Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
36
CARA MENYELAMATKAN DIRI DARI DOSA & PENTINGNYA MELAKUKAN MI’RAJ RUHANI YANG DISUNNAHKAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. BERDASARKAN PETUNJUK SEMPURNA AL-QURAN
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 35
dikemukakan topiK Suri Teladan Sempurna Ke-Muslim-an Nabi Besar Muhammad Saw. Hal tersebut telah diperagakan
secara sempurna – baik dari segi kuantitasnya mau pun kualitasnya – oleh Nabi Besar Muhammad
saw. (QS.33:22), sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا
قِیَمًا مِّلَّۃَ اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا
ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ
رَبِّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ
وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا اَوَّلُ
الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku
(Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh, agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari orang-orang musyrik.” قُلۡ
اِنَّ صَلَاتِیۡ وَ نُسُکِیۡ وَ
مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ لِلّٰہِ رَبِّ
الۡعٰلَمِیۡنَ -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku, kehidupanku,
dan kematianku
hanyalah untuk Allah, Rabb (Tuhan) seluruh alam, لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ tidak
ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا
اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ
-- untuk itulah aku diperintahkan, dan akulah
orang pertama yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:162-164).
Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi
seluruh bidang amal perbuatan
manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw. disuruh menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt., semua
amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada Allah Swt., semua
pengorbanan dilakukan beliau saw. untuk
Dia; segala penghidupan dihibahkan
beliau saw. untuk berbakti
kepada-Nya, maka bila di jalan agama
beliau saw. mencari kematian maka itu pun guna meraih keridhaan-Nya.
Nubuatan dan Peringatan Bagi Umat Islam Sebagai “Umat
Terbaik”
Selanjutnya
Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya hanya menyembah Allah Swt. semata, tanpa
mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
pun:
قُلۡ
اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ
کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا
تَزِرُ وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ
فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ
فِیۡہِ تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ
جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ
لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰکُمۡ ؕ
اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۫ۖ
وَ اِنَّہٗ لَغَفُوۡرٌ
رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Katakanlah: ”Apakah aku akan mencari Rabb
(Tuhan) yang bukan-Allah, padahal Dia-lah
Rabb
(Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan
akan menimpa dirinya, dan tidak
pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain. Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat
kembalimu, maka Dia akan memberitahu
kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih. Dan Dia-lah
Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah
Dia berikan kepada kamu. Sesungguhnya
Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun,
Maha Penyayang. (Al-An’ām
[6]:165-166).
Seperti
halnya ayat-ayat QS.17:16; QS.53:40-41, ayat ini: وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ اِلَّا عَلَیۡہَا
-- “Dan tiada jiwa mengupayakan
sesuatu melainkan akan menimpa
dirinya, وَ لَا تَزِرُ
وَازِرَۃٌ وِّزۡرَ اُخۡرٰی -- dan tidak
pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain” mengandung sanggahan
keras terhadap ajaran Penebusan Dosa
dan secara tegas menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri, yaitu harus mempertanggungjawabkan
amal-perbuatannya sendiri kepada Allah Swt.. Pengorbanan dari siapa pun sebagai pengganti tidak akan memberi manfaat.
Ayat selanjutnya: وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ
الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ -- “Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu
penerus-penerus di bumi, dan Dia
meninggikan sebagian kamu dari
sebagian yang lain dalam derajat
لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ اٰتٰکُمۡ
-- supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah
Dia berikan kepada kamu.” Ayat ini sekaligus merupakan anjuran dan peringatan
kepada kaum Muslimin.
Mereka diberitahu bahwa kepada mereka akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan,
dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa
akan diserahkan ke tangan mereka. Mereka harus melaksanakan kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah dan adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban mereka kepada Wujud Yang Menjadikan mereka: اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ اِنَّہٗ
لَغَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ -- “Sesungguhnya Rabb
(Tuhan) engkau sangat cepat dalam
menghukum, dan sesungguhnya Dia
benar-benar Maha Pengampun, Maha
Penyayang.” (Al-An’am [6]:166).
Sehubungan dengan keharusan umat Islam (ksum Muslim) untuk tetap
berlaku adil – bahkan terhadap pihak-pihak
yang telah berlaku zalim terhadap
mereka – sebagai bentuk pelaksanaan maghfirah (pemberian ampun), Allah Swt.
berfirman:
یٰۤاَیُّہَا
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآئِرَ اللّٰہِ وَ لَا الشَّہۡرَ
الۡحَرَامَ وَ لَا الۡہَدۡیَ وَ لَا الۡقَلَآئِدَ وَ لَاۤ
آٰمِّیۡنَ الۡبَیۡتَ الۡحَرَامَ یَبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ
رِضۡوَانًا ؕ وَ اِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا ؕ وَ لَا یَجۡرِمَنَّکُمۡ
شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡکُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ
وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی ۪ وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی
الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾
Hai
orang-orang yang beriman, janganlah
mencemari Syiar-syiar Allah, dan jangan mencemari Bulan Haram,
dan jangan
mencemari binatang-binatang kurban, dan jangan
mencemari binatang-binatang kurban
yang ditandai kalung, وَ لَاۤ آٰمِّیۡنَ الۡبَیۡتَ
الۡحَرَامَ یَبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رِضۡوَانًا -- dan jangan mencemari yakni menghalangi orang-orang yang menziarahi Baitul Haram untuk mencari karunia dan keridhaan dari
Tuhan mereka. Tetapi apabila kamu telah melepas pakaian ihram maka kamu boleh berburu. وَ لَا یَجۡرِمَنَّکُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ
اَنۡ صَدُّوۡکُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ -- Dan janganlah kebencian sesuatu kaum kepada
kamu karena mereka telah menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram
mendorong kamu melampaui batas. وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی -- Dan
tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan
dan takwa, وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ -- dan
janganlah
kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ
شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ -- dan bertakwalah
kepada Allah, sesungguhnya siksaan
Allah sangat keras. (Al-Māidah
[5]:3).
Pentingnya Keninambungan Silsilah Khilafah Kenabian di
Kalangan Umat Islam
Petunjuk dan peringatan Allah Swt. tersebut di Akhir Zaman ini boleh dikatakan tidak
dilaksanakan oleh umat Islam di
Timur Tengah, sehingga akibatnya yang
terjadi adalah berbagai bentuk “kobaran api” kemurkaan Allah Swt.
yang tidak kunjung padam, yakni ketiadaan “maghfirah Ilahi”, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لِمَ
تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ کَبُرَ
مَقۡتًا عِنۡدَ اللّٰہِ اَنۡ
تَقُوۡلُوۡا مَا لَا تَفۡعَلُوۡنَ
﴿﴾ اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ
سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, mengapa kamu mengatakan apa
yang kamu tidak kerjakan? Adalah sesuatu
yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. اِنَّ اللّٰہَ
یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ صَفًّا کَاَنَّہُمۡ بُنۡیَانٌ
مَّرۡصُوۡصٌ -- Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun
rapat (Ash-Shaf
[61]:3-5).
Menurut ayat 3 perbuatan seorang Muslim
hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya. Bicara sombong dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.
Dalam ayat selanjutnya
dijelaskan bahwa orang-orang Islam (Muslim)
diharapkan tampil dalam barisan yang
rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan di bawah komando
pemimpin mereka, yang terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya
Tetapi suatu kaum yang berusaha menjadi satu
jemaat yang kokoh-kuat harus
mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan
satu rencana untuk mencapai tujuan itu. Dan itu di Akhir
Zaman ini hanya mungkin terjadi jika umat
Islam hanya dibawah satu pimpinan (imam) sebagai khalifah
Nabi Besar Muhammad saw. -- melanjutkan silsilah Khulafa-ur-Rasyidah yang terputus hingga Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.
akibat ketidak-bersyukuran
umat Islam sendiri -- firman-Nya:
وَعَدَ اللّٰہُ
الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ
عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ
الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ
مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ
یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ
شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman
dan ber-amal saleh di antara kamu لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ
کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ -- niscaya Dia akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi
ini sebagaimana Dia telah menjadikan
orang-orang yang sebelum mereka khalifah, وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ -- dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi
mereka, وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا -- dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah
ketakutan mereka. ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ
لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا -- Mereka akan menyembah-Ku dan mereka
tidak akan mempersekutukan se-suatu dengan-Ku, وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ -- dan barangsiapa kafir sesudah itu
mereka itulah orang-orang durhaka (An-Nūr [24]:56).
Hubungan Khilafah dengan Pertolongan
Allah Swt. dan “Maghfirah Ilahi”
Pernyataan Allah Swt dalam ayat: وَ لَیُمَکِّنَنَّ
لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی
لَہُمۡ -- dan
niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka
agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, وَ
لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ
اَمۡنًا -- dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah
ketakutan mereka” terkandung makna pertolongan Allah Swt. dan maghfirah-Nya,
sehingga akibatnya orang-orang beriman
hakiki akan dapat beribadah kepada Allah Swt. dengan aman dan tentram: ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا -- Mereka akan menyembah-Ku dan mereka
tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku.”
Adanya pertolongan Ilahi dan maghfirah-Nya
itulah yang membuat umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw. memenuhi
pernyataan Allah Swt. dalam
firman-Nya:
قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ ۙ کَمۡ
مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ ؕ وَ
اللّٰہُ مَعَ الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi orang-orang
yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka
akan menemui Allah berkata: کَمۡ مِّنۡ
فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً
کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ اللّٰہِ -- “Berapa banyak golongan yang sedikit
telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta
orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah [2]:250).
Di Akhir
Zaman ini walau pun jumlah umat Islam
di Timur Tengah sangat banyak sedangkan
penduduk negara Israel sangat sedikit tetapi mereka benar-benar tidak berdaya menghadapi “negara kecil” tersebut, sebabnya adalah umat Islam di Timur Tengah dalam keadaan terpecah-belah akibat tidak
mentaati perintah Allah Swt. untuk berpegang
teguh pada “Tali Allah” (QS.3:103-105),
sesuai firman-Nya: وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ
فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ -- dan barangsiapa kafir sesudah itu
mereka itulah orang-orang durhaka (An-Nūr [24]:56).
Sehubungan
dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud
a.s. – yaknu Khalifah Allah di Akhir Zaman ini -- menjelaskan mengenai satu-satunya cara menghindarkan diri dari dosa dan kedurhakaan:
“Mungkin ada yang bertanya bahwa jika
darah Yesus tidak bisa mensucikan manusia dari dosa (yang memang jelas tidak akan bisa), lalu apakah ada cara lain guna memperoleh pensucian dari dosa, mengingat hidup
bergelimang dosa itu lebih buruk daripada maut (kematian)?
Jawabanku atas pertanyaan ini -- yang dipertegas melalui pengalaman pribadiku sendiri – ialah bahwa sejak
manusia diciptakan di muka bumi sampai dengan sekarang ini
hanya ada satu cara guna menghindari
dosa
dan kedurhakaan. Cara itu adalah mencapai suatu pemahaman melalui argumentasi
yang meyakinkan
dan tanda-tanda Samawi yang cemerlang, yang semuanya lalu menjadikan Wujud Ilahi dimanifestasikan (dijelmakan) dimana yang bersangkutan bisa
menyadari
bahwa kemurkaan Tuhan itu merupakan api yang memusnahkan,
sedangkan melalui manifestasi
(penampakan) keindahan-Nya ia
menyadari adanya kenikmatan sempurna bersama Tuhannya.
Dengan kata lain, melalui pemahaman seperti itu maka semua tabir yang menutupi
akan disingkapkan
dari keindahan dan keagungan Wujud-Nya. Hanya inilah cara untuk mengekang
nafsu
dan manusia bisa mengalami perubahan di dalam dirinya.
Mendengar jawaban ini lalu banyak orang yang berkomentar: “Tidakkah kami ini beriman
kepada Tuhan, apakah kami ini tidak takut kepada-Nya, apakah bukan semua manusia -- dengan beberapa kekecualian --
semuanya mengimani Tuhan? Lalu mengapa masih
saja mereka melakukan berbagai laku dosa dan terlibat dalam
berbagai kekejian?”
Jawaban atas hal ini ialah keimanan itu suatu hal tersendiri sedangkan yang namanya pemahaman adalah hal lain lagi. Bukan karena keimanan maka seseorang menghindari laku dosa tetapi karena pemahaman
yang sempurna
melalui pengalaman rasa takut dan rasa
kasih kepada Tuhan-nya.
Seseorang mungkin bertanya: “Mengapa syaitan
mendurhaka
meskipun ia memiliki pemahaman yang sempurna?”
Jawabannya adalah karena syaitan tidak memiliki
pemahaman yang sempurna
yang hanya dikaruniakan kepada mereka yang beruntung saja.
Perbedaan Mempercayai Dengan
Memahami
Sudah menjadi bagian
dari fitrat manusia
bahwa dirinya dikendalikan oleh pengetahuan yang
dimilikinya
dan ia tidak akan menghancurkan dirinya sendiri ketika menyadari
godaan dari wujud syaitan
yang merugikan tersebut. Keimanan adalah meyakini sebagai natijah (akibat) dari berfikir baik tentang sesuatu,
sedangkan yang dimaksud dengan pemahaman adalah menyadari
sepenuhnya hal yang diimani tersebut.
Karena itu dosa dan pemahaman tidak
mungkin eksis
(ada) bersamaan di
dalam suatu kalbu sebagaimana malam dan siang tidak mungkin muncul bersamaan.
Sudah
menjadi kebiasaan umum dimana sesuatu yang dianggap berharga akan menarik minat orang kepadanya, sedangkan jika ada sesuatu yang merugikan maka orang cenderung menjauh. Sebagai
contoh, seseorang yang tidak mengetahui bahwa yang ada dalam genggamannya adalah racun arsenik, mungkin
saja akan menelannya karena dikira
sejenis obat. Namun seseorang
yang mengenal bentuk arsenik
tersebut pasti tidak akan mau mencicipinya meski hanya sekelumit kecil, karena sadar
bahwa hal itu akan membawanya segera pindah ke dunia lain. Begitu juga halnya jika
manusia menyadari secara pasti bahwa Tuhan itu memang eksis (ada) dan semua bentuk dosa akan
dihukum oleh-Nya,
maka secara otomatis ia akan meninggalkan segala
bentuk dosa.
Mungkin ada yang bertanya, bahwa meski kita
mengetahui
kalau Tuhan itu memang ada dan juga
tahu
bahwa laku dosa akan dihukum, namun tetap saja kita melakukan dosa, hal itu menunjukkan bahwa harus
ada cara lain guna menghindari dosa.
Jawabannya
adalah tetap sama dengan yang di
atas. Adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi ada orang yang menyadari
sepenuhnya
bahwa konsekwensi (akibat) dari laku
dosa
adalah suatu penghukuman yang bisa turun
seperti petir menyambar tetapi ia
tetap saja berani melakukan dosa. Ini adalah pandangan
filsafat yang tidak bisa dibantah
atau ada kekecualiannya.
Dosa dan Cara
Menghindarinya
Cobalah renungkan
secara mendalam, jika kalian merasa yakin pasti akan
dihukum
untuk suatu laku dosa maka kalian jelas tidak akan bertindak menyalahi keyakinan tersebut. Beranikah
kalian menjulurkan tangan ke dalam api?
Apakah kalian mau melompat dari puncak
sebuah gunung? Bersediakah kalian terjun
ke sumur yang dalam?
Maukah
kalian berbaring di hadapan kereta api
yang mendatang cepat? Beranikah kalian memasukkan
tangan ke dalam mulut harimau? Maukah kalian memberikan kaki kepada seekor anjing gila? Beranikah kalian berdiri di tempat yang sering sekali
disambar petir?
Tidakkah
kalian segera lari dari ruangan jika ada gejala atap rumah akan runtuh?
Apakah ada dari kalian yang tidak akan
melompat menjauh ketika melihat ada
ular berbisa di tempat tidurnya? Mungkinkah ada orang yang tidak mau lari keluar dari kamar tidurnya ketika menyadari ada api kebakaran?
Katakan kepadaku, mengapa kalian
melakukan semua itu dan melarikan diri dari segala hal yang membawa mudharat, tetapi tidak mau melepaskan diri dari dosa? Jawaban atas hal ini setelah melalui perenungan yang mendalam adalah
terdapatnya perbedaan pengetahuan di antara kedua
keadaan tersebut.
Dalam masalah yang berkaitan dengan dosa, pengetahuan sebagian besar manusia umumnya defektif (lemah) dan tidak
sempurna.
Mereka menganggap dosa sebagai suatu hal
yang buruk
tetapi tidak menganggapnya sebagaimana jika mereka melihat harimau ganas atau ular beracun.
Tersembunyi
dalam relung fikiran mereka pandangan bahwa hukuman bagi dosa itu bukan suatu hal yang pasti. Mereka
bahkan meragukan eksistensi (keberadaan)
Tuhan,
atau kalau pun mereka percaya pada eksistensi-Nya namun mereka
meragukan
apakah ruh manusia akan tetap ada setelah kematian, kalau pun terlepas dari kematian mereka masih meragukan apakah memang ada
hukuman atas dosa-dosa
yang dilakukannya.
Mereka
mungkin tidak menyadarinya, tetapi sebagian besar dari
manusia mempunyai pandangan seperti ini tersembunyi di relung fikirannya. Tetapi jika berkaitan dengan bahaya-bahaya sebagaimana dicontohkan
di atas, mereka merasa yakin bahwa jika
tidak menghindar
maka mereka akan binasa dan karena itulah mereka melarikan diri. Meskipun mereka menghadapi bahaya demikian hanya sesekali secara kebetulan, tetapi mereka tetap akan lari
tunggang langgang.
Kesia-siaan
Cerita-cerita “Mukjizat Fiktif”
Berkenaan dengan hal-hal seperti itu, manusia sedikit banyak mengetahui bahwa yang dihadapinya
itu akan membawa bahaya fatal baginya, tetapi jika berkaitan dengan kaidah agama maka pengetahuan mereka bersifat tidak
pasti
dan lebih banyak merupakan spekulasi. Di satu sisi adalah hal yang kasat mata sedangkan yang lainnya lebih banyak merupakan cerita-cerita zaman
dahulu.
Adapun
dosa tidak mungkin dihindari melalui cerita atau dongeng belaka. Aku bersumpah bahwa misalnya sampai pun 1000
sosok Yesus yang disalibkan,
tetap saja hal itu tidak akan membawa
keselamatan hakiki
bagi kalian. Hanya rasa takut dan rasa
kasih
yang sempurna kepada Tuhan yang dapat
menyelamatkan manusia dari
pagutan dosa.
Kewafatan Yesus di atas kayu salib sendiri merupakan suatu cerita
fiktif
dan apa pun permasalahannya tidak akan ada kaitannya dengan pengendalian arus
laku dosa.
Apa yang dinyatakan tersebut hanyalah suatu hal yang masih gelap sama sekali. Pengalaman
nyata di
dunia tidak mendukungnya, juga tidak ada terlihat keterkaitan di antara
tindakan ‘bunuh diri’ Yesus dengan pengampunan
dosa manusia
lainnya.
Falsafah keselamatan yang hakiki
mengandung arti bahwa manusia harus bisa
dilepaskan dari neraka berupa laku
dosa
ketika masih hidup di dunia sekarang
ini. Karena itu cobalah pertimbangkan apakah benar kalian telah diselamatkan dari neraka dosa ini melalui dongeng-dongeng
demikian yang tidak
didukung kebenaran
serta tidak ada hubungannya dengan keselamatan
hakiki.
Carilah di Timur dan di Barat maka kalian tidak akan menemukan ada orang yang bisa mencapai kesucian hakiki melalui
dongeng-dongeng
tersebut sampai kepada tingkatan bisa berhadapan
dengan Tuhan.
Tingkat komunikasi dengan Tuhan seperti itu akan menjadikan manusia menjadi jijik terhadap laku dosa dan lebih menyukai kenikmatan kebenaran
Samawi,
dimana kalbunya
jadi mencair seperti air yang mengalir sampai ke hadirat Ilahi diikuti turunnya nur dari langit
yang mengusir kegelapan dalam dirinya.
Jika kalian membuka jendela kamar kalian di hari yang cerah maka sinar
matahari akan masuk ke dalam kamar itu secara alamiah, tetapi jika
kalian menutup jendela tersebut maka sinar cahaya itu tidak akan mewujud hanya karena sebuah dongeng atau kisah belaka. Guna memperoleh terang maka kalian harus bangkit untuk membuka jendela agar sinar masuk menerangi kamar kalian.
Pentingnya Kepastian
“Pertemuan” Dengan Allah Swt.
Apakah mungkin seseorang meredakan rasa
hausnya
hanya dengan membayangkan rasanya air?
Jelas tidak. Seorang yang haus,
dengan satu dan lain cara harus bisa menghampiri suatu sumber mata air dan menyentuhkan bibirnya ke air tersebut barulah rasa hausnya akan mereda.
Demikian juga yang disebut sebagai air yang akan memuaskan dahaga kalian
serta memupus
rasa terbakar
akibat dosa adalah suatu kepastian.
Tidak ada cara lain di
bawah langit ini guna memunahkan dosa. Tidak ada kayu salib
yang bisa menyelamatkan kalian dari dosa. Tidak ada penumpahan darah yang mampu mengekang nafsu kalian. Semua hal itu tidak ada kaitannya dengan keselamatan hakiki. Pahamilah realitasnya dan renungkan segala hikmahnya.
Sebagaimana kalian biasa mencobai berbagai hal di dunia, coba
jugalah cara
ini maka kalian akan segera menyadari bahwa tidak ada cahaya lain selain nur hakiki yang dapat menyelamatkan kalian dari kegelapan kalbu kalian. Tanpa air suci dari wawasan yang sempurna tak ada
lagi yang bisa membasuh kekotoran dalam kalbu kalian. Rasa panas kemrungsung yang kalian derita tidak mungkin diredakan tanpa air segar
hasil pertemuan dengan Tuhan.
Berbohong ia yang menawarkan obat
penawar lainnya
kepada kalian, bodoh ia yang mencoba
menyuruh kalian melakukan cara
lain. Orang-orang seperti ini tidak akan memberikan nur petunjuk kepada kalian, malah akan
menjerumuskan kalian ke jurang kegelapan. Orang-orang ini tidak ada menawarkan air yang segar, malah memberikan sesuatu yang
lebih menimbulkan rasa terbakar.
Tidak ada darah yang bisa bermanfaat bagi kalian, kecuali darah yang dihasilkan
di dalam diri kalian sendiri karena dihidupkan oleh rasa kepastian. Tidak ada salib yang dapat menyelamatkan kalian kecuali jalan yang lurus dengan teguh pada jalan kebenaran.
Karena itu bukalah mata kalian
lebar-lebar dan perhatikan
apakah tidak benar bahwa kalian hanya bisa melihat berkat bantuan cahaya dan bukan dengan cara
lain. Bahwa kalian dapat mencapai tujuan
sasaran dengan mengikuti jalan yang lurus dan bukan dengan jalan lain.
Benda-benda
duniawi
berada dekat dengan diri
kalian, sedangkan yang berkaitan dengan keimanan terletak jauh
sekali. Karena itu perhatikanlah apa yang ada di dekat kalian serta pelajari
kaidah-kaidahnya,
setelah itu terapkan
hal itu pada yang terletak jauh, karena Tuhan yang sama juga yang telah menyusun kerangka kaidah-kaidah tersebut.
Keselamatan
Hakiki di Dunia
Tidak mungkin bagi manusia tanpa
memperoleh nur
dan dengan membutakan mata, bisa memperoleh keselamatan melalui darah
siapa pun. Keselamatan bukan suatu hal yang hanya dikaruniakan di akhirat saja. Keselamatan hakiki yang nyata
sesungguhnya dikaruniakan di dunia ini juga. Keselamatan demikian berbentuk sebuah nur yang turun di kalbu dan memperlihatkan siapa yang sedang menggelepar di kubangan dosa. Ikutilah jalan kebenaran dan kebijakan karena dengan demikian itulah kalian dapat berjumpa Tuhan kalian.
Ciptakan rasa kehangatan dalam batin agar kalian mampu bergerak ke arah kebenaran. Sial sungguh kalbu yang dingin, tidak beruntung fitrat yang
bersifat melankolis (murung) dan mati sudah kesadaran yang tidak cemerlang. Sekurang-kurangnya jadilah seperti ember kosong
yang jatuh ke sumur dan dinaikkan
dalam keadaan penuh, dan bukan
seperti ayakan yang tidak mampu menyimpan air.
Berusahalah tetap sehat agar kemrungsung (panas) demam mencari duniawi
dapat diredakan, karena demam
demikian hanya akan meluputkan
nur cahaya dari mata, tertutupnya telinga yang tidak mendengar, rancunya lidah dalam mengecap, hilangnya kekuatan memegang dari kedua tangan
serta melemahnya kekuatan di kaki.
Putuskan
hubungan keduniawian
demikian agar tercipta hubungan baru. Blokade hati kalian kepada
dunia agar bisa mencari arah ke tempat lain. Buangkan jauh-jauh serangga
duniawi yang busuk ini agar kalian mendapat intan cemerlang dari surga. Berpalinglah kepada Sumber mata air yang telah menghidupkan Adam a.s. dengan Ruh Ilahi, agar kalian dianugrahi kerajaan di atas segala hal yang dikaruniakan
kepada bapak-bapak kalian.” (Review of Religions-Urdu, jld.
I, hlm. 23-29).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 14 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar