Bismillaahirrahmaanirrahiim
TAUBAT DAN MOHON
AMPUNAN ALLAH SWT.
Bab
27
HAKIKAT SYAITAN
YANG MENIPU NABI ADAM A.S. DAN “ISTRINYA” DALAM “JANNAH” & PENGKHIANATAN “MANUSIA-MANUSIA
SYAITAN” TERHADAP ORANG-ORANG
YANG DIKELABUINYA
Oleh
Ki Langlang Buana Kusuma
|
D
|
alam bagian akhir Bab 25
dikemukakan tentang
“Manusia-manusia Syaitan” di Setiap Zaman
Kenabian dalam hubungannya dengan maka sebutan syaitan yang menipu Nabi
Adam a.s. dan istrinya dalam “jannah”, berbeda dengan sebutan iblis yang menolak “sujud” (beriman/patuh) kepada Adam (Khalifah Allah – QS.2:35;
QS.7:12-13; QS.15:29-33; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77), firman-Nya:
فَدَلّٰىہُمَا
بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ
طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا
رَبُّہُمَاۤ اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ
تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ وَ اَقُلۡ
لَّکُمَاۤ اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا
عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Lalu
ia, syaitan, membujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا -- maka tatkala
keduanya merasai buah pohon itu tampaklah kepada kedua-nya aurat mereka berdua وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ
وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- dan mulailah
keduanya menutupi diri mereka dengan
daun-daun kebun itu. Dan keduanya
diseru oleh Rabb (Tuhan)
mereka: “Bukankah Aku telah melarang
kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu berdua
bahwa sesungguhnya syaitan
itu musuh yang nyata bagi kamu ber-dua?”
(Al-A’rāf
[7]:23).
Berbagai Arti “Syaitan”
Makhluk yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak sujud kepada Adam a.s. . disebut iblis
(QS.7:12-19) sedang makhluk yang menggodanya dalam “jannah” disebut syaitan (QS.7:20-23). Perbedaan ini tidak hanya nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan, tetapi juga dalam semua ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam seluruh
Al-Quran.
Kenyataan ini menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut “kisah monumental
Adam – Malaikat – Iblis”, sebutan iblis dan syaitan (setan) adalah dua pribadi yang berlainan. Pada hakikatnya kata syaitan tidak hanya digunakan
terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi
juga terhadap manusia yang disebabkan
oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah
menjadi penjelmaan syaitan, sebagaimana
firman-Nya mengenai orang-orang kafir
yang munafik:
وَ اِذَا لَقُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚۖ وَ
اِذَا خَلَوۡا اِلٰی شَیٰطِیۡنِہِمۡ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ ۙ اِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾
Dan apabila
mereka bertemu dengan orang-orang
beriman, mereka berkata: “Kami
pun telah beriman”. Tetapi apabila mereka pergi kepada syaitan-syaitan
(pemimpin-pemimpinnya) , mereka berkata: “Sesungguhnya kami beserta kamu, sesungguhnya kami hanyalah berolok-olok.” (Al-Baqarah [2]:15). Lihat pula QS.6:43-45; QS.9:49; QS.16:64; QS.22:53-54).
Syayāthin berarti para pemimpin pendurhaka (Ibn Abbas, Ibn
Mas’ud, Qatadah dan Mujahid). Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan telah bersabda: “Seorang pengendara sendirian adalah syaithan, dua pengendara pun sepasang syaithan, tetapi tiga orang pengendara, adalah satu pasukan pengendara” (Hadits Abu
Dawud). Hadits ini mendukung
pandangan bahwa kata syaithan
tidak selamanya berarti setan berupa makluk halus.
Jadi, syaitan yang menipu Nabi Adam a.s. dan
menyebabkan beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak,
melainkan manusia yang berdaging dan berdarah, dan bersifat jahat,
yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan tangan-tangan iblis.
Ia (manusia syaitan) itu termasuk anggota keluarga yang mengenainya Adam
a.s. telah diperintahkan Allah Swt. supaya menghindar.
Itulah makna perintah Allah Swt. kepada
Nabi Adam a.s. dan istrinya untuk tidak mendekati “pohon terlarang” dalam “jannah” (QS.27:20-23) demikian juga “pohon
terkutuk dalam Al-Quran”(QS.17:61) adalah “sekelompok orang”, bukan benar-benar sebatang pohon kayu.
Perbuatan Buruk “Manusia-manusia Syaitan” di Setiap Zaman Kenabian
Nabi Besar Muhammad saw. diriwayatkan pernah bersabda bahwa nama
orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu
merupakan satu bukti lagi bahwa syaitan
yang menipu Nabi Adam a.s. adalah seorang
manusia, bukan ruh jahat yang disebut syaitan (QS.7:28).
Mengapa demikian? Sebab dalam semua zaman kenabian yang diutus di kalangan Bani Adam (QS.35-37) para penentang rasul-rasul Allah tersebut adalah “manusia-manusia setan”, bukan
makhluk gaib yang juga disebut
setan, firman-Nya:
وَ
مَاۤ اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ
رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ
اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ یُحۡکِمُ
اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ ﴿ۙ﴾ لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً
لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ
شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۙ﴾ وَّ لِیَعۡلَمَ
الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ
فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ
اٰمَنُوۡۤا اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan Kami tidak pernah mengirim seorang rasul
dan tidak pula seorang nabi
melainkan apabila ia menginginkan
sesuatu اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ
فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ -- maka syaitan
meletakkan hambatan pada
keinginannya, فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ یُحۡکِمُ
اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ -- tetapi Allah
melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitan, ثُمَّ یُحۡکِمُ
اللّٰہُ اٰیٰتِہٖ ؕ وَ اللّٰہُ عَلِیۡمٌ حَکِیۡمٌ -- kemudian Allah meneguhkan Tanda-tanda-Nya, dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً
لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ قُلُوۡبُہُمۡ -- Supaya Dia
menjadikan rintangan yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya
ada penyakit dan mereka yang hatinya keras, وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ
لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ -- dan sesungguhnya
orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam
permusuhan yang sangat. وَّ لِیَعۡلَمَ
الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ
فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ -- Dan
supaya diketahui oleh orang-orang yang
diberi ilmu sesungguhnya Al-Quran
itu adalah haq dari Rabb (Tuhan) engkau lalu mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya, وَ اِنَّ اللّٰہَ
لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا اِلٰی صِرَاطٍ
مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan sesungguhnya Allah pasti memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus.
(Al-Hājj
[22]:53-55).
Itulah sebabnya di setiap zaman kenabian muncul berbagai fitnah-fitnah keji yang sengaja dilakukan oleh “manusia-manusia setan”
sehingga masyarakat pun terprovokasi
oleh fitnah-fitnah keji yang
diletakkan “manusia-manusia setan” di
jalan perjuangan suci para rasul
Allah.
Pengkhianatan Janji “Manusia-manusia Syaitan”
Namun Allah Swt. akan menghilangkan fitnah-fitnah keji yang sengaja
diletakkan oleh manusia-manusia setan
tersebut serta akan membuktikan kebenaran
pendakwaan dan perjuangan suci
para rasul Allah tersebut serta akan
menggagalkan semua makar buruk dari manusia-manusia setan tersebut,
sehingga di kalangan para penentang rasul Allah tersebut yang sebelumnya bersatu-padu melakukan penentangan
akan berbalik menjadi saling menyalahkan dan manusia-manusia
setan tersebut akan melepaskan diri dari janji-janji
muluk
mereka kepada para pengikutnya, sebagaimana firman-Nya
berikut ini mengenai kedustaan janji-janji
muluk syaitan:
وَ
قَالَ الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ
الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ
فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ اِلَّاۤ
اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ
لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ اَنَا
بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ اَنۡتُمۡ
بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ
الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan
syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah
telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku
telah menyalahinya, dan aku sekali-kali tidak memiliki kekuasaan
apa pun atas kamu, melainkan aku
telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا
تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ -- Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ
اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ
اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ -- Aku
sama sekali tidak dapat menolong kamu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku. اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ
مِنۡ قَبۡلُ -- Sesungguhnya
aku telah mengingkari apa yang kamu
persekutukan denganku sebelumnya, اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya
orang-orang yang zalim itu bagi mereka
ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).
Berlepas-dirinya manusia-manusia syaitan dari
janji-janji muluknya tersebut bukan
hanya terjadi di dunia saja tetapi
juga dilakukannya di akhirat,
firman-Nya:
یَوۡمَ
تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ یَقُوۡلُوۡنَ یٰلَیۡتَنَاۤ اَطَعۡنَا اللّٰہَ وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا ﴿﴾ وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ
اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا
فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا ﴿﴾ رَبَّنَاۤ اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ لَعۡنًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Pada hari itu ketika para
pemuka mereka akan dibolak-balikkan di
dalam api dan mereka akan berkata:
یٰلَیۡتَنَاۤ اَطَعۡنَا
اللّٰہَ وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا -- ”Alangkah baiknya seandainya kami mentaati Allah dan menaati Rasul.” وَ قَالُوۡا
رَبَّنَاۤ اِنَّاۤ اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا -- Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah men-taati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami lalu mereka
menyesatkan kami dari jalan lurus. رَبَّنَاۤ اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ
الۡعَنۡہُمۡ لَعۡنًا کَبِیۡرًا -- Wahai Rabb (Tuhan) kami, datangkanlah kepada mereka azab dua kali
lipat, dan laknatlah mereka dengan
laknat yang besar.” (Al-Ahzāb [33]:67-69).
Dalam ayat 67 disinggung tentang para pemimpin kaum kafir, sebab wujuh berarti juga para pemimpin. Dalam ayat 68 Di sini disebutkan pemimpin-pemimpin tingkat bawah.
Merupakan fitrat manusia suka
berusaha melemparkan noda perbuatan-perbuatan buruknya
sendiri kepada orang lain. Lihat pula
QS.7:39; QS.14:22; QS.28:64; QS.34:32-33; QS,40:48-49.
Pintu Gerbang Rahmat Ilahi Tidak pernah Ditutup
Ketika
Nabi Adam a.s. tertipu oleh “bujuk-rayu” manusia syaitan yang sangat menggelincirkan,
beliau sama sekali tidak membela diri serta menyalahkan syaitan, melainkan setelah beliau menyadari
kekeliruannya – yakni melupakan
peringatan Allah Swt. -- lalu cepat-cepat kembali rujuk kepada Allah Swt. bertaubat.
Sesungguhnya “kesalahan” Nabi Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia
syaitan" itu bermaksud baik,
sungguhpun Allah Swt. telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang (manusia syaitan) itu,
firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ
اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا
لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya
berkata: ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami, dan jika
Engkau tidak mengampuni kami dan tidak
menga-sihi kami, niscaya kami akan
termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’rāf [7]:24).
Mengenai senantiasa terbukanya
“pintu gerbang pengampunan” Allah Swt. bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat atau kembali kepada-Nya, Masih Mau’ud a.s. menjelaskan:
“Pintu gerbang rahmat
dan kasih Ilahi tidak pernah ditutup. Siapa pun yang berpaling
kepada-Nya
dengan hati yang tulus dan lurus maka Dia
bersifat Maha Pengampun dan
Maha Penyayang serta menerima
pertobatan.
Adalah suatu kedurhakaan
mempertanyakan berapa banyaknya pendosa
yang akan diampuni Allah Swt.. Khazanah
rahmat-Nya tidak mengenal batas. Dia tidak berkekurangan
apa pun dan gerbang-gerbang menuju kepada-Nya
tidak dihalangi. Barangsiapa yang tiba
di hadirat-Nya
akan mencapai derajat tinggi.
Semua itu merupakan janji yang hakiki. Seseorang yang berputus-asa
akan Tuhan Yang Maha Kuasa, dimana maut (kematian) di akhir hayatnya tiba dalam keadaan ia sedang tidak
menyadari
adalah orang yang amat sial, karena ia
akan menemukan pintu rahmat
dalam keadaan terhalang oleh dirinya sendiri.” (Malfuzat,
jld. III, hlm. 296-297).
Kabar Gembira dari Allah Swt. Bagi Orang-orang yang Bertaubat
Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai senantiasa terbukanya “pintu gerbang” maghfirah
Ilahi tersebut sesuai firman Allah Swt.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ الَّذِیۡنَ
اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ
لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ
الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ
ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الرَّحِیۡمُ ﴿﴾
وَ
اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ
اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا
تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾ وَ اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ
قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Katakanlah:
“Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, لَا
تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ -- janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ
الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.
اِنَّہٗ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ
الرَّحِیۡمُ -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha
Penyayang. وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ -- Dan kembalilah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan
berserah-dirilah kepada-Nya مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ
یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ -- sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong. وَ
اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ -- “ Dan
ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu
dari Rabb (Tuhan) kamu, مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ -- sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba,
sedang kamu tidak menyadari.” (Az-Zumar
[39]:54-56).
Ayat
ini memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan
rasa putus-asa serta kecemasan.
Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan
Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul lebih besar daripada itu.
Dua Macam Pelaku Dosa
Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar
gembira, ayat selanjutnya memperingatkan mereka bahwa mereka akan
harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi: وَ
اتَّبِعُوۡۤا اَحۡسَنَ مَاۤ اُنۡزِلَ
اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ -- “ Dan
ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu
dari Rabb (Tuhan) kamu, مِّنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ
بَغۡتَۃً وَّ اَنۡتُمۡ
لَا تَشۡعُرُوۡنَ -- sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba,
sedang kamu tidak menyadari.”
Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai dua
macam pelaku dosa:
“Ada orang-orang yang memang menyadari apa yang namanya dosa, tetapi
juga ada orang yang tidak mengenal
apakah [dosa] itu. Karena itulah Allah
Swt. telah mengajarkan istighfar dalam
segala situasi agar manusia
menyibukkan dirinya dengan beristighfar guna memelihara dirinya dari segala dosa, baik yang bersifat internal atau pun eksternal,
apakah disadari atau pun tidak.
Sepatutnya setiap manusia selalu meminta ampun untuk segala macam dosa, baik yang dilakukan tangan, kaki, lidah, hidung, telinga atau pun
mata. Kita ini sebaiknya berdoa sebagaimana doa Adam a.s. yaitu:
رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا ٜ وَ اِنۡ
لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ
الۡخٰسِرِیۡنَ
“Wahai Rabb
(Tuhan) kami, kami telah berlaku aniaya
terhadap diri kami
dan jika Engkau tidak mengampuni kami
dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang merugi” (Al-‘Arāf
[7]:24).
Doa ini telah dikabulkan. Janganlah hidup tanpa kesadaran. Mereka yang selalu sadar akan diselamatkan
dari musibah yang berada di luar kemampuan daya pikul dirinya. Tidak
akan ada kesialan menimpanya tanpa perintah Tuhan. Karena itulah aku telah diajari sebuah doa melalui sebuah wahyu:
“Rabbiy kullu syai-in khādimuka,
Rabbiy- fahfazniy wa- nshurniy wa- rhamniy”
--
“Ya Rabb-ku (Tuhan-ku), segala sesuatu
adalah khadim dan tunduk kepada Engkau,
karena itu ya Rabb-ku (Tuhan-ku) jagalah aku, tolonglah aku dan kasihanilah
aku”. (Malfuzat, vol. IV, hal. 275-276).
(Bersambung)
Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid
oo0oo
Pajajaran Anyar, 3 Oktober 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar