian kecil saja baginya
sudah merupakan dosa akbar. Selain Wujud
Tuhan, ia tidak mempunyai kecenderungan
apa pun lainnya lagi. Ia akan selalu
menyibukkan diri dengan istighfar di hadapan Yang Maha Abadi.
Karena batinnya tidak pernah bisa menerima rasa
keterpisahan
dengan Allah
Yang Maha Agung,
ia akan menganggap kelalaian sekecil apa pun akibat fitrat manusiawinya sebagai dosa sebesar gunung. Itulah yang menjadi sebab
mengapa mereka yang memiliki hubungan suci dengan Allah Swt.
selalu sibuk dengan istighfar.
Sudah menjadi karakteristik dari suatu hubungan kecintaan bahwa seorang pencinta hakiki akan selalu ketakutan kalau yang dikasihinya sampai jengkel kepadanya. Kalbunya akan selalu mendambakan keridhaan Allah Swt..
Sebagaimana seorang peminum anggur tidak pernah puas minum
hanya sekali saja, begitu juga bila kasih kepada
Allah Swt. marak di
dalam hati seseorang, hatinya akan terus
menerus mengharapkan keridhaan Tuhan berulang-kali dan terus menerus.
Kadar
intensitas (kesangatan) kasih
Ilahi ini menjadikan seseorang bertambah tekun memusatkan fikirannya pada beristighfar. Salah satu tanda seorang yang dianggap suci
adalah ia terlihat lebih banyak beristighfar dibanding orang lain.
Makna hakiki istighfar adalah permohonan kepada Tuhan bahwa melalui berkat
rahmat-Nya maka kelemahan manusiawi yang mungkin menjerumuskan dirinya semoga ditutupi dan dipelihara. Makna istighfar jika diperluas
bagi manusia awam lainnya, mengandung arti sebagai permohonan kepada Tuhan dengan harapan
semoga kesalahan apa pun yang
telah terjadi kiranya Tuhan berkenan memelihara si pemohon dari segala akibat
buruknya, baik di dunia ini maupun di akhirat.
Dengan
demikian jelas bahwa Sumber
dari keselamatan
hakiki
adalah kecintaan
kepada Tuhan,
dimana yang bersangkutan akan dapat menarik kasih Allah Swt. kepadanya melalui laku rendah hati, berdoa dan selalu beristighfar. Jika kecintaan manusia kepada Tuhan-nya menjadi sempurna yang membakar
habis nafsu-nafsu
kemanusiaannya,
maka kasih
Allah Swt.
akan turun ke dalam hatinya
yang akan menariknya keluar dari kubangan kehidupan berharkat
rendah.
Ia
selanjutnya akan memperoleh warna kesucian Allah Yang Maha Hidup (Al-Hayyu) dan Yang
Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum).
Melalui pantulan refleksi ia akan memperoleh semua fitrat
Ilahi. Ia akan menjadi manifestasi (perwujudan) dari refleksi
Ilahi, dan melalui dirinya maka semua rahasia tersembunyi dan latent dari khazanah abadi Rabubiyat
dibukakan kepada dunia.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine
Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani
Khazain, jld. XX, hlm. 378-380, London, 1984).
Bukti Ketidak-bersalahan
Nabi Adam a.s. dan Nabi Musa a.s.
Berbagai penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai tanda-tanda
para kekasih Allah Swt. atau para wali Allah yang hakiki tersebut
sesuai dengan kesaksian Al-Quran, misalnya
pengakuan dan taubat
Nabi Adam a.s. atas kelalaiannya
terhadap peringatan Allah Swt. mengenai
“pohon terlarang” (QS.2:37-38;
QS.7:20-24; QS.20:121-123); pengakuan
Nabi Musa a.s. yang tanpa sengaja
membuat terbunuh seorang Mesir dengan satu pukulan tangan (QS.20:41; QS.28:34; QS.40:15-18), sehingga
peristiwa dijadikan alasan oleh Fir’aun untuk menuduh
Nabi Musa a.s. sebagai orang yang tidak
tahu bersyukur (QS.26:19-23).
Tetapi sekalipun keduanya
melakukan “kekeliruan” namun
dalam kenyataannya Allah Swt. malah menjadikan
Adam dan Musa sebagai rasul
Allah. Hal tersebut membuktikan perbuatan yang dilakukan oleh kedua wujud suci tersebut dalam pandangan Allah Swt. bukan
merupakan dosa karena sama sekali tidak dilandasi dengan niat (tekad), namun demikian wujud-wujud suci seperti itu tetap memohon “maghfirah Ilahi”, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ اِلٰۤی اٰدَمَ
مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ وَ لَمۡ
نَجِدۡ لَہٗ عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan sungguh
Kami benar-benar telah membuat
perjanjian dengan Adam sebelum
ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad untuk berbuat dosa. (Thā Hā 20]:116).
Kemudian
mengenai tuduhan Fir’aun bahwa Nabi
Musa a.s. adalah orang yang tidak tahu
bersyukur telah dijawab oleh Nabi
Musa a.s. sehingga membuat Fir’aun bungkam
dan mengajukan sanggahan provokatif lainnya, Dia berfirman:
قَالَ
اَلَمۡ نُرَبِّکَ فِیۡنَا وَلِیۡدًا وَّ
لَبِثۡتَ فِیۡنَا مِنۡ عُمُرِکَ سِنِیۡنَ
﴿ۙ﴾ وَ فَعَلۡتَ فَعۡلَتَکَ الَّتِیۡ فَعَلۡتَ وَ اَنۡتَ
مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾ قَالَ
فَعَلۡتُہَاۤ اِذًا وَّ اَنَا مِنَ
الضَّآلِّیۡنَ ﴿ؕ﴾ فَفَرَرۡتُ
مِنۡکُمۡ لَمَّا خِفۡتُکُمۡ فَوَہَبَ لِیۡ رَبِّیۡ حُکۡمًا وَّ جَعَلَنِیۡ
مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾ وَ تِلۡکَ
نِعۡمَۃٌ تَمُنُّہَا عَلَیَّ اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Fir’aun berkata: “Ya Musa, bukankah kami telah memelihara engkau di antara kami ketika engkau kanak-kanak, dan engkau benar-benar telah tinggal di antara
kami beberapa tahun dalam hidup engkau. وَ فَعَلۡتَ
فَعۡلَتَکَ الَّتِیۡ فَعَلۡتَ وَ اَنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ -- Dan engkau
telah melakukan perbuatan yang
pernah engkau lakukan itu dan engkau dari antara orang yang tidak
berterimakasih. قَالَ فَعَلۡتُہَاۤ اِذًا وَّ اَنَا
مِنَ الضَّآلِّیۡنَ -- Musa
berkata: “Aku telah melakukannya demikian dan ketika itu aku dalam keadaan kalut. فَفَرَرۡتُ
مِنۡکُمۡ لَمَّا خِفۡتُکُمۡ فَوَہَبَ لِیۡ رَبِّیۡ حُکۡمًا وَّ جَعَلَنِیۡ
مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ -- Maka aku
melarikan diri dari kamu tatkala aku
takut kepadamu, lalu Rabb-ku (Tuhan-ku)
menganugerahkan kepadaku hikmah dan menjadikan aku seorang dari
rasul-rasul. وَ تِلۡکَ نِعۡمَۃٌ تَمُنُّہَا عَلَیَّ اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan apakah
nikmat pemeliharaan yang engkau telah memberikannya kepadaku itu sehingga eng-au beralasan telah
memperbudak Bani Israil?” (Asy-Syu’arā
[26]:19-23).
Yang
dimaksud dalam tuduhan Fir’aun dalam ayat
19
adalah seorang bangsa Mesir yang
telah terbunuh oleh Nabi Musa a.s.. Fir’aun menganggap diri dan
bangsanya -- bangsa Mesir --
sebagai tokoh-tokoh yang bermurah
hati terhadap bangsa Bani Israil,
dan menuduh Nabi Musa a.s. sangat tidak tahu balas budi, yang terbukti
dengan membunuh seorang bangsa Mesir.
Berbagai Arti Kata Dhalla
Kemudian mengenai makna kata dhall dalam
jawaban Nabi Musa a.s.: قَالَ فَعَلۡتُہَاۤ اِذًا وَّ اَنَا
مِنَ الضَّآلِّیۡنَ -- Musa
berkata: “Aku telah melakukannya demikian
dan ketika itu aku dalam keadaan
kalut” berasal dari kata dhalla
yang berarti: ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan; ia berada dalam keadaan
pikiran kalut; ia tenggelam dalam kecintaan (Lexicon Lane).
Ketika orang Israil itu memanggil Nabi Musa a.s. dan minta menolongnya terhadap orang Mesir, beliau
tidak tahu apa yang harus
beliau lakukan, oleh karena hasrat beliau besar sekali untuk menolong orang
Israil yang malang dan tidak berdaya itu (QS.28:16-21) lalu beliau memberi pukulan keras sehingga membuat orang itu mati terkapar.
Kematian itu tidak terduga
sebab satu pukulan dengan tinju biasanya tidak menyebabkan kematian seseorang. Atau ayat ini dapat juga diartikan, bahwa disebabkan oleh besarnya kecintaan Nabi Musa a.s. kepada orang-orang tertindas, beliau datang menolong orang Israil dan meninju
orang Mesir itu, sehingga mengakibatkan kematiannya.
Atau artinya ialah bahwa beliau melakukan hal itu, karena tidak menginsyafi akibat-akibatnya.
Hakikat bahwa sesudah membunuh orang Mesir itu Nabi Musa a.s. melarikan diri, lalu Allah Swt. mengangkat
beliau sebagai seorang nabi —sungguh
suatu nikmat Ilahi yang besar sekali—
merupakan suatu bukti bahwa apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa a.s. itu adalah suatu perbuatan yang tidak
disengaja dan dilakukan karena dorongan
hati yang terbetik secara tiba-tiba.
Dalam
ayat selanjutnya dilukiskan bagaimana kata Nabi Musa a.s. terhadap teguran lancang dari Fir’aun,
bahwa seyogianya Fir’aun sendiri harus malu atas perkataannya menyinggung-nyinggung suatu kebaikan yang dalam pikirannya ia telah
lakukan terhadap kaum Bani Israil, sebab ia (Fir’aun) telah meringkus mereka dari generasi ke generasi di dalam belenggu perbudakan yang nista dan
rendah, dan telah membunuh segala
nilai kemuliaan, prakarsa, dan hasrat di
dalam diri mereka untuk bangun menjadi bangsa
yang terhormat: وَ تِلۡکَ
نِعۡمَۃٌ تَمُنُّہَا عَلَیَّ اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ -- Dan apakah
nikmat pemeliharaan yang engkau telah memberikannya kepadaku itu sehingga eng-au beralasan telah
memperbudak Bani Israil?”
Jawaban
Nabi Musa a.s. kepada Fir’aun, sebagaimana tersebut dalam ayat
sebelumnya rupa-rupanya telah membut dia amat kebingungan, sehingga ia tiba-tiba mengalihkan pokok
pembicaraan sambil berusaha melibatkan
Nabi Musa a.s. dalam soal-jawab yang berhubungan dengan masalah-masalah gaib, tentang asal dan Wujud Dzat Ilahi serta Sifat-sifat-Nya,
firman-Nya:
قَالَ فِرۡعَوۡنُ وَ مَا
رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
Fir’aun berkata: ”Dan apakah Rabb
(Tuhan) seluruh alam itu?” (Asy-Syu’arā
[26]:24).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 16 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar