Selasa, 18 Oktober 2016

Meraih "Najat" (Keselamatan) Melalui "Kecintaan" yang Hakiki Kepada Allah Swt. & Bukti "Ketidak-bersalahan" Nabi Adam a.s. dan Nabi Musa a.s.


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 38

MERAIH NAJAT (KESELAMATAN) MELALUI KECINTAAN YANG HAKIKI KEPADA ALLAH SWT.  & BUKTI KETIDAK-BERSALAHAN NABI ADAM A.S. DAN NABI MUSA A.S.  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 37  dikemukakan   mengenai    makna kata-kata yang diletakkan dalam mulut orang-orang Saba'  dalam ayat: فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا   --  “lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami”  (QS.34:20), ucapan tersebut   sesungguhnya menggambarkan keadaan mereka yang sebenarnya, ketika mereka membangkang dan mengingkari perintah-perintah Allah Swt., dan sebagai akibatnya mereka jadi binasa:  وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  -- dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnya” (QS.34:20), firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ  اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ ﴿٪﴾
Sungguh  bagi kaum Saba'  benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai.  Kami berfirman:  کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ   --Makanlah rezeki dari   Rabb (Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya.  بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah dan  Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.”  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ  --       Dan Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur. Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur. وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ  --  Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan antara kota-kota yang telah Kami  berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan  di antara kota-kota itu,  Kami berfirman:  سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ  -- Berjalanlah di dalamnya dengan aman malam dan siang.”  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا   --  Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,”  وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  -- dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnyaاِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ --  Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi setiap orang yang bersabar dan bersyukur. وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ   --  Dan  sungguh  iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,  maka  mereka mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --   kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ  --     Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka,  melainkan supaya Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan mengenainya, وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ  --  dan Rabb (Tuhan) engkau adalah Pemelihara atas segala sesuatu. (As-Sabā’ [34]:16-20).

Akibat Buruk Ketidak-bersyukuran Kaum Saba’

     Jalan yang tadinya makmur dan ramai dilalui orang kemudian  menjadi sunyi senyap. Kata-kata “Jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,” berarti bahwa sebab banyak kota di sepanjang jalan yang menjadi puing-puing, jarak di antara satu perhentian dengan perhentian lainnya menjadi lebih jauh dan tidak  aman. Kaum  Saba' menjadi hancur sama sekali sehingga tiada tanda atau bekas yang ditinggalkan mereka. Mereka itu hanya menjadi bahan ceritera belaka bagi para juru dongeng.
      Makna pernyataan Allah Swt. dalam ayat selanjutnya:  وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ   --  “dan  sungguh  iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,  maka  mereka mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --     kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman” (QS.34:21).  Orang-orang Saba’ dengan perbuatan durhaka mereka menggenapi sangkaan syaitan (iblis – QS.7:17-19) bahwa ia akan berhasil menyesatkan mereka.
     Penyebutan mengenai sangkaan syaitan (iblis) mengenai orang-orang durhaka dan perbuatan jahat mereka ini dapat dijumpai di dalam QS.17:63; di tempat itu syaitan disebut mengatakan bahwa ia akan menyebabkan keturunan Adam binasa, kecuali beberapa dari antara mereka.
      Makna ayat:   اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --   “kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ  --     Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka,  melainkan supaya Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan mengenainya.” (QS.34:22).
     Syaitan tidak mempunyai kekuasaan atas manusia (QS.14:23; 43; QS,16:100; QS.17:66), adalah karena kepercayaan yang sesat dan perbuatannya yang buruk saja  manusia mendatangkan kehancuran dalam kehidupan ruhaninya. Itulah sebabnya syaitan  di alam akhirat   akan berlepas-tangan terhadap tuntutan orang-orang yang berhasil disesatkannya (QS.7:39-40; QS.28:64-67; QS.33:67-69; QS.34:32-34; QS.40:48-51).
     Demikianlah berbagai hikmah yang terkandung dalam kisah kaum Saba setelah meninggalnya Ratu Saba, yang   beriman  kepada Tauhid Ilahi melalui “da’wah”  Nabi Sulaiman a.s.  yang unik  yakni pembuatan “singgasana” yang lebih indah dan “istana berlantai kaca bening” (QS.27:16-45), firman-Nya:
لَقَدۡ کَانَ لِسَبَاٍ  فِیۡ مَسۡکَنِہِمۡ اٰیَۃٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنۡ یَّمِیۡنٍ وَّ شِمَالٍ ۬ؕ کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ ؕ بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ ﴿﴾  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ ﴿﴾  ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ ﴿﴾  وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ ؕ سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ ﴿﴾  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ ؕ اِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ ﴿﴾  وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ  اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ ﴿﴾  وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ ؕ وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ ﴿٪﴾
Sungguh  bagi kaum Saba'  benar-benar terdapat satu Tanda besar di tanah air mereka, yaitu dua kebun  di sebelah kanan dan di kiri sungai.  Kami berfirman:  کُلُوۡا مِنۡ رِّزۡقِ رَبِّکُمۡ وَ اشۡکُرُوۡا لَہٗ   --Makanlah rezeki dari   Rabb (Tuhan) kamu dan berterima kasihlah kepada-Nya.  بَلۡدَۃٌ طَیِّبَۃٌ   وَّ  رَبٌّ غَفُوۡرٌ -- Negeri yang indah dan  Rabb (Tuhan)  Maha Pengampun.”  فَاَعۡرَضُوۡا فَاَرۡسَلۡنَا عَلَیۡہِمۡ سَیۡلَ الۡعَرِمِ  -- Tetapi mereka itu berpaling maka Kami kirimkan kepada mereka banjir dahsyat yang membinasakan. وَ بَدَّلۡنٰہُمۡ بِجَنَّتَیۡہِمۡ جَنَّتَیۡنِ ذَوَاتَیۡ  اُکُلٍ خَمۡطٍ وَّ اَثۡلٍ وَّ شَیۡءٍ مِّنۡ سِدۡرٍ قَلِیۡلٍ  --       Dan Kami mengganti kedua kebun mereka itu dengan dua kebun yang   berbuah buah-buahan pahit, pohon cemara dan sedikit pohon bidara. ذٰلِکَ جَزَیۡنٰہُمۡ  بِمَا کَفَرُوۡا ؕ وَ ہَلۡ نُجٰزِیۡۤ   اِلَّا الۡکَفُوۡرَ  -- Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena mereka tidak bersyukur.  Dan tidaklah Kami membalas seperti itu kecuali kepada orang-orang yang sangat tidak bersyukur. وَ جَعَلۡنَا بَیۡنَہُمۡ وَ بَیۡنَ الۡقُرَی الَّتِیۡ بٰرَکۡنَا فِیۡہَا قُرًی ظَاہِرَۃً  وَّ قَدَّرۡنَا فِیۡہَا السَّیۡرَ  --  Dan Kami telah menjadikan antara mereka dan antara kota-kota yang telah Kami  berkati di dalamnya menjadi kota-kota yang berdekatan, dan telah Kami tetapkan perhentian perjalanan  di antara kota-kota itu,  Kami berfirman:  سِیۡرُوۡا فِیۡہَا لَیَالِیَ وَ اَیَّامًا  اٰمِنِیۡنَ  -- Berjalanlah di dalamnya dengan aman malam dan siang.”  فَقَالُوۡا رَبَّنَا بٰعِدۡ بَیۡنَ  اَسۡفَارِنَا   --  Lalu mereka berkata: “Ya Rabb (Tuhan) kami, jauhkanlah jarak di antara perjalanan kami,”  وَ ظَلَمُوۡۤا اَنۡفُسَہُمۡ فَجَعَلۡنٰہُمۡ  اَحَادِیۡثَ وَ مَزَّقۡنٰہُمۡ کُلَّ مُمَزَّقٍ  -- dan mereka menzalimi diri sendiri maka Kami menjadikan mereka buah mulut (cerita) dan Kami menghancurkan mereka sehancur-hancurnyaاِنَّ  فِیۡ  ذٰلِکَ لَاٰیٰتٍ لِّکُلِّ  صَبَّارٍ  شَکُوۡرٍ --  Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat Tanda-tanda bagi setiap orang yang bersabar dan bersyukur. وَ لَقَدۡ صَدَّقَ عَلَیۡہِمۡ  اِبۡلِیۡسُ ظَنَّہٗ فَاتَّبَعُوۡہُ   --  Dan  sungguh  iblis benar-benar telah menggenapi sangkaannya mengenai mereka,  maka  mereka mengikutinya, اِلَّا فَرِیۡقًا مِّنَ الۡمُؤۡمِنِیۡنَ  --   kecuali segolongan dari orang-orang yang beriman. وَ مَا کَانَ لَہٗ  عَلَیۡہِمۡ  مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّا لِنَعۡلَمَ مَنۡ یُّؤۡمِنُ بِالۡاٰخِرَۃِ  مِمَّنۡ ہُوَ مِنۡہَا فِیۡ شَکٍّ  --     Tetapi ia sekali-kali tidak memiliki kekuasaan atas mereka,  melainkan supaya Kami dapat mengetahui orang-orang yang beriman kepada akhirat dari orang-orang yang masih dalam keraguan mengenainya, وَ رَبُّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ حَفِیۡظٌ  --  dan Rabb (Tuhan) engkau adalah Pemelihara atas segala sesuatu. (As-Sabā’ [34]:16-20).

Meraih Najat (Keselamatan) Melalui Kecintaan Kepada  Allah Swt.

     Melanjutkan pembahasan hubungan antara maghfirah dan taubat dengan najat (keselamatan) di dunia dan di akhirat selanjutnya Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
     Di samping pemahaman, yang dibutuhkan bagi najat (keselamatan) manusia adalah kecintaan kepada Allah Swt.. Kiranya jelas bahwa tidak ada siapa pun yang akan mengazab orang lain yang mencintai dirinya.Sebab  kecintaan akan menarik kasih kepada dirinya.
    Jika seseorang mencintai seorang lain secara tulus, dan meskipun ia tidak memberitahukan rasa kasihnya kepada yang bersangkutan, sekurang-kurangnya akan berakibat pada keadaan bahwa ia tidak akan memusuhi orang yang dikasihinya. Karena itulah dikatakan bahwa sebuah hati memiliki kecenderungan kepada hati lainnya.
     Daya tarik yang dimiliki para nabi dan rasul sehingga ribuan  manusia tertarik kepada mereka serta mengasihi mereka sedemikian rupa sehingga bersedia mengorbankan jiwa raganya, adalah karena hati para wujud suci tersebut dipenuhi oleh rasa welas asih kepada manusia melebihi dari kasih seorang ibu kepada anaknya. Para wujud suci tersebut bersedia menderita sakit dan kesulitan demi kemaslahatan umatnya. Daya tarik diri mereka lalu menarik hati-hati yang suci ke arah mereka.
     Bila seorang manusia menyadari adanya rasa kasih dari manusia lain kepada dirinya, bagaimana mungkin dengan Yang Maha Kuasa, Yang mengetahui segala hal yang tersembunyi  bisa menjadi tidak mengetahui adanya kasih yang tulus dari salah satu makhluk-Nya?
    Kecintaan adalah suatu hal yang ajaib.  Kehangatan api kecintaan demikian bisa mengatasi api dosa dan memadamkan nyala kedurhakaan di hati manusia.      Kasih yang bersifat tulus, langsung dan sempurna tidak mungkin ada berdampingan dengan pengazaban.
    Salah satu tanda dari kasih hakiki adalah menjadi bagian dari fitrat dirinya untuk takut berpisah dengan kekasihnya. Ia akan merasa dirinya karam jika sampai melakukan kesalahan sekecil apa pun, dan menganggap sebagai racun yang pahit untuk menentang sang kekasih.
    Sang pencinta ini akan selalu merindukan pertemuan dengan kekasih, dan menganggap kejauhan dirinya sebagai siksaan yang sepertinya membawa kematian. Jangankan   melakukan dosa dalam pengertian manusia biasa --  seperti membunuh, berzinah, mencuri, bersaksi palsu  -- bahkan sampai terjadi kelalaian kecil saja baginya sudah merupakan dosa akbar. Selain Wujud Tuhan, ia tidak mempunyai kecenderungan apa pun lainnya lagi. Ia akan selalu menyibukkan diri dengan istighfar di hadapan Yang Maha Abadi.
     Karena batinnya tidak pernah bisa menerima rasa keterpisahan dengan Allah Yang Maha Agung, ia akan menganggap kelalaian sekecil apa pun akibat fitrat manusiawinya sebagai dosa sebesar gunung. Itulah yang menjadi sebab mengapa mereka yang memiliki hubungan suci dengan Allah Swt. selalu sibuk dengan istighfar.
      Sudah menjadi karakteristik dari suatu hubungan kecintaan bahwa seorang pencinta hakiki akan selalu ketakutan kalau yang dikasihinya sampai jengkel kepadanya. Kalbunya akan selalu mendambakan keridhaan Allah Swt.. Sebagaimana seorang peminum anggur tidak pernah puas minum hanya sekali saja, begitu juga bila kasih kepada Allah Swt. marak di dalam hati seseorang, hatinya akan terus menerus mengharapkan keridhaan Tuhan berulang-kali dan terus menerus.
     Kadar intensitas (kesangatan) kasih Ilahi ini menjadikan seseorang bertambah tekun memusatkan fikirannya pada beristighfar. Salah satu tanda seorang yang dianggap suci adalah ia terlihat lebih banyak beristighfar dibanding orang lain.
    Makna hakiki   istighfar adalah permohonan kepada Tuhan bahwa melalui berkat rahmat-Nya maka kelemahan manusiawi yang mungkin menjerumuskan dirinya  semoga ditutupi dan dipelihara.   Makna   istighfar jika diperluas bagi manusia awam lainnya, mengandung arti sebagai permohonan kepada Tuhan dengan harapan semoga kesalahan apa pun yang telah terjadi  kiranya Tuhan berkenan memelihara si pemohon dari segala akibat buruknya, baik di dunia ini maupun di akhirat.
   Dengan demikian jelas bahwa Sumber dari keselamatan hakiki adalah kecintaan kepada Tuhan, dimana yang bersangkutan akan dapat menarik kasih Allah Swt. kepadanya melalui laku rendah hati, berdoa dan selalu beristighfar. Jika kecintaan manusia kepada Tuhan-nya menjadi sempurna yang membakar habis nafsu-nafsu kemanusiaannya, maka kasih Allah Swt. akan turun ke dalam hatinya yang akan menariknya keluar dari kubangan kehidupan berharkat rendah.
    Ia selanjutnya akan memperoleh warna kesucian Allah Yang Maha Hidup (Al-Hayyu) dan Yang Tegak dengan Dzat-Nya Sendiri (Al-Qayyum). Melalui pantulan refleksi ia akan memperoleh semua fitrat Ilahi. Ia akan menjadi manifestasi (perwujudan) dari refleksi Ilahi, dan melalui dirinya maka semua rahasia tersembunyi dan latent dari khazanah abadi Rabubiyat dibukakan kepada dunia.” (Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, jld. XX, hlm. 378-380, London, 1984).

Bukti Ketidak-bersalahan Nabi Adam a.s. dan Nabi Musa a.s.

     Berbagai penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai tanda-tanda para kekasih Allah Swt. atau para wali Allah yang hakiki tersebut sesuai dengan  kesaksian Al-Quran, misalnya  pengakuan  dan taubat Nabi Adam a.s. atas kelalaiannya terhadap peringatan Allah Swt. mengenai “pohon terlarang” (QS.2:37-38; QS.7:20-24; QS.20:121-123); pengakuan Nabi Musa a.s. yang tanpa sengaja membuat terbunuh seorang Mesir  dengan satu pukulan tangan (QS.20:41; QS.28:34; QS.40:15-18), sehingga peristiwa  dijadikan alasan oleh Fir’aun untuk menuduh Nabi Musa a.s. sebagai orang yang tidak tahu bersyukur (QS.26:19-23).
   Tetapi sekalipun  keduanya  melakukan “kekeliruan” namun dalam kenyataannya Allah Swt. malah menjadikan  Adam dan Musa   sebagai rasul Allah. Hal tersebut membuktikan  perbuatan yang dilakukan oleh kedua wujud suci tersebut dalam pandangan Allah Swt. bukan merupakan  dosa  karena sama sekali tidak dilandasi dengan niat (tekad),  namun demikian wujud-wujud suci seperti itu tetap memohon “maghfirah Ilahi”, firman-Nya:
وَ لَقَدۡ عَہِدۡنَاۤ  اِلٰۤی اٰدَمَ مِنۡ قَبۡلُ فَنَسِیَ  وَ  لَمۡ  نَجِدۡ  لَہٗ  عَزۡمًا ﴿﴾٪
Dan  sungguh  Kami benar-benar telah membuat perjanjian dengan Adam sebelum ini tetapi ia telah lupa dan Kami tidak mendapatkan padanya tekad  untuk berbuat dosa. (Thā Hā  20]:116).
  Kemudian mengenai tuduhan Fir’aun bahwa Nabi Musa a.s. adalah orang yang tidak tahu bersyukur  telah dijawab oleh Nabi Musa a.s. sehingga membuat Fir’aun bungkam dan mengajukan sanggahan provokatif  lainnya, Dia berfirman:
قَالَ اَلَمۡ  نُرَبِّکَ فِیۡنَا وَلِیۡدًا وَّ لَبِثۡتَ فِیۡنَا مِنۡ عُمُرِکَ  سِنِیۡنَ ﴿ۙ﴾  وَ فَعَلۡتَ فَعۡلَتَکَ الَّتِیۡ فَعَلۡتَ وَ اَنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ ﴿﴾  قَالَ فَعَلۡتُہَاۤ  اِذًا وَّ اَنَا مِنَ الضَّآلِّیۡنَ ﴿ؕ﴾  فَفَرَرۡتُ مِنۡکُمۡ  لَمَّا خِفۡتُکُمۡ  فَوَہَبَ لِیۡ رَبِّیۡ حُکۡمًا وَّ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ ﴿﴾  وَ تِلۡکَ نِعۡمَۃٌ  تَمُنُّہَا عَلَیَّ  اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ ﴿ؕ﴾
Fir’aun berkata: “Ya Musa, bukankah kami telah memelihara  engkau  di antara kami ketika engkau kanak-kanak, dan engkau benar-benar telah tinggal di antara kami beberapa tahun dalam hidup engkau. وَ فَعَلۡتَ فَعۡلَتَکَ الَّتِیۡ فَعَلۡتَ وَ اَنۡتَ مِنَ الۡکٰفِرِیۡنَ  -- Dan engkau telah melakukan perbuatan yang pernah engkau lakukan  itu dan engkau dari antara orang yang tidak berterimakasih. قَالَ فَعَلۡتُہَاۤ  اِذًا وَّ اَنَا مِنَ الضَّآلِّیۡنَ  --   Musa berkata: “Aku telah melakukannya  demikian dan ketika itu aku dalam keadaan kalut. فَفَرَرۡتُ مِنۡکُمۡ  لَمَّا خِفۡتُکُمۡ  فَوَہَبَ لِیۡ رَبِّیۡ حُکۡمًا وَّ جَعَلَنِیۡ مِنَ الۡمُرۡسَلِیۡنَ  --     Maka aku melarikan diri dari kamu tatkala aku takut kepadamu, lalu Rabb-ku (Tuhan-ku) menganugerahkan kepadaku hikmah dan menjadikan aku seorang dari rasul-rasul.   وَ تِلۡکَ نِعۡمَۃٌ  تَمُنُّہَا عَلَیَّ  اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  Dan apakah nikmat pemeliharaan   yang  engkau telah memberikannya  kepadaku itu sehingga eng-au beralasan  telah memperbudak Bani Israil?”   (Asy-Syu’arā [26]:19-23).
      Yang dimaksud dalam tuduhan Fir’aun dalam ayat  19   adalah seorang bangsa Mesir yang telah terbunuh oleh  Nabi Musa a.s.. Fir’aun menganggap diri dan bangsanya -- bangsa Mesir  --  sebagai tokoh-tokoh yang bermurah hati terhadap bangsa Bani Israil, dan menuduh Nabi Musa a.s. sangat tidak tahu balas budi, yang terbukti dengan membunuh seorang bangsa Mesir.

Berbagai Arti Kata Dhalla

       Kemudian mengenai makna kata dhall dalam jawaban Nabi Musa a.s.: قَالَ فَعَلۡتُہَاۤ  اِذًا وَّ اَنَا مِنَ الضَّآلِّیۡنَ  --   Musa berkata:  “Aku telah melakukannya  demikian dan ketika itu aku dalam keadaan kalut”   berasal dari kata dhalla yang berarti: ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan; ia berada dalam keadaan pikiran kalut; ia tenggelam dalam kecintaan (Lexicon Lane).
      Ketika orang Israil itu memanggil Nabi Musa a.s.  dan minta menolongnya terhadap orang Mesir, beliau   tidak tahu apa yang harus beliau lakukan, oleh karena hasrat beliau besar sekali untuk menolong orang Israil yang malang dan tidak berdaya itu (QS.28:16-21) lalu  beliau memberi pukulan keras sehingga membuat orang itu mati terkapar.
    Kematian itu tidak terduga sebab satu pukulan dengan tinju biasanya tidak menyebabkan kematian seseorang. Atau ayat ini dapat juga diartikan,  bahwa disebabkan oleh besarnya kecintaan Nabi Musa a.s. kepada orang-orang tertindas, beliau datang menolong orang Israil dan meninju orang Mesir itu, sehingga mengakibatkan kematiannya. Atau artinya ialah bahwa beliau melakukan hal itu, karena tidak menginsyafi akibat-akibatnya.
       Hakikat bahwa sesudah membunuh orang Mesir itu Nabi Musa a.s.  melarikan diri, lalu Allah Swt. mengangkat beliau sebagai seorang nabi —sungguh suatu nikmat Ilahi yang besar sekali— merupakan suatu bukti  bahwa apa yang telah dilakukan oleh Nabi Musa a.s. itu adalah suatu perbuatan yang tidak disengaja dan dilakukan karena dorongan hati yang terbetik secara tiba-tiba.
     Dalam ayat selanjutnya dilukiskan bagaimana kata Nabi Musa a.s.  terhadap teguran lancang dari Fir’aun, bahwa seyogianya Fir’aun sendiri harus malu atas perkataannya  menyinggung-nyinggung suatu kebaikan yang dalam pikirannya ia telah lakukan terhadap kaum Bani Israil,  sebab ia (Fir’aun) telah meringkus mereka dari generasi ke generasi di dalam belenggu perbudakan yang nista dan rendah, dan telah membunuh segala nilai kemuliaan, prakarsa, dan hasrat di dalam diri mereka untuk bangun menjadi bangsa yang terhormat: وَ تِلۡکَ نِعۡمَۃٌ  تَمُنُّہَا عَلَیَّ  اَنۡ عَبَّدۡتَّ بَنِیۡۤ   اِسۡرَآءِیۡلَ --  Dan apakah nikmat pemeliharaan   yang  engkau telah memberikannya  kepadaku itu sehingga eng-au beralasan  telah memperbudak Bani Israil?”   
     Jawaban Nabi Musa a.s.  kepada Fir’aun, sebagaimana tersebut dalam ayat sebelumnya rupa-rupanya telah membut dia amat kebingungan, sehingga ia tiba-tiba mengalihkan pokok pembicaraan  sambil berusaha melibatkan Nabi Musa a.s.  dalam soal-jawab yang berhubungan dengan masalah-masalah gaib, tentang asal dan Wujud Dzat Ilahi serta Sifat-sifat-Nya, firman-Nya:
قَالَ فِرۡعَوۡنُ  وَ  مَا رَبُّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿ؕ﴾
 Fir’aun berkata:   ”Dan apakah  Rabb (Tuhan) seluruh  alam itu?”    (Asy-Syu’arā [26]:24).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo

Pajajaran Anyar, 16 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar