Senin, 03 Oktober 2016

Sabda Masih Mau'ud a.s. Mengenai Hakikat "Surga" yang Hakiki & Hikmah Perintah Beristighfar Mendahului Perintah "Taubat"


Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 25

SABDA MASIH MAU’UD A.S. MENGENAI HAKIKAT “SURGA” YANG HAKIKI & HIKMAH PERINTAH BERISTIGHFAR MENDAHULUI PERINTAH BERTAUBAT  

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 24  dikemukakan  sabda Masih Mau’ud a.s. mengenai topik Istighfar Merupakan  Kebutuhan Alamiah Manusia, beliau a.s. bersabda:
          Dengan demikian  adalah suatu kebutuhan alamiah bahwa manusia diperintahkan untuk selalu beristighfar sebagaimana tersirat dalam ayat:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ الۡقَیُّوۡمُ
Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri”(Al-Baqarah [2]:256).
      Ketika manusia sudah diciptakan maka fungsi penciptaan telah selesai tetapi fungsi pemeliharaan terus berlanjut selamanya dan karena itu istighfar selalu diperlukan sepanjang waktu. Setiap fitrat Ilahi memiliki suatu rahmat, dan istighfar dibutuhkan guna memperoleh rahmat dari fitrat   Al-Qayyum   --  “Tegak atas Dzat-Nya Sendiri”.
        Hal yang sama juga diindikasikan dalam Surah Al-Fatihah:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾
“Hanya Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah [5]:5).
      Yakni “dengan memohonkan pertolongan berdasar fitrat-Nya sebagai Yang Maha Pemelihara dan Yang Tegak atas Dzat-Nya Sendiri agar kami ini dipeliharakan dari kejatuhan,  dan kelemahan kami jangan menjadi nyata terlihat karena akan mengakibatkan kami kurang dalam menyembah Engkau.”
       Dengan demikian jelas bahwa makna hakiki   istighfar adalah bukan karena telah terjadi suatu kesalahan, tetapi agar jangan sampai terjadi kesalahan apa pun. Manusia yang menyadari kelemahan dirinya secara alamiah berusaha memperoleh kekuatan dari Tuhan laiknya seorang anak mencari susu ibunya.
    Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa sejak awal sudah mengaruniakan lidah, mata, hati, telinga dan lain-lain, Dia juga telah membekali diri manusia dengan hasrat untuk beristighfar serta perasaan ketergantungan kepada Tuhan untuk bantuan pertolongan. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
وَ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ
“Dan mohonlah ampunan untuk kelemahan-kelemahan insani engkau dan juga untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan (Muhammad [47]:20).
     Maksud dari ayat ini adalah perintah bagi Hadhrat Rasulullah Saw. agar memohon supaya fitrat beliau dipelihara  dari kelemahan-kelemahan yang bersifat insani,  dan fitrat tersebut agar diperkuat  supaya kelemahan beliau tidak menjadi tampak.

Istighfar  Nabi Besar Muhammad Saw. Sebagai Syafaat

      Beliau juga diperintahkan untuk berdoa sebagai syafaat bagi manusia laki-laki dan perempuan yang beriman kepada beliau, sehingga mereka itu terpelihara dari hukuman atas segala kesalahan yang telah mereka lakukan disamping memelihara mereka terhadap laku dosa dalam sisa umur mereka selanjutnya.
   Ayat ini mengandung falsafah yang amat luhur tentang syafaat dan pemeliharaan terhadap dosa. Ayat ini mengindikasikan bahwa manusia sebenarnya bisa mencapai derajat perlindungan yang tinggi terhadap dosa dan memperoleh syafaat jika beliau (Hadhrat Rasulullah Saw.) secara terus menerus berdoa bagi penekanan terhadap kelemahan dirinya sendiri, dan menyelamatkan umat lainnya dari racun dosa.
     Beliau memperoleh kekuatan dari Tuhan berkat doa beliau dan berhasrat agar mereka yang terkait dengan wujud beliau karena tali keimanan  juga mendapatkan manfaat dari kekuatan Ilahi tersebut.
     Seorang yang tidak punya dosa tetap saja perlu berdoa kepada Allah Swt. agar mendapat kekuatan, mengingat fitrat manusia sendiri tidak ada memiliki keunggulan  dan selalu bergantung kepada-Nya,  serta tidak mempunyai kekuatan sendiri karena bergantung pada bantuan kekuatan dari Tuhan serta tidak ada padanya nur sendiri yang sempurna melainkan apa yang dikaruniakan Allah kepadanya.

Istighfar Merupakan Daya Tarik Fitrat yang Sempurna

    Fitrat yang sempurna dibekali dengan daya tarik yang mampu menarik kekuatan dari atas kepada dirinya yang berasal dari khazanah kekuatan yang ada pada Tuhan. Para malaikat memperoleh kekuatan dari khazanah tersebut, sebagaimana juga para manusia sempurna yang mendapatkan kekuatan agar luput dari dosa serta mendapatkan rahmat dari Sumber tadi melalui saluran penghambaan kepada Ilahi.
       Karena itu dari antara manusia ia dianggap suci dari  dosa secara sempurna bila mampu menarik ke dalam dirinya kekuatan Ilahi melalui istighfar serta terus menyibukkan dirinya dengan berdoa memohon agar nur tetap turun kepadanya.
        Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan istighfar? Istighfar adalah suatu sarana guna memperoleh kekuatan. Inti dari Ketauhidan Ilahi adalah kenyataan bahwa kondisi kesucian manusia bukanlah milik permanen dirinya,  melainkan harus diperoleh melalui pengagungan Tuhan sebagai Sumber segala rahmat.
    Allah Swt. secara metaforika (kiasan) mirip dengan jantung yang mengandung persediaan darah bersih, sedangkan istighfar dari seorang manusia sempurna adalah mirip urat nadi yang tersambung ke jantung tersebut guna menarik darah darinya dan menyalurkannya ke anggota tubuh yang memerlukan.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 187-190).

Istighfar Tidak Selalu Berhubungan dengan Dosa

      Dengan demikian jelaslah bahwa – sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya – bahwa istighfar dalam hubungannya dengan Sifat Allah Swt. As-Sattar (Yang Maha Menutupi kelemahan) tidak selalu harus dihubungkan dengan masalah dosa, melainkan dengan  memohon kesempurnaan  yang tidak terbatas  -- sebagaimana halnya tidak terbatasnya Sifat-sifat sempurna Allah Swt.  --   yang merupakan nama lain dari “kehidupan surgawi” yang tidak terbatas, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا  الَّذِیۡنَ  اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا  اِلَی اللّٰہِ تَوۡبَۃً  نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ  نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ  یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan seikhlas-ikhlas taubat. عَسٰی رَبُّکُمۡ  اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ  مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ --  Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam  kebun-kebun yang mengalir di ba-wahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --   sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).

Makna Mohon Penyempurnaan Nur Ilahi dan Istighfar Dalam Surga

   Makna ayat:   یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ  النَّبِیَّ  وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ   -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ  یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ    -- cahaya mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan  di sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ --   sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”  
  Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga  -- sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai  Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami“   -- menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur. Kebalikannya, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga, sebab ketika  orang-orang beriman dalam surga akan mencapai kesempurnaan, yang menjadi ciri tingkat surgatertentu, mereka tidak akan berhenti sampai di situ, melainkan serentak terlihat di hadapannya ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi dan diketahuinya bahwa tingkat yang didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi, maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir.
 Makna    istighfar  (mohon maghfirah) yang diucapkan  penghuni surga tersebut:    یَقُوۡلُوۡنَ  رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ  لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا  -- mereka  akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami”, tampak bahwa setelah masuk surga orang-orang beriman  akan mencapai maghfirahpenutupan kekurangan  dari Allah Swt.  (Lexicon Lane).
 Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt.  untuk mencapai kesempurnaan dan sama sekali tenggelam dalam Nur Ilahi dan akan terus naik kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu mereka akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya, sehingga mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”
Sehubungan dengan “surga” yang hakiki  tersebut   -- yakni meraih kesempurnaan penampakkan Nur Ilahi --   dalam buku Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), bab “Ajaranku”, Masih Mau’ud a.s. antara lain bersabda: 
     “Sungguh alangkah malangnya orang-orang yang hingga kini tidak mengetahui bahwasanya mereka  mempunyai satu Tuhan Yang berkuasa atas tiap sesuatu! Surga kita adalah Tuhan kita, di dalam Dzat-Nya terletak segala kelezatan yang selezat-lezatnya, sebab kami telah melihat-Nya, dan segala keindah-permaian terdapat pada Wujud-Nya. Harta ini patut dimiliki walau pun harus dengan mempertaruhkan jiwa dahulu.  Permata ini  patut dibeli sekali pun harus dengan meniadakan segala wujud kita.
    Wahai orang-orang yang mahrum (luput)! Bergegaslah lari menuju Sumber mata-air kehidupan  yang bakal menyelamatkan  kamu. Apa gerangan yang harus kuperbuat dan bagaimanakah harus kusampaikan  berita ini ke setiap kalbu manusia? Dengan genderang bagaimana coraknya harus kucanangkan di lorong-lorong supaya orang-orang dapat mendengar bahwa Tuhan itu ada? Dengan obat apakah harus kusembuhkan agar telinga-telinga orang terbuka untuk mendengarnya?”

Istighfar Lebih Dahulu daripada Taubat

    Selanjutnya Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah – Masih Mau’ud a.s.   -- menjelaskan mengenai kedudukan istighfar dan taubat:
     “Istighfar dan taubat adalah dua hal yang terpisah. Dari satu sudut pandang, istighfar didahulukan sebelum pertobatan, karena istighfar merupakan permohonan bantuan dan kekuatan dari Tuhan,  sedangkan taubat berarti berdiri di atas kakinya sendiri.
     Sudah menjadi Sunatullah dimana ketika seorang manusia memohon bantuan kepada-Nya, Dia akan menganugrahkan kekuatan dan dengan kekuatan itu si pemohon akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri guna melakukan suatu hal yang baik yang disebut sebagai “berpaling kepada Tuhan.”
    Keadaan ini merupakan natijah (akibat) alamiah dari istighfar. Dianjurkan kepada para pencari agar mereka memohonkan kekuatan kepada Tuhan dalam segala keadaan. {Sebab] sebelum ia mendapatkan kekuatan dari Tuhan-nya, seorang pencari tidak akan bisa melakukan apa pun.  
   Kekuatan melakukan pertobatan didapat setelah istighfar. Tanpa adanya istighfar maka fitrat pertobatan tidak berfungsi. Jika kalian mengikuti istighfar dengan pertobatan  maka hasilnya akan sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
یُمَتِّعۡکُمۡ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی
Dia akan menganugrahkan barang-barang perbekalan yang baik sampai saat yang ditentukan(Hūd [11]:4).
     Demikian itulah cara Ilahi dimana mereka yang melakukan pertobatan setelah istighfar akan memperoleh keluhuran derajat yang mereka dambakan. Setiap indera mempunyai keterbatasan dalam mencapai keluhuran derajat karena tidak setiap orang bisa menjadi nabi, rasul, shiddiq atau pun syahid.” (Malfuzat, jld. II, hlm.  68-69).

Da’wah Para Rasul Allah kepada Kaumnya  Berkenaan Istighfar dan Taubat

       Bahwa istighfar lebih dulu daripada taubat,  Allah Swt. berfirman berkenaan Nabi Besar Muhammad saw., firman-Nya:
اَلَّا تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ ؕ اِنَّنِیۡ لَکُمۡ مِّنۡہُ  نَذِیۡرٌ  وَّ بَشِیۡرٌ ۙ﴿﴾  وَّ اَنِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ یُمَتِّعۡکُمۡ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی وَّ یُؤۡتِ کُلَّ ذِیۡ فَضۡلٍ فَضۡلَہٗ ؕ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنِّیۡۤ  اَخَافُ عَلَیۡکُمۡ  عَذَابَ یَوۡمٍ  کَبِیۡرٍ ﴿﴾  اِلَی اللّٰہِ  مَرۡجِعُکُمۡ ۚ وَ ہُوَ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Janganlah kamu menyembah kecuali Allah,  sesungguhnya aku  se-orang pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepada kamu dari-Nya.  وَّ اَنِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ --  Dan hendaklah kamu  meminta ampunan kepada Rabb (Tuhan) kamu, kemudian kembalilah kepada-Nya, یُمَتِّعۡکُمۡ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی وَّ یُؤۡتِ کُلَّ ذِیۡ فَضۡلٍ فَضۡلَہٗ   -- Dia akan menganugerahkan barang-barang perbekalan yang baik kepada kamu sampai jangka waktu  yang ditentukan serta Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang memiliki keutamaan. ؕ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنِّیۡۤ  اَخَافُ عَلَیۡکُمۡ  عَذَابَ یَوۡمٍ  کَبِیۡرٍ  -- Dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya aku takut mengenai  kamu terhadap azab hari yang dahsyat. اِلَی اللّٰہِ  مَرۡجِعُکُمۡ ۚ وَ ہُوَ  عَلٰی  کُلِّ  شَیۡءٍ  قَدِیۡرٌ  --   Kepada Allāh-lah tempat kembali kamu, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. (Hūd [11]:3-5).
     Makna ayat:    وَّ اَنِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ  ثُمَّ  تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ --  Dan hendaklah kamu  meminta ampunan kepada Rabb (Tuhan) kamu, kemudian kembalilah kepada-Nya“  menunjukkan bahwa  dalam  perkembangan ruhani manusia taraf taubat itu datang kemudian dan lebih tinggi daripada istighfar.
     Taubat itu merupakan perbuatan untuk menghadap kembali kepada Allah Swt. dengan ikhlas dan sepenuh hati, setelah memohon perlindungan-Nya terhadap akibat-akibat buruk dan dosa-dosa yang sudah-sudah. Cara apakah yang dapat diprakirakan lebih baik daripada cara ini untuk mencapai qurb Ilahi (kedekatan kepada Tuhan)?

Da’wah Nabi  Hūd a.s. dan Nabi Shalih a.s.  Berkenaan Istighfar dan Taubat

        Kemudian masih dalam surah Hūd,   Allah Swt. berfirman  mengenai Nabi Hūd a.s. yang diutus  kepada kaum ‘Âd:
وَ یٰقَوۡمِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ  یُرۡسِلِ السَّمَآءَ  عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا وَّ  یَزِدۡکُمۡ   قُوَّۃً   اِلٰی قُوَّتِکُمۡ  وَ لَا  تَتَوَلَّوۡا  مُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan hai kaumku,  mohonlah ampunan dari  Rabb (Tuhan) kamu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan mengirimkan atas kamu awan yang menurunkan hujan lebat,  dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kamu, dan janganlah berpaling dari Dia sebagai orang-orang yang berdosa.” (Hūd [11]:53).
       Agaknya mata pencaharian utama kaum ‘Ād ialah bertani dan itu bergantung pada air hujan untuk mengolah tanah mereka, karena  di wilayah mereka tidak ada sumur atau terusan (kanal) atau sungai untuk mengairinya. Dengan demikian  janji pengiriman hujan serta anugerah Ilahi  lainnya tersebut merupakan bagian dari “maghfirah”  (pengampunan) Allah Swt. atas  istighfar dan taubat yang mereka lakukan:  وَّ  یَزِدۡکُمۡ   قُوَّۃً   اِلٰی قُوَّتِکُمۡ    -- “dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kamu”.
     Kemudian Allah Swt. berfirman mengenai Nabi Shalih a.s.  yang diutus kepada kaum Tsamud:
وَ اِلٰی ثَمُوۡدَ  اَخَاہُمۡ صٰلِحًا ۘ قَالَ یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ  اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ ہُوَ اَنۡشَاَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ  ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ ؕ اِنَّ  رَبِّیۡ  قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ  ﴿﴾
Dan kepada kaum Tsamūd Kami utus saudara mereka Shalih. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Alah, tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia. Dia-lah yang  telah  membangkit-kan  kamu dari bumi, dan memakmur-kan kamu di dalamnya   وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ  ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا  اِلَیۡہِ -- maka mohon-lah ampunan kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, اِنَّ  رَبِّیۡ  قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ  -- sesungguhnya Rabb-ku (Tuhan-ku) itu dekat, dan mengabulkan doa. (Hūd [11]:62).

Pengaduan” Nabi Nuh a.s. Kepada Allah Swt. Mengenai Kedegilan Kaumnya

       Demikian juga sebelumnya Nabi Nuh a.s. pun menyerukan hal yang sama kepada kaumnya, walau pun dalam ayat-ayat berikut ini kata taubat tidak disebutkan   dalam  “pengaduan” beliau kepada Allah Swt:
فَقُلۡتُ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا ﴿ۙ﴾  یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ  مِّدۡرَارًا ﴿ۙ﴾ وَّ یُمۡدِدۡکُمۡ  بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ  اَنۡہٰرًا ﴿ؕ﴾ مَا  لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ  وَقَارًا  ﴿ۚ﴾
Lalu   aku berkata: “Mohonlah ampun kepada Rabb (Tuhan) kamu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun,  Dia akan mengirimkan atas kamu hujan dengan lebat, dan Dia akan membantu kamu dengan harta dan anak-anak dan Dia akan menjadikan bagi kamu kebun-kebun dan akan menjadikan bagi kamu sungai-sungai. مَا  لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ  وَقَارًا    -- Apakah yang terjadi dengan diri kamu bahwa kamu tidak mengharapkan kemuliaan dari Allah? (Nūh [71]:11-14).
      Pendek kata,  kedudukan istighfar lebih awal daripada  seruan bertaubat (kembali kepada Allah Swt.) sebagaimana yang diterangkan Masih Mau’ud a.s..

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 30 September 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar