Selasa, 04 Oktober 2016

Hakikat "Syaitan" yang "Menipu" Nabi Adam a.s. dan "Istrinya" Dalam "Jannah" & Pengkhianatan "Manusia-manusia Syaitan" Terhadap Orang-orang yang Dikelabuinya



Bismillaahirrahmaanirrahiim


  TAUBAT  DAN   MOHON  AMPUNAN  ALLAH SWT.

Bab 27

HAKIKAT    SYAITAN  YANG MENIPU NABI ADAM A.S. DAN “ISTRINYA” DALAM “JANNAH &    PENGKHIANATAN  “MANUSIA-MANUSIA SYAITAN” TERHADAP   ORANG-ORANG   YANG DIKELABUINYA

 Oleh

Ki Langlang Buana Kusuma

D
alam  bagian  akhir Bab 25  dikemukakan      tentang  Manusia-manusia Syaitan” di Setiap Zaman Kenabian dalam hubungannya dengan  maka sebutan syaitan yang menipu Nabi Adam a.s.  dan istrinya  dalam “jannah”,  berbeda dengan sebutan iblis  yang menolak “sujud” (beriman/patuh) kepada Adam (Khalifah Allah – QS.2:35; QS.7:12-13; QS.15:29-33; QS.17:62; QS.18:51; QS.20:117; QS.38:72-77), firman-Nya:
فَدَلّٰىہُمَا بِغُرُوۡرٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ ؕ وَ نَادٰىہُمَا رَبُّہُمَاۤ  اَلَمۡ اَنۡہَکُمَا عَنۡ تِلۡکُمَا الشَّجَرَۃِ  وَ اَقُلۡ لَّکُمَاۤ  اِنَّ الشَّیۡطٰنَ لَکُمَا عَدُوٌّ مُّبِیۡنٌ ﴿﴾
Lalu ia, syaitanmembujuk kedua mereka itu dengan tipu-daya, فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَۃَ بَدَتۡ لَہُمَا سَوۡاٰتُہُمَا --  maka tatkala keduanya   merasai buah pohon itu  tampaklah kepada kedua-nya  aurat mereka berdua  وَ طَفِقَا یَخۡصِفٰنِ عَلَیۡہِمَا مِنۡ وَّرَقِ الۡجَنَّۃِ -- dan mulailah keduanya  menutupi diri mereka dengan daun-daun kebun itu.  Dan keduanya  diseru oleh Rabb (Tuhan) mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari mendekati pohon itu dan Aku telah katakan kepada kamu berdua  bahwa sesungguhnya  syaitan itu  musuh yang nyata bagi kamu ber-dua?” (Al-A’rāf [7]:23).

Berbagai Arti “Syaitan

  Makhluk yang dikemukakan oleh Al-Quran telah menolak sujud  kepada Adam a.s. . disebut iblis (QS.7:12-19) sedang makhluk yang menggodanya dalam “jannah” disebut syaitan (QS.7:20-23). Perbedaan ini tidak hanya nampak dalam ayat yang sedang ditafsirkan,  tetapi juga dalam semua ayat yang berhubungan dengan masalah itu dalam seluruh Al-Quran.
  Kenyataan ini  menunjukkan bahwa sejauh hal yang menyangkut “kisah   monumental Adam – Malaikat – Iblis”, sebutan    iblis dan syaitan (setan) adalah dua pribadi yang berlainan.  Pada hakikatnya  kata syaitan tidak hanya digunakan terhadap ruh-ruh jahat saja, tetapi juga terhadap manusia yang disebabkan oleh watak jahat dan amal-amal buruk mereka seolah-olah menjadi penjelmaan syaitan, sebagaimana firman-Nya mengenai orang-orang kafir yang munafik:
وَ  اِذَا لَقُوا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا قَالُوۡۤا اٰمَنَّا ۚۖ وَ  اِذَا خَلَوۡا اِلٰی شَیٰطِیۡنِہِمۡ ۙ قَالُوۡۤا اِنَّا مَعَکُمۡ ۙ اِنَّمَا نَحۡنُ مُسۡتَہۡزِءُوۡنَ ﴿﴾
Dan  apabila mereka bertemu dengan orang-orang  beriman, mereka berkata: “Kami pun telah beriman. Tetapi  apabila  mereka pergi kepada syaitan-syaitan (pemimpin-pemimpinnya) , mereka berkata: “Sesungguhnya kami beserta kamu,  sesungguhnya kami hanyalah berolok-olok.” (Al-Baqarah [2]:15). Lihat pula  QS.6:43-45; QS.9:49; QS.16:64; QS.22:53-54).
       Syayāthin berarti para pemimpin pendurhaka (Ibn Abbas, Ibn Mas’ud, Qatadah dan Mujahid). Nabi Besar Muhammad saw.   diriwayatkan telah bersabda: “Seorang pengendara sendirian adalah syaithan, dua pengendara pun sepasang syaithan, tetapi tiga orang pengendara, adalah satu pasukan pengendara” (Hadits Abu Dawud). Hadits ini mendukung pandangan bahwa  kata syaithan tidak selamanya berarti setan berupa makluk halus.
   Jadi, syaitan yang menipu Nabi Adam a.s.  dan menyebabkan beliau tergelincir itu bukan ruh jahat yang tidak nampak, melainkan manusia yang berdaging dan berdarah, dan  bersifat  jahat, yaitu syaitan dari kalangan manusia, penjelmaan syaitan dan tangan-tangan iblis.
   Ia  (manusia syaitan) itu termasuk anggota keluarga yang mengenainya Adam a.s.  telah diperintahkan Allah Swt.  supaya menghindar. Itulah makna  perintah Allah Swt. kepada Nabi Adam a.s. dan istrinya untuk tidak mendekati “pohon terlarang” dalam “jannah” (QS.27:20-23) demikian juga   “pohon terkutuk dalam Al-Quran”(QS.17:61) adalah “sekelompok orang”, bukan benar-benar sebatang pohon kayu.

Perbuatan Buruk “Manusia-manusia Syaitan” di Setiap Zaman Kenabian

   Nabi Besar Muhammad saw.  diriwayatkan pernah bersabda bahwa nama orang itu Harits (Tirmidzi, bab tafsir), hal itu merupakan satu bukti lagi bahwa   syaitan yang menipu Nabi Adam a.s.    adalah seorang manusia,   bukan ruh jahat yang disebut syaitan (QS.7:28).
Mengapa demikian? Sebab dalam semua zaman kenabian  yang diutus di kalangan Bani Adam  (QS.35-37)  para penentang rasul-rasul Allah tersebut adalah “manusia-manusia setan”, bukan  makhluk gaib yang juga disebut setan, firman-Nya:
وَ مَاۤ  اَرۡسَلۡنَا مِنۡ قَبۡلِکَ مِنۡ رَّسُوۡلٍ وَّ لَا نَبِیٍّ  اِلَّاۤ  اِذَا تَمَنّٰۤی اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ ۚ فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ  ﴿ۙ﴾   لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ  قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ ﴿ۙ﴾  وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ ؕ وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اِلٰی  صِرَاطٍ  مُّسۡتَقِیۡمٍ ﴿﴾
Dan Kami tidak pernah mengirim seorang rasul dan tidak pula seorang nabi melainkan apabila ia menginginkan sesuatu  اَلۡقَی الشَّیۡطٰنُ فِیۡۤ اُمۡنِیَّتِہٖ  --  maka syaitan meletakkan hambatan pada keinginannya, فَیَنۡسَخُ اللّٰہُ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ  --  tetapi Allah melenyapkan hambatan yang diletakkan oleh syaitan, ثُمَّ  یُحۡکِمُ  اللّٰہُ  اٰیٰتِہٖ ؕ وَ  اللّٰہُ عَلِیۡمٌ  حَکِیۡمٌ    -- kemudian Allah meneguhkan Tanda-tanda-Nya,  dan Allah  Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. لِّیَجۡعَلَ مَا یُلۡقِی الشَّیۡطٰنُ فِتۡنَۃً لِّلَّذِیۡنَ فِیۡ قُلُوۡبِہِمۡ مَّرَضٌ وَّ الۡقَاسِیَۃِ  قُلُوۡبُہُمۡ  --  Supaya Dia menjadikan rintangan yang diletakkan oleh syaitan sebagai ujian bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit  dan mereka yang hatinya keras, وَ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَفِیۡ شِقَاقٍۭ بَعِیۡدٍ  -- dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang sangat.  وَّ لِیَعۡلَمَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡعِلۡمَ اَنَّہُ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکَ فَیُؤۡمِنُوۡا بِہٖ فَتُخۡبِتَ لَہٗ قُلُوۡبُہُمۡ   --  Dan supaya  diketahui oleh orang-orang yang diberi ilmu  sesungguhnya Al-Quran itu adalah haq dari  Rabb (Tuhan) engkau lalu  mereka beriman kepadanya dan hati mereka tunduk kepadanya, وَ اِنَّ اللّٰہَ لَہَادِ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡۤا  اِلٰی  صِرَاطٍ  مُّسۡتَقِیۡمٍ -- dan sesungguhnya Allah pasti memberi petunjuk kepada orang-orang yang beriman ke jalan yang lurus. (Al-Hājj [22]:53-55).
      Itulah sebabnya di setiap zaman kenabian  muncul berbagai fitnah-fitnah keji yang sengaja dilakukan oleh “manusia-manusia setan” sehingga masyarakat pun terprovokasi  oleh fitnah-fitnah keji  yang diletakkan “manusia-manusia setan” di jalan perjuangan suci para rasul Allah.

Pengkhianatan Janji “Manusia-manusia Syaitan”

       Namun Allah Swt. akan menghilangkan fitnah-fitnah keji yang sengaja diletakkan oleh manusia-manusia setan tersebut serta akan membuktikan kebenaran pendakwaan dan perjuangan suci para rasul Allah tersebut serta akan menggagalkan semua makar buruk dari manusia-manusia setan tersebut, sehingga  di kalangan para penentang rasul Allah tersebut   yang sebelumnya bersatu-padu melakukan penentangan akan berbalik menjadi saling menyalahkan  dan manusia-manusia setan tersebut akan  melepaskan diri dari  janji-janji muluk  mereka  kepada para pengikutnya, sebagaimana firman-Nya berikut ini mengenai kedustaan janji-janji muluk syaitan:
وَ قَالَ  الشَّیۡطٰنُ لَمَّا قُضِیَ الۡاَمۡرُ اِنَّ اللّٰہَ وَعَدَکُمۡ وَعۡدَ الۡحَقِّ وَ وَعَدۡتُّکُمۡ فَاَخۡلَفۡتُکُمۡ ؕ وَ مَا کَانَ لِیَ عَلَیۡکُمۡ مِّنۡ سُلۡطٰنٍ  اِلَّاۤ  اَنۡ دَعَوۡتُکُمۡ فَاسۡتَجَبۡتُمۡ لِیۡ ۚ فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ ؕ مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ ؕ اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ ؕ اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ ﴿﴾
Dan tatkala perkara itu telah diputuskan syaitan berkata: “Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepada kamu suatu janji yang benar, dan aku pun menjanjikan kepada kamu tetapi aku telah menyalahinya, dan aku  sekali-kali tidak memiliki kekuasaan apa pun atas kamu, melainkan aku telah mengajakmu lalu kamu telah mengabulkan ajakanku. فَلَا تَلُوۡمُوۡنِیۡ وَ لُوۡمُوۡۤا اَنۡفُسَکُمۡ   --  Karena itu janganlah kamu mengecamku tetapi kecamlah dirimu sendiri. مَاۤ  اَنَا بِمُصۡرِخِکُمۡ وَ مَاۤ  اَنۡتُمۡ بِمُصۡرِخِیَّ  -- Aku sama sekali tidak dapat menolong kamu dan kamu pun sama sekali tidak dapat menolongku.  اِنِّیۡ کَفَرۡتُ بِمَاۤ اَشۡرَکۡتُمُوۡنِ مِنۡ قَبۡلُ  -- Sesungguhnya aku telah mengingkari apa yang kamu persekutukan denganku sebelumnya, اِنَّ الظّٰلِمِیۡنَ لَہُمۡ  عَذَابٌ اَلِیۡمٌ -- sesungguhnya orang-orang yang zalim itu bagi mereka ada azab yang pedih.” (Ibrahim [14]:23).
        Berlepas-dirinya manusia-manusia syaitan  dari janji-janji muluknya tersebut bukan hanya terjadi di dunia saja tetapi juga dilakukannya di akhirat, firman-Nya:
یَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوۡہُہُمۡ فِی النَّارِ یَقُوۡلُوۡنَ یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا ﴿﴾  وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا ﴿﴾ رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا ﴿٪﴾
Pada hari itu ketika  para pemuka mereka akan dibolak-balikkan  di dalam api dan mereka akan berkata:  یٰلَیۡتَنَاۤ  اَطَعۡنَا اللّٰہَ  وَ اَطَعۡنَا الرَّسُوۡلَا  --   Alangkah baiknya seandainya kami  mentaati Allah dan menaati Rasul.”   وَ قَالُوۡا رَبَّنَاۤ  اِنَّاۤ  اَطَعۡنَا سَادَتَنَا وَ کُبَرَآءَنَا  فَاَضَلُّوۡنَا السَّبِیۡلَا  --    Dan mereka akan berkata: “Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah men-taati pemimpin-pemimpin kami dan pembesar-pembesar kami  lalu mereka menyesatkan kami dari jalan lurus.  رَبَّنَاۤ  اٰتِہِمۡ ضِعۡفَیۡنِ مِنَ الۡعَذَابِ وَ الۡعَنۡہُمۡ  لَعۡنًا کَبِیۡرًا  --   Wahai Rabb (Tuhan) kami, datangkanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.” (Al-Ahzāb [33]:67-69).
      Dalam ayat 67  disinggung tentang para pemimpin kaum kafir, sebab wujuh berarti juga para pemimpin.   Dalam ayat 68 Di sini disebutkan pemimpin-pemimpin tingkat bawah. Merupakan fitrat manusia suka berusaha melemparkan noda perbuatan-perbuatan buruknya sendiri kepada orang lain. Lihat  pula QS.7:39; QS.14:22; QS.28:64; QS.34:32-33; QS,40:48-49.
        
Pintu Gerbang Rahmat Ilahi Tidak pernah Ditutup

   Ketika Nabi Adam a.s. tertipu oleh “bujuk-rayumanusia syaitan yang sangat menggelincirkan, beliau sama sekali  tidak membela diri   serta menyalahkan syaitan, melainkan   setelah  beliau menyadari kekeliruannya – yakni melupakan peringatan Allah Swt. --  lalu cepat-cepat kembali rujuk kepada Allah Swt.  bertaubat.
  Sesungguhnya “kesalahan”  Nabi  Adam a.s. terletak pada anggapan beliau bahwa "manusia syaitan" itu bermaksud baik, sungguhpun Allah Swt.  telah memperingatkan beliau agar jangan berurusan dengan orang  (manusia syaitan) itu, firman-Nya:
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿﴾
Keduanya berkata:  ”Wahai Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku zalim terhadap diri kami,  dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan  tidak  menga-sihi kami, niscaya  kami akan termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A’rāf [7]:24).    
      Mengenai senantiasa  terbukanya “pintu gerbang pengampunan” Allah Swt. bagi orang-orang yang benar-benar bertaubat atau kembali kepada-Nya,    Masih Mau’ud a.s.  menjelaskan:
      Pintu gerbang rahmat dan kasih Ilahi tidak pernah ditutup. Siapa pun yang berpaling kepada-Nya dengan hati yang tulus dan lurus maka Dia bersifat Maha Pengampun dan Maha Penyayang serta menerima pertobatan.
     Adalah suatu kedurhakaan mempertanyakan berapa banyaknya pendosa yang akan diampuni Allah Swt.. Khazanah rahmat-Nya tidak mengenal batas. Dia tidak berkekurangan apa pun dan gerbang-gerbang menuju kepada-Nya tidak dihalangi. Barangsiapa yang tiba di hadirat-Nya akan mencapai derajat tinggi.
      Semua itu merupakan janji yang hakiki. Seseorang yang berputus-asa akan Tuhan Yang Maha Kuasa,  dimana maut (kematian)  di akhir hayatnya tiba dalam keadaan ia sedang tidak menyadari adalah orang yang amat sial,  karena ia akan menemukan pintu rahmat dalam keadaan terhalang oleh dirinya sendiri.” (Malfuzat, jld. III, hlm. 296-297).

Kabar Gembira dari Allah Swt. Bagi Orang-orang yang Bertaubat

     Penjelasan Masih Mau’ud a.s. mengenai senantiasa terbukanya “pintu gerbang” maghfirah Ilahi tersebut sesuai firman Allah Swt.:
قُلۡ یٰعِبَادِیَ  الَّذِیۡنَ  اَسۡرَفُوۡا عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ  لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ ؕ اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا ؕ اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ ﴿﴾  وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ ﴿﴾  وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ     قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ ﴿ۙ﴾
Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri  mereka sendiri, لَا تَقۡنَطُوۡا مِنۡ رَّحۡمَۃِ اللّٰہِ --  janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.  اِنَّ اللّٰہَ یَغۡفِرُ الذُّنُوۡبَ جَمِیۡعًا -- Sesungguhnya Allah mengampuni semua  dosa. اِنَّہٗ  ہُوَ  الۡغَفُوۡرُ  الرَّحِیۡمُ   -- Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. وَ اَنِیۡبُوۡۤا اِلٰی  رَبِّکُمۡ وَ اَسۡلِمُوۡا لَہٗ   --    Dan kembalilah kepada Rabb (Tuhan) kamu dan berserah-dirilah  kepada-Nya  مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنۡصَرُوۡنَ  -- sebelum azab datang kepada kamu kemudian kamu tidak akan ditolong.    وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ      --  “ Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu,  مِّنۡ     قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ --  sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.” (Az-Zumar [39]:54-56).
   Ayat ini memberi amanat harapan dan kabar gembira kepada orang-orang berdosa. Ayat ini membesarkan hati dan melenyapkan rasa putus-asa serta kecemasan. Ayat ini menolak dan mengutuk rasa putus-asa, sebab putus-asa itu terletak pada akar kebanyakan dosa dan kegagalan-kegagalan dalam kehidupan.
   Berulang-ulang Al-Quran menjanjikan rahmat dan ampunan Allah (QS.6:55; QS.7:157; QS.12:88; QS.15:57; QS.18:59), tidak ada amanat hiburan dan penenteramkan hati yang lebih bagi mereka yang sedang berhati lara dan masygul lebih besar daripada itu.

Dua Macam Pelaku Dosa

     Sementara ayat sebelumnya memberikan kepada orang-orang berdosa amanat harapan dan kabar gembira, ayat selanjutnya  memperingatkan mereka bahwa mereka akan harus membentuk nasib sendiri dengan mentaati hukum-hukum Ilahi: وَ اتَّبِعُوۡۤا  اَحۡسَنَ مَاۤ   اُنۡزِلَ  اِلَیۡکُمۡ مِّنۡ رَّبِّکُمۡ مِّنۡ      --  “ Dan ikutilah ajaran terbaik yang telah diturunkan kepada kamu dari Rabb (Tuhan) kamu,  مِّنۡ     قَبۡلِ اَنۡ یَّاۡتِیَکُمُ الۡعَذَابُ بَغۡتَۃً  وَّ  اَنۡتُمۡ  لَا  تَشۡعُرُوۡنَ --  sebelum datang kepada kamu azab dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadari.”
 Sehubungan dengan hal tersebut Masih Mau’ud a.s. bersabda mengenai dua macam pelaku dosa:
      “Ada orang-orang yang memang menyadari apa yang namanya dosa, tetapi juga ada orang yang tidak mengenal apakah [dosa] itu. Karena itulah Allah Swt. telah mengajarkan istighfar dalam segala situasi agar manusia menyibukkan dirinya dengan beristighfar guna memelihara dirinya dari segala dosa, baik yang bersifat internal atau pun eksternal, apakah disadari atau pun tidak.
      Sepatutnya setiap manusia selalu meminta  ampun untuk segala macam dosa, baik yang dilakukan tangan, kaki, lidah, hidung, telinga atau pun mata. Kita ini sebaiknya berdoa sebagaimana doa Adam a.s. yaitu:
         رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ  اَنۡفُسَنَا ٜ وَ  اِنۡ  لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَ تَرۡحَمۡنَا لَنَکُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ 
“Wahai  Rabb (Tuhan) kami, kami telah berlaku aniaya terhadap diri kami dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihani kami, niscaya kami akan termasuk orang-orang merugi” (Al-‘Arāf [7]:24).
      Doa ini telah dikabulkan. Janganlah hidup tanpa kesadaran. Mereka yang selalu sadar akan diselamatkan dari musibah yang berada di luar kemampuan daya pikul dirinya.  Tidak akan ada kesialan menimpanya tanpa perintah Tuhan. Karena itulah aku telah diajari sebuah doa melalui sebuah wahyu:
“Rabbiy kullu syai-in khādimuka, Rabbiy- fahfazniy wa- nshurniy wa- rhamniy”   --
 “Ya  Rabb-ku (Tuhan-ku), segala sesuatu adalah khadim   dan tunduk kepada Engkau, karena itu ya Rabb-ku (Tuhan-ku) jagalah aku, tolonglah aku dan kasihanilah aku”. (Malfuzat, vol. IV, hal. 275-276).

(Bersambung)

Rujukan: The Holy Quran
Editor: Malik Ghulam Farid

oo0oo
Pajajaran Anyar, 3 Oktober 2016



Tidak ada komentar:

Posting Komentar