Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
25
SABDA MASIH MAU’UD A.S.
MENGENAI HAKIKAT “SURGA” YANG HAKIKI
& HIKMAH PERINTAH BERISTIGHFAR
MENDAHULUI PERINTAH BERTAUBAT
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian
akhir Bab 24 dikemukakan sabda Masih
Mau’ud a.s. mengenai topik Istighfar Merupakan Kebutuhan Alamiah Manusia,
beliau a.s. bersabda:
Dengan
demikian adalah suatu kebutuhan alamiah bahwa manusia diperintahkan untuk selalu beristighfar sebagaimana tersirat dalam ayat:
اَللّٰہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلۡحَیُّ
الۡقَیُّوۡمُ
“Allah, tiada yang patut disembah selain Dia, Yang Maha Hidup, Yang Tegak
atas Dzat-Nya Sendiri”(Al-Baqarah
[2]:256).
Ketika manusia sudah diciptakan maka fungsi penciptaan telah selesai tetapi fungsi
pemeliharaan terus berlanjut selamanya dan karena itu istighfar selalu diperlukan sepanjang
waktu. Setiap fitrat Ilahi memiliki suatu rahmat, dan istighfar dibutuhkan
guna memperoleh rahmat dari
fitrat Al-Qayyum -- “Tegak atas Dzat-Nya
Sendiri”.
Hal
yang sama juga diindikasikan dalam Surah Al-Fatihah:
اِیَّاکَ نَعۡبُدُ وَ اِیَّاکَ نَسۡتَعِیۡنُ ؕ﴿﴾
“Hanya
Engkau yang kami sembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan” (Al-Fatihah [5]:5).
Yakni
“dengan memohonkan pertolongan
berdasar fitrat-Nya sebagai Yang Maha Pemelihara dan Yang
Tegak atas Dzat-Nya Sendiri agar kami
ini dipeliharakan dari kejatuhan, dan kelemahan
kami jangan menjadi nyata terlihat karena akan mengakibatkan kami kurang dalam menyembah Engkau.”
Dengan demikian jelas bahwa makna hakiki istighfar adalah bukan
karena telah terjadi suatu kesalahan, tetapi agar jangan sampai terjadi
kesalahan
apa pun. Manusia yang menyadari kelemahan dirinya secara alamiah berusaha
memperoleh kekuatan dari Tuhan laiknya seorang anak mencari susu
ibunya.
Sebagaimana Allah Yang Maha Kuasa sejak awal sudah mengaruniakan
lidah, mata, hati, telinga dan lain-lain, Dia
juga telah membekali diri manusia dengan hasrat
untuk beristighfar serta perasaan
ketergantungan kepada Tuhan untuk bantuan
pertolongan. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
وَ اسۡتَغۡفِرۡ لِذَنۡۢبِکَ وَ لِلۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ
الۡمُؤۡمِنٰتِ
“Dan mohonlah
ampunan untuk kelemahan-kelemahan insani engkau dan juga untuk orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan”
(Muhammad
[47]:20).
Maksud dari ayat ini adalah perintah bagi Hadhrat Rasulullah Saw. agar memohon supaya fitrat beliau dipelihara dari kelemahan-kelemahan yang bersifat insani, dan fitrat
tersebut agar diperkuat supaya kelemahan
beliau tidak menjadi tampak.
Istighfar Nabi
Besar Muhammad Saw. Sebagai Syafaat
Beliau
juga diperintahkan untuk berdoa sebagai syafaat bagi manusia laki-laki dan perempuan
yang beriman kepada beliau,
sehingga mereka itu terpelihara dari hukuman atas segala
kesalahan yang telah mereka lakukan disamping memelihara mereka terhadap laku dosa dalam sisa
umur mereka
selanjutnya.
Ayat
ini mengandung falsafah yang amat luhur tentang syafaat dan pemeliharaan terhadap dosa. Ayat ini mengindikasikan
bahwa manusia sebenarnya bisa mencapai derajat
perlindungan yang tinggi terhadap
dosa dan memperoleh syafaat jika beliau (Hadhrat Rasulullah Saw.) secara terus
menerus berdoa bagi penekanan terhadap kelemahan dirinya sendiri, dan menyelamatkan
umat lainnya dari racun dosa.
Beliau
memperoleh kekuatan dari Tuhan berkat doa beliau dan berhasrat
agar mereka yang terkait dengan wujud beliau karena tali
keimanan juga mendapatkan
manfaat dari kekuatan Ilahi tersebut.
Seorang yang tidak punya dosa tetap saja perlu
berdoa kepada Allah Swt.
agar mendapat kekuatan, mengingat fitrat
manusia
sendiri tidak ada memiliki keunggulan dan selalu bergantung kepada-Nya, serta tidak mempunyai kekuatan sendiri karena bergantung
pada bantuan kekuatan dari Tuhan serta tidak
ada padanya nur sendiri yang sempurna melainkan apa yang dikaruniakan Allah
kepadanya.
Istighfar Merupakan Daya Tarik Fitrat yang Sempurna
Fitrat
yang sempurna
dibekali dengan daya tarik yang mampu
menarik kekuatan dari atas
kepada dirinya yang berasal dari khazanah
kekuatan
yang ada pada Tuhan. Para malaikat memperoleh kekuatan dari
khazanah
tersebut, sebagaimana juga para manusia sempurna yang mendapatkan
kekuatan agar luput dari dosa serta mendapatkan rahmat dari
Sumber
tadi melalui saluran penghambaan kepada Ilahi.
Karena itu dari antara manusia ia dianggap suci dari dosa secara sempurna bila mampu
menarik ke dalam dirinya kekuatan Ilahi melalui istighfar serta terus
menyibukkan dirinya dengan berdoa memohon agar nur tetap turun kepadanya.
Lalu
apa sebenarnya yang dimaksud dengan istighfar? Istighfar adalah suatu
sarana guna
memperoleh kekuatan. Inti dari Ketauhidan
Ilahi
adalah kenyataan bahwa kondisi kesucian manusia bukanlah milik
permanen dirinya, melainkan harus diperoleh melalui pengagungan Tuhan sebagai Sumber segala rahmat.
Allah Swt. secara metaforika (kiasan) mirip dengan jantung yang mengandung
persediaan darah bersih,
sedangkan istighfar dari
seorang manusia sempurna adalah mirip urat nadi yang tersambung ke jantung tersebut guna
menarik darah
darinya dan menyalurkannya ke anggota
tubuh
yang memerlukan.” (Review of Religions-Urdu, jld. I, hlm. 187-190).
Istighfar Tidak Selalu Berhubungan dengan Dosa
Dengan demikian jelaslah bahwa –
sebagaimana telah dikemukakan dalam Bab-bab sebelumnya – bahwa istighfar dalam hubungannya dengan Sifat
Allah Swt. As-Sattar (Yang Maha
Menutupi kelemahan) tidak selalu harus
dihubungkan dengan masalah dosa,
melainkan dengan memohon kesempurnaan yang tidak terbatas -- sebagaimana halnya tidak terbatasnya Sifat-sifat
sempurna Allah Swt. -- yang merupakan nama lain dari “kehidupan
surgawi” yang tidak terbatas, firman-Nya:
یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡا تُوۡبُوۡۤا اِلَی
اللّٰہِ تَوۡبَۃً نَّصُوۡحًا ؕ عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۙ یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ ۚ
نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ
یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا ۚ اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Hai orang-orang yang
beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan seikhlas-ikhlas taubat. عَسٰی
رَبُّکُمۡ اَنۡ یُّکَفِّرَ عَنۡکُمۡ
سَیِّاٰتِکُمۡ وَ یُدۡخِلَکُمۡ جَنّٰتٍ تَجۡرِیۡ
مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ -- Boleh jadi Rabb (Tuhan) kamu akan
menghapuskan dari kamu keburukan-keburukanmu dan akan memasukkan kamu ke dalam kebun-kebun yang mengalir di
ba-wahnya sungai-sungai, یَوۡمَ لَا یُخۡزِی اللّٰہُ النَّبِیَّ
وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari
ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi
maupun orang-orang yang beriman
besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ
اَیۡدِیۡہِمۡ وَ بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di
sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا -- mereka
akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan)
kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami, dan maafkanlah kami,
اِنَّکَ
عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (At-Tahrīm [66]:9).
Makna Mohon
Penyempurnaan Nur Ilahi dan Istighfar
Dalam Surga
Makna ayat: یَوۡمَ لَا یُخۡزِی
اللّٰہُ النَّبِیَّ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَعَہٗ -- pada hari ketika Allah tidak akan menghinakan Nabi maupun orang-orang yang beriman besertanya, نُوۡرُہُمۡ یَسۡعٰی بَیۡنَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ
بِاَیۡمَانِہِمۡ -- cahaya
mereka akan berlari-lari di hadapan mereka dan di
sebelah kanannya, یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ
اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ
لَنَا --
mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah kami, اِنَّکَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Keinginan tidak kunjung padam bagi kesempurnaan pada pihak orang-orang yang beriman di surga -- sebagaimana diungkapkan dalam kata-kata, “Hai Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya
kami“ -- menunjukkan bahwa kehidupan di surga itu bukanlah kehidupan menganggur. Kebalikannya, kemajuan ruhani di surga tiada berhingga,
sebab ketika orang-orang beriman dalam surga akan mencapai kesempurnaan, yang menjadi ciri
tingkat surgatertentu, mereka tidak akan berhenti sampai di situ,
melainkan serentak terlihat di hadapannya
ada tingkat kesempurnaan lebih tinggi
dan diketahuinya bahwa tingkat yang
didapati olehnya itu bukan tingkat tertinggi, maka ia akan maju terus dan seterusnya tanpa berakhir.
Makna
istighfar (mohon maghfirah) yang diucapkan penghuni
surga tersebut: یَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَتۡمِمۡ لَنَا نُوۡرَنَا وَ اغۡفِرۡ لَنَا -- mereka akan berkata: “Hai Rabb (Tuhan) kami, sempurnakanlah
bagi kami cahaya kami, dan maafkanlah
kami”, tampak bahwa setelah masuk
surga orang-orang beriman akan
mencapai maghfirah – penutupan
kekurangan dari Allah Swt. (Lexicon
Lane).
Mereka akan terus-menerus berdoa kepada Allah Swt. untuk mencapai
kesempurnaan dan sama sekali tenggelam
dalam Nur Ilahi dan akan terus naik
kian menanjak ke atas dan memandang tiap-tiap tingkat sebagai ada kekurangan dibandingkan dengan tingkat lebih tinggi yang didambakan oleh mereka, dan karena itu mereka
akan berdoa kepada Allah Swt. supaya Dia menutupi ketidaksempurnaannya, sehingga
mereka akan mampu mencapai tingkat lebih tinggi itu. Inilah makna
yang sesungguhnya mengenai istighfar, yang secara harfiah berarti “mohon ampunan atas segala kealpaan.”
Sehubungan dengan “surga” yang hakiki tersebut
-- yakni meraih kesempurnaan
penampakkan Nur Ilahi -- dalam
buku Kisyti
Nuh (Bahtera Nuh), bab “Ajaranku”, Masih Mau’ud a.s. antara lain bersabda:
“Sungguh
alangkah malangnya orang-orang yang hingga kini tidak mengetahui bahwasanya mereka
mempunyai
satu Tuhan Yang berkuasa atas tiap sesuatu! Surga kita adalah Tuhan kita,
di dalam Dzat-Nya terletak segala kelezatan yang selezat-lezatnya, sebab kami telah melihat-Nya, dan segala keindah-permaian terdapat pada
Wujud-Nya. Harta ini patut dimiliki
walau pun harus dengan mempertaruhkan jiwa dahulu. Permata ini
patut dibeli sekali pun harus dengan meniadakan segala wujud kita.
Wahai
orang-orang yang mahrum (luput)! Bergegaslah lari menuju Sumber mata-air kehidupan yang bakal
menyelamatkan kamu. Apa gerangan
yang harus kuperbuat dan bagaimanakah
harus kusampaikan berita ini ke setiap
kalbu manusia? Dengan genderang
bagaimana coraknya harus kucanangkan di lorong-lorong supaya orang-orang dapat mendengar bahwa Tuhan itu ada? Dengan obat
apakah harus kusembuhkan agar telinga-telinga orang terbuka untuk
mendengarnya?”
Istighfar Lebih Dahulu daripada Taubat
Selanjutnya Pendiri Jemaat
Muslim Ahmadiyah – Masih Mau’ud a.s. -- menjelaskan mengenai kedudukan istighfar dan taubat:
“Istighfar dan taubat adalah dua hal yang terpisah. Dari satu sudut pandang, istighfar didahulukan sebelum pertobatan, karena istighfar merupakan permohonan bantuan dan kekuatan
dari Tuhan,
sedangkan taubat berarti
berdiri di atas kakinya sendiri.
Sudah
menjadi Sunatullah dimana
ketika seorang manusia memohon bantuan kepada-Nya, Dia
akan menganugrahkan kekuatan
dan dengan kekuatan itu si
pemohon akan mampu berdiri di atas kakinya sendiri guna melakukan
suatu hal yang baik
yang disebut sebagai “berpaling kepada
Tuhan.”
Keadaan ini merupakan natijah
(akibat) alamiah dari istighfar.
Dianjurkan kepada para pencari agar
mereka memohonkan kekuatan kepada Tuhan dalam segala
keadaan.
{Sebab] sebelum ia mendapatkan kekuatan dari
Tuhan-nya, seorang pencari tidak akan bisa melakukan apa pun.
Kekuatan melakukan pertobatan didapat setelah
istighfar. Tanpa adanya istighfar maka fitrat
pertobatan tidak berfungsi.
Jika
kalian mengikuti istighfar dengan
pertobatan maka hasilnya
akan sebagaimana dinyatakan dalam ayat:
یُمَتِّعۡکُمۡ مَّتَاعًا
حَسَنًا اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی
“Dia akan
menganugrahkan barang-barang perbekalan yang baik sampai saat yang ditentukan” (Hūd [11]:4).
Demikian itulah cara Ilahi dimana mereka yang melakukan
pertobatan
setelah istighfar akan memperoleh keluhuran derajat yang mereka
dambakan. Setiap indera mempunyai keterbatasan dalam mencapai
keluhuran derajat
karena tidak setiap orang bisa
menjadi nabi, rasul, shiddiq atau pun syahid.” (Malfuzat,
jld. II, hlm. 68-69).
Da’wah Para Rasul
Allah kepada Kaumnya Berkenaan Istighfar
dan Taubat
Bahwa istighfar lebih dulu daripada taubat, Allah Swt. berfirman berkenaan Nabi Besar
Muhammad saw., firman-Nya:
اَلَّا
تَعۡبُدُوۡۤا اِلَّا اللّٰہَ ؕ اِنَّنِیۡ لَکُمۡ مِّنۡہُ نَذِیۡرٌ
وَّ بَشِیۡرٌ ۙ﴿﴾ وَّ اَنِ
اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا
اِلَیۡہِ یُمَتِّعۡکُمۡ مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی وَّ
یُؤۡتِ کُلَّ ذِیۡ فَضۡلٍ فَضۡلَہٗ ؕ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنِّیۡۤ اَخَافُ عَلَیۡکُمۡ عَذَابَ یَوۡمٍ کَبِیۡرٍ ﴿﴾ اِلَی اللّٰہِ
مَرۡجِعُکُمۡ ۚ وَ ہُوَ عَلٰی کُلِّ
شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ ﴿﴾
Janganlah kamu menyembah kecuali Allah, sesungguhnya
aku
se-orang pemberi peringatan dan pembawa
kabar gembira kepada kamu dari-Nya. وَّ اَنِ
اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا
اِلَیۡہِ -- Dan hendaklah
kamu meminta ampunan
kepada Rabb (Tuhan) kamu, kemudian kembalilah kepada-Nya, یُمَتِّعۡکُمۡ
مَّتَاعًا حَسَنًا اِلٰۤی اَجَلٍ مُّسَمًّی وَّ یُؤۡتِ کُلَّ ذِیۡ فَضۡلٍ فَضۡلَہٗ
-- Dia akan menganugerahkan barang-barang perbekalan yang baik kepada
kamu sampai jangka waktu yang ditentukan serta Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang memiliki keutamaan. ؕ وَ اِنۡ تَوَلَّوۡا
فَاِنِّیۡۤ اَخَافُ عَلَیۡکُمۡ عَذَابَ یَوۡمٍ کَبِیۡرٍ -- Dan
jika kamu berpaling maka sesungguhnya aku takut mengenai kamu terhadap azab hari yang dahsyat. اِلَی
اللّٰہِ مَرۡجِعُکُمۡ ۚ وَ ہُوَ عَلٰی
کُلِّ شَیۡءٍ قَدِیۡرٌ -- Kepada
Allāh-lah tempat kembali kamu, dan Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu. (Hūd [11]:3-5).
Makna ayat:
وَّ اَنِ اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ
تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ -- Dan hendaklah kamu meminta ampunan kepada Rabb (Tuhan) kamu, kemudian kembalilah kepada-Nya“ menunjukkan bahwa dalam perkembangan ruhani manusia taraf taubat itu datang kemudian dan lebih
tinggi daripada istighfar.
Taubat
itu merupakan perbuatan untuk menghadap kembali kepada Allah Swt.
dengan ikhlas dan sepenuh hati,
setelah memohon perlindungan-Nya
terhadap akibat-akibat buruk dan dosa-dosa yang sudah-sudah. Cara apakah
yang dapat diprakirakan lebih baik daripada cara ini untuk mencapai qurb
Ilahi (kedekatan kepada Tuhan)?
Da’wah Nabi Hūd a.s. dan Nabi Shalih a.s. Berkenaan Istighfar
dan Taubat
Kemudian masih dalam surah Hūd, Allah Swt. berfirman mengenai Nabi Hūd a.s. yang diutus kepada kaum ‘Âd:
وَ یٰقَوۡمِ
اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ یُرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا وَّ یَزِدۡکُمۡ
قُوَّۃً اِلٰی قُوَّتِکُمۡ وَ لَا
تَتَوَلَّوۡا مُجۡرِمِیۡنَ ﴿﴾
“Dan hai
kaumku, mohonlah ampunan dari Rabb
(Tuhan) kamu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya,
niscaya Dia akan mengirimkan atas kamu
awan yang menurunkan hujan lebat,
dan akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan kamu, dan janganlah
berpaling dari Dia sebagai orang-orang
yang berdosa.” (Hūd [11]:53).
Agaknya mata pencaharian utama kaum ‘Ād ialah bertani dan itu bergantung pada air
hujan untuk mengolah tanah mereka, karena
di wilayah mereka tidak ada sumur
atau terusan (kanal) atau sungai untuk mengairinya. Dengan
demikian janji pengiriman hujan serta anugerah
Ilahi lainnya tersebut merupakan
bagian dari “maghfirah” (pengampunan) Allah Swt. atas istighfar dan taubat yang mereka lakukan: وَّ
یَزِدۡکُمۡ قُوَّۃً اِلٰی قُوَّتِکُمۡ -- “dan akan
menambahkan kekuatan kepada kekuatan
kamu”.
Kemudian Allah Swt. berfirman
mengenai Nabi Shalih a.s. yang diutus kepada kaum Tsamud:
وَ اِلٰی
ثَمُوۡدَ اَخَاہُمۡ صٰلِحًا ۘ قَالَ
یٰقَوۡمِ اعۡبُدُوا اللّٰہَ مَا لَکُمۡ مِّنۡ
اِلٰہٍ غَیۡرُہٗ ؕ ہُوَ اَنۡشَاَکُمۡ مِّنَ الۡاَرۡضِ وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ
فِیۡہَا فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ ثُمَّ
تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ ؕ اِنَّ رَبِّیۡ
قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ ﴿﴾
Dan kepada kaum Tsamūd Kami
utus saudara mereka Shalih. Ia
berkata: “Hai kaumku, sembahlah Alah,
tidak ada bagi kamu Tuhan selain Dia. Dia-lah yang telah membangkit-kan kamu dari bumi, dan memakmur-kan kamu di dalamnya وَ اسۡتَعۡمَرَکُمۡ فِیۡہَا
فَاسۡتَغۡفِرُوۡہُ ثُمَّ تُوۡبُوۡۤا اِلَیۡہِ -- maka mohon-lah ampunan kepada-Nya, kemudian bertaubatlah kepada-Nya, اِنَّ رَبِّیۡ
قَرِیۡبٌ مُّجِیۡبٌ -- sesungguhnya
Rabb-ku (Tuhan-ku) itu dekat, dan mengabulkan doa. (Hūd [11]:62).
“Pengaduan”
Nabi Nuh a.s. Kepada Allah Swt. Mengenai Kedegilan
Kaumnya
Demikian juga sebelumnya Nabi Nuh a.s.
pun menyerukan hal yang sama kepada
kaumnya, walau pun dalam ayat-ayat berikut ini kata taubat tidak disebutkan
dalam “pengaduan” beliau kepada Allah Swt:
فَقُلۡتُ
اسۡتَغۡفِرُوۡا رَبَّکُمۡ ؕ اِنَّہٗ کَانَ غَفَّارًا ﴿ۙ﴾ یُّرۡسِلِ السَّمَآءَ عَلَیۡکُمۡ مِّدۡرَارًا ﴿ۙ﴾ وَّ
یُمۡدِدۡکُمۡ بِاَمۡوَالٍ وَّ بَنِیۡنَ وَ
یَجۡعَلۡ لَّکُمۡ جَنّٰتٍ وَّ یَجۡعَلۡ
لَّکُمۡ اَنۡہٰرًا ﴿ؕ﴾ مَا لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ وَقَارًا ﴿ۚ﴾
Lalu aku berkata: “Mohonlah ampun kepada Rabb
(Tuhan) kamu, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun, Dia akan mengirimkan atas kamu hujan dengan lebat, dan Dia akan membantu kamu dengan harta dan anak-anak dan Dia akan
menjadikan bagi kamu kebun-kebun dan akan
menjadikan bagi kamu sungai-sungai. مَا
لَکُمۡ لَا تَرۡجُوۡنَ لِلّٰہِ
وَقَارًا -- Apakah yang terjadi dengan diri kamu bahwa kamu tidak mengharapkan kemuliaan dari Allah? (Nūh [71]:11-14).
Pendek kata, kedudukan istighfar
lebih awal daripada seruan bertaubat (kembali kepada Allah Swt.)
sebagaimana yang diterangkan Masih Mau’ud
a.s..
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 30 September 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar