Minggu, 16 Oktober 2016

Cara Menyelamatkan Diri dari Dosa & Pentingnya Melakukan "Mikraj Ruhani" yang Disunnahkan Nabi Besar Muhammad Saw. Berdasarkan Petunjuk Sempurna Al-Quran




Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 36

CARA  MENYELAMATKAN DIRI DARI  DOSA  & PENTINGNYA MELAKUKAN MI’RAJ RUHANI YANG DISUNNAHKAN NABI BESAR MUHAMMAD SAW. BERDASARKAN PETUNJUK SEMPURNA AL-QURAN

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 35  dikemukakan  topiK    Suri Teladan Sempurna Ke-Muslim-an Nabi Besar Muhammad Saw.       Hal tersebut  telah diperagakan secara sempurna – baik dari segi kuantitasnya mau pun kualitasnya – oleh Nabi Besar Muhammad saw.  (QS.33:22), sebagaimana firman-Nya:
قُلۡ  اِنَّنِیۡ ہَدٰىنِیۡ رَبِّیۡۤ  اِلٰی صِرَاطٍ مُّسۡتَقِیۡمٍ ۬ۚ دِیۡنًا قِیَمًا مِّلَّۃَ  اِبۡرٰہِیۡمَ حَنِیۡفًا ۚ وَ مَا کَانَ مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿﴾ قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿﴾ۙ لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ ﴿﴾
Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah diberi petunjuk oleh Rabb-ku (Tuhan-ku) kepada jalan lurus, agama yang teguh,  agama Ibrahim yang lurus dan dia bukanlah dari   orang-orang musyrik.”  قُلۡ  اِنَّ صَلَاتِیۡ  وَ نُسُکِیۡ وَ مَحۡیَایَ وَ مَمَاتِیۡ   لِلّٰہِ   رَبِّ  الۡعٰلَمِیۡنَ  -- Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, pengorbananku,  kehidupanku, dan  kematianku  hanyalah untuk Allah,  Rabb (Tuhan) seluruh  alam, لَا شَرِیۡکَ لَہٗ ۚ  tidak ada sekutu bagi-Nya, وَ بِذٰلِکَ اُمِرۡتُ وَ اَنَا  اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِیۡنَ  --  untuk itulah aku diperintahkan,  dan akulah orang pertama  yang berserah diri. (Al-An’ām [6]:162-164).
  Shalat, korban, hidup, dan mati meliputi seluruh bidang amal perbuatan manusia; dan Nabi Besar Muhammad saw.  disuruh menyatakan bahwa semua segi kehidupan di dunia ini dipersembahkan oleh beliau saw. kepada Allah Swt.,   semua amal ibadah beliau saw. dipersembahkan kepada  Allah Swt.,  semua pengorbanan dilakukan beliau  saw. untuk Dia; segala penghidupan dihibahkan beliau saw. untuk berbakti kepada-Nya, maka bila di jalan agama beliau saw. mencari kematian maka  itu pun guna meraih keridhaan-Nya.

Nubuatan dan Peringatan Bagi Umat Islam Sebagai “Umat Terbaik

   Selanjutnya Allah Swt. berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw. mengenai pentingnya hanya menyembah Allah Swt. semata, tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun:
قُلۡ اَغَیۡرَ اللّٰہِ اَبۡغِیۡ رَبًّا وَّ ہُوَ رَبُّ کُلِّ شَیۡءٍ ؕ وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا ۚ وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی ۚ ثُمَّ اِلٰی رَبِّکُمۡ مَّرۡجِعُکُمۡ فَیُنَبِّئُکُمۡ بِمَا کُنۡتُمۡ  فِیۡہِ  تَخۡتَلِفُوۡنَ ﴿﴾ وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ ؕ اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ ﴿﴾٪
Katakanlah:  ”Apakah aku akan mencari  Rabb (Tuhan)  yang bukan-Allah, padahal  Dia-lah  Rabb (Tuhan) segala sesuatu?” Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya, dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain.  Kemudian kepada Rabb (Tuhan) kamu tempat kembalimu, maka Dia akan memberitahu kamu apa-apa yang mengenainya kamu berselisih.  Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepada kamu.  Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang. (Al-An’ām [6]:165-166).
   Seperti halnya ayat-ayat QS.17:16; QS.53:40-41, ayat ini:  وَ لَا تَکۡسِبُ کُلُّ نَفۡسٍ  اِلَّا عَلَیۡہَا  -- “Dan tiada jiwa mengupayakan sesuatu melainkan akan menimpa dirinya,  وَ لَا تَزِرُ وَازِرَۃٌ  وِّزۡرَ  اُخۡرٰی --  dan  tidak pula seorang pemikul beban memikul beban orang lain mengandung sanggahan keras terhadap ajaran Penebusan Dosa dan secara tegas menarik perhatian terhadap kenyataan bahwa setiap orang harus memikul salibnya sendiri, yaitu harus  mempertanggungjawabkan amal-perbuatannya sendiri kepada Allah Swt.. Pengorbanan dari siapa pun sebagai pengganti tidak akan memberi manfaat.
        Ayat selanjutnya:  وَ ہُوَ الَّذِیۡ جَعَلَکُمۡ خَلٰٓئِفَ الۡاَرۡضِ وَ رَفَعَ بَعۡضَکُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٍ دَرَجٰتٍ     -- “Dan Dia-lah Yang menjadikan kamu penerus-penerus di bumi, dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam derajat  لِّیَبۡلُوَکُمۡ فِیۡ مَاۤ  اٰتٰکُمۡ  --  supaya Dia menguji kamu dengan apa pun yang telah Dia berikan kepada kamu.” Ayat ini sekaligus merupakan anjuran dan peringatan kepada kaum Muslimin.
       Mereka diberitahu bahwa kepada mereka akan dianugerahkan kekuatan serta kekuasaan, dan tugas mengatur urusan bangsa-bangsa akan diserahkan ke tangan mereka. Mereka harus melaksanakan kewajiban mereka dengan tidak-berat-sebelah dan adil, sebab mereka harus mempertanggung-jawabkan tugas kewajiban mereka kepada Wujud Yang Menjadikan mereka:  اِنَّ رَبَّکَ سَرِیۡعُ  الۡعِقَابِ ۫ۖ وَ  اِنَّہٗ  لَغَفُوۡرٌ  رَّحِیۡمٌ -- “Sesungguhnya  Rabb (Tuhan) engkau sangat cepat dalam menghukum, dan sesungguhnya Dia benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Al-An’am [6]:166).
      Sehubungan dengan keharusan umat Islam (ksum Muslim) untuk tetap berlaku adil – bahkan terhadap pihak-pihak yang telah berlaku zalim terhadap mereka –  sebagai bentuk pelaksanaan maghfirah (pemberian ampun), Allah Swt. berfirman:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآئِرَ اللّٰہِ وَ لَا الشَّہۡرَ الۡحَرَامَ وَ لَا الۡہَدۡیَ وَ لَا الۡقَلَآئِدَ  وَ لَاۤ  آٰمِّیۡنَ الۡبَیۡتَ الۡحَرَامَ یَبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رِضۡوَانًا ؕ وَ اِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا ؕ وَ لَا یَجۡرِمَنَّکُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡکُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی ۪ وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ ۪ وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, janganlah mencemari Syiar-syiar Allah,  dan   jangan mencemari Bulan  Haram,  dan   jangan  mencemari binatang-binatang kurban,  dan jangan  mencemari binatang-binatang kurban yang ditandai kalung,   وَ لَاۤ  آٰمِّیۡنَ الۡبَیۡتَ الۡحَرَامَ یَبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّہِمۡ وَ رِضۡوَانًا -- dan jangan  mencemari yakni menghalangi orang-orang yang   menziarahi Baitul Haram untuk  mencari karunia dan keridhaan dari Tuhan mereka. Tetapi apabila kamu telah melepas pakaian ihram  maka kamu boleh berburu.  وَ لَا یَجۡرِمَنَّکُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡکُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ -- Dan  janganlah kebencian sesuatu kaum kepada kamu  karena mereka telah  menghalang-halangi kamu dari Masjidil Haram mendorong kamu melampaui batas. وَ تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡبِرِّ وَ التَّقۡوٰی  --  Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa, وَ لَا تَعَاوَنُوۡا عَلَی الۡاِثۡمِ وَ الۡعُدۡوَانِ  --  dan  janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan, وَ اتَّقُوا اللّٰہَ ؕ اِنَّ اللّٰہَ  شَدِیۡدُ الۡعِقَابِ  --  dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya siksaan Allah sangat keras.  (Al-Māidah [5]:3).

Pentingnya Keninambungan Silsilah Khilafah Kenabian  di Kalangan Umat Islam

         Petunjuk dan peringatan Allah Swt. tersebut di Akhir Zaman ini boleh dikatakan tidak dilaksanakan oleh umat Islam di Timur Tengah, sehingga  akibatnya yang terjadi  adalah berbagai bentuk  “kobaran api” kemurkaan Allah Swt.   yang  tidak kunjung padam, yakni ketiadaan “maghfirah Ilahi”,  firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا  لِمَ  تَقُوۡلُوۡنَ مَا لَا  تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  کَبُرَ  مَقۡتًا عِنۡدَ  اللّٰہِ  اَنۡ  تَقُوۡلُوۡا مَا  لَا تَفۡعَلُوۡنَ ﴿﴾  اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang kamu tidak kerjakan?  Adalah sesuatu yang paling dibenci di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan. اِنَّ اللّٰہَ یُحِبُّ الَّذِیۡنَ یُقَاتِلُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِہٖ  صَفًّا کَاَنَّہُمۡ  بُنۡیَانٌ  مَّرۡصُوۡصٌ  --   Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang  dalam barisan-barisan, mereka itu seakan-akan suatu bangunan yang tersusun rapat   (Ash-Shaf [61]:3-5).
  Menurut ayat 3 perbuatan seorang Muslim hendaknya sesuai dengan pernyataan-pernyataannya. Bicara sombong dan kosong membawa seseorang tidak keruan kemana yang dituju, dan ikrar-ikrar lidah tanpa disertai perbuatan-perbuatan nyata adalah berbau kemunafikan dan ketidaktulusan.
  Dalam ayat selanjutnya dijelaskan bahwa orang-orang Islam (Muslim) diharapkan tampil dalam barisan yang rapat, teguh dan kuat terhadap kekuatan-kekuatan kejahatan  di bawah komando pemimpin mereka, yang terhadapnya mereka harus taat dengan sepenuhnya dan seikhlas-ikhlasnya
   Tetapi suatu kaum yang berusaha menjadi satu jemaat yang kokoh-kuat  harus mempunyai satu tata-cara hidup, satu cita-cita, satu maksud, satu tujuan dan satu rencana untuk mencapai tujuan itu. Dan itu  di Akhir Zaman ini hanya mungkin terjadi jika umat Islam  hanya dibawah satu pimpinan (imam) sebagai khalifah  Nabi Besar Muhammad saw.  --  melanjutkan silsilah Khulafa-ur-Rasyidah   yang terputus hingga Khalifah Ali bin Abi Thalib r.a.  akibat ketidak-bersyukuran umat Islam sendiri -- firman-Nya:
وَعَدَ  اللّٰہُ  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿﴾
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman  dan  ber-amal saleh di antara kamu لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ   --  niscaya Dia  akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka khalifah,  وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ    -- dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا    --  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan ke-amanan sesudah ketakutan mereka. ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا --  Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan se-suatu dengan-Ku, وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ --  dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka (An-Nūr [24]:56).

Hubungan Khilafah dengan Pertolongan Allah Swt. dan  Maghfirah Ilahi

        Pernyataan Allah Swt dalam ayat: وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ  الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ    -- dan niscaya Dia akan meneguhkan bagi mereka agamanya yang telah Dia ridhai bagi mereka, وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ  اَمۡنًا    --  dan niscaya Dia akan mengubah keadaan mereka dengan keamanan sesudah ketakutan mereka  terkandung makna pertolongan Allah Swt.  dan  maghfirah-Nya, sehingga akibatnya orang-orang beriman hakiki akan dapat beribadah kepada Allah Swt. dengan aman dan tentram: ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا  یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا --  Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku.
        Adanya pertolongan Ilahi dan maghfirah-Nya itulah yang membuat umat Islam di zaman Nabi Besar Muhammad saw.  memenuhi  pernyataan Allah Swt. dalam  firman-Nya:
قَالَ الَّذِیۡنَ یَظُنُّوۡنَ اَنَّہُمۡ مُّلٰقُوا اللّٰہِ   ۙ     کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ مَعَ  الصّٰبِرِیۡنَ ﴿﴾
Tetapi  orang-orang yang meyakini bahwa sesungguhnya mereka akan menemui Allah  berkata:    کَمۡ مِّنۡ فِئَۃٍ قَلِیۡلَۃٍ غَلَبَتۡ فِئَۃً  کَثِیۡرَۃًۢ بِاِذۡنِ  اللّٰہِ --  Berapa banyak golongan yang sedikit  telah mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah, dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah [2]:250).
       Di Akhir Zaman ini walau pun jumlah umat Islam di Timur Tengah sangat banyak sedangkan penduduk negara Israel sangat sedikit tetapi  mereka benar-benar tidak berdaya menghadapi “negara kecil” tersebut, sebabnya adalah umat Islam di Timur Tengah  dalam keadaan terpecah-belah  akibat  tidak mentaati perintah Allah Swt. untuk berpegang teguh  pada “Tali Allah” (QS.3:103-105), sesuai firman-Nya: وَ مَنۡ  کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ  الۡفٰسِقُوۡنَ --  dan barangsiapa kafir sesudah itu  mereka itulah orang-orang  durhaka (An-Nūr [24]:56).
        Sehubungan dengan kenyataan tersebut Masih Mau’ud a.s. – yaknu Khalifah Allah di Akhir Zaman ini  -- menjelaskan mengenai satu-satunya cara menghindarkan diri dari dosa dan kedurhakaan:
        Mungkin ada yang bertanya bahwa jika darah Yesus tidak bisa mensucikan manusia dari dosa (yang memang jelas tidak akan bisa), lalu apakah ada cara lain guna memperoleh pensucian dari dosa, mengingat hidup bergelimang dosa itu lebih buruk daripada maut (kematian)?
     Jawabanku atas pertanyaan ini -- yang dipertegas melalui pengalaman pribadiku sendiri – ialah   bahwa sejak manusia diciptakan di muka bumi sampai dengan sekarang ini hanya ada satu cara guna menghindari dosa dan kedurhakaan. Cara itu adalah mencapai suatu pemahaman melalui argumentasi yang meyakinkan dan tanda-tanda Samawi yang cemerlang,  yang semuanya lalu menjadikan Wujud Ilahi dimanifestasikan (dijelmakan) dimana yang bersangkutan bisa menyadari bahwa kemurkaan Tuhan itu merupakan api yang memusnahkan, sedangkan melalui manifestasi (penampakan) keindahan-Nya ia menyadari adanya kenikmatan sempurna bersama Tuhannya.
     Dengan kata lain, melalui pemahaman seperti itu maka semua tabir yang menutupi akan disingkapkan dari keindahan dan keagungan Wujud-Nya. Hanya inilah cara untuk mengekang nafsu dan manusia bisa mengalami perubahan di dalam dirinya.
     Mendengar jawaban ini lalu banyak orang yang berkomentar: “Tidakkah kami ini beriman kepada Tuhan, apakah kami ini tidak takut kepada-Nya, apakah bukan semua manusia -- dengan beberapa kekecualian -- semuanya mengimani Tuhan? Lalu mengapa masih saja mereka melakukan berbagai laku dosa dan terlibat dalam berbagai kekejian?”
       Jawaban atas hal ini ialah keimanan itu suatu hal tersendiri sedangkan yang namanya pemahaman adalah hal lain lagi. Bukan karena keimanan maka seseorang menghindari laku dosa tetapi karena pemahaman yang sempurna melalui pengalaman rasa takut dan rasa kasih kepada Tuhan-nya.
    Seseorang mungkin bertanya: “Mengapa syaitan mendurhaka meskipun ia memiliki pemahaman yang sempurna?” Jawabannya adalah karena syaitan tidak memiliki pemahaman yang sempurna yang hanya dikaruniakan kepada mereka yang beruntung saja.

Perbedaan Mempercayai Dengan Memahami

       Sudah menjadi bagian dari fitrat manusia bahwa dirinya dikendalikan oleh pengetahuan yang dimilikinya dan ia tidak akan menghancurkan dirinya sendiri ketika menyadari godaan dari wujud syaitan yang merugikan tersebut.  Keimanan adalah meyakini sebagai natijah (akibat)  dari berfikir baik tentang sesuatu, sedangkan yang dimaksud dengan pemahaman adalah menyadari sepenuhnya hal yang diimani tersebut. Karena itu dosa dan pemahaman tidak mungkin eksis (ada) bersamaan di dalam suatu kalbu sebagaimana malam dan siang tidak mungkin muncul bersamaan.
       Sudah menjadi kebiasaan umum dimana sesuatu yang dianggap berharga akan menarik minat orang kepadanya, sedangkan jika ada sesuatu yang merugikan maka orang cenderung menjauh.  Sebagai contoh, seseorang yang tidak mengetahui bahwa yang ada dalam genggamannya adalah racun arsenik, mungkin saja akan menelannya karena dikira sejenis obat. Namun seseorang yang mengenal bentuk arsenik tersebut pasti tidak akan mau mencicipinya meski hanya sekelumit kecil, karena sadar bahwa hal itu akan membawanya segera pindah ke dunia lain. Begitu juga halnya jika manusia menyadari secara pasti bahwa Tuhan itu memang eksis (ada) dan semua bentuk dosa akan dihukum oleh-Nya, maka secara otomatis ia akan meninggalkan segala bentuk dosa.
         Mungkin ada yang bertanya,  bahwa meski kita mengetahui kalau Tuhan itu memang ada dan juga tahu bahwa laku dosa akan dihukum, namun tetap saja kita melakukan dosa, hal itu menunjukkan bahwa harus ada cara lain guna menghindari dosa.
      Jawabannya adalah tetap sama dengan yang di atas. Adalah suatu hal yang tidak mungkin terjadi ada orang yang menyadari sepenuhnya bahwa konsekwensi (akibat) dari laku dosa adalah suatu penghukuman yang bisa turun seperti petir menyambar  tetapi ia tetap saja berani melakukan dosa. Ini adalah pandangan filsafat yang tidak bisa dibantah atau ada kekecualiannya.

Dosa dan Cara Menghindarinya

        Cobalah renungkan secara mendalam, jika kalian merasa yakin pasti akan dihukum untuk suatu laku dosa maka  kalian jelas tidak akan bertindak menyalahi keyakinan tersebut. Beranikah kalian menjulurkan tangan ke dalam api? Apakah kalian mau melompat dari puncak sebuah gunung? Bersediakah kalian terjun ke sumur yang dalam?
      Maukah kalian berbaring di hadapan kereta api yang mendatang cepat? Beranikah kalian memasukkan tangan ke dalam mulut harimau? Maukah kalian memberikan kaki kepada seekor anjing gila? Beranikah kalian berdiri di tempat yang sering sekali disambar petir?
      Tidakkah kalian segera lari dari ruangan jika ada gejala atap rumah akan runtuh? Apakah ada dari kalian yang tidak akan melompat menjauh ketika melihat ada ular berbisa di tempat tidurnya? Mungkinkah ada orang yang tidak mau lari keluar dari kamar tidurnya ketika menyadari ada api kebakaran?
     Katakan kepadaku, mengapa kalian melakukan semua itu dan melarikan diri dari segala hal yang membawa mudharat, tetapi tidak mau melepaskan diri dari dosa? Jawaban atas hal ini setelah melalui perenungan yang mendalam adalah terdapatnya perbedaan pengetahuan di antara kedua keadaan tersebut.
     Dalam masalah yang berkaitan dengan dosa,  pengetahuan sebagian besar manusia umumnya defektif (lemah) dan tidak sempurna. Mereka menganggap dosa sebagai suatu hal yang buruk tetapi tidak menganggapnya sebagaimana jika mereka melihat harimau ganas atau ular beracun.
      Tersembunyi dalam relung fikiran mereka pandangan bahwa hukuman bagi dosa itu bukan suatu hal yang pasti.   Mereka bahkan meragukan eksistensi (keberadaan) Tuhan, atau kalau pun mereka percaya pada eksistensi-Nya namun mereka meragukan apakah ruh manusia akan tetap ada setelah kematian, kalau pun terlepas dari kematian mereka masih meragukan apakah memang ada hukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya.
     Mereka mungkin tidak menyadarinya,  tetapi sebagian besar dari manusia mempunyai pandangan seperti ini tersembunyi di relung fikirannya.     Tetapi jika berkaitan dengan bahaya-bahaya sebagaimana dicontohkan di atas, mereka merasa yakin bahwa jika tidak menghindar maka mereka akan binasa dan karena itulah mereka melarikan diri. Meskipun mereka menghadapi bahaya demikian hanya sesekali secara kebetulan,  tetapi mereka tetap akan lari tunggang langgang.

 Kesia-siaan  Cerita-cerita “Mukjizat Fiktif

      Berkenaan dengan hal-hal seperti itu, manusia sedikit banyak mengetahui bahwa yang dihadapinya itu akan membawa bahaya fatal baginya, tetapi jika berkaitan dengan kaidah agama maka pengetahuan mereka bersifat tidak pasti dan lebih banyak merupakan spekulasi. Di satu sisi adalah hal yang kasat mata sedangkan yang lainnya lebih banyak merupakan cerita-cerita zaman dahulu.
      Adapun dosa tidak mungkin dihindari melalui cerita atau dongeng belaka. Aku bersumpah bahwa misalnya sampai pun 1000 sosok Yesus yang disalibkan, tetap saja hal itu tidak akan membawa keselamatan hakiki bagi kalian. Hanya rasa takut dan rasa kasih yang sempurna kepada Tuhan yang dapat menyelamatkan manusia dari pagutan dosa.
       Kewafatan Yesus di atas kayu salib sendiri merupakan suatu cerita fiktif dan apa pun permasalahannya tidak akan ada kaitannya dengan pengendalian arus laku dosa. Apa yang dinyatakan tersebut hanyalah suatu hal yang masih gelap sama sekali. Pengalaman nyata di dunia tidak mendukungnya, juga tidak ada terlihat keterkaitan di antara tindakan ‘bunuh diri’ Yesus dengan pengampunan dosa manusia lainnya.
      Falsafah keselamatan yang hakiki mengandung arti bahwa manusia harus bisa dilepaskan dari neraka berupa laku dosa ketika masih hidup di dunia sekarang ini. Karena itu cobalah pertimbangkan apakah benar kalian telah diselamatkan dari neraka dosa ini melalui dongeng-dongeng demikian yang tidak didukung kebenaran serta tidak ada hubungannya dengan keselamatan hakiki.
     Carilah di Timur dan di Barat maka kalian tidak akan menemukan ada orang yang bisa  mencapai kesucian hakiki melalui dongeng-dongeng tersebut sampai kepada tingkatan bisa berhadapan dengan Tuhan. Tingkat komunikasi dengan Tuhan seperti itu akan menjadikan manusia menjadi jijik terhadap laku dosa dan lebih menyukai kenikmatan kebenaran Samawi, dimana kalbunya jadi mencair seperti air yang mengalir sampai ke hadirat Ilahi diikuti turunnya nur dari langit yang mengusir kegelapan dalam dirinya.
      Jika kalian membuka jendela kamar kalian di hari yang cerah maka sinar matahari akan masuk ke dalam kamar itu secara alamiah, tetapi jika kalian menutup jendela tersebut maka sinar cahaya itu tidak akan mewujud hanya karena sebuah dongeng atau kisah belaka. Guna memperoleh terang maka kalian harus bangkit untuk membuka jendela agar sinar masuk menerangi kamar kalian.

Pentingnya Kepastian  “Pertemuan” Dengan Allah Swt.

   Apakah mungkin seseorang meredakan rasa hausnya hanya dengan membayangkan rasanya air? Jelas tidak. Seorang yang haus, dengan satu dan lain cara  harus bisa menghampiri suatu sumber mata air dan menyentuhkan bibirnya ke air tersebut  barulah rasa hausnya akan mereda.     Demikian juga yang disebut sebagai air yang akan memuaskan dahaga kalian serta memupus rasa terbakar akibat dosa adalah suatu kepastian.
      Tidak ada cara lain di bawah langit ini guna memunahkan dosa. Tidak ada kayu salib yang bisa menyelamatkan kalian dari dosa. Tidak ada penumpahan darah yang mampu mengekang nafsu kalian. Semua hal itu tidak ada kaitannya dengan keselamatan hakiki. Pahamilah realitasnya dan renungkan segala hikmahnya.
      Sebagaimana kalian biasa mencobai berbagai hal di dunia, coba jugalah cara ini maka kalian akan segera menyadari bahwa tidak ada cahaya lain selain nur hakiki yang dapat menyelamatkan kalian dari kegelapan kalbu kalian. Tanpa air suci dari wawasan yang sempurna  tak ada lagi yang bisa membasuh kekotoran dalam kalbu kalian. Rasa panas kemrungsung   yang kalian derita tidak mungkin diredakan tanpa air segar hasil pertemuan dengan Tuhan.
      Berbohong ia yang menawarkan obat penawar lainnya kepada kalian, bodoh ia yang mencoba menyuruh kalian melakukan cara lain. Orang-orang seperti ini tidak akan memberikan nur petunjuk kepada kalian, malah akan menjerumuskan kalian ke jurang kegelapan. Orang-orang ini tidak ada menawarkan air yang segar, malah memberikan sesuatu yang lebih menimbulkan rasa terbakar.
     Tidak ada darah yang bisa bermanfaat bagi kalian, kecuali darah yang dihasilkan di dalam diri kalian sendiri karena dihidupkan oleh rasa kepastian. Tidak ada salib yang dapat menyelamatkan kalian kecuali jalan yang lurus dengan teguh pada jalan kebenaran.
     Karena itu bukalah mata kalian lebar-lebar dan perhatikan apakah tidak benar bahwa kalian hanya bisa melihat berkat bantuan cahaya dan bukan dengan cara lain. Bahwa kalian dapat mencapai tujuan sasaran dengan mengikuti jalan yang lurus dan bukan dengan jalan lain.
       Benda-benda duniawi berada dekat dengan diri kalian,  sedangkan yang berkaitan dengan keimanan terletak jauh sekali. Karena itu perhatikanlah apa yang ada di dekat kalian serta pelajari kaidah-kaidahnya, setelah itu terapkan hal itu pada yang terletak jauh, karena Tuhan yang sama juga yang telah menyusun kerangka kaidah-kaidah tersebut.

Keselamatan Hakiki di Dunia

    Tidak mungkin bagi manusia tanpa memperoleh nur dan dengan membutakan mata, bisa memperoleh keselamatan melalui darah siapa pun. Keselamatan bukan suatu hal yang hanya dikaruniakan di akhirat saja. Keselamatan hakiki yang nyata sesungguhnya dikaruniakan di dunia ini juga. Keselamatan demikian berbentuk sebuah nur yang turun di kalbu dan memperlihatkan siapa yang sedang menggelepar di kubangan dosa. Ikutilah jalan kebenaran dan kebijakan karena dengan demikian itulah kalian dapat berjumpa Tuhan kalian.
    Ciptakan rasa kehangatan dalam batin agar kalian mampu bergerak ke arah kebenaran. Sial sungguh kalbu yang dingin, tidak beruntung fitrat yang bersifat melankolis (murung) dan mati sudah kesadaran yang tidak cemerlang. Sekurang-kurangnya jadilah seperti ember kosong yang jatuh ke sumur dan dinaikkan dalam keadaan penuh, dan bukan seperti ayakan yang tidak mampu menyimpan air.
    Berusahalah tetap sehat agar kemrungsung (panas) demam mencari duniawi dapat diredakan, karena demam demikian hanya akan meluputkan nur cahaya dari mata, tertutupnya telinga yang tidak mendengar, rancunya lidah dalam mengecap, hilangnya kekuatan memegang dari kedua tangan serta melemahnya kekuatan di kaki.
     Putuskan hubungan keduniawian demikian agar tercipta hubungan baru. Blokade hati kalian kepada dunia agar bisa mencari arah ke tempat lain. Buangkan jauh-jauh serangga duniawi yang busuk ini agar kalian mendapat intan cemerlang dari surga. Berpalinglah kepada Sumber mata air yang telah menghidupkan Adam a.s. dengan Ruh Ilahi, agar kalian dianugrahi kerajaan di atas segala hal yang dikaruniakan kepada bapak-bapak kalian.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm.  23-29).
      
(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 14 Oktober 2016


Tidak ada komentar:

Posting Komentar